-

Saturday, April 13, 2013

Satu Kesulitan di Antara Dua Kemudahan

Buya HAMKA berbagi kisah dalam bukunya.  “Kalau saya bawa bermenung saja kesulitan dan perampasan kemerdekaanku itu, maulah rasanya diri ini gila. Tetapi akal terus berjalan; maka ilham Allah pun datang. Cepat-cepat saya baca Alquran, sehingga pada lima hari penahanan yang pertama saja, tiga kali Quran khatam dibaca.  Lalu saya atur jam-jam buat membaca dan jam-jam buat mengarang tafsir Alquran yang saya baca itu. Demikianlah hari berjalan terus dengan tidak mengetahui dan tidak banyak lagi memikirkan bilakah akan keluar

Akhirnya, beliau dibebaskan dari penjara setelah sempat mengkhatamkan Alquran lebih dari 150 kali dan menulis tafsir Alquran 28 juz hanya dalam masa dua tahun (juz 19 dan 20 telah ditafsirkan sebelum dipenjara).

Bagi Buya HAMKA kisah menjadi salah satu bukti kebenaran janji Allah SWT dalam kitab-Nya. “Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan” QS. al-Insyirah(94):4-5.  Demikian janji Allah kepada Rasul-Nya, saat dihimpit kesulitan.  Allah SWT bahkan memberi penekanan dengan mengulangnya.

Jika kita renungkan maknanya, dapat kita pahami bahwa kemudahan diciptakan bersama dengan kesulitan.  Kesulitan dan kemudahan bagaikan satu paket yang tidak terpisahkan (built-in).  Rasulullah SAW, sebagaimana dikutip Ibnu Katsir dari riwayat Anas bin Malik, pernah mengilustrasikannya saat  duduk bersama para sahabat di depan sebuah batu.  “Saat kesulitan datang dan masuk batu ini, maka kemudahan pasti akan datang dan masuk pula menghilangkan kesulitan tersebut”

Dalam tafsir Ibnu Abbas RA lebih jauh diterangkan bahwa Allah Ta’ala menyebut “satu kesulitan di antara dua kemudahan”.  Menurut penjelasan ulama, alasannya adalah karena kesulitan (al-usr) yang tersurat di dalam dua ayat tersebut memiliki bentuk definitif atau tunggal.  Jadi, walaupun disebut dua kali, cuma satu kesulitannya.  Sementara itu, kemudahan (yusr) diekspresikan dengan indefinite article yang mengindikasikan bentuk jamak.

Terkait hal ini, Buya HAMKA pernah berkisah pula tentang syair lagu yang sering didengarnya dari Buya AR Sutan Mansyur iparnya.

"Apabila bala bencana telah bersangatan menimpamu.  Fikirkan segera Surat Alam Nasyrah.  'Usrun terjepit di antara dua Yusran. Kalau itu telah engkau fikirkan, niscaya engkau akan gembira."

Syair itu sangat membekas dalam ingatan dan hatinya.  Mungkin, dengan sebab itulah ilham Allah SWT datang saat Buya HAMKA dihimpit kesulitan dalam penjara.  Wallahu’a’lam.
, Oleh Rahmat Saptono Duryat

sumber : www.republika.co.id

Friday, April 12, 2013

Bekal Pernikahan

Dalam kitab Ahkam an-Nisa`, Ibnul Jauzy berkisah, “Dahulu kala, ada seorang raja di negeri Yaman yang bernama al-Harits bin Amru al-Kindi. Ia mendengar berita bahwa ada seorang wanita yang terkenal dengan kecantikannya.''

Wanita itu adalah putri Awf al-Kindi. Lalu sang raja mengutus seorang wanita yang bernama Asham, sebagai comblang, kepada keluarga Awf untuk membuktikan langsung kebenaran berita itu.

Maka berangkatlah Asham menuju rumah Awf. Sesampainya di sana, ia diterima oleh istri Awf yang bernama Umamah binti al-Harits. Asham mengabarkan maksud kedatangannya. Lalu Umamah menemui salah satu putrinya.

Dari dalam kamarnya, Umamah berkata kepada putrinya, “Wahai putriku, sesungguhnya di luar ada bibimu yang datang kepadamu untuk ‘memperhatikan’ sebagian urusanmu. Keluarlah engkau. Temui dia. Jangan kau sembunyikan apapun darinya. Berbicaralah kepadanya sesuai pembicaraan yang dimaksud olehnya.”

Singkat cerita, Asham kembali ke sang Raja, mengabarkan apa yang ia lihat. Ia kabarkan bahwa wanita yang ditemuinya adalah seorang wanita yang wajahnya putih bersih layaknya cermin dan untaian rambutnya tersusun indah. Sang Raja bulat hati melamar putri Awf. Lamaran diterima, dan Awf menikahkan putrinya dengan sang raja.

Pada malam pertama, sang ibu, mendatangi putrinya. Sang ibu memberinya nasehat berharga sebagai bekal perkawinan. Ia meminta putrinya untuk menjaga 10 hal agar dia bahagia.

“Pertama dan kedua, bergaullah dengannya dengan sikap merasa cukup (qanaah) dan dengarkan baik-baik ucapannya dan taatlah padanya. Sesungguhnya dalam sikap merasa cukup ada ketentraman hati, sedangkan dalam mendengar dan taat ada keridhaan Tuhan.”

Ketiga dan keempat, ia meminta putrinya memerhatikan tempat tatapan mata suaminya dan penciumannya. “Jangan sampai matanya tertuju kepada dirimu di saat engkau dalam keadaan jelek dan jangan sampai penciumannya tertuju kepada dirimu di saat dirimu kurang wangi.”

Kelima dan keenam, perhatikan waktu tidur dan makannya. Karena panasnya lapar dapat membakar perasaan dan kurangnya tidur dapat menimbulkan marah. Ketujuh dan kedelapan, menjaga hartanya dan memerhatikan kemuliaan dan keluarganya.

Kesembilan dan kesepuluh, janganlah melawan perintahnya dan jangan bongkar rahasianya. “Jika engkau melawan perintahnya, berarti engkau membuat dadanya cemburu.''

''Jika engkau bongkar rahasianya, maka engkau tidak akan aman dari tipu dayanya. Janganlah engkau bergembira di hadapannya di saat ia sedang bersusah hati, dan jangan pula engkau bermuram durja di saat ia sedang bahagia.”

Nasehat Umamah binti al-Harits dalam kisah di atas merupakan nasehat yang berharga bagi setiap istri. Khidmatnya seorang isteri pada suami akan membuahkan kebahagiaan hidup berumah tangga dan jalan meraih surga.

Untuk itu, mari kita realisasikan nasehat itu untuk mencari ridha suami dan sebagai ketaatan kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya aku boleh menyuruh seseorang sujud kepada orang lain, maka aku akan menyuruh seorang wanita sujud kepada suaminya.” (HR Tirmidzi). n
, Oleh Yuliasih

sumber : www.republika.co.id

Thursday, April 11, 2013

Pendidikan Spiritual

Manusia memiliki dua kebutuhan utama: kebutuhan jasmani dan kebutuhan ruhani. Kebutuhan jasmani, antara lain, dipenuhi dengan asupan makanan dan minuman yang halal dan thayyib (bergizi, menyehatkan),  olahraga, dan tidur yang cukup.

Sedangkan kebutuhan ruhani dapat dipenuhi, antara lain, dengan pendidikan, informasi, dan hiburan. Manusia sehat adalah manusia yang mampu menyeimbangkan pemenuhan kedua kebutuhan tersebut.

Pendidikan spiritual (tarbiyah ruhiyyah) termasuk 'nutrisi bergizi tinggi' yang sangat dibutuhkan oleh manusia sehat agar tidak menjauh dari hidayah Allah SWT dan hidupnya tidak mengalami disorientasi: cenderung materialis, sekuler, hedonis, dan sebagainya.

Pendidikan spiritual bertujuan menyehatkan hati dan pikiran, sehingga sikap dan perilakunya  menjadi mulia dan rabbani, bukan hewani dan syaithani (berkelakuan seperti hewan dan setan).

Allah adalah Rabbul ‘Alamin (Pendidik semesta raya, termasuk manusia). Esensi dari pendidikan spiritual adalah penanaman dan pencerahan manusia dengan meneladani sifat-sifat Allah. “Berakhlaklah kalian dengan akhlak Allah” (HR Muslim).

Jika sifat-sifat Allah dalam al-Asma’ al-Husna  (Nama-nama Terbaik) diteladani, niscaya manusia akan mampu mengontrol karakter kebinatangannya menuju integritas pribadi yang luhur dan akhlak mulia.

Karena itu, tindak kekerasan dan pelecehan seksual, terutama di lembaga pendidikan, semestinya tidak pernah terjadi jika  manusia memiliki sifat al-Lathif (Maha Lembut), dan Ar-Rahman Ar-Rahim (Maha Pengasih Maha Penyayang).

Berbagai kasus malpraktik pendidikan, seperti kekerasan di lembaga pendidikan, lulusan Perguruan Tinggi yang kemudian banyak menjadi koruptor, semestinya dapat dieliminasi jika pendidikan spiritual efektif diinternalisasikan dalam siswa oleh pendidik yang berketeladanan moral yang luhur.

Pendidikan spiritual membekali siswa tidak hanya  kognisi keagamaan, tetapi juga afeksi,  apresiasi, dan aktualisasi  nilai-nilai moral dan spiritual dalam segala aspek kehidupan.

Nabi Muhammad SAW pernah memberikan pesan berdimensi pendidikan spiritual yang sangat operasional. Sabda beliau, “Tebarkan salam, berikan makan, sambungkan tali silaturrahim,  biasakan qiyamul lail (shalat malam) pada saat orang lain tidur, niscaya  engkau akan dimasukkan oleh Allah dalam surga-Nya, Darus Salam.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Jika diterjemahkan dalam kehidupan nyata,  nilai pendidikan spiritual  dalam salam dapat diaktualisasikan dalam bentuk nilai-nilai perdamaian, seperti: tegur sapa, murah senyum, ramah, semangat memberi pelayanan yang prima, tidak sinis, tidak emosional, mudah mengulurkan tangan, dan sebagainya. 

Sementara itu 'memberi makan' dapat diwujudkan dalam sikap empati, solidaritas sosial, mau meringankan penderitaan orang lain, selalu berbagi, dan berusaha mencari solusi.

'Menyambung tali silaturrahim' dapat diaktualisasikan dalam bentuk: suka dan supel bergaul, berkomunikasi terbuka dan efektif, tidak bermusuhan, bersahabat, bekerjasama, saling melindungi, dan sebagainya.

Sedangkan 'qiyamul lail' sebagai bentuk spiritualisasi diri  dapat diterjemahkan dalam perilaku yang selalu zikir  kepada Allah, istiqamah dalam beribadah, tekun berdoa, ikhlas beramal, sabar dalam menghadapi cobaan hidup, dan sebagainya.

Idealnya pendidikan spiritual menjadi ruh (semangat, jiwa) dari sistem pendidikan nasional agar lulusan yang dihasilkan dari lembaga pendidikan kita tetap memiliki hati dan pikiran yang sehat dan cerdas.

Pendidikan spiritual merupakan benteng penangkal kapitalisasi dan sekularisasi pendidikan, termasuk 'antivirus' perilaku korup.

Pendidikan spiritual juga harus terintegrasi dalam semua mata pelajaran dan kurikulum pendidikan kita, sehingga semua pendidik, tenaga kependidikan, guru, pimpinan lembaga pendidikan, selalu menampilkan kepribadian dan keteladanan yang terbaik (uswah hasanah).

Pendidikan dengan keteladanan (at-tarbiyah bil uswah) merupakan prototipe atau model pendidikan yang paling ideal untuk masa depan bangsa kita. Pendidikan spiritual sudah semestinya menjiwai seluruh manajemen dan penyelenggaraan pendidikan di tanah air.
, Oleh Muhbib Abdul Wahab

sumber : www.republika.co.id

Wednesday, April 10, 2013

Luruskan Niat

Sesungguhnya setiap pekerjaan itu harus dengan niat. Allah SWT berfirman di dalam hadis Quds: Di akhirat nanti di saat orang-orang berkumpul seluruhnya di padang mahsyar. Pada saat penghisaban, ada tiga orang yang ditanya bergiliran oleh Allah SWT, dan ini disaksikan oleh seluruh umat manusia dari sejak zaman nabi Adam sampai kita umat akhir zaman:

Yang pertama, adalah orang kaya. Ketika ditanya, “Dulu sewaktu di dunia kamu rajin bersedekah, memberi makan fakir dan miskin, untuk apakah engkau lakukan? Orang itu menjawab, ''aku lakukan untuk mendekatkan diri kepada-Mu ya Allah.''

Allah membantah, kadzabta (kamu dusta), itu semua engkau lakukan karena engkau ingin disebut sebagai seorang yang dermawan.
Giliran pejabat ditanya, “Dulu sewaktu di dunia ketika engkau memangku jabatan di tengah masyarakat, engkau ramah kepada tetangga, suka meringankan urusan tetangga, untuk apakah itu engkau kerjakan?

Orang itu menjawab, “Aku lakukan hanya karena-Mu ya Allah.'' Lantas Allah berkata, kadzabta (kamu dusta). Itu engkau lakukan karena engkau ingin dipandang sebagai pejabat yang baik, ingin disebut-sebut di tengah masyarakat.
Tinggal giliran orang alim.  Ketika ditanya kenapa kamu ingin menjadi orang alim? Itu aku lakukan karena aku ingin faham agama, ingin menyampaikannya kepada orang lain.
Allah berkata, kadzabta (kamu dusta). Itu engkau lakukan karena engkau ingin  dipandang sebagai orang alim, agar engkau dihormati dan disanjung orang lain. Kamu bertiga, semuanya masuk ke dalam neraka!

Kisah dari hadits qudsi diatas , memberikan pelajaran kepada kita semua untuk meluruskan niat dalam setiap jabatan (amanah) yang kita emban dan dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan.
Jangan ada sedikitpun niat buruk apalagi sampai merugikan orang banyak dalam pekerjaan kita, hendaknya pekerjaan yang kita lakukan dilandasi dengan niat ikhlas lillahi ta’ala.

Kalau Anda seorang petani, ikhlaslah dalam bekerja mengelola dan menggarap sawah. Insya Allah itu akan bernilai ibadah di sisi Allah swt.

Kalau Anda seorang guru, ikhlaslah dalam mendidik dan mengajarkan murid-murid Anda, insya Allah akan menghantarkan Anda mendapatkan pahala di sisi Allah SWT.

Kalau Anda seorang pejabat, bekerjalah dengan ikhlas, Anda bisa beramal sholeh dengan jabatan anda,
Permudah urusan rakyat jangan mempersulit, itu juga insya allah akan menjadi amal soleh anda.

Kalau Anda seorang ulama, sebarkanlah ilmu agama, ajarilah masyarakat akan pengetahuan agama, ramaikan pengajian-pengajian dengan menyebarkan ilmu agama, insya allah itu akan membawa anda mendapatkan rahmat dari Allah swt.

Kalau Anda seorang pengusaha, perbanyaklah amal soleh dan shedekah dengan harta yang Anda dapatkan dari urusan (bisnis) Anda, insya Allah itu akan membawa Anda mendapatkan limpahan pahala dan rahmat Allah SWT.

Singkatnya, apapun profesi dan di manapun Anda bekerja, landasilah pekerjaan Anda dengan niat ikhlas dan ibadah kepada Allah swt.
Janganlah kita menjadi orang kaya, pejabat dan orang alim seperti yang di kisahkan dalam hadits qudsi di atas. Mereka hidup di dunia bergelimang harta, jabatan dan ilmu tapi itu tidak dapat menghantarkan mereka masuk ke dalam surga. Naudzubillah min dzalik.
, Oleh : H.Ahmad Dzaki,MA
sumber : www.republika.co.id

Tuesday, April 09, 2013

Nurani

Allah SWT tidak menganugerahkan dua hati bagi manusia. Istilah dua hati identik dengan hati mendua, yakni wujud dari keragu-raguan dalam bertindak.
Hakikat hati dalam Alquran disebut dengan qalbu yang bermakna jantung. Qalbu atau jantung, karena berbentuk segumpal daging, disebut juga dengan mudghah.

Rasulullah bersabda: “Dalam tubuh ada mudghah, jika ia baik, maka seluruh tubuh menjadi baik pula. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hati yang baik disebut qalbun salim selalu mendapat petunjuk dari Allah dan dibimbing untuk bertindak baik. Karena itu ia disebut hati nurani (hati yang bercahaya).

Sedangkan hati yang tidak baik disebut qalbu ghairu salim dimurkai oleh Allah dan disebut juga dengan hati zhulmani (hati yang gelap/zalim). Karena itu tidak mungkin hati kita separuhnya nurani dan separohnya lagi zhulmani.

Nurani berasal dari kata nur yang berarti cahaya atau perunjuk. Dalam Alquran tidak ditemukan kata jamaknya, seperti yakni anwar (beberapa cahaya), begitu kata al-huda  dan al-haqq juga tunggal. Karena itu, cahaya atau petunjuk itu hanya satu karena bersumber dari Yang Satu, yakni Allah.

Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk berislam, maka ia memperoleh nur/petunjuk dari Tuhannya.” (QS az-Zumar [39]: 22). Pada ayat lain: “Allah membimbing melalui nur-Nya terhadap siapa saja yang dikehendaki-Nya” (QS an-Nur [24]: 35).

Hati nurani selalu terbuka menerima dan menyampaikan yang benar, membimbing mulut untuk berkata benar, mata untuk melihat yang baik, telinga untuk mendengar yang bermanfaat. Bahkan ketika mendengar pembicaraan, diseleksi yang terbaiknya (QS az-Zumar [39]: 18).

Rasulullah bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berkatalah yang benar, kalau tidak bisa, sebaiknya diam.” (HR Muslim). Pepatah mengatakan: “Diam itu emas, bicara itu perak.”

Bagi yang memiliki hati nurani selalu rindu untuk dekat kepada Allah, jiwa terasa tenang dan damai (nafs al-muthmainnah), jauh dari kegelisahan. Kerinduan itupun disambut oleh Allah dengan firman-Nya: “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan penuh rasa ridha, bergabunglah bersama hamba-hamba-Ku (yang saleh) dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS al-Fajr [89]: 27-30).

Kebalikan dari hati nurani adalah hati zhulmani yang berarti gelap/zalim. Kata zhalim  sering ditemukan dalam Alquran dalam bentuk jamak atau zhulumaat. “Allah pelindung orang-orang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan (azh-zhulumaat) kepada petunjuk (an-nur)… (QS Al-Baqarah [2]: 257). Kalau kebenaran itu satu, maka kezaliman itu cenderung banyak.

Gelap dari petunjuk berarti menutup diri dari kebenaran, cenderung kepada dishamonisasi, memutus silaturahim, egois, suka membuat teror dan provokasi. Jika suatu kebenaran merugikan dirinya, selau ia tutup-tutupi.

Mempermainkan kata-kata adalah wujud dari kezaliman hati. Gambaran bagi orang yang punya hati zhulmani lebih sesat dari binatang, (QS. Al-A`raf [7]: 179). Na`uzdubillah.
, Oleh Yaswirman


sumber : www.republika.co.id

Monday, April 08, 2013

Permata Dunia

Rasulullah SAW bersabda, “Dunia adalah kenikmatan (sementara) dan sebaik-baik kenikmatannya adalah wanita shalihah” (HR. Muslim). Diantara kenikmatan adalah keindahan. Dan permata dapat dijadikan simbol keindahan yang tertinggi. Maka dalam hal ini wanita diibaratkan sebagai permata.

Hadis di atas mengisyaratkan bahwa pada dasarnya setiap wanita memiliki potensi yang luar biasa. Setiap wanita memiliki kesempatan untuk menjadi permata dunia. Namun, banyak yang salah kaprah menginterpretasikan maksud dari “permata dunia” yang sesungguhnya.  Tidak dapat disangkal bahwa wanita adalah keindahan. Mungkin mayoritas menyadari akan keindahan itu.

Namun hanya minoritas yang mengerti bagaimana menjaga keindahan yang dimiliki wanita. Sehingga, banyak permata yang tercuri keindahan dan kemuliaannya, tetapi si pemilik tidak merasa. Bahkan  cenderung sengaja mengeksploitasi keindahannya. (Menemukan Permata yang Hilang : 6).

Hadis di atas menjelaskan bagaimana wanita dapat menduduki posisi yang terhormat “sebaik-baik perhiasan dunia”. Yaitu dengan menjadi wanita salehah. Kemudian muncul pertanyaan bagaimana menjadi wanita salehah?

Marilah merenungi QS. An-Nisa : 34.”Maka wanita salehah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah telah memelihara mereka.”

Dari Ayat tersebut terdapat dua unsur menjadi wanita salehah. Pertama adalah taat kepada Allah. Implementasi daripada ketaatan kepada Allah dapat terlihat dari sejauh mana seorang wanita menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Wanita yang salehah akan berusaha memahami apa yang diperintahkan Allah kemudian menjalankannya. Sekaligus memahami apa yang menjadi larangan Allah dan kemudian menjauhinya.

Kedua adalah memelihara diri. Dalam beberapa kajian kitab tafsir, memelihara diri ini terkait dengan memelihara atau menjaga kehormatan diri dan harta suami ketika suami tidak ada. Dalam konteks wanita sebagai “permata” yang memiliki potensi untuk memancarkan keindahan, maka memelihara diri dalam ayat ini dapat dimaksudkan memelihara dan menjaga kemuliaan “permata” yang terdapat pada diri wanita. Menjaga pergaulan dan menutup aurat sebagaimana yang telah diperintahkan Allah dalam QS. An-Nur : 31. Sehingga permata yang dimiliki wanita betul terjaga keindahannya.

Sebuah permata yang sangat mahal harganya tidak akan begitu saja diletakkan di etalase. Seperti aksesoris perhiasan yang memang sengaja dipajang. Sehingga siapapun yang ingin melihat dapat melihat sesukanya. Siapapun bisa memilih, menyentuh lalu kemudian mengembalikannya lagi jika ternyata tidak sesuai dengan selera.

Namun, permata yang sangat mahal akan diletakkan pada brankas besi yang terjaga dengan sistem keamanan kelas tinggi. Tidak sembarang orang dapat melihat. Apalagi menyentuhnya. Hanya orang yang memiliki kemampuan finansial dan kesiapan yang prima sajalah yang dapat memiliki permata tersebut.

Begitulah perumpamaan sederhana dari wanita yang tidak menghormati dan menghargai “keindahannya” dengan wanita yang sadar akan keindahan yang ada dalam dirinya, lalu kemudian betul-betul menjaganya sehingga menjelma menjadi permata dunia.

Semoga para wanita dapat menjadi permata dunia yang bersinar mahal lagi menyejukkan. Bukan permata yang hilang sinarnya. Dan para laki-laki dapat bijaksana memilih wanita salehah sebagai pendampingnya, sehingga dia mendapatkan sebaik-baik kenikmatan dunia ini. Permata dunia.
, Oleh Soraya Khoirunnisa Halim
sumber : www.republika.co.id

Sunday, April 07, 2013

Buruk dan Baik

Dalam Alquran Surah al-Maidah [5]: 100, Allah menegaskan, perbuatan buruk dan menjijikkan (al-khoba'is) adalah pengkhianatan, perzinaan, korupsi, menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan, dan mengonsumsi narkoba serta zat-zat lain yang merusak. Perbuatan itu seharusnya tidak dilakukan oleh orang-orang yang beriman yang memiliki akal sehat.

Sebaliknya, ath-thayyib seperti sikap bertanggung jawab, amanah, tidak korup, menjauhkan diri dari perbuatan zina, tidak mengonsumsi narkoba, toleran, dan menyayangi sesama, adalah perbuatan terpuji, yang seharusnya menjadi perilaku dan gaya hidup orang-orang yang beriman yang memiliki kesadaran yang tinggi untuk menyelamatkan dirinya serta masa depannya.

Dalam kenyataan kehidupan di tengah-tengah masyarakat, seperti diisyaratkan dalam ayat tersebut, terkadang perbuatan buruk tersebut (al-khoba'is) lebih dominan dan lebih diminati oleh masyarakat banyak ketimbang sifat-sifat baik yang terpuji (ath-thayyib).

Tidak sedikit orang yang berbangga dengan kekayaannya walaupun hasil korupsi dan kecurangan ketimbang hidup sederhana yang halal dan bersih serta hasil usaha sendiri. Rumah yang mewah, tanah yang luas, dan kendaraan yang mahal, merasa lebih meyakinkan dan prestise di hadapan masyarakat banyak. Seolah-olah masyarakat dianggap tidak tahu dari mana sumbernya kekayaan tersebut.

Tidak sedikit pula orang yang merasa tidak bersalah, ketika dia berzina dengan laki-laki atau perempuan lain bahkan cenderung berbangga-bangga, ketimbang merasa cukup dengan istri atau suami yang halal yang dihasilkan melalui perkawinan yang sah (sah secara agama dan Undang-undang Perkawinan).

Padahal, perzinaan itu merupakan perbuatan yang di samping merusak dan menjijikkan, juga mengundang berbagai kemurkaan dari Allah SWT, seperti dikemukakan dalam sebuah hadis sahih, bahwa perzinaan itu akan mengakibatkan empat hal.

Pertama, hilangnya keceriaan dan kegembiraan dari wajah. Kedua, terputusnya rezeki (dalam pengertian orang yang berzina ujung kehidupannya pasti akan susah dan melarat). Ketiga, selalu dikutuk oleh Allah SWT dalam semua aktivitas yang dilakukannya. Keempat, jika mati akan kekal di dalam neraka.

Demikian pula narkoba dan yang sejenisnya, yang semuanya termasuk kategori khamar yang merupakan sumber dari kebejatan moral. Artinya, pecandu khamr akan mudah berzina, korupsi, merampas hak orang lain, melukai bahkan tidak jarang membunuh.

Karena itu, untuk mempertahankan perilaku baik (thayyib) dan menjauhkan diri dari perilaku buruk (al-khoba`is), di samping diperlukan kekuatan akal dan daya nalar, juga sangat penting kekuatan iman yang masuk ke dalam struktur rohani dan kepribadian serta membingkai dan mengarahkan setiap perilaku yang dikerjakan.

Dan inilah yang dikatakan istiqamah, yang apabila sudah dimiliki seseorang, apa pun posisi, jabatan, dan kedudukannya, akan selalu dilindungi Allah SWT serta terhindar dari perilaku buruk tersebut. Lihat QS Fussilat [41]: 30-31. Wallahu a'lam.
, Oleh KH Didin Hafidhuddin
sumber : www.republika.co.id

Saturday, April 06, 2013

Suara Alquran

Kedatangan syekh-syekh ahli Alquran dari banyak negara pada Sabtu, 30 Maret 2013, alhamdulillaah menjadi warna sendiri di tengah hiruk pikuk masalah di Indonesia ini.

Adem, sejuk, penuh berkah, dan membawa harapan, agar berkah Alquran dan berkah para syekh ahli Alquran, membuat Allah tetap berkenan memberikan rahmat dan pertolongan-Nya untuk Indonesia.

Sekitar 70 ribu jamaah memenuhi Gelora Bung Karno Senayan. Mendengar langsung bacaan Alquran para syekh, mendengar juga langsung tausiyah mereka, melihat wajah-wajah sejuknya, dan mengaminkan doanya. Subhanallah.

Syekh-syekh tersebut di antaranya adalah Syekh Sa'ad al Ghamidi (Imam Masjid Nabawi), Syekh Bashfar (Ketua Organisasi Tahfidz Internasional yang berpusat di Jeddah, membawahi 67 negara, termasuk Indonesia).

Ada juga Syekh Abdurrahman Yusuf (Pimpinan Daarul Qur'an Gaza Palestina), Syekh Muhammad Kholil (Imam Masjid Quba), Syekh Muhammad dan Syekh Yusuf (Daarul Qur'an Yaman), Syekh Halabi (dokter dari Kerajaan Arab Saudi, yang sedang ambil program doktoral).

Syekh Thoriq (dari Kementerian Agama Qatar, beliau juga penulis kitab-kitab Alquran dan termasuk memiliki sanad Alquran tertinggi di dunia), Syekh Hasan (Dari Organisasi Pengajaran Internasional di Jeddah), Syekh Mahmud (Mesir), dan banyak lagi yang lain sebagai pemerhati dan tamu undangan.

Tidak pelak, tamu yang paling ditunggu oleh jamaah adalah Syekh Sa'ad al Ghamidi. Bertepatan pada Sabtu, pas acara, pas juga hari milad (ulang tahun) Syekh Sa'ad al Ghamidi.

Suara emas beliau sangat masyhur di kalangan kaum muslimin Indonesia. Suara dan bacaan Alqurannya teramat menyentuh, memesona, menggugah, dan kerap membuat haru bagi yang mendengarnya.

Syekh Sa'ad al Ghamidi memimpin pembacaan Surah an-Naba. Surah an-Naba adalah salah satu surah yang dihafal dan diujikan kepada peserta yang hadir.

Saya, yang mendampingi di samping beliau, dan relatif semua jamaah, menangis dan terharu. Menangis rindu juga, sangat ingin menjadi makmum di Masjid Nabawi Madinah, dan Masjidil Haram di Makkah langsung.
Labbaik Allahumma labbaik. Labbaika laa syariika laka labbaik. Innalhamda wanni'mata laka walmuk. Laa syariika lak.
Seorang syekh yang lain, yakni Syekh Abu Mahdi, asal Aljazair yang bermukim di Swedia, di pagi-pagi acara, menerobos langsung ke lapangan tengah, ke lapangan rumput. Beliau sujud dan berdoa.

Beliau berbisik kepada saya, kurang lebih, "Sungguh saya melihat keberkahan yang banyak buat negeri ini, dan saya tidak tahan untuk tidak berdoa untuk semuanya dan Indonesia." Masya Allah. Dan semua jamaah pun melihat dan menyaksikannya.

Mudah-mudahan negeri ini bukan negeri darurat korupsi. Bukan negeri darurat zina. Tapi negeri darurat Alquran. Suara Alquran memanggil Indonesia. Untuk kembali kepada Alquran. Berakhlak Alquran. Dan berlandaskan konstitusi yang tidak meninggalkan Alquran, serta selaras dengan Alquran. Amien.
, Oleh Ustaz Yusuf Mansur


sumber : www.republika.co.id

Belajar dari Nyamuk

"Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?"
Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik."(QS Al-Baqarah [2]: 26).

Ayat tersebut secara tidak langsung memotivasi dan mengilhami kita semua untuk mau belajar dari nyamuk. Karena tidak mungkinkan Allah SWT membuat perumpamaan tanpa ada pelajaran berharga yang dapat dipetik oleh yang mau mempelajarinya.

Dari sekian banyak makhluk Allah, fakta empirik menunjukkan nyamuk merupakan serangga yang paling banyak membunuh manusia, meskipun ukurannya tergolong sangat kecil.

Menurut sebuah riwayat, raja superdiktator,  Namrud juga mati karena telinganya dipenuhi dan digigit nyamuk. Hampir setiap hari ada saja warga kita meninggal akibat terkenan DBD.

Tidak sedikit pula warga yang terserang cikungunya yang virusnya juga ditularkan melalui gigitan nyamuk. Mengapa manusia banyak mati karena nyamuk daripada karena gigitan ular atau binatang buas lainnya?

Fakta tersebut setidaknya menjadi pelajaran yang sangat bernilai bagi manusia. Pertama, siapa pun yang ingin terbebas dari bahaya nyamuk tentu harus menjaga kebersihan lingkungan. 

Dalam hal ini, peluang untuk perkembangbiakan nyamuk perlu diminimalisir, misalnya dengan menguras dan membersihkan bak atau penampungan air secara rutin, mengubur barang-barang bekas, dan menangkal diri dari gigitan nyamuk dengan tanaman pengusir nyamuk atau obat anti nyamuk.

Kedua, nyamuk telah menginspirasi pentingnya profesi dokter di bidang penyakit akibat gigitan nyamuk. Nyamuk juga mengilhami aneka ragam produk obat anti nyamuk. Hal ini tentu menguntungkan para produsen, pekerja, pegawai, dan sebagainya.

Belum ada produk 'penolak' yang melebihi produk anti nyamuk. Jadi, nyamuk sesungguhnya dapat menyebabkan kematian, sekaligus kehidupan bagi banyak orang. Tidak terhitung berapa banyak orang yang dapat bertahan hidup karena bekerja pada perusahaan produksi obat nyamuk.

Ketiga, nyamuk memang suka usil dan mengganggu kenyamanan tidur kita.  Tapi ketika menggigit dan mengisap darah kita, nyamuk pada dasarnya melatih kesabaran dan 'kedermawanan' kita untuk mendonorkan sebagian darah yang kita miliki. 

Keempat, nyamuk merupakan objek penelitian yang sangat menantang. Menurut Harun Yahya, manusia sering salah paham terhadap nyamuk. Misalnya, makanan nyamuk adalah darah manusia, padahal tidak semua nyamuk mengisap darah manusia.
Hanya nyamuk betina yang mengisap darah manusia. Nyamuk jantan ada yang mengisap dedaunan, buah-buahan, dan lainnya.
Ketajaman penciuman dan kemampuan menyuntik, bagaimana virus ditularkan nyamuk kepada manusia, dan lainnya sungguh menantang para ilmuwan untuk menemukan jawabannya secara ilmiah.

Nyamuk sering disepelekan manusia, padahal ia merupakan salah satu serangga yang banyak memberi pelajaran bagi manusia. Karena itulah Allah SWT membuat perumpamaan dengannya. 

Hikmah di balik penciptaan nyamuk itu sungguh luar biasa. Tidak hanya mendorong kita selalu menjaga kebersihan lingkungan, melainkan juga menginspirasi kita untuk mengembangkan riset ilmiah untuk memajukan ilmu pengetahuan.

 "Ya Tuhan kami, sungguh tidak ada yang sia-sia  apa yang telah Engkau ciptakan. (QS Ali Imran [3]: 191).

Kita memang harus belajar dari nyamuk untuk bisa hidup sehat dan jauh dari penyakit sekaligus memajukan sains dan teknologi di bidang 'pernyamukan'. Wallahu a'lam bish-shawab!
, Oleh Muhbib Abdul Wahab

sumber : www.republika.co.id

Friday, April 05, 2013

Lima Tips Hafal Alquran dari Imam Masjidil Haram

Menghafal kitab suci Alquran merupakan hal yang paling mulia. Selain memiliki banyak keutamaan di akhirat, Allah juga berjanji akan meninggikan derajat mereka yang hafal Alquran dibanding para hamba-Nya yang lain.
Imam Masjid Nabawi, Syaikh Sa'ad Al Ghamidi memberikan lima tips yang harus diperhatikan bagi penghafal Alquran. Tips tersebut harus diperhatikan, khususnya bagi orang yang sama sekali tak bisa berbahasa Arab. Pertama, harus mempunyai tujuan yang jelas. "Teman-teman Indonesia harus memiliki tujuan yang jelas, apa tujuan antum menghafal Alquran," katanya, Ahad (31/3) malam.
Kedua, ujar Sa'ad, harus ada lembaga yang menyelenggarakan program menghafal Alquran. Lembaga ini berfungsi untuk mengkoordinasi mereka yang ingin menghafal Alquran agar nantinya tidak patah dan berhenti di tengah jalan.
Ketiga, harus ada metode yang digunakan dan tak asal begitu saja. Jika memang ingin sungguh-sungguh, maka mesti ada metode yang dipakai. "Metode yang digunakan harus efektif dan bisa digunakan bagi seluruh kalangan. Sebab, kemampuan masing-masing orang dalam menghafal berbeda-beda. Ada yang bisa menghafal satu halaman per hari, namun ada juga yang hanya bisa menghafal satu ayat saja per hari," jelasnya.
Keempat, harus ada mu’allim (guru) yang menjadi rujukan dan mempunyai kemampuan membaca Alquran dengan baik dan benar. "Jadi mu’allim harus dilihat juga, apakah bacaannya fasih? Apakah hafalan Alqurannya baik? Apakah dia bisa menjadi qudwah (tauladan) dari kepribadian dan akhlaknya? Jadi memang diperlukan seleksi yang ketat dalam menentukan mu’allim itu,” jelas Syaikh.
Kelima, harus ada follow-up setelah menyelesaikan hafalan Alquran. Jadi, mereka yang telah merampungkan hafalan Alquran mereka tidak dibiarkan begitu saja. "Bagi sebahagian madrasah Tahfidz Alquran hanya menfokuskan santrinya bagaimana mencetak para hafiz Quran. Namun yang tak kalah pentingnya, apa yang akan mereka lakukan setelah mereka menjadi hafiz Quran?” paparnya.

sumber : www.republika.co.id

Thursday, April 04, 2013

Keutamaan Menjaga Shalat

Suatu ketika Abu Thalhah ra shalat di kebunnya. Tiba-tiba seekor burung terbang di antara pepohonan. Burung itu terbang kesana kemari. Lalu masuk ke dalam rerimbunan daun yang lebat dan terjebak disana.

Melihat hal ini perhatian Abu Thalhah ra terarah pada tingkah laku burung tersebut sehingga ia lupa jumlah rakaat yang telah ia lakukan. Ia sangat kesal atas hal ini. Ia sadar karena kebunnyalah ia menjadi lalai dalam shalatnya. Dan bagi Abu Thalhah itu merupakan musibah baginya.

Seusai shalat, ia langsung menjumpai Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan semua kejadian tersebut. Lalu ia berkata, “ Ya Rasulullah, kebunku ini telah menyebabkan saya lalai dalam shalat. Oleh karena itu saya sedekahkan kebun ini fi sabilillah. Gunakanlah sekehendakmu.”

Peristiwa semacam ini juga pernah terjadi pada masa Khalifah Ustman ra. Ketika seorang anshar sedang shalat di kebun kurmanya, matanya terus memandang ke arah kurma yang sedang berbuah lebat. Hatinya senang karena panennya akan bagus. Perhatiannya kepada kurma tersebut menyebabkan ia lupa jumlah rakaat yang telah dilakukannya.
Hatinya menjadi sedih. Ia sadar bahwa karena kebunnyalah ia ditimpa musibah dalam shalatnya.

Ia segera menemui Khalifah Ustman ra. dan berkata, “Ya Amirul Mu’minin, saya infakkan kebun ini fi sabilillah. Gunakan sekehendakmu.” Kebun itu akhirnya dijual seharga 50 ribu dirham, dan hasilnya digunakan fi sabilillah. ( Himpunan Fadhilah Amal : 70)

Sungguh luar biasa para sahabat menjaga kualitas shalat mereka. Hal ini dikarenakan kesadaran yang sempurna akan hakikat shalat. Begitu pentingnya shalat sehingga shalat disebutkan pada urutan kedua setelah iman.

Mari kita mengingat hadis Nabi saw dari Abu Hurairah ra, “Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika baik shalatnya maka ia akan beruntung dan selamat. Dan jika buruk shalatnya maka ia akan merugi. Jika ditemui ada kekurangan pada shalat fardhunya maka Rabb (Allah SWT) akan berkata (kepada malaikat), ”Lihatlah apakah hambaKu memiliki amalan shalat sunah?” Maka kekurangan shalat fardhu akan disempurnakan dengan shalat-shalat sunah. Kemudian amal-amal lainnya akan dihisab seperti itu. (Tirmidzi)

Coba perhatikan shalat kita. Tidak terhitung berapa kali kita lupa rakaat dalam shalat. Alih-alih bersedih dengan “lupa rakaat” shalat, seringkali kita justru menunda shalat karena urusan dunia. Atau bahkan meninggalkan shalat. Astaghfirullahal ‘adzim. Kita merasa terlalu sibuk sehingga shalat kita terabaikan. Padahal shalatlah yang pertama kali akan dihitung pada hari kiamat.

Dalam konteks berharganya shalat, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Barang siapa yang terlepas satu shalatnya, seolah-olah ia telah kehilangan seluruh keluarga dan hartanya. (Ibnu Hibban-At Targhib). 

Kedua kisah diatas selayaknya menyentil hati kita. Mari memperbaiki Shalat. Sholat tidak lagi dikerjakan ketika ”sempat”. Melainkan menjadi amalan utama yang harus paling kita perhatikan.

Bagi yang sudah menjalankan shalat lima waktu, mari kita perbaiki lagi dengan menjaga shalat di awal waktu. Kemudian kita tingkatkan lagi dengan shalat sunah dan amalan ibadah lain.

Dengan demikian peran shalat dalam mencegah kemunkaran dapat menjadi nyata dalam kehidupan kita. “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar.” (QS. Al-Ankabut : 45) Dalam skala yang lebih luas, Shalat dapat memperbaiki moral bangsa yang kian terpuruk. Wallahua’lam
, Oleh Soraya Khoirunnisa Halim

sumber : www.republika.co.id

Wednesday, April 03, 2013

Hilang Malu, Hancurlah Kehidupan

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mengartikan ‘malu’ sebagai ‘merasa sangat tidak enak, hina, dan rendah karena berbuat sesuatu yang kurang baik atau kurang benar’.Sementara itu, definisi ‘malu’ menurut Imam An-Nawawi adalah ‘akhlak mulia yang akan mendorong seseorang untuk meninggalkan keburukan dan mencegahnya dari melalaikan hak para pemiliknya’.

Rasa malu sangat ditekankan dalam Islam. Sebuah hadis shahih yang menarik direnungkan, “Jika kamu tidak memiliki rasa malu, berbuatlah sesukamu” (HR Bukhari). Ada juga hadis lain, “Malu adalah sebagian dari iman” (HR Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, tidaklah sempurna iman seseorang jika tidak ada rasa malu dalam dirinya. Iman dan malu bagai dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Iman dan malu merupakan pasangan dalam segala situasi dan kondisi. Apabila rasa malu sudah tidak ada, maka iman pun sirna” (HR Al-Hakim).

Tetapi, apa hubungannya malu dengan kehidupan? Jika diteliti dalam kamus-kamus bahasa Arab, kata haya’ (malu) dan hayah (kehidupan) ternyata berasal dari akar yang sama. Dan dalam bahasa Arab, setiap kata yang seakar selalu memiliki hubungan makna.

Simaklah ayat Alquran ketika berbicara tentang Fir’aun, “…yudzabbihuuna abnaa’ahum wa yastahyuuna nisaa’ahum”. Kalimat ‘yastahyuuna’ di situ diterjemahkan dengan ‘menghidupkan’ tetapi ada yang menerjemahkan sebagai ‘memalukan’.

Jelaslah, ada keterkaitan makna antara malu dan kehidupan. Barangkali keterkaitan makna ini sekaligus menjadi penegasan betapa pentingnya rasa malu dalam kehidupan. Boleh dibilang, tegaknya tatanan kehidupan ini sangat ditentukan oleh adanya rasa malu dalam diri manusia. Rasa malu juga menjadi kata kunci untuk mengukur kualitas kemanusiaan manusia. Tanpa rasa malu, manusia akan kehilangan kemanusiaannya. Walhasil, kehidupan hancur berantakan. 

Bukti kehancuran tatanan kehidupan akibat menguapnya rasa malu itu sudah tampak secara kasat mata. Lihatlah anak yang berani melawan orangtuanya, bapak tega memerkosa anak kandungnya, gadis belia hamil tanpa menikah, pembantu rumah tangga membunuh anak majikannya, murid tanpa risih mencontek dalam ujiannya, guru merasa absah menelantarkan muridnya, istri tanpa beban mengkhianati suaminya, suami tanpa canggung menzinahi istri tetangga rumahnya.

Tatanan kehidupan publik tidak kalah mengerikan. Orang mengaku wakil rakyat justru menipu rakyat, mengaku pemimpin negara justru merampok uang negara, mengaku penegak hukum justru melanggar hukum, mengaku ulama justru menyesatkan umat, mengaku pejuang HAM justru menginjak-injak HAM, mengaku pelindung masyarakat justru bertindak bagai preman.

Sungguh memilukan tatanan kehidupan jika tanpa rasa malu hadir di dalamnya. Kemaksiatan dan kebejatan moral dianggap absah dan lumrah belaka. Masyarakat manusia tetapi tidak ubahnya kumpulan binatang. Manusia yang seharusnya berkualitas ‘ahsana taqwim’ malah terjun bebas ke tingkat ‘asfala safilin’. Inilah yang sudah disinyalir Allah dalam Alquran, “Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya” (Qs At-Tin: 4-5).

Manusia turun dejarat menjadi binatang, bahkan lebih rendah. Kata Allah, “Mereka mempunyai hati tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, mempunyai mata tetapi tidak digunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, mempunyai telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu bagai binatang, bahkan lebih rendah lagi” (Qs Al-A’raf: 179).

Maka dalam kondisi demikian, rasa malu harus senantiasa disuburkan dalam diri kaum beriman. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Sungguh rasa malu tidak akan mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan” (HR Bukhari dan Muslim). Tentu malu di sini harus bermakna positif. Malu bermakna positif adalah perasaan yang mendorong seseorang untuk berbuat kebaikan dan kemaslahatan.

Malu untuk berucap dan berbuat sesuatu yang melanggar ‘khittah’ Allah, karena selalu merasa ada CCTV (closed circuit television) yang memantaunya. Itulah para malaikat yang memang khusus dikirim Allah untuk mengamati dan mencatat setiap ucapan dan perbuatan manusia. “Bagi manusia, ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya secara bergiliran, di depan dan di belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah” (Qs Ar-Ra’du: 11).

Ibaratnya, setiap fasilitas sebuah jabatan, pasti akan diaudit. Dan hasil audit KPK kerap mampu mengungkap beragam penyelewengan yang dilakukan koruptor negeri ini. Bagaimana dengan audit malaikat?

Pantaslah kita malu, karena malaikat tidak bisa ditipu, apalagi disuap. Pelaporan dan pengawasan mereka atas setiap ucapan dan perbuatan kita sangat ketat. “Dan segala sesuatu yang mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan” (Qs Al-Qamar: 52).

Tidak ada kebusukan kita yang luput dari perhitungan Allah. Fasilitas begitu lengkap yang sudah disediakan untuk kita di dunia, sepantasnya kita pergunakan sesuai ‘selera’ Allah. Malu rasanya menggunakan fasilitas-fasilitas kehidupan ini justru untuk berbuat makar kepada Allah.
Jika tidak memiliki rasa malu di dunia, alangkah malu ketika setiap penyelewengan kita kelak terbongkar. Dengan rasa malu, terjagalah martabat kemanusiaan kita secara pribadi dan selamatlah tatanan kehidupan secara keseluruhan. Inilah makna hadis, “Malulah kamu sekalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu” (HR At-Tirmidzi). 


Penulis adalah Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya
, Oleh M Husnaini

sumber : www.republika.co.id

Tuesday, April 02, 2013

Awas, Bahaya Dengki!

Alkisah, ada saudagar kaya raya membeli seorang budak. Sejak mula dibeli, budak itu dirawatnya bagai seorang tuan.

Diberikannya uang yang banyak, makanan paling lezat, pakaian paling bagus, perhiasan paling mewah, melebihi yang majikan itu berikan kepada istri dan anak-anaknya.

Tentu si budak merasa senang bercampur heran. Apalagi dia lihat majikannya selalu murung. Ada rona gelisah di wajahnya. Hingga suatu sore, saat duduk santai berdua di halaman teras rumah, si budak memberanikan diri untuk bertanya kepada majikan itu perihal sikapnya itu.

“Kenapa Tuan begitu baik kepadaku?”

“Sebenarnya aku punya satu permintaan. Jika kamu penuhi, berarti kamu layak menerima segala yang sudah dan akan aku berikan kepadamu. Tetapi jika kamu menolak, sungguh aku akan sangat kecewa,” jawab majikan.

Merasa berhutang budi, si budak berkata, “Baiklah, Tuan. Anda sudah banyak berjasa atas hidupku. Aku tidak akan mengecewakan Tuan.”

“Kamu harus berjanji dulu padaku. Aku khawatir kamu akan menolak,” pinta majikan.

“Aku berjanji, Tuan. Sekarang apa yang harus aku lakukan?” jawab si budak polos.

“Permintaanku,” lanjut majikan itu, “kamu harus memenggal leherku ini di suatu tempat dan waktu yang akan aku tentukan.”

“Haah..!” si budak kaget bukan kepalang, “mana mungkin aku melakukan itu, Tuan?” lanjutnya.

“Tapi itulah permintaanku,” tegas majikannya. Dalam hati, si budak menolak. Tetapi majikannya tetap bersikeras, “Kamu harus melakukannya. Kamu telah berjanji kepadaku.”

Hari-hari berlalu. Suatu malam, majikan itu masuk ke kamar si budak. Di tangannya sudah ada sebilah pisau tajam dan segebok uang. Diperintahkannya si budak untuk keluar rumah, mengikuti langkahnya. Si budak berjalan pasrah di belakang tuannya.

Alangkah heran si budak ketika melihat majikannya itu memanjat rumah tetangga sebelah rumah. Keheranan mencapai puncak saat keduanya tiba di atas atap rumah tetangga itu. Dengan suara lirih, majikan berbisik, “Potonglah leherku di sini. Setelah itu kamu boleh pergi kemana saja.”

Terperangah dengan apa yang baru didengar, si budak bertanya alasannya. Majikan menjawab, “Sudah lama aku benci orang ini. Dia selalu melebihiku dalam segala hal. Dendamku sudah puncak. Lebih baik aku mati daripada melihat mukanya. Karena itu, penggallah leherku di sini. Semua orang tahu dia sainganku. Kalau aku mati, orang akan menuduh dialah pelakunya. Dengan begitu, dia akan dipenjara.”

Mendengar itu, si budak berujar dengan geram, “Tuan memang tampak bodoh, pantas menerima kematian ini.” Dengan cepat, digoroknya leher majikan itu, lalu melarikan diri.

Rencana berhasil. Esoknya, kampung geger oleh kematian majikan kaya raya itu. Pemilik rumah, yang merupakan saingan majikan, ditangkap atas tuduhan pembunuhan. Tetapi semua orang tidak percaya dialah pelakunya.

Kematian menjadi misteri hingga si budak luluh hatinya. Dia datangi penguasa untuk menjelaskan peristiwa sebenarnya. Begitu penguasa paham persoalannya, si budak dan tersangka dilepaskan dari hukuman.

Kisah berikut dituturkan Murtadha Muthahhari dalam buku ‘Manusia Sempurna’ terkait bahaya dengki. Dengki memang penyakit batin yang sangat berbahaya. Banyak ayat Alquran dan hadis yang mengingatkan kita agar menjauhi dengki.

Jika sudah kronis, dengki tidak hanya berbahaya bagi pemiliknya, tetapi juga orang lain dan lingkungan. Pendengki tidak segan-segan melakukan apa saja, termasuk mencelakakan dirinya, demi memuaskan amarahnya.

Karena dengki, orang lupa sanak saudara. Itulah kasus yang menimpa dua putra Adam. Dengki telah membuat Qabil tega membunuh adiknya sendiri, Habil (Qs Al-Maidah: 27-30). Nabi Yusuf dilempar ke dalam sumur juga karena menjadi sasaran dengki saudara-saudaranya (Qs Yusuf: 8-9).

Kasus lain adalah kaum Nuh yang menolak beriman kepada Nabi Nuh dengan alasan naif yang bermotif dengki. Lantang mereka berkata, “Apakah kami akan beriman kepadamu. Padahal yang mengikutimu adalah orang-orang rendahan” (Qs As-Syu’ara: 111).

Perhatikan juga ucapan kedengkian anak buah Fir’aun yang menentang dakwah Nabi Musa. “Apakah kita percaya kepada dua orang manusia (Musa dan Harun) seperti kita ini. Padahal kaum mereka adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?” (Qs Al-Mukminun: 47).

Kasus dengki juga muncul di masa Rasulullah Muhammad. Kaum kafir Makkah dan ahli kitab enggan mengimani dakwah Rasulullah adalah karena dengki. Kata mereka, “Mengapa Al-Quran tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri ini?” (Qs Az-Zukhruf: 31).

Mereka juga bilang, “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberikan anugerah oleh Allah?” (Qs Al-An’am: 53).

Masih banyak ayat-ayat Alquran dan hadis shahih yang berbicara tentang bahaya dengki. Poin utamanya, pendengki selalu gundah gulana atas kenikmatan yang dimiliki orang lain. Sebaliknya, mereka bersuka cita jika orang lain mendapat celaka dan bencana (Qs Ali Imran: 120).

Itulah bahaya dengki. Pantas jika ganjaran yang cocok untuk pendengki adalah tercabik-cabiknya hati oleh duka lara di dunia dan musnahnya saldo pahala yang kemudian diganti siksa dahsyat di akhirat.

Namun, ada dengki terpuji. Sabda Rasulullah, “Tidak dibenarkan dengki kecuali terhadap dua hal: laki-laki yang dikaruniai Allah Alquran lalu diamalkan siang-malam dan laki-laki yang dikaruniai Allah kekayaan lalu diinfakkan siang-malam” (HR Muslim dan Ibnu Majah).

Pada dua model dengki inilah “hendaknya orang-orang berlomba” (Qs Al-Muthaffifin: 26). 
, Oleh M Husnaini


sumber : www.republika.co.id

Monday, April 01, 2013

Pintu Kebajikan

“Ada tiga pintu kebajikan, yaitu: kedermawanan hati, perkataan yang baik, dan sabar mengahadapi penyakit atau cobaan hidup.” (Imam Ali bin Abi  Thalib)

Di saat krisis multidimensi seperti sekarang ini, umat Islam tentu masih mempunyai optimisme dan  pandangan positif  ke depan yang lebih baik.

Karena Islam memang menyuruh umatnya untuk tidak pernah berputus asa. “Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya hanya kaum kafirlah yang berputus asa dari rahmat Allah.” (QS Yusuf [12]: 87).

Salah satu cara untuk mewujudkan harapan itu adalah membuka pintu kebajikan. Pintu kebajikan merupakan peta jalan menuju masa depan yang lebih bermartabat, bermanfaat, dan bermaslahat bagi bangsa dan umat.

Pintu kebajikan dalam Islam itu banyak dan luas. Ketiga pintu yang ditunjukkan Ali bin Abi Thalib tersebut agaknya paling relevan diaktualisasikan dalam masyarakat kita.

Pertama, pintu 'kedermawanan hati' memberi peluang kepada semua untuk berbagi rezeki melalui zakat, infaq, sedekah, dan wakaf, sehingga yang lemah menjadi lebih kuat, yang miskin menjadi kaya harapan hidup, dan yang belum terpelajar menjadi lebih terdidik.

Setidak-tidak setiap Muslim bisa bersedekah dengan menebar senyum, karena senyuman yang tulus  untuk saudara kita merupakan sedekah (HR. Muslim).

Untuk membuka pintu kedermawanan hati diperlukan adanya ketulusan dan kebaikan hati untuk membagi yang dicintainya. “Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” (QS Ali Imran [3]: 92).

Harta kita yang sesungguhnya adalah yang kita dermakan di jalan Allah, bukan harta kita miliki atau kuasai, sebanyak apapun. Jika didermakan untuk kebaikan semua, niscaya harta itu dapat membawa keberkahan dan kemaslahatan.

Jika tidak disisihkan untuk jalan kebaikan, maka harta itu boleh jadi berubah menjadi ujian dan fitnah yang justru dapat mengantarkan kepada murka Allah.

Kedua, perkataan yang baik merupakan sumber inspirasi dan motivasi yang dapat membuka pintu kebajikan. Perkataan yang baik itu keluar dari hati nurani, tidak dusta, dan tidak direkayasa.

Kata kunci perkataan yang baik adalah kejujuran. Berkata jujur adalah ciri Mukmin sejati, dan berdusta atau berbohong adalah tanda orang munafik. Sabda Nabi SAW: “Berlaku jujurlah, karena kejujuran itu dapat mengantarkan kepada kebajikan, sedangkan kebajikan itu mengantarkan kepada surga…” (HR Albukhari dan Muslim)

Perkataan yang baik itu pasti bijak dan tidak menyakiti orang lain. Perkataan yang baik tidak hanya menjadi kunci keselamatan seseorang, tapi juga membuahkan hikmah yang mendalam.

Imam Ali bin Abi Thalib menyatakan: “Hikmah itu tumbuh dalam hati yang jujur, dan berbuah pada tutur kata yang baik.” Ciri orang yang ibadahnya diterima oleh Allah adalah membiasakan berkata baik dan jujur.

Ketiga, sabar menghadapi penyakit dan cobaan hidup merupakan perisai paling berharga yang membuat Muslim tidak mudah menyerah pada keadaan. Sabar  adalah kekuatan hati untuk bangkit memperbaiki keadaan.

Sabar, dalam arti tidak mudah emosi tapi pandai mengendalikan diri, merupakan awal kemenangan dalam meraih masa depan yang lebih baik.

Dengan membuka tiga pintu kebajikan tersebut, Muslim dapat memiliki bekal hidup yang memadai untuk menghadapi kondisi apapun dan di manapun.

Menurut Alquran, ciri-ciri kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menunaikan janji apabila berjanji; dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS Albaqarah [2]: 177)

Pintu-pintu kebajikan itu seharusnya dibuka lebar oleh siapapun yang masih memiliki hati nurani. Sabda Nabi SAW: “Mintalah fatwa kepada hati nuranimu. Kebajikan itu adalah berakhlak baik. Kebajikan adalah apa yang membuat diri dan hatimu tenteram. Sedangkan dosa adalah apa yang membuat hatimu gelisah dan bimbang serta engkau merasa tidak senang jika perbuatan (dosa) itu diketahui orang lain.” (HR Muslim).

Sudah semestinyalah kita semua menjadikan hati kita sebagai poros kebenaran, sumber kejujuran dan kebajikan yang dapat memberikan keberkahan hidup dan kebaikan bagi semua. Wallahu a’lam bish-shawab!

, Oleh Muhbib Abdul Wahab

sumber : www.republika.co.id