-

Saturday, January 21, 2012

Membedah Bukit Culah

Membabat Ilalang Mencari Secercah Harapan
KISAH ini dialami oleh Aan Kardian warga Desa Pakutandang Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung. Selepas SMA ia berniat untuk memberdayakan Bukit Culah -- sebuah bukit yang berada di sebelah barat kampungnya-- menjadi kawasan pertanian holtikultura, hutan lindung serta kawasan wisata alam. Di mata Aan, Bukit Culah tak ubahnya sebuah harta karun yang bisa mendongkrak tarap hidup masyarakat, asal ada kemauan dan dorongan pemerintah daerah. Aan pun naik gunung meski harus menyusuri jalan setapak yang berkelok dan terjal. Berikut kisahnya yang ditulis Denny Kurniadi.

MENGINJAK usia remaja Aan mengaku sering berkeluh kesah. "Apa yang harus dilakukan demi mempertahankan hidup dan juga masa depan?" gumannya. Seolah protes terhadap kondisi yang menyulitkan dirinya untuk memiliki pekerjaan.

Namun, Aan tak mau merengek atau jadi pemuda cengeng yang hanya berharap diberi lapangan kerja. Ia pun berpikir untuk hidup mandiri membuka lapangan kerja sendiri. Tentu tak semudah membalikan telapak tangan. Banyak rintangan yang harus dihadapi, terutama kendala yang muncul dari dirinya sendiri yaitu sifat malas.

Aan sadar akan itu. Ia lantas bangkit menghibaskan rasa malas itu. Tekadnya bulat untuk terus menapakkan kakinya di atas rumput ilalang seraya menatap mentari pagi. Barangkali masih ada secercah cahaya demi hidupnya di masa depan.

"Aku harus berkarya dan menghasilkan sesuatu baik bagiku juga bagi orang lain," ujarnya pada dirinya sendiri.

Kata orang, membuka usaha sendiri butuh ilmu dan modal finansial. Betulkah? Tidak selalu, kata Aan. Apakah artinya modal kalau tak diiringi motivasi kuat yang tertanam dalam diri. Menurutnya, finansial memang perlu, juga ilmu pengetahuan. Tapi hal itu akan sia-sia jika jiwa kita masih terbelenggu rasa malas untuk berkarya.

Kata-kata itu tak mau hanya sekadar ucapan. Aan ingin membuktikannya dan akhirnya cukup berhasil. Berkat keuletan dan semangat membara, Aan mampu membedah bukit Culah yang berada di sebelah barat kampungnya. Bukit yang semula hanya ditumbuhi ilalang dan pohon-pohon liar, dalam waktu kurang dari setahun sudah berganti wajah menjadi sebuah perkebunan yang menjanjikan.

Semula Aan memang hanya memiliki dua kotak sawah peninggalan almarhum ayahnya. Tentu saja untuk hidup keluarga tidaklah cukup. Panen padi empat bulan sekali itu hanya mampu untuk bekal makan dan menutupi kebutuhan lainnya sebulan saja. Oleh karena itu Aan mencoba untuk menggarap tanah bukit yang sering ia tatap saat senja hari.

Ia lantas berbicara banyak tentang Bukit Culah dengan Kepala Desa Pakutandang, Deni Daryanto, yang dikenal orang memiliki kepedulian sosial tinggi. Niat untuk mengambil tanah garapan di Bukit Culah itu dikabulkan Pak Kades. 700 tumbak lahan pun diserahkan jadi tanggungjawab Aan.

"Silahkan saja garap, jadikan lahan itu sebagai pengaman bahaya longsor dan erosi," ujar Pak Kades.

Semangat Aan makin membara. Ia berpikir bukit yang masih perawan itu tidak hanya bisa dijadikan bekal hidup, tapi lebih dari itu juga patut untuk dipelihara agar lestari. Ada tanggungjawab moral dari Aan untuk lingkungannya.

Lantas, apa yang harus ditanam di bukit itu? Muncul gagasan brilian. Aan tidak mau hanya berpikir untuk menanam sekadar kacang panjang, ketela pohon, atau cabe kriting. Ia berniat untuk menanam kayu-kayu besar seperti jati dan albasiah.

Nasib mujur diraih Aan. Pemerintah Kabupaten Bandung di awal tahun 2010 gencar menyukseskan program Gerakan Reboisasi Lahan dan Hutan (GRLH). Aan mencoba menindaklanjuti program yang patut didukung masyarakat itu. Ia menyodorkan gagasan meminta bibit albasiah untuk ditanam di bukit garapannya.

Seribu bibit albasiah pun ia terima. Namun, bukan didapat secara cuma-cuma. Bibit itu Aan beli seharga Rp 1.000 per batang/bibit. Kemudian ia berjalan naik turun bukit menanam dan memelihara bibit albasiah itu. Sekarang pohon albasiah itu sudah tumbuh besar mengelilingi bukit Culah.

Selain albasiah, juga ditanam pohon jati merah, dan tangkil. Pohon itu, kata Aan, cukup kuat menahan erosi. Tumbuhan lain yang bisa ditemukan di kebun Aan adalah sayuran seperti bayam, kacang panjang, saladah bokor, cabe keriting dan juga singkong sebagai tanaman psela.

Matahari sudah mulai bergera ke ufuk barat mengintip dari balik puncak gunung. Seolah-olah ingin mengungkapkan rasa bangganya terhadap anak manusia yang kini berdiri tegak di atas bukit dengan dada merekah.

Menembus Mitos Mistis Ramo Giling
SEBELUMNYA diceritakan Aan Kardian warga Desa Pakutandang Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung mencoba mencari aktivitas produktif dengan cara mengolah Bukit Culah. Orang-orang sempat mencibir dan menganggap Aan "gila" karena bukit tersebut masih perawan. Aan tak peduli anggapan orang orang lain. Ia pegang teguh tekadnya. Setelah mendapat izin dari kepala desa Aan pun membuka bukit. Lahan itu ditanami kayu jati dan albasiah. Sukseskah impiannya itu? Inilah lanjutan kisahnya yang ditulis Denny Kurniadi. Semoga bermanfaat.

OBSESI lain yang ada dalam benak Aan adalah ingin mengubah wajah Bukit Culah tidak sekadar sebagai kawasan perkebunan rakyat, tapi juga cocok untuk dijadikan obyek wisata. Pasalnya, Bukit Culah selain memiliki panorama yang indah juga akses jalannya tidak sulit. Dari jalan raya Pacet mudah dijangkau dengan berjalan kaki sepanjang 500 meter. Namun, di balik itu semua siapa sangka kalau Bukit Culah menyimpan cerita mistis yang cukup menyeramkan.

Seperti hari-hari sebelumnya, saat matahari mulai terasa hangat, Aan berjalan menyusuri jalan setapak menuju kaki Bukit Culah. Ransel hitam berisi bungkusan nasi dan lauk pauk seadanya serta sarung dan sajadah, ia gendong di punggungnya. Di pinggangnya terselip "Si Leunyay", sebilah golok panjang dan runcing miliknya. Cangkul pun ia kaitkan di pundaknya.

Hari itu Aan berniat menanam dua puluh batang bibit albasiah, sisa hari kemarin. Bibit itu akan ditanam di blok bukit yang lumayan melelahkan. Pasalnya, Aan harus naik gunung sekitar 200 meter. Sebuah lokasi yang masih rindang dengan ilalang, pohon bambu dan pohon-pohon besar berusia ratusan tahun.

Aan tahu blok bukit itu masih angker. Gelap dan menyeramkan. Kata orang, di blok bukit yang dinamakan Ramo Giling itu sering terjadi hal-hal gaib berbau mistis. Tak hanya suara-suara tanpa wujud yang kerap didengar orang, tapi juga bayangan-bayangan hitam yang menyeramkan seperti genderewo, iprit, dan dedemit sering muncul meski hanya sepintas saja.

Tapi itu dulu, kata Aan, sekarang entahlah, apakah masih sering muncul atau tidak, yang pasti mitos tentang Ramo Giling masih sering dibicarakan banyak orang. "Mudah-mudahan aku tak mengalami hal-hal yang menakutkan itu," ujar Aan dalam hatinya.

Awalnya, Aan memang ragu untuk berangkat sendiri ke blok bukit itu. Bahkan ia sempat membayangkan bagaimana kalau fenomena mistis itu terjadi, apa yang harus dilakukan. Lari atau malah berani mengusirnya? Semuanya berpulang pada keberanian Aan.

Namun, akhirnya Aan memutuskan untuk berangkat saja sendirian dan akan menghadapi apa pun yang terjadi nanti di sana. Aan berpikir kenapa harus takut pada jin dan dedemit? Toh manusia lebih mulia ketimbang mereka. "Justru mereka harus takluk di tanganku," ujar Aan penuh semangat.

Tepat jam sembilan, Aan melangkaha menapaki bukit. Perlahan tapi pasti. Kedua kakinya tanpa ragu menyusuri jalan terjal dan berliku. Ranting dan dedaunan yang menghalangi langkahnya ia hibas dengan golok "Si Leunyay". Sesekali ia harus berpapasan dengan ular sebesar tanganya. Aan hanya sedikit terkejut dan membiarkan ular itu melintas di hadapannya.

Aan kembali melangkahkan kakinya dengan napas yang ngos-ngosan. Keringat pun perlahan membasahi baju kampret hitamnya. Namun, rasa lelah itu bagi Aan justru jadi motivasi yang kuat untuk terus berjalan menaklukan bukit nan lebat itu.

Akhirnya, Aan sampai juga di sebuah tegalan tanah datar yang dipenuhi rumput-rumput liar dikelilingi pohon-pohon tinggi dan besar sebesar perut kerbau. Bahkan, di antara pepohonan itu ada satu pohon yang lebih besar dengan ranting dan dedaunan yang sangat lebat. Saking lebatnya sinar matahari tak bisa tembus, sehingga tegalan Ramo Giling itu gelap dan hanya diterangi titik-titik cahaya dari balik dedaunan.

Aan tahu bahwa saat itu ia sudah berada di blok Ramo Giling tempat yang ia tuju. Ia pun rehat, duduk di atas sebuah batu di sudut tegalan itu. Matanya nanar menatap sekeliling tegalan. Beberapa ekor burung sesekali terbang berpindah tempat dari satu dahan ke dahan lain sembari bersiul melantunkan irama alam yang merdu.

Saat itu Aan sangat merasakan betapa indahnya alam, betapa agungnya ciptaan Allah. Rasa cinta Aan tehadap alam pun semakin tumbuh dalam jiwanya. Aan berpendapat, harus ada harmoni antara alam dengan manusia. Karena keduanya saling membutuhkan. Hanya manusia gila yang tega merusak dan membabat alam tanpa tanggungjawab.

"Bagaimana mungkin manusia bisa merusak hutan. Padahal manusia sendiri membutuhkannya. Manusia tidak bisa hidup tanpa hutan, tanpa daun-daun, tanpa pepohonan, dan tanpa air yang mengalir dari akar-akarnya," ujar Aan. Bicara sendiri sambil menghela napas.

Bermimpi Berkelahi dengan Ular Sanca Besar
SEBELUMNYA diceritakan, Aan sudah sampai di Ramo Giling, sebuah lokasi yang selama ini diyakini masyarakat sebagai tempat yang berbau mistik. Padahal di tempat itu Aan ingin menanam Albasiah. Ia berpikir tempat itu pasti sangat subur dan cocok untuk kayu tersebut. Tekadnya yang kuat membawanya ke tempat itu dan ia menyaksikan betapa indahnya hutan tersebut. Aroma dan nyanyian alam menebar lalu menyusup ke dalam jiwanya. Ungkapan syukur pun keluar dari bibirnya. Benarkah tempat itu angker? Inilah akhir kisahnya yang ditulis oleh Denny Kurniadi. Semoga membawa hikmah.

DUA puluh bibit albasiah belum juga Aan tanam. Padahal, sudah hampir satu jam ia berada di tegalan itu. Aan malah bersantai duduk di atas sebuah batu di bawah rimbunan pohon beringin. Ia sangat menikmati sejuknya angin semilir. Aan memang kelelahan setelah berjalan menaiki tanjakan dari kaki bukit.

Nasi bungkus ia keluarkan dari ranselnya. Lalu ia makan dengan lahapnya. Tak biasanya Aan makan senikmat ini. Padahal, hanya dengan ikan asin, sambal, dan goreng jengkol. Tapi, nikmatnya luar biasa,kata Aan seraya meneguk air mineral hingga habis.

Hanya berselang beberapa menit saja setelah makan, Aan merasakan kantuk yang tiada tara. Ia pun tertidur tanpa takut ada binatang buas memangsanya atau terguling ke bawah bukit. Aan ngorok dan membiarkan bibit albasiah menunggunya untuk ditanam.

Aan pun bermimpi meneruskan pekerjaannya. Ketika Aan sedang menanam satu dua bibit albasiah, tiba-tiba ia mendengar suara desahan yang cukup kuat dari balik semak. Aan terkejut, ia tahu suara desahan itu adalah suara ular. Aan bersiap-siap mengambil golok dan cangkul. Pikirnya, jika ular itu menyerang akan ditebas dengan golok dan cangkulnya.

Benar saja, ketika Aan bersiap menyambut kedatangan ular, seekor ular sanca sebesar gulungan kasur muncul dari semak sebelah kirinya. Kepala ular menengadah dalam posisi siap mematuk mangsa. Aan kaget sekaget-kagetnya, nyalinya ciut ketika melihat begitu besarnya ular sanca itu. Tadinya ia berpikir paling sebesar pergelangan kaki sehingga bisa dengan mudah disabet golok. Tapi, ketika mendapati ukuran yang sangat besar, Aan jadi berpikir dua kali. Tak ada lagi jalan kecuali lari tunggang langgang.

Namun, seolah tak punya kesempatan untuk melarikan diri. Pasalnya, ular sanca itu sudah berada di hadapannya. Mau tidak mau Aan harus melawannya. Anehnya, golok dan cangkul yang sedari tadi berada dalam genggamannya, tiba-tba menghilang di tangannya. Raib entah ke mana. Mungkin terlempar saat ia kaget. Karuan saja Aan jadi bingung, bagaimana mungkin berkelahi dengan ular sanca besar dengan tangan kosong. Secepat kilat Aan meraih ranting pohon beringin yang tergolek di sisinya. Ranting itu digunakan laksana pedang dengan maksud untuk menghantam kepala ular jika ia akan memangsanya.

Aan bergulat dengan ular sanca sebesar gulungan kasur itu. Sebuah pergumulan yang tentu saja tidak seimbang. Aan lebih sering terbanting dan terjerembab ke tanah ketimbang ular itu yang tetap tegar dalam posisinya. Namun, Aan tak mau menyerah begitu saja. Jatuh bangun ia melawan sang ular, hingga akhirnya ular itu pergi begitu saja meninggalkan Aan yang ngos-ngosan. Saat bangun tubuh yang sudah basah kuyup bermandi keringat. Ia segera menghela napas panjang dan mengusap wajahnya seraya beristigfar.

Aan segera menggali tanah beberapa lubang untuk kemudian ditanami bibit albasiah. Aan terus berpikir kenapa ia bermimpi berkelahi dengan ular sanca, apakah karena dipengaruhi oleh suasana yang menyeramkan? Mimpi yang sebelumnya tak pernah ia alami.

Selesai menanam bibit albasiah, Aan bergegas meninggalkan lokasi. Namun, baru saja beberapa langkah turun gunung, Aan mendengar dengan jelas suara-suara aneh seperti suara tangisan seorang perempuan dan aungan srigala. Rasa takut menyelimuti perasaan Aan, maka ia mempercepat langkahnya, setengah berlari.

Tak lama kemudian Aan sampai di kaki bukit. Langit sudah terlihat gelap dan sayup-sayup terdengar suara azan magrib. Aan baru sadar bahwa ia seharian berada di blok bukit tadi. Padahal, untuk sekadar menanam bibit albasiah biasanya paling lama hanya dua jam saja. Tapi kenapa harus seharian. Aan pun merasa hanya tidur beberapa menit, namun ternyata seharian. Sebuah keganjilan yang tak pernah dimengerti oleh Aan.

Namun, yang jelas selama berada di blok bukit itu Aan kerap mendengar hal-hal aneh, seperti suara-suara perempuan dan binatang juga bayangan-bayangan hitam berukuran raksasa. Aan tidak tahu apakah itu benar-benar nyata atau hanya halusina saja. Demikian pula soal mimpinya, Aan masih bertanya-tanya apakah berkelahi dengan ular sebesar gulungan kasur benar-benar mimpi atau nyata? Walahualam. Yang jelas ia tetap bekerja menanam pohon dan sayuran untuk menyongsong masa depannya yang lebih baik. **

Friday, January 20, 2012

Digugat, Ritual Budaya Mataram-Pajajaran

Para tokoh Sunda mempertanyakan pergelaran ritual budaya Mataram-Pajajaran, yang dilaksanakan di Pangandaran oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) semalam. Sebab kegiatan tersebut bisa mempertajam persoalan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) serta memecah belah masyarakat.

"Saya sendiri tidak mengerti kenapa acara tersebut digelar, pada dasarnya jangan mengungkit masa lalu. Sebab hal tersebut bisa memecah belah masyarakat," ujar salah seorang tokoh Sunda yang juga anggota DPR RI, T.B. Hasanudin dalam pertemuan yang dilaksanakan di Hotel Savoy Homann, Minggu (15/1).

Selain Hasanudin, hadir pula sejumlah inohong Sunda lainnya. Seperti Maman Iskandar Ki Sunda, Prof. Dr. Nina Lubis, T.B. Bhakti Sujana, Hayat, Endang Karman, Eddy Suryadi, Elan, dan Dedi.

Dikatakan, ritual budaya Mataram-Pajajaran bisa memicu perpecahan di masyarakat. Terlebih hal tersebut menyinggung masalah suku, yaitu Suku Sunda dan Jawa.

"Hal seperti itu sudah tidak relevan lagi. Apalagi sejarah Perang Bubat antara Pajajaran dan Majapahit, terjadi ratusan tahun lalu. Memang kalau berdasarkan cerita, di sana ada unsur penipuan terhadap Pajajaran. Tetapi data dan faktanya hingga saat ini masih belum jelas. Malah cenderung hanya perkiraan saja. Sehingga hal itu sangat rawan dan bisa memecah belah masyarakat," katanya.

Terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut, lanjut Hasanudin, itu tidak perlu diungkap kembali. Apalagi saat ini masyarakat sudah bersatu dalam satu negara, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Saat ini rasa kesatuan dan persatuan NKRI sudah menyelimuti hati masyarakat.

Terkait dengan itu, lanjut Hasanudin, dirinya sudah meminta pendapat sejarawan Prof Dr. Nina Lubis, yang cukup mengetahui Perang Bubat. Mengenai data dan fakta unsur penipuan pada Perang Bubat masih tidak jelas.

"Tapi kalaupun mau diungkap, siapa yang mau dituntut dan yang akan bertanggung jawab. Karena baik Pajajaran maupun Majapahit sudah tidak ada. Justru sebaliknya hal tersebut malah memicu terjadinya perpecahan di masyarakat," ujar pria yang mengaku sebagai keturunan Galuh Pajajaran tersebut.

Dirinya pun tidak habis pikir kenapa masih ada pihak-pihak yang mempermasalahkan hal itu. Padahal para keturunan Galuh Pajajaran sendiri tidak mempermasalahkannya. Apalagi saat ini masyarakat sudah disatukan melalui NKRI.

"Sebaiknya kita tidak perlu mengungkap masalah itu. Kita menilai ini ada indikasi politik praktis, yang ingin menarik perhatian rakyat banyak. Kenyataannya ini justru akan menanamkan rasa kebencian," katanya.

Hasanudin pun mengungkapkan, dirinya tidak setuju dengan rencana Wakil Gubernur Dede Yusuf yang akan membuat film tentang Perang Bubat. Pasalnya hal itu bisa menimbulkan kebencian masyarakat pada masyarakat lainnya.

"Pada intinya kita berharap semua pihak dapat menjaga kesatuan dan persatuan, jangan mengungkap hal-hal yang bisa memecah belah. Karena itu sebuah kekonyolan. Lebih baik kita berpandangan ke depan, berjuang demi kesejahteraan masyarakat," katanya. (B.99)**
Galamedia Senin, 16 Januari 2012

Republik Nusantara?

SAYA tergelitik saat seorang kawan mengajak berdiskusi. Bagaimana tidak, kawan saya itu tiba-tiba mengapungkan tema berat: menggugat nama Indonesia. Lalu, sang kawan pun mengawali pembicaraan dengan melempar ide Republik Nusantara sebagai pengganti nama Republik Indonesia. "Negara ini lebih tepat dinamai Republik Nusantara dari pada Republik Indonesia," kata sang kawan.

Saya mendapati hal yang lebih penting dari sekadar menggugat nama Indonesia dari apa yang disampaikan kawan saya itu. Kawan saya itu sejatinya memprihatinkan pudarnya berbagai nilai nasionalisme identitas bangsa yang sudah dirontokkan, budaya leluhur yang terkubur, dan banyak lagi.

Dalam diskusi santai tapi serius itu, sang kawan juga menyebut krisis ekologi, kekerasan, dehumanisasi, kriminalitas, kesenjangan sosial yang kian tajam, ancaman kelaparan, dan kelakuan penjabat korup yang tiada habisnya merampok uang rakyat merupakan masalah serius yang saling berkaitan satu sama lainnya.

Melalui bahasa sederhana, kawan saya itu berucap, "Selain banyak koruptor, negeri ini kerap dihina oleh bangsa jiran; sebagai bangsa indon atau bangsa para budak. Oleh sebab itu, kita perlu mengembalikan bangsa ini kepada jati dirinya, sebagaimana zaman Gajah Mada dahulu."

Ide kawan saya itu tidak berlebihan. Negara ini memiliki Nanggroe Aceh Darussalam, Minang, Sunda, Bugis, Dayak, Jawa, dan masih banyak yang lainnya (sambil teringat lagu Rhoma Irama). Akan tetapi, kita telah menyaksikan rumah budaya itu dibiarkan lapuk dan hancur, sedangkan pada tingkat atas hukum-politik berantakan.

Nama Nusantara sejatinya mulai diperkenalkan Gajah Mada saat mahapatih Majapahit ini bersumpah untuk tidak bersenang-senang sebelum menguasai Nusantara.

Dalam Serat Pararaton yang memuat naskah "Sumpah Palapa" sebenarnya tidak secara eksplisit menyebutkan teks itu sebagai sebuah sumpah dan tidak ada satu pun kata dalam sarat tersebut yang mencantumkan kata sumpah di dalamnya. Akan tetapi, dilihat dari makna teks yang terkandung di dalamnya jika dihubungkan dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia tentang arti sumpah yang berbunyi sumpah adalah: (1) Pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci (untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhannya dsb.). (2) Pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar. (3) Janji atau ikrar yang teguh (akan menunaikan sesuatu), teks mengenai ucapan Gajah Mada yang terdapat dalam "Serat Pararaton" yang berbunyi, "Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Taqjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa". (Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa").

Nusantara merupakan frasa yang diambil dari bahasa Jawa kuna. Nusa berarti pulau dan antara berarti lain. Pada 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker atau populer disebut Setiabudi, pernah memperkenalkan nama Nusantara untuk menyebut wilayah (Indonesia) yang tidak memiliki unsur bahasa asing (India).

Setibudi mendefinisikan Nusantara berbeda dengan definisi pada abad ke-14. Pada masa Majapahit, Nusantara didefinisikan sebagai wilayah yang akan ditaklukkan. Setiabudi tidak ingin mengadopsi definisi zaman lampau itu, tetapi ia mendefinisikan Nusantara sebagai seluruh wilayah Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

Adapun kata Indonesia beraroma asing, yakni berasal dari dua kata bahasa Yunani, indos dan nesos. Indos berarti India, sedangkan nesos berarti pulau. Jadi, kata Indonesia berarti kepulauan India atau kepulauan yang berada di wilayah India. Pantas saja, kawan saya itu, lebih sreg kalau negara ini Nusantara, sebagaimana yang dinyatakan Setiabudi.

Bangsa Indonesia sebagai keturunan asli (bukan pendatang) dari Majapahit memiliki hak mutlak atas terminologi Nusantara. Sebagai ahliwaris terminologi Nusantara, hakikat dari definisi terminologi ini yaitu wilayah negara adalah tetap. Seandainya dahulu Nusantara merujuk pada wilayah Majapahit, sekarang Nusantara merujuk pada wilayah Indonesia.

Kemudian, mengapa masalah nama dimasalahkan? Kawan saya itu menyampaikan keprihatinan, "Akibat tidak menggunakan nama asli, kita ini jadinya selalu mendahulukan barang asing dan tidak pernah menggunakan barang sendiri. Nama-nama toko, hotel, kompleks perumahan, kios tambal ban, bahkan pos satpam tampak bermartabat menggunakan bahasa asing. Potensi bangsa tidak digunakan dengan baik sebab kita tergiur dengan sesuatu yang berbau luar negeri."

Begitulah kawan saya mencoba menafsirkan bahwa akibat nama saja menggunakan bahasa asing, sebagian masyarakat kita tidak cinta lagi barang buatan dalam negeri, apalagi bahasa sendiri (bahasa Indonesia). Padahal, sejak 2500-an tahun silam, Nusantara telah memiliki pedoman dalam menjalani kehidupan dari tingkat individu, keluarga, tetangga, desa, bahkan hingga tingkat kerajaan/negara. Karya demi karya leluhur yang telah menjadi pondasi kejayaan bangsa yang kemudian jatuh-bangun dalam realitas sejarah bangsa ini.

Kita memang harus mengikuti zaman. Akan tetapi, kita hendaknya juga menyadari bahwa kita bisa selamat jika tidak menanggalkan jati diri kebangsaan. Pengaruh dari luar dicerna secara wajar dalam bentuk yang secara hakikatnya khas Nusantara. Barangkali itu hal yang dimaksud oleh kawan saya sehingga kita mungkin tidak juga harus berganti nama segala. (Penulis, pengajar Prodi Editing Fakultas Sastra Unpad, tinggal di Bandung timur)**
Galamedia Senin, 16 Januari 2012
Oleh: EDI WARSIDI

Thursday, January 19, 2012

Meningkatkan Kompetensi, Menjawab Tantangan Zaman

AGAR proses pendidikan berjalan dengan baik, maka semuanya harus bermula dari diri sendiri, ibda binnafsi. Belajar berarti mendidik diri. Jika dilakukan dengan penuh tanggung jawab kepada Allah, maka akan berdampak baik kepada lingkungan. Oleh karena itu guru di sekolah ini wajib mengikuti pertemuan seminggu sekali untuk pembinaan ruhiahnya. Kami berprinsip jikatidak memiliki sesuatu maka tidak akan bisa memberikan sesuatu. Sehingga pendidikan dapat diartikan sebagai upaya memberikan se-suatu yang berharga bagi generasi mendatang.

Untuk memenuhi hal yang dimaksud, para guru diberikan latihan yang cukup dalam berbagai hal khususnya di dalam peningkatan keahlian mengajar yang dimilikinya dengan meninkatkan kompetensin yang melalui kerja sama dengan lembaga pendidikan swadaya, lembaga yang pduli pada dunia pendidikkan, dan juga lembaga pendidikan yang memberikan latihan keterampilan mengajar. Kami juga memberikan pelatihan pengelolaan perpustakaan, pelatihan menulis, pelatihan jurnalistik ataupun pelatihan motivasi.

Kami juga mengikuti perkembangan ilmu pegetahuan dengan cara memberikan keleluasaan kepada para pengajar untuk mengikuti pendidikan S2. Guru sebagai fasilitator penyampai pengetahuan (transfer of knowledge) mesti mengikuti perkembangan zaman dan berwawasan luas untuk meningkatkan kreativitas mereka dalam mengembangkan pola pendidikan. Itulah sebabnya pula konsep kedisiplinan dengan standar quality control kami terapkan kepada para pengajar.

Di sini ada penerapan sistem pendidikan otonomi sekolah, yang evaluasinya dilakukan secara periodik dari Dinas Pendidikan dan yayasan terhadap kedisiplinan mengajar, minimal yang bersangkutan hadir 95-97 % dalam satu bulan target 97 %. Jika tercapai ada semacam reward sesuai dengan kesanggupan pihak sekolah seperti pemberian promosi atau pemberian kadeudeuh yang dikenal dana insentif setelah melihat kinerja dan kehadiran 100 % bisa mendapat 500 ribu, dan di bawahnya bervariasi tetapi bila tak aktif tidak akan mendapat bagian.

Agar tetap survive menghadapi zaman yang penuh dengan tantangan, setiap orang harus memiliki ketahanan diri. Ketahanan itu adalah kekuatan moral dan akidah. Itulah sebabnya, kami berupaya sekuat tenaga membangun ketahanan moral dan akidah melalui pendidikan kepesantrenan yang di dalamnya meliputi pendidikan akidah, akhlak, dan Alquran. (d. ruspiandy)**

Galamedia Senin, 16 Januari 2012
Oleh: Ahmad Rofii, S.Ag.
Kepala SMP Baitul Anshor

Ling Lang Ling Lung 2012

Cerpen Tandi Skober
HMMM, berak perdanaku di tahun 2012 ternyata tercium hingga jauh ke istana negara. Ini membuatku gimana gitu. Duh malu-maluin aja deh daku ini. Lebih malu lagi ketika aroma ini diapresiasi Yudhoyono sebagai isyarat langitan yang patut dipertimbangkan untuk dipelajari dan dijadikan resolusi 2012. "Aroma berak lansia memang luar biasa," ucap Yudhoyono. "Harum dan tidak haram untuk disedot sesama lansia di ruang bercahaya cinta."
Cahaya cinta? Yudho mantuk-mantuk. Ia bersandar di dinding toilet 2014. Pupil matanya bernyanyi tentang hedonesia ria, "Ling lang ling lung pan kendel pribadi, tanpa rewang pan ucek-ucekan, tetukaran pada dewe, tan adoh swaranipun." Terjemahan bebasnya, tertelikung bingung, sendiri, bisu. Terpuruk di sudut pucat. Tetapi selalu saja ada konflik bermahkota amarah. Ada unjuk tarung di sebuah ruang tanpa cahaya. Dan suara risau terasa semakin jauh.
Saya tepuk tangan. Meski belum cebok, saya rangkul Yudho. Saya bisikkan pahatan teks kuno, "Pan gumrejeg padu tan enting, pan rebut kala menang, tan ana nirebut." Konflik di ujung pemberhalaan diri itu tidak bisa dihentikan! Mereka saling-silang berseteru memperebutkan pepesan kosong. Mereka cuma seonggok hantu yang menjahit kekalahan dan kekerdilan di atas involusi kloset berbau busuk.
Usai itu, kami berdua berlari riang. Sesekali kami bedua adu kencing dari atas Monas Jakarta. "Lihat kencingku kencang sekali, Yudho!" teriakku.
"Kencingku jauh lebih kencang, Tandiiiii!" teriak Yudho. "Lihat! Kucuran kencingku diperebutkan Prabowo Subiyanto, Mahfud MD, Sri Mulyani, Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Puan Maharani, Hatta Rajasa, dan entah siapa lagi!"
He-he-he-he, saya ngekek ngakak dan terbahak-bahak. Yudho emang sesuatu banget, deh! Saya tulis di mata kemayu Yudho, "Inilah nestapa Indonesia 2011, Yudho. Adalah tahun jental-jentul dengkul ngoplok ketika ada banyak ketakutan tidak bisa ditaklukkan. Kalender 2011 pating kelewer tebarkan aroma bom bunuh diri, tarian tuyul di ruang peradilan tipikor, polisi koboi dar-der-dor, politisi hedon yang membanci pamer harta takhta dan wanita, pengusaha mencret mensturasi kapitalistik, birokrat angrabeni dolar, bola yang tersangkut di tenggorokan Djohar, dan entah apa lagi selalu saja saja menyisakan air mata di lembaran kalender 2011."
Yudho nungging dan kentut! "Ah, saya sudah kentut, Tandi! Ini kentut perdanaku di tahun 2012! Kentutku jauh lebih sakti dibandingkan kentut Semar Kudapawana. Kentutku sejahterakan rakyat. Kentutku...."
"Kentut seorang presiden lebih didengar ketimbang teriakan sakaratul maut anak rakyat yang tewas di Papua, Bima, Mesuji," saya potong histeria kentut Yudhoyono.
"Mesuji?"
"Ya! Polisi ngesot di Mesuji?"
"Di Bima, polisi sarapan pelor mata Sape."
Saya tertawa. Joke Yudho pancen ok! Saya taruh Yudho di atas meja kerjaku. Saya paparkan bahwa Mesuji dalam utak-atik bahasa Jawa bermakna tikam (suji) sekaligus hidangan (sajen). Dalam mitologi Jawa Kuno, ritual suji sesajen menjadi bagian dari pepaten pepe—sejenis protes terhadap penguasa zalim—yang dilaksanakan di alun-alun di bawah lanskap matahari yang berkeringat. Pada saat suji sesajen itu, mengalirlah suara lirih teologi rakyat yang tertindas. "Mesuji saji, temuruna pepaten sujidharmono angrabeni sato khanti laku." Menikam di ruang persembahan disebabkan kematian seorang hamba yang terpuji, adalah lelaku buruk persetubuhan hewani. Persetubuhan hewani antara penguasa dan pengusaha di Mesuji akhir-akhir ini mengingatkan saya pada lorong muram mitologi Jawa Kuno itu. Rakyat terpuruk di sudut gelap dan di dalam gelap itu terdengar erangan ejakulasi mansturbasi kapitalisme.
"History teaches us that people have never learnt anything from history," bisik Yudho. "Sejarah mengajari kita bahwa manusia tidak pernah sukses belajar apa pun dari sejarah. Termasuk Timur Pradopo!"
"Timur?"
"Padahal ada cahaya sejarah yang membuat saya memilih Pradopo menjadi Kapolri. Ada dua hal substansional yang dimiliki Timur Pardopo. Pertama Pradopo memiliki kumis—rambut yang tumbuh di atas bibir di bawah hidung itu—sebagai tetenger. Era Majapahit, Jombang adalah daerah perdikan yang kerap dituturkan sebagai ruang asketis spiritual yang menginspirasi lahirnya Serat Kala Tida karya Ranggowarsito. Mangkya darajating praja. Kawuryan wus sunyaruri/Rurah pangrehing ukara/Karana tanpa palupi/Atilar silastuti. Terjemahan bebas: Negara porak poranda ambruk, tata nilai rusak, tak satu pun penggede negeri bisa dijadikan pola anutan. Manusia berpaling dari kearifan petuah lama."
Sesaat Yudho menghirup aroma amis mesiu, "Andai garis takdir genetika kultural itu diadop Timur Pradopo sebagai tuntunan dalam mengurai benang kusut konflik," lirih Yudho bertutur. "Ternyata, jauh kumis dari bibir!"
 "Langkah kalah yang pedih, Tuan Presiden," balasku. "Untuk itu kita perlu punya mimpi. Meski kita lansia, mari kita cantolkan mimpi di kaki senja yang gelisah. The future belongs to those who believes in the beauty of their dreams."
"Kamu hebat, Tandi! Seharusnya bukan Anas yang duduk di kursi panas Demokrat."
Saya menunduk malu. Dipuji Presiden saja jadi klepek-klepek, apalagi dipuji Allah swt yang Pengasih lagi Maha Penyayang. Saya coba tutupi kemaluanku dengan cara bertutur lebih formal, "Begini, Tuan Presiden, kebangsaan itu kudu diapresiasi sebagai refleksi solidaritas moral yang mensejarah sekaligus titik temu evaluasi empiris dengan proyeksi kehidupan berbangsa di masa depan. Dalam perspektif sejarah, masa lalu itu bisa ditandai dengan zaman keemasan Pajajaran, Melayu, Aceh, Sriwijaya, Mataram, Mahapahit, Ceribon, Bima, dan entah apa lagi."
"Hmm, berapa nomor sepatumu, Tandi?"
"Saya lebih suka pake sandal jepit, Tuan Presiden."
"Itu lebih baik dibandingkan memakai sundal terjepit."
"Dari ziarah sejarah ini," kembali saya bertutur, "impian bisa jadi pusaran ilusi di ujung runcing tiang bendera yang tiap kali kita tengadah akan berkibar imajinasi bersifat kolektif holistik. Benedict Anderson menakwil sebagai imagined communities (komunitas terbayang). Adalah terbentuknya suatu negara dilandasi oleh sebuah utopia bersama untuk membangun masa depan yang lebih baik. Sedangkan Bung Karno di depan peradilan 1930 melukisi impian itu dengan kalimat sangat bagus, 'Membangkitkan dan menghidupkan keinsafan rakyat yang pernah memiliki masa silam yang indah, masa kini yang gelap gulita, dan janji-janji suatu masa depan yang melambai-lambai, berseri-seri'."
**
PANYILEUKAN, Bandung, 1 Januari 2012, pukul 09.52.11 WIB saya berada di atas brankar bergerak menuju ruang bedah yang pucat. Saya berteriak bahwa berak perdana saya di tahun 2012 tercium hingga jauh ke Istana Negara. Tuan Presiden mencium aroma berak saya. Aneh, tidak satu pun perawat memercayai apa yang saya katakan itu.
Istriku yang bernama Angelina Sondakh terus-menerus, terus-terusan menangis. Brankar memasuki ruang bedah. Berhenti di sudut putih, bercahaya ribuan mayat. Ketika jarum suntik menusuk ruang sejarah, nalarku lengser ke titik nol. Dalam metamorfosis nol, saya lihat Tandi Skober melambaikan sajak "44" Toni Lesmana, "Mall. Seperti inikah kelak kubur itu. Ruang-ruang yang terus bersolek. Wajah-wajah penuh riasan. Aku hendak ke mana. Tanpa bekal. Sekadar petak umpet dengan satpam. Atau seperti eskalator macet. Diinjak dan dimaki. Mall. Seperti inikah kelak kubur itu. Aku asing dan terkucil."
***Tribun Minggu, 8 Januari 2012 | 22:16 WIB

Bupati Minta Kavling Pasar Seni di Perhutani

Hubungan antara Pemkab Bandung dengan PT Perhutani yang mengelola sejumlah obyek wisata di Kabupaten Bandung memasuki babak baru. Rencananya pada Selasa (17/1) nanti, kedua belah pihak akan bertemu untuk merumuskan konsep pengelolaan obyek wisata yang ada di wilayah Kabupaten Bandung.

Bupati Bandung, Dadang Naser mengatakan, pihaknya akan meminta kavling untuk membuat pasar seni di dalam obyek wisata yang sekarang ini dikelola oleh Perhutani. Menurutnya, ini merupakan bentuk kerjasama konkret yang sebelumnya tak pernah tergarap.

"Kita nanti akan minta kavling untuk membuat pasar seni. Apakah bisa atau tidak, nanti itu akan dibicarakan dengan Perhutani. Saya kira kalau sekadar minta kavling untuk pasar seni bukan sesuatu yang berat," ujar Dadang di Soreang, Sabtu (14/1).

Bupati mengatakan, pasar seni itu akan menjadi arena pameran sekaligus arena dagang bagi pengrajin asal Kabupaten Bandung. Produk makanan maupun kerajinan khas dari Kabupaten Bandung, kata Dadang, bisa dipamerkan di pasar seni tersebut.

Menurut Bupati, selama ini pengelolaan obyek wisata di Kabupaten Bandung tidak maksimal. Sebab obyek wisatanya dikelola oleh Perhutani, tapi infrastruktur jalan menuju ke obyek wsiata itu menjadi tanggungjawab Pemkab Bandung. Karena dikelola oleh Perhutani, kata Dadang, maka tak ada kontribusi bagi pendapatan asli daerah (PAD) kabupaten Bandung.

"Untuk itu perlu ada kerjasama yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Masa obyek wisatanya ada di Kabupaten Bandung tapi kita nggak dapat apa-apa," ujar Bupati.

Sebelumnya diberitakan, keinginan Pemkab Bandung untuk mengambilalih pengelolaan sejumlah obyek wisata di Kabupaten Bandung yang kini dikelola Perhutani, tampaknya sulit terwujud. Perhutani tak mau menyerahkan begitu saja kepada Pemkab Bandung karena merasa memiliki dasar hukum untuk mengelola obyek wisata tersebut.

"Penyelenggaraan ekowisata adalah bagian dari pendelegasian pemerintah dalam hal ini Kementerian BUMN dan Kementerian Kehutanan kepada Perhutani untuk mengelola hutan negara di pulau jawa dan madura. Pendelegasian itu berpegang pada UU No 41 tentang Kehutanan dan PP No 72/2010 tentang Perum Perhutani," kata General Manager Jasa Lingkungan dan Produk Lain pada Perum Perhutani Unit III, Lies Bahunta. (san)

TRIBUN Sabtu, 14 Januari 2012 | 17:43 WIB

Wednesday, January 18, 2012

Belajar Mengecap Rasa dengan Air Putih

Bagaimana menentukan makanan itu enak atau tidak? Salah satunya dengan melatih indra pengecap kita, yaitu lidah, pada makanan-makanan yang netral terlebih dahulu.

Menurut pakar kuliner masakan Indonesia, Willian Wongso, kita bisa memulai belajar mengecap rasa dengan cara membedakan rasa air putih. “Air putih itu ada rasanya lho,” ujarnya di sela-sela penjurian Kecap Black Gold Masakan Andalanku di Carrefour MT Haryono, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Caranya, menurut pria yang sering menjadi juri dalam lomba masak ini, awalnya kita mengecap berbagai macam air putih dalam kemasan yang merk-nya berbeda-beda. Kita rasakan dengan lidah kita satu per satu air kemasan tersebut. “Nanti lidah kita tahu mana yang enak menurut kita,” ujarnya.

Mengapa air putih? Menurutnya, karena air putih netral. Jika tidak peka, kita mungkin mengira rasa semua air putih sama. Padahal, ada sensasi yang berbeda pada lidah kita ketika mengecap air putih. “Mindset dan sensor rasa di lidah kita akan telatih lama-lama,” katanya.

Setelah dengan air putih, kita bisa melatihan pengecapan pada bahan-bahan makanan yang netral seperti sayur. Pada tahap terakhir, kita harus mencicipi bumbu-bumbu masakan tradisional.

Kemampuan berlatih rasa ini berguna untuk membiasakan lidah mengecap berbagai rasa makanan. Kita pun akan segera bisa membedakan makanan mana yang enak atau tidak, meskipun penilaian enak ini bisa subyektif karena penilaian pengecapan lidah setiap orang berbeda.

Jika Anda sudah ahli mengecap rasa, maka Anda bisa menjadi juri lomba memasak dan menentukan masakan mana yang paling enak, seperti William Wongso.

Jumat, 23 Desember 2011 11:34 WIB
REPUBLIKA.CO.ID

10 Makanan Bikin Otak Encer

Ingin anak Anda cemerlang di sekolah? Cobalah untuk memperhatikan dengan jeli  kebutuhan gizi dan nutrisi mereka setiap hari. Selain itu, ada baiknya pula memasukan 10 jenis makanan terbaik berikut ini.  Makanan yang dijuluki "Brain Food" ini diyakini dapat merangsang pertumbuhan sel-sel otak, memperbaiki fungsinya, meningkatkan daya ingat dan konsentrasi berpikir anak-anak.

1. Salmon

Ikan berlemak seperti salmon merupakan sumber terbaik asam lemak omega-3 -  DHA and EPA - yang keduanya penting bagi pertumbuhan dan perkembangan fungsi otak. Riset terbaru juga menunjukkan bahwa orang yang memperoleh asupan asam lemak lebih banyak memiliki pikiran lebih tajam dan mencatat hasil memuaskan dalam uji kemampuan. Menurut para ahli  walaupun tuna mengandung asam omega-3, namun ikan ini tidaklah sekaya salmon.

2. Telur

Telur dikenal sebagai sumber penting protein yang relatif murah dan harganya cukup terjangkau. Bagian kuning telur ternyata padat akan kandungan kolin, suatu zat yang dapat membantu perkembangan memori atau daya ingat.

3. Selai kacang

"Kacang tanah (peanut) dan selai kacang merupakan salah satu sumber vitamin E. Vitamin  ini merupakan  antioksidan yang dapat melindungi membran-membran sel saraf. Bersama thiamin, vitamin E membantu otak dan sistem saraf dalam penggunaan glukosa untuk kebutuhan energi.

4. Gandum murni

Otak membutuhkan suplai atau sediaan glukosa dari tubuh yang sifatnya konstan. Gandum murni memiliki kemampuan untuk mendukung kebutuhan tersebut.  Serat yang terkandung dalam gandum murni dapat membantu mengatur pelepasan glukosa dalam tubuh. Gandum juga mengandung vitamin B yang berfungsi memelihara kesehatan sistem saraf.

5.  Oat/Oatmeal

Oat merupakan salah satu jenis sereal paling populer di kalangan anak-anak dan kaya akan  nutrisi penting bagi otak. Oat dapat menyediakan energi atau bahan bakar untuk otak yang sangat dibutuhkan anak-anak mengawali aktivitasnya di pagi hari.  Kaya akan kandungan serat, oat akan menjaga otak anak terpenuhi kebutuhannya di sepanjang pagi. Oat juga merupakan sumber  vitamin E, vitamin B, potassium dan seng  -- yang membuat  tubuh dan fungsi otak berfungsi pada kapasitas penuh.

6.  Berry

Strawberry, cherry, blueberriy dan blackberry. Secara umum, semakin kuat warnanya, semakin  banyak nutritisi yang di kandungnya. Berry mengandung antioksidan kadar tinggi, khususnya vitamin C, yang berfaedah mencegah kanker.

Beberapa riset menunjukkan mereka yang mendapatkan ekstrak blueberry dan strawberry mengalami perbaikian dalam fungsi daya ingatnya. Biji dari buah berri ini juga ternyata kaya akan asam lemak  omega-3.

7. Kacang-kacangan

Kacang adalah makanan spesial sebab makanan ini memiliki energi yang berasal dari protein serta karbohidrat kompleks.  Selain itu, kacang kaya akan kandungan serat, vitamin dan mineral.  Kacang juga makanan yang baik untuk otak karena mereka dapat mempertahankan energi  dan kemampuan berpikir anak-anak pada puncaknya pada sore hari jika dikonsumsi saat makan siang.

Menurut hasil penelitian, kacang merah dan kacang pinto mengandung lebih banyak asal lemak omega 3 daripada jenis kacang lainnya  -- khususnya  ALA - jenis asal omega-3 yang penting bagi pertumbuhan dan fungsi otak .

8. Sayuran berwarna

Tomat, ubi jalar merah, labu, wortel, bayam adalah  sayuran yang kaya nutrisi dan sumber antioksidan yang akan membuat sel-sel otak kuat dan sehat.

9. Susu dan Yogurt

Makanan yang berasal dari produk susu mengandung protein dan vitamin B tinggi. Dua jenis nutrisi ini penting bagi pertumbuhan jaringan otak, neurotransmitter dan enzim.  Susu dan yogurt juga bisa membuat perut kenyang karena kandungan protein dan karbohidratnya sekaligus menjadi sumber energi bagi otak.

Penelitian terbaru mengindikasikan bahwa anak-anak dan remaja membutuhkan lebih banyak vitamin D bahkan 10 kali dari dosis yang direkomendasikan. Vitamin D adalah vitamin yang juga penting bagi sistem saraf otot dan siklus hidup sel-sel manusia secara keseluruhan.

10. Daging sapi tanpa lemak

Zat besi adalah jenis mineral esensial yang akan membantu anak-anak tetap berenergi dan berkonsentrasi di sekolag. Daging sapi tanpa lemak adalah salah atu  sumber makanan yang mengandung banyak  zat besi.  Dengan hanya mengonsumsi 1 ons per hari, maka tubuh Anda akan terbantu dalam penyerapan zat besi darai sumber lainnya.  Daging sapi juga mengandung mineral seng  yang dapat membantu memelihara daya ingat .

Khsusus bagi  yang vegetarian, Anda dapat memanfaatkan kacang hitam dan burger kedelai sebagai  pilihan.  Kacang-kacangan adalah adalah sumber penting  zat besi nonheme -- tipe zat besi yang membutuhkan vitamin C untuk di serap oleh tubuh. Mengonsumsi tomat , jus jeruk, strawberry dan kacang-kacangan  juga dapat dipilih sebagai upaya mencukupi kebutuhan zat besi.
Kompas
Asep Candra | Rabu, 11 Januari 2012 | 14:29 WIB

Hujan adalah Rahmat

Saat ini, hampir seluruh wilayah di Indonesia dilanda hujan. Bahkan, sejumlah daerah sudah mengalami banjir. Kejadian hujan dan banjir oleh sebagian warga dianggap sebagai musibah atau bencana bukan dianggap sebagai rahmat. Anggapan seperti ini adalah bentuk negative thinking dalam menyikapi fenomena alam. Padahal, sebagai umat yang berpikir maju ke depan seharusnya hujan dan banjir disikapi dengan positive thinking, sehingga semua segera dapat diselesaikan dengan baik dan berencana.

Memang benar ada hujan dan banjir yang merupakan suatu bencana bagi penduduk tertentu sebagaimana yang terjadi pada masa Nabi Nuh AS (QS Hud [11]: 37, al-Qamar : 11-12), atau hujan batu pada masa Nabi Luth AS. Hal ini berbeda jika banjir yang terjadi seperti pada keluarga Saba' (Abd Syams bin Yasyjab bin Ya'rab bin Qahthan (QS Saba' [34]: 16) dengan berbagai kriteria yang dinyatakan dalam Alquran.

Apa pun bentuknya, hujan adalah berkah yang diturunkan oleh Allah, sebagaimana firman Allah pada surah al-Anfal [8]: 11), al-Furqan [25]: 48-49, dan lainnya. Hujan itu menjadi berkah untuk membersihkan dari berbagai hal, menumbuhkan tanah yang mati, dan lain sebagainya. Jika kita melihat struktur air, maka dapat ditemukan dalam satu molekul air terdiri atas satu atom oksigen yang besar (bermuatan positif) ditempeli dua atom hidrogen yang kecil (bermuatan negatif).

Karenanya, bagian oksigen molekul air tersebut masih dapat menarik atom hidrogen dari molekul air lainnya, termasuk zat-zat kimia lain. Selain sebagai pelarut yang baik, air juga termasuk makanan yang sangat penting bagi manusia, setelah oksigen dari udara untuk bernapas.

Dalam salah satu hadisnya, Nabi SAW menyatakan bahwa doa ketika sedang hujan oleh Allah dikabulkan. "Dua ketika (di mana doa) tidak ditolak atau sedikit sekali yang ditolak: (yaitu) berdoa ketika azan dan ketika pertempuran sedang berkecamuk (dan dalam satu riwayat mengatakan) dan ketika hujan." (HR Abu Daud).

Sedangkan kejadian banjir karena hujan tidak diperkenalkan dalam Alquran. Sebab, Alquran memperkenalkan hujan sudah sesuai dengan ukuran yang sesuai dengan kapasitas bumi. (QS al-Mu'minun [23] :18). Banjir merupakan human and social error, kesalahan manusia dan kesalahan sosial, kesalahan lingkungan sosial yang tidak akrab dengan ekosistem dan bukan "God Error." Curah hujan tetaplah sebagai rahmat Allah untuk alam semesta. Hanya saja, penghuni alam semesta ini (utamanya manusia) menolaknya dengan berbagai cara.

Penyebab terjadinya banjir adalah karena kesalahan manusia. Bagi orang yang beriman, banjir tidak semata-mata musibah, tapi bagaimana ia menjadi rahmat. Caranya adalah dengan berupaya melakukan antisipasi atau mengatasi banjir tersebut. Dengan banjir, banyak ahli bermunculan.

Dengan banjir, tersedia beragam lapangan pekerjaan. Bahkan, dari banjir orang dapat beramal melalui penghimpunan dana untuk membantu korban banjir. Karena itu, dengan adanya banjir, hendaknya kita senantiasa mensyukuri nikmat Allah untuk saling berbagi dengan sesama. Kita harus banyak mengingat Allah SWT yang Mahabijaksana atas segala kuasa-Nya.
Rabu, 11 Januari 2012 07:52 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh Dr H Samsul Maarif MA

Tuesday, January 17, 2012

Tambang tak Jamin Kesejahteraan Masyarakat Sekitar

Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Andrie S Wijaya, mengatakan penghancuran sumber daya alam yang terpimpin oleh pemerintah itu tak memberi jaminan keamanan dan kesejahteraan untuk rakyat sipil. "Akhir-akhir ini malah terjadi konflik warga sekitar dengan pihak perusahaan pertambangan. Akibatnya, warga pun dihadapkan dengan jajaran keamanan yang menyebabkan beberapa korban jiwa," katanya dalam diskusi di Jakarta, Jumat (13/1).

Fakta Jatam di 2011, di Desa Hutagodang Muda Mandailing, Sumatra Utara, satu orang warga ditembak dan enam orang masyarakat sipil disidangkan terkait penolakan PT Sorik Mas Mining. Di Tiaka, tiga orang tewas dan puluhan lainnya luka akibat bentrok dengan aparat dalam perjalanan pulang usai melakukan aksi di kilang minyak PT Medco. Satu orang tewas tertembak timah panas dan tujuh lainnya luka parah saat polisi membubarkan aksi buruh Freeport, Papua.

Selain itu, tiga orang warga Desa Praikaruku Jangga, Sumba Tengah diadili, sebab dianggap sebagai aktor perusak alat berat PT Fathi Resources. Terakhir, tiga orang tewas diterjang timah panas, satu orang hilang, dan 30 orang lainnya luka tembak saat menolak perusahaan tambang emas PT Sumber Mineral Nusantara di Sape, Bima.

Data rekonsiliasi nasional izin usaha pertambangan (IUP) 2011 yang dihimpun Jatam dari BPS dan Ditjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM menunjukkan kantong-kantong kemiskinan justru berada di provinsi dan kabupaten yang menjadi lokasi beroperasinya tambang. Dia mencontohkan, seperti di Kalimantan Timur (788 izin tambang), Bangka Belitung (303 izin), dan Kalimantan Selatan (261 izin), Jawa Timur (209 izin), Sumatra Selatan (189 izin), Aceh (75 izin), Nusa Tenggara Timur (56 izin), dan Papua (sembilan izin).

Prosentase penduduk miskin terbesar dari administrasi desa ada di Papua (46,02 persen). Berikutnya NTT (25,10 persen), Aceh (23,54 persen), Jawa Timur (19,74 persen), dan Sumatera Selatan (14,67 persen).
Jumat, 13 Januari 2012 15:02 WIB

REPUBLIKA.CO.ID

Kekayaan Hakiki

Khubeib bin Adi RA berkata, “Kami sedang berada di suatu majelis, tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan di kepalanya terdapat bekas air.” Sebagian dari kami berkata, “Kami melihat engkau berjiwa tenang.” Beliau mejawab, “Ya, Alhamdulillah.” Kemudian orang-orang berdiskusi panjang lebar tentang hakikat kekayaan. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Tidak mengapa kekayaan itu bagi orang bertakwa dan kesehatan bagi orang bertakwa lebih baik dari kekayaan, sedangkan kenyamanan dan kekayaan jiwa termasuk dalam kenikmatan.” (HR Ibnu Majah).

Kekayaan hakiki tidak terletak pada banyaknya harta, deposito, saham, dan properti. Tidak sedikit pemilik harta yang gelisah dan sengsara. Dia berusaha siang malam menumpuk harta, namun kikir bersedekah karena takut miskin. Dia tidak ridha dengan rezeki yang dibagi oleh Allah sehingga miskin hati. Kemiskinan hati inilah yang mendorong manusia mati-matian menumpuk harta dan enggan berjuang di jalan Allah.

Rasulullah SAW pernah bertanya kepada Abu Dzar ra, “Wahai Abu Dzar, apakah banyaknya harta adalah kekayaan?” Aku menjawab, “Ya, benar, wahai Rasulullah.” Beliau bertanya lagi, “Apakah kamu menganggap sedikitnya harta adalah kemiskinan?” Aku menjawab, “Benar, ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya kekayaan itu adalah kekayaan hati dan kemiskinan adalah kemiskinan hati.” (HR An-Nasai, Ibnu Hibban, Thabrani).

Makna hakiki kekayaan dalam pandangan Rasulullah SAW adalah kekayaan jiwa. (HR Bukhari, Muslim, Ahmad dll).

Kemiskinan hati adalah penyakit berbahaya. Orang miskin hati bisa mengumpulkan harta tanpa memedulikan halal atau haram. Tidak jarang mereka berani menipu dalam bisnis, mengurangi timbangan, mencuri, dan korupsi. Para sahabat adalah teladan orang-orang yang kaya jiwa. Mereka meletakkan harta di tangan bukan di hati. Mereka tidak ragu memberikan hartanya untuk jihad fi sabilillah. Pada saat pengiriman jaysul ‘usrah Umar bin Khattab ra memberikan separuh hartanya, Abu Bakar menginfakkan semua hartanya, demikian juga sahabat-sahabat yang lain.

Pemilik dunia adalah orang yang memiliki tiga kriteria; hidup tenteram dan aman di tengah masyarakatnya, sehat jasmaninya, dan memiliki makanan cukup untuk sehari itu. (HR Tirmidzi).

Imam Syafi’i menegaskan, “Bila anda memiliki hati yang serba puas maka anda sejajar dengan pemilik semua isi dunia.” Agar memiliki kekayaan hakiki kita harus; Pertama, tidak melihat pada harta orang lain. (QS. Thaha: 131). Kedua, puas dengan pembagian rezeki dari Allah. “Puaslah dengan apa yang diberikan Allah kepadamu pasti kamu menjadi orang yang paling kaya.” (HR Ahmad, Tirmidzi, dan Al-Baihaqi).

Bila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang maka dijadikanlah kekayaan jiwanya dan ketakwaannya berada di hatinya dan bila Allah menghendaki keburukan pada seseorang maka dijadikanlah kemiskinan itu berada di pelupuk matanya. (HR Ibnu Asakir dan Baihaqi).

Ketiga, melihat kepada orang yang lebih rendah dalam hal harta "karena hal demikian lebih layak dan tidak meremehkan nikmat Allah atas kamu.” (HR al-Hakim dan al-Baihaqi). Orang kaya hati akan bahagia di dunia dan akhirat.

Monday, January 16, 2012

Potensi Ekowisata Belum Digarap Maksimal

Potensi ekowisata khususnya di Kabupaten Bandung Barat (KBB) terkesan belum digarap secara serius oleh pihak pemerintah. Padahal di KBB terdapat sekitar 50 lokasi wisata yang bisa berkontribusi sebagai potensi menambah pendapatan asli daerah (PAD) sekaligus memenuhi kaidah konservasi alam.

"Wisata ramah lingkungan di KBB sebenarnya bisa jadi objek wisata unggulan, asalkan pengembangannya dilakukan serius dengan melibatkan masyarakat," papar Erni Rusyani Ernawan di Batujajar, Jumat (13/1).

Istri Wakil Bupati Bandung Barat ini menambahkan, pemerintahan KBB dituntut untuk bisa mengelola perekonomiannya agar mendapatkan hasil pembangunan yang nyata dan terasa untuk kesejahteraan masyarakat. Salah satunya dengan mengelola beberapa objek wisata.

Akan tetapi, tambah Erni, pengembangan ekonomi ke depan dihadapkan pada banyak kendala. Di antaranya terbatasnya ruang wilayah serta masih ada keterbatasan pemanfaatan optimalisasi ruang yang tersedia menurut peruntukannya.

Erni menjelaskan, wisata ekologis berkonsentrasi pada upaya pengembangan sumber lokal. Bila dikelola dengan baik, tentu saja bisa melahirkan peluang kerja. Sehingga akan berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan masyarakat setempat, sekaligus pelestarian alam.

"Wisata alam ditujukan untuk mengurangi pengaruh negatif pada alam dan sosial budaya masyarakat setempat, serta mendukung perlindungan dan pelestarian alam dengan memberikan manfaat (benefit)," jelasnya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata KBB, Aos Kaosar mengatakan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata KBB memang berencana memfokuskan pariwisata KBB sebagai daerah tujuan wisata ramah lingkungan. Sebagai langkah awal, Pemkab Bandung Barat akan menyosialisasikan brand image pariwisata yang menggambarkan potensi pariwisata daerah.

"Beberapa waktu lalu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata meluncurkan logo pencitraan pariwisata KBB. Karena itulah, kami mengajak masyarakat turut serta memperkuat tujuan pelestarian alam melalui ciri khas dan identitas KBB," jelasnya.

Aos mengatakan, kunjungan wisatawan ke KBB terus meningkat. Tahun 2011 tercatat total wisatawan mencapai 150.000 orang, sebagian besar di antaranya berkunjung ke Tangkubanparahu, Maribaya, tempat kuliner serta lokasi wisata komersial lainnya.

"Kita punya banyak tempat tujuan wisata. Kita akan ajak para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk sama-sama menjadi pelestari alam dan lingkungan, sekaligus berwisata melihat keindahan alam," urainya.

Rencana ke depan, tambahnya, logo tersebut akan disosialisasikan ke berbagai tempat wisata yang ada di wilayah KBB. "Penempatan logo tidak hanya dipasang di sekitar 50 kawasan wisata yang dikelola Pemkab Bandung Barat, tetapi juga di lokasi tujuan wisata komersial yang dimiliki swasta," pungkasnya. (B.84)**
galamedia Sabtu, 14 Januari 2012

Batu Tulis Kembali Ditemukan di Sungai Cimandiri

UPAYA warga menemukan benda cagar budaya di Sungai Cimandiri, Sukabumi, kembali membuahkan hasil. Setelah sebelumnya sempat menemukan sejumlah benda cagar budaya, warga kembali menemukan benda cagar budaya batu tulis di daerah aliran Sungai Cimandiri, Jumat (13/1).

Menurut Muhammad Fajari Laksana yang memimpin pencarian, penemuan benda cagar budaya ini sudah dilakukan sejak tahun 1996. "Saya sudah melakukan pencarian benda cagar budaya sejak 14 tahun lalu di sekitar Sungai Cimandiri," ungkap Fajar yang juga Pemimpin Pesantren Zikir Al Fath Kota Sukabumi, saat ditemui "GM" di sela-sela pencarian.

Sebagian besar temuan benda cagar budaya ini, katanya, disimpan di Museum Sejarah Islam Sunda Prabu Siliwangi Kota Sukabumi. Ia mengatakan, disimpannya hasil temuan benda cagar budaya ini hanya untuk diselamatkan.

"Kami tidak punya maksud apa-apa, hanya ingin menyelamatkan benda cagar budaya sesuai perintah dari para leluhur, bukan untuk dimiliki," terang Fajar yang mengaku keturunan ke-17 dari Prabu Siliwangi.

Pencarian benda cagar budaya ini, terangnya, tidak bisa dilakukan sembarangan, harus menunggu petunjuk dari para leluhur. Kebetulan hari ini (kemarin, red) merupakan waktu yang cocok melakukan pencarian sekaligus mengangkat benda cagar budaya berupa batu tulis.

"Kami tidak bisa sembarangan melakukan pencarian, tapi harus menunggu petunjuk para leluhur," ujarnya.

Khusus batu tulis yang ditemukan kemarin, katanya, berada di kedalaman sekitar 70 cm dari permukaan air. "Ada petunjuk diambil jam segitu, dan tidak bisa mengambil seenaknya," ungkapnya.

Fajar menyebutkan, masih banyak benda cagar budaya peninggalan Prabu Siliwangi yang belum tergali dan muncul ke permukaan. Menurutnya, untuk mengambil benda cagar budaya ini bisa dilakukan di mana saja sesuai petunjuk dari para leluhur.

"Saya bersama santri bisa mengambil di mana saja, seperti di Curug Sawer Majalengka, Curug Sawer Gunung Gede, Sumedang, maupun Banten. Tetapi semuanya harus berdasarkan petunjuk dari para leluhur dan Yang Mahakuasa," terangnya.

Sedangkan untuk proses selanjutnya seperti menerjemahkan prasasti maupun penggalian ilmunya diserahkan pada yang ahli. "Saya hanya mendapat tugas dari leluhur untuk mengambil dan menyelamatkan benda cagar budaya peninggalan Prabu Siliwangi," terangnya.

Sementara budayawan asal Bogor, Dasep menyebutkan, apa yang dilakukan Ustaz Fajar adalah keajaiban. Pasalnya, proses pencarian dan pengambilan tidak bisa dipikir secara logika.

"Ini perlu hubungan kontak batin untuk mengkajinya. Apa yang dilakukan Ustaz Fajar perlu disikapi dengan arif dan bijaksana," ujarnya. (kiki kurnia/"GM")**
Galamedia Sabtu, 14 Januari 2012

Jabar Miliki Dua Bandara Internasional

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Pemprov Jabar sepakat untuk sama-sama membangun dua bandara internasional di wilayah Jabar. Yakni Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka dan Bandara Internasional Karawang (BIK). Pemprov tidak perlu khawatir BIJB yang konsepnya sudah dulu dilakukan, tidak akan terbangun karena ada rencana pembangunan BIK.

Menurut Wakil Menteri Perhubungan, Bambang Susantono saat bertemu dengan Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan di Gedung Pakuan, Jln. Otista, Bandung, Jumat (13/1), kedua bandara tersebut sangat penting fungsinya dalam melayani kebutuhan transportasi regional dan internasional. Namun, keduanya memiliki pelayanan yang berbeda.

"Kertajati untuk melayani penerbangan Jabar dan Jateng. Sementara Bandara di Karawang nantinya dibangun untuk suplemen atau pendukung Airport Cengkareng (Bandara Soekarno-Hatta). Jadi keduanya harus bisa sinergis," kata Bambang.

Menurutnya, kedua bandara tersebut sangat penting untuk melayani penerbangan, tidak hanya regional tetapi juga nasional. Sebab itu, gubernur harus sudah melakukan beberapa langkah dalam waktu dekat. Seperti melakukan jajak pasar atau market sounding untuk Bandara Kertajati. Karena, sepertinya yang sudah lebih siap dibangun adalah Kertajati.

"Jajak pasar itu sangat diperlukan, karena konsep atau pola pembangunan Kertajati adalah public private partnership (PPP). Kita ingin pola PPP ini dikembangkan, sehingga pembangunannya bisa seperti Bandara Internasional Lombok yakni pemprov, pemkab/pemkot, dan BUMN, bisa bekerjasama secara sinergi. Secara prinsip kami akan dukung," ujarnya.

Dikatakan, BIK dibangun dalam rangka melengkapi fungsi Bandara Soekarno-Hatta, yang tidak mungkin diperluas karena keterbatasan lahan. Saat ini sedang dilakukan finalisasi studi untuk menentukan lokasi bandara. Tapi, sepertinya lokasinya sudah dipastikan di daerah Karawang. Meskipun Bandara Soekarno-Hatta akan diperluas, tapi sekitar tahun 2018-2019 harus membangun bandara yang baru.

"Keberadaan Bandara Karawang akan sangat membantu perekonomian Jabar. Sebab konsep yang akan digunakan adalah city airport, yang disesuaikan dengan tren positif di dunia, bukan sekadar airport city. Kalau city airport yang melayani sebuah kota, sedangkan airport city berarti kota yang berbasis airport. Tidak sekadar airport, tetapi sekelilingnya juga dikembangkan," ujarnya.

Dukung penuh

Sementara itu, Heryawan mengatakan, Pemprov Jabar tidak akan khawatir dengan pembangunan BIK. Pemprov akan mendukung penuh rencana tersebut. "Pasti support. Kita kan NKRI. Masa saling menegasikan. Saling mendukung satu sama lain karena Karawang itu suplemen setelah Bandara Soeta yang sudah sangat penuh," katanya.

Ia menambahkan, diharapkan dan gelagatnya pembangunan Bandara Kertajati akan lebih dulu dilaksanakan. Sebab, sudah ada lahannya, persiapannya sudah siap, izin prinsip dari Kemenhub sudah ada, masuk dalam recnana tata ruang dan wilayah (RTRW), dll. Lahan yang sudah dibebaskan untuk pembangunan Bandara Kertajati mencapai 634 ha. Sementara Bandara Karawang masih tahap finalisasi dan ada penyelesaian dengan RTRW-nya.

"Jadi Kertajati itu sudah riil. Tahapannya juga bukan tahap kecil. Kita akan punya runway terpanjang sampai 3,5 km. Pesawat Boeing 777 dan Airbus 380 yang besar pun bisa masuk. Selain itu, infrastruktur penunjang tengah diproses, seperti jalan Tol Cikopo-Palimanan dan Tol Cisumdawu," kata Heryawan.

Ia berjanji, dalam waktu dekat ini akan membentuk tim market sounding yang terdiri dari Pemprov Jabar, BUMD Provinsi Jabar, Kadin Jabar, dan Direktur Bandara pada Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub. Market sounding ini perlu dilakukan karena pembangunan Kertajati menggunakan PPP.

"Jajak pasar ini perlu dilakukan untuk melihat minat, keseriusan, dan persepsi pihak swasta nasional dan internasional, yang akan berinvestasi nantinya," ungkapnya. (B.96)**
galamedia Sabtu, 14 Januari 2012