-

Thursday, November 10, 2011

Kurban Deklarasi Tauhid Umat

Oleh: ACEP HERMAWAN
KONOTASI kurban adalah penyembelihan hewan dalam rangka ibadah kepada Allah Swt. "Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah" (QS. Al-Kautsar [108]: 1-2). Konotasi ini menandakan adanya penyucian diri dari sifat-sifat penghambaan diri kepada selain Allah yang akan tertanam kuat dalam perilaku.

Dalam ranah historis, asal-usul kurban telah terekam jelas dalam cerita Ibrahim yang telah menjalankan perintah Allah dengan sabar dan tawakal. Ibrahim berkali-kali diuji dengan berbagai ujian berat yang memerlukan pengorbanan yang sangat besar. Dari beberapa ujian yang diikutinya, yang paling berat bagi Ibrahim adalah perintah untuk mengorbankan putra semata wayang yang sangat dicintainya ketika itu, yaitu Nabi Ismail.

Drama kurban merupakan sebuah penegasan bahwa Tuhan Ibrahim bukanlah Tuhan yang haus akan darah manusia. Dia adalah Tuhan (Allah) yang ingin menyelamatkan, membebaskan, dan melindungi umat manusia dari berbagai bentuk perilaku jumud manusia. Dari diri Ibrahimlah diturunkan generasi para nabi yang kemudian mengajarkan keesaan Tuhan (baca: monoteisme) dalam tiga tradisi agama: pertama, tradisi Yahudi yang diajarkan oleh Musa dengan kitab Tauratnya; kedua, tradisi Kristiani yang diajarkan oleh Isa dengan kitab Injilnya; dan ketiga, tradisi Islam yang diajarkan oleh Muhammad Saw dengan kitab Alqurannya.

Oleh sebab itu, kurban sebagai bentuk refleksi historik atas perjalanan kebajikan yang pernah ditorehkan manusia masa lampau, yakini Nabi Ibrahim dalam rangka untuk mengenang perjuangan monoteistik dan humanistik yang telah diukirnya. Artinya, kurban bermakna keteladanan Ibrahim (al-uswah al-Ibrahimiyah) yang mampu mentransformasi pesan keagamaan ke dalam aktualisasi perjuangan hidup kemanusiaan (al-insaniyah).

Setiap agama mengajarkan bahwa semua ibadah hendaknya dilakukan semata-mata ikhlas karena Tuhan. Karena hanya dengan niat terikhlaslah akan terjamin kemurnian ibadah yang akan membawa pelaksanaannya dekat kepada Allah. Dalam kaitan dengan kurban, Allah swt menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging hewan yang dikurbankan, melainkan ketakwaan dalam melaksanakannya. Allah tidak mengharapkan daging dan darah hewan kurban, tetapi mental ketaqwaan yang diminta, namun ketakwaan hanya akan tumbuh di hati yang bersih dan ikhlas.

Pada kacamata ini terlihat ada dua nilai kurban yang satu sama lain saling menguatkan dalam upaya mengesakan Tuhan (tauhid), yakni nilai pendekatan diri kepada Tuhan (habluminallah) dan nilai pendekatan diri kepada sesamanya (habluminannas). Mengesakan Tuhan merupakan pengkristalan dari sikapnya yang selalu menyandarkan hidupnya kepada Tuhan dan keterampilan hidupnya di tengah-tengah masyarakat. Dalam bahasa Syafi'i Ma'arif (2002), yang terbentuk tidak hanya tauhid individu akan tetapi tauhid sosial umat. Artinya, pada kurban terdapat nilai ketauhidan yang sangat kental.

Pada sisi lain, ketauhidan merupakan puncak keimanan manusia kepada Allah, yang termanifestasi dalam seluruh perilakunya yang sangat terpuji. Perilaku ini sekurang-kurangnya terwakili oleh dua unsur, yaitu keikhlasan dan ketaatan. Keikhlasan mengandung arti bahwa ibadah kurban yang dilakukan benar-benar murni hanya semata-mata karena Allah dan dalam rangka menjalankan perintah-Nya. Sedangkan ketaatan mengandung arti bahwa ibadah kurban yang dilaksanakan harus berdasarkan atas ketaatan kepada perintah Allah dan bukan didasari atas ketaatan kepada selain-Nya.

Hewan yang disembelih (dikurbankan) dalam proses ritual ibadah kurban tak lain merupakan simbol keburukan yang disembelih yang melekat pada diri manusia. Teologi ritual ini, menandakan penyembelihan atas sifat-sifat kebinatangan seperti egois, serakah, rakus, menindas, tidak taat aturan, menentang norma atau etika (amoral), membunuh, memperkaya diri sendiri, memonopoli seluruh sektor perekonomian, korupsi, penindasan terhadap kaum minoritas, arogan, dan apatis terhadap realitas sosial masyarakat dan keumatan.

Dalam kenyataan sosial, kita sering menjumpai umat Islam rajin menjalankan ibadah, tapi kejahatan dan kemaksiatan juga dilakukan. Sering terjadi paradoks yang begitu dalam antara ajaran ideal-normatif Islam dengan kenyataan kehidupan sosiohistoris kaum muslim. Indonesia diakui sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dengan ketaatan melakukan ritual yang tinggi. Ironisnya, Indonesia juga diakui sebagai salah satu negara paling korup di dunia.

Dengan demikian, ritual kurban adalah sebuah deklarasi akan prinsip Tauhid yang menjadi keistimewaan agama Islam atas agama lainnya, meruntuhkan tembok pemisah atara elit dan rakyat jelata, miskin dan kaya, putih dan hitam, serta mampu menyatukan seluruh umat dengan segala perbedaannya dalam satu wadah penghambaan kepada Allah. Dapat dikatakan, bahwa hari raya Idul Adha adalah menifestasi keyakinan akan Tauhid dan simbol solidaritas umat manusia.

Melalui momentum Iduladha 1432 H, saatnya kita tegakkan nilai-nilai ketuhanan (al-ilahiyah), kemanusiaan (al-insaniyyah), keadilan (al-'adl), dan solidaritas sosial (at-ta'awun al-ijtima'i) sebagaimana diajarkan Ibrahim; dan membumikan ajaran Ismail sebagai simbol aktualisasi nilai-nilai ketuhanan di tengah kehidupan umat manusia yang kian picik dan terus menghamba pada materi. Pada gilirannya, ibadah kurban dapat memberi makna, warna dan tren baru bagi model kehidupan individu dan sosial, masyarakat dan negara modern secara terbuka. (Penulis, kandidat doktor pendidikan UIN SGD Bandung, Direktur Eksekutif Najah Islamic Centre)** Kurban Deklarasi Tauhid Umat
Oleh: ACEP HERMAWAN
KONOTASI kurban adalah penyembelihan hewan dalam rangka ibadah kepada Allah Swt. "Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah" (QS. Al-Kautsar [108]: 1-2). Konotasi ini menandakan adanya penyucian diri dari sifat-sifat penghambaan diri kepada selain Allah yang akan tertanam kuat dalam perilaku.

Dalam ranah historis, asal-usul kurban telah terekam jelas dalam cerita Ibrahim yang telah menjalankan perintah Allah dengan sabar dan tawakal. Ibrahim berkali-kali diuji dengan berbagai ujian berat yang memerlukan pengorbanan yang sangat besar. Dari beberapa ujian yang diikutinya, yang paling berat bagi Ibrahim adalah perintah untuk mengorbankan putra semata wayang yang sangat dicintainya ketika itu, yaitu Nabi Ismail.

Drama kurban merupakan sebuah penegasan bahwa Tuhan Ibrahim bukanlah Tuhan yang haus akan darah manusia. Dia adalah Tuhan (Allah) yang ingin menyelamatkan, membebaskan, dan melindungi umat manusia dari berbagai bentuk perilaku jumud manusia. Dari diri Ibrahimlah diturunkan generasi para nabi yang kemudian mengajarkan keesaan Tuhan (baca: monoteisme) dalam tiga tradisi agama: pertama, tradisi Yahudi yang diajarkan oleh Musa dengan kitab Tauratnya; kedua, tradisi Kristiani yang diajarkan oleh Isa dengan kitab Injilnya; dan ketiga, tradisi Islam yang diajarkan oleh Muhammad Saw dengan kitab Alqurannya.

Oleh sebab itu, kurban sebagai bentuk refleksi historik atas perjalanan kebajikan yang pernah ditorehkan manusia masa lampau, yakini Nabi Ibrahim dalam rangka untuk mengenang perjuangan monoteistik dan humanistik yang telah diukirnya. Artinya, kurban bermakna keteladanan Ibrahim (al-uswah al-Ibrahimiyah) yang mampu mentransformasi pesan keagamaan ke dalam aktualisasi perjuangan hidup kemanusiaan (al-insaniyah).

Setiap agama mengajarkan bahwa semua ibadah hendaknya dilakukan semata-mata ikhlas karena Tuhan. Karena hanya dengan niat terikhlaslah akan terjamin kemurnian ibadah yang akan membawa pelaksanaannya dekat kepada Allah. Dalam kaitan dengan kurban, Allah swt menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging hewan yang dikurbankan, melainkan ketakwaan dalam melaksanakannya. Allah tidak mengharapkan daging dan darah hewan kurban, tetapi mental ketaqwaan yang diminta, namun ketakwaan hanya akan tumbuh di hati yang bersih dan ikhlas.

Pada kacamata ini terlihat ada dua nilai kurban yang satu sama lain saling menguatkan dalam upaya mengesakan Tuhan (tauhid), yakni nilai pendekatan diri kepada Tuhan (habluminallah) dan nilai pendekatan diri kepada sesamanya (habluminannas). Mengesakan Tuhan merupakan pengkristalan dari sikapnya yang selalu menyandarkan hidupnya kepada Tuhan dan keterampilan hidupnya di tengah-tengah masyarakat. Dalam bahasa Syafi'i Ma'arif (2002), yang terbentuk tidak hanya tauhid individu akan tetapi tauhid sosial umat. Artinya, pada kurban terdapat nilai ketauhidan yang sangat kental.

Pada sisi lain, ketauhidan merupakan puncak keimanan manusia kepada Allah, yang termanifestasi dalam seluruh perilakunya yang sangat terpuji. Perilaku ini sekurang-kurangnya terwakili oleh dua unsur, yaitu keikhlasan dan ketaatan. Keikhlasan mengandung arti bahwa ibadah kurban yang dilakukan benar-benar murni hanya semata-mata karena Allah dan dalam rangka menjalankan perintah-Nya. Sedangkan ketaatan mengandung arti bahwa ibadah kurban yang dilaksanakan harus berdasarkan atas ketaatan kepada perintah Allah dan bukan didasari atas ketaatan kepada selain-Nya.

Hewan yang disembelih (dikurbankan) dalam proses ritual ibadah kurban tak lain merupakan simbol keburukan yang disembelih yang melekat pada diri manusia. Teologi ritual ini, menandakan penyembelihan atas sifat-sifat kebinatangan seperti egois, serakah, rakus, menindas, tidak taat aturan, menentang norma atau etika (amoral), membunuh, memperkaya diri sendiri, memonopoli seluruh sektor perekonomian, korupsi, penindasan terhadap kaum minoritas, arogan, dan apatis terhadap realitas sosial masyarakat dan keumatan.

Dalam kenyataan sosial, kita sering menjumpai umat Islam rajin menjalankan ibadah, tapi kejahatan dan kemaksiatan juga dilakukan. Sering terjadi paradoks yang begitu dalam antara ajaran ideal-normatif Islam dengan kenyataan kehidupan sosiohistoris kaum muslim. Indonesia diakui sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dengan ketaatan melakukan ritual yang tinggi. Ironisnya, Indonesia juga diakui sebagai salah satu negara paling korup di dunia.

Dengan demikian, ritual kurban adalah sebuah deklarasi akan prinsip Tauhid yang menjadi keistimewaan agama Islam atas agama lainnya, meruntuhkan tembok pemisah atara elit dan rakyat jelata, miskin dan kaya, putih dan hitam, serta mampu menyatukan seluruh umat dengan segala perbedaannya dalam satu wadah penghambaan kepada Allah. Dapat dikatakan, bahwa hari raya Idul Adha adalah menifestasi keyakinan akan Tauhid dan simbol solidaritas umat manusia.

Melalui momentum Iduladha 1432 H, saatnya kita tegakkan nilai-nilai ketuhanan (al-ilahiyah), kemanusiaan (al-insaniyyah), keadilan (al-'adl), dan solidaritas sosial (at-ta'awun al-ijtima'i) sebagaimana diajarkan Ibrahim; dan membumikan ajaran Ismail sebagai simbol aktualisasi nilai-nilai ketuhanan di tengah kehidupan umat manusia yang kian picik dan terus menghamba pada materi. Pada gilirannya, ibadah kurban dapat memberi makna, warna dan tren baru bagi model kehidupan individu dan sosial, masyarakat dan negara modern secara terbuka. (Penulis, kandidat doktor pendidikan UIN SGD Bandung, Direktur Eksekutif Najah Islamic Centre)**  Koran Galamedia

Artikel yang Berkaitan

0 komentar:

-

Post a Comment