-

Sunday, September 02, 2012

Pasar dalam Pendidikan Karakter



PASAR merupakan tempat bertemunya calon pembeli dan calon penjual yang akan melakukan transaksi jual-beli barang dan jasa. Dalam sebuah pasar akan terjadi transaksi calon pembeli dan calon penjual. Transaksi tersebut merupakan kesepakatan dalam kegiatan jual-beli. Syarat terjadinya transaksi di pasar tentunya harus ada barang yang diperjual-belikan, ada pedagang, ada pembeli, ada kesepakatan harga barang dan tidak ada paksaan dari pihak manapun.

Menurut perkembangannya pasar terdiri dari dua jenis. Pertama, pasar tradisional yaitu tempat para penjual dan pembeli dapat mengadakan tawar menawar secar langsung. Barang-barang yang diperjual-belikan di pasar tradisional adalah barang yang berupa barang kebutuhan pokok. Pasar tradisional seperti itulah yang sudah ada sejak zaman dahulu di Indonesia. Kedua, pasar modern yakni tempat barang-barang diperjual-belikan dengan harga pas dan dengan layanan sendiri. Tempat berlangsungnya pasar modern tersebut adalah di supermarket, minimarket mal, plaza, dan tempat-tempat modern lainnya.

Seiring berkembangnya zaman pasar tradisional mulai ditinggalkan dan cenderung tidak diminati oleh masyarakat. Hal tersebut dikarenakan pasar tradisional dianggap kotor, bau dan tidak higinis. Berbeda dengan pasar modern yang menampilkan kesan bersih dan higienis sehingga membuat masyarakat pun meminati pasar modern tersebut.

Semua peristiwa itu memang terkesan tidak bermasalah namun ketika kita berpikir lebih dalam dan pragmatis permasalahn besar justru sedang terjadi. Pasar tradisional yang berkembang sejak dahulu justru memiliki nilai pendidikan yang sangat besar dibanding dengan pasar modern yang justru minim sekali nilai pendidikannya. Dimana sebenarnya letak keterlibatan pasar tradisional dalam pendidikan tersebut?

Peran pasar dalam pedidikan

Pendidikan adalah kegiatan memanusiakan manusia. Tanpa pendidikan manusia tidak akan menjadi manusia seutuhnya. Selama manusia hidup, pendidikan akan tetap dibutuhkan karena pendidikan merupakan peletak dasar karakter agar menjadi manusia yang tangguh dalam menghadapi tantangan hidup yang berbekal pendidikan moral, etika dan norma kehidupan. Carter V. Good mendefinisikan bahwa pendidikan adalah proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan perilaku yang berlaku dalam masyarakat. Proses sosial dimana seseorang dipengaruhi oleh sesuatu lingkungan yang terpimpin sehingga dapat mencapai kecakapan sosial dan mengembangkan kepribadiannya.

Pendidikan memang sangatlah penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Namun, yang perlu kita ketahui pendidikan tidak hanya didapat di bangku sekolah. Pendidikan dalam dunia nyata merupakan pendidikan yang harus diterapkan karena manusia hidup dalam dunia nyata bukan dunia teori tanpa adanya implementasi.

Pendidikan dalam dunia nyata tersebut terlihat jelas di pasar tradisional. Apabila dimaknai luas pasar tradisional dapat dijadikan sebagai mekanisme yang dapat menata kepentingan pihak pembeli terhadap pihak penjual, disinilah akan muncul suatu sikap saling peduli antara pembeli dan penjual. Mekanisme yang terjadi tidak hanya dimengerti sebagai cara pembeli dan penjual bertemu dan kemudian berpisah namun harus dimaknai sebagai tatanan atas berbagai bagian. Mekanisme tersebut yaitu para pelaku seperti pembeli dan penjual, barang/jasa yang diperjualbelikan, aturan main yang tertulis maupun tidak tertulis yang disepakati oleh para pelakunya (pembeli dan penjual), serta regulasi pemerintah yang saling terkait, berinteraksi dan secara serentak bergerak bagaikan suatu mesin yang menjadi satu kesatuan. Disinilah terjadi konsep pendidikan menurut Carter V. Good yaitu pasar tradisional menjadi lingkungan terpimpin sebagai penumbuh kecakapan sosial dan pengembang kepribadian para pelakunya.

Dalam pasar tradisional terjadi proses pendidikan karakter yang sangat nyata. Pedagang dituntut untuk selalu menanamkan sikap kejujuran dalam menjual dagangannya. Selain itu, pedagang harus selalu ramah terhadap pembeli dan itu merupakan implementasi dari adat ketimuran kita. Hal lainnya yang terlihat jelas adalah adanya interaksi antara penjual dan pembeli yang justru merupakan proses pendidikan yang sebenarnya. Dalam transaksi terjadi suatu interaksi positif dalam hal kesepakatan harga dan di sinilah dua peran penting antara penjual dan pembeli yang memunculkan sikap saling peduli. Dari hal-hal seperti itulah pendidikan karakter akan tumbuh dan berkembang, berbeda dengan pasar modern yang justru dalam pembelian barangnya tidak melalui interaksi positif tersebut bahkan kita dapat membeli barang di pasar modern tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Mekanisme seperti itulah yang dapat memberikan gambaran bahwa pasar tradisional memiliki peran dalam terwujudnya pendidikan karakter di masyarakat kita. Pendidikan yang terjadi dalam realitas kehidupan nyata seperti di pasar tradisioanal tersebut akan memberikan efek yang nyata pula dalam tatanan kehidupan masyrakat. Keterlibatan pasar tradisional dalam pendidikan karakter pun sebenarnya harus lebih ditingkatkan lagi dengan menata kembali pasar tradisional di Indonesia dewasa ini karena pendidikan karakter akan terwujud dengan sebuah implementasi bukan sebuah teori-teori yang justru susah untuk dimengerti.

Pemerintah harus meningkatkan kembali peran pasar tradisional karena pasar tradisional merupakan salah satu nyawa perwujudan pendidikan karakter yang nyata. Caranya adalah dengan membangun pasar tradisional dengan lebih baik, menghilangkan image bau dan tidak higienis terhadap pasar tradisional sehingga masyarakat akan memiliki pandangan bahwa pemerintah pun memiliki suatu kepedulian terhadap ekonomi masyarakat. Efek lebih besar akan tercipta yaitu proses pendidikan akan terjadi dengan lebih baik karena lingkungan terpimpin dipelihara dengan baik. Dengan pasar tradisional yang indah dan bersih proses pendidikan dalam dunia nyata pun akan terjadi dengan baik karena pendidikan bukanlah sebuah teori atas arti pendidikan melainkan suatu implementasi dari konsep pendidikan itu sendiri, salah satunya dapat terjadi di Pasar Tradisional.
(Penulis adalah pedagang di Pasar Sayati Indah, Mahasiswa FPBS UPI Bandung)**
Galamedia
kamis, 30 agustus 2012 00:58 WIB
Oleh : IMAM AKHMAD

Saturday, September 01, 2012

Strategi ASI: Antara Teori dan Implementasi



SEJAK tahun 1992, setiap tanggal 1-7 Agustus diperingati sebagai Pekan ASI Sedunia (World Breastfeeding Week - WBW), kelanjutan dari Deklarasi Innocenti yang dibuat oleh WHO dan UNICEF di tahun 1990. Deklarasi tersebut bertujuan melakukan upaya global untuk melindungi, mempromosikan dan mendukung pemberian ASI.

Tahun 2012, tema yang diangkat oleh World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) adalah Understanding the Past - Planning the Future: Celebrating 10 years of WHO/UNICEF's Global Strategy for Infant and Young Child Feeding. Pemilihan tema ini untuk mengevaluasi kemajuan dari Strategi Global Peningkatan Pemberian Makan Bayi dan Anak yang dicanangkan oleh WHO dan UNICEF pada Agustus 2002. Selain itu untuk merencanakan kegiatan peningkatan pemberian makan bayi dan anak agar para ibu dapat memberikan makanan dan mengasuh anaknya secara optimal.

Ada empat strategi yang telah ditetapkan yaitu:

1. Inisiasi menyusui dini (IMD) setelah lahir dalam satu jam pertama, dilanjutkan dengan rawat gabung.

2. Memberikan air susu ibu (ASI) saja sejak lahir sampai bayi berumur 6 bulan.

3. Memberikan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) mulai umur 6 bulan.

4. Menyusui dilanjutkan sampai anak berumur 24 bulan atau lebih.

Evaluasi atas pelaksanaan strategi-strategi di atas sangatlah penting karena secara kuantitas, sudah lebih dari 176 negara yang mengakui keberadaan WBW. Permasalahannya, bagaimana dalam hal kualitas, apakah telah terjadi peningkatan dukungan terhadap pelaksanaan pemberian ASI? Bagaimanakah pencapaiannya setelah 10 tahun strategi tersebut dilaksanakan?

Berhasil?

WHO mengungkapkan, sebanyak 26 negara telah menemui sasaran dan dapat menunjukkan bahwa dengan upaya terfokus mungkin dapat mencapai atau bahkan melebihi target tujuan global. Namun masih banyak negara yang belum berhasil menyukseskan strategi-strategi di atas. Terbukti, saat ini, tingkat pemberian ASI eksklusif secara global masih 37 persen. Bagaimana dengan Indonesia?

Sungguh memprihatinkan. Tidak saja prosentasenya yang di bawah capaian global, trendnya juga mengalami penurunan. Bila di tahun 2007, prosentase cakupan pemberian ASI sebesar 62,2 persen, menurun menjadi 56,2 persen di tahun 2008. Begitupun dengan cakupan pemberian ASI eksklusif . Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan adanya penurunan dari 40 persen (2003) menjadi 28,6 persen (2008) dan kemudian menjadi 24,3 persen di tahun 2007. Kondisi mutakhir memperlihatkan tinggal 8 persen ibu yang memberi ASI eksklusif bahkan hanya 4 persen bayi yang mengalami IMD.

Sebenarnya, secara alamiah sebagian besar ibu ingin menyusui anaknya. Hasil penelitian tim dari Pusat Pencegahan dan Pengawasan Penyakit Amerika Serikat di bawah pimpinan Cria Perrine terhadap sekitar 3 ribu perempuan, -dari mulai tengah hamil sampai melahirkan- pada rentang waktu 2005-2007 memperlihatkan bila 1.792 perempuan (60%) berencana memberi ASI eksklusif bagi anaknya. Mayoritas dari jumlah tersebut, sekitar 85%, mengaku akan memberi ASI selama tiga bulan atau lebih. Namun kenyataannya hanya 32% dari yang merencanakan memberi ASI eksklusif menjalankan niatnya. Hal yang serupa jugalah yang dialami ibu - ibu di Indonesia. Mengapa mereka gagal melaksanakan ambisi mulia tersebut?

Ada beberapa kondisi yang menyebabkan gagalnya pelaksanaan ASI di negeri ini.

Pertama, masih belum kuatnya dukungan Pemerintah. Memang benar bahwa sejak 1 Maret 2012 telah disahkan Peraturan Pemerintah No. 33 tentang Pemberian ASI Eksklusif (PP ASI). Namun sayangnya, pasal-pasal dalam PP ASI masih belum sepenuhnya melindungi ibu dalam memberikan ASI, yaitu di pasal 6, pasal 15 dan pasal 21 (2). Pasal-pasal tersebut masih membuka celah bagi produsen susu formula untuk berpromosi. Hal ini sangat menguatirkan karena Indonesia merupakan salah satu target dari produsen susu setelah China

Kedua, masih minimnya fasilitas layanan kesehatan (rumah sakit) yang mendukung aktivitas menyusui, seperti tidak adanya ruang rawat gabung dan tidak dilaksanakannya IMD. Padahal itu merupakan salah satu langkah penting dalam keberhasilan menyusui.

Ketiga, masih minimnya dukungan dunia kerja dan fasilitas publik terhadap aktifitas menyusui sebagaimana hasil penelitian AIMI dan Save the Children, mengenai implementasi kebijakan menyusui di Aceh (Kab.Bireun, Kab.Bener Meriah), Jawa Barat (Kabupaten Bekasi, Kerawang, Padalarang), dan NTT (Kupang). Penelitian yang dilakukan pada November 2011 tersebut melibatkan sejumlah perkantoran pemerintah dan swata. Hasilnya, dari 37 perkantoran pemerintah hanya 4 yang mempunyai ruang khusus menyusui dan hanya 1 yang memiliki kebijakan tertulis mengenai pengadaan ruang menyusui/memerah ASI. Sedangkan dari 18 perkantoran swasta hanya 2 yang memiliki ruangan khusus menyusui bahkan tidak ada satu pun yang memiliki kebijakan tertulis mengenai pengadaan ruang menyusui/memerah ASI.

Keempat, kurangnya dukungan keluarga dan lingkungan. Masih banyak suami yang beranggapan bahwa menyusui hanyalah kewajiban istri. Padahal kalaupun hanya terlihat sebagai interaksi antara ibu dan bayi namun sesungguhnya ada banyak pihak yang berperan, mulai dari suami, orangtua, mertua, keluarga besar, sahabat, hingga rekan kerja dan tetangga. Bila mereka tidak mendukung, ibu pasti akan merasa lelah, tidak percaya diri dan stress. Apalagi bila ibu mengalami puting lecet, bayi bingung puting, bayi menangis terus, sementara ibu tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa? Ini akan menghambat keluarnya ASI dan bukan mustahil jika akhirnya ibu memutuskan menggunakan susu formula sampai akhirnya berhenti menyusui.

Semua kendala di atas harus segera dibenahi, bila tidak sia - sialah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menargetkan setidaknya 50 Persen bayi di bawah usia enam bulan harus sudah mendapatkan ASI eksklusif pada tahun 2025. Tanpa implementasi yang konsisten dan kerjasama pihak-pihak yang terkait, semua target dan strategi hanya sekedar teori yang sia-sia belaka. Inikah yang kita mau? (Neni Utami Adiningsih, Ir., M.T., penggagas Forum Studi Pemberdayaan Keluarga.
(Family Empowerment Studies Forum, Pemerhati masalah anak perempuan dan keluaraga, Alumni Pascasarjana Teknik Elektro ITB)**
Galamedia
jumat, 31 agustus 2012 01:06 WIB
Oleh : NENI UTAMI ADININGSIH

Thursday, August 30, 2012

Nasib Masjid Pasca-Lebaran



SALAH satu fenomena menarik di bulan Ramadan adalah ramainya masjid oleh jemaah, terutama saat salat fardu, tausiyah Ramadan, dan salat tarawih. Bahkan pada salat Idulfitri 1 Syawal, masjid dipadati hingga bagian teras dan halamannya. Namun pasca-Lebaran, masjid kembali lengang, seakan Ramadan gagal mendidik karakter umat untuk memakmurkan masjid.

Uniknya, jemaah masjid yang ramai selama Ramadan itu dimanfaatkan untuk menambah kas keuangan mas,jid. Begitu pula saat salat Idulfitri, pengurus pun berupaya untuk mengetuk pintu hati jemaah agar berinfak atau berwakaf demi pembangunan masjid.

Tidak sedikit di antara kita yang mengedepankan pembangunan masjid secara fisik daripada memakmurkan masjid dengan menghidupkan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi pembinaan akidah dan sosial umat. Seakan kita lebih memamerkan dari pada memakmurkan masjid.

Ironisnya lagi, jemaah masjid me,minta sumbangan di jalan raya demi pembangunan fisik masjid. Bukankah hal ini akan menambah citra negatif umat Islam sebagai umat yang tidak kompak, dan peminta-minta? Lalu bagaimana aplikasi dari ajaran Nabi saw bahwa tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah?

Materialis-pragmatis

Agaknya penyebab sebagian umat meninggalkan masjid adalah cara berpikir yang dipengaruhi oleh paham materialisme dan pragmatisme. Paham materialisme menyebabkan sebagian umat menilai sesuatu itu dari bentuk fisiknya. Bagi mereka lebih berharga dan lebih bernilai membangun fisik masjid yang megah, mewah, dan indah tanpa memerhatikan pembangunan dan pembinaan jemaahnya.

Paham pragmatisme membuat sebagian umat hanya meramaikan masjid jika dianggap menguntungkan. Salat tarawih, misalnya, pahalanya dianggap besar dan dilipatgandakan, sehingga umat ramai-ramai memenuhi masjid. Jika Ramadan telah usai, maka masjid pun ditinggalkan. Artinya sebagian umat beribadah karena motivasi pahala (untung), bukan mencari keridaan Allah.

Oleh karena itu, Allah menegaskan bahwa orang yang memakmurkan masjid itu mesti memiliki empat karakter (QS Attaubah:18). Pertama, beriman kepada Allah swt dan hari yang akhir. Iman menjadi syarat utama yang harus dimiliki oleh seseo-rang yang ingin memakmurkan masjid. Tanpa iman, maka keterlibatannya di masjid hanya dihitung berdasarkan untung-rugi atau kepetingan pribadi.

Kedua, mendirikan salat. Ketika azan berkumandang, mereka akan bersegera menuju masjid untuk mendirikan salat. Sebab salat yang terbaik adalah salat seperti yang dilakukan Nabi saw yaitu melaksanakannya di awal waktu, secara berjemaah, dan bertempat di masjid.

Ketiga, membayar zakat. Ketika seseorang mendirikan salat di masjid, mereka akan membentuk saf yang lurus dan rapat. Seluruh makmum berada di belakang imam tanpa mem,bedakan antara si kaya dengan si mikin. Seorang jenderal bisa bersentuhan bahu dengan seorang prajurit. Semua sama statusnya di antara jemaah, yaitu makmum. Mereka saling menghormati dengan penuh kasih sayang.

Wujud dari persatuan dan kasih sayang itu adalah berempati kepada sesama. Ketika melihat saudara seiman ada yang miskin, maka mereka yang mampu akan segera mengulurkan bantuan. Bantuan itu berupa zakat sebagai kewajiban utama, lalu di,perkuat dengan bantuan berupa infaq, sedekah, wakaf dan lainnya.

Keempat, tidak takut kecuali kepada Allah. Orang yang memakmurkan masjid adalah orang yang takut pada Allah (khauf). Ketakutan tersebut akan mendorong seseorang melaksanakan ibadah, bukan justru jauh dari Allah.

Seorang pedagang tidak takut rugi karena menutup sementara kedainya untuk mendirikan salat berjemaah di masjid. Seorang pemimpin perusahaan tidak khawatir bangkrut karena mengistirahatkan karyawannya agar mendirikan salat berjemaah ke masjid. Begitu seterusnya. Mereka hanya takut kepada Allah semata. Sebaliknya, mereka takut jika usaha duniawinya tidak memperoleh berkah dari Allah swt.

Masjid Rasulullah

Bangunan pertama saat Rasulullah memasuki Madinah adalah masjid. Masjid yang didirikan sangat sederhana dengan dinding dari susunan batu bata dan atap dari jalinan pelepah kurma. Tetapi jemaahnya sangat ramai. Pasar menjadi lengang tatkala waktu salat, karena para pedagang semuanya pergi ke masjid.

Mereka juga memakmurkan masjid dengan berbagai kegiatan ibadah, seperti salat berjemaah, membaca Alquran, iktikaf, dan zikir. Begitu pula kegiatan pembinaan spiritual dan sosial umat menjadi aktivitas penting dalam masjid.

Tidak kurang dari sepuluh peran masjid pada masa tersebut, yaitu: 1) tempat ibadah (salat dan zikir), 2) tempat konsultasi dan komunikasi (masalah ekonomi, sosial dan budaya), 3) tempat pendidikan, 4) tempat santunan sosial, 5) tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya, 6) tempat pengobatan para korban perang, 7) tempat perdamaian dan pengadilan sengketa, 8) aula dan tempat menerima tamu, 9) tempat menawan tahanan, dan 10) pusat penerangan atau pembelaan agama.

Berbagai aktivitas yang dilakukan di masjid saat itu beul-betul bermotif ketakwaan, sehingga berefek pada kebaikan perilaku di luar masjid. Pada saat hidup bermasyarakat, nilai-nilai ketakwaan begitu nyata teraplikasi di dalam pergaulan. Inilah makna memakmurkan masjid yang sesungguhnya.

Sejatinya Ramadan yang telah kita lalui selama sebulan penuh mampu membentuk perilaku kita untuk memakmurkan masjid, baik di dalam masjid maupun di luar masjid.
(Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan STAI Alazhari Cianjur)**
Galamedia
senin, 27 agustus 2012 00:40 WIB
Oleh : ACEP HERMAWAN

Wednesday, August 29, 2012

Mudik Lebaran Asyik

APA yang ada di benak Anda ketika mendengar kata mudik? Lebaran, macet, silaturahmi, sungkeman, bercengkrama dengan keluarga, dan balik lagi ke tempat perantauan. Budaya Lebaran tersebut terus berulang setiap tahun. Namun yang paling mengesankan saat Lebaran tiba adalah selain berkumpul dan bercengkerama bersama keluarga adalah saat perjalanan mudik.

Macet menjadi buah bibir para urban yang melakukan mudik. Meski topik yang dibicarakan sama tentang kemacetan di perjalanan, namun ada hal-hal yang menarik sekaligus menjengkelkan saat dalam perjalanan.

Dimulai dengan waktu tempuh perjalanan yang bisa berlipat-lipat. Misalnya jarak yang dekat saja, Tasikmalaya-Bandung yang pada hari-hari biasa bisa ditempuh hanya 2,5 hingga 3 jam, saat mudik bisa mencapai 7-12 jam. Bagi yang mendengar memang hanya manggut-manggut, tapi bagi pemudik waktu yang begitu panjang cukup melelahkan juga.

Agak mending jika mudik menggunakan kendaraan pribadi, bisa berhenti kapan dan dimana pun. Dapat dibayangkan bagi mereka yang menggunakan kendaraan umum, penuh pula penumpangnya. Belum lagi yang membawa anak kecil, sepanjang perjalanan rewel. Lengkap sudah penderitaannya.

Frans, salah seorang pemudik dari Jakarta yang hendak ke Tasik, harus rela berdiri berjam-jam karena tidak kebagian tempat duduk dalam bus. Lain ceritanya dengan Arie Badriah yang terpaksa minta dijemput oleh kakaknya karena sudah tidak kuat lagi berada belasan jam dalam bus.

"Perut saya mungkin kram karena duduk berjam-jam. Mana anak rewel terus. Belum lagi saya lagi hamil, khawatir ada apa-apa sama janin saya, makanya minta dijemput saja pakai motor," ujar Arie yang tengah hambil dua bulan.

Menurutnya, dari Jakarta sampai Bandung lancar, macetnya dari Bandung-Tasik.

Kondisi macet di beberapa titik memang ada yang parah sekali. Macet, nyaris tidak bergerak sedikit pun. Ada yang merayap, maju dua meter berhenti satengah hingga satu jam. Jalur-jalur alternatif pun diburu para pemudik dan pengemudi untuk menghindari macet. Jalanan ramai kendaraan, siang dan malam hari. Restoran hingga pedagang asongan di pinggir jalan marema diserbu pemudik.

Masih banyak segudang cerita soal perjalanan mudik. "Wios da tos usumna macet. Nikmati saja," ujar salah satu kolega. Yup, obat yang paling mujarab saat mudik memang harus menikmati perjalanan. Sebab, di wilayah Jabar itu banyak titik-titik kemacetan. Apalagi, ditambah dengan volume kendaraan yang meningkat, karena mudik pada waktu yang sama, sementara jalan dari dulu hingga sekrang nyaris sama. Segitu-gitu aja.

Oleh sebab itu, meski pemerintah sudah melakukan upaya untuk mengurai kemacetan, tapi kemacetan itu tetap saja terjadi. Namun, kemacetan dan hiruk-pikuk saat perjalanan mudik akan terbayarkan oleh suasana yang fitri di hari Lebaran. Saat kumpul bersama keluarga. Intinya, mudik kudu dibawa asyik.
(Wartawan Galamedia)**
Galamedia
jumat, 24 agustus 2012 01:20 WIB
Oleh : ELI SITI WASLIAH

Tuesday, August 28, 2012

Bandung Kehilangan Heritage (Lagi)

HINGGA kini, Bandung masih populer dengan sebutan Kota Kembang dan Parijs van Java. Kota yang pada tahun 2007 lalu dijadikan sebagai pilot project kota terkreatif se-Asia Timur oleh British Council ini masih merupakan salah satu kota tujuan utama wisata di Indonesia. Tidak dapat dimungkiri, keberadaan bangunan-bangunan kuno peninggalan masa kolonial di Kota Bandung sebagai heritage (warisan) sejarah masa lalu merupakan salah satu daya tarik Kota Bandung bagi para pelancong.

Di Bandung memang banyak terdapat bangunan kuno peninggalan sejarah masa kolonial yang menjadi heritage sangat berharga. Menurut ketua paguyuban pelestarian budaya Bandung (Bandung heritage) diperkirakan Kota Bandung memiliki 637 bangunan cagar budaya. Gedung Sate, Gedung Pakuan, Gedung Dwi Warna, Gedung Merdeka, Gereja Bethel, Grand Hotel Preanger, Markas Kodam 3 Siliwangi, Biofarma, SMAN 3, Bumi Sawunggaling, Vihara Satya Budhi, Villa Merah ITB, Villa Isola, Rumah Dinas Walikota, Balai Pertemuan Bumi Sangkuriang, dan Dakken Cafe adalah beberapa contoh heritage yang hingga kini masih kokoh berdiri menghiasi Kota Bandung.

Hilang

Sayangnya, sudah ada beberapa heritage saksi sejarah di Kota Bandung kini lenyap karena dibongkar. Parahnya, pembongkaran tersebut justru dilakukan hanya karena bangunan dialihfungsikan menjadi apartemen, restoran, hotel, atau lahan parkir. Sayang memang jika bangunan peninggalan sejarah masa lalu dibongkar hanya demi kepentingan ekonimis dan bisnis. Padahal, nilai historis justru sebenarnya jauh lebih berharga karena tidak dapat diukur secara ekonomis.

Bangunan bersejarah yang sudah hilang yaitu pemandian (kolam renang) Cihampelas. Konon, kolam yang dibangun tahun 1902 ini adalah kolam renang pertama di Indonesia. Tempat yang pernah menjadi saksi keperkasaan para perenang Indonesia ketika mendulang emas dalam even internasional, Sea Games, beberapa puluh tahun lalu itu kini sudah rata dengan tanah.

Kemudian bangunan bekas Hotel Harapan Eka Graha di Jalan Kepatihan pun kini sudah berubah menjadi lahan parkir sebuah supermarket. Awalnya, bangunan Hotel Harapan Eka Graha adalah markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Siliwangi pada tahun 1945-1946. Bahkan konon tempat ini sempat menjadi rumah A.H. Nasution yang saat itu menjabat Pangdam Siliwangi dan di tempat inilah pertama kali dicetuskan ide awal "Bandung Lautan Api".

Kolam Renang Centrum (Pemandian Tirta Merta) di Jalan Sumbawa pun menjadi korban berikutnya. Bangunan tua ini kini sudah berubah menjadi sebuah restoran. Mungkin nasib Centrum sedikit lebih beruntung dibandingkan dengan kolam renang Cihampelas. Bangunan yang diarsiteki oleh C.P. Wolff Schoemaker dan dibangun sekitar tahun 1920 ini tidak dihancurkan total, tetapi hanya dirombak beberapa bagian. Walaupun demikian, perombakan tersebut tetap saja telah mengurangi nilai historis Centrum karena sudah berubah arsitekturnya dan kehilangan "kecentrumannya".

Pembongkaran heritage pun dilakukan pada bangunan heritage toko "Sarinah" dan sebuah bangunan No. 67 di Jalan Braga, rumah dinas dosen Universitas Pendidikan Indonesia (dulu IKIP Bandung), dan bangunan SMAK Dago di Jalan Ir. H. Juanda. Kabar menyedihkan kembali datang beberapa waktu lalu ketika sebuah bangunan di Jalan Braga No. 8 yang dulu dikenal sebagai Hotel Braga pun dibongkar karena di lokasi tersebut akan dibangun hotel setinggi 13 lantai. Padahal, bangunan tersebut juga termasuk dalam kategori heritage yang seharusnya dilestarikan sesuai bentuk aslinya.

Pembongkaran tersebut tentu saja sangat disesalkan karena menurut sejarahnya, bangunan yang dibangun pada tahun 1857 tersebut adalah bekas hotel yang mulai beroperasi pada tahun 1919. Sejak tahun 1926 hotel tersebut disebut Hotel Wilhelmina. Konon, walaupun bukan termasuk hotel besar, tetapi Wilhelmena cukup disukai pelancong karena letaknya tepat berada di pusat pertokoan Braga dan berdekatan dengan sarana hiburan. Wilhelmena sendiri kemudian berubah nama menjadi Hotel Beraga mulai tahun 1956. Jika melihat sejarahnya tadi, Hotel Braga jelas merupakan salah satu heritage peninggalan bangunan kuno bagi Kota Bandung.

Ironisnya, Kepala Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kota Bandung kepada media mengakui bahwa pembongkaran bangunan bekas Hotel Braga sudah mendapatkan izin karena bangunan heritage yang berhadapan ke jalan Braga tetap dipertahankan menjadi bagian bangunan utama hotel. Menurut hemat penulis, dalam rangka pelestarian heritage, pemberian izin pembongkaran dengan alasan apa pun tidak dapat diterima karena pemugaran tentu telah menyebabkan hilangnya bentuk asli bangunan. Tampaknya Pemerintah Kota (Pemkot) terlalu gampang memberikan izin pembongkaran terhadap bangunan heritage. Hal ini terbukti tidak lama setelah pembongkaran Hotel Braga, bangunan tua bekas rumah tinggal di Jalan Purnawarman pun menjadi korban perkembangan zaman. Bangunan tersebut dibongkar karena akan dibangun pertokoan. Padahal, rumah tua di sepanjang Jalan Purnawarman juga adalah bangunan tua yang tergolong cagar budaya.

Menunggu keseriusan pemkot

Pemkot Bandung seharusnya lebih ketat dan tegas lagi dalam pemberian izin pembongkaran bangunan heritage. Bahkan jika tidak ingin terus kehilangan bangunan cagar budayanya, Pemkot dengan alasan apa pun tidak perlu lagi mengeluarkan izin pembongkaran terhadap bangunan-bangunan heritage. Ingat, bangsa asing selalu mempertahankan dan melestarikan bangunan-bangunan yang dianggap sebagai benda cagar budaya karena kota yang memiliki peninggalan sejarah justru akan memiliki daya tarik kepariwisataan.

Memang, di satu sisi perubahan fungsi bangunan tidak dapat dihindari untuk mengikuti perkembangan zaman. Akan tetapi, pelestarian bangunan bersejarah masih sangat penting dilakukan agar identitas kota tetap terjaga. Ada pribahasa yang mengatakan, "Sebuah bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki sejarah yang kuat". Oleh karena itu, Pemkot Bandung harus punya keseriusan dan keinginan yang kuat untuk menyelamatkan bangunan cagar budaya.

Peraturan Daerah (Perda) Kota Bandung Nomor 19 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya seharusnya menjadi kekuatan dan jangan malah seperti menjadi macan ompong. Undang-Undang RI No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya pun harus ditegakkan. Harapan kita, Tim Pertimbangan Pelestarian Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya Kota Bandung yang telah terbentuk beberapa waktu lalu dapat segera merumuskan, mengklasifikasikan, dan menggolongkan bangunan cagar budaya di Kota Bandung agar perusakan bangunan heritage tidak terus terjadi.

Intinya, kawasan dan bangunan cagar budaya yang berada di Kota Bandung yang memiliki nilai sejarah, arsitektur, ilmu pengetahuan, sosial budaya, berusia di atas 50 tahun, dan yang memberikan ciri serta identitas peradaban harus dirawat, dilindungi, dilestarikan, dan dipertahankan bentuk aslinya.

Identitas kota

Kini saatnya tugas kita memelihara dan menjaga warisan peninggalan sejarah yang ada di Kota Bandung agar tidak kembali dihancurkan. Sudah lama Bandung menjadi salah satu kota di dunia yang paling kaya akan bangunan arsitektur. Manusia tanpa sejarah akan kehilangan identitasnya. Begitu juga dengan dengan sebuah kota.

Perjalanan panjang sejarah Kota Bandung dapat terlukis melalui kekayaan warisan arsitektur yang menggambarkan perkembangan kebudayaan masyarakatnya sehingga membiarkan heritage hilang sama artinya dengan menghapus satu sisi kehidupan yang membentuk jati diri Kota Bandung.

Menghilangnya kekayaan heritage di Bandung juga merupakan bagian dari proses hilangnya rentetan peristiwa yang menghubungkan sejarah pembangunan budaya masa lalu, masa kini, dengan masa depan yang dapat bermanfaat dan akan menjadi kebanggaan generasi penerus.

Bandung merupakan kota laboratorium arsitektur yang mulai kini memerlukan perhatian semua pihak agar citra dan nilai sejarah pembangunannya tetap terjaga dengan baik. Oleh karena itu, marilah kita sama-sama menjaga, mengawasi, memelihara, dan melestarikan heritage kuno bersejarah di Kota Bandung.
(Penulis, Staf Teknis di Balai Bahasa Bandung, Alumnus Universitas Padjadjaran)**
Galamedia
jumat, 24 agustus 2012 01:18 WIB
Oleh : DINDIN SAMSUDIN

Monday, August 27, 2012

Setelah Ramadan Berlalu



BEGITU cepat Ramadan berlalu seiring dengan berjalannya waktu. Kepergiannya ternyata menyisakan sebaris kenangan yang tersirat di dalam sanubari. Ada perasaan lega beraduk resah memenuhi hati setiap muslim yang senantiasa mengharap rida Allah swt. Lega sebab selama sebulan bersabar dalam ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Resah jika semua amal ibadah hanya sia-sia dan tidak terima di sisi Allah serta tiada mendapatkan balasan.

Tidak dapat dipungkiri berlalunya Ramadan melarutkan pula jiwa-jiwa yang hanya menyembah Allah di bulan Ramadan. Ternyata pendidikan (tarbiyah imaniah) di saat Ramadan pada sebagian insan bukan malah mendidik jiwanya, tetapi menjadikannya bertambah nista dengan kembali berbuat kemaksiatan dan dosa. Kemudian, bagaimama kita merefleksi diri pasca-Ramadan?

Apakah yang kita peroleh di bulan Ramadan? Kita hendaknya selalu menghisab diri dengan cermat. Sudahkah kita mendapatkan manfaat dari puasa, salat, dan semua amalan di bulan Ramadan? Bertambah kokohkah iman kita pasca-Ramadan? Benarkah kita mendapatkan ketakwaan yang merupakan tujuan utama puasa Ramadan? Banyak sekali pertanyaan untuk jiwa yang benar-benar tulus mengharap rida Allah swt.

Bukankah Ramadan itu bulan tobat dan kesabaran? Akan tetapi, mengapa perilaku kita tidak mencerminkan sikap orang yang bersabar dan bertakwa setela keluar dari Ramadan? Mengapa kita masih saja tenggelam dalam dosa dan lupa akhirat? Bukankah Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah swt. dan hendaklah tiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan." (Q.S. Alhasyr 59: 18).

Sungguh beruntung mereka yang keluar dari Ramadan dengan tobat dan ampunan. Lautan kebahagiaan untuk siapa saja yang meraih mahkota takwa dalam jiwa mereka di bulan mulia. Mereka itulah yang mendapatkan manfaat di bulan Ramadan sebab mereka seolah-olah hadir kembali di dunia ini dengan lembaran baru yang berharga dalam perjalanan hidup sejatinya menuju Allah swt.

Janganlah mengurai benang yang sudah dipintal. Jika termasuk orang yang mendapatkan manfaat dari puasa, salat, dan semua amalan kita di bulan Ramadan, selalu bersyukurlah memuji Allah swt. Jangan pernah melirik lagi untuk kembali ke jurang kemaksiatan. Sangat disayangkan jika mahkota takwa yang tersemat indah di jiwa kita, tergantikan dengan corengan dosa dan kemaksiatan. Jagalah ikatan iman yang telah terjalin kuat di dalam dada kita dengan selalu menambah ilmu dan keimanan. Betapa banyak orang saat Ramadan membangun istana ketakwaan, lalu setelah berlalu Ramadan kembali lagi pada tipu daya setan. Masjid yang tadinya semarak, sepi lagi dari kegiatan berjamaah. Tempat maksiat yang semula ditutup, sekarang kembali ramai diisi jiwa-jiwa yang awalnya mengabdi. Sungguh sebuah fenomena yang mengiris hati dan mencabik nurani. Oleh sebab itu, Allah swt. mengingatkan, "Janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali...." (Q.S. Annahl 16: 92).

Apakah amalan diterima? Sesungguhnya orang yang berhasil di bulan Ramadan adalah mereka yang ketika Ramadan mempergunakan detik-detik waktunya untuk ketaatan. Ia lalui siang hari bulan Ramadan dengan puasa dan menjaga adabnya. Pada malam harinya, ia mendirikan salat dan mengisi waktunya dengan membaca Alqruan. Mulutnya selalu basah dengan zikir kepada Allah, bahkan linangan air mata tobatnya selalu mengalir di sepertiga malam terakhir.

Bukan sekadar itu, ia senantiasa berusaha istikamah menjaga amalannya di luar Ramadan. Ia selalu meningkatkan ketakwaan dengan memperdalam keilmuan. Ia tidak rida jika jalinan iman yang ia rajut susah payah, cerai-berai dengan perginya Ramadan. Akan tetapi, ia selalu takut jika amalannya tidak diterima. Begitu pula ia selalu cemas jika amalannya tidak ikhlas karena Allah.

Ali bin Abi Thalib berkata, "Jadilah engkau orang-orang yang lebih memikirkan bagaimana diterimanya suatu amalan daripada memikirkan untuk beramal itu sendiri. Tidakkah engkau mendengar Allah swt. berfirman, "Sesunggunya Allah hanya menerima suatu amalan dari orang-orang yang bertakwa." (Q.S. Almaidah 5: 27).

Dahulu orang saleh pun selalu berdoa selama setengah tahun (pasca-Ramadan) agar diterima amal ibadahnya dan setengah tahun berikutnya berdoa agar dipertemukan dengan Ramadan lagi.

Janganlah menjadi hamba Ramadan. Bahagia sekali saat di bulan Ramadan kita berlomba melakukan kebaikan. Berbagai sarana/tempat maksiat ditutup. Masjid semarak dengan kegiatan ibadah berjamaah. Indah rasanya suasana imani di bulan Ramadan. Sampai-sampai kaum selebritas yang tadinya tidak suka pamer aurat, hadirnya Ramadan membuat mereka menutup auratnya. Kedatangan Ramadan benar-benar membawa berkah untuk semua. Sayang, berlalunya Ramadan, redup pula nuansa keimanan itu. Tempat-tempat maksiat kembali dibuka lebar-lebar. Masjid kembali diisi oleh orang itu-itu saja. Bahkan, terkadang perilaku maksiat lebih parah dari sebelumnya.

Iman apakah itu? Islam apakah seperti ini? Tidak lain semua ini adalah bermain-main dengan Allah swt; kedustaan dan kenifakan terhadap agama Allah. Bukankah Robb yang kita ibadahi di bulan Ramadan, Dialah Robb yang kita sembah di luar Ramadan pula?

Kita adalah hamba Allah, bukan hamba Ramadan. Ya, hamba Allah yang memerintahkan agar kita senantiasa tsabat dan istikamah pada tiap amalan kita, baik Ramadan maupun di luar Ramadan. "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nyal dan janganlah sekali-kali kalian mati, melainkan dalam keadaan beragama Islam." (Q.S. Ali Imran 3: 102).

Akhirnya, kita berharap menjadi hamba Allah sejati yang selalu beribadah kepada-Nya, baik di bulan Ramadan maupun bulan lainnya.
(Pengajar LB FIB Unpad dan STAI Sabili Bandung)**
Galamedia
kamis, 23 agustus 2012 00:43 WIB
Oleh : EDI WARSIDI

Sunday, August 26, 2012

Si Pemalu Lebih Jago Baca Ekspresi Wajah



Orang yang pemalu mungkin jarang mau berkomunikasi dengan bertatap muka. Namun sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa si pemalu mempunyai kemampuan yang sangat baik untuk mengenali ekspresi wajah orang.

Penelitian yang dipresentasikan pada American Psychological Association pada bulan ini menemukan bahwa orang pemalu lebih baik dalam membaca ekspresi wajah. Hal ini menarik karena penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa orang pemalu cenderung salah menafsirkan ekspresi wajah.

Dalam studi itu, orang dewasa usia kuliah yang pemalu lebih mampu mengenali ekspresi wajah kesedihan dan ketakutan dibandingkan mereka yang tidak malu, Rabu (22/8).

Dengan temuan ini, penulis studi Laura Graves O'Haver, yang merupakan mahasiswa doktoral di Southern Illinois University di Carbondale mengatakan, mungkin ada beberapa aspek positif dari rasa malu untuk ditelusuri. "Kita cenderung berpikirian jelek dengan orang pemalu," jelasnya.

Grave mengalisa informasi dari 241 mahasiswa (rata-rata usia 19 tahun) dengan survei secara online. Peserta ditunjukkan 110 foto wajah dan diminta mengidentifikasikan ekspresi wajah (senang, sedih, marah, takut, terkejut, jijik, netral).

Untuk menentukan tingkat rasa palu, para peserta harus menjawab pertanyaan seperti "saya merasa sulit meminta informasi" dan "aku tidak nyaman di pesta", atau "saya merasa tegang dengan orang yang tidak saya kenal".

Secara keseluruhan, orang mampu mengidentifikasi ekspresi wajah cukup baik dengan tingkat akurasi 81 persen.

Orang-orang yang skala rasa malunya tinggi, lebih akurat untuk mengidentifikasi ekspresi wajah sedih dan ketakutan daripada yang nilainya rendah.

Lalu apa alasannya? Ketika peserta ditanya bagaimana perasaan mereka selama studi, orang-orang pemalu lebih cenderung berada dalam suasana hati yang buruk. Hal ini bisa menjelaskan hasilnya, karena studi telah menemukan bahwa orang-orang dalam suasana hati yang buruk cenderung melihat hal-hal lain dalam cahaya yang negatif.

"Seperti kebalikan dari kacamata berwarna merah," kata Graves O'Haver.

Selain itu juga kemungkinan kemampuan superior yang mengenali ekspresi wajah sedih dan takut dapat berkontribusi pada rasa malu orang. Orang pemalu melihat emosi negatif pada wajah orang-orang, "yang bisa membuat Anda merasa malu," kata Graves O'Haver.

Namun, Graves O'Haver menekankan studi hanya menunjukkan asosiasi, dan bukan hubungan sebab-akibat. Selain itu, lanjut Graves, penelitian ini juga dilakukan secara online, tidak jelas seberapa baik hasilnya akan jika diterjemahkan ke dalam situasi nyata. Dia ingin melakukan studi lain yang mirip percakapan dalam kehidupan nyata, mungkin dengan menggunakan video, bukan foto

Saturday, August 25, 2012

Wisata Pantai Pisangan Masih Jadi Primadona

Wisata pantai masih menjadi primadona bagi masyarakat Karawang untuk mengisi waktu libur lebaran 1433 H. Hal itu terlihat dari membludaknya jumlah wisatawan lokal yang mertandang ke beberapa objek wisata pantai yang ada wilayah Karawang utara, Selasa (21/8).

Dari pantauan "PRLM", pantai yang kerap didatangi pengujung saat lebaran adalah Pantai Pisangan di Kecamatan Pedes, Pantai Samudrabiru di Kecamatan Cilebar, dan Tanjungbaru di Kecamatan Cilamaya Kulon. Kendati air laut tidak jernih, pasir di tiga objek itu landai, sehingga memudahkan wisatawan untuk berenang.

Di tiga objek wisata itu pun, pengunjung bisa dengan mudah menyewa ban mobil bekas agar bisa mengapung saat berenang. Bahkan, ratusan pedagang ikan bakar khas Karawang siap menyambut mereka bersantap sesuai bermain air laut.

Sayangnya, potensi tersebut belum dikelola dengan baik oleh pemerintah daerah setempat. Salah satunya adalah akses jalan yang menuju tiga tempat tersebut masih dibiarkan rusak parah.

Akibatnya, pengunjung yang rata-rata datang dengan menggunakan sepeda motor harus ekstra hati-hati saat menuju ke tiga objek tersebut. Mereka bahkan harus bejibaku dengan debu yang muncul dari badan jalan.

Pengelolaan yang belum tertata, terlihat di objek wisata Tanjungbaru, Cilamaya Kulon. Jalan yang rusak dan sempit membuat pengunjung harus antre sepanjang lebih kurang 2 Km sebelum melewati pintu gerbang Pantai Tanjungbaru yang sekaligus dijadikan tempat pembayaran tiket masuk.

Meski demikian, para wisatawan lokal itu tampak tetap bersemangat mendatangi wisata bahari yang ada di Karawang tersebut."Sejak dari Pertigaan Pasirukem, kondisi jalan menuju Tanjungbaru sudah rusak. Akibatnya kendaraan harus berjalan pelan-pelan dan itu menimbulkan kemacetan," ujar Hasanah, salah seorang wisatawan lokal dari Kecamatan Lemahabang Wadas.

Hasanah menyebutkan, kondisi tersebut diperparah oleh perparkiran yang tidak tertata rapi. "Kendaraan yang diparkir menyita badan jalan, sehingga menghalangi laju kendraan lainnya," ujar Hasanah.

Disebutkan, dirinya setiap libur lebaran selalu berkunjung ke Tanjungbaru bersama keluarga. Selain murah, letak objek wisata itu tidak terlalu jauh dari kampung halamannya.

“Tiket masuknya hanya Rp 10.000 saya bersama keluarga bisa berenang sepuasnya di sini,” ujar Hasanah.

Sementara itu, Nurendah, wisatawan asal Bekasi, mengaku datang ke pantai Tanjungbaru karena penasaran dan diajak oleh keluarganya yang bertempat tinggal di Karawang."Kendati jalannya jelek, saya cukup terhibur. Selain bisa berenag di laut, saya juga bisa menikmati ikan bakar dengan harga murah," ujar dia.

Pada kesempatan itu, Endah dan Hasanah mengeluhkan pula adanya oknum pemuda yang memaksa untuk membeli air mineral dengan harga yang tidak wajar dan sedikit memaksa. “Harusnya pengelola pantai bisa mengamankan hal itu, sehingga tidak ada oknum yang memaksa membeli air mineral dengan harga mahal," ujar mereka. (A-106/A-26).***
pikiran-rakyat.com

Friday, August 24, 2012

Matematika Dimulai dengan Permainan Logika

Banyak orang merasa kesulitan menguasai matematika. Pada sebuah program evaluasi murid internasional 2009, Amerika Serikat berada di peringkat 25 untuk penguasaan matematika. Seorang ibu di New Jersey ingin mengubah situasi tersebut, dimulai dengan ritual setiap malam.

Laura Overdeck tumbuh dengan mengenal angka. Ia selalu membantu menimbang bahan-bahan saat ibunya membuat kue, dan ia belajar dari ayahnya, yang senang membuat perkakas kayu di waktu luang. Matematika merupakan mata pelajaran favorit, dan ia mengambil jurusan astrofisika saat kuliah. Overdeck ingin anak-anaknya pandai dalam matematika juga.

“Ketika anak pertama kami berumur sekitar dua tahun, kami mulai memberinya soal matematika setiap malam, selain juga mendongeng sebelum tidur,” ujar Overdeck.

Biasanya yang diberikan adalah soal cerita, dengan subyek binatang, mobil atau permen yang mendorong si balita mengitung di luar kepala atau dengan jarinya. Overdeck mengatakan metode tersebut disukai dalam keluarganya.

“Anak ketiga kami, saat ia berumur dua tahun, berteriak bahwa ia ingin mendapat soal matematika karena ia melihat abang dan kakaknya melakukannya. Kami pikir, ‘Wow, matematika merupakan sesuatu yang menyenangkan di rumah kami, sesuatu yang dinanti sebelum tidur,’” kata Overdeck.

Pada Februari, setelah para kawan mulai memintanya mengirim soal-soal matematika untuk anak-anak mereka, Overdeck meluncurkan situs Internet www.bedtimemathproblem.org dan mengunggah soal matematika untuk anak setiap harinya. Sekarang, ia memiliki lebih dari 5.000 orang dalam daftar surat elektroniknya.

Ayah Oggie Stachelberg adalah pelanggan Bedtime Math. Bagi Oggie, 8, soal matematika adalah permainan yang dinanti setiap malam, dan biasanya dilakukan setelah menyikat gigi.

Soal matematika malam ini dimulai dengan permainan logika mengenai lalu lintas Jumat malam sebelum beralih ke angka. Oggie sudah bersekolah, namun Overdeck senang memperkenalkan angka pada anak-anak sebelum mereka bersekolah.

Apa manfaat mengenalkan matematika pada anak-anak begitu dini?

Profesor psikologi University of Chicago Sian Beilock, yang juga ahli dalam masalah kegelisahan kinerja (performance anxiety), mengatakan bahwa jika pelajaran matematika diberikan lebih dini dengan cara yang menyenangkan dan akrab, lebih sedikit kemungkinan anak-anak akan panik saat mereka masuk sekolah dan menghadapi matematika.

“Anak-anak yang datang ke laboratorium saya menunjukkan bahwa mereka mulai merasa khawatir berhadapan matematika bahkan sejak kelas satu sekolah dasar,” ujar Beilock. “Riset memperlihatkan bahwa semakin sering orangtua menggunakan angka dengan anak-anaknya di setiap kesempatan, seperti ‘Kamu akan mendapat dua kue’ atau ‘Kita akan tidur siang selama 20 menit,’ maka kemampuan matematika anak-anak akan lebih baik di kemudian hari.”

Overdeck mengatakan bahwa ia ingin melihat perubahan budaya dalam matematika. “Anda terbiasa mendengar orang dewasa yang terpelajar sekalipun mengatakan, ‘Saya tidak pandai matematika,’ atau ‘Saya takut matematika.’ Dan itu dianggap sesuatu yang dapat diterima dari seseorang yang terpelajar. Namun Anda tidak pernah mendengar mereka mengatakan, ‘Saya tidak pandai membaca,’” ujar Overdeck.
Ia menambahkan bahwa ia ingin anak-anak dan orangtuanya lancar mengolah angka, seperti mereka lancar membaca buku Dr. Seuss atau Harry Potter.
Minggu, 19/08/2012 - 05:20
Pikiran  rakyat

Thursday, August 23, 2012

Tangkuban Perahu Ditutup, Wisatawan Kecewa

Sejumlah wisatawan yang hendak berwisata ke obyek wisata Gunung Tangkuban Perahu kecewa menyusul adanya pemblokiran jalan itu sebagai buntut konflik antara pedagang dengan pengelola kawasan itu. "Benar-benar kecewa karena tidak bisa berwisata ke Tangkuban Perahu, baru kali ini sampai ada pemblokiran seperti ini. Masalahnya dari dulu juga tidak pernah sampai diblokir seperti ini," kata Hendarsyah, salah seorang wisatawan asal Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (22/8/2012).

Awalnya ia mengira obyek wisata itu sudah dibuka setelah diblokir sejak Senin (20/8/2012), namun kenyataanya hingga Rabu siang masih diblokir.

Tak hanya Hendarsyah, wisatawan lainnya juga kecewa tidak bisa masuk ke Gunung Tangkuban Perahu. Meski tidak ada pengerahan massa dari paguyuban pedagang Gunung Tangkuban Perahu, namun pintu masuk masih bertuliskan ditutup.

Para wisatawan hanya bisa sampai ke pintu gerbang tanpa bisa mendapatkan peluang untuk menuju obyek wisata gunung api itu. Padahal, kata Hendaryah, keluarga besarnya sudah tradisi berwisata ke gunung itu setiap Lebaran.

"Sangat disayangkan, Lebaran yang seharusnya menjadi kedamaian dan bersuka cita, tidak perlu seperti ini. Pemerintah harus turun tangan menangani masalah ini. Hak kami untuk berwisata terampas," kata Taufik (35) salah seorang wisatawan asal Jakarta.

Tak hanya wisatawan lokal yang kecewa, sejumlah wisatawan mancanegara juga tidak bisa masuk. Seperti yang lainnya mereka hanya bisa sampai ke pintu gerbang obyek wisata itu.

Padahal, pada H+3 ini jumlah wisatawan terus meningkat ke kawasan Lembang dan Gunung Tangkuban Parahu. Akibat penutupan itu sebagian wisatawan berbalik arah mencari obyek wisata lain di wilayah Lembang, sebagian lagi melanjutkan perjalanan ke obyek wisata Ciater, Subang.

Akibatnya terjadi kepadatan arus lalu lintas di jalur Lembang-Subang dengan titik kemacetan di kawasan wisata Ciater. Namun demikian, obyek wisata Ciater daya tampungnya tidak sebesar Gunung Tangkuban Perahu, disamping itu akses jalannya sempit.

Buntut aksi penutupan oleh masa pedagang itu, sejumlah petugas kepolisian ditempatkan di pintu gerbang serta di Kantor Pengelola Obyek Wisata PT Graha Rani Putra Persada untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

"Untuk sementara obyek wisata ini masih ditutup, belum ada kesepakatan antara pedagang dengan pengelola obyek wisata ini. Pembicaraan dan negosiasi masih dilakukan, namun tampaknya ada jalan keluarnya," kata Aiptu Suhendi dari Polsek Lembang.
sumber:
http://travel.kompas.com/read/2012/08/22/19262260/Tangkuban.Perahu.Ditutup.Wisatawan.Kecewa

Wednesday, August 22, 2012

Gunung Burangrang



UDARA dingin di Desa Kertawangi terasa begitu menusuk sumsum. Nyanyian burung-burung di pagi hari terasa begitu indah dan harmonis. Puncak Gunung Burangrang masih tertidur diselimuti kabut putih yang menawan. Tampaknya sinar matahari pagi masih enggan memancarkan sinarnya seakan-akan masih terbuai dalam tidurnya.
Wisata alam Gunung Burangrang yang terletak di Desa Kertawangi Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung, tidak pernah sepi dari para wisatawan petualang yang ingin menikmati keindahannya dengan berbagai pesona alam dan misterinya.
Untuk mencapai Gunung Burangrang dapat ditempuh dari berbagai jalur pendakian, misalnya melewati Desa Kertawangi, dari arah Bandung menuju Cihanjuang dengan ongkos Rp 2.000,00.
Kemudian dari Cihanjuang dilanjutkan dengan angkutan mobil Colt warna ungu menuju Parongpong seharga Rp 2.500,00 atau bisa diborong sampai dengan Gerbang Komando seharga Rp 4.000,00 per orang. Dari Pos Komando, kita akan menemukan jalan berbatu sampai Gerbang Militer Kopassus, dari sana belok ke kiri, jangan masuk ke gerbang Militer karena bila masuk akan menuju Situ Lembang, Gunung Sunda, dan Gunung Tangkuban Parahu.
Sepanjang jalan menuju pintu gerbang Situ Lembang akan melewati bukit-bukit yang indah dan cukup menguras tenaga. Masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Burangrang, kebanyakan bertani sayuran dan berternak sapi. Mereka sangat ramah seperti orang-orang Sunda pada umumnya jika menyambut tamu. Jika naik dari Cihanjuang, sepanjang jalan yang dilewati akan dijumpai vila-vila dan perumahan yang indah serta wahana wisata Curug Cimahi yang berada di kaki Gunung Burangrang.
Ada pula cara lain, misalnya berangkat dari Bandung menuju Subang dengan kendaraan bis atau mobil Elf, lalu turun di gerbang Tangkubanparahu yang merupakan objek wisata alam yang cukup terkenal di Jawa Barat. Dari Puncak Gunung Tangkubanparahu, kita menuruni tower Tangkubanparahu menuju Gunung Burangrang dengan terlebih dahulu akan melewati kawah Upas, Domas, Ratu, dan Jurig yang cukup menawan di kawasan Tangkubanparahu.
Saat kami berada di puncak Gunung Burangrang, lambat laun matahari mulai bangkit dari peraduannya dan perlahan-lahan menerangi Desa Kertawangi, sehingga menjadi terang dan cerah. Desa Kertawangi merupakan titik awal pendakian menuju puncak Gunung Burangrang. Walaupun gunung itu tidak terlalu tinggi, kawasan hutan Gunung Burangrang memiliki jenis flora dan fauna yang bervariasi. Kelebatan hutannya pun masih terjaga dengan baik sehingga menarik bagi para petualang alam bebas.
Di samping keindahan alamnya, di kawasan Gunung Burangrang terdapat danau yang cukup besar dan indah bernama Situ Lembang. Situ ini jika terkena sinar matahari akan memantulkan warna pelangi yang memesona. Masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Burangrang memanfaatkan situ (danau) ini untuk memancing, karena di Situ Lembang terdapat berbagai jenis ikan untuk dikonsumsi.
Tepat pukul 8.00 WIB memulai melakukan pendakian dengan tidak lupa mengisi persediaan air yang cukup, karena sumber air di atas sana sulit dijumpai selama perjalanan pendakian. Dengan diiringi doa, kami mulai berangkat menuju puncak Gunung Burangrang.
Suara harmoni burung-burung berkicau masih terdengar saling bersahutan melepas kepergian kami menuju puncak.
Sepanjang jalan pendakian masih didominasi pohon-pohon pinus. Kami melewati bukit-bukit yang menguras banyak tenaga. Sejenak kami beristirahat menghirup udara segar alam Burangrang. Sekali-kali cahaya langit mengintip di balik daun-daun dalam kelebatan hutannya.
Puncak Burangrang dapat ditempuh kurang lebih empat jam pendakian dari Desa Kertawangi. Bila telah tiba di puncak, ada rasa damai, tenteram, serta bahagia, yang seolah-olah menyatu dalam batin. Dari puncak Gunung Burangrang pemandangannya menakjubkan dan tampak awan putih menyelimuti gunung-gunung di sekitarnya. Terlihat pula dengan jelas dari kejauhan Gunung Tangkubanparahu nan elok.
Pemandangan yang tidak kalah menariknya adalah hamparan sawah dan rumah-rumah di sekitar Cisarua serta Situ Lembang yang terlihat begitu indah dan menawan. Matahari naik semakin tinggi. Waktu telah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Kami memutuskan untuk turun kembali menuju Desa Kertawangi yang merupakan titik awal pendakian. (Imam Syarifuddin)***

Tuesday, August 21, 2012

Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia

Wajah (Intelektual) Islam Indonesia
DISADARI atau tidak wajah Islam Indonesia memang unik dan sangat diperanguhi khazanah budaya setempat. Ini yang diakui oleh Clifford Geertz yang membandingkan Islam di Indonesia dengan Maroko. Hasilnya membuktikan adanya pengaruh budaya dalam memahami Islam. Untuk Indonesia Islam menjelma menjadi suatu agama yang sinkretik dan Maroko Islam mempunyai sifat yang agresif dan penuh gairah. Tentunya, perbedaan penampilan agama ini menunjukkan betapa realitas keyakinan sangat erat kaitanya dengan budaya (lingkungan) lokal.

Dalam buku "Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia" keragaman wajah Islam Indonesia bisa dilihat sekaligus dibedakan antara masuk dan pengaruh Islam Indonesia. Pertama, teori Arab Islam dibawa dan disebarkan ke Nusantara langsung dari Arab pada abad ke 7/8 saat kerajaan Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya. Tokoh-tokoh teori ini Crawfurd, Keijzer, Niemann, Dehollandrr, Hasim, Hamka, Al-Alatas, Jajadiningrat, Mukti Ali, J.C Panler, T.W Arnold (h. 4-6). Kedua, teori Cina, etnik Tionghoa muslim sangat berperan dalam proses penyebaran Islam nusantara. Ceng Ho kaisar Cina muslim dari dinas Timing yang melakukan ekspedisi maritim selama 48 tahun (h. 6-8). Ketiga, teori Persia menuju pada bukti-bukti sejarah adanya pengaruh Persia pada abad ke-11. Salah satu bukti pengaruh kitab Ajaib Al-Hin, yang ditulis oleh Buzurg Bin Sariar Al-Ramhurmuzi sekitar tahu 390/ 1000. (hal. 8-9). Keempat, teori India pada adab ke-13 yang berasal dari Guzarat, Cambay, Malabar, Koromandel, dan Bengal. Pendukungnya Piznapel, Snouck Hurgronj, Moqtte, Marrison, Fatimi, Kern, Winsted, Pelekke, Gonad, Halchrieke (hal. 9-10). Kelima, teori Turki islamisasi lain di ajukan oleh Martin Van Bruinesen yang di islamkan oleh orang-orang Kurdi. Kitab Tanwir Al-Kulub adalah karangan Muhammad Amin Al-Kurdi popular di kalangan Tarekat Naksabandiyah. Kedua tradisi barjanji popular di Indonesia dibacakan setiap Maulud Nabi (hal. 10-11).

Menariknya karakter dan presentasi Islam di Nusantara itu menunjukan bahwa tradisi keislaman itu tidaklah monolitik. Dunia Islam adalah sebuah konfigurasi berbagai kelompok etnis, tradisi, kebudayaan, struktur masyarakat, sistem politik, khazanah pemikiran dan seterusnya. Ketika masing-masing unsur dalam konfigurasi ini menampilkan mozaik budaya berbasis perjalanan sejarahnya sendiri-sendiri (historical track line) dalam sebuah (kawasan) bangsa Muslim, saat yang sama ia sedang mempresentasikan dirinya di atas panggung drama sejarah. Presentasi yang menampilkan unsur-unsur kekhasan sebuah (komunitas) bangsa harus difahami dengan baik. (hal.ix).

Ini yang disayangkan oleh Yudi Latif dalam Kata Pengantar buku ini. Masalahnya, presentasi sering ditampilkan tidak utuh atau tidak akurat karena dua hal: Pertama, keterbatasan bahasa mewakili semua denyut nafas kehidupan, kedua, presentasi diwakili oleh hanya satu atau beberapa orang pembicara. Mereka adalah kelompok elit intelektual yang menjadi juru bicara atau nara sumber yang menjelaskan masyarakatnya. Panggung kehidupan yang banyak nuansa dan berjuta warna sering terlalu luas dari apa yang mampu dijelaskan oleh sekelompok kecil elit intelektual. Dari sini, pertanyaan muncul dari laci ingatan, apakah penggambaran masyarakat oleh kaum intelektual seperti terekspresikan dalam wacana arus utama, polemik di media massa dan tumpukan rak-rak literatur benar-benar absah merepresentasikan realitas yang sesungguhnya? Sejauh mana kaum intelektual cukup objektif merepresentasikan masyarakatnya? Seperti diingatkan Wilfred Cantwell Smith, sejauh mana publik yang dijadikan objek wacana "mengaminkan" pandangan-pandangan kelompok elit yang menyuguhkan penggambaran tentang diri mereka? Jawaban pertanyaan ini berkaitan dengan "siapa mewakili siapa."

Sebagai zoon politicon yang dibesarkan dalam kultur, struktur sosial dan relasi-relasi kuasa yang tidak sama satu sama lain, kaum intelektual pada kenyataannya hidup dalam blok historisnya sendiri-sendiri. Parahnya, apabila presenter itu adalah kaum intelektual komprador yang mengusung ideologi partisan dan terjebak pada pengkhianatan fungsi dirinya. Tak mengherankan bila presentasi kaum intelektual sering hanya merupakan ekspresi kepentingan kelompok yang digelayuti nafsu vested-interest terutama ketika mereka berada dalam konflik atau polemik dengan lawan-lawannya. Presentasi kaum intelektual semakin tidak utuh dan tidak representatif menggambarkan masyarakatnya. Inilah yang sering menyebabkan deskripsi-deskripsi teoritis kaum intelektual atau cendekiawan sebuah masyarakat sering jauh berbeda dengan realitas dalam masyarakat. (hal. x).

Membaca buku ini akan menambah wawasan kita yang berusaha menjelaskan dan mendiskusikan tema-tema keislaman Indonesia dalam ragam persoalan (proses Islamisasi, peranan ulama dalam sejarah, kelas menengah Muslim, sekularisasi, pluralisme, terorisme, Islam liberal, pornografi) dan melihatnya dari berbagai sisi (sejarah, sosial, politik, psikologis dan budaya).

Pembahasannya tematis, variatif, deskriptif, informatif, orisinal dan berusaha mengkritisi persoalan-persoalan psikososial yang menjadi diskursus publik. Selamat membaca!
(Ibnu Ghifarie, mahasiswa Pascasarjana UIN SGD Bandung Program Religious Studies dan peneliti Academia for Religion and Social Studies (ARaSS) Bandung)**
Galamedia
kamis, 28 juni 2012 01:13 WIB

Sunday, August 19, 2012

Kematian di Mata Muhammad Damm

Kematian (Sebuah Risalah tentang Eksistensi dan Ketiadaan)
APA yang terlintas dalam pikiran kita ketika mendengar kata kematian? Takut, ngeri, sakit, berbagai perasaan, dan imajinasi lain yang terkait horor serta penghentian kesenangan akan terlintas dalam benak kita. Bagaiamana reaksi orang lain terhadap kematian? Takut, sedih, ngeri, atau sebaliknya, gembira? Kita dapat mengalami perasaan yang berbeda ketika menghadapi sebuah peristiwa kematian. Sebaliknya, kita juga dapat melihat bagaimana beragamnya reaksi orang lain dalam menghadapi sebuah peristiwa kematian. Di layar kaca, kita menghadapi kesedihan keluarga seorang publik figur, tetapi dalam kali yang sama kita juga melihat atau terhenyak menyaksikan kegembiraan rakyat atas kematian sang publik figur itu. Memang, kematian kebanyakan dianggap sebagai hal yang menakutkan dan mengerikan karena akan memutuskan seseorang dengan segala aktivitas duniawi. Tinggal di dunia lain, barzah, yang belum dikenal menimbulkan rasa ngeri yang terkadang berlebihan. Terlebih jika sang individu tidak mendapatkan bekal religi yang cukup sebelumnya.

Damm dalam bukunya tersebut ingin mengajak manusia dengan menelusuri pembekalan ala filsafat untuk bersiap diri dalam menghadapi kematian. Buku yang terdiri atas enam bab. Pada bab 1, Damm mengatakan bahwa eksistensi, sosial, dan bahasa harus muncul dalam waktu bersamaan (hlm. xxiii). Ketiga hal itu tidak mungkin berpisah, sebaliknya saling melengkapi. Damm mengatakan bahwa manusia adalah sebuah eksistensi. Aspek sosial, menurut Damm, merujuk pada struktur kehidupan yang muncul sebagai pelampauan manusia sebagai sebuah eksistensi. Sementara itu, bahasa merupakan sistem tanda. Ketiga unsur itulah yang membuat manusia eksis sebagai sebuah eksistensi.

Pada bab 2, Damm menguraikan tentang kebenaran, keputusan, dan otensitas. Otensitas, menurut Damm, adalah sebentuk pencapaian dari seseorang yang selalu memperbarui dirinya melalui penciptaan kebenaran, dan penciptaan kebenaran selalu didahului keputusan eksistensial. Dalam bab 2 tersebut, Damm lebih menitik beratkan pada aspek manusia dengan fokus agensi dalam konstruksi dunia manusia.

Pada bab 3, Damm memaparkan hadirnya kematian di dalam dunia manusia. Damm mengusung teori Epikurus, Immanuel Kant, dan Ludwig Wittgenstein. Menurut Damm, beberapa nama yang disebut menganggap bahwa tidak pernah ada tempat bagi kematian karena kematian tidak bisa ada dalam dunia-dunia mereka. Damm membandingkan pendapat kaum Nasrani pada Abad Pertengahan yang menganggap bahwa kematian dibicarakan bukan karena kematian itu nyata, tetapi karena Tuhan itu ada.

Pada bab 4, Damm membicarakan masalah imortalitas. Inti dari pembahasan Damm pada bab itu adalah kemungkinan dan ketidakmungkinan manusia untuk mengeliminasi kematin dan menjadi abadi. Bagi Damm, imortalitas adalah bias dari cara kematian hadir di dalam dunia manusia. Pada bab 5 dan bab 6, Damm memberikan paparan pelampauan atas ulasan bab sebelumnya. Pada bab 5, Damm mengaitkan kematian dengan perayaan kematian. Di dalam masyarakat kita perayaan kematian masih banyak dilakukan, yaitu berupa upacara atau ritual lain yang dilakukan jika seseorang sebagai anggota kelompok masyarakat meninggal dunia. Perayaan tersebut pada hakikatnya bukan sekadar penghamburan materi atas si mati, melainkan sarana pembelajaran bagi kita "si hidup" untuk meyakini bahwa kematian merupakan bagian dari eksistensi kita sebagai manusia.

Bab 6 merupakan sarana Damm untuk memberikan "pencerahan" khusus kepada pembaca tentang bunuh diri. Bunuh diri, menurut Damm, merupakan tanda bahwa ada kesalahan dalam kehidupan, bukan hanya pada titik pelakunya melainkan pada kehidupan yang ia tinggali. Damm mengeksplorasi kondisi yang termanifestasikan dalam peristiwa bunuh diri. Buku ini layak dibaca sebagai sarana pembelajaran yang tepat untuk menangkap makna tentang kematian. Apa dan bagaimana kematian itu layak dihadapi.
(Resti Nurfaidah, Staf Teknis Balai Bahasa Bandung)**
Galamedia
kamis, 05 juli 2012 01:34 WIB

Saturday, August 18, 2012

Playing God; Bertindak Seolah Tuhan

KADANGKALA dalam kehidupan sehari-hari, tanpa sadar kita banyak mengambil alih peran Tuhan. Kehidupan diri sendiri, keluarga, dan orang lain ditentukan dengan mengambil sebuah keputusan. Entah itu persoalan kerja, misalnya, dengan mem-PHK karyawan atau memutuskan keluar dari pekerjaan.

Keputusan tersebut tentunya akan berdampak pada kehidupan kita dan orang lain. Pun yang kerap terjadi di dunia kedokteran. Keputusan-keputusan penting yang menyangkut nyawa dan kehidupan, ditentukan dari meja seorang dokter. Inilah yang disebut dengan bertindak seolah Tuhan (Playing God), yang tentunya bukan monopoli profesi dokter an sich.

Tetapi yang terjadi banyak menimpa profesi dokter, yang secara intensif berdekatan dengan soal hidup dan mati. Ketika seorang pasien menderita penyakit kronis dan katastropik (mengancam nyawa) dengan jumlah yang mencapai ratusan ribu, selalu saja ada wacana euthanasia. Dalam posisi demikian, seorang dokter membutuhkan kekuatan spiritual yang kuat untuk memutuskan melakukannya atau menolak. Tetapi, praktik euthanasia di Indonesia dilarang secara tegas seperti tercantum dalam Pasal 344 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, "Barangsiapa menghilangkan nyawa orang lain

atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkan dengan nyata dan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun." (halaman 57).

Euthanasia secara terminologis berarti pencabutan nyawa seseorang dengan cara yang baik dan terhormat (death with dignity) yang dilakukan atas permintaan orang tersebut. Istilah ini, berasal dari bahasa Latin "eu" yang artinya baik dan "thanatos" yang berarti kematian. Di Indonesia, malah sering terjadi apa yang disebutkan penulis buku ini, dr Rully Roesli, dengan euthanasikon. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan bahwa yang menyebabkan seorang pasien bukan didasarkan kondisi penyakit yang parah; melainkan disebabkan kondisi sosial ekonomi yang serba terbatas.

Pelayanan kesehatan di Indonesia memang mengkhawatirkan hingga lahir istilah, "Sadikin" (yang sakit jadi miskin). Inilah yang membuat Rully Roesli menyuarakan keprihatinannya sebagai seorang dokter melalui buku ini. Dengan mahalnya biaya pengobatan mengharuskan dia bertindak seolah Tuhan yang sering menentukan siapa yang hidup dan siapa yang mati.

Penulis buku ini ialah salah satu cucu seorang pengarang besar roman Siti Nurbaya, Marah Roesli, dan kakak dari seniman besar Kota Bandung, Harry Roesli. Pria kelahiran Solo, 23 Juli 1948 ini bernama Rully Marsis Amirullah Roesli (RMAR), seorang Guru Besar kedokteran FK UNPAD. Ia merupakan dokter spesialis penyakit dalam, yang banyak bergulat dengan penyakit-penyakit berbahaya dan merenggut nyawa pasien. Di klinik tempat prakteknya, RSKG Habibie, ia banyak mendapatkan sebuah pengalaman berharga ikhwal penentuan keputusan bagi pasien. Setiap hari Jumat, ia memimpinrapat untuk menentukan siapa saja pasien yang berhak mendapatkan cuci darah gratis.

Pengalamannya selama menjalankan aktivitas mulia memberikan pengobatan kepada pasien miskin, dituangkan ke dalam buku pejal dan sederhana ini. Bahasa tuturnya sangat memukau pembaca. Kesukaannya pada seni musik, disinyalir membuatnya memilih judul "Playing God" yang mirip dengan salah satu judul lagu dalam album Band Rock dari luar negeri, Megadeath. Buku setebal 198 halaman ini memadukan spiritualitas agama, ilmu kedokteran, pengalaman, dan bagaiaman peran etika medik yang harus dipegang teguh seorang dokter.

Setidak-tidaknya, topik utama buku "Playing God" terbagi ke dalam lima topik. Pertama, membahas tentang keputusan penting yang dapat memengaruhi kehidupan orang lain. Pembahasannya yang dilengkapi dengan eksplorasi pengalaman dan data-data, ditambah teks-teks keagamaan semakin menarik untuk dibaca halaman demi halaman. Di dalam bab pertama ini, porsi bahasan tentang euthanasia dan euthanasikon mendapat perhatian lebih, karena berkaitan dengan sebuah pengambilan keputusan tentang kehidupan orang lain.

Kedua, topik pembahasannya diarahkan pada bagaimana pengambilan keputusan penting yang bisa mengakibatkan pengaruh besar bagi diri sendiri. Di dalam bab ini, kita dapat menemukan bagaimana pertarungan seorang dokter ketika hendak mengambil keputusan bagi kehidupan orang lain dan berdampak pada diri sendiri. Betapa tidak, jiwanya tersentuh ketika melihat ketidakberdayaan ekonomi yang menimpa pasien, warga, dan orang-orang di lingkungannya. Situasi ini mengakibatkan ia harus berani memutuskan untuk menolong atau tidak.

Ketiga, topiknya berkutat pada pengalaman-pengalaman yang menyadarkan kita bahwa dibalik keputusan penting yang berdampak pada orang lain dan diri sendiri itu, ada peran kuat Tuhan yang tak bisa dibantah lagi. Sementara, pada bagian keempat buku ini, kita diajak untuk mengenal sosok personal seorang dokter, yang posisinya sederajat dengan manusia lain. Seorang dokter bisa juga sakit, bisa juga sedih, bisa juga tidak seperti dewa, dan membutuhkan kekuatan spiritual kuat dalam menghadapi liku kehidupan.

Terakhir, pada bagian kelima buku ini kita akan mendapatkan sebuah kekuatan spiritual ikhwal makna dibalik kematian; yang kadang-kadang tidak mampu diprediksi dengan ilmu pengetahuan. Buku ini, bukan hanya untuk mahasiswa kedokteran; melainkan setiap individu pantas membacanya dikarenakan isinya yang menyatukan antara ilmu pengetahuan, spiritualitas, doktrin Islam, dan pengalaman Rully Roesli yang dikemasnya dalam bahasa sastrawi. Selamat menikmati buku ini untuk membuka wawasan Anda tentang makna kematian, etika medik, spiritualitas, dan moralitas yang dihasilkan ajaran Islam.
(Sukron Abdillah, publisis Penerbit Mizan, Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung)**
Galamedia
kamis, 14 juni 2012 01:03 WIB