-
Showing posts with label Seni Tradisional. Show all posts
Showing posts with label Seni Tradisional. Show all posts

Monday, July 30, 2012

Kunclung, Seni yang Terlupakan



DAERAH Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung ternyata memiliki sejumlah seni tradisional yang sangat unik dan menarik. Salah satunya yakni seni kunclung. Kesenian ini merupakan kesenian khas masyarakat Cileunyi, khususnya masyarakat di Desa Cileunyi Wetan yang merupakan masyarakat huma. Tidak heran jika kesenian ini ditampilkan tatkala menjelang panen padi huma maupun saat akan menanam padi huma.

Beruntung penulis bisa menyaksikan kesenian yang terbilang langka ini beberapa waktu lalu. Walaupun sebenarnya menyaksikan seni kunclung ini serbakebetulan alias tidak disengaja. Pasalnya, saat itu belum saatnya panen maupun menanam padi huma. Kala itu, awal bulan Juni 20012 di Desa Cileunyi Wetan tengah digelar sebuah kariaan yang dilakukan warga, yakni Bah Eke yang kedatangan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar, Drs. Nunung Sobari, M.M. yang akan menyaksikan pewarisan seni kacapi janaka yang juga berkembang di daerah itu.

Namun penampilan seni kunclung ternyata mampu menarik perhatian penulis dan masyarakat lainnya. Tertlebih saat itu, seni kunclung dimainkan oleh sejumlah anak-anak kecil usia sekolah dasar. Sementara penarinya dua orang perempuan paruh baya dengan mengenakan kain kebaya berwana hijau muda. Kedua penari perempuan ini terus menari mengikuti irama kunclung atau bilah bambu berukuran besar yang dicowak bagian bawah sekitar 10 cm dari buku ke atas. Alat musik ini sangat khas, namun memiliki kesamaan dengan alat musik angklung dan calung. Jika dipukul, maka bambu ini akan mengeluarkan bunyi yang nyaring sesuai dengan ukuran bambu.

Makanya pada saat memainkannya, anak-anak ini tidak memukul secara berbarengan namun berirama sesuai ketukan alat musik kendang dan gamelan yang dimainkan oleh grup seni Lugay Maung (mamaungan atau sisingaan). Tarian yang dibawakankedua penari perempuan tua ini sangat sederhana namun mengandung isi dan nilai sangat dalam serta mengandung nilai magis. Sehingga siapapun yang menyaksikannya tanpa terasa badannya akan ikut bergerak dan bergoyang.

Sekalipun yang memainkan kesenian itu terbilang masih anak-anak yang tergabung dalam lingkung seni Rineka Cempaka Mekar Wagi, Kp. Nyalindung, Desa Cileunyi Wetan, namun hasil yang disuguhkan seperti kesenian yang dimainkan kalangan orang dewasa.

Tarian panen

Menurut Bah Eke, seni kunclung biasanya dimainkan ketika masyarakat Desa Cileunyi Wetan yang sebagian besar petani huma akan memanen padi huma. Beberapa hari sebelum panen, para petani biasanya menunggu di dangau atau saung yang dibangun di atas bukit untuk menjaga padi huma yang tengah menguning dari gangguan hewan seperti babi hutan. Seni kunclung dimainkan fungsinya pun untuk menakut-nakuti hama babi hutan maupun hama perusak lainnya.

"Selain itu, permainan seni kunlung ini untuk sekedar menghibur diri saat berada di atas huma. Biasanya, seni kunclung dimainkan oleh beberapa orang dan seorang diantaranya bertinda sebagai pemimpin juga sebagai penyanyi yang menyanyi dengan lagu sekenanya, terkadang ngabeluk. Jadi, dulunya seni ini sebagai kalangenan para petani," terangnya.

Sedangkan bambu yang digunakan segala jenis bambu, kecuali bambu yang berukuran kecil. Namun bambu gombong dan bambu hitam yang paling bagus. Selain kuat, ukurannya pun sangat besar. Untuk bisa dibuatkan alat musik kunclung, bambu ini harus dikeringkan secara alama selama satu bulan lebih. "Ini dilakukan agar kadar airnya berkurang. Bambu yang kering sangat mudah dan enak dibuat alat musik, sehingga suara yang dihasilkan tidak akan berubah," paparnya.

Sementara ukuran bambu sangat variatif, mulai dari ukuran 50 cm hingga 2500 cm. "Itu semua tergantung luas buku bambu. Karena bambu untuk kunclung tidak boleh ada buku di tengah-tengahnya," ujarnya lagi.
(kiki kurnia/"GM")**
minggu, 24 juni 2012 01:54 WIB

Friday, July 01, 2011

Pencak Silat di Tatar Sunda

Istilah Pencak silat terdiri dari kata majemuk yaitu Pencak dan Silat walaupun ada yang mengartikan berbeda namun pada umumnya sama yaitu seni beladiri yang tumbuh dan berkembang di Indonesia saat ini Penca silat juga diklaim sebagai beladiri khas Melayu yakni Indonesia Malaysia dan Brunei Darusalam
Istilah Pencak pada umumnya digunakan oleh masyarakat di Pulau jawa, madura dan Bali. Aliran Pencak Silat yang bersal dari Jawa barat adalah Cimande, Cikalong, sabandar dan sera. Dari aliran tersebut terangkum dalam suatu sistem yang utuh terdiri dari sejarah landasan sosiologis, strategi, taktik dan teknik. benerapa perguruan pencak silat diantaranya Tajimalela, Mande muda, Manderaga, Pager kencana dll. Aliran pencak silat di tatar Sunda terdiri dari :
 Aliran Cimande : Pendiri / pencipta dari aliran ini biasa dipanggil Ayah kahir sering juga dipanggil embah Kaer/ Eyang Khoer. Sekitar tahun 1760 beliau mulai memperkenalkan kepada murid- muridnya oleh karna itu ia dianggap sebagai pendiri penca silat aliran Cimande walaupun pada sejarahnya belum terunggkap secara jelas Embah Kaer yang menciptakan jurus-jurus tersebut. Menurut catatan sejarah dalam naskah Kidung Sunda disebutkan bahwa pada jaman Kerjaan Padjajaran sudah terdapat 7 Penca Silat.

Silsilah para tokoh Cimande diantaranya : Embah Kahir, Embang Rangga, Embah Ace Naseha, Embah Haji Abdul Shamad , Embah Haji Idris, Embah Hajo Ajid, Embah haji Zarqasih, Haji Niftah , Haji, R. A Sutisna
Aliran Cikalong : Sejarah perkembangan aliran Cikalong ( Raden Ateng ) adalah salah satu seorang putra Bupati yang sangat tertarik dengan Pencak Silat yang juga pernah menjadi murid Abah Kahir.Pembinaan fisik dan penggunaan rasa ekspresi banyak persamaanya hanya penggunaanya yang berbeda pada pencak silat dalah olah tubuh dari rasa yang digunakan berdiri sedangkan tari sebagai media ekspresi melahirkan gerak yang menggunakan keindahan nyang dilahirkan oleh jiwa para seniman . Pencak silat sebagai tari dan sebagai kebutuhan estetika / keindahan seni istilah pencak silat di tatar Sunda dikenal dengan istilah buah dan Eusi dan Kembang / ibing penca .
contoh ibing pencak yang bersumber dari beladiri cimande adalah tepak dua salancar ( Cimande Tari kolot) Tepak dua sorongdayung, tepak dua buangkelid, tepak dua kampung baru bdan tarian bersumber pada Cimande . Cimande biasanya dibawakan dengan irama tepak dua temponya ancak ( lambat) namun ada yang beraliran irama Paleredan ibingnya bersumber pada aliran Cikalong yang pada umumnya menggunakan irama tepak tilu temponya cepat ( gancang ).

Tepak tilu Cikalong dan tepak Tilu jalamuka dari aliran tersebut banyak kereografi dari aliran Cimande, Cikalong dan sabandar . Karawitan Penca terdiri dari 2 buah kendang besar dan 2 buah kandang kecil ( kulanter) kendang bertugas mengisi gerak serta mengatur tempo sedangkan terompet sebagai melodi , gong kecil sebagai pengatur irama .

Jenis Irama pada dasarnya ada empat yaitu :
1. Tepak Dua
2. Tepak Tilu
3. Golempang
4. Padungdung

Nama lagu dalam penca Tepak Dua, Kembang Gadung, Ayun Ambing, Polos, Gedong Kulon, Tunggul Kawung, Bata Rubuh, Kidung, Sorong Dayung sedangkan Tepak Tilu Ucing-ucingan, Kembang Beureum, Bardin, Sintren, Papare, Bendrong Petit, Gendu, Kapuk Kapas, Garungan, Joher, Maniang, Kacang Asin Oyong-oyong bangkong, Ciwaringin, Mainang. Pleredan, Ayun ambing, Bela Pati, Sasalimpetan, Buah Kawung Karawang, Gendu, Gaya, Sari, Kembang Beureum, Padungdung, Banon Dari, Kidung, Koleran, Lengleang, Ceurik Rahmana.

Di Kabupaten Bandung tercatat hampir 38 grup pencak silat yang tersebar ditiap Kecamatan dan desa- desa diantaranya grup Panglipur , Pusaka Sinar muda, sari kencana , Sinar pusaka , mekar kencana , wargi medal , purwa panghegar , galur sawargi , putra kiwari , tali kencana dll.

Thursday, June 23, 2011

Kesenian Helaran Sisingaan (Singa Depok)

Sisingaan adalah jenis kesenian Helaran tradisional atau seni pertunjukan rakyat yang dilakukan dengan arak-arakan dalam bentuk helaran. Pertunjukannya biasa ditampilkan pada acara khitanan atau acara-acara khusus seperti ; menyambut tamu, hiburan peresmian, kegiatan HUT Kemerdekaan RI dan kegiatan hari-hari besar lainnya.

Didalam seni sisingaan terdapat unsur-unsur seperti; seni tari, olah raga (Pencak Silat dan Jaipongan), seni karawitan, seni sastra dan seni busana. Semua unsur tersebut berpadu dan bersinergi membentuk suatu tari dan lagu dan biasanya ditambah dengan gerak akrobat yang membentuk formasi seperti standen.

Peralatan yang digunakan dalam setiap pertunjukan terdiri dari; usungan sisingaan, terompet, ketuk,, kempul, goong dan kecrek. Busana pemainnya menggunakan pakaian adat sunda seperti; celana kampret, ikat kepala, ikat pinggang, baju taqwa dan menggunakan sepatu kelenci dan penunggang sisingaannya biasanya anak sunat yang menggunakan pakaian sunatan.

Secara etimologis, sisingaan berasal dari kata "singa" yaitu suatu bentuk usungan yang mirip badan singa. Mengapa harus bentuk singa ? Konon khabarnya bahwa hewan singa melambangkan keperkasaan, keberanian dan kekuatan.

Menurut catatan ahli seni (seniman), seni sisingaan pertamakali muncul pada tahun 1957 di Desa Ciherang sekitar 5 Km ke arah selatan Kota Subang. Kemudian berkembang ke daerah Cigadung dan daerah lainnya di sekitar Kota Subang. Tokoh-tokoh yang mempopulerkannya antara lain Ki Demang Ama Bintang, Ki Rumsi, Lurah Jani Mama Narasoma, dan Ki Alhawi.

Hingga saat sekarang, kesenian sisingaan telah berkembang pesat dan tercatat ada sekitar 165 group dengan jumlah senimannya 2.695 orang. Perkembangannya ternyata tidak saja di daerah Subang tetapi telah berkembang di daerah Kabupaten Bandung dan Sumedang.

Karena perkembangannya itulah, maka untuk melestarikan seni ini Pemerintah Kabupaten Subang selalu mengadakan festival secara rutin dan mempromosikan ke tingkat propinsi dan nasional terutama di kalangan Pedmerintahan dan dunia bisnis.

Kesenian Helaran Kuda Renggong (Kuda Depok)

Kuda Renggong atau Kuda Depok termasuk dalam jenis kesenian helaran yang terdapat di Kabupaten Sumedang, Majalengka dan Karawang. Cara penyajiannya yaitu, budak sunat menaiki punggung kuda kuda yang di hias warna-warni, Budak sunat tersebut dihias seperti seorang Raja atau Satria, bisa pula meniru pakaian para Dalem Baheula, memakai Bendo, takwa dan pakai kain serta selop.
Di depan rombongan Kuda Renggong ada seorang Pelatuk, yaitu salah seorang pemain Kuda Renggong, yang bertindak sebagai penunjuk jalan dan pimpinan koordinator iring-iringan tersebut.
Dengan Di iringi Tetabuhan berupa Kendang besar, Goong,Tarompet, Genjring atau Terbang Gede atau Dulag, bahkan disertakan pula Sinden dan beberapa penari laki-laki dan perempuan. dan arak-arakan tersebut berjalan menurut arah yang telah ditentukan sebelumnya.
Kuda Renggongnya bergerak seperti menari, karena sudah terlatih dan terbiasa mendengar tetabuhan. Gerakannya seirama dengan bu:nyi yang dimainkan. Apabila iramanya lambat, Kuda Renggong akan menggerakan tubuhnya dengan lambat pula, begitu pula apabila iramanya cepat Kuda Renggong akan menggerakan tubuhnya dengan cepat pula
Gerakanya selain gerakan kaki Kuda yang berjingkrak-jingkrak, juga kepala Kuda Renggong pun ikut pula terangguk-angguk. Di depan atau di pinggir Kuda Renggong ada beberapa penari, baik dari rombongan Kuda Renggong sendiri maupun dari para penonton atau kerabat yang punya hajatan. Mereka dengan suka citanya ikut berjoget atau menari sebisanya, dan hal inilah yang menambah semaraknya pertunjukkan Kuda Renggong.
Konon pemeiiharaan kuda untuk Kuda Renggong sangat diutarnakan. Selain diberi makan rumput, ongok juga diberi madu, susu, dan telur. Surai nyapun dipelihara dengan baik pula, diuntun dengan memakai pita serta dipasangkan perhiasan yang cerah dengan warna-warni yang indah.***

Wednesday, June 22, 2011

Kreasi Musik Rampak Kendang

Rampak Kendang adalah salah satu kreasi musik tradional yang memainkan kendang (Gendang) bersama-sama oleh sekitar dua sampai puluhan pemain. Ditabuh secara bersamaan sesuai musik yang dilantunkan. Tabuhannya memiliki efek suara yang keras sehingga menimbulkan perhatian para penonton.

Rampak dalam bahasa Sunda berarti bersama-sama atau serempak, sehingga Rampak Kendang berarti bermain kendang secara serempak. Selain itu pula pada permainan Rampak Kendang ini ditampilkan pula keceriaan para pemainnya.

Dalam Rampak Kendang, instrumennya tidak hanya kendang saja, tapi dapat divariasikan dengan alat-alat lainnya, seperti : alat gamelan, Rebab, gitar, dlsb.

Dalam memainkannya, dapat berdiri sendiri, artinya dari rampak kendang itulah membentuk lantunan lagu sendiri, atau sebagai pengiring dari suatu tari Jaipongan.
Dalam seni pertunjukan, Seni Rampak Kendang telah diterima sebagai salah satu seni kreasi dan telah dipertunjukan pada acara-acara resmi, baik dilingkup Pemerintahan, lingkup swasta maupun masyarakat umum.

Monday, June 20, 2011

Tarian Rakyat Ketuk Tilu

Dikalangan rakyat pada waktu itu dikenal ketuk Tilu yang dalam sejarahnya kesenian yang berfungsi sebagai upacara menyambut panen padi sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Dewi Sri ( dewi padi ) upacara dilakukan pada malam hari yang mengarak seorang gadis sebagai lambang dewi sri dengan diiringi bunyi-bunyian dan arak-arakan sampai pada suatu tempat biasanya di lapangan / tempat yang luas dimana gadis akan duduk di bambu dekat oncor ( lampu minyak tanah). Ketuk Tilu merupakan perkembangan dari skanisme yang pada masa itu masyarakat menganut paham animisme dan dinamisme. Nama ketuk tilu diambil dari alat musik  pengiringnya yaitu 3 buah ketuk ( bonang ) sebagai pemberi pola irama rebab sebagai memainkan lagu , kendang indung ( besar ) dan kulanter ( kecil ) untuk mengatur dinamika tari/ kendang yang didampingi kecrek sebagai pengiring irama dan gong pemberi batas - batas kalimat lagu.dalam perkembangannya tarian tersebut menjadi tarian pergaulan di mana pria dan wanita menari berpasangan  dimana penari wanita disebut ronggeng.
    Bentuk pertunjukan ketuk tilu terdapat beberapa jenis tarian yang sesuai dengan lagu pengiringnya penyajian tarian tersebut diawali dengan Tatalu arang-arang fungsinya untuk membuka dan menutup peralihan lagu dan istirahat, tatalu berfungsi juga sebagai pengumpul penonton / tanggara bahwa ada pertunjukan ketuk tilu selanjutnya ronggeng memasuki arena panggung dengan mengawali gerak jajangkungan kemudian wawayangan dimana ronggeng menyanyi dan menari , dengan munculnya ronggeng lulugu kemudian diikuti oleh ronggeng pangberep sebagai primadonanya sebelum nya diperdengarkan lagu kidung kembang gadung lagu tersebut sebagai persembahan untuk karuhun agar kita diberi keselamatan dalam pertunjukan tersebut . Sebelum menari ( laki dan wanita) bersama biasanya diawali dengan ibing tunggal / ibing jago terdiri dari 3 lagu diantaranya lagu Cikeruhan , Cijagran, dan mamang. di daerah kaleran disebut ewag . mengahiri tarian pamogoran dengan tari oray- orayan dan diiringi lagu ucing- ucingan.
    Gerak tari ketuk tilu diantaranya goyang , pencak, muncid, gitek dan geol ditambah dengan gerak sehari-hari (spontanitas) , cingeus . nama gerak ketuk tilu antara lain depog/ ewag, ban karet, bajing luncat, bongbang, meulit kacang , oray -orayan, kalawit , jerete, torondol, balik bandung, balungbang, dll. lagu-lagu yang digunakan adalah lagu kidung, erang, kagok, kaji-kaji, polontosmo, golektrak, tunggul kawung, sorong dll. Kostum yang dipakai menggunakan kebaya / apok, sinanjang sabuk dan asesoris seperti gelang dan kalung warna pakaian biasanya yang mencolok . Untuk laki- laki baju kampret, celana pangsi , ikat kepala , sabuk kulit , golok sebagai lambang kejantanan biasanya para jawara memakai gelang bahar dan warna baju gelap.

Sunday, June 19, 2011

Kesenian Tari Jaipongan

Kemunculan tari jaipongan 1980 an yang lahir dari kekreatifitasan para seniman Bandung yang dikenal dengan Gugum Gumbira , pada awalnya tarian tersebut pengembangan dari ketuk tilu apabila dilihat dari perkembangannya dan dasar koreografernya. Kata jaipong bersal dari masyarakat Karawang  yang bersal dari bunyi kendang sebagai iringan tari rakyat yang menurut mereka berbunyi jaipong yang secara onomotofe . tepak kendang tersebut sebagai iringan tari pergaulan dalam kesenian banjidoran yang berasal dari Subang dan Karawang yang akhirnya menjadi populer dengan istilah jaipongan.
    Karya jaipongan pertama yang diciptakan oleh Gugum Gumbira adalah tari daun pulus keser bojong dan tari Raden Bojong yang berpasangan putra- putri. Tarian tersebut sangat digemari dan populer di seluruh Jawa Barat termasuk Kabupaten Bandung karya lain yang diciptakan oleh Gugum diantaranya toka-toka, setra sari, sonteng, pencug, kuntul mangut, iring-iring daun puring , rawayan, kaum anten dll. juga para penari yang populer diantaranya seperti Iceu Efendi, Yumiati Mandiri, Mimin Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Diar, Asep Safat.
    Daya tarik tarian tersebut bagi kaum muda selain gerak dari tari yang dinamis dan tabuhan kendang membawa mereka untuk menggerakan tubuhnya untuk menari sehingga tari jaipongan sebagai salah satu identitas kesenian Jawa Barat yang oadasetiap tampil pada acara- acara khusus dan besar samapai kenegaraan. Pengaruh tarian jaipongan merambah sampai Jawa Tengan dan Timur , Bali bahkan Sumatra yang dikembangkan para seniman luar Jawa Barat.
    Penari jaipongan terdiri dari Tunggal, rampak / kolosal
a. rampak sejenis
b. Rampak berpasangan
c. Tunggal laki-laki dan tunggal perempuan
d. Berpasangan laki- laki / perempuan

    Karawitan jaipongan terdiri dari karawitan sederhana yang biasa digunakan pertunjukan ketuk tilu yaitu
  1. kendang
  2. ketuk
  3. rebab
  4. goong
  5. kecrek
  6. sinden
    Untuk karawitan lengkap memakai gamelan yang biasa dipakai pada karawitan wayang golek seperti
  1. kendang
  2. sarin I, II
  3. bonang
  4. rincik
  5. demung
  6. rebab
  7. kecrek
  8. sinden
  9. goong
  10. juru alok
  Tata busana tari jaipongan untuk kreasi baru biasanya berbeda dengan busana ketuk tilu untuk yang kreasi  biasanya lebih glamor dengan tetap memakai pola tradisionalseperti sinjang / celana panjang , kebaya / apok yang busananya lebih banyak ornamen sehingga terlihat megah tetapi lebih bebas bergerak . Seiring dengan perkembangan jaman dan tarian tersebut tari jaipongan banyak ditampilkan pada arena terbuka secara kolosal juga tampil di Hotel  berbintang dan penyambutan tamu- tamu asing dari berbagai belahan dunia
Occurrences jaipongan 1980's dance that was born from Bandung kekreatifitasan artists known as Gugum Gumbira, at first the development of tap dance tilu when seen from its development and basic choreographer. Jaipong said bersal of society Falkirk bersal of drums as an accompaniment sound folk dance which they say that it reads jaipong onomotofe. slap drum as accompaniment in the arts banjidoran social dance originating from Subang and Karawang which eventually became popular with the term jaipongan.
The first jaipongan works created by Gugum Gumbira is pulus keser leaves dance and dance Raden Bojong Bojong which pairs children. The dance is very popular and popular throughout West Java, including Bandung regency other works created by such Gugum Toka-Toka, Setra cider, sonteng, pencug, egrets dazed, motorcade procession of croton leaves, rawayan, the anten etc.. also popular among the dancers who like Iceu Efendi, Yumiati Mandiri, Mimin Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Diar, Asep Safat.
The appeal of dance for young people in addition to the dynamic motion of the dance and the beat of drums to bring them to drive her to dance so dance jaipongan as one of the identity of the arts of West Java which oadasetiap appear on special occasions and large samapai state. Jaipongan dance influences penetrated to Middle and East Java, Sumatra, Bali and even the artists who developed outside West Java.

Calung Sunda

Calung yang hidup dan dikenal masyarakat sekarang merupakan prototipe dari angklung yang cara menabuhnya berbeda dengan angklung , cara menabuh calung yaitu dengan memukul-mukul batang ( wilahan ) dari ruas-ruas atau tabung bambu yang tersususn menurut titi laras ( tangga Nada ) penta tonik ( da mi na ti la da )
    Ada dua bentuk calung Sunda yaitu calung rantay dan calung Jinjing waditra. Calung jinjing terbuat dari bahan bambu hitam ( awi hideung) dan seperangkat calung jinjing yang digunakan da;lam pertunjukan biasa bertangga nada Salendro ( bertangga nada Pelog ) serta Madenda ( nyorog ) wadrita calung jinjing merupakan perkembangan dari bentuk calung Rantai/ calung Gambang , calung dalam bentuk ini sudah merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan .
    Calung Jinjing berasal dari bentuk dasar calung rantay ini telah dibuat dalam empat bagian bentuk wadrita yang terpisah , keempat buah wadrita terpisah ini memainkan dengan cara dijinjing oleh empat pemain dan masing-masing memegang calung dalam fungsi berbeda . Wadrita calung terdiri dari 1 Kingking, 2 Panepas, 3 jongong, 4 gonggong sedangkan calung kingking jumlahnya limabelas nada / oktaf dala nada yang paling kecil ( teringgi )
    Calung Panepas jumlahnya lima potong untuk lima nada (1 Oktaf) nadanya merupakan sambungan nada terendah calung kingking dan dari lima nada tersebut ada yang yang dibagi dua ada yang digorok ( disatukan jongjong seperti halnya panepas yang berbeda hanya nadanya yang lebih rendah dari panepas ) nada panepas bentuknya selalu tinggi dibagi dua yaitu 3 potong untuk nada berturut-turut dari yang tinggi , dua potong untuk dua nada lanjutan
    Calung Gonggong merupakan calung yang paling besar jumlahnya hanya  dua bumbung yang disatukan keduanya dalam nada rendah diantara keseluruhan calung . Jenis calung yang sekarang berkembang dan dikenal adalah calung jinjing .
    Calung yang perkembangannya lebih mengarah pada kecalung dangdut  ( caldut)  lagu maupun musiknya ditambah drum, gitar, keybord dan memakai tata lampu untuk pertunjukannya. Di Kabupaten Bandung yang  tercatat   di Dinas Kebudayaahn dan Parawisata tersebar di Kecamatan maupun di desa-desa kurang lebih 40 group diantaranya Marahmay, Oces, Cinde agung, Sinar Pasundan, Mitra Siliwangi, Calawak Group, Mekar wangi, Gentra Priangan, Dangdiang, sariak layung dll.

Seni Pertunjukan Benjang

Benjang adalah salah satu seni pertunjukan yang berasal dari Kabupaten Bandung yang awalnya sebagai ketangkasan para jawara yang berkembang menjadi seni pertunjukan yang didalamnya terdapat unsur-unsur penunjang dalam pertujukan diantaranya adanya pemain yang tidak terbatas jumlahnya, unsur musik sebagai pengiringnya diantaranya musik terebang, terompet, kendang dan kecrek. adanya pasangan dalam permainan benjang sebagai lawan bertanding dimana wasit sebagai pengatur pertandingan untuk menentukan siapa kalah dan menang yang bergantung pada kekuatan si pemain tersebut lapangan yang diberi batas sebagaimana apabila pemain ke luar garis batas tersebut dinyatakan kalah.Benjang yang muncul pada tahun 1975 an di daerah Cinunuk menyebar samapi daerah Ujungberung memunculkan grup-grup benjang diantaranya dari kecamatan Cilengkrang grup mekar sari desa Giri Mekar, aneka warna Desa Cikalamiring , gelar putra Desa Jati Endah , mekar budaya Desa Cipareat. Menurut keterangan masyarakat Cinunuk yang pada saat itu masyarakat Cinunuk bermata pencaharian dari sawah dan palawija sering mengadakan syukuran sebagai hiburan menanggap kesenian seperti penca silat, reog, tanji sebagai prakarsa Mas Hasadikarta beliau mengundang para jawara silat untuk menunjukan kebolehannya . Benjang yang awalnya  dilakukan oleh para buruh pabrik di lingkungan Cinunuk bermula dari permainan saling mendorong menggunakan halu ( bermula dari permainan dogong yang mempergunakan alat penumbuk padi ), yang berkembang menjadi permainan mengadu pundak saling berhadapan dengan lawan .    Perkembangan selanjutnya menjadi saling genjang dimana permainannya pemain memegang pinggang kemudian saling membanting bagi yang berhasil membanting lawan dan saling menindih lawannya dinyatakan menang  pada tahap selanjutnya pertunjukan benjang dilengkapi dengan kuda lumping, dodombaan, seseroan dimana para pemainnya menjadi kesurupan. Gerak tari dalam benjang diantaranya gerak langkahan, gerak dorongan, gerak piting, gerak gitik. Pertunjukan kesenian tersebut biasanya diadakan pada hari besar seperti 17 Agustus , khitanan, perkawinan dll. Kostum yang dipakai biasanya baju bebas dan ikat kepala pemain musiknya biasanya memakai celana pangsi dan baju kampret.

Kesenian badawang Bandung

Kesenian badawang merupakan sesuatu yang berhubungan dengan kepercayaan Agama asli Indonesia yang didalamnya terdapat lambing seni , bentuk seni , isi seni,pengalaman seni mereka yang pada dasarnya terkandung makna bersifat mistis itu dapat dilihat dari bentuk dan gambaran dari badawang yang merupakan gambaran tradisis totemistik masyarakat agama asli Indonesia walaupun dalam perkembangannya mengalami perubahan dalam bentuk yang lebih lucu / kocak. Di tatar Sunda keberadaan Badawang / memeniran karena dilihat dari bentuk yang besar dan tinggi dilambangkan dengan manusia yang tubuhnya besar dan tinggi ( identik dengan orang Barat yang dalam hal ini orang Belanda ) diambil dari kata meneer ( tuan dalam bahasa Belanda) .   

    hampir sama dengan ondel ondel yang di Jakarta di Kabupaten Bandung masih ditampilakan  pada perayaan khitanan, perayaan hari besar seperti 17 Agustus , untuk menyambut pejabat dll. Di Kabupaten Bandung khususnya badawang diambil dari profil dari para pewayangan seperti Semar, cepot, dawala, gareng ditambah tokoh- tokoh bangsawan jaman dahulutokoh asing dan tokoh para pejuang tempo dulu.

    Musik pengiring untuk badawang biasanya mempergunakan jenis musik yang mudah dibawa seperti kesdang, goong, bedug, terompet, dog-dog. seperti daerah Cileunyi alat musik pengiringnya mengambil dari iringan penca silat yaitu padungdung, golempang, jenis lagunya terkadang mengambil lagu- lagu kliningan , dangdut. Di daerah Rancaekek badawang biasanya ditampilkan dengan Benjang yang dilengkapi oleh heleran ( kesenian yang dipakai untuk arak arakan ) kostum pemusik ada yang memperguanakan kostum penca silat dll

Alat Musik Angklung



Angklung menurut mitologi Bali berasal dari kata  "Angk" adalah angka  (=  nada ) dan Lung artinya patah/ hilang . Angklung dapat juga dikatakan nada / laras yang tidak lengkap  sesuai dengan istilah Cumang Kirang ( Bahasa Bali ) yang artinya nada kurang / surupan 4 nada .
    Terciptanya alat musik angklung yang terbuat dari bambu berasal dari pandangan kehidupan masyarakat Sunda yang agraris dengan kehidupan yang bersumber pada makanan pokok berupa padi ( pare ) ini dilahirkan dari mitos pada Nyi Sri  Pohaci sebagai Dewi Sri pemberi kehidupan ( hirup hurip )  perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengelola Pertanian (tetaten) terutama pertanian sawah dan ladang ( huma ) telah melahirkan syair lagu sebagai penghormatan dan persembahan kepada Nyi Sri Pohaci dan sebagai tolak bala agar bercocok tanam mereka tidak mendatangkan malapetaka .
    Dalam perkembangannya lagu-lagu tersebut di iringi dengan bunyi tetabuhan yang terbuat dari batang-batang bambu yang dibuat sederhana  yang kemudian kita kenal dengan nama angklung dan calung
    Dibeberapa Kecamatan Kab Bandung seperti Kecamatan Soreang dan Kecamatan Pangalengan jenis kesenian ini dipergunakan untuk arak-arakan upacara adat Nyungkruk Hulu Wotan  ( menyelusuri hulu sungai ) dimana masyarakat membawa angklung dan dog-dog pergi ke hulu sungai membawa makanan seperti nasi tumpeng, lauk pauk serta membawa sesajen untuk upacara tersebut . Setelah sampai ke hulu sungai diadakan upacara lengkap dengan sesajen dan dupa dan berdoa kepada nenek moyangnya sambil menyembelih kambing hitam sebagai tumbal dan kepala kambing dikubur bersama sesajen dengan dipimpin oleh sesepuh kampung setelah makan bersama maka pulang sambil membunyikan angklung.
 
Angklung yang ada di Kabupaten Bandung terdiri dari 9 yaitu
  1. Singgul
  2. Jongjorang
  3. Ambrug
  4. Ambrug Penerus
  5. Pancer
  6. Pancer Penerus
  7. Engklong
  8. Roel
Jenis Angklung yang ada di Jawa Barat  adalah sebagai berikut
  1. Angklung Baduy
  2. Angklung Dogdog Lojor
  3. Angklung Gubrag
  4. Angklung Badeng
  5. Angklung Buncis
  6. Angklung Bungko
  7. Angklung Soetigna
Sumber www bandungkab go id
Angklung according to Balinese mythology comes from the word "Angk" is a number (= tone) and Lung means broken / missing. Angklung can also be said the tone / barrel incomplete in accordance with the terms Cumang Kirang (Balinese), which means less tone / tone surupan 4.
The creation of a musical instrument made ​​of bamboo angklung comes from the view of the agrarian life of Sundanese people with life originating on the staple food of rice (bitter melon) is born of myth in Sri Nyi Pohaci as Dewi Sri, the giver of life (breathe hurip) Sundanese first reflection in managing agriculture (tetaten) mainly agricultural fields and fields (field for dry rice cultivation) has given birth to poetry and song as a tribute offerings to Nyi Sri Pohaci and as a starting reinforcements to grow crops they do not wreak havoc.
In its development the songs in accompanied by the sound of tetabuhan made ​​of bamboo rods are made simple then we know by name and calung angklung
In some such Bandung District District District District Pangalengan Soreang and this type of art used for ceremonial procession Nyungkruk Wotan Hulu (scour the river) where people bring Angklung and dog-dog went up the river to bring food like rice cone, side dishes and bring offerings for the ceremony. Having reached the river ceremony complete with offerings and incense and pray to their ancestors as a scapegoat while slaughtering a goat's head victimizing and buried with offerings led by village elders after eating with the home as she rang the Angklung.