-

Sunday, October 14, 2012

Keimanan dan Rasa Malu

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Hakim dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya rasa malu (untuk melakukan perbuatan buruk) dan keimanan adalah dua hal yang selalu digandengkan dan dikaitkan. Apabila diangkat salah satunya maka akan diangkat pula yang lainnya.”

Sabda Rasulullah SAW tersebut menggambarkan dengan jelas tentang salah satu konsekuensi iman yang sangat penting, yakni terbangunnya rasa malu dengan kuat untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela dan merusak. Apabila rasa malu itu hilang, akan hilang pula kekuatan keimanan yang menyertainya.

Koruptor yang merampok dan meng-gashab uang negara untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya, sesungguhnya adalah orang yang kehilangan rasa malunya. Dengan demikian, hilang pula keimanan yang ada pada dirinya.

Karena itu, tidaklah mengherankan jika para koruptor yang jelas-jelas melakukan kejahatan itu masih berkelit dari dosa yang dilakukannya, mencari pembelaan dan pembenaran, dan berpenampilan seperti orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, bahkan masih bisa mengumbar senyum dan tertawa di depan umum (misalnya di depan kamera).

Para pelajar yang tawuran dengan brutal dan berani melakukan perbuatan merusak itu, juga karena hilangnya rasa malu dan keimanan yang dimilikinya. Tidak heran jika setelah melakukan penusukan dan pembunuhan, dia merasa puas terhadap perbuatannya tersebut.

Para wanita yang membuka auratnya lebar-lebar di depan publik (untuk maksud dan tujuan apa pun), dan tampak berbangga dengan perbuatannya itu pada dasarnya telah kehilangan rasa malunya dan kehilangan pula keimanan yang dimilikinya.

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah SAW menyatakan, “Apabila engkau sudah tidak punya rasa malu, maka engkau akan melakukan berbagai macam perbuatan tanpa kendali apa pun (sekehendak hati).”

Dari hadis tersebut dan jika dikaitkan dengan berbagai kejadian di Tanah Air saat ini, maka pendidikan di dalam keluarga maupun di sekolah seyogianya ditekankan pada penguatan keimanan yang melahirkan rasa malu untuk melakukan perbuatan yang merusak, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.

Ibadah-ibadah yang disyariatkan oleh ajaran Islam, seperti tergambar dalam rukun Islam, hakikatnya adalah membangun kesadaran beriman dan bertauhid, merasa terus-menerus dilihat dan diawasi Allah (muraqabah), sehingga akan merasa malu (karena Allah) jika melakukan perbuatan yang bertentangan dengan syariat dan ketentuan-Nya.

Tentu semua ini harus berjalan beriringan dengan contoh dan keteladan yang baik dari para orang tua, para guru, para tokoh masyarakat, maupun para pejabat publik lainnya. Wallahu a’lam bish shawab.
Oleh: KH Didin Hafidhuddin

sumber : www.republika.co.id

Saturday, October 13, 2012

Kurban dan Pengorbanan

"MAKA dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah" (Q.S. Al-Kautsar: 2)

Itulah ayat yang sering disampaikan para penceramah ketika menyampaikan tausiahnya di bulan-bulan ini. Beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan Zulhijah, bulan yang disyariatkan untuk pelaksanaan ibadah kurban.

Beberapa keterangan menyebutkan sejarah pelaksanaan kurban diawali saat Nabi Ibrahim a.s. bermimpi. Dalam mimpinya beliau diperintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail a.s. Kisah ini diabadikan dalam Alquran sebagai berikut, "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: 'Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!' Ia menjawab: 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar'" (Q.S. Ash-Shafat: 102)

Mimpi seorang nabi merupakan salah satu cara turunnya wahyu dari Allah SWT. Maka Nabi Ibrahim pun dengan segera melaksanakan apa yang diperintah Allah untuk menyembelih puteranya. Meskipun dengan perasaan berat hati untuk melakukannya, apalagi ketika itu Nabi Ismail sedang memasuki usia remaja.

Keadaan seperti itu tidak mengurungkan Nabi Ibrahim untuk melaksanakan perintah Allah tersebut. Sebagai seorang nabi, pesuruh Allah, dan pembawa agama yang menjadi contoh dan teladan bagi para pengikutnya dalam bertaat kepada Allah, ia harus mengutamakan cintanya kepada Allah di atas cintanya kepada anak, istri, harta benda, dan lain-lain.

Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ini pun akhirnya Allah ganti dengan menyuruh Nabi Ibrahim agar menyembelih seekor domba yang telah tersedia di sampingnya. Allah berfirman, "Dan Kami panggillah dia: 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata'" (Q.S. Ash-Shafat: 104 -106)

Di sinilah makna kurban sesungguhnya, yakni pengorbanan seorang hamba kepada Allah SWT sebagai syariat yang telah ditetapkan oleh-Nya. Selain itu, ibadah kurban juga memiliki makna horizontal antarsesama manusia, yaitu kepedulian untuk berbagi.

Maka berbahagialah bagi kita yang mampu melaksanakan ibadah kurban, karena tentu termasuk orang-orang yang diberikan kelebihan oleh Allah SWT. Semoga ibadah kurban yang kita laksanakan merupakan bentuk pengorbanan, ketaatan, dan bentuk syukur kita kepada Allah, yang senantiasa akan membalasnya sebagai amalan yang diterima.
(Penulis adalah staf pengajar Al Biruni dan pengurus DKM Thariqul Huda, Kompleks Bumi Panyileukan, Cibiru, Kota Bandung)**
Galamedia
jumat, 05 oktober 2012 00:45 WIB
Oleh : M. Nuzul Nurulhuda, S.Kom.I.

Friday, October 12, 2012

Cegah Trafficking dari Sekolah

"KITA harus mempunyai komitmen untuk memerangi kejahatan perdagangan manusia". Demikian kalimat yang disampaikan Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat, Netty Heryawan dalam kampanyenya memerangi perdagangan manusia (human trafficking) (Galamedia, 2/9). Sebelumnya dalam PR (1/9) ia menyatakan bahwa anak remaja usia 14-15 tahun pulang dalam keadaan hamil. Ini mengerikan bagi perjalanan bangsa ke depan. Makanya, kita dorong terus angka rata-rata lama sekolah anak-anak.

Usia 14-15 merupakan usia sekolah, kurang lebih antara kelas VIII dan kelas IX SMP. Kalau masuk SD-nya berusia enam tahun berarti usia 15 tahun sekitar kelas XI SMA. Dengan demikian, usia tersebut masa-masa menimba ilmu, mengenyam pendidikan di tingkat SLTP dan SLTA.

Namun, kenyataan membuktikan bahwa tidak semua usia tersebut masih berada di bangku sekolah. Berbagai sebab menggiringnya untuk meninggalkan bangku sekolah atau tidak dapat mengenyam bangku pendidikan ke jenjang berikutnya. Salah satu sebabnya karena faktor ekonomi. Terlebih karena bukan saja orang tuanya tidak mampu membiayai sekolahnya, tetapi juga orang tuanya mendorong dirinya untuk meninggalkan bangku sekolah untuk mendapatkan rupiah.

Permasalahan putus sekolah sebenarnya bukan hal baru. Namun, agak miris kalau saat ini masih banyak yang putus sekolah untuk tingkat SD dan SLTP karena pemerintah telah menganggarkan adanya dana bantuan operasional sekolah (BOS). Ya, ternyata permasalah pendidikan sangat kompleks, tidak hanya biaya sekolah saja. Di antaranya kondisi keluarga siswa turut menentukan. Dengan demikian, perlu adanya integritas pemahaman yang sama dari orang tua untuk mendukung anaknya bersekolah.

Ketika anak putus sekolah, baik usia SD, SMP, atau SMA sebenarnya sangat riskan. Tidak sedikit akibat anak putus sekolah menimbulkan beban dan penyakit masyarakat. Walau pun anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Namun, lihat saja misalnya, kita sering melihat anak-anak usia sekolah berada di setopan lampu merah sekedar untuk menerima belas kasih pengendara bermotor. Mereka mengaharap rupiah dengan berbagai cara, di antaranya dengan memukul-mukulkan sepotong kayu kecil yang telah ditempeli beberapa tutup botol ke tangannya sambil bernyanyi yang tak jelas; atau seorang anak yang masih usia SD menggendong balita berkeliling menengadahkan tangan ke pengendara bermotor, dan sebagainya.

Di sisi lain, putus sekolah mendorong peningkatan human trafificking atau penjualan orang. Dari beberapa kasus didapati bahwa tidak sedikit remaja usia sekolah yang tergiur oleh iming-iming penghasilan kerja yang lumayan besar. Akhirnya, sekolah pun ditinggalkan untuk bekerja. Terlebih, bagi yang telah putus sekolah terlebih dahulu, ajakan tersebut merupakan angin surga. Yang padahal pekerjaan yang diterima ternyata tidak sesuai dengan yang dijanjikan semula. Hal itu tentu berdampak buruk bagi perkembangan jiwa remaja tersebut. Melihat fenomena tersebut, ada benarnya apabila Linda Amalia Sari Gumelar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2&PA), mengatakan bahwa perda gangan orang kebanyakan diakibatkan kemiskinan dan pendidikan yang rendah. Selain itu, gaya hidup instan yang dikejar kalangan remaja.

Inilah dua hal utama yang perlu diwaspadai orang tua dan pihak sekolah. Selanjutnya keduanya dapat bekerja sama untuk terus memotivasi siswa agar bersemangat mengikuti pelajaran di sekolah sekaligus agar tidak putus sekolah. Sebab pada dasarnya, siswa berada di sekolah untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) kurang lebih hanya delapan jam dari 24 jam sehari-semalam. Sisanya, lebih banyak di rumah atau di tempat pergaulannya di luar sekolah. Dengan demikian, selepas siswa mengikuti KBM di sekolah, peran orang tua sangat diperlukan untuk mengawasi dan membimbingnya.Termasuk, mengetahui arah dan model pergaulan anaknya sehingga dapat mengarahkan ke pergaulan yang lebih baik dan bermanfaat.

Selain itu, orang tua dan pihak sekolah memberikan arahan pada siswa untuk menghidari budaya instan yang membahayakan. Di antaranya agar siswa tidak mudah terbujuk mengikuti gaya hedonisme yang menyesatkan. Ketiga, rembug dengan orang tua dan pihak yang terkait untuk mencegah terjadinya siswa yang putus sekolah.

Selain hal di atas, tentu faktor agama tak dapat diabaikan. Sebenarnya itu merupakan benteng utama yang semestinya dimiliki siswa. Untuk itu, siswa selain mendapat wawasan dan ilmu agama di sekolah, juga selayaknya untuk gemar mengaji di masjid, musala, atau majlis taklim yang berada di lingkungan rumahnya. Sementara ini, anak-anak gemar mengaji kebanyakan sampai usia SD. Ketika mereka menginjak SMP atau SMA sudah enggan lagi mengikuti pengajian. Hal ini tentu sebenarnya mesti menjadi bahan pemikiran orang tua dan pihak sekolah. Oleh sebab itu, perlu terjalin komunikasi yang baik antara orang tua, pihak sekolah, dan pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) atau pesantren. Paling tidak melalui buku penghubung.

Berkaitan dengan hal itu, Allah swt telah mengingatkan kita di dalam Alquran. Di antaranya dalam Alquran surah Thaha ayat 123-124, "Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta."

Rasulullah saw bersabda, "Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku." (HR. Abu Hurairah).

Dengan beberapa ikhtiar di atas, sebenarnya kita pun berarti telah turut mendukung pemerintah dalam memerangi penjualan orang, sebagaimana pemerintah telah mengeluarkan Perpres No. 69/2009 untuk melawan dan memberantas perdagangan orang dan anak.
(Penulis, guru di lingkungan YPP Darul Falah, Cihampelas, Bandung Barat)**
Galamedia
senin, 08 oktober 2012 01:31 WIB
Oleh : ASEP JUANDA

Thursday, October 11, 2012

Nyamannya Kampung Batu Baleendah

Tersedia Makanan Langka Gulai Tutut (Keong Sawah)
BALEENDAH (GM) - SEBUAH wahana wisata di Bandung Selatan ini menjadi alternatif bagi wisatawan yang enggan terjebak kemacetan ke kawasan Bandung Utara. Tempat wisata yang menyediakan wahana cukup lengkap ini jaraknya hanya sekitar 7 kilometer dari Gerbang Tol Buahbatu atau 6 kilometer dari Gerbang Tol Moch. Toha dan bisa dijangkau dalam waktu 15-20 menit.

Kampung Batu Malakasari lokasi wisata tersebut sebelumnya merupakan kawasan bekas penambangan batu yang berada di Desa Malakasari, Kec. Baleendah, Kab. Bandung, Propinsi Jawa Barat. Dahulu kawasan ini merupakan sebuah gunung batu dengan sebutan Gunung Panggung, yang telah ditinggalkan terbengkalai oleh masyarakat penambang.

Melalui sentuhan seorang geofisikawan jebolan ITB yang juga seorang master trainer yakni Ir. Bambang Suteja tempat ini di reklamasi menjadi sebuah kawasan wisata edukasi dan tempat Outbound.

Kawasan seluas 50.000 meter persegi ini awalnya merupakan sebuah bukit atau gunung lipatan menurut istilah geologi yang di dalamnya tersembunyi bongkahan Batuan Metamorfik.

"Secara geologi kawasan ini merupakan bukti adanya gerakan lempeng ataupun sederetan gempa tektonik sejak beberapa juta tahun yang lalu. Dimulai pada tahun 1900 sampai dengan tahun 1970an batuan metamorfik ini ditambang atau dieksploitasi oleh masyarakat secara tradisional," jelas manajer marketing Kampung Batu Achmad Sobari, S.E., kepada klik-galamedia.com di ruang kerjanya, Jumat (5/9/2012).

Sejak tahun 2002, kata Achmad, kawasan ini dimiliki oleh Bapak Ir. H. Waryo seorang peternak ayam ras pedaging asal Desa Cipinang Pangalengan yang memiliki kepedulian sangat tinggi terhadap pelestarian lingkungan hidup.

"Kemudian beliau melakukan reklamasi sehingga lokasi bekas galian ini membentuk formasi geologi yang indah, dan unik serta memiliki daya tarik sebagai Kawasan Wisata Alam yang diberi nama Kawasan Rumah Adat, dan Budaya Sunda Kampung Batu Malakasari ( KBM )," paparnya.

Kampung Batu Malakasari menyediakan wahana wisata yang cukup lengkap terutama untuk anak-anak. Disini terdapat Rusa Totol yang tidak asing lagi bagi sebagian masyarakat Indonesia terutama yang pernah berkunjung ke Istana Bogor. Apalagi bagi penduduk kota Bogor karena telah ditetapkan menjadi fauna identitas Kota tersebut sejak tahun 1995.

Untuk masyarakat Bandung dan sekitarnya, kata Achmad, tidak perlu ke Bogor untuk melihat Rusa Totol tersebut, karena disini terdapat penangkaran rusa totol yang juga sebagai kawasan Wisata Alam Edukasi dan Outbound. Di penangkaran Rusa Kampung Batu ini terdapat 23 ekor Rusa Totol yang sudah jinak.

"Rusa totol mempunyai nama latin Axis axis bukanlah fauna asli Indonesia melainkan berasal dari India dan Sri Lanka dalam bahasa Inggris disebut sebagai Chital, Axis Deer, Indian Spotted Deer, satu genus dengan Rusa Bawean (Axis kuhli) yang asli Indonesia," jelasnya.

Disamping itu, kata Achmad, pengunjung bisa bermain Panjat dinding dan Flying Fox, naik Rumah Pohon, naik Perahu, bahkan bisa mencoba membajak sawah khas sunda pakai kerbau (ngawuluku) yang sangat menantang dan mengasyikkan. Bahkan sebuah wahana baru Tektona Waterpark yang dilengkapi dengan berbagai jenis kolam renang yang menarik diantaranya toots pool, kids pool dan semi olimpic bisa membuat ceria keluarga. "Dan jangan khawatir, kami juga menyediakan tim lifeguard dan klinik kesehatan sehingga bagi pengunjung tetap aman dan nyaman, " ujar Achmad.

Jika lapar jangan khawatir. Karena di kawasan ini, kata Achmad, terdapat kompleks kuliner yang menyediakan berbagai makanan berat seperti nasi timbel, ayam goreng/bakar, ikan goreng/bakar, mie baso juga makanan ringan serta minuman dingin dan bermacam juice buah. Bahkan pada hari minggu, disini tersedia makanan langka yaitu gulai tutut! (Keong Sawah). Selamat berlibur!.
Galamedia
jumat, 05 oktober 2012 08:26 WIB
m. iqbal

Wednesday, October 10, 2012

Visi Seorang Muslim

Ketika Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan seorang sahabat Anshar yang berkecukupan secara materi, yaitu Saad bin Rabi'.

Sebagai seorang Muslim, Saad telah memiliki visi besar yang hendak diraihnya dalam kehidupan dunia akhiratnya. Maka, atas dorongan imannya yang kuat dan penuh keyakinan, Saad menawarkan separuh dari apa yang dimilikinya kepada Abdurrahman bin Auf.

“Saya memiliki dua rumah dan dua kebun. Jika engkau berkenan saudaraku, ambillah separuh darinya. Saya juga punya dua orang istri, jika engkau berkenan silakan lihat satu di antaranya. Niscaya aku akan menceraikannya untukmu,” demikian tawaran Saad bin Rabi'.

Aneh dan sangat mengejutkan, Abdurrahman bin Auf justru menolak semua permintaan Saad bin Rabi' itu. Abdurrahman berkata kepada Saad bin Rabi', “Tidak saudaraku, aku tidak membutuhkan semua itu. Semoga Allah memberikan keberkahan bagi harta dan keluargamu. Tunjukkanlah kepadaku di mana pasar.”

Kisah ini sangat mengagumkan. Bagaimana mungkin ada seorang manusia yang rela memberikan separuh harta yang dimilikinya untuk saudara seimannya. Dan, lebih mengagumkan lagi, bagaimana ada seorang manusia yang mendapat tawaran harta lalu menolaknya dengan penuh kesantunan.

Berbeda dengan saat ini, di mana sebagian orang yang kaya memiliih hidup kikir dan yang miskin begitu bernafsu mendapatkan bantuan. Bahkan umumnya, manusia kini sibuk berlomba-lomba mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Sebagian besar malah tidak peduli lagi dengan cara mendapatkannya, halal atau haram, semuanya disikat habis.

Sebagai seorang Muslim, kisah antara Saad bin Rabi' dan Abdurrahman bin Auf sangat layak dijadikan bahan renungan bagi kita semua, guna meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Keduanya sama sekali tidak terbelenggu oleh kenikmatan harta dunia.

Sebagai seorang Muslim yang memulai hidup baru, dengan hanya memiliki pakaian di badan, Abdurrahman bin Auf memiliki etos kerja yang tangguh. Visinya untuk menjadi seorang Muslim yang paling bermanfaat bagi perjuangan umat Islam, mengantarkannya sebagai seorang pedagang sukses. Sampai akhirnya dia berhasil menjadi konglomerat.

Tetapi, karena visi ukhrawinya yang kuat, ia tidak terjebak pada kekayaan yang digenggamnya. Ia berhasil keluar dari jebakan harta dunia yang telah menenggelamkan Qarun dan menistakan Tsa'labah.

Seolah tidak mau kalah dari Saad bin Rabi' yang begitu dermawan, ketika ia telah menjadi seorang konglomerat, seluruh harta yang dimilikinya, sepenuhnya disedekahkan untuk perjuangan dan kelangsungan hidup umat Islam. Bahkan, Abdurrahman bin Auf telah menyumbangkan 700 ekor unta dan muatannya untuk umat Islam. Suatu peristiwa istimewa yang tentu untuk hari ini sangat langka kita menemukannya.

Siapa yang lebih memilih mencintai harta dunia daripada mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka belumlah sempurna keimanannya. (QS Ali Imran [3]: 92). Padahal, hanya dengan kesempurnaan iman visi seorang Muslim benar-benar akan merealita. Yakni, menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi yang lainnya.
Oleh: Imam Nawawi
sumber : www.republika.co.id

Tuesday, October 09, 2012

Berlapang Dada

Kesuksesan seseorang diawali dengan sikap lapang dada menghadapi berbagai tantangan. Orang sempit dada sulit maju karena kekerdilan dan kepicikan jiwa.

Agar sukses dalam membawa misi, Nabi Musa memohon kelapangan dada. Berkata Musa, “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku.” (QS Thaha [20]: 25).

Sebelum Rasulullah SAW mengemban tugas risalah, beliau juga dilapangkan dadanya terlebih dahulu. “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (QS Al-Insyirah [94]: 1).

Walau Nabi SAW sudah dilapangkan dadanya, saat menghadapi hinaan kaum Quraisy, masih merasa kesempitan dada. Allah menegaskan, “Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan.” (QS Al-Hijr [15]: 97).

Intimidasi kaum Quraisy ini mendesak Rasulullah untuk meminta perlindungan kerabatnya di Thaif. Namun, saat ke Thaif beliau dilempari batu oleh budak-budak yang dikerahkan oleh para tuan mereka. Saking beratnya penderitaan Nabi saat itu, Allah mengutus Malaikat Jibril dan menawarkan diri untuk menyiksa panduduk Thaif.

Namun, Rasul SAW tak ingin melakukan hal itu. Beliau hanya berdoa, “Ya Allah berilah petunjuk kaumku karena mereka tidak mengetahui.”

Allah berfirman, “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS Al-Hijr [15]: 98-99).

Berdasarkan ayat di atas, untuk menghadapi berbagai penyebab kesempitan dada, Allah memberikan petunjuk tiga hal. Pertama, memperbanyak zikrullah, bertasbih dengan memuji Allah. Zikrullah adalah penyebab masuk surga. (QS Ali Imran [3]: 133-134). Zikrullah adalah amalan utama untuk menuju surga dan dengan zikrullah hati menjadi tenang. (QS Ar-Ra’du [13]: 28).

Abdullah bin Bashar RA meriwayatkan, seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya pintu kebajikan sangat banyak dan aku tidak bisa melaksanakan semuanya, maka beritahukan kepadaku suatu amalan yang bisa aku selalu pegang tapi tidak terlalu banyak, nanti aku lupa.” Beliau menjawab, “Hendaklah lisanmu selalu dibasahi dengan zikrullah.” (HR Tirmizi).

Kedua, memperbanyak sujud. Dengan banyak sujud berarti kita banyak menunaikan shalat, khususnya yang wajib ditambah dengan nawafil (sunah). Dan ini adalah sebab masuk surga.

Rabi’ah bin Ka’b Al-Aslami berkata, “Aku menginap di rumah Rasulullah untuk melayani wudhu dan semua kebutuhannya.” Lalu beliau bersabda, “Mintalah (sesuatu) kepadaku!” Aku berkata, “Aku memohon agar bisa bersamamu di surga.” Beliau bersabda, “Apakah tidak ada yang lain?” Aku menjawab, “Itu saja.” Lalu Beliau bersabda, “Untuk itu, bantulah aku dengan memperbanyak sujud.” (HR Muslim dan Abu Daud).

Ketiga, menjadikan semua aktivitas hidup dalam kerangka ibadah kepada Allah. (QS Al-An’am [6]: 162). Kalau kita memiliki etos hidup seperti ini, kita akan merasa nyaman karena senang bersyukur dan susah bersabar, semua akan berpahala.
Oleh: Prof Dr Achmad Satori Ismail
sumber : www.republika.co.id

Monday, October 08, 2012

Pergi Sehat, Pulang Semangat

BERKENDARA di jalan raya dan bergulat dengan kemacetan merupakan rutinitas harian yang sulit dihindari. Polusi udara akibat asap knalpot kendaraan bercampur debu jalanan di saat musim kemarau, menebarkan aneka polutan berbahaya bagi kesehatan. Rumah Sehat adalah pilihan tepat bagi jiwa dan raga untuk melepas lelah dan meminimalkan pengaruh racun polusi.

Dalam sebuah seminar nasional bertema "Proyeksi Iklim dan Kualitas Udara 2010-2014", beberapa waktu lalu di Bandung menyimpulkan bahwa tingkat polusi udara di Jawa Barat diklaim tertinggi di Indonesia. Dikatakan Afif Budiyono, Kepala Bidang Pengkajian Ozon dan Polusi Udara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bahwa biangnya polusi udara adalah pertambahan jumlah penduduk, jumlah kendaraan bermotor, dan polusi industri.

Debu-debu jalanan dan kemacetan lalu-lintas seolah jadi penyedia polutan asap kendaraan yang harus diterima pengguna jalan dengan penuh keterpaksaan. Uji emisi kendaraan meskipun sudah ada aturannya tetapi dalam pelaksanaan masih sulit diterapkan. Taman-taman kota, yang jadi tumpuan harapan sebagai penangkap debu dan pemberi oksigen penetral polutan, tidak berfungsi dengan baik karena kurangnya perawatan dan pengelolaan.

Kompleksitas permasalahan polusi udara di jalan tidak serta-merta dapat tertangani dengan cepat. Banyak faktor perlu dipertimbangkan, misalkan pembatasan kendaraan bermotor dan monitoring kualitas emisi asap kendaraan, haruslah diimbangi dengan keseriusan pemerintah dalam hal ketersediaan sarana umum transportasi dan penegakan aturan hukum tentang emisi.

Penyelesaian bijak penolak polusi udara untuk jangka pendek dan sederhana bisa dimulai dari rumah. Targetnya adalah Rumah Sehat, seperti dinyatakan dalam Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), merupakan rumah yang dapat memberikan kesehatan, rasa aman dan nyaman bagi penghuninya, sehingga mereka dapat hidup dan beraktifitas secara optimal. Pengertian rumah disini mencakup ruangan yang ada didalam rumah, halaman dan area di sekelilingnya.

Persyaratan kualitas udara dalam ruang rumah, menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1077/MENKES/ PER/V/ 2011 tentang Pedoman Penyehatan Udara Dalam Ruang Rumah diantaranya : Suhu 18 - 30 oC, Pencahayaan Minimal 60 Lux, Kelembaban 40 - 60 % Rh, Laju Ventilasi (pertukaran) Udara 0,15 - 0,25 meter/detik, Partikel debu diameter 2,55 (PM 2,5) dalam 24 jam maks 35, Partikel debu diameter 105 (PM 10) dalam 24 jam maks 70, Bebas Jamur dan Bakteri Patogen, dan Angka Kuman kurang dari 700 Coloni Form Unit (CFU)/m3. Sedangkan sumber pencemaran kimia yang berasal dari cemaran bahan bakar yang tidak ramah lingkungan seperti arang, kayu bakar dan batu bara, cat atau material yang mengandung Timbal (Pb) dan asap rokok tidak boleh melebihi ambang batas yang telah ditetapkan.

Upaya penyehatan dalam ruang rumah wajib dilakukan agar tercipta Rumah Sehat dan menjadi penyemangat setelah pulang kerja atau beraktifitas, melewati jalan dan lingkungan yang dipenuhi polutan. Beberapa parameter Rumah Sehat seperti ketersediaan sirkulasi atau aliran udara bersih (minimal 10 % luas lantai dengan sistem ventilasi silang), suhu dan kelembaban udara merupakan faktor penting untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Ketiganya juga menciptakan lingkungan tempat tinggal yang nyaman dan sehat, terhindar dari ancaman berbagai penyakit.

Parameter lain yaitu partikel debu, berpotensi terhadap gangguan paru-paru, sistem pernafasan, alergi dan bronchitis khronis berasal dari sisa partikel asap rokok, dan debu jalanan yang menempel pada perabotan rumah tangga.

Langkah menuju Rumah Sehat dimulai dari beres-beres rumah dengan urutan kerja sebagai berikut : memilah dan memisahkan barang-barang yang tidak terpakai, membersihkan rumah dari debu dan kotoran, dan merapikan rumah. Periksa pula apakah sirkulasi udara cukup, dan beri kesempatan sinar matahari menyinari bagian rumah yang memungkinkan. Jangan lakukan kegiatan merokok di dalam rumah, karena sisa polutannya (nikotin) akan bertahan lama menempel pada dinding dan perabot rumah.

Lindungi sekeliling rumah dengan tanaman penangkal debu yang cocok selera (tanaman hias atau pagar tanaman) dan hiasi bagian dalam rumah dengan tanaman anti polusi seperti lidah mertua, lidah buaya dan tanaman anti polusi lainnya. Tentang lidah mertua (sansevieria) berdasarkan penelitian NASA mampu memerangi polusi ruangan dan terus-menerus menyerap zat berbahaya di udara, dan mudah tumbuh di lingkungan manapun.

Bila hal itu terjadi, siapa pun akan rindu pulang ke Rumah Sehat. Dan yang pasti, pergi kerja atau beraktifitas lain dengan badan sehat, pulangnya berbuah semangat karena kenyamanan dan kesehatan menanti dirumah.
(Penulis, alumnus Kimia ITB, pemerhati lingkungan hidup, teknologi pangan, kesehatan, kimia pangan dan praktisi di industri pangan)**
Oleh : JOHANES KRISNOMO
Galamedia
senin, 01 oktober 2012 01:34 WIB

Sunday, October 07, 2012

Kearifan Lokal di Era Digital

KITA tahu, Indonesia dihuni berbagai latar etnik. Di negeri tercinta ini, ada sekitar lebih dari 17.500 pulau, 400 bahasa lokal, dan 600 etnis. Apabila dikelola secara baik, tentu saja akan menjadi kekuatan besar untuk membangun bangsa. Namun di tengah perkembangan zaman, setiap generasi bermetamorfosa, baik secara kultural, sosial, filsafat, dan pandangan hidup.

Indonesia masih menyisakan narasi kultural yang diwakili masyarakat Indonesia yang kukuh dengan warisan falsafah hidup lokal. Mereka berada di pelosok-pelosok desa yang tidak ngeh dengan kebudayaan dari luar. Biasanya, komunitas seperti ini terdapat di lingkungan masyarakat adat, kampung yang jauh jaraknya dengan perkotaan, dan jika dekat dengan kota, mereka punya peraturan ketat untuk terus kukuh terhadap adat-istiadat.

Selain itu, di negeri kita juga masih menyisakan narasi kultural yang diwakili kalangan muda Indonesia yang telah "melek" dengan kebudayaan dari luar. Generasi muda Indonesia ini, lahir sebagai etnik Indonesia, hidup di wilayah yang banyak dihuni beragam kebudayaan, hingga membentuk pola pikir yang plural dan melahirkan laku yang menjauh dari adat-istiadat keindonesiaan. Mereka, biasanya, berasal dari pelajar sekolah, mahasiswa, dan kaum tua "gila" dengan ideologi kapitalisme yang dibawa arus globalisasi, yang terbujuk rayu globalisasi hingga meminggirkan nilai-nilai lokal dalam hidup kesehariannya.

Bumi pertiwi ini juga masih dihuni masyarakat pada narasi kultural yang menyisakan kerinduan terhadap identitas kultural aslinya, tanpa terperangkap pada konsumerisme buta. Mereka memiliki pola pikir yang sama dengan generasi Indonesia plural, karena melek dengan perangkat globalisasi (seperti HP, internet, video digital, komputer, note book, dll); tapi punya kekhasan kultural seperti yang dipegang secara kukuh oleh masyarakat adat.

Narasi kultural yang ketiga inilah yang kita butuhkan eksistensinya di era kini. Istilah sosiologis untuk menyebut narasi ketiga ini --mengutip pendapat sosiolog kontemporer Roland Robertson (1992)-- ialah masyarakat glokal (global and local); berpikir global bertindak lokal. Secara sosiologis, mereka melakukan sebuah gerakan kultural dengan cara memanfaatkan perangkat atau produk globalisasi untuk mengeksiskan identitas lokalitas, seperti menulis di website, blog, dan media sosial di internet, dengan konten kebudayaan lokal. Gerakan ini sangat penting bagi bangsa Indonesia agar memicu lahirnya kekuatan bangsa. Karena perkembangan teknologi --seperti kehadiran komputer dan internet-- menjadi keniscayaan dimanfaatkan oleh masyarakat lokal dalam mengeksiskan eksistensi etnik kultural di Indonesia kepada dunia.

Kreasi berbasis teknologi tanpa melupakan jati diri lokalitas warga menjentik kita, jangan melupakan keaslian jati diri bangsa. Kuntowijoyo (Budaya dan Masyarakat, 2006: 6), berpendapat dalam budaya kita akan ditemukan adanya tiga komponen pokok, yaitu lembaga budaya, isi budaya, dan efek budaya (norma-norma). Lembaga budaya menanyakan siapa penghasil produk budaya, pengontrol, serta bagaimana kontrol itu dilakukan. Isi (substansi) budaya menanyakan apa yang dihasilkan atau simbol-simbol apa saja yang diusahakan. Sementara itu, efek budaya menanyakan konsekuensi apa yang diharapkan.

Kini kebudayaan digital seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hampir setiap lorong kehidupan manusia ter-digitalisasi hingga menciptakan ruang penuh keterasingan diri dari realitas sosial. Saat ini, kita sedang menghadapi wabah kecanduan perangkat yang mampu menghadirkan informasi secara digital. Kehadiran gadget super cerdas seperti Ipad, Iphone, Blackberry, dan Apple iBooks, menciptakan kebudayaan berkomunikasi baru pada sebagian masyarakat melek informasi. Tak hanya itu, merebaknya jejaring sosial facebook dan situs microblogging Twitter juga menginisiasi gaya manusia modern ketika mencari informasi untuk menambah wawasan.

Fenomena ini melahirkan semacam digitalisasi ide-ide yang dapat membangun kolektivitas bangsa oleh masyarakat melek informasi, melalui perangkat teknologi sebagai gudang mencari informasi. Isu-isu lokal kedaerahan di era digital ini pun dapat disebarkan secara massif. Dalam dunia pewayangan, kita selalu menemukan "pertarungan dahsyat" antara Pandawa dan Kurawa, yang sebetulnya mimesis sikap kita terhadap arus kapitalisme yang dilakukan masyarakat pada narasi kultural yang ketiga (globalisasi). Konfigurasi tokoh serupa Semar, merupakan petanda pentingnya kearifan dan kebijaksanaan dalam menyikapi perkembangan zaman.

Falsafah hidup warga -- yang kini sedang berada di alam teknologis baru -- sangat mendesak dihadirkan di aras kebudayaan digital. Eksistensi media-media baru merupakan tempat yang begitu cocok untuk dijadikan kanal informasi ikhwal kearifan hidup ketika berbangsa dan bernegara. Bangsa yang terdiri dari aneka ragam suku, agama, status sosial, dan kepercayaan berbingkai spiritualitas agama dan kearifan lokal, mesti dijadikan modal atau kekuatan.

Mengkaji ulang warisan budaya adalah sebuah keniscayaan, apalagi dalam konteks kekinian, Indonesia diklaim sebagai salah satu negara yang tingkat kekerasannya terbilang tinggi. Setiap warga sejatinya aktif menanggulangi persoalan kekerasan, misalnya teror, pemiskinan struktural, dan impor bahan pokok dengan memanfaatkan kebebasan berpendapat di dunia maya. Kita tidak mengharapkan kerawanan sosial menggejala ke permukaan. Dan, kita berharap pada internet --melalui akses digitalnya-- dapat menyebarkan pemahaman toleran atas perbedaan yang niscaya hadir di Indonesia.
(penulis, adalah blogger dan pegiat media sosial)**
Oleh : Sukron Abdilah
Galamedia
kamis, 04 oktober 2012 01:14 WIB

Saturday, October 06, 2012

Mengembalikan Cinta Kasih

Sungguh sangat memprihatinkan kita semua bahwa tawuran antarpelajar semakin menjadi-jadi dalam skala yang lebih luas dan brutal.

Kematian seorang pelajar dalam kondisi yang sangat mengenaskan beberapa hari yang lalu sebagai korban tawuran antardua, sekolah menambah panjang daftar korban dari kejadian ini.

Sulit dipahami oleh akal dan nalar yang sehat hal ini bisa terjadi. Para pelajar berangkat pagi atau siang dari rumahnya masing-masing menuju sekolah dengan tujuan utama mau belajar.

Di sekolah mereka mendapatkan berbagai ilmu pengetahuan dan informasi yang berguna bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang. Para guru yang mengajar adalah orangorang yang secara formal telah memenuhi kriteria mengajar, bahkan mungkin di antara mereka sudah me miliki sertifikat mengajar.

Tetapi, ketika mereka pulang dan bertemu dengan sesama temannya dari sekolah lain yang seharusnya saling menyapa dengan penuh keceriaan dan persahabatan, tanpa sebab yang jelas langsung terjadi tawuran, mereka saling melukai, menyakiti, bahkan membunuh.

Tampak jelas dari sikap dan gaya mereka dalam tawuran tersebut, nafsu amarah yang muncul dan mendominasi serta mengalahkan secara total rasa cinta dan kasih sayang.

Allah SWT berfirman dalam QS Yusuf [12] ayat 53: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”

Ketika nafsu amarah ini yang berperan maka keburukan, kejahatan, dan kerusakanlah yang akan dilakukannya. Tetapi sebaliknya, jika rasa kasih sayang dan cinta pada sesama yang ditanamkan dan melekat dalam hati sanubari yang dalam, maka kedamaian, keselamatan, dan menyelamatkan orang lain yang akan menjadi kepribadiannya.

Dalam perspektif inilah kita memahami pesan Rasulullah SAW bahwa seorang Muslim yang paling utama itu adalah yang mampu menyelamatkan orang lain dari gangguan lisan dan tangannya (al-muslimu man salima almuslimuuna min lisaanihi wayadihi) [HR Bukhari]).

Pendidikan yang berlangsung di rumah, di sekolah, maupun di tengah masyarakat, harusnya berorientasi pada penanaman nilai-nilai cinta dan kasih sayang pada sesama manusia dan juga pada makhluk lainnya. Orang tua di rumah harus menjadi orang yang paling mencintai anaknya (dengan kecintaan yang benar); di sekolah para guru harus menjadi orang yang paling mencintai dan dicintai murid-muridnya. Demikian pula di tengah masyarakat.

Jika yang dibangun rasa cinta yang bersumber dari iman dan tauhid kepada Allah, maka insya Allah tawuran antarpelajar, antarmahasiswa, dan bahkan antarpenduduk bisa diatasi dengan sebaik-baiknya. Wallahu a’lam bi ash-shawab.
Oleh: Prof Dr KH Didin Hafidhuddin     

sumber : www.republika.co.id

Friday, October 05, 2012

Jalanan juga Punya Hak

Diceritakan bahwa suatu hari Rasulullah SAW menegur para sahabat dan orang-orang Muslim yang sedang bergerombol duduk di pinggir jalan. Mereka bercengkerama dan berdiskusi di tempat itu lantaran tidak adanya balai pertemuan. Rumah-rumah mereka juga tidak begitu luas.

Rasulullah menegur mereka untuk pindah dari tempat itu dan meninggalkan kebiasaan lama bergerombol dan mengobrol di pinggir jalan. Namun, para sahabat keberatan karena tidak ada tempat yang layak untuk berkumpul.

“Ya Rasulullah, kami terpaksa memakai tempat ini sebagai tempat berdis kusi.” Kemudian Rasul bersabda, “Kalau memang kalian enggan pindah, maka tunaikanlah haknya.” Para sahabat itu bertanya, “Apakah hak jalan itu?”

Pertama, Rasul menjawab, ghaddul bashar, yaitu menundukkan pandangan. Setan akan terus berusaha dengan segala macam cara untuk menggelincirkan manusia dari jalan ketaatan menuju kemaksiatan.

Begitu banyak kenikmatan sesaat dan pemandangan elok di sekitar jalan. Saat kita menurutinya, kita telah melakukan kemaksiatan dan tanpa sadar hal itu akan melalaikan diri dari ibadah. Menundukkan pandangan adalah solusi agar kita terus ingat hakikat diri bahwa kita seorang hamba yang patut berlindung kepada Allah SWT.

Kedua, kafful adzaa, yakni tidak mengganggu dan menyakiti orang lain. Duduk-duduk di sekitar jalan tanpa pekerjaan akan mengakibatkan kekosongan pikiran. Hal itu dapat menggiring pada tindakan yang tidak bermanfaat, seperti ghibah, mengumpat, mengganggu pejalan kaki, hingga menyakiti orang lain. Semuanya seakan tampak menyenangkan, padahal hakikatnya sangatlah merugikan.

Ketiga, raddus salam, menjawab salam. Menebar salam sesama Muslim merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan, terlebih menjawabnya. Tidak akan gugur kewajiban menjawab salam bagi sekelompok orang, hingga salah satu dari mereka ada yang menjawabnya. Dengan menebar dan menjawab salam di jalan, selain sebagai bentuk doa, juga menjadi media untuk saling mengenal sehingga akan tercipta keamanan dan ketertiban.

Keempat, al-amru bil ma’ruf, mengajak pada kebaikan. Meski berada di jalan, hendaknya tetap melakukan kebaikan. Kebaikan tidak harus dalam bentuk besar, tapi juga bisa dengan cara yang kecil dan mudah. Misalnya menunjukkan arah (lokasi) yang benar bagi pejalan kaki atau orang-orang yang membutuhkan informasi penting.

Adapun hak jalan kelima yang wajib dipenuhi adalah an-nahyu ‘anil munkar, mencegah kemunkaran. Pada dasarnya setiap pribadi manusia adalah khalifah di muka bumi. Ia memiliki tugas menebar kebaikan dan mencegah kemungkaran sesuai kemampuannya. Caranya bisa dengan tindakan, ucapan, maupun sekadar ketukan dalam hati. Sesungguhnya Allah SWT tidak membebani manusia melebihi batas kemampuannya. (QS Al-Baqarah [2]: 286.

Sungguh indahnya saat pengguna jalan, mulai dari pejalan kaki hingga mereka yang duduk-duduk di sekitar jalan untuk saling menghargai dan menunaikan haknya. Suasana tenang pasti akan terasa. Keamanan akan tercipta dan kesemrawutan jalan akan sirna karena setiap pribadi tak lagi mementingkan dirinya sendiri.

Oleh: M Sinwani
sumber : www.republika.co.id

Thursday, October 04, 2012

Indonesia Belum Punya UU Kebudayaan

BANDUNG, (PRLM).- Sebagai negara yang kaya dengan karya seni budaya tradisi sampai saat ini Indonesia belum memiliki Undang-undang Kebudayaan. Keberadaan UU kebudayaan dibutuhkan sebagai alat maupun sarana pengendalian dan aturan hukumnya.

Padahal menurut Kabudit Direktorat Internalisasi dan Diplomasi Budaya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Dyah Chitraria Liestyati, turunannya seperti undang-undang cagar budaya dan undang-undang perfilman sudah lebih dulu ada.

"Undang-undang kebudayaan sudah sangat mendesak dibutuhkan, karenan kebudayaan sudah lama dilaksanakan oleh masyarakat, namun belum ada dasar hukum atau aturannya dari pemerintah," ujar Dyah Chitraria Liestyati, pada acara Workshop Menejemen Seni Pertunjukan bertempat di Hotel Horison, Jl. Pelajar Pejuang Bandung, Selasa (25/9).

Dikatakan Dyah, pemerintah tidak mau menyetir pelaksanaan kebudayaan di masyarakat. Karenanya, keberadaan UU kebudayaan ini lebih untuk pengendalian dan aturan hukumnya dan masyarakat tetap bisa terus melaksanakan kegiatan kebudayaannya masing-masing,

Saat ini menurut Dyah, penyusunan rancangan Undang-undang (RUU) kebudayaan masih terus disusun, bahkan RUU kebudayaan ini sudah dibahas beberapa kali di DPR RI. "Saya kurang tahu persisnya, karena pembahasan RUU kebudayaan ini sudah lama dilakukan, ketika kebudayaan masih bergabung dengan pariwisata," ujar Dyah.

Sementara itu Kepala Balai Purbakala, Sejarah, dan Nilai Tradisi (BPSNT), Drs. Toto Sucipto, mengatakan bahwa keberadaan UU Kebudayaan sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan karya seni budaya warisan bangsa dan agar kejadian klaim karya seni budaya oleh negara lain kembali terulang. “Misalnya di Jawa Barat saja sudah diakui secara nasional baru 73 karya, sementara 40 jenis karya budaya lainnya sudah punah,” ujar Toto

Dikatakan Toto, saat ini dari empat provinsi di bawah naungan BPSNT, baru 173 karya budaya yang diakui dari 550 yang diajukan. Sementara berdasarkan catatan di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan hingga semester tiga sudah 2.300 seni budaya yang terdaftar, sedangkan berdasarkan target yang ditetapkan pada tahun 2012, sebanyak 8.000 seni budaya tradisi di seluruh Indonesia harus sudah terdaftar.
Sumber : Pikiran rakyat
Selasa, 25/09/2012 - 20:58

Wednesday, October 03, 2012

Renungan Tauhid di Maqam Ibrahim

Maqam Ibrahim dan Hijir Ismail adalah dua tempat yang sangat bersejarah. Itulah sebabnya Allah SWT memerintahkan kita untuk berdoa di kedua tempat ini sambil mengenang jasa-jasa mereka dalam mengembangkan ajaran tauhid dan mendirikan kota Makkah serta merenovasi Kabah.

Maqam Ibrahim adalah sebuah batu tempat Nabi Ibrahim berpijak saat memperbaiki Kabah. Saat berada di Maqam Ibrahim kita dituntut untuk merenung dan meneladani Nabi Ibrahim AS dalam menegakkan agama tauhid (monoteis).

Tua atau muda bukanlah ukuran untuk melanjutkan tugas mulia itu. Sebab Nabi Ibrahim sendiri adalah perwakilan bagi kaum tua dan Ismail adalah perwakilan bagi kaum muda. Inilah sebagai simbol kerja sama antara kaum muda dan kaum tua dalam menegakkan panji-panji Allah dengan tetap berpijak pada pondasi Alquran dan Sunnah.

Islam sendiri diibaratkan Rasulullah SAW dengan sebuah bangunan. Sebagaimana yang digambarkan Rasulullah dalam hadis, “Islam itu dibangun di atas lima pondasi” (HR Bukhari Muslim). Pondasi tersebut yang kemudian dikenal dengan Rukun Islam. Jadi, prosesi pembangunan Kabah oleh Nabi Ibrahim dan Ismail adalah manifestasi dari pembangunan Islam itu sendiri.
REPUBLIKA.CO.ID,
24 September 2012 | Kategori: Tempat Bersejarah
Editor: Dewi Mardiani
Reporter: Hannan Putra
Sumber : Panduan Super Lengkap Haji & Umrah, Oleh Aguk Irawan MN

Tuesday, October 02, 2012

Empat Anugerah bagi Pendosa

Allah memiliki sifat-sifat yang mulia. Sifat-sifat Allah tersebut dikenal dengan Asmaul Husna, salah satunya Al-Wahhab (Maha Pemberi Anugerah).

Tanpa melihat status sosial, suku, tingkat materi, jenjang pendidikan, agama, Allah tunjukkan sifat kasih dan sayangnya kepada semua makhluk hidup di muka bumi.

Sang pemberi anugerah ini senantiasa melimpahkan nikmat-Nya tak hanya bagi para ahli ibadah namun juga untuk ahli maksiat.

Berbicara perihal maksiat— semua manusia pada dasarnya berpotensi untuk melakukan dosa. Sebab Allah telah mengaruniakannya hawa nafsu. Namun dengan adanya hawa nafsu itu, bukan berarti manusia seenaknya berbuat dosa dengan harapan Allah pasti memberikan ampunan.

Sebaliknya, manusia dikaruniai hawa nafsu agar ia kian cerdas mengontrol diri dari dorongan-dorongan jahat dengan mempertebal keimanan dan ibadah pada Allah

Kendati banyak manusia yang berbuat dosa, karena sifat Rahman dan Rahim-Nya, Allah tidak ‘membenci’ orang-orang yang mengotori dirinya dengan dosa—jika mereka mau kembali, membersihkan diri, melakukan perbaikan, juga berjanji setia dengan Allah bahwa takkan pernah mengulangi dosa yang senada.

Dalam Surah An-Nisaa ayat 27 dan 28, Allah Swt berfirman: “Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.”

Sa’ad bin Hilal pernah berkata, “Bila manusia (umat Muhammad SAW) berbuat dosa, maka Allah tetap memberikan empat anugerah padanya, yaitu:

Pertama, ia tidak terhalang untuk mendapatkan rezeki. Kedua, ia tidak terhalang untuk mendapatkan kesehatan badan. Ketiga, Allah tidak akan memperlihatkan dosanya selama di dunia. Keempat, Allah tidak serta-merta mengazabnya.

Keempat ‘anugerah’ ini semestinya betul-betul disadari oleh kita—makhluk yang sering terperdaya untuk melakukan dosa, agar malu di hadapan Allah. Malu karena memakan nikmat Allah, tapi shalat tak kunjung khusyuk.

Malu karena merasakan nikmat Allah tapi ibadah pas-pasan dan malu telah mendapatkan fasilitas gratis dari Allah—penglihatan, pendengaran, hati, harta, jabatan, pasangan hidup—tapi posisi di hadapan Allah belum jelas. Hamba-Nya kah? Atau sekedar makhluk-Nya? Atau keduanya? Yang harus kita sadari bersama ialah bahwa tugas kita sebagai khalifah di bumi hanyalah untuk beribadah.
“Dan tiada kuciptakan jin dan manusia, selain untuk beribadah kepadaKu.” (Qs Adz-Zariyat: 56). Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa kita harus berlomba-lomba mencari perhatian Allah, mencari posisi strategis di hadapan Allah, mencari dan mengejar cinta-Nya—bukan mencari itu semua pada selainNya yang berakhir kefanaan.

Diriwayatkan bahwa Nabi Adam AS telah berkata, “Allah memberikan empat macam kemuliaan kepada umat Muhammad yang tidak Allah berikan kepadaku, yaitu:

1. Allah menerima taubatku di Makkah, sedangkan umat Muhammad diterima taubatnya-dimana pun ia berada.

2. Ketika aku melakukan dosa, Allah menghilangkan pakaianku seketika, sedangkan umat Muhammad tetap diberi pakaian meskipun durhaka pada Allah.

3. Ketika aku berbuat dosa, Allah pisahkan aku dengan istriku, sedangkan umat Muhammad ketika ia berbuat dosa—tidak dipisahkan oleh istrinya.

4. Aku berbuat dosa di surga, lalu Allah mengusirku dari surga ke dunia, sedangkan umat Muhammad yang berbuat dosa di luar surga, lalu Allah memasukkan mereka ke surga bila mereka mau bertaubat.

Itulah empat keutamaan umat Nabi Muhammad SAW yang manusia pertama saja tidak mendapatkannya. Marilah bersama perbaiki diri agar kita layak mendapatkan nikmat Allah. Wallahu a’lam.

Oleh: Ina Salma Febriani
sumber : www.republika.co.id

Monday, October 01, 2012

Rancage Mamak Kenut

HADIAH sastra rancage made in Pasundan entah kenapa tak pernah mletek di tanah Cerbon Dermayu. Padahal ada banyak pemahat kata berkacamata sastra yang layak diayak untuk menjadi penerima rancage. Sebut saja Ahmad Subhanuddin Alwy, Nurdin M. Noer, Supali Kasim, Sumbadi Sastra Alam, Masduki Sarpin, dan Ipon Bae.

Yang memedihkan, ketika rancage lebih melirik sastra Lampung, Mak Dawah Mak Dibingi (2007) karya Udo Z. Zakri untuk dianugerahi Hadiah Sastra rancage 2008. Jadi wajar ketika ada sastrawan Cerbon yang enggan disebut namanya berurai airmata, nelangsa, "Aja mujur ngalor sedurung tinemu mleteke rancage!" (Jangan dulu dikubur menghadap kiblat sebelum mendapat hadiah sastra rancage).

Adakah ini pertanda duka sastra ketika Cerbon selalu terposisikan

sebagai anak haram budaya? Bisa jadi, memang begitu itu. Tapi menjadi lain ketika saya membaca Mamak Kenut (2012) karya sang peraih hadiah sastra Rancage itu. Adalah kumpul teks naratif khas wartawan merangkap sastrawan bernama Udo Z. Karzi, meski tak berbentuk tapi layak diasketis sebagai celotehan nakal ketika Jakarta berambut ikal keriting dan maaf... tidak berakal.

"Hmm, luar biasa, luar dalam," ucap saya untuk diri saya sendiri.

Kenapa? Udo mampu memetakan pulau-pulau keterasingan ketika kekuasaan (baca Jakarta) bertiwikrama menjadi puncak menara gading yang angkuh, gelo, dan lugu. Mamak Kenut adalah kritik akar rumput, ludah yang muncrat-muncrat sekaligus sejenis kesunyian yang meletihkan. Harap maklum, "Power tends to corrupt," tulis sejarawan Lord Acton, "But absolute power corrupts absolutely." Bahkan dramaturgi wayang Jawa --Penglepasan Kultural Ki Semar Kudapawana yang kerap hadir di ujung cerita-- diyakini bagian dari kekuasaan itu sendiri. Lir ambune njabah kelir lakon (Sejatining kritik akar rumput itu meski berbau tak sedap tapi mampu membuka ada apa di balik siapa). Lagi pula kritik terhadap penguasa (muhasabatul hukam) adalah ibadah amar makruf nahi munkar yang hukumnya fardu kifayah. "Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil." (QS. Almaaidah: 8)

Itulah sudah! Sesudah itu, Kovenan Internasional tentang hak kritik akar rumputpun dialirkan. "Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat dalam hal ini termasuk kebebasan memiliki pendapat tanpa gangguan, dan untuk mencari, menerima, dan menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media apa saja dan dengan tidak memandang batas-batas wilayah."

Bisa jadi, di ruang ini celotehan Udo Z. Karzi dalam Mamak Kenut saya selipkan di saku nalar saya. Terus terang, dalam ruang Indonesia yang tak benderang, nalar nakal Mamak Kenut membuat saya terlempar pada ruang sepi yang mencerahkan. Ada banyak judul yang memosisikan kritik akar rumput Mamak Kenut patut diperdengarkan di teras istana Negara.

Sebut saja 'orang bersih', 'politisi olahraga', 'kapasitas', 'biasa saja', 'musyawarah-mufakat', dan entah apalagi. Peraih hadiah sastra Rancage 2008, Udo Z. Karzi, secara tersembunyi alirkan proses cendekia di belantara kemajemukan hasrat masyarakat sekaligus --mengutip Edward T. Hall, Beyond Culture, 1977-- sejenis pergulatan kultur tersembunyi yang sukar ditangkap oleh orang lain.

Tak pelak, kritik akar rumput Mamak Kenut berupaya mengadopsi kritik sosial sebagai proses logika sekaligus memasukan jaringan indera cium dalam pusaran revitalisasi estetika kearifan lokal ke ruang yang lebih cair. Ia tahu betul bahwa Kritik Akar rumput kerap memiliki potensi dalam hal penjelajahan bentuk, ruang dan waktu. Imanuel Kant menyebutnya sebagai das ding an sich (Wiegend dan Schinnagel 1964:272). Das ding an sich ini sejenis keniscayaan yang mustahil dapat ditangkap manusia. Seperti angin yang tak terbaca sekaligus laksana rsuara tanpa rupar yang mustahil bisa membaca. Tak pelak, Kritik akar rumput Mamak Kenut tidak sekadar absurditas fenomental juga siluet holistik di lembaran kain hitam putih. Artinya, kritik yang berbasis pada nalar cendekiawan akan lebih memiliki pilar pemberdayaan, abstraksi kontesia pemikiran serta validitas yang tinggi.

Ada banyak trik menarik yang diungkap Mamak Kenut sebagai jaringan indera dialektika yang mengubahsuai kontesia abstraksi menjadi sosok yang seolah-olah masuk akal. Abstraksi realitas ini memosisikan kritik akar rumput sebagai mikroskop steril yang futuris.

Artinya, seorang Udo melihat masa depan sebagai realitas kekinian. Adalah realitas yang memiliki potensi yang mentransformasi abstraksi sebagai suatu pembenaran. Memang kritik kerap overlap hingga ke batas tak terduga. "The future is in some sense some as real as the present too," ungkap Wendell Bell dan James A, The Sociology of The Future (1973: 8), "The future in some respect is as real as the past, since we know both in much the sameway-trought our conseption of them."

Mewacanai agregat di atas, maka kritik sosial menitikberatkan pada apa yang oleh kritikus dianggap benar yang juga dibenarkan pendapat kolektif. Artinya, saat Udo mengkritik penguasa maka dibutuhkan pembenaran bersifat kolektif. Seorang Joseph S. roucek, (Social Control 1956:3) menyebutnya, "Social control is a collecitive term for those processes, planed or unplaned, by which individuals are taught, persuaded or completed to conform to the usages and live-values of groups." Jadi, tak aneh apabila kritik sosial saat pertama diluncurkan memiliki potensi konflik untuk saling bersebrangan. Kritik yang bermakna perubahan akan berhadapan dengan keajegan kondisional. Kritik yang menuntut adanya ideal conduct dan high standars of performance diadopsi penguasa sebagai perilaku mabelelo yang nganeh-nganehi.

***

Aneh atau tidak, kritik akar rumput Mamak Kenut tercipta dari ruang pengap Indonesia. Terlebih lagi ketika republik tempat bersemayamnya para predator korup ini hampir pada setiap hari mematut jati diri menjadi sosok cleptocracy yaitu pemerintahan yang dijalankan oleh para pencuri dan birokrasi dengan tingkat korupsi luar biasa. Tak ayal lagi, kritik akar rumput pun pun melintas-lintas. Udo melihat ini dan ini pernah disitir Goenawan Mohamad dalam pahatan teks yang memukau, "Kekuasaan, pada tingkat tertentu, memang sejenis kesepian. Yang menarik, ialah pada saat penguasa menyadari hal itu, ia ternyata tidak begitu gampang untuk membebaskan diri dari kungkungannya."

Apa artinya? Cuma kesunyian kekuasaan yang akan mengakhiri kecurangan-kecurangan tersembunyi itu. Cuma Tangan Tuhan yang tersembunyilah yang akan mengakhiri kepemimpinan politik yang bertahan amat lama yang seolah-olah, mengutip Budiana Kusumohamidjojo (1986:3), tidak mengenal tahun terakhir.

Emang sih, kritik akar rumput Mamak Kenut bukan hal yang anyar dalam percaturan pikir Indonesiana. Sebut saja Zaim Saidi, Emha Ainun Nadjib, Farid Gaban, Abdurrahman Wahid, Mahbub Djunaidi, Mohamad Sobary, M.A.W. Brouwer, dan Tandi Skober. Mereka adalah realitas yang kerap tersembunyi di bilik-bilik sunyi kekuasaan. Ini sejenis partikel nurudin (cahaya Tuhan) yang kerap muncul setiap kali kekuasaan mentuhankan nafsu.

Malangnya, banyak penguasa yang enggan mengasketis partikel nurudin itu menjadi cermin jujur yang seteril. Di titik inilah pada akhirnya kritik akar rumput Mamak Kenut bisa jadi tak lebih dari lintasan angin yang memasuki banyak ruang sonder permisi. Atau tidak lebih dari secangkir kopi yang terhidang diambang fajar, di teras rumah ketika kemarau kian retak.
(Penulis adalah budayawan, penulis, sastrawan)**
Oleh : TANDI SKOBER
Galamedia
jumat, 28 september 2012 01:12 WIB