-

Thursday, March 29, 2012

Inilah Tiga Bentuk Kecerdasan Bersyukur

, Oleh: Muhbib Abdul Wahab

Nikmat dan karunia Allah yang diberikan kepada umat-Nya, termasuk kepada bangsa ini, sungguh tak terbatas dan tidak akan pernah bisa dihitung tuntas. Namun, hari demi hari, waktu demi waktu, tampaknya warga bangsa ini, termasuk para pemimpinnya, tidak kunjung cerdas dalam mensyukuri nikmat-Nya. Para pemimpin yang sudah bergelimang dengan fasilitas mewah ternyata masih mengeluh dan mengeluh.

Secara psikologis, orang yang mengeluh itu pertanda sedang menderita sakit. Orang yang banyak mengeluh itu pada dasarnya terkena gangguan mental. Sebaliknya, orang yang banyak bersyukur itu pertanda sedang dalam keadaan sehat. Karena itu, bersyukur itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang sehat rohaninya.

Menurut Ibn al-Qayyim dalam kitabnya, Madarij as-Salikin, syukur itu tampak pada bibir hamba dengan mengakui dan memuji keagungan Tuhannya, dalam hatinya dengan semakin meyakini dan mencintai-Nya, dan pada anggota badannya dengan semakin tunduk, khusyuk, dan taat kepada-Nya.

Cerdas bersyukur ada tiga hal. Pertama, mengakui (i’tiraf) nikmat pemberian Allah dalam hatinya. Hati yang cerdas dan ikhlas tidak akan pernah berdusta terhadap segala anugerah yang diberikan oleh-Nya. Bersyukur harus dimulai dari kesucian hati untuk mengakui sifat Allah yang Maharahman dan Rahim. Melalui pengakuan tulus ini, hamba belajar menjadi pengasih dan penyayang serta tidak menyia-nyiakan kasih sayang-Nya.

Kedua, memuji Sang Pemberi Nikmat (Mun’im) dan membagi pemberian itu dalam bentuk perkataan dan pembaruan (tahdits) maupun perbuatan dan keteladanan (QS ad-Dhuha [93]: 11). Bersyukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah, melainkan juga harus disertai dengan pendayagunaan kenikmatan itu sesuai dengan tujuan diberikannya nikmat itu.

Ketiga, menundukkan kenikmatan (taskhir al-ni’am) untuk ketaatan, bukan untuk kemaksiatan. Diberi indera pendengaran disyukuri dengan selalu mendengarkan yang positif. Mata dimanfaatkan untuk melihat yang baik-baik. Akal dimanfaatkan untuk berpikir positif dan kreatif. Kesehatan untuk kebaikan dan kemaslahatan. Diamanati jabatan sebagai pemimpin, bisa dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan kejujuran.

Jadi, cerdas bersyukur itu membuahkan ketaatan sekaligus kenikmatan. “Melaksanakan shalat itu bersyukur, berpuasa juga bersyukur, dan melaksanakan segala kebaikan karena mengharap rida Allah adalah syukur. Syukur yang paling utama adalah memuji Sang Pemberi Nikmat.” (HR Ibnu Jarir).

Cerdas bersyukur merupakan salah satu kunci kesuksesan hidup. Orang yang bersyukur pasti berusaha menjadikan kualitas hidupnya meningkat atau menjadi lebih baik. (QS Ibrahim [14]: 7).

Orang yang bersyukur akan senantiasa melihat segala hal secara jernih, objektif, cerdas, dan penuh kebersyukuran sehingga hatinya tenang, tidak waswas, tidak merasa ada ancaman atau biasa-biasa saja. Jika salah satu Asma’ al-Husna itu as-syakur (Maha Bersyukur), sudah semestinya kita sebagai hamba-Nya lebih tahu diri lagi untuk banyak bersyukur atas kemurahan dan karunia-Nya. Wallahu a’lam


sumber : www.republika.co.id

Tuesday, March 27, 2012

Inilah Orang-orang yang Dihinakan Allah

,  Oleh: Prof Dr Achmad Satori Ismail

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT bila mencintai hamba-Nya memanggil Jibril seraya berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia.’” Rasulullah bersabda, “Maka, Jibril pun mencintai si fulan.” Lalu, Jibril menyeru semua penduduk langit, “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan.” Nabi bersabda, “Maka, si fulan dicintai penduduk langit dan dia pun diterima oleh penduduk bumi.”

Jika Allah membenci seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman, “Sesungguhnya Aku membenci si fulan, maka bencilah dia sehingga Jibril pun membencinya.” Rasulullah bersabda, “Lalu, Jibril menyeru penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah membenci si fulan, maka bencilah dia.’” Penduduk langit pun membenci si fulan, kemudian dia pun dibenci penduduk bumi. (HR Bukhari dan Muslim).

Orang yang sengsara adalah yang dihinakan Allah sehingga penduduk bumi pun akan membicarakan orang tersebut dengan kejelekan dan cercaan. “Dan barang siapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS al-Hajj 18).

Rasulullah SAW sering berdoa agar tidak dihinakan Allah, “Ya Allah berilah tambahan kebaikan dan jangan Engkau kurangi, muliakan kami, dan jangan Engkau hinakan. Berilah anugerah kepada kami dan jangan kaucegah. Prioritaskan kami dan jangan ditinggalkan. Ridailah kami dan berikan  keridaan kepada kami.” (HR Achmad dan Turmudzi).

Di antara bentuk kehinaan yang ditimpakan Allah di dunia adalah kehinaan hidup, ditimpakan kekalahan dalam persaingan, dan disesatkan dari jalan Allah. Sedangkan, kehinaan pada hari kiamat adalah ditutup matanya dari melihat Allah (QS Hud 105-107/al-Muthaffifiin 14-17).

Di antara orang-orang yang dihinakan, pertama, pelaku kemaksiatan (QS Ghofir 82). Al- Mu’tamir bin Sulaiman berkata, “Sesungguhnya seseorang yang melakukan dosa secara rahasia, maka pada pagi harinya akan ditimpakan kehinaan.” (Raudlatul Muhibbin, karya Ibnul Qoyyim, hlm 441).

Kedua, orang yang menentang ajaran Islam (QS az-Zumar 55-61 dan al-An’am 125). Umar RA berkata, “Kita dimuliakan Allah dengan Islam dan barang siapa yang mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka dia akan dihinakan.” (Ibnu Abdil Birr dalam kitab Al-Mujalasah wa Jawahiril Ilmi, juz II, hlm 273).

Ketiga, menolak kebenaran karena kesombongan (QS Shad 12-15, al-Haqqah 4-8). Hasan Bisri mengatakan, ada tiga macam manusia, yakni mukmin, munafik, dan kafir. Mukmin adalah orang yang menaati perintah Allah, kafir adalah yang dihinakan Allah, dan munafik adalah mereka yang tidak mengenal Allah, tapi dikenal keingkarannya dengan perbuatan-perbuatan jahat dan menampakkan kejauhan dirinya dari Allah (Al-Firyabi dalam kitab Shifatul Munafiq, hlm 61).

Keempat, sombong di hadapan makhluk (QS al-Qashash 83). Kelima, orang zalim (QS al-A’raf 165-166 , Yunus 13-14). Keenam, penghamba harta dan kedudukan (QS al-An’am 44). Rasulullah bersabda, “Celakalah penghamba dinar dan dirham.” (HR Bukhari).


sumber : www.republika.co.id

Saturday, March 24, 2012

Luasnya Dimensi Ibadah

,  Oleh Makmun Nawawi

Diriwayatkan dari Abu Dzar ra, ia berkata, “Orang-orang berkata kepada Rasulullah SAW, ‘Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala, mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Tetapi, mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka’.

Nabi bersabda, ‘Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu yang dengannya engkau bisa bersedekah? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, amar makruf nahi mungkar adalah sedekah, dan bersetubuh (dengan istrinya) adalah sedekah’. Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami mendapatkan pahala sedangkan ia melampiaskan syahwatnya?’ Rasulullah bersabda, ‘Bukankah seseorang yang menyalurkan syahwatnya pada yang haram ia memperoleh dosa? Demikian pula jika ia menempatkan syahwatnya pada yang halal maka ia pun akan mendapatkan pahala’.” (HR Muslim).

Ketika kita diserbu oleh pesona iklan yang luar biasa dari banyak produk, impian pun melambung tinggi untuk segera memilikinya, seperti rumah, kendaraan, elektronik, atau perkakas rumah yang serbamewah. Ketika gaya hidup mewah sudah menyergap, korupsi menjadi mata pencaharian, maka banyak orang yang berada di bawah garis kemiskinan, hanya bisa gigit jari. Ada yang apatis, muak, jengah, namun tak urung ada pula yang terjerat dalam hayalan yang berkepanjangan.

Di tengah interaksi kehidupan Nabi dan para sahabatnya, bukan tidak ada orang yang kaya raya. Namun, bagaimana kekayaan yang mereka miliki justru dipersembahkan untuk sesuatu yang lebih agung, lebih luhur, dan abadi, yakni di jalan Allah. Sehingga, cita-cita dan obsesi para sahabat yang miskin yang melihatnya pun bukan untuk memiliki harta yang melimpah ruah, kendaraan yang mewah, istana yang megah, atau baju yang indah seperti mereka. Namun, bagaimana mereka juga bisa beramal seperti sahabat yang kaya demi kebahagiaan di akhirat. (QS al-A‘la: 16-17, dan adh-Dhuha: 4).

Hadis di atas mengajarkan kepada kita bahwa dimensi ibadah dalam Islam itu begitu luas. Bukan hanya sebatas harta, namun juga menjangkau banyak sisi kehidupan yang nyaris semua orang bisa melakukannya, tergantung lemah dan kuatnya niat. Jika tidak kuat secara materi maka bisa melalui fisik, pikiran, atau apa pun yang kita mampu. Bukankah tasbih, tahmid, dan tahlil nyaris tidak membutuhkan pengorbanan fisik dan materi sedikit pun dari pelakunya? Demikian pula amar makruf nahi mungkar.

Bahkan, ketika sepasang suami-istri menunaikan haknya masing-masing, di mana mereka bisa mereguk nikmatnya berkeluarga, justru di situ pun terbentang pahala. Karena, ketika hal itu disalurkan kepada yang haram maka pelakunya akan menuai dosa.

Demikian pula dengan perilaku seseorang ketika makan, minum, berbisnis, berjalan, belajar, bekerja, berbicara, menelepon, facebook-an, chatting, berinteraksi dengan sesama, dan aktivitas lainnya, semua itu tetap bernilai ibadah, sepanjang berada dalam koridor yang halal, menjalankan ketaatan, atau menghindari larangan. Karena itu, banyak ruang dan tempat untuk meraih keridaan Allah. Wallahu a‘lam bish-shawab.



sumber : www.republika.co.id

Friday, March 23, 2012

Inilah Keistimewaan Bersedekah

, Oleh: Dr HM Harry Mulya Zein
 
“Allah menganugerahkannya kepada orang yang berkata baik, bersedekah, berpuasa, dan shalat di kala kebanyakan manusia tidur.” (HR.At-Tirmidzi)

 
Salah satu ibadah yang dianjurkan Allah SWT adalah bersedekah, baik dikala lapang maupun dikala sempit. Sebab sedekah adalah amal kebaikan sebagaimana al-Quran surah al-A’raf ayat 16 khusus amalan sedekah dilipatkan-gandakan lagi sesuai kehendak Allah, yang kemudian ditambah lagi mendapatkan berbagai keutamaan sedekah.

Marilah kita baca hadis Rasulullah SAW; “Sesungguhnya Allah swt itu Maha Memberi , Ia mencintai pemurah  serta akhlak yang mulia, Ia membenci akhlak yang buruk.” (HR. al-Baihaqi)

Hadis di atas juga kita bisa petik hikmahnya bahwa Islam sangat membenci sifat pelit dan bakhil dan sifat suka meminta-minta. Tetapi sebaliknya seorang mukmin itu banyak memberi dan pemurah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah.”  (HR. Bukhari)

Kita sudah tidak membantah lagi tentang keistimewaan ibadah sedekah. Sejumlah cendekiawan dan ulama muslim mengatakan bahwa terdapat ratusan dalil yang menegaskan bahwa Allah SWT memberikan pahala yang berlipat ganda dan memuliakan kaum yang bersedekah.

Mengutip kitab yang berjudul Al Inaafah Fimaa Ja’a Fis Shadaqah Wad Dhiyaafah, terdapat keutamaan bersedekah antara lain:

Pertama, sedekah dapat menghapus dosa. Pernyataan ini diperkuat dengan dalil hadist Rasulullah saw, “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR Tirmidzi, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614).

Pengampunan dosa ini tentu saja disertai taubat sepenuh hati, dan tidak kembali melakukan perbuatan-perbuatan tercela serta terhina seperti sengaja bermaksiat, seperti korupsi, memakan riba, mencuri, berbuat curang, atau mengambil harta anak yatim.

Kedua, bersedekah memberikan keberkahan pada harta yang kita miliki. Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah saw yang berbunyi, “Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim).

Ketiga, Allah melipatgandakan pahala orang yang bersedekah. Hal ini sebagaimana janji Allah SWT di dalam al-Quran. “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs; al-Hadid: 18)

Keempat, terdapat pintu surga yang hanya dapat dimasuki oleh orang yang bersedekah. Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga.

“Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”  (HR Bukhari).

Dan terakhir, orang yang sering bersedekah dapat membebaskan dari siksa kubur. Rasulullah saw bersabda, “Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR Thabrani)


sumber : www.republika.co.id

Thursday, March 22, 2012

Inilah Cara Rasulullah Mengawasi Harta Negara

, Oleh Prof Dr H Fauzul Iman

Dewasa ini mata bangsa masih terbelalak kepada ulah oknum yang gemar mempermainkan harta negara. Oknum itu dengan seenaknya me-mark up dan menyulap harta negara tanpa peduli terhadap nasib hidup rakyat yang kian menjepit. Padahal, sebagai bangsa yang religius telah mengetahui bahwa yang namanya harta negara adalah milik Allah SWT. (QS [2]:284).

Berdasarkan ayat ini tentu semua kekayaan alam yang ada di bumi adalah Allah pemiliknya. Umat manusia dengan ilmu dan keahliannya diperbolehkan mengeksploitasi potensi alam sepanjang manfaatnya untuk kesejahteraan umat. Di sinilah perlunya negara melakukan pengawasan harta negara (kekayaan alam) agar tidak terjadi penyalahgunaan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Hasan Hanafi dalam bukunya Ad-Din wa Ats-Tsaurah menyebutkan, kata harta dalam dua bentuk. Sebagian dinisbahkan pada bukan pemilik dan sebagian dinisbahkan pada sesuatu (objek), seperti harta anak yatim dan harta kamu. Kebanyakan Alquran menyebut kata harta dengan objeknya sejumlah 54 kali. Ini menunjukkan bahwa pengawasan harta harus dihidupkan dengan aktivitas ekonomi yang kredibel, jujur, profesional, dan berjiwa entrepreneurship. Harta negara tidak boleh dimatikan atau dihancurkan oleh pribadi yang bermental cengeng, penyulap, dan korup.

Harta negara yang dikelola dengan jujur, mandiri, dan profesional, baik oleh pribadi pengusaha maupun pejabat negara, berarti telah melakukan pengawasan harta negara secara internal dan mulia. Buah dari kemandirian dan kejujurannya kemudian ia menjadi pribadi yang tidak lagi bernafsu merampas dan menguasai harta negara yang bukan haknya. Bahkan, ia akan turut dengan efektif membantu negara untuk menyejahterakan kaum lemah (yatim dan fakir miskin).

Dari sinilah sebenarnya pengawasan harta negara harus dimulai dengan akhlak yang baik dari dalam pribadi maupun pemimpin bangsa. Di era klasik tidak sedikit pemimpin yang menerapkan pengawasan harta negara dengan cara ketat dan konsisten. Nabi SAW ketika mengutus Muadz bin Jabal sebagai gubernur di Yaman, sebelum ia sampai ke tempat bertugas diminta kembali datang menghadap kepada Nabi, “Tahukah kamu mengapa aku memanggilmu kembali wahai Muaz?” tanya Nabi.
 
“Belum tahu ya Rasululullah.”

“Saya ingatkan lagi sejak engkau mengemban amanah ini jangan coba-coba mengambil sesuatu (untuk kepentingan pribadi) tanpa seizinku. Barang siapa yang berbuat curang, pada hari kiamat kelak akan dibangkitkan dalam keadaan memikul beban kecurangannya.”

Cara Nabi ini diikuti olen generasi berikutnya, Umar bin Khattab, seperti diceritakan Abdul Qadim Zallum dalam bukunya al-Amwal fi Dawlat al-Khilafah. Umar dengan tegas mengambil harta negara dari tangan Abu Sufyan pemberian dari anaknya, Muawiyah, yang menjadi Gubernur Syam senilai 10 ribu dinar.

Harta itu ditarik dan diserahkan kembali oleh Umar ke Baitul Mal (negara) setelah terlebih dahulu diadakan penyelidikan oleh lembaga pengawasan (semacam KPK) yang bernama al-Muraqabah dan al-Muhasabah al-Ammah (Badan Pengendali Harta Negara).

Ketegasan para pemimpin sangat efektif dalam menjaga harta negara dari para penyulap (koruptor) sehingga tidak terjadi mafia pencurian harta negara secara berkesinambungan


sumber : www.republika.co.id

Wednesday, March 21, 2012

Subhanallah, Inilah Mukjizat Alquran tentang Klorofil

, Klorofil atau pigmen hijau tak hanya berfungsi sebagai zat pewarna hijau pada daun. Klorofil juga memainkan peranan penting dalam proses fotosintesis.

Para ahli tumbuh-tumbuhan menemukan bahwa klorofil merupakan produsen tunggal di muka bumi yang memproduksi makanan.

Fotosintesis merupakan suatu proses biokimia anabolisme, pembentukan zat makanan atau energi yaitu glukosa yang dilakukan tumbuhan, alga, dan beberapa jenis bakteri dengan menggunakan zat hara, karbondioksida, dan air serta dibutuhkan bantuan energi cahaya matahari.

Hampir semua makhluk hidup bergantung dari energi yang dihasilkan dalam fotosintesis. Akibatnya, fotosintesis menjadi sangat penting bagi kehidupan di bumi. Fotosintesis juga berjasa menghasilkan sebagian besar oksigen yang terdapat di atmosfer bumi.

Jauh sebelum para ahli tumbuh-tumbuhan menemukan zat bernama klorofil, 1.400 tahun yang lalu kitab suci Alquran telah menyebut pentingnya zat warna hijau. Simak surah Al-An'am [6]: ayat 99:
 
"Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai dan kebun-kebun anggur…"

Ayat itu menegaskan bahwa pigmen hijau -- yang merupakan bagian dari struktur tumbuhan yang "Kami tumbuhkan dengannya segala macam tumbuh-tumbuhan" -- merupakan zat hijau daun yang biasa dikenal dengan sebutan klorofil, yang terdapat pada salah satu sel tumbuhan kloroplas.

Inilah video tentang klorofil:



sumber : www.republika.co.id

Tuesday, March 20, 2012

Mari Menghargai Pluralitas

,  Oleh: Prof Dr Asep S Muhtadi

Seusai melaksanakan shalat bersama di Masjid Nabawi, seorang jamaah yang baru pertama kali berziarah ke Tanah Suci berkomentar, “Kok, cara-cara shalat di sini banyak sekali perbedaannya, ya.” Pandangan ini menunjukkan bahwa jika shalat merupakan representasi keislaman seseorang seperti diisyaratkan dalam salah satu sabda Rasulullah, maka berarti ada banyak cara orang beragama Islam.

Di samping kiri kanan jamaah itu orang-orang terlihat melakukan beragam cara takbiratul ihram. Lalu, tangannya diletakkan di tempat yang berbeda-beda. Di atas perut, di atas dada, atau seperti memeluk tubuh kedinginan. Bahkan, ada pula yang membiarkan tangan itu tergantung lepas. Demikian pula pada gerakan shalat lainnya. Gerakan tangan ketika berdiri sesudah rukuk, atau gerakan telunjuk dan posisi duduk ketika tasyahud akhir, semuanya terlihat berbeda-beda. Tapi, semuanya berjalan damai. Tidak ada perdebatan yang tidak menguntungkan, apalagi konflik.

Bukan hanya itu, perilaku jamaah pun amat bervariasi. Mereka melakukan sesuatu tindakan sesuai ukuran norma yang dianutnya masing-masing. Jamaah yang baru pertama kali shalat di Masjid Nabawi itu sempat kaget. Dia merasa diperlakukan tidak sopan. Kepalanya dipegang seenaknya. Badannya dilangkahi tanpa basa-basi apa pun. Kadang, kepalanya yang tengah melakukan sujud pun bisa saja tertendang kaki orang-orang yang masih mencari-cari ruang-ruang sempit di antara barisan para jamaah yang sejak awal telah mendapat tempat duduk. Mungkin bagi para pelakunya hal aneh itu dianggap wajar dan masih dalam batas-batas sopan santun. Tapi, sekali lagi, tidak ada amarah, caci maki, apalagi respons kekerasan.

Mungkin begitulah tafsir pluralitas seperti diisyaratkan Alquran. Jika Tuhan telah menciptakan manusia ini berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, tentu bukan hanya dalam wujud fisik yang tampak nyata dalam warna kulit, bahasa, dan budaya. Tapi, juga dalam ukuran-ukuran baik-buruk atau benar-salah sepanjang masih dalam ruang ijtihad, lingkup pemikiran, serta tradisi lokal yang menjadi referensi kehidupannya. Memang, pada praktiknya, beragama sendiri pada dasarnya tidak lebih dari berbuat sesuatu amal sesuai kapasitas insani yang dimiliki seorang pemeluk sesuatu agama. Tidak dalam posisi dipaksanakan, atau karena ada pemaksaan untuk melakukan sesuatu amal.

Praktik beragama pada akhirnya akan terikat pada etika dan perilaku sosial yang bersumber pada keragaman dan perbedaan seperti disebutkan Alquran. Jadi, ekspresi beragama pun akan tampak berbeda-beda. Ia tidak bisa dibikin sama, apalagi dipaksa harus sama, dan kalaupun sama, semuanya terjadi karena ada kesamaan referensi dan pengalaman yang sewaktu-waktu juga bisa saja berubah jadi berbeda.

Inilah potret indah pluralitas seperti dipesankan Alquran dan dicontohkan Rasulullah. Keberhasilan Nabi menciptakan kerukunan di tengah perbedaan masyarakat Madinah, merupakan sampel mewujudkan perdamaian di tengah pluralitas umat untuk membangun kebersamaan yang sesungguhnya.

Tapi, mengapa pluralitas di Tanah Air akhir-akhir ini masih saja ramai diwarnai ketegangan dan bahkan kekerasan? Mungkin, kita masih harus banyak belajar.


sumber : www.republika.co.id

Saturday, March 17, 2012

Inilah Amalan Penolak Bala

, Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Hidup ini tidak seindah yang dibayangkan. Banyak hal yang tidak terduga menghampiri hidup kita. Kepahitan dan kegetiran ada ah warna yang memoles lembar kehidupan manusia. Meski sesungguhnya bagi orang yang beriman dunia ini adalah surga tak berperi dengan kenikmatan dan keelokannya yang tidak bertepi.

Untuk kita yang saat ini sedang dalam kubangan musibah ada baiknya kita mencoba menyisir jalan kebaikan berikut ini. Atau, kita yang sedang dihantui kegagalan, inilah amalan yang menghibur untuk menolak berbagai kemungkinan bala. Pertama, melazimkan doa. Orang yang terbiasa dengan berdoa akan mengalir sebuah kekuatan yang mampu menjadikan dirinya tegar. Bah kan, doa adalah sebuah proteksi ampuh menstabilkan kondisi hati dengan berbagai macam keadaannya.

Disebut oleh Nabi Muhamad SAW, “Tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali doa.” (HR Ahmad). Bahkan, ada doa yang langsung dari Allah untuk menuntun kita terhindar dari berbagai ujian, musibah, dan bala. “Duhai Allah jangan sekali-kali Engkau uji kami di luar batas kemampuan kami.” (QS al-Baqarah [2]: 286).

Kedua, kesungguhan takwa. Banyak disebut oleh berbagai ayat bahwa kesungguhan dan keseriusan dalam ketakwaan mengantarkan ketangguhan spiritual dalam menyelesaikan setiap kesulitan hidup. Ini artinya semangat takwa menghindarkan sebuah peristiwa buruk dalam hidup ma usia. “Siapa yang bertakwa maka Allah jadikan baginya jalan keluar. Dan Allah karunia kan rezeki dari arah tak terduga. Siapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah maka akan dicukupkan (nikmat dan kebutuhannya) …” (Baca QS al- Thalaq [65]: 2-3).

Ketiga, ridha orang tua. Setelah kita tegak dengan nilai-nilai Langit seperti disebut oleh dua poin di atas, saatnya kita mengumpulkan energi dari bumi. Dan, kita perlu memulainya dari bilik kedua orang tua kita. Doa dan restu mereka yang pada urutannya mengantarkan kepada sejuta kebaikan, yang kita unduh tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Keramat terampuh di dunia ini tidak lain doa dan restu orang tua. “Rida Allah ada pada rida orang tua dan murka-Nya ada pada murka kedua orang tua,” demikian sabda Nabi Muhammad SAW riwayat al-Hakim.

Keempat, sedekah. Keutamaan sedekah sudah banyak yang menyebutkan. Bahkan, secara terang sebuah hadis mengisyaratkan, “Sedekah itu benar-benar menolak bala.” (HR Thabrani dari Abdullah ib nu Mas’ud). Karena, agama adalah amal. Maka, nikmat dan ke lezatan beragama akan berasa jika kita benar-benar mengamalkan. Karena itu, saat nya kita buktikan dengan amal nyata. Kita bersedekah pasti ada proteksi bala yang langsung Allah desain.

Kelima, istighfar. “Kami tidak akan turunkan azab bencana selama mereka masih beristighfar.” (QS al-Anfal, 8: 33). Berikutnya, silaturahim, berzikir, dan selawat. Terkait dengan zikir, disebut oleh Nabi SAW, “Petir menyambar siapa pun, tetapi petir tidak akan menyambar orang yang sedang berzikir.”

Terakhir, senantiasa ber buat baik. Kebaikan yang kita tebarkan di bumi adalah kebaikan untuk kita yang Allah gelontorkan dari langit (QS ar- Rahman [55]: 60). Wallahu a’lam.


sumber : www.republika.co.id

Friday, March 16, 2012

"Zammilunie... Zammilunie...''

,  Oleh: Rizqo Kamil Ibrahim *

"Zammilunie, zammilunie! (Selimutilah aku, selimutilah aku)," pinta Rasululullah  SAW kepada sang kekasih Khadijah binti Khuwailid.

Adrenalin yang tidak karuan, ketakutan yang amat sangat, serta gundah-gulana mendera manusia ma'sum yang perkataannya adalah hujjah, Muhammad SAW, tak lama setelah mendapat wahyu dari Allah melalui perantara Malaikat Jibril di Gua Hira.

"Fa zammaluhu hatta dzahaba 'anhu arrou 'u", maka Khadijah segera menyelimuti Rasulullah SAW sampai ketakutannya itu hilang. Betapa salehahnya sang istri menyelimuti suaminya dengan segala kelembutan dan kasih sayang.

Terdapat pelajaran yang menarik dari kalimat di atas yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari itu, bahwasanya ketakutan dapat diringankan bahkan dihilangkan dengan berselimut.

"Laqod Khosyitu 'ala nafsie, (Sungguh,aku menghawatirkan diriku (akan binasa)," ujar Nabi SAW kepada Khadijah. Dan simaklah bagaimana perkataan seorang wanita salehah yang diciptakan untuk pria yang saleh itu.

"Kalla! wa llahi ma yukhzika 'llah abadan! (Sekali-kali tidak! Demi Allah! Allah tidak akan merendahkanmu selamanya," ujar Khadijah.

"Sungguh engkau telah menyambungkan tali persaudaraan, engkau telah memikul beban orang lain, engkau suka mengusahakan keperluan orang yang tak punya, menjamu tamu dan senantiasa membela kebenaran," tutur Khadijah.

"Ma ajmala hadza alkalam!" Betapa indahnya perkataan ini, motivasi yang menghidupkan hati-hati yang layu, membangkitkan derap langkah yang sempat terhenti,l antas  adakah yang lebih indah dari senyuman dan motivasi sang istri dikala gundah?  Dan itulah yang dicontohkan oleh wanita salehah yaitu  Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi SAW yang merupakan sohabiyat (sahabat dari kalangan perempuan)

Para suami bukanlah seorang yang selalu teguh di setiap saat. Ada kalanya saat kelemahan, kelesuan nan gundah melanda, karena begitulah manusia. Berita PHK, dagangan yang kurang laku di pagi hari, penumpang yang tak kunjung datang , marahnya atasan, bawahan yang kurang baik, karya yang tidak dihargai, dakwah haq yang dimusuhi dan pelbagai masalah kerap membuat kepulangan di sore hari menuju rumah dibarengi dengan dagu yang tunduk, ditambah suasana hati yang tidak karuan.
 
Lantas adakah Khadijah–Khadijah di era globalisasi ini yang akan menenangkan suaminya dengan kata-kata indahnya? Ataukah yang ada hanya ucapan, "suami payah", "begitu saja tidak bisa", atau kata  "bodoh", yang akan menyambut hati suami yang galau?

Tentu saja ada. Dan selalu akan ada. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Akan sentiasa ada satu golongan (kelompok) dari umatku yang muncul terang-terangan di atas kebenaran, tidak membahayakan orang-orang yang bermusuhan kepada mereka sehingga tiba urusan Allah dan mereka dalam keadaan demikian”. (H/R Bukhari, 6/632. Muslim, 3/1523)

Dan tentulah yang mendapatkan Istri yang berjalan di atas sunnah (jalan) nabi adalah para suami yang berjalan di atasnya pula. Begitu pula sebaliknya. Suami yang baik akan didapat oleh wanita yang baik.

"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)." (QS An-Nurr: 26)
 
Wallahu ta'ala a'lam.

Madinah, 22 Rabi'ul Awwal 1433 H

*Penulis Mahasiswa Universitas Islam Madinah


sumber : www.republika.co.id

Thursday, March 15, 2012

Restu Ibu, Kunci Kemudahan Hidup

, Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas

Libur musim panas adalah masa yang paling ditunggu-tunggu mahasiswa. Selama tiga bulan para mahasiswa akan menikmati libur bersama keluarga. Sebulan sebelum libur, bagian kemahasiswaan universitas sudah membagikan formulir. Setiap mahasiswa dipersilakan menuliskan rute perjalanan masing-masing, mulai dari  Bandara Riyadh sampai bandara terdekat dari kota tempat berdomisili. Seperti halnya seluruh kampus di Arab Saudi, Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Sa’ud Riyadh memberikan tiket gratis pulang pergi ditambah dengan uang saku sebanyak beasiswa tiga bulan.

Sudah dua musim panas sahabat yang akan kita ceritakan ini—sebut saja namanya Yunis-- libur ke Tanah Air. Libur tahun ini, dia ingin mengunjungi Eropa. Mumpung sudah dekat, kalau dari Tanah Air, entah kapan dia bisa mengunjungi Eropa. Berdasarkan pengalaman teman-teman sebelumnya, yang penting selama berkunjung ke Eropa ada tempat penginapan gratis.

Atas rekomendasi seorang senior yang pernah berdakwah ke Eropa, Perhimpunan Pelajar Muslim Eropa di Berlin Barat bersedia mengundang Yunis berdua dengan temannya Yusuf memberikan pengajian selama Ramadhan di Berlin Barat, ditambah khutbah Idul Fitri. Penginapan, makan minum, dan tiket domestik ditanggung PPME.

Berbekal surat undangan dari PPME, Yunis ditemani Yusuf dengan optimistis pergi ke Bandara Riyadh, mengurus rute perjalanan. Tapi di luar dugaan, petugas Arab Saudi menolak permintaannya. Bahkan, dengan ketus mengatakan, “Mafi tahwil! Tiket diberikan universitas kepada saudara untuk pulang ke Tanah Air mengunjungi keluarga, bukan untuk libur ke Eropa.” Yunis menunjukkan surat undangan dakwah dari PPME, tapi petugas sama sekali tidak mau melihatnya. Dengan langkah gontai mereka kembali ke asrama.

Malamnya, Yunis merenung sambil introspeksi. Apa kesalahannya, mengapa saat gilirannya, pihak Arab Saudi tidak mengizinkan, sementara teman-teman lainnya lancar-lancar saja. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. “Astaghfirullah! Bukankah aku belum pernah minta izin sama ibu di rumah? Beliau pasti menunggu-nunggu kepulangan putranya di waktu liburan.” Segera dia tulis surat minta restu ibunya. Besok pagi-pagi surat itu segera diposkannya.

Tanpa memberitahukan Yusuf tentang surat itu, mereka berdua kembali ke bandara, mencoba lagi mengurus perubahan rute tiket. Alhamdulillah, petugas Saudia menyambutnya dengan ramah. Tiketnya dapat diubah dengan rute baru: Riyadh-Jeddah-Frankfurt-Denhaag-London-Paris-Roma-Jeddah-Riyadh. Bahkan, petugas Arab Saudi memujinya karena bersedia mengorbankan musim libur untuk berdakwah di Eropa. Yunis berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada petugas itu. “Jazakallah khair,” katanya dengan penuh kegembiraan.

Sahabat kita yakin, Allah SWT memberikan kemudahan kepadanya karena restu ibu, sekalipun surat itu pasti belum sampai ke tangan sang ibu. Allah Yang Mahakuasa yang telah menyampaikannya ke dalam hati sang ibu.

 


sumber : www.republika.co.id

Tuesday, March 13, 2012

Surga Tersembunyi di Bandung Timur

Alam Santosa, Pasir Impun, Cimenyan, Kabupaten Bandung
SORE itu mentari baru saja terbenam, setelah seharian bekerja keras menyinari bumi dan memberi cahaya kehidupan bagi warga bumi. Rona kemerahan di ufuk barat tampak sangat indah dan menawan, yang mungkin sangat susah dijumpai di tempat lain. Panorama alam matahari terbenam merupakan salah satu keunggulan yang ditawarkan kawasan wisata Alam Santosa, Pasir Impun, Kec. Cimenyan, Kab. Bandung, selain sejumlah keunggulan lainnya.

Memang sejatinya, pengunjung dapat menyaksikan sunset dengan latar belakang Kota Bandung, bila cuaca sedang bersahabat. Di malam hari, kerlap-kerlip lampu semakin menambah pesona kawasan wisata yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Jalan Raya A.H. Nasution (Ujungberung) ini. Dengan luas mencapai 4 ha, Alam Santosa menawarkan ekowisata yang sudah jarang ditemukan di seputar Kota Kembang.

Kembali ke leuweung atau back to nature tampaknya memang menjadi konsep kawasan wisata yang dikemas mantan Ketua DPRD Jabar dan Komisi II DPR RI, dan kini menjabat Duta Sawala (Sekjen) Baresan Olot Tatar Sunda, Drs. H. Eka Santosa. Semua benda yang ada di kawasan yang memiliki 4 pondok penginapan (cottage) ini, mencirikan sesuatu yang khas dan unik, yaitu menyatu dengan alam.

Seperti alat-alat yang terdapat dalam pondok bergaya rumah panggung, kental sekali nuansa alamnya. Sebab mengandalkan potensi dari daerah setempat atau lebih dikenal dengan kearifan lokal. Tempat tidur menggunakan dipan kayu dengan dilapisi kapuk, dinding rumah terbuat dari anyaman bambu khas Kampung Naga, perlengkapan di kamar mandi menggunakan bebatuan dari Cisanggarung yang berjarak sekitar 1 km dari Alam Santosa.

Begitu memasuki kawasan wisata yang berada di kaki Gunung Manglayang ini, suasana sejuk langsung terasa. Hawa alam pegunungan dengan gemericik air dan suara binatang-binatang hutan, terdengar begitu syahdu, seakan mengajak pengunjung untuk bersenda gurau atau berdendang ria. Suara jangkrik, tonggeret, kodok, burung dan lain-lain, terdengar bersahutan dengan irama yang khas menyerupai alunan nada memuji keagungan Sang Pencipta.

Karena tema yang diangkat ekowisata, pengunjung sepertinya diajak untuk menyatu dengan alam. Pepohonan rimbun dan langka, areal persawahan, kolam pemancingan ikan, kawasan outbound di alam terbuka, kearifan lokal, makanan perdesaan, mengenal adat dan istiadat masyarakat setempat, penampilan seni tradisional masyarakat setempat, melongok penambangan batu dan hasil olahannya, menanam pohon dan panen tanaman padi, dll. menjadi sajian yang amat sangat sayang untuk dilewatkan.

Dengan keunggulannya sebagai ekowisata yang sangat berpihak pada alam dan kearifan lokal, Alam Santosa sangat cocok dijadikan tempat refreshing akhir pekan bersama keluarga atau rekan bisnis setelah disibukkan oleh berbagai rutinitas pekerjaan. Turis asing pun seperti tak mau ketinggalan untuk merasakan keindahan alam di kawasan ini. Seperti diungkapkan turis Belanda, Jaup dan istrinya, Enliesbeth, yang menginap 4 hari di Alam Sentosa. "Saya merasa sangat betah di sini, karena semuanya serba alami dan menyimpan banyak kearifan lokal. Ini ibarat surga bagi saya," ungkap Jaup yang merupakan ahli yoga di negaranya.

Berbagai sajian dan keindahan yang ditawarkan Alam Santosa, menjadikan kawasan ini bak surga tersembunyi di kawasan Bandung Timur. Siapa pun tak akan percaya sebelum mencoba sendiri, bagaimana menawan dan eksotiknya Alam Santosa sebagai kawasan konservasi dan ekowisata. So, rasakan sendiri sensasinya. Sabtu, 25 februari 2012
(efrie ch./"GM")**

Monday, March 12, 2012

Kamojangku nan Elok

INGIN menikmati pemandangan alam pegunungan yang alami dengan cuaca berkabut? Tak ada salahnya bila Anda berkunjung ke objek wisata Kawah Kamojang. Objek wisata yang terletak sekitar 40 km dari Bandung dan 25 km dari Garut ini, memang menyimpan panorama alam yang memikat dan terasa sekali kesan perawannya.

Sejak zaman penjajahan Belanda, Kawah kamojang dikenal sebagai objek wisata alam liar. Tentunya ada nuansa yang berbeda saat berada di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, di tengah hutan belantara.

Belum lagi, ditambah dengan kekayaan flora dan fauna yang sangat melimpah. Termasuk kekayaan sumber daya alam, yaitu panas bumi, yang dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga panas bumi terbesar di Asia. Semua itu semakin menambah kekhasan Kamojang sebagai objek wisata alam yang memikat.

Luas Taman Wisata Cagar Alam Kamojang sekitar 10 hektare, tetapi saat ini yang digunakan seluas 7,8 ha. Di sini terdapat 23 kawah, dua di antaranya berbentuk danau dengan asap mengepul dari permukaan airnya.

Di sini juga terdapat Kawah Kereta Api yang sebenarnya bekas sumur panas bumi yang digali pada zaman Belanda. Uap yang keluar dari sumur ini dari jarak 200 meter pun masih terdengar nyaring, menunjukkan betapa kuatnya tekanan dari perut bumi.

Kawah kereta api inilah yang akan dilalui wisatawan, yang hendak melakukan petualangan ke kawah-kawah lain di Kamojang. Bagi yang tak terbiasa melakukan perjalanan jauh, perjalanan bisa dihentikan di Kawah Hujan. Di sini biasanya para wisatawan menikmati panasnya uap langsung dari perut bumi, bersauna dari sumber alami.

Sebelum melewati Kawah Kereta Api, pengunjung dapat menikmati Kawah Manuk. Selain itu ada juga Kawah Beureum, kawah terakhir yang berada di kawasan wisata Kamojang. Selain kawah-kawahnya yang mengagumkan, di sekitar Kamojang juga banyak satwa langka yang bisa dijumpai.

Di cagar alam ini, berdasarkan hasil penelitian, masih ada macan tutul, trenggiling, surili, lutung, ayam hutan, monyet, dan beraneka jenis burung. Semua hewan langka tersebut dapat dijumpai kalau memang lagi beruntung.

Selain curug dan kawah, Kamojang juga memiliki danau yang indah dan natural, namanya Danau Ciharus yang terletak di sebelah Kulon Kawah Kamojang. Kawasan Danau Ciharus terletak di tengah hutan yang lebat dan diapit gunung. Selain kawah, air terjun, dan danau, Kamojang juga memiliki hutan pinus yang lebat, cantik serta enak dipandang mata.

Dalam perjalanan menuju Kawah Kamojang juga akan ditemukan tanjakan Monteng. Di sini akan ditemukan objek wisata yang cukup menarik, namanya Curug Madi. Meski tidak terlalu tinggi, curug ini sangat indah. Apalagi lokasinya berada di bawah tanjakan Monteng.

Perjalanan ke Kawah Kamojang bisa melalui Garut (Tol Cileunyi, Cicalengka, Garut-Samarang), Tol Cileunyi, Rancaekek, Majalaya, Paseh-Kamojang atau lewat Tol Moh. Toha/Tol Buahbatu, Baleendah, Ciparay, Majalaya, Paseh-Kamojang.

Dengan begitu banyaknya pilihan tempat wisata yang ditawarkan Kawah Kamojang, rasa-rasanya amat rugi bila main ke Garut tapi tidak menyempatkan diri mengunjungi objek wisata yang satu ini. Apalagi tiket masuknya sangat murah. So, bila ke Kota Dodol, jangan lupa mampir ke Kawah Kamojang!
sabtu, 10 maret 2012
(efrie ch./ "GM")**

Saturday, March 10, 2012

Menyembunyikan Kebenaran Ilahi

, Oleh: Athian Ali 

Allah SWT menurunkan risalah Islam kepada manusia mulai dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW dalam bentuk kitab-kitab suci dan suhuf-suhuf, semata-mata hanya untuk kemaslahatan manusia. Dengan kata lain, Allah SWT sama sekali tidak punya kepentingan apakah risalahnya itu ditaati atau tidak, manusia diberi hak sepenuhnya untuk memilih antara beriman atau kufur (al-Kahfi: 29).

Bagi yang memilih beriman, Allah SWT memperingatkan, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah daripada Kitab dan menukarnya dengan harga yang murah.” (al-Baqarah: 174). Peringatan ini mengisyaratkan bahwa pasti akan ada manusia yang berusaha menyembunyikan kebenaran Allah.

Kata yaktumuuna (menyembunyikan) mengandung pengertian sesuatu itu sudah ada terlebih dulu lalu dicoba disembunyikan, yang dalam konteks ayat ini adalah ‘kebenaran yang datang dari Allah’. Konotasi ‘menyembunyikan’ juga bisa diartikan sebagai sebuah rekayasa perlawanan, seolah-seolah yang datang bukan kebenaran yang sesungguhnya. Misalnya, yang datang kebenaran A, tapi yang dimunculkan B.

Dahulu para rasul selalu dihadapkan dengan keberadaan manusia-manusia semacam ini sehingga akhirnya tidak ada kitab suci selain Alquran yang bisa dipertahankan kesuciannya. Mereka tidak sekadar adh dhal (orang yang sesat), tapi al mudhillu (sesat dan menyesatkan). Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa ketika Alquran diturunkan, Allah SWT tidak lagi menyerahkan kepada manusia untuk menjaganya (al-Hijr: 9).

Kendati Alquran dijaga langsung oleh Allah SWT sehingga kesuciannya akan tetap terjaga sampai kiamat, sebagian dari kebenaran Alquran tetap ‘tersembunyi’ bagi mayoritas Muslim yang awam. Semua ini terjadi karena sebagian ulama mengungkapkan, para dai sudah enggan mengangkat kebenaran-kebenaran Alquran yang memang sangat  bertentangan dengan kebatilan yang sedang dinikmati oleh mayoritas mereka yang berkuasa.

Mereka sembunyikan kebenaran ayat-ayat Alquran lewat bahasa verbal mereka dengan menyatakan bahwa Alquran sudah tidak relevan untuk kehidupan masa kini. Hukum potong tangan bagi pencuri, qisas bagi pembunuh, rajam atau cambuk bagi pezina adalah bertentangan dengan hak asasi manusia. Sudah sangat langka yang membahas ayat-ayat jihad karena takut dituduh ‘mbahnya’ teroris ataupun radikal.

Paling tidak ada empat ancaman bagi orang-orang yang menyembunyikan kebenaran Allah dan menjualnya dengan harga yang murah. Pertama, tindakan mereka tak ubahnya dengan menyiapkan bara api neraka sepenuh perut mereka. Allah mengancam mereka akan menjadi penghuni neraka jahanam. Kedua, Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat. Ketiga, Allah SWT tidak akan pernah menyucikan mereka dari kekufuran dan dosa yang mereka perbuat. Keempat, siksa yang teramat pedih. Na’udzu billah min dzalik! Wallahu a’lam bish shawab.


sumber : www.republika.co.id

Friday, March 09, 2012

Mempererat Tali Kerukunan

, Oleh: Dr HM Harry Mulya Zein
 
Tindakan anarkis serta kekerasan pada masyarakat sepertinya sudah menjadi cara akhir dalam menyelesaikan segenap permasalahan. Padahal, jika kita renungkan, permasalahan yang terjadi hanya dipicu oleh persoalan sepele.

Memang jika kita jujur, tindak kekerasan terjadi di kota-kota besar dan bahkan di daerah-daerah lainnya di Indonesia. Baik yang terjadi di masyarakat sipil, Aparat Kepolisian hingga Aparat Negara. Yang kita takutkan adalah, mengutip Ariyanto Nurcahyono dalam artikel ”Kekerasan sebagai fenomena budaya”, yang sangat mengkhawatirkan tindakan kekerasa sudah dianggap suatu kewajaran.

Gejala ini terlihat ketika mayoritas media massa kita senang menayangkan tema-tema kekerasan. Kecenderungan itu berlangsung secara terus-menerus dan setiap saat maka akibatnya manusia menjadi tidak peka bahkan menjadi mati rasa terhadap gejala serta prilaku kekerasan. Ditambah masih adanya ketidakpercayaan masyarakat terhadap Aparat Penegak Hukum.

Jadi cara main ’hakim sendiri’ yang kian marak di masyarakat kita merupakan gejala yang sangat mengkhawatirkan. Padahal ketika masyarakat sudah menganggap wajar tindakan kekerasan maka itu harus dilihat sebagai gejala krisis sosial, krisis kemanusiaan, dan krisis moralitas.

Satu hal yang mungkin dapat dipakai untuk pokok bahan renungan kita semua tanpa kecuali rasa persaudaraan sesama anak bangsa saat ini sudah memudar. Ikatan-ikatan persaudaraan sesama anak bangsa sedikit demi sedikit kian hilang. Egoisme dan fanatisme sempit kian menguat. Sehingga memporak-porandakan ikatan persaudaraan antar sesama warga.

Tali persaudaraan akan tercapai apabila jalinan persaudaraan sesama warga, mahluk ciptaan Allah SWT, terbina. Persaudaraan yang dimaksud bukan hanya sebatas antar sesama muslim akan tetapi dengan seluruh warga masyarakat yang boleh jadi sangat plural. Maka sikap terbuka dan toleran menjadi sebuah keniscayaan. Sebuah ungkapan yang populer namun sering mendapat pemaknaan yang keliru adalah ukhuwah Islâmiyyah. Ungkapan ini sering dipahami sebagai “persaudaraan antar sesama muslim”. Hal ini jelas tidak sesuai dengan Alquran.

Persaudaraan yang diajarkan Alquran tidak sebatas sesama Muslim, namun juga ukhuwah ‘ubudiyyah (persaudaraan dalam ketundukan kepada Allah), ukhuwah insāniyyah/basyariyyah (persaudaraan antar sesama manusia), ukhuwah wathaniyyah wa al-nasab (persaudaraan sebangsa dan seketurunan) dan ukhuwah fÄ« dÄ«n al-Islām (persaudaraan antar sesama). Agar tercipta suatu masyarakat rukun ialah yang terpenting adalah peranan dari pemerintah langsung dan partisipasi masyarakat itu sendiri sehingga terciptanya suatu konsep masyarakat ideal.

Masyarakat rukun juga dipahami segenap tingkah laku manusia yang dianggap sesuai; tidak melanggar norma-norma umum dan adat istiadat serta terintegrasi langsung dengan tingkah laku umum, dan terpenting tidak adanya kekerasan di ranah publik.

Dalam konteks membangun kehidupan masyarakat sipil yang berahlak mulia  dengan prinsip saling menghormati dan saling menghargai adalah dengan mengakui adanya perbedaan suku, agama, keyakinan, etnis dan latarbelakang masyarakat itu sendiri. Termasuk juga menghargai cara pandang dan cara pikir antar satu masyarakat dengan masyarakat lain. Meski berbeda-beda, tetap satu.

Untuk dapat memahami multikulturalisme diperlukan landasan dan pengetahuan yang berupa bangunan konsep-konsep yang relevan dengan serta mendukung keberadaan dan berfungsinya multikulturalisme dalam kehidupan manusia. Pendidikan multikultural di sini sangat penting, agar rasa fanatisme tidak berkembang di tengah-tengah masyarakat. Karena patut kita akui, rasa fanatisme berlebihan itu kerap menimbulkan sesama warga saling ejek, saling merendahkan. Akibatnya, terjadi tindak kekerasan yang berujung pada kerusuhan. Rasa fanatisme boleh saja, asal diimplementasikan dalam bentuk karya kreativitas. Misalnya, dengan membuat kerajinan, atau produk-produk unggulan lainnya.

Tentunya melalui pendidikan multikulturalisme menjadi suatu kebutuhan. Pemberian materi-materi multikulturalisme di setiap sekolah bisa menjadi pintu masuk untuk memperkuat fondasi dan ideologi multikulturalisme. Pelajaran multikulturalisme di sekolah-sekolah juga sebagai pencegah terjadinya konflik sosial antar sukubangsa dan tindak kekerasan yang berbau etnis ataupun berbau organisasi etnis. Sehingga warga memiliki kesadaran tanggung jawab sebagai orang warga negara, sebagai warga sukubangsa dan kebudayaannya


sumber : www.republika.co.id