-

Thursday, August 30, 2012

Nasib Masjid Pasca-Lebaran



SALAH satu fenomena menarik di bulan Ramadan adalah ramainya masjid oleh jemaah, terutama saat salat fardu, tausiyah Ramadan, dan salat tarawih. Bahkan pada salat Idulfitri 1 Syawal, masjid dipadati hingga bagian teras dan halamannya. Namun pasca-Lebaran, masjid kembali lengang, seakan Ramadan gagal mendidik karakter umat untuk memakmurkan masjid.

Uniknya, jemaah masjid yang ramai selama Ramadan itu dimanfaatkan untuk menambah kas keuangan mas,jid. Begitu pula saat salat Idulfitri, pengurus pun berupaya untuk mengetuk pintu hati jemaah agar berinfak atau berwakaf demi pembangunan masjid.

Tidak sedikit di antara kita yang mengedepankan pembangunan masjid secara fisik daripada memakmurkan masjid dengan menghidupkan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi pembinaan akidah dan sosial umat. Seakan kita lebih memamerkan dari pada memakmurkan masjid.

Ironisnya lagi, jemaah masjid me,minta sumbangan di jalan raya demi pembangunan fisik masjid. Bukankah hal ini akan menambah citra negatif umat Islam sebagai umat yang tidak kompak, dan peminta-minta? Lalu bagaimana aplikasi dari ajaran Nabi saw bahwa tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah?

Materialis-pragmatis

Agaknya penyebab sebagian umat meninggalkan masjid adalah cara berpikir yang dipengaruhi oleh paham materialisme dan pragmatisme. Paham materialisme menyebabkan sebagian umat menilai sesuatu itu dari bentuk fisiknya. Bagi mereka lebih berharga dan lebih bernilai membangun fisik masjid yang megah, mewah, dan indah tanpa memerhatikan pembangunan dan pembinaan jemaahnya.

Paham pragmatisme membuat sebagian umat hanya meramaikan masjid jika dianggap menguntungkan. Salat tarawih, misalnya, pahalanya dianggap besar dan dilipatgandakan, sehingga umat ramai-ramai memenuhi masjid. Jika Ramadan telah usai, maka masjid pun ditinggalkan. Artinya sebagian umat beribadah karena motivasi pahala (untung), bukan mencari keridaan Allah.

Oleh karena itu, Allah menegaskan bahwa orang yang memakmurkan masjid itu mesti memiliki empat karakter (QS Attaubah:18). Pertama, beriman kepada Allah swt dan hari yang akhir. Iman menjadi syarat utama yang harus dimiliki oleh seseo-rang yang ingin memakmurkan masjid. Tanpa iman, maka keterlibatannya di masjid hanya dihitung berdasarkan untung-rugi atau kepetingan pribadi.

Kedua, mendirikan salat. Ketika azan berkumandang, mereka akan bersegera menuju masjid untuk mendirikan salat. Sebab salat yang terbaik adalah salat seperti yang dilakukan Nabi saw yaitu melaksanakannya di awal waktu, secara berjemaah, dan bertempat di masjid.

Ketiga, membayar zakat. Ketika seseorang mendirikan salat di masjid, mereka akan membentuk saf yang lurus dan rapat. Seluruh makmum berada di belakang imam tanpa mem,bedakan antara si kaya dengan si mikin. Seorang jenderal bisa bersentuhan bahu dengan seorang prajurit. Semua sama statusnya di antara jemaah, yaitu makmum. Mereka saling menghormati dengan penuh kasih sayang.

Wujud dari persatuan dan kasih sayang itu adalah berempati kepada sesama. Ketika melihat saudara seiman ada yang miskin, maka mereka yang mampu akan segera mengulurkan bantuan. Bantuan itu berupa zakat sebagai kewajiban utama, lalu di,perkuat dengan bantuan berupa infaq, sedekah, wakaf dan lainnya.

Keempat, tidak takut kecuali kepada Allah. Orang yang memakmurkan masjid adalah orang yang takut pada Allah (khauf). Ketakutan tersebut akan mendorong seseorang melaksanakan ibadah, bukan justru jauh dari Allah.

Seorang pedagang tidak takut rugi karena menutup sementara kedainya untuk mendirikan salat berjemaah di masjid. Seorang pemimpin perusahaan tidak khawatir bangkrut karena mengistirahatkan karyawannya agar mendirikan salat berjemaah ke masjid. Begitu seterusnya. Mereka hanya takut kepada Allah semata. Sebaliknya, mereka takut jika usaha duniawinya tidak memperoleh berkah dari Allah swt.

Masjid Rasulullah

Bangunan pertama saat Rasulullah memasuki Madinah adalah masjid. Masjid yang didirikan sangat sederhana dengan dinding dari susunan batu bata dan atap dari jalinan pelepah kurma. Tetapi jemaahnya sangat ramai. Pasar menjadi lengang tatkala waktu salat, karena para pedagang semuanya pergi ke masjid.

Mereka juga memakmurkan masjid dengan berbagai kegiatan ibadah, seperti salat berjemaah, membaca Alquran, iktikaf, dan zikir. Begitu pula kegiatan pembinaan spiritual dan sosial umat menjadi aktivitas penting dalam masjid.

Tidak kurang dari sepuluh peran masjid pada masa tersebut, yaitu: 1) tempat ibadah (salat dan zikir), 2) tempat konsultasi dan komunikasi (masalah ekonomi, sosial dan budaya), 3) tempat pendidikan, 4) tempat santunan sosial, 5) tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya, 6) tempat pengobatan para korban perang, 7) tempat perdamaian dan pengadilan sengketa, 8) aula dan tempat menerima tamu, 9) tempat menawan tahanan, dan 10) pusat penerangan atau pembelaan agama.

Berbagai aktivitas yang dilakukan di masjid saat itu beul-betul bermotif ketakwaan, sehingga berefek pada kebaikan perilaku di luar masjid. Pada saat hidup bermasyarakat, nilai-nilai ketakwaan begitu nyata teraplikasi di dalam pergaulan. Inilah makna memakmurkan masjid yang sesungguhnya.

Sejatinya Ramadan yang telah kita lalui selama sebulan penuh mampu membentuk perilaku kita untuk memakmurkan masjid, baik di dalam masjid maupun di luar masjid.
(Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan STAI Alazhari Cianjur)**
Galamedia
senin, 27 agustus 2012 00:40 WIB
Oleh : ACEP HERMAWAN

Wednesday, August 29, 2012

Mudik Lebaran Asyik

APA yang ada di benak Anda ketika mendengar kata mudik? Lebaran, macet, silaturahmi, sungkeman, bercengkrama dengan keluarga, dan balik lagi ke tempat perantauan. Budaya Lebaran tersebut terus berulang setiap tahun. Namun yang paling mengesankan saat Lebaran tiba adalah selain berkumpul dan bercengkerama bersama keluarga adalah saat perjalanan mudik.

Macet menjadi buah bibir para urban yang melakukan mudik. Meski topik yang dibicarakan sama tentang kemacetan di perjalanan, namun ada hal-hal yang menarik sekaligus menjengkelkan saat dalam perjalanan.

Dimulai dengan waktu tempuh perjalanan yang bisa berlipat-lipat. Misalnya jarak yang dekat saja, Tasikmalaya-Bandung yang pada hari-hari biasa bisa ditempuh hanya 2,5 hingga 3 jam, saat mudik bisa mencapai 7-12 jam. Bagi yang mendengar memang hanya manggut-manggut, tapi bagi pemudik waktu yang begitu panjang cukup melelahkan juga.

Agak mending jika mudik menggunakan kendaraan pribadi, bisa berhenti kapan dan dimana pun. Dapat dibayangkan bagi mereka yang menggunakan kendaraan umum, penuh pula penumpangnya. Belum lagi yang membawa anak kecil, sepanjang perjalanan rewel. Lengkap sudah penderitaannya.

Frans, salah seorang pemudik dari Jakarta yang hendak ke Tasik, harus rela berdiri berjam-jam karena tidak kebagian tempat duduk dalam bus. Lain ceritanya dengan Arie Badriah yang terpaksa minta dijemput oleh kakaknya karena sudah tidak kuat lagi berada belasan jam dalam bus.

"Perut saya mungkin kram karena duduk berjam-jam. Mana anak rewel terus. Belum lagi saya lagi hamil, khawatir ada apa-apa sama janin saya, makanya minta dijemput saja pakai motor," ujar Arie yang tengah hambil dua bulan.

Menurutnya, dari Jakarta sampai Bandung lancar, macetnya dari Bandung-Tasik.

Kondisi macet di beberapa titik memang ada yang parah sekali. Macet, nyaris tidak bergerak sedikit pun. Ada yang merayap, maju dua meter berhenti satengah hingga satu jam. Jalur-jalur alternatif pun diburu para pemudik dan pengemudi untuk menghindari macet. Jalanan ramai kendaraan, siang dan malam hari. Restoran hingga pedagang asongan di pinggir jalan marema diserbu pemudik.

Masih banyak segudang cerita soal perjalanan mudik. "Wios da tos usumna macet. Nikmati saja," ujar salah satu kolega. Yup, obat yang paling mujarab saat mudik memang harus menikmati perjalanan. Sebab, di wilayah Jabar itu banyak titik-titik kemacetan. Apalagi, ditambah dengan volume kendaraan yang meningkat, karena mudik pada waktu yang sama, sementara jalan dari dulu hingga sekrang nyaris sama. Segitu-gitu aja.

Oleh sebab itu, meski pemerintah sudah melakukan upaya untuk mengurai kemacetan, tapi kemacetan itu tetap saja terjadi. Namun, kemacetan dan hiruk-pikuk saat perjalanan mudik akan terbayarkan oleh suasana yang fitri di hari Lebaran. Saat kumpul bersama keluarga. Intinya, mudik kudu dibawa asyik.
(Wartawan Galamedia)**
Galamedia
jumat, 24 agustus 2012 01:20 WIB
Oleh : ELI SITI WASLIAH

Tuesday, August 28, 2012

Bandung Kehilangan Heritage (Lagi)

HINGGA kini, Bandung masih populer dengan sebutan Kota Kembang dan Parijs van Java. Kota yang pada tahun 2007 lalu dijadikan sebagai pilot project kota terkreatif se-Asia Timur oleh British Council ini masih merupakan salah satu kota tujuan utama wisata di Indonesia. Tidak dapat dimungkiri, keberadaan bangunan-bangunan kuno peninggalan masa kolonial di Kota Bandung sebagai heritage (warisan) sejarah masa lalu merupakan salah satu daya tarik Kota Bandung bagi para pelancong.

Di Bandung memang banyak terdapat bangunan kuno peninggalan sejarah masa kolonial yang menjadi heritage sangat berharga. Menurut ketua paguyuban pelestarian budaya Bandung (Bandung heritage) diperkirakan Kota Bandung memiliki 637 bangunan cagar budaya. Gedung Sate, Gedung Pakuan, Gedung Dwi Warna, Gedung Merdeka, Gereja Bethel, Grand Hotel Preanger, Markas Kodam 3 Siliwangi, Biofarma, SMAN 3, Bumi Sawunggaling, Vihara Satya Budhi, Villa Merah ITB, Villa Isola, Rumah Dinas Walikota, Balai Pertemuan Bumi Sangkuriang, dan Dakken Cafe adalah beberapa contoh heritage yang hingga kini masih kokoh berdiri menghiasi Kota Bandung.

Hilang

Sayangnya, sudah ada beberapa heritage saksi sejarah di Kota Bandung kini lenyap karena dibongkar. Parahnya, pembongkaran tersebut justru dilakukan hanya karena bangunan dialihfungsikan menjadi apartemen, restoran, hotel, atau lahan parkir. Sayang memang jika bangunan peninggalan sejarah masa lalu dibongkar hanya demi kepentingan ekonimis dan bisnis. Padahal, nilai historis justru sebenarnya jauh lebih berharga karena tidak dapat diukur secara ekonomis.

Bangunan bersejarah yang sudah hilang yaitu pemandian (kolam renang) Cihampelas. Konon, kolam yang dibangun tahun 1902 ini adalah kolam renang pertama di Indonesia. Tempat yang pernah menjadi saksi keperkasaan para perenang Indonesia ketika mendulang emas dalam even internasional, Sea Games, beberapa puluh tahun lalu itu kini sudah rata dengan tanah.

Kemudian bangunan bekas Hotel Harapan Eka Graha di Jalan Kepatihan pun kini sudah berubah menjadi lahan parkir sebuah supermarket. Awalnya, bangunan Hotel Harapan Eka Graha adalah markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Siliwangi pada tahun 1945-1946. Bahkan konon tempat ini sempat menjadi rumah A.H. Nasution yang saat itu menjabat Pangdam Siliwangi dan di tempat inilah pertama kali dicetuskan ide awal "Bandung Lautan Api".

Kolam Renang Centrum (Pemandian Tirta Merta) di Jalan Sumbawa pun menjadi korban berikutnya. Bangunan tua ini kini sudah berubah menjadi sebuah restoran. Mungkin nasib Centrum sedikit lebih beruntung dibandingkan dengan kolam renang Cihampelas. Bangunan yang diarsiteki oleh C.P. Wolff Schoemaker dan dibangun sekitar tahun 1920 ini tidak dihancurkan total, tetapi hanya dirombak beberapa bagian. Walaupun demikian, perombakan tersebut tetap saja telah mengurangi nilai historis Centrum karena sudah berubah arsitekturnya dan kehilangan "kecentrumannya".

Pembongkaran heritage pun dilakukan pada bangunan heritage toko "Sarinah" dan sebuah bangunan No. 67 di Jalan Braga, rumah dinas dosen Universitas Pendidikan Indonesia (dulu IKIP Bandung), dan bangunan SMAK Dago di Jalan Ir. H. Juanda. Kabar menyedihkan kembali datang beberapa waktu lalu ketika sebuah bangunan di Jalan Braga No. 8 yang dulu dikenal sebagai Hotel Braga pun dibongkar karena di lokasi tersebut akan dibangun hotel setinggi 13 lantai. Padahal, bangunan tersebut juga termasuk dalam kategori heritage yang seharusnya dilestarikan sesuai bentuk aslinya.

Pembongkaran tersebut tentu saja sangat disesalkan karena menurut sejarahnya, bangunan yang dibangun pada tahun 1857 tersebut adalah bekas hotel yang mulai beroperasi pada tahun 1919. Sejak tahun 1926 hotel tersebut disebut Hotel Wilhelmina. Konon, walaupun bukan termasuk hotel besar, tetapi Wilhelmena cukup disukai pelancong karena letaknya tepat berada di pusat pertokoan Braga dan berdekatan dengan sarana hiburan. Wilhelmena sendiri kemudian berubah nama menjadi Hotel Beraga mulai tahun 1956. Jika melihat sejarahnya tadi, Hotel Braga jelas merupakan salah satu heritage peninggalan bangunan kuno bagi Kota Bandung.

Ironisnya, Kepala Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kota Bandung kepada media mengakui bahwa pembongkaran bangunan bekas Hotel Braga sudah mendapatkan izin karena bangunan heritage yang berhadapan ke jalan Braga tetap dipertahankan menjadi bagian bangunan utama hotel. Menurut hemat penulis, dalam rangka pelestarian heritage, pemberian izin pembongkaran dengan alasan apa pun tidak dapat diterima karena pemugaran tentu telah menyebabkan hilangnya bentuk asli bangunan. Tampaknya Pemerintah Kota (Pemkot) terlalu gampang memberikan izin pembongkaran terhadap bangunan heritage. Hal ini terbukti tidak lama setelah pembongkaran Hotel Braga, bangunan tua bekas rumah tinggal di Jalan Purnawarman pun menjadi korban perkembangan zaman. Bangunan tersebut dibongkar karena akan dibangun pertokoan. Padahal, rumah tua di sepanjang Jalan Purnawarman juga adalah bangunan tua yang tergolong cagar budaya.

Menunggu keseriusan pemkot

Pemkot Bandung seharusnya lebih ketat dan tegas lagi dalam pemberian izin pembongkaran bangunan heritage. Bahkan jika tidak ingin terus kehilangan bangunan cagar budayanya, Pemkot dengan alasan apa pun tidak perlu lagi mengeluarkan izin pembongkaran terhadap bangunan-bangunan heritage. Ingat, bangsa asing selalu mempertahankan dan melestarikan bangunan-bangunan yang dianggap sebagai benda cagar budaya karena kota yang memiliki peninggalan sejarah justru akan memiliki daya tarik kepariwisataan.

Memang, di satu sisi perubahan fungsi bangunan tidak dapat dihindari untuk mengikuti perkembangan zaman. Akan tetapi, pelestarian bangunan bersejarah masih sangat penting dilakukan agar identitas kota tetap terjaga. Ada pribahasa yang mengatakan, "Sebuah bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki sejarah yang kuat". Oleh karena itu, Pemkot Bandung harus punya keseriusan dan keinginan yang kuat untuk menyelamatkan bangunan cagar budaya.

Peraturan Daerah (Perda) Kota Bandung Nomor 19 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya seharusnya menjadi kekuatan dan jangan malah seperti menjadi macan ompong. Undang-Undang RI No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya pun harus ditegakkan. Harapan kita, Tim Pertimbangan Pelestarian Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya Kota Bandung yang telah terbentuk beberapa waktu lalu dapat segera merumuskan, mengklasifikasikan, dan menggolongkan bangunan cagar budaya di Kota Bandung agar perusakan bangunan heritage tidak terus terjadi.

Intinya, kawasan dan bangunan cagar budaya yang berada di Kota Bandung yang memiliki nilai sejarah, arsitektur, ilmu pengetahuan, sosial budaya, berusia di atas 50 tahun, dan yang memberikan ciri serta identitas peradaban harus dirawat, dilindungi, dilestarikan, dan dipertahankan bentuk aslinya.

Identitas kota

Kini saatnya tugas kita memelihara dan menjaga warisan peninggalan sejarah yang ada di Kota Bandung agar tidak kembali dihancurkan. Sudah lama Bandung menjadi salah satu kota di dunia yang paling kaya akan bangunan arsitektur. Manusia tanpa sejarah akan kehilangan identitasnya. Begitu juga dengan dengan sebuah kota.

Perjalanan panjang sejarah Kota Bandung dapat terlukis melalui kekayaan warisan arsitektur yang menggambarkan perkembangan kebudayaan masyarakatnya sehingga membiarkan heritage hilang sama artinya dengan menghapus satu sisi kehidupan yang membentuk jati diri Kota Bandung.

Menghilangnya kekayaan heritage di Bandung juga merupakan bagian dari proses hilangnya rentetan peristiwa yang menghubungkan sejarah pembangunan budaya masa lalu, masa kini, dengan masa depan yang dapat bermanfaat dan akan menjadi kebanggaan generasi penerus.

Bandung merupakan kota laboratorium arsitektur yang mulai kini memerlukan perhatian semua pihak agar citra dan nilai sejarah pembangunannya tetap terjaga dengan baik. Oleh karena itu, marilah kita sama-sama menjaga, mengawasi, memelihara, dan melestarikan heritage kuno bersejarah di Kota Bandung.
(Penulis, Staf Teknis di Balai Bahasa Bandung, Alumnus Universitas Padjadjaran)**
Galamedia
jumat, 24 agustus 2012 01:18 WIB
Oleh : DINDIN SAMSUDIN

Monday, August 27, 2012

Setelah Ramadan Berlalu



BEGITU cepat Ramadan berlalu seiring dengan berjalannya waktu. Kepergiannya ternyata menyisakan sebaris kenangan yang tersirat di dalam sanubari. Ada perasaan lega beraduk resah memenuhi hati setiap muslim yang senantiasa mengharap rida Allah swt. Lega sebab selama sebulan bersabar dalam ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Resah jika semua amal ibadah hanya sia-sia dan tidak terima di sisi Allah serta tiada mendapatkan balasan.

Tidak dapat dipungkiri berlalunya Ramadan melarutkan pula jiwa-jiwa yang hanya menyembah Allah di bulan Ramadan. Ternyata pendidikan (tarbiyah imaniah) di saat Ramadan pada sebagian insan bukan malah mendidik jiwanya, tetapi menjadikannya bertambah nista dengan kembali berbuat kemaksiatan dan dosa. Kemudian, bagaimama kita merefleksi diri pasca-Ramadan?

Apakah yang kita peroleh di bulan Ramadan? Kita hendaknya selalu menghisab diri dengan cermat. Sudahkah kita mendapatkan manfaat dari puasa, salat, dan semua amalan di bulan Ramadan? Bertambah kokohkah iman kita pasca-Ramadan? Benarkah kita mendapatkan ketakwaan yang merupakan tujuan utama puasa Ramadan? Banyak sekali pertanyaan untuk jiwa yang benar-benar tulus mengharap rida Allah swt.

Bukankah Ramadan itu bulan tobat dan kesabaran? Akan tetapi, mengapa perilaku kita tidak mencerminkan sikap orang yang bersabar dan bertakwa setela keluar dari Ramadan? Mengapa kita masih saja tenggelam dalam dosa dan lupa akhirat? Bukankah Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah swt. dan hendaklah tiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan." (Q.S. Alhasyr 59: 18).

Sungguh beruntung mereka yang keluar dari Ramadan dengan tobat dan ampunan. Lautan kebahagiaan untuk siapa saja yang meraih mahkota takwa dalam jiwa mereka di bulan mulia. Mereka itulah yang mendapatkan manfaat di bulan Ramadan sebab mereka seolah-olah hadir kembali di dunia ini dengan lembaran baru yang berharga dalam perjalanan hidup sejatinya menuju Allah swt.

Janganlah mengurai benang yang sudah dipintal. Jika termasuk orang yang mendapatkan manfaat dari puasa, salat, dan semua amalan kita di bulan Ramadan, selalu bersyukurlah memuji Allah swt. Jangan pernah melirik lagi untuk kembali ke jurang kemaksiatan. Sangat disayangkan jika mahkota takwa yang tersemat indah di jiwa kita, tergantikan dengan corengan dosa dan kemaksiatan. Jagalah ikatan iman yang telah terjalin kuat di dalam dada kita dengan selalu menambah ilmu dan keimanan. Betapa banyak orang saat Ramadan membangun istana ketakwaan, lalu setelah berlalu Ramadan kembali lagi pada tipu daya setan. Masjid yang tadinya semarak, sepi lagi dari kegiatan berjamaah. Tempat maksiat yang semula ditutup, sekarang kembali ramai diisi jiwa-jiwa yang awalnya mengabdi. Sungguh sebuah fenomena yang mengiris hati dan mencabik nurani. Oleh sebab itu, Allah swt. mengingatkan, "Janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali...." (Q.S. Annahl 16: 92).

Apakah amalan diterima? Sesungguhnya orang yang berhasil di bulan Ramadan adalah mereka yang ketika Ramadan mempergunakan detik-detik waktunya untuk ketaatan. Ia lalui siang hari bulan Ramadan dengan puasa dan menjaga adabnya. Pada malam harinya, ia mendirikan salat dan mengisi waktunya dengan membaca Alqruan. Mulutnya selalu basah dengan zikir kepada Allah, bahkan linangan air mata tobatnya selalu mengalir di sepertiga malam terakhir.

Bukan sekadar itu, ia senantiasa berusaha istikamah menjaga amalannya di luar Ramadan. Ia selalu meningkatkan ketakwaan dengan memperdalam keilmuan. Ia tidak rida jika jalinan iman yang ia rajut susah payah, cerai-berai dengan perginya Ramadan. Akan tetapi, ia selalu takut jika amalannya tidak diterima. Begitu pula ia selalu cemas jika amalannya tidak ikhlas karena Allah.

Ali bin Abi Thalib berkata, "Jadilah engkau orang-orang yang lebih memikirkan bagaimana diterimanya suatu amalan daripada memikirkan untuk beramal itu sendiri. Tidakkah engkau mendengar Allah swt. berfirman, "Sesunggunya Allah hanya menerima suatu amalan dari orang-orang yang bertakwa." (Q.S. Almaidah 5: 27).

Dahulu orang saleh pun selalu berdoa selama setengah tahun (pasca-Ramadan) agar diterima amal ibadahnya dan setengah tahun berikutnya berdoa agar dipertemukan dengan Ramadan lagi.

Janganlah menjadi hamba Ramadan. Bahagia sekali saat di bulan Ramadan kita berlomba melakukan kebaikan. Berbagai sarana/tempat maksiat ditutup. Masjid semarak dengan kegiatan ibadah berjamaah. Indah rasanya suasana imani di bulan Ramadan. Sampai-sampai kaum selebritas yang tadinya tidak suka pamer aurat, hadirnya Ramadan membuat mereka menutup auratnya. Kedatangan Ramadan benar-benar membawa berkah untuk semua. Sayang, berlalunya Ramadan, redup pula nuansa keimanan itu. Tempat-tempat maksiat kembali dibuka lebar-lebar. Masjid kembali diisi oleh orang itu-itu saja. Bahkan, terkadang perilaku maksiat lebih parah dari sebelumnya.

Iman apakah itu? Islam apakah seperti ini? Tidak lain semua ini adalah bermain-main dengan Allah swt; kedustaan dan kenifakan terhadap agama Allah. Bukankah Robb yang kita ibadahi di bulan Ramadan, Dialah Robb yang kita sembah di luar Ramadan pula?

Kita adalah hamba Allah, bukan hamba Ramadan. Ya, hamba Allah yang memerintahkan agar kita senantiasa tsabat dan istikamah pada tiap amalan kita, baik Ramadan maupun di luar Ramadan. "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nyal dan janganlah sekali-kali kalian mati, melainkan dalam keadaan beragama Islam." (Q.S. Ali Imran 3: 102).

Akhirnya, kita berharap menjadi hamba Allah sejati yang selalu beribadah kepada-Nya, baik di bulan Ramadan maupun bulan lainnya.
(Pengajar LB FIB Unpad dan STAI Sabili Bandung)**
Galamedia
kamis, 23 agustus 2012 00:43 WIB
Oleh : EDI WARSIDI

Sunday, August 26, 2012

Si Pemalu Lebih Jago Baca Ekspresi Wajah



Orang yang pemalu mungkin jarang mau berkomunikasi dengan bertatap muka. Namun sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa si pemalu mempunyai kemampuan yang sangat baik untuk mengenali ekspresi wajah orang.

Penelitian yang dipresentasikan pada American Psychological Association pada bulan ini menemukan bahwa orang pemalu lebih baik dalam membaca ekspresi wajah. Hal ini menarik karena penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa orang pemalu cenderung salah menafsirkan ekspresi wajah.

Dalam studi itu, orang dewasa usia kuliah yang pemalu lebih mampu mengenali ekspresi wajah kesedihan dan ketakutan dibandingkan mereka yang tidak malu, Rabu (22/8).

Dengan temuan ini, penulis studi Laura Graves O'Haver, yang merupakan mahasiswa doktoral di Southern Illinois University di Carbondale mengatakan, mungkin ada beberapa aspek positif dari rasa malu untuk ditelusuri. "Kita cenderung berpikirian jelek dengan orang pemalu," jelasnya.

Grave mengalisa informasi dari 241 mahasiswa (rata-rata usia 19 tahun) dengan survei secara online. Peserta ditunjukkan 110 foto wajah dan diminta mengidentifikasikan ekspresi wajah (senang, sedih, marah, takut, terkejut, jijik, netral).

Untuk menentukan tingkat rasa palu, para peserta harus menjawab pertanyaan seperti "saya merasa sulit meminta informasi" dan "aku tidak nyaman di pesta", atau "saya merasa tegang dengan orang yang tidak saya kenal".

Secara keseluruhan, orang mampu mengidentifikasi ekspresi wajah cukup baik dengan tingkat akurasi 81 persen.

Orang-orang yang skala rasa malunya tinggi, lebih akurat untuk mengidentifikasi ekspresi wajah sedih dan ketakutan daripada yang nilainya rendah.

Lalu apa alasannya? Ketika peserta ditanya bagaimana perasaan mereka selama studi, orang-orang pemalu lebih cenderung berada dalam suasana hati yang buruk. Hal ini bisa menjelaskan hasilnya, karena studi telah menemukan bahwa orang-orang dalam suasana hati yang buruk cenderung melihat hal-hal lain dalam cahaya yang negatif.

"Seperti kebalikan dari kacamata berwarna merah," kata Graves O'Haver.

Selain itu juga kemungkinan kemampuan superior yang mengenali ekspresi wajah sedih dan takut dapat berkontribusi pada rasa malu orang. Orang pemalu melihat emosi negatif pada wajah orang-orang, "yang bisa membuat Anda merasa malu," kata Graves O'Haver.

Namun, Graves O'Haver menekankan studi hanya menunjukkan asosiasi, dan bukan hubungan sebab-akibat. Selain itu, lanjut Graves, penelitian ini juga dilakukan secara online, tidak jelas seberapa baik hasilnya akan jika diterjemahkan ke dalam situasi nyata. Dia ingin melakukan studi lain yang mirip percakapan dalam kehidupan nyata, mungkin dengan menggunakan video, bukan foto

Saturday, August 25, 2012

Wisata Pantai Pisangan Masih Jadi Primadona

Wisata pantai masih menjadi primadona bagi masyarakat Karawang untuk mengisi waktu libur lebaran 1433 H. Hal itu terlihat dari membludaknya jumlah wisatawan lokal yang mertandang ke beberapa objek wisata pantai yang ada wilayah Karawang utara, Selasa (21/8).

Dari pantauan "PRLM", pantai yang kerap didatangi pengujung saat lebaran adalah Pantai Pisangan di Kecamatan Pedes, Pantai Samudrabiru di Kecamatan Cilebar, dan Tanjungbaru di Kecamatan Cilamaya Kulon. Kendati air laut tidak jernih, pasir di tiga objek itu landai, sehingga memudahkan wisatawan untuk berenang.

Di tiga objek wisata itu pun, pengunjung bisa dengan mudah menyewa ban mobil bekas agar bisa mengapung saat berenang. Bahkan, ratusan pedagang ikan bakar khas Karawang siap menyambut mereka bersantap sesuai bermain air laut.

Sayangnya, potensi tersebut belum dikelola dengan baik oleh pemerintah daerah setempat. Salah satunya adalah akses jalan yang menuju tiga tempat tersebut masih dibiarkan rusak parah.

Akibatnya, pengunjung yang rata-rata datang dengan menggunakan sepeda motor harus ekstra hati-hati saat menuju ke tiga objek tersebut. Mereka bahkan harus bejibaku dengan debu yang muncul dari badan jalan.

Pengelolaan yang belum tertata, terlihat di objek wisata Tanjungbaru, Cilamaya Kulon. Jalan yang rusak dan sempit membuat pengunjung harus antre sepanjang lebih kurang 2 Km sebelum melewati pintu gerbang Pantai Tanjungbaru yang sekaligus dijadikan tempat pembayaran tiket masuk.

Meski demikian, para wisatawan lokal itu tampak tetap bersemangat mendatangi wisata bahari yang ada di Karawang tersebut."Sejak dari Pertigaan Pasirukem, kondisi jalan menuju Tanjungbaru sudah rusak. Akibatnya kendaraan harus berjalan pelan-pelan dan itu menimbulkan kemacetan," ujar Hasanah, salah seorang wisatawan lokal dari Kecamatan Lemahabang Wadas.

Hasanah menyebutkan, kondisi tersebut diperparah oleh perparkiran yang tidak tertata rapi. "Kendaraan yang diparkir menyita badan jalan, sehingga menghalangi laju kendraan lainnya," ujar Hasanah.

Disebutkan, dirinya setiap libur lebaran selalu berkunjung ke Tanjungbaru bersama keluarga. Selain murah, letak objek wisata itu tidak terlalu jauh dari kampung halamannya.

“Tiket masuknya hanya Rp 10.000 saya bersama keluarga bisa berenang sepuasnya di sini,” ujar Hasanah.

Sementara itu, Nurendah, wisatawan asal Bekasi, mengaku datang ke pantai Tanjungbaru karena penasaran dan diajak oleh keluarganya yang bertempat tinggal di Karawang."Kendati jalannya jelek, saya cukup terhibur. Selain bisa berenag di laut, saya juga bisa menikmati ikan bakar dengan harga murah," ujar dia.

Pada kesempatan itu, Endah dan Hasanah mengeluhkan pula adanya oknum pemuda yang memaksa untuk membeli air mineral dengan harga yang tidak wajar dan sedikit memaksa. “Harusnya pengelola pantai bisa mengamankan hal itu, sehingga tidak ada oknum yang memaksa membeli air mineral dengan harga mahal," ujar mereka. (A-106/A-26).***
pikiran-rakyat.com

Friday, August 24, 2012

Matematika Dimulai dengan Permainan Logika

Banyak orang merasa kesulitan menguasai matematika. Pada sebuah program evaluasi murid internasional 2009, Amerika Serikat berada di peringkat 25 untuk penguasaan matematika. Seorang ibu di New Jersey ingin mengubah situasi tersebut, dimulai dengan ritual setiap malam.

Laura Overdeck tumbuh dengan mengenal angka. Ia selalu membantu menimbang bahan-bahan saat ibunya membuat kue, dan ia belajar dari ayahnya, yang senang membuat perkakas kayu di waktu luang. Matematika merupakan mata pelajaran favorit, dan ia mengambil jurusan astrofisika saat kuliah. Overdeck ingin anak-anaknya pandai dalam matematika juga.

“Ketika anak pertama kami berumur sekitar dua tahun, kami mulai memberinya soal matematika setiap malam, selain juga mendongeng sebelum tidur,” ujar Overdeck.

Biasanya yang diberikan adalah soal cerita, dengan subyek binatang, mobil atau permen yang mendorong si balita mengitung di luar kepala atau dengan jarinya. Overdeck mengatakan metode tersebut disukai dalam keluarganya.

“Anak ketiga kami, saat ia berumur dua tahun, berteriak bahwa ia ingin mendapat soal matematika karena ia melihat abang dan kakaknya melakukannya. Kami pikir, ‘Wow, matematika merupakan sesuatu yang menyenangkan di rumah kami, sesuatu yang dinanti sebelum tidur,’” kata Overdeck.

Pada Februari, setelah para kawan mulai memintanya mengirim soal-soal matematika untuk anak-anak mereka, Overdeck meluncurkan situs Internet www.bedtimemathproblem.org dan mengunggah soal matematika untuk anak setiap harinya. Sekarang, ia memiliki lebih dari 5.000 orang dalam daftar surat elektroniknya.

Ayah Oggie Stachelberg adalah pelanggan Bedtime Math. Bagi Oggie, 8, soal matematika adalah permainan yang dinanti setiap malam, dan biasanya dilakukan setelah menyikat gigi.

Soal matematika malam ini dimulai dengan permainan logika mengenai lalu lintas Jumat malam sebelum beralih ke angka. Oggie sudah bersekolah, namun Overdeck senang memperkenalkan angka pada anak-anak sebelum mereka bersekolah.

Apa manfaat mengenalkan matematika pada anak-anak begitu dini?

Profesor psikologi University of Chicago Sian Beilock, yang juga ahli dalam masalah kegelisahan kinerja (performance anxiety), mengatakan bahwa jika pelajaran matematika diberikan lebih dini dengan cara yang menyenangkan dan akrab, lebih sedikit kemungkinan anak-anak akan panik saat mereka masuk sekolah dan menghadapi matematika.

“Anak-anak yang datang ke laboratorium saya menunjukkan bahwa mereka mulai merasa khawatir berhadapan matematika bahkan sejak kelas satu sekolah dasar,” ujar Beilock. “Riset memperlihatkan bahwa semakin sering orangtua menggunakan angka dengan anak-anaknya di setiap kesempatan, seperti ‘Kamu akan mendapat dua kue’ atau ‘Kita akan tidur siang selama 20 menit,’ maka kemampuan matematika anak-anak akan lebih baik di kemudian hari.”

Overdeck mengatakan bahwa ia ingin melihat perubahan budaya dalam matematika. “Anda terbiasa mendengar orang dewasa yang terpelajar sekalipun mengatakan, ‘Saya tidak pandai matematika,’ atau ‘Saya takut matematika.’ Dan itu dianggap sesuatu yang dapat diterima dari seseorang yang terpelajar. Namun Anda tidak pernah mendengar mereka mengatakan, ‘Saya tidak pandai membaca,’” ujar Overdeck.
Ia menambahkan bahwa ia ingin anak-anak dan orangtuanya lancar mengolah angka, seperti mereka lancar membaca buku Dr. Seuss atau Harry Potter.
Minggu, 19/08/2012 - 05:20
Pikiran  rakyat

Thursday, August 23, 2012

Tangkuban Perahu Ditutup, Wisatawan Kecewa

Sejumlah wisatawan yang hendak berwisata ke obyek wisata Gunung Tangkuban Perahu kecewa menyusul adanya pemblokiran jalan itu sebagai buntut konflik antara pedagang dengan pengelola kawasan itu. "Benar-benar kecewa karena tidak bisa berwisata ke Tangkuban Perahu, baru kali ini sampai ada pemblokiran seperti ini. Masalahnya dari dulu juga tidak pernah sampai diblokir seperti ini," kata Hendarsyah, salah seorang wisatawan asal Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (22/8/2012).

Awalnya ia mengira obyek wisata itu sudah dibuka setelah diblokir sejak Senin (20/8/2012), namun kenyataanya hingga Rabu siang masih diblokir.

Tak hanya Hendarsyah, wisatawan lainnya juga kecewa tidak bisa masuk ke Gunung Tangkuban Perahu. Meski tidak ada pengerahan massa dari paguyuban pedagang Gunung Tangkuban Perahu, namun pintu masuk masih bertuliskan ditutup.

Para wisatawan hanya bisa sampai ke pintu gerbang tanpa bisa mendapatkan peluang untuk menuju obyek wisata gunung api itu. Padahal, kata Hendaryah, keluarga besarnya sudah tradisi berwisata ke gunung itu setiap Lebaran.

"Sangat disayangkan, Lebaran yang seharusnya menjadi kedamaian dan bersuka cita, tidak perlu seperti ini. Pemerintah harus turun tangan menangani masalah ini. Hak kami untuk berwisata terampas," kata Taufik (35) salah seorang wisatawan asal Jakarta.

Tak hanya wisatawan lokal yang kecewa, sejumlah wisatawan mancanegara juga tidak bisa masuk. Seperti yang lainnya mereka hanya bisa sampai ke pintu gerbang obyek wisata itu.

Padahal, pada H+3 ini jumlah wisatawan terus meningkat ke kawasan Lembang dan Gunung Tangkuban Parahu. Akibat penutupan itu sebagian wisatawan berbalik arah mencari obyek wisata lain di wilayah Lembang, sebagian lagi melanjutkan perjalanan ke obyek wisata Ciater, Subang.

Akibatnya terjadi kepadatan arus lalu lintas di jalur Lembang-Subang dengan titik kemacetan di kawasan wisata Ciater. Namun demikian, obyek wisata Ciater daya tampungnya tidak sebesar Gunung Tangkuban Perahu, disamping itu akses jalannya sempit.

Buntut aksi penutupan oleh masa pedagang itu, sejumlah petugas kepolisian ditempatkan di pintu gerbang serta di Kantor Pengelola Obyek Wisata PT Graha Rani Putra Persada untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

"Untuk sementara obyek wisata ini masih ditutup, belum ada kesepakatan antara pedagang dengan pengelola obyek wisata ini. Pembicaraan dan negosiasi masih dilakukan, namun tampaknya ada jalan keluarnya," kata Aiptu Suhendi dari Polsek Lembang.
sumber:
http://travel.kompas.com/read/2012/08/22/19262260/Tangkuban.Perahu.Ditutup.Wisatawan.Kecewa

Wednesday, August 22, 2012

Gunung Burangrang



UDARA dingin di Desa Kertawangi terasa begitu menusuk sumsum. Nyanyian burung-burung di pagi hari terasa begitu indah dan harmonis. Puncak Gunung Burangrang masih tertidur diselimuti kabut putih yang menawan. Tampaknya sinar matahari pagi masih enggan memancarkan sinarnya seakan-akan masih terbuai dalam tidurnya.
Wisata alam Gunung Burangrang yang terletak di Desa Kertawangi Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung, tidak pernah sepi dari para wisatawan petualang yang ingin menikmati keindahannya dengan berbagai pesona alam dan misterinya.
Untuk mencapai Gunung Burangrang dapat ditempuh dari berbagai jalur pendakian, misalnya melewati Desa Kertawangi, dari arah Bandung menuju Cihanjuang dengan ongkos Rp 2.000,00.
Kemudian dari Cihanjuang dilanjutkan dengan angkutan mobil Colt warna ungu menuju Parongpong seharga Rp 2.500,00 atau bisa diborong sampai dengan Gerbang Komando seharga Rp 4.000,00 per orang. Dari Pos Komando, kita akan menemukan jalan berbatu sampai Gerbang Militer Kopassus, dari sana belok ke kiri, jangan masuk ke gerbang Militer karena bila masuk akan menuju Situ Lembang, Gunung Sunda, dan Gunung Tangkuban Parahu.
Sepanjang jalan menuju pintu gerbang Situ Lembang akan melewati bukit-bukit yang indah dan cukup menguras tenaga. Masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Burangrang, kebanyakan bertani sayuran dan berternak sapi. Mereka sangat ramah seperti orang-orang Sunda pada umumnya jika menyambut tamu. Jika naik dari Cihanjuang, sepanjang jalan yang dilewati akan dijumpai vila-vila dan perumahan yang indah serta wahana wisata Curug Cimahi yang berada di kaki Gunung Burangrang.
Ada pula cara lain, misalnya berangkat dari Bandung menuju Subang dengan kendaraan bis atau mobil Elf, lalu turun di gerbang Tangkubanparahu yang merupakan objek wisata alam yang cukup terkenal di Jawa Barat. Dari Puncak Gunung Tangkubanparahu, kita menuruni tower Tangkubanparahu menuju Gunung Burangrang dengan terlebih dahulu akan melewati kawah Upas, Domas, Ratu, dan Jurig yang cukup menawan di kawasan Tangkubanparahu.
Saat kami berada di puncak Gunung Burangrang, lambat laun matahari mulai bangkit dari peraduannya dan perlahan-lahan menerangi Desa Kertawangi, sehingga menjadi terang dan cerah. Desa Kertawangi merupakan titik awal pendakian menuju puncak Gunung Burangrang. Walaupun gunung itu tidak terlalu tinggi, kawasan hutan Gunung Burangrang memiliki jenis flora dan fauna yang bervariasi. Kelebatan hutannya pun masih terjaga dengan baik sehingga menarik bagi para petualang alam bebas.
Di samping keindahan alamnya, di kawasan Gunung Burangrang terdapat danau yang cukup besar dan indah bernama Situ Lembang. Situ ini jika terkena sinar matahari akan memantulkan warna pelangi yang memesona. Masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Burangrang memanfaatkan situ (danau) ini untuk memancing, karena di Situ Lembang terdapat berbagai jenis ikan untuk dikonsumsi.
Tepat pukul 8.00 WIB memulai melakukan pendakian dengan tidak lupa mengisi persediaan air yang cukup, karena sumber air di atas sana sulit dijumpai selama perjalanan pendakian. Dengan diiringi doa, kami mulai berangkat menuju puncak Gunung Burangrang.
Suara harmoni burung-burung berkicau masih terdengar saling bersahutan melepas kepergian kami menuju puncak.
Sepanjang jalan pendakian masih didominasi pohon-pohon pinus. Kami melewati bukit-bukit yang menguras banyak tenaga. Sejenak kami beristirahat menghirup udara segar alam Burangrang. Sekali-kali cahaya langit mengintip di balik daun-daun dalam kelebatan hutannya.
Puncak Burangrang dapat ditempuh kurang lebih empat jam pendakian dari Desa Kertawangi. Bila telah tiba di puncak, ada rasa damai, tenteram, serta bahagia, yang seolah-olah menyatu dalam batin. Dari puncak Gunung Burangrang pemandangannya menakjubkan dan tampak awan putih menyelimuti gunung-gunung di sekitarnya. Terlihat pula dengan jelas dari kejauhan Gunung Tangkubanparahu nan elok.
Pemandangan yang tidak kalah menariknya adalah hamparan sawah dan rumah-rumah di sekitar Cisarua serta Situ Lembang yang terlihat begitu indah dan menawan. Matahari naik semakin tinggi. Waktu telah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Kami memutuskan untuk turun kembali menuju Desa Kertawangi yang merupakan titik awal pendakian. (Imam Syarifuddin)***

Tuesday, August 21, 2012

Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia

Wajah (Intelektual) Islam Indonesia
DISADARI atau tidak wajah Islam Indonesia memang unik dan sangat diperanguhi khazanah budaya setempat. Ini yang diakui oleh Clifford Geertz yang membandingkan Islam di Indonesia dengan Maroko. Hasilnya membuktikan adanya pengaruh budaya dalam memahami Islam. Untuk Indonesia Islam menjelma menjadi suatu agama yang sinkretik dan Maroko Islam mempunyai sifat yang agresif dan penuh gairah. Tentunya, perbedaan penampilan agama ini menunjukkan betapa realitas keyakinan sangat erat kaitanya dengan budaya (lingkungan) lokal.

Dalam buku "Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia" keragaman wajah Islam Indonesia bisa dilihat sekaligus dibedakan antara masuk dan pengaruh Islam Indonesia. Pertama, teori Arab Islam dibawa dan disebarkan ke Nusantara langsung dari Arab pada abad ke 7/8 saat kerajaan Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya. Tokoh-tokoh teori ini Crawfurd, Keijzer, Niemann, Dehollandrr, Hasim, Hamka, Al-Alatas, Jajadiningrat, Mukti Ali, J.C Panler, T.W Arnold (h. 4-6). Kedua, teori Cina, etnik Tionghoa muslim sangat berperan dalam proses penyebaran Islam nusantara. Ceng Ho kaisar Cina muslim dari dinas Timing yang melakukan ekspedisi maritim selama 48 tahun (h. 6-8). Ketiga, teori Persia menuju pada bukti-bukti sejarah adanya pengaruh Persia pada abad ke-11. Salah satu bukti pengaruh kitab Ajaib Al-Hin, yang ditulis oleh Buzurg Bin Sariar Al-Ramhurmuzi sekitar tahu 390/ 1000. (hal. 8-9). Keempat, teori India pada adab ke-13 yang berasal dari Guzarat, Cambay, Malabar, Koromandel, dan Bengal. Pendukungnya Piznapel, Snouck Hurgronj, Moqtte, Marrison, Fatimi, Kern, Winsted, Pelekke, Gonad, Halchrieke (hal. 9-10). Kelima, teori Turki islamisasi lain di ajukan oleh Martin Van Bruinesen yang di islamkan oleh orang-orang Kurdi. Kitab Tanwir Al-Kulub adalah karangan Muhammad Amin Al-Kurdi popular di kalangan Tarekat Naksabandiyah. Kedua tradisi barjanji popular di Indonesia dibacakan setiap Maulud Nabi (hal. 10-11).

Menariknya karakter dan presentasi Islam di Nusantara itu menunjukan bahwa tradisi keislaman itu tidaklah monolitik. Dunia Islam adalah sebuah konfigurasi berbagai kelompok etnis, tradisi, kebudayaan, struktur masyarakat, sistem politik, khazanah pemikiran dan seterusnya. Ketika masing-masing unsur dalam konfigurasi ini menampilkan mozaik budaya berbasis perjalanan sejarahnya sendiri-sendiri (historical track line) dalam sebuah (kawasan) bangsa Muslim, saat yang sama ia sedang mempresentasikan dirinya di atas panggung drama sejarah. Presentasi yang menampilkan unsur-unsur kekhasan sebuah (komunitas) bangsa harus difahami dengan baik. (hal.ix).

Ini yang disayangkan oleh Yudi Latif dalam Kata Pengantar buku ini. Masalahnya, presentasi sering ditampilkan tidak utuh atau tidak akurat karena dua hal: Pertama, keterbatasan bahasa mewakili semua denyut nafas kehidupan, kedua, presentasi diwakili oleh hanya satu atau beberapa orang pembicara. Mereka adalah kelompok elit intelektual yang menjadi juru bicara atau nara sumber yang menjelaskan masyarakatnya. Panggung kehidupan yang banyak nuansa dan berjuta warna sering terlalu luas dari apa yang mampu dijelaskan oleh sekelompok kecil elit intelektual. Dari sini, pertanyaan muncul dari laci ingatan, apakah penggambaran masyarakat oleh kaum intelektual seperti terekspresikan dalam wacana arus utama, polemik di media massa dan tumpukan rak-rak literatur benar-benar absah merepresentasikan realitas yang sesungguhnya? Sejauh mana kaum intelektual cukup objektif merepresentasikan masyarakatnya? Seperti diingatkan Wilfred Cantwell Smith, sejauh mana publik yang dijadikan objek wacana "mengaminkan" pandangan-pandangan kelompok elit yang menyuguhkan penggambaran tentang diri mereka? Jawaban pertanyaan ini berkaitan dengan "siapa mewakili siapa."

Sebagai zoon politicon yang dibesarkan dalam kultur, struktur sosial dan relasi-relasi kuasa yang tidak sama satu sama lain, kaum intelektual pada kenyataannya hidup dalam blok historisnya sendiri-sendiri. Parahnya, apabila presenter itu adalah kaum intelektual komprador yang mengusung ideologi partisan dan terjebak pada pengkhianatan fungsi dirinya. Tak mengherankan bila presentasi kaum intelektual sering hanya merupakan ekspresi kepentingan kelompok yang digelayuti nafsu vested-interest terutama ketika mereka berada dalam konflik atau polemik dengan lawan-lawannya. Presentasi kaum intelektual semakin tidak utuh dan tidak representatif menggambarkan masyarakatnya. Inilah yang sering menyebabkan deskripsi-deskripsi teoritis kaum intelektual atau cendekiawan sebuah masyarakat sering jauh berbeda dengan realitas dalam masyarakat. (hal. x).

Membaca buku ini akan menambah wawasan kita yang berusaha menjelaskan dan mendiskusikan tema-tema keislaman Indonesia dalam ragam persoalan (proses Islamisasi, peranan ulama dalam sejarah, kelas menengah Muslim, sekularisasi, pluralisme, terorisme, Islam liberal, pornografi) dan melihatnya dari berbagai sisi (sejarah, sosial, politik, psikologis dan budaya).

Pembahasannya tematis, variatif, deskriptif, informatif, orisinal dan berusaha mengkritisi persoalan-persoalan psikososial yang menjadi diskursus publik. Selamat membaca!
(Ibnu Ghifarie, mahasiswa Pascasarjana UIN SGD Bandung Program Religious Studies dan peneliti Academia for Religion and Social Studies (ARaSS) Bandung)**
Galamedia
kamis, 28 juni 2012 01:13 WIB

Sunday, August 19, 2012

Kematian di Mata Muhammad Damm

Kematian (Sebuah Risalah tentang Eksistensi dan Ketiadaan)
APA yang terlintas dalam pikiran kita ketika mendengar kata kematian? Takut, ngeri, sakit, berbagai perasaan, dan imajinasi lain yang terkait horor serta penghentian kesenangan akan terlintas dalam benak kita. Bagaiamana reaksi orang lain terhadap kematian? Takut, sedih, ngeri, atau sebaliknya, gembira? Kita dapat mengalami perasaan yang berbeda ketika menghadapi sebuah peristiwa kematian. Sebaliknya, kita juga dapat melihat bagaimana beragamnya reaksi orang lain dalam menghadapi sebuah peristiwa kematian. Di layar kaca, kita menghadapi kesedihan keluarga seorang publik figur, tetapi dalam kali yang sama kita juga melihat atau terhenyak menyaksikan kegembiraan rakyat atas kematian sang publik figur itu. Memang, kematian kebanyakan dianggap sebagai hal yang menakutkan dan mengerikan karena akan memutuskan seseorang dengan segala aktivitas duniawi. Tinggal di dunia lain, barzah, yang belum dikenal menimbulkan rasa ngeri yang terkadang berlebihan. Terlebih jika sang individu tidak mendapatkan bekal religi yang cukup sebelumnya.

Damm dalam bukunya tersebut ingin mengajak manusia dengan menelusuri pembekalan ala filsafat untuk bersiap diri dalam menghadapi kematian. Buku yang terdiri atas enam bab. Pada bab 1, Damm mengatakan bahwa eksistensi, sosial, dan bahasa harus muncul dalam waktu bersamaan (hlm. xxiii). Ketiga hal itu tidak mungkin berpisah, sebaliknya saling melengkapi. Damm mengatakan bahwa manusia adalah sebuah eksistensi. Aspek sosial, menurut Damm, merujuk pada struktur kehidupan yang muncul sebagai pelampauan manusia sebagai sebuah eksistensi. Sementara itu, bahasa merupakan sistem tanda. Ketiga unsur itulah yang membuat manusia eksis sebagai sebuah eksistensi.

Pada bab 2, Damm menguraikan tentang kebenaran, keputusan, dan otensitas. Otensitas, menurut Damm, adalah sebentuk pencapaian dari seseorang yang selalu memperbarui dirinya melalui penciptaan kebenaran, dan penciptaan kebenaran selalu didahului keputusan eksistensial. Dalam bab 2 tersebut, Damm lebih menitik beratkan pada aspek manusia dengan fokus agensi dalam konstruksi dunia manusia.

Pada bab 3, Damm memaparkan hadirnya kematian di dalam dunia manusia. Damm mengusung teori Epikurus, Immanuel Kant, dan Ludwig Wittgenstein. Menurut Damm, beberapa nama yang disebut menganggap bahwa tidak pernah ada tempat bagi kematian karena kematian tidak bisa ada dalam dunia-dunia mereka. Damm membandingkan pendapat kaum Nasrani pada Abad Pertengahan yang menganggap bahwa kematian dibicarakan bukan karena kematian itu nyata, tetapi karena Tuhan itu ada.

Pada bab 4, Damm membicarakan masalah imortalitas. Inti dari pembahasan Damm pada bab itu adalah kemungkinan dan ketidakmungkinan manusia untuk mengeliminasi kematin dan menjadi abadi. Bagi Damm, imortalitas adalah bias dari cara kematian hadir di dalam dunia manusia. Pada bab 5 dan bab 6, Damm memberikan paparan pelampauan atas ulasan bab sebelumnya. Pada bab 5, Damm mengaitkan kematian dengan perayaan kematian. Di dalam masyarakat kita perayaan kematian masih banyak dilakukan, yaitu berupa upacara atau ritual lain yang dilakukan jika seseorang sebagai anggota kelompok masyarakat meninggal dunia. Perayaan tersebut pada hakikatnya bukan sekadar penghamburan materi atas si mati, melainkan sarana pembelajaran bagi kita "si hidup" untuk meyakini bahwa kematian merupakan bagian dari eksistensi kita sebagai manusia.

Bab 6 merupakan sarana Damm untuk memberikan "pencerahan" khusus kepada pembaca tentang bunuh diri. Bunuh diri, menurut Damm, merupakan tanda bahwa ada kesalahan dalam kehidupan, bukan hanya pada titik pelakunya melainkan pada kehidupan yang ia tinggali. Damm mengeksplorasi kondisi yang termanifestasikan dalam peristiwa bunuh diri. Buku ini layak dibaca sebagai sarana pembelajaran yang tepat untuk menangkap makna tentang kematian. Apa dan bagaimana kematian itu layak dihadapi.
(Resti Nurfaidah, Staf Teknis Balai Bahasa Bandung)**
Galamedia
kamis, 05 juli 2012 01:34 WIB

Saturday, August 18, 2012

Playing God; Bertindak Seolah Tuhan

KADANGKALA dalam kehidupan sehari-hari, tanpa sadar kita banyak mengambil alih peran Tuhan. Kehidupan diri sendiri, keluarga, dan orang lain ditentukan dengan mengambil sebuah keputusan. Entah itu persoalan kerja, misalnya, dengan mem-PHK karyawan atau memutuskan keluar dari pekerjaan.

Keputusan tersebut tentunya akan berdampak pada kehidupan kita dan orang lain. Pun yang kerap terjadi di dunia kedokteran. Keputusan-keputusan penting yang menyangkut nyawa dan kehidupan, ditentukan dari meja seorang dokter. Inilah yang disebut dengan bertindak seolah Tuhan (Playing God), yang tentunya bukan monopoli profesi dokter an sich.

Tetapi yang terjadi banyak menimpa profesi dokter, yang secara intensif berdekatan dengan soal hidup dan mati. Ketika seorang pasien menderita penyakit kronis dan katastropik (mengancam nyawa) dengan jumlah yang mencapai ratusan ribu, selalu saja ada wacana euthanasia. Dalam posisi demikian, seorang dokter membutuhkan kekuatan spiritual yang kuat untuk memutuskan melakukannya atau menolak. Tetapi, praktik euthanasia di Indonesia dilarang secara tegas seperti tercantum dalam Pasal 344 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, "Barangsiapa menghilangkan nyawa orang lain

atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkan dengan nyata dan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun." (halaman 57).

Euthanasia secara terminologis berarti pencabutan nyawa seseorang dengan cara yang baik dan terhormat (death with dignity) yang dilakukan atas permintaan orang tersebut. Istilah ini, berasal dari bahasa Latin "eu" yang artinya baik dan "thanatos" yang berarti kematian. Di Indonesia, malah sering terjadi apa yang disebutkan penulis buku ini, dr Rully Roesli, dengan euthanasikon. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan bahwa yang menyebabkan seorang pasien bukan didasarkan kondisi penyakit yang parah; melainkan disebabkan kondisi sosial ekonomi yang serba terbatas.

Pelayanan kesehatan di Indonesia memang mengkhawatirkan hingga lahir istilah, "Sadikin" (yang sakit jadi miskin). Inilah yang membuat Rully Roesli menyuarakan keprihatinannya sebagai seorang dokter melalui buku ini. Dengan mahalnya biaya pengobatan mengharuskan dia bertindak seolah Tuhan yang sering menentukan siapa yang hidup dan siapa yang mati.

Penulis buku ini ialah salah satu cucu seorang pengarang besar roman Siti Nurbaya, Marah Roesli, dan kakak dari seniman besar Kota Bandung, Harry Roesli. Pria kelahiran Solo, 23 Juli 1948 ini bernama Rully Marsis Amirullah Roesli (RMAR), seorang Guru Besar kedokteran FK UNPAD. Ia merupakan dokter spesialis penyakit dalam, yang banyak bergulat dengan penyakit-penyakit berbahaya dan merenggut nyawa pasien. Di klinik tempat prakteknya, RSKG Habibie, ia banyak mendapatkan sebuah pengalaman berharga ikhwal penentuan keputusan bagi pasien. Setiap hari Jumat, ia memimpinrapat untuk menentukan siapa saja pasien yang berhak mendapatkan cuci darah gratis.

Pengalamannya selama menjalankan aktivitas mulia memberikan pengobatan kepada pasien miskin, dituangkan ke dalam buku pejal dan sederhana ini. Bahasa tuturnya sangat memukau pembaca. Kesukaannya pada seni musik, disinyalir membuatnya memilih judul "Playing God" yang mirip dengan salah satu judul lagu dalam album Band Rock dari luar negeri, Megadeath. Buku setebal 198 halaman ini memadukan spiritualitas agama, ilmu kedokteran, pengalaman, dan bagaiaman peran etika medik yang harus dipegang teguh seorang dokter.

Setidak-tidaknya, topik utama buku "Playing God" terbagi ke dalam lima topik. Pertama, membahas tentang keputusan penting yang dapat memengaruhi kehidupan orang lain. Pembahasannya yang dilengkapi dengan eksplorasi pengalaman dan data-data, ditambah teks-teks keagamaan semakin menarik untuk dibaca halaman demi halaman. Di dalam bab pertama ini, porsi bahasan tentang euthanasia dan euthanasikon mendapat perhatian lebih, karena berkaitan dengan sebuah pengambilan keputusan tentang kehidupan orang lain.

Kedua, topik pembahasannya diarahkan pada bagaimana pengambilan keputusan penting yang bisa mengakibatkan pengaruh besar bagi diri sendiri. Di dalam bab ini, kita dapat menemukan bagaimana pertarungan seorang dokter ketika hendak mengambil keputusan bagi kehidupan orang lain dan berdampak pada diri sendiri. Betapa tidak, jiwanya tersentuh ketika melihat ketidakberdayaan ekonomi yang menimpa pasien, warga, dan orang-orang di lingkungannya. Situasi ini mengakibatkan ia harus berani memutuskan untuk menolong atau tidak.

Ketiga, topiknya berkutat pada pengalaman-pengalaman yang menyadarkan kita bahwa dibalik keputusan penting yang berdampak pada orang lain dan diri sendiri itu, ada peran kuat Tuhan yang tak bisa dibantah lagi. Sementara, pada bagian keempat buku ini, kita diajak untuk mengenal sosok personal seorang dokter, yang posisinya sederajat dengan manusia lain. Seorang dokter bisa juga sakit, bisa juga sedih, bisa juga tidak seperti dewa, dan membutuhkan kekuatan spiritual kuat dalam menghadapi liku kehidupan.

Terakhir, pada bagian kelima buku ini kita akan mendapatkan sebuah kekuatan spiritual ikhwal makna dibalik kematian; yang kadang-kadang tidak mampu diprediksi dengan ilmu pengetahuan. Buku ini, bukan hanya untuk mahasiswa kedokteran; melainkan setiap individu pantas membacanya dikarenakan isinya yang menyatukan antara ilmu pengetahuan, spiritualitas, doktrin Islam, dan pengalaman Rully Roesli yang dikemasnya dalam bahasa sastrawi. Selamat menikmati buku ini untuk membuka wawasan Anda tentang makna kematian, etika medik, spiritualitas, dan moralitas yang dihasilkan ajaran Islam.
(Sukron Abdillah, publisis Penerbit Mizan, Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung)**
Galamedia
kamis, 14 juni 2012 01:03 WIB

Friday, August 17, 2012

Cincau Menghalau Sakit Mag



Penyakit mag atau tukak kambung kelihatannya remeh, namun sering merepotkan. Cepat sembuh tapi juga gampang kambuh. Kemunculan gejalanya ditandai dengan rasa nyeri pada perut gara-gara meningkatnya asam lambung. Cincau ternyata mampu menuntaskannya

Mag yang kambuh akan menimbulkan rasa sakit pada epigastrum (perut bagian atas) disertai berkurangnya nafsu makan, bahkan anoreksia (hilangnya selera makan). Kalau sudah begitu, muncul rasa mual disertai demam sehingga mendadak muntah-muntah.

Beberapa tanaman biasa digunakan masyarakat untuk meredam mag ini. Di antaranya tanaman cincau. Berdasarkan penelitian, ia berkhasiat mencegah radang dan menurunkan produksi asam lambung. Nah, zat apa gerangan yang membuat cincau mujarab untuk sakit mag?

Dikatakan Dr. Florence C. Amato dalam Fundamentals of Medical Science for Medical Record Personel (1985), penyakit mag biasanya berawal dari makanan yang dikonsumsi tercemar bakteri atau kuman sehingga menimbulkan infeksi. Dalam kondisi serangan ringan, diagnosis penyebabnya sering tidak jelas. Tapi bisa juga ditandai dengan muntah darah (hematemensis) berwarna hitam karena pengaruh asam lambung.

L.B. Cardenas, Lemmens, dan Horsten dalam Medicinal and Poisonous Plants 1 (1999) Daun menyebutkan, sejumlah senyawa flavonoid bersifat mencegah radang (anti-inflamatori) dan menurunkan kadar asam lambung. Senyawa flavonoid terdapat pada beberapa tumbuhan obat, seperti cincau (Premna serratifolia), camcau (Cyclea barbata), dan juga para kerabatnya dari famili Menispermaceae.

Beragam bangsa ternyata sudah akrab dan memanfaatkan tanaman obat itu. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenalnya sebagai cincau. Tumbuhan dari famili Verbenaceae (jati-jatian) ini termasuk tanaman semak atau pohon kecil yang tingginya mencapai 10 m.

Di Indocina, daun dan akarnya sebagai obat tradisional untuk melancarkan air kencing (diuretik), gangguan lambung, dan penyakit demam. Masyarakat di India memanfaatkan daunnya untuk pengobatan radang rematik, sakit perut atau mulas (kolik), dan gas dalam perut (flatulence).

Rebusan akar dan daun digunakan untuk obat demam di Semenanjung Malaysia. Di Papua Nugini sari daunnya dipakai sebagai obat batuk, sakit kepala, dan demam. Sementara masyarakat di Guam memanfaatkan teh rebusan kulit kayunya untuk pengobatan sakit saraf (neuralgia).

Daun cincau mengandung bahan kimia berupa senyawa aktif Premnazole dan Phenyl butazone. Premnazole (alkaloid isoxazol) dari hasil isolasi daun cincau sebagai senyawa antiradang yang bisa menurunkan pembentukan tumor pada jaringan granulasi yang menyerang butir-butir dalam protoplasma (granuloma). Phenyl butazone merupakan senyawa yang memiliki aktivitas sama dengan Premnazole dengan menurunkan kadar kelenjar adrenal dan asam askorbat (vitamin C).

Dalam penelitian yang sama, kedua senyawa itu juga mampu menurunkan aktivitas enzim sehingga secara tidak langsung asam lambung yang terbentuk pada cardia dalam dinding lambung juga menurun.

Camcau merupakan salah satu jenis tumbuhan yang sering kali digunakan sebagai pengganti cincau. Di daerah Jawa, daunnya untuk bahan jeli yang biasa disebut camcau ijo. Jeli ini sebagai minuman dan makanan pengusir sakit perut serta demam.

Tumbuhan camcau menyimpan senyawa campuran alkalin termasuk senyawa S,S-tetrandrine (sebagai alkaloid utama lebih dari 3% dalam akar). Senyawa ini, berdasarkan penelitian, bekerja mengalangi perkembangan tumor ganas pada ginjal (neuroblastoma). Juga mempunyai aktivitas dalam pencegahan maupun pengobatan penyakit pembuluh darah jantung (kardiovaskuler), termasuk penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi) dan gangguan lambung akibat tidak adanya irama lambung atas (supraventricular arrthythmia).

Senyawa itu juga berpengaruh sebagai antiradang, pereda radang (prostaglandin), pengumpul zat pembeku darah, penekan radang sendi, dan mencegah produksi nitrixc oxcide. Ada pun senyawa aktif lainnya ialah R,S-isotetrandrine, R,Schondocurine, homoaromoline, dan fangchinoline.

Bahan aktif lain

Beberapa jenis tumbuhan dari famili Menispermaceae (sirawan-sirawanan) diketahui telah digunakan masyarakat setempat sebagai obat tradisional. Masyarakat Filipina dan Semenanjung Malaysia menggunakan rebusan batang sirawan (Arcangeiisia flava) sebagai obat gangguan lambung maupun usus. Di Indonesia batangnya dijual sebagai "kayu seriawan" untuk obat demam dan seriawan.

Sirawan dikenal mengandung senyawa campuran alkaloid (bis)-benzylisoquinoline, seperti bahan aktif sejenis berberine (lebih dari 5% dalam berat kering batang) dan palmatine. Berberine sebagai senyawa aktif antibakteri.

Berberine berpengaruh juga dalam suplemen air daging dengan darah. Berberine (sebagai sulfat) dengan konsentrasi 35 µg/ml dapat merusak bakteri (bactericidal) pada Vibrio cholerae. Juga sebagai pencegah perkembangan bakteri (bacteriostatic) pada Staphylococcus aureus dengan konsentrasi 50 µg/ml. Kedua senyawa berberine dan palmatine secara khusus bekerja mencegah enzim dalam darah, hati, dan pankreas.

Di daerah Jawa, masyarakat menggunakan daun sumbat kendi (Stephania capitata) sebagai pengganti camcau untuk mengusir gangguan lambung. Kandungan alkaloidnya sama dengan camcau, dengan S,S-tetradrine sebagai senyawa utama (antara 0,7 - 1,3%).

Di daerah yang sama, umbi akar kepleng (Stephania japonica) juga dimanfaatkan sebgai obat pencegah nyeri lambung, disentri, demam, gangguan kencing, dan hepatitis. Gerusan daunnya biasanya digunakan sebagai obat tapal infeksi payu dara. Selamat mencoba.
tribun
Sabtu, 11 Agustus 2012 17:04 WIB

Thursday, August 16, 2012

Bandung Dilanda Angin Muson Timur



Udara Malam di Bandung Dingin Menggigit
CEMARA (GM) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi, Bandung dan sekitarnya sepanjang Agustus masih dilanda angin muson. Cuaca tersebut menandakan Bandung memasuki musim kemarau.

Meski kemarau, namun Kota Bandung dan sekitarnya juga mengalami udara dingin dan kering dengan suhu pada malam hari 19-31 derajat dan kelembapan udara 55-95 dengan cuaca cerah berawan. BMKG memprediksi, kondisi itu berpotennsi akan berlangsung hingga akhir Agustus.

Prakirawan dari BMKG Bandung, M. Iid Mujtahiddin kepada "GM" Kamis (9/8) menjelaskan, musim kemarau yang berlangsung di Kota Bandung dan sekitarnya itu disebabkan oleh embusan angin muson timur yang bertiup dari Benua Australia yang bertekanan maksimum ke Benua Asia yang bertekanan minimum. Embusan angin ini juga melewati Indonesia. Dengan kata lain, tidak hanya Kota Bandung dan sekitarnya saja yang mengalami musim kemarau, tetapi juga daerah-daerah lainnya di Indonesia.

Sedangkan suhu dingin yang terasa di Kota Bandung pada bulan-bulan ini, tambah Iid, karena adanya pengaruh angin yang biasa disebut angin tenggara yang dibawa dari wilayah Australia. Kebetulan, di Australia saat ini tengah berlangsung musim dingin atau musim salju.

"Akhirnya itu berdampak pada udara di Indonesia, termasuk di Bandung. Anginnya terasa sekali, bahkan sesekali cukup kencang. Tapi anginnya itu memang terasa kering," jelasnya.

Berdasarkan data yang diterima dari BMKG, dalam 20 tahun terakhir pada bulan Juli 2012, Kota Bandung mengalami penurunan suhu yang cukup signifikan.

Sejak bulan Juli ini hingga sekarang, suhu di Bandung menjadi sangat dingin. Bila dibandingkan dengan data tahun 1981 hingga tahun 2010 suhu normal pada bulan Juli rata-rata 17,64 derajat Celsius. BMKG pernah mencatat suhu terdingin di Kota Bandungt pada tahun 1992 mencapai 15,6 derajat Celsius dan kembali normal. Sedangkan tahun ini BMKG mencatat suhu udara Bandung turun hingga 15,8 derajat Celsius.

"Pada cuaca seperti ini temperatur pada umumnya memang dingin dan tahun ini berada di bawah normalnya. Awal bulan juli ini terendah dibawah 17,64 derajat Celsius, ada juga tahun 92 sebesar 15,6 derajat Celsius," ujarnya.

Iid menambahkan, suhu di Kota Bandung kemungkinan bisa menjadi lebih dingin pada puncak musim kemarau. "Kemungkinan suhunya bisa turun lagi ketika puncaknya pada bulan Agustus," pungkasnya.
Galamedia jumat, 10 agustus 2012 01:09 WIB

Prediksi Lajnah Falakiyah PBNU: 1 Syawal = 19 Agustus



Jakarta, NU Online
Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memprediksi hilal awal Syawal 1433 H akan bisa diamati (dirukyat) pada 29 Sya’ban 1433 H atau bertepatan dengan 18 Agustus 2012 M petang pada saat dilakukan rukyatul hilal di berbagai titik strategis di Indonesia.

Menurut Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A. Ghazali Masroeri, pada Jum’at 17 Agustus 2012 sekitar pukul 22:55:37 terjadi terjadi ijtima awal bulan atau konjungsi. Sementara ketinggian hilal pada Jum’at hampir 5 derajat di bawah ufuk. Namun pada keesokan harinya, Sabtu, hilal sudah berada pada ketinggian 6 derajat 44 menit 9 detik atau hampir tujuh derajat di atas ufuk.

“Ini sekedar prediksi, bukan memastikan. Jadi menurut ketiteria 238, hilal sudah bisa dilihat,” kata Kiai Ghazalie saat memberikan pengajian di radio.nu.or.id dari ruang redaksi NU Online, Jakarta, Jum’at (10/8) sore.

Kriteria 238, dimaksudkan bahwa pada saat diadakan rukyat, hilal sudah dalam ketinggian di atas 2 derajat di atas ufuk, sementara jarak antara bulan dan matahari mencapai 3 derajat, dan umur bulan sudah 8 jam.

Dengan demikian diprediksi awal Syawal 1433 H atau hari raya Idul Fitri akan jatuh pada Ahad, 19 Agustus 2012 M.

“Tapi ini hanya prediksi. Kita tidak boleh sombong. Bisa saja terjadi mendung atau hujan. Maka kita himbau sebelum berangkat rukyat, tim pelaksana rukyat agar melakukan shalat hajat. Kita tidak boleh mengatakan pasti. Nahnu nurid wallahu a’lamu ma yurid. (Kita punya keinginan namun Allah lah Yang Maha Berkehendak: red). Kita tunggu hasil rukyatul hilal,” kata Kiai Ghazalie.

Penulis: A. Khoirul Anam
Sumber http://nu.or.id

Wednesday, August 15, 2012

Jalur Mudik Siap Dilalui

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan infrastruktur mudik baik di jalur utara, tengah, dan selatan sudah siap dilalui. Itu diketahui ketika Pemerintah Provinsi Jawa Barat beserta jajaran kepolisian melakukan apel gelar pasukan Operasi Ketupat Lodaya 2012 di lapangan Gasibu, Bandung, Jumat (10/8/2012).

"Pemudik di Indonesia diperkirakan 5,6 juta jiwa, dan itu terbanyak di Provinsi Jawa Barat," kata Heryawan usai melakukan apel Ketupat Lodaya 2012.

Dia menuturkan, hampir sebagian orang di Jawa Barat melintas jalur mudik yang hendak menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur. "Kita ketahui orang di Jakarta, mau ke Jateng, Jatim pasti lewat Jabar. Kita sebagai provinsi paling besar dilalui pemudik harus siap," ungkapnya.

Heryawan mengklaim, sarana dan fasilitas untuk tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini bisa dilihat dengan dibangunnya jalur Gentong baru sepanjang 1,2 kilometer.

"Untuk Gentong yang kerap menjadi masalah kini sudah bisa diatasi, Gentong memang belum sepenuhnya selesai tapi sudah bisa difungsikan. Sedangkan sumber macet biasa simpang jomin, pihak keamanan selalu siaga untuk mengurai, dan memberikan lajur alternatif," ujarnya.

Meningkatnya masyarakat pemudik dalam jumlah yang sangat besar tersebut, telah menimbulkan beberapa permasalahan, salah satunya adalah keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas. Untuk itu Pemprov Jabar memastikan, aparat selalu siap berjaga untuk memfasilitasi pemudik.

"Intinya bahwa semua pasukan sudah siap mengurai, dititik rawan kemacetan," jelasnya.

Adapun jumlah personel yang terlibat dalam Operasi Ketupat Lodaya 2012 berjumlah 34.104 personel. Terdiri Polri 20.184 personel, TNI 3.240 personel, Dishub 2.800 personel, Sat Pol PP 786 personel, Dinas Kesehatan 4.251 personel, Bina Marga 415 personel, Damkar 310 personel dan SAR 200 personel.
Galamedia jumat, 10 agustus 2012 12:42 WIB

Tuesday, August 14, 2012

88 Ribu Polisi Amankan Lebaran

H-5 Kendaraan Berat Dilarang Lewat Bogor
JAKARTA (GM) - Polri akan menggelar Operasi Ketupat mulai 11 hingga 26 Agustus 2012 untuk pengamanan Lebaran. Sekitar 88.230 personel polisi seluruh Indonesia dilibatkan untuk operasi ini. Operasi akan dibuka dengan upacara gelar pasukan operasi Ketupat Jaya-2012, Jumat (10/8) ini. Untuk Mabes Polri dan Polda Metro Jaya, upacara akan dilakukan di Silang Monas, Jakarta.

"Operasi Ketupat ini untuk mengamankan masyarakat agar Idulfitri bisa berlangsung aman terutama pra dan pasca-Idulfitri," kata Karipenmas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (9/8).

Selain menyiapkan puluhan ribu personel, Mabes Polri juga menyiapkan 3.000 pos pengamanan di sepanjang jalur mudik, tempat wisata, dan pusat-pusat keramaian.

Mabes Polri, kata Boy, juga mengimbau kepada pemudik yang menggunakan sepeda motor untuk tidak membawa anak kecil. Jika memiliki anak kecil, lebih baik menumpang kendaraan umum. "Motor maksimal ditumpangi dua orang," katanya.

Sementara itu, Polri juga akan berpatroli di Jakarta untuk mengamankan rumah-rumah yang kosong ditinggal pemiliknya ke kampung halaman. "Kita terus melakukan inventarisasi dan merencanakan kegiatan patroli saat arus mudik berlangsung," katanya.

Buka tutup

Sementara itu, PT Jasa Marga akan menerapkan sistem buka tutup jalan tol mulai H-5 Lebaran. Sistem itu diberlakukan secara tentatif dan fleksibel, tergantung situasi dan banyaknya kendaraan di pintu masuk dan keluar tol.

Direktur Operasi PT Jasa Marga, Hasanudin menjelaskan, langkah buka tutup pintu tol dilakukan untuk mengantisipasi penumpukan kendaraan, baik di pintu masuk maupun keluar tol.

Diberlakukannya sistem buka tutup ini diputuskan bersama dengan petugas kepolisian di lapangan. "Bila H-5 lalu lintas sudah sangat penuh maka dijadikan satu arah. Bila masih biasa-biasa saja, bisa jadi mulai H-4 atau H-3 atau H-2," kata Hasanudin kepada VIVAnews, Kamis (9/8)..

Buka tutup ini akan diterapkan di tiga ruas tol yang dikelola Jasa Marga, yaitu ruas Tol Jakarta- Cikampek, Palikanci Cirebon, dan Purbaleunyi. Untuk mengurai kepadatan saat arus mudik di gerbang tol transaksi, Jasa Marga juga mengubah sistem transaksi operasi dari dua kali menjadi hanya satu kali.

Sedangkan masalah kendaraan berat, Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Kabupaten Bogor, Jawa Barat, melarang kendaraan berat melintas kawasan Jalan Raya Bogor, Ciawi dan Sukabumi (Bocimi) pada lima hari sebelum dan setelah Lebaran.

"Yang diperbolehkan adalah kendaraan berat membawa sembako," kata Kepala Seksi Pengendalian dan Operasioanl (Dal Ops) DLLAJ Kabupaten Bogor, Ely Karim, setelah apel siaga libur Lebaran, Kamis (9/8).

Pelarangan kendaraan berat dilakukan guna melancarkan arus lalu lintas dan memperkecil risiko kemacetan bertambah parah, karena ada kendaraan yang mogok. Kendaraan berat yang mogok, akan sangat menyulitkan proses evakuasi saat kondisi jalan yang padat.

Karena itu, akan dilakukan pemeriksaan berat kendaraan yang melintasi jalan itu. Bagi kendaraan yang nekad melintas akan ditindak dan kendaraan bisa ditahan hingga H+7 Lebaran.

"Jika melebihi kapasitas, kami akan melarangnya," kata Ely Karim.Galamedia jumat, 10 agustus 2012 01:27 WIB

Monday, August 13, 2012

Buku dan Rangkaian Kata Paling Berpengaruh



MENULISLAH untuk dipahami. Demikian menurut mereka yang meyakini kata-kata bisa menyimpan pemikiran untuk dimengerti. Tidak hanya untuk diingat tetapi juga didalami pembaca hingga tidak menutup kemungkinan bisa memicu pemikiran lainnya. Faktanya rangkaian kata yang menyimpan sejumlah temuan dan pemikiran dalam bentuk buku bisa bertahan hingga puluhan bahkan ratusan tahun dan menjadi referensi di berbagai bidang. Sebagian bahkan sangat berpengaruh bagi perkembangan ilmu dan kehidupan manusia.

Salah satunya On Liberty karya John Stewart Mill yang hingga sekarang sebagian besar teorinya terintegrasi penuh dalam demokrasi modern, terutama kebutuhan untuk melindungi hak-hak individu. Ada juga The Histories yang menjadi sumber banyak pengetahuan tentang dunia kuno dan landasan sejarah dalam sastra Barat. Peninggalan intelektual sosok pemikir asal Yunani Herodotus.

Sementara di dunia pengobatan, kalangan medis mengenal Canon of Medicine. Sang penulis Avicenna atau Ibnu Sina mendokumentasikan sejumlah pengetahuan dan teori-teori pengobatan Yunani Kuno, Persia, dan obat-obatan India yang dikombinasikan dengan pemahaman kontemporer abad ke-11. Buku ini diakui sebagai salah satu peletak dasar-dasar ilmu kedokteran modern.

Sedangkan dari ilmu psikologi, The Interpretation of Dreams menjadi rujukan awal. Meski banyak dari teori Freud yang kini tidak digunakan lagi oleh spesialis modern, namun konsep yang dipaparkan tentang alam bawah sadar tetap banyak memengaruhi cara orang berpikir tentang diri mereka. Kesusastraan pun ikut mencatatkan satu dari sekian banyak pengaruhnya melalui buku, di antaranya melalui The Canterbury Tales. Sebuah karya sastra Inggris periode abad pertengahan (1150-1400) yang ditulis sastrawan Geoffrey Chaucer (1340 - 1400).

Chaucer diakui sebagai penyair terbesar abad pertengahan. Akhir abad pertengahan bahkan sering disebut The Age of Chaucer (Era Chaucer). Karya terbesarnya The Canterbury Tales ini mengisahkan ziarah imajiner para biarawan pada 11 April 1387 menuju Katedral Canterbury untuk mengunjungi pusara Santo Thomas A. Beckett.

The Republic

Di bidang politik, salah satu karya monumental yang paling dikenal adalah The Republic yang ditulis satu dari tiga pemikir besar Yunani, Plato. Judul buku yang dalam bahasa asalnya berarti juga "sistem politik" ini ditulis pada tahun 380 SM dan dinilai sebagai salah satu karya filsafat dan teori politik yang paling berpengaruh. Plato sendiri menghasilkan sejumlah karya lainnya yang berkaitan dengan filsafat politik, seperti Republic, Statesman, dan Laws.

Namun The Republic menjadi pusat filsafat politik Plato. Pasalnya karya-karya lainnya seperti Apology, Charmides, Crito, Euthydemus, Gorgias, Protagoras, dan Menexenus bisa dipahami dengan melihat hubungannya pada teks utama The Republic.

Bidang lain yang juga tidak luput dari pengaruh buku adalah pemikiran dalam hal budaya. The Analects yang disusun Confucius menjadi pilihan utama. Sebuah teks yang benar-benar dipandang radikal di masanya. The Analects bahkan telah menjadi pengaruh yang dominan dalam pemikiran Cina dan budaya. Sementara Principia Mathematica karya Isaac Newton yang diterbitkan pada tahun 1687 menjadi pemikiran eksak yang disebut-sebut meletakkan banyak dasar bagi fisika modern dan matematika.
Galamedia
jumat, 20 juli 2012 01:43 WIB

Sunday, August 12, 2012

Rentenir Berkedok KSP Makin Marak



PEMERINTAH seharusnya melakukan pengawasan secara ketat terhadap kinerja dari koperasi simpan pinjam (KSP). Pasalnya, saat ini koperasi simpan pinjam banyak dimanfaatkan oleh para rentenir untuk mengeruk keuntungan, dan menjerat para pelaku usaha mikro kecil dan menengah.

"Sekarang ini banyak beredar rentenir berkedok koperasi simpan pinjam. Itu sangat merusak citra koperasi. Itu harus diberantas, pemerintah harus memperketat pengawasan terhadap koperasi simpan pinjam dan melakukan pendataan ulang," jelas Wakil Ketua Kadin Jabar Bidang Kemitraan dan UMKM, Iwan Gunawan kepada "GM", Kamis (28/6).

Diungkapkannya, maraknya rentenir berkedok koperasi simpan pinjam jelas merupakan hal yang sangat memprihatinkan. Apalagi mereka kini sudah beredar di berbagai sektor, baik di perdagangan masyarakat seperti halnya di pasar tradisional maupun di sektor lainnya. Bahkan kini mereka sudah menyasar tingkat pedesaan dan menjerat kesejahteraan para petani.

"Mereka memang memiliki kemudahan dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat, tetapi sistem pembiayaan yang mereka gunakan sangat menjerat dan merugikan, karena mereka menerapkan suku bunga pinjaman yang sangat tinggi," jelasnya.

Maraknya rentenir berkedok koperasi simpan pinjam sendiri merupakan salah satu bukti bahwa lembaga pembiayaan, baik perbankan maupun non perbankan belum optimal menyentuh para pelaku usaha mikro kecil. Padahal saat ini hampir semua bank menyasar segmen usaha mikro kecil.

"Ini ironis, hampir semua bank masuk ke segmen itu. Tetapi anehnya rentenir berkedok koperasi terus marak. Artinya apa yang dilakukan perbankan belum maksimal," katanya.

Belum maksimalnya perbankan menyentuh para pelaku usaha mikro kecil memang terganjal oleh beberapa faktor. Di antaranya,terkait masalah jaminan atau agunan. Sehingga hal tersebut membuat para pelaku usaha mikro kecil sulit untuk mengakses pembiayaan untuk permodalan kepada perbankan. Lain halnya dengan rentenir berkedok KSP. Mereka bisa mudah meminjamkan uang kepada para pelaku usaha mikro kecil cukup dengan hanya memberikan KTP saja.

"Mestinya perbankan memberikan kemudahan kepada para pelaku usaha mikro kecil dalam akses pembiayaan. Selama ini pola yang diterapkan perbankan terbilang kaku, karena mereka lebih mengutamakan dulu jaminan ketimbang kelayakan usaha dari pelaku usaha mikro kecil. Itu terbalik mestinya mereka melihat kelayakan usahanya dulu ketimbang jaminan," katanya.

Oleh karena itulah, lanjut Iwan, untuk membantu para pelaku usaha mikro kecil pemerintah perlu membuat sebuah lembaga penjaminan yang bisa mempermudah akses pembiayaan para pelaku usaha mikro kecil. Sehingga mereka bisa terhindar dari jeratan para rentenir. Selain itu pemerintah perlu melakukan pendataan ulang terhadap koperasi yang ada, serta menghapus koperasi simpan pinjam yang menggunakan praktik rentenir.

"Pemerintah perlu memberantas rentenir yang berkedok koperasi dan mensosialisasikan fungsi koperasi yang sebenarnya," katanya.
Galamedia jumat, 29 juni 2012 02:01 WIB
(agus hermawan/"GM")**

Saturday, August 11, 2012

Museum Sri Baduga Teliti Mushaf Al Quran Berusia 200 Tahun

AL Quran berusia 200 Tahun dan naskah milik Hasan Mustofa diteliti oleh Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga
BANDUNG,(PRLM).- Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga meneliti Al Quran kuno berusia 200 tahun dan naskah kuno karya Hasan Mustafa. Selain itu museum juga mulai menginventarisir barang pribadi dan koleksi Gubernur Jawa Barat yang menjabat sejak tahun 1945 hingga sekarang untuk dipamerkan ke masyarakat.

Dalam keterangannya, Kepala Balai Pengelolaan Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga, Dra. Ani Ismarini, mengatakan bahwa dalam rangka mengisi kegiatan ramadhan, pihaknya tengah melakukan sejumlah kegiatan. “Salah satunya tengah meneliti Al Quran sumbangan dari keluarga besar Raden Warnaen Poeraatmadja,” ujar Ani, kepada sejumlah wartawan di ruang kerjanya Kamis (2/8/12).

Al Quran dengan tulisan tangan yang diperkirakan berusia 200 tahun tersebut berukuran panjang 40 x 25 cm dengan ketebalan sekitar 7 cm. Kertas yang dipergunakan merupakan kertas daluang (kertas kulit kayu yang ditumbuk halus) dengan cover terbuat dari kulit berwarna coklat tua dengan tulisan Arab.

“Kondisi Al Quran tersebut masih sangat baik dan tulisan dengan tinta hitam dan merah masih sangat jelas terlihat. Namun setelah kami bandingkan dengan al quran cetakan ada dua surat yang hilang, yaitu surat Al Fatihah dan An Naas, diharapkan setelah diteliti dan diidentifikasi hasilnya dapat dipergunakan pemerhati maupun meneliti mushaf,” ujar Ani.

Sementara naskah kuno milik Hasan Mustofa dengan tahun 1823 merupakan parimbon berbahasa Sunda dengan aksara pegon. "Naskah ini ditulis dalam kertas daluang sebanyak 57 halaman, dengan ukuran lebar14 cm, panjang19 cm dan tebal 1,8 cm, hingga kini kami belum tahu apa isi dari perimbon tersebut," Ani.

Selain dua naskah kuno tersebut, Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga, saat ini tengah berupaya mengumpulkan dan menginventarisir barang-barang pribadi gubernu Jawa Barat mulain dari periode 1945. “Hingga saat ini kita mendapat kesulitan untuk mengumpulkan barang-barang milik mantan gubernur Jabar, baru dua mantang gubernur yaitu Alm Aang Kunaefi dan Nuriana yang menyumbangkan beberapa benda koleksinya,” ujar Ani.

Meski sulit untuk dilakukan, menurut Ani pihaknya tetap akan melakukan berbagai upaya mengumpulkan koleksi mantan gubernur Jabar tersebut untuk dipamerkan dengan mengirim surat dan mengutus stafnya untuk menemui keluarga para mantan gubernur Jabar.. Rencananya koleksi barang pribadi gubernur tersebut akan dipamerkan untuk menyambut hari jadi Jabar ke-67, tanggal 19 Agustus 2012 mendatang bertajuk People Forget Museum Remember.

Dua mantan gubernur yang memberikan koleksinya ke museum, yakni Alm. Aang Kunaefi yang menyerahkan barang pribadi berupa kujang dan lukisan Prabu Siliwangi Ngahiang. Sementara Nuriana menyerahkan lukisan Pangeran Cornel dan William Deandles.

"Selama ini belum ada museum di Indonesia yang mencoba mengumpulkan dan memamerkan barang pribadi milik gubernurnya untuk dipamerkan dan diketahui masyarakat. Museum Sri Baduga berusaha untuk menjadi pioneer untuk hal itu, karenanya kami sangat berharap keluarga mantan gubernur mau memberikan atau meminjamkan barang-barang pribadi atau koleksi para mantan kepada museum,” ujar Ani.

pikiran-rakyat.com Jumat, 03/08/2012 - 05:35

Friday, August 10, 2012

Memuliakan Orang Miskin

Siang itu tidak begitu panas di Balikpapan. Selepas shalat Zuhur saya siap di lobi hotel menunggu jemputan. Bapak Jailani, ketua Badan Amil Zakat Balikpapan, berjanji akan membawa saya mengikuti penyerahan Paket Ceria Ramadhan di beberapa titik hari itu. Ini kali kedua saya ikut, karena kebetulan sedang berada di Balikpapan dalam rangkaian ceramah Ramadhan di Kaltim.

Beberapa tahun lalu saya ikut mendampingi Wakil Wali Kota Rizal Efendi, yang sekarang menjadi wali kota, untuk mengantar paket kasih sayang kepada beberapa keluarga miskin. Rombongan para pejabat dan dermawan Kota Balikpapan turun naik bukit mengantarkan paket bantuan ke rumah-rumah keluarga miskin yang sudah disurvei sebelumnya.

Dalam perjalanan menuju lokasi, saya sempat berbincang-bincang dengan Pak Jai, begitu dia biasa disapa. Orangnya masih muda, energik, dan selalu penuh semangat. “Pak Jai, hari ini berapa paket yang harus diantar? tanya saya memulai percakapan.

“Sekitar 40 paket, Pak?” jawabnya. “Setiap paket isinya berapa?” tanya saya lebih lanjut. “Sembako seharga Rp 400 ribu dan uang tunai Rp 250 ribu.” Menurut penjelasan Pak Jai, selama Ramadhan hampir tiap hari 30 sampai 40 paket diantar langsung kepada keluarga miskin.

Badan Amil Zakat Balikpapan bertugas menghubungi para muhsinin, baik dari kalangan pejabat daerah maupun masyarakat umum untuk membantu orang-orang miskin. Pelaksanaan teknis dibantu oleh dua media lokal untuk memantau keberadaan keluarga miskin yang layak disantuni.

Pada awal program lima tahun lalu, hanya 40 paket yang dibagi selama Ramadhan, tetapi sekarang sudah meningkat 20 kali lipat. Publikasi program ini di media mendorong banyak pihak tergerak hatinya untuk ikut membantu.

Mengapa harus diantar paket-paket itu ke rumah setiap keluarga miskin, bukankah lebih praktis jika semua keluarga miskin yang akan dibantu itu diundang ke suatu tempat, lalu diadakan upacara, sambutan-sambutan, dan bantuan dibagikan? Sehingga 800 paket itu dapat dibagikan sekaligus sekali acara. Selesai. Lebih mudah dan lebih praktis.

Tatkala hal itu saya tanyakan kepada Pak Jai, sekretaris MUI Balikpapan itu menyatakan bahwa tujuan dari mendatangi langsung itu karena penghormatan mereka terhadap orang miskin.

“Kita ingin memuliakan orang miskin.” Sungguh menarik alasan yang dikemukakan Pak Jai, memuliakan orang miskin.

Saya terbayang beberapa peristiwa mengenaskan yang diberitakan media, orang-orang miskin berdesak-desakan, berhimpit-himpitan, antre panjang mengular untuk mendapat bantuan dari orang kaya yang membagikan zakat atau sedekahnya. Tidak jarang terjadi dorong-mendorong hingga ada yang terinjak. Akibatnya, tak jarang timbul korban jiwa. Sangat disayangkan bila keinginan untuk memuliakan orang miskin, justru menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

Alangkah indahnya apa yang diinisiasi Pak Jai dan kawan-kawan, mengajak para pejabat dan orang-orang kaya membantu orang miskin dengan tetap memuliakan mereka. Semoga memberi inspirasi.    
Oleh: Prof Dr Yunahar Ilyas

sumber : www.republika.co.id

Thursday, August 09, 2012

Hakikat Doa Sapu Jagat

Dalam setiap doa seorang Muslim hampir selalu menutupnya dengan ungkapan doa sapu jagat: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat serta peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Al-Baqarah: 201).

Lantunan doa tersebut bertambah kuat didengungkan saat seseorang mutawwif di rukun Yamani menuju Hajar Aswad. Namun, arti dan maksud kebaikan yang diminta oleh masing-masing pendoa berbeda satu sama lain.

Para ahli tafsir sepakat bahwa arti dan maksud kebaikan akhirat adalah surga, sebab di akhirat manusia hanya punya dua pilihan, yaitu surga dan neraka. Allah SWT berfirman, "Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (QS. An-Naazi'at: 37-41).

Sedangkan kebaikan dunia memiliki arti yang berbeda-beda antar pendoa. Ada yang mengartikannya dengan harta kekayaan melimpah, suami tampan, istri cantik, bisnis moncer, perdagangan menghasilkan, rumah besar, kendaraan mewah, anak banyak, kesabaran, keihlasan, kesyukuran dan lain sebagainya. Semua arti tersebut bersifat subyektif sesuai dengan keinginan masing-masing pendoa.

Akan tetapi, Itukah arti dan maksud  yang dikehendaki Al-Qur'an? Syekh Ahmad Abdurrahim Abdul Bar mengandaikan “jika kebaikan akhirat adalah surga maka, kebaikan dunia harus otomatis menjadi penyebab bagi kebaikan akhirat.”

Harta melimpah, suami tampan, istri cantik, bisnis maju, perdagangan menghasilkan, rumah besar, mobil mewah dan sebagainya tidak secara otomatis menjadikan pemiliknya masuk surga. Bahkan tidak jarang semua perhiasan dunia tersebut justru menjadi fitnah di dunia dan menjadi bahan investigasi KPK sebelum malaikat mempermasalahkannya. Dengan demikian semua arti subyektif pendoa itu ternyata bukanlah hakikat kebaikan dunia sebagaimana yang dimaksudkan Alquran.

Lantas apa hakikat "kebaikan dunia" yang dimaksud? Di dalam banyak ayat, Alquran mengemukakan dua kunci kebaikan dunia, yaitu: iman dan amal saleh. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga firdaus menjadi tempat tinggal (nya)." (QS. Al-Kahfi: 107).

Pada ayat lain Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itu adalah sebaik-baiknya makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga." (QS. Al-Bayyinah: 7-8).

Iman dan amal saleh ternyata menjadi pengantar langsung bagi kebaikan akhirat (surga). Bukan perhiasan dunia yang bersifat materi. Jika demikian adanya, maka kebaikan dunia itu tidak didominasi oleh orang-orang kaya, sukses, tampan dan cantik, melainkan menjadi tantangan dan peluang bagi semua manusia asalkan beriman dan beramal saleh.

Orang-orang yang mengumandangkan doa sapu jagat dengan demikian tidak bisa sekedar berpangku tangan mengharap dikabulkannya doa kebaikan, melainkan harus berjibaku meningkatkan iman dan amal salehnya dalam rangka mewujudkan "kebaikan di dunia dan di akhirat" bagi dirinya. Wallahua’lam.
Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

sumber : www.republika.co.id

Wednesday, August 08, 2012

Ibadah Puasa dan Pendidikan Kedermawanan

Allah SWT berfirman, "Dan apa-apa yang kamu upayakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya darisisi Allah." (QS. Al-Baqarah, 110).

Kemudian Firman Allah SWT juga, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia- Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah, 261).

Dalam hadis shahih yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA dijelaskan bahwa Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan.

Puasa menyeru memberi makanan kepada orang yang sedang lapar, memberi si miskin dan menolong si fakir. Bulan Ramadhan adalah musim untuk orang-orang yang bersedekah dan peluang emas untuk orang yang memberi hartaHya kepada orang lain.

Sebuah sya’ir mengatakan, "Allah telah memberimu dengan berbagai materi, berikannlah sebagian pemberian-Nya itu kepada orang lain. Karena sesungguhnya harta itu akan sirna. Harta itu ibaratkan air, bila disumbat alirannya, maka ia akan kotor. Dan bila dialirkan dan dibirkan terus mengalir, maka air tersebut akan jernih dan segar."

Dalam sebuah hadis shahih Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh Allah mempunyai dua malaikat yang ber doa setiap subuh. Salah satunya berkata; ‘Ya Allah, berilah orang yang membelanjakan sebagian hartanya di jalan Allah dengan gantu yang lebih baik lagi. Sedangkan malaikat yang satunya lagi berkata, ’Ya Allah, berilah kehancuran kepada orang yang tidak mau membelanjakan sebagian hartanya dijalan Allah’."

Betapa indah memberi harta kepada orang lain. Betapa baik shadaqah dan betapa mulianya saling membantu sesama. Setiapkali orang membelanjakan hartanya di jalan Allah, Allah memberinya kesehatan tubuh, ketenangan hati dan keluasan rizki.

Riwayat yang lain Rasulullah SAW juga bersabda, "Shadaqah bisa memadamkan dosa, sebagaimana air memadamkan api."

Dosa-dosa yang dilakukan hakikatnya mempunyai panas dalam hati, bara dalam jiwa, dan api yang menyala dalam kehidupan. Tak ada yang dapat memadamkan panas dan bara tersebut kecuali dengan bershadaqah.

Sungguh menakjubkan! Shadaqoh memiliki naungan yang rindang dan tempat berlindung bagi seorang hamba pada hari Kiamat. Setiap orang akan bergantung kepada naungan tersebut yang dihasilkan dari shadaqohnya di dunia.

sumber : www.republika.co.id

Tuesday, August 07, 2012

Daya Tarik Situ Gede Menurun



TASIKMALAYA,(PRLM).- Kawasan wisata Situ Gede di Kecamatan Mangkubumi terlihat sepi, bahkan pada bulan puasa saat ini, ketika beberapa tempat ramai dikunjungi warga dalam ranka ngabuburit. Sepinya minta pengunjung tersebut disinyalir objek wisata Situ Gede kurang menarik karena debit airnya menurun dan mulai terlihat permukaan dasar situ yang mengering. Akibatnya, kegiatan seperti berperahu tidak bisa dilakukan.

Petugas karcis Situ Gede, Dudi Iskandar mengatakan, ketika objek wisata lain dijadikan tempat ngabuburit, pihaknya hanya bisa gigit jari. Tingkat kunjungan semakin menurun. Setidaknya, karcis yang terjual pun hanya tujuh lembar saja. Meski yang datang sepertinya hilir mudik, tapi mereka hanya warga perbatasan yang menjadikan kawasan Situ Gede sebagai perlintasan saja.

"Ya selain itu juga, kebetulan bulan puasa, bertepatan dengan musim kemarau. Sepinya semakin parah dari hari-hari biasa ditambah sekarang debit air sedang menurun. Sepinya setiap hari tidak peduli mau week day bahkan week end sekalipun tetap sepi,"ucapnya ketika ditemui di Situ Gede, Selasa (31/7).

Menurut dia, kondisi tersebut menipiskan pemasukan PAD. Pernah pihaknya mengadakan acara di dalam Situ Gede tapi tetap saja tidak berpengaruh, karena warga yang datang hanya warga sekitar.

"Saat ini,orang-orang lebih tertarik di pusat kota ketimbang ke Situ Gede. Namun, kami berharap, Situ Gede mulai ramai ketika Hari Raya nanti,"ucapnya.

Ia menambahkan sebelumnya, penurunan tersebut merupakan kosekuensi logis kekeringan panjang yang terjadi sejak tiga bulan yang lalu. Dengan menurunnya debit air yang mencapai hingga 60 persen tersebut berpengaruh pada wahana wisata. Di antaranya, perahu wisata.

"Air surut kawasan untuk main rakit jadi sempit dan pemandangan sedikit terganggu karena hanya ada retakan tanah dan rumput yang mengering di sekitar situ. Pemilik perahu pun pada gulung tikar karena kondisi situ sudah mulai mengering di berapa sisinya," katanya.

Selain itu, para pemancing pun ikut meninggalkan Situ Gede. Pemancing harus menjelajang hingga tengah situ. Indikasi kekeringan tersebut, kata dia, dapat terlihat dari turunnya permukaan air. Biasanya pulau di þengah situ tertutup air, kini kondisinya pulau kecil itu terlihat lebih luas.

"Tidak ada solusi untuk mengatasi kekeringan ini. Kami hanya berharap hujan segera turun dan pengunjung kami meningkat," ujarnya.

Sementara itu, Yana (24), salah seorang tukang perahu sudah satu bulan ini memarkirkan dua perahunya. Hal itu karena kedalaman atau volume air Situ Gede sudah tidak bisa mendukung jalannya perahu. Saat ini, ia hanya bisa menjalankan rakit atau kendaraan air yang dibuat dari bambu-bambu.

"Paling muatannya dua orang saja. Moal tiasa jalan parahu mah tos deet, paling jero sameter. Paling rakit mah tiasa. Sasih saum mah sepi, tapi kamari rame pas munggahan,"ucapnya.

Yana berharap, hujan segera turun agar debit Situ Gede kembali naik.

Sementara itu, Tasta (35) salah satu pengunjung asal Singaparna mengatakan, prihatin dan kecewa dengan situasi Situ Gede saat ini. Padahal ia ingin membangggakan tempat main masa kecilnya dulu pada anak-anaknya sambil ngabuburit. Namun, ternyata kondisinya mengering.

Berdasarkan pemantaun "PR" tepi Situ Gede tempat perahu rakit penumpang saja sudah menyusut. Calon penumpang yang sudah menuruni tangga harus berjalan sekitar sepuluh meter menuju perahu. Selain itu, para pemilik perahu pun bisa leluasa berjalan ke tengah atau sekitar 20 meter dari tempat parkir perahu. Saat itu, ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa.

Situ Gede dimanfaatkan, 226 hektare areal pertanian di Kota Tasikmalaya. Adapun luas genangan Situgede seluas 47 hektare mengalami kekeringan dan pendangkalan akibat penggalian pasir di hulu.
sumber pikiran-rakyat Rabu, 01/08/2012 - 06:07