-
Showing posts with label Haji. Show all posts
Showing posts with label Haji. Show all posts

Sunday, October 06, 2013

Bekal Haji

Dalam kitab itqan fi ‘ulumil Quran dikisahkan atas suruhan Umar bin Khattab, seorang sahabat bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud yang sedang berada di sebuah rombongan yang akan melaksanakan ibadah haji saat itu.

Abdullah bin Mas’ud ditanya atas lima ayat-ayat Al-Quran yang terbaik, yakni ayat manakah yang ‘azham (paling mulia), ‘adal wa ‘ahkam (paling tinggi hukum dan keadilan), ajma (paling lengkap, menyimpulkan), sedikit namun berisi), ahzan (paling menyedihkan) dan ayat yang anja (paling memberi pengharapan).
   
Abdullah bin Mas’ud yang merupakan sahabat Rasulullah SAW yang didoakan menjadi orang yang paham Al-Quran menjawab, pertama, ayat yang ‘azham (paling mulia) adalah Surah al-Baqarah ayat 155, yang biasa kita sebut dengan ayat kursi.

Pada ayat tersebut berisikan fondasi tauhid yang kokoh. Seseorang yang mengaku dirinya beriman dan berjuang di jalan Allah wajib meyakini akan Allah tiada tuhan selain Dia, memahami sifat Allah yang hidup (hayy), yang berdiri (qayyum), Allah tidak perlu istirahat dan tidur untuk mengurus segala sesuatu di seluruh alam jagad raya dari singgasanaNya.

Keyakinan akan sifat Allah akan membuat seseorang kuat menghadapi segala rintangan dan hambatan dalam menjalankan ibadah haji yang merupakan miniatur kehidupan manusia. 

Kedua, adapun ayat yang paling  ‘adal wa ‘ahkam (paling tingggi hukum dan keadilan) adalah surah an-Nahl ayat: 90. Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.

Keadilan adalah keseimbangan dalam hidup. Tidak hanya memerintahkan kita untuk seimbang dalam segala aspek kehidupan, Allah juga menyuruh berbuat yang terbaik kepada setiap makluk dan pada satu tarikan nafas membenci dan memusuhi setiap perbuatn keji, mungkar dan permusuhan.

Jika setiap orang melakukan ayat hukum dan keadilan di atas, maka dapat dipastikan kehidupan dunia dalam rule of law, aman, tentram dan teratur.

Ketiga, ayat yang paling ‘ajma' (paling lengkap, menyimpulkan) adalah surah al-Zalzalah ayat 7-8). “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”.

Perjalanan kehidupan hanya berada pada dua sisi yakni kebaikan dan keburukan. Keduanya akan berbalas sesuai dengan perbuatan yang kita lakukan.

Keyakinan akan balasan baik dan buruk walau sekecil apapun membuat orang akan selalu pada posisi yang benar yakni seseorang akan mengerjakan perbuatan baik dan sebaik-baiknya sebab akan berbalas, dan pada saat yang sama akan menjauhi perbuatan buruk sejauh-jauhnya sebab akan juga akan berbalas.

Keempat, ayat yang paling menyedihkan ahzan (paling menyedihkan) adalah surah an-Nisa’ ayat 123. “Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.

Perbuatan buruk akan berbalas dengan setimpal. Dan yang akan menjadikan kita sangat bersedih adalah di saat perbuatan buruk akan dibalas dengan keburukan tersebut tidak akan mendapatkan dispensasi dan pertolongan Allah.

Penyesalan saat kita telah berada di negeri lain (akhirat) tidak akan berarti dan tidak seorangpun yang mampu menolong, dan bahkan Allah juga tidak mau memberikan pertolongan.

Saat itulah penyesalan, kesedihan dan keputusasaan yang tiada taranya dihadapi oleh seseorang yang mengerjakan perbuatan buruk.

Kelima, ayat yang paling memberi pengharapan (anja’) adalah surah az-Zumar ayat; 53. “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
   
Sebanyak apapun atau sebejat apapun perbuatan yang pernah kita lakukan kecuali dosa syirik masih dimungkinkan diberikan pengampunan oleh Allah, dengan catatan orang tersebut bertaubat, mengakui dosa yang dikerjakan serta memohon kepada Allah untuk diampuni.

Rahmat Allah sangat terbuka lebar untuk memberikan ampunan sekaligus memberikan kasih sayangnya kepada orang yang mau bertaubat secara sungguh-sungguh (nashuha).
   
Lima ayat di atas menjadi bekal Abdullah bin Mas’ud beserta rombongan yang akan menunaikan ibadah haji saat itu.

Bekal itu jualah yang patut dibawa dan dipegang setiap orang yang akan dan sedang menunaikan ibadah haji. Bahkan, pada hakikatnya bekal itulah yang harus dipegang dalam menjalani kehidupan ini. Wallahu’alam.  
, Oleh: Mustafa Kamal Rokan

sumber : www.republika.co.id

Tuesday, October 01, 2013

Keutamaan dan pahala Haji dan Umrah

Musim haji dan umrah sudah tiba masanya. Umat Islam dari penjuru dunia yang berkesempatan untuk pergi ibadah haji atau umrah pada tahun ini sudah mulai berdatangan di kota suci Makkah dan Madinah Munawarah.

Rasa gembira dan haru sudah pasti mereka rasakan. Bagaimana tidak, mereka memperoleh peluang yang sangat besar untuk memenuhi panggilan Allah, yaitu melaksanakan rangkaian manasik haji yang merupakan syari’at dan rukun Islam yang kelima.

Kegembiraan dan keterharuan itu wajar dan lumrah. Karena kesempatan berangkat haji tersebut diperoleh setelah melalui proses panjang yang sarat dengan perjuangan, pengorbanan dan kesabaran. Jerih payah luar biasa, mulai dari usaha mengumpulkan biaya, mengurus administrasi sampai melakukan safar (perjalanan) yang jauh dan memberatkan.

Tetapi yang paling penting sesampainya di tanah suci, para jemaah harus memaksimalkan lagi persiapannya. Terutama fikiran, mental , pengetahuan, kekhusuan dan kesabaran sehingga rangkaian rukun dan wajib haji dapat dikerjakan secara baik dan sempurna.

Di samping merupakan kewajiban bagi yang mampu, Ibadah haji dan umrah memiliki keutamaan dan pahala yang sangat besar. Sehingga tidak heran, dari tahun ke tahun angka jemaah yang mendaftar haji atau umrah senantiasa meningkat dan bertambah. Padahal ongkos biayanya semakin tinggi.

Sementara jatah quota haji yang diberikan kerajaan Arab Saudi tidak mencukupi sehingga jemaah yang mendaftar harus menunggu dua atau tiga tahun. Bahkan di beberapa negara seperti di Malaysia harus menunggu belasan dan puluhan tahun, baru bisa berangkat haji.

Sebuah riwayat shahih dari Ibn Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda, “Tunaikanlah haji dan umrah, karena keduanya dapat menghilangkan kemiskinan dan dosa sebagaimana api menghilangkan kotoran besi, emas dan perak. Dan tidak ada balasan bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. Tirmidzi).

Sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah RA, bahwa haji mabrur merupakan bentuk jihad yang paling mulia. Sabda Rasulullah SAW, “Kalian mempunyai jihad yang paling mulia, yaitu haji mabrur.”

Begitu besar keutamaan dan pahala haji mabrur, yaitu ibadah haji yang dapat dilaksanakan secara sempurna yang tidak ternodai dengan perbuatan dosa dan maksiat sehingga ibadah hajinya betul-betul diterima oleh Allah SWT.

Namun bagi jamaah umat Islam yang belum diberikan kesempatan dan peluang berangkat haji tidak perlu putus asa dan kecil hati, karena Allah SWT menyediakan sejumlah amal shalih dengan ongkos murah, tetapi keutamaan dan pahalanya sebanding dengan ibadah haji dan umrah. Bahkan lebih besar.

Seperti sabda Nabi SAW , “Barang siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci demi untuk menunaikan shalat fardu, maka pahalanya adalah seperti pahala orang yang menunaikan ibadah haji dan ihram. Dan barang siapa yang keluar dengan bersusah payah hanya untuk melakukan shalat dhuha, maka pahalanya adalah seperti pahala orang yang melakukan ibadah umrah.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Wallahu Al-Musta’an.
, Oleh Imron Baehaqi 
sumber : www.republika.co.id

Sunday, September 29, 2013

Bekal Ibadah Haji

Di dalam Alquran Surat Al-Baqarah: 197 “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (kata-kata kotor), berbuat fasik (zalim kepada yang lain) dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”.

Ayat ini secara tegas menyatakan persiapan yang harus dimiliki oleh setiap jamaah calon haji, di samping hal-hal yang bersifat fisik material, termasuk uang dan barang-barang lainnya, juga hal-hal yang bersifat spiritual dan rohaniah yang menguatkan akhlak dan perilaku yang baik, serta menjauhkan dari perilaku yang  buruk dan tercela, terutama tiga perilaku yang secara eksplisit diungkap dalam ayat tersebut.
   
Pertama, dilarang mengeluarkan kata-kata dan ucapan yang kotor dan kasar yang tidak pantas dan tidak layak diucapkan di tanah haram, terlebih lagi pada saat berpakaian ihram, seperti kata-kata yang berbau porno, menyakitkan, atau berisikan cacian dan hinaan.

Selanjutnya harus diganti dengan ucapan-ucapan yang mencerminkan kepatuhan dan ketundukan hati kepada Allah SWT, seperti tasbih, tahmid, takbir, tahlil, doa, membaca salawat kepada Nabi SAW, dan memperbanyak membaca Alquran.
   
Kedua, dilarang berbuat fasik dan zalim serta aniaya kepada sesama jamaah atau pada makhluk Allah SWT lainnya yang hidup di tanah haram, termasuk dilarang merusak dan mencabuti tanaman yang tumbuh, serta berburu atau membunuh binatang. Dan juga dilarang berdusta, berbohong dan menipu orang lain.

Ketiga, dilarang berbantah-bantahan yang menyebabkan timbulnya permusuhan dan pudarnya semangat persaudaraan atau ukhuwah islamiyyah terutama antar sesama jamaah, baik yang berasal dari satu daerah atau satu negara, maupun dari daerah dan negara lain.

Semua jamaah haji harus harus larut dalam suasana keakraban, kekeluargaan, saling menolong dan saling membantu yang mencerminkan satu tubuh (kal jasadil waahid) atau satu bangunan yang solid (kalbunyaan yasyuddu ba’duhu ba’dhan).

Hal-hal tersebut itulah yang harus menjadi bekal utama dari setiap jamaah calon haji, yang kalau dilatih dan dibiasakan selama ibadah haji, mudah-mudahan akan menjadi perilaku utama yang masuk ke dalam struktur kepribadian para jamaah.

Dan itulah oleh-oleh yang seharusnya dibawa oleh para jamaah ketika kembali ke Tanah Air dan ke tempat masing-masing. Adanya peningkatan perilaku yang semakin baik dari sebelumnya.

Dan itulah yang dikatakan haji mabrur sebagaimana dikemukakan oleh Imam Hasan al-Basri (Fiqh Sunnah Vol. 5) ayyakuuna ahsana min qablu wa ayyakuuna qudwata ahli baladihi (perilakunya lebih baik daripada sebelumnya dan menjadi panutan masyarakat lingkungannya).

Selamat melaksanakan ibadah haji. Semoga mempersiapkan bekal takwa dan membawa oleh-oleh perubahan perilaku yang lebih baik. Wallahu A’lam.
Oleh KH Didin Hafidhuddin
   
sumber : www.republika.co.id

Friday, September 27, 2013

Mabrur Pascahaji

Musim haji sudah tiba. Syawal, Dzul Qaidah, dan Dzul Hijjah adalah bulan-bulan haji. Umat Islam yang kini tengah menunaikan rukun Islam kelima ini tentu sudah bersiap diri, baik fisik, finansial, maupun mental spiritual.

Para tamu Allah  (dhuyuf ar-Rahman) itu tentu juga berniat dan berharap memperoleh haji mabrur, yang balasannya tidak lain adalah surga (HR Muslim).
   
Jamaah haji Indonesia termasuk yang terbesar di dunia, dan boleh jadi yang paling banyak membelajakan hartanya di Tanah Suci.

Para alumni Tanah Suci itu sering digugat: "Mengapa jumlah jamaah haji yang terus meningkat setiap tahun, bahkan ngantri bertahun-tahun, tidak berbanding lurus dengan penurunan angka korupsi atau perbaikan integritas dan akhlak  umat Islam?" "Apa bukti kemabruran haji mereka?

Oleh karena itu, aktualisasi kemabruran pascahaji merupakan sebuah keharusan, agar ritualitas ini tidak berhenti pada tataran pemenuhan atau pengguguran kewajiban, melainkan harus membuahkan perilaku moral yang mulia dan terhormat.

Berhaji bukan sekadar untuk mengejar dan memperoleh gelar haji, tetapi yang lebih penting lagi adalah menjadi orang benar-benar mengamalkan nilai-nilai moral-spiritual pascahaji.
    
Haji itu ibadah multidimensional. Manasik haji bukan sekadar ritualitas fisik tanpa makna. Prosesi manasik haji adalah sebuah drama kehidupan yang kaya makna, terutama makna sosial kultural.

Haji dimulai dengan niat ihram. Pakaian ihram mengandung pesan bahwa menjadi tamu Allah itu harus suci lahir batin, tidak egois, tapi emansipatoris dan siap memenuhi panggilan ketaatan (talbiyah) hanya kepada-Nya dan hanya berharap memperoleh ridha-Nya.
   
Thawaf bukan sekadar mengelilingi Ka'bah tujuh kali. Thawaf mendidik jamaah haji bergerak dinamis dalam orbit tauhid. Keteguhan dan konsistensi dalam bertauhid memacu gerak untuk maju dan terus maju.

Orang yang berthawaf adalah orang yang antikemunduran dan kejumudan. Thawaf menyadarkan pentingnya nilai progresivitas sosial yang bersendikan nilai-nilai tauhid.
   
Sa'i antara Shafa dan Marwa melambangkan etos dan disiplin kerja yang tinggi. Siti Hajar, ibunda Nabi Ismail AS, memberikan keteladanan sebagai seorang ibu yang tidak pernah menyerah untuk berusaha demi masa depan anaknya yang saat itu menghadapi kesulitan.

Etos dan disiplin kerja itu harus dimulai dari shafa (ketulusan hati dan kejernihan pikiran). Etos dan disiplin sa'i harus maksimal agar mencapai Marwa (kepuasan hati, hasil maksimal atau prestasi tinggi).
   
Wuquf di Arafah adalah kesadaran terhadap pentingnya berhenti sejenak sambil makrifat diri untuk dapat merasakan kehadiran Allah SWT.

Sebagai lambang miniatur makhsyar di akhirat kelak, wukuf memberi kesadaran akan pentingnya introspeksi diri, pengenalan jati diri, dan yang lebih penting lagi "pengadilan terhadap diri sendiri". Jika selama ini manusia cenderung mengadili orang lain, atau tidak pernah berbuat adil,

Wuquf di Arafah adalah momentum yang tepat untuk mengambil keputusan yang arif: apakah selama ini yang berwukuf sudah benar-benar menjadi hamba-Nya ataukah masih menjadi hamba-hamba selain-Nya? Apakah yang berwukuf itu sudah meneladani akhlak Allah atau masih selalu mengikuti hawa nafwu dan setan?
   
Karena itu, di malam hari menuju Mina, para jamaah haji diminta bermabit di Muzdalifah (mendekatkan diri), sekali lagi bertaubat dan bermunajat kepada Allah sambil menyiapkan amunisi jihad di jamarat Mina.

Mina adalah simbolisasi cita dan cinta. Karena cinta-Nya yang tulus kepada Allah, Nabi Ibrahim rela mengorbankan anak kesayangannya, Ismail. Berjuang melawan setan dan hawa nafsu hanya bisa dimenangi oleh rasa cinta yang tulus kepada Allah.

Dengan cinta karena-Nya, Ibrahim akhirnya memperoleh cita-citanya: anaknya tidak jadi korban, karena manusia memang tidak pantas dikorbankan. Ismail adalah generasi masa depan, penerus perjuangan ayahnya.
    
Haji adalah ibadah yang paling multikultural; diikuti oleh aneka suku bangsa, bahasa, negara, adat-istiadat, watak, karakter, latar belakang sosial ekonomi dan budaya. 

Melalui syariat haji ini, Allah sungguh menitipkan pesan-pesan moral agar manusia saling bersikap emansipasi, toleransi, saling menghargai, cinta damai, disiplin dan etos kerja tinggi, dan menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia sebagaimana dipesankan dalam khutbah wada' Nabi Muhammad SAW.

Dengan memahami nilai-nilai moral haji tersebut, para jamaah haji diharapkan dapat mempertahankan kemabruran pascahaji! Semoga!
Oleh Muhbib Abdul Wahab
sumber : www.republika.co.id

Wednesday, September 25, 2013

Spirit Haji Menuju Kebahagiaan Sejati

Labaik Allahumma Labaik. Panggilan haji kembali tiba. Jamaah haji Indonesia sudah mulai diberangkatkan menuju tanah suci Makkah serta menjadi tetamu Allah SWT.  Momen haji adalah momen yang mampu memberikan inspirasi bagi kemajuan kemanusiaan.
Proses ini ditandai dengan jutaan manusia berbondong-bondong ke baitul Ka’bah, simbol pemersatu umat Islam. Dalam ritual haji, manusia diperlakukan secara sama dan adil, tanpa melihat ras, suku dan latarbelakang dunia lainnya. Harkat dan martabat mereka sebagai manusia adalah sama. Hak dan kewajiban mereka sebagai hamba juga sama. Tujuan dan arah perjuangan hidup mereka hakikatnya juga sama, yaitu berusaha meraih kebahagiaan yang sejati abadi.

Itulah sesungguhnya yang menjadi hikmah dan tujuan utama di syariatkannya ibadah haji. Dalam bahasa Alquran, hikmah dan tujuan ibadah haji - yang merupakan puncak tertinggi ajaran rukun Islam – diungkapakan dengan istilah liyasyhaduu manaafi`a lahum, yaitu untuk “menyaksikan” kemanfaatan-kemanfaatan duniawi dan ukhrawi (kebahagiaan sejati) yang mahadasyat yang akan terus mengalir dan menjadi “milik” mereka yang berhasil menunaikan haji secara mabrur (QS. Al-Hajj 22:28)

Secara etimologis, sebagaimana dikemukan Ibn Mandzur dalam kitabnya, Lisaan al-Arab, kata hajj antara lain berarti “menuju pada target tertentu” (al-qashd). Lebih spesifik lagi, al-Ishfahani dalam kitabnya, Mufradaat Alfaadz al-Qur`aan, menjelaskan pengertian hajj sebagai “menuju kepada target tertentu untuk dikunjungi” (al-qashd li al-ziyarah). Dari situlah muncul istilah haji dalam Islam yang berasal diambil dari kalimat hajj al-bait atau “berkunjung ke baitullah”, yaitu kunjungan khusus ke Masjidil Haram dengan tujuan menunaikan manasik haji (QS. Ali `Imran 3:97).

Ditilik dari segi filosofis makna kata (fiqh qiyaas al-lughah), kata hajj yang dibentuk oleh rangkaian tiga huruf dasar haa`jiim, jiim pada hakikatnya menunjukan simpul makna dasar yang menggambarkan “keberadaan sesuatu yang bisa dijadikan landasan, sandaran, atau fokus perhatian” (ma u`tumida`alaihi) atau “berproses menuju landasan, sandaran, atau fokus  perhatian” (al-i`timaad).

Misalnya, kata hujjah yang memiliki arti dasar argumentasi (al-daliil) atau bukti kebenaran (al-burhaan). Begitu juga kata mahajjah  yang berarti jalan terbuka yang arah-arahnya (al-thariiq al-jaaddah). Disebut demikian karena jalan tersebut bisa dijadikan sandaran untuk sampai pada alamat yang dituju. Atau kata hajj (al-syijaaj) yang memiliki arti memeriksa luka di kepala secara teliti, terfokus, dan penuh perhatian untuk keperluan pengobatan serta penyembuhan.

Jadi, substansi haji adalah mencari dan mengukuhkan sandaran atau landasan yang hakiki begi kehidupan menuju kebahagiaan sejati yang merupakan fokus perhatian dan target pencarian yang dituju oleh seluruh umat manusia.. Karena itu, banyak ulama menyebutkan, haji mabrur adalah yang disertai dengan tanda-tanda ke-mabrur-an setelah berhaji, diantaranya akhlak dan amal perbuatannya menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
Oleh Dr  HM Harry Mulya Zein

sumber : www.republika.co.id