-

Monday, September 24, 2012

Dihantui Bayang-Bayang

Siang itu, Wahsyi begitu bersemangat dan ceria. Senyum terus tersungging di bibirnya. Janji Hindun, istri Abu Sufyan, selalu terngiang di telinganya, “Wahsyi, jika kau berhasil membunuh Hamzah, kau akan menjadi orang merdeka, sama dengan kami.”

Wahsyi membayangkan, alangkah indah hidupnya menjadi orang merdeka. Dia dapat pergi, bekerja, istirahat semaunya. Tidak seperti sekarang, semua serba tidak bebas.

Sebagai budak, dia harus patuh, apa pun keinginan sang majikan. Senyum Wahsyi semakin melebar tatkala membayangkan dirinya suatu hari nanti duduk bersama di qahwaji dengan para bang sawan Quraisy seperti Abu Sufyan.

Hindun sangat dendam pada Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi SAW. Ayah dan saudara laki-lakinya gugur di tangan Hamzah sewaktu Perang Badar pada tahun kedua Hijriah. Makkah sedang mempersiapkan pasukan tiga kali lebih besar daripada pasukan Perang Badar untuk menyerang Madinah.

Kekalahan dalam Perang Badar membuat kaum Quraisy terpukul. Lebih-lebih Hindun, dendamnya sangat membara. Dia berharap dendamnya dapat dibalaskan oleh Wahsyi.

Wahsyi maju ke medan Perang Uhud dengan konsentrasi penuh mencari Hamzah. Dia ikuti ke manapun Hamzah bergerak. Hamzah tidak menyadari hal itu. Hingga akhirnya, Wahsyi melemparkan tombaknya tepat mengenai Hamzah. Paman Nabi yang gagah perkasa itu pun tersungkur, gugur sebagai syahid. Wahsyi puas. Kemerdekaan sudah di depan mata.

Akan tetapi, begitu kembali ke Mak kah, dia kecewa. Memang tuannya menepati janji. Dia dibebaskan dari perbudakan. Tetapi, harapannya untuk duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan para bangsawan Quraisy tidak menjadi kenyataan. Pandangan terhadap dirinya tidak berubah, dia dianggap masih kelompok kelas dua.

Sementara itu, keadaan terus memburuk bagi pihak Quraisy. Serangan tentara sekutu dalam Perang Ahzab gagal total. Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslim menguasai Makkah. Wahsyi ketakutan. Makkah sudah jatuh ke tangan kaum Muslim. Wahsyi khawatir Rasul SAW akan balas dendam. Oleh sebab itu, dia segera melarikan diri ke Thaif.

Di kota yang berhawa sejuk itu, Wahsyi tetap ketakutan. Dia ingin menyeberang ke Habasyah, melarikan diri jauh dari Muhammad. Seseorang teman menasihatinya, “Wahsyi, sebenarnya engkau hanya dikejar oleh dosamu sendiri. Ke manapun engkau lari, bayang-bayangmu akan selalu mengikutimu. Lebih baik engkau pergi menemui Muhammad, ucapkan dua kalimat syahadat dan minta maaf kepada beliau.”

Wahsyi segera menemui Nabi SAW dan menyatakan keislamannya seraya meminta maaf telah membunuh Hamzah. Nabi meminta Wahsyi menceritakan detail apa yang dilakukan terhadap pamannya. Nabi tidak dapat menyembunyikan kedukaannya.

Nabi tidak akan membalas dendam. Beliau hanya meminta Wahsyi tidak memperlihatkan wajahnya di hadapan Nabi. Wahsyi tetap merasa bersalah, sampai kemudian pada zaman kekhalifahan Abu Bakar, dia membunuh Musailamah Al-Kadzab, yang mengaku sebagai nabi dalam Perang Riddah. Setelah itu Wahsyi tenang, utangnya membunuh pahlawan Islam terbayar dengan membunuh nabi palsu itu.

Oleh: KH Yunahar Ilyas     

sumber : www.republika.co.id

Artikel yang Berkaitan

0 komentar:

-

Post a Comment