-

Monday, May 06, 2013

Kepekaan Iman

Salah seorang sekretaris Rasulullah saw, Abu Rib’i Handzalah bin Rabi’ Al-Usayyidi, bercerita, “Saya bertemu dengan Abu Bakar ra, kemudian ia berkata: “Bagaimanakah keadaanmu wahai Handzalah?”

Saya menjawab, “Handzalah telah munafik.” Abu Bakar mengaku, “Subhanallah, apa yang kamu katakan?” Saya mejelaskan, “Kalau kami berada di hadapan Rasulullah saw kemudian beliau menceritakan tentang surga dan neraka, seakan-akan kami melihat dengan mata kepala, tetapi bila kami jauh dari beliau dan bergaul dengan istri dan anak-anak serta mengurusi berbagai urusan, kami sering lupa.” Abu Bakar berkata, “Demi Allah, kami juga begitu.”
   
Kemudian saya dan Abu Bakar pergi menghadap Rasulullah SAW, lalu saya berkata, “Wahai Rasulullah, Handzalah telah munafik.” Rasulullah saw bertanya, “Mengapa demikian?”

Saya berkata, “Wahai Rasulullah, apabila kami berada di hadapanmu kemudian engkau menceritakan tentang surga dan neraka, seolah-olah kami melihat dengan mata kepala, tetapi bila kami jauh darimu dan bergaul dengan istri dan anak-anak serta mengurusi berbagai persoalan, kami sering lupa.”
Rasulullah saw bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya kamu tetap sebagaimana keadaanmu di hadapanku dan mengingat-ingatnya, niscaya para Malaikat akan menjabat tanganmu di tempat tidurmu dan di jalan. Tetapi, wahai Handzalah sesaat dan sesaat.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali.

Subhanallah. Itulah kisah orang-orang yang memiliki kepekaan iman. Ia mudah merasa bersalah jika kurang (atau tidak) istikamah dalam menjalankan ajaran Islam. Bahkan, ia mudah khawatir jika dalam melaksanakan ajaran Islam, tidak sesuai dengan tuntunan Nabi saw.

Kisah di atas menegaskan, iman bukan hiasan di bibir dan pemanis kata, apalagi sekadar keyakinan hampa, tapi sebuah keyakinan yang menghujam ke dalam hati, diungkapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan tindakan nyata. Kemudian istikamah dalam menjalankannya.

Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda, “Iman itu bukanlah angan-angan dan juga bukan perhiasan, tetapi iman itu adalah sesuatu yang menetap di dalam hati dan dibenarkan dengan amal nyata.” (HR Ad-Dailami).

Karena itu, pengakuan seorang Mukmin akan keimanannya yang tidak disertai dengan bukti amal saleh, bisa dikategorikan sebagai pengakuan tanpa makna dan tidak berdasar.

Allah SWT menjelaskan kepada kita tentang senyawa keimanan dan amal saleh. Dalam Alquran, setiap kali disebutkan tentang keimanan selalu diikuti dengan amal nyata.

Seperti dalam firman Allah SWT, “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati agar mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati agar tetap sabar.” (QS Al-Ashr [103]:1-3).

Yang pasti, iman yang men-shibghah akal, hati dan jasad seorang Mukmin, ketika ia dihadapkan pada pilihan-pilihan maka pilihannya itu sudah pasti jatuh pada nilai-nilai kebenaran dan kebaikan.
Ia senantiasa memutuskan sesuatu dengan haq dan menghindari hal-hal yang menjurus kepada kebatilan. Wallahu a’lam.

, Oleh H Imam Nur Suharno MPdI


sumber : www.republika.co.id

Artikel yang Berkaitan

0 komentar:

-

Post a Comment