-

Tuesday, June 04, 2013

Rajinlah Shalat Tahajud, Ini Manfaatnya

Setiap Muslim seharusnya memiliki keinginan kuat untuk melaksanakan shalat Tahajud setiap malam hingga menjadi terbiasa. Orang-orang saleh zaman dahulu tekun menjalankannya, baik pada musin panas maupun dingin. Mereka memandang seolah-olah shalat Tahajud itu adalah sesuatu yang wajib (HR Tirmidzi). Jika terlewatkan sekali saja, mereka menganggap itu sebagai musibah yang besar. Pastinya, selain sebagai ‘mesin keimanan’, Tahajud memberikan banyak manfaat besar dalam kehidupan mereka yang istiqamah menjalankannya.
Di antaranya, pertama, untuk menjaga kesehatan. Tidak diragukan lagi, shalat Tahajud menjadi terapi pengobatan terbaik dari berbagai macam penyakit. Karena itu, orang-orang yang membiasakan diri untuk Tahajud akan memiliki daya tahan tubuh sehingga tak mudah terserang penyakit.
Rasulullah SAW bersabda, "Lakukanlah shalat malam karena itu adalah tradisi orang-orang saleh sebelum kalian, sarana mendekatkan diri kepada Allah, pencegah dari perbuatan dosa, penghapus kesalahan, dan pencegah segala macam penyakit dari tubuh." (HR Tirmidzi).
Kedua, menjaga ketampanan atau kecantikan. Setap manusia pasti mendambakan ketampanan atau kecantikan dalam dirinya. Melalui terapi shalat Tahajud, seseorang dapat meraih apa yang didambakannya tanpa mengeluarkan biaya sepersen pun. Yaitu, jaminan ketampanan atau kecantikan yang dihasilkan dari shalat Tahajud tidak terbatas pada tampilan lahir, juga dapat menghasilkan ketampanan atau kecantikan batin.
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang banyak menunaikan shalat malam, maka wajahnya akan terlihat tampan atau cantik di siang harinya.” (HR Ibnu Majah).
Ketiga, shalat Tahajud juga diyakini dapat meningkatkan produktivitas kerja yang berbasis spiritualitas. Karena itu, salah satu program untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang andal secara intelektual, emosional, dan spiritual adalah membiasakan shalat Tahajud pada setiap malamnya.
Rasulullah SAW bersabda, "Setan membuat ikatan pada tengkuk salah seorang di antara kalian ketika tidur dengan tiga ikatan dan setiap kali memasang ikatan dia berkata: ‘Malam masih panjang, maka tidurlah.’ Jika orang tadi bangun lalu berzikir kepada Allah SWT, terlepas satu ikatan. Jika dia berwudhu, terlepas satu ikatan yang lainnya. Dan jika dia melaksanakan shalat, terlepas semua ikatannya. Pada akhirnya, dia akan menjadi segar (produktif) dengan jiwa yang bersih. Jika tidak, dia akan bangun dengan jiwa yang kotor yang diliputi rasa malas.” (HR Bukhari).
Keempat, mempercepat tercapainya cita-cita dan rasa aman. Selain dengan usaha (ikhtiar) secara maksimal guna menggapai cita-cita dan rasa aman, seseorang hendaknya membiasakan diri untuk shalat Tahajud karena doa yang mengiringi Tahajud akan dikabulkan oleh Yang Maha Mengabulkan.
Rasulullah SAW bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya Allah tertawa terhadap dua orang laki-laki: Seseorang yang bangun pada malam yang dingin dari ranjang dan selimutnya, lalu ia berwudhu dan melakukan shalat. Allah berfirman kepada para malaikat-Nya, 'Apa yang mendorong hamba-Ku melakukan ini?' Mereka menjawab, 'Wahai Rabb kami, ia melakukan ini karena mengharap apa yang ada di sisi-Mu.'” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah memberikan kepadanya apa yang ia harapkan (cita-citakan) dan memberikan rasa aman dari apa yang ia takutkan.” (HR Ahmad).
 Oleh : Imam Nur Suharno
sumber : www.republika.co.id

Monday, June 03, 2013

Sikap Pemimpin

Tiada yang menyangsikan kepribadian Amirul Mukminin Umar bin Khattab yang memukau. Diriwayatkan pada masa pemerintahannya, Umar mengutus kaum Muslim untuk berperang melawan Bangsa Persia.

Perang ini terkenal dengan sebutan perang Qadisiah. Berkat pertolongan Allah, kaum Muslim yang dikomandani oleh Saad bin Abi Waqqas berhasil memenangkan pertempuran.

Sa’ad lalu menulis sepucuk surat yang mengabarkan kemenangan heroik tersebut kepada Amirul Mukminin di Madinah. Surat itu dibawa oleh salah seorang mujahid di antara mereka.

Di penghujung kota Madinah, Umar bertemu dengan sang mujahid. “Hai hamba Allah, ceritakan aku bagaimana keadaan kalian?” Mujahid itu menjawab; “Sesungguhnya atas bantuan Allah, kaum Musyrikin telah hancur.”

Sang mujahid sama sekali tidak tahu bila yang menjemputnya itu adalah Umar. Sebab, ia memang tidak pernah melihat wajahnya. Itulah sebabnya ia tidak turun dari untanya sampai keduanya masuk kota.

Kaum Muslim sedikit heran dengan kejadian itu. Mereka lalu mengucapkan salam kepada Umar. Setelah itu, sang mujahid pun sadar. “Semoga Allah merahmatimu, kenapa engkau tidak berterus terang bahwa engkau adalah Amirul Mukminin,” ujarnya. Umar menjelaskan, hal itu tidak masalah baginya.

Kejadian serupa juga dialami Ali bin Abi Thalib, saat ia ditunjuk menjadi khalifah. Suatu ketika, Ali memanggil budaknya karena satu keperluan. Sang budak tidak menyahut. Ali memanggilnya lagi, namun sang budak juga tak menyahutinya, hingga panggilan yang ketiga.

Ali lalu mencari budaknya itu, dan menemukannya sedang berbaring santai. Ali lalu bertanya, ”Tidakkah kamu mendengar panggilanku tadi hai Ghulam?” ”Benar, saya mendengarnya,” ujarnya.

””Lalu kenapa kamu tidak menjawabnya,” tanya Ali. ”Saya sangat yakin Anda tidak akan menghukum saya, jadi saya pura-pura malas,” jawabnya tanpa rasa bersalah.

Tanpa marah sedikitpun, Ali akhirnya memutuskan untuk membebaskan budaknya itu dan menjadikannya sebagai seseorang yang bebas (merdeka).

Kisah kedua khalifah yang termaktub dalam Kitab Qabasat min hayati ar-Rasul, karya Syekh Ahmad Muhammad ’Assaf ini, menunjukkan akan kemuliaan dua pemimpin Islam yang mengagumkan. Sungguh sangat sulit mencari pemimpin seperti itu di zaman sekarang.

Pejabat publik kita bila tampil di depan khalayak, hobinya tebar pesona. Dia berharap masyarakat tahu dirinya adalah pemimpin rakyat. Gayanya pun khas, meminta dilayani. Termasuk dengan fasilitas yang mewah dengan kawalan aparat.

Pemimpin yang bersenjatakan sabar dan tawadhu’ senantiasa dicintai rakyatnya. Tanpa harus berpura-pura, dia pasti dielu-elukan. Pejabat yang seperti Umar dan Ali itulah yang sangat dinantikan masyarakat.

Ibrah atau pelajaran penting yang dapat diambil dari kisah di atas, pertama, menjadi pejabat tidak boleh tinggi hati. Ia juga selalu mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadinya.

Kedua, pemimpin tidak mudah tersinggung, apalagi marah-marah. Sebaik-baik pemimpin ialah yang mencintai rakyatnya dan rakyatnya pun sangat mencintainya. Itulah pemimpin sejati.
Oleh Habib Ziadi
sumber : www.republika.co.id

Sunday, June 02, 2013

Mempelajari Takdir

Hidup manusia tidak pernah lepas dari takdir Allah. Namun, takdir sering disalah-pahami dan dimaknai sebagai suratan nasib baik maupun buruk. Padahal, takdir merupakan sistem manajemen Ilahiyah yang dirancang sedemikian rupa oleh Allah untuk semua makhluk-Nya di alam raya ini.

Desain Allah itu terkait erat dengan hukum kausalitas (sebab-akibat) dan proses alamiah tertentu. Karena itu, manusia wajib meyakini adanya takdir dalam arti ukuran, kadar, kekuatan, dan ketentuan tertentu yang berlaku bagi makhluk-Nya. 

Kata takdir dalam berbagai bentuknya digunakan Alqur’an tidak kurang 132 kali. “Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia pula yang menentukan ukuran/tingkatannya dengan sebaik-baiknya..” (QS al-Furqan [25]: 2).

Para makhluk, termasuk manusia, tidak dapat melampaui batas takdir, dan Allah SWT menuntun mereka ke arah yang seharusnya mereka tuju. “Sucikanlah nama Tuhanmu yang Mahatinggi, yang menciptakan (semua makhluk) dan menyempurnakannya, yang memberi takdir kemudian mengarahkannya.” (QS al-A’la [87]: 1-3).

Benda-benda langit (planet), misalnya, beredar sesuai dengan garis edar secara tertib dan konstan. “Dan matahari beredar menurut sumbu edarnya. Yang demikian itu adalah karena takdir (ketentuan) dari Allah yang Mahaperkasa lagi Mahamengetahui. Begitu juga bulan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah (posisi), sehingga setelah sampai kepada manzilah yang terakhir kembalilah dia seperti bentuk tandan yang tua.” (QS Yasin [36]: 38-39).

Takdir Allah SWT kepada semua makhluk-Nya pada dasarnya dapat dipelajari melalui pengamatan qadar yang ada pada  setiap makhluk.      

Oleh karena itu, salah satu tugas kekhalifahan manusia di alam raya ini adalah menemukan hukum kausalitas atau memahami proses terjadinya sesuatu yang berjalan dengan sistem Ilahiyyah yang rutin, objektif, dan konstan atau tidak ada perubahan dari masa ke masa.

Dengan demikian, takdir Allah pada makhluk-Nya menuntut manusia untuk selalu mengamati, menyelidiki, meneliti, dan menundukkan hukum-hukum kausalitas itu demi kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia.

Di antara benda cair ciptaan Allah adalah air. Ia cenderung mencari dan mengalir ke tempat yang lebih rendah. Air dapat meresap ke dalam tanah, dan dapat ditahan oleh akar-akar pepohonan.

Aliran air dalam debit tertentu akan menghasilkan energi. Semakin besar volume air yang mengalir semakin besar pula energi yang ditimbulkan. Air yang mengalir dari perbukitan (gunung) yang gundul akan dapat menimbulkan banjir bandang dan tanah longsor.

Air yang dikelola dalam bendungan, dapat dialirkan dan digunakan untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik. Semua itu adalah takdir Allah terhadap air.

Jika manusia dapat memahami 'perilaku air' dengan segala hukum kausalitasnya, niscaya air akan menjadi bermanfaat dan berkah.
Sebaliknya, jika manusia tidak dapat memahaminya, air justeru akan dapat menimbulkan musibah seperti: banjir bandang, tanah longsor, dan sebagainya.
           
Suatu ketika  Umar bin al-Khattab berniat mengunjungi negeri Syam (sekarang: Suriah, Palestina, Lebanon, dan Yordania). Karena di Syam sedang berjangkit wabah penyakit yang berbahaya, ia membatalkan rencananya.

Pada saat itu, ada seorang sahabat bertanya: “Apakah Anda lari/menghindar dari takdir Allah?” Umar ra. menjawab: “Aku menghindar dari takdir Allah ke takdir-Nya yang lain”.

Berjangkitnya penyakit, banjir, dan aneka bencana lainnya terjadi karena adanya hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah. Setiap Muslim wajib berusaha untuk memilah dan memilih takdirnya sendiri-sendiri.

Manusia dapat menghindar dari satu takdir ke takdir yang lain melalui usaha serius dalam menemukan “penangkal takdir” yang tidak kita harapkan terjadi.

Kalau tidak ingin terjadi banjir, maka penanaman pohon harus digalakkan, penebangan pohon secara liar dan membabi buta (illegal logging) harus dihentikan, saluran air (drainase) dan sungai-sungai harus dibuat lancar dengan tidak membuang sampah dan limbah ke dalamnya.

Setiap Muslim wajib percaya kepada takdir Allah dan memilih yang terbaik darinya dalam rangka mewujudkan perubahan sosial yang konstruktif: “Allah tidak akan merubah apa yang terjadi pada suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang melakukan perubahan…” (QS al-Ra’d [13]: 11).

Mengimani takdir mengharuskan setiap Muslim untuk selalu menyeimbangkan antara pikir dan zikir, antara iman, ilmu, dan amal, usaha dan doa, sehingga mampu mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan di muka bumi Indonesia tercinta ini.
Oleh Muhbib Abdul Wahab
sumber : www.republika.co.id

Saturday, June 01, 2013

Rezeki yang Halal

Suatu hari, ketika Rasulullah SAW pulang ke rumah, beliau mendapat sebutir kurma di tempat tidurnya. Beliau pun bermaksud untuk memakannya. Namun, belum sempat merealisasikannya, beliau membuang kurma itu.
“Aku khawatir kurma itu adalah kurma sedekah (zakat), maka aku membuangnya.” (HR Bukhari/2431, dan Muslim/1070, dari Abu Hurairah RA).

Dalam riwayat lain, sebagaimana ditulis Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi RA dalam karyanya Fadha`il al-A’mal (Keutamaan Beramal) disebutkan, suatu ketika Rasulullah SAW tak bisa memejamkam matanya sepanjang malam.
Beliau tampak gelisah, dan selalu mengubah posisi tidurnya. Namun, hal itu tak juga membuat beliau tertidur. Aisyah RA, istri Rasulullah kemudian bertanya penyebab beliau kesulitan memejamkan matanya untuk tidur.
Rasul menjawab; “Tadi ada sebutir kurma yang diletakkan di suatu tempat. Karena khawatir kurma itu terbuang sia-sia, maka aku memakannya.''

Rasul melanjutkan, ''Sekarang aku merasa khawatir dan menyesal, karena mungkin kurma itu dikirimkan ke sini untuk disedekahkan kepada orang-orang miskin.” Rasul SAW bersabda: “Sesungguhnya sedekah itu halal bagi Muhammad dan keluarganya. (HR Muslim).

Saat ini, betapa banyak beredar makanan dan minuman yang tidak halal di sekitar kita. Kehalalan suatu makanan atau barang, bukan hanya zatnya saja, tapi juga dari cara mendapatkannya, mengolahnya, dan mengonsumsinya.

Ayam, misalnya, adalah hewan yang dihalalkan Allah SWT dan Rasul-Nya. Walau demikian, tidak serta merta ayam halal dikonsumsi. Pertama, apakah ayam yang telah dimasak, sudah disembelih dengan menyebut nama Allah?

Kedua, apakah proses pengolahannya dan bahan-bahannya juga dari sumber yang halal? Ketiga, apakah ketika akan dikonsumsi (dimakan) juga dilakukan dengan cara-cara yang sesuai ajaran Islam?

Kita sering menemukan makanan atau minuman yang dibiarkan begitu saja. Tidak diketahui siapa pemiliknya. Namun, karena begitu membutuhkannya (haus atau lapar), acapkali kita langsung mencicipinya tanpa sepengetahuan dari sang pemilik makanan atau minuman tersebut.
Hal seperti ini juga merupakan perbuatan yang tidak dihalalkan, karena perbuatan itu sama dengan mencuri.

Allah SWT dan Rasul-Nya sudah memperingatkan kita, untuk selalu berhati-hati dengan makanan yang tidak halal. Sebab, sekecil apapun makanan atau minuman yang dikonsumsi dan tidak jelas kehalalannya, hal itu dapat mencegah seseorang dari wanginya bau surga. (HR Muslim).

Ahmad bin Hanbal pernah ditanya, “Apa yang bisa melembutkan hati?” Beliau menjawab; “Makanan yang halal.” Makanan yang halal sangat memengaruhi corak dan isi hati seseorang. Jika tubuh manusia dibentuk dari sumber yang halal, maka hatinya akan berkembang penuh kelembutan. Sebaliknya, makanan dari sumber yang tidak halal, akan membuat hatinya keras dan mati.

Kita patut berhati-hati akan makanan dan minuman yang tidak halal. Rasulullah SAW menyampaikan; “Sungguh akan datang suatu masa, yaitu seseorang tidak lagi peduli darimana dia mendapatkan harta, apakah jalan halal atau haram.” (HR Bukhari). Wallahu a’lam.
Oleh Syahruddin El-Fikri

sumber : www.republika.co.id

Friday, May 31, 2013

Doa

Murah, mudah, tapi didengar oleh Allah. Itulah doa. Hanya kebanyakan manusia tidak terlatih untuk berdoa. Kapan manusia berdoa? Biasanya kalo sudah mentok.Sudah nggak ada jalan. Sudah nggak tahu harus berbuat apa. Sudah nggak paham mesti ke mana dan melakukan apa. Barulah mereka berdoa.

Karena itu, barangkali Allah menghadirkan kesulitan, kesusahan, penyakit. Di antara hikmah berdoa adalah Allah ingin mendengar suara perlunya kita sama Kuasa Allah, kebesaran-Nya, ampunan-Nya, dan Kasih Sayang-Nya. Yakni suara orang-orang yang benar-benar perlu dan membutuhkan Allah.

Dan sejatinya Allah menghadirkan masalah dan hajat supaya manusia terus terhubung dengan Allah. Perlu terus sama Allah. Nggak pernah putus.

Di dalam kehidupan sehari-hari, kita terlalu mengandalkan duit, harta benda, keluarga, kawan, jalan ikhtiar. Jarang mengandalkan doa. Padahal doa itu di atas semuanya. Betul kita tetap perlu akan harta, keluarga, kawan, dan lainnya.

Namun kiranya, doa harusnya menjadi yang utama dan pertama. Mengandalkan Allah di semua kebutuhan dan keperluan. Mengandalkan Allah dalam semua urusan. Sehingga, kita jadi perlu, penting, dan terbiasa dengan doa.

Seorang anak meminta bola sama ayahnya. Ayahnya mengenalkan anaknya kepada Allah. "Allah yang punya bola, sekaligus yang punya lapangannya, yang punya kaki semua yang main dan tidak main bola. Allah pula yang punya semua lapangan bola, di seluruh dunia ini," kata ayahnya. Ia pun mengajak anaknya berdoa. "Minta sama Allah ya... Nanti ayah temenin."

Diajaknya anak lelaki kesayangannya, ke rumah Allah, yakni masjid. Disuruh dan diajarkannya anak ini berdoa. Indah sekali. Kita bahkan tidak mengajarkan diri kita meminta sama Allah. Bagaimana bisa mengajarkan anak meminta sama Allah?

Besoknya, ayah dan anak ini pergi ke mal. Alhamdulillah, ada bola. Tapi mahal, dan duit untuk membeli bola tidak cukup. Diajaknya sang anak ke pasar tradisional. Alhamdulillah, bolanya nggak ada karena sudah habis.

Sang ayah lalu mengajak anaknya bersabar. Berdoa terus, meminta terus. Nanti Allah yang akan memberi, baik itu duitnya, kesempatannya, atau bolanya. Keajaiban doa datang. Keajaiban yang tidak bisa dibeli dengan duit, bahkan keajaiban ikhtiar.

Anak lelakinya ini terpilih masuk klub bola di sekolahnya. Semua biaya operasional ditanggung. Dia dapat seragam, dapat kaos kaki baru, dapat sepatu baru.
Dan nggak perlu membeli bola. Inilah keajaibannya. Ketika sang anak meminta satu barang, subhanallah, Allah malah memberinya satu paket.

Allah sudah berjanji. Allah akan memberi kepada siapa saja hamba-Nya yang mau berdoa, yang mau meminta. "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS al-Baqarah [2]: 186).

Nah, saudaraku semua, bagaimana dengan Anda? Mau mencoba kekuatan doa?
Oleh Ustaz Yusuf Mansur
sumber : www.republika.co.id

Thursday, May 30, 2013

Aktualisasi Isti'anah

Setiap manusia pasti membutuhkan pertolongan Allah SWT karena tiada daya dan upaya melainkan karena pertolongan-Nya. Hanya saja,  manusia terkadang takabbur  (sombong) sehingga kenikmatan, kekayaan, kesehatan, kekuasaan, dan kehormatan yang diperolehnya tidak disyukuri.

Malah dianggapnya sebagai kehebatan prestasi dirinya sendiri. Sikap sombong seperti ini tidak jarang melahirkan perbuatan melampaui batas.
   
"Sekali-kali, sungguh manusia itu  cenderung berbuat tirani (melampaui batas). [Karena] Ia melihat dirinya merasa cukup (tidak butuh pihak/orang lain)" (QS Al-'Alaq [96]: 6-7).

Fir'aun menjadi diktator, bahkan mengaku menjadi tuhan, juga karena kesombongannya. "[Hai Musa], datangi [dan dakwahilah] Fir'aun itu karena ia telah berlaku semena-mena (diktator) (QS Taha [20]: 24).
           
Oleh karena itu, setiap Muslim perlu mengembangkan sikap isti'anah. Kata isti'anah artinya merasa memerlukan dan selalu memohon pertolongan. Yang wajib dimintai pertolongan, tentu saja, adalah Allah SWT karena Dia Mahakaya, Mahakuasa, dan Mahasegalanya, bukan dukun, paranormal, eyang ini dan itu.

Sikap isti'anah disyari'atkan melalui pembacaan Al-Fatihah dalam setiap raka'at shalat. "Hanya kepada-Mu kami beribadah; dan hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan."  (QS Al-Fatihah [1]: 5).
           
Hal tersebut menunjukkan shalat mendidik kita agar tidak menjadi sombong. Lebih-lebih, ritualitas shalat dimulai dengan ucapan Allahu Akbar, Allah itu Mahabesar.

Sikap hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan itu mencerahkan kecerdasan spiritual kita ketika misalnya meminta pertolongan kepada sesama, kita meyakini sepenuh hati tanpa pertolongan Allah, orang yang kita mintai pertolongan pasti tidak dapat menolong kita.

Demikian pula, dengan segala kerendahan hati dan sikap isti'anah, kita tidak mungkin dapat menolong sesama tanpa pertolongan Allah SWT.
           
Isti'anah kepada Allah sangat penting diteguhkan dalam hati setiap Muslim karena banyak hal dalam hidup ini yang berada di luar  jangkauan  akal pikiran manusia.

Ketika sakit, kita biasanya meminta pertolongan dokter. Dokter menolong kita sebatas ilmu kedokteran yang dimilikinya; namun Allah-lah yang pada akhirnya memberikan kesembuhan kepada kita.

Karena sikap isti'anah, kita tidak hanya berharap kepada sang dokter agar diberi kemampuan oleh Allah untuk dapat membantu mengangkat penyakit kita, melainkan juga berdoa kepada Allah agar memberi kesembuhan kepada kita.
   
Isti'anah dalam ayat kelima surat Al-Fatihah tersebut, menurut mufassir Muhammad Ali Ash-Shabuni, tidak dapat dipisahkan dari kalimat sebelumnya: "Hanya kepada-Mu kami beribadah (menghambakan diri).

Artinya, kita memohon pertolongan hanya kepada Allah agar tetap menjalankan ibadah, patuh, dan taat kepada-Nya, sehingga Allah pun pasti memberi pertolongan kepada kita.

Firman Allah: "Hai orang-orang yang beriman, jika engkau menolong Allah, Allah pun pasti akan menolong kalian, dan meneguhkan pendirian [iman] kalian." (QS Muhammad [47]: 7).
   
Dengan demikian, isti'anah kepada Allah dapat membentuk pribadi Muslim yang  antikemusyrikan, antipenghambaan kepada sesama,  sekaligus menghindarkan diri dari  dosa besar yang tak terampuni.

Betapa banyak orang salah alamat dalam meminta pertolongan. Untuk mendapat rezeki yang lancar, kecantikan yang dapat memikat hati, dan kekuasaan yang tidak mudah digoyang,  tidak sedikit orang mendatangi dukun atau paranormal agar diberi jimat, pasang susuk emas, dan sebagainya.

Aktualisasi isti'anah tersebut sangat penting dimanifestasikan dalam hidup ini dengan senantiasa menyeimbangkan dan memperkokoh iman, ilmu, dan amal sekaligus membudayakan fikir dan zikir secara cerdas dan ikhlas.

Karena itu, setiap Muslim yang melaksanakan shalat diwajibkan memohon petunjuk jalan yang lurus (benar) (QS. Al-Fatihah [1]: 6), sebagai tindak lanjut dari memohon pertolongan kepada Allah.

Pada saat yang sama, setiap Muslim pun dituntut untuk saling tolong menolong dalam rangka terwujudnya kebajikan dan takwa (QS Al-Maidah [5]: 2).  Nabi SAW juga menegaskan:  "Allah senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba mau menolong sesamanya." (HR Muslim).
  
Oleh karena itu, ketika hendak mendatangi Fir'aun itu, Nabi Musa As. meminta pertolongan kepada Allah agar diberi kelapangan dada, kemudahan dalam penyelesaian urusan, kefasihan dalam berkomunikasi, dan keikutsertaan saudaranya, Nabi Harun As, (QS Thaha [20]: 25-29) dalam menjalankan misinya yang amat berat itu.

Permohonan itu diajukan oleh Nabi Musa As. supaya dengan sikap isti'anah itu ia dan saudaranya  dapat selalu bertasbih dan berzikir hanya kepada Allah (QS Thaha [20]: 33-34).
Oleh Muhbib Abdul Wahab
 
          

sumber : www.republika.co.id

Wednesday, May 29, 2013

Kebun Abu Thalhah

Suatu hari, Abu Thalhah ra asyik bekerja di kebunnya. Saking asyik berkebun, ia tak menyadari matahari sudah di ujung pepohonan atau hampir terbenam. Mengetahui hal itu, pacul dan berbagai perlengkapan pertanian segera ia singkirkan.

Buru-buru ia pergi ke masjid untuk menunaikan shalat ashar. Beruntung ia masih bisa shalat ashar meski sangat mepet, sudah di ujung waktu.

Seusai shalat, ia lari menemui Rasulullah saw sambil menangis tersedu-sedu. Ia mengadu kepada Rasulullah saw.
“Binasa Abu Thalhah, wahai Rasul Allah. Gara-gara berkebun, aku hampir tak bisa shalat ashar, kecuali saat matahari sudah terbenam. Karena itu, kebun tersebut dan segala isinya aku sedekahkan untuk Allah.” (Sayr A`lam al-Nubala', Abu Thalhah).

Abu Thalhah ra dikenal sebagai salah seorang sahabat Rasulullah yang sangat mulia dan dermawan. Apa yang diperlihatkannya dalam kisah di atas, memberikan inspirasi dan teladan berharga bagi kita semua.

Setidaknya, ada empat hal yang layak diteladani dari sikapnya yang menyedekahkan kebun karena hal itu telah melalaikannya dari mengingat Allah SWT.

Pertama, kemampuan membuat dan memahami skala prioritas (fiqh al-awlawiyat). Orang mukmin, seperti ditunjukkan Abu Thalhah, mesti tahu hal yang sangat penting (al-aham), lalu yang agak penting (tsumm al-aham), dan seterusnya.
Bekerja, seperti berbisnis dan berkebun tidak dilarang, bahkan diperintahkan. Akan tetapi, ketika waktu shalat tiba, hal pokok yang mesti dilakukan adalah shalat. “Ash-Shalat-u `alaa waqti-ha,” (shalat tepat pada waktunya), demikian pesan Nabi saw.

Kedua, kemampuan menjaga dan memelihara shalat. Dalam Alquran, seperti diketahui, perintah shalat dikemukakan dengan beberapa istilah. Di antaranya dengan kata mendirikan (iqamat al-shalah), menjaga dan memelihara (muhafazhah), melakukan dan mengerjakan secara kontinu (mudawamah).

Dan puncaknya ialah khusyuk dalam shalat (QS al-Mu`minun [23]: 2). Karena itu, tak seorang pun boleh bermain-main dengan shalat, kecuali diancam Neraka Wail. (QS al-Ma`un [107]: 4-7).

Ketiga, kemampuan melakukan evaluasi diri, sehingga diketahui dan disadari keterbatasan dan kelemahan diri (taqshir). Abu Thalhah sadar betul ibadah shalat harus dilakukan dengan semangat maksimal, bukan minimal.

Itu sebabanya, kesadarannya tentang adanya kekurangan dan  ketidaksempurnaan dalam shalat, membuatnya harus menambal dengan kebaikan lain, yaitu memberikan kebun terbaiknya untuk Allah SWT.

Keempat, kemampuan melatih dan mendidik diri sendiri. Abu Thalhah tak hanya menyesal dan menangis atas hilangnya kesempatan, tetapi ia mampu membuka peluang baru dan melipatgandakannya menjadi kebaikan yang lebih besar. Ini merupakan pendidikan diri yang tak hanya inovatif, juga inspiratif. Wallahu a`lam.
Oleh A Ilyas Ismail

sumber : www.republika.co.id

Tuesday, May 28, 2013

Keagungan Bismillah

Setiap Muslim pasti pernah membaca bismillah atau bismillahirrahmanirrahim. Selain menjadi bacaan rutin atau harian, bismillah juga merupakan bacaan mulia yang didesain Allah SWT sebagai bacaan pembuka semua surat dalam Alquran kecuali surat at-Taubah atau al-Bar’ah.

Membaca bismillah memang diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika kita hendak memulai aktivitas yang baik. Sabda Nabi, "Segala sesuatu (aktivitas yang baik) yang tidak dimulai dengan bismillah, akan terputus (nilai keberkahannya)". (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Dengan kata lain, kunci kebaikan dan pangkal keberkahan dalam meraih cita-cita mulia adalah membaca bismillah.

Bismillah bukan sekadar bacaan pembuka, tetapi merupakan zikir hati yang dapat memancarkan cahaya keagungan Sang Pencipta.

Menurut Bediuzzaman Said Nursi dalam karya monumentalnya, Rasail an-Nur, bismillah itu bacaan yang supermulia sehingga Allah SWT memilihnya sebagai bacaan pembuka bagi Kitab Suci-Nya, Alquran. Menurutnya, bismillah memiliki tiga keagungan yang indah dan perlu dimaknai oleh setiap Muslim.

Pertama, keagungan uluhiyyah (ketuhanan). Semua makhluk bersandar, bergantung, dan memerlukan pertolongan-Nya. Menyebut "Dengan nama Allah yang Mahapengasih Mahapenyayang" berarti meyakini sepenuh hati, Allah SWT adalah sumber kehidupan, poros kebajikan, tujuan pengabdian, dan muara segala nilai keberkahan.

Bismillah memberikan motivasi dan spirit ketuhanan untuk 'menghadirkan' dan 'mengikutsertakan' Tuhan dalam kehidupan kita. Bismillah adalah gerbang menuju keikhlasan dan harapan mulia, yaitu meraih mardhatillah (ridha Allah).

Membiasakan membaca bismillah sama dengan belajar untuk tidak melupakan Allah. Sebab lupa kepada Allah merupakan penyakit hati yang dapat menyebabkan kefasikan dan hilangnya keberkahan hidup ini.

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS Al-Hasyr [59]: 19).

Kedua, keagungan rahmaniyyah (kasih). Melafalkan bismillah merupakan doa bagi Muslim untuk memperoleh kasih-Nya yang tak terbatas. Bismillah  menjadi pintu tercurahnya rahmat Allah dalam menggapai kebahagiaan hidup ini.

"Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka Aku akan tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami." (QS Al-A'raf [7]: 156).

Ketiga, keagungan rahimiyyah (kasih sayang). Jika kasih Allah diberikan kepada semua makhluk-Nya, kasih sayang-Nya hanya diberikan kepada Muslim, terutama di akhirat kelak.

Bismillah menumbuhkan keyakinan kasih sayang Allah itu mengatasi segalanya, sehingga hanya Allah-lah yang akan memberi ampunan dan pertolongan pada hari perhitungan (yaumul hisab) nanti.
Dengan bismillah, Muslim diingatkan agar selalu beristighfar kepada-Nya karena Allah Mahapengampun dan Mahapenyayang.

Keagungan bismillah tidak hanya karena ia merupakan salah satu ayat dari surat Alfatihah, tapi juga induk Alquran itu sendiri.

Dari Abu Hurairah ra Nabi Muhammad saw bersabda: “Jika kamu membaca Alhamdulillah, maka bacalah Bismillahirrahmanirrrahim, karena ia adalah ummul Quran (induk Alquran) dan Assab’ul matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang atau Alfatihah), sedangkan bismillah itu termasuk salah satu ayatnya.” (HR Addaruqutni).
Bismillah termasuk etika (adab) spiritual untuk 'menyapa' dan mengakrabkan diri dengan Allah SWT.

Keagungan bismillah  juga tercermin dari esensi al-Asma’ al-Husna (ar-Rahman ar-Rahim) yang terkandung di dalamnya. Bahkan dua nama dan sifat utama Allah ini sesungguhnya merupakan intisari dari al-Qur’an.

Dalam buku Kanzul ‘Ummal fi Sunan al-Aqwal wal Af’al  karya ‘Ala’uddin al-Muttaqi dinyatakan  “Semua kitab suci yang pernah diturunkan oleh Allah itu (esensinya) ada dalam Alquran.

Semua yang ada dalam Alquran itu ada dalam surat al-Fatihah. Sedangkan semua yang ada dalam al-Fatihah itu ada dalam bismillah.”

Oleh karena itu, kita harus selalu membaca bismillah dalam memulai segala sesuatu yang positif agar aktivitas  kita bernilai ibadah dan mendapatkan berkah.

Kita pun harus yakin aktivitas yang didahului dengan bismillah  dapat mendatangkan kebaikan dan kemuliaan; sebaliknya bismillah dapat menjauhkan kita dari kesia-siaan dan boleh jadi kemaksiatan.
Oleh Muhbib Abdul Wahab


sumber : www.republika.co.id

Monday, May 27, 2013

Terlena dengan Kekayaan

Abdullah bin Ma’lam bertutur: “Ketika kami berhaji dan keluar dari Madinah, tiba-tiba kami bersua dengan seseorang dari suku Bani Hasyim dari Bani Abbas bin Abdul Muthallib. Ia menolak dunia dan fokus sepenuhnya untuk akhirat. Kemudian aku dan ia disatukan dalam suatu perjalanan, dan aku merasa nyaman bersamanya.”

Abdullah menyapanya. “Apakah Anda bisa naik kendaraan bersama saya? Kebetulan saya ada tempat lebih.” Orang itu pun menjawab; “jazakallah khaira” (semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan) pada saya.”

Setelah merasa nyaman bersama saya, ia bercerita. “Saya adalah keturunan dari Bani Abbas. Dulu saya tinggal di Basrah, mempunyai kemuliaan, kenikmatan, kekayaan yang melimpah, dan kemewahan hidup.''

Ia melanjutkan, ''Suatu hari saya menyuruh pelayan agar mengisi kasur dan bantal dengan bahan sutera, yang dihiasi pula dengan taburan bunga mawar. Pelayan pun melakukan apa yang kutitahkan,” ujarnya.

Begitu saya hendak tidur, ternyata ada cerocok bunga mawar yang tertinggal karena pelayan lupa merapikannya. Saya pun menderanya dengan sejumlah pukulan. Setelah cerocok itu dikeluarkan dari bantal, saya balik lagi ke tempat tidur.

Dalam tidur, saya bermimpi didatangi seseorang yang buruk rupa, seraya berkata; ‘Sadarlah dari pingsanmu, dan bangkitlah dari tidur lelapmu.’

Lantas dia menembangkan puisi: “Hai teman spesial, kini kau berbantalkan yang halus dan empuk. Namun setelah ini, kau beralaskan batu cadas yang keras. Maka bentangkan amal saleh untuk dirimu, sehingga kau bahagia. Jika tidak, esok engkau akan menyesal.”

Kemudian aku bangun dan terjaga, dengan dihantui kecemasan. Lalu aku keluar saat itu juga, dan lari menuju Rabb-ku.”
Medium atau sebab untuk meraih kesadaran dan pertobatan memang amat beragam. Misalnya, seseorang baru sadar jika ditimpa penyakit akut lalu sembuh, mengalami kecelakaan maut lantas selamat, bertemu dengan seseorang yang piawai dalam menyentuh tali jiwanya, karena perjalanan usia, atau lantaran mimpi— seperti tersimbul dari narasi di atas.

Terkadang, sebab itu datang sendiri menyelinap ke dalam hati seseorang yang dikehendaki Allah. (QS al-Qashash: 56). Maka berbahagialah mereka yang bisa mereguk kesadaran ini sebelum ajal tiba.

Memunculkan kesadaran akan Allah dan akhirat, hakikatnya memang hak prerogatif Allah. Di samping ia juga merupakan medan mujahadah seseorang. Beragam ujian seringkali menjadi dinding tebal untuk sampai kepadanya.

Selain kemiskinan, kekayaan juga merupakan perangkap yang kerap meninabobokan seseorang sehingga mereka terlena dalam kemaksiatan.

Ketika banyak orang dan tokoh high class terperosok dalam jurang kemaksiatan, seraya melupakan Allah dan Hari Akhir— seperti ramai diberitakan,—gambaran di atas mengajarkan hal penting.

Bagaimana keturunan Bani Hasyim yang berada dalam gemerlapnya kekayaan ini telah mengambil keputusan yang amat menentukan perjalanan hidupnya.

Hal ini jelas tak mudah, karena orang yang tidur itu tak sadar jika dirinya bermimpi, kecuali sudah bangun. Demikian pula orang yang lalai terhadap akhirat; ia tidak menyadari akan apa yang sudah disia-siakan kecuali setelah kematian menjemputnya.
Oleh Makmun Nawawi

sumber : www.republika.co.id

Sunday, May 26, 2013

Darurat Alquran

Negeri Indonesia, banyak daruratnya. Darurat pangan, darurat UN, darurat miras, darurat korupsi. Dan, masih banyak lagi sebutan daruratnya, termasuk darurat zina.

Saya pribadi bukan ahli bahasa, yang bisa memosisikan makna tepatnya. Tapi saya bisa mengerti atau mencoba mengerti. Maksudnya, Indonesia sudah sampai pada tahapan bahaya ini dan itu. Krisis. Maka itu disebut darurat.

Walau saya lebih kepengen disebut Indonesia sebagai Darurat Al Qur'an. Positif aura nya. Negeri yang membutuhkan Al Qur'an. Atau negeri yang banyak pembaca Qur'annya. Memang muslimnya banyak sekali.

Yang jika semua muslim di Indonesia membaca Qur'an, itu berarti Indonesia adalah negeri yang terbanyak penduduknya yang membaca Qur'an.

Demikian juga terkandung makna, negeri yang banyak penghafal Qur'annya, dan pelaku-pelaku Qur'annya (pengamal Qur'an). Ya, Darurat Qur'an, lebih saya sukai.

Juga Negeri Darurat Doa. Terkandung makna serupa dengan al Qur'an, tapi di urusan doa. Bayangkan, jika semua penduduk negeri berdoa? Negeri mana yang sebanyak Indonesia pemeluk agamanya? Khususnya muslimnya? Maasya Allah.

Ini kekuatan lain dari kekuatan yang diberikan oleh Indonesia. Jika Indonesia, penduduknya berdoa, Allahu akbar, itu berarti 200 juta lebih, bahkan mendekati 300 juta, yang berdoa kepada Allah.

Bila doa dilantunkan pagi, siang, sore dan malam atau minimal lima kali sehari sehabis shalat fardhu? Ini melebihi kekuatan alam, kekuatan senjata, dan bahkan kekuatan nuklir. Sebab kekuatan doa adalah kekuatan Allah.

Saya pun lebih suka memakai kalimat Darurat Sedekah. Dengan pemaknaan serupa dengan Darurat Qur'an dan Darurat Doa. Belum lagi saya dan banyak pebisnis di Indonesia lagi sungguh-sungguh mendorong sebanyak-banyaknya rakyat untuk berdagang, berusaha, berbisnis.

Sehingga lebih baik kita menyebut Indonesia yang kita cintai ini dengan Negeri Darurat Pengusaha. Menggambarkan juga harapan, agar di Indonesia lebih banyak lagi hadir pengusaha yang lebih banyak untuk menggerakkan.

Pilihan di tangan kita sekarang ini, sebagai insan-insan Indonesia, yang mengukir sejarah Indonesia hari ini, dan esok, serta Indonesia masa depan. Mau darurat yang sifat dan auranya negatif? Atau yang positif.

Namun kiranya, fakta-fakta di lapangan juga seringkali memaksa para the winner, yang berpikiran positif, sedikit berkernyit. Sungguh, kita kepengen melawan segala sebutan the loser dengan hal-hal the winner. Tapi maasya Allah, tabaarakallaah, semoga Allah mengampuni negeri ini.

Ada seorang istri, yang mengadu suaminya selingkuh. Bukan dengan sembarang selingkuh. Ini suaminya selingkuh dengan sesama dosen, di perguruan tinggi tempat yang sama dengan suaminya mengajar. Dan dosen itu laki-laki! Ya, ini darurat lain lagi. Darurat Homo. Lebih daripada zina. Yaaa Allah. Pengen nangis rasanya.

Dan barusan, saat saya menulis ini, saya baru saja kembali dari kediaman seorang sahabat yang baru saja menerima kehadiran seorang bayi. Namanya Rafa. Bayi tiga hari yang digeletakkan begitu saja, di depan pintunya, di malam hari raya.

Yaaa Allah. Jangan sampai Engkau menyebut negeri ini Darurat Dosa dan Maksiat. Ampuni kami yaa Rabb. Jangan sampai juga Engkau menjadikan negeri kami, negeri Darurat Neraka. Jadikanlah sebaik-baik sebutan untuk negeri kami ini.
Oleh : Ustaz Yusuf Mansur


sumber : www.republika.co.id

Saturday, May 25, 2013

Menjadi Pribadi yang Lembut

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka…” (Qs Ali Imran 159)

Kata kunci dari surah Ali Imran ayat 159 di atas ialah ‘rahmat’ Allah. Rahmat yang secara etimologi berarti kasih sayang Allah, meliputi segala yang ada di langit dan bumi. Dengan rahmatNya, Allah menciptakan bumi dengan segala isinya untuk khaliifah fil ardh dan untuk semua makhluk yang mendiami bumi.

Jika bukan dengan rahmatNya tersebut, kita takkan pernah bisa bertahan di bumi dalam kondisi yang kosong tanpa isi. Dengan rahmatNya pula, Dia mengirimkan seorang Nabi, pembawa risalah suci, pengubah jahiliyah menjadi islami, dengan segala kesabaran dan keteguhan hati yang ia miliki, Rasulullah Saw yang perjalanan dakwahnya yang diawali dengan jalan terjal berupa penolakan dan cacian, tak lantas membuat Al-Amiin ini berputus asa dari rahmatNya.

Bersabar selama puluhan tahun di Makkah dan belasan tahun di Madinah, membuat perjalanan dakwah yang sebelumnya dihujani penolakan bahkan usaha untuk membunuh beliau, berangsur-angsur berbuah manis. Tak heran jika Michael H Hart dalam bukunya The 100 a Ranking of The Most Persons in History menilai Nabi Muhammad sebagai tokoh yang paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia.

Menurut Hart, Muhammad adalah satu-satunya orang yang berhasil meraih keberhasilan luar biasa baik dalam hal sprititual dan kemasyarakatan. Hart mencatat bahwa Muhammad mampu mengelola bangsa yang awalnya egois, barbar, terbelakang, terpecah belah oleh sentiment kesukuan menjadi bangsa yang maju dalam bidang ekonomi, kebudayaan, dan kemiliteran, bahkan sanggup mengalahkan pasukan romawi yang saat itu merupakan kekuatan militer terdepan di dunia dalam pertempuran.


Semua hal di atas bukan disebabkan Nabi Muhammad kuat secara ekonomi, yang kita tahu Nabi Muhammad hidup sebagai seorang yang paing sederhana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits manakala beliau tidak menemukan makanan, maka hari itu beliau ikhlas berpuasa karena Allah. Bukan juga kekuatan secara fisik semata. Namun, kekuatan itu bersumber dari kelembutan hati beliau sebagai bukti rahmat Allah yang dianugerahkan kepadanya.

Lanjutan Qs Ali Imran di atas, seandainya saja Rasulullah berlaku keras lagi kasar, maka tentulah orang-orang kafir akan menjauh dari beliau dan tentu saja, amanat Allah untuk menjadikan islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam, tidak akan pernah berhasil. Tentang kekerasan, Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah mengutusku bukan untuk melakukan kekerasan, tapi untuk mengajar dan memberikan kemudahan,” (HR Ahmad) atau dalam hadits lain, “Sesungguhnya Allah Maha Lemah Lembut.

Melalui kasih sayang Allah akan banyak mendatangkan hal positif, tidak seperti halnya kekerasan,” (HR Muslim) Ada contoh sederhana dan semoga kita dapat belajar dari teguran Rasulullah untuk Aisyah.

Suatu hari, beberapa orang yahudi bertandang ke kediaman Rasulullah, lalu mereka mengucapkan salam namun diplesetkan menjadi “Assamu ‘Alaikum,”, maka, dengan geram Aisyah menjawab, “Alaikum wa La’anakumullah wa Ghadiballahu Alaikum) yang artinya semoga laknat dan murka Allah menimpa kalian. Lalu, Rasulullah Saw pun menegur, “Berlaku lemah lembutlah wahai Aisyah, janganlah berkata keras lagi kasar,” (HR Bukhari)
Oleh Inna Itt

sumber : www.republika.co.id

Friday, May 24, 2013

Beginilah Cara Alquran Memberangus Miras

Untuk kesekian kalinya, publik kembali digemparkan dengan berita para pesohor yang terjerat kasus narkoba. Negeri ini sepertinya sudah menjadi surga bagi peredaran barang haram yang satu ini. Penggunanya merata di semua kalangan, tidak pandang bulu.

Artis, selebritis, politisi, pejabat, preman dan tentunya generasi muda sebagai kelompok yang  paling terancam. Tidak salah jika masalah narkoba dan sejenisnya menjadi musuh kedua terbesar bangsa ini setelah korupsi. Keduanya sama-sama merusak moral dan tatanan kehidupan berbangsa.

Keharaman Narkoba diserupakan dengan keharaman khamar (miras), karena kedua-duanya memiliki ‘illat yang sama yaitu memabukkan dan dapat menutupi akal orang yang mengkonsumsinya. Selain itu, Narkoba juga merupakan makanan yang buruk yang diharamkan Allah dalam firman-Nya, “… dan Dia menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan segala yang buruk…” (Q.S. Al A’raf: 157)

Untuk memberantas peredaran dan penggunaan Narkoba di Indonesia, bangsa ini sudah selayaknya belajar dari Alquran. Bagaimana Alquran yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. 14 abad yang lalu mampu membebaskan ummat dari budaya miras yang sudah menggurita.

Konon, orang-orang Arab terbiasa minum khamar seperti layaknya kita minum air biasa. Sudah begitu mendarah dagingnya kebiasaan buruk ini. Namun hanya dalam tempo hitungan tahun, Alquran berhasil menyelesaikan problem sosial yang mengancam kehidupan ini.

Menurut Muhammad Ali As Shabuni  dalam At Tibyan fi ‘Ulumil Quran, Allah Swt  tidak mengharamkan khamar secara sekaligus. Namun pengharaman ini berlangsung secara tadarruj (bertahap). Ada empat tahapan ayat-ayat yang Allah turunkan terkait dengan pengharaman khamar ini.

Ayat pertama, firman Allah, “Dan dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti.” (Q.S. An Nahl : 67).

Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan nikmatnya kepada manusia melalui dua pohon; kurma dan anggur. Namun ada manusia yang menjadikan buahnya untuk sesuatu yang buruk, yaitu membuat minuman yang memabukan. Dan ada yang menjadikannya wasilah mendapat rezeki yang baik. Bagi orang yang berakal yang melihat ayat (tanda kebesaran Allah) tentu akan menghindari tipe pertama.

Kemudian turun ayat kedua, “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar dari manfaatnya.” (QS. Al Baqarah : 219)

Ayat ini jelas menyebutkan adanya unsur dosa dalam khamar. Walaupun ayat ini belum menegaskan keharamannya. Namun bagi orang yang menjaga kesucian diri, tentunya akan memilih menghindari setiap perbuatan yang menyeretnya pada lembah dosa.

Ayat yang ketiga QS. An Nisa : 43, “Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati shalat, ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai sadar apa yang kamu katakan…” Ayat ini mengharamkan khamar pada sebagian waktu saja, yaitu pada waktu-waktu shalat. Namun demikian, bagi orang yang menjaga shalatnya tentu sudah tidak ada waktu lagi untuk bersantai menyia-nyiakan waktu bersama barang haram ini.

Adapun ayat keempat yang merupakan tahap pengharaman secara mutlak yaitu; QS. Al Maidah : 90. “Wahai orang-orang yang beriman ! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.”

Ketika ayat ini turun, sontak Madinah saat itu banjir khamar, karena kaum muslimin bergegas memenuhi seruan Ilahi ini dengan membuang semua persediaan khamar yang ada. Sebuah keta’atan yang tidak akan terjadi pada undang-undang dan peraturan manapun di dunia ini. Sebab undang-undang Allah direspon dan dicerna dengan aqidah dan keimanan.  

Dari tahapan-tahapan ayat pengharaman khamar ini, kita bisa mempelajari kiat dan cara menjauhi narkoba, miras dan sejenisnya. Pertama dengan meningkatkan keimanan melalui pembacaan ayat-ayat Allah.

Kedua, selalu berusaha menghindari perbuatan-perbuatan dosa. Sebab dosa ibarat siklus; yang satu dan lainnya saling terkait dan terhubung, satu dosa akan menghadirkan dosa lainnya, dan begitu seterusnya.

Ketiga membentengi diri dengan shalat, sebab shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Keempat, berlindung diri dari godaan setan dan menjauhi tipu dayanya.

Wallahu a’lam bishawab!               
Oleh Imanuddin Kamil Lc

sumber : www.republika.co.id

Thursday, May 23, 2013

Manusia yang Akan Mendapat Laknat Allah SWT

Tujuan diutusnya para rasul ke dunia adalah agar umat manusia mengetahui hakikat kehidupan dunia dan mampu menghindari keburukan-keburukan yang ditimbulkan oleh ketidakmengertian dan hawa nafsu.

Akibat kebodohan dan hawa nafsu, manusia akan mendapatkan kehinaan, siksa, dan malapetaka. Padahal sesungguhnya manusia diciptakan di dunia adalah untuk beribadah dan menjadi khalifah, panutan, dan pemimpin yang baik di muka bumi ini.

Maka, sangat merugi golongan orang-orang yang kafir dan ingkar terhadap Allah. Di antara golongan yang merugi itu adalah orang-orang yang membunuh saudara sebagian mereka, mengusir golongan dari mereka dari kampung halaman mereka, saling bantu-membantu dengan berbuat dosa dan permusuhan, mereka pun beriman kepada sebagian al-kitab (Taurat) dan kufur terhadap sebagian yang lain (QS Al-Baqarah: 85).

Golongan lain adalah orang-orang yang murtad dari agamanya, memusuhi Islam semasa hidupnya dan mati dalam keadaan kafir (QS Al-Baqarah: 217), orang yang menghalangi menyebut nama Allah SWT dalam masjid dan berusaha merobohkannya (QS Al-Baqarah: 114), orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah SWT, yang membunuh para nabi tanpa hak  (QS Ali Imron: 22 dan 56), membuat kerusakan di bumi (QS Al-Maidah: 33), orang-orang Yahudi yang pendusta (QS Al-Maidah: 41), serta orang-orang malas mengerjakan shalat dan mengeluarkan zakat (QS At-Taubah: 54-55).

Selain itu, golongan lain yang akan mendapatkan laknat dunia adalah orang-orang munafik dan kafir yang menggunakan kekuasaannya secara batil (QS At-Taubah: 69), orang-orang munafik (QS At-Taubah: 74), tidak mau berjihad di jalan Allah (QS At-Taubah: 8-85), serta penduduk suatu negeri yang tidak beriman kepada nabi mereka dan mereka tidak mendapatkan keimanan apabila mereka beriman, seperti kaum Yunus (QS Yunus: 98).

Begitu pula golongan orang yang suka membantah tentang Allah SWT tanpa ilmu pengetahuan dan yang menyembah Allah SWT dengan tidak penuh keyakinan. Mereka juga seperti golongan orang-orang yang suka berita-berita kekejian dan menyebarluarkan di kalangan orang-orang beriman (QS An-Nur: 19), orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik melakukan perzinaan (QS an-Nur: 23), orang-orang yang menyakiti Allah SWT dan rasul-Nya (QS Al-Ahzab: 57), orang-orang dzalim yang mendustai para rasul sepanjang masa (QS Az-Zumar: 25-26), kaum Ad yang sombong di muka bumi dengan mengatakan, “Siapa yang paling kuat daripada kami?” mereka juga kufur terhadap ayat-ayat Allah SWT (QS Fushilat: 15) dan orang-orang Yahudi Bani Nadzir yang diusir oleh Rasulullah dan orang-orang Islam dari kota Madinah Al-Munawaroh karena pengkhianatan dan permusuhan mereka (QS Al-Hasyr: 2-3).

Merekalah golongan-golongan yang terancam dengan laknat dunia dan akhirat akibat kelalaian dan kekafiran mereka. Rasulullah sesungguhnya telah mengajarkan dan menuntun kepada syariat yang benar. Telah ada pada diri Rasulullah uswatun hasanah (teladan yang baik). Maka, sudah sepatutnya kita menjalankan syariat Allah SWT dan hendaknya jangan melakukan perbuatan kafir dan khianat seperti golongan orang-orang yang merugi tersebut.

Pengasuh PP. Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan
Oleh KH Muhammad Dawam Saleh

sumber : www.republika.co.id

Wednesday, May 22, 2013

Berjamaah Dalam Muamalah

Salah satu perintah utama ajaran Islam pada umatnya adalah agar membiasakan berjamaah dalam segala aktivitas kebaikan.Baik aktivitas yang berkaitan dengan ibadah mahdhah kepada Allah SWT maupun ibadah yang terkait dengan pembangunan kesejahteraan masyarakat dan bangsa, serta umat manusia secara luas (muamalah).

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk
.” (QS al-Baqarah [2]: 43). “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS al-Maidah [5]: 2).

Shalat berjamaah di masjid sebagai contoh, selain pahalanya lebih besar 27 kali lipat dibanding shalat sendirian, juga akan membangun silaturahim dan ukhuwah Islamiyah antara sesama orang yang shalat.

Akhirnya, diharapkan akan menguatkan kesatuan dan persatuan. Bahkan, pada zaman Rasulullah, shalat berjamaah dijadikan sebagai medium kontrol terhadap perilaku dan keadaan sahabat-sahabat beliau.

Apabila beliau selesai mengimami shalat Subuh, beliau memalingkan tubuh dan wajahnya ke arah jamaah sambil menanyakan apakah sahabatnya lengkap hadir atau tidak.

Jika ada yang tidak hadir, ditelusurinya mengapa sampai tidak hadir. Yang sangat mengesankan, berjamaah ibadah di zaman Rasulullah dan para sahabat melahirkan semangat berjamaah dalam bidang muamalah.

Misalnya, bidang ekonomi, politik, kepemimpinan, dan pengentasan kemiskinan, serta peningkatan kesejahteraan. Jamaah masjid pada saat itu menjadi jamaah dalam bidang ekonomi.

Para jamaah akan membeli keperluan hidupnya hanya pada kios dagangan yang dimiliki oleh sesama jamaah. Akibatnya, perdagangan dan ekonomi umat berjalan secara baik dengan berbasiskan jamaah masjid.

Artinya, berbasiskan nilai-nilai keimanan, ketakwaan, amanah, dan kejujuran, serta tidak ada khianat dan terjadi penipuan.

Terkenallah ucapan beliau, seperti dikemukakan dalam hadis sahih, “Nahnu qoumun, laa na’kulu illaa tho’aama taqiyyin, walaa ya’kulu tho’aamanaa illaa taqiyyun” (Kami adalah kaum yang tidak pernah mengonsumsi, kecuali dari makanan orang takwa, dan tidak mengonsumsi makanan kita, kecuali orang yang bertakwa). Oleh sebab itu, jelas terdapat garis ketakwaan yang menghubungkan antara produsen dan konsumen.

Seyogyanya, jamaah masjid sekarang pun menjadi jamaah ekonomi umat. Tidak akan pernah jamaah bertransaksi pada perbankan, kecuali perbankan syariah atau lembaga keuangan syariah lainnya, seperti asuransi syariah atau pegadaian syariah.

Tidak akan pernah jamaah mengonsumsi makanan, kecuali makanan yang bersih dan halal yang diproduksi oleh sesama kaum muslimin.

Hubungan antarjamaah kaum Muslimin selain dibangun atas dasar kesamaan akidah dan ibadah, juga kesamaan dalam bidang muamalah.

Dan, jika ini yang terjadi, akan lahir kekuatan umat yang mampu berkontribusi di dalam pembangunan bangsa secara lebih luas. Karena itu, mari kita kuatkan berjamaah dalam ibadah dan dalam bidang muamalah.
Oleh: KH Didin Hafidhuddin

sumber : www.republika.co.id