-
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Thursday, January 19, 2012

Ling Lang Ling Lung 2012

Cerpen Tandi Skober
HMMM, berak perdanaku di tahun 2012 ternyata tercium hingga jauh ke istana negara. Ini membuatku gimana gitu. Duh malu-maluin aja deh daku ini. Lebih malu lagi ketika aroma ini diapresiasi Yudhoyono sebagai isyarat langitan yang patut dipertimbangkan untuk dipelajari dan dijadikan resolusi 2012. "Aroma berak lansia memang luar biasa," ucap Yudhoyono. "Harum dan tidak haram untuk disedot sesama lansia di ruang bercahaya cinta."
Cahaya cinta? Yudho mantuk-mantuk. Ia bersandar di dinding toilet 2014. Pupil matanya bernyanyi tentang hedonesia ria, "Ling lang ling lung pan kendel pribadi, tanpa rewang pan ucek-ucekan, tetukaran pada dewe, tan adoh swaranipun." Terjemahan bebasnya, tertelikung bingung, sendiri, bisu. Terpuruk di sudut pucat. Tetapi selalu saja ada konflik bermahkota amarah. Ada unjuk tarung di sebuah ruang tanpa cahaya. Dan suara risau terasa semakin jauh.
Saya tepuk tangan. Meski belum cebok, saya rangkul Yudho. Saya bisikkan pahatan teks kuno, "Pan gumrejeg padu tan enting, pan rebut kala menang, tan ana nirebut." Konflik di ujung pemberhalaan diri itu tidak bisa dihentikan! Mereka saling-silang berseteru memperebutkan pepesan kosong. Mereka cuma seonggok hantu yang menjahit kekalahan dan kekerdilan di atas involusi kloset berbau busuk.
Usai itu, kami berdua berlari riang. Sesekali kami bedua adu kencing dari atas Monas Jakarta. "Lihat kencingku kencang sekali, Yudho!" teriakku.
"Kencingku jauh lebih kencang, Tandiiiii!" teriak Yudho. "Lihat! Kucuran kencingku diperebutkan Prabowo Subiyanto, Mahfud MD, Sri Mulyani, Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Puan Maharani, Hatta Rajasa, dan entah siapa lagi!"
He-he-he-he, saya ngekek ngakak dan terbahak-bahak. Yudho emang sesuatu banget, deh! Saya tulis di mata kemayu Yudho, "Inilah nestapa Indonesia 2011, Yudho. Adalah tahun jental-jentul dengkul ngoplok ketika ada banyak ketakutan tidak bisa ditaklukkan. Kalender 2011 pating kelewer tebarkan aroma bom bunuh diri, tarian tuyul di ruang peradilan tipikor, polisi koboi dar-der-dor, politisi hedon yang membanci pamer harta takhta dan wanita, pengusaha mencret mensturasi kapitalistik, birokrat angrabeni dolar, bola yang tersangkut di tenggorokan Djohar, dan entah apa lagi selalu saja saja menyisakan air mata di lembaran kalender 2011."
Yudho nungging dan kentut! "Ah, saya sudah kentut, Tandi! Ini kentut perdanaku di tahun 2012! Kentutku jauh lebih sakti dibandingkan kentut Semar Kudapawana. Kentutku sejahterakan rakyat. Kentutku...."
"Kentut seorang presiden lebih didengar ketimbang teriakan sakaratul maut anak rakyat yang tewas di Papua, Bima, Mesuji," saya potong histeria kentut Yudhoyono.
"Mesuji?"
"Ya! Polisi ngesot di Mesuji?"
"Di Bima, polisi sarapan pelor mata Sape."
Saya tertawa. Joke Yudho pancen ok! Saya taruh Yudho di atas meja kerjaku. Saya paparkan bahwa Mesuji dalam utak-atik bahasa Jawa bermakna tikam (suji) sekaligus hidangan (sajen). Dalam mitologi Jawa Kuno, ritual suji sesajen menjadi bagian dari pepaten pepe—sejenis protes terhadap penguasa zalim—yang dilaksanakan di alun-alun di bawah lanskap matahari yang berkeringat. Pada saat suji sesajen itu, mengalirlah suara lirih teologi rakyat yang tertindas. "Mesuji saji, temuruna pepaten sujidharmono angrabeni sato khanti laku." Menikam di ruang persembahan disebabkan kematian seorang hamba yang terpuji, adalah lelaku buruk persetubuhan hewani. Persetubuhan hewani antara penguasa dan pengusaha di Mesuji akhir-akhir ini mengingatkan saya pada lorong muram mitologi Jawa Kuno itu. Rakyat terpuruk di sudut gelap dan di dalam gelap itu terdengar erangan ejakulasi mansturbasi kapitalisme.
"History teaches us that people have never learnt anything from history," bisik Yudho. "Sejarah mengajari kita bahwa manusia tidak pernah sukses belajar apa pun dari sejarah. Termasuk Timur Pradopo!"
"Timur?"
"Padahal ada cahaya sejarah yang membuat saya memilih Pradopo menjadi Kapolri. Ada dua hal substansional yang dimiliki Timur Pardopo. Pertama Pradopo memiliki kumis—rambut yang tumbuh di atas bibir di bawah hidung itu—sebagai tetenger. Era Majapahit, Jombang adalah daerah perdikan yang kerap dituturkan sebagai ruang asketis spiritual yang menginspirasi lahirnya Serat Kala Tida karya Ranggowarsito. Mangkya darajating praja. Kawuryan wus sunyaruri/Rurah pangrehing ukara/Karana tanpa palupi/Atilar silastuti. Terjemahan bebas: Negara porak poranda ambruk, tata nilai rusak, tak satu pun penggede negeri bisa dijadikan pola anutan. Manusia berpaling dari kearifan petuah lama."
Sesaat Yudho menghirup aroma amis mesiu, "Andai garis takdir genetika kultural itu diadop Timur Pradopo sebagai tuntunan dalam mengurai benang kusut konflik," lirih Yudho bertutur. "Ternyata, jauh kumis dari bibir!"
 "Langkah kalah yang pedih, Tuan Presiden," balasku. "Untuk itu kita perlu punya mimpi. Meski kita lansia, mari kita cantolkan mimpi di kaki senja yang gelisah. The future belongs to those who believes in the beauty of their dreams."
"Kamu hebat, Tandi! Seharusnya bukan Anas yang duduk di kursi panas Demokrat."
Saya menunduk malu. Dipuji Presiden saja jadi klepek-klepek, apalagi dipuji Allah swt yang Pengasih lagi Maha Penyayang. Saya coba tutupi kemaluanku dengan cara bertutur lebih formal, "Begini, Tuan Presiden, kebangsaan itu kudu diapresiasi sebagai refleksi solidaritas moral yang mensejarah sekaligus titik temu evaluasi empiris dengan proyeksi kehidupan berbangsa di masa depan. Dalam perspektif sejarah, masa lalu itu bisa ditandai dengan zaman keemasan Pajajaran, Melayu, Aceh, Sriwijaya, Mataram, Mahapahit, Ceribon, Bima, dan entah apa lagi."
"Hmm, berapa nomor sepatumu, Tandi?"
"Saya lebih suka pake sandal jepit, Tuan Presiden."
"Itu lebih baik dibandingkan memakai sundal terjepit."
"Dari ziarah sejarah ini," kembali saya bertutur, "impian bisa jadi pusaran ilusi di ujung runcing tiang bendera yang tiap kali kita tengadah akan berkibar imajinasi bersifat kolektif holistik. Benedict Anderson menakwil sebagai imagined communities (komunitas terbayang). Adalah terbentuknya suatu negara dilandasi oleh sebuah utopia bersama untuk membangun masa depan yang lebih baik. Sedangkan Bung Karno di depan peradilan 1930 melukisi impian itu dengan kalimat sangat bagus, 'Membangkitkan dan menghidupkan keinsafan rakyat yang pernah memiliki masa silam yang indah, masa kini yang gelap gulita, dan janji-janji suatu masa depan yang melambai-lambai, berseri-seri'."
**
PANYILEUKAN, Bandung, 1 Januari 2012, pukul 09.52.11 WIB saya berada di atas brankar bergerak menuju ruang bedah yang pucat. Saya berteriak bahwa berak perdana saya di tahun 2012 tercium hingga jauh ke Istana Negara. Tuan Presiden mencium aroma berak saya. Aneh, tidak satu pun perawat memercayai apa yang saya katakan itu.
Istriku yang bernama Angelina Sondakh terus-menerus, terus-terusan menangis. Brankar memasuki ruang bedah. Berhenti di sudut putih, bercahaya ribuan mayat. Ketika jarum suntik menusuk ruang sejarah, nalarku lengser ke titik nol. Dalam metamorfosis nol, saya lihat Tandi Skober melambaikan sajak "44" Toni Lesmana, "Mall. Seperti inikah kelak kubur itu. Ruang-ruang yang terus bersolek. Wajah-wajah penuh riasan. Aku hendak ke mana. Tanpa bekal. Sekadar petak umpet dengan satpam. Atau seperti eskalator macet. Diinjak dan dimaki. Mall. Seperti inikah kelak kubur itu. Aku asing dan terkucil."
***Tribun Minggu, 8 Januari 2012 | 22:16 WIB

Sunday, January 01, 2012

Hitut (Bekok)


Motto Minggu Inih: “Nuju Strèss Mah Ngeunahna Nyieun Carita…….”

BAB I: PENDAHULUAN

Saumur hirup kuring can manggihan aya jelema mènta hampura kana calana sorangan. Sok wè pikir, sabaraha kali urang kabèh hitut makè calana, boh di warteg, di mobil atawa luhureun kasur; pèdah we teu bèja-bèja. Lamun di bèja-bèja gè cenah moal abus tivi, moal ujug-ujug beunghar. Logis ogè sih, tapi rada sinis.


Bèda deui jeung si Abud, sobat kuring baheula di SD. Keur diajar ogè manèhna mah sok bèbèja lamun hitut tèh ka guruna. Sok ngacung. Barudak di kelasna sok langsung nyurakan. Guru Pepekaen ngambek bari ngagebrag mèja lantaran ngarasa ngajarna kaganggu. Jep barudak jempè kawas gaang katincak.

“Naha manèh sok hitut di kelas?” guruna nanya bari kekerot.
“Ah, Pak, barudak gè sok hitut. Pèdah wè tara ngacung, tara bèbèja. Lumrah wè atuh hitut mah, Pak, da teu ngarusak lapisan ozon, teu nambah pemanasan global. Lamun…”

“Tapi ngarusak stabilitas sosial!” guruna motong omongan bari ngagebrag mèja deui. Si Mae nu diuk hareupeun si Abud ceurik bakating ku reuwas. Si Somad kiih sauetik bakating ku soak.

“Ah, Pak Guru gè ngarusak sakitar, èta wè sok ngaroko nuju ngajar.” Si Abud nèmbal sangeunahna, lèbèr wawanèn, wanian pisan èta jalu. Puguh wè guruna kasinggung, asa disapirakeun ku budak satepak. Antukna mah si Abud disetrap nangtung ku hiji suku di hareup kelas, nepi ka jam balik. Ti harita, si Abud di landian “si Raja Hitut” ku barudak di kelas. Manèhna mah sok nyengir ngadèngèna. Katelah kitu tèh lain pèdah hitut hungkul, pangpangna mah bèbèja waè saban rèngsè hitut. Saliwat mah asa agul ku hitut. Tapi sok sanajan ayeuna geus gedè, si Abud masih kènèh dipoyok “si Raja Hitut” ku kabèh babaturanna di lembur.

BAB II: PEMBAHASAN

Bèda ayeuna mah geus gedè, caritana geus jadi mahasiswa, si Abud sok rada baeud lamun dipoyok si Raja Hitut. Tapi ari polos sok bèbèja hitut mah masih kènèh nepi ayeuna ogè. Ceuk indungna mah, lamun pareng dipoyok kitu, di imah si Abud sok teu nafsu dahar. Tapi sok mènta duit gedè. Si Abud sok baeud lila, keuheul cenah ka barudak sok moyok waè.

Tapi kuring sok langsung ngupahan lamun pareng si Abud dipoyok barudak. Kuring sok nyarita yèn kuring gè sok dipoyok “si jomblo” ku barudak. Tapi kuring mah tara ngambek, sok sabar, sok ngahibur diri. Kuring mah jomblo gè jomblo profetik. Kuring mah hideung gè hideung nasionalismeu, hideung transendental. Ngadèngè kitu tèh si Abud sok bungah. Ngarasa aya batur meureun.

“Hitut kuring mah ngèngkrèng. Tapi tibaheula ogè tara bau.” Ceuk si Abud hiji poè. Kuring jadi inget ka omongan almarhum aki, yèn hitut stèrèo mah sok tara bau, bèda jeung hitut laon, biasana sok hangit, sok bau tungir zebra.

Loba ogè babaturan hitutna laon, tapi tara ngaku, kalahka hèhèotan nyumputkeun hitut dinu caang. Ku buraongnamah sok teu daèk tanggung jawab lamun ditanya saha nu hitut. Kalahka silih tuduh. Kuring pernah manggihan aya jelema garelut lantaran aya nu hitut keur darahar liwet. Pas ditanya saha nu hitut, hiji pamuda ngacung. Sabenerna mah masalah geus bèrès, ngan èta pamuda kalahka nyarita pangalamanna nempo jelema hitut dina cangkir. Puguh wè nu darahar kabèh eureun. Pasèa wè jadina. Padahal da sangu teu ujug-ujug ngilu bau.

Sok anèh nya jelema mah, cuman lantaran hitut, bisa garelut. Padahal hitut mah lain tindak pidana, moal abus naraka deuih. Beda deui lamun hitutna pajabat nu keur koropsi, pasti abus naraka, lantaran loba nyangsarakeun rahayat ku koropsina. Aneh ogè mun nempo aya masyarakat èra ngadèngè hitut di tempat umum. Padahal nu kudu dipikaèra mah kalakuan maranèhna nu jorok miceun sampah sambarangan.

Kuring gè lamun pareng dipasamoan sok tara daèk nahan hitut. Kapok. Pernah kuring hiji waktu lila nahan hitut pas upacara bendèra, nepika ngucur cai tinu irung. Untung lain geutih ogè; untung tinu ceuli teu kaluar haseup ogè. Ah, ayeuna mah beledag-beledag wè. Tapi kuring mah teu kawas si Abud nu teu welèh bèbèja tur hitutna ngajelengèng. Hitut kuring mah wijaksana; disebut bau teuing heunteu, disebut teu bau heunteu; hitut stèrèo heunteu, hitut èpès mèèr heunteu. Pokonamah meujeuhna keur dikonsumsi publik mah. Hiliwirna teu subversif!

Tapi kuring keur SMA pernah sabulan mumul ka masigit lantaran èra ku katua DKM. Soalna kuring kalepasan hitut nyegruk keur solat. Tapi kuring nuluykeun solat nepika rèngsèna. Ustad Mahmud nu nyaksian kajadian èta nyarèkan kuring ku fiqih. Naha nya kudu wudu deui lamun hitut pareng solat? Naha ogè bet beungeut nu dikumbah, padahal bujur nu nyieun ulah. Jadi naon hubunganna bujur jeung beungeut? Naha, dulur, hitut bisa ngabatalkeun wudu? Jiga paantel kulit jeung awèwè waè. Jigana aya hubungannana awèwè jeung hitut.

Kuring baheula pernah ngalaman hitut hareupeun awèwè. Èra pisan karasana. Tapi kuring baheula can ngarti naha bet èra, padahal èta awèwè lain kabogoh. Tapi lamun jujur mah kuring embung hitut hareupeun awèwè mah. Kuring leuwih milih ngabodor teu dikeprokan tibatan kapanggih hitut ku awèwè mah.

BAB III: HIRUP NGARASA TIISEUN

Ayeuna mah urang nyarita nu lian, mudah-mudahan teu balik deui ka carita nu aya pakuat-pakaitna jeung hitut. Geus sabulan leuwih si Abud jeung Neng Mia bobogohan. Antukna mah ayeuna kuring jadi leumpang sorangan balik kuliah tèh. Si Abud beuki lèngkèt pisan ka Neng Mia. Jiganamah “tiada hari tanpa Mia”, atawa “hidup tanpa Mia bagai kopi hitam terinjak Sodikin.”

Tapi kuring teu tiiseun teuing, da masih aya radio warisan almarhum aki kuring. Tibeurang nepi ka peuting radio digeder. Lamun kabeneran bèak batu batrèna, kuring sok nginjeum batu batrè jam dinding di masigit. Lamun geus bèak pisan, cenah batrè kudu di poè atawa di pèkprèk makè batu bata. Bèjanamah sok tokcèr. Tapi èta ogè ngan kapakè sakeudeung. Antuknamah di poè deui handapeun gantar.

Tapi kuring strès nempo batu batrè nu di poè dipodolan hayam. Tapi giliran dicoba, radio hurung ngagateng sapoè-sapeuting. Kuring jadi bisa ngadèngè wayang golèk nepika subuh. Baè bau tai kotok saeutik mah, asal tong tai kotok wè nu bau batrè. Tapi èmang kudu aya penelitian ti ilmuwan di Indonesia kunaon sababna tai kotok bisa ningkatkeun ènèrgi batu batrè. Ari nanya tai kotok dileubuan mah geus ka jawab ku Aki Asmi ogè, teu perlu diteliti deui, lin?

Tisaprak hulang-huleng sorangan, kuring jadi ngarasa bosen hirup, asa teu boga batur. Rèk bunuh diri, teu wani. Rèk nèangan kabogoh, hambur biaya. Soalna kuring mah geus yakin, duit bakal bèak tapi awèwè tetep nampik. Maenya kudu bogoh ka indung mah jiga Sangkuriang atawa Oedypus? Saumur hirup kuring masih lèlèngohan. Ras jadi inget boga langlayangan dina para. Teu mikir panjang deui, kuring ngejat mawa kenur jeung langlayangan. Kuring lumpat ka kulon, rèk ngapungkeun langlayangan. Meungpeung angin gedè. Karèk gè dua mèter langlayangan ngapung, kurunyung tèh Ki Apud. Solongkrong ngajak sasalaman. Tapi teu kungsi lila murang-maring ka kuring, pajar tèh tong langlayangan, sing èra ku umur.

Langlayangan dipaksa titah diturunkeun. Langlayangan disoek-soèk, ditincak-tincak. Geus kitu mah ki Apud lumpat ka imahna. Di palupuh imahna nungguan nini Apud bari ajrag-ajragan ngeprokan Ki Apud. Sabelas-duabelas eta nini jeung aki teh. Bedegong. Kungsi oge baheula kuring dikerem di imahna, bari si nini maksa kudu ngajawab naon bedana palid ku “p” jeung valid ku “v”. Kuring harita teu bisa ngajawab.
Ayeuna giliran si aki nu harèèng, teu puguh-puguh kalahka ngarujadkeun langlayangan kuring. Kuring beuki strèss. Kuring ngarasa sirah hareurin ku masalah. Can gè bèrès strès, kuring narima gosip ti Nini Memeh yèn si Abud jeung Nèng Mia putus. Geubeug tèh kuring olohok. Can ogè dua bulan geus putus deui. Kuring gura-giru muru si Abud.

BAB IV: PEGAT DURIAT

“Bud, bèjana manèh pegat jeung Neng Mia?” kuring nanya bari ungsrak-ingsreuk. Si Abud ngabalieur.
“Bud, naha bet putus sagala?” kuring terus ngadesek.
“No comment.” Ceuk si Abud teugeug bari buru-buru ngingkig. Beu, jiga sèlèbriti waè si èta ngomong kitu ka kuring. Ngarasa di udag-udag waè ku kuring, si Abud mawa merecon urut lebaran.
“Manèh hayang paèh diancurkeun?” si Abud ngancam bari ngacungkeun merecon jeung korek api, “geus balik tong ngaganggu kuring! Kuring hayang sorangan!” si Abud katempona strès pisan. Batan mercon disundut, kuring balik ngèlèhan. Tapi kuring panasaran kunaon si Abud jeung Neng Mia putus. Jiga wartawan, kuring terus muru informasi. Sugan wè si Onah, adi Neng Mia, bisa mèrè info.

“Why, Onah? Naha lanceuk Onah putus jeung si Abud?”
“Muhun, Kang, saurnamah tètèh tos teu bogoheun deui.” ceuk Onah. Ceuk carita Onah mah, tilu poè katukang si Abud nganteur Onah jeung Neng Mia ka ulang tahun babaturan Neng Mia. Karèk ogè babaturanna manyun rèk niup lilin, si Abud hitut tarik pisan. Puguh wè barudak ngaburiak. Bejana mah hayam diburuan oge ngilu barirat. Acara jadi paburantak. Neng Mia èraeun ku barudak sakelasna sok dipoyok boga kabogoh tukang hitut. Neng Mia jadi èra bareng jeung si Abud. Teu kungsi heuleut saminggu, Neng Mia mutuskeun si Abud. Kuring sedih ngadèngè caritana. Watir si Abud, lantaran hitut jadi putus jeung Neng Mia. Batur mah putus tèh lantaran teu disatujuan ku kolotna, atawa selingkuh, ieu mah putus lantaran hitut. Geuning ayeuna mah horeng hitut gè geus jadi sumber disintegrasi.

BAB V: DÈPRÈSI

Si Abud sobat kuring. Jadi kuring moal nganteup manèhna sedih sorangan. Kuring tibarèto sagulung-sagalang jeung manehna. Tikamari kuring teu nempo si Abud ngaliwat kuliah. Bisana mah sok nyampeur. Kuring datang ka imahna, indungna ceurik. Bèjana mah si Abud geus teu daèk dahar, teu daèk mandi jeung teu daèk adan di masigit deui. Pagaweanna ngègèlan suku korsi. Pagawèanna tèh murang-maring di kamar. Malahan indungna gè geus teu bisa asup ka kamar si Abud, sok dikonci. Katempo ku kuring dina panto kamarna aya tulisan: YANG TIDAK BERKEPENTINGAN DILARANG MASUK. Tapi kuring boga kapentingan ka manèhna. Kuring ngawani-wani keketrok panto. Lila teu dibuka. Ngadèngè sora kuring, panto dibuka. Kuring sedih nempona. Beungeutna culeuheu. Buuk galing pajeujeut. Gering kabengbat ku awèwè.

Bus kuring ka kamarna. Kamar lir ibarat gudang barang, acakadut teu kaurus. Dina tembok deukeut jandela, aya tulisan make spidol: HATIKU YANG BEKU. Dina kantongna ogè aya tulisan: DIRIKU YANG LÈNGOH. Kuring terus ngupahan jeung mapagahan manehna, sangkan bisa dahar jeung mandi deui. Sangkan daèk kuliah jeung adan di masigit deui. Sangkan bisa nalian anak hayam tatangga deui.
Kuring ngarasa hatè si Abud buyatak pisan diputuskeun ku Neng Mia, geus level digembrong laleur. Geus hanyir. Si Abud dèprèsi. Pagaweanna nanggeuy gado. Manèhna pernah ngomong boga niat rèk bunuh diri. Tapi ku kuring dipapatahan bèbèakan malahan makè reperen filsafat jeung tasawuf plus hadist jeung buku La Tahzan. Teu kagok kuring mere buku-buku fiksi tamba stress ka si Abud, ti mimiti buku Edgar Allan Poe, Agatha Cristie, Ellerly Queen nepika buku Fredy S. Teu poho kuring ngabelaan nyiar buku kumpulan carita Jose Saramago, Nadine Gordimer, Gabriel Garcia Marquez, Hemingway, Tagore nepika Puisi Gibran. Tapi wayahna, Bud, kuring ngan saukur mere judul keneh.

Terus manèhna cenah boga niat rèk abus gèng motor waè mèh kabangbrangkeun. Tapi ku kuring dicaram. Alesan kuring mah, kahiji si Abud teu boga motor, kadua si Abud teu bisaeun naèk motor, katilu sawah haji Komar digaley munding geuring. Kuring mah leuwih satuju si Abud ngilu gèng DAMRI, soalna jauh-deukeut ongkosna murah.

“Lamun hirup peurih kieu waè mah, kuring mending milih jadi suung waè…” ceuk si Abud rada pesimis. Tapi kuring terus ngupahan si Abud. Kuring ngajak manèhna ulin ka dago, ulin ka unpad Jatinangor poè minggu isuk-isuk. Mèh teu èra teuing ulin teu jajan mah, kuring duaan ngahaja udunan meuli kolor. Kuring ngajak manèhna maènbal jeung barudak. Teu lila tidinya, si Abud geus teu katempo sedih deui. Manèhna geus bisa seuri. Manèhna geus daèk dahar jeung mandi deui, geus daèk kuliah jeung adan deui. Kuring atoh nempona. Sakapeung manèhna sok masih murang-maring kènèh. Eta gè lamun nempo jèngkol, cenah sok inget ka Neng Mia. Si Abud ngomong masih bogoh kènèh ka Neng Mia. Manèhna rèk terus ngudag Neng Mia sangkan daèk deui narima cintana.

BAB VI: HIDUP MIA! HIDUP PERSIB!

“Kuring mah cadu mundur sacongo buuk, haram ngejat satunjang bèas! Puah!” si Abud meni sumanget ku rasa bogohna. Ku sumanget-sumangetna, si Abud nulisan tembok kelas ku spidol beureum: HIDUP MIA! HIDUP PERSIB! Malahan opat poe deui boga niat rèk megat Neng Mia di sakolana, rèk nyatakeun deui. Si Abud ngabèlaan meuli bonèka Doraemon keur engkè mèrè ka Neng Mia. Sakalian wè atuh jeung baling-baling bambuna, terus teundeun dina sirah pak lurah. Tapi kuring bungah si Abud teu laèr sumanget deui. Optimis.

Singgetna, si Abud megat, Neng Mia lumpat. Duanana pada-pada keukeuh. Si Abud keukeuh bogoh, Neng Mia keukeuh embung. Tapi kuring bungah nempo babaturan teu èlèhan jiga si Abud. Manèhna terus ngudag hatè Neng Mia. Tapi saprak aya kajadian kasar ti Neng Mia ka si Abud, kuring jadi narik dukungan. Malahan kungsi kajadian, Neng Mia rudet ngarasa dipegat jeung diudag waè ku si Abud, manehna gogorowokan mènta tulung. Antukna mah si Abud dikoroyok tukang ojèg. Untung kuring jeung babaturan masih bisa kènèh nulungan. Geus tèga pisan Neng Mia ka babaturan kuring. Lain èta hungkul kajadian peurih tèh. Si Abud kungsi diciduhan ku Neng Mia bakating ijid pisan. Kuring jadi cua ka Neng Mia. Hayangna mah ngulub sirah Neng Mia. Tapi anèhna tèh si Abud tara malik ngambek ka Neng Mia. Manèhna mah sok malah seuri. Jigana lantaran bogoh nu gedè pisan ka Neng Mia. Lamun kuring mah leuwih milih marmot tatangga katerap bronhitis batan diciduhan ku awèwè mah, batan dihina terus ku awèwè mah.

Geus teu kuat nempo babaturan dihina waè ku awèwè, kuring ngawani-wani nyarèkan si Abud sangkan eureun ngudag Neng Mia. Nasib geus jadi bubur, Bud. Ayeuna mah pohokeun wè awèwè haramjadol kitu mah. DUNIA TIDAK SELEBAR CELANA DALAM. Tapi si Abud keukeuh lieur ku Neng Mia. Manèhna janji rèk terus ngetrok hatè Neng Mia sangkan daèk narima deui. Kuring gogodeg bakating ku hèran. Gening aya ogè jelema kawas kieu, Gusti…

BAB VII: MANGKAT KA JAKARTA

Geus dua peuting ieu kuring terus mikiran lalampahan si Abud. Tapi pikiran kuring pajeulit jeung omongan lanceuk kuring peuting kamari nu nitah kuring cuti heula kuliah. Kuring dititah gawè di Jakarta, jadi buruh ngetik di kantor babaturan lanceuk. Sabenerna mah kuring embung ninggalkeun lembur, tapi cenah gajina gedè. Èta oge cenah ngaganti pagawèan Cep Boby nu keur geuring katabrak setum. Ceuk beja mah Cep Boby sukuna potong jeung sirahna rengat. Jigana pililaeun geuringna. Kabeneran kuring boga kabisa ngetik. Baè ngetik ku dua curuk gè, asal gancang jeung rancagè cenah. Dua poè geus bèrès ngurus sagala rupa, kuring isukna mangkat ka Jakarta. Si Abud bangun nalangsa nempo kuring mangkat. Tapi kuring sakeudeung ngahibur manehna. Kuring janji rek mawa duit loba ti Jakarta. Si Abud nyuuh ka Kuring ulah ninggalkeun manehna.

“Kuring euweuh batur ngobrol. Kuring euweuh batur curhat. Indung kuring mah teu ngartieun diajak ngobrol sual hiburan kontemporer mah.” Pokna semu ngaheulas.
“Bud, kuring mah sakeudeung. Kuring rèk ngudag duit heula. Geus loba duit mah urang duaan jaga bakal bagja. Salila kuring euweuh mah, ngobrol wè jeung calana.” Cekèng tèh ngaheureuyan.

Lima jam kuring nepi ogè ka Jakarta. Kakara ayeuna kuring incah jauh ti lembur. Hareudang geuning Jakarta tèh, teu kawas di lembur nu tiis ceuli hèrang panon kènèh. Kuring kudu bisa jaga diri cicing di lembur batur. Tong culangeung, tapi tong èlèhan. Sanajan di lembur batur, henteu ganti pileumpangan. Ieu mah itung-itung pangalaman wè, tong jiga Ki Duyeh, ti ngongkoak nepi ka ngungkueuk masih cicing dilembur, dagang surabi saumur-umur. Euweuh pangalaman anyar. Poè isukna kuring geus kudu langsung gawè. Teu pira ngetik laporan sapuluh halaman unggal poè, ditambah ngajumlah-jamlèh duit, kuring diburuhan saratus rèbu. Saminggu wè kali saratus rèbu, lumayan bedus. Lanceuk kuring omat-omatan nitah kuring nabung. Sabalikna kuring ogè omat-omatan ka lanceuk kuring supaya tong mènta duit. Kuring keur hayang pelit.

Teu karasa geus sabulan leuwih kuring gawè di Jakarta. Duit beuki numpuk waè. Bayangkeun wè si Bos mèrè duit saratus rèbu unggal poè. Untung wè dahar sapopoè mah aya jatah ti kantor. Kuring geus hayang buru-buru ka lembur. Kuring rèk ngeureuyeuh nabung keur nuluykeun kuliah deui. Kuring inget tibarèto hayang meuli hapè. Geus teu kuat hayang meuli hapè Nokya. Kuring hayang nelpon si Abud di lembur tapi pasti manèhna can bogaeun, soalna hapè mah nyieunna lain tina taneuh sumur. Kapikiran ogè rèk meuli skripsi. Ah, haram kètang. Kuring mah leuwih milih indit ngarit poè jum’at batan kudu meuli skripsi mah.

Sok jadi inget ngomong skripsi tèh. Tibaheula kuring jeung si Abud guligah mikiran skripsi. Kuring duaan ngadon kukurilingan neang judul nu alus. Kuring pernah boga judul hade: RADIKALISME AGAMA DALAM PERSPEKTIF TRIO MACAN. Tapi heuleut sabulan diganti deui jadi: BERAS IMPOR DALAM PANDANGAN SAYA SEKELUARGA, atawa leuwih heded lamun dibalik: SAYA SEKELUARGA DALAM PANDANGAN BERAS IMPOR. Kuring bingung milih judul. Si Abud mah cenah geus manggihan judul keur skripsina: HUTANG PROFETIK; SEBUAH INTEGRASI-INTERKONEKSI MARXISME DAN WASIAT KAKEK SAYA.

Ah, kuring mah can bisa nyieun skripsi lamun can aya lèptop. Tapi, lamun duit tabungan aya leuwihna kènèh, kuring ogè hayang meuli lèptop. Eta gening komputer nu jiga jojodog. Kuring jadi inget, baheula keur di SMA boga babaturan sakelas pindahan ti Jogja. Manèhna kamana-mana mamawa lèptop. Kungsi ulin ka imah kuring mawa lèptop. Manehna kasohor tukang molor, wajar we da tukang melong komputer. Kuring riweuh nyangu, manèhna mah lalajo video dina lèptop. Meni nyantèi pisan. Kungsi ogè lèptopna tinggaleun di dapur, ku nini kuring kalahkan dipakè talenan, di pakè nyiksik bawang. Sugan wè lamun pareng meunang rijki gedè, jaga kuring bisa meuli lèptop.

BAB VIII: BALIK KA LEMBUR

Geus hampir dua bulan kuring gawè, Cep Boby bejana geus cageur. Isukna kuring geus bisa balik deui ka lembur. Di tengah jalan, kuring balanja heula keur bawaeun ka lembur. Kuring meuli baju keur indung. Teu poho dahareun keur bebenyit. Kuring ogè inget ka si Abud. Kuring meuli roko sakaradus. Teu poho meuli kopi hideung. Soalna si Abud mah embung ngaroko lamun euweuh kopi. Bèda jeung kuring, kuring mah embung ngaroko lamun euweuh seuneu. Kuring ogè meuli baju koko jeung calana sontog keur si Abud. Keur bapa kuring mah meuli sarung, kopèah jeung kaca panon hideung, mèh katempona gaul jeung ginding. Keur indung meuli kurudung jeung mukena. Kuring oge meuli baju loreng tantara keur Ki Asmi, kokolot nu geus dianggap dulur. Sakalian meuli baju Spiderman keur incuna, si Abraham Entay. Ngahaja meulina dua stel, bisa parebut jeung Ki Asmi.

Kuring bungah bisa balanja keur kolot jeung dulur. Tapi kuring embung kokomoan balanja, soalna lalampahan masih panjang, dulur leutik masih riab. Can tangtu kahareup masih bisa ngala duit deui. Tapi kuring kahareupna boga kahayang ngebebenah imah jadi tilu umpak, panghandapna mah baè kolong keur hayam sarè. Sakuriling imah rèk dipinuhan ku wèsè umum mèh mangfaat ka urang lembur. Intina mah ngaminimalisir oknum masyarakat nu sok ngadon setor eusi beuteung di pipir imah. Lamun usum pemilu mah, wèsè bisa dijadikeun kamar suara.

Jam 12 beurang kuring nepi lembur. Di imah jempling. Sakeudeung sasarèan dina korsi tengah imah. Ari heug antukna mah ngan ukur molotot teu bisa sarè. Barudak badeur tingkalacat luhureun korsi ngaganggu kuring. Piraku kudu dibèrè racun beurit mah mèh lalindeuk. Geus asup adan asar kuring mandi. Tadina mah hayang panggih heula jeung kolot rèk prosèsi mere olèh-olèh, tapi jigana can baralik ti sawah. Kuring dandan ginding maksud rèk nepungan si Abud. Geus sono. Oleh-oleh keur manehna geus rapi di kantong kèrèsèkan. Saeutik disemprot parfum anyar. Jigana si Abud atoh pisan narimana.
Imah si Abud sarua jempling. Kuring keketrok bari hèhèotan. Ngahaja makè kaca panon hideung mèh si Abud pangling. Teu kungsi lila, panto muka. Nyampak indung si Abud ngabanghinghik ceurik. Hatè kuring ngadadak teu genah karasana…

BAB IX: PENUTUP

Langit lènglang. Kuring nangtung lila di jalan. Ngadègdèg nahan eungap. Ngarasa teu bisa nanaon. Pikiran geus barirat ka mana mendi. Hatè asa dibintih kasedih. Hatè asa ditindih kapeurih. Kuring nempo langit ujug-ujug baseuh. Kuring nempo panon poè kokolèbatan. Kuring nempo lalaki leumpang di jalan gedè teu makè calana. Sirahna dibuntel ku calana sorangan. Awakna kuleuheu teu kaurus. Sandal capit digantungkeun dina beuheung makè tali rapia. Kadèngè manèhna ngahariring. Teu kungsi lila manèhna ngarandeg, ngagantungkeun calana dina pager. Kuring ngadèngè manèhna mènta hampura ka calana sorangan. Ti belah kulon barudak leutik nyurakan bari nakolan kalèng. Manèhna seuri. Manehna ceurik. Manèhna ngamuk. Manèhna ngagorowok nyebut ngaran awèwè. Kuring teu kuat nahan cimata. Teu karasa cimata haneut seukeut dina pipi…

TAMAAAAAAAAAAAT
http://manuskripkesunyian.wordpress.com/2007/12/10/hitut/

Saturday, November 12, 2011

Sang Perayu

Oleh Jusuf AN
    TUGASKU hanyalah merayu. Dan merayumu, Rijal, tak segampang merayu orang kebanyakan. Merayumu butuh lebih energi, dan tentu strategi. Juga kesabaran berlipat-lipat, menunggu waktu yang tepat untuk melepaskan busur-busur rayuan paling mematikan.
    Aku masih di sini, Rijal, berkelebatan di atas kepalamu, di sekitar dadamu, mengawasimu saat malam kau berangkat tidur hingga kau bangun tidur dan kembali hendak tidur. Aku tak pernah jauh-jauh darimu. Aku terus bersamamu, menguntitmu ke mana pun kau pergi. Akulah yang kauanggap musuh sehingga berkali-kali kau berusaha mengusirku.
    Boleh saja kau mati-matian ingin mengusirku, tapi aku, aku, Rijal, akan tetap bertahan. Doa dan ayat Alquran yang kaulantunkan tentu saja akan membuatku terlecut dan kemudian aku menyingkir darimu sembari merintih kesakitan. Tapi aku tak mati, Rijal. Aku cuma sakit. Sakit yang lama-lama, karena saking terbiasa aku alami, sehingga tak pernah lagi kuhayati rasanya. Sakit yang sebentar saja akan hilang setiap kali kukenang masa laluku: kegagalan-kegagalan yang aku alami, serta dendam kesumat pada moyangmu. Betapa aku sengaja memelihara dan senantiasa mengingat masa laluku. Sakitku akan segera musnah manakala kuingat bahwa kau adalah manusia, yang punya saat-saat lengah, yang pastilah suatu ketika akan takluk oleh rayuanku. Sakitku, seluruhnya kutabung, dan kelak aku akan merayakan kemenangan sambil mengenang perihnya perjuangan.
    Sungguh, masih lekat ingatanku saat-saat berperang menghancurkan benteng cahaya di dada Musthafa, ayahmu. Keseriusannya bergelut dengan kitab-kitab tafsir, hadis, tauhid, dan fikih tak sanggup kuperdaya. Niat dan tekadnya menghafal Quran menyala-nyala, menutup celah-celah hatinya untuk kumasuki. Tekad itu pula yang kini meletup-letup dalam dadamu.
    Aku tak kuasa memaksa, tak punya daya untuk mementahkan atau membusukkan rencanamu untuk menghafal Alquran. Maka, mau tak mau aku mesti mengikutimu, bersabar menunggu saat-saat lengahmu sembari mengotak-atik rencana agar dapat mengalahkanmu lebih cepat. Mengalahkanmu, yang berarti kemenanganku, adalah ketika kau mati setelah benar-benar melepas ketahuhidan pada Allah. Itu adalah kemenanganku yang utama. Kalau itu tak dapat kucapai, paling tidak aku dapat mengalahkanmu dengan cara membuatmu sulit menghafal Alquran, atau membuatmu dapat lebih cepat hafal Alquran tapi pada saat yang bersamaan sifat ke-aku-anmu berhasil kusemaikan. Aku juga berharap Zulaikha, perempuan yang kaucintai itu, mengingkari janjinya untuk menunggu sampai kau hafal Quran. Janji yang Zulaikha tunjukkan dengan hanya seanggukan kepala. Aku ingin hatimu patah dan remuk oleh pengkhianatan Zulaikha nantinya. Atau, Zulaikha setia menunggumu, tetapi kau yang tak setia. Sebab, betapa banyak perempuan di dunia, dan tak sedikit yang lebih ayu dan cerdas dari Zulaikha. Ah, tapi mungkin kau akan tetap pada tekadmu untuk menikahi Zulaikha, dan tak apa. Tapi kelak, (mungkin saja) Zulaikha mandul, dan kau mencampakkannya untuk kemudian menikah lagi dengan perempuan yang subur.
    Aku telah mengantongi beberapa bahan yang akan kurangkai dalam rangka memenangkan perjuanganku. Aku telah menyusun sekian siasat, sesaat setelah kutahu renanamu berangkat ke Jombang tak bisa diganggu gugat. Aku punya rencana utama, rencana cadangan, rencana tambahan, rencana alternatif, dan rencana-rencana lain yang semuanya masih dalam bayangan. Aku bukanlah koruptor, pembunuh, atau perompok bank, dan memang caraku menyusun rencana tidak dapat disetarakan dengan mereka. Betapa menyusun rencana sudah menjadi kebiasaan bagiku sehingga aku tak butuh waktu lama untuk mengumpulkan sekian peluang, menandai sekian kelemahan-kelemahanmu, untuk kemudian bersiap menuju medan juang selanjutnya.
    Rijal, kau boleh tersenyum ketika teringat nikmat terbesar dalam hidupmu: kembali hidup sesudah jantungmu dinyatakan tak berdegup. Kau boleh beristigfar jutaan kali sambil menangis saat teringat masa lalumu yang segelap malam gerhana. Kau boleh menyusun apa saja agar matahari menerangi jalan-jalanmu di masa depan. Kau boleh berdoa, memohon apa saja. Kau boleh, Rijal, meski aku tak pernah menyuruhmu. Dan tanpa kusuruh pun kau telah melakukan sebagian di antaranya. Tapi, Rijal, inilah aku, makhluk yang kaunamai dengan setan ini, telah telah seribuan tahun mengenal bumi dan perangai manusia. Inilah aku, Rijal, yang tersembunyi dari matamu, senantiasa akan mengiringi gerak hati dan pikiranmu.
    Semua dokumen masa lalumu aku simpan di kepalaku yang kecil dan bertanduk. Aku hafal setiap lembar catatan hari-harimu sejak lahir hingga dua puluh dua usiamu kini. Semuanya kusimpan rapi, dapat aku keluarkan kapan saja jika aku butuhkan, kapan pun dapat kujejalkan ke kepala atau dadamu.
    Kau tak secerdas Musthafa muda, yang kini genap seratus hari lalu dikubur. Tapi aku tak bisa meremehkanmu. Musthafa telah memaku azan di telinga kananmu, dan ikamat di telinga kirimu beberapa detik setelah kau pertama kali memekikkan tangis karena kucubit. Kau yang dilahirkan ketika bumi mulai bertumbuhan dengan gedung-gedung, dan aspal mulai disiramkan di jalan-jalan mulanya adalah anak manja yang masih senang menetek ibumu sampai usia hampir lima. Tak seperti Musthafa kecil yang senang bertualang ke hutan, kau kecil menggemari main bola dan bermain kartu remi di kedai kopi. Sampai kemudian guru sekolahmu membuatmu jatuh gila pada buku, dan tak dinyana, setelah buku menjadi kawan sepimu, dan kau mulai pandai berwudu dan merapal Quran, mulailah tampak tanda-tanda darah Musthafa yang mengalir di tubuhmu.
    Memang, kemudian aku telah berhasil mengenalkanmu pada perempuan bernama Zulaikha, santri ayahmu, tetapi apa yang dulu aku harapkan setelah kau jatuh hati dengan perempuan itu sangatlah melenceng. Kau ketahuan membelai jidat Zulaikha, sesuatu yang sangat menggeramkan Musthafa. Kau menolak dinikahkan dan ibumu kemudian memberi jalan keluar. Kau kuliah dikuliahkan di Jogja, sementara Zulaikha pulang ke kampungnya.
    Di Jogja memang telah berkali-kali kau hampir berhasil kuperdaya. Hampir, itu artinya tidak lama lagi. Ada cahaya yang senantiasa menyelubungi dadamu saat aku berusaha meniupkan suara-suara, rayuanku. Mungkin cahaya itu adalah doa Musthafa, entahlah. Yang terang, kau tak pernah menamatkan kuliahmu. Kau memilih pulang ke Tuban, melupakan proposal skripsimu. Kau memilih hengkang kuliah setelah ayahmu meninggal untuk kemudian berencana menghafal Quran. Kau telah bertandang ke rumah Zulaikha di Rembang, dan di sana kau menggantungkan janji: akan melamar perempuan itu setelah kau mengantongi gelar hafiz Alquran. Tak dinyana, teranyata Zulaikha masih terus mengenangmu.
    Dapat aku bayangkan jika rencana yang telah kaususun itu berjalan mulus. Kelak setelah hafal segeluntung Alquran kau akan menikah. Lalu Zulaikha kauboyong ke Tuban. Kau akan menggantikan Musthafa, menghidupkan pengajian di masjid, membesarkan pesantren, dan beranak pinak. Kau akan semakin sukar untuk mendengar bisikan-bisikan yang kuembuskan ke dadamu. Aku akan lebih sering menangis dan merintih oleh lecut doa dan ayat-ayat Quran yang kaubaca.
    Ough, betapa membayangkan keberhasilan rencanamu itu, seketika membelakak mataku, mengepal tanganku, mengencang urat leherku, tegak ekorku, mengaum geramku.
http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/40599/Sang-Perayu

Friday, November 11, 2011

Jayadrata

KEGELISAHAN berkecamuk dalam dada Jayadrata. Seribu benteng hidup ksatria Kurawa tak juga mampu meredam resah hatinya. Matanya nanar memandang wajah matahari di atas sana yang timbul tenggelam dipermainkan gelombang awan hitam. Dia berharap siang cepat berlalu dan malam pun menjelang agar hidupnya bebas dari ancaman.
     Sumpah Arjuna yang akan memenggal kepalanya sebelum matahari tenggelam membuatnya berada pada tepi jurang kematian. Untunglah seribu prajurit pilihan Kurawa berhasil menghadang hasrat Arjuna. Penengah Pandawa itu kesulitan menembus barikade yang dibuat oleh para kesatria Kurawa. Kematian Abimanyu oleh ulah licik Jayadrata membangkitkan kemarahan Arjuna. Dia ingin membalaskan sakit hatinya.
    Tak ubahnya seekor tikus yang tersesat, Jayadrata bersembunyi di tengah benteng pertahanan yang dibuat prajurit Kurawa. Sang komandan, Duryudana, terus menghibur dan menenangkan hatinya yang masih ketar-ketir menghadapi detik-detik menegangkan.
    "Tenanglah, Jayadrata! Tak ada yang bisa menyentuh kulit tubuhmu seinci pun karena kamu berada dalam perlindungan paling aman. Arjuna yang sombong itu tak akan mampu menembus barikade pasukan Kurawa!" ujarnya meyakinkan.
    "Terima kasih, Kakang Prabu! Anda benar-benar pemimpin yang sangat mengayomi rakyat!" ucap Jayadrata puji sanjung kepada pimpinan Astina itu. Duryudana tertawa keras, hatinya menjura mendengar sanjungan punggawanya.
    Begitulah adab dan perilaku yang terjadi dalam pemerintahan Kurawa. Hal lazim antara pimpinan dan bawahan saling melontarkan pujian. Pimpinan berhasil menina bobo rakyat dengan slogan dan kata-kata menyejukkan. Sementara para birokrat atau punggawa Kurawa berlaku menjilat dan menyanjung pimpinan dengan bahasa "sendika dawuh". Prinsip asal bos senang menjadi pedoman. Mereka bermuka dua.
    Tapi meski sudah mendapat jaminan perlindungan dari para pimpinan Astina, tak dimungkiri hati Jayadrata masih diliputi waswas. Pikirannya membayangkan berbagai kemungkinan buruk. Dia tahu reputasi Arjuna sebagai kesatria tanpa tanding. Memang, sumpah Arjuna yang akan membakar diri jika tak berhasil membunuh Jayadrata sebelum matahari tenggelam tak ubahnya bumerang. Tapi siapa pun tak akan meragukan kesaktian Arjuna. Tak ada satu pun kesatria di muka bumi bisa mengalahkan Arjuna!
    Rasanya tak ada lagi tempat di sudut bumi ini yang bisa dijadikan persembunyian oleh Jayadrata. Karena ke mana pun dia pergi, Arjuna bakal menemukannya. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh titisan Dewa Indra itu? Ke dalam perut bumi, ceruk laut, atau kegelapan rimba sekalipun akan mudah ditembus. Arjuna bukan sembarang kesatria. Segala macam ilmu kesaktian dimilikinya. Bahkan rahasia alam semesta tergenggam di tangannya.
    Nyali Jayadrata rasanya menciut bagai batu yang menyusut menjadi debu, jiwanya mengerdil oleh tekanan batin yang menggerus tajam. Sungguh, belum pernah Jayadrata merasakan ketakutan dan ketegangan sehebat ini. Merasakan bayangan kematian sebegitu dekat, saking dekatnya ia bisa merasakan desir napasnya menyentuh pori-pori kulitnya. Perasaannya tercekam ngilu!
    Tiba-tiba Jayadrata mengenang kembali perjalanan hidupnya sampai pada titik ini. Keterlibatannya dalam perang Bharatayuda dan berdiri pada pihak Kurawa bukan tanpa alasan. Selain alasan primordial—kawin dengan Dursilawati, saudara perempuan Kurawa—ada alasan lain melatari keberpihakannya pada Kurawa. Masih terekam jelas dalam ingatannya, bagaimana ia dipermalukan Pandawa bersaudara. Kepalanya digunduli oleh Wrekudara. Rasa sakit hati dan dendam kesumat menggumpal dalam dada Jayadrata!
    Jika dilihat dari silsilah, sesungguhnya ia masih ada hubungan saudara dengan Pandawa. Menurut cerita Begawan Sapwani, gurunya, ia terlahir dari ari-ari pembungkus bayi Wrekudara yang dibuang. Oleh sang Begawan ari-ari itu dipungut dan didoakan hingga menjelma bocah laki-laki yang tumbuh dewasa. Tak heran bila perawakan Jayadrata mirip Gatotkaca, anak Wrekudara. Namun meski terbilang saudara Wrekudara, keluarga Pandawa tak mengakuinya.
    Atas didikan gurunya, Jayadrata menjelma menjadi kesatria sakti mandraguna. Dia memiliki sifat jujur, lugas, dan pemberani. Dia diwarisi oleh gurunya pusaka ampuh berupa gada bernama Kiai Glinggang. Kehebatan Jayadrata dalam perang tanding memikat hati Sengkuni. Patih Hastinapura itu lalu membujuk Jayadrata agar mau mengabdi di kerajaan Hastinapura. Dengan senang hati Jayadrata memenuhinya.
    Di Hastinapura ia menunjukkan kehebatannya sebagai prajurit yang tangguh. Prabu Drestarastra berkenan menjadikannya menantu dengan mengawini Dewi Dursilawati, adik perempuan Duryudana. Dia diberi kedudukan istimewa sebagai raja di kerajaan Sindu.
    Kedekatannya dengan Kurawa dan limpahan fasilitas mewah dari kerajaan membuat Jayadrata lupa diri. Dia melupakan ajaran kebaikan dari gurunya. Dia pernah menculik Drupadi dan berkeinginan menikahinya. Tindakannya itu tentu saja mengundang kemarahan keluarga Pandawa. Dia kemudian diburu oleh Pandawa. Begitu tertangkap, tubuhnya dihajar hingga babak belur oleh kakak beradik Pandawa. Rambutnya dicukur habis oleh Wrekudara. Untunglah datang Yudhistira menyelamatkan jiwanya.
    Atas peristiwa itu Jayadrata menjadi benci dan dendam pada Pandawa. Dia lalu bertapa ke hadapan Siwa dan memohon kekuatan agar bisa menaklukkan Pandawa. Namun Siwa mengatakan bahwa hal itu sangat mustahil. Meski demikian, Siwa menganugerahkan kepada Jayadrata kemampuan mengalahkan Pandawa bersaudara pada hari pertama Bharatayuda, kecuali Arjuna. Karena tidak ada yang mampu mengalahkan Arjuna dalam perang Bharatayuda.
    Tak mampu mengalahkan Arjuna, maka Jayadrata mengalihkan sasaran kepada Abimanyu, putra kesayangan Arjuna. Pada hari ketiga belas di medan laga Kurusetra, Jayadrata berhasil menghentikan Pandawa di dekat formasi Cakrawyuha yang sulit ditembus. Sementara Abimanyu yang terkurung dalam formasi itu dikeroyok oleh para kesatria Kurawa. Abimanyu kewalahan bertarung sendirian menghadapi ratusan kesatria Kurawa. Ia gugur dengan kepala terpenggal dari badan.
    Kabar kematian Abimanyu menggusarkan hati Arjuna. Ia lalu mengejar Jayadrata. Pihak Kurawa tak tinggal diam. Mereka berusaha melindungi Jayadrata. Kesal tak bisa menangkap Jayadrata, akhirnya Arjuna mengeluarkan sumpah akan membakar diri jika sampai matahari tenggelam belum berhasil memenggal kepala Jayadrata. Sumpah yang sempat menciutkan hati keluarga Pandawa dan memunculkan sedikit kegembiraan buat Kurawa. Karena sumpah seorang kesatria adalah janji yang harus ditepati!
    Duryudana dan saudara-saudaranya berusaha sekuat tenaga melindungi Jayadrata dari kejaran Arjuna. Sementara Arjuna tak henti melontarkan anak panah dari Gendewanya ke arah benteng hidup yang memagari tubuh Jayadrata. Begitu ketat dan berlapis-lapis pertahanan yang dibangun Kurawa guna melindungi Jayadrata, tak peduli ribuan prajurit kehilangan nyawa menjadi perisai. Begitulah prinsip Kurawa, apa pun dilakukan demi sebuah kemenangan, tak terkecuali mengorbankan rakyat tak berdosa!
    Aroma anyir darah yang meruap berpadu dengan gelombang debu tebal menyeraki langit. Padang Kurusetra menjelma kuburan massal bagi prajurit yang gugur. Wajah matahari terlihat sayu. Keletihan memenat pada tubuh semua prajurit. Mereka sudah kehilangan daya dan konsentrasi lagi. Mereka sudah mencapai titik kulminasi, di mana kejenuhan dan keletihan bercampur jadi satu. Pada situasi semacam ini, datangnya sebuah kabar menggembirakan bagai oasis di tengah padang tandus.
    Maka, ketika langit berubah gelap, matahari tenggelam di balik kekelaman, dan seruan kemenangan bergema ke segenap penjuru perkemahan Kurawa, wajah-wajah kegembiraan memancar bagai sinar bulan purnama. Duryudana dan saudara- saudaranya tak henti menyorakkan yel-yel kemenangan. Mereka sangat gembira karena durasi perang sudah habis. Lebih dari itu, mereka gembira akan menyaksikan aksi "pati obong" Arjuna!
    "Hari telah gelap! Waktu perang telah habis! Saatnya kita saksikan kobaran api dari tubuh Arjuna!" teriak Duryudana di tengah riuh massa.
    "Ayo, kita saksikan bersama-sama pembakaran Arjuna! Kita rayakan kemenangan!" Dursasana tak kalah mengobarkan emosi kegembiraan.
    "Benarkah semua telah berakhir?" Jayadrata yang masih bingung dengan sorak-sorai di sekelilingnya celingukan seperti orang linglung.
    "Benar, Jayadrata! Semua telah berakhir! Lihatlah, langit telah gelap. Matahari telah tenggelam! Kita menang! Kita menaaanggg.!"
    Jayadrata termangu-mangu, seperti tak percaya. Tapi langit di atas sana terlihat gelap, wajah matahari tak lagi nampak. Benar saja, siang telah lenyap berganti malam. Sebuah perasaan lega tiada terhingga mendadak meluap dalam dada Jayadrata. Bibir Jayadrata menyungging lebar, tak kuasa menyembunyikan kegembiraan. Dia kemudian larut dalam sorak-sorai kemenangan prajurit Kurawa. Benteng hidup yang melindungi dirinya buyar berhamburan oleh keriuhan menyambut kemenangan.
    Dari kejauhan Arjuna dan para punggawa Pandawa hanya bisa terpaku memandang kemeriahan di perkemahan Kurawa. Tapi mereka tak terlihat resah atau kecut hati, terutama Arjuna. Kesatria berbudi halus dan bijaksana itu terdiam untuk beberapa saat, seakan membiarkan seterunya di seberang sana menikmati pesta kemenangan. Keyakinannya begitu kuat tertanam dalam jiwanya bahwa kejahatan akan sirna. Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti!
    Setelah merasa cukup membiarkan Kurawa mabuk oleh kemenangan, Arjuna lalu menoleh pada Kresna seraya mengirim sebuah isyarat. Kresna mengangguk mengerti. Dengan suatu gerakan khusus Kresna pelahan membelah langit dan memperlihatkan wajah matahari dengan seterang-terangnya. Dengan kesaktiannya Kresna berhasil membuat semacam gerhana yang menyebabkan langit berubah gelap gulita, seolah malam telah tiba. Malam semu inilah yang disambut oleh Kurawa dengan sukacita.
    Maka, ketika cahaya matahari tiba-tiba muncul dari balik langit yang gelap, mata para punggawa dan prajurit Kurawa pun terbelalak terpana. Rona pucat dan ngeri memancar pada wajah mereka, terutama Jayadrata. Dan saat ia mendongak ke atas, tampaklah bayangan kematian menderas ke arahnya, meluncur bagai bola api yang jatuh dari langit. Tapi sesungguhnya kilatan cahaya yang datang itu berupa panah api yang amat sangat dikenalinya. Itulah panah api senjata pamungkas Arjuna bertajuk Pasupati!
    Sebelum ia sempat bergerak dalam waktu sepersekian detik, kecepatan laju panah Pasupati telah mendahuluinya, menerabas lehernya. Dan sebuah kepala menggelinding ke tanah, mengakhiri jiwanya. Semua yang ada di sekitarnya hanya bisa diam terpana, tak bisa berbuat apa-apa!
http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/48110/Jayadrata

Monday, November 07, 2011

carpon Batalion

Karya Lugiena De
Alumnus Jurusan Basa Sunda UPI, carponna kungsi dileler hadiah sastra LBSS

KOCAPKEUN di dataran benua anu jadi jagat campuhna Perang Dunya. Hiji perjurit papisah jeung batalion kesatuanana. Leumpang beurang reureuh peuting manéhna mileuweungan sorangan satengahing usum tiris nu wuwuh nyelecep maratan tulang. Langit teu weléh angkeub kahalangan kerepna hujan salju. Saampar lemah ngeplak bodas. Di ditu di dieu ukur tatangkalan raregas sanggeus lawas daunna maluguran.
Manéhna téh kaasup salah sahiji pasukan batalion anu dikirimkeun ka front hareup pertempuran. Sakumaha instruksi panglima perang, batalion manéhna dibéré tugas mertahankeun hiji kota anu pernahna kawilang stratégis. Anu lamun ditilik tina jihat taktik militér mah bakal nangtukeun éléh meunangna perang. Lantaran di éta kota pisan patepungna unggal jalur anu nyambungkeun sawatara kota penting séjénna.

Tapi geus ampir sabulan pasukan manéhna dibombardir musuh. Bororaah bisa males, teu dibéré hojah pisan téh saenyana. Da puguh sabatalion téh ukur pasukan infanteri wungkul. Ari kesatuan artileri jauh pisan pernahna aya di tukang, moal bisa ngadongkang stelling musuh. Dina usum tiris kawas kitu, alat tempur artileri anu singsarwa beurat moal bisa téréh-téréh nepi. Kitu deui serangan udara. Satungtung angkeub ku salju mah kapal gé moal bisa ngawang-ngawang. Nya taya deui nu diarep-arep iwal ti langit sugan geuwat lénglang.

Éstu teu kabadé ti anggalna saupama bagerakna musuh bakal gancang kacida. Saméméh hujan salju lekasan, batalion manéhna ancur katawuran nalika aya serangan ngagentak wayah carangcang tihang. Panarajang musuh lir caah mudal ti walungan. Bombardemén ngaburubut di mana-mana. Cindekna geus lain serangan leuleutikan deui. Unggal garis pertahanan bruh-brah teu walakaya. Mangtaun-taun ancrub di pangperangan, kakara harita manéhna nyeueung kaketir jeung kakeueung anu sakitu rohakana.

Teu ngadagoan diparéntah gé manéhna tuluy kabur sakalumpat-lampét nyingkahan musuh. Jauh, jauh pisan. Manéhna terus ngacir, asruk-asrukan ka jero leuweung. Unggal poé leumpang gagancangan. Teu sirikna reureuh ogé ngan ukur sakerejepan. Sanajan sora campuh pertempuran tinggal hawar-hawar, manéhna tuluy nikreuh teu eureun-eureun. Nyorang jarak mangkilo-kilométer, nempuh waktu mangpoé-poé.
Sajeroning lumampah manéhna teu weléh rancingeus tatan-tatan, hariwang pasarandog jeung pasukan musuh. Mangkaning amunisi geus méh béak. Untungna téh henteu nepi ka kalaparan. Da sok kaganjel-ganjel kénéh ku uncal atawa kelenci di leuweung. Diparengkeun tara hésé deuih manggihanana. Néwakna cukup ku pélor sasiki. Kalan-kalan dibongohan maké bayonét dina congo bedil.

Sanggeus mulan-malén meunang mangbulan-bulan, kakara lamun wayah peuting téh manéhna bisa reureuh rada lila. Ongkoh deuih geus lungsé kacida balas leumpang sakitu lilana. Tapi manéhna angger taki-taki. Saré gé tara nepi ka tibrana. Jajauheun kana nyegrék teu inget di bumi alam mah. Cacak aya sora ngorosak saeutik gé koréjat baé bangun nu reuwas nakeranan. Ceg leungeunna kana bedil, laju ngadepong bari culang-cileung.

Mangsa meleték panonpoé, manéhna nikreuh deui neruskeun lalampahanana, turta salawasna ati-ati. Teu sirikna bari luak-lieuk, paur aya musuh ngaberik. Bedil gé teu weléh dicepeng di hareup, kumaha baé peta perjurit nu sayaga némbak. Tara kungsi disoréndangkeun ka tukang. Komo dipapanggul mah. Baris kana cilakana lamun keur kitu seug jonghok jeung musuh.

Sapanjang kakaburan téh haténa teu weléh dikukuntit kasieun. Kalangkang musuh tuluy-tuluyan ngaririwaan. Paur jedér baé teu kanyahoan némbak. Nya ku lantaran éta manéhna teu wani kaluar ti jero leuweung. Kajeun sangsara kukurubutan atawa kukucuprakan dina ranca, lakar buni bari nyumput babari. Kitu gé tara nepi ka teu diawas-awas heula sorangeun di hareup téh. Kajeun ngarandeg heula, sangkan yakin yén liliwateun téh aman.

Antukna lila ti lila manéhna geus teu inget kana naon-naon deui. Anu minuhan sirahna wungkul kasieun jeung kahariwang anu pohara. Poé naon ayeuna, geus tepi ka mana, atawa geus sabaraha lila lumampah, tara ieuh dipikiran. Manéhna terus aprak-aprakan. Terus, terus, terus, ti usum tiris tug ka cunduk deui jeung usum tiris. Sataun, dua taun, tilu taun, mangtaun-taun, usum tiris datang deui. Manéhna geus teu inget ka banjar karang pamatuhan. Kulawarga nu ditinggalkeun lawas pisan kapopohokeun. Dalah ka dirina sorangan gé ngarasa samar. Hiji-hijina nu nyantél dina pikiranana nyaéta kudu nyingkahan musuh sing jauh.

Tapi dina hiji poé mah lalampahanana téh eureun, sabada yakin yén dirina aman. Saeutik-saeutik pangacianana mimiti ngumpul deui. Manéhna tuluy niténan kaayaan sabudeureun anu wuwuh jempling dilimpudan kasimpé. Tong boroning sora campuh pertempuran, dalah gumuruhna gé geus leungit sama sakali. Nu kadéngé ku ceulina ukur hawar-hawar séor angin katut babaung anjing ti kajauhan. Bet ahéng karasana éta patempatan téh.

Heuleut sawatara lila, manéhna mimiti misadar saniskara hal. Bruy-bray ingetanana baralik deui. Tuluy tumanya na jero haténa: aya di wewengkon mana ayeuna. Ras baé inget, yén harita musuh datangna ti béh kulon. Ari manéhna kabur téh maju ngalér.
Galabar baé muka peta, laju diimeutan sakedapan. Lebeng, ngan ukur bisa dilelebah. Enya, kira-kira geus nepi dieu aing téh, manéhna ngagerentes. Tapi manéhna sorangan sadar yén perkiraanana asa teu pati kurup jeung sagala rupa nu katénjo. Da kapan cék peta gé kuduna mah anjog téh ka leuweung pineus. Ari ieu bet asa karék manggihan leuweung siga kieu mah. Kana tatangkalanana gé teu apal saeutik-eutik acan. Padahal lain sakali dua kali mileuweungan téh, gerentesna deui.

Waktu manéhna luak-lieuk, katara aya haseup ngelun ti béh landeuh. Manéhna curinghak, tuluy ngadeukeutan bari salungkar-salingker di nu buni. Bréh baé kanyahoan, horéng lebah palataran di handap aya ténda barak. Kajurung ku panasaran, manéhna beuki ngadeukeutan. Tuluy nyidik-nyidik kelir seragam perjurit nu ngulampreng di luar. Tétéla pasukan manéhna pisan. Puguh wé atoh kacida. Geuwat baé lumpat tuturubun, laju muru ténda anu pangbadagna, seja rék lapor.
Barang sup teu wudu manéhna ngajenghok, da geuning di jero ténda téh lain ukur pasukan manéhna wungkul. Tapi campur jeung pasukan musuh. Kabéh perjurit anu aya di dinya keur ramé balakécrakan bari tingcakakak saleuseurian. Éstu layeut pisan, teu siga nu mumusuhan. Anu leuwih matak ngagebeg manéhna, hiji gé awakna euweuh nu walagri. Aya nu buntung sukuna, nu bolongor sirahna, nu bejad dadana, nu udal eusi beuteungna, jeung rupa-rupa deui. Tapi anéhna bet jagjag kacida. Bangun teu ngarasakeun kanyeri sakitu marandi getih téh.

"Har, geuning silaing? Iraha datang, euy?" Kadéngé aya nu nanya ti tukangeun, bari nepak kana sirah manéhna. Barang dilieuk, horéng komandan batalion, keur nangtung bari rarampéolan. Beungeutna sompad, panonna ngaplék sabeulah.

Sanggeusna ditepak, bet karasa aya nu beueus dina sirahna gé. Basa ku manéhna dirampa, enya baé getih mani lamokot. (*)

Kailhaman tina carita The Battered Bastards of Bastogne,
pertempuran Ardennes, Belgia, Désémber 1944.
http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/19677/B-A-T-A-L-I-O-N

Friday, September 23, 2011

Malabar Mung Kantun Gupay

UPAMI téa mah engkang pareng sumping deui ka rorompok, heug abdi kasampak tos teu aya, panuhun engkang henteu rengat galih. Sumawonna bendu. Ulah, engkang! Sanés, abdi mah da sanés badé baha. Leuh, ampun paralun. Sagala rupi kasaéan ti engkang éstu katampi. Dugi ka abdi ngaraos abot mulang tarimana. Natrat sareng buktos, engkang téh mana totomplokan miasih ka diri abdi.

Leres, sanés henteu bagja abdi gé dilayadan ku engkang méh saban wengi. Bingahna gé sakalintang. Naha mani kedah bari barang kintun deuih? Mani sok kumeleter abdi mah nampina ogé. Geura itu, pun biang sareng pun bapa mani nyempod kitu di palih juru. Sérab, teu werat kedah mayunan engkang.

Sumuhun. Hadéna aya Nyi Isah, tatangga. Ku héman jeung sonagar manéhna mah. Sok daék dihiras nyuguhkeun cai sareng lalawuh. Sanés lalawuh nu saé, muhun, lalawuh saaya-aya di warung. Da puguh teu aya ari nu langkung ti éta mah. Namung nu tangtos, pun bapa sareng pun biang sok teu wasaeun nyidem kabingah. Kadieunakeun mah, upami uningaeun engkang badé sumping, sakapeung nu teu aya gé sok ngahagal disiar. Sakantenan bari balanja ka pasar kanggo warung, saurna téh. Piraku teu dugi ka kitu onaman, engkang? Tangtos awon kasebatna, katatamuan ku putra gegedén di Malabar, henteu dihormat diugung-ugung.
"Geuning éta Cép Barkah, Eulis, sumpingna mani méh saban wengi?" saur ema mariksakeun hiji poé semu nu kareureuwasan.

Kuring teu wasa ngawalonan. Barina gé naon nu kudu ditembrakkeun? Bet kuring sorangan kebek kabingung. Enya, naon margina atuh pangna engkang pirajeunan ngersakeun sindang?
"Hih, alusna mah Eulis téh bungah," cék Nyi Isah mah, "Mana kitu gé Cép Barkah neundeun haté ka Eulis. Angguranan tarimakeun étah."

"Lah, sok ka mana waé Nyai mah," témbal téh, "Kumaha mun kuringna nu umambon?"

"Tapi da nembrak pisan, Eulis. Mani saban waktu Cép Barkah ngalongokan ka Eulis."

"Boa ngalongokan ka apa, Nyai?"

"Manasina keur aya apa!" kalah némpas Nyi Isah téh, "Kapan saban ka dieu nu ditatanyakeunana gé ngan ukur Eulis. Si Béntang Tanara, nu geus henteu bireuk deui di saperkebunan Malabar mah."

"Ah Nyai mah."
                    ***

Enya. Sakapeung ari wengi téh sok bati nyileuk. Sok teras kacipta, wengi-wengi engkang lungsur ngabujeng ka Tanara, mipir-mipir kebon entéh. Hawatos teuing, tangtos engkang maksakeun ku anjeun disisimbut ku angin peuting nu sakitu nyecepna. Pajah téh sawios cenah, dapon engkang tiasa tepang sareng abdi. Kutan leres engkang téh bangun nu teu isin ngalulumayankeun ka diri abdi? Engkang mah di perkebunan gé kapan kagungan pangkat. Putra gegedén deuih; Wakil Administratur kapan kasebatna gé tuang rama teh. Atuh akang ku anjeun kapan kasebatna gé Wakil Kepala Employe, nu ngageugeuh ublug-ablagna kebon entéh di saampar Perkebunan Malabar. Tebih tanah ka langit upami dibandingkeun sareng abdi nu ukur tamat SMP.

Naha naon atuh nu diseja ti diri abdi? Geura mangga ku engkang tingali, da teu sakedik kapan mojang anu langkung-langkung ti diri abdi. Naha manah engkang eunteupna henteu ka palih dinya?

Emh!

Nu teu disangka-sangka mah, bet tilu sasih kapengker engkang sumping ka rorompok pasisiang. Hih, da pun bapa mah nuju teu aya, engkang. Kapan teu acan mulih ti pabrik wayah kieu mah, sanggem abdi téh.

"Terang akang gé," walon engkang harita, "Kapan tadi akang nyanggem heula ka tuang rama di padamelan, popoyan badé nepangan Eulis di dieu."
Beu!

"Hapunten akang tos kumawantun. Nanging teu sawios, sakintenna Eulis henteu widi mah, akang badé wangsul deui," saur engkang téh.

Leuh geuning, panyanten téh engkang tara pundungan. Kalah matak geregeteun baé abdi ningalna. Sok asa enya hoyong teras ngaheureuyan. Tapi da nu kedal mah kalah, "Ku keresaan baé geuning rurumpaheun ngalayadan?"

Panjang engkang ngawaleran. Mani sagala bedah naon nu sakedahna nyumput bari sareng kedah dibuni-buni téh. Sanaos enya dibalibirkeun, da geuning negrak sagala rupi pamaksadan engkang. Leuh, boa engkang lepat ngedalkeunana? Ieu abdi mani bayeungyang. Sok piraku engkang keresa mileuleuheungkeun ka diri abdi? Kapan teu sakedik mojang nu langkung-langkung ti diri abdi. Muhun, bet naha teuing engkang henteu ngeunteupkeun deudeuhna ka palih dinya?

"Leres. Kitu ogé upami Eulis percanten yén rasa asih jeung cinta mah henteu dihahalang ku kalungguhan. Tapi diébréhkeun ku karep sareng itikad. Tah, ti lebah dinya medalna asih engkang mah," saur engkang téh.

Duh Gusti, kedah kumaha ieu abdi?

Ti harita, méh saban wengi engkang ngalayadan. Tiris-tiris gé geuning engkang mah mani keresa lungsur sumping ka rorompok. Sakapeung mah, ari pasisiang pareng mulih ngaroris kebon entéh nu ngaplak saampar tingal, sok pirajeunan sindang ngareureuhkeun palay. Saur engkang téh sanés badé istirahat-istirahat teuing, nanging duméh palay tepang sareng abdi. Kutan?

Nanging temahna, sok aya baé haréwos peurih kaangin-angin, "Hhh! Humayua, cécéndét mandé kiara si Eulis mah!"

Leres, bet nembé kaémut geuning, engkang. Caketna engkang sareng abdi téh teu wudu janten matak geruh. Tatanggi patingkecewis, sobat-sobat sok kapireng ngupat. Meureun enya cua ku lampah abdi, micileuk salira engkang, nu sanés bangban sanés pacing. Engkang mah da sidik gunung, abdi mah teu hunyur-hunyur acan.

Leuh teu kiat geuning janten jalmi nu sarwa walurat téh. Aya kabingah sakedik gé teu sirikna kalah janten catur nu teu kinten matak nyeuitna. Nu lepat mah da abdi kénéh. Henteu ngukur ka kujur.

"Heueuh ngaca atuh Eulis manéh téh," cék Nani téa mah, "Manéh téh ngan saukur bulu taneuh!"

Duh, peurih geuning engkang ari tos kedah nguping kasauran réréncangan nu sapertos kitu mah. Da sayaktosna deuih, abdi téh sasatna henteu ngukur ka kujur.

"Ulah didangu," kalah sasauran kitu geuning engkang téh, "Kaasih engkang da sanés pupulasan. Medal tina dasar ati nu wening."

Mani bungangang abdi téh ngupingna. Asa enya nuju janten awéwé pangbagjana tiasa dipiasih ku engkang. Namung temahna, tambih sering engkang sumping ka rorompok wuwuh sering baé haréwos nu matak nyungkelit humiliwir kana ceuli abdi. Sahéng sareng matak nyaksrak. Disabaran gé da geuning kalah nambihan héab, mani panas baé raraosan teh.

"Barina gé siah, Eulis, Cép Barkah mah da geus dirérémokeun ka Néng Yanti," cék réréncangan téh, "Nyaho manéh gé ka Néng Yanti, lin? Enya, putra Pa Kepala Pengolahan! Mani ngabanding jeung sadarajat kapan jeung éta mah."

Tuh! Nyeri. Teuing ku nyeri geuning ari saban dinten kedah ranyong ku nu sasauran kitu mah. Nu hawatos mah pun biang sareng pun bapa, sok teras dijarebian ku tatanggi. Disebat humayua. Kadongdora cenah, teu nalipak manéh. Beu! Geura mangga uningaan ku engkang, itu pun bapa tos sababaraha dinten ieu teu angkat damel ka pabrik. Pun biang tara mios ka pasar deuih. Warung sok teras nutup sadidinten. Isin tuda cenah.

"Sanggem engkang gé ulah didangu. Asih engkang mah Eulis, da puguh wening. Teu kahalang ku pangkat," engkang sasauran mani tandes.

Duh Gusti, tulungan ieu abdi!

"Nu langkung reugreug deui kanggo akang mah, Eulisna léah nampi kaasih ti akang. Naha naon deui atuh nu kedah janten hahalang?" saur engkang deui.

"Tau nalipak manéh si Eulis mah," ranyong deui nu sasauran kitu, "Rasa aing pédah boga beunget geulis?!"

Gusti, mugi paparin kakiatan ka diri abdi.

Engkang, hapunten baé abdi. Ayeuna mah, upami engkang pareng sumping deui ka rorompok, tangtos abdi moal kasondong. Panuhun mugi engkang henteu janten rengat galih. Sumawonna bendu. Ulah, engkang!

Ayeuna abdi tos tebih ngantunkeun Tanara. Malabar mung kantun gupay. Engkang mah ulah palay uninga, naha ka mana abdi lunta. Teu kedah disusul-susul. Dipaluruh gé da moal bahan kasungsi. Sakali deui, hapunten ieu abdi: Eulis Sumarni, nu lunta duka badé ka mana.
 Karya Dian Héndrayana

Thursday, September 22, 2011

Pernikahan Gerimis

AKU ingin menikah saat gerimis. Saat itulah aku bersenandung sendiri. Sementara, orang-orang yang mengasihiku tengah mengangkat gaunnya tinggi-tinggi. Mereka berhati-hati saat melalui jalan basah. Lalu mereka sedikit meloncat saat melewati genangan air. Tentu saja air keruh itu tak mau mereka setubuhi. Bisa malu mereka saat tiba di acaraku. Bisa habis juga masa pakai gaunnya karena noda yang takbisa terhapus deterjen.
    Aku bersiul. Begitu bahagia aku hari ini. Tak lagi sendiri hidupku nanti. Ada sang terkasih di sampingku. Berjalan kami akan beriringan. Tertawa kami bersahutan. Berdendang kami seirama. Dan, aku terus bersiul. Lalu sedikit mendongakkan kepala menghadap cermin. Aku khawatir belum tampil secantik yang orang-orang inginkan. Dan tentu saja, khawatir belum secantik yang terkasihku inginkan.
    Tuhan... aku teringat kala itu. Saat pandangan pertama yang menggoda. Saat bukan hanya mata, tapi hidung, telinga, dan hati pun tiba-tiba berbicara.
    "Nona, kau tampaknya jatuh cinta."
    Hatiku hanya berbisik. Tak mau ia berteriak, seolah kegirangan, seolah bahagia. Ia hanya tersenyum malu. Sambil memerahlah pipi ranumnya. Ah, betapa pemalunya kau ini.
    Di sekolah menengah aku jatuh cinta. Sekali lagi kukatakan. Itulah pandangan pertama yang menggoda. Teman-temanku bilang itu bukan pandangan pertama. Pernah juga kuberjumpa di kala dulu. Tapi tak kurasakan gemuruh gempa itu. Mataku pun mungkin hanya selintas saja melihatnya kala itu.
    Aku jatuh cinta. Setiap hari aku bersenandung. Setiap menit aku bersyair. Setiap detik bibirku menyungging senyum. Tuhan... indahnya jatuh cinta. Sampai tiba di sore hari, saat itulah terkasihku menghampiri. Kusambut dengan dendang indah yang memukau. Hingga harapku semua orang kan ikut menyanyikan irama romantisme yang terdengar.
    Oh, itu dia. Terkasihku datang. Aku mendekapnya. Aku jatuh di peluknya. Kulabuhkan tubuhku di gagahnya dirinya. Aku berayun. Aku menari. Dan aku terus berputar bersamanya. Lalu saat lagu itu terhenti, aku tersadar. Tak ada siapa pun di sekitarku. Orang-orang telah meninggalkanku. Hanya ada aku dan terkasihku. Aku menangis. Aku bersedih.
    "Mengapa mereka tak menyukaimu hingga memilih untuk pergi?"
    Mereka tak mau bernyanyi bersamaku dan terkasihku.
    Mengapa?
    Lalu aku pun pergi setelah terkasihku memilih untuk pergi. Aku pulang setelah terkasihku melepas tubuhku darinya. Dan ia pun menghilang. Tanpa pamit.
    Lama aku merenung. Aku berdiam. Aku tengah berdebat dengan diriku sendiri. Lalu kuputuskan untuk tetap mencintanya. Akulah sang setia. Sesetia lili putih yang ranum. Ia pun tampaknya berbahagia dengan keputusanku. Dan ia datang pada bulan September tahun lalu. Ia tampak semakin menawan. Ia memesonakanku. Tampilannya, sosoknya, perawakannya, inilah kegagahan dan romantisme yang menyatu. Aku mencintainya.
    Dan seperti dugaanku, orang-orang tetap tak menyukainya. Mereka tetap menghindar, meledek, mencaci maki. Hingga segera berlari mereka saat melihatnya datang. Tapi tetap kucintanya.
    Hingga hari berbahagia ini menyambutku. Aku senang sampai-sampai tak sadar tengah tertawa lantang. Kupeluk dan kucumbu sang terkasihku. Betapa indah membayangkan aku dan dia duduk berdampingan. Di singgasana ratu dan raja sehari.
    Sekali lagi kubercermin. Sekali lagi aku resah.
    Aku menunggu sang pengantinku.
    Dia belum datang.

    Dan dia tak jua datang.

    Dia tak datang.

    ....

    Entah berapa lama aku menangis. Menangisku tak lagi sesenggukan. Tapi hingga tak terlihat lagi mataku saking sembabnya.
    "Mengapa, Tuhan?"

    ....

    Tiba-tiba di bulan September tahun ini, dia mengetuk pintu rumahku. Aku kaget. Dia membawa seorang wanita menyeramkan di sampingnya. Dia bilang dia telah menikah. Betapa menyeramkannya wanita itu. Hingga tak mau lagi kuberjumpa dengannya untuk kedua kalinya.
    Dia dan kekasihnya pun pergi. Mereka bertolak dari rumahku. Mereka hilang bersama petir dan kilat yang menyertai mereka datang.
    "Pergi sajalah kau, Gerimis. Bawa kekasihmu ikut serta."
    Ternyata Gerimis, mantan terkasihku, telah menikahi Bencana. Satu hari di bulan Oktober, telah berlangsung pernikahan Gerimis dan Bencana.
    Berbulan-bulan setelahnya, mereka berbulan madu yang panjang. Mereka pergi ke utara, lalu ke barat. Mereka ke gunung, lalu ke laut. Dan kemudian mereka pergi ke kota, membawa oleh-oleh sang malapetaka untuk aku, kakakku, ibuku, ayahku, adikku, pamanku, semua orang.
    Banjir dan longsor di mana-mana.
    Kedua mempelai itu menguasai dunia.
***


Anisa Ami lahir di Bandung, 28 Februari 1987. Penulis dan editor lepas serta bekerja di sebuah penerbitan.