-

Saturday, February 04, 2012

Bertahan Walau Tergilas Zaman

Demi tetap melestarikan seni wayang golek di Tatar Sunda, Ishak Suhendra (52), pemilik sanggar kerajinan wayang golek di Jalan Raya Andir Desa Cibiuk, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur ini tetap setia menggeluti kerajinan pembuatan wayang golek meski peminatnya semakin menurun.

Ishak terlihat tengah mengamplas kepala wayang golek buatannya di depan Sanggar Kerajinan Wayang Golek Sang Putra Cianjur. Semua proses pembuatan wayang golek hampir ia lakukan sendiri. Dari pembuatan pola wayang pada kayu hingga proses akhir pewarnaan.

Tampak terpampang wayang golek hasil karyanya sepertiPandawa Lima, Semar, Si Cepot dan lainnya. Kerajinan terseut pun sudah ditekuni sejak berusia 11 tahun, Pasang surut keberadaan kerajinan pun sudah dialaminya. "Meski permintaan semakin hari semakin menurun, saya ingin wayang golek tetap ada,katanya.

Sambil mengamplas, Ishak megatakan membuat wayang golek sangat sederhana. Bahan utama yang digunakan adalah kayu jenis Jen-jen atau kayu Lawe. Lalu dihaluskan melalui hamplas, dan dibentuk sesuai dengan tokoh-tokoh pewayangan, dan diamplas lagi. Kemudian, di cat dan di persis serta lainnya.

“Semua tokoh wayang golek pernah saya buat. Sementara hal yang sulit membuat wayang golek adalah membentuk wajah atau muka salah satu tokoh wayang golek setelah itu paling pakainnya,” ujarnya.

Ia bercerita awal mulanya ia menekuni seni wayang golek, dari mulai hobi nonton wayang golek. Kemudian, mulai tertarik untuk mencoba membuat tokoh-tokoh wayang golek sendiri, tanpa ada bantuan dari orang lain. “Sampai saat ini saya terus menekuni seni ini, dan belum pernah tersentuh oleh pemerintah, baik daerah dan pusat,” tuturnya.

Ishak memaparkan, kebudayaan daerah, termasuk wayang golek merupakan aset yang penting, karena kebudayaan daerah yang menjadi ciri khas suatu daearah. “Karena itu, saya akan terus melestarikan dan mengembangkan kesenian ini sampai kapan pun,” ujarnya.

Ia merasa bangga dengan hasil karyanya sendiri, meski sampai saat ini belum tersentuh oleh pemerintah. Menjadi pengrajin kesenian merupakan sebuah kebanggan tersendiri. Apalagi kerajinan yang telah ditekuninya sudah terjual ke mana-mana.
“Biasanya Wayang Golek hasil karya, terjual di berbagai kota di luar Cianjur, seperti Bandung, Jakarta, Bogor, Sukabumi. Meski begitu, pembeli dari orang Cianjur juga ada, tapi jumlahnya sedikit,” tuturnya.

Padahal, Ishak hanya mengharagai satu wayang golek kecil dengan hargarp 25ribu hingga Rp 50 ribu. "Kalau pesan dengan ukuran tertentu harganya bisa smapi Rp 100ribu," ujarnya.

Ishak menuturkan sebenarnya usaha yang digeluti ada keinginan lebih dikembangkan. Namun hal itu urung dilakukan, karena terbentur dengan permodalan. “Ya beginilah kalau modal kurang, jadi semuanya serba kurang,” katanya.

Ia mengatakan sebenarnya keberadaan pengrajin seni dan budaya di Cianjur kalau mendapat perhatian dan dukungan dari berbagai pihak, akan meningkat. “Jika ada yang mendukung, terutama dari pemerintah, kebudayaan akan senantiasa terjaga dengan baik,” ucapnya.

Ishak menerangkan, kelangsungan potensi kebudayaan daerah di seluruh kabupaten Cianjur juga harus ditingkatkan. Yaitu dari mulai pembenahan manajemen dan inovasi. Dengan cara inilah kemungkinan taraf hidup masyarakat di sekitar sentra pengrajin kesenian dan budaya yang mempunyai modal kecil akan ikut terangkat. (Wilujeng Kharisma/"PRLM")***
Pikiran Rakyat Senin, 30/01/2012 - 00:34

Artikel yang Berkaitan

0 komentar:

-

Post a Comment