-

Tuesday, February 21, 2012

Bela Negara vs Bela Rakyat

"Agar negara kuat rakyat harus dilumpuhkan" (Nicolo Machiavelli)
PASTI para pemimpin negara ini tidak setuju dengan filsafat Machiavelli itu. Namun ketidaksetujuan mereka tak nampak dalam dalam praktik manajemen pemerintahan dan kepemimpinan mereka. Faktanya, rakyat selalu mengalami marginalisasi dalam segala hal: hukum, pendidikan, kesehatan, keamanan, dan sebagainya.

Dalam bidang hukum misalnya, kepentingan penguasa yang selalu terlindungi. Kemudian atas dasar menggaet investasi pemerintah sering mengabaikan kepentingan rakyat yang lebih besar. PT Freeport sampai sekarang selalu dibela mati-matian oleh pemerintah pusat. Papua yang kaya dengan sumber daya alam hidup dalam kemiskinan. Kemudian ketika muncul gerakan perlawanan kepada pemerintah dengan basis organisasi OPM (Organisasi Papua Merdeka) pemerintah langsung mengklaim ini gerakan separatisme.

OPM adalah akumulasi kekecewaan kepada pemerintah yang berkuasa atas kegagalan pembangunan Papua. Dalam bidang ekonomi, hukum, politik, sosial budaya mereka tertinggal. Inilah bentuk kegagalan bela rakyat oleh negara, sementara pemerintah selalu mensosialisasikan bela negara melalui pendidikan, layanan iklan, dan bentuk himbauan resmi. Sementara konsep bela rakyat tidak pernah disosialisasikan, ataupun dalam tindakan.

Baru-baru ini muncul tragedi yang sangat memilukan wajah republik ini. Kasus tragedi atau pelanggaran HAM di Mesuji Lampung merupakan bentuk absteinisme negara. Rakyat di Mesuji sudah ratusan tahun dan bahkan itu merupakan tanah leluhur mereka dipinggirkan oleh investor yang di back up habis oleh negara. Mengapa negara justru hadir membela pengusaha? Kalau sejak awal pemerintah tegas mengatakan kepada pengusaha bahwa rakyat sekitar harus diperhatikan dan jangan melakukan tindakan semena-mena maka tragedi Mesuji mungkin tidak akan pernah terjadi. Belum lagi tragedi Bima yang membuat rakyat menagis.

Bagaimana seharusnya negara dalam artian yang dikendalikan oleh pemerintah yang berkuasa sekarang dalam melihat dan memahami rakyatnya? Sementara di negara kita yang namanya abai terhadap kepentingan rakyat sudah sangat sering terjadi. Bahkan tokoh-tokoh agama sudah pernah menyerukan bahwa negara kita ini adalah negara gagal dengan berbagai indikator. Negara gagal yang gagal memahami perasaan rakyatnya ketika rakyat menghadapi kesusahan hidup.

Mengubah Paradigma

Ketidakberpihakan DPR kepada rakyat merupakan bentuk kegagalan negara secara institusional. Padahal DPR adalah wakil rakyat yang seharusnya menampung aspirasi masyarakat agar bisa diperjuangkan secara politik kelembagaan. Partai politik yang seharusnya memberikan pendidikan politik kepada rakyat justru memberikan pembodohan politik massal. Parpol selalu berjanji menjaring kepala daerah yang mengerti kebutuhan rakyat. Hasilnya bukan kepala daerah yang mengerti kebutuhan rakyat, justru membuat peraturan yang memihak kroninya dan koleganya.

Sudah waktunya paradigma bela negara diganti dengan penekanan bela rakyat. Ada beberapa indikator keberhasilan bela rakyat atau jika pemerintah ingin membangun paradigma pemerintahan yang bela rakyat, pertama, masyarakat miskin harus punya akses kepada kesehatan dan pendidikan yang bermutu.

Bukan pemandangan asing lagi di negara kita kualitas pendidikan dan kualitas kesehatan kepada rakyat sangat rendah. Rakyat miskin sangat kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik di rumah sakit. Banyak keluhan yang dialami oleh masyarakat miskin. Mereka tidak diperhatikan karena menggunakan Jamkesmas. Sementara pasien dengan kategori VIP selalu didahulukan.

Anak-anak miskin banyak bersekolah di sekolah pemerintah yang sangat darurat. Lucu rasanya di negara kita sekolah swasta mutunya lebih bagus dari sekolah negeri. Padahal di sekolah negeri gaji guru dibayar oleh negara melalui pajak dari masyarakat. Akses masyarakat ke pendidikan tinggi pun sangat rendah karena ketidakmampuan rakyat membayar uang kuliah. Untuk itu kualitas pendidikan yang baik dan kualitas kesehatan yang baik harus bisa diakses oleh masyarakat miskin sebagai indikator keberhasilan pemerintah berparadigma rakyat.

Kedua, pemerataan pembangunan yang adil. Selama ini yang menikmati pembangunan hanya segelintir orang saja. Banyak ketimpangan pembangunan yang terjadi. Baik pembangunan desa dan kota. Keberhasilan pemerintahan yang berparadigma bela rakyat ditunjukkan dengan pembangunan yang merata di segala bidang. Selama ini konsentrasi pembangunan hanya di Pulau Jawa. Luar pulau Jawa kurang diperhatikan oleh pemerintah. Padahal luar Jawa memberikan sumbangan dan kontribusi yang sangat besar.

Ketiga, supremasi hukum yang tegak dan sama bagi semua warga negara. Hukum yang progresif adalah hukum yang berlaku sama bagi semua warga. Hukum tidak bisa pandang bulu. Bulu pejabat, bulu tukang bakso, bulu nelayan sama semua dihadapan rakyat. Hukum yang tidak tegak telah melahirkan korupsi yang sangat ganas di negara ini. Banyak pejabat merasa tidak tersentuh hukum jika melakukan korupsi. Ini menjadi preseden buruk kedepan dalam penegakan hukum. Pemerintah atau negara berparadigma bela rakyat tentu tidak melihat membedakan warga negara.

Kalau pemerintahan membela rakyat maka dengan sendirinya negara akan kuat. Siapa yang meninggalkan rakyatnya maka negara itu akan masuk dalam perangkap kehancuran. Kasus negara Tunisia, Lybia, Mesir atau fenomena "Arab Springs" menjadi bukti kuat bahwa negara yang meninggalkan rakyat penguasanya akan jatuh. Tragedi Mesuji, Papua, Bima dan banyak kasus lain yang merupakan bukti kegagalan negara membela rakyat harus menjadi pengalaman bagi pengelola bangsa ini. Saatnya negara tampil terdepan dalam membela rakyatnya.
Galamedia jumat, 17 februari 2012
Oleh : Acep Hermawan
(Penulis, kandidat doktor Pendidikan UIN SGD Bandung)**

Monday, February 20, 2012

Islam dan Kesadaran Sosial Berbangsa

SECARA normatif dan teoritik, agama Islam mempunyai obsesi untuk bisa hadir di tengah-tengah manusia, sebagai fasilitator dalam pemecahan problem-problemnya 'liyukhrijahum min al dzulumati ila al nur' (agama itu datang untuk membebaskan manusia dari kegelapan). Asghar Ali Engineer (1999) menyebut, Islam hadir untuk menyelamatkan, membela dan menghidupkan keadilan dalam bentuknya yang paling kongkrit. Kenyataan demikian dapat dilihat dari banyaknya ayat al-Qur'an yang memerintahkan manusia untuk berbuat adil, menentang kedzaliman dan mengentaskan kemiskinan.

Namun sayang sekali, wajah Islam sebagai penyelamat, pembela dan penghidup keadilan itu, seringkali justru berbenturan dengan kenyataan empirik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kehadiran Islam bukannya memecahkan berbagai problem, tetapi justru menjadi problem itu sendiri. Dalam banyak kesempatan, agama bahkan hanya dipahami dalam bentuknya yang paling luar, sebagai ritual rutin yang jangkauannya hanya terbatas pada wilayah-wilayah privat dan spiritual belaka.

Praktek keagamaan seperti inilah yang sesungguhnya telah menyebabkan Islam dalam berabad-abad lamanya kehilangan spirit religiusnya yang murni, yakni spirit keadilan yang menghubungkan antara keluhuran ajaran dengan kemuliaan praktik-praktik kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari. Hilangnya spirit keadilan ini juga menyebabkan umat Islam seringkali kesulitan menerapkan Islam secara kaffah (menyeluruh), karena yang sering terjadi justru praktik-praktik kehidupan beragama yang parsial dan terkotak-kotak.

Seperti dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, umat Islam seringkali kehilangan daya kritisnya terhadap praktik-praktik ketidakadilan yang dilakukan oleh negara. Energi agama sebagai pembebas, nyaris tidak berfungsi. Rekonstruksi tatanan masyarakat yang berkeadilan kurang menuai hasil yang memuaskan karena agama hanya dipergunakan sebagai 'alat' untuk menumbangkan sebuah kekuatan politik atau rezim, bukan untuk mewujudkan keadilan secara menyeluruh. Ini bisa kita lihat di berbagai darah rawan konflik di Indonesia, sebut saja Aceh dan Ambon dan daerah rawan konflik lainnya.

Para sejarawan menulis, kedatangan Islam khususnya di Indonesia dan umumnya di seluruh belahan dunia adalah untuk merubah kemapanan serta mengentaskan kelompok yang tertindas dan tereksploitasi (masyarakat lemah). Mereka bahkan menyebut, masyarakat yang sebagian anggotanya mengeksploitasi sebagaian anggota lainnya, yang lemah dan tertindas, tidak dapat disebut sebagai masyarakat Islam (Islamic society), meskipun mereka menjalankan ritual Islam setiap hari.

Pernyataan ini didukung oleh ajaran yang di emban Nabi Muhammad sebagai bentuk pengejawantahan dalam konteks realita sehari-hari menyebutkan bahwa keadilan merupakan ukuran tertinggi suatu masyarakat. Secara tegas al-Qur'an juga menyebutkan bahwa persoalan keadilan tidak bisa dilepaskan dengan persoalan taqwa. Oleh karena itu, arti taqwa dalam Islam bukan hanya semata-mata menjalankan ibadah ritual saja. Tanpa keadilan sosial, tidak akan ada ketaqwaan.

Sayangnya, ajaran Islam yang bersifat revolusioner ini segera menjadi agama yang kental dengan kemapanan, begitu Nabi Muhammad meninggal dunia, selama berabad-abad, Islam sarat dengan praktek feodalistik. Dan anehnya, praktek demikian (entah secara sengaja atau tidak) ternyata disokong oleh para ulama. Mereka lebih banyak menulis buku tentang ibadah-ibadah ritual dan menghabiskan waktunya untuk mengupas masalah-masalah furu'iyah dalam syari'at, dan sama sekali mengecilkan arti vital Islam dalam menciptakan keadilan sosial dan kepedulian Islam yang aktif terhadap kelompok yang lemah dan tertindas.

Memang, secara komprehensip Islam tidak menyediakan teori-teori ilmiah dan managemen yang detail mengenai penyelesaian problem manusia. Tetapi secara genuine, Islam sangat concern dengan persoalan-persoalan tersebut. Dan disinilah peran manusia untuk menerjemahkan pesan-pesan agama akan menemukan jalan keluar yang sesungguhnya.

Pesan kemanusiaan agama tersebut tidak akan pernah terwujud dalam dunia nyata, jika sang manusia itu sendiri tidak mampu menerjemahkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa? karena agama sesungguhnya hanyalah salah satu diantara uluran tangan Tuhan dalam kerja besar manusia memecahkan problem-problem kehidupannya.

Ungkapan Marx bahwa agama itu candu bagi masyarakat misalnya, harus dipahami bukan semata-mata untuk menyalahkan agama, seperti yang disangka banyak orang, tetapi harus dipahami dalam pengertian bahwa selain tidak membawa perubahan bagi masyarakat, agama dalam konteks tertentu justru sering digunakan untuk melanggengkan kemapanan.

Untuk itu, jika agama ingin dijadikan sebagai alat perubahan, maka manusia harus mampu menerjemahkan agama sebagai 'senjata pamungkas' bagi kelompok masyarakat yang tertindas dan tereksploitasi. Agama harus diformulasikan dalam teologi pembebasan yang dapat memainkan peran sentral sebagai praksis revolusioner. Agama tidak boleh hanya berhenti pada upacara-upacara ritual belaka, tetapi juga harus menyelusup masuk untuk membela problem riil yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Agama bukan hanya berbicara tentang teks, tetapi juga berinteraksi dengan konteks masyarakatnya.

Sisi lain keberadaan Pesantren tidak bisa dilepaskan dari pengembangan tradisi memperdalam ilmu keislaman di Nusantara saja, sosok Kiai yang jadi panutan para santrinya selalu menjadi magnet bagi zamannya. Posisi Kiai dari sejak zaman penjajahan sampai sekarang masih harus tetap berada di tengah-tengah umat untuk mengawal peradaban.

Setidaknya dalam analisis saya ada beberapa harapan masyarakat Indonesia dari banyaknya tuntutan yang mereka lakukan terrhadap keberadaan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Pertama, normalisasi proses demokrasi. Kedua, peningkatan kesejahtraan ekonomi rakyat secara keseluruhan. Ketiga, pengembangan dan pemberdayaan kaum intelektualitas dan profesional di segala bidang. Keempat melakukan hubungan internasional yang lebih progres untuk kemajuan negara. Kelima sosialisasi pendidikan ketatanegaraan. Semua aspek tersebut apabila mampu dilaksanakan oleh pengemban amanah kepemimpinan, tentunya harapan untuk membangun keadaban demokratis dapat segera terwujud.
Galamedia jumat, 10 februari 2012
Oleh : Wahyu Iryana
(Penulis, Staf Pengajar Fakultas Adhum dan Saintek UIN Bandung)**

Sunday, February 19, 2012

Membangun Kecerdasan Qurani

Alquran adalah petunjuk hidup atau hudan yang diturunkan Allah untuk manusia. Sebagai petunjuk kehidupan, Allah tidak membatasi Alquran sebagai petunjuk peribadatan saja. Juga Alquran tidak hanya mengandung ayat-ayat hukum tentang halal, haram, makruh, atau mubah.

Ketika pertama kali diturunkan, yakni surah al-Alaq (1-5), Alquran justru meletakkan sebuah dasar yang amat penting bagi kehidupan manusia, yaitu ilmu pengetahuan. Membaca adalah langkah menuju ditemukannya ilmu pengetahuan, dan itulah perintah yang diturunkan Tuhan melalui wahyu yang pertama turun.

Dalam ayat pertama itu sekaligus terkandung petunjuk bagaimana manusia harus membaca, yakni iqra' bismi rabbika alladziy khalaq, bacalah denga nama Tuhanmu yang mencipta. Maknanya, dalam membaca objek bacaan apa saja, hendaknya berpijak pada tuntunan Allah SWT, bukan berdasarkan pikiran manusia belaka.

Masih dalam wahyu pertama turun itu, Alquran telah memberi isyarat objek bacaan yang amat penting, yaitu penciptaan manusia, khalaqa al min 'alaq, Dia mencipta manusia dari segumpal darah. Bagaimana kejelasannya lebih lanjut, maka manusia dipersilakan oleh Tuhan untuk membacanya (menelitinya) lebih jauh sehingga manusia menemukan ilmu pengetahuan tentang embriologi. Demikian sekadar sebuah contoh untuk menunjukkan bahwa Alquran petunjuk kehidupan manusia yang perlu terus digali kandungan maknanya.

Jika Alquran terus digali kandungan maknanya dan tidak hanya dibatasi atau berhenti pada masalah-masalah diniah (keagamaan) atau ubudiah (peribadatan) saja, maka Alquran potensial membuat umat Islam menjadi cerdas dalam memahami dan menyikapi persoalan apa saja dalam kehidupan ini. Jika kemampuan itu dimiliki, itulah yang dinamakan sebagai kecerdasan Qurani atau Quranic quotient.

Jadi, kecerdasan Qurani atau Quranic Quotient adalah kemampuan untuk memahami dan menyikapi sesuatu hal (keadaan, masalah) dengan perspektif Alquran.

Umat Islam akan bisa hidup benar-benar sesuai dengan tuntunan Alquran dalam menghadapi kemajuan zaman seperti apa pun bila memiliki dan menggunakan kecerdasan Qurani ini. Hanya saja, kenyataan menunjukkan bahwa dewasa ini umat Islam sendiri masih sangat awam dan kebanyakan jauh dari Alquran.

Dengan kenyataan tersebut, umat Islam harus digalakkan terus untuk dekat dengan Alquran dan dibimbing untuk bisa membacanya dengan baik dan memahami kandungan isinya. Sebab, itulah dasar bagi dibangunnya kecerdasan Qurani itu.

Konklusi yang kita ambil dari pemikiran ini ialah pentingnya dibangun dan ditumbuhkan kecerdasan Qurani itu. Kecerdasan Qurani harus dimulai sejak dini, yakni sejak anak-anak hingga terus berkelanjutan tanpa henti.

Seharusnyalah, kita umat Islam, tersentak dengan pertanyaan Allah SWT melalui surah Muhammad ayat 24 ini. “Apakah mereka tidak mentadabur Alquran, ataukah hati mereka telah tertutup?” Jangan sampai kita menjadi orang yang tertutup hatinya sehingga tidak mau mentadabur Alquran. Padahal, tanpa tadabur Alquran kita tidak mungkin memahami Alquran dan tidak memiliki kecerdasan Qurani.
Oleh: Dr Ir Fuad Rumi MSsumber : www.republika.co.id

Saturday, February 18, 2012

Melarat karena Judi

Sebagai seorang pedagang grosir yang bisnisnya sukses, pada saat orang masih jarang memiliki sepeda motor, dia sudah memiliki mobil sedan yang pada masanya terkenal, yaitu Impala. Jika mobilnya masuk jalan kampung, tidak hanya anak-anak, orang dewasa pun berebut untuk melihatnya. Lima orang putra-putrinya masing-masing dibelikan sebuah sepeda motor bebek. Rumahnya ada dua, satu di kampung dan satu lagi di kota tempat dia berdagang. Kedua-duanya rumah baru yang baru dibangun dengan arsitektur modern. Semua kekayaan materi itu adalah bukti bahwa bisnisnya sukses.

Tempat dia berdagang berupa sebuah ruko di tengah kota di pusat keramaian. Namanya juga di pasar, tentu pergaulannya sesama pedagang, terutama dengan pedagang kiri-kanan tokonya. Sayang sekali, dalam pergaulan itulah dia berkenalan dengan judi. Mula-mula cuma iseng main kartu pakai taruhan. Lama kelamaan menjadi serius. Kalau menang, dia senang. Kalau kalah, main lagi, dengan harapan nanti akan menang. Begitulah seterusnya hingga akhirnya bisnisnya terganggu. Hasil penjualan barang dagangan bukannya dibelikan lagi barang baru, melainkan dipakai untuk berjudi.

“Pak, sadar Pak,” kata istrinya mengingatkan untuk yang kesekian kalinya. “Bapak kan tahu, judi itu dilarang agama. Allah mengatakan bahwa judi itu najis, perbuatan setan, sama dengan minuman keras.” Untuk meyakinkan suaminya, sang istri membuka Alquran dan menunjukkan pada suaminya surah al-Maidah ayat 90 yang menjelaskan tentang haramnya judi.

Diingatkan begitu, Pak Judi—sebut saja demikian namanya—diam seribu bahasa. Istrinya berkata lagi: “Kalaupun Bapak menang, hasilnya tidak halal. Apalagi jika kalah, bisnis Bapak bangkrut.” Pak Judi tetap diam. Istrinya mendesak lagi: “Janji Pak, tidak akan judi lagi!” Didesak begitu, baru dia mengangguk: “Ya, saya janji tidak akan judi lagi.” Tetapi, apabila teman judinya mengajak kembali main, Pak Judi tidak kuasa menolaknya. Begitulah, dia terus berjudi, dan kalah lagi untuk yang kesekian kalinya.

Tatkala modalnya habis, dia menjual mobil. Dari hasil penjualan mobil, toko bisa diisi kembali. Tetapi, lama-lama isi toko habis kembali dipakai untuk berjudi. Akhirnya, satu per satu kekayaannya dijual. Setelah mobil, kemudian sepeda motor anak-anak satu per satu dilego. Dalihnya selalu sama, dijual dulu untuk tambahan modal. Anak-anak tidak dapat menolak. Mula-mula dia membujuk: “Nanti kalau bisnis bapak sudah kembali bangkit, bapak akan belikan kembali kalian sepeda motor yang lebih bagus.” Setelah dibujuk, anak-anak tetap menolak. Pak Judi marah sejadi-jadinya sampai mengamuk. Akhirnya, anak-anaknya menyerah.

Tatkala rumah pun akan dijual, istrinya memberontak, mempertahankan rumah itu sekuat tenaga. Perhiasan istrinya juga habis dijual. Nasihat siapa pun tidak pernah didengarnya. Setan perjudian benar-benar telah merasukinya. Akhirnya, dia kena stroke, lumpuh seluruh tubuhnya, tidak bisa lagi bicara. Setelah dirawat beberapa bulan, Pak Judi meninggal dunia. Tak ada yang tahu, apakah sebelum mengembuskan napas yang terakhir dia sempat bertobat atau tidak. Judi telah menghabiskan segalanya.
Oleh Prof Dr Yunahar Ilyassumber : www.republika.co.id

Friday, February 17, 2012

Belajar dari Kisah Juraij

Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, "Tiada bayi yang dapat berbicara saat bayi kecuali Nabi Isa as dan seorang bayi yang hidup pada zamannya."

Kala itu, ada seorang laki-laki bernama Juraij. Juraij adalah remaja yang taat beribadah. Saat ia ingin melakukan shalat sunah, ibunya memanggilnya. Kala itu, Juraij bimbang—dahulukan shalat, atau memenuhi panggilan Ibunya? Maka, Juraij pun memilih shalat dan mengabaikan panggilan ibunya yang sudah berkali-kali menggema di telinganya.

Sang ibu pun kecewa, dalam hati ia berdoa, “Ya Allah, janganlah Engkau mematikan anakku sebelum ia mendapat fitnah dari wanita pelacur.”

Selang beberapa hari kemudian, seperti biasa, Juraij beribadah di tempat biasanya. Kemudian, datanglah seorang wanita pelacur yang merayu Juraij untuk berbuat mesum. Juraij pun berusaha menolak.

Karena penolakan tersebut, pelacur itu berhasil memfitnah Juraij dengan keterangan bahwa Juraij telah menodainya hingga hamil—kendati si pelacur tersebut memang dalam kondisi hamil namun bukan dengan Juraij.

Beberapa bulan kemudian, saat si bayi lahir, pelacur itu kembali datang pada Juraij dan memberikan keterangan pada seluruh warga bahwa bayi tersebut adalah hasil zina dengan Juraij.

Juraij tak sanggup menceritakan yang sebenarnya sebab warga telah berhasil memukulinya hingga terluka lalu membakar habis tempat ibadah Juraij. Di saat yang sama, dengan kekuatan yang masih tersisa, Juraij merebut bayi dari tangan si pelacur dan berkata pada sang bayi,

“Siapakah ayahmu?”

Si bayi menjawab, “Ayahku seorang penggembala,”

Seketika warga pun berhasil dibuat panik oleh bayi yang dapat memberikan keterangan benar atas izin Allah SWT. Warga pun memohon maaf pada Juraij dan berjanji akan membangun kembali tempat ibadah Juraij.

Belajar dari kisah Juraij ini, dapat kita petik beberapa hikmah. Di antaranya adalah tanggung jawab seorang anak pada orang tua.
Allah Swt berfirman, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia serta hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra: 23).

Poin utama dalam firman Allah SWT ini adalah nilai-nilai pengabdian. Pengabdian pertama pada Tuhan Pencipta kita, Allah SWT. Kedua, pengabdian pada ibu-bapak, yang dalam hal ini adalah peringatan untuk kita semua agar senantiasa menjaga sikap di hadapan keduanya, khususnya ibu. Kedua pengabdian tersebut semestinya diseimbangkan.

Namun, dalam kisah ini, keseimbangan antara hablum minallah dengan hablum minannas belum tercipta. Juraij sudah mantap dalam pengabdiannya pada Allah. Namun pengabdiannya pada orang tua, khususnya ibu, masih belum sempurna. Ia mengabaikan apa yang diperintahkan ibunda terlepas dari penting atau tidaknya seruan sang ibu.

Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, seorang datang kepada Nabi dan berkata, “Ya Rasulullah, siapakah yang berhak aku layani? Jawab Nabi SAW, “Ibumu.” Kemudian siapa?" Jawab Nabi Saw, “Ibumu.” Kemudian siapa?" Jawab Nabi Saw “Ibumu.” Lalu siapakah?" Jawab Nabi SAW, "Ayahmu.” (HR. Bukhari Muslim).
Oleh: Ina Salma Febriany
sumber : www.republika.co.id

Thursday, February 16, 2012

Rasul Pun Menangis

Tangisan bagi seorang Muslim adalah rasa harap dan cemas sebagaimana diekspresikannya ketika dia berdoa dan berzikir memohon perlindungan Allah SWT. Kita saksikan tetesan air mata orang-orang saleh pada waktu shalat. Kita saksikan air mata yang membasahi muka para jamaah haji di Padang Arafah. Dan, memang menangis adalah bagian dari akhlak yang baik. Dalam Alquran Allah berfirman, “Dan mereka tundukkan dagu dan mukanya seraya menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS [17]: 109, [19]: 58).

Ubaid bin Umar dan ‘Atha’ bertanya kepada Siti Aisyah radhiyallahu anha (RA). ”Ceritakanlah kepada kami hal yang paling menakjubkanmu yang engkau lihat dari Rasulullah SAW.” Kemudian, sambil terisak Siti Aisyah menjawab, “Kana kullu amrihi ‘ajaba, Sungguh semua ikhwal Rasululullah SAW sangat menakjubkan.” Siti Aisyah melanjutkan, “Pada suatu malam beliau datang kepadaku sehingga kulit kami saling bersentuhan. Beliau berbisik, “Ya Khumaira (panggilan Rasulullah kepada Aisyah, wahai yang bewarna kemerah-merahan), izinkanlah aku beribadah kepada Tuhanku.”

Maka, beliau meninggalkanku dan mengambil gharibah air untuk berwudhu. Tidak lama setelah beliau takbir, aku dengar beliau terisak-isak. Dadanya bagaikan terguncang. Rasulullah terus-menerus menangis, sehingga air matanya membasahi janggut dan bertetesan ke tanah. Rasulullah larut dalam tangisan sampai dikumandangkan azan Subuh. Dan, Bilal memberi tahu waktu shalat Subuh telah masuk. Bilal menyaksikan keadaan Nabi yang masih terisak dan dia berkata, “Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis? Padahal, dosa-dosamu telah diampuni Allah. Engkau adalah kekasih Allah yang paling utama?” kata Bilal. Maka,  Rasul menjawab, “Sungguh besar kasih sayang-Nya, tetapi betapa aku belum menjadi hamba yang bersyukur.”

Abdullah bin as-Syikhir berkata, “Saya datang kepada Rasulullah SAW, sedangkan beliau sedang shalat maka terdengarlah isak tangis beliau yang bergemuruh di dalam dadanya, bagaikan suara air mendidih dalam bejana.” (Diriwayatkan oleh Dawud dan Turmudzi).

Dari hadis ini dapat kita ambil hikmah, betapa Nabiyullah Muhammad SAW masih menangis dan merasakan belum menjadi hamba yang bersyukur. Padahal, beliau adalah hamba yang ma’shum, yakni bersih dari dosa. Selain itu, Allah SWT juga memuliakannya melebihi siapa pun makhluk ciptaan-Nya. Rasulullah adalah al-Musthafa (manusia pilihan) yang pertama kali memasuki surga sebelum yang lain memasukinya.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita telah dijamin masuk surga? Apakah keislaman kita diterima oleh Allah SWT? Adakah kita masih tetap tertawa dan tidak menangis menghadapi akhirat yang setia menunggu untuk kita datangi?Ataukah, kita tetap tertawa menikmati dunia yang tidak pernah setia menemani ketika kita pergi? Apakah kita masih tetap tertawa dan lalai pada perjalanan akhir, sedangkan dunia itu bakal lenyap dan tenggelam ditelan waktu.

Kenikmatan di dunia ini hanya sesaat dan pasti akan sirna. Mengapa air mata kita enggan menetes? Apakah hati kita telah beku sehingga mata enggan mengeluarkan air mata ketika menyaksikan orang-orang kecil sedang kelaparan? Ke manakah nurani kita? Apakah kita sudah bersyukur dengan yang telah kita raih atau sebaliknya kita makin kufur?
Oleh: Ustaz Toto Tasmara
sumber : www.republika.co.id

Wednesday, February 15, 2012

Pemimpin yang Bijaksana

Suatu ketika, Rasulullah SAW dengan para sahabatnya hendak memasak kambing. Sebagai komando, beliau dengan cekatan melimpahkan pembagian tugas kerja. Sebagian sahabat menawarkan diri untuk mengerjakan tugas-tugas itu.

Ada yang menawarkan diri untuk menjadi penyembelih kambing dan yang lain siap menguliti. Ada juga yang bersedia memasaknya, sedangkan lainnya lagi siap mengambil air, menyiapkan tungku, dan sebagainya. “Saya sendiri akan mencari dan mengumpulkan kayu bakarnya,” ujar beliau.

Mendengar pernyataan ini, sontak saja para sahabatnya protes terkejut. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah SAW, tidakkah engkau lebih baik duduk-duduk saja dan kami yang mencari kayu bakarnya?” sergah sahabat.

Para sahabat ingin tugas-tugas lapangan biarlah dikerjakan oleh mereka dan Muhammad SAW sebagai pemimpin tak perlu repot-repot turut melakukannya. Barang kali dalam bayangan mereka, komando tidak seharusnya terlibat kerja lapangan. Namun, tampaknya hal ini tidak berlaku bagi Muhammad SAW. “Saya tahu kalian bisa menyelesaikan pekerjaan ini, tapi saya tidak suka diistimewakan. Sesungguhnya Allah SWT tidak suka melihat salah seorang hamba-Nya diistimewakan dari kawan-kawannya,” kata Rasul SAW.

Kisah ini dituliskan oleh Abdul Mun’im al-Hasyimi dalam Akhlak Rasul Menurut Bukhari Muslim, (hal 24-25). Inilah kunci kepemimpinan Rasulullah yang tidak ingin ada pengistimewaan. Sebab, beliau ingin melakukan segala sesuatunya selama perbuatan itu bisa dikerjakan sendiri, termasuk mencari kayu bakar.

Beliau ingin ikut kotor tangannya ketika sahabat yang lain juga kotor tangannya. Beliau ingin berkeringat ketika sahabat yang lain juga berkeringat. Beliau tidak ingin hanya duduk-duduk manis, ongkang-ongkang kaki, tunjuk sana tunjuk sini, perintah sana perintah sini, tanpa ikut terlibat di dalamnya.

Inilah keteladanan agung Nabi Muhammad SAW yang kepemimpinnya tidak dibangun di atas telunjuk dan sabdanya, melainkan dengan keringat dan kebersamaan. Inilah sang teladan sejati, pemimpin yang keringatnya terus mengucur karena tak pernah berhenti melayani umatnya.

Bagi seorang teladan sejati, kepemimpinan tidak melulu urusan dunia. Lebih penting lagi, kepemimpinan menyangkut pertanggungjawaban dengan Allah SWT di akhirat kelak. Karena itu, dalam menentukan kebijakan apa pun, pertimbangan pemimpin tidak seharusnya
duniawi atau politis. Tujuannya, supaya pemimpin benar-benar mampu menegakkan kemaslahatan bagi rakyat, karena semua tindak-tanduknya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT (LPJ yang tentu saja paling berat dan mustahil dimanipulasi).

Itu sebabnya, Nabi Muhammad SAW sedari awal mewanti-wanti melalui sabdanya; “Tiap-tiap kalian adalah pemimpin dan tiap-tiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari).

Pertanyaannya, masih adakah di negeri ini, pemimpin yang keringatnya terus mengucur memikirkan nasib rakyatnya, karena adanya kesadaran bahwa kelak kepemimpinannya akan diaudit oleh Allah SWT? Kita memang butuh pemimpin yang berkeringat untuk memperbaiki negeri ini.
Oleh: Nurul H Maarif MA
sumber : www.republika.co.id

Tuesday, February 14, 2012

Beribadah Itu Mudah

Ada seorang pemuda yang dirundung kemasygulan dan kegundahan. Pasalnya, setelah ia tekun melakukan tafakur (perenungan diri), diam-diam suatu kesadaran menyelinap ke relung kalbunya. Ia merasa bahwa sepanjang hidupnya sering sekali menggunakan sesuatu yang bukan haknya. Ia teringat pada kelakuannya sendiri yang kerap melirik jam tangan yang melingkar di lengan orang lain, karena ia ingin mengetahui waktu. Tanpa permisi lagi, ia telah mengambil suatu kemanfaatan tertentu dari barang yang dimiliki orang lain. Kemasygulan yang sama juga muncul manakala memorinya teringat pada kebiasaannya menggunakan penerangan listrik seseorang— untuk membaca suatu catatan, misalnya, tanpa ia meminta izin dulu.

Kegelisahan anak muda itu pun menjadi-jadi: ikhlaskah orang-orang yang barangnya pernah diambil manfaaatnya itu? Namun, di tengah kegundahannya itu, suatu kearifan baru menghiburnya. Ia harus berbaik sangka (husnuzhan) kepada para pemilik barang-barang itu. Karena, mereka bukan hanya ikhlas, tapi juga senang jika ada orang lain yang memanfaatkan barang miliknya, lantaran mereka sudah meniatkannya untuk dimanfaatkan oleh umum.

Selain berkisah tentang muraqabah —suatu kesadaran seseorang yang merasa bahwa Allah selalu mengawasi dan memantau dirinya-- narasi di atas juga memberikan pelajaran bahwa ternyata ibadah itu amat mudah dan bisa dilakukan sambil lalu. Bahkan, tak hanya banyak ragamnya, tapi juga nyaris tak perlu pengorbanan apa pun dari pelakunya dengan penuh keyakinan untuk ibadah sehingga tercatat sebagai amal kebajikan. (QS az-Zalzalah: 7-8).

Niat ibadah itu bisa dilakukan, misalnya, oleh seseorang yang atap rumahnya digunakan untuk berteduh para pejalan atau pengendara sepeda motor saat hujan atau panas yang terik. Bisa pula seorang pengendara motor atau mobil pribadi yang joknya masih kosong lalu memberikan tumpangan. Bukankah bisa dijadikan wahana untuk melakukan amal baik, yaitu dengan mempersilakan naik orang yang sedang berjejalan antre di halte, yang tujuannya kebetulan searah dengannya? Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang mempunyai kelebihan tempat pada kendaraannya, hendaklah dia memberikannya kepada orang yang tidak punya tempat. Dan, barang siapa yang mempunyai kelebihan perbekalan hendaklah dia memberikannya kepada orang yang tidak mempunyai perbekalan.” (HR Muslim dan Abu Daud).

Kemudahan memang merupakan karakter agama Islam. “Sesungguhnya agama itu mudah.” (HR Bukhari). Islam disebut mudah karena ia berbeda dengan agama-agama sebelumnya, di mana Allah telah melenyapkan beragam kesulitan yang dibebankan kepada umat sebelumnya.

Dari sisi akidah, pokoknya adalah tauhid, yaitu suatu keyakinan yang sejalan dengan fitrah insani, menenteramkan hati, dan memuaskan akal. Dalam hal ibadah, shalat hanya dilakukan lima kali sehari semalam, tak seperti umat sebelumnya yang sampai puluhan kali dalam sehari dan dalam jangka yang lama pula. Puasa juga mudah. Ia hanya dari fajar hingga matahari terbenam, juga hanya sebulan dalam setahun. Zakat dan haji juga demikian, di mana dua kewajiban ini hanya ditunaikan oleh yang mampu.
Oleh Ustaz Makmun Nawawi
sumber : www.republika.co.id

Monday, February 13, 2012

Jangan Seperti Firaun

Umumnya manusia di manapun dan kapan pun selalu melihat harta dunia sebagai sumber kebahagiaan. Hal itu mungkin wajar mengingat manusia tidak bisa menafikan materi dalam kehidupannya. Namun demikian, tidak sedikit manusia yang terseret dan terjerembab pada aspek materi, sehingga dengan sengaja melawan aturan Allah SWT. Manusia seperti itu akan semakin jauh meninggalkan eksistensi dirinya.

Ia akan terus terobsesi mengumpulkan harta yang banyak setiap harinya. Akibatnya, agama, norma, dan aturan menjadi tak berguna. Sejauh keinginannya bisa dicapai, apa pun cara harus dilakukan. Inilah manusia yang telah mati hatinya, yang tak akan pernah sadar akan kekeliruannya hingga ajal tiba.

Kondisi ini bisa menimpa siapa saja, baik penguasa, pegawai, pengusaha, cendekiawan, termasuk juga ulama. Itulah mengapa dalam sebuah hadis Rasulullah SAW mengingatkan kita untuk berhati-hati pada ulama, khususnya ulama suu’ (ulama yang tidak mengamalkan ilmunya sesuai syariah Allah SWT).

Akan tetapi, sejarah mencatat bahwa ambisi materi pada pemimpin jauh lebih berdampak serius dan masif dibanding yang lain. Alquran memberi bukti akan hal tersebut. Lihatlah kisah Firaun, seorang raja diktator yang dengan kekuasaannya menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan secara terbuka menyatakan perang terhadap Nabi Musa AS.

Harta benda dan kekuasaan yang dimiliki Firaun semakin membuatnya gelap mata, hingga harta benda yang mestinya berguna untuk kehidupan justru menjadi pelicin menuju kebinasaan. Semua itu karena Firaun lupa bahwa apa yang dimiliknya itu tak lebih dari titipan Allah SWT kepadanya.

Nabi Musa yang mendapat mandat dari Allah agar memberikan peringatan kepada Firaun pun tak lagi mampu berbuat banyak. "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami,  akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih." (QS Yunus : 88).

Seperti kita saksikan saat ini, kasus korupsi hampir terjadi setiap hari. Ada dugaan dilakukan secara kolektif. Kemudian, para penguasa tidak begitu peduli dengan kasus tersebut. Akibatnya, praktik korupsi itu hampir terjadi di mana-mana di seluruh penjuru Tanah Air.

Saudaraku, tahanlah dirimu dari berbuat curang, jahat, ataupun kriminal. Jangan sampai kita termasuk orang yang dibutakan mata hati kita oleh gemerlap harta benda. Kemudian, sengsara untuk selama-lamanya di akhirat.

Kita jangan sampai menjadi manusia berwatak Firaun, yang pikiran dan seluruh perilakunya justru mengundang kemurkaan Allah SWT. Ingat saudaraku, Firaun bukannya bahagia, ia bahkan sengsara dan mati dalam keadaan yang sangat nista.

Kembalilah kepada ajaran Allah dan Rasul-Nya. Pelajarilah Alquran dengan baik dan amalkan, jika kita benar-benar mendambakan kebahagiaan hakiki. Jangan seperti Firaun yang gagal menjadikan harta dan takhtanya untuk mengabdi kepada Allah SWT. Wallahu a’lam.
Oleh Ustaz Dr Abdul Mannan
sumber : www.republika.co.id

Sunday, February 12, 2012

Ummu Umarah: Kisah Prajurit Muslimah yang Gagah Berani

Bukit Uhud, 7 Syawal 3 H/ 22 Maret 625 M.  Sekitar 700 pasukan tentara Muslim yang dipimpin Rasulullah SAW bertempur melawan 3.000 tentara kafir di bawah komando Abu Sufyan. Kemenangan yang hampir diraih umat Islam, berubah menjadi kekalahan, setelah pasukan Muslim mengabaikan perintah Rasulullah SAW.

Pasukan kafir pun memukul balik serangan tentara Muslim.  Mereka berniat untuk membunuh Rasulullah SAW. Melihat pasukan Muslim yang terjepit, seorang prajurit Muslimah bernama Ummu Umarah atau Nasibah binti Ka'ab al-Anshariyah justru tampil mengangkat pedang. Dengan penuh keberanian, Ummu Umarah menghadang laju tentara kafir yang berniat membunuh Nabi Muhammad SAW.

''Siang itu, sambil membawa sekendi air, saya keluar menuju Uhud untuk menyaksikan pertempuran kaum Muslimin.  Awalnya, tentara Muslim memenangkan pertempuran.  Namun, ketika pasukan Islam mulai kalah, saya langsung terjun ke medan laga. Saya halau segala serangan yang datang ke arah Rasulullah dengan pedang saya,'' kisah Ummu Umarah seperti dituturkan Ibnu Sa'ad dalam Thabaqat.

Ummu Umarah adalah sosok Muslimah yang ikut berjihad dan pemberani, dan tidak takut mati di jalan Allah. Keberanian wanita dari Bani Mazim An-Najar itu membuat Rasulullah SAW bangga. ''Siapakah yang sanggup melakukan seperti yang engkau lakukan, wahai Ummu Umarah?” ujar Rasulullah memuji.

Ia salah satu dari wanita Madinah yang bersegera masuk Islam. Mujahidah yang satu ini juga tercatat sebagai satu dari dua Muslimah yang pergi bersama generasi Anshar ke Makkah untuk berbai’at kepada Rasulullah. Keluarga Ummu Umarah dikenal sangat pemberani.

Ketika Rasulullah SAW memimpin pasukannya menuju bukit Uhud, ia bersama suaminya, Ghaziyah bin Amr serta dua buah hatinya, Abdullah dan Hubaib tutur bergabung. Awalnya, Ummu Umarah bertugas sebagai perawat tentara yang terluka serta menyediakan minuman.

Ummu Umarah tak gentar saat menghadapi  Ibnu Qumai'ah yang penuh amarah hendak membunuh Rasulullah. Serangan demi serangan, ia halau dengan pedangnya. Hingga, ia mengalami luka pada bagian pundaknya.  Ummu Umarah mengisahkan peristiwa heroik yang dialaminya pada Perang Uhud dengan penuh semangat.

“Aku melihat banyak di antara kaum Muslimin yang lari kocar-kacir dan menginggalkan Rasulullah. Hingga tinggal tersissa beberapa orang yang melindungi beliau termasuk aku, kedua anakku, sedangkan suamiku berada di depan beliau untuk melindunginya. Dan Rasulullah melihat aku tidak bersenjata,'' ungkap Ummu Umarah.

Saat  melihat seorang tentara Muslim yang mundur, Rasulullah pun berkata,''Berikan senjatamu kepada orang yang sedang berperang.”  Ummu Umarah pun lalu mengambil pedang yang dilembaprkan tentara yang lari tersebut dan segera melindungi Nabi SAW dari gempuran musuh.

Ummu Umarah adalah teladan bagi para Muslimah. Ia telah mengorbankan dirinya  di jalan  jihad membela agama Islam. Ia telah menunaikan kewajibannya sesuai dengan kemampuannya, baik di waktu perperang maupun di waktu aman. Ia telah turut serta bersama Rasulullah SAW  dalam Bai’atur Ridwan di Hudaibiyah, yaitu bai’at perjanjian untuk membela agama Allah.

Tak hanya berjuang di Perang Uhud, Ummu Umarah pun tampil mengangkat panji-panji pasukan Muslim Perang Hunain. Tak lama setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW,  sebagian kabilah yang dipimpin Usailamah al-Kadzab murtad. Bahkan, Usailamah mengaku sebagai nabi. Khalifah pertama Abu Bakar ash-Shidiq pun memutuskan untuk memerangi nabi palsu itu.

Mendengar kabar itu, Ummu Umarah pun segera  mendatangi Abu Bakar Ash-Shidiq. Ia mohon izin untuk turut berjuang ke medan perang bersama pasukan Muslim yang akan memerangi orang-orang murtad dari Islam. Mendenfar permohonan itu, Abu Bakar pun berkata, ''Sungguh kami telah menyaksikan pengorbananmu di medan jihad, maka keluarlah (untuk berperang) dengan menyebut nama Allah.”

Secara khusus, Rasulullah SAW pun mendoakan Ummu Umarah. Ketika sang mujahidah terluka,  Rasulullah SAW berkata kepada putra Ummu Umarah, ''Ibumu! Ibumu! Balutlah lukanya.  Ya Allah, jadikanlah mereka teman-temanku di surga.''

Ummu Umarah adalah seorang sahabat Rasul yang senantiasa mengaplikasikan keislamannya dalam amal nyata.  Keberaniannya dalam setiap situasi menjadikannya sosok pahlawan sejati.  Obsesi hidupnya begitu mulia, yakni mencari kemuliaan dunia dan kebahagiaan akhirat.

sumber : www.republika.co.id

Saturday, February 11, 2012

Bersahabat Karakter Utama Muslim Sejati

Manusia adalah mahluk sosial. Di manapun berada, seorang manusia akan membutuhkan kehadiran dan bantuan orang lain. Di antara bentuk hubungan itu adalah terciptanya persahabatan. Ajaran Islam sangat menekankan keutamaan menjalin serta membina persahabatan.

Orang yang memupuk persahabatan dalam ajaran Islam menjadi salah satu ciri orang beriman. Ia bergaul dengan orang lain dan orang lain merasakan tenang bersamanya. Rasulullah SAW, mengungkapkan,  salah satu ciri orang yang memahami ajaran agama adalah mereka yang lembut, penuh persahabatan, serta menyenangkan.

Banyak hadis yang memuji orang yang gemar menjalin persahabatan. Dalam sebuah hadis Nabi SAW bersabda, ''Maukah aku katakan kepadamu siapa di antara kamu yang sangat aku cintai dan menjadi orang terdekat denganku pada hari kebangkitan?'' Beliau mengulanginya dua atau tiga kali dan mereka berkata, ''Ya, wahai Rasulullah.''

Rasulullah bersabda, ''Mereka yang di antara kamu memiliki sikap dan karakter terbaik.'' Beberapa riwayat menambahkan, ''Orang-orang yang menundukkan kepala di bumi dan rendah hati, yang bersama dengan orang lain dan yang dengannya orang lain merasa senang.''

Dalam menafsir hadis  tersebut,  Dr Muhammad al-Hasyimi, mengutarakan, bahwa seseorang seperti itu, merupakan salah satu dari orang-orang terpilih dan dicintai Rasulullah. Ia menyukai orang lain dan mereka menyukainya.

Menurut penulis buku Hidup Saleh dengan Nilai-nilai Spiritual Islam itu,  hendaknya dalam menjalani kehidupan, umat Muslim bisa saling bergaul dan bersahabat. Sesama umat Muslim harus senantiasa menjaga hubungan sekaligus mendapatkan kepercayaan.  Sebab, itulah salah satu ciri karakter utama Muslim sejati.

''Persahabatan akan menjadi sarana efektif dalam menyebarkan pesan-pesan kebenaran kepada mereka, dan menunjukkan pada mereka nilai-nilai moralnya,'' papar al-Hasyimi. Menurut dia,  manusia biasanya hanya mau mendengar ucapan orang-orang yang mereka suka dan percaya.

Oleh karenanya, apabila tidak saling bersahabat, sudah pasti ia tidak akan mampu menyampaikan pesan dan mencapai sesuatu yang penting. Padahal menyampaikan kebaikan adalah kewajiban seorang Muslim.

Rasulullah SAW bersabda, ''Orang beriman (bergaul) bersama dengan manusia dan mereka merasa tenang bersamanya. Tidak ada suatu kebaikan pada orang yang tidak (bergaul) bersama manusia dan dengannya mereka tidak merasa tenang.''

Dalam menjalin pergaulan, umat hendaknya mencontoh apa-apa yang dilakukan Nabi SAW dengan berperilaku yang baik kepada sesama. Nabi amat ahli melembutkan hati mereka dan mengajak mereka mengikuti dakwahnya  dalam kata maupun perbuatan.

Ada beberapa hal yang patut menjadi teladan, antara lain bersikap ramah, memudahkan persoalan, memperlakukan tiap orang dengan sama, rendah hati dan sebagainya. Dr Muhammad menambahkan ada empat sikap yang tidak pernah dilakukan  Rasulullah SAW dalam berhubungan dengan orang lain.

Keempat karakter itu antara lain: tidak suka berdebat, tidak suka bicara terlalu banyak serta tidak suka turut campur persoalan yang bukan urusannya. ''Rasulullah juga tidak pernah mencela seseorang,'' ujar al-Hasyimi menegaskan.

Menurut al-Hasyimi, satu hal lagi yang  perlu diperhatikan dalam pergaulan atau menjalin persahabatan adalah mengedepankan saling tolong menolong. Nabi menganjurkan agar seorang Muslim tidak segan membantu sahabatnya yang membutuhkan bantuan. Muslim sejati, lanjut Dr Muhammad, akan mengikuti tuntunan Nabi dalam menjalin hubungan antarsesama, apakah mereka baik atau jahat, sehingga ia bisa diterima semua orang.

Persahabatan yang akan saling menyebarkan rasa kasih sayang juga ditekankan dalam Alquran. Seperti tertera dalam surah Ali Imran ayat 103, ''Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai''.

Teman sejati bukan terbina atas dasar kepentingan semu, melainkan yang bisa saling memahami. Ia ada dalam suka dan duka. Pepatah menyatakan, lebih mudah mencari musuh ketimbang sahabat sejati.
Oleh: Yusuf Assidiqsumber : www.republika.co.id

Friday, February 10, 2012

Menjaga "Tawanan" Bernama Rahasia

Saat Rasulullah SAW terbaring sakit, para istri beliau berkumpul. Tak satupun dari mereka yang meninggalkan tempatnya. Hingga Fatimah, putri Rasulullah datang menjenguk dengan berjalan kaki. Kedatangannya pun disambut oleh Aisyah, kemudian diterima dengan hangat oleh Ayahnya. Putri yang berjuluk Az Zahra, itupun duduk di dekat Rasulullah.

Tak berselang lama, Rasulullah membisikkan sesuatu kepada Fatimah, kemudian ia menangis sekeras-kerasnya. Melihat kecemasan muncul dari wajah putrinya itu, Beliau lantas kembali menyampaikan sesuatu kepadanya. Seketika itu pula, tangisnya berganti riang senyum dan tawa. Pemandangan itu terlihat jelas di mata Aisyah.

Perempuan bergelar Ummul Mu’minin (Ibu Kaum Mukmin) itu pun penasaran dan bergegas bertanya ke Fatimah,  apa gerangan yang dibisikkan oleh Rasulullah kepada putrinya tersebut. Namun, permintaan itu ditolak oleh Fatimah. “Aku tidak akan membuka rahasia Rasulullah,” katanya menampik. Rahasia itu akhirnya dibeberkan sepeninggal Rasulullah. Isinya meliputi dua hal yaitu ajal Rasulullah yang kian dekat dan apresiasi beliau kepada anaknya itu berupa gelar pemimpin perempuan mukiman atau pemimpin perempuan umat.

Kisah lainnya juga pernah dinukil. Ketika tengah bermain bersama anak-anak, Anas bin Malik RA pernah didatangi oleh Rasululllah SAW. Setelah mengucapkan salam, beliau, mengutusku untuk suatu keperluan sehingga ia terlambat pulang untuk menemui ibunya, Ummu Salim. Setibanya di rumah, sahabat yang mendapat julukan Khadim ar Rasul (Pelayan Rasulullah), langsung mendapat pertanyaan dari ibunya  perihal sebab keterlambatannya itu. ”Apakah yang menahanmu hingga terlambat pulang?,” Tanya Sang Ibu.

Sahabat yang berasal dari suku Khazraj itu pun enggan menjawab. Cukup mengatakan bahwa ia terlambat sebab keperluan yang disuruh Rasulullah. Keperluan apa yang dimaksud? “Itu rahasia,”katanya mengelak. Ummu Salim, memahami dan meminta agar ia tetap menjaga rahasia itu. “Janganlah kamu sekali-kali membuka rahasia Rasulullah SAW kepada siapapun,” pintanya.

Rahasia, dalam bahasa Arab disebut sirr. Informasi apapun yang diperoleh seseorang dari koleganya ataupun institusi tempat ia bekerja, contohnya, adalah benda berharga yang harus tetap disimpan. Islam mengajarkan agar tidak membuka dan mengumbar-umbar rahasia. Anjuran ini berlaku untuk semua dan dimanapun ia memegang fungsi. Seorang suami contohnya, berkewajiban menyimpan rahasia istri, anak, dan keluarganya. Demikian sebaliknya. Pada intinya, tiap anggota keluarga memiliki kewajiban sama yaitu menutup rapat rahasia.

Tiap karyawan, bertanggung jawab mengamankan rahasia perusahaan tempat ia mencari nafkah. Perkara yang dianggap rahasia dan tidak boleh terbongkar oleh pihak lain, wajib dijaga. Hal ini mengingat, persaingan di dunia bisnis, terkadang menafikan batas etika. Bisa jadi, di dunia industri misalnya, perusahaan tertentu mencoba mencuri formula dan temuan teranyar dari sebuah pabrik

Mahmud Al Mishri, dalam bukunya Mausu’ah in Akhlaq Ar Rasul, mengatakan menjaga rahasia yang sifatnya terpuji merupakan salah satu bentuk amanah, salah satu jenis memenuhi janji, dan tanda perilaku yang tenang. Menjaga rahasia yang terpuji adalah menyembunyikan rahasia atau aib orang lain yang dipercayakan kepada seseorang untuk menyimpannya.

Karena itu, menurutnya, pemilik rahasa semestinya berhati-hati menempatkan rahasia pribadinya. Pasalnya, orang-orang yang meminta amanat atau kepercayaan biasanya akan berlaku khianat. Rahasia yang kurang terjaga dengan baik, akan mudah tersebar. Ada beberapa faktor penyebanya antara lain banyaknya orang yang mengetahui rahasia tersebut. Sekali saja rahasia itu disebarkan pada lebih dari satu hingga tiga orang, maka tak lagi dianggap rahasia.  Ali bin Abi Thalib berkata, “Rahasiamu adalah tawananmu. Jika kamu telah membicarakannya kepada orang lain, berarti kamu telah melepaskannya.”

Mahmud menambahkan dampak yang bisa muncul akibat rahasia tersebar luas sangat luarbiasa, diantaranya menyebarkan rahasia berarti menghinati amanah dan merusak perjanjian, membuka rahasia dapat menghapus muruah, merusak persaudaraan, dan memicu pertikaian. Sebaliknya, dengan mengunci erat rahasia, akan menempatkannya dalam derajat manusia yang sempurna. Termasuk memberikan banyak faedah dunia ataupun di akhirat kelak.

Boleh dibuka, asal?
Ibnu Baththal mengatakan mayoritas ulama berpendapat bahwa apabila si pemilik rahasia sudah meninggal, tidak ada keharusan menyembunyikan rahasianya. Kecuali rahasia tersebut adalah cacat atau aibnya. Ibnu Hajar menyebut tiga klasifikasi hukum menyebarluaskan rahasia yaitu haram jika rahasia itu tak kalin ialah aib, makruh secara mutlak, boleh, dan dianjurkan. Untuk kategori yang terakhir ini misalnya membuka rahasia meskipun pemilik rahasia kurang senang, seperti mengungkap kebersihan hati atau perilaku baik yang ia miliki.   

Selain itu, menurut Imam Ghazali, hukum membuka rahasia haram dan sangat dilarang. Hikmah di balik pelarangan itu yaitu, terdapat unsur menyakiti dan meremehkan hak-hak teman apalagi hingga dapat membayakan pemilik rahasia. Bila tidak terdapat unsur membahayakan, maka termasuk kategori tercela.

Dalam pandangan Pakar Ushul Fikih dari kalangan salaf, Izz bin Abd As Salam, secara garis besar menutup aib manusia adalah tabiat manusia yang menjadi kekasih Allah. Namun, dalam beberapa kondisi, adakalanya rahasia ataupun aib itu boleh dibeberkan. Terutama jika ada maslahat atau menghilangkan bahaya. Argumentasi dalilnya merujuk pada kisah Nabi Yusuf, saat menceritakan ajakan istri Aziz untuk berbuat mesum dan melanggar larangan-Nya.
Oleh Nashih Nashrullah    
sumber : www.republika.co.id

Thursday, February 09, 2012

Rumah, Madrasah Rohaniah

Bukalah jendela hatimu, biarkan cahaya Ilahi menerpa seluruh sudut kehidupanmu. Engkau bersuka cita di bawah semburat cahaya mentari. Rumahmu, tempat engkau tinggal, bukanlah kuburan kelompok tertentu. Indah bangunannya, mahal harganya, luas tempatnya, tetapi hanya sekadar membungkus seonggok daging dan tulang, baunya busuk, keabadiannya sirna, peti yang kukuh semakin rapuh, dan kemudian berdebu, lalu tubuhmu sirna.

Rumahmu yang sebenarnya bukanlah wujud keindahan yang hanya bisa dipandang dengan mata telanjang. Rumahmu adalah jiwamu yang wibawanya kau pantulkan dari cara memandang dengan mata hatimu yang memancarkan rasa iba kepada saudara-saudaramu.
Sukma tak akan pernah sirna, tetapi menjulang ke langit, karena di sanalah ia berawal. Sedangkan raga yang kosong dari cinta dan diliputi keserakahan akan tenggelam memasuki tanah-tanah busuk yang hitam berlumpur, bergabung dengan rayap yang bersembunyi dalam kegelapan.

Sebab itu, hiasilah rumahmu dengan roh yang memancarkan kemuliaan akhlak. Poleskan cahaya persaudaraan penuh cinta. Karena kelak, para penduduk di rumahmu akan bergabung di surga Aden. Mereka saling bertegur sapa dalam damai. Duduk bertelekan bangku-bangku panjang, dibalur wewangian bunga-bunga teratai yang tak pernah layu, wanginya membuat seluruh anggota keluargamu terbang menari dengan sayap-sayap para malaikat. Zikir dan rintihan harapan yang kau gemakan selama hidupmu akan berubah menjadi musik surgawi yang memeluk kemesraan. Itulah hari yang dijanjikan, suatu perhelatan reuni abadi yang diperuntukkan bagi mereka yang hatinya dipenuhi tamu-tamu cinta. (QS [13]: 23).

Akhlak para penghuni rumah yang senantiasa membuka mata hati melebarkan jiwa kedermawanan, akan menjadi gelas-gelas berisi penuh air mahabbah (cinta). Rumahmu adalah miniatur dari rumah keabadian. Rumah yang para penghuninya merasa damai sejahtera berlimpah cinta, itulah surga. Baiti jannati-(rumahku surgaku).
Rumah bukan hanya sekadar berteduh. Ia adalah pelabuhan hati, di mana para pengembara akan berangkat dan berlabuh melepas desah lelah perantauannya. Ia adalah saksi bisu yang merekam keluh kesah para penghuninya. Jadikanlah shalat adalah tiangnya, zikir sebagai fondasinya, dan bacaan Alquran adalah cahaya yang akan menerangi setiap pori-pori para penghuninya.
Inilah cara dan ciri orang-orang mukmin menjawab seruan Ilahi. "Quu anfusakum wa ahlikum naran.” Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS at-Tahrim [66]: 6).

Dalam badai kehidupan yang bertuhankan materi, masyarakat dajjalis yang kehilangan hidayah Ilahi. Masyarakat yang dilanda oleh defisit kejujuran dan inflasi kebohongan. Benteng terakhir yang tidak boleh runtuh adalah rumah.

Maka, jadikanlah rumahmu sebagai madrasah rohaniah yang akan melahirkan generasi baru pewaris cita-cita risalah. Generasi Rabbaniyah, generasi yang menjunjung akhlakul karimah. Bertindak cerdas penuh integritas dan tangkas menundukkan dunianya. Generasi yang mampu menancapkan panji-panji keteladanan. Menyuntikkan serum kejujuran dan menggapai bintang-bintang prestasi. Ini semua diawali dari rumah. Wallahu a’lam
Oleh: Ustaz Toto Tasmara
sumber : www.republika.co.id

Wednesday, February 08, 2012

Ashabul Qaryah

Alquran sebagai kitab petunjuk dari Allah SWT, salah satu pelajarannya disampaikan melalui kisah. Ada banyak kisah yang dimuat Alquran, seperti kisah para nabi, kaum ‘Ad, Tsamud, dan Ashabul Kahfi, yang salah satu tujuannya sebagai i’tibar. (QS Yusuf [12]: 111).

Ada kisah dalam Alquran yang kurang mendapatkan perhatian masyarakat, tetapi ayatnya menjadi bacaan favorit bagi hampir seluruh masyarakat Islam. Kisah tersebut termuat dalam surah Yasin [36]: 13-32. Intinya ialah, Nabi (Isa) mengirim dua orang utusan kepada kaum (Antioch), tapi kedua orang tersebut gagal dalam mengemban tugas dan justru disiksa dan dimasukkan penjara. (Zamakhsyari: Tafsir al-Kasysyaf).

Setelah itu, diutus orang ketiga untuk menyelamatkan kedua utusan yang telah dipenjara dan sekaligus menyampaikan agama yang benar. Utusan yang ketiga berhasil mendekat ke penguasa serta membebaskan keduanya dari penjara. Akan tetapi, karena sikap egoisme dari raja dan kaumnya, ketiga utusan tersebut dianggap salah dan akhirnya di hukum sampai mati.

Pada saat itulah, datang seseorang (Habib al-Najar) yang mengatakan bahwa utusan tersebut benar dan harus diikuti. Alasannya, para utusan tidak meminta upah dalam menyebarkan agamanya. Namun, Habib al-Najar juga menemui nasib yang sama seperti ketiga utusan yang ia bela. Karena pembelaan tersebut, Allah SWT memasukkannya ke dalam surga. Kaum Antioch ini akhirnya dimusnahkan oleh Allah SWT.

Dari kisah ini, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil hikmahnya. Pertama, setiap pendakwah agama hendaknya mencari strategi yang tepat sehingga dakwahnya dapat diterima. Jangan seperti dua utusan yang bersifat gegabah, tetapi seperti yang ketiga yang bersifat bijak dan bersahabat dengan masyarakat dan penguasa. Dua utusan tersebut pernah langsung berteriak Allah akbar ketika sang raja keluar, sehingga raja menjadi tersinggung, dan menghukum keduanya. Berbeda dengan utusan ketiga yang datang menghadap raja dengan cara menyamar, sehingga dapat menyelamatkan kedua temannya. (Tafsir Khazin).

Kedua, setiap menjalankan dakwah hendaknya disertai dengan keikhlasan dan tidak meminta imbalan sehingga dapat dipercaya oleh masyarakat. (QS Yasin [36]:21). Ketiga, ketika masyarakat tidak mau diajak pada kebaikan maka sikap pendakwah adalah mendoakannya agar diberi hidayah. Sikap ini seperti yang dilakukan oleh Habib al-Najar, padahal ia sedang dihukum oleh kaumnya, “Ya Allah berilah petunjuk kaumku,” dan sikap Nabi Muhammad SAW yang mendoakan kaumnya kendati beliau dilempari batu oleh kaum Quraisy. (Hamami Zadah: Tafsir Yasin). Sedangkan sikap putus asa merupakan sikapnya orang kafir. (QS Yusuf [12]:87).

Keempat, jika menyampaikan kebenaran kepada seorang penguasa maka sikap yang diambil adalah damai, bukan menentang secara frontal, sehingga mereka juga dapat memahami isi ajaran dengan hati nurani. Kelima, kebenaran hendaknya disampaikan dengan pelan dan penuh strategi.

Hikmah bagi masyarakat adalah semua kejadian yang tidak baik bagi masyarakat bukan karena kesalahan para utusan yang mengajak kebaikan, tapi semata-mata kesalahan masyarakat tersebut.
Oleh Dr Samsul Ma'arif MA
sumber : www.republika.co.id