-

Monday, May 14, 2012

Mengedepankan Ihsan

, Oleh Prof Asep S Muhtadi

Sekurang-kurangnya sebelas kali Allah menggunakan kata “ihsan” dalam Alquran untuk  menyebut perbuatan yang baik. Dua di antaranya memakai “alif-lam”, al-ihsan, yaitu pada surah al-Rahman ayat ke-60 dan surah al-Nahl ayat ke-90. Bila diterjemahkan, keduanya berarti kebaikan atau kebajikan.

Yang pertama Allah menjelaskan: “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” Sedang yang kedua, penjelasan itu berbunyi: ”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan (ihsan), memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemunkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Demikian pula dalam sembilan ayat lainnya, kata “ihsan” diterjemahkan menjadi suatu kebaikan dan perbuatan baik. Bahkan ayat ke-83 dari surah al-Baqarah, “ihsan” digunakan sebagai pengganti kata  berbuat baik kepada kedua orang tua, sebagaimana dalam firman-Nya: “Janganlah kamu menyembah sesuatu selain Allah, dan berbuat baiklah (ihsan) kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.”

Pada ayat tersebut, Allah menyebut “ihsan” sejajar dengan larangan berbuat syirik, perintah berbuat baik kepada orang tua dan kaum kerabat, berbuat baik kepada fakir miskin dan anak-anak yatim, mengucapkan kata-kata yang baik kepada sesama manusia, serta mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Secara sederhana dapat dipahami bahwa konsep “ihsan” adalah sama dan sebangun dengan konsep akhlak, baik akhlak kepada Sang Pencipta, maupun akhlak kepada sesama manusia.

Pendeknya, dapat pula diartikan bahwa faktor “ihsan” harus selalu hadir menyertai seluruh perilaku dan perilaku manusiawi. Ihsan sejatinya menjadi napas dan inspirasi dari keseluruhan amal manusia, bersenyawa dengan jenis pekerjaan dan profesi apapun. Karena itu ihsan adalah juga pengendali motif-motif insani yang mendasari keseluruhan tindakan aktivitas yang dilaluinya setiap saat.

Itulah sebabnya, ketika berdialog dengan Rasulullah, Jibril menempatkan pertanyaan tentang ihsan ini pada urutan terakhir setelah iman dan islam. Ihsan dalam hal ini menjadi dimensi penggenap amal setelah seseorang menyatakan keimanan dan melaksanakan serangkaian ajaran seperti disyariatkan Islam. Ihsan merupakan kekuatan moral yang menyempurnakan setiap tindakan.

Dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi serta budaya masyarakat saat ini, kita perlu menghidupkan kembali spirit ihsan yang mungkin telah mati, sehingga tidak ada lagi kebijakan, program, dan tindakan yang hanya berorientasi pada kepentingan pribadi ataupun kelompok. Semuanya merupakan implementasi pengabdian hanya kepada-Nya untuk mewujudkan kebaikan.

Kita tidak cukup hanya menjadi seorang pemeluk agama. Beragama  saja tidak cukup. Beragama (Islam) itu harus pula diikuti oleh ber-ihsan. Demikianlah, Allah menjelaskan bahwa: ”(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri (ber-Islam) kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan (ber-ihsan), maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS, 2: 112).
   


sumber : www.republika.co.id

Sunday, May 13, 2012

Pemimpin dan Kejujuran

, Oleh: Cucu Surahman MA

Jujur adalah sifat luhur dan terpuji. Sifat ini sangatlah penting ada pada setiap individu, apakah ia rakyat biasa, lebih-lebih sebagai penguasa. Kejujuran seseorang, selain akan mendatangkan ketentraman bagi dirinya, juga akan memberikan keadilan dan ketenangan bagi orang lain. Nabi Saw bersabda: "Maka sesungguhnya jujur adalah ketenangan dan bohong adalah keraguan. (HR. Tirmidzi).

Bertindak jujur memang tidaklah mudah. Apalagi ketika ketamakan duniawi, yang meliputi gengsi, posisi, dan upeti, sudah merasuki diri. Orang seperti ini akan menghalalkan segala cara, termasuk berdusta, demi tercapainya hasrat dan keinginan nafsunya. Demi untuk mendapatkan dunia, orang rela menukar-balikkan fakta. Menukar kebenaran dengan kebohongan, begitu juga sebaliknya.

Hal ini sesuai dengan prediksi Rasulullah Saw.: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, di masa itu para pendusta dibenarkan omongannya sedangkan orang-orang jujur didustakan, di masa itu para pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang terpercaya justru tidak dipercaya, dan pada masa itu muncul Ruwaibidlah, ditanyakan kepada beliau saw. apa itu Ruwaibidlah?  Rasul menjawab: Seorang yang bodoh (yang dipercaya berbicara) tentang masalah rakyat/publik”. (HR. Ibnu Majah).

Kejujuran seorang pemimpin atau pejabat akan menjadi lebih urgen dari orang atau rakyat biasa karena kejujurannya secara positif akan berpengaruh besar terhadap orang banyak, seperti akan terealisasinya pemerataan pembangunan dan kesejahteraan ekonomi. Dan sebaliknya, kebohongan seorang penguasa akan berdampak besar bagi rakyat banyak, tentu dalam bentuknya yang negatif, seperti melonjaknya angka pengangguran dan kemiskinan.

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Saw.: "Senantiasalah kamu berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan membawa ke surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur.

Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Bukhari Muslim).

Karena pentingnya nilai sebuah kejujuran ini, maka Imam Ibnul Qayyim berkata, “Iman asasnya adalah kejujuran dan nifaq asasnya adalah kedustaan.” Hal ini sesuai dengan sebuah hadits Nabi, di mana para sahabat pernah bertanya: "Ya Rasulullah, 'Apakah ada orang beriman yang pendusta?' Beliau menjawab, 'Tidak.’ (HR. Malik).

Dan hadits Nabi yang lain yang menyatakan bahwa dusta merupakan tanda dari kemunafikan. Rasulullah bersabda, “Tanda-tanda orang munafik ada tiga perkara, yaitu apabila berbicara dia dusta, apabila berjanji dia memungkiri dan apabila diberi amanah dia mengkhianati.” (HR. Bukhari).




sumber : www.republika.co.id

Saturday, May 12, 2012

Mengejar Para "Bintang"

, Oleh: Rizqo Kamil Ibrahim *

"Ahad, Ahad" (Allah maha Esa) , ujar bilal bin rabah radiyallahu 'anh mantap di kala punggunggnya dicambuk oleh 'umayyah bin khalaf. Tujuan mereka menyiksa hanya satu: "agar orang–orang yang disiksa berlaku syirik!", namun Bilal bin rabah tetap teguh beriman secara hati dan perkataan.

Tak ayal penyiksaan pun ditambah ,mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad...“ penyiksaan kembali ditambah,  Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad...” Pada akhirnya pertolongan Allah pun datang setelah penyiksaan yang di alami bilal berhari-berhari, Abu bakar radiyallahu 'anhu membeli bilal bin rabah radiyallahu 'anhu dari 'umayyah bin khalaf.

Itulah sekelumit kisah yang menggetarkan jiwa,yang menyirami hati – hati yang kian layu tentang bagaimana gagahnya anak manusia mempertahankan prinsip, yang dicontohkan oleh para "Bintang" .

"Para Bintang"? ya merekalah sahabat nabi shalla llahu 'alaihi wa sallam yang diumpamakan bagaikan bintang  di langit oleh Baginda Rasulullah Shalla 'llahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana sabdanya:
 
“Bintang-bintang adalah penjaga bagi langit. Apabila bintang-bintang itu lenyap maka akan menimpa langit apa yang dijanjikan atasnya (kehancuran). Aku adalah penjaga bagi para Sahabatku. Apabila aku pergi maka akan menimpa mereka apa yang dijanjikan atas mereka. Para Sahabatku juga menjadi penjaga bagi umatku. Apabila para Sahabatku telah pergi maka akan menimpa umatku apa yang dijanjikan atas mereka.” (HR. Muslim)

Ada apa dengan bintang, Sehingga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menyandingkan sahabat Ridwanullah 'alaihim dengannya?  Jawabnya ada dalam Quran, sebagaimana  Firman Allah azza wa jalla:

“Artinya : Sesungguhnya kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan kami jadikan bintang-bintang itu sebagai alat pelempar syaithan, dan kami sediakan bagi mereka siksa yang menyala-nyala” [Al-Mulk : 5]

Di ayat ini Allah menjadikan Bintang sebagai penghias langit yang menjadikan malam teramat indah dengan gelap yang ditemani bintang. Selain penghias, bintang – bintang dijadikan sebagai alat pelempar setan tatkala mencuri pembicaraan.

Demikian juga para sahabat, mereka adalah penghias umat ini, dengan pemahaman, ilmu dan amal mereka. Dan juga Para sahabat merupakan alat pengintai (pelempar) bagi  dakwah ahlul batil, penyelewengan orang-orang yang menyimpang dan sebagainya.

Dan juga firmanNya: “Artinya : Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikan petunjuk dalam kegelapan darat dan laut” [Al-An’am : 97]

Tak ubahnya Bintang di malam hari , Sahabat merupakan petunjuk dari kegelapan syahwat dan pemikran sesat. Barangsiapa berpaling dari pemahaman mereka maka ia tersesat jauh dalam kegelapan yang berlapis-lapis.

Lantas? Sudah saatnya bergegas untuk ziyarah (berkunjung) ke kisah – kisah para sahabat ridwanullah 'alaihim demi mengejar jejak 'para bintang', dan jika tapak kaki sudah berada di jalan mereka, maka Ridho Allah dan Surganya pun menanti.

Allah azza wa jalla berfirman: “Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, dan mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” [At-Taubah : 100]

Wallahu ta'ala a'lam

*penulis sedang melanjutkan studi di Universitas Islam Madinah


sumber : www.republika.co.id

Shalat Sepanjang Hayat

,  Oleh: Dr HM Harry Mulya Zein
 
“Dan orang orang-orang yang menjaga shalatnya. Mereka itu dimuliakan di dalam surga.” (Al-Maarij: 34-35)
 
Shalat menjadi keutamaan dalam Islam. Shalat bukan sebatas ritual wajib lima waktu dan 17 rakaat dalam sehari. Shalat adalah ibadah paling mulia yang diperintahkan Allah Swt kepada umat manusia agar terhindar dari perbuatan keji dan munkar.

Karena itu, yang terpenting dalam shalat bukan sebatas melaksanakan, tetapi mendirikan. Melaksanakan sebatas mengerjakan ritual keagamaan tanpa memiliki kesadaran dan pemahaman mendalam terhadap makna shalat. Mendirikan dibangun dengan landasan kesadaran akan dekatnya Allah Swt.

Kesadaran membangkitkan kecintaan dalam menjalankan perintah-perintah Allah Swt dan menjauhi larangan-Nya. Jadi Quran surah Al-Ankabut ayat 45 berbunyi “Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar,” benar-benar meresap ke dalam hati.

Dari sini diketahui bahwa perintah shalat bukan hanya sekadar melakukan gerakannya saja, melainkan lebih dari itu. Benar shalat adalah gerakan badan dan bacaan yang tertentu terdiri dari berdiri, duduk, ruku, sujud, tasbih, tahmid dan sebagainya. Akan tetapi yang mendatangkan pahala adalah yang mendirikan shalat disertai kehadiran hati di dalamnya.

Ini yang membedakan antara orang-orang melakukan shalat. Meski zhahirnya gerakan-gerakan dan waktunya sama tetapi ia akan berbeda dan bertingkat-tingkat di dalam menghadirkan hati dan kekhusyukan.

Di dalam mendirikan shalat terdapat pemenuhan terhadap naluri manusia yaitu butuh, lemah, suka meminta, mengharapkan perlindungan, berdoa, munajat dan menyerahkan segala urusan kepada yang lebih kuat, penyayang, penyantun dan lebih sempurna.

Alquran secara tegas memerintahkan seseorang untuk selalu minta pertolongan di antaranya adalah dengan shalat. Hal ini dapat dilihat pada firman Allah Swt Quran surah Al Baqarah ayat 45,  “Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya ia sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu”.

Ayat ini berbicara mengenai sifat dan keadaan manusia yang memiliki sifat cepat berkeluh-kesah. Ketika mendapatkan keburukan dan kebaikan selalu ada respon negatif. Tetapi ada di antara manusia yang dikecualikan oleh Allah yaitu orang-orang yang shalat.

Shalat juga menjadi bukti nyata akan kesyukuran dan penghambaan diri kepada-Nya. Oleh karena itu orang yang mendirikan shalat bagaikan ikan yang tidak bisa hidup kecuali di dalam air, maka apabila ia keluar dari air ia sangat membutuhkannya dan ingin sekali lari kembali ke dalamnya.

Betapa banyak dan besar urgensi shalat yang disebutkan dalam Quran. Dalam berbagai ayatnya, Quran telah menerangkan keutamaan dan buah yang akan didapatkan dari shalat seperti pahala bagi yang mendirikan dan siksaan terhadap yang meninggalkannya. Dalam beberapa referensi, Quran juga menegaskan shalat memiliki ruh dan esensi yang harus direalisir sehingga seorang manusia mampu hidup dengan shalat dan shalat hidup dengannya. Sehingga sepanjang hayat hidup bershalatlah.
 


sumber : www.republika.co.id

Friday, May 11, 2012

Shalat Sepanjang Hayat

,  Oleh: Dr HM Harry Mulya Zein
 
“Dan orang orang-orang yang menjaga shalatnya. Mereka itu dimuliakan di dalam surga.” (Al-Maarij: 34-35)
 
Shalat menjadi keutamaan dalam Islam. Shalat bukan sebatas ritual wajib lima waktu dan 17 rakaat dalam sehari. Shalat adalah ibadah paling mulia yang diperintahkan Allah Swt kepada umat manusia agar terhindar dari perbuatan keji dan munkar.

Karena itu, yang terpenting dalam shalat bukan sebatas melaksanakan, tetapi mendirikan. Melaksanakan sebatas mengerjakan ritual keagamaan tanpa memiliki kesadaran dan pemahaman mendalam terhadap makna shalat. Mendirikan dibangun dengan landasan kesadaran akan dekatnya Allah Swt.

Kesadaran membangkitkan kecintaan dalam menjalankan perintah-perintah Allah Swt dan menjauhi larangan-Nya. Jadi Quran surah Al-Ankabut ayat 45 berbunyi “Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar,” benar-benar meresap ke dalam hati.

Dari sini diketahui bahwa perintah shalat bukan hanya sekadar melakukan gerakannya saja, melainkan lebih dari itu. Benar shalat adalah gerakan badan dan bacaan yang tertentu terdiri dari berdiri, duduk, ruku, sujud, tasbih, tahmid dan sebagainya. Akan tetapi yang mendatangkan pahala adalah yang mendirikan shalat disertai kehadiran hati di dalamnya.

Ini yang membedakan antara orang-orang melakukan shalat. Meski zhahirnya gerakan-gerakan dan waktunya sama tetapi ia akan berbeda dan bertingkat-tingkat di dalam menghadirkan hati dan kekhusyukan.

Di dalam mendirikan shalat terdapat pemenuhan terhadap naluri manusia yaitu butuh, lemah, suka meminta, mengharapkan perlindungan, berdoa, munajat dan menyerahkan segala urusan kepada yang lebih kuat, penyayang, penyantun dan lebih sempurna.

Alquran secara tegas memerintahkan seseorang untuk selalu minta pertolongan di antaranya adalah dengan shalat. Hal ini dapat dilihat pada firman Allah Swt Quran surah Al Baqarah ayat 45,  “Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya ia sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu”.

Ayat ini berbicara mengenai sifat dan keadaan manusia yang memiliki sifat cepat berkeluh-kesah. Ketika mendapatkan keburukan dan kebaikan selalu ada respon negatif. Tetapi ada di antara manusia yang dikecualikan oleh Allah yaitu orang-orang yang shalat.

Shalat juga menjadi bukti nyata akan kesyukuran dan penghambaan diri kepada-Nya. Oleh karena itu orang yang mendirikan shalat bagaikan ikan yang tidak bisa hidup kecuali di dalam air, maka apabila ia keluar dari air ia sangat membutuhkannya dan ingin sekali lari kembali ke dalamnya.

Betapa banyak dan besar urgensi shalat yang disebutkan dalam Quran. Dalam berbagai ayatnya, Quran telah menerangkan keutamaan dan buah yang akan didapatkan dari shalat seperti pahala bagi yang mendirikan dan siksaan terhadap yang meninggalkannya. Dalam beberapa referensi, Quran juga menegaskan shalat memiliki ruh dan esensi yang harus direalisir sehingga seorang manusia mampu hidup dengan shalat dan shalat hidup dengannya. Sehingga sepanjang hayat hidup bershalatlah.
 


sumber : www.republika.co.id

Thursday, May 10, 2012

Wahai Umat Islam, Bangkitlah!

Oleh: Ustadz Toto Tasmara

Air mata mengalir dari jiwa yang merintih. Nurani tercabik, terkoyak tersayat pedih, menyaksikan keadaan umat yang seakan kehilangan kesadaran perjuangan untuk meneruskan warisan suci ini—risalatul nabawiyyah yang mengibarkan panji–panji cinta rahmatan lil alamin. Umat bagaikan berada di negeri yang asing.

Semangat berjamaah, dimaksudkan untuk mengutamakan cinta kasih penuh persaudaraan di tengah-tengah perbedaan. Tanpa semangat itu, demokrasi akan menjadi anarki, dan mazhab menjadi tuhan. Orang-orang kuat akan menjadi serigala yang siap memangsa orang lemah dan dilemahkan.

Naiklah ke puncak-puncak peradaban masa lalu. Ambil dan reguklah hikmahnya, niscaya akan kita dapati betapa jauhnya kita dari jalan nubuwwah (kenabian). Kita adalah umat raksasa yang berjalan dalam kegelapan kehilangan pemandunya.

Umat kehilangan tangan dan tak mampu lagi mengubah peradaban manusia. Bahkan kehilangan keberanian untuk menampakkan kemuliaan akhlak. Karena masing-masing diantara kita telah memadamkan pelita jiwa persaudaraan, membuang semen perekat yang akan merakit bangunan kemuliaan akhlak.

Saat ini, umat Islam bagaikan terlena dalam gemuruh ornamental atau hiasan duniawi yang diimpor dari pusat-pusat pergerakan non-Muslim. Sumber daya alam yang melimpah telah digadaikan. Karena kebodohan dan etos kerja yang lemah. Jiwa kita dirasuki khayalan-khayalan yang menjerumuskan pada kenikmatan yang sesaat.

Persis seperti yang diuntai sebuah peribahasa. “Naharuka ya maghrus sahwun wa ghoflatun wa lailuka naumun warroda laka lazim.” (Siang hari kamu lupa bekerja dan lalai, wahai orang yang tertipu. Sedangkan malam hari kamu lelap tertidur merenda mimpi merajut khayal—sungguh celaka tak terelakkan).

Perutmu kenyang, sedangkan tepat di sekitar rumah istanamu ada sepenggal hati yang merintih kelaparan. Bibirmu bergetar menghapalkan ayat dan nilai persaudaraan, padahal jiwamu penuh dengan egoisme dan permusuhan.

Kalau saja umat Islam terjaga dari tidurnya, niscaya mereka memahami makna akidah sebagai keberpihakan penuh (kaffah). Mulai dari niat, bersikap dan bersiasat haruslah berpihak pada Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman, "Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali agama Allah dan janganlah kamu bercerai berai... " (QS. Ali Imran: 103).

Qum fa andzir, bangunlah dari mimpimu! Berhentilah berkeluh kesah mencaci maki kegelapan. Lebih baik engkau menyalakan pelita yang mungkin berguna bagi mereka yang mencari pengharapan. Tebarkan iman dengan cinta, ubahlah dunia dengan prestasi. Jadikan hidupmu penuh arti. Dan bila sudah punya arti, bolehlah bersiap untuk mati. Dan bila datang hari perjumpaan, basahkan bibirmu mengucap puji Ilahi Rabbi; Laa ilaha illallah!


sumber : www.republika.co.id

Wednesday, May 09, 2012

Membuka Pintu Rezeki

Oleh: Fauzi Bahreisy

Allah SWT telah menyiapkan segala kebutuhan manusia; bahkan semua kebutuhan makhluk-Nya. Tidak ada satu pun makhluk kecuali telah Allah siapkan dan Allah sediakan apa yang menjadi keperluan dan kebutuhan hidupnya.

Yang diperlukan adalah upaya dan usaha untuk menjemput rezeki tersebut dengan cara yang Dia gariskan. Dalam hal ini Allah telah menggariskan sejumlah pintu bagi manusia untuk memperoleh rezeki yang halal dan barakah.

Seorang Muslim tidak boleh berdiam diri, berpangku tangan, dan ongkang-ongkang kaki. Tidak boleh dengan alasan ingin fokus beribadah ia malas bekerja dan mencari nafkah untuk keluarganya. Tidak boleh pula dengan alasan tawakkal ia hanya berdiam diri menunggu datangnya rezeki.

Allah menjamin rezeki makhluk; apalagi rezeki manusia. Hanya saja, Allah juga telah mewajibkan manusia untuk bekerja dan berupaya memburunya. Meminta-minta dan mengemis kepada orang, sementara diri masih kuat dan mampu bekerja adalah aib yang sangat dicela dalam agama. Sebaliknya siapa yang mau bekerja dan memergunakan potensi yang Allah berikan padanya, ia akan mendapat apresiasi di sisi-Nya.

“Siapa yang mencari nafkah halal guna menjaga dirinya dari meminta-minta, guna memenuhi kebutuhan keluarga, serta guna berbagi dengan tetangga, maka ia datang pada hari kiamat dengan wajah laksana bulan di malam purnama.” (HR Thabrani).

Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan kepada siapa pun yang ingin menunjukkan tawakalnya kepada Allah dengan melihat kepada burung yang terbang berusaha untuk mendapatkan rezeki-Nya. “Andaikan kalian bertawakkal kepada Allah secara benar, tentu Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung. Burung pergi (terbang) di waktu pagi dalam kondisi perut kosong, dan kembali dengan perut yang kenyang.” (HR Tirmidzi).
 
Beriman dan bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. “Andaikan penduduk negeri beriman dan bertakwa, tentu Kami bukakan untuk mereka pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96).
 
Selanjutnya beristighfar. Cara yang mudah, namun membutuhkan keyakinan dan keimanan yang kuat adalah beristighfar dan meminta ampunan-Nya. “Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dia akan membanyakkan harta dan anak-anakmu. Serta Dia akan menghadirkan untukmu kebun-kebun dan sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12).
 
Kemudian memperbanyak sedekah. Bersedekah tidak akan mengurangi harta, sebaliknya ia akan bertambah. Karena yang demikian itu akan menjaga dan memancing turunnya rezeki Allah. “Tidak berkurang harta karena sedekah.” (HR Tirmidzi).

Berikutnya adalah bersilaturahim. “Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan (diberkahi) usianya, hendaknya menyambung tali silaturahim.” (HR Muslim).

Dan yang terakhir adalah memperbanyak doa kepada Allah. Doa adalah senjata orang beriman. Manusia adalah makhluk yang terbatas dan Allah yang memiliki kekuasaan Maha Luas. Dengan berdoa, maka itu menunjukkan kelemahan kita untuk meminta pertolongan kepada Allah.


sumber : www.republika.co.id

Monday, May 07, 2012

Berbuat Ihsan

Oleh: Imam Nawawi

Kehidupan dunia hakikatnya adalah ujian bagi setiap diri untuk mengetahui secara pasti siapa di antara kita yang terbaik amalan hidupnya (QS Al-Mulk : 2).

Siapa yang tidak ingin mendapat predikat terbaik di hadapan Allah SWT, tentu semua orang beriman sangat mendambakannya. Tetapi perlu diingat, bahwa berbuat yang terbaik menurut Allah SWT hanya bisa dilakukan oleh setiap Muslim yang mampu melakukan amalan-amalan ihsan. Oleh karena itu, mari hiasi diri kita dengan banyak melakukan amalan-amalan terbaik itu (ihsan).

Dalam Islam, gradasi ihsan berada di atas Islam dan iman. Oleh karena itu, seorang Muslim yang mampu berbuat ihsan adalah Muslim yang sangat mulia di hadapan Allah SWT.

Rasulullah SAW pernah ditanya oleh Malaikat Jibril terkait arti ihsan. Rasulullah SAW menjawab, “Ihsan itu adalah kalian menyembah kepada Allah seakan-akan kalian melihat-Nya, kalaupun kalian tidak bisa melihat-Nya maka ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Melihat (apa yang kalian kerjakan).”

Artinya, setiap Muslim diperintahkan berupaya melakukan amalan-amalan terbaik yang dikehendaki Allah SWT dalam situasi dan kondisi apa pun. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam kehidupan beliau menyeru umat manusia untuk bertauhid kepada Allah SWT.

Tatkala Rasulullah SAW dihina, dicaci maki, dan dimusuhi oleh kaum kafir Quraisy beliau sedikit pun tidak memiliki rasa dendam kepada mereka. Bahkan, sekiranya ada kesempatan berbuat baik kepada mereka yang telah menghina dan membecinya itu, Rasulullah SAW akan selalu berusaha menjadi yang pertama melakukannya.

Seperti sebuah riwayat yang menuturkan bahwa dahulu ada seorang kafir Quraisy yang selalu meludahi Rasulullah SAW tatkala beliau lewat di depan rumahnya menuju Ka’bah. Peristiwa itu berlangsung setiap saat ketika Rasulullah SAW melintasi rumah orang kafir itu.

Suatu ketika Rasulullah SAW melintas seperti biasanya, tetapi saat itu tidak ada ludah yang mendarat di wajah beliau. Sekembali dari ibadah Rasulullah SAW mencari tahu di mana gerangan orang yang suka meludahinya itu berada.

Ketika mendengar orang itu sakit, Rasulullah SAW bergegas menjenguk orang yang sangat membencinya itu. Sang kafir itu pun terenyuh, bingung, sekaligus bahagia tatkala melihat Rasulullah SAW datang menjenguknya. Di luar dugaan, orang yang awalnya sangat membenci Rasulullah seketika menjadi sangat cinta kepadanya.

Dalam Tafsir Fath Al-Qadir, Imam Al-Syaukani menuturkan bahwa suatu ketika Nabi Isa pernah ditanya tentang pengertian ihsan. Nabi Isa menjawab, “Bukanlah perbuatan itu disebut ihsan jika kalian membalas kebaikan orang yang berbuat baik kepadamu, tapi ihsan itu adalah ketika kalian mampu berbuat baik justru kepada orang yang berbuat jahat kepadamu.

Oleh karenanya, hendaklah setiap diri bermujahadah (bersungguh-sungguh) untuk mampu mengerjakan amalan-amalan baik (ihsan) atau melakukan perkara-perakara yang terbaik (ahsanu amala). Niscaya Allah akan memberikan jalan-jalan kemudahan dan Allah akan selalu menyertai kehdiupan kita (QS. Al-Ankabuut: 69).


sumber : www.republika.co.id

Sunday, May 06, 2012

Memetik Hikmah dari Setiap Kejadian

,  Oleh: Hannan Putra Lc

Orang yang cerdas lagi kreatif dapat mengubah kerugian menjadi keuntungan. Sedang orang yang bodoh lagi nervous akan membuat suatu musibah yang menimpa diri menjadi dua musibah, ibarat pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga pula.”


Rasulullah SAW diusir dari Makkah. Ternyata di Madinah, beliau dapat mendirikan sebuah negeri yang memenuhi lembaran sejarah keberhasilan dan kecemerlangannya.

Ahmad bin Hambal dipenjara dan dihukum cambuk, setelah itu jadilah ia pemimpin ulama sunnah.

Ibnu Taimiyah dipenjara, namun setelah keluar dari tahanannya ia menjadi seorang ulama.

Al-Sarkhasi disekap di dasar sumur yang tidak dipakai lagi. Di sanalah ia dapat menulis dua puluh jilid buku dalam ilmu fiqih.

Ibnu Atsir menghabiskan masa pensiunnya menulis Kitab Jam’ul Ushul dan An-Nihayah yang keduanya merupakan kitab Hadits yang paling terkenal dan paling bermanfaat.

Ibnul Jauzi diasingkan dari Baghdad, ia pun memanfaatkan waktu itu dengan menulis tajwid tentang Qiroat Sab’ah.

Malik bin Raib terserang demam yang membawa kepada kematiannya, maka dalam masa sakitnya itu ia menggubah qasidahnya yang indah lagi terkenal di kalangan semua orang, sehingga ketenaran dan keindahannya memadai diwan-diwan para penyair kondang pada masa pemerintahan Khalifah ‘Abbasiyyah.

Demikian juga Abu Dzuaib Al-Hudzali (penyair jahiliyyah) ketika kelima anaknya meninggal dunia di Madinah. Ia terus meratapinya dengan menuangkan eposnya tersebut dalam suatu qasidah yang membuat dunia mendengarkannya penuh perhatian, banyak orang terperangah kagum akan keindahannya, dan sejarah mengacungkan jempol kepadanya.

Masih banyak lagi contoh inspiratif yang terjadi diberbagai belahan dunia ini jika kita mau mengambil ibrah. Kadangkala, Jika kita terbentur suatu musibah, kita larut dalam musibah tersebut tanpa melihat sisi cerahnya.

Ibaratnya, jika kita dapati segelas minuman lemon, bubuhkanlah padanya sesendok gula. Jika kita diserang seekor ular, ambil saja kulitnya yang berharga dan buanglah yang lainnya. Atau jika disengat oleh kalajengking, ketahuilah bahwa racunnya mengandung serum yang ampuh untuk melawan racun ular berbisa.

Demikianlah orang cerdas yang mampu mengadaptasikan dirinya dengan lingkungan yang keras agar ia dapat mengeluarkan darinya buat kita bunga mawar dan bunga melati yang indah lagi harum.

Sebagaimana Firman Allah SWT, “Boleh jadi kalian mem­benci sesuatu, padahal itu lebih baik bagi kalian. ”(QS Al-Baqarah: 161).

Kerajaan Prancis sebelum masa revolusinya yang dahsyat pernah menahan dua orang penyair ulung mereka, salah seorang­nya bersifat optimistis, sedang yang lain bersifat pesimistis. Keduanya mengeluarkan kepalanya masing-masing dari jendela penjara.

Adapun yang bersifat optimistis, maka ia menatapkan pandangannya ke arah bintang-bintang, lalu tertawa, sedang yang pesimistis memandang ke bawah melihat tanah yang ada di jalan sebelah penjaranya, lalu menangis.

Pandanglah sisi lain dari tragedi yang menimpa diri, karena sesungguhnya keburukan yang murni itu tidak ada ujudnya. Bahkan yang ada di sana adalah kebaikan, penghasilan, kemudahan, dan pahala.


sumber : www.republika.co.id

Saturday, May 05, 2012

Bahagia dan Nestapa

SALAH satu sunnatullah adalah Allah SWT menciptakan segala sesuatu berpasangan. Di antara pasangan tersebut adalah bahagia (sandun) yang berpasangan dengan nestapa (syaqiyyun).

Pasangan ini secara eksplisit disebutkan dalam Q.S. Hud ayat 105. Kelompok yang masuk dalam sandun disebut ahl al-sabdah, sedangkan mereka yang berada dalam syaqiyyun dikenal dengan ahl al-syaqawah.

Banyak rujukan terkait ahl al-sabdah dan ahl al-syaqawah. Pada umumnya deskripsi tersebut membagi secara periodik, yakni bahagia di dunia (al-sabdah fi al-dunya) dan bahagia kelak di akhirat (al-sabdah fi al-bkhitat). Demikian juga ada nestapa di dunia (al-syaqawah fi al-dunya) dan nestapa akhirat (al-syaqawah fi al-bkhitat).

Dalam salah satu hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari AbuHurairah yang dikutip Ali Ashobuniy dalam bukunya Min Kunz al-Sunnah, para pemenang kebahagiaan akhirat dibagi ke dalam 7 kelompok.

Pertama, pemimpin yang adil. Baik pemimpin formal maupun informal dalam skala global maupun lokal.

Kedua, anak muda yang tumbuh dan berkembang besar dengan kualitas ibadah yang baik. Secara jelas, dalam hadis ini, Rasulullah menyebut kata pemuda. Karena masa muda, pada umumnya, penuh dengan gejolak dan tendensi untuk berafiliasi pada hal yang menyimpang. Meskipun tidak bearti kalau usia tua akan selalu cenderung pada kebaikan.

Ketiga, pribadi yang hatinya memiliki perhatian dan kepedulian terhadap masjid. Peduli terhadap kemakmurannya, peduli terhadap pengembangan jamaahnya, dan yang paling utama semua aktivitasnya bernapaskan semangat kemasjidan.

Keempat, dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka meletakkan pertemuan dan perpisahan di atas dasar karena Allah. Hal ini tentunya dapat dimaknai dalam konteks bangunan cinta antara dua pihak. Antara orangtua dengan anak, suami dengan istri, pemimpin dengan rakyatnya, dan seterusnya.

Kelima, seorang pria yang menolak diajak berbuat asusila oleh wanita, karena takut kepada Allah, walaupun wanita tersebut rupawan dan memiliki satus sosial yang mulia. Dalam beberapa hadis yang lain dijelaskan bahwa wanita adalah fitnah terbesar yang akan menimpa kaum laki-laki sepeninggal Rasulullah.

Keenam, seseorang yang bersedekah secara tersembunyi, sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Cara sembunyi-sembunyi ini dilakukan demi menghindari sikap pamer (riya) dan gila sanjungan (sumah). Namun, hal ini bukan berarti sedekah secara terbuka menjadi terlarang, karena jika niat dan motivasinya dakwah atau mengajak orang lain melakukan hal yang serupa adalah hal yang diperbolehkan dalam agama.

Terakhir, seseorang yang senantiasa berzikir kepada Allah dalam keadaan hening sepi hingga berlinang air matanya. Menangis karena takut akan siksa Allah akibat dosa dan khilafnya, meratap karena memohon ampunan dan kasih saying Allah dengan penuh harap. Kelompok ini senantiasa bangun pada saat orang lain dimanjakan tidur, terjaga saat orang lain terlelap.
(Penulis, Dewan Guru Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Ihsan Cibiru Hilir, Kab. Bandung)**
Galamedia
jumat, 27 april 2012 00:48 WIB
Oleh : U. Pathudin Almaarif

Keutamaan Hidup Bertetangga

,  Oleh: Dr HM Harry Mulya Zein
 
"Barang siapa beriman kepada Allah, dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya". (HR Bukhori)

Berbuat baik kepada tetangga menjadi sangat penting dalam ajaran Islam. Hadis di atas menyiratkan bahwa setiap umat Islam diwajibkan untuk terus berbuat baik kepada tetangga dengan menolongnya jika mereka meminta pertolongan, membantunya jika mereka meminta bantuan. Sebagai agama rahmatan lilalamin, dalam berbuat baik kepada tetangga kita diwajibkan untuk tidak memandang dari segi sosial dan suku.

Sebuah firman Allah disebutkan: “Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, keluarga, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga jauh” (QS Al-Nisa (44): 36).

Syekkh Ahmad al-Sadani dalam “Sajian Ruhani Penyejuk Iman (10 resep hidup mulia berdasarkan Al -Quran” menuliskan Sabda Rasulullah SAW: “Tahukan kalian apa hak tetangga? Jika ia meminta bantuanmu, bantulah. Jika ia mendapat musibah hiburlah. Jika ia mendapat kebaikan ucapkanlah selamat keapadanya. Jika ia ditimpa musibah maka hiburlah. Jika ia meninggal maka antarkan jenazahnya.”

Islam memang agama yang luhur dan suci. Keluhuran itu diwujudkan dalam ajaran-ajaran yang suci dan selalu berbuat baik. Sebuah hadis Rasulullah juga melarang jika kita memiliki makanan namun tidak cukup maka tidak boleh dibawa keluar dari rumah, terlebih diperlihatkan ke tetangga.

“Jika kamu membeli buah-buahan hadiahkanlah sebagian kepadanya. Jika tidak mungkin menghadiahkan sebagiannya bawalah masuk buah-buahan itu ke rumahmu secara diam-diam. Jangan biarkan anakmu membawa buahnya itu keluar sehingga anak tetanggamu menangis karena menginginkannya. Apakah kalian memahami apa yang aku katakan? Hanya segelitir orang yang dapat memenuhi hak tetangga yaitu mereka yang dirahmati Allah.”

Begitu tinggi nilai-nilai Islam mengajarkan penganutnya untuk memanusiakan tetangga, siapapun mereka. Untuk mengangkat derajat tetanga. Apapun agama mereka. Sebagai contoh, Islam menganjurkan kepada kita untuk tidak membangun rumah lebih tinggi daripada rumah tetangga sehingga menutup lubang udara kecuali atas izinnya dan tidak mengganggunya dengan bau kotoranmu, tetapi hendaklah kita membuangnya.

Dalam sebuah kisah yang ditulis dalam Kitba Al-Kaba’ir tentang Malik bin Dinar, tokoh sufi. Pada kisah itu ditulis Malik bin Dinar memiliki tetangga seorang Yahudi. Orang Yahudi itu membuat kamar mandi bersebelahan dengan dinding kamar mandi tidur Malik bin Dinar.

Dinding kamar mandi itu rusak sehingga setiap hari kotoran dan najis masuk ke dalam rumah Malik bin Dinar. Setiap hari pula Malik bin Dinar membersihkan rumahnya dan tidak pernah mengatakan apa pun kepada tetangganya.

Akhirnya tetangga itu mengetahui sehingga merasa bersalah lalu mendatangi Malik dan berkata, “Aku telah sering mengganggumu, tapi mengapa kamu bersabar?”

Malik bin Dinar menjawab, “Karena Nabi SAW, berwasiat kepada kami tentang tetangga sehingga kami mengira bahwa tetangga berhak mendapat waris.” orang Yahudi itu akhirnya masuk Islam dan sangat taat.


sumber : www.republika.co.id

Friday, May 04, 2012

Linggarjati Kuningan Historical Tourism

BERADA di atas ketinggian 400 meter di atas permukaan laut atau di kaki Gunung Ciremai, Cilimus, Kab. Kuningan, Linggarjati bukan hanya dikenal karena keindahan panorama alamnya. Namun, objek wisata yang satu ini dikenal pula karena sejarahnya.

Sebab di tempat inilah dilakukan Perundingan Linggarjati antara pemerintah Republik Indonesia dengan kolonial Belanda pada 15 November 1946. Sebuah diorama yang menggambarkan posisi duduk para peserta Perundingan Linggarjati, baik yang mewakili pemerintah kolonial Belanda maupun mewakili pemerintah Republik Indonesia, masih tersaji apik di objek wisata ini.

Delegasi Indonesia ketika itu diwakili Sutan Sjahrir, Mr. Soesanto Tirtoprodjo, Dr. A.K. Gani, dan Mr. Muhammad Roem. Sedangkan wakil pemerintah kolonial Belanda yaitu Prof. Ir. Schermerhorn, Mr. Van Poll, Dr. F. DeBoer, dan Dr. Van Mook. Gedung Perundingan Linggarjati ini luasnya sekitar 800 m2, yang dibangun di atas lahan seluas 2,4 ha.

Diorama itu hingga sekarang masih tetap terjaga, atau sesuai dengan kondisi yang terjadi sebenarnya. Tentu saja ini sangat menarik, terutama jika dikaitkan dengan bukti sejarah, kalau dulu Linggarjati ikut memberikan warna bagi proses perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

Gedung Perundingan Linggarjati pada awalnya adalah sebuah gubuk milik Ibu Jasitem, seorang janda cantik. Ia diperistri Tersana, seorang keturunan Belanda pada tahun 1921, dan rumah itu lalu dipugar menjadi rumah semipermanen oleh Tersana.

Pada 1930 bangunan ini dibeli oleh keluarga Johanes Van Ost Dome, yang merombaknya sehingga bangunannya berbentuk seperti sekarang ini. Pada tahun 1935-1946, bangunan ini dikontrak Heiker dan dijadikan hotel yang bernama Rus "Toord", yang berganti nama menjadi Hotel Hokay Ryokan semasa pendudukan Jepang, dan berganti menjadi Hotel Merdeka setelah Proklamasi Kemerdekaan RI.

Di halaman bawah Gedung Perundingan Linggarjati, terdapat mural yang menggambarkan ketua delegasi kedua belah pihak saling berjabat tangan, disaksikan oleh Lord Killearn (utusan khusus Kerajaan Inggris untuk wilayah Asia Tenggara, berkedudukan di Singapura) sebagai mediator.

Uniknya dari kawasan ini, para pengunjung dapat melihat areal kawasan wisata Sangkahurip, yang merupakan salah satu tempat pemandian air panas cukup terkenal di Kab. Kuningan. Karena berada di kaki Gunung Ciremai, praktis Linggarjati berudara agak sejuk dibandingkan Sangkahurip.

Dari kawasan Linggarjati, para pengunjung juga dapat menikmati keindahan Gunung Ciremai. Tampak dari kejauhan gunung tertinggi di Jawa Barat ini terlihat sangat anggun dan indah dipandang mata, terutama bila melihatnya saat cuaca sedang cerah. Di Linggarjati terdapat kolam renang, sepeda air, mainan anak-anak, vila/cottage, aula gedung pertemuan, restoran, perkemahan dan outbound.

Linggarjati dapat dikatakan sebagai tempat rekreasi yang sangat lengkap dengan lingkungan yang sangat sejuk, rindang dan asri. Konfigurasi umum lahan taman rekreasi ini berbukit-bukit, dengan kemiringan lahan agak curam, stabilitas tanah sedang, dan daya serap tanah baik, serta kualitas lingkungan cukup. Di daerah ini terdapat tumbuh-tumbuhan tropis berhawa sejuk cocok untuk perkemahan.

Aktivitas yang dapat dilakukan di taman rekreasi di Linggarjati adalah berenang, menikmati pemandangan dan berjalan-jalan di sekitar taman dan lainnya, serta kebersihan yang selalu dijaga.

Untuk menuju ke taman rekreasi Linggarjati, dapat menggunakan kendaraan pribadi dengan menempuh jarak 2 km dari Kec. Cilimus. Selain itu juga dapat menggunakan angkutan kota dengan jurusan Cipanas-Tarogong atau ojek. Adapun kondisi jalan menuju kawasan Linggarjati melalui Cibeureum, juga sangat mengesankan pemandangannya. So, kalau ke Kuningan atau Cirebon, jangan lupa mampir ya ke Linggarjati.
sabtu, 21 april 2012 01:14 WIB
(efrie ch./"GM")**

Thursday, May 03, 2012

Dampak Kenaikan DP Kredit Kendaraan Bermotor

SEPERTI yang kita ketahui, untuk mendapatkan kendaraan bermotor baru khususnya untuk sepeda motor sangatlah mudah. Dengan DP (down payment) atau uang muka yang sangatlah rendah sekitar Rp 500.000 saja kita sudah bisa membawa pulang sebuah sepeda motor baru dari dealer. Selain uang muka yang rendah syarat lain pun tidak ribet dan mudah dipenuhi seperti fotokopi KTP, KK, slip gaji, dan rekening listrik. Karena mudahnya persyaratan dan rendahnya uang muka menyebabkan tingginya permintaan kredit kendaraan bermotor (KKB), banyak orang berpenghasilan rendah dapat membeli motor baru. Sangat menyenangkan bagi konsumen tampaknya, tetapi apakah kalian tau sebenarnya hal tersebut penuh resiko? Salah satunya adalah kredit macet. Ya, banyak kasus gagal bayar kredit dimana para debitur (yang melakukan kredit) tidak bisa membayar angsuran dan akhirnya terjadi penarikan sepeda motor.

Sayangnya masa-masa menyenangkan bagi para pengkredit kendaraan bermotor akan segera usai, dikarenakan Bank Indonesia resmi mengeluarkan Surat Edaran Ekstern Nomor 14/10/DPNP pada tanggal 15 Maret 2012 tentang Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit Pemilikan Rumah dan Kredit Kendaraan Bermotor. Mengapa BI perlu mengeluarkan aturan seperti itu? Dan apakah dengan adanya peraturan seperti itu dapat menurunkan tingkat konsumsi KKB pada masyarakat?

Sejalan dengan semakin meningkatnya permintaan KKB, BI perlu meningkatkan kehati-hatian dalam penyaluran KKB karena pertumbuhan KKB yang terlalu tinggi berpotensi menimbulkan berbagai Risiko bagi Bank. BI juga mengkhawatirkan meledaknya kredit kendaraan bermotor akan mendorong terjadinya gelembung (bubble) ekonomi, selain itu agar tetap dapat menjaga perekonomian yang produktif dan mampu menghadapi tantangan sektor keuangan dimasa yang akan datang, perlu adanya kebijakan yang dapat memperkuat ketahanan sektor keuangan untuk meminimalisir sumber-sumber kerawanan yang dapat timbul, termasuk pertumbuhan KKB yang berlebihan. Untuk itu, karena rendahnya uang muka yang harus disetorkan calon konsumen, BI mengkaji syarat besaran uang muka yang selama ini di kisaran 10-20 persen. Kebijakan tersebut dilakukan melalui penetapan besaran Down Payment (DP) untuk KKB. Berikut merupakan pengaturan yang dikeluarkan BI mengenai uang muka atau DP untuk KKB:

1. DP paling rendah 25% untuk pembelian kendaraan bermotor roda dua.

2. DP paling rendah 30% untuk pembelian kendaraan bermotor roda empat untuk keperluan non produktif.

3. DP paling rendah 20% untuk pembelian kendaraan bermotor roda empat atau lebih untuk keperluan produktif, yaitu bila memenuhi syarat:

a. Merupakan kendaraan angkutan orang atau barang yang memiliki izin yang dikeluarkan oleh pihak berwenang untuk melakukan kegiatan usaha tertentu, atau

b. Diajukan oleh perorangan atau badan hukum yang memiliki izin usaha tertentu yang dikeluarkan oleh pihak berwenang dan digunakan untuk mendukung kegiatan operasional usaha yang dimiliki.

Dilihat dari sudut pandang konsumen peminat KKB, peraturan baru tersebut memberikan dampak langsung bagi konsumen seperti penurunan daya beli. Bagi mereka yang berpenghasilan pas-pasan yang ingin membeli kendaraan dengan cara kredit harus memakan waktu lebih lama menyisihkan uang untuk membayar DP. Belum lagi dalam waktu pengumpulan uang untuk DP misalnya terjadi inflasi, sehingga harga kendaraan tersebut menjadi naik. Dengan demikian perlu waktu yang semakin lama lagi dan perlu semakin giat lagi untuk mengumpulkan uang muka. Sedangkan dilihat dari sudut pandang produsen kendaraan bermotor, peraturan tersebut juga berdampak bagi produsen. Mengapa? Karena uang muka yang tinggi menyebabkan daya beli masyarakat akan KKB semakin menurun, sehingga dampaknya bagi produsen penjualan pun akan ikut menurun.

Walaupun adanya peraturan yang dikeluarkan BI ini berdampak bagi konsumen dan produsen kendaraan bermotor, tetapi tentu saja ada tujuan yang ingin disampaikan di balik peraturan tersebut. Salah satunya adalah untuk mengurangi resiko kredit yang dampaknya bisa mengganggu kestabilan ekonomi, serta memperlambat laju kredit yang bersifat konsumtif. Kita dapat mengambil sisi positif dari adanya peraturan tersebut, seperti untuk mengurangi populasi kendaraan bermotor di Indonesia yang sama-sama kita ketahui bahwa selama ini peningkatan populasi kendaraan bermotor semakin tak terkendali sedangkan tidak seimbang dengan infrastruktur yang ada sehingga menyebabkan kemacetan. Mungkin peraturan ini mampu membantu menyumbang sedikitnya untuk mengatasi kemacetan yang ada dengan pengurangan populasi kendaraan bermotor.
(Penulis, adalah mahasiswa Institut Manajemen Telkom)**
Galamedia
jumat, 27 april 2012 01:45 WIB
Oleh : MAYNINA NORSHELA

Tuesday, May 01, 2012

Cara Memasak Nasi Liwet Spesial


 

Bahan ;
 
1 liter beras,cuci

1 ruas jari kunyit

3 buah bawang merah,iris

2 buah cabe merah

1 bungkus perasa ayam

2 sendok makan minyak sayur

4 lembar daun salam

Garam dan penyedap rasa secukupnya

Cara memasaknya;

1. Masak beras yang sudah dicuci,dalam wajan/tempat yang ada di gambar(kalau orang sunda sih nyebutnya tomo he..he)

2.Campurkan irisan bawang merah,penyedap rasa,perasa ayam dan daun salam

3.Haluskan kunyit dan cabe merah,masukan kedalam beras tadi.Masukan juga minyak sayur agar nasi tidak lengket,aduk sebentar

4.Diamkan hingga airnya habis,jangan di aduk.lapisi daun pisang sebelum ditutupTutup rapat rapat,masak  dengan api kecil.Biarkan hingga nasi matang,lalu angkat.Hidangkan dengan sambal terasi,lalap dan ikan peda.Gampang kan?Selamat mencoba…