-

Monday, December 05, 2011

Palawa Unpad Targetkan Susuri 8 KM Sungai Bawah Tanah di Laos

Bandung - Sebanyak 14 anggota mahasiswa pencinta alam Palawa Unpad akan melakukan ekspedisi caving dengan tema "Indonesia Gigantic River Cave Expedition" di Gua Tham Khoun Xe, Laos mulai Selasa (29/11/2011) mendatang. Tim ekspedisi tersebut menargetkan akan menyusuri sungai sepanjang 8 kilometer.

Ekspedisi yang akan berakhir hingga Selasa (13/12/2011) ini untuk melihat bagaimana konservasi karst di gua tersebut sebagai bahan pembanding karst di Indonesia yang banyak dieksploitasi.

Mwnurut Ketua Tim Indonesia Gigantic River Cave Expedition Laos Dwi Jaya Andika Siregar, memilih Tham Khoun Xe untuk ekspedisi tim Palawa karena sungai ini memiliki debit air yang masih tinggi yakni bisa mencapai 600 meter kubik. Karenanya tim yang 5 orang di antaranya perempuan ini sudah mempersiapkan ekspedisi secara matang. Mereka juga sudah berlatih di sejumlah karts seperti di karst di Citatah dan Gua Petruk di Gombong, Jawa Tengah.

Mereka juga berlatih malam hari untuk melatih penglihatan mereka saat menelusuri sungai bawah tanah yang panjangnya hingga 8 kilometer ini.

"Lokasinya jauh dari Laos. Tim harus melalui beberapa daerah seperti Ban Thatot, Ban Vieng, dan Ban Non Ping. Dan tim juga harus menempuh perjalanan jalan kaki kurang lebih 6 kilometer untuk sampai ke sana," ujar Dwi kepada detikbandung.

Anggota tim ekspedisi ini terdiri dari mahasiswa Unpad mulai dari angkatan 2005 hingga 2010. Mereka adalah orang-orang terpilih yang lolos seleksi dari 30 orang anggota Palawa untuk berangkat mengikuti ekspedisi ini. Selain ketahanan fisik, anggota tim juga harus memiliki pengalaman menelusuri karst.

"Target kami akan menempuh 8 kilometer sungai ini. Dan kami akan mendokumentasikan semua sebagai bahan komparasi," ucap Dwi.

Total pembiayaan perjalanan mereka ini mencapai Rp 168 juta. Dana tersebut didapat dari Unpad dan beberapa sponsor.
sumber : bandung.detik.com

Belajar Kesederhanaan dari Kiai Rasimin


Oleh Prof Dr KH Ali Mustafa Yaqub MA


Kiai Ahmad Muhammad Rasimin tinggal di Kampung Jaha, empat kilometer selatan Anyer. Beliau memimpin pesantren salaf. Kehidupannya sangat sederhana. Rumahnya tidak lebih indah dari bilik-bilik para santri. Tak terlihat ada kendaraan bermotor di rumahnya, apalagi mobil.

Para santrinya tinggal di gubuk-gubuk bambu. Antara santri laki-laki dan perempuan dipisahkan oleh sebuah sungai kecil. Para santri laki-laki mandi di kolam yang dialiri oleh sungai tadi, sedangkan para santri perempuan mandi di kamar mandi milik masjid kampung.

Beberapa tahun silam, saya diminta berkhotbah di masjid kampung itu. Setelah itu, kami makan siang di rumah Kiai Rasimin. Sebelum berkhotbah, saya diminta untuk berceramah selama 20 menit dengan menggunakan pengeras suara. Kemudian, saat berkhotbah, saya diminta untuk membaca teks khotbah yang hanya berbahasa Arab dan pengeras suara dimatikan. Teks khotbah kami baca kurang lebih lima menit, sesudah itu kami melaksanakan shalat Jumat.

Kiai Rasimin sangat tawadu. Suatu hari, beliau diminta oleh wali kota Cilegon untuk menunaikan ibadah haji karena belum berhaji. Waktu itu, biaya untuk beribadah haji sebesar tujuh juta rupiah. Namun, tawaran itu ditolak dengan alasan beliau belum wajib berhaji karena belum mampu.

Beliau memberikan solusi agar uang untuk berhaji itu digunakan untuk membangun jembatan yang menghubungkan antara kampung bagian timur dan barat. Sehingga, manfaatnya lebih besar dan pahalanya akan terus melimpah karena ekonomi kampung itu menjadi semarak. Sedangkan jika berhaji untuk beliau, pahalanya kecil. Saran itu pun diterima oleh wali kota Cilegon.

Ketika berkunjung ke Kampung Jaha beberapa waktu lalu, jembatan itu sudah lama dibangun. Dan, Kiai Rasimin masih tetap belum berhaji. Kami sungguh sangat mengagumi sikap dan perilaku Kiai Rasimin. Beliau lebih mendahulukan kepentingan umat daripada kepentingannya sendiri. Barangkali perilaku di negeri kita yang seperti Kiai Rasimin ini jarang dijumpai. Kebanyakan oknumoknum kiai di Indonesia justru bersikap sebaliknya, mereka merengekrengek kepada penguasa untuk dapat diberangkatkan ke Makkah.

Beberapa tahun lalu, saat diselenggarakannya Seminar Zakat di Padang, Sekretaris Dewan Fatwa Suriah, Prof Dr Ala al-Din al-Za'tari, menceritakan kehidupan seorang syekh. Suatu hari, syekh ini kedatangan tamu yang bermaksud meminta restu untuk berhaji yang kedua kali. Syekh memberikan saran agar biaya berhaji kedua itu digunakan untuk membantu anak yatim. Sang tamu pun menuruti nasihatnya.

Tahun berikutnya, sang tamu datang lagi, dan syekh memberikan saran agar keinginannya untuk berhaji yang kedua diberikan untuk membantu janda-janda miskin di kampungnya. Ia pun kembali ke kampungnya dan menyerahkan uangnya untuk janda-janda miskin, sebagaimana saran syekh.

Setahun kemudian, sang tamu datang lagi dan menyampaikan keinginan yang sama untuk berhaji. Lagi-lagi, syekh ini memberikan saran agar uangnya diberikan kepada orang fakir yang tak punya rumah di kampungnya. Karena menurut syekh, membantu orang yang membutuhkan (miskin), jauh lebih bermanfaat dibandingkan berhaji berulang-ulang.
Tulisan ini dimuat di Republika cetak dengan judul Kesederhanaan Kiai Rasimin

sumber : www.republika.co.id

Sunday, December 04, 2011

Warga Cigadung tidak Lagi Membuang Sampah ke Sungai


BANDUNG, (PRLM).- Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk melarang warga membuang sampah langsung ke aliran sungai. Namun, cara itu kebanyakan tidak berhasil. Warga tetap saja membuang sampah ke sungai, dan tidak menghiraukan larangan yang ada.
Warga RW 10 Kelurahan Cigadung, Kecamatan Cibeunying Kaler, punya cara ampuh. Mereka menanami lahan tidur yang ada di sepanjang bantaran Sungai Cidurian, dengan tanaman produktif.
"Dengan begitu, jarang sekali ditemukan ada warga yang membuang sampah langsung ke sungai. Kalaupun masih ada, ya tidak terang-terangan lagi seperti dulu, mungkin karena mereka (warga, red.) sudah merasa malu buang sampah di sungai," kata Ketua RW 10 Agus Amin, ketika ditemui di kediamannya, akhir pekan lalu.
Saat ini, RW 10 Kelurahan Cigadung menjadi finalis 20 besar kegiatan Bandung Green and Clean (BGC) 2011. Agus mengatakan, metode yang mereka terapkan di lingkungan sekitar bisa dicontoh oleh wilayah lain, sehingga bisa meningkatkan angka ruang terbuka hijau di Kota Bandung.
Tanaman sayuran produktif yang ditanami warga RW 10, antara lain terong ungu, kangkung, bawang daun, dan seledri. "Di lahan tidur ini kami lakukan pembibitan, sedangkan tanaman yang sudah jadi kami tempatkan ke dalam pot untuk kemudian diletakkan di sepanjang gang yang ada," kata Agus.
Benar saja, ketika memasuki gang lima RT di RW 10 Kelurahan Cigadung, tanaman-tanaman yang berada di dalam pot langsung dapat dengan mudah ditemui. Pot-pot tersebut diletakkan di atas selokan, dengan diwadahi papan-papan.
"Di setiap RT ada sekitar 250 pot tanaman, jadi untuk lima RW ada lebih dari 1.250 pot," ujarnya. Menurut Agus, penghijauan di sepanjang gang itu berawal dari ide urban farming yang dicetuskan warga.
Selain itu, kegiatan ibu-ibu Pemberdayaan & Kesejahteraan Keluarga (PKK) di RW 10 juga menjadi andalan. Kreativitas di bidang memasak, menjahit, melukis, dan aneka kerajinan tangan lain, juga dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai ekonomi suatu barang.
Dalam bidang memasak misalnya, mereka memilih tepung ganyong sebagai bahan dasar untuk membuat cup cakes dan brownies. "Harganya lebih murah, tapi rasanya lebih enak, makanya banyak yang memesan sehingga bisa menambah-nambah penghasilan keluarga," ucap Dian Nurliani.
Dia juga mengatakan, warga seringkali memanfaatkan sisa-sisa kain perca yang didapat dari sentra kaos di sekitar wilayah tersebut, untuk kembali digunakan sebagai tas, tempat tisue, sajadah, sarung bantal, dan lain-lain. "Kami juga memanfaatkan sampah plastik menjadi tas, tempat pensil, dan masih banyak lagi," kata Dian.
Dengan mengikuti program BGC, Dian mengatakan warga bisa mereduksi sampah sekitar 40% untuk didaur ulang dan digunakan kembali. "Sebelum ikut BGC kami tidak memikirkan jalan keluar, berbeda sekali dengan saat ini," ujarnya.( A-175/A-147)***
sumber : www.pikiran-rakyat.com

Panin Bank Berikan Pohon Trembesi Gratis


SOREANG, (PRLM).- Panin Bank akan menyediakan pohon trembesi bagi masyarakat yang ingin menanam pohon. Hal tersebut dalam rangka bakti kepedulian perusahaan terhadap pelestarian lingkungan. Hal itu dikatakan oleh Pimpinan Kantor Cabang Pembantu Bank Panin Garut, Kamarul Akbar saat ditemui usai penanaman 11.000 pohon yang digelar oleh Kodam III/Siliwangi di Lingkar Nagreg, Kab. Bandung, Senin (28/11).
"Kami telah siapkan bibit pohon trembesi untuk masyarakat secara gratis. Bagi yang membutuhkan, masyarakat bisa mendatangi kantor-kantor cabang Bank Panin dan mengisi formulir. Setelahnya, bibit pohon trembesi bisa didapat secara gratis," ujarnya.
Dia juga mengatakan, bibit pohon ini akan disebar dalam waktu lama. Selama bibit pohon itu masih ada, pihaknya akan memberikan bibit itu secara gratis."Jangka waktunya lama. Kami menyiapkannya banyak sekali. Jika belum habis, ya akan terus kami tunggu," ucapnya menambahkan.
Maka dari itu, dengan membagikan pohon trembesi ini, lanjut dia, masyarakat akan dengan sendirinya menciptakan ruang publik terbuka. "Kami optimis, pembagian bibit pohon trembesi ini akan menciptakan ruang terbuka hijau. Dengan begitu, kelestarian alam akan selaras," ujarnya berharap. (A-194/A-88)***
sumber : www.pikiran-rakyat.com

Amal Orang Kafir Laksana Fatamorgana


Oleh: Rizki Kuncoro Hadi

"Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya." (QS An-Nur: 39)

Dalam ayat ke-39 surat An-Nur ini, Allah menyatakan bahwa amal-amal baik orang kafir itu laksana fatamorgana di tanah datar yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.

Sering dalam kehidupan sehari-hari kita mendapati orang-orang non muslim yang berlaku baik, seperti ia sangat menghargai waktu, memiliki etos kerja tinggi, memiliki sifat dermawan kepada sesama, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Namun, sekali lagi melalui ayat ini seolah Allah ingin mempertegas bahwa apa yang mereka (orang kafir) lakukan itu tidak bernilai di sisi Allah. Mengapa? Karena orang kafir beramal tidak didasarkan atas iman.

Ada sebuah analogi sederhana untuk membuktikan betapa sia-sianya amal tanpa dilandasi keimanan. Jika ada seseorang bekerja untuk perusahaan A, lantas ia menginginkan gaji dari perusahaan B. Apakah perusahaan B akan memberikan gaji kepada seseorang yang tidak bekerja untuk perusahaannya? Seseorang tersebut ibarat orang kafir, ia beramal untuk Tuhan selain Allah, apakah mungkin Allah memberikan Surga-Nya untuk orang kafir?

Lantas kita pun berpikir tentang dosa orang kafir. Apakah orang kafir yang tidak sholat itu dosa? Jelas tidak, karena kekafirannya. Dosa bagi orang kafir adalah karena kesyirikannya, ia menyekutukan Allah dengan tuhan yang lain. Dan, dosa syirik adalah sebesar-besarnya dosa. Hanya dengan rahmat Allah-lah dosa syirik seorang kafir diampuni ketika ia bertaubat.

Namun kita yang seorang muslim pun harus berhati-hati dengan amal kita, karena tidak tertutup kemungkinan amal-amal kita pun laksana fatamorgana yang tak memiliki nilai di sisi Allah manakala kita beramal tetapi tidak didasari iman kepada Allah. Mari kita merefleksikan diri kita, apakah amal-amal kita telah didasarkan atas keimanan?

1. Beramal dengan ilmu
Amal baik adalah segala sikap, tindakan, ucapan yang memiliki dasar “ilmu”. Amal yang dilandasi dengan ilmu memiliki ciri, (a) al-ashwab yakni benar yang berarti tidak menyalahi segala yang sudah ditetapkan oleh Allah, (b) al-akhlash yakni memilih amal kebaikan yang paling tidak disukai nafsu.

2. Hati yang menerima
Seseorang yang beramal didasarkan atas iman maka hatinya pun menerima setiap amal-amal yang ia lakukan.

3. Dilakukan karena yakin
Yakin akan kebenarannya dan yakin akan ketulusannya.

4. Diserta hati khudu’ (merasa rendah dan hina)
Maka tak boleh bagi seorang beriman yang ketika berdoa berkata, “Ya Allah ampunilah hamba jika Engkau ingin”

5. Ditunaikan karena cinta dan rindu kepada Allah
Amal seorang muslim merupakan manifestasi kecintaan dan kerinduan seorang hamba kepada Sang Khaliq.

6. Dirancang sebagai investasi untuk mendapatkan husnul khotimah
Seorang mukmin yang beramal dengan didasari iman, ia berharap agar mati dalam keadaan husnul khotimah, yang sulit dicapai jika tidak dirancang dengan amal-amal shaleh yang dilakukan dengan istiqomah.
Penulis adalah Aktivis Dakwah Kampus UGM Yogyakarta


sumber : www.republika.co.id

Saturday, December 03, 2011

Lanud Sulaiman Hijaukan Bantaran Sungai Citarum


SOREANG, (PRLM).- Bantaran Sungai Citarum sepanjang 4,5 km yang mengelilingi tanah Lanud Sulaiman mulai dihijaukan. Hanya, penghijauan terkendala dengan banyaknya semak belukar sehingga harus dibersihkan terlebih dulu.
"Sudah ditanam 500 pohon di bantaran Sungai Citarum tepatnya di belakang Blok F," kata Komandan Lanud Sulaiman, Kol. Pnb Elianto Susetio, saat menanam pohon pengjijauan di elakang kantor FASI Jabar komplek Lanud Sulaiman, Senin (28/11).
Menurut Elianto, untuk penghijauan bantaran Sungai Citarum menbutuhkan sekitar 10.000 pohon sumbangan dari Perum Perhutani. "Kamui baru menanam 500 pohon setelah membersihkan bantaran sungai dari semak-semak. Kesulitan penghijauan di bantaran karena semaknya tinggi dan banyaknya kebun masyarakat yang ditanami jagung dan ketela pohon sehingga kalau pohon penghijauan serng mati karena bisa saja tanpa sengaja kena cangkul," katanya.
Setelah menghijaukan blok F, kata Elianto, akan segera digarap bantaran sungai di Blok C dan bekas lapangan tembak. (A-71/A-147)***
sumber : www.pikiran-rakyat.com

Jembatan Pasupati Aman Dilalui

Dua jembatan layang yang melintas di wilayah Kota Bandung, yaitu jembatan Pasupati (Pasteur-Surapati) dan Kiaracondong dinyatakan aman untuk dilalui. Karena itu, masyarakat diminta tidak perlu khawatir saat melintas di dua jembatan layang tersebut.

"Jembatan layang Pasupati dan Kiaracondong secara visual dinyatakan aman," kata Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bandung-Cileunyi-Jatinangor, Indra Maha saat dihubungi "GM", Senin (28/11) malam. Pernyataan Indra tersebut untuk menghilangkan rasa waswas masyarakat, menyusul ambruknya jembatan Kutai Kartanegara (Kukar) di Kalimantan Timur, akhir pekan kemarin.

Menurut Indra, pemeriksaan terhadap jembatan yang berada di Kota Bandung, khususnya jembatan Pasupati dilakukan secara rutin. "Pemeriksaan kita lakukan setiap hari, tidak hanya setelah ambruknya jembatan Kukar. Setiap hari anggota kita melakukan pemeriksaan mulai dari corat-coret, dan sekecil apa pun anggota lapangan pun melaporkannya kepada kita," ujarnya.

Ia mengakui, dari pemeriksaan yang dilakukan setiap hari oleh petugas, tidak ditemukan hal-hal yang mencurigakan yang mengarah pada terjadinya musibah seperti pada kasus jembatan Kukar.

"Sepanjang pemeriksaan kita belum menemukan sesuatu yang dapat mengakibatkan kerusakkan di jembatan tersebut. Untuk jembatan Pasupati, saya kira tidak akan terjadi seperti di jembatan Kukar," ujarnya.

Namun untuk memastikan keamanan struktur bangunan Pasupasti, kata Indra, pihaknya terus memantau dan memeriksa jembatan tersebut.

Ia menyebutkan, selain Pasupati, jembatan besar lain yang secara visual telah diperiksa dan dinilai masih aman yaitu jembatan layang Kiaracondong.

"Secara struktur jembatan yang ada di Bandung kondisinya masih baik. Masyarakat tidak perlu khawatir. Hanya saja, kendaraan juga harus memperhatikan tonase saat melintas di atas jembatan. Jangan melewati batas," pintanya. (B.115)** sumber : (GALAMEDIA)

Amal Orang Kafir Laksana Fatamorgana


Oleh: Rizki Kuncoro Hadi

"Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya." (QS An-Nur: 39)

Dalam ayat ke-39 surat An-Nur ini, Allah menyatakan bahwa amal-amal baik orang kafir itu laksana fatamorgana di tanah datar yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.

Sering dalam kehidupan sehari-hari kita mendapati orang-orang non muslim yang berlaku baik, seperti ia sangat menghargai waktu, memiliki etos kerja tinggi, memiliki sifat dermawan kepada sesama, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Namun, sekali lagi melalui ayat ini seolah Allah ingin mempertegas bahwa apa yang mereka (orang kafir) lakukan itu tidak bernilai di sisi Allah. Mengapa? Karena orang kafir beramal tidak didasarkan atas iman.

Ada sebuah analogi sederhana untuk membuktikan betapa sia-sianya amal tanpa dilandasi keimanan. Jika ada seseorang bekerja untuk perusahaan A, lantas ia menginginkan gaji dari perusahaan B. Apakah perusahaan B akan memberikan gaji kepada seseorang yang tidak bekerja untuk perusahaannya? Seseorang tersebut ibarat orang kafir, ia beramal untuk Tuhan selain Allah, apakah mungkin Allah memberikan Surga-Nya untuk orang kafir?

Lantas kita pun berpikir tentang dosa orang kafir. Apakah orang kafir yang tidak sholat itu dosa? Jelas tidak, karena kekafirannya. Dosa bagi orang kafir adalah karena kesyirikannya, ia menyekutukan Allah dengan tuhan yang lain. Dan, dosa syirik adalah sebesar-besarnya dosa. Hanya dengan rahmat Allah-lah dosa syirik seorang kafir diampuni ketika ia bertaubat.

Namun kita yang seorang muslim pun harus berhati-hati dengan amal kita, karena tidak tertutup kemungkinan amal-amal kita pun laksana fatamorgana yang tak memiliki nilai di sisi Allah manakala kita beramal tetapi tidak didasari iman kepada Allah. Mari kita merefleksikan diri kita, apakah amal-amal kita telah didasarkan atas keimanan?

1. Beramal dengan ilmu
Amal baik adalah segala sikap, tindakan, ucapan yang memiliki dasar “ilmu”. Amal yang dilandasi dengan ilmu memiliki ciri, (a) al-ashwab yakni benar yang berarti tidak menyalahi segala yang sudah ditetapkan oleh Allah, (b) al-akhlash yakni memilih amal kebaikan yang paling tidak disukai nafsu.

2. Hati yang menerima
Seseorang yang beramal didasarkan atas iman maka hatinya pun menerima setiap amal-amal yang ia lakukan.

3. Dilakukan karena yakin
Yakin akan kebenarannya dan yakin akan ketulusannya.

4. Diserta hati khudu’ (merasa rendah dan hina)
Maka tak boleh bagi seorang beriman yang ketika berdoa berkata, “Ya Allah ampunilah hamba jika Engkau ingin”

5. Ditunaikan karena cinta dan rindu kepada Allah
Amal seorang muslim merupakan manifestasi kecintaan dan kerinduan seorang hamba kepada Sang Khaliq.

6. Dirancang sebagai investasi untuk mendapatkan husnul khotimah
Seorang mukmin yang beramal dengan didasari iman, ia berharap agar mati dalam keadaan husnul khotimah, yang sulit dicapai jika tidak dirancang dengan amal-amal shaleh yang dilakukan dengan istiqomah.
Penulis adalah Aktivis Dakwah Kampus UGM Yogyakarta

sumber : www.republika.co.id

Friday, December 02, 2011

Puluhan Petani Ikuti Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik


SOREANG, (PRLM).- Sebanyak 50 petani dan pengurus koperasi mitra kerja BUMN Hijau Lestari I mengikuti pelatihan pembuatan pupuk organik di Sanggar Kerja Fakuktas pertanian Unpad di Arjasari. "Pelatihan bertujuan memberdayakan para petani dan koperasi agar memanfaatkan sumber daya alam seperti kotoran ternak dan sampah organik menjadi pupuk," kata Direktur Agroforestry BUMN Hijau Lestari I, Ir. H. Dedi Setiadi, didampingi ketua panitia, Daud Yusuf.
Pemateri dari Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Jabar. "Kita ingin menyadarkan masyarakat khususnya para petani agar beralih kepada pupk organik. Pupuk kimiawi merusak kesuburan tanah kalau dipakai terus-menerusn," katanya.
Apalagi Kab. Bandung merupakan sentra sapi perah yang jumlahnya ratusan ribu ekor. "Tiap ekor sapi rata-rata mengeluarkan kotoran sampai 11 kg sehari yang selama ini hanya dibuang begitu saja ke aliran sungai maupun pekarangan," katanya.(A-71/A-147)***
sumber : www.pikiran-rakyat.com

Racikan Tradisional The Jammu Spa Bikin Badan Segar


Bandung - Jamu yang kita kenal adalah minuman tradisional yang diracik dari rempah-rempah Indonesia yang berkhasiat untuk menyehatkan badan. Kini jamu pun bisa menjadi produk spa yang khasiatnya tak kalah dengan produk spa lainnya.


The Jammu adalah produk spa yang bisa dijumpai di Le'Mongrass Spa, Jalan Sawunggaling No 4 Bandung. Selama 1,5 jam pengunjung bisa merasakan tubuh yang dikompres oleh jamu yang sudah disteam. Setelah itu, badan dipijit, dipiling dan dimasker dengan menggunakan madu.

"Jamunya terdiri dari sereh, kayu manis, rempah-rempah, jahe, dan akar wangi," ujar Manager Le'Mongrass Spa Rabindra Nathan kepada detikbandung.

Ritual pengompresan badan dengan jamu itu dilakukan selama 60 menit. ramuan jamu dibalur sambil ditekan-tekan agar mersap ke dalam tubuh.

"The Jammu ini cocok untuk masuk angin. Karena terdiri dari rempah-rempah," kata Indra.

Selain The Jammu, Le'Mongrass juga mempunyai paket lengkap untuk wanita, yakni Exotic Women. Paket tersebut terdiri dari pijat, ratus v, totok v, lulur, totok wajah sekalian piling masker.

"Paket ini difokuskan untuk perawatan kewanitaan. Untuk menghilangkan keputihan, mengencangkan area kewanitaan, dan melancarkan peredaran darah," kata Indra.

Selain itu, ada juga paket body Ayurvenda, Dewata Boreh, dan lainnya.

(avi/ern)
sumber : bandung.detik.com

Hak-Hak Anak Yatim


Oleh Prof Dr KH Achmad Satori Ismail

Ka'ab bin Malik RA berkata, "Masalah pertama yang menyebabkan Abu Lubabah tercela adalah karena dia dan anak yatim berselisih tentang dahan banyak tangkai (yang disenanginya)." Keduanya mengadu kepada Rasulullah SAW dan beliau memenangkan Abu Lubabah. Anak yatim tersebut menangis. Lalu Rasul bersabda, "Wahai Abu Lubabah, berikanlah dahan itu untuknya." Abu Lubabah keberatan. Rasulullah SAW mengulangi permintaan beliau, "Berikanlah dahan itu kepadanya dan kamu akan mendapatkan surga."

Tapi, Abu Lubabah tetap menolak. Tidak lama kemudian datanglah Abu Dahdah menghampiri Abu Lubabah seraya berkata, "Juallah dahan itu dengan dua kotak kebunku." Abu Lubabah menerimanya.

Lalu, Abu Dahdah membawa dahan itu kepada Rasulullah SAW. Ia berkata, "Wahai Rasul, jika aku berikan dahan ini kepada anak yatim itu, apakah aku akan mendapatkan semisal dahan ini di surga." Nabi SAW mengiyakannya. Maka, dahan itu diberikan kepada anak yatim itu, dan Rasul bersabda, "Betapa banyak dahan wangi yang dimiliki Abu Dahdah di surga kelak." ( HR Ahmad, Thabrani, dan Ibnu Hibban).

Hadis ini menggambarkan betapa besarnya perhatian Rasulullah terhadap anak yatim. Kalau kita telusuri ajaran Islam, kita dapatkan aneka cara dalam memperlakukan hak anak yatim.
Pertama, berbuat baik kepada anak yatim merupakan akhlak Islam yang agung bahkan dijadikan sebagai amalan paling utama dan paling suci. (QS al-Baqarah [2]: 177). Sebelum Islam datang, anak yatim tak mendapatkan perhatian apalagi santunan yang layak. Lalu, Islam memuliakannya dan melarang untuk mengeksploitasinya. (QS al-An'am: 152-153, al-Isra: 34).

Memakan harta anak yatim merupakan salah satu dosa besar dan penyebab masuk neraka. Rasul SAW bersabda, "Jauhilah tujuh dosa besar, yakni menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh zina wanita mukmin yang lalai." (HR Bukhari dan Muslim).

Kedua, Alquran melarang penghinaan dan menyakiti anak yatim. (QS al-Fajr: 15-23, adh-Dhuha; 9, al-Ma'un: 1-3). Dan ketiga, Alquran memerintahkan supaya kita memuliakan anak yatim dan balasannya adalah surga. (QS al-Insan: 8-22).

Keempat, Nabi telah menegaskan bahwa anak yatim dan wanita lemah adalah golongan yang harus diperhatikan dan dipelihara. Abu Syureih al-Khuza'i meriwayatkan bahwa ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Ya Allah, aku merasa berat dengan hak dua kelompok lemah ini, yaitu hak anak yatim dan hak perempuan." ( HR an-Nasai).

Kelima, Islam menegaskan bahwa penyantun dan penjamin anak yatim akan menjadi teman dekat Rasulullah di surga. "Aku dan penjamin anak yatim berada dalam surga seperti telunjuk dan jari tengah. Rasul mengisyaratkan dengan dua jari tengah dan menjarangkan jari-jari lainnya. ( HR Bukhari dan Ahmad).

Keenam, rumah terbaik adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang dimuliakan, dan sejelek-jelek rumah adalah rumah yang ada anak yatim, namun dihinakan. Dari sini, kita wajib menyantuni anak yatim dan memperhatikan hak-hak mereka bukan saja aspek material tapi juga aspek pendidikan, ekonomi, sosial, dan spiritual.

sumber : www.republika.co.id

Thursday, December 01, 2011

Srikandi Pasundan Meriahkan Hari HIV/AIDS di Bio Farma

Bandung - Peringatan Hari HIV/AIDS se-dunia tingkat Kota Bandung dipusatkan di Bio Farma, Jalan Djunjunan, Kamis (1/11/2011). Ada yang menarik dari acara ini, pertunjukkan dari Srikandi Pasundan yang menampilkan tarian bercampur parodi menghebohkan hadirin yang mengikuti acara ini.

Srikandi Pasundan ini terdiri dari 6 orang waria. Mereka menampilkan tari jaipongan hingga modern dance dengan durasi sekitar 10 menit.

Sebelumnya para hadirin belum mengetahui jika Srikandi Pasundan adalah para waria. Karena pada awal tampil mereka datang dengan menutup wajah dengan payung sebagai properti tari. Namun setelah payung dibuka beberapa saat tarian dimulai, penonton pun langsung heboh.

Penonton bersorak dan tersenyum geli melihat aksi apik dari para waria itu. Bahkan para pejabat yang duduk di barisan depan pun tak ketinggalan tersenyum. Duduk di barisan depan, di antaranya Walikota Bandung, Wakil Walikota, Ketua DPRD, Inspektorat Kota Bandung, Kepala Dinas Kesehatan dan sejumlah kepala dinas lainnya.

Mengenakan kebaya kemben dan bolero putih serta selendang hijau,aksi yang disajikan Srikandi Pasundan itu disertai parodi. Misalnya saat mereka melakukan gerakan kayang, ada seorang penari yang terjengkang dan membuat penonton tergelak.

Atau pada saat penari meloncat dari panggung dan melakukan salto. Para pejabat pun terlihat tertawa geli melihat aksi itu.

Para penonton yang sebelumnya duduk pun berdiri untuk melihat penampilan lebih jelas. Mereka pun sempat berganti kostum dengan dress mini berwarna hijau lalu menari dengan lagu milik Beyonce.

Aksi Srikandi Pasundan ini mendapatkan sambutan meriah dari penonton. Sebelumnya paduan suara Swara Kania pun menyumbangkan 2 lagu yang apik.

Sebelum pidatonya, Dada pun mengomentari pertunjukkan dari Srikandi Pasundan.

"Penampilan yang mengesankan tapi juga menakutkan. Takut pas loncat kena piring. Tadi sama pak Erwan (Ketua DPRD-red) ngomong, kirain yang loncat tadi pemain Persib Bekamenga," ujar Dada sambil tersenyum.

Dalam acara ini, Walikota Bandung dan perwakilan pengusaha di Kota Bandung mendeklarasikan pernyataan sikap untuk Program Pencegahan dan Penularan HIV/AIDS. Sesuai dengan tema yang diangkat dalam peringatan hari ini yaitu Lindungi Pekerja dan Dunia Usaha dari HIV/AIDS.


(tya/ern)


sumber : bandung.detik.com

Cukup Allah sebagai Pelindung: Kisah Hamka di Penjara Sukabumi


Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas
Setelah Pemilihan Umum Pertama (1955), Hamka terpilih menjadi anggota Dewan Konstituante dari Masyumi mewakili Jawa Tengah. Setelah Konstituante dan Masyumi dibubarkan, Hamka memusatkan kegiatannya pada dakwah Islamiah dan memimpin jamaah Masjid Agung Al-Azhar, di samping tetap aktif di Muhammadiyah. Dari ceramah-ceramah di Masjid Agung itu lah lahir sebagian dari karya monumental Hamka, Tafsir Al-Azhar.

Zaman demokrasi terpimpin, Hamka pernah ditahan dengan tuduhan melanggar Penpres Anti-Subversif. Dia berada di tahanan Orde Lama itu selama dua tahun (1964-1966). Dalam tahanan itulah Hamka menyelesaikan penulisan Tafsir Al-Azhar.

Waktu menulis Tafsir Al-Azhar, Hamka memasukkan beberapa pengalamannya saat berada di tahanan. Salah satunya berhubungan de ngan ayat 36 Surah az-Zumar, “Bukan kah Allah cukup sebagai Pelindung hamba-Nya...”. Pangkal ayat ini menjadi perisai bagi hamba Allah yang beriman dan Allah jadi pelindung sejati.

Sehubungan dengan maksud ayat di atas, Hamka menceritakan pengalaman beliau dalam tahanan di Sukabumi, akhir Maret 1964. Berikut kutipan lengkapnya. “Inspektur polisi yang memeriksa sambil memaksa agar saya mengakui suatu kesalahan yang difitnahkan ke atas diri, padahal saya tidak pernah berbuatnya. Inspektur itu masuk kembali ke dalam bilik tahanan saya membawa sebuah bungkusan, yang saya pandang sepintas lalu saya menyangka bahwa itu adalah sebuah tape recorder buat menyadap pengakuan saya.”

“Dia masuk dengan muka garang sebagai kebiasaan selama ini. Dan, saya menunggu dengan penuh tawakal kepada Tuhan dan memohon kekuatan kepada-Nya semata-mata. Setelah mata yang garang itu melihat saya dan saya sambut dengan sikap tenang pula, tiba-tiba kegarangan itu mulai menurun.”

“Setelah menanyakan apakah saya sudah makan malam, apakah saya sudah sembahyang, dan pertanyaan lain tentang penyelenggaraan makan minum saya, tiba-tiba dilihatnya arlojinya dan dia berkata, Biar besok saja dilanjutkan pertanyaan. Saudara istirahatlah dahulu malam ini, ujarnya dan dia pun keluar membawa bungkusan itu kembali.

Setelah dia agak jauh, masuklah polisi muda (agen polisi) yang ditugaskan menjaga saya, yang usianya baru kira-kira 25 tahun. Dia melihat terlebih dahulu kiri kanan. Setelah jelas tidak ada orang yang melihat, dia bersalam dengan saya sambil menangis, diciumnya tangan saya, lalu dia berkata, Alhamdulillah bapak selamat! Alhamdulillah! Mengapa, tanya saya. Bungkusan yang dibawa oleh Inspektur M itu adalah setrum. Kalau dikontakkan ke badan bapak, bapak bisa pingsan dan kalau sampai maksimum bisa mati.

Demikian jawaban polisi muda yang ditugaskan menjaga saya itu dengan berlinang air mata. Bapak sangka tape recorder, jawabku sedikit tersirap, tetapi saya bertambah ingat kepada Tuhan. Moga-moga Allah memelihara diri Bapak. Ah! Bapak orang baik, kata anak itu.

Dalam menghadapi paksaan, hinaan, dan hardikan di dalam tahanan, Hamka selalu berserah diri kepada Allah SWT. Termasuk ketika Inspektur M datang membawa bungkusan malam itu, Hamka tetap dengan pendirian. Bukankah Allah cukup sebagai pelindung hamba-Nya.

sumber : www.republika.co.id

Religiositas Sunda dalam Guguritan

Oleh: ASEP SALAHUDIN
TENTU tidak sama antara agama dan iman. Yang pertama adalah institusi, yang kedua adalah substansi. Yang pertama wadah, yang kedua isi. Dari keimanan sebenarnya toleransi harus dimunculkan, dialog mesti dipijakkan. Kita sebut saja dialog antar iman. Dialog seperti ini yang akan memunculkan keterbukaan, kejujuran, dan sikap empatik kepada sesama.

Dari sini sebenarnya kita layak menambatkan lahirnya fajar keadaban hidup yang dimulai dengan bangunan solidaritas kemanusiaan tanpa digaduhi oleh afiliasi keyakinan apalagi dikarenakan perbedaan sekadar pilihan politik dan ketidaksamaan budaya dan etnik.

Tentu saja dialog seperti ini bukan untuk saling menukar kepercayaan sehingga terciptakan kondisi iman yang labil tapi justru sebagai ikhtiar memperkaya sudut pandang dan memperluas wilayah pengalaman keberagamaan seseorang.

Semakin iman terbuka, semakin besar peluang hidup yang berkualitas. Sebaliknya kian iman tertutup, yang muncul ke permukaan adalah serangkaian kekerasan dan konflik. Tragisnya lagi kekerasan itu diperagakan banyak yang berjubahkan iman, di samping absennya keadilan dan politik yang tidak kunjung memberikan kesejahteraan kecuali bagi para politisi dan kelompoknya. Di sinilah kita mendapati pemandangan logika terbalik: jika kekerasan semakin diperagakan maka seolah grafik keimanan kian meningkat. Iman itu seakan bakal mengalami defisit apabila tidak pernah dibenturkan dengan iman orang lain yang sejak awal sudah divonisnya sebagai menyimpang.

Sejarah umat manusia acapakali dipenuhi drama peperangan dengan mengatasnamakan iman atau lebih mengatasnamakan agama yang telah ditafsirkan secara harfiah dan dicerabut dari konteks sejarahnya. Karen Amstrong dengan jernih telah menelaah persoalan ini dalam tiga buku pentingnya,"Holy War: The Crussade and Their Impact on Today's World" (1988), "A History of God: The 4000Year Quest of Judaism, Christianity and Islam" (1993), dan "The Battle for God: A History of Fundamentalism" (2000).

Konteks kesundaan

Dalam konteks kesundaan religiositas iman yang terbuka ini sesungguhnya telah ditafsirkan oleh sufi dan filosuf terbesar Sunda, Haji Hasan Mustapa (HHM). Tentu pesan tersembunyi penafsiran yang dikemas dalam bentuk guguritan dan dangding ini dilakukan sebagai satu upaya agar bagaimana religiositas manusia Sunda dapat berdialog dengan "orang lain". Sunda menjadi tenda kultural yang terbuka tanpa harus kehilangan identitas budayanya. Sunda (dan manusianya) menjadi simpul dari kebudayaan yang tidak kurung batokeun. Sunda yang bisa makalangan dalam buana yang luas, ngigelan zaman dan ngigelkeun zaman.

Religiositas Sunda yang terbuka dengan sangat demonstratif dipertontonkan haji Hasan Mustapa tidak hanya dalam sejumlah guguritan-nya namun juga dengan kesediaan dirinya untuk menjadi penghulu di Aceh bahkan melakukan pertemanan tahun 1889 dengan Snouck Hurgronye seperti didokumentasikannya dalam "Aantekeningen over Islam en Volklore in West en Midden Java."

Sisi pemahaman

Iman yang melampaui institusi agama tampak dari paradigma pemikirannya yang tidak berhenti sebatas legal formal yang serba skriptural, tapi menyelami aspek terdalam dari pesan-pesan keagamaan yang diimaninya. Menerima otoritas lembaga kekiyaian bahkan kebenaran yang dianut oleh kebanyakan kaum agamawan disangsikan: Kiaina deui kitu/Tepi ka meletik budi/Hidayat ka pangeranan/ Heran ku basa kiai/Naha bet nyembah nyabeulah/Kumaha jadina hiji/.

Tentu saja jika institusi agama dan kyai disangsikan, maka dengan sadar resikonya dia melakukan ziarah nalar yang total: mencari kebenaran. Puguh mun humarurung//Ngadangding ku humariring//Gugunungan dadaratan//Bumi deui bumi deui//Wawalungan lalautan/ /Cai deui cai deui./

Inilah iman yang murni: Iman yang dimatangkan dengan pencarian atas kebenaran yang tidak mengenal tapal batas (tidak pernah reureuh). Untuk kemudian kebenaran yang dicarinya itu dimatangkan dengan cara didialogkan dengan orang lain dengan sikap terbuka dan rendah hati. Kebenaran tidak dicari melalui metode tapi lewat dialektika.

Religiositas yang melampaui ini menjadi amat menarik dan penting untuk didiskusikan justru ketika religiositas manusia Sunda sekarang menampakan gejala yang aneh: iman yang tertutup. Inilah yang menjadi awal munculnya sikap intoleran terhadap keragaman, antipati terhadap perbedaan penafsiran, dan perbedaan keyakinan.

Seperti hasil penelitian dari Lazuardi Biru (LB) bahwa Jawa Barat menjadi wilayah kedua setelah Daerah Istimewa Aceh (DIA) yang menjadi rawan tindakan radikalisme. Aceh menempati posisi tertinggi 56,8, disusul Jawa Barat dan Banten yang memiliki indeks kerentanan yang sama sebesar 46,6. Sementara secara nasional, indeks kerentanan radikalisme di Indonesia pada 2011 adalah 43,6, jauh di bawah tingkat aman yaitu pada level 33,3. Satu tahun yang lalu Moderate Muslim Society (MMS) juga melansir bahwa Jawa Barat berada di rengking tertinggi dalam urutan wilayah intoleransi di Indonesia. Kekerasan di Bekasi, Bogor, Garut dan Kuningan dijadikan sampel.

Bukti lain bahwa jumlah pelaku bom bunuh diri juga paling banyak dilakukan warga Jawa Barat. Tercatat, Heri kurniawan, Asep Hidayat, M. Salik Firdaus, Dani Dwi Permana, Nana Ikhwan Maulana, dan M. Syarief serta Arnasan berasal dari Banten yang pada waktu kejadian masih merupakan bagian dari Jawa Barat. Sementara yang terakhir adalah Vino Damayanto alias Ahmad Urip alias Ahmad Yosepa Hayat yang merupakan pelaku bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh Kepunton, Surakarta, Minggu, 25 September 2011 (Galamedia, 18/10/ 2011).

Kalau ini terus terjadi, sesungguhnya cakrawala keberimanan kita tidak lebih baik dari leluhur kita. Bukankah pada zaman keemasan Sunda masa Prabu Siliwangi rakyat mendapatkan kebebasan penuh memeluk agama yang diyakininya bahkan ketika agama baru datang (Islam) tidak ada larangan dari Prabu Siliwangi bagi rakyatnya untuk memeluk agama baru tersebut. Nyi Subanglarang adalah salah satu istrinya yang memeluk Islam. Agama dalam ijtihad Siliwangi menjadi "modal sosial" untuk silih wangikeun satu dengan yang lainnya. (Penulis, Wakil Rektor IAILM Pesantren Suryalaya Tasik, kandidat doktor Unpad Bandung)**
Galamedia Sabtu, 26 November 2011