-
Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Monday, November 21, 2011

Asal Mula Nama-nama Jalan Di Bandung

Written by Nurul Wachdiyyah

Asal Mula Jalan Wastukancana Bandung

Jl. Wastukancana sering disingkat menjadi Wastu. Nama ini diambil dari nama seorang raja Pajajaran bernama Niskala Wastukancana. Pada saat perang Bubat, Wastukancana masih berumur 9 tahun. Ayah dan kakak Wastukancana, Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka, gugur di medan Bubat. Wastukancana naik tahta saat umurnya 23 tahun. Beliau memegang singgasana Pajajaran selama 103 tahun 6 bulan dan 15 hari.

Dahulu nama jalan Wastukancana ini adalah Engelbert Van Bevervoordeweg. Wuih, rada ribet ya untuk lidah kita :D Kapten Engelbert van Bevervoorde adalah pelopor dunia penebangan militer Belanda. Beliau meninggal dunia pada tahun 1918 setelah pesawat Glenn Martin yang dikemudikannya jatuh di Bandara Sukamiskin. Untuk mengenang jasanya, pemerintah Belanda membuat patung dirinya pada tahun 1920. Patung tersebut diletakkan di sebuah tikungan jalan yang sekarang adalah Jalan Wastu Kencana. Setelah Indonesia merdeka, patung tersebut dipindahkan ke Museum Bronbeek di Arnhem, Belanda.


Asal Usul Jalan Siliwangi Bandung

Dahulu jalan ini bernama Dr. De Greerweg. Kata Siliwangi diambil dari seorang tokoh mitologis dan legendaris dalam satra dan sejarah Sunda, yaitu Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi adalah raja Pajajaran yang terkenal karena kepemimpinannya dapat menjadikan masyarakat Pajajaran yang sejahtera, adil dan makmur. Jalan Siliwangi dibangun untuk memperlancar hubungan antara bagian barat dan timur kota Bandung. Pemberian nama Siliwangi dilakukan untuk mengenang tokoh bersejarah tersebut. (sumber : Buku TOPONIMI Kota Bandung oleh T. Bachtiar dkk)

Jalan ini cukup terkenal di Bandung. Terdapat mural terpanjang di Indonesia yang sering dijadikan 'kanvas' teman-teman dari Seni Rupa ITB. Kawasan jalan Siliwangi masih dirimbuni pepohonan yang besar dan tua. Jika malam hari terkadang lampu jalanan tidak menyala, akibatnya kondisi di jalan tersebut gelap gulita di beberapa titik.

Asal Usul Jalan Banceuy di Bandung

Banceuy adalah nama jalan di kota Bandung yang perpotongannya dari jalan Asia Afrika (salah satunya). Di Jalan ini kita bisa mengunjungi salah satu pabrik kopi bernama Kopi Aroma. Selain pabrik, disini juga tokonya. Jadi sambil lihat pembuatan kopi, kita bisa juga membeli kopi-kopinya.

Dalam Kamus Umum Basa Sunda (KKUBS), Banceuy diartikan sebagai kampung yang bersatu dengan istal (kandang kuda). Kampung disini artinya tempat tinggal pera pengurus kuda (dan keretanya). Dengan demikian penamaan daerah ini dilakukan atau diadaptasi berdasarkan fenomena sosiologis. Yaitu kondisi yang pernah terjadi di daerah tersebut berkenaan pula dengan hal-hal yang pernah dialami oleh masyarakat.

Kawasan Banceuy dulu pernah dijadikan tempat peristirahatan dan tempat mengganti kuda, khususnya untuk keperluan transportasi dan penyampaian benda-benda pos. Dahulu surat dikirim dengan menggunakan jasa transportasi kuda. Bagaimana kiranya jika benda pos harus dikirim dari Semarang ke Bandung? Tentu tidak cukup hanya dengan menggunakan kuda yang itu-itu saja. Tetapi harus diganti. Nah di Banceuy-lah tempat ganti kuda ini.

Dahulu pula di daerah ini terdapat sebuah loji (penjara) yang bersebelahan dengan kandang kuda. Penjara Banceuy namanya. Pemerintah kolonial penah memenjarakan Soekarno disini. Sel tempat Soekarno dikurung 'dimuseum'kan, sementara bangunan penjara yang lain telah dirobohkan dan sekarang jadi ruko. Karena lokasinya yang bersebelahan dengan kandang kuda, maka daerah ini pun pernah disebut Loji Banceuy.

Banceuy nama asal jalannya adalah bantjeuyweg dan diresmikan pemerintah kolonial pada tahun 1871. Sekarang jadi jalan Banceuy.


Asal Usul Jalan Buah Batu Bandung

Untuk yang belum tahu, Bandung itu dahulunya adalah sebuah danau yang super luas. Seiring berjalannya waktu, air danau ini menyusut dan bermunculanlah sembulan-sembulan daratan yang diselingi beberapa cekungan yang masih tergenang air. Diantara sekian jumlah cekungan air, terdapat sebuah telaga yang banyak mengandung
bebatuan.

Di tepi telaga tersebut banyak terdapat pohon mangga (Sunda : buah). Melihat keadaan seperti itu, masyarakat yang tinggal disekitarnya secara spontan menyebut daerahnya menjadi Buah Batu. Sekarang daerah ini jadi kawasan yang ramai. Masyarakat Bandung menyebut Buah Batu jadi Bubat.


Asal Usul Jalan Cihampelas Bandung
Ini dia salah satu jalan yang paling banyak menampung wisatawan lokal dan internasional. Jalan Cihampelas. Pola penamaan jalan ini terbentuk melalui dua aspek : Hidrologis dan biologis.

Cihampelas berasal dari gabungan dua kata.
1. Ci = Cai, yang artinya air (Sunda)
2. Hampelas = Nama jenis pohon yang daunnya kasar, seperti kertas amril (ampelas) yang digunakan untuk menggosok atau menghaluskan besi dan kayu.

Dengan demikian, Cihampelas jika diartikan secara bebas dapat memiliki dua pengertian. Pertama, air yang memiliki khasiat untuk menghaluskan kulit atau membersihkan hal lainnya. Kedua, sebuah daerah aliran sungai yang disekitarnya terdapat banyak pohon Hampelas.


Asal Usul Jalan Lengkong Bandung
Jalan yang pada masa pemerintahan kolonial bernama Groote Lengkong ini mengandung arti "teluk". Kawasan ini pada jaman dahulu merupakan sebuah teluk yang besar (hal ini berkaitan dengan asal muasal Bandung sebagai sebuah danau raksasa, danau purba). Ketika danau Bandung surut, ada beberapa wilayah yang masih tergenang air.
Satu diantaranya disebut Lengkong.


Asal Usul Grootepostweg alias Jl. Asia Afrika
Oleh Ben Sudarmadji

Jalan Anyer – Panarukan dibuat atas perintah Raja Belanda Louis Napoleon kepada Marschalk Herman Willem Daendles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, pada awal tahun 1800an. Tujuan utama pembuatan jalan itu adalah untuk memperkuat pertahanan Belanda di pulau Jawa dari serangan tentara Inggris yang konon berencana mengambil alih Pulau Jawa dari tangan Belanda. Masih inget pelajaran sejarah? Kita dijajah Belanda sementara Malaysia dijajah Inggris? Hmm …

Jalan yang pada saat itu disebut sebagai Groote Postweg (groote = great = besar, post = pos, weg = jalan) ini membentang sepanjang 1.000 km melintasi pulau jawa dan menelan nyawa 30.000 ‘koeli’ pribumi. Bayangkan kalau diambil rata-rata berarti setiap 1 km dikorbankan nyawa 30 pribumi untuk pembuatan jalan ini, miris enggak sih? Sesudah itu, ternyata fungsi Groote Postweg yang utama ini ternyata gagal dicapai, karena akhirnya Belanda menyerah pada Inggris setelah diserang melalui Pelabuhan Semarang di tahun 1811.

Pengorbanan 30.000 pribumi itu pada akhirnya membawa hikmah juga, banyak hal baik muncul karena terciptanya si Groote Postweg ini. Diantaranya kelahiran kota Bandung Modern. Karena memang Bandung yang kita kenal sekarang ini konon katanya direlokasikan dari lokasi sebelumnya (Dayeuh Kolot sekarang, dayeuh = kota, kolot = tua) atas permintaan Daendles kepada bupati Bandung Wiranatakusumah II.

Kenapa harus dipindahkan? Karena blueprint pembangunan jalan Groote Postweg di daerah priangan ternyata berselisih jarak sekitar 11 km dari lokasi kabupaten Bandung pada saat itu, yang sekitar dayeuh kolot itu. Mungkin Daendles berpikir kalau sebuah kota mau maju, maka kota tersebut harus mudah diakses -artinya harus kelewatan jalan baru ini dong.

http://www.mahanagari.com

Sunday, November 20, 2011

SEJARAH KONFERENSI ASIA AFRIKA

Berakhirnya Perang Dunia II pada bulan Agustus 1945,tidak berarti berakhir pula situasi permusuhan di antara bangsa-bangsa di dunia dan tercipta perdamaian dan keamanan. Ternyata di beberapa pelosok dunia, terutama dibelahan bumi Asia Afrika,masih ada masalah dan muncul masalah baru yang mengakibatkan masalah baru yang mengakibatkan permusuhan yang terus berlangsung,bahkan pada tingkat perang terbuka, seperti di Jazirah Korea, Indo Cina, Palestina, Afrika Selatan, Afrika Utara.

Masalah-masalah tersebut sebagian disebabkan oleh lahirnya dua blok kekuatan yang bertentangan secara ideology maupun kepentingan,yaitu Blok Barat dan Blok Timur.Blok Barat dipimpin oleh Amerika Serikat dan Blok Timur dipimpin oleh Uni Sovyet. Tiap-tiap Blok berusaha menarik negara-negara Asia dan afrika agar menjadi pendukung mereka. Hal ini mengakibatnkan tetap hidupnya dan bahkan tumbuhnya suasana permusuhan yang terselubung diantara dua Blok itu dan pendukungnya. Suasana permusuhan tersebut dikenal dengan nama “Perang Dingin”.

Timbulnya pergolakan didunia disebabkan pula masih adanya penjajahan di bumi kita ini, terutama di belahan Asia dan Afrika. Memang sebelum tahun 1945, pada umumnya dunia Asia dan Afrika merupakan daerah jajahan bangsa Barat dalam aneka bentuk. Tetapi sejak tahun 1945, banyak di daerah Asia Afrika menjadi negara merdeka dan banyak pula yang masih berjuang bagi kemerdekaan negara dan bangsa mereka seperti Aljazair, Tunisia, dan Maroko di wilayah Afrika Utara; Vietnam di Indo Cina; dan di ujung selatan Afrika. Beberapa negara Asia Afrika yang telah merdeka pun masih banyak yang menghadapi masalah-masalah sisa penjajahan seperti Indonesia tentang Irian Barat , India dan Pakistan terpaksa mengungsi, karena tanah air mereka diduduki secara paksa oleh pasukan Israel yang di Bantu oleh amerika Serikat.

Sementara itu bangsa-bangsa di dunia, terutama bangsa-bangsa Asia Afrika, sedang dilanda kekhawatiran akibat makin dikembangkannya senjata nuklir yang bisa memusnahkan umat manusia. Situasi dalam negeri dibeberapa Asia Afrika yang telah merdeka pun masih terjadi konflik antar kelompok masyarakat sebagai akibat masa penjajahan (politik divide et impera) dan perang dingin antar blok dunia tersebut.

Walaupun pada masa itu telah ada badan internasional yaitu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berfungsi menangani masalah-masalah dunia, namun nyatanya badan ini belum berhasil menyelesaikan persoalan tersebut. Sedangakan kenyataannya, akibtan yang ditimbulkan oleh masalah-masalah ini, sebagian besar diderita oleh bangsa-bangsa di Asia Afrika.

Keadaan itulah yang melatarbelakangi lahirnya gagasan untuk mengadakan Konferensi Asia Afrika.

 LAHIRNYA IDE KONFERENSI


Keterangan Pemerintah Indonesia tentang politik luar negeri yang disampaikan oleh Perdana Menteri Mr.Ali Sastroamidjojo, di depan parlemen pada tanggal 25 Agustus 1953, menyatakan;

“Kerja sama dalam golongan negara-negara Asia Arab (Afrika) kami pandang penting benar, karena kami yakin, bahwa kerja sama erat negara-negara tersebut tentulah akan memperkuat usaha ke arah perdamaian dunia yang kekal. Kerjasama antar negara-negara Asia Afrika tersebut adalah sesuai benar dengan aturan-aturan dalam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang menyenangi kerjasama kedaerahan (regional arrangements). Lain dari itu negara-negara itu pada umumnya memang mempunyai pendirian-pendirian yang sama dalam beberapa soal di lapangan internasional, jadi mempunyai dasar sama (commonground)untuk mengadakan golongan yang khusus. Dari sebab itu kerja sama tersebut akan kami lanjutkan dan pererat”.

Bunyi pernyataan tersebut mencerminkan ide dan kehendak Pemerintah Indonesia untuk mempererat kerja sama di antara negara-negara Asia Afrika.

Pada awal tahun 1954, Perdana Menteri Ceylon (Srilangka) Sir Jhon Kotelawala mengundang para Perdana Menteri dari Birma (U Nu), India (Jawaharlal Nehru), Indonesia (Ali Sastroamidjojo), dan Pakistan (Mohammed Ali) dengan maksud mengadakan suatu pertemuan informal di negaranya. Undangan tersebut di terima baik oleh semua pimpinan pemerintah negara yang diundang.

Pertemuan yang kemudian disebut Konferensi Kolombo itu dilaksanakan pada tanggal 28 April sampai dengan 2 Mei 1954. konferensi ini membicarakan masalah-masalah yang menjadi kepentingan bersama.

Yang menarik perhatian para peserta konferensi, diantaranya pernyataan yang diajukan oleh Perdana Menteri Indonesia :

“Where do we stand now, we the peoples of Asia , in this world of ours to day?” (“Dimana sekarang kita berdiri, bangsa Asia sedang berada di tengah-tengah persaingan dunia?”), kemudian pernyataan tersebut dijawab sendiri dengan menyatakan:

“We have noe indeed at the cross-roads of the historyof mankind. It is therefore that we Prime Minister of five Asian countries are meeting here to discuss those crucial problems whice urge Indonesia to propose that another conference be convened wide3r in scope, between the African and Asian Nations. I am convined that the problems are not only convened to the Asian countries represented here but also are of equal importance to the Afrika and other Asian countries”.

(Kita sekarang berada dipersimpangan jalan sejatah umat manusia. Oleh karena itu kita Lima Perdana Menteri negara-negara Asia bertemu disini untuk membicarakan masalah-masalah yang krusial yang sedang dihadapi oleh masyarakat yang kita wakili. Ada beberapa hal yang mendorong Indonesia mengajukan usulan untuk mengadakan pertemuan lain yang lebih luas, antara negara-negara Afrika dan Asia . Saya percaya bahwa masalah-masalah itu tidak terjadi hanya di negara-negara Asia yang terwakili disini, tetapi juga sama pentingnya bagi negara-negara Afrika dan Asia lainnya”).

Pernyataan tersebut memberi arah kepada lahirnya Konferensi Asia Afrika.

Selanjutnya, soal perlunya Konferensi Asia Afrika diadakan, diajukan pula oleh Indonesia dalam sidang berikutnya. Usul itu akhirnya diterima oleh semua konferensi, walaupun masih dalam suasana keraguan.

Perdana Menteri Indonesia pergi ke Kolombo untuk memenuhi undangan Perdana Menteri Srilangka dengan membawa bahan-bahan hasil perumusan Pemerintah Indonesia . Bahan-bahan tersebut merupakan hasil rapat dinas Kepala-kepala Perwakilan Indonesia di negara-negara Asia dan Afrika yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Mr.Sunario. rapat dinas tersebut diadakan di tugu ( Bogor ) pada tanggal 9 Sampai dengan 22 Maret 1954.

Akhirnya, dalam pernyataan bersama pada akhir Konferensi Kolombo, dinyatakan bahwa para Perdana Menteri peserta konferensi mkembicarakan kehendak untuk mengadakan konferensi negara-negara Asia Afrika dan menyetujui usul agar Perdana Menteri Indonesia dapat menjejaki sampai dimana kemungkinannya mengadakan konferensi semacam itu.

USAHA-USAHA PERSIAPAN KONFERENSI

Konferensi Kolombo telah menugaskan Indonesia agar menjejaki kemungkinan untuk diadakannya Konferensi Asia Afrika. Dalam rangka menunaikan tugas itu Pemerintah Indonesia melakukan pendekatan melalui saluran diplomatic kepada 18 negara Asia Afrika. Maksudnya, untuk mengetahui sejauh mana pendapat negara-negara tersebut terhada ide mengadakan Konferensi Asia Afrika. Dalam pendekatan tersebut dijelasakan bahwa tujuan utama konferense tersebut ialah untuk membicarakan kepentingan bersama bangsa-bangsa Asia afrika pada saat itu, mendorong terciptanya perdamaian dunia, dan mempromosikan Indonesia sebagai tempat konferensi. Ternyata pada umumnya negara-negara yang dihubungi menyambut baik ide tersebut dan menyetujui Indonesia sebagai tuan rumahnya, walaupun dalam hal waktu dan peserta konferensi terdapat berbagai pendapat yang berbeda.

Pada tanggal 18 Agustus 1954, Perdana Menteri Jawaharlal Nehru dari India, melalui suratnya, mengingatkan Perdana Menteri Indonesia tentang perkembangan situasi dunia dewasa ini yang semakin gawat, sehubungan dengan adanya usul untuk mengadakan Konferensi Asia Afrika. Memang Perdana Menteri India dalam menerima usul itu masih disertai keraguan akan berhasil-tidaknya usul itu dilaksanakan. Barulah setelah kunjungan Perdana Menteri Indonesia pada tanggal 25 September 1954, beliau yakin benar akan pentingnya diadakan konferensi semacam itu, seperti tercermin dalam pernyataan bersama pada akhir kunjungan Perdan Menteri Indonesia :

“The prime reprensentatives discussed also the proposal to have a conference of representatives of Asians and African countries and were agreed that a conference of this kind was desirble and world be helpful in promoting. Is should be held at an early date”.

(“Para Perdana Menteri telah membicarakan usulan untuk mengadakan sebuah konferensi yang mewakili negara-negara Asia dan Afrika serta menyetujui konferensi seperti ini sangat diperlukan dan akan membantu terciptanya perdamaian sekaligus pendekatan bersama ke arah masalah (yang dihadapi). Hendaknya konferensi ini diadakan selekas mungkin”).

Keyakinan serupa dinyatakan pula oleh Perdana Menteri Birma U Nu pada tanggal 28 september 1954.

Dengan demikian, maka usaha-usaha penyelidikan atas kemungkinan diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika dianggap selesai dan berhasil serta usaha selanjutnya ialah mempersiapkan pelaksanaan konferensi itu.

Atas undangan Perdana Menteri Indonesia, para Perdan Menteri peserta Konferensi Kolombo (Birma, Srilangka, India, Indonesia, dan Pakistan) mengadakan Konferensi di Bogor pada tanggal 28 dan 29 Desember 1954, yang dikenal dengan sebutan Konferensi Panca Negara. Konferensi ini membicarakan persiapan pelaksanaan Konferensi Asia Afrika.

Konferensi Bogor berhasil merumuskan kesepakatan bahwa Konferensi Asia Afrika diadakan atas penyelenggaraan bersama dan kelima negara peserta konferensi tersebut menjadi negara sponsornya. Undangan kepada negara-negara peserta disampaikan oleh Pemerintah Indonesia atas nama lima negara.

TUJUAN KONFERENSI

Konferensi Bogor menghasilkan 4 tujuan pokok Konferensi Asia Afrika yaitu :

1.      Untuk memajukan goodwill (kehendak yang luhur) dan kerjasama antar bangsa-bangsa Asia dan Afrika , untuk menjelajah serta memajukan kepentingan-kepentingan mereka , baik yang silih ganti maupun yang bersama, serta untuk menciptakan dan memajukan persahabatan serta perhubungan sebagai tetangga baik.

2.      Untuk mempertimbangkan soal-soal serta hubungan-hubungan di lapangan social , ekonomi , dan kebudayaan Negara yang diwakili.

3.      Untuk mempertimbangkan soal-soal yang berupa kepentingan khusus bangsa-bangsa Asia dan Afrika, misalnya soal-soal yang mengenai kedaulatan nasional dan tentang masalah-masalah rasialisme dan kolonialisme.

4.      Untuk meninjau kedudukan Asia dan Afrika , serta rakyat-rakyatnya didalam dunis dewasa ini serta sumbangan yang dapat mereka berikan guna memajukan perdamaian serta kerja sama didunia.


PESERTA DAN WAKTU KONFERENSI


Negara-negara yang diundang disetujui berjumlah 25 negara.yaitu : Afganistan, Kamboja, Federasi Afrika Tengah, Republik Rakyat Tiongkok (China), Mesir, Ethiopia, Pantai Emas (Gold Coast), Iran, Irak, Jepang, Yordania, Laos, Libanon, Liberia, Libya, Nepal, Filipina, Saudi Arabia, Sudan, Syria, Thailand (Muang thai), Turki, Republik Demokrasi Vietnam (Vietnam Utara), Vietnam Selatan, dan Yaman . Waktu Konferensi ditetapkan pada minggu terakhir April 1995.

Mengingat Negara-negara yang akan diundang mempunyai politik luar negeri serta system politik dan social yang berbeda-beda.Konferensi Bogor menentukan bahwa menerima undangan untuk turut dalam konferensi Asia Afrika tidak berarti bahwa Negara peserta tersebut akan berubah atau dianggap berubah pendiriannya mengenai status dari negara-negara lain.Konferensi menjunjung tinggi pula asas bahwa bentuk pemerintahan atau cara hidup sesuatu negara sekali-sekali tidak akan dapat dicampuri oleh negara lain.Maksud utama konferensi ialah supaya negara-negara peserta menjadi lebih saling mengetahui pendirian mereka masing-masing

PELAKSANAAN KAA 1955 DI BANDUNG

Gedung Dana Pensiun dipersiapkan sebagai tempat sidang-sidang Konferensi . Hotel Homann, Hotel Preanger, dan 12 (duabelas) hotel lainnya serta perumahan perorangan dan pemerintah dipersiapkan pula sebagai tempat menginap para tamu yang berjumlah 1300 orang.

Keperluan transport dilayani oleh 143 mobil, 30 taksi, 20 bus, dengan jumlah 230 sopir dan 350 ton bensin tiap hari serta cadangan 175 ton bensin.

Dalam kesempatan memeriksa persiapan-persiapan terakhir di Bandung pada tanggal 17 April 1955, Presiden RI Soekarno meresmikan penggantian nama Gedung Concordia menjadi Gedung Merdeka, Gedung Dana Pensiun menjadi Gedung Dwi Warna, dan sebagian Jalan Raya Timur menjadi Jalan Asia Afrika. Penggantian nama tersebut dimaksudkan untuk lebih menyemarakkan konferensi dan menciptakan suasana konferensi yang sesuai dengan tujuan konferensi.

Pada tanggal 15 Januari 1955, surat undangan Konferensi Asia Afrika dikirimkan kepada Kepala Pemerintahan 25 (dua puluh lima ) negara Asia dan Afrika. Dari seluruh negara yang diundang hanya satu negara yang menolak undangan itu, yaitu Federasi Afrika Tengah (Central African Federation), karena memang negara itu masih dikuasai oleh orang-orang bekas penjajahnya. Sedangkan 24 (dua puluh empat) negara lainnya menerima baik undangan itu, meskipun pada mulanya ada negara yang masih ragu-ragu. Sebagian besar delegasi peserta konferensi tiba di Bandung lewat Jakarta pada tanggal 16 April 1955.

Dalam penutup komunike terakhir dinyatakan bahwa Konferensi Asia Afrika menganjurkan menganjurkan supaya kelima negara penyelenggara mempertimbangkan untuk diadakan pertemuan berikutnya dari konferensi ini, dengan meminta pendapat negara-negara pesreta lainnya. Tetapi usaha untuk mengadakan Konferensi Asia Afrika kedua sesalu mengalami hambatan yang sulit diatasi. Tatkala usaha itu hampir terwujud (1964), tiba-tiba di negara tuan rumah (Aljazair) terjadi pergantian pemerintahan, sehingga konferensi itu jadi.

Konferensi Asia Afrika di Bandung, telah berhasil menggalang persatuan dan kerja sama di antara negara-negara Asia dan Afrika,baik dalam menghadapi masalah internasional maupun masalah regiobal . Konferensi serupa bagi kalangan tertentu di Asia dan Afrika beberapa lkali diadakan pula, seperti Konferensi Wartawan Asia Afrika , Konferensi Islam Asia Afrika, Konferensi Pengarang Asia Afrika, dan Konferensi Mahasiswa Asia Afrika.

Konferensi Asia Afrika telah membakar semangat dan menambah kekuatan moral para pejuang bangsa-bangsa Asia da Afrika yang pada masa itu tengah memperjuangkan kemerdekaan tanah air mereka, sehingga kemudian lahirlah sejumlah negara merdeka dibenua Asia dan Afrika. Semua itu menandakan bahwa ciat-cita dan semangat Dasa Siala Bandung semakin merasuk kedalam tubuh bangsa-bangsa Aia dan Afrika.

Jiwa Bandung dengan Dasa Silanya telah mengubah pandangan dunia tentang hubungan internasional. Bandung telah melahirkan faham Dunia Ketiga atau “ Non-Aligned”terhadap dunia pertamanya Washington dan Dunia keduanya Moscow Jawa Bandung telah mengubah juga struktur perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Forum PBB bukan lagi forum eksklusif Barat dan Timur.

Sebagai penutup uraian singkat ini, dikutip bagian terakhir pidato penutupan Ketua Konferensi Asuia Afrika sebagai berikut : “May we continue on the way we have taken together and may the Bandung Conference stay as a beacom guiding the future progress of Asia and Afrika”

( “ Semoga kita dapat meneruskan perjalanan kita diatas jalan yang telah kita pilih bersama-sama dan semoga Konferensi Bandung ini tetap tegak sebagai sebuah mercusuar yang membimbing kemajuan dimasa depan dari Asia dan Afrika “)

KOMUNIKE AKHIR KONFERENSI ASIA AFRIKA

Konferensi Asia Afrika bersidang di Bandung dari tanggal 18 sampai 24 April 1955, atas undangan dari para Perdana Menteri Birma, Srilanka , India , Indonesia , dan Pakistan . Kecuali negara-negara sponsor, konferensi ini juga dihadiri oleh 24 negara sebagai berikut :
  1.     Kamboja
  2.     Republik Rakyat Cina
  3.     Ethiopia
  4.     Pantai Emas
  5.     Iran
  6.     Irak
  7.     Jepang
  8.     Yordania
  9.     Laos
  10.     Lebanon
  11.     Liberia
  12.     Libya
  13.     Nepal
  14.     Filipina
  15.     Saudi Arabia
  16.     Sudan
  17.     Syiria
  18.     Muang Thai
  19.     Turki
  20.     Republik Demokrasi Viet-Nam
  21.     Viet-nam Selatan
  22.     Yaman
  23.     Afganistan
  24.     Mesir
Konferensi Asia Afrika membicarakan masalah-masalah yang menjadi perhatian dan kepentingan bersama negara-negara Asia dan Afrika dan membahas cara-cara dan upaya-upaya agar rakyat mereka dapat mencapai kerjasama ekonomi , kebudayaan, dan politik yang lebih erat.
  •     KERJASAMA EKONOMI
  •     KERJASAMA KEBUDAYAAN
  •     HAK-HAK ASASI MANUSIA DAN HAK MENENTUKAN NASIB SENDIRI
  •     MASALAH RAKYAT-RAKYAT YANG BELUM MERDEKA
  •     MASALAH-MASALAH LAINNYA
  •     PENINGKATAN PERDAMAIAN DAN KERJASAMA DUNIA
  •     DEKLARASI TENTANG PENINGKATAN PERDAMAIAN DAN KERJASAMA DUNIA

Konferensi Asia Afrika menyatakan keyakinannya, bahwa kerukunan kerjasama yang sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut akan memberikan sumbangan yang berhasilguna bagi pemeliharaan dan peningkatan perdamaian dan keamanan internasional, sedang bekerjasama dibidang ekonomi, sosial dan kebudayaan akan membantu terciptanya kesejahteraan dan kemakmuran semua.

Konferensi Asia Afrika menganjurkan agar kelima negara sponsor memikirkan penyelenggaraan konferensi berikutnya, setelah berkonsultasi dengan negara-negara peserta.

Saturday, November 12, 2011

SASTRA UJUNG KULON



Prasasti Ujung Kulon
(Ti Pupuhu Nu Sejati) sumber : SANGATEN

1. Ujar-ujar panglungguhan para susuhunan
Jajar pusaka titis waris karatuan
Udagan para kusumah nyampurnakeun badan
Nyandak waris pituduh, ti Bumi Suci Banyu Rasa Kahuripan
Geusan pibekeleun para satria ngaguar cumarita sangaten

2. Kinayungan nu mawa pangadegan wahyu Cakra Ningrat
Utusan ti Pajajaran nu pasti, sanes ti Kalinyamat
Lumungsurna teu mawa jimat, tapi mibanda syahadat
Olohok lain kabengbat kunu jadi, tapi inget ka riwayat
Nalika jaman nu parantos kaliwat

3. Umbul-umbul siloka tanjung bandera
Jadi tanda pikeun balarea nu aya
Ulah pada baburia, hijikeun tekad bangsa
Nincak kana hambalan, napak dina jalanna
Gumelar dina waktuna, cumarita dina hakna

4. Kikidung nu mawa beja, warisan ti pupuhu
Ulah rek di popoho, lamun rek pada ngagugu
Lumaku lalanang jagat, lai oge dikudu-kudu
Olahan nu mikahayang, teu surti kapara guru
Nurutkeun bae kahayang, ahirna kakurung nafsu

5. Ujung Kulon waris nu pasti, panglungguhan SANGHYANG SIRAH
Jumeneng alas mawangi, titis waris Eyang Kudratullah
Ulah poho kanu pasti, waris suci ti para kusumah
Nitih wanci nu mustari, ngadegkeun amanah prasasti sejarah
Gumelar wangsit nu pasti, ngalaksanakeun pancen amanah

6. Kakayaan waris ti gusti, pikeun ngeusi jati diri
Ujian pikeun diri, ngawujudkeun ngawangun nagri
Lumaku ulah ka lali-lali, komo bari ngaku-ngaku diri
Omongan bari teu pasti, nyasarkeun kanu rek ngabdi
Nu mana nu sejati pasti, nu nyiloka ngaraksa diri

Friday, October 21, 2011

Dramaturgi di Balik Mitos Batik

Oleh: TANDI SKOBER
Adakah jiwa manusia Nusantara terlukis di kelir batik? Tentu, tak jelas. Tapi ketika 2 Oktober 2010 Unesco PBB mencanangkan batik sebagai international heritage yang berasal dari Indonesia, nalarku liar ke ruang masa silam Nusantara. Terbetik cerita, batik bermula dari Tari Panji. Saat itu, sepi menepi. Ratu Siwa sedakep sinuku tunggal menghadapi kedok Panji, getah putih, getih merah, dan alat pembatik canting jali. Sabda Palon dan Naya Genggong menabuh gending "Manunggaling Kawula Gusti". Tak jauh dari Ratu Siwa terlihat keluarga raja mematut diri bersimpuh di hadapan jasad telanjang cah ayu yang tetap perawan sepanjang hayat bernama Prawan Sunti.

Tari Panji pun bergerak dalam ruang yang hening. Dengan mengenakan kedok Panji, Ratu Siwa meninting canting jali berisi cairan getah dan getih. Gamelan megatruh mengalun. Canting jali pun melukisi tubuh Cah Ayu Prawan Sunti. Tiap kali satu garis diakhiri tusukan ujung lancip canting jali --sebuah titik pemberhentian-- rintihan pedih cah ayu menjadi aura ritual yang menghentak.

Rintihan itu mengalir pedih, "Di langit tubuhmu bening, bagai sepasang sayap kupu-kupu belum dilukis oleh benda-benda, oleh pelbagai cuaca, oleh air mata. Bersyukurlah kau jadi orang yang tak ada. Bertahanlah terus untuk tak ada. Tak pernah ada!" (Kumpulan puisi "Setelah Hari Keenam" Ahmad Nurullah).

Bermula dari sini kelir batik menyejarah. Ada gumam lirih bahwa megatruh bermakna memecat ruh. Mereka meyakini dalam getah pohon berwarna putih dan getih manusia berwarna merah --yang kelak kerap disebut bubur merah putih-- ada eksitensi Sang Hyang Tunggal yang awang-uwung. Hal itu yang membuat Topeng Panji berwarna putih, bersih tanpa hiasan. Hal itu pula yang mendasari Tari Panji miskin gerak. Diam yang kosong.

Emanasi kelir batik Topeng Panji pun jadi geger-rerungon di era Majapahit delapan abad yang lalu. Tak aneh manakala dalam Tari Panji berkelir batik ada pernik-pernik filosofi sinkretisme Hindu-Budha sekaligus wejangan bagaimana manusia Jawa harus memosisikan kekuasaan. Topeng ini mengajarkan bahwa hanya raja yang berhak memakai kedok yang terbuat dari emas intan permata mutu manikam itu. Hanya raja yang berhak menari diiringi gemuruh gamelan. Sebab kedok dan gamelan adalah pertanda kekuasaaan. Sebab raja adalah titisan perwujudan penguasa alam raya. Raja adalah percikan suci Sang Hyang Tunggal. Sebab raja adalah Gusti dan rakyat adalah kawula. Bahkan dalam Negarakertagama dan Pararaton dikisahkan Hayam Wuruk menarikan topeng emas atapel di lingkungan kaum perempuan istana Majapahit.

Hingga ketika Majapahit runtuh pada 1525M dan nur Islam mulai menjadi pelangi di tanah Jawa, Kedok Panji diapresiasi menjadi bagian dari seni politik Islam. Tarian kedok Majapahit itu diadopsi sebagai alat legitimasi politik. Maklum, kekuasaan ternyata juga butuh simbol dan itu ada pada kelir batik dan Kedok Panji. Tak aneh manakala di kaki Gunung Lawu, lihatlah Raden Patah menari Klana di hadapan Raja Majapahit, Brawijaya. Raden Patah ingin mengatakan kepada Brawijaya bahwa kini bukan Hayam Wuruk yang layak memakai kedok Panji. Raja Majapahit Brawijaya tidak lebih dari sang penonton.

Cahaya Islam pun bertkelebat. Tapi ada yang terluka. Sebut saja Dewi Lanjar dari Pekalongan. Dewi Lanjar adalah seorang janda yang konon belum tersentuh jin dan manusia. Sejak Raja Majapahit Brawijaya lengser, ia kerap tercenung. Dan dalam ruang yang tak terlalu terang, ia tulisi kain putih dengan canting jali. Ada gumam lirih tiap kali canting jali itu alirkan garis-garis nasib dirinya. "Kang murub dipuncipta malih dumateng Gusti Hyang Maha Agung nuli keringet kinclong."

Keringat Kinclong itu menjadi warna batik Dewi Lanjar. Bermula dari sini, batik tidak hanya sekadar lukisan si canting jali juga geliat kultural holistis yang melahirkan banyak mitos. Dalam batik ada pertanda zaman. Tanda ketika sebuah peradaban memiliki syahwat sekaligus jenis kelamin tertentu. Motif Lereng pada patung Siwa di Candi Dieng, motif Ceplok di Candi Banon, motif Sangeang yaitu gabungan antara deretan titik dengan garis sejajar di zaman perunggu di Bima, motif Liris dari Ngemplak, Ceplok, Kawung, Sido-mekti hingga motif Semen di dinding Masjid tua kompleks makam Ratu Kalinyamat, Mantingan Selatan Japara tahun 1559 adalah deret tetenger zaman. Adalah jiwa sejarah dari masa lalu yang tetap memikat untuk disimak.

Oleh sebab itu, Kanjeng Sinuhun Sunan Kalijaga memediasi sinkretisme tidak hanya melalui pagelaran wayang melainkan juga lewat sentuhan apik canting jali batik. Ia mengajari Dewi Lanjar banyak hal tentang berbagai hal. Bahkan ia mengajarkan huruf Arab melalui torehan canting jali. "Huruf ba diberi titik jadilah batik," menjadi ajaran segar yang khas.

Tak aneh, manakala dalam batik ada wajah sejarah. Ada dakwah. Ada kearifan syahwat peradaban. Motif Mega Mendung khas Cirebon, misalnya, mengajarkan bahwa usai langit disekat gelap terbitlah awan putih mega pencerah kalbu. Batik pada di titik terjauh tidak sekadar penutup aurat, juga budaya adiluhung.

Utak-atik sejarah batik dari ruang metafisika mengingatkan saya akan ujaran Dewi Lanjar, "Saya merasa tetap menjadi seorang janda," ucap sang Dewi, "Saya hanya ingin mengatakan bahwa batik itu berawal dari huruf ba diberti titik. Batik."

"Huruf ba diberi titik?"

Dewi Lanjar mengangguk. Anggukan yang tidak saya mengerti. Tak jelas untuk siapa. Tapi dari ruang muram kamar kerjaku, entah mengapa, kini ujung jemari saya sering membuat huruf arab ba. Telunjukku laksana canting jali torehkan garis melengkung di atas kain kafan putih. Mirip perahu Nuh yang diberi titik. Mirip mangkuk-mangkuk syahwat yang diberi titik. Mirip kolam kelam Indonesia yang diberi titik. Mirip kubangan kuburan yang diberi titik. Telunjukku itu kini laksana canting jali yang torehkan garis melengkung di atas kain kafan putih. (Ketua Dewan Syuro Lingkar Dialog Kebudayaan Cirebon)**
Sumber: Galamedia

Wednesday, August 10, 2011

Para Wali di Demak

Harus diakui kehadiran dan penyebaran agama Islam di bumi Nusantara, tak bisa dilepaskan dari jasa besar para wali yang dikenal dengan sebutan Wali Songo. Sebab melalui kiprah para wali inilah, agama Islam bisa mengakar di Indonesia. Tidak hanya di Pulau Jawa, namun menyeluruh di seantero Nusantara.

Salah satu rekam jejak keberadaan para wali tersebut tentunya dikaitkan dengan Masjid Demak, yang dibangun pada masa Kesultanan Demak di bawah pemerintahan Raden Patah sekitar tahun 1477. Sudah cukup lama memang. Apalagi bila dilihat dari usianya yang kini sudah mencapai ratusan tahun.

Datangnya bulan Ramadan, menarik pula untuk melihat dari dekat seperti apa kiranya rekam jejak keberadaan para wali di Masjid Demak yang disebut-sebut sebagai masjid para wali ini. Masjid ini memang menyimpan catatan sejarah yang sangat panjang. Dapat dikatakan, Masjid Demak merupakan tempat ibadah yang dibangun atas cinta kasih para wali.

Bila diamati, Masjid Demak yang memiliki ukuran 31 x 31 meter serta serambi berukuran 31 x 15 meter ini, merupakan bangunan limas dengan keunikan tersendiri dan patut mendapat apresiasi dilihat dari seni arsitekturnya. Masjid Demak disokong empat pilar atau tiang utama, yang dibuat khusus oleh empat orang wali.

Masing-masing tiang penyangga dibuat dan dibangun dengan kekuatan para wali. Untuk tiang penyangga sebelah tenggara dibuat oleh Sunan Ampel, tiang barat daya dibuat oleh Sunan Gunung Jati, kemudian tiang sebelah barat laut dibuat oleh Sunan Bonang, dan tiang terakhir yang berada di sebelah timur laut dibuat oleh Sunan Kalijaga.

Di antara keempat tiang penyangga yang dibuat empat wali tersebut, ternyata tiang buatan Sunan Kalijaga menjadi yang terunik. Sebab dibuat dari tatal atau serpihan kayu yang disatukan, sehingga memiliki seni arsitektur yang begitu dominan serta memikat, bagi siapa saja yang melihatnya.

Pada masa Kesultanan Patiunus tahun 1520, Masjid Demak mengalami pengembangan pada bagian serambinya. Di bagian serambi Masjid Demak ini, terdapat tambahan tiang sebanyak delapan buah. Keunikan lain dari Masjid Demak adalah gambar bulus pada mihrab masjid, yang sebenarnya sering dijumpai pada candi-candi Hindu. Konon, mihrab bergambar bulus di Masjid Demak ini diambil dari salah satu pintu di Keraton Majapahit.

Makam raja

Tentu saja dilihat dari usianya, Masjid Demak menjadi salah satu masjid tertua yang ada di Tanah Air. Dahulu, masjid yang berlokasi di Desa Kauman, Kab. Demak, Jawa Tengah ini, diyakini sebagai tempat berkumpulnya para wali. Pada waktu-waktu tertentu para wali kerap berkumpul di masjid ini, terutama membahas perkembangan syiar Islam.

Di dalam lokasi kompleks Masjid Demak, juga terdapat beberapa makam raja Kesultanan Demak dan keluarganya. Makam tersebut kerap pula dijadikan tempat wisata ziarah, bagi para jemaah yang berkunjung ke masjid ini. Di sekitar masjid juga ada sebuah museum yang menyimpan berbagai riwayat dan kenangan tentang Masjid Demak.

Selain bulan suci Ramadan, pada hari-hari biasa banyak umat Islam dari berbagai tempat di Tanah Air yang mengunjungi Masjid Demak. Mereka tidak hanya datang untuk melihat berbagai keunikan masjid yang menyimpan banyak sejarah Islam ini. Tidak sedikit dari pengunjung yang setelah salat di Masjid Demak, berziarah ke makam para raja Kesultanan Demak dan keluarganya.

Ada pula di antara mereka yang sengaja menyempatkan diri melihat museum, yang berada di sekitar Masjid Demak. Tujuannya untuk lebih mengetahui secara rinci bagaimana riwayat masjid yang dibangun pada abad ke-14, dan sempat memberi warna bagi sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan kaum penjajah tersebut.

Untuk mencapai Masjid Demak tidaklah sulit. Sebab masjid yang berdiri megah dan sudah sangat akrab bagi warga Kota Demak ini, berada di tengah-tengah kota yang terasa sangat religius tersebut. Dengan berbagai keunikan dan fasilitas yang dimilikinya, siapa pun dapat dengan mudah mencapai masjid ini.(galamedia)

Sunday, August 07, 2011

Wisata Rohani ke Masjid Merah

Nama Cirebon memang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan penyebaran agama Islam di Jawa Barat. Cirebon juga disebut-sebut sebagai salah satu Kota Sunan, karena di kota inilah Sunan Gunung Jati menyebarkan ajaran Islam.

Bahkan makam Sunan Gunung Jati yang dikenal pula dengan panggilan Syekh Syarif Hidayatullah (1448 - 1568), terdapat di Cirebon, tepatnya di Desa Astana, Kec. Gunung Jati, Kab. Cirebon. Makam tersebut hanya sekitar tiga km sebelah utara Kota Cirebon.

Kawasan makam Sunan Gunung Jati memiliki lahan seluas lima hektare. Selain tempat utama untuk para peziarah, kawasan itu juga dilengkapi tempat pedagang kaki lima, alun-alun, lapangan parkir, dan fasilitas umum lainnya.

Cukup banyak warisan Sunan Gunung Jati sebagai seorang wali Allah. Di antaranya Masjid Merah di Kota Cirebon dan Masjid Sunan Gunung Jati di area Keraton Cirebon. Masjid Merah yang telah berusia 500 tahun ini, kental akan corak akulturasi budaya Jawa dan Cina.

Kondisi itu setidaknya dapat dilihat dari pemakaian keramik Cina sebagai ornamen interior masjid. Cukup banyak ditemukan keramik di masjid yang terletak di perkampungan Arab, Jln. Panjunan Cirebon tersebut.

Lalu mengapa masjid yang banyak dikunjungi peziarah terutama pada 27 Ramadan ini disebut Masjid Merah? Mungkin salah satu alasannya, hampir seluruh bangunan masjid ini memang berwarna merah. Warna ini sangat mendominasi masjid yang sejak awal berdiri sampai sekarang belum belum mengalami perubahan ini.

Saat memasukinya, tampak gerbang berbentuk pura. Keunikan lain dari Masjid Merah adalah dinding-dindingnya yang ditempeli berbagai jenis keramik Cina. Konon keramik-keramik tersebut hadiah dari seorang putri Cina bernama Khong In, yang kemudian diperistri Sunan Gunung Jati pada tahun 1460.

Saat Ramadan seperti sekarang ini, Masjid Merah selalu menjadi tempat wisata rohani, bukan hanya bagi warga Kota Cirebon. Sebab banyak pula pengunjung yang datang dari berbagai kota lain di Jawa Barat.

Bahkan saat memasuki hari ke-27 Ramadan, masjid ini tak pernah sepi pengunjung. Keberadaannya menjadi magnet bagi pengunjung, terutama umat muslim untuk datang dan salat.

Tak heran bila salah satu peninggalan fenomenal Sunan Gunung Jati ini dari waktu ke waktu tak pernah sepi pengunjung. Untuk itu, rugi rasanya berkunjung ke Cirebon tanpa mampir ke masjid yang terletak di perkampungan Arab ini.

Azan pitu

Selain Masjid Merah, peninggalan lainnya dari Sunan Gunung Jati yang kerap dikunjungi yaitu Masjid Sunan Gunung Jati. Keunikan masjid yang dikenal pula dengan sebutan Masjid Sang Ciptarasa ini adalah tiang tatal. Dari 74 tiang yang ada di dalam masjid, salah satunya dirangkai sendiri oleh Sunan Gunung Jati dari potongan-potongan kayu sisa atau tatal.

Uniknya, tiang tatal tersebut penuh dengan makna filosofis. Salah satunya filosofi tentang persatuan yang kokoh, walaupun terdiri atas potongan-potongan yang berbeda. Tentu saja filosofi tersebut menandakan betapa Sunan Gunung Jati kala itu memiliki wawasan ke depan.

Keunikan lainnya, bila biasanya azan yang menandai datangnya waktu salat dikumandangkan satu orang muazin, di Masjid Sunan Gunung Jati ini, azan dikumandangkan tujuh muazin sekaligus atau azan pitu.

Sejatinya, di masjid yang berusia ratusan tahun ini, berbagai tradisi peninggalan salah satu sunan dari sembilan Sunan Walisongo masih tetap dilestarikan. Termasuk upaya melestarikan azan pitu.

Biasanya azan pitu ini dilakukan saat datangnya waktu salat Jumat. Ketika salat Jumat dimulai, tujuh muazin pun berbaris. Lalu serentak mereka mengumandangkan azan. Memanggil para jemaah untuk menunaikan kewajiban salat Jumat.

Sama seperti azan di masjid-masjid lain, azan pitu di Masjid Sunan Gunung Jati ini tidak mengalami perubahan lafal. Namun karena dikumandangkan tujuh muazin sekaligus, suaranya terasa lebih menggema.

Selain itu, Masjid Sang Ciptarasa juga dikenal memiliki air sumur yang bertuah. Warga sekitar banyak yang mencari berkah, menggunakan air tersebut untuk mencuci muka, bahkan ada juga yang membawanya pulang sebagai obat.

Percaya atau tidak, kembali pada diri masing-masing. Namun yang jelas, jangan lupa mengunjungi Masjid Sang Ciptarasa bila berkunjung ke Cirebon. Sebab pengalaman spiritual yang diperoleh di masjid ini akan terasa berbeda dan semakin melengkapi kegiatan wisata Ramadan di Cirebon. Selamat mencoba.

Tuesday, July 05, 2011

HIKAYAT RADEN KIAN SANTANG

Kian santang adalah Tokoh tasawuf dari tanah pasundan yang ceritanya melogenda khususnya di hati masarakat pasundan dan kaum tasawuf di tanah air pada umumnya.

Tokoh kian-santang ini pertama kali berhembus di kisahkan oleh raden CAKRABUANA atau pangeran walangsungsang ketika menyebarkan islam di tanah cirbon dan pasundan.pangeran cakrabuana adalah anak dari prabu sili-wangi atau jaya dewata raja pajajaran, yang di lahirkan dari permisuri yang bernama nyai subang larang ,subang-larang sendiri anak dari mubaliq kondang yaitu syeh maulana-hasanudin atau terkenal dengan syeh kuro krawang

Mulanya yaitu ,Ketika raden walangsungsang memilih untuk pergi meninggalkan galuh pakuan atau pajajaran ,yang di sbeapkan oleh keberbedaan haluan dengan keyakinan ayahnya yang memeluk agama ”shangyang” , diriwayatkan beliau berkelana mensyi’arkan islam bersama adiknya yaitu rara santang (ibu dari syarif hidayatullah atau ”sunan gunung jti”).dengan membuka perkampungan di pesisir utara yang menjadi cikal-bakal kerajaan cirebon atau kasunanan cirebon yang sekarang adalah ”cirebon”

Logenda kian-santang sendiri diambil dari referensi kisah nyata, dari tanah sunda tempo dulu yang ceritanya pada waktu itu tersimpan rapi di perpustakaan kerajaan pajajaran.
Karena pajajaran adalah yang menyatukan kerajaan ”galuh” dan kerajaan ”pakuan”,yang dimana kerajaan galuh adalah pecahan dari kerajaan ”sundapura” tempo dulu , dan sunda pura sendiri adalah pecahan kerajaan taruma negara, yang di masa prabu PURNA-WARMAN yaitu raja ketiga dari kerajaan taruma negara yang di pecah menjadi dua yaitu tarumanegara dan sundapura. yang secara historic pajajaran masih menjadi pewaris dari taruma negara

Di mana di kisahkan pada waktu itu yaitu abad ke 4m atau tahun 450m pernah terdapat putra mahkota yang sakti mandraguna bernama GAGAK LUMAYUNG yang dalam ceritanya ”di tataran suda dan sekitarnya, tak ada yang mampu mengalahkan ilmu kesaktiannya .hingga suatu saat datang pasukan dari dinasti TANG yang hendak menaklukkan kerajaan tarumanegara. namun berkat gagak lumayung ,pasukan TANG dapat di halau dan tunggang-langgang .
semenjak itu raden gagak lumayung di beri sebutan ”KI AN SAN TANG” atau ”penakluk pasukan tang”

Di ceritakan sang kiansantang ini karena saking saktinya hingga dia rindu kepingin melihat darahnya sendiri.

Sampailah di suatu ketika sa’at dia mendapat wangsit di tapabratanya bahwah di tanah arab terdapat orang sakti mandraguna
Konon : dengan Ajian Napak Sancangnya Raden Kian Santang mampu mengarungi lautan dengan berkuda saja.
”Di mana dalam ceritanya ketika sampai di pesisir beliau bertemu seorang kakek ,dan padanya dia minta untuk di tunjukan di mana orang sakti yang kian santang maksud tersebut”.

Dan dengan senang hati si-kakek tersebut menyanggupinya dan sementara dia mengajak beliau ”Raden Kian Santang” untuk mampir dulu ke rumahnya.
Al-kisah setelah sampai di rumahnya tongkat dari sang kakek tersebut tertinggal di pesisir dan minta raden Kian Santang untuk mengambilkanya, konon dikisahkan si-kian santang tak mampu mencabutnya sampai tanganya berdarah-darah ,disitulah kian santang baru sadar kalau kakek itu adalah orang yang di carinya.

Dan akhirnya dengan membaca kalimah syahadat yang di ajarkan sang kakek tadi ”yang akhirnya menjadi guru spiritualnya” tongkat tersebut dapat di cabut .dan siapakah kakek tersebut ?, ya dia adalah  Syaidina ali r.a menantu dari baginda Nabi Muhamad s.a.w.

Cerita tersebut membumi sekali cerita tersebut di kisahkan oleh Raden Walang Sungsang atau Pangeran Cakrabuana sebagai media dakwah dan penyebaran islam di bumi cirebon Sehingga sampai sekarang banyak kalangan yang menyangka raden walangsungsang adalah kian santang bahkan ada yang menafikan Kian Santang adalah adik Cakrabuana dan kakak dari Rara Santang.

Raden Walangsungsang mengambil cerita ini dari perpustakaan Kerajaan Pajajaran dengan pertimbangan karena kisah itu mirip dengan kisahnya
Yang di mana kian santang setelah pulang dari arab dia ingin meng-islamkan ayahnya prabu purnawarman namun di tolaknya dan kian santang memilih meninggalkan istana dan tahtanya di berikan adiknya yaitu darmayawarman
Begitu pula raden walang sungsang yang pernah merantau ke arab dan meningkahkan adiknya rara santang dengan saudara anak sepupu darinya pernikahan berlangsum di mesir yang dari perkimpoian ini lahirlah raden syarif hidayatullah atau sunan gunung jati.

Keinginan Walangsungsang untuk meng-islamkan Prabu Siliwangi di tolak mentah-mentah dan ayahnya tidak ingin bertarung dengan anaknya maka dia memilih mensucikan diri atau bertapa ”konon beliau menjelma macan putih”

Pengambilan kisah seperti ini pernah pula terjadi di kerajaan panjalu atau kediri, suaktu panjalu menaklukkan jenggala yang dimana dulunya jenggala dan panjalu adalah kerajaan satu yaitu kahuripan yang di bagi dua oleh prabu airlangga karena kedua anaknya menginginkan tahta semuanya :jenggala dan panjalu .

Pada waktu panjalu menaklukkan jenggala rajanya adalah prabu jayabaya .atas permintaanya di suruhlah empu panuluh untuk menjiplak kitab maha barata namun di verifikasi gaya jawa.

Sebagai perlambang atas kemenangan perang saudara panjalu atas jenggala.
Juga kisah serupa pernah hadir ketika gerakan penyebar islam WALI SONGO menurut banyak kalangan membuat cerita al-halaq versi indonesia yaitu Syeh Siti Jenar.

Yang sampai saat ini masih menjadi perdebatan dan polemik panjang oleh para ahli sejarah di tanah air.

Sumber http://www.kaskus.us/showthread.php?p=355610309

Sejarah Prabu Siliwangi

Sri Baduga Maharaja (Ratu Jayadewata) mengawali pemerintahan zaman Pajajaran, yang memerintah selama 39 tahun (1482-1521). Pada masa inilah Pakuan mencapai puncak perkembangannya.

Dalam prasasti Batutulis diberitakan bahwa Sri Baduga dinobatkan dua kali, yaitu yang pertama ketika Jayadewata menerima tahta Kerajaan Galuh dari ayahnya (Prabu Dewa Niskala) yang kemudian bergelar Prabu Guru Dewapranata. Yang kedua ketika ia menerima tahta Kerajaan Sunda dari mertuanya, Susuktunggal. Dengan peristiwa ini, ia menjadi penguasa Sunda-Galuh dan dinobatkan dengar gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.

Jadi sekali lagi dan untuk terakhir kalinya, setelah "sepi" selama 149 tahun, Jawa Barat kembali menyaksikan iring-iringan rombongan raja yang berpindah tempat dari timur ke barat. Untuk menuliskan situasi kepindahan keluarga kerajaan dapat dilihat pada Pindahnya Ratu Pajajaran.

Prabu Siliwangi


Di Jawa Barat Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Nama Siliwangi sudah tercatat dalam Kropak 630 sebagai lakon pantun. Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup. Lakon Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah tokoh ini menjadi raja di Pakuan. Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyai kekuasaan yang sama besarnya dengan Wastu Kancana (kakeknya) alias Prabu Wangi (menurut pandangan para pujangga Sunda).

Menurut tradisi lama. orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya, maka juru pantun mempopulerkan sebutan Siliwangi. Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda. Wangsakerta pun mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, ia menulis:

"Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira".

Indonesia: Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya.

Biografi Prabu Siliwangi


Masa muda

Waktu mudanya Sri Baduga terkenal sebagai kesatria pemberani dan tangkas bahkan satu-satunya yang pernah mengalahkan Ratu Japura (Amuk Murugul) waktu bersaing memperbutkan Subanglarang (istri kedua Prabu Siliwangi yang beragama Islam). Dalam berbagai hal, orang sezamannya teringat kepada kebesaran mendiang buyutnya (Prabu Maharaja Lingga Buana) yang gugur di Bubat yang digelari Prabu Wangi.

Tentang hal itu, Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/2 mengungkapkan bahwa orang Sunda menganggap Sri Baduga sebagai pengganti Prabu Wangi, sebagai silih yang telah hilang. Naskahnya berisi sebagai berikut (artinya saja):
"Di medan perang Bubat ia banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau negaranya diperintah dan dijajah orang lain.

Ia berani menghadapi pasukan besar Majapahit yang dipimpin oleh sang Patih Gajah Mada yang jumlahnya tidak terhitung. Oleh karena itu, ia bersama semua pengiringnya gugur tidak tersisa.

Ia senantiasa mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya di seluruh bumi Jawa Barat. Kemashurannya sampai kepada beberapa negara di pulau-pulau Dwipantara atau Nusantara namanya yang lain. Kemashuran Sang Prabu Maharaja membangkitkan (rasa bangga kepada) keluarga, menteri-menteri kerajaan, angkatan perang dan rakyat Jawa Barat. Oleh karena itu nama Prabu Maharaja mewangi. Selanjutnya ia di sebut Prabu Wangi. Dan keturunannya lalu disebut dengan nama Prabu Siliwangi. Demikianlah menurut penuturan orang Sunda".

Perang Bubat


Kesenjangan antara pendapat orang Sunda dengan kenyataan sejarah seperti yang diungkapkan di atas mudah dijajagi. Pangeran Wangsakerta, penanggung jawab penyusunan Sejarah Nusantara, menganggap bahwa tokoh Prabu Wangi adalah Maharaja Linggabuana yang gugur di Bubat, sedangkan penggantinya ("silih"nya) bukan Sri Baduga melainkan Wastu Kancana (kakek Sri Baduga, yang menurut naskah Wastu Kancana disebut juga Prabu Wangisutah).

Nah, orang Sunda tidak memperhatikan perbedaan ini sehingga menganggap Prabu Siliwangi sebagai putera Wastu Kancana (Prabu Anggalarang). Tetapi dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahwa Niskala Wastu Kancana itu adalah "seuweu" Prabu Wangi. Mengapa Dewa Niskala (ayah Sri Baduga) dilewat? Ini disebabkan Dewa Niskala hanya menjadi penguasa Galuh.

Dalam hubungan ini tokoh Sri Baduga memang penerus "langsung" dari Wastu Kancana. Menurut Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara II/4, ayah dan mertua Sri Baduga (Dewa Niskala dan Susuktunggal) hanya bergelar Prabu, sedangkan Jayadewata bergelar Maharaja (sama seperti kakeknya Wastu Kancana sebagai penguasa Sunda-Galuh).

Dengan demikian, seperti diutarakan Amir Sutaarga (1965), Sri Baduga itu dianggap sebagai "silih" (pengganti) Prabu Wangi Wastu Kancana (oleh Pangeran Wangsakerta disebut Prabu Wangisutah). "Silih" dalam pengertian kekuasaan ini oleh para pujangga babad yang kemudian ditanggapi sebagai pergantian generasi langsung dari ayah kepada anak sehingga Prabu Siliwangi dianggap putera Wastu Kancana.

Kebijakan dalam kehidupan sosial Prabu Siliwangi


Tindakan pertama yang diambil oleh Sri Baduga setelah resmi dinobatkan jadi raja adalah menunaikan amanat dari kakeknya (Wastu Kancana) yang disampaikan melalui ayahnya (Ningrat Kancana) ketika ia masih menjadi mangkubumi di Kawali. Isi pesan ini bisa ditemukan pada salah satu prasasti peninggalan Sri Baduga di Kebantenan. Isinya sebagai berikut (artinya saja):
Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi Rahyang Niskala Wastu Kancana. Turun kepada Rahyang Ningrat Kancana, maka selanjutnya kepada Susuhunan sekarang di Pakuan Pajajaran. Harus menitipkan ibukota di Jayagiri dan ibukota di Sunda Sembawa.
Semoga ada yang mengurusnya. Jangan memberatkannya dengan "dasa", "calagra", "kapas timbang", dan "pare dongdang".

Maka diperintahkan kepada para petugas muara agar jangan memungut bea. Karena merekalah yang selalu berbakti dan membaktikan diri kepada ajaran-ajaran. Merekalah yang tegas mengamalkan peraturan dewa.

Dengan tegas di sini disebut "dayeuhan" (ibukota) di Jayagiri dan Sunda Sembawa. Penduduk kedua dayeuh ini dibebaskan dari 4 macam pajak, yaitu "dasa" (pajak tenaga perorangan), "calagra" (pajak tenaga kolektif), "kapas timbang" (kapas 10 pikul) dan "pare dondang" (padi 1 gotongan). Dalam kropak 630, urutan pajak tersebut adalah dasa, calagra, "upeti", "panggeureus reuma".

Dalam koropak 406 disebutkan bahwa dari daerah Kandang Wesi (sekarang Bungbulang, Garut) harus membawa "kapas sapuluh carangka" (10 carangka = 10 pikul = 1 timbang atau menurut Coolsma, 1 caeng timbang) sebagai upeti ke Pakuan tiap tahun. Kapas termasuk upeti.

Jadi tidak dikenakan kepada rakyat secara perorangan, melainkan kepada penguasa setempat.

"Pare dondang" disebut "panggeres reuma". Panggeres adalah hasil lebih atau hasil cuma-cuma tanpa usaha. Reuma adalah bekas ladang. Jadi, padi yang tumbuh terlambat (turiang) di bekas ladang setelah dipanen dan kemudian ditinggalkan karena petani membuka ladang baru, menjadi hak raja atau penguasa setempat (tohaan).

Dongdang adalah alat pikul seperti "tempat tidur" persegi empat yang diberi tali atau tangkai berlubang untuk memasukan pikulan. Dondang harus selalu digotong. Karena bertali atau bertangkai, waktu digotong selalu berayun sehingga disebut "dondang" (berayun). Dondang pun khusus dipakai untuk membawa barang antaran pada selamatan atau arak-arakan. Oleh karena itu, "pare dongdang" atau "penggeres reuma" ini lebih bersifat barang antaran.

Pajak yang benar-benar hanyalah pajak tenaga dalam bentuk "dasa" dan "calagra" (Di Majapahit disebut "walaghara = pasukan kerja bakti). Tugas-tugas yang harus dilaksanakan untuk kepentingan raja diantaranya : menangkap ikan, berburu, memelihara saluran air (ngikis), bekerja di ladang atau di "serang ageung" (ladang kerajaan yang hasil padinya di peruntukkan bagi upacara resmi).

Dalam kropak 630 disebutkan "wwang tani bakti di wado" (petani tunduk kepada wado). Wado atau wadwa ialah prajurit kerajaan yang memimpin calagara. Sistem dasa dan calagara ini terus berlanjut setelah zaman kerajaan. Belanda yang di negaranya tidak mengenal sistem semacam ini memanfaatkanna untuk "rodi".

Bentuk dasa diubah menjadi "Heerendiensten" (bekerja di tanah milik penguasa atau pembesar). Calagara diubah menjadi "Algemeenediensten" (dinas umum) atau "Campongdiesnten" (dinas Kampung) yang menyangkut kepentingan umum, seperti pemeliharaan saluran air, jalan, rumah jada dan keamanan. Jenis pertama dilakukan tanpa imbalan apa-apa, sedangkan jenis kedua dilakuan dengan imbalan dan makan. "Preangerstelsel" dan "Cultuurstelsel" yang keduanya berupa sistem tanam paksa memanfaatkan tradisi pajak tenaga ini.

Dalam akhir abad ke-19 bentuknya berubah menjadi "lakon gawe" dan berlaku untuk tingkat desa. Karena bersifat pajak, ada sangsi untuk mereka yang melalaikannya. Dari sinilah orang Sunda mempunyai peribahasa "puraga tamba kadengda" (bekerja sekedar untuk menghindari hukuman atau dendaan).

Bentuk dasa pada dasarnya tetap berlangsung. Di desa ada kewajiban "gebagan" yaitu bekerja di sawah bengkok dan ti tingkat kabupaten bekerja untuk menggarap tanah para pembesar setempat.

Jadi "gotong royong tradisional berupa bekerja untuk kepentingan umum atas perintah kepala desa", menurut sejarahnya bukanlah gotong royong. Memang tradisional, tetapi ide dasarnya adalah pajak dalam bentuk tenaga. Dalam Pustaka Jawadwipa disebut karyabhakti dan sudah dikenal pada masa Tarumanagara dalam abad ke-5.

Piagam-piagam Sri Baduga lainnya berupa "piteket" karena langsung merupakan perintahnya. Isinya tidak hanya pembebasan pajak tetapi juga penetapan batas-batas "kabuyutan" di Sunda Sembawa dan Gunung Samaya yang dinyatakan sebagai "lurah kwikuan" yang disebut juga desa perdikan, desa bebas pajak.

Peristiwa-peristiwa di masa pemerintahan Prabu Siliwangi


Beberapa peristiwa Prabu Siliwangi menurut sumber-sumber sejarah:

Carita Parahiyangan

Dalam sumber sejarah ini, pemerintahan Sri Baduga dilukiskan demikian :
"Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang reya, ja loba di sanghiyang siksa".

(Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan kedatangan musuh, baik berupa laskar maupun penyakit batin. Senang sejahtera di utara, barat dan timur. Yang tidak merasa sejahtera hanyalah rumah tangga orang banyak yang serakah akan ajaran agama).

Dari Naskah ini dapat diketahui, bahwa pada saat itu telah banyak Rakyat Pajajaran yang beralih agama (Islam) dengan meninggalkan agama lama.
[sunting]Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I sarga 2.

Naskah ini menceritakan, bahwa pada tanggal 12 bagian terang bulan Caitra tahun 1404 Saka, Syarif Hidayat menghentikan pengiriman upeti yang seharusnya di bawa setiap tahun ke Pakuan Pajajaran.

Syarif Hidayat masih cucu Sri Baduga dari Lara Santang. Ia dijadikan raja oleh uanya (Pangeran Cakrabuana) dan menjadi raja merdeka di Pajajaran di Bumi Sunda (Jawa Barat)

Ketika itu Sri Baduga baru saja menempati istana Sang Bhima (sebelumnya di Surawisesa). Kemudian diberitakan, bahwa pasukan Angkatan Laut Demak yang kuat berada di Pelabuhan Cirebon untuk menjada kemungkinan datangnya serangan Pajajaran.

Tumenggung Jagabaya beserta 60 anggota pasukannya yang dikirimkan dari Pakuan ke Cirebon, tidak mengetahui kehadiran pasukan Demak di sana. Jagabaya tak berdaya menghadapi pasukan gabungan Cirebon-Demak yang jumlahnya sangat besar. Setelah berunding, akhirnya Jagabaya menghamba dan masuk Islam.

Peristiwa itu membangkitkan kemarahan Sri Baduga. Pasukan besar segera disiapkan untuk menyerang Cirebon. Akan tetapi pengiriman pasukan itu dapat dicegah oleh Purohita (pendeta tertinggi) keraton Ki Purwa Galih. [Cirebon adalah daerah warisan Cakrabuana (Walangsungsang) dari mertuanya (Ki Danusela) dan daerah sekitarnya diwarisi dari kakeknya Ki Gedeng Tapa (Ayah Subanglarang).

Cakrabuana sendiri dinobatkan oleh Sri Baduga (sebelum menjadi Susuhunan) sebagai penguasa Cirebon dengan gelar Sri Mangana. Karena Syarif Hidayat dinobatkan oleh Cakrabuana dan juga masih cucu Sri Baduga, maka alasan pembatalan penyerangan itu bisa diterima oleh penguasa Pajajaran].
Demikianlah situasi yang dihadapi Sri Baduga pada awal masa pemerintahannya. Dapat dimaklumi kenapa ia mencurahkan perhatian kepada pembinaan agama, pembuatan parit pertahanan, memperkuat angkatan perang, membuat jalan dan menyusun PAGELARAN (formasi tempur).

Pajajaran adalah negara yang kuat di darat, tetapi lemah di laut.
Menurut sumber Portugis, di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran hanya memiliki enam buah Kapal Jung 150 ton dan beberaa lankaras untuk kepentingan perdagangan antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun).

Keadaan makin tegang ketika hubungan Demak-Cirebon makin dikukuhkan dengan perkimpoian putera-puteri dari kedua belah pihak. Ada empat pasangan yang dijodohkan, yaitu :
Pangeran Hasanudin dengan Ratu Ayu Kirana (Purnamasidi).
Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor.
Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pembayun.
Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu Wulan (Ratu Nyawa).
Perkimpoian Pangeran Sabrang Lor alias Yunus Abdul Kadir dengan Ratu Ayu terjadi 1511. Sebagai Senapati Sarjawala, panglima angkatan laut, Kerajaan Demak, Sabrang Lor untuk sementara berada di Cirebon.

Persekutuan Cirebon-Demak inilah yang sangat mencemaskan Sri Baduga di Pakuan. Tahun 1512, ia mengutus putera mahkota Surawisesa menghubungi Panglima Portugis Alfonso d'Albuquerque di Malaka (ketika itu baru saja gagal merebut Pelabuhan Pasai atau Samudra Pasai). Sebaliknya upaya Pajajaran ini telah pula meresahkan pihak Demak.

Pangeran Cakrabuana dan Susuhunan Jati (Syarif Hidayat) tetap menghormati Sri Baduga karena masing-masing sebagai ayah dan kakek. Oleh karena itu permusuhan antara Pajajaran dengan Cirebon tidak berkembang ke arah ketegangan yang melumpuhkan sektor-sektor pemerintahan.

Sri Baduga hanya tidak senang hubungan Cirebon-Demak yang terlalu akrab, bukan terhadap Kerajaan Cirebon. Terhadap Islam, ia sendiri tidak membencinya karena salah seorang permaisurinya, Subanglarang, adalah seorang muslimah dan ketiga anaknya -- Walangsungsang alias Cakrabuana, Lara Santang, dan Raja Sangara -- diizinkan sejak kecil mengikuti agama ibunya (Islam).

Karena permusuhan tidak berlanjut ke arah pertumpahan darah, maka masing masing pihak dapat mengembangkan keadaan dalam negerinya. Demikianlah pemerintahan Sri Baduga dilukiskan sebagai zaman kesejahteraan (Carita Parahiyangan).

Tome Pires ikut mencatat kemajuan zaman Sri Baduga dengan komentar "The Kingdom of Sunda is justly governed; they are true men" (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil; mereka adalah orang-orang jujur).
Juga diberitakan kegiatan perdagangan Sunda dengan Malaka sampai ke kepulauan Maladewa (Maladiven). Jumlah merica bisa mencapai 1000 bahar (1 bahar = 3 pikul) setahun, bahkan hasil tammarin (asem) dikatakannya cukup untuk mengisi muatan 1000 kapal.

Naskah Kitab Waruga Jagat dari Sumedang dan Pancakaki Masalah karuhun Kabeh dari Ciamis yang ditulis dalam abad ke-18 dalam bahasa Jawa dan huruf Arab-pegon masih menyebut masa pemerintahan Sri Baduga ini dengan masa gemuh Pakuan (kemakmuran Pakuan) sehingga tak mengherankan bila hanya Sri Baduga yang kemudian diabadikan kebesarannya oleh raja penggantinya dalam zaman Pajajaran.

kitab waruga


Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi yang dalam Prasasti Tembaga Kebantenan disebut Susuhuna di Pakuan Pajajaran, memerintah selama 39 tahun (1482 - 1521). Ia disebut secara anumerta Sang Lumahing (Sang Mokteng) Rancamaya karena ia dipusarakan di Rancamaya.

Sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?p=355610309

Wednesday, June 29, 2011

Mengenal Sejarah Aksara Sunda Bag 2

Sistem penulisan Aksara Sunda Baku

 Aksara Swara



1. = a = é = i = o

2. = u = e = eu

b. Rarangkén di bawah huruf


1. panyuku, membuat vokal aksara Ngalagena dari [a] menjadi [u].
Contoh: = ka → = ku.

2. panyakra, menambah konsonan [r] di tengah suku kata.
Contoh: = ka → = kra.

3. panyiku, menambah konsonan [l] di akhir suku kata.
Contoh: = ka → = kla.

c. Rarangkén sejajar huruf


1. panéléng, membuat vokal aksara Ngalagena dari [a] menjadi [ɛ].
Contoh: = ka → = ké.

2. panolong, membuat vokal aksara Ngalagena dari [a] menjadi [É”].
Contoh: = ka → = ko.

3. pamingkal, menambah konsonan [j] di tengah suku kata.
Contoh: = ka → = kya.

4. pangwisad, menambah konsonan [h] di akhir suku kata.
Contoh: = ka → = kah.

5. patén atau pamaéh, meniadakan vokal pada suku kata.
Contoh: = ka → pamaeh = k.


Angka



- = 1 = 2

- = 3 = 4

- = 5 = 6

- = 7 = 8

- = 9 = 0


Dalam teks, angka diapit oleh dua tanda pipa | ... |.
Contoh: || = 240


Tanda baca


Di masa sekarang, aksara Sunda menggunakan tanda baca Latin. Contohnya: koma, titik, titik koma, titik dua, tanda seru, tanda tanya, tanda kutip, tanda kurung, tanda kurung siku, dsb.


Sumber


1. Juniarso Ridwan : Perda Kebudayaan yang Terkesan Chauvinistik, Pikiran Rakyat 4 Desember 2003.
2. Tedi Permadi : Aksara Sunda dan Soal Lainnya, Pikiran Rakyat 15 Februari 2004.
3. Atep Kurnia : Jasa Tuan Hola Buat Sunda, Kompas (Edisi Jawa Barat) 10 November 2007.
4. Djasepudin : Memasyarakatkan Aksara Sunda, Kompas (Edisi Jawa Barat) 07 April 2007

Mengenal Sejarah Aksara Sunda

Pada awal tahun 2000-an pada umumnya masyarakat Jawa Barat hanya mengenal adanya satu jenis aksara daerah Jawa Barat yang disebut sebagai Aksara Sunda. Namun demikian perlu diperhatikan bahwa setidaknya ada empat jenis aksara yang menyandang nama Aksara Sunda, yaitu :
1. Aksara Sunda Kuna
2. Aksara Sunda Cacarakan
3. Aksara Sunda Pegon
4. Aksara Sunda Baku
Dari empat jenis Aksara Sunda ini, Aksara Sunda Kuna dan Aksara Sunda Baku dapat disebut serupa tapi tak sama. Aksara Sunda Baku merupakan modifikasi Aksara Sunda Kuna yang telah disesuaikan sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk menuliskan Bahasa Sunda kontemporer. Modifikasi tersebut meliputi penambahan huruf (misalnya huruf va dan fa), pengurangan huruf (misalnya huruf re pepet dan le pepet), dan perubahan bentuk huruf (misalnya huruf na dan ma).


Sejarah Aksara Sunda Kuna

Penggunaan Aksara Sunda Kuna dalam bentuk paling awal antara lain dijumpai pada prasasti-prsasasti yang terdapat di Astanagede, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, dan Prasasti Kebantenan yang terdapat di Kabupaten Bekasi.Edi S. Ekajati mengungkapkan bahwa keberadaan Aksara Sunda Kuna sudah begitu lama tergeser karena adanya ekspansi Kerajaan Mataram Islam ke wilayah Priangan kecuali Cirebon dan Banten. Pada waktu itu para menak Sunda lebih banyak menjadikan budaya Jawa sebagai anutan dan tipe ideal. Akibatnya, kebudayaan Sunda tergeser oleh kebudayaan Jawa. Bahkan banyak para penulis dan budayawan Sunda yang memakai tulisan dan ikon-ikon Jawa.
Bahkan VOC pun membuat surat keputusan, bahwa aksara resmi di daerah Jawa Barat hanya meliputi Aksara Latin, Aksara Arab Gundul (Pegon) dan Aksara Jawa (Cacarakan). Keputusan itu ditetapkan pada tanggal 3 November 1705. Keputusan itu pun didukung para penguasa Cirebon yang menerbitkan surat keputusan serupa pada tanggal 9 Februari 1706. Sejak saat itu Aksara Sunda Kuno terlupakan selama berabad-abad. Masyarakat Sunda tidak lagi mengenal aksaranya. Kalaupun masih diajarkan di sekolah sampai penghujung tahun 1950-an, rupanya salah kaprah. Pasalnya, yang dipelajari saat itu bukanlah Aksara Sunda Kuna, melainkan Aksara Jawa yang diadopsi dari Mataram dan disebut dengan Cacarakan.


Aksara Sunda Baku

Setidaknya sejak Abad IV masyarakat Sunda telah lama mengenal aksara untuk menuliskan bahasa yang mereka gunakan. Namun demikian pada awal masa kolonial, masyarakat Sunda dipaksa oleh penguasa dan keadaan untuk meninggalkan penggunaan Aksara Sunda Kuna yang merupakan salah satu identitas budaya Sunda. Keadaan yang berlangsung hingga masa kemerdekaan ini menyebabkan punahnya Aksara Sunda Kuna dalam tradisi tulis masyarakat Sunda.

Pada akhir Abad XIX sampai pertengahan Abad XX, para peneliti berkebangsaan asing (misalnya K. F. Holle dan C. M. Pleyte) dan bumiputra (misalnya Atja dan E. S. Ekadjati) mulai meneliti keberadaan prasasti-prasasti dan naskah-naskah tua yang menggunakan Aksara Sunda Kuna. Berdasarkan atas penelitian-penelitian sebelumnya, pada akhir Abad XX mulai timbul kesadaran akan adanya sebuah Aksara Sunda yang merupakan identitas khas masyarakat Sunda. Oleh karena itu Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Barat menetapkan Perda No. 6 tahun 1996 tentang Pelestarian, Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Sunda yang kelak digantikan oleh Perda No. 5 tahun 2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah.

Pada tanggal 21 Oktober 1997 diadakan Lokakarya Aksara Sunda di Kampus UNPAD Jatinangor yang diselenggarakan atas kerja sama Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat dengan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Kemudian hasil rumusan lokakarya tersebut dikaji oleh Tim Pengkajian Aksara Sunda. Dan akhirnya pada tanggal 16 Juni 1999 keluar Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor 343/SK.614-Dis.PK/99 yang menetapkan bahwa hasil lokakarya serta pengkajian tim tersebut diputuskan sebagai Aksara Sunda Baku.

Saat ini Aksara Sunda Baku mulai diperkenalkan di kepada umum antara lain melalui beberapa acara kebudayaan daerah yang diadakan di Bandung. Selain itu, Aksara Sunda Baku juga digunakan pada papan nama Museum Sri Baduga, Kampus Yayasan Atikan Sunda dan Kantor Dinas Pariwisata Daerah Kota Bandung. Langkah lain juga diambil oleh Pemerintah Daerah Kota Tasikmalaya yang menggunakan Aksara Sunda Baku pada papan nama jalan-jalan utama di kota tersebut.

Namun demikian, setidaknya hingga akhir tahun 2007 Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Jawa Barat belum juga mewajibkan para siswa untuk mempelajari Aksara Sunda Baku sebagaimana para siswa tersebut diwajibkan untuk mempelajari Bahasa Sunda. Langkah memperkenalkan aksara daerah mungkin akan dapat lebih mencapai sasaran jika Aksara Sunda Baku dipelajari bersamaan dengan Bahasa Sunda. Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Lampung dan Propinsi Jawa Tengah telah jauh-jauh hari menyadari hal ini dengan mewajibkan para siswa Sekolah Dasar yang mempelajari bahasa daerah untuk juga mempelajari aksara daerah.


Perbandingan antara Aksara Sunda Baku dan Sunda Kuna


Sebagaimana diungkapkan di atas, Aksara Sunda Baku merupakan hasil penyesuaian Aksara Sunda Kuna yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Sunda kontemporer. Penyesuaian itu antara lain didasarkan atas pedoman sebagai berikut:
  • bentuknya mengacu pada Aksara Sunda Kuna sehingga keasliannya dapat terjaga,
  • bentuknya sederhana agar mudah dituliskan,
  • sistem penulisannya berdasarkan pemisahan kata demi kata,
  • ejaannya mengacu pada Bahasa Sunda mutakhir agar mudah dibaca.
Dalam pelaksanaannya, penyesuaian tersebut meliputi penambahan huruf (misalnya huruf va dan fa), pengurangan huruf (misalnya huruf re pepet dan le pepet), dan perubahan bentuk huruf (misalnya huruf na dan ma).



http://bandung.blogspot.com/2011/06/mengenal-sejarah-aksara-sunda-bag-2.html

Monday, June 27, 2011

Carita Siliwangi, Kian Santang Jeung Kembang

(Serat :1) Siliwangi  Ki Santang

Siliwangi geus tilar dunya, henteu tilem, teu robah jadi maung atawa nu mistik lain na. Siliwangi jalma biasa, raja pajajaran, bangsa manusa, nu pernah hirup di alam dunya, mingpin tatar sunda. Boga batur deukeut ngarana Santang, pamingpin nagri sancang, bangsa jin, lain bangsa manusa, nepi ka ayeuna aya keneh, lain sakti, tapi geus fitrahna sakabeh bangsa jin umurna leuwih panjang.
Ulah nyampurkeun dongeng jeung carita enya. Carita nu aya ayeuna ngan dongeng wungkul, di kira-kira, padahal teu sarua. Euweuh sahiji-hiji acan sesa pajajaran nu geus kapanggih nepi ka danget ieu. Mun hayang nyaho carita sabenerna nanya ki santang, ulah nanya ka jalma, loba di kira-kira.
Siliwangi, ki santang lain maung, lain turunan maung atawa robah jadi maung. Maung ngan saukur ciri. Jadikeun diri rakyat sunda jiga ka gagahan maung. Ulah kalah ngaku-ngaku bangsa maung atawa turunan maung. Jiga nagara anjeun ayeuna nu nyieun ciri nagara, Manuk Dadali. Lain anjeun turunan manuk dadali.
Kuring nonggerak, unggal poe sabenerna aya dihareupeun aranjeun.. Kuring hariwang jeung karunya aranjeun rahayat sunda ngan loba ngobrolkeun ngimpi.. geura hudang, baca... baca... baca alam jeung diri...

(Serat :2) Siliwangi Ki Santang - Jangji-Amanat

Kuring lain kaiket ku jangji, ngan kaamanatan ngajaga nu beunang di jaga Ulah di udag ku akal jeung indra, sabab loba kajadian alam nu ku urang teu bisa ka baca,
Tarima ku hate, asal ulah nyalenggor akidah kanu kawasa. Ayeuna geus mangsana aranjeun jadi urang sunda lain bangsa anu ngan bisa cumarita geura narindak jiga nu diamanatkeun batur kuring harita. Kajadian nu kaalaman ku aranjeun ayeuna geus kabaca di jaman harita maka geura balik jadi urang sunda saenyana.
Salila aranjeun jauh tina kamusyrikan kuring bakal aya ngabarengan sugan anu di baca ku raja aranjeun harita kajadian kuring nyaksian di dieu.

(Serat :3) Siliwangi Ki Santang – Tilarna Sri Baduga Siliwangi

Harita Siliwangi panceg indit ti dayeuh. Malipir sisi gunung nepi ka kidul. Ngasruk2 leuweung geledegan.Nepi ka kuda kadeudeuhna cideka.Teu bisa ditunggangan deui.Bakating ku nyaah jeuh deudeuhna ka eta kuda.Batur kuring nitah ponggawa2na nyieun 2 arca kuda.Titah disimpen di luhur gunung haruman.
Kunaon bet kudu di luhur gunung,ngarah bisa keneh nempo dayeuh nu di tinggalkeun cenah.Hulu kudana disanghareupkeun ka dayeuh…Kuda eta jumerit menta tetep diajak kajeun geus aya gantina kuda hideung oge..Nya dibawa terus bari ngan saukur ditungtun. Nepi ka hiji kampong tengtrem di kidul.
Nepi ka kiwari eta arca tetep aya di luhur gunung haruman. Nyanghareup ka dayeuh.Ditungguan ku hiji tangkal gede.Guru kuring tetep mulasara jang pangeling2 sato kanyaah sobat dalitna. Saha ayeuna nu bisa manggihan eta arca kuda ? Nu kuat teu kagoda jang nyembah eta arca.
Kunaon dayeuh bet di tinggalkeun,kunaon bet sakabeh nu dipikaboga diteundeun di 25 leuit,kunaon bet anjeuna milih balangsak asruk2an ka leuweung,kunaon bet nepi ka runtuh eta karajaan gede the,kunaon bet anjeuna menta Ki Santang nyumputkeun dayeuh jeung sakabeh eusina ku halimunan ?
Saha nu nyangka Ki Baduga nu sakitu gagah rongkahna nepi ka ninggalkeun kadunyaan alatan hayang tengtrem dunya jeung nyiapkeun akherat ? Saha nu nyangka aya jalma deukeut di karaton nu tega nganyerikeun Ki Baduga nepi kapundungna ti dayeuh ? Saha nu nyangka nepi ka ayeuna eta dayeuh ngahandeuleum ?
Dayeuh,hiji tempat luhur gunung.Dijieun pasagi lima.Dihijikeun ku 5 segi tilu.Bisa nempo ka 5 tempat.Aya 5 jalan ka luar.Aya kalapa sarebu tangkal,25 jajar,25 leuit tempat panyimpenan urut taman karajaan,kaputren..Ngan saukur aya sesa batu nu digurat ku curuk Ki Baduga saencan hijrah..
Ngan hiji batu eta titinggal Ki Baduga nu ka cirri..Ngan Ki Santang nu nyaho dimana eta batu nangtungna.Sawareh ka keueum cai nyusu, herang, tengah dayeuh nu geus jadi leuweung geledegan…Saha nu bisa manggihan..? Budak leutik tukang ngagigigring kalakay jeung tutunggul.. Dimana ? Dihareupeun aranjeun.
Ki Baduga netep di hiji tempat ,nekunan ibadah nu anyar pinanggih nepi ka tilarna.Diceungceurikan ku sakabeh nu mikanyaahna. Ku batur dalitna. Ki Santang.
Dina rek tilarna Ki Baduga nyalukan Ki Santang nu satia nungguan.."Kuring rek titip ka Akang"…"Naon Yi," cenah."Teruskeun tugas kuring ngadegkeun akidah ka Gusti Allah…Kuring rek mulang ka manten-Na"."Duh Gusti," cek Ki Santang,ulah nyarita kitu…Kuring kumaha ?" Ki Santang reumba ku cipanon.
Bari ngalengis Ki Santang nyarita,"Iraha deui kuring boga dulur jiga Ayi." Ceurik,duanana ceurik.Dua mahkluk gagah rongkah tina dua bangsa jumerit hatena kapisah ku takdir makhluk. "Duh Gusti,"Ki Santang ngarenghik deui,cipanona tambah ngarembey…Ki Baduga teu kawawa,milu muragkeun cipanon…
Ragrag cipanon kanyaah…Kanyaah nu leuwih ti dulur sakandung…Dulur tina sobat dalit,ti 3 ua jalma (makhluk) nu beda bangsa…Turutaneun aranjeun…
"Ulah kitu Ki…Akang kudu ikhlas," Ceuk Ki Baduga bari dadana sesek nahan cipanon."Kuring rek nitip,handeuleumkeun dayeuh jeung eusina,sakur pakaya kuring di mana wae ayana,bawaan teundeun di dayeuh.Kuring geus nyadiakeun salawe leuit.Jaga ku Akang sabisa-bisa. Kadua ulah hariwang,ke dina mangsana…
…aya manusa jiga kuring nu boga hate jiga kuring…Ke datang ka ngimpi akang…". "Yi,ulah ninggalkeun akang…Duh Gusti…akang kumaha ?".."Ulah hariwang kang,anggur mundut ka Nu Kawasa kuring sing salamet nyanghareupan hisab kubur."… Der duanana pa ungku-ungku inget kana dosa-dosana.Cipanon dua prabu ragrag ka dunya.
"Kuring nitip rahayat kuring,nu bakal kaleungitan cepengan nepi ka bijil nu tiluan…Nu Saurang bakal dibarengan ku akang,mantuan nu tiluan…Lempengkeun akidahna…Bantuan ku akang…Nitip kuring…Engke dina mangsana bikeun bekel ti kuring…Nyanghareupan hiji jaman nu rusak…
Jaman nu rusak ku kahayang…". Saung butut jadi saksi sobat dalit nu rek kapisah ku takdir…Ajal…Saung butut nu jadi saksi…Nepi ka tilarna…Ki Santang ngalenyap…Di usap tarang baturna…Euweuh nu nyaksian (makhluk hirup lain salian ti Ki Santang)…Ngan duaan…Ki Santang ngalenyap…

(Serat :4) Siliwangi Ki Santang - Pesen Ka Nu Tiluan

Aya maksud nu nyulusup dina ati,nepikeun naon nu jadi harti,ngarepkeun ngoreh nu bakal jadi bukti. Sing saha nu geus dijeujeuhkeun ngariksa,sakabeh titinggal nu jadi sesa,kudu geura netepkeun hate bari teu kudu di paksa. Anjeun aya di dunya,pasti aya maksudna,geura ngaca kana hikmahna,ulah nyumput tina kodratna. Kalakay geus paburantak,euweuh harti pabalatak,lain maksud ka alam calutak,tapi sing geura wani nindak. • Nu niliktik nulungan jalma leutik,loba nyanghareup manusa loba banda,bari kudu nepikeun aturan ti Nu Kawasa. Bari awak loba kasiksa,jadi pamuntangan jelema loba,teu meunang ngarumas nu geus jadi garisna. Anjeun aya jang jalma loba,ngadegkeun akidah titah Nu Kawasa,geura maca geura walakaya.
Budak gede beuteung badag,sakabeh karusakan di udag,ulah nepi korban loba murag. Leumpang di jalan pinuh ku batu,ngasruk alas teu make baju,milu satia nuturkeun waktu. Anjeun aya jang muka mangsa,dikudukeun hirup di lingkung murka. Tapi hate teu meunang kagoda. Geura muka geura ngariksa,lawan murka.

(Serat :5) Siliwangi Ki Santang - Prasasti Batu Tulis

Kunaon Prasasti Batu Tulis aya ? Sabab dijieun saenggeus Ki Baduga maot. Saenggeus menta sesa Pajajaran dihandeuleumkeun. Surawisesa nu indit ka kulon,lain nu balik ka dayeuh. Jadi saenyana dayeuh teh lain di tempat Batu Tulis. Prak pikiran,prak baca ku hate.
Dia nu marisah ka kaler ( kaler di tempat terakhir Raja Pajajaran),darengekeun ! Dayeuh ku Dia moal kasampak…

(Serat :6) Siliwangi Ki Santang - Ki Santang Jeung Bangsa na.

Santang,pamingpin ti salah sahiji bangsa jin,hiji nagari nu dipikanyaho ku bangsa Ki Baduga. Ka iket ku jangji. Jangji sosobatan. Lain jangji nu diharamkeun ku Qur'an. Ulah dibolokotan ku kapercayaan nyimpang. Nu matak ngarusak kaimanan. Anggur geura buru teangan,Katerangan Nu Bisa Jadi Puntangan.
Hiji mangsa,salah sahiji nyarita. Kunaon bet bangsa kuring nu kerep disalahkeun ? Bangsa kuring jeung anjeun sarua. Boga anak,boga kulawarga. Dahar, nginum, nyeri, gering, bungah,neangan rejeki,maot… Naon bedana jeung aranjeun ? Teu pantes ngan ukur disalahkeun,digogoreng,difitnah…
Kawajiban kuring sarua,ibadah,nu daek ibadah…Ulah ngamulyakeun bangsa kuring, nyembah,atawa ngagantungkeun nasib, nanya mangsa kahareup…da bangsa kuring ge sarua teu nyaho. Mun aya nu mere nyaho ti bangsa kuring (nu jiga tadi disebutkeun),ngan ngabobodo,ulah di denge…Anggur urang babarengan muntang ka Allah SWT.
Kuring jeung anjeun beda alam,lain goib. Ngan kuring teu eces katingali. Tapi lain teu bisa panggih. Bangsa kuring jeung anjeun nu bener akidahna moal sagawayah manggihan atawa cumarita,da teu meunang ceuk agama. Saha nu sagawayah ? Nyaeta jin atawa manusa nu teu milu aturan agama.
Umur urang sarua,pondok. Ngan kusabab beda alam kuring jiga hirup leuwih lila. Keur tapakurankeuneun meureun. Kuring gancang mun ngalengkah ? Enya mun di alam anjeun. Di alam kuring nya saayana. Sakali deui kuring menta aranjeun bangsa manusa ulah loba kapengkolkeun kayakinan. Ulah kabobodo.
Teu sakabeh bangsa kuring bisa atawa kungsi manggihan bangsa anjeun. Kitu deui sabalikna. Saha nu bisa ? Urusan Nu Kawasa.
Euweuh kadaharan anjeun nu bisa didahar ku kuring. Kuring cenah dahar tulang ? Atawa kuring dahar manusa hirup da aya tulangan. Henteu pisan. Jadi jang naon anjeun mere sajen ka kuring ? Da moal dihakan. Teu bisa. Nu aya musyrik,doraka paling gede. Kalah meunang murka.

(Serat :7) Siliwangi Ki Santang - Maung Pajajaran

Salah sahiji nyaritakeun zaman harita,aya 3 macan nu dijadikeun ciri.:

Macan bodas, ciri elmu2 nu ngajurus kana ngubaran. Teu make menyan, sajen,atawa wirid.Ditungtungan ku muntang jeung nyerahkeun diri ka Allah SWT. Elmu nyieun ubar tina dangdaunan,akar jeung sajabana. Ubar panyakit katempo jeung teu katempo. Pajajaran geus ti baheula ngarti jeung nyaho kumaha ngubaran. Teu dicampur ku mistik. Teu ngalanggar akidah..
Macan Hideung, ciri elmu2 nu ngajurus kana kadunyaan,ngatur hate jalma,ngahijikeun salaki pamajikan nu pipisahan,ngoprek hate jalma,miceun hate jalma nu kedul, bedegong, harak,jeung sajabana…Sarua teu make sajen, menyan, atawa kudu wiridan atawa puasa… Istuning tina kakuatan diri…

Macan loreng, lodaya, maung loreng, ngajurus kana elmu2 heuras,saperti silat pamacan, sinuwun tilu jeung sajabana,nempo ti kajauhan,ngoet ti kajauhan, ngarusak jeung ngajaga supaya teu rusak…Teu make menyan,sajen atawa ngawirid jeung puasa. Estuning tina kakuatan diri…

Kunaon teu make wirid atawa puasa ? Saba eta mah jang ibadah ka Gusti Allah.. Teu meunang dipengkolkeun kana tujuan eta. Kunaon teu make menyan atawa sajen ? Kusabab lain menta bantuan jin,jeung kudu make aturan muslim.. Dimana ayeuna eta elmu2 teh ? Di nu tiluan…Teu bisa diteangan,ke oge datang…Datang ka saha ? Ka jalma2 nu geus ka ukur ka alusan jerona…Akidahna… Nu tiluan dimana ? Boa-boa nu sapopoe aya hareupeun anjeun…Wallahu’alam…

(Serat :8) Siliwangi Ki Santang

Hampura kasadayana nu ku kuring dianggap dulur. Kuring mah jalma bodo, teu ngarti kana elmu2 nu dicaritakeun ku kuring dina postingan2 kamari…Hampura kuring teu nunjukkeun jati diri kuring heula…

Sakitu heula ti kuring saparakanca,hampura ka sarerea nu maca…..Sugan kuring dibere keneh mangsa engkena ,jang mawa bukti nu bisa kaciri. Nu bisa karampa ku panca indra…Ngenaan Karajaan Sunda teh kumaha sabenerna…
Hampura kuring lain kumawani,kuring ngan nepikeun ngarah teu salah harti. Ampun paralun lain hayang kapuji,kuring ngajak ngoreh nu jadi misti…

Hormat Kuring
Nonggerak

(Serat :9) Siliwangi Ki Santang - Bahasa

Bahasa Resmi (Salah Sahiji Bangsa Jin).

Budala wiko wakajabu,reolna samu,majalate nedi,limo minuku. Wati ? Mandirene situ. Wendosima,mandakutu mina wadabu. Barok badar.Bentomalaku wakinasuta. 6 Bakawulu mastina biko,wastina maruk bisutana Siliwangi. Sutana Baduga, winggiwisesan Pajajaran. Mintuna baka,mintuna madui. Madui minggala ramaya naguro manusa.

Sutana naguro Sancang sumana kula ambarakuna,jumbuna bilu panggalipana Santang.

(Teu kabeh bangsa Jin ngarti bahasa manusa, Kitu deui sabalikna - red)

(Serat :10) Siliwangi Ki Santang - Khabar 1

Kuring menta hampura ka sarerea,ayeuna kuring nepikeun nu teu biasa,bangsa nu ku anjeun sok disangka di kuburan ayana,sabenerna kuring leuwih nyaho alam ti heula. Lain ngaliwat kanyaho nu can laksana,lain ngarampa mangsa kahareupna,tapi kuring boga elmuna,nu noong alam engkena.

Rek aya angin gede. Barudak ulah loba ulin ka luar,angina mawa panyakit. Rek aya angin gede pisan.

Panyakit ispa,jangar kana sirah,otak kurang suplay oksigen,aya sumbatan. Bakteri,virus, jeung jasad renik laina haliber. Ka seuseup. Narapel ka awak,kana kulit,buuk,kana panon. Panyakit Mencret oge.

Panyakitna teu ngahariwangkeun, angina nu ngahariwangkeun. Demam berdarah menurun.

(Serat :11) Siliwangi Ki Santang - Nonggerak?

Nonggerak ?

Kuring nonggerak,hartina kuring aya,katempo,katingali,kaciri sapopoena ku aranjeun. Tapi hanjakal teu dipalire. Wayahna kuring milu icikibung. Da geus wayahna. Geus mangsana. Kuring nyaah ka urang sunda. Nu geus lila tibra. Teu inget kana purwadaksina. Poho kana wiwitanana. Era mawa sundana.

Teu kudu gujrud kuring timana,kuring nyaah ka urang sunda,bangsa nu geus ampir leungit cirina,teu hayang kaciri sundana. Sunda ngan saukur tinggal ngarana,jalmana geus robah pindah wujudna,era ngaku jadi urang sunda. Kuring datang,kuring miang aya maksudna. Jang urang sunda sayaktosna.

Kuring hirup lain keur urang sunda,da bangsa jeung basa urang beda. Ngan ukur ku katalian jangji jeung manehna. Nu kungsi bareng ngalalana. Ngan hanjakal geus euweuh dikieuna. Kuring ngageuing jalma sunda,nu daek dihudangkeun tina tapana. Kuring rek datang,ka jalma-jalma nu alus kasundaanana.

Kuring saparakanca bakal datang,mantuan aranjeun,lain titah muja ka kaula. Ulah nitah ka kaula, atawa hayang nempo kaula. Tuturkeun we caritana, Carita urang sunda, nu ajeg ngaku urang sunda. Ayeuna geus mangsana.

wassalam Kuring… Nonggerak

(Serat :12) Siliwangi Ki Santang - Hoyong Pendak Sareng Nonggerak?.

Sumangga ka sadayana,nyanggakeun,abdi jalmi biasa. Bilih hoyong eces abdi saha, mangga tingal ku bathin salira. Abdi didieu ngantos bade iraha, teu kedah hariwang abdi yaktos aya,abdi percanten seueur nu tiasa,ngebrehkeun abdi ku elmuna. Sumangga lebet ku sukma,sumangga geura anggo elmu nu netra,

Sumangga geura buktoskeun cariosan salira,abdi ngantos nonggerak katingalna. Sing saha nu tiasa sa ecrag nyata,muka halimun di sakuriling kuring gaduh raga,eta tandana Ki Santang tea. Mangga di antos ku kaula. Kuring nonggerak ti sunda sami sareng salira sadaya. Abdi nyata,abdi aya.

Wassalaam
Nonggerak

(Serat :13) Siliwangi Ki Santang - Wicaksana.

Wicaksana Sing saha mawa tanda,hiji jalma nu wicaksana,geura ngagero anjeun aya dimana,ngarah buru ngahiji jeung nu geus aya.


(Serat :14) Siliwangi Ki Santang - Ageman Sri Baduga Maharaja 1.


Sri Baduga Maharaja raja sunda nu ngawasa,nu katelah sarua jeung Hyang Dewata, sakti mandraguna,pageuh nyekel kayakinan lila,kayakinan ka Hyang Widi. Saha nu nyangka aya guratan beda, robah ngagem nu leuwih misti. Hiji mangsa nu geus pisan lila,hawar-hawar ngadenge beja,aya pamingpin di hiji nagara nyekel elmu luhung tur wicaksana jeung pageuh kuat nyekel agama. Jorojoy aya hate suka, suka kana beja jeung kawentaranana,sugan bisa meunang batur nu sawawa.

Hiji mangsa tumiba kana takdirna, Baduga tepung jeung nu sawawa,pamingpin Nagara Kalifah ngarana,mere beja nu teu disangka.

Lain ngadu lain balitungan tungtungna,Baduga kalah kaburu rempag omongana,ucap jeung laku lampah nu lempeng aturan,kajeun boga kawasa nu sakitu gedena Baduga raja nu wicaksana,ngaku tina jero dasar manahna : Ieu geuning nu diteangan kamana-mana, ajaran jang ngajawab kahirupan anu fana.

Ku rohmatNa Hyang Wenang Sajati,Baduga nenjo kalawaning bukti,ajaran nu geus jadi misti,asa lewang bisi kaburu pinanggih jeung pati. Baduga nanya ka eta jalma, timana meunang kasaktian jeung elmuna,eta jalma ngan ukur ngasongkeun wasta, Kitab Suci

Qur’an ti Nu Kawasa. Istuning ku kanyaah MantenNa, bathin Baduga ngudupruk euweuh tangan pangawasa,sakabeh kasakten karasa euweuh gunana,kalimpas ku jajaran papatah nu netra 8 nyata.

(Serat :15) Siliwangi Ki Santang - Kanggo Ka Nu Tos Nampi Serat Ti Halimun.

Kanggo Nu Tos Di Calukan.
Anjeun nu geus digero ku halimun,geura beunta ulah ngalamun,geura ngahiji jiga sapu ayun,boga hate sarua rek ngawangun.

(Serat : 16) Siliwangi  Ki Santang - Ageman Sri Baduga Maharaja 2

Hampura mun ageman Baduga loba nu teu sarua,keun urang handeuleumkeun dina jero iga,urang diajar hirup bareng bari beda,fitrah nu geus diciptakeun ku Allah Nu Maha Kawasa.

Kuring amit ka balarea,kuring ngan katitipan carita,bari kuring tetep ngarasa,jalma anu euweuh kabisa.

Wassalaam
Nonggerak

(Serat :17) Siliwangi Ki Santang - Hayu urang babarengan maluruh mana nu enya 1.

Assalaamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh, sampurasuuun,kuring Nonggerak menta hampura ka sakabeh sepuh,kuring meunang parentah deui jang maluruh,sugan bisa urang nyaho carita anu puguh. Sumangga ka sadayana nu nyaah ka urang sunda,urang pagedrog make carita,teu meunang make rasa,urang kahareupkeun maksud mimitina,urang mimitian dina poena,nuturkeun carita nu teu puguh timana asalna,kuring mawa carita nu mistina,lain ngan saukur nu bisa katara.

Sawareh mawa carita nu asa enya,dumasar kana kitab nu jiga enya. Jieunan manusa nu teu kungsi aya dina kajadianana nu enya. Ngan hanjakal tarung carita sok pang hayangna diaku enya. Sawareh mawa carita ti kolot2na nu enya,ngeunaan kajadian nu teu kalakonan enya,ngan hanjakal ngabela ngan ku rasa asa enya,teu inget lambey manusa sok jauh ti enya. Sawareh ngan saukur ngadenge carita nu katingali enya,asa milu jeung katingali enya,keun wae carita jauh ti enya,jeung sarua hanjakal sok pa enya-enya.

Sawareh nungguan nu mana nu enya,hayang maluruh karuhun pituin nu enya,ngarah bisa nyulusup kana hate nu enya,ngarah teu haben unggal poe teu nyaho nu enya.

Sawareh teu paduli nu mana nu enya,da geus ngarasa euweuh patali jeung 9 kajadian nu enya,jeung ngarasa euweuh untungna malire nu enya,nu penting bisa hirup jadi jalma enya. Kuring ngawakilan jalma nu ngalaman nu enya,dumasar kanu karasa,katingali,kainget nu enya,nu masih kumelendang ngalakonan di alam dunya nu enya,ngan ukur hayang nepikeun kajadian nu enya. Hampura mun ceuk aranjeun teu enya,hampura mun teu kasawang ieu enya,hampura ulah kabawa hate nu enya,hampura mun kuring mawa carita nu teu biasa enya.

Siliwangi kataji ku ajaran Islam, diajar jeung ngadatangkeun guru2 Islam,nepi ka ngaku dirina Islam,kunaon
bet gujrud mun dirina Islam ? Ki Santang Islam,jadi batur dalit jeung guruna jang nempo kalam,kajeun maranehna hirup beda alam,tetep pageuh mapay jaman nepi ka salah sahiji tinggal makam.

Ulah jadi bancang pakewuh,anggur geura haget urang maluruh,kuring panggih jeung nu kungsi wawuh,sugan jeung sugan ieu anu puguh.Lain teu hayang anjeuna mawa bukti ka kiwari,ngan hanjakal nu tiluan can wani ngahiji nunjukeun ciri,anjeuna oge teu bisa sangeunahna nyiliwuri,kawatesan ku aturan makhluk dina diri.Anjeun makhluk,kuring makhluk, anjeuna makhluk,oge nu geus tilar makhluk. Anjeun mawa bukti,kuring mawa bukti,anjeuna mawa bukti,makam nu tilar jadi bukti Kuring wawakil nu di amanatan,ngaikhtiaran nu ngahandeuleum lain di wetan,sugan jeung sugan tinekanan,geus aya mah moal beunang beak dihakan. Bari ngahaok ka urang sunda,naha sawareh teu percaya ka Sri Baginda,nu geus ngahaja neundeun benda,jang bekel aranjeun nu geus lawas ka tunda.

(Serat :18) Siliwangi Ki Santang - Hayu urang babarengan maluruh mana nu enya 2.

Ceuk Saha?

Ki Santang nu ngahandeuleumkeun anakna? Ceuk Saha Baduga ngagem keneh kayakinan lilana? Ceuk saha panggih jeung nyabut iteuk Sayidina Ali nu beda jamana? Rek nepi ka iraha aranjeun urang sunda euweuh sajarahna? Lamun carita Cirebon bener ayana,lamun carita Sumedang bener ayana,lamun carita Subang bener ayana,lamun carita Bogor bener ayana,Kunaon Pajajaran tetep euweuh laratanana? Kunaon aranjeun euweuh nu bisa nunjukkeun ayana di mana?Mun Ki Santang anak manusa,kunaon sarua teu ninggalkeun sesa, padahal Ki Santang sarua makhluk teu wasa,sarua ciptaan Gusti Nu Maha Esa.

(Serat: 19) Siliwangi Ki Santang - Ngeunaan Hiji Jalma.

Ngalengkah laun katebak angin mapai-mapai kebon eurih.Ngahaleuang hawar-hawar tembang pinuh ku kapeurih. Hiji lalaki ngalakonan dunya bari hate ngagerih. Asruk-asrukan neangan jalan hirup teu malire suku barabak katurih. Hayang geura balik nimuan indung bapa,hayang geura balaka yen diri asa teu wasa,hayang geura balik kapangkuan aranjeuna jiga keur budak harita,hayang bisa ceurik nepikeun sakabeh nu karasa. Tapi iraha ?

Engke hiji mangsa bakal panggih jeung jalma jiga kuring,ceuk Siliwangi ka Ki Santang. Nu jiga kumaha ? Nyaeta jalma nu ngajadikeun nanaon cukup ku gerentes. Bisa ngahaokan angin,bisa marentah guludug,bisa nyalukan cai,bisa ngigelkeun seuneu. Bisa nyaho gerents hate batur,bisa ngagulak gilek hate batur,bisa ngawasa awak batur,bisa nyaho kahareup bakal kumaha.

Bisa ngubaran panyakit nu euweuh ubarna,ngahudangkeun nu lumpuh sakahayangna,bisa ngodok ka jero awak manusa sejena,bisa ngarusak jero awak batur ukur ku gerentesna,bisa mawa suka loba manusa,oge bisa mawa karusakan ka jalma loba.

Ngadeg ka dunya bari teu sarua jeung sejenna. Istuning pinuh ku kabingung ngahartikeunana. Euweuh jalma nu kungsi bisa ngebrehkeun nu ditanyakeunana. Ngan ukur bisa ngaheruk nginget kana nasibna. Ya Allah aya naon ieu teh ? Ya Allah saleresna saha abdi teh? Ya Allah bade kumaha abdi teh? Ya Allah kedah kamana abdi teh? Sajuta kabingung nyurulung,bathin jumerit menta tulung,ngan ukur bisa nuturkeun jalan euweuh tungtung,bari nungguan katerangan ti Nu Maha Agung diuk di juru bari neuteup ka langit,ceudeum sarupa jeung bathina nu jumerit,dibulak balik tetep ngarasa aya nu leungit,sakabeh nu kalakonan pait.

Lumpat ka nu bisa niat rek tumanya,geuning angger keneh teu bisa nerangkeun nu ditanya,lumpat nepi karasa geus ditungtung dunya,tapi bathin tetep asa beda dunya. Beda beda beda jeung beda,kalah sering disebut jalma 11 rada,fitnah jeung kanyeri lalar liwat ngajewang dada,ngan ukur bisa nyarita bari dareuda. Hatena ukur bisa ngarenghik,ceurik balilihan disangka ku jalma loba jelema musyrik,Gusti Allah,Demi Allah abdi sanes musyrik,jagi bathin abdi ulah musyrik,Gusti abdi tulungan,bathina ceurik ngabangingik. Diusir tina kumpulan kulawargana,disebut budak euweuh baktina,disebut jalma loba dorakana,dirina mung bisa tumarima narima nasibna. Carita hiji budak manusa,nu diciptakeun teu jiga manusa,mapay jalan lain paragi manusa,tetep manusa?
Nepi ka hiji mangsa pinanggih jeung nu diteangana,aya jawaban nu salila ieu dikorehan dimana-mana,geuning sakabeh aya maksudna. Geus kuduna tinekanan kana waktuna,datang nyelesep kana sukmana,ngartikeun sakabeh kabingungna,negerkeun sakuriling manahna. Hadir dina ngimpina,negeskeun kudu kumaha manehna,ngarah mangfaat sakabeh nu dipibogana,jang memener karusakan dunyana. Sairing cahya nu nyaangan kalbuna,hadir guru nu salila ieu geuning nalingakeun teu aya petotna,guru nu teu dinyana eta ngarana. Teu langsung percaya kana omongna,da rumasa teu katempo wujudna,sieun goreng balukarna,komo mengpar tina kayakinan agamana. Kayungyun ku sabarna,eta guru nuturkeun kahayangna,nepi ka pinanggih ku sorangan hartina,nungguan nepi ka ikhlas narimana. Hiji guru lain ti bangsa manusa,dibantuan ku baturna opat welas ayana, dikudukeun nalingakeun jeung ngagiring jalana,nepi ka siap jang ngalalana.

Guru nu nunjukeun kudu kumaha,guru nu nunjukeun aturan agamana,guru nu nerangkeun rek kumaha,guru nu menerkeun mun aya salahna.
Guru nu jadi guru baheula,nu kungsi ngaguruan karuhuna,nu mingpin Karajaan Tatar Sunda, nu kaamanatan ngajaga jeung ngariksa. Sugan jeung sugan laksana,kajeun geus tangtu loba hahalangna,mugi Allah ngalangsarkeun jalana,dibarengan keukeuh pageuh nyekel akidahna.

Alhamdulillah hiji dua panggih jeung buktina,hiji dua kabuktian caritaan guruna, hiji dua aya nu milu sairing ngusahakeunana,hiji dua ka ubaran nalangsana.
Ngoreh kasundaan nu tinggal sesana,mapay galeng neangan nu sarua nyaah kana kasundaanna,ngasruk leuweung dibarengan kaludeung,bari memener jalma nu keur baluweng. Nyoba ngageuing urang sunda nu sakitu reana,nyalukan geura buru inget barangbang semplak dina sirahna,ngarah teu geura leungit ciri nu mustari dina dirina.
Lain ngarasa asa pang sundana,lain ngarasa asa pang bisana,lain ngarasa asa pang aingna,tapi ngarasa nyaah ka kasundaana.

Geus aya nu tiluan maturan,kari nungguan tinekanan,bari tetep inget kana wiwitan,euweuh mahluk nu aya dina kalanggengan. 12 Pun Sapun Kuring Jurungkeun,nyampeur nu dihandeuleumkeun,tunda poho nu bareto,nu mangkuk di saung butut. Menta dijurungkeun ku nu diamanatan,muka sesa nu dihandeuleumkeun di daratan,nu ampir kapopohokeun jaman,kajadian di saung jalma duaan.
Sakabeh carita geus ngaruntuy jeung buktina,mang taun-taun diebrehkeun sawareh-sawareh,istuning runtuyan carita nu loba hartina,sajarah Pajajaran nu geus pageuh katoreh. Tadina hate teu narima bari mangmang ,nempo untuyan sajarah jiga di awing-awang,anging kersaning Gusti geuning bisa kasawang,dibarengan muntang ka Pangeran bisi nyalimpang. Ngan ukur bisa sumujud ka Nu Kawasa,padahal diri teu rumangsa bisa,mugia tinekanan ka nu jadi mangsa,ngawujudkeun amanat ngadegkeun deui ieu bangsa. Jang sakabeh urang sunda,nu ngarasa rahayat sunda,ulah poho aranjeun sunda,geura wani ngaku bangsa sunda

(Serat :20) Siliwangi Ki Santang - Ageman Sri Baduga Maharaja 3

Kacaritakeun
Baduga mulang bari mawa kamelang,geuning manahna saparat ngalalana kalah mawa kamelang,geuning nu tadina tandang malik jadi manggul kahariwang,

Baduga beak dengkak mulak-malik uteuk jang ngaleungitkeun nu jadi baluang. Dimimitian ku tekad awaking hayang ngudag nu sajati,Baduga mulang ka lembur mawa hiji bukti,yen diri manusa sakumaha wae disebutna sakti, euweuh nu bisa nandingan ajaran ieu nu bakal mawa mukti.
Bari ngaliwatan poe-poe nu jadi sesa,Baduga ngamimitian muka hate jang papatah Nu Maha Kawasa,beuki jero asa beuki euweuh tangan pangawasa, hate melang bisi teu kaburu mayaran dosa.

Dibarengan ku niat anu kuat,Baduga muntang menta diajar nepi ka parat, ngarah bisa bisa tengtrem nyanghareupan sakarat,ngarah kaburu keneh bebekelan nyanghareup akherat. Ku kersana Nu Maha Kawasa,sobat dalitna tungtungna balaka bari teu maksa,ngaenyakeun eta ageman jang nyalametkeun bangsa manusa,ngarah di akherat engke teu meunang siksa.
Ki Santang leukeun nuturkeun ti taun ka taun nu geus kaliwat, hayang milu menerkeun kahirupan Baduga nu jadi sobat,nepi ka tinekanan baturna tobat, sujud syukur ka Allah dipaparin waktos teu nepi ka telat. Robah jaman,robah mangsa,robah cara nempo dunya,emutan Baduga teu ngan ukur ngudag-ngudag dunya,geus ngamimitian nyawang alam saenggeus alam dunya, bari diomat-omatan sobatna ulah ninggalkeun kawajiban dudunya.

Baduga tungtungna nyekel pageuh ageman ka-Islam-an. Nu bakal mawa robah sajarah 13 kahareupna rahayat Pasundan,silih genti jeung Santang nyiarkeun ieu ageman,babarengan naratas jalan jang ngadegkeun kabeneran.
Mimiti eta Baduga ngarobah ngarana,di julukan Sunan Rohmat ayana, dimakamkeun haying jiga rahayatna,ngan ukur menta do¢a ti anak-anakna. Gelar anyar jang ngukir kayakinan anyar, Tah ayeuna geus diterangkeun Baduga teh siliwangi nu disebut Sunan Rohmat tea.

(Serat :21) Siliwangi Ki Santang - Ageman Sri Baduga Maharaja 4

Moal enya ari karajaan talukanana boga masjid agung, ari pamarentah pusatna teu boga? Lamun pamarentah daerah kabeh Islam, maenya pamarentah pusat Hindu? Intina pamarentah pusat pasti Islam, rajana oge. Sri Baduga Maharaja teh Islam,mun hayang bukti,tingali karajaan talukana, Islam lain? Mun Hindu,sunda bakal didominasi ku Hindu,aya tapak arca-arca Hindu. Eta buktina ! Eta buktina !

(Serat :22) Siliwangi Ki Santang - Kunaon Pajajaran Leungit?

Penghianatan ti jero istana,kalakuan Satria Hideung,leuwih ngora ti Sri Baduga Maharaja,anak bibina…,lalim,mawa pasukan rorokidul,siluman-siluman jabrig saawak-awak,bentrok maung jeung pasukan rupa-rupa bentukna. Pajajaran luhur gunung,dihandapna dikuriling sawah-sawah, maung-maung diposisi sawah-sawah,dayeuh geus dikepung, luareun sawah-sawah,euweuh jalan kaluar. Pasukan musuh mawa siluman-siluman. Dibantuan rorokidul,dayeuh dikepung, Bakal loba korban,Sri Baduga Maharaja jeung nu tetep satia ngaraleungit,kabur ka kidul,malipir gunung,ngajauhan dayeuh.
Dayeuh paburisat,rahayat kalabur,nu nyesa pasukan Satria Hideung,kabingungan,dayeuh ngemplong euweuh eusian. Musuh ngabagi,ngudag ka lima jalan,dayeuh molongpong,Ki Santang nutup ku halimunan,jadi leuweung geledegan. Musuh paburisat beuki teu ngartieun. Ngarumpul di hiji tempat luareun dayeuh nu nepi ka ayeuna pinuh ku siluman,nungguan mangsa muka halimunan.
Ayeuna eta tempat jadi tempat pamujaan,jang nyegik,melet jeung sajabana. Nu ku aranjeun dideukeutan kamari bari leumpang opatan. Curug tujuh. Tisemet eta Ki Santang ngarasa dinyerikeun Nyi Dewi, pangawasa laut kidul.. Nu ayeuna beuki ngarajalela,ngawut-ngawut akidah manusa. Dayeuh tetep dikepung. Nu ngadeukeutan atawa boga niat napak tilas ka dayeuh bakal digoda, dipengkolkeun ka tempat muja. Siluman-siluman disebar neangan nu bisa muka dayeuh. Can kapanggih. Eta nu dipikahariwang Ki Santang. 14 Kunaon bet titah bisa nyumput dinu caang. Can kuat ngalayanana,moal bisa ngalawan siluman-siluman eta ngan ku opatan,komo bari teu yakin mah. Matak cilaka. Ulah nanyakeun ka Ki Santang kunaon can muka. Tingali ka aranjeun opatan,tingali diri, can siap anjeun,loba kasieun,teu wani. Padahal geus waktuna,kudu pageuh pacekel-cekel leungeun. Anjeun teu nyaho naon nu bakal disanghareupan engkena. Siluman. Nu kungsi ngancurkeun Pajajaran. Ulah nyalahkeun guru kuring. Anggur giatkeun diri,meungpeung aya keneh umur. Sing boga tapak nu mulia jang balarea saencan aranjeun tilar dunya.


(Serat :23) Siliwangi Ki Santang - Keur Nu Dicalukan.

Bisi aranjeun hayang leuwih telek kana diri aranjeun sorangan,kuring InsyaAllah bisa mantuan mapay nu ku aranjeun geus kungsi kaliwatan,sakalian nunjukeun yen kami teh lain heuheureuyan,istuning ngalengkah satekah polah ngusahakeun jang nyukcruk galur ngarah bisa ngadeg deui urut Pajajaran.. Kanggo Ceu Ambu, saha nu boga dedegan lalaki sedeng eta ? Dedegan kyai seseg,osok mere papatah nu niiskeun hate lain? Osok datang kana ngimpi lain? Make baju bodas, panjang nepi ka satengah bitis,sok disebut Ki Haji lain? Geus lawas bareng ngabaturan lain?
Kang Ema, kalem,pinuh kayakinan,sarua anjeun oge keur nungguan,hayang bisa muka nu jadi wiwitan. Hayu urang geura ngamimitian,didasaran ku sarua nyaah kana kasundaan. Bisi aya nu can kapanggih nu ku anjeun diteangan,sugan kuring oge bisa saeutik mantuan,ngarah mangfaat kana kasundaan,kuring aya.

Kang Tirta, kuring nyaho anjeun geus boga jawaban,ulah salempang nepikeunbebeneran, geura milu babagi nanjeurkeun Kasundaan,geus mangsana urang ngalengkah babarengan. Kuring apal anjeun geus lawas nungguan,ieu mangsa jadi kanyataan, kajeun teu kaharti mun dipikiran,ulah ngan ukur dijadikeun lamunan.

Kang Tirta, kuring nyaho anjeun boga jawabana,ulah hariwang geura tepikeun kabalarea, salam ka anu sok mere anjeun beja. Urang bareng ngaguar deui sajarah sunda, nu geus lila ngacapang ku reka-reka. Kuring bakal datang,sugan saeutik bisa mere caang, ngarah mere hiji kayakinan,nu ayeuna ngan ukur kasawang. Kuring wakil ti Sancang, nepikeun nu kudu ditepikeun,ngajaga nu kudu dijaga,mulangkeun nu kudu mulang.

Salam ti kuring saparakanca. Ua Duq, ulah era miluan,da nu kieu mah moal kaharti ku akal pikiran. Sabab urang sakabeh mahluk ngan saeutik nu dibikeun ka urang-urang,uteuk urang aya watesna,moal bisa maca kajadian sakabeh alam. Anjeun ge pan teu bisa nerangkeun kunaon sok kaimpikeun jalma make komprang hideung,iket hideung,barangbang semplak,nu sok rajeun datang nepungan,kajeun ngan kana ngimpi anjeun wungkul? Ulah era,lain ukur anjeun nu ngalaman,sing tumarima dicalukan.

Mang Ucup, bisi panasaran elmu naon wae nu aya di Pajajaran,kersaning Gusti sugan kuring bisa mantuan.

(Serat :24) Siliwangi  Ki Santang - Kanggo Nu Dicalukan

Kang Ema, ke oge datang.
Ua Duq, Susuktunggal lin? Ceuk Ki Barangbang Semplak nu sok make iket? AyaSanding Taman, Nyi Galuh,Dewi Anggraeni,Siti Masyitoh,Siti Hotijah,nu mana? Inget kuring lain Baduga,kuring nyaho mun harita dibejaan ku Baduga. Nu dirusiahkeun manehna ka kuring mah teu nyaho.

Kang Iman, lain incuna incu Baduga nu hianat teh,tapi ti anak bibina,dedegana jangkung leutik, boga hubungan deukeut jeung Majapait,rorokidul,teu dibantuan ku Gunung Jati. Baduga awakna teu jangkung. Rada lintuh.

Kang Iman, Lemah Dewasasana,Jaya Dewata,Jaka Lalana,Dewa Jagat Nata,jeung sajabana mah ngan ukur landihan…Kuring leuwih ngeunah nyebut Sunan Rohmat. Saha nu kungsi hirup jaman baheula,nepi ka nyaho taun-tauna. Karunya teuing Baduga diduruk ditungtung hirupna,padahal anjeuna mulang dibarengan katenangan dina bathina. Saha nu nyaksian Baduga sapopoena,nepi ka apal bukur-bukurna,watir teuing disangka euweuh jasana,padahal boga ngaran nu sakitu ahengna. Saha nu milu nempo jalan hirupna, nepi ka yakin asa milu ngalamana,deudeuh teuing disangka jalma loba dosana, padahal gede baktina.

Kang Agus, ari Batarakarang di jaman kiwari rek dipake jang naon? Jang narik harta? Aya anu kabuktian? Moal..Batarakarang loba dipake jang nyedot duit 16 jsb. Disebut BK. Elmu nu dipiboga Sri Baduga keur can pindah ka Islam,kadugalan oge. Dipiceun teu dipake saenggeus asup Islam.Aya jimatna,bentukna jiga kalong. Hirup mun dibere getih.

(Serat :25) Siliwangi Ki Santang - Kanggo Nu Dicalukan.

Kuring nonggerak, saacana menta dihampura ka balarea,rumasa make basa nu garihal karasana, supaya euweuh nu ngarasa dibeda-beda,kuring ngahaja make basa sunda nu ayeuna. Kuring nonggerak,teu ngarasa mikaboga elmu luhung ayana,kuring ngan ukur makhluk biasa, nu sapopoe kumalendang di alam dunya,nuturkeun cai kamana ngucurna. Kang Agus Pakusarakan, eta ajian kungsi jadi cecekelan sobat kuring, Ngan hanjakal dipake bari ngandelkeun bantuan bangsa kuring, eta oge nu teu ngarti kana aturan,da sabenerna teu meunang dina agama. Kuring teu wawuh jeung nu sabangsa kitu,kajeub ajiana kuring bias,lain mawa waluya.
Kang Iman, kuring hormat jeung muji kana kategesan anjeun ngeunaan Baduga (Siliwangi), keun urang teundeun mun manggihan nu beda,urang gedekeun jeung hijikeun nu sarua, sabab urang kudu taki-taki mapag mangsa kahareupna. Kuring bungah nu euweuh papadana,geuning loba keneh urang sunda nu nyekel kasundaana, eta tanaga nu teu leutik gunana,jang ngalengkah nimukeun deui jati diri sunda nu ampir euweuh dikieuna.
Sakali deui Kang Tirta, keun kuring nu rek tandang,teu kudu ngahaja datang ka Sancang,kuring ti Sancang tilu ngawakilan sakabeh sancang, kuring katitipan salam sadulur ti Ki Santang.
Kang Ema,tuturkeun we caritana,ke oge bakal pinanggih jeung anu kuduna,tuturkeun we caritana.

Kang Roche, budak cicingeun hayang disebut budak baong? Teu kudu hariwang kuring bakal sabisa-bisa noong, ke oge ngalaman nu sok rajeun ngaliwat kana pikiran,sugan jeung sugan ku Allah diijinan. Kuring muji kana pikiran nu panasaran, sabab bakal metot jelema jang neangan, ngorehan sesa-sesa nu bakal jadi cecekelan, ngarah teu kasasab ka alam kangeunahan. Kang Dekky Mulyadi, nu ngawakilan budak kiwari mentingkeun eusi nu pondok bari nyari,teu ngan saukur hayang kaciri, mugi pinanggih jeung jati diri. 17 Waliwis Bodas, hiber di awang-awang,boga hate nu kerep baluang,nuturkeun indung suku mapay- mapay alam anu ngambang, muga anjeun hirup mawa seungit kembang. Waluya, hiji ngaran nu diudag ku sakabeh jalma di dunya,hampura kuring teu wani muka anjeun boga sukma,ari teu diijinan ku nu mikabogana.

Netta, Sunda bakal pinanggih deui jeung kadigdayaan,asal urang teu poho kana wiwitan, teu miceun nu geus jadi ciri kasundaan,teu ngaleungitkeun jasa jalma nu kungsi ngagedekeun Pajajaran.

Kang Kumincir, hampura kuring teu pati apal anjeun saha,ngan kuring teteg na hate anjeun jalma nu moal ngasaha-saha,kuring aya ukur ngahaok supaya sunda ngarasa lain nu saha, ngajak urang sunda leuwih ngahareupkeun usaha. Nitip salam ka urang lembur,kudu bisa duduluran kajeun lain dulur,urang babarengan geura nyukcruk galur,muka deui jalan jang ngaraketkeun sakabeh urang sunda sing asa jadi dulur.

Ceu Roro, hampura mun kuring salah tetempoan,ngan kuring tetep gede harepan,teu kahalang umur nu geus elat-elatan,urang mangfaatkeun sugan teu kahalangan. Hampura kanu geus disebutan ngan teu kaburu dikorehan,sugan isuk jaga aya mangsa digeroan.

(Serat :26) Siliwangi Ki Santang - Cirebon Menta Misah.

Cirebon menta misah lain kusabab Pajajaran lain Islam,aya hiji satria nu hayang leuwih meunang kakawasaan,ngahiji jeung karajaan tatangga nu geus lila mumusuhan, niupan hasutan supaya teu ngaku deui ka raja Pajajaran. Geus kasawang ku Siliwangi saacana, aya kajadian nu bakal ngarusak karajaana,kusabab Siliwangi boga hate nu wicaksana, milih malipir ngarah teu loba nu jadi korbana. Siliwangi geus teu pati ngagungkeun dunya, teu kabita ngan ukur ngudag-ngudag dunya,Siliwangi geus loba tafakur nyiapkeun bekel saenggeus dunya,ngarah tegep teger mun geus mangsana ninggalkeun dunya.

(Serat :27) Siliwangi Ki Santang - Deudeuh Teuing Sunda.

Kajadian kaluar tina kepungan geus lain kaanehan,loba kaalaman ku jalma-jalma kiwari nu milu peperangan,kunaon bet dianggap carita bobodoan,padahal ngaleungitna eusi dayeuh harita bener kanyataan. Teu kudu bingung kunaon Cirebon menta pipisahan,kajeun sarua Islam tapi beda prakprakan,katambah aya hiji jalma nu hayang kakawasaan,nepi ka tega menta bantuan raja nu ngamusuhan. Teu kudu disumput-sumput ratu laut kidul milu ngarusak Sunda,da kajeun kumaha geus loba pisan buktina,komo dicampur-campur jiga ajaran agama,beuki jauh mengkol hate jalma. Ka sakabeh urang Sunda,nu ngaku atawa henteu anjeun Sunda,sakeudeung deui moal aya bangsa Sunda,sakeudeung deui Sunda tinggal carita. Kuring ngan ukur bisa ngajak nempo diri,kuring ngan ukur nitah geura nempo ciri,saencan leungit ieu nagari,jiga beuki leungitna ngaran Dewi Sri. Geura sosonoan kana kecap Sunda,sabab Sunda bakal euweuh dikieuna,jiga kacontoan ku loba bangsa di dunya,nu ayeuna ngan ukur tinggal ngarana.

Deudeuh teuing sobat kuring Siliwangi,sakitu kungsi boga ngaran anu wangi,geuning bangsa anjeun bakal leungit ti ieu bumi,ngabarengan leungitna dayeuh diteureuy bumi. Pileuleuyan Sunda,pileuleuyan Baduga,nasib anjeun teu beda,ngan ukur jadi legenda. Geuning nu wani teu loba,ngan ukur saeutik nu nyaah ka Sunda,moal cukup jang ngalawan angkara,nu hayang keungit ieu Sunda.

Ki Santang lain mahluk abadi,sarua jeung urang sarerea teu abadi,kawatesan ku umur nu ditangtukeun ku Gusti,boa isuk geto Ki Santang mulang ka Gusti


(Serat :28) Siliwangi Ki Santang - Deudeuh Teuing Siliwangi.

Hiji mangsan lahir ka dunya hiji budak lalaki, leutik tur istuning ririwit eta budak lalaki, matak pikahariwangeun indung bapana, euweuh nu nyangka eta budak bakal terus aya dikieuna.

Ti leuleutik eta budak beda pipikiran, ngaleuwihan tina umurna, katempo beda jeung jelema sakurilingna. Siliwangi leutik niliktik hirup di alam pikirana sorangan, lolobana euweuh jalma nu bisa ngabaturan, kusabab loba pisan nu teu kaharti ku akal pikiran.
Mang taun-taun Siliwangi ngarasa sosoranganan, bongan mun mikir siga sakahayang sorangan, jiga nu teu malire kana omongan babaturan, kusabab Siliwangi bisa nyawang nu acan ka alaman.

Kersaning Gusti nu masihan widi, Siliwangi bisa marentah lemah-seuneu-angin jeung cai, boga kakuatan diri nu moal kaharti, Siliwangi gede jadi manusa nu bener-bener sakti.

Dina kahirupan nu loba sorangan, tungtungna pinanggih jeung nu sadia maturan, hiji makhluk nu beda kaayaan, istuning eta sobatna sabar ngabaturan.

Kapeurih dina kahirupana nu asa sosoranganan, ka ubaran ku hadirna sobat nu kerep ngadatangan, babaturan nu teu petot mamatahan, mere papatah nu mana nu meunang jeung teu meunang dilakonan. 19 Siliwangi leutik gubrag ka dunya, ririwit teu nyana bakal terus ngalalana, anging kersana Nu Maha Kawasa, kajeun jiga teu daya eusi awakna beda.

Siliwangi geus bisa ngahijikeun raja-raja satatar Sunda, anu cenah mah pangaruhna nepi ka Sumatra, kunaon saenggeus anjeuna tilar dunya, Sunda bakal ukur tinggal ngarana?

Deudeuh teuing anjeun Siliwangi Raja Sunda, dibere gelar anu mere wawangi ka nagari Sunda, ayeuna bet aya nu norehkeun anjeun ngarusak Sunda, nepi ka tega anjeun disebut mawa angkara murka.

Bener anjeun lain jalma sampurna, ngan kuring apal anjeun gede jasana, bisa mingpin Sunda nepi ka puncak jayana, bisa ngawangun tatar Sunda nu dipikaseuseub kutatanggana.

Deudeuh teuing Siliwangi sobat kula, geuning nu ceuceub ka anjeun beuki dieu beuki loba, geuning ngan saeutik urang Sunda nu masih keneh ngarasa anjeun urut raja Sunda nepi ka euweuh rahayat Sunda nu apal anjeun dimakamkeun dimana. Geura ngaca ka nagari Cina, nepi ayeuna apal tulisanana, bari susulumputan na jero hatena ngajungjung carita raja-rajana, teu kawas urang Sunda nu teu apal tulisan Sunda kumaha, jeung na jero hatena embung ngaku carita rajana.

Kuring ngan ukur bisa ngalengis bari nyurucud cimata, ngaheruk nuturkeun carita anjeun ayeuna, mun anjeun ayeuna aya keneh dikieuna, istuning anjeun bakal ngahelas kungsi diborojolkeun ka dunya.
Haturan simkuring Suadma, Haturnuhun kuring disebut Aswatama, kuring bungah disangka ngarang-ngarang carita, kuring ngan ngajak aranjeun geura nyaring jadi urang Sunda jiga baheula.
~Wassalamu’alaikum wr wb..
Kuring Nonggerek~

(Serat :29) Siliwangi  Ki Santang - Tanda Kembang 1.

Sampurasun,kuring ti Sancang Pakidulan, hampura kuring teu bisa nyebutkeun ngaran, sabab aya nu keur ditungguan, mantuan nu ngoreh dina pasesaan.
Kalakay jeung tutunggul, meunang pancen beurat kudu dipanggul, bari kudu pageuh leumpang lempeng luhur tanggul, bari keukeuh sirah kudu tungkul.
Kuring Kule, kuring ngagiring ieu jalma, ngarah bisa muka nu geus lawas teu bisa kabuka. dayeuh muka digantian ieu kembang.

(Serat :30) Siliwangi Ki Santang - Tanda Kembang 2.

Sampurasun,kuring ti Sancang Pakidulan, hampura kuring teu bisa nyebutkeun ngaran, sabab aya nu keur ditungguan, mantuan nu ngoreh dina pasesaan.
Kalakay jeung tutunggul, meunang pancen beurat kudu dipanggul, bari kudu pageuh leumpang lempeng luhur tanggul, bari keukeuh sirah kudu tungkul.
Kuring Kule, kuring ngagiring ieu jalma, ngarah bisa muka nu geus lawas teu bisa kabuka.
Kuring ngawakilan maung hideung, nu loba kapanggih di tengah leuweung, kuring kapaksa nyumput bisi dititah jalma teu hideng, nu sarakah menta muka sesa nu dihandeuleumkeun.
Kuring mawa Tanda Kembang, jang nunjukeun ieu jalma wawakil Sancang, ke dina mangsana nyanghareup tempat nu dianggap Siliwangi ngahiang, dayeuh muka digantian ieu kembang.
Kuring ngawakilan maung hideung, nu loba kapanggih di tengah leuweung, kuring kapaksa nyumput bisi dititah jalma teu hideng, 20 nu sarakah menta muka sesa nu dihandeuleumkeun.
Kuring mawa Tanda Kembang, jang nunjukeun ieu jalma wawakil Sancang, ke dina mangsana nyanghareup tempat nu dianggap Siliwangi ngahiang,
 Sumber www.salaka.net