-

Tuesday, December 11, 2012

Manajemen Lebah

Rasulullah SAW mengumpamakan Muslim itu seperti lebah. "Mukmin itu bagaikan lebah. Jika hinggap pada tanaman berbunga, ia memakan sarinya yang baik, tidak mematahkan maupun merusak yang dihinggapinya." (HR Ahmad, Abu Syaibah, dan Thabrani).

Hadis di atas memberi isyarat kuat bahwa setiap Mukmin harus belajar dari manajemen lebah. Setiap Mukmin harus selalu mencari dan mengonsumsi makanan yang halal dan baik (halalan thayyiban) sekaligus tidak membuat kerusakan lingkungan.

Makanan yang halal dan bergizi adalah sumber energi kehidupan yang penuh keberkahan, mendatangkan manfaat, dan memacu produktivitas. Tidak merusak lingkungan berarti bersikap harmoni pada alam, dan selalu berusaha memakmurkan dan menyejahterakan umat manusia di muka bumi. Merusak lingkungan berarti berakibat buruk bagi dirinya dan orang yang ada disekitarnya.

Menurut mufassir Tantowi Jauhari, manajemen lebah itu sungguh unik dan perlu diteladani. Lebah itu tidak ada yang hidup egois dan individualis. Sarangnya senantiasa bersih dan terlindung. Hidupnya selalu bersatu, bekerjasama secara kompak dan saling melengkapi.

Meskipun dipimpin seekor "lebah ratu", komunitas (koloni) lebah selalu berbagi tugas secara rapi. Ada yang membuat sarang, mencari sari madu, mengumpulkan bahan makanan, pembuat madu, prajurit, peneliti (terutama untuk mencari tempat baru), dan sebagainya. Semua bekerja secara "profesional". Hasil kerjanya dipergunakan untuk kemanfaatan semua pihak lain, terutama manusia.

Manajemen lebah sungguh efektif dan produktif. Satu koloni lebah yang berisi puluhan ribu lebah, mampu menghasilkan dua sampai tiga liter madu dalam satu musim. Bukan hanya madu, lebah juga mampu memberi manfaat lainnya. Sengatan lebah bermanfaat untuk terapi akupuntur.

Dengan demikian, nilai-nilai manajemen lebah yang patut diaktualisasikan dalam kehidupan Mukmin adalah kebersihan (lingkungan maupun makanan yang dikonsumsi), visi dan misi yang terorganisasi secara rapi (menghasilkan produk yang bermanfaat).

Selain itu, lebah juga sangat menjaga kesatuan dan kerja sama, mengikuti jalan Tuhan (ketaatan), mobilitas dan produktivitas tinggi, hidup harmoni dengan alam (tidak merusak, tapi justru membantu penyerbukan bunga pada suatu tanaman), dan selalu berprinsip memberi kemanfaatan (obat dan minuman sehat) bagi orang lain. Perhatikan (QS an-Nahl [16]: 68-69).

Nabi SAW menegaskan ayat di atas dengan menambahkan; “Jika engkau bergaul dengannya, ia memberimu manfaat; jika engkau ajak bermusyawarah, ia pun memberi manfaat; jika engkau ajak berdiskusi, ia mau memberi manfaat. Segala aktivitas (hidupnya) memberi manfaat. Demikianlah, lebah dengan segala aktivitas dan produknya selalu bermanfaat." (HR al-Baihaqi).

Meneladani manajemen lebah itu, mengharuskan setiap Mukmin untuk bersikap, berpikir, berbuat, dan berkarya demi kemanfaatan dan kemaslahatan bagi orang lain. Karena, sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain. (HR at-Thabrani).

Jika setiap Mukmin selalu belajar manajemen lebah, niscaya umat dan bangsa ini akan sejahtera, dan terhindar dari perbuatan buruk seperti korupsi. Wallahu a’lam.
Oleh: Muhbib Abdul Wahab

sumber : www.republika.co.id

Tahun Baru dan Semangat Baru

Pekan depan, dunia sudah memasuki tahun baru 2013 Masehi. Meski bukan kalender Hijriah, namun memasuki tahun yang baru ini patut kiranya memberikan semangat baru untuk terus memacu memperbaiki hidup.

Sebagai umat Islam, semangat merayakan pergantian tahun baru bukan sekadar dengan menggelar pesta kembang api atau menghabiskan malam dengan pesta terompet. Namun pergantian tahun ini selayaknya memberikan kita semangat baru dalam membuat karya nyata dan prestasi hidup.

Bagi umat Islam memiliki keyakinan bahwa waktu merupakan merefleksikan diri dalam kehidupan dunia yang akan dipertangungjawabkan di akherat nanti.  Sebagaimana sudah tertulis di dalam Al-Quran yang berbunyi artinya,
“Adalah orang yang merugi jika hari ini sama dengan hari kemarin dan hari esok lebih buruk dengan hari ini. Dan kamu akan termasuk kaum yang beruntung jika hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.”

Pemahaman itu memberikan keyakinan bagi kita bahwa waktu bukan sekadar kumpulan angka-angka yang tertera pada jarum jam atau di kalender. Tetapi waktu adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan oleh Allah SWT, Sang Pemilik Zaman.

Memaknai pergantian tahun itu sebagai momentum perubahan budaya secara individual (ibda’ binafsih), keluarga dan masyarakat yang selama tahun sebelumnya mungkin masih ada kekurangan atau kealpaan, diarah lebih baik di masa mendatang.

Perubahan ini bisa terjadi apabila setiap jiwa umat Islam mampu ‘menghijrahkan’ seluruh kekuatannya (pemikiran dan tindakannya) bagi kemajuan dalam kehidupan secara pribadi.

Perubahan yang dimulai dari rumah tangga dan dilanjutkan  melalui lembaga pendidikan akan membawa dampak positif sejalan dengan perkembangan. Semua itu harus dimulai dari sekarang sebagai menciptakan negerasi muda Islami yang mampu melakukan perubahan dalam kehidupan. Sebab sudah digariskan dalam Islam bahwa “Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang akan mengubahnya”.

Karena itu ada tidaknya perubahan dalam kehidupan seseorang atau kelompok masyarakat sangat tergantung pada individu atau kelompok tersebut. Itu langkah minimal yang sejatinya dilakukan setiap muslim dalam memaknai pergantian tahun ini.

Intinya, Islam juga mengajarkan, bahwa hari-hari yang dilalui hendaknya selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Setiap Muslim dituntut untuk selalu berprestasi, yaitu menjadi lebih baik dari hari ke hari, begitu seterusnya.
           
Dengan keyakinan itu, maka orientasi kerja-kerja keduniaan yang selama ini kita lakukan patut kiranya di tahun 2013 kita ubah berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan (ma’rufat) dan membersihkannya dari pelbagai kejahatan (munkarat).

Dalam hal ini, ma’rufat mencakup segala kebajikan (virtues) dan seluruh kebaikan (good qualities) yang diterima oleh manusia sepanjang masa, sedangkan munkarat menunjuk pada segenap kejahatan dan keburukuan yang selalu bertentangan dengan nurani manusia. Nilai kebaikan bisa diejawantahakn dengan bekerja berprinsip nilai kejujuran dan profesionalitas.
Sikap jujur sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW agar dapat berperilaku yang baik dengan “menjauhi dusta karena dusta akan membawa kepada dosa dan dosa membawamu ke neraka. Biasakanlah berkata jujur karena jujur akan membawamu kepada kebajikan dan membawamu ke surga.” (HR Bukhari dan Muslim).

Pribadi yang jujur merupakan roh kehidupan yang teramat fundamental, karena setiap penyimpangan dari prinsip kejujuran pada hakikatnya akan berbenturan dengan suara hati nurani. Seperti contoh, para penyelenggara negara pada setiap aktivitas dalam rangka melayani masyarakat tentunya tidak menanggalkan prinsip kejujuran.

Dengan pemahaman itu, maka patutnya pergantian dari tahun 2012 menuju tahun 2013 ini kita jadikan sebagai momentum mengubah diri menuju perubahan dalam segala bidang sebagai upaya penyatuan umat Islam Indonesia. Semoga
 Oleh: Dr HM Harry Mulya Zein

sumber : www.republika.co.id

Monday, December 10, 2012

Damai, Produk Peradaban Islam

Syekh Al-Azhar Al-Syarief, Dr Ahmad Al-Tayyib, mengatakan damai dan perdamaian merupakan produk peradaban Islam sejak masa permulaan (kerasulan).

Oleh karenanya, hubungan antara kaum Muslim dan non-Muslim tecermin dalam satu kata kunci, yaitu mengenal pihak lain (saling mengenal). Hal tersebut karena pemikiran filsafat Islam dalam kaitannya dengan hubungan antara Muslim dan non-Muslim didasari pada dua kenyataan (hakikat).

Pertama, kenyataan bahwa perbedaan (al-ikhtilaf) merupakan hukum alam (sunnatullah) yang ditetapkan Allah SWT. Dia menciptakan manusia dengan perbedaan warna kulit, bahasa, agama, tradisi dan tabiat.

Memang, seandainya Allah berkehendak, maka tidak sulit bagi-Nya menjadikan manusia sebagai satu umat yang sama dalam segala hal. Namun, hal tersebut tidak dikehendaki-Nya, malahan “perbedaanlah” yang dikehendaki-Nya dan atas sebab perbedaan itulah manusia diciptakan.

Allah SWT berfirman, "Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih, kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka." (QS. Hud: 118-119).

Penggunaan isim isyarah "dzalika" pada kalimat tersebut menurut para ahli tafsir merujuk pada kata "wa la yazalu mukhtalifiin", sehingga maknanya atas sunnatullah berupa perbedaan keyakinan, pemikiran, rasa, tabiat dan kecenderungan yang terdapat pada manusia itulah maka manusia itu diciptakan.

Kedua, kenyataan bahwa manusia diciptakan dengan hukum alam untuk saling mengenal antara yang satu dengan yang lain. Dengan kata lain, manusia diciptakan untuk saling menjalin "ukhuwah insaniyah" (QS. Al-Hujurat: 13).

Dua kenyataan tersebut, mau tidak mau harus dicarikan solusi dan tata kelolanya oleh manusia. Dan Rasulullah SAW telah menunjukkan melalui perjalanan hidupnya bahwa damai dan perdamaian merupakan jalan terbaik untuk mengkompromikan perbedaan dan upaya untuk saling mengenal antarmanusia.

Perhatikanlah berbagai pendekatan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam menjalankan dakwahnya di Makkah dan Madinah. Perhatikan pula berbagai perjanjian yang dibuat oleh Rasulullah SAW dengan kaum Anshar, kaum Yahudi di Madinah, dan kaum kafir Quraisy yang kesemuanya menunjukkan upaya-upaya serius menciptakan perdamaian dalam rangka mencari tata kelola yang baik demi keberlangsungan kehidupan.

Perhatikan lebih detail lagi syariat peperangan dalam Islam yang tidak lain merupakan situasi pengecualian dalam rangka menghapus kezaliman, menegakkan kebenaran, menafikan kebatilan, menegakkan kedamaian, keamanan dan ketenangan, mempertahankan agama, negara, jiwa, harta, benda, kebebasan beragama dan kemanusiaan.

Allah SWT berfirman, "Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah’.”

“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah, Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh Allah Mahakuat, Mahaperkasa." (QS. Al-Hajj: 39-40).

Maka, jika pada saat ini terdapat sekelompok orang yang mengatasnamakan diri sebagai kelompok Islam dengan kebiasaan melakukan kekerasan, kejahatan, teror dan mengganggu ketentraman masyarakat, dapat dipastikan bahwa perbuatan mereka bertentangan dengan syariat Islam. Dan mereka perlu belajar Islam langsung melalui teks aslinya, bukan dari para ideolog-ideolog yang salah dalam memahami ajaran Islam yang damai. Wallahu a'lam.
Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

sumber : www.republika.co.id

Menikmati Beribadah

Hakikat ibadah yang diterima hanya Allah yang mengetahui. Namun, hal itu bisa dinilai dengan sesuatu yang nampak dari ibadahnya. Di antaranya, "hubbul ibadah", sangat senang beribadah.

Muazin baru saja melewati rumahnya, artinya azan belum sama sekali dikeraskan, hatinya terliputi bahagia. Apalagi ketika azan sudah dikumandangkan. Dirinya sudah memastikan berada di barisan shaf shalat terdepan, dan lisannya terus menjawab setiap bait-bait azan.

Inilah tanda kedua yaitu "intizharul awqat", merindukan dan menanti-nanti waktu ibadah. Wajahnya memancar aura cemas, yaitu takut ketinggalan apalagi sampai meninggalkannya.

Seperti semalam dirinya ketiduran, karena lelah yang hebat, sehingga tahajud menjadi terlalaikan. Maka pagi hari, wajah ketidaknyamanan menyebar pada aktivitas hariannya. Sering murung dan selalu komat-kamit beristighfar. Padahal, dirinya sudah merangkai shalat Dhuha dengan mengqadha tahajud.

Berikutnya, berusaha maksimal untuk mempelajari kualitas ibadah yakni tercapainya kekhusyukan dan keikhlasan. Ada kesungguhan dalam menyempurnakan kekurangan ilmu dan bersegera menerapkannya berulang-ulang. Baik dalam prosesi ibadah maupun penerjemahannya dalam amaliyah harian.

Dalam shalat, ia bermujahadah, tunduk, pasrah bersedekap, merendahkan bacaan dan diam tumakninah (QS Thaha: 108). Di luar shalat, memancar kearifan dengan menyibukkan diri dalam muhasabah (introspeksi).

Tanda lain bisa dilihat dari kegemarannya yang tidak putus dalam berdoa. Selalu dalam setiap selesai shalat, terdengar doa-doa permohonan agar dimaafkan segala kekurangan, kesalahan dan diterima semua ibadah.

Dirinya telah memutus kebiasaan selesai shalat meninggalkan tempat (kabur). Sekarang, dirinya terlihat sangat menikmati saat berzikir dan munajat seusai shalat. Di tangannya tasbih terus melingkar.

Di akhir doa, dia merapatkan dahinya pada alas sejadah. Tersungkur dan menangis, bahkan hingga membengkak kedua kakinya (QS Maryam [19]: 58). Menangis karena rasa syukur bisa menikmati ibadah sekaligus rasa takut dengan azab Allah baik di dunia atau di akhirat kelak.

Rumah tangga yang dijalin terlihat “sakkanun”, sangat damai dan tidak beriak. Wajah suami-istri dan anak-anak sumringah bahagia. Santun dan penuh khidmat baik pada keluarga maupun pada lingkungan dan tetangganya. Bahkan, sangat senang untuk berkumpul dalam lingkungan yang sama yang berbalut semangat ibadah dan dakwah.

Subhanallah. Menyenangkan dan menenangkan. Begitulah seharusnya efek dari menikmati ibadah. Tentu kita tidak mau ibadah yang kita senangi ini akan menjadi shalat yang hanya tinggal gerak badan tanpa getar hati.

Ibadah haji dan umrah hanya menjadi salah satu di antara tujuan wisata. Baitullah hanya tampak sebagai seonggok batu dari zaman purba; tidak berbeda dengan Tembok Cina atau Menara Pisa. Zakat dikeluarkan sama beratnya dengan pajak. Dan puasa menjadi rangkaian upacara kesalehan yang lewat begitu saja setelah usai Ramadhan.

Sekali lagi, nikmati keadaan ibadah saudara, dengan hati dan diniati mencari kebaikan semata-mata hanya ridha Allah yang menjadi tujuannya.
Oleh: Ustaz HM Arifin Ilham

sumber : www.republika.co.id

Sunday, December 09, 2012

Berdakwah dengan Empati

Suatu hari datang serombongan budak ke rumah Hasan al-Bashri, salah seorang ulama terkenal.

Rombongan itu mengeluhkan atas sedikitnya orang-orang yang mau memerdekakan budak. Bahkan, terlihat banyak di antara umat Islam yang tak menghiraukan keutamaan ini.

Karena itu, kedatangan para budak ini, untuk meminta Hasan al-Bashri untuk berkhotbah dan mengajak umat Islam agar mau memerdekakan para budak.

Namun, permintaan para budak itu tak serta-merta dilaksanakan Hasan al-Bashri. Jumat demi Jumat berlalu, namun tak jua ada khotbah soal itu. Akibatnya, para budak itu mengira, ulama besar ini telah menelantarkan dan melalaikan urusan mereka.

Beberapa pekan kemudian, Hasan al-Bashri naik ke mimbar dan berkhotbah mengenai pentingnya memerdekakan budak. Seusai berkhotbah, orang-orang pulang ke rumah masing-masing. Dari kediaman mereka terdengar suara kegembiraan. Rupanya, tuan rumah atau majikan para budak memerdekakan mereka secara besar-besaran.

Setelah itu, rombongan budak yang dahulu datang kepada Hasan al-Bashri, datang kembali kepadanya. Selain menyampaikan terima kasih, mereka menanyakan mengapa harus menunggu lama untuk mendengarkan khotbahnya yang berkaitan dengan kemerdekaan budak tersebut.

Mendengar hal itu, Hasan al-Bashri pun berkata, “Saya tidak memiliki seorang budak. Karenanya, saya menunggu sampai saya memiliki seorang budak. Kemudian, setelah memerdekakannya, saya berkhotbah di depan orang-orang mengenai kemerdekaan budak.”

Kisah di atas, memberikan pelajaran yang sangat besar, terutama bagi para pendakwah bahwa seorang dai harus menghayati dan merasakan situasi dan kondisi audiensinya (jamaahnya) sebelum memberikan nasihat kepada mereka.

Dengan kata lain, seorang dai harus berdakwah dengan empati. Metode dakwah seperti inilah yang dilakukan Rasulullah SAW dalam mengajak manusia menuju jalan Allah SWT. “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin,” (QS at-Taubah [9]: 128).

Hal ini harus dilakukan karena obyek dakwah adalah manusia yang sikap dan perbuatannya ditentukan oleh kondisi hatinya. Hati adalah penentu fisik untuk bergerak dan merespons.

Ketika seorang dai mampu merasakan dan menghayati situasi serta kondisi jamaahnya, niscaya dakwahnya akan berbobot. Bukan hanya karena ia telah memberikan keteladanan, tapi juga karena apa yang disampaikannya merupakan bahasa hati.

Ia mengetahui perasaan hati jamaah ketika ia menyampaikan dakwahnya. Nasihat yang menyentuh hati itulah yang mampu dan diikuti oleh jamaah dari seorang dai.

Untuk itu, mari kita jadikan hal ini sebagai bekal dalam berdakwah. Sehingga, dakwah para dai mampu menjadi sarana tergeraknya umat dalam menjalankan ajaran Islam dengan baik dan benar. Wallahu a’lam.

Oleh: Moch Hisyam

sumber : www.republika.co.id

Kesalehan Politik

Politik sering diduga sebagai area penuh intrik, tipu daya. Dalam politik, norma akhlak dan moralitas sering kali diabaikan dan dilanggar demi lestarinya kekuasaan. Segala macam cara ditempuh untuk mengabadikan kekuasaan.

Arus deras politik inilah yang membuat Muhammad Abduh, seorang pemikir besar asal Mesir, berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari politik dan para politikus."

Bagi Abduh, politik mungkin menjadi monster yang menakutkan, terutama saat perilaku kotor yang melanggar norma-norma Islam. Rambu-rambu etika tak lagi mampu mengerem syahwat berkuasa yang bergelora dan bergemuruh di dalam dada mereka. Apakah politik haram?

Politik bukan suatu hal yang haram dan dilarang. Politik bisa menjadi ladang amal saleh yang menggiurkan untuk mendapatkan jaminan keselamatan di akhirat. Politik bisa menjadi kunci untuk menggapai rida Allah.

Bahkan, Rasulullah memberikan jaminan bagi para pemimpin dan pelaku politik yang adil untuk mendapatkan naungan khusus dari Allah pada hari kiamat nanti, di mana saat itu tidak ada naungan kecuali naungan Allah. Naungan itu hanya diberikan kepada tujuh golongan manusia yang memiliki kualitas keimanan terbaik.

Doa para pemimpin yang adil termasuk salah satu doa yang tidak akan pernah tertolak. Itu karena tanggung jawab seorang pemimpin sangatlah berat dan besar, baik di sisi Allah maupun di hadapan publik.

Rasulullah bersabda, “Tiga golongan yang tidak akan tertolak doanya, yakni doa orang yang puasa sampai dia berbuka, doa pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” (HR Tirmidzi).

Karena itu, bagi kalangan generasi awal Islam, jabatan pemimpin bukanlah sesuatu yang diminati. Bahkan, mereka sering menghindar ketika diminta untuk memangku kekuasaan. Sebab, begitu besar tanggung jawabnya di akhirat. Dalam lingkaran kekuasaan, seorang pemimpin sering tergelincir pada hal-hal buruk dan menyeret mereka pada kehidupan yang sulit dan membahayakan.

Umar bin Abdul Aziz, khalifah kaum Muslim yang tersohor bahkan melakukan "bersih-bersih" harta yang dia miliki untuk diserahkan ke kas negara demi menghindari kerakusan dan kecintaan overdosis pada harta. Kalung dan gelang istrinya, Fatimah, dia masukkan ke kas negara. Dia berusaha menjadikan kekuasaan sebagai jembatan pengabdian kepada Allah Tuhan yang memberikan amanah pada dirinya.

Kesalehan politik di zaman sekarang ini menjadi sangat urgen. “Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah dan paling dekat tempat duduknya kepada Allah pada hari kiamat adalah seorang peminpin yang adil. Dan manusia yang paling dibenci dan jauh dari Allah tempat duduknya di hari kiamat adalah seorang peminpin yang kejam.” (HR Tirmidzi).

Kesalehan dan keadilan dalam politik merupakan syarat mutlak bagi pemimpin dan politisi agar dicintai oleh Allah. Dengan begitu, doa-doanya pun akan dikabulkan dan di akhirat mendapat naungan-Nya. Semoga.
Oleh: Samson Rahman
sumber : www.republika.co.id

Saturday, December 08, 2012

Inilah Indahnya Beribadah

Hakikat ibadah yang diterima hanya Allah yang mengetahui. Namun, hal itu bisa dinilai dengan sesuatu yang tampak dari ibadahnya. Di antaranya, "hubbul 'ibadah", sangat senang beribadah.

Muazin baru saja melewati rumahnya, artinya azan belum sama sekali dikeraskan, hatinya terliputi bahagia. Apalagi ketika azan sudah dikumandangkan. Dia sudah memastikan berada di barisan shaf shalat terdepan dan lisannya terus menjawab setiap bait-bait azan.

Inilah tanda kedua yaitu "intizharul awqat", merindukan dan menanti-nanti waktu ibadah. Wajahnya memancar aura cemas, yaitu takut ketinggalan apalagi sampai meninggalkannya.

Seperti semalam dia ketiduran, karena lelah yang hebat, sehingga tahajud menjadi terlalaikan. Maka pagi hari, wajah ketidaknyamanan menyebar pada aktivitas hariannya. Sering murung dan selalu komat-kamit beristighfar. Padahal, dia sudah merangkai shalat Dhuha dengan mengqadha tahajud.

Berikutnya, berusaha maksimal untuk mempelajari kualitas ibadah yakni tercapainya kekhusyukan dan keikhlasan. Ada kesungguhan dalam menyempurnakan kekurangan ilmu dan bersegera menerapkannya berulang-ulang. Baik dalam prosesi ibadah maupun penerjemahannya dalam amaliah harian.

Dalam shalat, ia bermujahadah, tunduk, pasrah bersedekap, merendahkan bacaan, dan diam tumakninah (QS Thaha: 108). Di luar shalat, memancar kearifan dengan menyibukkan diri dalam muhasabah (introspeksi).

Tanda lain bisa dilihat dari kegemarannya yang tidak putus dalam berdoa. Selalu dalam setiap selesai shalat, terdengar doa-doa permohonan agar dimaafkan segala kekurangan, kesalahan, dan diterima semua ibadah. Dia telah memutus kebiasaan selesai shalat meninggalkan tempat (kabur). Sekarang, dia terlihat sangat menikmati saat berzikir dan munajat seusai shalat. Di tangannya tasbih terus melingkar.

Di akhir doa, dia merapatkan dahinya pada alas sejadah. Tersungkur dan menangis, bahkan hingga membengkak kedua kakinya (QS Maryam [19]: 58). Menangis karena rasa syukur bisa menikmati ibadah sekaligus rasa takut terhadap azab Allah, baik di dunia atau di akhirat kelak.

Rumah tangga yang dijalin terlihat "sakkanun”, sangat damai dan tidak beriak. Wajah suami-istri dan anak-anak sumringah bahagia. Santun dan penuh khidmat, baik pada keluarga maupun pada lingkungan dan tetangganya. Bahkan, sangat senang untuk berkumpul dalam lingkungan yang sama yang berbalut semangat ibadah dan dakwah.

Subhanallah. Menyenangkan dan menenangkan. Begitulah seharusnya efek dari menikmati ibadah. Tentu kita tidak mau ibadah yang kita senangi ini akan menjadi salat yang hanya tinggal gerak badan tanpa getar hati.

Ibadah haji dan umrah hanya menjadi salah satu di antara tujuan wisata. Baitullah hanya tampak sebagai seonggok batu dari zaman purba; tidak berbeda dengan Tembok Cina atau Menara Pisa. Zakat dikeluarkan sama beratnya dengan pajak. Dan puasa menjadi rangkaian upacara kesalehan yang lewat begitu saja setelah usai Ramadhan.

Sekali lagi, nikmati keadaan ibadah saudara, dengan hati dan diniati mencari kebaikan semata-mata hanya rida Allah yang menjadi tujuannya.
Oleh: Ustaz M Arifin Ilham
sumber : www.republika.co.id

Friday, December 07, 2012

Allah Pun Rindu

Tak ada yang sulit atau susah bagi Allah SWT. Semuanya sangat mudah. Hanya kita saja malas, enggan meminta kepada Allah.

Begitu pelitnya, sampai-sampai masalah yang kita hadapi pun, tak mau kita bagi dengan Allah. Kita selalu berusaha menyelesaikan semua masalah sendirian, dan tidak mau berbagi dengan-Nya.

Ketika kita punya banyak kesempatan dan peluang, kita pun berusaha sendirian mengejar ‘mimpi’. Karena kita merasa mampu dan kuasa. Seakan kita tidak membutuhkan pertolongan Allah. Kalaupun butuh, hanya seperlunya saja.

Pada kondisi inilah, akhirnya Allah “menyapa” kita. Allah rindu sama kita. Allah kemudian menghidangkan ujian dan beragam kebutuhan untuk kita. Ujian dan kebutuhan itu dihidangkan, agar kita ingat dan semakin dekat serta meminta pertolongan kepada-Nya. Tapi, begitulah manusia. Entah di tengah-tengah musibah atau keperluan, kita lalai dan lupa.

Saya beri beberapa contoh. Seorang pengusaha, membutuhkan proyek agar usahanya tetap berjalan dan bisa menggaji karyawannya. Dengan itu, seharusnya dia ingat kepada Allah, karena Allah-lah yang telah menghadirkan semua kebutuhan itu.

Namun, pengetahuan kita terhadap Allah begitu lemah dan tipis. Apalagi keyakinan kita. Karena itu, kita tidak segera berlari menuju Allah. Sebaliknya, kita malah mendatangi manusia, relasi, pelanggan, dan lain sebagainya untuk memaksimalkan semua pemasarannya. Sementara yang inti, yakni Allah, malah tak diingat kecuali sedikit.

Sampai-sampai, ketika seseorang lapar, juga tak menyadari bahwa yang memberi rasa lapar itu adalah Allah. Mestinya dengan lapar, yang pertama kali kita ingat adalah Allah. Kita menyebut nama-Nya. Tapi apa daya, kita lebih ingat nasi goreng, nasi padang, nasi warteg, sehingga demikian itu yang kita sebut dan kita cari.

Dengan sangat cerdas, kita tahu di mana orang yang menjual makanan yang kita inginkan itu. Setelah itu kita bergegas ke sana. Tapi Allah? Kita kayak nggak tahu, nggak kenal. Sebab kita nggak mendatangi dan menyebut nama-Nya. Bahkan ketika Allah memanggil kita dengan panggilan “wakil-wakil-Nya” di dunia ini, yakni muazin, kita tak bersegera mendatangi-Nya.

Saudaraku, segala masalah dan kebutuhan pasti akan selalu ada. Sebab itu Allah juga ada. Bila kita mengingat Allah dalam setiap masalah dan keperluan, bersegeralah mendekat pada-Nya. Kenali Allah lebih dekat lagi.

Saya suka berkata kepada diri sendiri. Ketika Allah menguji kita, menghadiahkan berbagai persoalan hidup, sebenarnya Allah rindu dengan kita. Kita diminta menyebut nama-Nya dengan sepenuh hati, bahwa hanya Dia yang bisa memberi pertolongan dan menyelesaikan semua masalah dan keperluan.

Bayangkan, bila Allah menutup semua pintu penyelesaian? Kita tidak punya solusinya. Ke mana kita akan mencari jawabannya? Walau punya uang hingga miliaran dan triliunan, tapi semua itu tak mampu menyelesaikan semua masalah. Kekayaan itu pun tak berarti apa-apa.

Karena itu, mari bersegera mengingat Allah, mari lebih mendekat lagi kepada-Nya. Adukan semua permasalahan dan kebutuhan, baik di kala suka maupun duka. Karena, hanya Dia yang bisa, Sang Mahapenyelesai Masalah dan kebutuhan kita. Sungguh, Allah sangat rindu kepada kita semua.
Oleh: Ustaz Yusuf Mansur

sumber : www.republika.co.id

Thursday, December 06, 2012

Memuliakan Perempuan

Potret kehormatan tertinggi terhadap perempuan tumbuh setelah diutusnya Rasulullah SAW.

Jauh sebelum itu, zaman yang kita kenal sebagai zaman Arab Jahiliyah, menganggap bahwa perempuan tidak lebih dari makhluk yang dapat diperjualbelikan, dicerai kapan saja suaminya menginginkan, tidak mendapat warisan dan bahkan hanya sebagai makhluk yang berkewajiban melayani nafsu lelaki hidung belang hingga terpuaskan.

Kondisi mengenaskan juga terjadi pada wanita sejak zaman Yunani kuno di mana perempuan hanya dipandang sebagai fasilitas kenikmatan.
Juga pada peradaban Romawi, perempuan dapat diperjualbelikan. Sedangkan peradaban India menganggap bahwa perempuan adalah makhluk najis karena mereka tidak berhak hidup jika suaminya meninggal dunia.

Dari keempat peradaban tentang wanita tersebut di atas, perspektif teologi pun turut memberikan sumbangsihnya dalam memandang perempuan. Sekiranya terdapat empat faktor yang berpotensi menjadi sebab penting dalam memengaruhi pembentukan anggapan stereotip terhadap perempuan.

Pertama, anggapan bahwa perempuan tercipta sebagai pelengkap Adam. Kedua, tempat di mana manusia diciptakan (surga) telah melahirkan pelbagai mitos yang merendahkan perempuan.

Ketiga, anggapan perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki menjadikan posisi wanita lebih rendah dari laki-laki. Keempat, anggapan bahwa godaan perempuanlah yang menyebabkan Adam dan Hawa terusir dari surga.

Beragam kondisi dan anggapan yang dinilai kurang relevan karena seolah merendahkan martabat perempuan terhapuskan kala Rasulullah SAW diutus dan menganjurkan kaum lelaki untuk memuliakan para wanita—bahkan, salah satu surah Alquran dinamai An-Nisaa (para wanita) karena memuat beberapa syariat Allah dan keterkaitan hukum.

An-Nisa sendiri dibuka tentang penciptaan laki-laki dan perempuan (An-Nisa: 1), pemeliharaan harta anak yatim dan isyarat monogami demi kemaslahatan perempuan (An-Nisa: 2-3), pemberian mahar untuk perempuan (An-Nisa: 4), dan keseimbangan hak waris untuk lelaki juga perempuan (An-Nisa: 7).

Juga tentang hak istri untuk mendapatkan teguran dari suami jika ia nusyuz (An-Nisa: 34), kekhawatiran nusyuz dan hak wanita untuk mengadakan perdamaian dengan suaminya dan larangan agar suami tidak mencari kesalahan istri (An-Nisa: 128), serta kewaspadaan bagi kaum lelaki dalam mengambil keputusan berpoligami, sebab penegasan Allah ada kecenderungan bersikap tidak adil terhadap istri-istrinya (An-Nisa: 129).
Betapa luhurnya penghargaan Allah untuk perempuan hingga seluruh syariat-Nya termaktub rapi. Jika Allah dan Rasul-Nya memberikan penghormatan yang apresiatif terhadap partner lelaki ini, maka memuliakan perempuan yang sering dianggap (makhluk kedua setelah lelaki), adalah suatu keharusan yang bukan sekedar penghormatan secara lahiriah saja.

Dalam konteks kekinian, penghormatan itu termasuk dalam menjaga hak seorang istri demi kelangsungan ranah keharmonisan rumah tangga. Jika kita kaitkan akhir-akhir ini dengan kasus seorang bupati yang menikahi gadis lalu dengan sekehendak hatinya menceraikan via pesan singkat. Tentu bukan hal demikian yang dianjurkan Islam.

Memuliakan perempuan berarti menaruh empati terhadap kebaikan dan penghidupan mereka sepenuhnya baik lingkup rumah tangga, sosial masyarakat, bahkan lingkup Negara—menjadikan mereka partner ibadah kepada Allah dengan tanpa keluar dari lingkup kodrati.

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah, jika ia tidak suka satu tabiat/perangainya maka (bisa jadi) ia ridha (senang) dengan tabiat/perangainya yang lain.” (HR. Muslim).

Oleh: Ina Salma Febriani
 sumber : www.republika.co.id

Wednesday, December 05, 2012

Kejujuran Khatib Mukhtar

Namanya Mukhtar. Anak-anak tiap sore mengaji di taman pendidikan Alquran (TPQ) di samping masjid yang diasuh Mak Tan—panggilan akrabnya. Orang dewasa memanggilnya Angku Khatib, karena jabatan resminya di masjid sebagai khatib.

Sekalipun khatib, tetapi Mukhtar jarang memberikan khutbah Jumat. Dia baru akan berkhutbah kalau khatib yang telah dijadwalkan berhalangan hadir. Jika berkhutbah, hampir bisa dipastikan, dia hanya membaca salah satu khutbah yang ada dalam buku kumpulan khutbah Jumat yang tersedia di masjid.

Sehari-hari Mukhtar membuka warung di samping masjid. Macam-macam kebutuhan harian masyarakat dijual di warung itu. Sembako, alat tulis, dan macam-macam kue yang dititipkan kepadanya. Dari hasil warung itulah, Mukhtar menghidupi keluarganya, walau seadanya.

Dua kali sepekan, Mukhtar mengayuh sepedanya sejauh enam kilometer pulang-pergi belanja keperluan warungnya ke kota. Sebelum waktu Zhuhur, dia sudah kembali  untuk mempersiapkan diri mengumandangkan azan shalat lima waktu tepat waktu. Kalau imam yang bertugas berhalangan, ia yang memimpin shalat berjamaah.

Selain itu, tugas lainnya yang dipercayakan kepadanya adalah menjadi kasir masjid. Setiap Jumat, sebelum khutbah dimulai akan diedarkan beberapa kotak (wakaf, yatim, dan infak), sesuai keinginan jamaah. Hasil infak lebih luwes penggunaannya untuk berbagai kebutuhan masjid. Sedangkan kotak wakaf dan yatim, digunakan sesuai peruntukannya.

Bahkan, setiap ada pengajian (ceramah agama), tiga kotak infak itu juga akan beredar, lebih-lebih lagi selama Ramadhan. Kotak-kotak itu akan dibuka di depan jamaah, kemudian dihitung lalu diumumkan. Setelah diketahui jumlahnya oleh jamaah, barulah uang itu disimpannya.

Dalam memegang amanah keuangan tersebut, ia dikenal sangat jujur. Uang kertas akan disusun dan diikat, sedangkan uang koin dimasukkan kantong plastik lalu disimpan dalam almari sendiri untuk kemudian digunakan sesuai keperluannya.

Bila ada orang yang ingin menukar uang recehan, ia tak mau mengabulkannya. Menurutnya, uang itu adalah amanah yang harus dijaga apa adanya. Walaupun dijelaskan bahwa menukar uang recehan dengan uang besar tidak menyalahi aturan, bahkan lebih memudahkannya dalam menyimpan, tetap saja dia tidak peduli.

Terkadang, banyak orang geleng-geleng kepala menyaksikan kepolosan dan kejujuran sang khatib ini. Tak jarang pula ada yang menertawakannya. Namun, ia tetap keukeuh memegang amanah itu.

Begitulah tugas-tugas di masjid itu. Secara sukarela, Khatib Mukhtar menjalani dan mengemban tugasnya dengan tekun, disiplin, dan jujur.

Anak-anak kecil yang biasa memanggilnya Mak Tan, kini sudah beranjak dewasa. Mereka telah menyelesaikan pendidikan. Ada yang merantau ke kota, bekerja di desa, dan di tempat lain. Tapi, Mak Tan tetap saja setia dengan warung kecilnya di samping masjid itu.

Lima puluh tahun lebih, Khatib Mukhtar mendarmabaktikan hidupnya untuk tugas mulia itu. Sampai akhir hayat tahun lalu, Khatib Mukhtar tidak punya cacat sedikit pun dalam menjalankan amanah yang dibebankan di pundaknya. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikannya. Amien.

Oleh: Prof Yunahar Ilyas

sumber : www.republika.co.id

Tuesday, December 04, 2012

Negarawan dan Mohammad Hatta

MENCARI sosok negarawan di tengah karut-marut dunia perpolitikan Indonesia, seperti menantikan satu tetes air ketika kehausan. Kita hidup bagai ditengah gurun padang pasir, berharap sosok negarawan muncul, seperti oase di tengah gurun yang panas. Apalagi melihat kejahatan tindak korupsi dan kebijakan pimpinan yang tidak berpihak pada rakyat, dipenuhi kepentingan untuk diri dan golongan. Pada mulanya adalah kepentingan, lalu merongrong dan menyetir kekuasaan. Kekuasaan layaknya barang komoditi dan logikanya ekonomi-praktis.

Negarawan sejati lumrahnya muncul dalam situasi yang kritis. Menghadapi situasi demikian yang diperlukan sikap tegas tapi dengan arah yang jelas. Yang kita butuhkan sekarang mungkin bukan tokoh yang mengorbankan semangat revolusi berapi-api, melainkan sosok yang dengan tegas dan tandas berani meluruskan tatanan hukum sehingga terhindar dari upaya politisi untuk memanipulasinya.

Sosok negarawan mesti menjelma di muka bumi, mengendalikan kekuasaan demi kemaslahatan semua. Oleh karenanya, saya rasa tidak salah jika kita membaca kembali Mohammad Hatta. Mengupas memoar seorang tokoh negarawan yang tidak lelah bersemangat untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Seorang suri tauladan yang sayang rakyatnya, bahkan dengan janjinya "tidak akan menikah kecuali setelah Indonesia merdeka" Tak pelaknya setelah merdeka barulah dia meminang seorang perempuan. Dan yang paling menawan sebagai kado pernikahannya, Hatta memberikan buku kepada istrinya, Tanah Merah: Alam Pikiran Yunani.

Semangat perjuanganya dapat kita petik dan pelajari. Bagaimana Hatta dapat menyingkirkan hasrat pribadinya untuk mementingkan negara dan rakyat. Uniknya, sifat istiqomah yang tertanam pada dirinya, menunjukan keteguhan dalam mencapai tujuan, serta kecerdikannya dalam memilih jalan, patut kita acungi jempol.

Kendati demikian, Hatta pernah berujar dengan lantang, suatu hari ketika sekitaran tahun 1931, Soekarno ditangkap penjajah dan PNI dibubarkan menjadi Partindo. "Pergerakan kita tak boleh tinggal pergerakan pemimpin, yang hidup dan mati mengikuti pemimpin. Pergerakan kita harus menjadi pahlawan-pahlawan yang tak punya nama. Artinya pergerakan kita adalah pergerakan rakyat yang tidak tergantung pada nasib para pemimpin" (Mohammad Hatta, memoir: 318-319).

Sementara itu Dedi Ahimsa Riyadi penulis novel biografi (Hatta; Hikayat Cinta dan kemerdekaan:2010) menceritakan sepak terjang Hatta dalam dunia perpolitikan dan perjuangannya untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. "bagaikan Yin dan Yang. Bagaikan kedalaman samudra dan amuk gelombang, kedua orang itu, Soekarno dan Hatta, saling mengisi dan melengkapi. Di balik wajahnya yang datar tanpa riak, Hatta menyimpan kecerdasan, kebijakan dan pengetahuan" (hal 218).

Begitulah, sosok penggambaran Hatta dalam novel tersebut. Sebagai wakil presiden pertama Indonesia, lelaki berkacamata itu bernama lengkap Mohammad Hatta. Pers Jepang menyebutnya "Ghandi of Java" karena ketulusannya menempuh perjuangan, perlawanan tanpa jeda dan sikapnya yang anti kekerasan. Serta Mavin Rose menyebutnya "muslim sejati" karena beristri empat; Indonesia, rakyat Indonesia, buku, dan Rahmi Rachim.

Di sisi lain sejak tahun 1926, Hatta terus melakukan interaksi dengan para aktivis pergerakan di tanah air. Perlawanan Hatta dilakukan semenjak sekolah di negeri Belanda. Saking perhatiannya terhadap Indonesia, dengan gagasan-gagasannya, tidak lama berselang berdirilah Partai Nasional Indonesia. Salah satu kelompok yang paling giat mengadopsi dan menerjemahkan pemikiran Hatta dalam aksi nyata adalah Studi Klub Bandung.

Pada akhir bulan desember 1935, Hatta dan Syahrir dipindahkan ke Bandaira, Maluku. Sebagai imbalannya, penguasa kolonial meminta untuk menandatangani deklarasi bahwa tidak akan ada lagi aktivitas politik. Meski begitu, Hatta selalu bertindak rasional, sebagai pemimpin pergerakan bangsa yang kehadirannya dinanti rakyat banyak. Hatta harus tetap hidup demi menjaga keberlangsungan perjuangan.

Sejak awal memang dia giat menyebarkan gagasan dan pemikirannya tentang kemerdakaan lewat tulisan dan tidak lupa untuk selalu membawa-membaca buku. Dalam sebuah surat kepada Mu'rad, redaktur harian Daulat Rakyat: "Buku merupakan sahabat sejati yang menemani hari-hari. Buku merupakan tempat studiku yang paling damai selama memiliki buku, aku bisa hidup di mana pun tak seorang pun yang merasakan hidup nikmat di penjara. Filosofi hidupku terus berjuang selama hidup bebas; ketika seseorang mengikat sayapku, teruslah berjuang untuk meraih pengetahuan." (Daulat Rakyat, 10 Mei 1934).

Ya, menjadi seorang negarawan sejati tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Kuncinya perjuangan, pengorbanan, ketelatenan dan sikap cerdik dalam memilih keputusan. Terutama meredam hasrat kepentingan pribadi untuk negara dan rakyat Indonesia. Tidak hanya melulu menjajikan kepada rakyat, apalagi memperkaya diri sendiri. Memang, hidup di Indonesia kita tidak bisa lepas dari sejarah panjang yang penuh pengorbanan dan luka. Tapi sejarah hanya tinggal sejarah, tanpa dibaca kembali dan menjadi perenungan yang mendalam.
(Penulis, eksponen Sasaka dan bergiat di Forum Alternatif Sastra Bandung)**
Galamedia
senin, 26 november 2012 01:21 WIB
Oleh : PUNGKIT WIJAYA

Monday, December 03, 2012

Memperbaiki Rasa Malu

Manusia memiliki sifat malu yang dapat menggerakkan nalurinya, menilai mana yang benar dan salah. Dengan rasa malu itu, setiap manusia berjalan di atas ketetapan fitrah dari Rabbnya.

Rasulullah SAW bersabda, "Jika kamu tak punya rasa malu, maka berbuatlah sesukamu."  Beliau juga mengatakan bahwa salah satu dari bagian iman adalah sifat malu.

Jika manusia dibekali malu untuk hidup, lain halnya dengan binatang. Allah memberikan nikmat kepada binatang sesuai dengan kebutuhannya. Hewan hanya memiliki insting dipadu dengan nafsu untuk hidup.

Ia tak butuh malu karena memang Allah tidak memberikan sifat itu. Begitulah Allah telah mengatur hamba-Nya untuk menjalani hidup di alam fana ini.

Malu dapat menjamin kualitas batin manusia. Karena itu, manusia tak pernah terpisahkan dengan sifat malu dan malu selalu berkaitan erat dengan ketebalan iman seseorang terhadap Rabb-nya.

Sebagian besar sahabat Rasulullah SAW menjaga dan mengedepankan rasa malunya di atas kepentingan duniawi mereka. Usman RA, misalnya, dia adalah sahabat yang paling besar sifat malunya hingga Nabi SAW pun sangat menghormatinya.

Di masa hidupnya, Rasul pernah berbaring di pangkuan istrinya, lalu datang Abu Bakar RA sedang bagian tubuhnya terbuka, tetapi nabi membiarkan hingga datang sahabat Umar RA. Akan tetapi, ketika datang Usman RA, Rasulullah dengan serta-merta merapikan pakaiannya agar tak terlihat olehnya.

Ketika ditanya istrinya mengapa berbuat demikian kepada Usman dan tidak kepada Abu Bakar dan Umar, Nabi menjawab bahwa Usman sangat pemalu. Di lain waktu, nabi pun menyanjung keistimewaan Usman di hadapan para sahabat beliau. Usman terhormat karena menjaga malu yang melebihi malunya seorang gadis.

Kekuatan iman seorang Muslim dapat dilihat dari sifat malu dalam dirinya. Seorang Muslim hakiki akan menjaga dirinya dengan benteng malu terhadap Tuhannya bila berbuat dosa.

Ia akan menaati semua perintah-Nya sekuat tenaga. Ia akan sangat menyesal, merasa bersalah dan malu kepada Rabbnya jika meninggalkan satu saja syariat-Nya. Begitulah ciri kehidupan seorang Muslim yang teguh hati menjaga malunya.

Sebagaimana diterangkan Rasulullah SAW, seorang Muslim yang tidak punya rasa malu sama sekali, dipersilakan  berbuat sesuka hatinya. Mereka telah terlepas dari tali umat Muhammad yang menghormati kalam Allah dan sabda beliau, mereka akan dikirim ke dalam azab-Nya yang pedih dan menyakitkan, kehinaan mereka peroleh di dunia dan siksaan mereka terima di neraka.

Dunia seakan telah mejadi rumah abadi bagi manusia-manusia rakus dan pengekor hawa nafsu. Mereka tak lagi memikirkan siapa Rabb-nya dan apa saja perintah serta larangannya.

Harta, tahta, dan wanita memang tombak serang setan untuk menyerang manusia. Maka dari itu, mari kita hargai diri dengan menjaga sifat malu sebagai fitrah manusia. Wallahu a'lam.
Oleh: Muhammad Khoirul Munadi

sumber : www.republika.co.id

Sunday, December 02, 2012

Jaminan Allah

Aslinya, semua manusia berada dalam jaminan Allah. Allah menjamin benar rezeki semua hamba-Nya.

Bahkan kayak lumut, yang tidak bisa bergerak, Allah juga yang menanggung. Hewan seperti cecak ya tak bisa terbang, makanannya ya nyamuk yang terbang.

Namun, jaminan Allah itu akan dikurangi sedikit demi sedikit, hingga bahkan ada yang dicabut. Kalaulah tidak karena pertimbangan orang tuanya, istrinya, suaminya, anaknya, atau orang yang ikut dengannya, niscaya dia sama sekali nggak dapat rezeki dari Allah.

Misalnya, saudara yang hidupnya lurus, dijaga yang wajibnya, maka terasa sekali hidup ini terasa lancar-lancar saja. Ada ujian, itu memang pasti. Namanya juga hidup. Tapi ujian itu, banyak pertolongannya dari Allah.

Saudara yang sudah lurus hidupnya, yang sudah nggak doyan duit haram, lalu mau memperbanyak ibadah-ibadah sunnah, akan terasa sekali rezeki itu akan bertambah. Baik jumlahnya maupun keberkahannya.

Seorang sopir taksi, misalnya. Di pagi hari dia melangkah dengan niat bismillah. Lalu diiringi dengan doa istri dan anak-anaknya, menarik taksi kira-kira 1-2 putaran, kemudian mampir ke masjid untuk dhuha, lalu berdoa. Setelah itu jalan lagi mencari penumpang.

Menjelang azan Zhuhur, dia ke masjid lagi untuk shalat berjamaah, ditambah dengan shalat sunnah qabliyah-bakdiyah, lalu berdoa. Sopir yang seperti ini, niscaya rezekinya akan melebihi apa yang dia duga. Insya Allah, keluarganya jarang sakit, anak istrinya sehat, tidurnya nyenyak, dan hidupnya mudah serta berkah.

Buat saudara-saudara semua, keluarga besar Republika yang saya cintai karena Allah, apabila yang wajibnya (shalat, puasa, dan zakat) sudah rapi, maka lakukanlah amalan yang sunnah. Insya Allah, jaminan dari Allah akan bertambah terus. Dan sebisa mungkin, jauhilah perbuatan dosa dan maksiat. Sebab, perbuatan dosa akan mengurangi jaminan dari Allah, dan suatu saat pasti akan dicabut.

Orang membeli handphone, gadget, peralatan elektronik, semuanya harus mengikuti peraturan yang ditetapkan toko atau pabrik jika mau ada jaminan atas barang yang dibeli. Jika tidak, maka jaminan pasti tidak akan berlaku. Contohnya, saudara merusak segelnya, maka toko biasanya akan menolak. Mengikuti peraturan, berarti berlaku juga aturan.

Banyak orang yang tidak mau mengikuti aturan Allah, namun hidupnya tetap menyenangkan bahkan rezekinya banyak. Dengan orang yang seperti ini, kita tak usah silau, iri, apalagi dengki.

Sebab, rezeki itu sudah diatur oleh Allah. Istilahnya, itulah yang disebut dengan istidraj. Bahasa gampangnya, orang yang seperti itu azabnya atau kerugiannya ditundak oleh Allah. Kita harus waspada dan takut akan hal seperti itu. Sebab, balasan Allah akan lebih berat di akhirat kelak.

Hidup ini mudah dan enteng. Jalanilah kewajiban sebagai seorang hamba. Jalankan perintah Allah, laksanakan ibadah wajib, perbanyak amalan sunnah, jauhi semua larangan-Nya, niscaya Allah akan memberikan jaminan yang lebih baik bagi saudara. Percayalah.
Oleh: Ustaz Yusuf Mansur

sumber : www.republika.co.id

Saturday, December 01, 2012

Tobat yang Tertolak

Allah SWT adalah Tuhan yang Mahapenyayang, sehingga menerima tobat orang-orang yang melakukan perbuatan keji (QS. An-Nisa': 17); kejahatan (QS. An-Nisa': 18); membunuh (QS. An-Nisa': 92); berbuat kesalahan (QS. Asy-Syura: 25); dan pelanggaran terhadap larangan-Nya.

Secara garis besar, semua bentuk pelanggaran tersebut akan diampuni oleh Allah SWT selama memenuhi tiga persyaratan, yaitu berhenti dari perbuatan jahat, menyesali sungguh-sungguh perbuatan yang dilakuka, dan tidak akan mengulanginya pada masa yang akan datang.

Di dalam Surah An-Nisa, Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya bertobat kepada Allah itu hanya (pantas) bagi mereka yang melakukan kejahatan, kemudian segera bertobat. Tobat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Mahamengetahui, Mahabijaksana.”

“Dan tobat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) dia mengatakan, "Saya benar-benar bertobat sekarang." Dan tidak (pula diterima tobat) dari orang-orang yang meninggal sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan azab yang pedih." (QS. An-Nisa': 18-19).

Ayat di atas paling tidak mengandung tiga perkara. Satu perkara berkaitan dengan diterimanya tobat dan dua perkara lainnya berkaitan dengan tobat yang ditolak. Pertama, mereka yang diterima tobatnya adalah yang melakukan kejahatan, lalu menyadari kejahatannya dan segera bertobat.

Mayoritas para ahli tafsir menegaskan bahwa arti segera di dalam kalimat tersebut berarti secepatnya bertobat setelah melakukan kejahatan sebab orang yang cerdas adalah mereka yang segera bertobat setelah melakukan kejahatan, tidak mengakhirkannya karena dapat menyebabkan hatinya bertambah keruh, jiwa menjadi lemah, dan dipermainkan hawa nafsu, disamping setiap orang tidak mengetahui kapan ajalnya tiba.

Kedua, Allah SWT tidak menerima tobat seorang hamba yang dilakukan menjelang ajal tiba. Mereka yang terbiasa bergelimang dosa tanpa penyesalan dan kemauan bertobat selama hidupnya memanfaatkan kesempatan (bertobat) dalam kesempitan (datangnya ajal), namun Allah SWT menolaknya dengan alasan tobatnya dilakukan dalam kondisi darurat, bukan dalam kondisi normal dan banyak pilihan.

Allah SWT mengulang beberapa kali firman-Nya dalam kasus tersebut, salah satunya berkaitan dengan Fir'aun, "... ketika Fir'aun hampir tenggelam dia berkata, "Aku percaya bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang muslim (berserah diri)." (QS. Yunus: 90).

Ketiga, mereka yang tidak diterima tobatnya adalah orang-orang yang telah mati dalam kekafiran atau tidak membawa keimanan. Hal tersebut karena kematian berarti penutupan pintu harapan perbaikan disamping kekafiran berarti peniadaan eksistensi Tuhan.

Dalam ayat tentang kekafiran (kemusyrikan), Allah SWT berfirman, "Sungguh, Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki... " (QS. An-Nisa': 116).

Maka senyampang Allah SWT masih memberikan umur dan kesehatan, hendaknya seorang mukmin menyegerakan diri menuju ampunan Allah dengan bertobat dan meminta maaf kepada sesama sebelum pintu tobat benar-benar tertutup baginya. Hal tersebut karena mensegerakan tobat merupakan salah satu karakter orang-orang yang bertakwa.

"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran: 133). Dan tiadalah orang yang bertakwa, kecuali Allah akan membalasnya dengan surga. Wallahu a'lam.
Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

sumber : www.republika.co.id