-

Friday, July 26, 2013

Manfaatkan Waktu Sahur

Ketika mendengar kata sahur, seringkali terbayang sebuah aktivitas makan-minum sebelum Subuh, karena esok harinya akan menjalani ibadah puasa. Akan tetapi, alankah indahnya bila kita pun merenungkan waktu sahur dari sisi yang lain.

Sahur adalah penggalan waktu sepertiga malam terakhir. Rasulullah SAW menghiasi waktu sahur dengan sujud dan istigfar serta menyempurnakan tahajudnya (qiyamullail).

Begitu indahnya waktu sahur, sehingga Al Quran menyebut di antara tanda-tanda orang bertakwa yakni mereka yang memohon ampunan Allah di waktu sahur. (QS. 3 ayat 17 dan QS 51 ayat 15-18).

Pada waktu sahur, ketika banyak kegiatan manusia masih mendunia, para pencari cinta justru menghiasi waktu sahurnya dengan merintihkan doa dan istighfar, karena mereka meyakini yang disampaikan Rasulullah SAW.

''Allah SWT akan turun setiap malamnya ke langit dunia ketika tersisa seperti malam. Lalu Allah SWT berfirman, ''Siapa yang memanjatkan doa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang memohon, maka Aku akan memberinya. Siapa yang meminta ampunan, Aku akan memberikan ampunan untuknya. (HR. Bukhari 1.145, Muslim 758).

Hadis ini memberikan perumpamaan, betapa Allah menyingkap hijab malam pada waktu sahur untuk mendengarkan doa dan mengampuni dosa-dosa hamba yang merintih memohon pengampunan dan mengharapkan kasih sayangNya. Maka tenggelamkanlah dirimu dalam keasyikan berjumpa wajah Ilahi. (QS. 13:31).

Suatu saat Aisyah RA bertutur bahwa Rasulullah SAW bersabda, ''Aisyah, izinkan aku tahajjud.'' Aisyah menjawab, ''Ya Rasulullah, aku senang engkau bersamaku, tetapi aku lebih senang bila engkau beribadah.''

Lalu, Rasulullah SAW mengambil gharibah (tempat air terbuat dari kulit), beliau berwudlu dan shalat tahajjud. Pada saat beliau tahajjud, Siti Aisyah mendengarkan isak tangis yang menyesak dada bagaikan suara air yang menggelegak, tanah tempat beliau sujud basah karena tetesan air mata.
''Menjelang Subuh, Bilal menemui Rasulullah SAW yang tampak wajahnya masih basah karena air mata. Bilal berkata, ''Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis? Bukankah Allah SWT sudah mengampuni dosa-dosamu? Rasul menjawab, 'Apakah engkau tidak suka jika aku menjadi hamba yang bersyukur?''
Subhanallah. Betapa Rasulullah SAW Al Musthafa, Sayyidul Mursalin menghiasi waktu sahur dengan memperbanyak sujud, membasahi keheningan malam dengan isak tangis sebagai tanda syukur kepada Allah SWT.

Lantas, bagaimana dengan kita? Makhluk yang bergelimang dengan dosa. Sosok manusia yang masih memiliki hati yang hitam pekat karena munkarat.

Adakah kita membiarkan kesempatan emas pengampunan Ilahi pada waktu sahur? Ikutilah rombongan pencari cinta yang terkumpul di stasiun takwa untuk menggapai ridha Ilahi (QS.2;207).

Lihatlah, betapa indahnya saat sahur, ketika langit-langit membukakan pintu-pintu maghfirah, menyambut hamba-hamba yang telah gelisah, dinista sejuta dosa yang terpenjara dalam belenggu hawa nafsu. Maka, jangan biarkan waktu sahur berlalu tanpa makna. Wallahu a'lam.
Oleh; Ustaz Toto Tasmara

sumber : www.republika.co.id

Artikel yang Berkaitan

0 komentar:

-

Post a Comment