-

Tuesday, June 18, 2013

Beginilah Cara Benar Memandang Harta

Harta merupakan salah satu benda dunia yang dihamparkan Allah untuk manusia (QS Ali Imron: 14). Ada tiga golongan manusia dalam memandang harta. Golongan pertama beranggapan bahwa harta adalah tujuan hidup mereka. Mereka mencintai, menggandrungi, mengejar, lalu bergantung pada harta seperti seorang bayi yang bergantung kepada ASI.

Mereka adalah orang-orang materialis yang tidak memiliki suatu idealisme. Islam hal itu sebagai perbuatan sia-sia dan batal. “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan“ (QS Hud: 15-16).

Kaum materialis yang hanya mengejar kepentingan dunia ini disebut sebagai orang-orang kafir yang seperti binatang. “Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahanam adalah tempat tinggal mereka“ (QS Muhammad: 12).

Golongan kedua adalah kebalikan dari golongan pertama, yaitu mereka yang hidup zuhud, mengelak dari kemewahan harta benda dunia. Mereka tidak kawin, tidak berpakaian. Mereka adalah para pendeta Buddha, Hindu, Yahudi, Nasrani dan orang-orang sufi Muslim. Jumlah mereka amat sedikit.

Terhadap golongan kedua ini, Alquran mengatakan, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas“ (QS Al-Maidah: 87).

Cara-cara kependetaan tidak dibenarkan dalam Islam. “Dan  mereka mengada-adakan rahbaniyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya“ (QS Al-Hadid: 27).

Golongan ketiga inilah yang dibenarkan Islam. Mereka bekerja mencari rezeki, memakmurkan dunia tetapi mereka tidak tenggelam atau larut dalam gebyar dunia. Mereka berpendapat bahwa harta benda dunia adalah modal ibadah kepada Allah.

Mereka mengikuti perintah Allah, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.“ (QS Al-Qashas: 77).

Alquran pun mengajarkan keseimbangan dunia dan akhirat seperti. “Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". Mereka Itulah orang-orang yang mendapat bagian dari yang mereka usahakan. Dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.“ (QS Al-Baqarah: 202).
, Oleh KH Muhammad Dawam Saleh


Pengasuh PP. Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan


sumber : www.republika.co.id

Monday, June 17, 2013

Menjaga Kemaluan

Sepekan ini, masyarakat Jabodetabek dihebohkan dengan pemberitaan dipotongnya (maaf) alat kelamin seorang pemuda di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Pelakunya merupakan salah seorang santri pondok pesantren di kawasan utara Tangerang.

Hasil penelusuran polisi, penyebab utama lantaran korban memaksa pelaku untuk berbuat intim. Membaca berita itu, saya sedikit terhenyak, mengapa teganya pemuda itu memaksa pelaku untuk berbuat zina yang benar-benar dilarang agama.

Patut kita akui, kasus di atas terjadi lantaran saat ini zina sudah dianggap hal biasa dan lumrah. Banyak di antara umat Islam yang telah melupakan kewajiban untuk menjaga pandangan dan kemaluan mereka. Alhasil mereka terjerumus dalam lembah perbuatan zina.

Padahal, Allah memerintahkan Nabi-Nya dan juga orang-orang yang beriman untuk menjaga pandangan dan kemaluan mereka. Dia uga memberitahukan kepada mereka bahwa Dia senantiasa pengetahui dan memperhatikan segala yang mereka kerjakan.

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Al-Mukmin: 19).

Pada mulanya, perintah tersebut tertuju pada pandangan. Lalu, Allah perintahkan hamba-Nya untuk menjaga pandangan sebelum menjaga kemaluannya karena semua yang terjadi itu bermula dari pandangan mata, laksana api besar bermula dari lilitan kecil. Jadi, pada awalnya dimulai dari pandangan kemudian terlintas dalam pikiran lalu menjadi langkah dan selanjutnya terjadi dosa ataupun kesalahan.

Maka dari itu, dikatakan bahwa barang siapa yang mampu menjaga pandangan, pikiran, ucapan, dan tindakan, berarti ia telah menjaga agamanya. Karena itu, Islam menekankan kepada umatnya untuk selalu menjaga kemaluannya agar terhindar dari perbuatan zina.

“Dan, orang-orang yang memelihara kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. Maka sesungguhnya, mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang sebaliknya, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Al-Ma’arij [70] : 29-31)”

Kerusakan akibat zina termasuk dampak paling besar karena dapat merusak kemaslahatan mata rantai keturunan, kehormatan alat vital, serta mendatangkan permusuhan dan kebencian yang lebih besar di kalangan manusia, baik dari pihak istri, sahabat, anak perempuan, maupun ibunya. Besarnya dosa zina berada tepat setelah dosa pembunuhan.
Allah SWT menegaskan haramnya berbuat zina dalam firman-Nya: “Dan, orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (balasan) dosa(nya).

(Yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dan dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh. Kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Al-Furqan [25] : 68 – 70).

Allah SWT menyertakan zina dengan syirik dan pembunuhan. Dia juga menjadikan balasan atasnya adalah hidup kekal di nerat dalam siksa yang berlipat ganda jika pelakunya enggan bertauba beriman, dan beramal shalih.

Allah SWT berfirman: "Dan, janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya, zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.( Al-Israa’ [17] : 32)”
Allah menyatakan kekejian zina merupakan keburukan yang demikian keji sehingga diterima oleh akal semua makhluk.

Ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya, Ari Amr bin Maimun al-Audy. Dalam riwayat itu ditulis: "Di masa jahiliyyah, aku melihat kera yang berzina dengan kera yang lain. Lalu, berkumpullah para kera dan melempari keduanya dengan batu hingga mati."

Allah SWT. juga menerangkan bahwa ujung dari perbuatan ini adalah berupa jalan yang buruk karena merupakan jalan kerusakan, kebinasaan, kefakiran di dunia, serta siksa, kehinaan, an bencana di akhirat. Melalui tulisan ini, saya mengajak agar selalu menjaga karunia pandangan, menjaga kemaluan sehingga derajat kita selalu diangkat dan tidak direndahkan di mata manusia terlebih Allah SWT.
,  Oleh Dr HM Harry Mulya Zein

sumber : www.republika.co.id

Sunday, June 16, 2013

Belajar Teliti

Peribahasa Teliti sebelum membeli tampaknya  tidak hanya tepat untuk calon konsumen atau pemilih agar tidak membeli kucing dalam karung, tapi juga relevan untuk siapapun, kapan saja, dan di mana saja.

Ketelitian sangat diperlukan dalam segala aspek kehidupan. Karena teliti merupakan sifat terpuji  yang sangat dianjurkan oleh Islam.

Allah memerintahkan bersikap teliti, karena menusia cenderung  bertindak tergesa-gesa, ceroboh, dan tidak
berpikir jangka panjang. "...Dan manusia itu cenderung bersifat tergesa-gesa." (QS. Al-Isra' [17]: 11). Padahal,  tergesa-gesa itu termasuk perilaku setan.

Ketelitian merupakan pangkal keselamatan dan kemaslahatan bersama. Sedangkan kecerobohan menjadi penyebab kegagalan, penyesalan, dan kerugian.
Hal ini sudah terbukti dalam banyak hal. Akibat tidak teliti atau ceroboh, misalnya, seorang pemimpin atau tokoh masyarakat bisa kehilangan muka jika mengeluarkan pernyataan yang keliru atau tidak berdasar.

Bahkan bisa jadi pernyataannya membuatnya diadukan kepada pihak berwajib karena dinilai melakukan fitnah atau tindakan yang tidak menyenangkan.

Kasir yang teliti pasti tidak akan membuat kecerobohan dalam menghitung uang. Istri yang teliti akan memilih cara yang efisien dalam membelanjakan harta suami.

Guru yang teliti akan memberi penilaian yang tepat dan adil kepada para siswanya. Peneliti yang teliti dan tekun pasti akan mengedepankan objektivitas dan netralitas, tidak menjadikan egoisitas dan kepentingan pribadinya untuk mengambil kesimpulan dan temuan-temuannya.

Polisi dan Badan Intelelijen yang  teliti akan sigap dan cermat dalam menyelidiki, memverifikasi, dan memprediksi hal-hal yang dapat mengganggu dan mengancam keamanan negara.

Menteri yang teliti pasti tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Presiden yang teliti juga selalu berusaha arif, tepat, dan cermat dalam mengeluarkan kebijakan.

Teliti tidak identik dengan takut berlebihan dan berlama-lama dalam mengambil sikap dan keputusan. Teliti
mengharuskan kejelian, kecermatan, akurasi, dan konsistensi.

Ketelitian menuntut kesabaran dan kebesaran jiwa untuk mengendalikan egoisitas dan kepentingan pribadi demi tegaknya kebenaran dan keadilan.

Dengan demikian, ketelitian merupakan salah satu aspek kecerdasan emosi yang menjadi pengendali sikap dan tindakan agar sesuai dengan nilai moral dan hukum yang berlaku, tidak menyimpang dari jalan yang benar.

Oleh karena itu, ketika menerima berita yang belum jelas kebenarannya, Nabi saw selalu memerintahkan sahabatnya untuk klarifikasi atau tabâyun (ceck and receck) agar tidak terjadi fitnah atau musibah besar.

"Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang menyebabkan kamu menyesal atau perbuatan itu." (QS. Al-Hujurat [49]: 6).

Ketidaktelitian dapat terjadi jika seseorang lebih mengedepankan hawa nafsu, kepentingan pribadi, cara berpikir subjektif yang tidak melihat jauh ke depan, dan  hanya tergiur oleh iming-iming materi yang menggiurkan.


Ketidaktelitian juga dapat diakibatkan oleh sistem (birokrasi) dan lingkungan kerja yang korup, sehingga budaya suap atau sogok-menyogok menjadi hal yang biasa, tanpa ada perasaan salah dan dosa. Na'udzu billahi min dzalik!

Sudah saatnya, kita selalu belajar teliti. Jika sikap teliti menjadi jati diri semua komponen bangsa, niscaya 
kita tidak mudah terkena fitnah sekaligus tidak gampang memfitnah orang lain.

Belajar menjadi orang yang teliti tidaklah sulit selama kita selalu berpikir positif, melihat depan dengan penuh optimistis, mengutamakan kepentingan umat dan bangsa, dan menjauhkan diri dari godaan materi dan hawa nafsu.
Sungguh, kita merindukan masyarakat  yang teliti dan berjiwa peneliti. Dengan ketelitian dan penelitian, masyarakat dan bangsa ini menjadi lebih dewasa dan berwibawa. Bangsa yang teliti adalah bangsa selalu mengedepankan kejujuran dan kebenaran.

Telitilah sebelum diteliti, karena teliti dapat membuat orang tidak menyesali diri di kemudian hari!! Wallahu
a’lam bish-shawab!

, Oleh Muhbib Abdul Wahab

sumber : www.republika.co.id

Saturday, June 15, 2013

Syaban dan Kiblat

 "Seandainya Allah SWT tidak merubah kiblat kaum muslimin dari Bait Al-Maqdis ke Ka'bah pada bulan Rajab tahun ke-2 Hijriyah, maka dapat dibayangkan betapa kerasnya konflik keagamaan antara kaum Muslim-Yahudi-Nasrani pada saat ini." Bait Al-Maqdiq adalah simbol kiblat tiga agama samawi (Yahudi, Nasrani dan Islam), karena ketiganya memiliki akar sejarah keagamaan dengan tempat mulia tersebut. Namun kesucian tempat tersebut seharusnya diikuti dengan tetap suci dan aslinya tiga ajaran agama samawi, sehingga dua ajaran yang pertama mengukuhkan satu ajaran yang terakhir. Namun kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Maka Allah SWT meridhai kecondongan hati Rasulnya yang menginginkan perubahan kiblat dari Bait Al-Maqdis dan telah berjalan sekitar enam belas bulan menuju ke Bait Allah Al-Haram Makkah Al-Mukarramah. Allah SWT berfirman: "Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi." (QS. Al-Baqarah: 144). Kaum muslimin yang menjadi subyek perubahan tersebut menerima perintah perubahan kiblat dengan positif thinking dan ihlas, bukan karena melihat eksistensi perubahannya melainkan siapa yang memerintahkannya. Sebab sudah merupakan sikap kaum muslimin untuk tunduk kepada perintah Allah SWT sebagaimana ketundukan ruh dan jasadnya. Allah SWT mengabadikan sikap tersebut dalam berfirman: "Kami beriman kepadanya, semuanya dari sisi Tuhan kami." (QS. Ali Imran: 7). Sementara orang-orang munafik, menanggapi perubahan kiblat tersebut dengan negative thinking dan itulah reperesentasi sikap hidup mereka secara keseluruhan yang menunjukkan kekacauan kondisi psikologisnya karena posisi mereka "tidak termasuk dalam golongan ini (orang yang beriman) dan golongan itu (orang kafir)" (QS. An-Nisa: 144). Mereka dengan nada aneh antara lain menyatakan: "Muhammad bingun hendak menghadap ke mana? Seandainya yang pertama benar, lalu mengapa ia meninggalkannya? Seandainya yang kedua benar, berarti selama ini ia berada dalam kebatilan." Adapun orang-orang Yahudi yang karekter dan sifat umumnya memang menentang apapun perintah Allah SWT dan Rasul-Nya serta mengingkari semua kenikmatan yang diberikan-Nya, bersikap sinis dan pertentangan nyata atas perubahan kiblat tersebut. Mereka mengatakan: "Muhammad telah mengingkari kiblatnya para nabi terdahulu. Seandainya ia benar-benar seorang nabi, pastilah ia akan menghadap kiblat para nabi terdahulu." Apapun reaksi mereka, sesugguhnya reaksi tersebut tidak memiliki makna yang cukup berarti karena perubahan arah kiblat merupakan kehendak Allah SWT yang mengandung berbagai sebab dan hikmah, diantaranya: Pertama, Penyatuan seluruh syiar keagamaan kaum muslimin di Makkah dan penegasan pada pengembalian Ka'bah sebagai tempat ibadah pertama manusia di bumi. Kedua, penegasan antara Bait Al-Maqdis dan Bait Al-Baram sebagai dua saudara kandung, karenanya Bait Al-Maqdis tetap dimuliakan dalam Islam dan tidak dapat dihilangkan oleh alasan apapun. Ketiga, sebagai ujian keimanan kaum muslimin kala itu hingga saat ini untuk menentukan siapa yang kuat imannya sehingga tunduk pada perintah Allah dan siapa yang lemah imannya, sehingga kembali dalam kekafirannya. Wallahu A'lam. Penulis dosen pasca sarjana PTIQ Jakarta
, Oleh Dr Muhammad Hariyadi MA
sumber : www.republika.co.id

Friday, June 14, 2013

Empat Karakteristik Umat Nabi Muhammad SAW

Alquran surah al-Fath ayat terakhir menyebutkan empat karakteristik yang harus dimiliki oleh umat Nabi Muhammad SAW.

Pertama,  asyidda ‘alal kuffar (bersikap keras terhadap orang-orang kafir). Bersikap keras dalam ayat ini bukanlah berarti umat Islam harus menempuh jalan radikal terhadap kelompok non-Muslim, akan tetapi maknanya adalah umat Islam harus berpegang teguh terhadap prinsip-prinsip dan nilai-nilai ajaran Islam serta mengamalkannya secara utuh.
Ungkapan lain, umat Islam tidak mengenal adanya kompromistis terhadap cara hidup orang-orang kafir yang tidak kenal batas halal dan haram.

Ciri kedua,  ruhama bainahum (menebarkan kasih sayang terhadap sesama). Umat Islam dituntut untuk menebarkan kasih sayang terhadap sesama mereka, membela yang lemah, meringankan kesusahan saudaranya, dan memberikan  manfaat kepada orang lain. Tentu semua itu harus dilakukan dengan penuh ketulusan hati, tanpa pamrih dan tanpa embel-embel yang sarat dengan kepentingan sesaat pribadi atau kelompoknya.

Oleh sebab itu, dalam menanamkan nilai-nilai kasih sayang ini, seorang tokoh pahlawan Indonesia, KH Ahmad Dahlan mengajarkan surah al-Ma’un kepada murid-muridnya secara berulang-ulang. Tidak lain, ini bertujuan agar kandungan atau pesan ayat tersebut dipahami dengan baik sehingga nilai kasih sayang tidak sebatas kata-kata, tetapi dibuktikan dengan aksi nyata, seperti gemar membantu orang lain, khususnya membantu dan menyantuni kaum dhu’afa, baik keperluan pendidikannya, pakaiannya, makanannya, maupun keperluan asas lainnya.

Ketiga, dzikrullah (mengingat Allah). Allah dan rasulNya telah memerintahkan umat Islam supaya banyak berzikir kepada Allah SWT. Nash al-Qur’an dan hadis Nabi SAW banyak menjelaskan tentang keutamaan dan pentingnya zikir. Jadi, ciri umat Muhammad selanjutnya adalah senantiasa mengingat Allah SWT, seperti menunaikan shalat, puasa, ibadah haji, membaca dan mendalami pemahaman Alquran, shalat malam, dan bentuk-bentuk zikir lainnya.

Namun, ibadah zikir ini tidak hanya dimaknai dengan zikir syafawi (lisan), tetapi perlu dimaknai dengan zikir yang lebih luas, yaitu dzikir fi’li (perbuatan) yang melahirkan watak dan perilaku yang baik dan terpuji ketika bergaul di tengah lingkungan kehidupan masyarakat yang kompleks dengan tanpa sifat kepura-puran dan kebohongan.

Ada pun ciri yang keempat, Simaahum fi Wujuhihim min Atsaris Sujuud (terdapat tanda bekas sujud pada wajah mereka). Maknanya, bahwa wajah umat Muhammad SAW akan memancarkan cahaya putih disebabkan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT. Jadi, zikir ritual yang disertai aktivitas sosial kemanusiaan inilah yang menyebabkan wajah pelakunya bercahaya, yaitu pada air mukanya kelihatan kekuatan iman dan kesucian hatinya.

Demikianlah karakteristik mereka yang disebutkan dalam kitab Taurat dan Injil yang asli, perumpamaannya laksana tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas tersebut menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang Mukmin). Dan Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS Al-Fath [48]:29).

Penulis: Calon Mahasiswa Indonesia di Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya (APIUM) Program Ph.D Bidang Usuluddin
, Oleh Imron Baehaqi, MA



sumber : www.republika.co.id

Thursday, June 13, 2013

Pantang Berputus Asa

Allah SWT berfirman yang artinya: "Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, "Kapankah datang pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat." (Surah Al Baqarah 214)

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar." (Surah Ali Imran 142)

Hidup adalah perjuangan. Seseorang ingin mencapai kesuksesan dan kebahagiaan haruslah dengan kerja keras dan pengorbanan, dengan kesabaran dan ketabahan, terkadang dengan genangan air mata dan darah.

Musibah adalah kasih sayang Allah, agar manusia tidak terjerumus ke jalan orang-orang sesat atau yang dimurkai-Nya. Musibah merupakan rahmat Allah agar kita ingat kepada-Nya, kembali ke jalan-Nya, agar kita memperoleh kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat.

Ammar Bugis (27 tahun) seorang wartawan dan motivator dari Jeddah mengalami kelumpuhan fisik secara total sejak usia dua bulan sampai sekarang. Tiap malam selalu menggunakan alat bantu pernapasan karena sesak saat bernafas.
Ia tidak bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhnya kecuali dua bola mata dan lidahnya saja. Beliau sabar, tabah dan ridha atas takdir Allah bahkan bersyukur atas segala nikmat dan karunia-Nya.

Di antara nasehat-nasehat Ammar yang berkesan adalah ketika beliau berpesan agar kita selalu bersangka baik kepada Allah atas setiap musibah yang kita alami. Allah pasti memilih kebaikan untuk kita.

Ketika beliau ditanya apa hikmah yang ia peroleh dari kelumpuhan fisiknya? Beliau menjawab dengan mantap, "Yang jelas hisab saya di akhirat lebih ringan dari Anda yang sehat.''

Ia melanjutkan, ''Ini adalah suatu kebaikan untuk saya. Allah berfirman yang artinya: "Kemudian kalian benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (dunia yang kalian berlomba-lomba dan bermegah-megahan itu) " (Surah At Takatsur 8) Jawaban beliau sangat menggetarkan hati pendengarnya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya: "Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu pada keduanya yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang," (Hadits Riwayat Bukhari)

Ammar Bugis berpesan ketika diwawancara oleh TV Rawwad Makkah, "Orang yang melihat saya berbaring dalam keadaan lumpuh mengira saya tidak mendapatkan nikmat Allah. Sungguh Allah mengaruniakan kepada saya nikmat yang tidak terhitung banyaknya.''

''Allah mengaruniakan nikmat kepada saya nikmat Islam, Iman, akal, mata, telinga, kemauan yang kuat, perasaan, kekuatan hafalan sehingga saya dapat menghafal Al Quran (30 juz) saat saya berusia 13 tahun dan nikmat-nikmat lainnya.''

''Saya berpesan kepada masyarakat agar bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya dan hendaknya mereka menggunakan potensi dan kelebihan yang Allah berikan untuk memperjuangkan dien Islam ini, memberikan kontribusi dan manfaat untuk masyarakat."

Pesan beliau untuk orang-orang berkebutuhan khusus, "Janganlah kalian putus asa, buktikan kepada dunia bahwa anda mampu memberikan manfaat untuk masyarakat.''

''Anda harus percaya diri, bertekad kuat dan bertawakal. Ketika Allah menutup "pintu" bagi seorang hamba dengan hikmah-Nya pasti Allah membukakan kepadanya "pintu-pintu" lain dengan rahmat-Nya."

Beliau juga berpesan, "Perbaikilah hubungan Anda dengan Allah niscaya Allah akan memperbaiki hubungan Anda dengan Manusia".
, Oleh: Fariq Gasim Anuz

sumber : www.republika.co.id

Wednesday, June 12, 2013

Kebenaran Itu Kuat, Tuan

Kebenaran adalah kekuatan karena di dalamnya mengandung keyakinan dan kepercayaan yang sejalan dengan hati nurani. Kejujuran adalah kekuatan karena di dalamnya mengandung keyakinan dan kepercayaan yang sesuai dengan kata hati.

Sebaliknya kebatilan adalah kelemahan karena bertentangan dengan hati nurani. Kebohongan adalah kelemahan karena tidak sejalan dengan kata hati.

Semakin banyak sifat kebaikan yang terkumpul pada diri seseorang, maka semakin kuatlah posisi dan kedudukannya. Sebaliknya semakin banyak sifat keburukan yang menempel pada diri seseorang, maka semakin banyaklah titik-titik kelemahannya.

Namun kebenaran, kejujuran dan kebaikan walaupun kuat dengan sendirinya masih perlu ditopang dengan kekuatan sistemik karena tidak jarang perseteruan kejahatan pada waktu tertentu dapat mengalahkan kekuatan kebenaran dan kebaikan. Lihatlah perseteruan kaum kafir Quraish yang berhasil mengusir Rasulullah SAW dari kota kelahirannya Makkah.

Pada hakekatnya, saat semua gerak manusia dilandasi oleh kebenaran, kejujuran dan kebaikan, maka kala itu jasad dan ruhnya menikmati ketenangan, kenyamanan, ketentraman dan kedamaian. Hal tersebut karena jasad dan ruhnya berjalan pada rel fitrah kemanusiaan yang telah digariskan oleh Tuhan. Sebaliknya pada saat gerak manusia menyalahi semua prinsip kebaikan, maka pada saat yang sama jasad dan ruhnya berontak karena ia dipaksa menyalahi fitrah penciptaan.

Imam Mutawalli Al Sya'rawi menegaskan bahwa pada hakekatnya jasad dan ruh tunduk serta bertasbih kepada Allah SWT (Al Maddah wal ruh musakharani wa musabbihani bi amrillah fi al hayah al dunya). Setelah keduanya tergabung dan membentuk kehidupan, mulailah syahwat muncul dan mempengaruhi gaya hidup manusia. Saat keduanya terpisah dengan kematian, masing-masing kembali ke alamnya dan tunduk kepada Tuhannya. Keduanya bahkan akan menjadi saksi atas segala yang dilakukan oleh tuannya.

Maka orang-orang yang sabar memegangi kebenaran, kejujuran dan sifat kebaikan adalah orang-orang yang kuat karena jasad dan ruhnya berkesesuaian dengan fitrah kemanusiaan. Sebaliknya orang-orang yang dalam kebatilan, kebohongan, dan kejahatan berposisi lemah dengan sendirinya, kecuali mereka bersekutu dengan orang-orang sehabitatnya.

Selain kuat dengan sendirinya karena fitrah, kebenaran dan sifat kebaikan berasal dari Tuhan, sehingga penguatannya adalah penguatan transendental. Allah SWT berfirman: "Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu." (QS. Al-Baqarah: 147). Tuhan adalah representasi dari semua sifat kebaikan. Bahkan saking baiknya Tuhan, maka rahmat-Nya melampaui semua bentuk siksaan dan ancaman. Oleh karena itu, kendati dalam beberapa ayat Alquran Tuhan terkadang menyampaikan ancaman akan pedihnya siksaan, namun ayat-ayat kasih dan sayang-Nya masih jauh lebih banyak melampaui ayat-ayat ancaman-Nya.

Lebih dari itu, Allah senantiasa berpihak pada kebenaran, kejujuran dan kebajikan karena pemihakan tersebut bukti kekonsistenan-Nya terhadap penciptaan dan bukti dari keadilan Tuhan. Allah SWT berfirman: "Dan katakanlah: "Kebanaran telah datang dan yang batil telah lenyap." Sungguh yang batil itu pasti lenyap." (QS. Al-Isra: 81). 

Allah hanya memberi pertolongan kepada orang-orang yang memegang teguh kebenaran, kejujuran dan sifat-sifat kebaikan, kendati nikmat Allah di dunia tidak hanya terbatas bagi mereka. Maka berbahagialah orang-orang yang menegakkan kebenaran dan kebaikan, jauh dari sandiwara dan tipudaya dunia.
Wallahu A'lam

Penulis dosen pasca sarjana PTIQ Jakarta
, Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA*



sumber : www.republika.co.id

Tuesday, June 11, 2013

Menjadi Kaya

Ibnu Hajar Al-Asyqalani (wafat 852 H), suatu hari melintas dengan kereta mewahnya. Seorang Yahudi penjual minyak tar keliling mencegatnya.

Penampilan keduanya bertolak belakang; sang ulama tampak anggun dan mewah, sementara Yahudi dekil, compang-camping, berbau busuk dan kumal.

"Nabimu berujar bahwa dunia adalah penjara bagi si mukmin dan surga bagi kafir, benarkah demikian?" ujar Yahudi sinis.

Jawab Ibnu Hajar, "Betul, demikian sabda Nabi saw riwayat Imam Muslim." "Kalau begitu, akulah mukmin dan kamulah kafir!" hardik Yahudi.

"Oh gitu," sahut Ibnu Hajar sembari tersenyum lagi, "Mengapa begitu, hai Ahli Kitab yang malang?"  Yahudi menjawab, "Lihat saja keadaanku seperti ini, persis seprti di penjara. Sementara engkau bergelimang kemewahan, seperti di surga...!"

"Dunia, bagi kami yang beriman kepada Allah memang adalah penjara. Dikerangkeng dan dibatasi oleh syariat-Nya. Meski demikian kami sangat menikmatinya, bahkan  di antara kami telah mampu menaklukkannya. Sehingga jadilah dunia surga buat kami. Sementara bagi kalian yang tidak beriman, dunia ini sudah kalian sulap dengan kebebasan dan kemewahan. Dan tidak jarang, kalian terpenjara sendiri karena ulah nafsu liar kalian," jawab Ibnu Hajar bijak.

Tertunduklah Yahudi dan di hatinya kini membersit keimanan. Dan ujung cerita ini, mantan Yahudi ini  pun kemudian menjadi orang yang sangat kaya raya, namun sinar keimanannya menjadikan kekayaannya tidak lupa dan semakin mendekat kepada Zat yang mengkayakannya, Allah al-Mughny.

Saudaraku, petikan kisah ini pada akhirnya berpesan kepada kita, dunia boleh dicari bahkan Islam menganjurkan untuk menaklukannya.

Imam Ali karramallahu wajhah pernah berujar, "Kuasai dunia dan pimpinlah dia. Letakkan dia di tanganmu, tapi jangan sekali-kali menyimpannya di hatimu!"

Di era sekarang, masyarakat Muslim serba terbelakang dan berbenam kepapaan, mutlak bagi setiap individu muslim harus kaya, tapi jangan sampai gila harta, ia hanya washilah untuk meraih surga sebelum surga sebenarnya.
Bukankah kewajiban mengeluarkan zakat dan menunaikan ibadah haji, termaknai bahwa kita sebagai yang beriman kepada-Nya harus memiliki kemapanan financial.

Zakat, terutama zakat maal, diwajibkan hanya kepada mereka yang mampu (istitho’ah). Begitu juga dengan haji dan umrah. Mari saatnya kita rebut kemapaman diri untuk berupaya mengangkat harkat martabat Islam dan kaum muslimin. Wallahu A'lam.
Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham

sumber : www.republika.co.id

Monday, June 10, 2013

Penyelenggara Negara Berbasis Kejujuran

Komitmen Membangun Akhlak yang mulya  segenap  para Penyelenggara Negara tidak dapat ditawar-tawar lagi, pertarungan para elite partai politik dalam meraih simpati rakyat pada pemilu 2014 mendatang terus diupayakan.

Tentunya upaya itu akan sia-sia ketika kelak para elit politik sudah menjadi penguasa lupa akan janji-janjinya. Rakyat akan tersakiti dan kecewa pada saat mendapatkan kekuasaan serta menjalankan kekuasaan tersebut tidak jujur dan amanah.
           
Jika semua itu terjadi, masyarakat, para penyelenggara negara,  dan bangsa yang sudah tidak mengutamakan kejujuran dalam melakukan pekerjaannya dapat dipastikan akan mengalami kehancuran.

Karena itu, kejujuran adalah dasar dari kehidupan keluarga, masyarakat, dan bangsa. Kejujuran adalah prasyarat utama pertumbuhan dan perkembangan masyarakat yang berlandaskan prinsip saling percaya, kasih sayang, dan tolong menolong. Kejujuran adalah inti dari akhlak yang merupakan salah satu tujuan dari diutusnya Rasulullah oleh Allah SWT.

Hakikat kejujuran ialah mengatakan sesuatu dengan jujur di tempat (situasi) yang tidak ada sesuatu pun yang menjadi penyelamat kecuali kedustaan. Secara psikologis, kejujuran akan mendatangkan ketentraman jiwa. Sebaliknya seseorang yang tidak jujur pasti tega melakukan perbuatan serta menutupi kebenaran.

Kedustaan dan ketidakjujuran akan selalu meresahkan masyarakat, yang pada gilirannnya akan mengancam stabilitas sosial. Ketidakjujuran selalu akan melahirkan kepada ketidakadilan, disebabkan karena orang yang tidak jujur akan tega menginjak-injak keadilan demi keuntungan material pribadi atau golongannya saja.

Kejujuran juga akan melahirkan penghargaan terhadap hak hak orang lain. Sebab kejujuran sebagaimana yang telah kita uraikan diatas juga akan menumbuhkembangkan kecintaan terhadap kebenaran, keadilan dan kedisiplinan dalam hidup dan bekerja.

Kejujuran juga merupakan pintu masuk terciptanya pemerintahan bersih. Tanpa adanya prinsip kejujuran dalam bekerja, sangat mustahil clean and good government akan tercipta. Kejujuran pula yang membuat tiga pilar dari clean government seperti transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi mudah terwujud.

Dalam sistem transparansi terdapat terbukanya akses bagi semua pihak yang berkepentingan terhadap setiap informasi terkait-seperti berbagai peraturan dan perundang-undangan, serta kebijakan pemerintah– dengan biaya yang minimal. Informasi sosial, ekonomi, dan politik yang anda (reliable) dan berkala haruslah tersedia dan dapat diakses oleh publik (biasanya melalui filter media massa yang bertanggung jawab).

Akuntabilitas yakni, kapasitas suatu instansi pemerintahan untuk bertanggung gugat atas keberhasilan maupun kegagalannya dalam melaksanakan misinya dalam mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan secara periodik. Artinya, setiap instansi pemerintah mempunyai kewajiban untuk mempertanggungjawabkan pencapaian organisasinya dalam pengelolaan sumberdaya yang dipercayakan kepadanya, mulai dari tahap perencanaan, implementasi, sampai pada pemantauan dan evaluasi.

Sementara partisipasi merupakan perwujudan dari berubahnya paradigma mengenai peran masyarakat dalam pembangunan. Dengan prinsip kejujuran dalam bekerja, setiap aparatur pemerintah memandang bahwa masyarakat bukan sekadar penerima manfaat yang hanya diberikan informasi secara sepihak, akan tetapi turut disertakan untuk mengawasi. Dalam literatur sejarah Islam, hal ini sudah dilakukan ketika Khalifah Abu Bakar Asshidiq ra dilantik menjadi pemimpin pengganti Nabi Muhammad SAW.

Pada kitab al-Bidayah wa an-Nihayah, bab Masa Khulafaur Rasyidin, karya Ibnu Katsir, selepas dibaiat, Khalifah Abu Bakar Assidiq mulai berpidato setelah memuji Allah Pemilik segala pujian, ‘Amma ba’du, “Para hadirin sekalian, sesungguhnya aku telah terpilih sebagai pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik. Maka jika aku berbuat kebaikan bantulah aku. Dan jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah, sementara dusta adalah suatu pengkhianatan."

Pidato Abu Bakar ra membuktikan bahwa seorang pemimpin (juga aparatur negara) harus memberikan kesempatan untuk saling mengingatkan ketika terjadi kesalahan (kurang tepat sasaran) dan saling membantu (partisipasi) dalam menjalankan program yang baik.
, Oleh Dr HM Harry Mulya Zein
    
sumber : www.republika.co.id

Sunday, June 09, 2013

Perintah Shalat

Dalam perjalanan Isra dan Mi’raj, Nabi saw menerima perintah shalat dari Allah SWT secara langsung tanpa perantara malaikat.

Ibnu Hazm dan Anas bin Malik berkata, Nabi saw bersabda, “Allah SWT mewajibkan shalat atas umatku 50 kali sehari semalam. Maka aku turun membawa perintah itu. Ketika sampai di hadapan Musa, ia bertanya kepadaku, “Apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu untuk dilaksanakan umatmu?

Jawabku, “Allah SWT mewajibkan shalat 50 kali.” Kata Musa, “Kembalilah kepada Tuhanmu, karena umatmu tidak akan sangup melaksanakannya.Maka kembalilah aku kepada Tuhanku, lalu dikuranginya sebagian. Kemudian aku kembali kepada Musa dan berkata, “Allah mengurangi seperdua.

Kata Musa, “Kembalilah kepada Tuhanmu, sesungguhnya umatmu tidak akan sangup melaksanakannya.” Kembalilah aku kepada Tuhanku. Lalu Allah mengurangi pula seperdua. Sesudah itu aku kembali pula mengabarkannya kepada Musa.

Kata Musa, “Kembalilah kepada Tuhanmu, sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melaksanakannya.” Maka kembali pula aku kepada Tuhanku. Kemudian Allah SWT berfirman, “Walaupun lima, namun lima puluh juga. Putusan-Ku tidak dapat dirubah lagi.”

Maka aku kembali pula mengabarkannya kepada Musa. Kata Musa, “Kembalilah kepada Tuhanmu.” Jawabku, “Malu aku kepada Tuhanku.” (HR Bukhari).

Itulah prosesi penerimaan perintah shalat lima waktu yang diterima oleh Nabi SAW. Meskipun lima kali namun nilainya sama dengan 50 kali. Subhanallah. Hal ini menunjukkan sangat pentingnya ibadah shalat bagi kehidupan kaum Muslimin.

Shalat merupakan bentuk ungkapan penghambaan diri kepada Sang Khalik. Ia sebagai tali penghubung antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dengan demikian, jika Nabi saw melakukan mikraj untuk menerima perintah shalat, kini bagi kaum Muslim shalat sebagai sarana mikraj ke haribaan Allah SWT.

Oleh karena itu, dalam peringatan Isra dan Mi’raj Nabi saw kali ini hendaknya dijadikan sebagai momentum untuk mengevaluasi kualitas pelaksanaan shalat kita. Sehingga, shalat yang kita lakukan dapat mengubah diri menjadi lebih baik.
   
Selain itu, pelaksanaan shalat secara berkualitas dapat mensucikan diri dari sifat-sifat buruk. Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS Al-Ankabut [29]: 45).
   
Rasululllah saw bersabda, ”Barangsiapa yang mendirikan shalat tetapi dirinya tidak terhindar dari perbuatan keji dan munkar, maka hakikatnya dia tidak melaksanakan shalat.” (HR Thabrani).
   
Hal ini terbukti dengan keadaan orang-orang munafik. Meskipun mereka shalat bersama Nabi saw, namun mereka justru menjadi penghuni neraka yang paling bawah.

Karena shalat yang dilakukan bermaksud untuk riya. Seakan-akan mereka mendirikan shalat dengan penuh khusyuk, namun sejatinya mereka tidak shalat. (QS An-Nisa [4]: 142-143).
   
Marilah pada peringatan Isra dan Mi’raj Nabi saw kali ini jangan sebatas rutinitas, tapi jadikan sebagai sarana untuk terus memperbaiki kualitas shalat kita, agar perubahan ke arah yang lebih baik dapat terwujud. Semoga.
. H Imam Nur Suharno MPdI

sumber : www.republika.co.id

Saturday, June 08, 2013

Mencintai Dunia

Cinta dunia sudah menjadi fitrah setiap manusia. Tapi, jika porsinya berlebihan, cinta dunia bisa melemahkan hati dan jiwa. Karena itu, penting untuk selalu hati-hati dalam bergaul dengan dunia.

Menurut Syaikh as-Sadhan, cinta dunia yang terlarang adalah cinta dunia yang menyebabkan seorang lalai dari urusan akhiratnya. Kondisi seperti ini secara otomatis akan melemahkan hati.

Lemahnya hati merupakan kondisi yang sangat dinanti setan. Pada saat kita lemah, setan akan leluasa mempermainkan dan memecundangi kita. Sekitar 14 abad silam, Rasulullah telah mengingatkan tentang hal ini.

Beliau bersabda dalam sebuah hadisnya yang sangat populer, “Hampir saja umat-umat  memperebutkan kalian seperti sekolompok orang yang sedang lapar memperebutkan makanan. Para sahabat bertanya, “Apakah karena kami sedikit waktu itu wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Tidak, bahkan waktu itu kamu sangat banyak tapi kalian tak ubahnya buih dan sungguh Allah akan mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan memasukkan kepada  kalian al wahn. Sahabat bertanya, “Apakah al wahn itu?” Rasulullah bersabda, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Ahmad dan Abu Daud).

Hadis di atas mengabarkan kuantitas bukanlah jaminan utama lahirnya sebuah kekuatan. Kekuatan sesungguhnya akan tumbuh ketika kita bisa selamat dari al wahn, penyakit cinta dunia dan benci terhadap kematian. Untuk mengobati penyakit berbahaya ini, Rasulullah telah memberikan resepnya.

Dalam sebuah hadis, beliau bersabda, “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kenikmatan (mati).” (HR Tirmidzi). Yang dimaksud pemutus kenikmatan adalah mati.

Mengingat mati bisa menjadi penawar atas ambisi dan cinta dunia kita yang berlebihan. Dengan mengingat mati, visi akhirat kita akan senantiasa terasah dan kekuatan jiwa kita akan kembali tumbuh.

Semangat mengejar akhirat kitapun akan menjadi dominan dalam keseharian tanpa mengabaikan urusan dunia. Hal inilah yang diinginkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (al-Qashas: 77).

Imam Shan'ani dalam bukunya Subulussalam menyebutkan atsar yang menjelasakan pengaruh mengingat mati dalam menguatkan jiwa.

Ad-Dailami meriwayatkan, “Perbanyaklah kalian mengingat mati karena tidaklah seorang mengingat mati kecuali Allah akan selalu menghidupkan hatinya dan menghilangkan rasa takutnya terhadap kematian.”

Dalam atsar lain disebutkan, “Perbanyaklah mengingat mati sebab ia akan menjadi penghapus dosa dan menyebabkan orang lebih zuhud dalam urusan dunianya.”

Singkatnya, dalam kondisi apa pun mengingat mati akan selalu mendatangkan manfaat dan kebaikan. Semua manfaat yang disebutkan tadi akan bermuara pada lahirnya satu kekuatan jiwa.

Semoga, dengan keuatan ini umat akan lebih siap dalam menghadapi kebengisan dan kekejaman musuh yang kerap datang secara tiba-tiba. Amin.
, Oleh: Ahmad Rifai
sumber : www.republika.co.id

Friday, June 07, 2013

Allah Tak Menyapa

Imam An-Nawawi dalam Riyadhus-Shalihin (hal. 616). menukil sebuah riwayat dari Abu Hurairah ra., bahwa Nabi saw  berpesan kepada para sahabatnya: “Tsalaatsatun laa yukallimuhumullahu yaumal qiyamah wa laa yuzakkihim wa laa yandzuru ilaihim wa lahum ‘azabun aliim”. (Ada tiga golongan manusia pada Hari Kiamat tidak disapa, tidak disucikan, tidak ditatap dan akan ditimpakan azam pedih). (HR. Muslim).
 
Pertama ; Syaikhun zaanin (orang tua yang berzina). Allah benci kepada siapa pun yang berzina, tapi lebih benci kepada orang tua bangka yang berzina.

Kenapa? Karena seorang yang sudah lanjut usia mestinya menjadi sumber kearifan, melindungi dan panutan masyarakatnya. Menjaga keharmonisan sosial dan keluarga serta semakin taqarrub ilallah.

Sama halnya dengan seorang tua yang menikah (poligami) lebih dari empat wanita atau menikahi dua orang bersaudara dalam waktu bersamaan. Allah melarang mendekati atau memfasilitasi perzinahan apalagi melakukannya, baik tersembunyi maupun terang-terangan. (QS. 17:32, 24:2).

Kedua ; Malikun kadzdzaabun (penguasa yang berdusta). Allah SWT beci kepada siapa pun yang berdusta (baik kata maupun laku), tapi  lebih benci lagi kepada penguasa pendusta. Kenapa? Karena ia akan merugikan orang banyak (rakyat).

Ia mengambil hak mereka (zhalim) dan membuat kebijakan yang merugikan, khianat dalam kepemimpinannya. Ia memperkaya diri dan keluarganya, sementara rakyat mengalami kelaparan dan kebodohan.

Kalau orang biasa yang dusta, dampaknya hanya untuk diri dan keluarganya. Allah tidak suka kepada dusta (kemunafikan). (QS. 39:32,29:3,16:116).

Ketiga ; ‘Aailun mustakbirun (orang miskin yang sombong). Allah benci kepada orang kaya yang sombong, tapi lebih benci lagi kepada orang miskin yang sombong. Kenapa? Karena tidak ada yang patut disombongkan.

Jika orang kaya sombong, masih bisa dimengerti. Meskipun, hakekatnya ia juga miskin, karena yang didapatkan bukan miliknya, tapi milik Allah.

Orang yang miskin harta, ilmu, kontribusi, ibadah dan lain-lain, namun sombong, itu namanya terlalu. Hanya Allah yang patut sombong (al-mutakabbir) dan Ia tidak suka kepada orang sombong lagi bangga diri. (QS. 4:36,31:18, 57:23, 29:39,17:37).

Nabi saw pernah berkisah, kelak di Hari Pembalasan akan datang orang yang mengalami kebangkrutan pahala (muflis),  karena seluruh pahala ritualnya  terkuras untuk membayar dosa sosialnya.

Bahkan, jika pahala  ritualnya habis, sementara dosa sosialnya masih ada, maka dosa-dosa dari orang yang diperlakukannya buruk, akan ditimpakan kepadanya hingga ia masuk ke dalam neraka. (HR. Muslim).

Islam menekankan ibadah dalam dimensi sosial jauh lebih besar daripada dimensi ritual dengan tiga alasan: Pertama, ciri-ciri orang beriman atau bertakwa lebih banyak ibadah sosialnya. (QS. 23:1-11).

Kedua, jika ibadah ritual bersamaan dengan ibadah sosial, maka didorong untuk mendahulukan yang sosial. Misalnya, Nabi saw pernah melarang seorang imam membaca surat panjang dalam shalat berjamaah (HR. an-Nasa’i).

Nabi saw juga pernah memperpanjang sujudnya karena cucunya bermain dipundaknya. (HR. Jamaah). Ketiga, kalau ibadah ritual cacat,  dianjurkan untuk berbuat sesuatu yang bersifat sosial.

Misalnya melanggar larangan puasa harus ditebus dengan memberi makan fakir miskin.  Sebaliknya, jika ibadah sosial yang rusak, tidak bisa diganti dengan ibadah ritual.

Misalnya, durhaka kepada orang tua dan dzalim kepada tetangga tidak bisa diganti dengan puasa, zikir atau membaca al-Qur’an.

Ketiga golongan manusia yang tidak disapa Allah SWT tersebut di atas, adalah orang-orang yang melakukan dosa sosial, bukan dosa individual.

Perbuatan buruk mereka telah merugikan dan menghinakan orang lain, baik secara moril, material maupun masa depan.
Jika dosa individual, ampunannya hanya berkaitan dengan Sang Khalik. Tapi, dosa sosial tidak terampuni jika orang-orang yang telah dianiaya (al-madzlum) belum memaafkan.

Oleh karena itu, patutlah jika Allah tak berkenan menegur sapa, menyucikan, menatap bahkan mengazab di Hari Pembalasan. Naudzubillahi mindzalik.   Allahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Ustaz Hasan Basri Tanjung MA
sumber : www.republika.co.id

Thursday, June 06, 2013

Keutamaan Menebar Salam

Suatu hari ketika Abdullah bin Umar RA pergi ke pasar dan mengucapkan salam pada setiap orang yang dijumpainya, seseorang bertanya padanya. “Apa yang engkau lakukan di pasar wahai Ibnu Umar? Engkau tidak berniaga, tidak juga membeli sesuatu dan tidak menawarkan dagangan, engkau juga tidak bergabung dalam majelis orang-orang di pasar.”

Ibnu Umar menjawab, ”Sesungguhnya aku pergi ke sana hanya untuk menyebarkan salam pada orang yang aku jumpai.”

Makna yang tersirat dalam kisah tersebut adalah keutamaan menyebarkan salam karena merupakan adab yang istimewa dalam kehidupan masyarakat Muslim.

Salam bukanlah sekadar tradisi pada pembukaan dan penutupan suatu acara semata, ataupun disampaikan pada orang-orang tertentu saja. “Islam yang baik adalah memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun tidak dikenal.” (HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW memberikan perhatian yang besar terhadap amalan salam, beliau memotivasi umatnya untuk senantiasa menanamkan dan mempraktekkan salam dalam kehidupan sehari-hari. “Apabila Rasulullah mendatangi suatu kaum, maka beliau mengucapkan salam kepada mereka sebanyak tiga kali”(Riwayat Bukhari).

Selain itu, kaidah-kaidah menebar salam telah diatur Rasulullah dalam banyak Haditsnya, Bahkan banyak para ahli Hadits mengkhususkan dan meletakkannya dalam satu bab tersendiri yang biasa disebut “Kitab Salam” ataupun “Bab Salam”.

Allah SWT juga memerintahkan kita untuk saling menebar salam, terutama ketika kita sedang bersilaturahmi ke rumah seseorang. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS an Nur [24]: 27).

Dan sesungguhnya salam yang kita sebarkan adalah doa untuk orang yang mendengarnya dan juga doa untuk diri kita sendiri. “…Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya), yang artinya juga memberi salam kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya bagimu, agar kamu memahaminya. (QS [24]: 61).

Inilah pentingnya kita sebagai umat Muslim untuk saling menebar salam di antara kita, baik itu di pasar, di perjalanan, di masjid dan di manapun ketika kita bertemu dengan siapapun, terlebih-lebih bertemu saudara seiman. Menebar salam dengan ikhlas dapat menjaga keimanan dan menumbuhkan ikatan cinta yang kuat dalam kehidupan umat Muslim.

“Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang sesuatu yang jika kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkan salam di antara  kalian.” (Riwayat Muslim).

Betapa indahnya ukhuwah Islamiyah ketika masing-masing kita saling menebar salam yang baik lagi santun. Dan Allah telah menyiapkan tempat yang mulia bagi siapapun yang selalu menebar salam. “Sesungguhnya orang yang paling utama di sisi Allah adalah mereka yang memulai salam.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).
Oleh: Zainal Arifin


sumber : www.republika.co.id

Wednesday, June 05, 2013

Pertolongan Alquran di Alam Kubur

Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah SAW bersabda, “Tiada penolong yang lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya).

Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang-orang sibuk dengan kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba-tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan.

Setelah dikuburkan dan orang-orang mulai meninggalkannya, datanglah dua malaikat. Yaitu Malaikat Munkar  dan Nakir yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab.

Tetapi si tampan itu berkata,” Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan untuk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam syurga.”

Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata,”Aku adalah Alquran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan. Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”

Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la. (Himpunan Fadhilah Amal : 609)

Allahuakbar, selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadis ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Alquran yang kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yang tidak ada  pembela. Sekaligus getaran takut, kalau-kalau Alquran akan menuntut kita. Allah… terimalah bacaan Alquran kami. Sempurnakanlah kekurangannya.

Banyak riwaya yang menerangkan bahwa Alquran adalah pemberi syafa’at yang pasti dikabulkan Allah SWT. Upaya agar mendapatkan syafaat Alquran tentu saja dengan mendekatkan diri kepada Alquran. Salah satu cara yang sangat baik dalam “memaksa” kita untuk dekat dengan Alquran adalah dengan menghafalkannya.

Dengan berniat menghafal Alquran hati kita seakan-akan terpanggil untuk selalu memegang Alquran. Ada tanggung jawab yang membuat kita merasa “bersalah” jika tidak memegang Al-Qur’an. Walaupun mungkin sekedar membacanya.

Pada akhirnya kita mau tidak mau “dipaksa” untuk mendekat kepada Alquran. Dapat dikatakan dengan menghafalkan Alquran kita telah mengikatkan diri dengan Al-Qur’an. Sesibuk apapun kita, kita dipaksa untuk selalu dekat Alquran. Dan itu sungguh bukan termasuk “pemaksaan” yang aniaya. Melainkan pemaksaan yang penuh kebaikan.

Semoga hadis di atas menjadi cambuk bagi kita ketika rasa malas menerpa kita. Semoga Allah dengan kemuliaanNya menjadikan Alquran sebagai syafa’at bagi kita, bukan sebagai penuntut kita.

Semoga Alquran menjadi “teman” bagi kita ketika tidak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat menemani kita. Amin. Mari menghafal Alquran.
Oleh Soraya Khoirunnisa
sumber : www.republika.co.id