-
Showing posts with label carita sunda. Show all posts
Showing posts with label carita sunda. Show all posts

Saturday, January 21, 2012

Membedah Bukit Culah

Membabat Ilalang Mencari Secercah Harapan
KISAH ini dialami oleh Aan Kardian warga Desa Pakutandang Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung. Selepas SMA ia berniat untuk memberdayakan Bukit Culah -- sebuah bukit yang berada di sebelah barat kampungnya-- menjadi kawasan pertanian holtikultura, hutan lindung serta kawasan wisata alam. Di mata Aan, Bukit Culah tak ubahnya sebuah harta karun yang bisa mendongkrak tarap hidup masyarakat, asal ada kemauan dan dorongan pemerintah daerah. Aan pun naik gunung meski harus menyusuri jalan setapak yang berkelok dan terjal. Berikut kisahnya yang ditulis Denny Kurniadi.

MENGINJAK usia remaja Aan mengaku sering berkeluh kesah. "Apa yang harus dilakukan demi mempertahankan hidup dan juga masa depan?" gumannya. Seolah protes terhadap kondisi yang menyulitkan dirinya untuk memiliki pekerjaan.

Namun, Aan tak mau merengek atau jadi pemuda cengeng yang hanya berharap diberi lapangan kerja. Ia pun berpikir untuk hidup mandiri membuka lapangan kerja sendiri. Tentu tak semudah membalikan telapak tangan. Banyak rintangan yang harus dihadapi, terutama kendala yang muncul dari dirinya sendiri yaitu sifat malas.

Aan sadar akan itu. Ia lantas bangkit menghibaskan rasa malas itu. Tekadnya bulat untuk terus menapakkan kakinya di atas rumput ilalang seraya menatap mentari pagi. Barangkali masih ada secercah cahaya demi hidupnya di masa depan.

"Aku harus berkarya dan menghasilkan sesuatu baik bagiku juga bagi orang lain," ujarnya pada dirinya sendiri.

Kata orang, membuka usaha sendiri butuh ilmu dan modal finansial. Betulkah? Tidak selalu, kata Aan. Apakah artinya modal kalau tak diiringi motivasi kuat yang tertanam dalam diri. Menurutnya, finansial memang perlu, juga ilmu pengetahuan. Tapi hal itu akan sia-sia jika jiwa kita masih terbelenggu rasa malas untuk berkarya.

Kata-kata itu tak mau hanya sekadar ucapan. Aan ingin membuktikannya dan akhirnya cukup berhasil. Berkat keuletan dan semangat membara, Aan mampu membedah bukit Culah yang berada di sebelah barat kampungnya. Bukit yang semula hanya ditumbuhi ilalang dan pohon-pohon liar, dalam waktu kurang dari setahun sudah berganti wajah menjadi sebuah perkebunan yang menjanjikan.

Semula Aan memang hanya memiliki dua kotak sawah peninggalan almarhum ayahnya. Tentu saja untuk hidup keluarga tidaklah cukup. Panen padi empat bulan sekali itu hanya mampu untuk bekal makan dan menutupi kebutuhan lainnya sebulan saja. Oleh karena itu Aan mencoba untuk menggarap tanah bukit yang sering ia tatap saat senja hari.

Ia lantas berbicara banyak tentang Bukit Culah dengan Kepala Desa Pakutandang, Deni Daryanto, yang dikenal orang memiliki kepedulian sosial tinggi. Niat untuk mengambil tanah garapan di Bukit Culah itu dikabulkan Pak Kades. 700 tumbak lahan pun diserahkan jadi tanggungjawab Aan.

"Silahkan saja garap, jadikan lahan itu sebagai pengaman bahaya longsor dan erosi," ujar Pak Kades.

Semangat Aan makin membara. Ia berpikir bukit yang masih perawan itu tidak hanya bisa dijadikan bekal hidup, tapi lebih dari itu juga patut untuk dipelihara agar lestari. Ada tanggungjawab moral dari Aan untuk lingkungannya.

Lantas, apa yang harus ditanam di bukit itu? Muncul gagasan brilian. Aan tidak mau hanya berpikir untuk menanam sekadar kacang panjang, ketela pohon, atau cabe kriting. Ia berniat untuk menanam kayu-kayu besar seperti jati dan albasiah.

Nasib mujur diraih Aan. Pemerintah Kabupaten Bandung di awal tahun 2010 gencar menyukseskan program Gerakan Reboisasi Lahan dan Hutan (GRLH). Aan mencoba menindaklanjuti program yang patut didukung masyarakat itu. Ia menyodorkan gagasan meminta bibit albasiah untuk ditanam di bukit garapannya.

Seribu bibit albasiah pun ia terima. Namun, bukan didapat secara cuma-cuma. Bibit itu Aan beli seharga Rp 1.000 per batang/bibit. Kemudian ia berjalan naik turun bukit menanam dan memelihara bibit albasiah itu. Sekarang pohon albasiah itu sudah tumbuh besar mengelilingi bukit Culah.

Selain albasiah, juga ditanam pohon jati merah, dan tangkil. Pohon itu, kata Aan, cukup kuat menahan erosi. Tumbuhan lain yang bisa ditemukan di kebun Aan adalah sayuran seperti bayam, kacang panjang, saladah bokor, cabe keriting dan juga singkong sebagai tanaman psela.

Matahari sudah mulai bergera ke ufuk barat mengintip dari balik puncak gunung. Seolah-olah ingin mengungkapkan rasa bangganya terhadap anak manusia yang kini berdiri tegak di atas bukit dengan dada merekah.

Menembus Mitos Mistis Ramo Giling
SEBELUMNYA diceritakan Aan Kardian warga Desa Pakutandang Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung mencoba mencari aktivitas produktif dengan cara mengolah Bukit Culah. Orang-orang sempat mencibir dan menganggap Aan "gila" karena bukit tersebut masih perawan. Aan tak peduli anggapan orang orang lain. Ia pegang teguh tekadnya. Setelah mendapat izin dari kepala desa Aan pun membuka bukit. Lahan itu ditanami kayu jati dan albasiah. Sukseskah impiannya itu? Inilah lanjutan kisahnya yang ditulis Denny Kurniadi. Semoga bermanfaat.

OBSESI lain yang ada dalam benak Aan adalah ingin mengubah wajah Bukit Culah tidak sekadar sebagai kawasan perkebunan rakyat, tapi juga cocok untuk dijadikan obyek wisata. Pasalnya, Bukit Culah selain memiliki panorama yang indah juga akses jalannya tidak sulit. Dari jalan raya Pacet mudah dijangkau dengan berjalan kaki sepanjang 500 meter. Namun, di balik itu semua siapa sangka kalau Bukit Culah menyimpan cerita mistis yang cukup menyeramkan.

Seperti hari-hari sebelumnya, saat matahari mulai terasa hangat, Aan berjalan menyusuri jalan setapak menuju kaki Bukit Culah. Ransel hitam berisi bungkusan nasi dan lauk pauk seadanya serta sarung dan sajadah, ia gendong di punggungnya. Di pinggangnya terselip "Si Leunyay", sebilah golok panjang dan runcing miliknya. Cangkul pun ia kaitkan di pundaknya.

Hari itu Aan berniat menanam dua puluh batang bibit albasiah, sisa hari kemarin. Bibit itu akan ditanam di blok bukit yang lumayan melelahkan. Pasalnya, Aan harus naik gunung sekitar 200 meter. Sebuah lokasi yang masih rindang dengan ilalang, pohon bambu dan pohon-pohon besar berusia ratusan tahun.

Aan tahu blok bukit itu masih angker. Gelap dan menyeramkan. Kata orang, di blok bukit yang dinamakan Ramo Giling itu sering terjadi hal-hal gaib berbau mistis. Tak hanya suara-suara tanpa wujud yang kerap didengar orang, tapi juga bayangan-bayangan hitam yang menyeramkan seperti genderewo, iprit, dan dedemit sering muncul meski hanya sepintas saja.

Tapi itu dulu, kata Aan, sekarang entahlah, apakah masih sering muncul atau tidak, yang pasti mitos tentang Ramo Giling masih sering dibicarakan banyak orang. "Mudah-mudahan aku tak mengalami hal-hal yang menakutkan itu," ujar Aan dalam hatinya.

Awalnya, Aan memang ragu untuk berangkat sendiri ke blok bukit itu. Bahkan ia sempat membayangkan bagaimana kalau fenomena mistis itu terjadi, apa yang harus dilakukan. Lari atau malah berani mengusirnya? Semuanya berpulang pada keberanian Aan.

Namun, akhirnya Aan memutuskan untuk berangkat saja sendirian dan akan menghadapi apa pun yang terjadi nanti di sana. Aan berpikir kenapa harus takut pada jin dan dedemit? Toh manusia lebih mulia ketimbang mereka. "Justru mereka harus takluk di tanganku," ujar Aan penuh semangat.

Tepat jam sembilan, Aan melangkaha menapaki bukit. Perlahan tapi pasti. Kedua kakinya tanpa ragu menyusuri jalan terjal dan berliku. Ranting dan dedaunan yang menghalangi langkahnya ia hibas dengan golok "Si Leunyay". Sesekali ia harus berpapasan dengan ular sebesar tanganya. Aan hanya sedikit terkejut dan membiarkan ular itu melintas di hadapannya.

Aan kembali melangkahkan kakinya dengan napas yang ngos-ngosan. Keringat pun perlahan membasahi baju kampret hitamnya. Namun, rasa lelah itu bagi Aan justru jadi motivasi yang kuat untuk terus berjalan menaklukan bukit nan lebat itu.

Akhirnya, Aan sampai juga di sebuah tegalan tanah datar yang dipenuhi rumput-rumput liar dikelilingi pohon-pohon tinggi dan besar sebesar perut kerbau. Bahkan, di antara pepohonan itu ada satu pohon yang lebih besar dengan ranting dan dedaunan yang sangat lebat. Saking lebatnya sinar matahari tak bisa tembus, sehingga tegalan Ramo Giling itu gelap dan hanya diterangi titik-titik cahaya dari balik dedaunan.

Aan tahu bahwa saat itu ia sudah berada di blok Ramo Giling tempat yang ia tuju. Ia pun rehat, duduk di atas sebuah batu di sudut tegalan itu. Matanya nanar menatap sekeliling tegalan. Beberapa ekor burung sesekali terbang berpindah tempat dari satu dahan ke dahan lain sembari bersiul melantunkan irama alam yang merdu.

Saat itu Aan sangat merasakan betapa indahnya alam, betapa agungnya ciptaan Allah. Rasa cinta Aan tehadap alam pun semakin tumbuh dalam jiwanya. Aan berpendapat, harus ada harmoni antara alam dengan manusia. Karena keduanya saling membutuhkan. Hanya manusia gila yang tega merusak dan membabat alam tanpa tanggungjawab.

"Bagaimana mungkin manusia bisa merusak hutan. Padahal manusia sendiri membutuhkannya. Manusia tidak bisa hidup tanpa hutan, tanpa daun-daun, tanpa pepohonan, dan tanpa air yang mengalir dari akar-akarnya," ujar Aan. Bicara sendiri sambil menghela napas.

Bermimpi Berkelahi dengan Ular Sanca Besar
SEBELUMNYA diceritakan, Aan sudah sampai di Ramo Giling, sebuah lokasi yang selama ini diyakini masyarakat sebagai tempat yang berbau mistik. Padahal di tempat itu Aan ingin menanam Albasiah. Ia berpikir tempat itu pasti sangat subur dan cocok untuk kayu tersebut. Tekadnya yang kuat membawanya ke tempat itu dan ia menyaksikan betapa indahnya hutan tersebut. Aroma dan nyanyian alam menebar lalu menyusup ke dalam jiwanya. Ungkapan syukur pun keluar dari bibirnya. Benarkah tempat itu angker? Inilah akhir kisahnya yang ditulis oleh Denny Kurniadi. Semoga membawa hikmah.

DUA puluh bibit albasiah belum juga Aan tanam. Padahal, sudah hampir satu jam ia berada di tegalan itu. Aan malah bersantai duduk di atas sebuah batu di bawah rimbunan pohon beringin. Ia sangat menikmati sejuknya angin semilir. Aan memang kelelahan setelah berjalan menaiki tanjakan dari kaki bukit.

Nasi bungkus ia keluarkan dari ranselnya. Lalu ia makan dengan lahapnya. Tak biasanya Aan makan senikmat ini. Padahal, hanya dengan ikan asin, sambal, dan goreng jengkol. Tapi, nikmatnya luar biasa,kata Aan seraya meneguk air mineral hingga habis.

Hanya berselang beberapa menit saja setelah makan, Aan merasakan kantuk yang tiada tara. Ia pun tertidur tanpa takut ada binatang buas memangsanya atau terguling ke bawah bukit. Aan ngorok dan membiarkan bibit albasiah menunggunya untuk ditanam.

Aan pun bermimpi meneruskan pekerjaannya. Ketika Aan sedang menanam satu dua bibit albasiah, tiba-tiba ia mendengar suara desahan yang cukup kuat dari balik semak. Aan terkejut, ia tahu suara desahan itu adalah suara ular. Aan bersiap-siap mengambil golok dan cangkul. Pikirnya, jika ular itu menyerang akan ditebas dengan golok dan cangkulnya.

Benar saja, ketika Aan bersiap menyambut kedatangan ular, seekor ular sanca sebesar gulungan kasur muncul dari semak sebelah kirinya. Kepala ular menengadah dalam posisi siap mematuk mangsa. Aan kaget sekaget-kagetnya, nyalinya ciut ketika melihat begitu besarnya ular sanca itu. Tadinya ia berpikir paling sebesar pergelangan kaki sehingga bisa dengan mudah disabet golok. Tapi, ketika mendapati ukuran yang sangat besar, Aan jadi berpikir dua kali. Tak ada lagi jalan kecuali lari tunggang langgang.

Namun, seolah tak punya kesempatan untuk melarikan diri. Pasalnya, ular sanca itu sudah berada di hadapannya. Mau tidak mau Aan harus melawannya. Anehnya, golok dan cangkul yang sedari tadi berada dalam genggamannya, tiba-tba menghilang di tangannya. Raib entah ke mana. Mungkin terlempar saat ia kaget. Karuan saja Aan jadi bingung, bagaimana mungkin berkelahi dengan ular sanca besar dengan tangan kosong. Secepat kilat Aan meraih ranting pohon beringin yang tergolek di sisinya. Ranting itu digunakan laksana pedang dengan maksud untuk menghantam kepala ular jika ia akan memangsanya.

Aan bergulat dengan ular sanca sebesar gulungan kasur itu. Sebuah pergumulan yang tentu saja tidak seimbang. Aan lebih sering terbanting dan terjerembab ke tanah ketimbang ular itu yang tetap tegar dalam posisinya. Namun, Aan tak mau menyerah begitu saja. Jatuh bangun ia melawan sang ular, hingga akhirnya ular itu pergi begitu saja meninggalkan Aan yang ngos-ngosan. Saat bangun tubuh yang sudah basah kuyup bermandi keringat. Ia segera menghela napas panjang dan mengusap wajahnya seraya beristigfar.

Aan segera menggali tanah beberapa lubang untuk kemudian ditanami bibit albasiah. Aan terus berpikir kenapa ia bermimpi berkelahi dengan ular sanca, apakah karena dipengaruhi oleh suasana yang menyeramkan? Mimpi yang sebelumnya tak pernah ia alami.

Selesai menanam bibit albasiah, Aan bergegas meninggalkan lokasi. Namun, baru saja beberapa langkah turun gunung, Aan mendengar dengan jelas suara-suara aneh seperti suara tangisan seorang perempuan dan aungan srigala. Rasa takut menyelimuti perasaan Aan, maka ia mempercepat langkahnya, setengah berlari.

Tak lama kemudian Aan sampai di kaki bukit. Langit sudah terlihat gelap dan sayup-sayup terdengar suara azan magrib. Aan baru sadar bahwa ia seharian berada di blok bukit tadi. Padahal, untuk sekadar menanam bibit albasiah biasanya paling lama hanya dua jam saja. Tapi kenapa harus seharian. Aan pun merasa hanya tidur beberapa menit, namun ternyata seharian. Sebuah keganjilan yang tak pernah dimengerti oleh Aan.

Namun, yang jelas selama berada di blok bukit itu Aan kerap mendengar hal-hal aneh, seperti suara-suara perempuan dan binatang juga bayangan-bayangan hitam berukuran raksasa. Aan tidak tahu apakah itu benar-benar nyata atau hanya halusina saja. Demikian pula soal mimpinya, Aan masih bertanya-tanya apakah berkelahi dengan ular sebesar gulungan kasur benar-benar mimpi atau nyata? Walahualam. Yang jelas ia tetap bekerja menanam pohon dan sayuran untuk menyongsong masa depannya yang lebih baik. **

Sunday, January 01, 2012

Hitut (Bekok)


Motto Minggu Inih: “Nuju Strèss Mah Ngeunahna Nyieun Carita…….”

BAB I: PENDAHULUAN

Saumur hirup kuring can manggihan aya jelema mènta hampura kana calana sorangan. Sok wè pikir, sabaraha kali urang kabèh hitut makè calana, boh di warteg, di mobil atawa luhureun kasur; pèdah we teu bèja-bèja. Lamun di bèja-bèja gè cenah moal abus tivi, moal ujug-ujug beunghar. Logis ogè sih, tapi rada sinis.


Bèda deui jeung si Abud, sobat kuring baheula di SD. Keur diajar ogè manèhna mah sok bèbèja lamun hitut tèh ka guruna. Sok ngacung. Barudak di kelasna sok langsung nyurakan. Guru Pepekaen ngambek bari ngagebrag mèja lantaran ngarasa ngajarna kaganggu. Jep barudak jempè kawas gaang katincak.

“Naha manèh sok hitut di kelas?” guruna nanya bari kekerot.
“Ah, Pak, barudak gè sok hitut. Pèdah wè tara ngacung, tara bèbèja. Lumrah wè atuh hitut mah, Pak, da teu ngarusak lapisan ozon, teu nambah pemanasan global. Lamun…”

“Tapi ngarusak stabilitas sosial!” guruna motong omongan bari ngagebrag mèja deui. Si Mae nu diuk hareupeun si Abud ceurik bakating ku reuwas. Si Somad kiih sauetik bakating ku soak.

“Ah, Pak Guru gè ngarusak sakitar, èta wè sok ngaroko nuju ngajar.” Si Abud nèmbal sangeunahna, lèbèr wawanèn, wanian pisan èta jalu. Puguh wè guruna kasinggung, asa disapirakeun ku budak satepak. Antukna mah si Abud disetrap nangtung ku hiji suku di hareup kelas, nepi ka jam balik. Ti harita, si Abud di landian “si Raja Hitut” ku barudak di kelas. Manèhna mah sok nyengir ngadèngèna. Katelah kitu tèh lain pèdah hitut hungkul, pangpangna mah bèbèja waè saban rèngsè hitut. Saliwat mah asa agul ku hitut. Tapi sok sanajan ayeuna geus gedè, si Abud masih kènèh dipoyok “si Raja Hitut” ku kabèh babaturanna di lembur.

BAB II: PEMBAHASAN

Bèda ayeuna mah geus gedè, caritana geus jadi mahasiswa, si Abud sok rada baeud lamun dipoyok si Raja Hitut. Tapi ari polos sok bèbèja hitut mah masih kènèh nepi ayeuna ogè. Ceuk indungna mah, lamun pareng dipoyok kitu, di imah si Abud sok teu nafsu dahar. Tapi sok mènta duit gedè. Si Abud sok baeud lila, keuheul cenah ka barudak sok moyok waè.

Tapi kuring sok langsung ngupahan lamun pareng si Abud dipoyok barudak. Kuring sok nyarita yèn kuring gè sok dipoyok “si jomblo” ku barudak. Tapi kuring mah tara ngambek, sok sabar, sok ngahibur diri. Kuring mah jomblo gè jomblo profetik. Kuring mah hideung gè hideung nasionalismeu, hideung transendental. Ngadèngè kitu tèh si Abud sok bungah. Ngarasa aya batur meureun.

“Hitut kuring mah ngèngkrèng. Tapi tibaheula ogè tara bau.” Ceuk si Abud hiji poè. Kuring jadi inget ka omongan almarhum aki, yèn hitut stèrèo mah sok tara bau, bèda jeung hitut laon, biasana sok hangit, sok bau tungir zebra.

Loba ogè babaturan hitutna laon, tapi tara ngaku, kalahka hèhèotan nyumputkeun hitut dinu caang. Ku buraongnamah sok teu daèk tanggung jawab lamun ditanya saha nu hitut. Kalahka silih tuduh. Kuring pernah manggihan aya jelema garelut lantaran aya nu hitut keur darahar liwet. Pas ditanya saha nu hitut, hiji pamuda ngacung. Sabenerna mah masalah geus bèrès, ngan èta pamuda kalahka nyarita pangalamanna nempo jelema hitut dina cangkir. Puguh wè nu darahar kabèh eureun. Pasèa wè jadina. Padahal da sangu teu ujug-ujug ngilu bau.

Sok anèh nya jelema mah, cuman lantaran hitut, bisa garelut. Padahal hitut mah lain tindak pidana, moal abus naraka deuih. Beda deui lamun hitutna pajabat nu keur koropsi, pasti abus naraka, lantaran loba nyangsarakeun rahayat ku koropsina. Aneh ogè mun nempo aya masyarakat èra ngadèngè hitut di tempat umum. Padahal nu kudu dipikaèra mah kalakuan maranèhna nu jorok miceun sampah sambarangan.

Kuring gè lamun pareng dipasamoan sok tara daèk nahan hitut. Kapok. Pernah kuring hiji waktu lila nahan hitut pas upacara bendèra, nepika ngucur cai tinu irung. Untung lain geutih ogè; untung tinu ceuli teu kaluar haseup ogè. Ah, ayeuna mah beledag-beledag wè. Tapi kuring mah teu kawas si Abud nu teu welèh bèbèja tur hitutna ngajelengèng. Hitut kuring mah wijaksana; disebut bau teuing heunteu, disebut teu bau heunteu; hitut stèrèo heunteu, hitut èpès mèèr heunteu. Pokonamah meujeuhna keur dikonsumsi publik mah. Hiliwirna teu subversif!

Tapi kuring keur SMA pernah sabulan mumul ka masigit lantaran èra ku katua DKM. Soalna kuring kalepasan hitut nyegruk keur solat. Tapi kuring nuluykeun solat nepika rèngsèna. Ustad Mahmud nu nyaksian kajadian èta nyarèkan kuring ku fiqih. Naha nya kudu wudu deui lamun hitut pareng solat? Naha ogè bet beungeut nu dikumbah, padahal bujur nu nyieun ulah. Jadi naon hubunganna bujur jeung beungeut? Naha, dulur, hitut bisa ngabatalkeun wudu? Jiga paantel kulit jeung awèwè waè. Jigana aya hubungannana awèwè jeung hitut.

Kuring baheula pernah ngalaman hitut hareupeun awèwè. Èra pisan karasana. Tapi kuring baheula can ngarti naha bet èra, padahal èta awèwè lain kabogoh. Tapi lamun jujur mah kuring embung hitut hareupeun awèwè mah. Kuring leuwih milih ngabodor teu dikeprokan tibatan kapanggih hitut ku awèwè mah.

BAB III: HIRUP NGARASA TIISEUN

Ayeuna mah urang nyarita nu lian, mudah-mudahan teu balik deui ka carita nu aya pakuat-pakaitna jeung hitut. Geus sabulan leuwih si Abud jeung Neng Mia bobogohan. Antukna mah ayeuna kuring jadi leumpang sorangan balik kuliah tèh. Si Abud beuki lèngkèt pisan ka Neng Mia. Jiganamah “tiada hari tanpa Mia”, atawa “hidup tanpa Mia bagai kopi hitam terinjak Sodikin.”

Tapi kuring teu tiiseun teuing, da masih aya radio warisan almarhum aki kuring. Tibeurang nepi ka peuting radio digeder. Lamun kabeneran bèak batu batrèna, kuring sok nginjeum batu batrè jam dinding di masigit. Lamun geus bèak pisan, cenah batrè kudu di poè atawa di pèkprèk makè batu bata. Bèjanamah sok tokcèr. Tapi èta ogè ngan kapakè sakeudeung. Antuknamah di poè deui handapeun gantar.

Tapi kuring strès nempo batu batrè nu di poè dipodolan hayam. Tapi giliran dicoba, radio hurung ngagateng sapoè-sapeuting. Kuring jadi bisa ngadèngè wayang golèk nepika subuh. Baè bau tai kotok saeutik mah, asal tong tai kotok wè nu bau batrè. Tapi èmang kudu aya penelitian ti ilmuwan di Indonesia kunaon sababna tai kotok bisa ningkatkeun ènèrgi batu batrè. Ari nanya tai kotok dileubuan mah geus ka jawab ku Aki Asmi ogè, teu perlu diteliti deui, lin?

Tisaprak hulang-huleng sorangan, kuring jadi ngarasa bosen hirup, asa teu boga batur. Rèk bunuh diri, teu wani. Rèk nèangan kabogoh, hambur biaya. Soalna kuring mah geus yakin, duit bakal bèak tapi awèwè tetep nampik. Maenya kudu bogoh ka indung mah jiga Sangkuriang atawa Oedypus? Saumur hirup kuring masih lèlèngohan. Ras jadi inget boga langlayangan dina para. Teu mikir panjang deui, kuring ngejat mawa kenur jeung langlayangan. Kuring lumpat ka kulon, rèk ngapungkeun langlayangan. Meungpeung angin gedè. Karèk gè dua mèter langlayangan ngapung, kurunyung tèh Ki Apud. Solongkrong ngajak sasalaman. Tapi teu kungsi lila murang-maring ka kuring, pajar tèh tong langlayangan, sing èra ku umur.

Langlayangan dipaksa titah diturunkeun. Langlayangan disoek-soèk, ditincak-tincak. Geus kitu mah ki Apud lumpat ka imahna. Di palupuh imahna nungguan nini Apud bari ajrag-ajragan ngeprokan Ki Apud. Sabelas-duabelas eta nini jeung aki teh. Bedegong. Kungsi oge baheula kuring dikerem di imahna, bari si nini maksa kudu ngajawab naon bedana palid ku “p” jeung valid ku “v”. Kuring harita teu bisa ngajawab.
Ayeuna giliran si aki nu harèèng, teu puguh-puguh kalahka ngarujadkeun langlayangan kuring. Kuring beuki strèss. Kuring ngarasa sirah hareurin ku masalah. Can gè bèrès strès, kuring narima gosip ti Nini Memeh yèn si Abud jeung Nèng Mia putus. Geubeug tèh kuring olohok. Can ogè dua bulan geus putus deui. Kuring gura-giru muru si Abud.

BAB IV: PEGAT DURIAT

“Bud, bèjana manèh pegat jeung Neng Mia?” kuring nanya bari ungsrak-ingsreuk. Si Abud ngabalieur.
“Bud, naha bet putus sagala?” kuring terus ngadesek.
“No comment.” Ceuk si Abud teugeug bari buru-buru ngingkig. Beu, jiga sèlèbriti waè si èta ngomong kitu ka kuring. Ngarasa di udag-udag waè ku kuring, si Abud mawa merecon urut lebaran.
“Manèh hayang paèh diancurkeun?” si Abud ngancam bari ngacungkeun merecon jeung korek api, “geus balik tong ngaganggu kuring! Kuring hayang sorangan!” si Abud katempona strès pisan. Batan mercon disundut, kuring balik ngèlèhan. Tapi kuring panasaran kunaon si Abud jeung Neng Mia putus. Jiga wartawan, kuring terus muru informasi. Sugan wè si Onah, adi Neng Mia, bisa mèrè info.

“Why, Onah? Naha lanceuk Onah putus jeung si Abud?”
“Muhun, Kang, saurnamah tètèh tos teu bogoheun deui.” ceuk Onah. Ceuk carita Onah mah, tilu poè katukang si Abud nganteur Onah jeung Neng Mia ka ulang tahun babaturan Neng Mia. Karèk ogè babaturanna manyun rèk niup lilin, si Abud hitut tarik pisan. Puguh wè barudak ngaburiak. Bejana mah hayam diburuan oge ngilu barirat. Acara jadi paburantak. Neng Mia èraeun ku barudak sakelasna sok dipoyok boga kabogoh tukang hitut. Neng Mia jadi èra bareng jeung si Abud. Teu kungsi heuleut saminggu, Neng Mia mutuskeun si Abud. Kuring sedih ngadèngè caritana. Watir si Abud, lantaran hitut jadi putus jeung Neng Mia. Batur mah putus tèh lantaran teu disatujuan ku kolotna, atawa selingkuh, ieu mah putus lantaran hitut. Geuning ayeuna mah horeng hitut gè geus jadi sumber disintegrasi.

BAB V: DÈPRÈSI

Si Abud sobat kuring. Jadi kuring moal nganteup manèhna sedih sorangan. Kuring tibarèto sagulung-sagalang jeung manehna. Tikamari kuring teu nempo si Abud ngaliwat kuliah. Bisana mah sok nyampeur. Kuring datang ka imahna, indungna ceurik. Bèjana mah si Abud geus teu daèk dahar, teu daèk mandi jeung teu daèk adan di masigit deui. Pagaweanna ngègèlan suku korsi. Pagawèanna tèh murang-maring di kamar. Malahan indungna gè geus teu bisa asup ka kamar si Abud, sok dikonci. Katempo ku kuring dina panto kamarna aya tulisan: YANG TIDAK BERKEPENTINGAN DILARANG MASUK. Tapi kuring boga kapentingan ka manèhna. Kuring ngawani-wani keketrok panto. Lila teu dibuka. Ngadèngè sora kuring, panto dibuka. Kuring sedih nempona. Beungeutna culeuheu. Buuk galing pajeujeut. Gering kabengbat ku awèwè.

Bus kuring ka kamarna. Kamar lir ibarat gudang barang, acakadut teu kaurus. Dina tembok deukeut jandela, aya tulisan make spidol: HATIKU YANG BEKU. Dina kantongna ogè aya tulisan: DIRIKU YANG LÈNGOH. Kuring terus ngupahan jeung mapagahan manehna, sangkan bisa dahar jeung mandi deui. Sangkan daèk kuliah jeung adan di masigit deui. Sangkan bisa nalian anak hayam tatangga deui.
Kuring ngarasa hatè si Abud buyatak pisan diputuskeun ku Neng Mia, geus level digembrong laleur. Geus hanyir. Si Abud dèprèsi. Pagaweanna nanggeuy gado. Manèhna pernah ngomong boga niat rèk bunuh diri. Tapi ku kuring dipapatahan bèbèakan malahan makè reperen filsafat jeung tasawuf plus hadist jeung buku La Tahzan. Teu kagok kuring mere buku-buku fiksi tamba stress ka si Abud, ti mimiti buku Edgar Allan Poe, Agatha Cristie, Ellerly Queen nepika buku Fredy S. Teu poho kuring ngabelaan nyiar buku kumpulan carita Jose Saramago, Nadine Gordimer, Gabriel Garcia Marquez, Hemingway, Tagore nepika Puisi Gibran. Tapi wayahna, Bud, kuring ngan saukur mere judul keneh.

Terus manèhna cenah boga niat rèk abus gèng motor waè mèh kabangbrangkeun. Tapi ku kuring dicaram. Alesan kuring mah, kahiji si Abud teu boga motor, kadua si Abud teu bisaeun naèk motor, katilu sawah haji Komar digaley munding geuring. Kuring mah leuwih satuju si Abud ngilu gèng DAMRI, soalna jauh-deukeut ongkosna murah.

“Lamun hirup peurih kieu waè mah, kuring mending milih jadi suung waè…” ceuk si Abud rada pesimis. Tapi kuring terus ngupahan si Abud. Kuring ngajak manèhna ulin ka dago, ulin ka unpad Jatinangor poè minggu isuk-isuk. Mèh teu èra teuing ulin teu jajan mah, kuring duaan ngahaja udunan meuli kolor. Kuring ngajak manèhna maènbal jeung barudak. Teu lila tidinya, si Abud geus teu katempo sedih deui. Manèhna geus bisa seuri. Manèhna geus daèk dahar jeung mandi deui, geus daèk kuliah jeung adan deui. Kuring atoh nempona. Sakapeung manèhna sok masih murang-maring kènèh. Eta gè lamun nempo jèngkol, cenah sok inget ka Neng Mia. Si Abud ngomong masih bogoh kènèh ka Neng Mia. Manèhna rèk terus ngudag Neng Mia sangkan daèk deui narima cintana.

BAB VI: HIDUP MIA! HIDUP PERSIB!

“Kuring mah cadu mundur sacongo buuk, haram ngejat satunjang bèas! Puah!” si Abud meni sumanget ku rasa bogohna. Ku sumanget-sumangetna, si Abud nulisan tembok kelas ku spidol beureum: HIDUP MIA! HIDUP PERSIB! Malahan opat poe deui boga niat rèk megat Neng Mia di sakolana, rèk nyatakeun deui. Si Abud ngabèlaan meuli bonèka Doraemon keur engkè mèrè ka Neng Mia. Sakalian wè atuh jeung baling-baling bambuna, terus teundeun dina sirah pak lurah. Tapi kuring bungah si Abud teu laèr sumanget deui. Optimis.

Singgetna, si Abud megat, Neng Mia lumpat. Duanana pada-pada keukeuh. Si Abud keukeuh bogoh, Neng Mia keukeuh embung. Tapi kuring bungah nempo babaturan teu èlèhan jiga si Abud. Manèhna terus ngudag hatè Neng Mia. Tapi saprak aya kajadian kasar ti Neng Mia ka si Abud, kuring jadi narik dukungan. Malahan kungsi kajadian, Neng Mia rudet ngarasa dipegat jeung diudag waè ku si Abud, manehna gogorowokan mènta tulung. Antukna mah si Abud dikoroyok tukang ojèg. Untung kuring jeung babaturan masih bisa kènèh nulungan. Geus tèga pisan Neng Mia ka babaturan kuring. Lain èta hungkul kajadian peurih tèh. Si Abud kungsi diciduhan ku Neng Mia bakating ijid pisan. Kuring jadi cua ka Neng Mia. Hayangna mah ngulub sirah Neng Mia. Tapi anèhna tèh si Abud tara malik ngambek ka Neng Mia. Manèhna mah sok malah seuri. Jigana lantaran bogoh nu gedè pisan ka Neng Mia. Lamun kuring mah leuwih milih marmot tatangga katerap bronhitis batan diciduhan ku awèwè mah, batan dihina terus ku awèwè mah.

Geus teu kuat nempo babaturan dihina waè ku awèwè, kuring ngawani-wani nyarèkan si Abud sangkan eureun ngudag Neng Mia. Nasib geus jadi bubur, Bud. Ayeuna mah pohokeun wè awèwè haramjadol kitu mah. DUNIA TIDAK SELEBAR CELANA DALAM. Tapi si Abud keukeuh lieur ku Neng Mia. Manèhna janji rèk terus ngetrok hatè Neng Mia sangkan daèk narima deui. Kuring gogodeg bakating ku hèran. Gening aya ogè jelema kawas kieu, Gusti…

BAB VII: MANGKAT KA JAKARTA

Geus dua peuting ieu kuring terus mikiran lalampahan si Abud. Tapi pikiran kuring pajeulit jeung omongan lanceuk kuring peuting kamari nu nitah kuring cuti heula kuliah. Kuring dititah gawè di Jakarta, jadi buruh ngetik di kantor babaturan lanceuk. Sabenerna mah kuring embung ninggalkeun lembur, tapi cenah gajina gedè. Èta oge cenah ngaganti pagawèan Cep Boby nu keur geuring katabrak setum. Ceuk beja mah Cep Boby sukuna potong jeung sirahna rengat. Jigana pililaeun geuringna. Kabeneran kuring boga kabisa ngetik. Baè ngetik ku dua curuk gè, asal gancang jeung rancagè cenah. Dua poè geus bèrès ngurus sagala rupa, kuring isukna mangkat ka Jakarta. Si Abud bangun nalangsa nempo kuring mangkat. Tapi kuring sakeudeung ngahibur manehna. Kuring janji rek mawa duit loba ti Jakarta. Si Abud nyuuh ka Kuring ulah ninggalkeun manehna.

“Kuring euweuh batur ngobrol. Kuring euweuh batur curhat. Indung kuring mah teu ngartieun diajak ngobrol sual hiburan kontemporer mah.” Pokna semu ngaheulas.
“Bud, kuring mah sakeudeung. Kuring rèk ngudag duit heula. Geus loba duit mah urang duaan jaga bakal bagja. Salila kuring euweuh mah, ngobrol wè jeung calana.” Cekèng tèh ngaheureuyan.

Lima jam kuring nepi ogè ka Jakarta. Kakara ayeuna kuring incah jauh ti lembur. Hareudang geuning Jakarta tèh, teu kawas di lembur nu tiis ceuli hèrang panon kènèh. Kuring kudu bisa jaga diri cicing di lembur batur. Tong culangeung, tapi tong èlèhan. Sanajan di lembur batur, henteu ganti pileumpangan. Ieu mah itung-itung pangalaman wè, tong jiga Ki Duyeh, ti ngongkoak nepi ka ngungkueuk masih cicing dilembur, dagang surabi saumur-umur. Euweuh pangalaman anyar. Poè isukna kuring geus kudu langsung gawè. Teu pira ngetik laporan sapuluh halaman unggal poè, ditambah ngajumlah-jamlèh duit, kuring diburuhan saratus rèbu. Saminggu wè kali saratus rèbu, lumayan bedus. Lanceuk kuring omat-omatan nitah kuring nabung. Sabalikna kuring ogè omat-omatan ka lanceuk kuring supaya tong mènta duit. Kuring keur hayang pelit.

Teu karasa geus sabulan leuwih kuring gawè di Jakarta. Duit beuki numpuk waè. Bayangkeun wè si Bos mèrè duit saratus rèbu unggal poè. Untung wè dahar sapopoè mah aya jatah ti kantor. Kuring geus hayang buru-buru ka lembur. Kuring rèk ngeureuyeuh nabung keur nuluykeun kuliah deui. Kuring inget tibarèto hayang meuli hapè. Geus teu kuat hayang meuli hapè Nokya. Kuring hayang nelpon si Abud di lembur tapi pasti manèhna can bogaeun, soalna hapè mah nyieunna lain tina taneuh sumur. Kapikiran ogè rèk meuli skripsi. Ah, haram kètang. Kuring mah leuwih milih indit ngarit poè jum’at batan kudu meuli skripsi mah.

Sok jadi inget ngomong skripsi tèh. Tibaheula kuring jeung si Abud guligah mikiran skripsi. Kuring duaan ngadon kukurilingan neang judul nu alus. Kuring pernah boga judul hade: RADIKALISME AGAMA DALAM PERSPEKTIF TRIO MACAN. Tapi heuleut sabulan diganti deui jadi: BERAS IMPOR DALAM PANDANGAN SAYA SEKELUARGA, atawa leuwih heded lamun dibalik: SAYA SEKELUARGA DALAM PANDANGAN BERAS IMPOR. Kuring bingung milih judul. Si Abud mah cenah geus manggihan judul keur skripsina: HUTANG PROFETIK; SEBUAH INTEGRASI-INTERKONEKSI MARXISME DAN WASIAT KAKEK SAYA.

Ah, kuring mah can bisa nyieun skripsi lamun can aya lèptop. Tapi, lamun duit tabungan aya leuwihna kènèh, kuring ogè hayang meuli lèptop. Eta gening komputer nu jiga jojodog. Kuring jadi inget, baheula keur di SMA boga babaturan sakelas pindahan ti Jogja. Manèhna kamana-mana mamawa lèptop. Kungsi ulin ka imah kuring mawa lèptop. Manehna kasohor tukang molor, wajar we da tukang melong komputer. Kuring riweuh nyangu, manèhna mah lalajo video dina lèptop. Meni nyantèi pisan. Kungsi ogè lèptopna tinggaleun di dapur, ku nini kuring kalahkan dipakè talenan, di pakè nyiksik bawang. Sugan wè lamun pareng meunang rijki gedè, jaga kuring bisa meuli lèptop.

BAB VIII: BALIK KA LEMBUR

Geus hampir dua bulan kuring gawè, Cep Boby bejana geus cageur. Isukna kuring geus bisa balik deui ka lembur. Di tengah jalan, kuring balanja heula keur bawaeun ka lembur. Kuring meuli baju keur indung. Teu poho dahareun keur bebenyit. Kuring ogè inget ka si Abud. Kuring meuli roko sakaradus. Teu poho meuli kopi hideung. Soalna si Abud mah embung ngaroko lamun euweuh kopi. Bèda jeung kuring, kuring mah embung ngaroko lamun euweuh seuneu. Kuring ogè meuli baju koko jeung calana sontog keur si Abud. Keur bapa kuring mah meuli sarung, kopèah jeung kaca panon hideung, mèh katempona gaul jeung ginding. Keur indung meuli kurudung jeung mukena. Kuring oge meuli baju loreng tantara keur Ki Asmi, kokolot nu geus dianggap dulur. Sakalian meuli baju Spiderman keur incuna, si Abraham Entay. Ngahaja meulina dua stel, bisa parebut jeung Ki Asmi.

Kuring bungah bisa balanja keur kolot jeung dulur. Tapi kuring embung kokomoan balanja, soalna lalampahan masih panjang, dulur leutik masih riab. Can tangtu kahareup masih bisa ngala duit deui. Tapi kuring kahareupna boga kahayang ngebebenah imah jadi tilu umpak, panghandapna mah baè kolong keur hayam sarè. Sakuriling imah rèk dipinuhan ku wèsè umum mèh mangfaat ka urang lembur. Intina mah ngaminimalisir oknum masyarakat nu sok ngadon setor eusi beuteung di pipir imah. Lamun usum pemilu mah, wèsè bisa dijadikeun kamar suara.

Jam 12 beurang kuring nepi lembur. Di imah jempling. Sakeudeung sasarèan dina korsi tengah imah. Ari heug antukna mah ngan ukur molotot teu bisa sarè. Barudak badeur tingkalacat luhureun korsi ngaganggu kuring. Piraku kudu dibèrè racun beurit mah mèh lalindeuk. Geus asup adan asar kuring mandi. Tadina mah hayang panggih heula jeung kolot rèk prosèsi mere olèh-olèh, tapi jigana can baralik ti sawah. Kuring dandan ginding maksud rèk nepungan si Abud. Geus sono. Oleh-oleh keur manehna geus rapi di kantong kèrèsèkan. Saeutik disemprot parfum anyar. Jigana si Abud atoh pisan narimana.
Imah si Abud sarua jempling. Kuring keketrok bari hèhèotan. Ngahaja makè kaca panon hideung mèh si Abud pangling. Teu kungsi lila, panto muka. Nyampak indung si Abud ngabanghinghik ceurik. Hatè kuring ngadadak teu genah karasana…

BAB IX: PENUTUP

Langit lènglang. Kuring nangtung lila di jalan. Ngadègdèg nahan eungap. Ngarasa teu bisa nanaon. Pikiran geus barirat ka mana mendi. Hatè asa dibintih kasedih. Hatè asa ditindih kapeurih. Kuring nempo langit ujug-ujug baseuh. Kuring nempo panon poè kokolèbatan. Kuring nempo lalaki leumpang di jalan gedè teu makè calana. Sirahna dibuntel ku calana sorangan. Awakna kuleuheu teu kaurus. Sandal capit digantungkeun dina beuheung makè tali rapia. Kadèngè manèhna ngahariring. Teu kungsi lila manèhna ngarandeg, ngagantungkeun calana dina pager. Kuring ngadèngè manèhna mènta hampura ka calana sorangan. Ti belah kulon barudak leutik nyurakan bari nakolan kalèng. Manèhna seuri. Manehna ceurik. Manèhna ngamuk. Manèhna ngagorowok nyebut ngaran awèwè. Kuring teu kuat nahan cimata. Teu karasa cimata haneut seukeut dina pipi…

TAMAAAAAAAAAAAT
http://manuskripkesunyian.wordpress.com/2007/12/10/hitut/

Monday, October 03, 2011

Budak Badeur

GEUS lima belas tahun lilana Kang Jae ruah tangga jeung Oom. Maranehna boga budak dua. Duanana budaknateh awewe. Kusabab kita, Kang Jae hayang pisan boga budak lalaki. Soalna cenah, budak awewemah mun geus rumah tangga teh sok dibawa ku salakina.

Dina hiji peuting kalakuan Kang Jae jiga budak leutik. Manehna ngarenghik ka pamajikanana hayang pisan boga budak lalaki.

Kang Jae : Cik atuh mah, piraku atuh urang teh boga budak awewe wungkul. Kumaha mun tambahan hiji deui, sugan we diparengkeun boga budak lalaki. Kusabab kitu, cik atuh geura indit isukmah ka bidan, laan eta kabena.

Oom : Ari akang, budak awewe jeung lalaki oge sarua atuh kang. Keun we da kulawarga urangmah meureun geus ditakdirkeun ngan boga budak awewe wungkul.

Kang Jae : Mamah mah teu ngarasakeun kana hate akang. Lamun mamah teu mere jalan kitumah, kapaksa akang atuh rek kawin deui.

Ngadenge salakina nyarita kitumah, Oom rada reuwas oge. Manehna sieun omongan salakina bener-bener dilaksanakeun.

Oom : Nya... ari akang keukeuhmah, keun atuh isuk-isuk keneh mamah ka bidan Icih rek ngalaan KB.

Singkat carita, Oom cumarita ka salakina yen manehna telat datang bulan. Ngadenge kitumah, hate Kang Jae mani kacida bungahna. Nincak umur kakandungan lima bulan, Kang Jae ngajak pamajikanana ka bidan. Majar cenah hayang dikomputer keur nganyahokeun orok teh lalaki atawa awewe. Kang Jae bungah pisan, sabab ceuk bidan orokteh lalaki. Teu kungsi lila, orok nu dipikayang pisan teh lahir. Atuh kabungah Kang Jae teu bisa diukur ku harta.

Hanyakal budak nu dibere ngaran Oding teh badeur pisan. Komo deui umurna nincak 7 tahun anu meujeuh keur bangor-bangorna. Ampir ungal poe aya we tatangga anu menta ganti rugi. Ari nu menta ganti rugi kaca imah nu peupeus ditimbul ku si Odingmah mindeng pisan.

Dina hiji poe Kang Entus ngadatangan Kang Jae nyaritakeun badeurna si Oding.

Kang Entus : Jae, tah budak silaing geus nyeurikan budak kuring si Bohum nepi ka teu eureun-eureun.

Atuh Kang Jae geuwat ngageroan si Oding.

Kang Jae : Oding, dikumahakeun si Bohum teh.

Si Oding : Tadi waktu kuring duaan ningali nu disunatan, si Bohum ngadat hayang disunatan. Atuh ku abiteh disunatan we... make peso dapur.

Kang Jae : Naha ari maneh badeur teh teu katulungan.

Si Oding : Naha ari bapak, pan etamah kahayang si Bohum.

Kang Jae : Heueuh...nya! (kang aso)**

Friday, September 23, 2011

Malabar Mung Kantun Gupay

UPAMI téa mah engkang pareng sumping deui ka rorompok, heug abdi kasampak tos teu aya, panuhun engkang henteu rengat galih. Sumawonna bendu. Ulah, engkang! Sanés, abdi mah da sanés badé baha. Leuh, ampun paralun. Sagala rupi kasaéan ti engkang éstu katampi. Dugi ka abdi ngaraos abot mulang tarimana. Natrat sareng buktos, engkang téh mana totomplokan miasih ka diri abdi.

Leres, sanés henteu bagja abdi gé dilayadan ku engkang méh saban wengi. Bingahna gé sakalintang. Naha mani kedah bari barang kintun deuih? Mani sok kumeleter abdi mah nampina ogé. Geura itu, pun biang sareng pun bapa mani nyempod kitu di palih juru. Sérab, teu werat kedah mayunan engkang.

Sumuhun. Hadéna aya Nyi Isah, tatangga. Ku héman jeung sonagar manéhna mah. Sok daék dihiras nyuguhkeun cai sareng lalawuh. Sanés lalawuh nu saé, muhun, lalawuh saaya-aya di warung. Da puguh teu aya ari nu langkung ti éta mah. Namung nu tangtos, pun bapa sareng pun biang sok teu wasaeun nyidem kabingah. Kadieunakeun mah, upami uningaeun engkang badé sumping, sakapeung nu teu aya gé sok ngahagal disiar. Sakantenan bari balanja ka pasar kanggo warung, saurna téh. Piraku teu dugi ka kitu onaman, engkang? Tangtos awon kasebatna, katatamuan ku putra gegedén di Malabar, henteu dihormat diugung-ugung.
"Geuning éta Cép Barkah, Eulis, sumpingna mani méh saban wengi?" saur ema mariksakeun hiji poé semu nu kareureuwasan.

Kuring teu wasa ngawalonan. Barina gé naon nu kudu ditembrakkeun? Bet kuring sorangan kebek kabingung. Enya, naon margina atuh pangna engkang pirajeunan ngersakeun sindang?
"Hih, alusna mah Eulis téh bungah," cék Nyi Isah mah, "Mana kitu gé Cép Barkah neundeun haté ka Eulis. Angguranan tarimakeun étah."

"Lah, sok ka mana waé Nyai mah," témbal téh, "Kumaha mun kuringna nu umambon?"

"Tapi da nembrak pisan, Eulis. Mani saban waktu Cép Barkah ngalongokan ka Eulis."

"Boa ngalongokan ka apa, Nyai?"

"Manasina keur aya apa!" kalah némpas Nyi Isah téh, "Kapan saban ka dieu nu ditatanyakeunana gé ngan ukur Eulis. Si Béntang Tanara, nu geus henteu bireuk deui di saperkebunan Malabar mah."

"Ah Nyai mah."
                    ***

Enya. Sakapeung ari wengi téh sok bati nyileuk. Sok teras kacipta, wengi-wengi engkang lungsur ngabujeng ka Tanara, mipir-mipir kebon entéh. Hawatos teuing, tangtos engkang maksakeun ku anjeun disisimbut ku angin peuting nu sakitu nyecepna. Pajah téh sawios cenah, dapon engkang tiasa tepang sareng abdi. Kutan leres engkang téh bangun nu teu isin ngalulumayankeun ka diri abdi? Engkang mah di perkebunan gé kapan kagungan pangkat. Putra gegedén deuih; Wakil Administratur kapan kasebatna gé tuang rama teh. Atuh akang ku anjeun kapan kasebatna gé Wakil Kepala Employe, nu ngageugeuh ublug-ablagna kebon entéh di saampar Perkebunan Malabar. Tebih tanah ka langit upami dibandingkeun sareng abdi nu ukur tamat SMP.

Naha naon atuh nu diseja ti diri abdi? Geura mangga ku engkang tingali, da teu sakedik kapan mojang anu langkung-langkung ti diri abdi. Naha manah engkang eunteupna henteu ka palih dinya?

Emh!

Nu teu disangka-sangka mah, bet tilu sasih kapengker engkang sumping ka rorompok pasisiang. Hih, da pun bapa mah nuju teu aya, engkang. Kapan teu acan mulih ti pabrik wayah kieu mah, sanggem abdi téh.

"Terang akang gé," walon engkang harita, "Kapan tadi akang nyanggem heula ka tuang rama di padamelan, popoyan badé nepangan Eulis di dieu."
Beu!

"Hapunten akang tos kumawantun. Nanging teu sawios, sakintenna Eulis henteu widi mah, akang badé wangsul deui," saur engkang téh.

Leuh geuning, panyanten téh engkang tara pundungan. Kalah matak geregeteun baé abdi ningalna. Sok asa enya hoyong teras ngaheureuyan. Tapi da nu kedal mah kalah, "Ku keresaan baé geuning rurumpaheun ngalayadan?"

Panjang engkang ngawaleran. Mani sagala bedah naon nu sakedahna nyumput bari sareng kedah dibuni-buni téh. Sanaos enya dibalibirkeun, da geuning negrak sagala rupi pamaksadan engkang. Leuh, boa engkang lepat ngedalkeunana? Ieu abdi mani bayeungyang. Sok piraku engkang keresa mileuleuheungkeun ka diri abdi? Kapan teu sakedik mojang nu langkung-langkung ti diri abdi. Muhun, bet naha teuing engkang henteu ngeunteupkeun deudeuhna ka palih dinya?

"Leres. Kitu ogé upami Eulis percanten yén rasa asih jeung cinta mah henteu dihahalang ku kalungguhan. Tapi diébréhkeun ku karep sareng itikad. Tah, ti lebah dinya medalna asih engkang mah," saur engkang téh.

Duh Gusti, kedah kumaha ieu abdi?

Ti harita, méh saban wengi engkang ngalayadan. Tiris-tiris gé geuning engkang mah mani keresa lungsur sumping ka rorompok. Sakapeung mah, ari pasisiang pareng mulih ngaroris kebon entéh nu ngaplak saampar tingal, sok pirajeunan sindang ngareureuhkeun palay. Saur engkang téh sanés badé istirahat-istirahat teuing, nanging duméh palay tepang sareng abdi. Kutan?

Nanging temahna, sok aya baé haréwos peurih kaangin-angin, "Hhh! Humayua, cécéndét mandé kiara si Eulis mah!"

Leres, bet nembé kaémut geuning, engkang. Caketna engkang sareng abdi téh teu wudu janten matak geruh. Tatanggi patingkecewis, sobat-sobat sok kapireng ngupat. Meureun enya cua ku lampah abdi, micileuk salira engkang, nu sanés bangban sanés pacing. Engkang mah da sidik gunung, abdi mah teu hunyur-hunyur acan.

Leuh teu kiat geuning janten jalmi nu sarwa walurat téh. Aya kabingah sakedik gé teu sirikna kalah janten catur nu teu kinten matak nyeuitna. Nu lepat mah da abdi kénéh. Henteu ngukur ka kujur.

"Heueuh ngaca atuh Eulis manéh téh," cék Nani téa mah, "Manéh téh ngan saukur bulu taneuh!"

Duh, peurih geuning engkang ari tos kedah nguping kasauran réréncangan nu sapertos kitu mah. Da sayaktosna deuih, abdi téh sasatna henteu ngukur ka kujur.

"Ulah didangu," kalah sasauran kitu geuning engkang téh, "Kaasih engkang da sanés pupulasan. Medal tina dasar ati nu wening."

Mani bungangang abdi téh ngupingna. Asa enya nuju janten awéwé pangbagjana tiasa dipiasih ku engkang. Namung temahna, tambih sering engkang sumping ka rorompok wuwuh sering baé haréwos nu matak nyungkelit humiliwir kana ceuli abdi. Sahéng sareng matak nyaksrak. Disabaran gé da geuning kalah nambihan héab, mani panas baé raraosan teh.

"Barina gé siah, Eulis, Cép Barkah mah da geus dirérémokeun ka Néng Yanti," cék réréncangan téh, "Nyaho manéh gé ka Néng Yanti, lin? Enya, putra Pa Kepala Pengolahan! Mani ngabanding jeung sadarajat kapan jeung éta mah."

Tuh! Nyeri. Teuing ku nyeri geuning ari saban dinten kedah ranyong ku nu sasauran kitu mah. Nu hawatos mah pun biang sareng pun bapa, sok teras dijarebian ku tatanggi. Disebat humayua. Kadongdora cenah, teu nalipak manéh. Beu! Geura mangga uningaan ku engkang, itu pun bapa tos sababaraha dinten ieu teu angkat damel ka pabrik. Pun biang tara mios ka pasar deuih. Warung sok teras nutup sadidinten. Isin tuda cenah.

"Sanggem engkang gé ulah didangu. Asih engkang mah Eulis, da puguh wening. Teu kahalang ku pangkat," engkang sasauran mani tandes.

Duh Gusti, tulungan ieu abdi!

"Nu langkung reugreug deui kanggo akang mah, Eulisna léah nampi kaasih ti akang. Naha naon deui atuh nu kedah janten hahalang?" saur engkang deui.

"Tau nalipak manéh si Eulis mah," ranyong deui nu sasauran kitu, "Rasa aing pédah boga beunget geulis?!"

Gusti, mugi paparin kakiatan ka diri abdi.

Engkang, hapunten baé abdi. Ayeuna mah, upami engkang pareng sumping deui ka rorompok, tangtos abdi moal kasondong. Panuhun mugi engkang henteu janten rengat galih. Sumawonna bendu. Ulah, engkang!

Ayeuna abdi tos tebih ngantunkeun Tanara. Malabar mung kantun gupay. Engkang mah ulah palay uninga, naha ka mana abdi lunta. Teu kedah disusul-susul. Dipaluruh gé da moal bahan kasungsi. Sakali deui, hapunten ieu abdi: Eulis Sumarni, nu lunta duka badé ka mana.
 Karya Dian Héndrayana

Thursday, September 22, 2011

Pernikahan Gerimis

AKU ingin menikah saat gerimis. Saat itulah aku bersenandung sendiri. Sementara, orang-orang yang mengasihiku tengah mengangkat gaunnya tinggi-tinggi. Mereka berhati-hati saat melalui jalan basah. Lalu mereka sedikit meloncat saat melewati genangan air. Tentu saja air keruh itu tak mau mereka setubuhi. Bisa malu mereka saat tiba di acaraku. Bisa habis juga masa pakai gaunnya karena noda yang takbisa terhapus deterjen.
    Aku bersiul. Begitu bahagia aku hari ini. Tak lagi sendiri hidupku nanti. Ada sang terkasih di sampingku. Berjalan kami akan beriringan. Tertawa kami bersahutan. Berdendang kami seirama. Dan, aku terus bersiul. Lalu sedikit mendongakkan kepala menghadap cermin. Aku khawatir belum tampil secantik yang orang-orang inginkan. Dan tentu saja, khawatir belum secantik yang terkasihku inginkan.
    Tuhan... aku teringat kala itu. Saat pandangan pertama yang menggoda. Saat bukan hanya mata, tapi hidung, telinga, dan hati pun tiba-tiba berbicara.
    "Nona, kau tampaknya jatuh cinta."
    Hatiku hanya berbisik. Tak mau ia berteriak, seolah kegirangan, seolah bahagia. Ia hanya tersenyum malu. Sambil memerahlah pipi ranumnya. Ah, betapa pemalunya kau ini.
    Di sekolah menengah aku jatuh cinta. Sekali lagi kukatakan. Itulah pandangan pertama yang menggoda. Teman-temanku bilang itu bukan pandangan pertama. Pernah juga kuberjumpa di kala dulu. Tapi tak kurasakan gemuruh gempa itu. Mataku pun mungkin hanya selintas saja melihatnya kala itu.
    Aku jatuh cinta. Setiap hari aku bersenandung. Setiap menit aku bersyair. Setiap detik bibirku menyungging senyum. Tuhan... indahnya jatuh cinta. Sampai tiba di sore hari, saat itulah terkasihku menghampiri. Kusambut dengan dendang indah yang memukau. Hingga harapku semua orang kan ikut menyanyikan irama romantisme yang terdengar.
    Oh, itu dia. Terkasihku datang. Aku mendekapnya. Aku jatuh di peluknya. Kulabuhkan tubuhku di gagahnya dirinya. Aku berayun. Aku menari. Dan aku terus berputar bersamanya. Lalu saat lagu itu terhenti, aku tersadar. Tak ada siapa pun di sekitarku. Orang-orang telah meninggalkanku. Hanya ada aku dan terkasihku. Aku menangis. Aku bersedih.
    "Mengapa mereka tak menyukaimu hingga memilih untuk pergi?"
    Mereka tak mau bernyanyi bersamaku dan terkasihku.
    Mengapa?
    Lalu aku pun pergi setelah terkasihku memilih untuk pergi. Aku pulang setelah terkasihku melepas tubuhku darinya. Dan ia pun menghilang. Tanpa pamit.
    Lama aku merenung. Aku berdiam. Aku tengah berdebat dengan diriku sendiri. Lalu kuputuskan untuk tetap mencintanya. Akulah sang setia. Sesetia lili putih yang ranum. Ia pun tampaknya berbahagia dengan keputusanku. Dan ia datang pada bulan September tahun lalu. Ia tampak semakin menawan. Ia memesonakanku. Tampilannya, sosoknya, perawakannya, inilah kegagahan dan romantisme yang menyatu. Aku mencintainya.
    Dan seperti dugaanku, orang-orang tetap tak menyukainya. Mereka tetap menghindar, meledek, mencaci maki. Hingga segera berlari mereka saat melihatnya datang. Tapi tetap kucintanya.
    Hingga hari berbahagia ini menyambutku. Aku senang sampai-sampai tak sadar tengah tertawa lantang. Kupeluk dan kucumbu sang terkasihku. Betapa indah membayangkan aku dan dia duduk berdampingan. Di singgasana ratu dan raja sehari.
    Sekali lagi kubercermin. Sekali lagi aku resah.
    Aku menunggu sang pengantinku.
    Dia belum datang.

    Dan dia tak jua datang.

    Dia tak datang.

    ....

    Entah berapa lama aku menangis. Menangisku tak lagi sesenggukan. Tapi hingga tak terlihat lagi mataku saking sembabnya.
    "Mengapa, Tuhan?"

    ....

    Tiba-tiba di bulan September tahun ini, dia mengetuk pintu rumahku. Aku kaget. Dia membawa seorang wanita menyeramkan di sampingnya. Dia bilang dia telah menikah. Betapa menyeramkannya wanita itu. Hingga tak mau lagi kuberjumpa dengannya untuk kedua kalinya.
    Dia dan kekasihnya pun pergi. Mereka bertolak dari rumahku. Mereka hilang bersama petir dan kilat yang menyertai mereka datang.
    "Pergi sajalah kau, Gerimis. Bawa kekasihmu ikut serta."
    Ternyata Gerimis, mantan terkasihku, telah menikahi Bencana. Satu hari di bulan Oktober, telah berlangsung pernikahan Gerimis dan Bencana.
    Berbulan-bulan setelahnya, mereka berbulan madu yang panjang. Mereka pergi ke utara, lalu ke barat. Mereka ke gunung, lalu ke laut. Dan kemudian mereka pergi ke kota, membawa oleh-oleh sang malapetaka untuk aku, kakakku, ibuku, ayahku, adikku, pamanku, semua orang.
    Banjir dan longsor di mana-mana.
    Kedua mempelai itu menguasai dunia.
***


Anisa Ami lahir di Bandung, 28 Februari 1987. Penulis dan editor lepas serta bekerja di sebuah penerbitan.

Sunday, August 28, 2011

Epilog Hiji Catetan Minangka Gupay Pileuleuyan

KARYA:Tisna Sudradigjaya

Kula nulis ieu catetan minangka gupay pileuleuyan. Lantaran sakeudeung deui kula rék panggih jeung dihin pinasti, mapag ajal di palagan pangperangan. Nalika nepi tur kabaca ku aranjeun, meureun kula mah kana geus ngababatangna, di hiji tempat anu dilimpudan haseup mesiu tur mabek bau hangru. Nyawang nasib sorangan, asa teu kaerong pigeusaneun salamet. Lantaran saampar lemah béak dihuru seuneu amarah. Di ditu-di dieu ukur hunyudan banusan jeung jungkiring mesin-mesin perang.
Muga-muga ieu catetan, titinggal kula nu pamungkas, kabaca ku aranjeun. Leuwihna susuganan jadi surahaneun, pikeun anu masih kénéh nyakséni ka mana lumampahna sajarah.
***
Basa kula nulis ieu catetan, kaayaan di luar wuwuh tagiwur jeung ketir. Hiji perjurit lamokot ku getih cikénéh mawa béja anu matak geunjleung. Bénténg panungtung di tebéh hareup burakrakan. Musuh napuk di unggal garis pertahanan.

Di dieu, kula sabatur-batur ngadedempés jeroeun parigi. Tingsorompod, tingpurungkut. Unggal beungeut nu disidik-sidik hiji gé taya anu némbongkeun pasémon bérag. Beungeut-beungeut peuting nu ngemu karémpan, beuki tétéla saupama kacaangan cahya nu ngaburisat ti jauhna, tina blung-blengna sora handaruan anu ngeundeurkeun satungkebing lemah.
Enya, moal lila deui. Kula sabatur-batur, pasukan pamungkas, baris jonghok jeung malakal maot. Biheung teuing umur cacap nepi ka engké isuk. Kula sabatur-batur ayeuna keur tatan-tatan. Lamun cunduk waktuna, kula sabatur-batur kudu ngamuk nguwak-ngawik badis anjing édan, saméméh ditumpur-ludeskeun teu nyésa saurang-urang acan. Lantaran geus kabadé, taya bayana musuh bakal méré kasempetan manjangkeun hirup.
Sapanjang nyumput jeroeun parigi, ingetan mah bet cus-cos ka waktu kalarung. Patutuncalan, teu puguh ka mana nyangsangna. Kétah boa-boa batur gé sarua. Batan kana ajal nu nampeu hareupeun, meureun ingetanana mah kulayaban ka mana boa. Ka sarakan baheula, ka imah sintung kalapa, ka jenatna anak pamajikan atawa indung bapa. Atawa bisa jadi keur nyipta-nyipta hiji kalangkang éndah. Atawa keur nyipta-nyipta hiji patempatan. Tapi tangtuna gé lain ririwa bégalan pati di ieu tempat.
Geus rék panceg tujuh taun ieu perang téh. Kula inget kénéh, nalika perang mimiti bitu, kabéh lalaki anu geus cukup umur dikerid ti unggal wewengkon. Tuluy dibahanan bedil, dilatih maéhan lir anjing pamoroan. Hiji-hiji lalaki miang ka front pangperangan. Hiji-hiji béja perlayana ditepikeun ngaliwatan kurir. Babaturan, tatangga, dulur sorangan, nungtutan hiji-hiji miheulaan. Ti unggal imah anu dianjangan kurir, tangtu ti dinya bakal kadéngé goak jeung gaur nu ceurik kélangan. Dina kaayaan anu sakitu riceuw jeung weritna, biheung teuing aya nu milu béla sungkawa.
Lila ti lila teu wudu lembur-lembur tiiseun, kota haronghong, tatanén kabolér, ékonomi bangkar. Tujuh taun ngangkleung. Kaayaan beuki ruksak kacida. Pangungsi, kalaparan, panyakit, pamustunganana mayit balatak di mana-mana. Sedeng nu hirup kénéh dadak sakala jadi barangasan. Perang jeung kalaparan ngajarkeun sangkan silih paténi, silih rewég sungapan dahareun. Enya, sarua waé kawas anjing.
Kula ogé antukna mah sarua kudu kitu, ti saprak katunggara tambah kacida. Hiji mangsa tempat pangungsian diserang. Kula tuluy kabur sakalumpat-lampet, papisah jeung sésa-sésa kulawarga. Teu kungsi panggih deui, duka di marana ayeuna. Boa-boa geus perlaya.
Sabada hirup nunggelis, nu kaalaman ti poé ka poé ukur kaketir. Getih ulawéran sasatna geus jadi tetempoan unggal usik. Kalan-kalan kula gé kudu lumpat sakuat tanaga pikeun nyingkahan pangbinasa. Ti poé ka poé kasieun teu weléh ngaririwaan. Témahna kula remen katarajang murel jeung rieut sirah anu pohara, atawa ngimpi anu sing sarwa matak baluas.
Tapi lila-lila mah panyakit téh leungit sorangan. Kula ogé jadi tuman nyanghareupan kaayaan sapopoé anu saperti kitu. Malah satuluyuna mah kula milu singkil nyorén bedil. Lain rék indit ka pangperangan, tapi lakar keur mertahankeun hirup sorangan. Najan kula budak satepak, ari ku bedil mah nu rék ganggu jadi pada gimir. Anu nyangagang tara asa-asa dicehcer sirahna.
Ti saprak harita, ray poé ray peuting kula bet asa tambah samar ka diri sorangan. Kula geus teu inget deui kumaha resepna baheula di pangulinan, di sakola, atawa nalika ngariung jeung kulawarga. Kula leuwih inget kana AK 47 cecekelan ti batan kana rupa lembur sarakan. Kula leuwih apal kana rupa-rupa kaliber senjata katut kapunjulanana ti batan kana ngaran-ngaran jalma nu kungsi dipikawanoh. Dalah kana poé gé kula mah leuwih loba teu nyahona.
Satuluyna, nasib bet marengkeun kula ditawan ku hiji kompi pasukan. Geus pasrah tadina mah. Ari pék bet dihijikeun jeung mangratus-ratus budak séjénna. Tuluy wéh dilatih kamilitéran, pangpangna taktik gerilya jeung perang kota, bari dijejelan pidato anu eusina metet ku kecap "perjoangan", "révolusionér", "kaadilan", anu lamun dipikiran deui mah mutuh matak teu pikahartieun uteuk. Tapi da geuning maranéhna mah teu hayang nyaho perkara ngarti atawa henteuna. Butuh sotéh kasatiaan meleg-meleg katut jiwa pangorbanan anu tan watesan.
Heuleut sawatara lila, kula resmi jadi perjurit. Kula mingpin hiji brigadeu anu pasukanana barudak rumaja sapantaran. Najan enya barudak rumaja, tapi taya poé nu dilarung iwal ti bari ngokang bedil. Hukum anu nyampak dina sirah ukur aya dua: musuh atawa batur sakubu, dipaéhan atawa maéhan. Bener salah mah tara ieuh dipikiran.
Ti saprak harita ogé kula beuki teu ngajénan kana nyawa manusa. Duka geus sabaraha puluh nyawa anu perlaya dialgojoan ku leungeun kula. Enya, naon anu kudu dihargaan tina nyawa manusa? Teu paéh ayeuna, tangtu isuk pagéto mah bakal. Naha paéh alatan katinggang bom, katémbak, atawa paéh langlayeuseun, taya bédana. Dina kaayaan anu sakieu kacowna, -tanpa hukum, tanpa kakawasaan- saha anu bisa ngajamin umur manusa bisa waluya.
Kitu deui kana nyawa sorangan. Datangna ajal, najan enya teu disampeurkeun, tapi tara ieuh disingkahan. Kula percaya, yén takdir kula aya di sajeroning ieu kakacowan. Kula percaya ka waktu anu bakal mutuskeun. Sarta kula saeutik gé teu ngarasa sieun atawa lebar. Da batan hirup bari manjangkeun sangsara, asa leuwih hadé mondokeun umur sakalian. Ma'na hirup geus lila leungit tina angen-angen, bareng jeung leungitna harepan kana poé isuk anu walagri.
***
Di dieu, di ieu nagara anu keur ngagolak ku angkara, kula darma perjurit nu kudu tumut kana paréntah. Tapi papadaning kitu, kula angger manusa: mahluk anu ditakdirkeun mibanda akal jeung haté.
Palatuk anu ngabitukeun perang tujuh taun kalarung, saenyana geus diipuk jauh saméméhna. Harita, tujuh taun kalarung, saréréa gé apal yén pamaréntahan nu keur nyekel kakawasaan éstuning geus teu bisa dipercaya. Lantaran pamaréntah téh ukur kedok wungkul. Eusina teu leuwih ti gorombolan garong anu teu weléh lapar jeung hanaang. Merdaya hukum, ngagasab duit nagara, nandasa rahayatna. Kitu jeung kitu salila mangtaun-taun.

Satuluyna tingkeletis béja, majar pamor pamaréntah beuki nyirorot. Isuk jaganing géto, tangtu éta wangunan nu ropoh téh bakal rugrug. Ukur kari nganti-nganti dawuh. Talajakna nyangsara rahayat sasatna ngaludang jugangna sorangan.

Tapi boa taya nu nyangka sacongo buuk, yén robahna kaayaan téh bakal sakitu gancang jeung rohakana. Rahayat dadak sakala ngaranjug lir diponcongok maung, barang apal bitu babaruntakan. Pamaréntahan dirurud. Militér teu mangga pulia. Laju poé isukna katut poé-poé satuluyna, kota-kota salin jinis jadi naraka. Kota demi kota kabarérang seuneu babaruntakan. Kota demi kota dihuru uru-ara. Wawangunan lebur diduruk. Sora bedil manting di mana-mana.

Heuleut saminggu ti harita, ibukota ragrag. Wayah beurangna ngaguruh nu pawéy révolusi di ibukota. Wayah peutingna geueuman, sabada lumangsung jam malam di ibukota.

Antukna resmi baé ngadeg pamaréntahan révolusi anu anyar. Pirang-pirang jalma anu kaasup status quo dipérénan. Anték pamaréntah, jalma beunghar, tentara, pajabat, jeung teuing saha deui. Dalah anu teu tuah teu dosa gé ari dianggap ngahalangan kana lajuna révolusi mah milu diganyang. Révolusi salin rupa jadi jagal anu kacida kejemna.

Beuki dieu-beuki dieu, anu dijagal téh geus teu puguh saha-sahana deui. Kaayaan wuwuh pajeujeut teu pikahartieun. Pacogrégan tambah nyeukeutan. Diplomasi jeung babadamian teu weléh ngabuntut bangkong. Malah dina pamustunganana timbul silih jagal di sajeroning révolusina sorangan. Rupa-rupa faksi lahir. Itu ieu pada-pada nyarekel bedil. Itu ieu pada-pada parebut kakawasaan. Ger deui uru-ara. Malah leuwih gedé batan ti heula, lantaran sasatna ngalibetkeun réa pihak.

Ragot tarung, perang laju padungdung. Perang tuluy ngalegaan. Mulan-malén tujuh taun, taya reureuhna, tug ka kiwari.

Sabaraha yuta jalma anu jadi korban, sabaraha ratus atawa réwu ton amunisi anu béak, anggaran, logistik, nasib rahayat, biheung teuing aya nu pirajeunan niténan. Sagala rupa diketrukeun pikeun ngudag hiji-hijina kaunggulan. Tapi naon saenyana harti kaunggulan tina saban-saban pangperangan? Weléh teu kabadé. Kula teu nyaho jeung teu kungsi nyaho, keur saha ieu perang téh saenyana, sarta naon tujuanana. Sakapeung kula sok tumanya, naon hartina unggul di pangperangan lamun dina pamustunganana malah nimbulkeun perang-perang séjénna? Naon hartina kamerdikaan jeung kaunggulan lamun abid anu bébas poé ayeuna bakal jadi tiran anu bengis poé isukna?

Nalika ieu carita kabaca ku anjeun, nalika kula namper dina haté aranjeun, omat kula mah tong disebut pahlawan. Da saenyana manusa mah butuh hirup anu bérés roés, teu butuh pahlawan. Taya nu dipiharep iwal ti kasurtian, yén hiji-hijina anu butuh pahlawan mah ukur perang silih paéhan.

Saturday, July 30, 2011

Peuting Nu Teu Manggih Tungtung (Dongeng Sunda)

PEUTING téh teuing ku panjang.
 Geus sababaraha   liliran.
 Geus sagala rupa kaimpikeun.
 Duhh. Peuting bet asa taya tungtungna…

LILIR kagebahkeun angin nu ngarayap mapay-mapay suku. Nyecep peuting. Najan teu ditangaraan ku posisi bulan, peuting karasana karék manjing janari leutik. Padahal asa geus lila reup, tapi bray beunta téh masih kénéh disimbutan mongkléng.

Asa hayang geura-geura caang.
Lain pédah kaeunteupan klaustrophobia mun hayang téréh nimu caang. Da teu meredong-meredong teuing. Masih kénéh katémbong curuk. Ngan cék rarasaan taya pisan kamajuan geusan meuntasan peuting. Hayang gancang meunang beurang.

Heuay mah merelek geus teu kaitung deui. Saban heuay, sok terus ngaguher. Ngimpi deui. Lilir deui. Heuay deui. Guher deui. Tapi saban ngoréjat masih kénéh dibaturan peuting.

Bener. Peuting téh bet asa teu manggih tungtung.*
REMEN hayang hudang téh ninggang di wanci. Isuk-isuk, nalika srangéngé medal ti wétan. Méh ngalaman moyan. Marengan meletékna panonpoé ti tempat anu sabenerna. Atuda salila ieu mah bray beunta téh sok manggihan panonpoé aya di kulon. Jadi siga nu kakara meleték, tapi ti tempat anu salah.

Lain, lain salah panonpoé. Nu puguh mah salah mata sorangan beuntana kamalinaan. Hudang jam saratus, cek Mang Opin mah. Sesebutan keur nu kebluk atawa ngajam rék hudang sadaékna.

Matakna, asa bungah basa panon bisa dipeureumkeun ti soré kénéh, soré keur uing mah ukuranana méméh sapat poé 24 jam ceuk itungan almenak panonpoé atawa syamsi, alias tengah peuting. Peureum mémang saenyana reup saré. Tibra da maké ngimpi sagala. Teu istiméwa ari ngimpina mah, jadi teu kudu dicaritakeun da teu penting.

Kaalaman sakali mah. Enya, barang bray mungkas impian téh nyampak panonpoé geus moncorong ti beulah wétan. Ti tempat asalna meleték unggal poé. Enya, mulang deui ka bihara-bihari bisa hudang dina waktu anu lumrah. Komo basa ditéma ku poé kadua jeung poé katilu bisa dalit jeung cahaya panonpoé isuk.

Asa balik deui jadi jelema. Bisa maca koran isuk-isuk. Bisa updaté status isuk-isuk. Bisa megat tukang jajamu isuk-isuk. Bisa sasarap bubur hayam Mang Ukon nu cenah matak muncrut tapi deudeuieun.

Pangpangna mah bisa moyan bari ngawawas manéh, nyangigirkeun citéh ngebul, gaganti cikopi nu geus lila ditinggalkeun.

Ayeuna bet teu bisa deui hudang isuk. Lain pédah labas nepika jam saratus. Sabalikna, hudang téh bet asa peuting deui peuting deui.

Enya. Peuting nu asa teu manggih tungtung.*
TUNGTUNGNA jadi guling-gasahan. Mun nurutkeun napsu mah hayang terus gegerungan. Nyambat beurang. Nyambat-nyambat hayang geura-geura papanggih jeung beurang.

Reup deui.
Lilir deui.
Teu kasiwer ngimpi heula da ngan salenyapan.
Teu waka beunta. Sakedapan ngajepat, ngararasakeun naha geus beurang atawa masih kénéh peuting. Tapi, najan bari peureum, karasa yén wanci masih kénéh peuting.

Antukna maksa beunta. Panon ngarérét kana témbok. Nyasar néangan jam dingding. Mapantes lebah-lebahna. Ku pikiran jeung panon haté mah jol kapanggih di mana naplokna jam dinding. Tapi ku panon nu molotot mah luput. Nu katangen ukur belegbegna peuting. Sanajan teu meredong-meredong teuing. Masih kénéh katémbong curuk. Jarum jam mah angger teu katémbong utek-utekna acan. Ukur kareungeu sora tik-tekna.

Geus beunta terus cengkat. Jung nangtung. Blak mukakeun jandéla, néangan sugan manggihan cahaya nu méré tanda-tanda beurang. Teu nanaon najan ukur balébat sakolébatan. Tibatan taya kamajuan teuing mah.

Tapi nu kasampak horéng sarua. Di jero di luar, poék anu éta kénéh.

Nyobaan nyeukeutan pangreungeu. Susuganan ngadéngé sora nu tahrim. Kajeun ukur hawar-hawar ogé. Mun teu kitu, atuh sora kongkorongok hayam. Teu nanaon ukur katéwak ngokna gé. Kahayang mah jol ngong sora adan. Keun baé najan sorana rébék teu ngeunah kadéngéna gé.

Kabéh lebeng.
Heueuh. Peuting kawas nu moal manggih tungtung.*
LENG mikir. Aya naon atuh ieu téh? Naha aya nu salah? Boa eusi sirah geus robah. Moal kitu owah mah aing téh... Huh!

Heuay deui. Mereketkeun manéh sangkan teu tuluy saré. Panon geus rék rapet gé ngahaja dibelél-belél supaya beunta. Moal, cék gerentes, moal rék disarékeun deui. Sieun hanjakal. Sieun lilir angger kieu-kieu kénéh.

Tungtungna cindukul. Ngadon ngajejentul dibaturan meredongna peuting. Ngaraga meneng nungguan tungtung peuting nu teu embol-embol.

Rék diabenan, kitu gerentes haté. Piraku moal manggih tungtung. Geuning saré gé aya lilirna. Digantian ku hudang. Peuting gé pasti aya sudana. Digantian ku beurang.

Hanjakal jauh ka listrik. Kuhanjakalna deui cempor geus béak minyakna. Teu mekel lilin deuih. Estuning hémpak keur nyandingkeun poék nu hideung.

Leng deui. Mikiran boa peuting mah lain ku panjang-panjang teuing. Komo jajauheun kana moal nungtung. Sigana pédah pikiran nu mémang sundek lantaran hayang geura-geura muru beurang. Pipikiran nu geus diiwat ku rasa beurang. Ku cahaya nu disebut beurang.

Geuning. Peuting can kénéh manggih tungtung.*
INGET deui, saméméh manggih pangalaman kawas ayeuna, biasana sok sabalikna, horéam manggih beurang téh. Sok hayang beurang teu datang. Peuting wé saterusna.

Enya, siga nu dihaleuangkeun ku Iwan Fals. Lain haleuang meureun, tapi gorowok. Cenah, “Jangan-jangan, pagi kaudatangkan biarkan malam terus berjalan. Jangan-jangan, mentari kauterbitkan!”

Tah, nepika kituna.

Éta mah romantisme mangsa lawas. Kabiasaan nu terus kababawa hirup. Hirup teu béda ti kalong. Peuting cénghar, ngulayaban néangan rupaning kahirupan, lain néangan nu amis-amis sarupaning bubuahan wungkul. Beurang ngampih, nganjang ka karajaan impian. Nyobat jeung bulan, nyatru panonpoé.

Siga vampir, ceuk Mas Jaka nu sok maturan nyaring peuting bari nembang Ilir-ilir. Asa tiis tingtrim dunya peuting. “Isuk-isuk paheula-heula jeung panonpoé, itu bijil urang mubus. Sieun kapanasan, mun keuna cahaya panonpoé bakal lééh siga vampir,” ceuk Mas Jaka nu embung ditelahkeun Jack sumawona Joko, sanajan ngomong Sunda logatna tetep medok jeung bebeledugan.

Para pemimpi, ceuk Daéng Madéong. Nu hirup méakeun peuting mah sarua jeung hidup di alam impian. “Aku adalah seorang pemimpi,” ceuk lalaki pituin Makasar nu leuwih paséhat nyarita maké basa Sunda batan basa indung sorangan. Siga nu keur mapandékeun diri sorangan.

Tah, éta omongan Madéong jauh saméméh Dhani Ahmad nyiptakeun lagu nu nyebutkeun, “Bukan rahasia, jika aku adalah seorang pemimpi…”

Jadi kapikiran deui.
Leres pisan. Peuting nu datang teu manggih tungtung.
***

NGAJEPAT. Rarasaan ngajepat. Hayang hudang, tapi teu bisa cengkat. Hayang cengkat, tapi teu uget-uget acan.

Hayang ngajorowok. Terus ngagorowok. Ménta tulung. Tulung-tulungan. Tapi taya nu némbalan, da taya sora anu kaluar.

Beuki dipaksa hayang usik, kalah beuki rosa ngabatu. Beuki dipaksa hayang nyoara, kalah mingkin pageuh ngabisu. Sanajan awak terus abrug-abrugan. Haté terus kokosodan.

Ukur rarasaan. Ngan dina pipikiran.
Nu puguh mah awak terus ngajepat teu usik teu malik. Rénghap gé asa seuseut. Sakabéh anggota badan siga nu leungit sénsor. Paréntah tina otak teu di-réspon ku awak. Syaraf méré sinyal ka otak supaya nyengkatkeun sirah. Sénsor otak méré instruksi kana sirah. Tapi sirah teu méré réspon, angger cicing. Ceuk syaraf hayang ngagoak. Kitu kénéh. Taya réspon tina pita sora. Tetep wé ngabigeu. Mun di-transfer éta alur instruksi, sinyal, sénsor, jeung réspon kana modél visual, sigana kawas lalajo carita pégo. Aya gambar, gerak, tapi euweuh sora.

Nu leuwih matak kasiksa, réspon kana ambekan. Kumaha hayang ngarénghap, tapi taya réspon. Sakali. Dua kali. Tilu kali. Nepika béak pisan nafas. Tapi dina pipikiran mah angger bisa ngarénghap. Bisa ngahégak ogé. Da leungeun jeung suku gé dina pipikiran mah bisa pakupis.

Ngan dina prak-prakanana nu henteu téh.

Lila-lila mah capé ogé maksa kahayang téh. Antukna cicing. Nuturkeun kahayang rasa jeung pikiran. Teu ménta. Tapi nurut.

Dituturkeun sakumaha kahayang rasa mah geuning bisa.

Mimiti panon bisa gerak. Galar-gilir ngarérét ka sisi ka gigir. Tuluy sirah mimiti bisa obah. Bisa luak-lieuk. Terus ramo-ramo leungeun. Terus ramo-ramo suku. Ngarénghap lancar deui. Sora ogé kaluar deui, sanajan karék wani ngaharéwos.

Sirah jeung awak gé bisa dicengkatkeun deui ayeuna mah.
Méméh obah leuwih jauh, bari ngararasakeun awak, terus ngajepat deui. Neuteup lalangit kamar nu bodas. Ngarérét ku juru panon ka sakuriling. Geuning loba nu datang.

Katangen nu nungkulan euweuh nu némbongkeun beungeut. Kabéh tungkul nyumputkeun paneuteup.
Matak asa laluasa basa awak lalaunan cengkat. Ah, teu sing hésé. Malah sakitu babarina. Teu ditanagaan gé awak saolah-olah ngangkat ku sorangan. Semu ngangkang. Terus ngambang.

Nu tungkul asa beuki ngareluk. Teu miroséa awak kuring nu terus ngambang beuki ngaluhuran. Luhureun pangsaréan.

Lalaunan awak ngambul ka luhur.
Héy, awas! Asa ngadéngé nu ngajorowok.

Tapi dirérét, taya saurang gé nu cengkat. Kabéh husu dina tungkul séwang-séwang. Bet tuluy hayang ngélég. Ramo-ramo nu tadi hésé digerak-gerak téh gugupay. Sok téwak! Héy, téwak uing tah!

Teu lucu, eung! Kadéngé deui aya nu ngagero.

Tapi ukur hiuk angin nubruk kaca jandéla.
Bebel, téh! cenah deui.
Kadieu siah, anjrit! Beuki tarik.
Tapi taya nu robah.
Sok atuh téwak ari wani mah! Cékéng rada ngancunan.

Awak asa beuki ngaluhuran. Geus rék nepi kana lalangit. Leungeun-leungeun nu keur tarungkul téh terus ranggah. Sapasang-sapasang ngacung ka luhur lir nunjuk langit. Tapi lain nunjuk ka kuring.

Hag, Si Mamah ambek geura! Héy, turun! Terus tingjorowok, tapi asa beuki ngaweuhan. Siga sora nu keur ngajauhan.

Hayoh ka dieu, balik deui! Ayeuna mah semu hawar-hawar.
Ka dieu, pleasé. Ceuk sora leuleuy.
Sora nu dituturkeun paneuteup jeung ramo-ramo ngagupay.
***
BRAY. Beunta deui. Lilir deui. Angger kénéh mongkléng alias poék. Auk, ah, gelap!
Geus ngimpi deui, gerentes téh.

Mun kieu terus, nya mémang geus kuduna. Meureun teu kudu mamaksa hayang geura beurang. Peuting jeung beurang gé sarua meureun. Ngan pédah aya caang jeung poék. Kalah aral maksa hayang geura panggih jeung caang gé, ari nu aya poék deui poék deui mah.

Ngan, rék naon lampah lamun peuting terus-terusan taya anggeusna. Piraku ngan saré jeung ngimpi onaman.

Aya sakotrét sinar dina jero sirah nu nyabit kajadian ieu aya kakaitan jeung datangna lebur kiamat.

Moal rék papanjangan nyaritakeun kolébat pikiran éta.

Moal diinget-inget.
Can waktuna!
Sanajan bisa jadi ieu salah sahiji tanda-tanda datangna Kiamat. Tapi ukur hiji tanda. Karék cenah éta ogé. Cenah, salah sahiji tanda datangna poé kiamat téh bakal ngalaman peuting terus-terusan lilana opat puluh poé opat puluh peuting.

Ceuk kuring, teu manjing logika. Sabab kiamat mah lain logika, tapi kayakinan. Sabab mun ngudag logika, kiamat geus datang ti béh ditu mula. Mun maké tanda-tanda tina laku lampah jalma nu tibalik siga lalaki boga kalakuan jeung pamaké nurutan awéwé atawa sabalikna awéwé nu siga lalaki, kapan ti abad ka-19 gé geus aya.

Susah muguhkeun watesanana ogé. Aya nu nyebutkeun lalaki niron-niron awéwé téh mun buukna panjang, gumeulis maké seuseungitan, jeung maké pakéan kawas awéwé. Kapan jaman Romawi mah lalaki kalolobaanana gondrong. Atuh wadya baladna ogé maké seragam nu mangrupa andérok.

Pon kitu deui awéwé nu pupurutulan niron-niron jalu, ti jaman Rénnaissancé gé geus nyampak. Modél-modél nu biasa jadi obyék lukisan. Malah kapan Cléopatra gé teu kacaritakeun maké rok panjang atawa longdress jeung kabaya, upamana.

Nu loba percaya kana datangna kiamat dumasar kana logika nyaéta tina pananggalan sélér Maya di Amérika Latin. Cenah, kiamat bakal datang taun 2012. Malah dipastikeun poéna ogé meneran tanggal 21 bulan 12 taun 2012. Anu saterusna digambarkeun dina film jieunan Roland Émmérich judulna 2012. Kiamat nu cenah nurutkeun kana pananggalan jeung tanda-tanda sélér Maya, tapi jolna bet kana carita lalampahan Bahtera Nabi Nuh.

Tapi kiamat lain ayeuna. Sanajan peuting nepi ka ayeuna can kénéh manggih tungtung. *
DINA mongkléngna peuting. Teuing impian nu kasabaraha, kuring kahudangkeun ku hawar-hawar asa ngadéngé sora nu nembang. Enya, mun ngaregepkeun galindengna mah puguh wanda tembang, lain aweuhan tahrim. Sidik. Aya guru laguna. Aya guru wilanganana. Semu murwakanti. Pupuh kinanti. Halon, teu dibedaskeun sorana. Tapi atra kecap-kecapna. Malah rénghap tiap ganti padalisan gé jéntré pisan.

Beuki lila beuki atra. Sora tembang beuki ngadeukeutan. Beuki deukeut beuki tambah jéntré, geuning lain hiji sora nu nembang téh. Tapi sora rampak nu gumulung jadi hiji sora. Gerendeng nu ngagalindeng.

Aya cahaya nu ngolébat tina jandéla. Lain cahaya bulan.
Nu ngolébat beuki nambahan.
Kuring nyérangkeun tina jandéla. Siga aya cicika gegeleberan. Cicika hiji gegeleberan meuntasan sela-sela daun. Nyaangan dahan-dahan. Aya hiji deui cicika. Nambah deui. Jadi sababaraha. Jadi loba.

Tapi, salian ti nambah loba, cicika téh jadi ngagedéan. Cahayana buleud siga lampion. Ngajajar. Patutur-tutur. Oyagna bareng. Majuna bareng.

Horéng cicika téh ngagantung dina tali. Tali nyangreud kana iteuk panjang. Iteuk dicekelan ku sapasang leungeun. Sapasang leungeun nu kaluar tina jubah panjang. Jubah hideung.

Geuning lain cicika. Sidik ayeuna mah nu caang téh lantéra nu digantungkeun dina iteuk. Hiji. Dua. Tilu. Tujuh. Sapuluh. Leuwih ti sapuluh lantéra. Tuh, nambahan deui. Jadi sabelas. Tujuh belas. Dua puluh. Tilu puluh. Euleuh, puluh-puluh jalma dijubah hideung ngaleut ngeungkeuy ngabandaleut mawa lantéra bari nembang.

Cepet muru ka wétan.
Rék kamarana kawétankeun?
Ka tempat bijilna srangéngé unggal isuk.

Boa, rék mapag panonpoé kitu? Néang matabeurang nu teu jol datang. Husu ngajingjing lantéra, siga keur nyaangan jalan tincakeun. Tapi siga nu ngahaja mekel cahaya keur nyeungeut panonpoé nu sigana pareum anu matak teu meleték nyaangan alam dunya ogé.

Boa kétah lantéra keur ngogan sangkan balébat datang. Siga Dayangsumbi nu ngondang balébat ku cara meberkeun boéh rarang di tebéh wétan.

Papada hayang mungkas peuting nu teu manggih tungtung.* 
ASA ngadéngé sora kongkorongok hayam. Hawar-hawar. Lain kadéngé ngokna wungkul. Jelas jeung kongkorona ogé. Kongkorongok, cenah.

Kongkorongok pondok. Henteu melung. Tapi keukeuh kongkorongok. Mun geus kongkorongok hayam mah pasti téréh beurang. Biasana, mun geus aya sakali kongkorongok sok ditéma kadua kali. Terus sok ditémbalan ku kongkorok séjén. Terus silih témbal. Patémbal-témbal. Jadi raong kongkorongok, biasana.

Tapi sora kongkorongok téh anggér hiji kénéh. Nu éta kénéh. Sorana kitu-kitu kénéh. Pasti hayamna gé éta-éta kénéh.

Lain kitu éta mah kongkorongok hayam nu ceuk kolot kila-kila aya nu reuneuh jadah? Aya nu hamil teu boga salaki. Ngakandung anak taya bapaan. Piring pisin diragaji, colénak dikalapaan téa, meureun.

Mungkin waé sora kongkorongok hayam katipu. Disangka balébat, padahal hayam lulungu ningali aleutan jalma nu mawa lantéra. Euh, boa enya éta mah hayam nu sérab ku cahaya lantéra. Hayam nu ngadago-dago datang balébat, tapi teu embol-embol. Ari torojol aleutan lantéra nu caangna ngembat siga gurat balébat. Atuh, der wé kongkorongok.

Halah, hayam teu gableg cedo.
Tapi angger masih kénéh peuting nu teu manggih tungtung.* 
MUN Dayangsumbi bisa nipu wanci, naha urang gé bisa? Sang Dayang nyambat balébat nu can waktuna datang. Mun balébat jeung kongkorongok hayam cukup jadi wates antara peuting jeung beurang, meureun ayeuna gé balébat bisa diogan sangkan datang megatkeun lampah peuting nu teu daék lekasan.

Kapan cukup ku mébérkeun boéh rarang, gawé sapeuting jeput Sang Kuriang tumpur. Balébat datang. Talaga teu anggeus. Parahu dibalangkeun sina nangkub.

Mun kitu, peuting nu panjang téh bisa dirékayasa sangkan tamat. The énd. Baganti jeung beurang. Peuting ganti ku beurang. Poék kasilih ku caang. Geus poék tuluy caang. Habis gelap terbitlah terang!

Cik, lamun ayeuna aya boéh rarang dibébérkeun di beulah wétan, naha kira-kirana balébat bakal datang? Kumaha lamun ku cahaya nu leuwih rongkah? Ku boéh rarang wae bisa, komo mun ku nu leuwih ti kitu. Ku nu leuwih bodas ti boéh rarang.

Bisa ku kembang api atawa merecon.
Bisa ku sinar laser. Cahaya halogén. Nuklir.
Sinar gamma!
Sugan bisa nganggeuskeun peuting nepika manggih tungtung.***
http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/40551/Carita-Kuntung

Thursday, July 28, 2011

Ma Ijah Newak Cahaya

Sasimpé-simpéna di statsion karéta api, kitu wé teu weléh gugurudugan ku karéta api nu ngaliwat. Ka peutingnakeun mah nu mindeng ngaliwat téh karéta api ngakut barang. Karéta api barang mah arang eureun di statsion. Keur Eulis jeung Ma Ijah mah teu jadi gangguan, tibra wé saré, ngaguher dina sisi rél karéta. Tempat saréna maké hahalang kardus urut, méh rapet kana témbok wates statsion. Angin peuting neumbagan kardus hahalang, tina sela-sela liang angin ngahiliwir, tiis kana bitis. Ma Ijah beuki morongkol, beuki pageuh ngeukeupan Eulis.

Mangsa janari, karéta api barang ngaliwat, Eulis lilir. Panon rucang riceng, rada cengkat, panon neuteup ka luar tina sela-sela kardus. Kaciri aya cahaya tingarajleng, siga nu kagebah ku ngadiusna karéta api, lir kabawa angin, tinggorolong.
Eulis beuki nyidik-nyidik, leungeunna pageuh nyekel kana simbut Ma Ijah.
"Ma..Ma." Eulis ngaguyah-guyah Ma Ijah.

Ma Ijah lilir. "Aya naon..?" Dina haté Ma Ijah geus teg wé pasti aya nu ngabuburak, biasana nu sok ngabuburak téh jagabaya nu tugas di statsion karéta api, tapi ma enya wayah kieu, da can kadéngé adan subuh. Keur Ma Ijah mah dibuburak téh geus biasa, tinggal cengkat najan keur genah saré kapaksa kudu nurut kana paréntah. Saré di statsion téh lain kahayangna, da mun boga tempat saré nu merenah mah moal teuing nyiruruk di tempat nu walurat.
"Itu Ma."cék Eulis bari nunjuk kaluar.

Ma Ijah panasaran, terus nyingkabkeun kardus hahalang tempat saréna. Ti kajauhan kaciri jagabaya ngabedega nyekel tumbak, baju singset maké iket, disapatu lurik bodas hideung, baju bulao kolot rarawis emas. Euh geuning lain nu ngabuburak. Ma Ijah nyidik-nyidik panuduh Eulis, sakedapan mah olohok ningali cahaya ting arumbluk lolobana dina handapeun korsi ruang tunggu. Cahayana ting karetip lir béntang nu baranang di langit, enyay-enyayan, aya nu ngénclong héjo aya nu semu gading, aya nu konéng emas, aya nu bodas pérak.

Ma Ijah sabil, antara hayang teges jeung sieun, dina haténa norowéco boa-boa emas inten berlian nu murag ti panumpang karéta api tadi soré. Ma Ijah istigfar sababaraha kali, bari neger-negerkeun manéh. Nangtung ngajarigjeug, lulungu.

"Hayu Eulis urang tingali.."
Eulis muntang kana leungeun Ma Ijah, pageuh tipepereket.
Handapeun korsi tunggu Ma Ijah nyidik-nyidik cahaya.
"Cika-cika Ma? " cék Eulis.
"Lain" témbal Ma Ijah
"Lumar Ma?
"Lain"
"Emas Ma?"
"Teuing"
"Inten Ma?
"Teuing".

Ma Ijah niat nyokot hiji, tapi barang rék gep kacekel, cahaya siga nu ngabalicet, lir néwak laleur, lindeuk japati, cahaya oyag lalaunan, siga cahaya lampu katiup angin lalaunan, pindah tempat tuluy ngagateng deui.
Ma Ijah ngahuleng, lain milik diri bagja awak meureun, mana embung ditéwak gé, sagala rupa gé rijki mah tara pahiri-hiri.
"Ma ieu beunang..Ma.." cék Eulis semu hariweusweus.
"Wadahan kana kantong kérésék"
Ma Ijah nutur-nutur bujur Eulis nu paciweuh néwakan cahaya. Eulis resep kabina-bina asa mulungan inten berlian. Ma Ijah ngeukeuweuk kantong kérésék urut wadah kurupuk, Ma Ijah ngeukeuweuk kantong kérésék embung leupas, Ma Ijah ngeukeuweuk kantong kérésék sieun leupas.

Eulis néwakan cahaya nepi ka jalan Kebon Kawung. Ma Ijah olohok, sapanjang jalan Kebon Kawung marakbak ku cahaya ting karetip, ka wétankeun beuki loba, beuki napuk, beuki ngagonyok.
Eulis leungeunna ranggém ku cahaya, ngadeukeutan Ma Ijah, cahaya dina leungeunna hayang buru-buru diwadahan kana kantong kérésék nu dibawa ku Ma Ijah.
"Ma kadieukeun kantongna."
"Ké, gémbol wé heula ku erok"

Ma Ijah leumpang gagancangan ka wétankeun, hayang ngarawu, sugan di nu loba mah aya hiji atawa dua nu katéwak. Ma Ijah pakepuk lir néwakan siraru, teu nolih titincakan.

Leungeun ngarawél néwak cahaya, gerewel beunang hiji, jedak tarangna tidagor kana témbok pager. Ma Ijah tanggah bari ngusap tarang nu tidagor, kaciri junggiringna témbok pager. Témbok ngeplak bodas, beusi seukeut rancung di béh luhur, unggal tilu metér belenong lampu listrik nu hurung kénéh. Dina pager témbok napuk cahaya, siga mangjuta-juta cika-cika. Hayang nyiuk ku ayakan, hayang nyiuk ku lambit, hayang nyiuk ku undem. Pager témbok nu ngembat panjang, beuki ka wétan palebah gapura, cahaya beuki loba, ngagonyok awor jeung cahaya panonpoé nu rék meleték. Ma Ijah gogodeg, istigfar geus teu kaitung.

Eulis datang, ngarawél kantong kérésék nu dicekel ku Ma Ijah, gebru cahaya nu digembol ku erokna, diburusutkeun kana kantong kérésék
"Ma itu di ditu loba pisan" Eulis nunjuk. Ma Ijah unggeuk.

Ma Ijah leumpang lalaunan ka gapura bari leungeun ngayap kana témbok pager. Eulis nyirintil miheulaan. Geblus asup ka buruan gedong sigrong ngaliwatan gapura. Jagabaya keur nundutan dina gardu, maké baju pulas bulao kolot rarawis emas, iket jeung tumbak pasoléngkrah, dina iket aya tulisan PKD, pasukan keamanan dalam, seuseukeut tumbak ngacung ka luhur. Ma Ijah neuteup, ngeteyep, lalaunan ngaliwat.
Di hareupeunana gedong digrong, tihang ngajunggiring sagedé-gedé tangkal kalapa, tihang ngajunggiring sagedé-gedé cangkéng jalma budayut, tihang ngajunggiring sagedé-gedé beuteung munding. Di tepas gedong sigrong, lampu nu digantung ngagebyar hurung, ubin hérang ngagenclang, unggal panto cacangklékna warna emas.

"Ma ieu téh gedong naon?"
"Teuing"
Eulis lumpat muru ka taman hareupeun gedong sigrong, kekembangan nu dipelak rapih, kembangna keur mangkak hadé omé, Eulis asa jadi putri geulis keur ulin di taman raja. Kekembangan jeung cahaya silih kiceupan, cahaya ku Eulis ditepakan, mumbul ngapung ka luhur, kembang ku Eulis diciuman.
Ma Ijah neuteup Eulis "Deudeuh teuing anaking" gerentes haténa, ras inget ka indung bapana Eulis nu ayeuna boa dimana ayana.

Tayohna jagabaya kagareuwahkeun ku Eulis nu keur ulin di taman nu keur ocon jeung kembang, nu keur ocon jeung cahaya. Jagabaya nguniang hudang, lilir gular giler, rap iket kerewek tumbak.
"Saha éta?" sorana gelap ngampar semu peura campur jeung aday.
Jempling sakedapan, Eulis cicing, Ma Ijah cicing. Ma Ijah awakna ngeleper ngarasa katohyan asup rerencepan ka buruan gedong sigrong.
Kedepruk sora sapatu coréléng bodas hideung, awak badag jangkung harelung, gegendir diulinkeun. Ma Ijah ngayekyek, Eulis ngahéphép.

Ma Ijah jeung Eulis diiringkeun ka pos jaga, lir munding dicocok irung. Ditanya, diperekpek, saha ngaran, asal timana, umur sabaraha, pagawéan, padumukan, KTP nepi ka status randa., naha wani-wani asup ka jero taman.

Ma Ijah ngajawab satarabasna, ngaran Ijah asal ti lembur Selaawi, umur genep puluh taun, pagawéan teu gaduh, padumukan dina kardus sisi erél di statsion karéta api, randa, teu sakola kungsi masantrén, KTP teu aya. Ieu incu ngaranna Eulis, umur salapan taun, teu sakola, kungsi sakola nepi ka kelas tilu sakola dasar, teu aya biaya, indung bapana digawé ka Arab Saudi, keur ongkos ka Arab Saudi ngajual imah jeung ngajual  sawah sacangkéwok, geus dua taun ngilu jeung Ma Ijah saditinggalna ku indung bapana Duit kiriman ti Arab Saudi teu jol baé. Mun teu jajaluk di dayeuh rék dahar naon, jeung moal boga duit keur meuli béas, da harga béas beuki mahal. Pangna asup ka jero taman pédah néwak cahaya nu napuk. Hapunten ka Adén Jagabaya, mugi ageung cukup lumur ngahapunten samudaya kalepatan.

"Nini, ulah kamana-mana, cicing dijero pos, mun kabur bisi diperkarakeun, kuring rék aras urus heula, mangkaning poé ieu bakal loba tamu, aya acara ngopi pagi jeung raja," cék jagabaya.
Terus jagabaya téh paparéntah ka baturna, cék nu séjén saur manuk "Siap komandan"

Ma Ijah jeung Eulis nyempod di jero pos, teu wani loba omong, kantong kérésék wadah cahaya ditangkeup, sieun leupas, ongkoh deuih cék jagabaya ulah dikamamanakeun keur barang bukti.
Teu lila gulusur aya mobil datang, asup ti gapura. Mobil alus plat beureum, hérang ngagenclang. Eulis noong tina jandéla pos, buru-buru ngelok deui terus ngaharéwos ka Ma Ijah "Ma..itu cahaya napuk dina gilinding mobil".

Ma Ijah nempo tina jandéla, enya wé dina gilinding mobil napuk cahaya. Nu numpak mobil turun, tina baju jeung awakna murudul cahaya, kagibrigkeun. Sarérétan kaciri di tepas gedong sigrong aya nu sasapu, keur nyapuan cahaya. Ma Ijah hémeng, naha cahaya sakitu ngagebur mancurna nepi ka dimomorékeun, siga nu dipiceunan nepi ka disapukeun, nepi ka digéléng ku gilinding mobil, nepi ka digibrigkeun tina awak tina baju. Ma Ijah balem, leungeunna ngusapan sirah Eulis.
Beuki beurang beuki loba mobil nu datang, beuki beurang cahaya nu napuk dina gilinding mobil beuki teu kaciri kaéléhkeun ku cahaya matapoé.. 

Geus rada beurang, sanggeus tatamu pada mulang, jol jagabaya nu tadi isuk-isuk tatanya.
"Nini, mana kantong kérésék téh?"

"Ieu nun," cék Ma Ijah bari ngasongkeun kantong kérésék nu majarkeun pinuh ku cahaya.
Kantong kérésék dibuka, dialak-ilik "Lah nini mah sok ngabohong, geuning euweuh nanaonan, ngan ukur sosoéhan koran, leuheung mun gedé mah bisa dipaké mungkus tarasi, ari ieu ngan ukur sagedé-gedé cinggir budak" kitu ngomongna téh bari mikeun deui kantong kérésék.

Ma Ijah reuwas sieun disangka akon-akon, tuluy kantong kérésék dibuka, enya wé nu diwadahan téh ukur sesebitan koran, sagedé-gedé cinggir budak. Ma Ijah hémeng, Ma Ijah ngaheruk, aya bagja teu daulat, sugan téh nu jadi cahaya tina emas inten berlian atawa naon wé nu aya hargaan keur ngabanjel-banjel hirup sapopoé. Naha bet jadi sosoéhan koran?.

"Adén,.leres tadi subuh mah ieu téh dianggo ngawadahan cahaya, cahaya téh mani ngagebur napuk tuh di taman, tuh ti jalan kénéh, atuh di tepas itu, malih tadi gé dina gilinding mobil tatamu cahaya téh napuk" cék Ma Ijah ngayakinkeun, kituna téh bari nyomot sosoéhan koran di asongkeun ka jagabaya.

Sosoéhan koran diilikan ku jagabaya, kabaca saliwatan aya kecap jujur, adil, amanah,  wijaksana, sumpah, jangji. Jagabaya ngahuleng, teu lila pok ngomong "Nini, keun sual cahaya mah kumaha nini wé, nu penting mah ulah deui-deui wani asup ka ieu gedong najan ukur di gapura, bisi diperkarakeun"

"Nampi dawuh Adén, moal deui-deui kumawantun ngulampreng ka ieu patempatan, mung ieu téh gedong naon nun?" tembal Ma Ijah.

"Ieu téh Gedong Pakuan, tempatna raja bumén-bumén, nu tadi tatamu gé éta téh ménak wungkul ti kantor kadinesan nu ngageugeuh ieu dayeuh, tadi téh ngadon ngopi pagi jeung raja bari nyawalakeun nasib rahayat. Nini bawa kantong kérésékna, didieu mah jadi runtah."*
Karya : Mamat Sasmita (jabar.tribunnews.com)

Wednesday, July 27, 2011

Antara Gunung Tua Jeung Cimalaka

Keur meujeuhna sono bogoh hirup rumah tangga téh.  Ninggang kana paribasa runtut- raut sauyunan, ka cai jadi saleuwi ka darat jadi salogak, sareundeuk saigel, sabobot sapihanéan. Barudak keur meujeuhna lalucu, kitu deui usaha nu jadi salaki, keur aya dina kamajuan. Rumah makan beunang itikurih duaan, ahirna kajojo ka mana-mana. Padamuru pada ngajarugjugan.

Tapi geuning milik mah teu pahiri-hiri, bagja teu paala-ala. Hirup jeung huripna manusa mungguh geus aya nu ngatur. Kitu ogé garis nasib nu tumiba ka diri kuring. Kersaning Gusti,  alatan kasakitna, Kang Yudi tilar dunya, mulih ka jati mulang ka alam kalanggengan, dipundut ku nu kagunganana.  Harita, nu karasa téh bumi alam asa tungkeb, banget ku  baluweng pipikiran, kumaha nya geusan pilampaheun.  Hantem midangdam nyeungceurikan peurihna papastén Hyang Widi, hantem midangdam nyeungceurikan panutan haté nu miheulaan ninggalkeun. Ninggalkeun kuring jeung barudak.

Rék teu kitu kumaha. Keur kuring mah Kang  Yudi téh salaki idéal. Kasabaranana, tanggung jawabna  ngipayahan anak pamajikan, kasaksian ku  diri sorangan.  Ti enol pisan kuring jeung manéhna ngamimitian muka usaha nepi ka  saditinggalkeunana, kuring henteu kudu hirup ripuh. Mantak keur naon rumah tangga deui ogé. Mending hirup nyorangan, nuluykeun ngokolakeun pausahaan titinggal almarhum kalayan soson-soson.

                " Tiasa nyuhunkeun daftar ménu Néng?", sorana  agem ngagareuwahkeun lamunan. Lalaki tengah tuwuh, dangdananana nécis, rapih tur dandy ngajanteng hareupeun. Sikepna, rengkuhna jadi pertanda. Ajegna adeg-adeg kasopanan nyekrup kana  tagog jeung  penampilanana nu perlénté.

                "Oh..mangga Bapa. Haturan, wilujeng sumping", ceuk kuring bari mérékeun daftar ménu nu dipéntana. Torojol Rina, pramusaji  nyampeurkeun, mawa catetan keur nyatetkeun  naon baé nu dipesen.

"Badé di palih  mana, Pa?", Rina nanya. Kuring jongjon tungkul mariksaan bon  nu pabalatak  dina méja. Karérét ku juru panon,  manéhna nyampeurkeun deui.

                "Tiasa  di méja  palih lebet?"  Jempolna nuduhkeun ka méja  anu ngajéjér di rohangan béh jero.

                "Yaktos Bapa. Mangga...tiasa milih tempat nu  cocog sareng  kapalay", kuring imut ngahempékeun.

Koloyong man?hna ka jero, muru ka  m?ja nu kaopat. Pangjuruna. Eta  rohangan ngahaja ku kuring dirancang pikabetaheun. Kentel  nuansa romantisna,  ngahaja keur nu mikabutuh kana éta hal. Teu loba méja  anu aya di éta rohangan téh, ukur opat méja. Korsi anu disayagikeun gé ukur opat-opat. Sangeus pesenan sayaga, ku Wawan ditanggeuy, dianteurkeun ka méjana. Ti kajauhan ku kuring katénjo, Wawan milu diuk heula, ngobrol sawatara waktu. Teu lila jol  Wawan ka deukeut méja, nyimpen baki urut nanggeuy dahareun téa.  Ceuk Wawan, éta tamu téh Kepala Unit hiji bank, anu kantorna teu pati jauh ti réstoran kuring. Kabeneran deuih, mun seug éta  bank keur  katatamuan,  atawa  ngayakeun  acara, sarta  dina kagiatan kantor sapopoéna, parakaryawanna kabéh sok dalahar di  dieu, di réstoran kuring. Dina jero haté tuluy ngomong  sorangan, paingan dangdanan tur sikepna  meni hadé kitu, horéng lain jalma joré-joré.

"Meni saé nami réstoran téh  Néng. Anteb pihartoseunana gé. "Hégar Sari". Leres-leres janten tempat anu hégar sareng nyari kanggo niis, pasti  parapelanggan téh ngaraos  baretaheun pami sarumping ka ieu tempat".

"Amin, hatur nuhun Pa!"

                "Mangga diétang, sabarahaeun?", ceuk manéhna bari ngaluarkeun dompét. Sabada diitung, duit téh aya pamulangan kénéh.  Song dibérékeun ka  Wawan anu kabeneran ngaliwat ka hareupeunanana.

                "Hatur nuhun kana kasumpinganana Bapa!", ceuk kuring .

Léos éta  jalma téh ngaléos. Beuheung eueuleugeugan, basa ningal mobil anu dipakéna kaluar ninggalkeun palataran parkir.  Euleuh.......Hardtop heubeul kaluaran taun `83 pulasna kopi tutung, meni gugurilapan, cicirén  hadé ropéa. Body mobil geus meunang ngamodif. Bener-bener gaya tur gagah katingalna. Eta deuih, ku anéh, plat nomer mobilna, D 3103 HS,  bet sarua jeung tanggal lahir tur inisial singgetan ngaran kuring!

*******

                Poé ieu mah, réstoran téh pinuh pisan. Dalapan beus wisata nu rék ngajugjug ka Ciater ngaradon reureuh. Atuh  paciweuh pisan harita téh. Torojol Pa Yusuf  datang bareng jeung dua  baturna. Cenah mah Penilik ti Kantor  Cabang anu deuk ngaroris  ka Kantor Unit  Gunung Tua. Ku lantaran  parapramusaji téh kabéhanana nyanghareupan cekelan  séwang-séwangan, kapaksa  kuring gé singkil, turun tahta, mantuan milu jadi pramusaji. Pa Yusuf sabatur-batur nu disanghareupan téh.

Pesenan geus  ngabarak dina méja. Angger milih tempat nu biasa, méja nomer opat  di  rohangan  béh jero.

                "Mangga  Pa, wilujeng  tuang!", ceuk kuring bari merenahkeun gelas ci entéh haneut keur nginumna.

                "Hatur nuhun, sareng  atuh sakantenan!" .

                "Mangga Bapa, hatur nuhun. Permios!" .

                "Sakedap  Néng. Hapunten kumawantun. Tos  sering abdi neda di dieu, asa teu acan tepang sareng  tuang raka. Nuju kamana?" Pa Yusuf nanya.

Bek! Asa aya anu nonjok kana hulu angen.  Keuna  kana mamaras rasa. Pertanyaan saperti kitu nu pangdipikasieunna lamun kuring panggih jeung jalma anyar.  Jalma anu kakara  wawuh sarta  tangtu baé teu apaleun kana kasang tukang kahirupan pribadi kuring.

 "Pun lanceuk mah parantos ngantunkeun!".

 Aya nu nyurungkuy tina jero panon.  Sakuat tanaga ditahan. Jeletit kana haté asa  aya nu nyiwit. Kanyeri jeung kapeurih ditinggalkeun ku nu jadi salaki kahudang  deui. Sajongjongan nu tiluan jempé. Kuring ngarahuh, narik napas panjang.

"Hapunten!" ceuk Pa Yusuf.  Kuring ngaléos  bari manggut. Karérét nu saurang mah paneutepna asa rada béda. Eta meureun pédah apal ayeuna mah yén kuring téh randa. Rey jadi cua.

                Ti saprak  éta kajadian, pasemon kuring rada robah mun manéhna  datang téh. Kuraweud  haseum. Ceuk pamikir téh, baé kaleungitan  pelanggan hiji mah.  Ké ogé bakal loba deui anu datang. Tapi jeung pundung mah kalah  nerus nyambung. Komo ayeuna mah, manéhna bet jadi deukeut  jeung barudak kuring. Antukna, ulat judes ka manéhna gé lila-lila mah  barobah.  Kasabaranana  bet asa  sarua  jeung almarhum. Sabar nalika nyanghareupan barudak,  ogé dina nyanghareupan sipat  jeung adat-pangadatan kuring.

***

                Geus dua poé teu bisa  nungguan réstoran téh, sabab Maira, Si Bungsu gering. Sapeupeuting awakna nyebrét, panasna teu turun-turun. Ceuk dokter nu mariksana , budak téh kudu diopnameu.

                Basa keur diuk dina risbang gigireun Maira suster norojol nyampeurkeun.

                "Jadwal dinés bu!"

                "Sabaraha kali deui Néng?"

                "Sakali deui ayeuna, margi katingalna mah eungapna tos  sakinten".

                Budak téh ngalewé. Leungeunna diusapan. Keueung meureun, ningali pabaliutna selang anu rék ditapelkeun kana awak  manéhna.Torojol aya nu asup ka rohangan, dirérét, horéng Pa Yusuf.

                "Papih.....!"

                Maira ngagero halon. Leungeunna ranggah ménta  dipangku. Kuring ngagebeg. Maira bet nyebut papih. Ti iraha? Hayang sapok-pokeun ngahuit, nyarék Maira. Tapi biwir  bet asa rapet pisan, hésé diengabkeun. Pa Yusuf nyampeurkeun. Budak téh dipangku. Selang infusna dibebener. Pok manéhna ngomong.

                "Teu kedah sieun Mai, pan aya  Papih. Kersa nya dilandongan, supados énggal damang!".  Kituna téh bari ngusapan sirahna. Pipina diusapan deuih. Budak téh jempé.  Suster masangkeun alat nébulizer. Maira siga tingtrimeun naker aya dina lahunan Pa Yusuf.          

******

Sabada Maira mulang ti rumah sakit, kuring jeung barudak diajak jalan-jalan. Kaka jeung Maira anteng dina rupa-rupa kaulinan. Ku duaan dipelong ti kajauhan.

                "Lia, ngahaja Akang ngajak Lia jeung barudak ka ieu tempat. Akang téh hoyong ngobrol kalayan tumaninah. Wios nya, da barudak mah nuju anteng!"

                "Perkawis naon téa?" kuring tanggah, ngawanikeun manéh neuteup beungeutna, bari imut pok manéhna ngajawab.

                "Urang duaan!  Tangtos salira gé surti kana sikep Akang salami ieu. Akang téh aya maksad badé mikanyaah ka salira!"

                Sajongjongan kuring ngaheneng. Salila ieu gé kuring téh surti. Tapi sok ngahaja disieuhkeun tina pikiran. Di sina ingkah ka tempat anu jauh, ka Sabrang ka Palémbang, ka nagara  nu pangjauhna.

                "Akang nyaah ka salira, kitu deui ka barudak!"

                "Kang Yus, hatur nuhun! Abdi ngartos kana pamaksadan Akang. Tapi teu gampil kanggo urang  duaan mah. Naon margina? Akang aya nu kagungan!" bari tungkul nyarita téh, bari ngucel-ngucel tungtung cindung. Cindung warna kulawu, ciga kulawuna rasa nu kiwari keur samagaha,    dalit  marengan.

                "Kapan pameget mah wenang badé dua, tilu, atanapi opat ogé  sanés? Asal tiasa lumaku kalayan adil. Rarasaan mah,  Akang bakal mampuh. Boh ku sikep boh ku materi."

                "Yaktos, kitu pisan  nu kauninga ku urang sadayana.  Tapi tetep kapan kedah aya widi ti geureuha  salira!"

                "Penting éta hal kanggo salira?" leungeunna pageuh nyekelan leungeun kuring. Paneuteupna  asa nembus kana jajantung. Duh...éta soca! Aya ku liuh. Paneuteupna nu sok ningtrimkeun marojéngjana pipikiran téh. Luk deui tungkul, tungtung cindung milu pasrah basa ramo mimiti nyagap jeung ngucel-ngucel deui tungtungna.

                "Kalintang pentingna. Kanggo abdi, pernikahan téh sanés wungkul nikahkeun urang duaan.  Akang sareng abdi sipatna. Langkungna ti kitu, pernikahan téh kedah tiasa ngahijikeun dua kulawarga janten hiji beungkeutan, ngiatkeun ukhuwah, ngaraketkeun tur  ngamumulé silaturahmi. Kantenan kanggo urang mah, sanés mung ukur dua kulawarga nu badé dihijikeun téh panginten. Tapi opat kulawarga. Kulawarga abdi, kulawarga  almarhum, kulawarga  Akang, sareng kulawarga Ceuceu."

                "Nu penting mah kapan niat Akang, Nung! Teu saheureuyeun badé migarwa salira. Akang bakal tanggung jawab nganapakahan salira jeung barudak. Lahir-batin, dunya-ahérat!"

                "Akang, abdi yakin pisan kana éta hal. Karaos pisan kanyaah Akang ka abdi ogé ka barudak salami ieu. Tapi,  kanggo katingtriman urang sadayana, saéna nyuhunkeun heula widi ka Ceuceu. Pami Ceuceu ngawidian, ka abdina gé bakal ngaraos langkung tingtrim. Dokumén pernikahan ti  nagara gé bakal gampil diuruskeunana deuih pami aya widi ti istri nu kahiji mah.  Eta bakal janten payung hukum kanggo nangtayungan abdi, nangtayungan pernikahan urang,  ogé nangtayungan barudak. Saterasna, tangtos abdi bakal sah janten istri Akang. Sah numutkeun aturan agama, sah ogé numutkeun aturan nagara. Akang ngartos kana naon anu nembé ku abdi disanggemkeun sanés?"

                Manéhna  rumahuh, narik napas panjang. Keur kitu barudak singtorojol nyampeurkeun.

"Pap, hoyong uih!" Maira sumolondo kana lahunanana.

"Hayu!"

Maira dipangku, tuluy manéhna nungtun leungeun kuring. Kaka mah hideng, miheulaan lumpat ngadeukeutan mobil nu diparkir teu pati jauh ti lebah dinya. Bring opatan mulang, muru ka imah.  Dina mobil, barudak mah talibra, tayohna carapéeun urut lulumpatan ka ditu-ka dieu, kari kuring duaan!  Anteng jeung pikiran  séwang-séwangan. Anteng jeung lamunan séwang-séwangan.

Teu lila ti harita, Kang Yusuf ngajak badami pikeun ngungurus dokumén pernikahan. Aya kabungah pacampur reujeung kasedih nu ngagalura jeroeun dada. Bungahna, dina waktu anu moal lila deui, kuring moal hirup nyorangan. Aya batur geusan pakumaha dina nyanghareupan kahirupan. Ngadahup ka Kang Yusuf  anu pasipatanana teu béda jeung  almarhum.  Sedihna, kuring dicandung! Haté teu weléh galécok,  paguneman jeung diri sorangan. Naha paniatan kuring nu daék dicandung téh bener kitu?  Naha bener pamajikan Kang Yusuf bakal méré idin? Naha engkéna Kang Yusuf bakal bisa lumaku kalayan adil? Naha enya ieu paniatan téh pikeun milari karidoan Gusti? Kapan cenah dicandung téh mangrupakeun sunnah Rosul, jadi marga lantaran asupna kaum Hawa ka sawarga! Duh, sabilna rasa jeung pipikiran awor jeung ratugna keteg jajantung. Dulugdugdag, keukeuh paudag-udag! Antara enya reujeung kumaha!

                Dina waktu keur uras-urus susuratan téa, kuring kadatangan sémah. Ibu-ibu. Turun tina sédan Vios  pulas héjo kolot. Dangdanana ménor pisan. Papakéanana sarwa hadé. Umurna anu geus teu ngora deui, henteu mantak  ngurangan kana kageulisanana.


                "Badé ka saha  Ibu téh?"  kuring mapag bari imut.

                "Sareng Herlia Sriwianti?"

                "Muhun!" ceuk kuring.

                 Song manéhna ngasongkeun leungeun.

                "Endah Wijiati, istrina Yusuf Himawan!"

                Gebeg haté ngagebeg. Enyaan,  Kang Yusuf geus  bébéja ka pamajikanana. Ayeuna  datang manggihan,  ayeuna aya hareupeun.

                "Oh..........muhun, nepangkeun, abdi Lia. Bingah pisan tiasa  tepang sareng ibu!"

                "Aya picarioseun abdi téh."  Teugeug pisan.

                "Mangga, saé urang ngalih ka  palih ditu!" ceuk kuring nuduhkeun tempat  di béh jero. Kabeneran harita keur rada tiiseun. Kuring leumpang ti heula bari nanggeuy baki, eusina cai entéh dua gelas. Manéhna hideng nuturkeun.

                "Lia, urang téh papada awéwé. Sapamadegan cigana. Tangtu urang bakal ngarasa bungah kacida lamun urang  dipikanyaah ku  hiji lalaki. Ciga Lia  ayeuna.  Meni sakitu gedéna geuning kanyaah Kang Yusuf ka Lia téh, nepi ka Kang Yusuf waléh méménta idin hayang ngawin Lia.  Dikumahakeun nepi ka bisa kitu,  diparabunan?" rada muncereng dibarung ku  hégak napasna anu ngerepan. Beungeutna bareubeu beureum.
"Punten Ibu, nyarios naon téa nembé téh?"
                "Lah, tong sok api-api. Lain geus loba beubeunangan tina hasil morotan Kang Yusuf  téh! Naon waé?  Emas, berlian, duit tabungan, mobil atawa naon deui?"
                "Ibu, istigfar! Abdi henteu ciga kitu!"
                "Teu kudu ngangles. Kitu kapan pagawéan randa mah. Morotan salaki batur. Mun teu  diparabunan, maenya Kang Yusuf  nepi ka kieu, pok deui-pok deui,   méménta idin hayang baé kawin jeung Lia!"
                "Ibu, ngaleueut heula. Supados tenang!" kuring neureuy ciduh. Tikoro karasa nyeri. Piceurikeun nyelek, minuhan tikoro.
"Peryogi kauninga ku Ibu.  Pami tuang raka  pupulih, hoyong migarwa abdi, muhun, leres pisan. Tapi, abdi nu miwarang  supados anjeunna mundut heula widi ka Ibu. Muhun, rumaos abdi parantos ngiring mikanyaah tuang raka, tapi nyaah nu saéstu. Teu aya niat sakedik ogé kanggo gaduh niat awon.  Nu kaémut téh mung  hoyong  ibadah, niat meungkeut tatali silaturahmi".

Haté mah hayang ceurik jejeritan. Asa peurih kacida  disebut awéwé pamorotan téh. Kieu geuning ari nasib jadi randa.  Ti peuting rungsing kumareumbing ku kasimpé haté, ti beurang ngacacang kumalayang ka alam panglamunan. Katambah-tambah bet dicacampah, disangka tukang morotan lalaki. Sing demi, hayang ceurik jejeritan!
                Lila-lila, kahartieun meureun omongan kuring téh.   Tuluy Bu Endah amitan. Leuleuyna sikep kuring meruhkeun amarahna. Peureus ogé kekecapanana. Boa  pasipatanana nu saperti kitu nu ngabalukarkeun Kang Yusuf mindahkeun haténa ka kuring.
                Isukna, pasosoré Kang Yusup aya nepungan.  Béda ti sasari. Imutna ciga nu dipaksakeun. Panonna nu liuh, neuteup anteb. Pok manéhna nyarita, sorana méh teu kadengé, ngageter bangun keur nahan hiji rasa, rasa nu pinuh ku karumasaan.
                "Lia, hampura  Akang. Mimiti poé isuk, Akang pindah gawé ka Unit Cimalaka. Ngadadak puguh gé. Jeung deui Akang téh kakara mulang ti rumah sakit. Endah  ayeuna  aya di rumah sakit!"
                "Ceuceu! Ku naon?"
                "Ngeureut  pigeulang leungeunna sorangan.  Kakara dipindahkeun ti ICU ka rohangan perawatan. Sakali deui, hampura Akang. Kanyaah Akang ka Lia jeung barudak  moal laas kapisah ku mangsa, nepi ka iraha baé ogé."
                 Aya nu ngeclak maseuhan kana tonggong leungeun. Ku tungtung cindung lalaunan cimatana disusutan.*

Karya Hena Sumarni (jabar.tribunnews.com)