-

Monday, May 13, 2013

Memperebutkan Jabatan dan Kedudukan

Dalam sebuah berita di media massa, saat ini banyak anak pejabat dan kepala daerah yang berlomba-lomba menjadi calon anggota legislatif.

Jabatan publik seperti anggota legislatif sepertinya menjadi jabatan turun temurun di negeri ini yang diperebutkan. Dari sisi peraturan perundang-undangan sebenarnya sah-sah saja. Namun secara etika, sungguh tidak pantas jabatan publik dilakukan secara turun temurun.


Dalam koridor Islam, jabatan merupakan sebuah amanah yang harus dijaga dan diminta pertanggungjawabannya kelak.

Jabatan merupakan amanah  dan pengabdian bukan untuk mencari ketenaran serta menumpuk kekayaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihati Abdurrahman bin Samurah:

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).”

Dalam sebuah hadis Rasulullah yang diriwayatkan Abu Dzar Al-Ghifari. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku sebagai pemimpin?”

Mendengar permintaanku tersebut beliau menepuk pundakku seraya bersabda: “Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut. ” (Shahih, HR. Muslim)

Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Abu Dzar, aku memandangmu seorang yang lemah, dan aku menyukai untukmu apa yang kusukai untuk diriku. Janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang dan jangan sekali-kali engkau menguasai pengurusan harta anak yatim. ” (Shahih, HR. Muslim).

Memang, pada dasarnya, setiap manusia menginginkan menjadi pemimpin yang memiliki sebuah jabatan penting. Terlebih saat ini jabatan publik seperti anggota legislatif dijadikan lambaian rupiah (uang dan harta) dan kesenangan dunia lainnya.

Sungguh benar sabda Rasulullah ketika beliau menyampaikan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah: “Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari).

Bagaimana tidak, dengan menjadi seorang pemimpin, memudahkannya untuk memenuhi tuntutan hawa nafsunya berupa kepopuleran, penghormatan dari orang lain, kedudukan atau status sosial yang tinggi di mata manusia, menyombongkan diri di hadapan mereka, memerintah dan menguasai kekayaan, kemewahan serta kemegahan.

Wajar bila kemudian untuk mewujudkan ambisinya ini, banyak elit politik atau ‘calon pemimpin’ dibidang lainnya, tidak segan-segan melakukan politik uang dengan membeli suara masyarakat pemilih atau mayoritas anggota dewan. Atau ‘sekedar’ uang tutup mulut untuk meminimalisir komentar miring saat berlangsungnya kampanye, dan sebagainya.

Berkata Al-Muhallab sebagaimana dinukilkan dalam Fathul Bari (13/135): “Ambisi untuk memperoleh jabatan kepemimpinan merupakan faktor yang mendorong manusia untuk saling membunuh. Hingga tertumpahlah darah, dirampasnya harta, dihalalkannya kemaluan-kemaluan wanita (yang mana itu semuanya sebenarnya diharamkan oleh Allah) dan karenanya terjadi kerusakan yang besar di permukaan bumi.”

Semoga saja itu tidak terjadi di Indonesia, negeri tercinta.
, Oleh Dr HM Harry  Mulya Zein

sumber : www.republika.co.id

Sunday, May 12, 2013

Uje, Kembalilah dengan Senyummu

Jelang ajal menjemput, engkau pun masih tak segan meminta maaf, lewat pesan berantai di perangkat ponsel pintarmu. Engkau sadar betul, jika permintaan maaf, ada atau tidak ada salah itu teramat sakral. Kutipan itu tersurat tegas dalam  risalah ringkasmu: "Sekali lagi maaf lahir batin. Pasti banyak salahnya." Sekalipun, kalimat itu, kini, terbukti bagi kebanyakan orang menjadi firasat kepergianmu. Tanpa harus engkau menyadarinya. " Mulai hari ini saya nggak lagi pake nomor HP dan bbm ini,"tulismu di pesan pendekmu.

Uje, iktikad maaf yang engkau gulirkan tak sekadar basa-basi. Di hadapan Ka'bah, beberapa tahun yang lalu, engkau bersimpuh dan memohon ampun, atas segala kesalahanmu. Saat narkoba dan dunia keartisan lewat profesi penari bahkan artis di sinetron monumentalmu "Sayap Patah", membuat khawatir kedua orangtuamu, Ustaz H Ismail Modal dan Ustazah Tatu Mulyana, air mata pertobatanmu di Tanah Haram Makkah, mengantarkanmu kembali ke jalan Allah SWT.
Detik itu, ketika sendi-sendimu bergetar dan hatimu terketuk, penyesalanmu telah menjasad dan berbekas. Engkau tahu betul, bahwa Tuhanmu Mahapengampun, ghafur. Sentuhaorin-Nya, membawa kembali ke jati dirimu yang dulu. Pribadi yang dikenal taat dan aktif di pengajian atau di rahis, dan tentunya menghadirkan lagi sosok Uje yang gemar melantunkan Alquran dengan tilawah merdumu, lewat pita suara yang sama, kala engkau menjuarai MTQ tingkat provinsi sewaktu engkau duduk di bangku sekolah dasar.

Uje, sebagian orang memang mengritik bacaan Alquranmu yang terkadang salah, tapi begitulah dakwah. Tak selalu mudah. Jika engkau menyerah di depan kritik positif tersebut, denyut dakwah bisa melemah.  Dengan gaya ceramahmu yang khas, engkau digandrungi semua lapisan. Keramahnmu itu pula yang masih membekas di ingatanku pada sebuah acara amal yang digelar Dompet Dhuafa, dua tahun lalu.
Engkau membalas sapaanku dengan senyummu, lagi-lagi tak ada basa-basi. Senyum ketulusan darimu yang sarat dengan pundi-pundi pahala. Uje, ajal memang tak bersinyal. Tetapi, amalmu akan tetap kekal.
Wahai, jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan-Mu dengan senyummu, damai di sisi-Nya penuh dengan keridhaan.
Oleh Nashih Nashrullah


sumber : www.republika.co.id

Saturday, May 11, 2013

Dakwah bil Uswah

Setiap Muslim wajib berdakwah, mengajak beriman dan berislam dengan baik dan istiqamah, minimal kepada diri sendiri. Sabda Nabi SAW, "Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat." (HR Muslim)

Berdakwah adalah pekerjaan mulia yang dapat menjadi motivasi bagi diri sendiri untuk berbuat sesuai dengan yang didakwahkan.

Karena itu, dakwah Islam akan berhasil dan efektif jika sang da’i sudah  mengamalkan dan menampilkan keteladanan terlebih dahulu apa yang disampaikan kepada orang lain, seperti yang dilakukan Nabi saw.

Dakwah bil Lisan atau bil Hal tidak akan berhasil dengan baik jika tidak dibarengi dengan uswah hasanah
(keteladanan yang baik) dari sang da’i. Dengan kata lain, setiap Muslim sejatinya harus mampu memberikan teladan yang terbaik bagi diri sendiri, keluarga, dan orang lain.
 
Allah sangat murka kepada da’i yang hanya menceramahi orang lain, tapi tidak mengamalkan isi dakwahnya. Inilah dakwah lilin: menerangi orang lain tetapi dirinya sendiri terbakar dan habis.

"Hai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Sungguh amat besar kemurkaan Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang kamu tidak kerjakan." (QS Ash-Shaff [61]: 2-3).

Dakwah Rasulullah saw merupakan dakwah sinergi antara kata-kata dan perbuatan nyata. Rasul selalu menyatukan kata dengan perbuatan sehingga menjadi teladan bagi umatnya.

Selain itu, dalam berdakwah Rasul juga mengedepankan etika seperti: kelemahlembutan, kesantunan, empati, kasih sayang, dan kesabaran. Rasul tidak pernah mencaci maki, melaknat, memarah-marahi, apalagi membodohi umatnya.
  
Rasulullah tidak memendam rasa dendam dan meluapkan emosi amarahnya ketika dicaci maki dan dilukai Abu Jahal dengan dilempari batu dan dipukul dengan kampak, saat mengajak kaumnya berislam di bukit Safa.

Bahkan ketika Sayyidina Hamzah, paman beliau, menemuinya selepas membalaskan dendamnya kepada Abu Jahal, beliau tidak merasa senang terhadap tindak kekerasan yang dilakukan pamannya itu. Kata beliau, "Aku tidak suka engkau berbuat seperti itu. Aku lebih suka engkau berbuat damai dengan bersyahadat, memeluk Islam".
    
Respon Rasul tersebut membuat Hamzah tertegun, menyadari pelampiasan dendam tidak menyelesaikan masalah. Akhirnya, Hamzah bertobat dan masuk Islam.

Kisah singkat ini memberi pelajaran kepada kita dakwah bil uswah (dengan keteladanan) jauh lebih efektif daripada dakwah dengan kata-kata yang tidak disertai dengan amal nyata.
 
Di era globalisasi, dakwah memerlukan sentuhan teknologi. Ilmu dan etika dakwah tidak cukup dikuasai dai, tapi juga teknologi komunikasi, teknologi dakwah, dan teknologi media dakwah.

Jika dakwah menjadi tugas bersama, maka masing-masing pihak berkewajiban bersinergi dalam berdakwah. Sebab, selama ini dakwah bil lisan (dengan kata-kata) sudah mengalami titik jenuh.

Terbukti, pelanggaran moral dan norma hukum masih terus terjadi. Korupsi masih merajalela, padahal pelakunya juga mengaku Muslim. Yang diperlukan adalah keteladanan dalam beramar ma'ruf nahi munkar.
  
Jadi, sinergi dakwah bil uswah itu harus dengan ibda' bi nafsik (mulailah dari diri sendiri). Dakwah antikorupsi misalnya akan efektif jika sang da’i bersih dari korupsi, dan benar-benar tidak pernah korupsi. 

Kesadaran untuk mau mendakwahi diri sendiri perlu menjadi komitmen bersama, jika kita semua menghendaki masa depan umat Islam Indonesia dan dunia menjadi lebih maju.

Para pemimpin bangsa ini sudah saatnya berintrospeksi diri untuk bisa menjadi teladan dalam mendakwahi diri sendiri agar kata-kata dan kebijakannya didengar dan dilaksanakan oleh bawahan dan warga bangsa ini. Rakyat sudah lelah hanya mendengar kata-kata dan wacana tanpa bukti nyata!
, Oleh Muhbib Abdul Wahab
    

sumber : www.republika.co.id

Thursday, May 09, 2013

Bakti untuk Ibu

Ustaz Abdullah Bani'mah seorang dai yang mengalami lumpuh total bercerita tentang seorang pemuda pengguna narkoba. Ia pertama kali kenal dengannya saat di rumah sakit di Jeddah. Pemuda tersebut menengok temannya yang dirawat sekamar dengan Abdullah.

Ia sangat taat kepada ibunya. Pernah waktu berkumpul dengan teman-temannya di kamar rumah sakit, berderinglah telepon dari ibunya. Segera ia menjawab dengan hormat dan setelah itu ia pamit untuk pulang.

Teman-temannya menahan dia. Pemuda tersebut mengatakan; Ibu saya menelepon dan minta saya membelikan sesuatu di warung.” Dia pun meninggalkan teman-temannya itu dan bersegara melaksanakan permintaan ibunya.

Setelah selesai memenuhi kebutuhan ibunya, dia balik lagi ke rumah sakit. Adapun waktu yang dibutuhkan untuk pulang pergi itu sekitar dua jam.

Sepuluh tahun kemudian, seseorang membawanya ke rumah Ustaz Abdullah Bani'mah untuk dinasehati. Ia datang bersama seorang teman lainnya. Dua tahun setelah itu, Abdullah Bani'mah melaksanakan umrah. Di Masjidil Haram, seseorang pemuda berjenggot menghampirinya dan memberi salam untuknya.

“Ustadz Abdullah, saya teman Fulan yang kenal Anda 12 tahun lalu di rumah sakit. Kami berdua pernah berkunjung ke rumah Anda sekitar dua tahun lalu. Fulan dan saya sejak pulang dari rumah Anda kami bertaubat dan memperbaiki diri.”

“Kami rajin menuntut ilmu Islam dan berusaha untuk mengamalkan dan mendakwahkannya. Kami safar ke Yordania untuk kegiatan dakwah. Bulan lalu kami pulang, dan baru tiba di Makkah.”

“Teman saya, meminta saya tidak pulang ke rumah sebelum ke Masjidil Haram, untuk shalat malam, berdoa dan shalat subuh berjamaah. Selesai shalat subuh, kami berzikir sampai syuruq,” ujarnya.

Setelah itu, saya tawarkan untuk sarapan berdua di rumah makan. Ia menolak, ia akan mampir ke rumah ibunya dulu dan sarapan bersamanya. Setelah itu kami berpisah.

Menjelang zhuhur, saya mendapatkan kabar melalui telepon bahwa Fulan wafat. Saya kaget. Penelepon memberitahukan bahwa Fulan datang ke rumah ibunya di pagi hari, sambil membawa sarapan. Setelah sarapan, ia sempat berbincang-bincang dengan ibunya.

Ia juga sempat memijit kaki ibunya, dan ia mencium kaki ibunya. Tak lama setelah itu, ia wafat, di kaki ibunya. Ia kemudian dishalatkan di Masjidil Haram dan dikebumikan di Makkah.

Bakti seorang anak kepada orang tua dan doa orang tua yang tulus untuk anaknya, sangat membantu mereka untuk kembali ke jalan Allah dan wafat dengan husnul khatimah.

Al-Hafizh Abdul Haq Al-Isybili (wafat 581 H), merupakan seorang ulama dari Sevilla, Spanyol. Ia berkata: “Ketahuilah bahwa di antara sebab utama seseorang wafat dalam keadaan  suul khatimah  adalah cinta dunia, berpaling dari akhirat dan berani bermaksiat kepada Allah. Mungkin asalnya ia melakukan dosa kecil, mencoba satu jenis maksiat, ia mulai berpaling dari akhirat, timbul meremehkan maksiat.”
Kemudian maksiat itu menguasai hatinya, jadilah akalnya sebagai tawanan, cahaya hatinya redup, menutup pintu hidayah. Peringatan tidak bermanfaat lagi baginya dan nasehat tidak melunakkan dirinya. Sebelum kematian tiba, ia mendengar samar-samar ada suara yang memanggilnya ke jalan istiqamah, ia tidak dapat memahaminya meskipun penyeru mengulangi seruannya.”
“Ketahuilah bahwa suul khatimah tidak akan menimpa orang yang istiqamah secara lahir dan hati yang bersih. Suul khatimah hanya akan menimpa orang yang rusak akidahnya dan berani melakukan dosa-dosa besar.

“Barangkali ia kecanduan dosa, sehingga maut menjemputnya ketika ia belum sempat bertaubat. Maut merenggut jiwanya sebelum ia memperbaiki dirinya dan kembali kepada Allah. Akhirnya setan bersorak gembira atas kemenangannya.”

, Oleh Fariq Gasim Anuz
sumber : www.republika.co.id

Wednesday, May 08, 2013

Tiga Langkah Menjadi Orang yang Bertakwa

Inna lillahi wa innaa ilaihi rajiun. Pada Jumat tanggal 26 April 2013 Indonesia bahkan mungkin dunia dikejutkan dengan meninggalnya seorang ustaz yang sangat kharismatik, Ustaz Jefri Al-Buchori.

Bisa dipastikan begitu banyak orang yang merasa kehilangan sosok ulama “gaul” yang dekat dengan kalangan masyarakat manapun. Terlalu banyak kenangan manis nan indah tentang Ustaz Jefri  yang melekat dalam benak publik.

Tidak ada yag menyangka bahwa “Uje” yang kita cintai akan meninggalkan kita dengan begitu cepat. Kematian adalah rahasia Ilahi. Asro Kamal Rokan dalam artikelnya pernah menuliskan bahwa maut tidak datang mengetuk pintu. Ya, memang begitulah adanya. Maka alangkah meruginya kita jika tidak mengambil pelajaran berharga dari kematian.

Jelaslah bahwa kehidupan dunia ini tidaklah abadi. Kehidupan kita di dunia ini hanyalah sebuah mimpi. Lalu dimanakah kehidupan kita yang sesungguhnya? Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata “Annaasu niyaamun wa idzaa maatuu intabahuu”. Manusia ini semuanya tidur, dan ketika mati (maka) terbangunlah (manusia) dari tidurnya. Itulah kehidupan yang sebenarnya. Yaitu ketika kita menutupkan mata meninggalkan dunia ini, maka terbukalah gerbang kehidupan yang sebenarnya.

Selama ini kita hanya memperjuangkan kenikmatan fana yang hanya ada di alam mimpi. Namun jarang sekali kita memikirkan bekal yang akan kita bawa untuk kehidupan hakiki. Kehidupan setelah mati.
               
Tidak ada satupun kebanggaan dunia yang akan kita bawa nanti. Bukan harta, tahta bukan pula sanjungan dan pujian orang. Hanyalah takwa sebaik-baik bekal menghadap Allah tuhan semesta alam. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqoroh : 197 “Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” Maka setiap manusia haruslah menyadari bahwa taqwa adalah kebutuhan wajib yang harus diraih. Bukan hanya bekal akhirat. Namun juga bekal dunia akhirat.
               
Takwa di dalam kamus Ilmu Alquran dapat diartikan dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Tingkah laku orang yang bertaqwa selalu mencerminkan perilaku mulia dan selalu berusaha menghindari hal-hal yang menjadikan Allah murka.
Allah memberikan beberapa rambu-rambu untuk menjadi orang yang bertaqwa.

Pertama, bertanya kepada Orang yang mengetahui. Atau dalam hal ini adalah bertanya kepada alim ulama tentang bagaimana menjadi orang yang bertakwa (QS. An-Nahl : 43).

Kedua adalah selalu bersama-sama para shidiiqiin (orang yang benar) (QS. At-Taubah). Dalam bahasa Jawa yang terkenal “wong kang shaleh kumpulono”. Lalu siapakah orang-orang yang benar? Al-Qur’an menjelaskan pada QS.  Bahwasanya Shiddiiquun adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah.

Ketiga adalah selalu berkata dengan perkataan yang benar (QS. Al-Ahzab : 70). Allah menjelaskan dalam QS. Fusshilat : 30 bahwa sebenar-benar perkataan adalah orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shaleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri.”

Demikianlah, semoga kita dapat mengambil pelajaran dari peristiwa yang mengejutkan kita hari ini. Dan beliau guru kita, Ustaz Jefri Al-Buchori mendapatkan sebaik-baik tempat di sisi Allah. Amin.

 ,  Oleh Soraya Khoirunnisa


sumber : www.republika.co.id

Tuesday, May 07, 2013

Memaknai Rezeki

Sekiranya ada kata yang begitu akrab di telinga semua orang, itulah rezeki. Tidak ada orang yang tidak mengharapkan rezeki. Bahkan, muara dari hampir setiap usaha manusia adalah mencari rezeki. Pendidikan, kedudukan, dan pekerjaan kerap dimaknai sebagai wasilah menuju rezeki. Sayang, makna rezeki pada sebagian orang telah mengalami penyempitan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rezeki adalah segala sesuatu pemberian Tuhan yang dipakai untuk memelihara kehidupan. Dengan demikian, rezeki bukan melulu makanan dan uang. Masih banyak rezeki yang kita terima bukan berwujud materi atau benda. Bahkan, menurut Rasulullah, “dua nikmat (rezeki) yang sering dilupakan kebanyakan orang adalah kesehatan dan kesempatan” (HR Bukhari).

Dalam hidup ini, ada dua jenis rezeki yang diberikan Allah kepada manusia: rizqi kasbi (bersifat usaha) dan rizqi wahbi (hadiah). Rizqi kasbi diperoleh lewat jalur usaha dan kerja. Terutama jika menyangkut kekayaan dunia, rezeki jenis ini tidak mensyaratkan kualitas keimanan penerimanya. Tidak jarang kita jumpai orang yang ingkar kepada Allah tetapi hidupnya sukses.

Selain sebagai hasil kerja, karena rizqi kasbi memang berasal dari sifat rahman atau pemberian Allah. Rumusnya, siapa mau berusaha, dia akan dapat. Karena itu, rezeki berupa kekayaan dunia tidak selalu mencerminkan cinta Allah kepada pemiliknya. Juga karena kekayaan harta memang tidak bernilai di hadapan Allah. “Sekiranya bobot kenikmatan dunia di sisi Allah seberat sayap nyamuk, maka Dia tidak akan memberi minum kepada orang kafir meski hanya seteguk air” (HR Tirmidzi).

Lain dari itu adalah rizqi wahbi. Rezeki ini datangnya di luar prediksi pikiran manusia. Kadang malah tidak memerlukan jerih payah. Pegawai rendahan bisa saja memiliki harta melimpah. Kiai desa yang miskin papa mendadak mendapatkan biaya haji dari pemerintah. Itulah rizqi wahbi. Perolehannya lebih karena sifat rahim atau kasih sayang Allah.

Itulah kenapa yang paling berpeluang mendapatkan rizqi wahbi adalah hamba yang bertakwa. Kesuksesan orang bertakwa itu lebih ditentukan oleh kualitas keimanannya daripada profesinya. “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan memberinya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak dia sangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya” (QS At-Thalaq: 2-3).

Seolah mengonfirmasi ayat di atas, Rasulullah bahkan menyatakan, istighfar secara rutin dapat mengundang rezeki dari arah yang tidak kita duga. “Barangsiapa melanggengkan istighfar, Allah akan melapangkan kegalauannya, memberikan solusi atas kerumitannya, dan memberikan rezeki dari arah yang tidak dia sangka sebelumnya” (HR Ibnu Majah).

Tetapi, sekali lagi, rezeki bukan melulu harta. Hidup dijauhkan dari kemaksiatan adalah rezeki. Juga gairah untuk beribadah. Kemudahan menyerap ilmu jelas rezeki. Kesempatan beraktualisasi diri juga rezeki. Dan termasuk rezeki adalah ketika kita dihidupkan dalam lingkungan yang baik. Apalagi memiliki keluarga sakinah. Banyak orang stress akibat ditimpa problem keluarga. Seperti diingatkan Allah, “Wahai orang-orang beriman, sungguh di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah terhadap mereka” (QS At-Taghabun: 14).

Ayat di atas jelas menegaskan bahwa istri dan anak potensial membuat hidup manusia merana. Harta yang melimpah tidak mampu menghapus duka ketika badai rumah tangga melanda. Begitu juga ketika penyakit mendera. Hidup kehilangan gairah. Berpenampilan serba mewah tetapi hati selalu berselimut duka.  

Mari meluruskan cara pandang. Alangkah meruah rezeki yang telah kita terima. Limpahan rezeki materi itu memang wajib disyukuri. Tetapi sungguh naif ketika bermacam rezeki nonmateri justru kita ingkari. Hanya kepada Allah, senantiasa kita langitkan doa agar diberikan limpahan rezeki berupa harta yang halal, pasangan yang baik, anak-anak yang berbakti, rumah atau lingkungan yang nyaman, dan kehidupan yang bertabur berkah.

Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya
, Oleh M Husnaini

sumber : www.republika.co.id

Monday, May 06, 2013

Kepekaan Iman

Salah seorang sekretaris Rasulullah saw, Abu Rib’i Handzalah bin Rabi’ Al-Usayyidi, bercerita, “Saya bertemu dengan Abu Bakar ra, kemudian ia berkata: “Bagaimanakah keadaanmu wahai Handzalah?”

Saya menjawab, “Handzalah telah munafik.” Abu Bakar mengaku, “Subhanallah, apa yang kamu katakan?” Saya mejelaskan, “Kalau kami berada di hadapan Rasulullah saw kemudian beliau menceritakan tentang surga dan neraka, seakan-akan kami melihat dengan mata kepala, tetapi bila kami jauh dari beliau dan bergaul dengan istri dan anak-anak serta mengurusi berbagai urusan, kami sering lupa.” Abu Bakar berkata, “Demi Allah, kami juga begitu.”
   
Kemudian saya dan Abu Bakar pergi menghadap Rasulullah SAW, lalu saya berkata, “Wahai Rasulullah, Handzalah telah munafik.” Rasulullah saw bertanya, “Mengapa demikian?”

Saya berkata, “Wahai Rasulullah, apabila kami berada di hadapanmu kemudian engkau menceritakan tentang surga dan neraka, seolah-olah kami melihat dengan mata kepala, tetapi bila kami jauh darimu dan bergaul dengan istri dan anak-anak serta mengurusi berbagai persoalan, kami sering lupa.”
Rasulullah saw bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya kamu tetap sebagaimana keadaanmu di hadapanku dan mengingat-ingatnya, niscaya para Malaikat akan menjabat tanganmu di tempat tidurmu dan di jalan. Tetapi, wahai Handzalah sesaat dan sesaat.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali.

Subhanallah. Itulah kisah orang-orang yang memiliki kepekaan iman. Ia mudah merasa bersalah jika kurang (atau tidak) istikamah dalam menjalankan ajaran Islam. Bahkan, ia mudah khawatir jika dalam melaksanakan ajaran Islam, tidak sesuai dengan tuntunan Nabi saw.

Kisah di atas menegaskan, iman bukan hiasan di bibir dan pemanis kata, apalagi sekadar keyakinan hampa, tapi sebuah keyakinan yang menghujam ke dalam hati, diungkapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan tindakan nyata. Kemudian istikamah dalam menjalankannya.

Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda, “Iman itu bukanlah angan-angan dan juga bukan perhiasan, tetapi iman itu adalah sesuatu yang menetap di dalam hati dan dibenarkan dengan amal nyata.” (HR Ad-Dailami).

Karena itu, pengakuan seorang Mukmin akan keimanannya yang tidak disertai dengan bukti amal saleh, bisa dikategorikan sebagai pengakuan tanpa makna dan tidak berdasar.

Allah SWT menjelaskan kepada kita tentang senyawa keimanan dan amal saleh. Dalam Alquran, setiap kali disebutkan tentang keimanan selalu diikuti dengan amal nyata.

Seperti dalam firman Allah SWT, “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati agar mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati agar tetap sabar.” (QS Al-Ashr [103]:1-3).

Yang pasti, iman yang men-shibghah akal, hati dan jasad seorang Mukmin, ketika ia dihadapkan pada pilihan-pilihan maka pilihannya itu sudah pasti jatuh pada nilai-nilai kebenaran dan kebaikan.
Ia senantiasa memutuskan sesuatu dengan haq dan menghindari hal-hal yang menjurus kepada kebatilan. Wallahu a’lam.

, Oleh H Imam Nur Suharno MPdI


sumber : www.republika.co.id

Sunday, May 05, 2013

Saat Dihina

"Ustadz, saya tidak melakukan satu kesalahan apa pun. Bahkan saya merasa selalu berbuat baik kepadanya. Namun  semuanya seperti debu yang tersapu angin; hilang dan tidak berbekas,'' seorang jamaah mengeluh selepas halaqah dengan nada superkesal.

Jamaah itu melanjutkan, ''Tragisnya lagi, kata-kata kotor dan merendahkan justru berhamburan dari lisannya! Saya dihina habis-habisan," ungkap jamaah tersebut.

Atas curhatan seorang jamaah ini, ada baiknya kita melihat lembar kembali sejarah di mana RasuluLlah Saw pernah mendapati keadaan yang lebih buruk dari itu.

Seperti dituturkan oleh Abu Bakar As-Shidiq. Suatu ketika, sahabat terdekat Nabi Saw ini termenung. Ia terus bertanya-tanya, amal shalih apa yang pernah dikerjakan oleh Rasulullah Saw namun belum ia kerjakan. Maka ia pun bertanya kepada anaknya, Aisyah r.a. yang juga merupakan istri Nabi Saw.

“Wahai anakku, apa kira-kira amal yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw ketika masih hidup tapi belum aku kerjakan?”

Aisyah ra menjawab, “Rasulullah Saw selalu memberi makan kepada seorang Yahudi buta di pojok sudut pasar”. Tidak menunggu waktu lama, maka Abu Bakar r.a, pun menghampirinya.

Sambil mengeluarkan roti, Abu Bakar ra mendekati perempuan buta Yahudi itu. Benar, perempuan buta itu terus saja mengoceh omongan buruk tentang Rasulullah Saw. Ia menghina Rasulullah Saw dan menyuruh orang-orang di pasar untuk tidak mengikuti ajakan Muhammad.

Abu Bakar ra mendengar itu semua dengan gejolak tidak menentu. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Rasulullah Saw saat memberi makan perempuan buta itu, padahal telinga beliau dibombardir dengan kalimat-kalimat ejekan dan hinan.

Suapan pertama pun telah masuk, namun terkagetlah Abu Bakar. Sambil memuntahkan kembali suapannya, perempuan buta ini berkata ketus, ”Siapa kamu, kamu bukan orang yang biasa memberi aku makan”.

Abu Bakar berkata,” Dari mana engkau tahu bahwa aku bukanlah orang yang biasa memberimu makan?” “Makanan yang engkau beri tidak kau haluskan lebih dulu. Orang yang biasa memberiku makan selalu menghaluskan makanan lebih dulu karena ia tahu, gigiku sudah tak sanggup lagi mengunyah makanan,” sahut perempuan buta ini.

Tidak sabar dengan keadaan yang tak menentu di hatinya ini, Abu Bakar sambil terisak berujar, “Ketahuilah, orang yang biasa memberimu makan sudah wafat beberapa hari yang lalu dan aku adalah sahabatnya,'' kata Abu Bakar.

Ia melanjutkan, ''Orang yang biasa memberimu makan adalah Muhammad Saw, lelaki yang tiap hari selalu bersabar meski kau hina dan caci sedangkan ia tak pernah berhenti menyuapkan makanan ke mulutmu.

Perempuan Yahudi yang buta itu kaget bukan main dan tak lama kemudian tangisnya pun pecah. Ia menyesal belum sempat meminta maaf kepada orang yang sangat peduli dengannya padahal tidak ada seorang keluarganya pun yang peduli dengan keadaannya.

Subhanallah, saat hinaan dibalas dengan kesabaran, ternyata buahnya adalah ilmu, hikmah dan hadiah yang luar biasa dari Allah SWT.

Sebagaimana perempuan Yahudi ini kemudian bersyahadat, maka semoga saja dengan tetap bersabar, ada membersit pintu kebaikan dalam hidup kita. Aamiin. 
, Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham



sumber : www.republika.co.id

Saturday, May 04, 2013

9 Manusia yang Mendapat Pertolongan Allah SWT

“Katakanlah siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang dikeluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan kebaikan-kebaikan rezeki, katakanlah bahwa itu adalah milik orang-orang yang beriman di dunia dan khusus bagi mereka di hari kiamat. Demikianlah kami perinci ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui” (QS al-A’raf: 32).

Sebagian orang yang disebut sufi biasanya menghindar dari kemewahan dunia, bahkan ada yang berlebih-lebihan. Mereka dari orang-orang Yahudi, Nasrani, Hindu, dan juga Islam. Orang-orang Islam, terutama yang terpengaruh oleh buku-buku tasawuf seperti kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghazali dalam bab Dzammuddunya, bisa bersikap lebih ekstrem zuhud dalam menghadapi kehidupan dunia.

Padahal dalam Alquran disebutkan bahwa kita bisa memperoleh kebaikan, kekuasaan, harta melimpah, kejayaan, kekayaan di dunia sebagaimana sebagian para nabi yang juga mendapatkan itu semua

Siapa orang-orang yang memperoleh kebaikan, kemenangan, kejayaan dan pertolongan Allah SWT dalam kehidupan dunia? Pertama, orang-orang yang beriman dan bertakwa akan mendapat perhiasan Allah, kebaikan-kebaikan rezeki, berkah dari langit dan bumi (QS Al-A’raf: 32 dan 96). Dan yang bertakwa kepada Allah akan diberi jalan keluar dari kesempitan (QS At-Thalaq: 2), dimudahkan urusannya (QS At-Thalaq: 4), dan dilipatkan pahala baginya (QS At-Thalaq: 5).

Kedua, orang-orang yang berdoa mohon kebaikan di dunia dan akhirat, akan mendapat bahagia dari apa yang mereka usahakan (QS Al-Baqarah: 202).

Ketiga, orang yang beramal shaleh dan beriman akan dijadikan kehidupan dunianya baik (QS An-Nahl: 97).

Keempat, orang yang merawat anak-anak yatim dan mempergauli mereka dengan sebaik-baiknya (QS Al-Baqarah: 220).

Kelima, para nabi dan rasul yang menjadi orang pilihan dan terkemuka di dunia (QS Al-Baqarah: 130, Ali Imron: 45, Al-Ankabut: 27).

Keenam, orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang mengeluarkan zakat dan beriman kepada ayat-ayat Allah SWT, akan mendapatkan rahmat di dunia dan di akhirat (QS Al-A’raf: 156, An-Nahl: 30).

Ketujuh, Nabi Ibrahim yang dipilih menjadi imam yang dapat dijadikan teladan, patuh kepada Allah SWT lagi lurus dan hanif, selalu bersyukur atas nikmat-nikmat Allah, ia pun dipilih oleh Allah SWT dan diberi petunjuk ke jalan yang lurus dan diberi kebaikan di dunia (QS An-Nahl: 120-122).

Kedelapan, orang-orang yang hijrah di jalan Allah SWT setelah dianiaya di negeri mereka (QS An-Nahl: 41). Kesembilan, pahala di dunia dan di akhirat diberikan kepada Nabi Ishaq, Nabi Ya’qub dan keturunan nabi-nabi (QS Al-Ankabut: 27).

Sembilan kelompok orang yang mendapatkan berkah, kebaikan, rahmat, rezeki, kemuliaan, dan kejayaan di dunia itu menunjukkan bahwa tidak seluruh apa yang ada di dunia ini adalah najis, haram, dan menghancurkan atau merupakan adzab bagi kita. Tetapi Alqur’an berulangkali mengingatkan kita agar tidak tertipu oleh gebyar dunia (QS Luqman: 33, Al-Jatsiyah: 35, Al-Hadid: 20, Fathir : 5, Al-An’am: 70 dan 130, Al-A’raf: 51).

Di samping itu, Alqur’an juga menganjurkan kita untuk bekerja guna mencari rezeki halal. Seperti dalam beberapa hadis Rasulullah SAW, “Carilah rezeki meskipun di tempat-tempat terpencil di bumi ini” (HR Bukhari dan Muslim). Sabda beliau yang lain, “Allah mencintai orang mukmin yang bekerja” (HR Thabrani dan Baihaqi). Ada pula sabda lain, “Allah mencintai orang kaya yang bertakwa” (HR Thabrani dan Baihaqi). 


Pengasuh PP Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan
 

, Oleh KH Muhammad Dawam Saleh

sumber : www.republika.co.id

Wednesday, May 01, 2013

Demi Waktu yang Terus Bergerak

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran ( QS  Al ´Ashr (103; 1-3)

Karena waktu yang terus berlari. Manusia pada saatnya mengalami kerugian yang besar. Kerugian yang membuat malang. Kerugian yang akan dirasakan ketika semuanya telah berlalu.

Waktu itu tidak akan kembali. Ia selalu melangkah. Pada setiap langkah yang suci itu, tinggal kita maukah mengisi dengan jejak sejarah dan karya. Ataukah hanya berkhayal dan bermimpi dengan hari esok yang indah.

 Tapak kehidupan ini sesungguhnya kita sendiri-lah yang mengaturnya. Mendesignnya menjadi bidang-bidang yang kita inginkan. Bukan lagi pada takdir ataupun suratan nasib. Kita adalah kita yang terus berlari, berlomba bersama sang waktu.

Setiap dari kita mempunyai jatah waktu yang sama yakni 24 jam dalam sehari semalam. Namun, bila kita amati dengan seksama, waktu yang sama tersebut bisa jadi akan menghasilkan perbedaan yang tajam antar satu sama lain. Ada yang karena kejeniusannya memanfaatkan waktu, seseorang dapat memperoleh kekayaan yang berlipat, tetapi dalam kurun waktu yang sama, banyak orang yang tidak mendapatkan apa-apa dari bergulirnya sang waktu.

Tiba-tiba saja detik berganti jam, jam berganti bulan, bulan berganti tahun. Tiba-tiba terasa rambut sudah memutih, keriput di kulit sudah mulai tampak, tetapi kita terasa belum melakukan apa-apa dalam perjalanan panjang waktu.

Sebegitu berharganya waktu, sehingga sering kita temui orang menyesali perbuatan karena gagal menjadikan waktu sebagai pedoman hidup. Ia dilindas kecepatan waktu tanpa berbuat banyak bagi kehidupan dirinya sendiri ataupun orang lain. Waktu adalah kehidupan yang setiap detiknya tidak akan kembali.

Sekarang ataupun nanti, waktu adalah penguasa bagi kemutlakan yang kekuasaannya tanpa batas.  Sebab, apapun yang kita lakukan semuanya berhubungan dengan waktu. Kita tidak bisa menyuruhnya untuk memperlambat jalannya ataupun menghentikannya. Yang kita bisa adalah bagaimana mengisi waktu untuk mencapai apa yang menjadi keinginan-keinginan kita di masa depan.

Yang harus kita lakukan menggunakan waktu sebaik-baiknya secara efektif dan efisien untuk mengejar mimpi-mimpi, bukan sebaliknya bersantai-santai menikmati waktu luang. Jika tidak, kita akan terlindas oleh derap langkah sang waktu yang tidak mengenal kompromi pada siapapun. Karenanya, diri kita sendirilah yang mesti bertanggung jawab terhadap waktu kita, mau kita pergunakan untuk apa waktu yang milikinya.Tidak cukup menghargainya dengan berleha-leha, bermimpi akan datangnya keajaiban.

Sehingga tepat bila dikatakan, waktu sangat penting bagi orang yang sedang mengejar mimpi. Sampai-sampai bagi pebisnis menyebut waktu sama dengan uang. Setiap detik baginya adalah aliran uang yang masuk ke kantong sakunya.

Mengisi waktu dengan tujuan bermanfaat dan menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna adalah sebuah aktivitas yang sama ( Ali Imran 3 : 104).

Tinggal kita mau pilih yang mana ?
, Oleh Haji Damanik

sumber : www.republika.co.id

Tuesday, April 30, 2013

Etika Berpolitik

Setelah dibaiat para sahabat Muhajirin dan Anshar, Abu Bakar Ash-Shiddiq naik mimbar dan menyampaikan pidoto politik. "Wahai para sahabat, aku diangkat menjadi khalifah, padahal aku bukanlah yang terbaik di antara kalian,'' ujarnya.

Jika aku berlaku benar, kata Abu Bakar, dukunglah aku. Jika aku menyeleweng, luruskanlah aku. Kejujuran itu adalah amanah, sedangkan kebohongan adalah khianat.

''Orang yang kuat di antara kalian itu menurutku lemah, sebelum aku mengambil haknya bagi yang lemah. Sebaliknya, orang yang lemah itu menurutku kuat sebelum aku memberikan hak dari yang kuat kepada yang lemah,'' ujar Abu Bakar.

Ia melanjutkan, ''Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku tidak menaati Allah dan Rasul-Nya, maka jangan taati aku. Laksanakanlah salat, niscaya Allah akan merahmati kalian."

Pidato politik tersebut mencerminkan etika berpolitik yang sangat santun, rendah hati, dan terbuka. Sifat rendah hati tawadlu' sangat diperlukan dalam berpolitik dan memimpin umat.

Pemimpin yang rendah hati pasti akan membuka diri untuk mau dikoreksi dan dikritisi. Sebaliknya pemimpin yang sombong dan arogan akan memicingkan mata terhadap pendapat dan kebenaran dari orang lain.
 
Pemimpin yang rendah hati akan senantiasa mengemban tanggung jawab kepemimpinannya dengan amanah, jujur, dan menomorsatukan rakyat, bukan partainya.
Kejujuran, menurut Abu Bakar, adalah pangkal tegaknya amanah kepemimpinan politik, sedangkan kebohongan adalah pangkal terjadinya pengkhianatan, penyalahgunaan jabatan, dan ketidak-percayaan rakyat.

Membangun kejujuran dan membasmi kebohongan merupakan tugas utama pemimpin yang memiliki etika politik yang religius seperti Abu Bakar. Amanah kepemimpin adalah juga amanah dari Allah dan Rasul.

Jadi, pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang selalu menaati syariat (ajaran, petunjuk, jalan kebenaran) Allah dan Rasul. Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin itu akan dimintai pertanggungjawaban atas (amanah) kepemimpinannya." (HR Muslim).

Pemimpin yang amanah tidak akan pernah menyalahi janjinya kepada rakyat. Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang selalu memperhatikan dan melayani kepentingan rakyat, bukan mengurusi dan melayani kepentingan partainya.

Ia tidak memihak kepada yang kuat dan kaya, tetapi berusaha adil dan bijaksana dalam mengakomodasi dan mengadvokasi hak-hak mereka, terutama yang lemah dan miskin.
Pemimpin yang amanah menyadari doa kaum lemah dan miskin itu mustajab, sehingga jika kebijakannya menyengsarakan rakyat,i sang pemimpin tidak didukung dan didoakan kekuasaannya segera runtuh.

Pemimpin yang jujur selalu mengajak kepada kebaikan, seperti salat; dan selalu berani memberantas kemungkaran seperti korupsi.
Ini berarti, sebelum menginstruksikan kepada orang lain, dirinya berikut keluarga dan koleganya sendiri harus mampu menjadi teladan yang baik uswah hasanah.

Sejarah membuktikan, Abu Bakar adalah pelopor penegak keadilan sosial ekonomi dengan menumpas kelompok yang anti membayar zakat yang dimotori Musailamah al-Kazdzdab.
Abu Bakar benar-benar membuktikan janjinya: “Aku akan memerangi orang yang memisahkan antara salat dan zakat.”
 
Santun, rendah hati, jujur, amanah, terbuka, peduli terhadap nasib rakyat yang dipimpin, dan berani menegakkan keadilan itulah etika berpolitik yang seharusnya dimiliki para pemimpin politik kita agar bangsa ini terurus dengan baik, tidak semakin "amburadul" dan rakyatnya semakin menderita.

Etika politik yang religius menuntut pemimpin 'mewakafkan' dirinya untuk menjadi pelayan rakyat sejati, bukan 'berselingkuh' dengan partai yang mengusungnya, sehingga kinerjanya menjadi tidak fokus dan energinya tersita untuk kepentingan partai.

Allah berfirman: ”Setiap golongan/partai (merasa) bangga dengan apa yang ada pada mereka (masing-masing).” (QS.al-Mu’minun [23]: 53)

Karena itu, tidak sedikit pemimpin yang lebih menomorsatukan loyalitasnya terhadap partai daripada kepada rakyat yang memilihnya sebagai pemimpin. Sudah saatnya, pemimpin negeri ini hanya mempunyai monoloyalitas, yaitu: rakyat, bukan partai. Wallahu a'lam bish-shawab!
, Oleh Muhbib Abdul wahab

sumber : www.republika.co.id

Monday, April 29, 2013

Pantulan Keimanan

Suatu hari bibi Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz pergi ke rumahnya dengan maksud hendak meminta tambahan dari Baitulmal. Ketika wanita itu masuk, ia melihat keponakannya yang Amirul Mukminin itu sedang makan kacang adas dan bawang (makanan rakyat biasa).

Melihat bibinya datang, Umar menghentikan makannya. Ia sudah tahu maksud kedatangan bibinya. Lalu Umar bin Abdul Aziz mengambil sedirham uang perak, dan dibakarnya di atas api.

Sesudah cukup panas, ia bungkus uang perak itu dengan kain dan diberikan ke tangan bibinya. “Inilah tambahan yang bibi mintakan itu!” ujarnya.

Karuan saja, begitu tangan wanita itu menggenggam bungkusan tersebut, ia menjerit kepanasan. Lalu Umar berkata menjelaskan, “Jika api dunia terasa amat panas, bagaimana dengan api akhirat  kelak yang akan membakar aku dan bibi, karena menyelewengkan harta kaum Muslimin.”

Sebuah harmoni yang indah sekali dari keimanan dan kecerdasan, yang menyatu dalam diri pemimpin. Betapa konsep keimanan yang menghunjam dan aplikatif dalam diri sang muslim punya kontribusi besar dalam menciptakan kehidupan yang manis. 

Sedang hari-hari ini, bagaimana ruh keimanan itu menguap begitu saja, dan tak lebih hanya menjadi wacana belaka. Karena deretan penyelewengan, penyalahgunaan jabatan, korupsi, dalam berbagai level, menjadi santapan harian media kita.

Menjadi manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa hanya ada dalam slogan, tidak dalam amalan. Kehadiran lembaga khusus yang menangani kasus korupsi saja, KPK, sudah cukup menjadi sinyal betapa korupsi merupakan penyakit akut di sini.

Pekik keimanan dibungkam sedemikian rupa, sehingga yang lahir adalah sikap-sikap yang berlawanan dengan kehendak Ilahi, yang dipicu oleh nafsunya sendiri, keluarga, atau kroni-kroninya.

Sebagaimana tersimbul dalam narasi di atas, Umar bin Abdul Aziz piawai sekali dalam menangkis hasutan keluarganya untuk merampas kekayaan negara (umat), yang dibentengi dengan kekuatan iman.

Pantulan keimanan yang sama juga pernah terjadi pada era Nabi. Seperti yang  dituturkan Ummu Salamah, ada dua orang yang bertikai menyangkut warisan. Keduanya tiada bukti, kecuali hanya pengakuan mereka saja.

Masing-masing mengklaim: “Ini hak saya!” Seraya menolak kalau harta itu milik salah seorang dari keduanya. Lalu keduanya mengadukan perkaranya kepada Rasulullah SAW, tapi di dadanya tetap bercokol egoisme yang tinggi.

Kemudian Rasulullah saw meremukkan telinga dan hati keduanya dengan sabdanya yang hidup ini: “Aku hanyalah manusia biasa, dan kalian berselisih serta meminta keputusan kepadaku.''

Rasulullah melanjutkan, ''Boleh jadi salah seorang di antara kalian lebih hebat dalam memberikan argumentasi dari yang lain, sehingga aku memutuskan sesuai dengan apa yang kudengar darinya.''

''Jika aku memenangkan seseorang dengan sesuatu yang merupakan hak saudaranya, maka janganlah ia mengambilnya sedikit pun. Karena berarti aku menyematkan lempengan api neraka padanya.”

Setelah mendengar sabda Nabi itu, tersentuhlah tali keimanan dari hati keduanya, bersemilah ketakutan kepada Allah dan (siksa-Nya) di kampung akhirat. Lalu keduanya menangis, seraya masing-masing berujar kepada yang lain, “Hak saya, untuk engkau!”

“Jika kalian memang hendak berbuat demikian,” ucap Nabi, “Maka bagilah dan lakukanlah dengan benar. Lantas minta halallah masing-masing kalian berdua, dan hendaklah toleran terhadap apa yang mungkin ia merupakan hak saudaranya.”
, Oleh Makmun Nawawi


sumber : www.republika.co.id

Sunday, April 28, 2013

Tipologi Hakim

Hakim adalah pekerjaan mulia. Tidak semua orang mampu manjadi hakim. Apa yang dilakukan hakim adalah memutuskan sebuah masalah hukum dengan cermat, teliti dan tepat.
Keputusannya berdasarkan bukti dan fakta merujuk pada peraturan perundang-undangan dengan mendudukkan perkara pada tempatnya, memberikan keadilan bagi terdakwa dan korban.

Rasulullah SAW memberikan motivasi dan menghargai pekerjaan hakim dalam sebuah hadis. Dari Amar Ibnu Al-'Ash ra bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Apabila seorang hakim menghukum dan dengan kesungguhannya ia memperoleh kebenaran, baginya dua pahala; apabila ia menghukum dan dengan kesungguhannya ia salah, maka baginya satu pahala. (HR Bukhari-Muslim).

Namun, dalam hadis yang lain Rasulullah memberikan peringatan kepada para hakim yang dilukiskan dengan menggambarkan tipologi hakim dalam memutuskan suatu perkara.

Ancaman yang disampaikan Rasulullah SAW adalah mengenai tempat tinggalnya di neraka atau surga. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Dari Buraidah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Hakim itu ada tiga, dua orang di neraka dan seorang lagi di surga. Seorang yang tahu kebenaran dan ia memutuskan dengannya, ia di surga; seorang yang tahu kebenaran, namun ia tidak memutuskan dengannya, maka ia di neraka; dan seorang yang tidak tahu kebenaran dan ia memutuskan untuk masyarakat dengan ketidaktahuan, maka ia di neraka. (HR Imam Empat. Hadis sahih menurut Hakim).

Adapun tipologi hakim dari hadis Rasulullah diatas ; Pertama seorang hakim masuk surga apabila memutuskan suatu perkara berlandaskan kebenaran didukung dengan bukti dan fakta.

Hakim seperti yang didambakan oleh masyarakat. Hakim yang mampu menjalankan tugasnya dengan benar, mendudukkan perkara pada tempatnya dan tidak menzalimi siapa pun.

Kedua seorang hakim yang mengetahui kebenaran, namun ia tidak memutuskan dengannya, ia di neraka; Hakim seperti ini mungkin banyak ditemukan di Indonesia. Syahwat terhadap duniawi dapat mengalahkan kebenaran yang harus ditegakkan.

Berbagai temuan kasus penyuapan yang melibatkan hakim menjadi bukti realitas di masyarakat dengan menghasilkan keputusan bebas, atau meringankan kepada terdakwa disebabkan untuk membalas imbalan penyuapan, padahal Rasulullah memberikan gambaran sebuah negara tidak memiliki kehormatan disebabkan ketidakadilan dan melakukan keberpihakan hukum kepada orang yang kuat.

Jabir berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Bagaimana suatu umat dapat terhormat bila hak orang lemah tidak dapat dituntut dari mereka yang kuat. (HR Ibnu Hibban).

Ketiga, seorang hakim yang tidak mengetahui dan ia memutuskan perkara yang disampaikan  masyarakat dengan ketidaktahuan, ia di neraka. Sosok hakim seperti ini sangat fatal apabila ditemukan dalam sebuah negara.

Seorang hakim menggunakan  kejahilannya dengan memanfaatkan kebodohan masyarakat dengan tanpa melakukan Ijtihad untuk memutuskan perkara tidak berdasarkan ilmu.

Dari tipe-tipe di atas, kita dapat menyimpulkan bagaimana keadaan lembaga kehakiman di Indonesia. Berbahagialah para hakim yang mampu memutuskan perkara berdasarkan kebenaran dan keadilan. Selamat berjuang para ksatria hukum. Wallahu a'lam.
, Oleh Din-Din Jaenudin


sumber : www.republika.co.id

Saturday, April 27, 2013

Kelembutan Hati

Usia suaminya sudah menjelang 40 dan Sayyidah Khadijah menangkap kegelisahan yang makin tampak di wajah itu. Wanita agung ini tidak bertanya. Tetapi beliau dapatkan jawab dari mata Muhammad saw yang senantiasa basah melihat ketidakadilan.

Putri Khuwailid ini tidak bertanya, tapi beliau membaca wajah yang menunduk tiap kali keberhalaan membunuh kemanusiaan; saudagar wanita berhati mulia ini tidak bertanya, tapi memahaminya dari wajah yang perih tiap kali menyaksikan pertikaian tanpa makna.

Dan hari itu adalah puncaknya. Hari itu beliau menyaksikannya bukan dengan wajah segar terlepas dari beban seperti biasanya. Beliau melihat suami terkasihnya menggigil ketakutan.

Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya, Muhammad saw basah kuyup; wajahnya pucat, mimik pias dan napasnya tersengal-sengal. Denyut jantungnya memburu sementara tatapan matanya tercekam seakan dikejar sesuatu yang begitu mengerikan.

“Zammilunii, selimuti aku! Selimuti aku,” lirih suaminya ini dengan wajah pasi dan sinar mata ketakutan.

Sayyidah Khadijah tak kalah cemas. Beliau begitu ketakutan. Hatinya meneriakkan tanya, “Ada apa sebenarnya?” pasti telah terjadi peristiwa besar yang mengguncang. Tentu ini perkara yang serius.

Tapi beliau surut, lisannya dibungkam kuat-kuat. Ditahannya keinginan untuk tahu. Yang dibutuhkan suaminya kini bukan menceritakan apa yang dialami. Yang diperlukannya adalah ketenangan.

Maka kembali ibunda Sayyidah Fatimah ini pun tak bertanya. Sepertinya sikap ummul mukminat ini yang tak bertanya dan tidak bersegera mencari tahu ini hanya persoalan kecil, remeh.

Tapi mari bayangkan apa jadinya riwayat kenabian dan dakwah andai Sayyidah Khadijah adalah istri yang tak mampu memahami apa yang dihajatkan suami pada saat dilanda panik? Apa jadinya jika saat mendapat wahyu pertama Khadijah menampilkan diri sebagai wanita yang tak rela kehilangan berita di momen pertama?

Ternyata beliau ingin mengajari kita sebuah kaidah penting. Bahwa kita harus punya kepekaan hati untuk mengenal kebutuhan orang yang kita cintai. Bahwa kita mesti memiliki kelembutan nurani untuk memberi kesempatan ruh orang yang spesial di hati kita melepaskan beban-bebannya.

Karenanya kepedulian yang terlembut bukan sekadar rasa ingin tahu. Tapi kepedulian yang terlembut kadang tampil dalam bentuk kesadaran bahwa mungkin kita belum perlu tahu sampai tibanya suatu waktu. Sungguh kesabaran akan menuntun kita untuk tahu, di saat yang tepat dengan cara yang super indah!

Jelilah melihat keadaan diri dan keadaan orang lain. Pintar-pintarlah membaca situasi terbaik yang dibutuhkan.

Ternyata memberondong dengan berbagai pertanyaan kepada istri atau suami atau anak dan siapa pun orang dekat kita, meski terkesan baik dan seakan peduli, menjadi tidak efektif jika tidak pas dan tepat waktu dan situasinya.
, Oleh Ustaz HM Arifin Ilham
sumber : www.republika.co.id