-

Wednesday, October 05, 2011

Wow! 1.000 Mojang Naik Moge Siap Catatkan Rekor MURI


Bandung - Sebanyak 1.000 mojang cantik asal Kota Bandung bakal mencatatkan rekor MURI dalam kegiatan Bandung Bike Week (BBW) 2011. Para wanita itu nantinya siap menungggangi 1.000 motor gede (moge) atau motor besar.

Kegiatan tersebut digagas Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Bandung. Pencatatan rekor MURI ini merupakan bagian dari even BBW 2011 bertajuk 'Beauty and the Bike' pada 14 Oktober hingga 15 Oktober mendatang di Jalan Diponegoro, Kota Bandung.

"Konten utama kegiatan ini ialah pencatatan rekor MURI yakni seribu wanita atau mojang Bandung naik di atas seribu motor besar. Atau pencatatan jumlah wanita terbanyak di atas motor besar," jelas Ketua HDCI Bandung Jonni BS Nugroho dalam jumpa pers BBW 2011 di Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Minggu (2/10/2011).

Jonni menerangkan, 1.000 motor besar yang bakal diparkirkan di kawasan sepanjang Gasibu itu berasal dari peserta kegiatan dan para pengunjung. Hingga siang tadi, kata Jonni, tercatat 732 motor besar sudah siap ikut gabung.

Menurut Jonni, pemilik motor itu terdiri dari milik 28 pengurus daerah HDCI se-Indonesia dan 53 klub motor. Pelaksanaan BBW 2011 kali ini, HDCI Kota Bandung turut melibatkan sejumlah klub motor besar lainnya macam Bikers Brotherhood, IMBI, dan MBC.

Ia menuturkan, setiap pelaksanaan BBW yang menjadi kalender rutin tahunan ini, HDCI Bandung selalu berusaha menyajikan konsep unik. Seribu wanita yang bakal terlibat acara tersebut, sambung Jonni, berasal dari istri, pacar, atau pasangan bikers. Selain itu, dilibatkan pula ladies bikers, dan mojang-mojang cantik yang bersedia jadi volunteers.

"Mojang-mojang itu akan berpakaian serba merah. Ide merah ini biar eye catching. Biasanya pehobi motor besar itu warna gelap dan sangar, maka dikontraskan dengan kehadiran wanita berbusana merah-merah," tutup Jonni.
sumber : bandung.detik.com

Tuesday, October 04, 2011

PT Chevron Rusak Hutan Lindung

PT Chevron Geothermal Indonesia (CGI) mengakui pihaknya telah melakukan pembangunan di kawasan hutan konservasi, lindung, dan hutan yang dikerjakan bersama masyarakat di wilayah Kab. Bandung dan Garut. Namun pembangunan di wilayah hutan itu untuk mengembangkan (eksplorasi) panas bumi, guna menghasilkan produksi listrik bagi cadangan di Jawa-Bali.

Meski membangun di kawasan konservasi, Chevron berdalih apa yang dilakukan sudah sesuai aturan yakni berdasarkan MoU antara pemerintah pusat bersama PT Pertamina dan PT Chevron sejak tahun 1984. Dengan masa eksplorasi sekitar 30 tahun dan belakangan diperpanjang menjadi 40 tahun. Eksplorasi panas bumi tersebut untuk mengejar target produksi listrik 330 megawatt.

Demikian diungkapkan Manager Policy Government & Public Affairs PT CGI, Alimin Ginting saat menghadiri pertemuan dengan Komisi D DPRD Jabar bersama seluruh stake holder, terkait pengaduan masyarakat terhadap pembangunan sumur panas bumi oleh PT Chevron di Desa Cihawuk, Kec. Kertasari, Kab. Bandung di Ruang Bamus DPRD Jabar, Jln. Diponegoro Bandung, Kamis (29/9).

"Sejak tahun 1984, pemerintah telah menguasakan Pertamina dan Chevron, untuk mengembangkan panas bumi melalui Keppres No. 22/1981. Untuk mengembangkan panas bumi, tentunya kami harus membangun instalasi, seperti sumur-sumur panas bumi, dan pipa. Berdasarkan kontrak operasional bersama (KOB), pemerintah memberikan luas wilayah kerja kami sebanyak 5.000 ha untuk mengembangkan 300 megawatt," ungkap Ginting.

Hingga saat ini, katanya, di luas wilayah kerja yang 5.000 ha, pihaknya hanya membangun instalasi panas bumi sekitar 50 ha atau hanya 0,1 persen luas wilayah kerja. Selain itu, saat membangun pihaknya berusaha untuk menjaga kelestarian alam.

"Lima puluh hektare yang kami bangun termasuk pembangunan instalasi di wilayah Kab. Bandung. Perlu kami tegaskan pembangunan sumur panas bumi di Kertasari bukan bukaan hutan baru, tapi itu kawasan eksisting dari 5.000 ha yang menjadi wilayah kerja kami," ujar Ginting.

Dikatakan, dari 5.000 ha wilayah kerja Chevron, di Kab. Bandung hanya sekitar 1.221 ha. Dari 1.221 ha itu, lahan yang digunakan untuk pembangunan sumur panas bumi hanya sekitar 1,83 ha. Saat ini, pihaknya sudah membangun tiga unit pembangkit panas bumi, dengan menghasilkan produksi listrik 271 megawatt. Jadi, Chevron masih akan terus mengembangkan panas bumi hingga mencapai produksi listrik 330 megawatt.

Ginting juga membantah tudingan warga sekitar Kertasari, karena pengembangan sumur panas bumi mengakibatkan kekurangan air resapan atau air permukaan. Sebab, pengeboran untuk menghasilkan uap panas bumi tidak akan mengganggu air permukaan, karena pengeborannya jauh lebih dalam.

Selain itu, pihaknya juga membantah jika perusahaannya tidak melakukan koordinasi dengan Pemkab Bandung. Pihaknya sudah bertemu dengan Bupati Bandung pada Juli 2011 membahas dana corporate social responsibility (CSR). Setelah itu, pihaknya juga berencana melakukan pembahasan kembali dengan pemkab, namun waktu tidak memungkinkan karena sedang puasa.

Perlu pendalaman

Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Jabar, Hasan Zenal mengatakan, untuk menyelesaikan masalah ini perlu pendalaman yang menyeluruh dari berbagai aspek. Terkait dengan tudingan masyarakat yang menyatakan Chevron telah melanggar, karena melakukan pembangunan di hutan konservasi.

"Kita tidak mungkin menutup PT Chevron. Kita justru harus mendukung pengembangan panas bumi, apalagi kebutuhannya adalah untuk produksi listrik dan eksplorasinya juga lebih ramah lingkungan dibanding dengan geotermal lainnya. Kita juga paham bahwa untuk membangun instalasi pasti ada sesuatu yang harus dibangun," katanya.

Namun, tambahnya, karena pembangunan di lahan konservasi atau hutan yang dilindungi, ada prosedur yang mengaturnya. Seperti building coverage ratio (BCR), ada batas toleransi untuk melakukan pembangunan di kawasan hutan.

"Berapa batas toleransi hutan yang bisa dibangun di luas kerja PT Chevron sekitar 5.000 ha. Aturan ini yang belum diketahui, karena Biro Hukum Kementerian Kehutanan yang kita undang belum bisa menjelaskan hal ini. Makanya, besok (hari ini, red) kita akan meninjau ke lapangan, dan besoknya lagi kita akan mendatangi Kementerian Kehutanan untuk mempertanyakan masalah ini," ungkap Hasan.

Sebab itu, pihaknya belum bisa memberi rekomendasi terkait masalah ini. Perlu beberapa kali pertemuan lagi dengan beberapa pihak terkait. Selain itu, Komisi B juga meminta PT Chevron, termasuk Pertamina dan Pemprov Jabar yang diwakili Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) dan Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), untuk menjelaskan masalah ini kepada masyarakat agar tidak menjadi polemik.

"Kepada Chevron juga kita meminta untuk memperhatikan kesejahteran masyarakat sekitar pembangunan panas bumi dan tenaga kerjanya," kata Hasan.

Ketua Forum Penyelamat Lingkungan Hidup (FPLH) Jabar, Thio Setiowekti mengatakan, pihaknya meminta DPRD dan pemprov jangan ragu untuk menutup pembangunan sumur panas bumi PT Chevron di Kab. Bandung. Sebab, pembangunan tersebut melanggar UU No. 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi.

"Dalam UU disebutkan kegiatan usaha pertambangan panas bumi tidak boleh dilakukan di cagar alam, tempat umum, dan pemakaman. Kami melihat Chevron keukeuh pada MoU dengan pemerintah, tapi 'kan setelah itu ada UU 27. Masa UU kalah sama MoU," tegasnya.

Kritikan Walhi

Kemarin sekitar pukul 10.00 WIB, belasan aktivitis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jabar mendatangi kantor DPRD Jabar. Mereka mengkritisi eksploitasi energi panas bumi. Walhi menegaskan, pemerintah selama ini selalu mengatakan, PLTP merupakan jawaban dari semua pembangkit tenaga listrik yang ada sebagai sumber energi yang ramah lingkungan. Namun proses eksplorasinya ternyata membawa dampak kerusakan lingkungan yang tak terkendali.

Pengurasan sumber daya alam dalam proyek PLTP sekitar 4.436 MW, yang mulai dilaksanakan pada Januari 2010, belum maksimal meningkatkan kesejahteraan rakyat Jabar. Khususnya masyarakat miskin yang jumlahnya mencapai 12 juta orang.

Sebagai contoh kasus, sebagian masyarakat di Garut, Bandung Barat, Cianjur, dan Purwakarta, masih ada yang belum menikmati energi listrik untuk kehidupannya. (B.96)**

Optimal dalam Kebaikan


Optimal dalam Kebaikan

Oleh Prof Dr KH Didin Hafidhuddin

Dalam Alquran surah al-Mulk [67] ayat 1-2, Allah SWT berfirman, "Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (ihsan). Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun."

Ayat tersebut memberikan penjelasan secara gamblang bahwa Allah SWT adalah Zat yang Mahakuasa atas segala sesuatu yang kekuasaan-Nya bersifat absolut. Allah pula yang mengangkat dan menurunkan derajat seseorang, sesuai dengan kehendak-Nya. Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian. Dan semuanya itu bertujuan untuk menguji manusia manakah yang paling optimal atau ihsan di dalam melakukan perbuatan baik.

Optimalisasi dalam berbuat baik (ihsan) merupakan salah satu watak dan karakter utama orang-orang yang beriman. Artinya, ketika berbuat kebaikan, dilakukannya penuh dengan kesungguhan, perencanaan yang matang, pelaksanaan yang terukur, serta evaluasi yang terarah. Tidak asal mengerjakan atau asal terpenuhi tugas dan kewajibannya.

Rasulullah SAW memberikan contoh bahwa shalat yang akan diterima itu adalah shalat yang diawali dengan wudhu yang baik, terpenuhi syarat dan rukunnya, berdiri, ruku, dan sujud yang dilakukannya secara sempurna dan tuma'ninah. Bahkan, ketika hal ini dilakukan, shalat pun berdoa kepada Allah SWT: "Ya Allah peliharalah orang ini dengan sebaik-baiknya karena ia telah memelihara aku dengan penuh kesungguhan." (HR Imam Bukhari).

Sejalan dengan hal tersebut, para ulama telah menetapkan tiga syarat utama di dalam beribadah. Pertama, dilakukan dengan penuh keikhlasan hanya semata mengharapkan rida Allah SWT. Hal ini sejalan dengan firman-Nya QS al-Bayyinah (98): 5. "Padahal, mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus."

Kedua, dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan ketentuan syariah. Tidak semata-mata berdasarkan pada perasaan atau mungkin tradisi dan kebiasaan saja. Dan yang ketiga adalah pelaksanaannya senantiasa dilakukan dengan penuh kesungguhan (mujahadah).

Tentu saja, kesungguhan ini bukan hanya pada ibadah mahdah (wajib), tetapi pada semua pekerjaan, apalagi yang berkaitan dengan kepentingan publik. Seorang pejabat dinilai bukan ditentukan oleh banyaknya pekerjaan yang dilakukan ataupun lamanya ia menduduki jabatan tersebut, tetapi oleh upaya dan kerja yang dilakukannya dengan penuh kesungguhan mengabdi pada kepentingan bersama.

Misalnya, ia tidak memanfaatkan jabatannya untuk memperkaya diri sendiri maupun kelompoknya. Sebab, jabatan itu adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan pada masyarakat dan juga kepada Allah SWT di hari kiamat nanti. Karena itu, dalam menghadapi situasi politik dan ekonomi sekarang ini yang sering menghadapi gejolak, maka konsistensi dan optimalisasi para pejabat di dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya merupakan sebuah keniscayaan sekaligus kebutuhan. Wallahu a'lam.
sumber : www.republika.co.id

Hentikan Eksploitasi Hutan..!

Berkurangnya luas hutan dan populasi satwa liar membuat para peserta Konferensi Anak-anak dan Remaja Internasional Tunza (Tunza International Children and Youth Conference) 2011 bertekad untuk tetap menjaga hutan dan satwanya.

Shawa Adolfh (9) dari Spanyol mengatakan, dirinya merasa miris ketika menyaksikan eksplorasi hutan yang dilakukan perusahaan-perusahaan yang tidak bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan.

"Kerusakan hutan akibat eksplorasi tidak boleh dibiarkan terus-menerus. Ini harus segera dihentikan. Karena kerusakan hutan akan berdampak pada kelestarian satwa liarnya. Kita harus tetap menjaganya," tutur Shawa saat ditemui seusai mengikuti diskusi "Children Plenary Session" untuk peserta anak-anak di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Institut Teknologi Bandung (ITB), Kamis (29/9).

Hal yang sama diungkapkan peserta dari Indonesia. Berlian Najela Murtadho (11) menuturkan, Indonesia sebagai paru-paru dunia seharusnya menjadi contoh negara lain untuk tetap melestarikan hutan. Begitu juga satwa liarnya. Namun hal itu bertolak belakang dengan kenyataan yang ada. Luas hutan dan satwa liar di Indonesia terus berkurang akibat kepentingan pribadi. Dirinya juga miris saat mendengar berita di media massa tentang maraknya aksi pembalakan liar, baik yang dilakukan perusahaan maupun pribadi.

"Kita lihat saja di berbagai provinsi di Indonesia. Seperti Kalimantan, Jawa Barat, dan Sumatra. Luas hutan terus berkurang. Sama halnya dengan satwa liar. Sekarang sudah sulit menemukan Harimau sumatra. Padahal itu dapat menjadi salah satu bahan pembelajaran untuk generasi muda," ujarnya.

Berbeda dengan luas hutan di Indonesia, Andreana Schmitovic (10) berusaha untuk tetap mengampanyekan gerakan peduli lingkungan dengan mengajak teman-temannya turut andil menanam pohon. Dia menjelaskan, di negaranya Guatemala, dengan luas 108.809 km2, sedikitnya 5,2 pohon telah ditanam untuk menjaga kelestarian lingkungan. Pohon yang ditanam itu merupakan hasil kerja sama antarpemerintah, organisasi lingkungan, dan sekolah-sekolah di negara tempat ia tinggal.

"Kerusakan hutan yang terjadi memang harus dihentikan. Tapi tindakan kita selanjutnya yaitu mengembalikan kelestarian hutan beserta satwa liar. Itu yang harus kita pikirkan bersama," ujar Andreanna.

Leon (9), warga Kenya mengatakan, di negaranya masih belum tercipta hal seperti di Guatemala. Tapi dari hasil konferensi ini, dirinya akan terus berusaha mengajak keluarga dan teman-temannya untuk belajar dari pengalaman yang dilakukan Andreana.

"Konferensi ini merupakan pengalaman pertama saya. Dari konferensi ini saya akan mengungkapkan keinginan saya untuk mengajak seluruh umat manusia di dunia untuk menjaga hutan. Saya ingin di kemudian hari, saya tetap bisa menikmati indahnya hutan dan sejuknya udara di Kenya," tuturnya optimistis. (adit)** sumber : (GALAMEDIA)

Monday, October 03, 2011

Budak Badeur

GEUS lima belas tahun lilana Kang Jae ruah tangga jeung Oom. Maranehna boga budak dua. Duanana budaknateh awewe. Kusabab kita, Kang Jae hayang pisan boga budak lalaki. Soalna cenah, budak awewemah mun geus rumah tangga teh sok dibawa ku salakina.

Dina hiji peuting kalakuan Kang Jae jiga budak leutik. Manehna ngarenghik ka pamajikanana hayang pisan boga budak lalaki.

Kang Jae : Cik atuh mah, piraku atuh urang teh boga budak awewe wungkul. Kumaha mun tambahan hiji deui, sugan we diparengkeun boga budak lalaki. Kusabab kitu, cik atuh geura indit isukmah ka bidan, laan eta kabena.

Oom : Ari akang, budak awewe jeung lalaki oge sarua atuh kang. Keun we da kulawarga urangmah meureun geus ditakdirkeun ngan boga budak awewe wungkul.

Kang Jae : Mamah mah teu ngarasakeun kana hate akang. Lamun mamah teu mere jalan kitumah, kapaksa akang atuh rek kawin deui.

Ngadenge salakina nyarita kitumah, Oom rada reuwas oge. Manehna sieun omongan salakina bener-bener dilaksanakeun.

Oom : Nya... ari akang keukeuhmah, keun atuh isuk-isuk keneh mamah ka bidan Icih rek ngalaan KB.

Singkat carita, Oom cumarita ka salakina yen manehna telat datang bulan. Ngadenge kitumah, hate Kang Jae mani kacida bungahna. Nincak umur kakandungan lima bulan, Kang Jae ngajak pamajikanana ka bidan. Majar cenah hayang dikomputer keur nganyahokeun orok teh lalaki atawa awewe. Kang Jae bungah pisan, sabab ceuk bidan orokteh lalaki. Teu kungsi lila, orok nu dipikayang pisan teh lahir. Atuh kabungah Kang Jae teu bisa diukur ku harta.

Hanyakal budak nu dibere ngaran Oding teh badeur pisan. Komo deui umurna nincak 7 tahun anu meujeuh keur bangor-bangorna. Ampir ungal poe aya we tatangga anu menta ganti rugi. Ari nu menta ganti rugi kaca imah nu peupeus ditimbul ku si Odingmah mindeng pisan.

Dina hiji poe Kang Entus ngadatangan Kang Jae nyaritakeun badeurna si Oding.

Kang Entus : Jae, tah budak silaing geus nyeurikan budak kuring si Bohum nepi ka teu eureun-eureun.

Atuh Kang Jae geuwat ngageroan si Oding.

Kang Jae : Oding, dikumahakeun si Bohum teh.

Si Oding : Tadi waktu kuring duaan ningali nu disunatan, si Bohum ngadat hayang disunatan. Atuh ku abiteh disunatan we... make peso dapur.

Kang Jae : Naha ari maneh badeur teh teu katulungan.

Si Oding : Naha ari bapak, pan etamah kahayang si Bohum.

Kang Jae : Heueuh...nya! (kang aso)**

Polisi Ajak Warga Bandung Berantas Berandalan Geng Motor

Bandung - Polisi tampaknya gerah terhadap berandalan geng motor yang muncul kembali di Wilayah Kota Bandung. Warga pun diajak bersama-sama memberantas keberadaan begundal jalanan itu.

"Mari semua masyarakat untuk menolak kehadiran berandalan bermotor," kata Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Widodo Eko Prihastopo kepada wartawan di Mapolrestabes Bandung, Jumat (30/9/2011).

Widodo melontarkan ucapan tersebut karena kehadiran kelompok bermotor bertindak kriminal kembali muncul ke permukaan. Buktinya, kata dia, ulah penjahat jalanan itu memakan satu korban tewas di Jalan Dipatiukur atau tepatnya samping Circle K, Jumat (30/9/2011) dini hari.

"Kehadiran mereka itu sudah meresahkan masyarakat. Karena perilakunya menjurus ke arah kriminal. Maka itu, kami akan tindak tegas," ucap Widodo.

Widodo mengajak ke seluruh masyarakat Kota Bandung mulai tingkat kelurahan hingga kecamatan mewaspadai gerak-gerik kawanan kelompok sepeda motor yang kerap berbuat onar. Tentu saja, sambung dia, warga juga diminta rajin melaporkan kepada polisi adanya aktivitas sekumpulan pemuda bermotor yang mencurigakan.

"Berandalan bermotor ini ingin kembali menunjukan eksistensinya. Warga diharapkan tetap berkoordinasi dengan aparat hukum dan jangan bertindak sendirian, sehingga nanti kami yang menentukan langkah hukum secara tegas," papar Widodo.

(bbn/ern)


sumber : bandung.detik.com

Kemuliaan Mengalahkan Kebencian


Kemuliaan Mengalahkan Kebencian

Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas

Adi bin Hatim adalah kepala suku Thai yang disegani. Dia mewarisi kepemimpinan bapaknya. Sebagaimana kepala suku, Adi menerima seperempat penghasilan kaumnya sebagai pajak. Hidupnya tenang dengan kekayaan yang melimpah.

Dia sangat membenci Rasulullah SAW, kendati dia belum pernah bertemu. Adi semakin gelisah setelah mendengar kabar pengaruh Rasulullah semakin kuat di jazirah Arabia. Beberapa kepala suku sudah memeluk Islam dan bergabung dengan Madinah. Adi khawatir kedatangan Rasulullah SAW akan mengancam kepemimpinannya.

Satu hari, hamba sahayanya melaporkan bahwa dia melihat bendera tentara Muhammad di sekeliling perkampungan mereka. Dengan tergesa-gesa, Adi mengumpulkan keluarganya dan segera lari meninggalkan Thai menuju utara, Syam. Tetapi, saudara perempuannya tertinggal. Dia tidak berani kembali. Dia hanya bisa berharap saudara perempuannya dapat menyusul.

Harapannya terpenuhi. Saudara perempuannya muncul bersama rombongan yang baru datang dari Madinah, sambil marah. "Engkau tinggalkan kami. Engkau zalim. Istri dan anak-anakmu engkau bawa, tetapi saudara perempuanmu dan yang lainnya engkau tinggalkan." Adi berusaha menenangkan kemarahan saudara perempuannya. Setelah tenang, dia bercerita akan kemuliaan Nabi Muhammad.

"Setelah negeri kita diserang, aku dan berapa penduduk lain dibawa ke Madinah," kata saudara perempuannya itu. "Di sana kami ditawan di dekat masjid. Ketika Rasulullah lewat aku menyapanya. Wahai Rasulullah. Bapakku telah tiada, yang menjaminku telah lenyap. Maka, limpahkanlah karunia yang dikaruniakan Allah kepada Anda." Rasulullah bertanya, "Siapa yang menjamin engkau?" Aku menjawab, "Adi bin Hatim." Kata Rasulullah, "Dia lari dari Allah dan Rasul-Nya."

Kemudian, Rasul SAW berlalu. Besoknya, terjadi lagi dialog yang sama. "Pada hari ketiga, Rasulullah lewat tetapi aku tidak menyapa beliau lagi sampai seorang laki-laki -yang kemudian kuketahui adalah Ali bin Abi Thalib- memberi isyarat kepadaku untuk menyapa beliau. Kali ketiga itulah permintaanku dipenuhi. Rasulullah berkata, "Engkau jangan terburu-buru pergi sebelum engkau dapatkan orang yang dapat dipercaya untuk mengantarkanmu." Setelah mendapatkan orang yang dipercaya, Rasulullah memberiku pakaian, unta untuk kendaraan, dan belanja secukupnya. Akhirnya dengan rombongan yang dipercaya, aku sampai di sini," tuturnya.

Adi disarankan untuk menemui Rasulullah. "Datangilah segera. Jika dia seorang Nabi, maka yang paling dahulu mendatanginya akan beruntung. Dan jika dia seorang raja, tidak ada hinanya engkau berada di sampingnya. Engkau juga seorang raja."

Akhirnya Adi pergi ke Madinah. Dia masuk ke majelis Nabi SAW ketika beliau berada di masjid. Mengetahui yang datang adalah Adi bin Hatim, Rasulullah berdiri menyongsongnya. Menggandeng tangan Adi, membawanya ke rumah beliau, dipersilakan duduk di atas bantal kulit. Sedangkan Rasulullah sendiri duduk di tikar biasa. Adi berguman, "Ini bukan kebiasaan raja-raja."

Setelah berdialog beberapa saat akhirnya Adi mengucapkan dua kalimah syahadat. Kebenciannya luluh oleh kemuliaan hati Rasulullah SAW.
(-) sumber : www.republika.co.id

Sunday, October 02, 2011

Selapak Demi Selapak

Oleh: IWAN ARDHIE PRIYANA
KOTA Bandung telah lama dikenal sebagai kota tujuan wisata yang menawarkan pemandangan alam priangan yang eksotis, bahkan belakangan sudah sangat popular dengan wisata kuliner. Pada bulan September ini kota Bandung berusia lebih dari dua abad. Alih-alih menjadi kota wisata yang nyari, faktanya kota Bandung menjadi kota yang "ngeri". Kenapa? Karena sebagai kota yang tumbuh menjadi kota besar, Bandung punya seabrek masalah yang sampai saat ini belum berhasil diatasi oleh Pemkot Bandung. Beberapa masalah besar yang sampai saat ini menjadi perhatian banyak pihak adalah kemacetan, sampah, dan kehadiran pedagang kaki lima (PKL).

Untuk masalah yang terakhir ini, Pemkot Bandung benar-benar dibuat tak berdaya. Di samping jumlahnya yang terus bertambah, kehadiran PKL pun mengandung dilema. Jika ditertibkan dengan pendekatan represif, maka bisa menimbulkan masalah tersendiri. Sementara itu, jika dengan pendekatan persuasif, terbukti tidak terlalu efektif. Pendeknya, penyelesaian masalah PKL ini mirip judul salah satu film warkop "Maju Kena Mundur Kena".

Padahal, kalau kita menengok ke belakang, saat aparat penertiban itu masih bernama tibum (ketertiban umum) dikenal tegas dan tanpa kompromi menggaruk PKL. Tidak hanya PKL, tibum pun terbilang sukses menggaruk WTS dan waria. Saking tegasnya, tibum ini sudah dianggap public enemy setidaknya oleh para waria, PSK dan PKL. Di tengah keramaian kota, jika seseorang berteriak "tibuuum!", maka nyali pedagang ciut. Tak ada yang berani menghadang, apalagi kucing-kucingan. Mereka lari belingsatan.

Sudahlah, tulisan ini tidak bermaksud bernostalgia dengan tibum. Tulisan ini sekadar mengingatkan, jika pemerintah bisa sedikit tegas, maka akan menegakkan wibawa Pemkot Bandung. Bukankah selama ini sudah ada payung hukum yang menjadi landasan Pemkot Bandung untuk menegakkan ketertiban, khususnya PKL yakni Perda K 3? Memang, harus diakui penertiban PKL memerlukan langkah yang ekstra hati-hati, seperti kata pepatah Caina herang laukna beunang (Maksud tercapai tanpa ada kerusuhan). Para PKL adalah orang-orang kecil yang sedang cari makan dan penghidupan. Menjadi PKL bukan pilihan yang menyenangkan, di tengah sulitnya menembus dunia kerja, PKL adalah pilihan yang paling mudah. Menurut seorang pengamat, PKL adalah "katup pengaman" ketika kondisi perekonomian kita dalam keadaan tidak mengutungkan, ketika sektor formal tidak banyak memberi peluang.

Namun tidak berarti argumen kehadiran PKL dengan mengetengahkan sisi kemanusian, menyebabkan ada toleransi untuk tetap mebiarkannya. Tetap usaha harus dilakukan. Pemerintah Kota Bandung pun sudah berupaya, misalnya dengan memberikan uang dengan jumlah tertentu bagi para PKL di sekitar Alun-alun agar mereka mau pindah ke kampung halamannya. Sayang, cara ini pun bukan solusi. Sebab, PKL di Alun-alun dan di kawasan tujuh titik semakin "menggila", mereka memang sudah menjadi pemilik trotoar sehingga tidak memberi ruang bagi pejalan kaki.

Saat Pemkot Bandung berkonsentrasi menertibkan kawasan tujuh titik, di sisi lain, muncul pula titik yang lain. Misalnya di seputar Jalan Soekarno Hatta, dekat kantor kantor Samsat, meski itu hanya seminggu sekali. Ada juga PKL mingguan di sekitar Metro, dan kawasan PKL terbesar di Asia Tenggara yakni Gasibu. Jika ada yang menyebut Bandung sebagai lautan PKL, maka tidaklah terlalu berlebihan.

Sebelum PKL di berbagai tempat itu menjamur seperti saat ini, sebenarnya kehadiran mereka itu bertahap, mula-mula hanya ada satu dua pedagang, mula-mula satu lapak satu lapak, lalu bertambah, dan kalau ternyata banyak menyedot pengunjung jumlah mereka semakin banyak. Dengan kata, lain selapak demi selapak lama-lama sepanjang jalan. Padahal jika aparat terkait secara preventif berupaya agar kehadirannya tidak semakin bertambah, baik dengan mengawasi kawasan maupun dengan pendekatan secara persuasif kepada mereka saat jumlahnya hanya beberapa gelintir, hal ini tentu akan lebih tepat dan relatif mudah.

Oleh karena itu, di samping tetap fokus pada PKL di titik tertentu, hendaknya Pemkot Bandung juga mengawasi kahadiran PKL di tempat yang lain, meski untuk hal ini, pemkot sering berdalih kekurangan tenaga. Tentu saja hal itu tidak menjadi alasan untuk melakukan pembiaran. Di samping itu, sikap aparat Satpol PP pun tampaknya harus pengkuh pada tugasnya, sehingga tidak dimanfaatkan oleh pihak lain. Sebab sering beredar rumor, adanya oknum aparat yang menerima uang damai dari PKL agar mereka tidak diganggu atau setidaknya mereka aman.

Dalam hal penertiban PKL, sebenarnya ada beberapa kota yang sukses menata PKL. Misalnya kota Solo. Wali kota Solo, Jokowi, berhasil merelokasi lebih dari 1.000 pedagang kaki lima tanpa ada unjuk rasa, melalui pendekatan dialog, pemberian kios gratis, serta pemberian SIUP dan TDP cuma-cuma sehingga status PKL menjadi formal dan bisa mendapatkan kredit bank.

Sebagai hasilnya, pedagang tradisional ini tak lagi menjadi beban. Malah, selama empat tahun terakhir, retribusi dari pasar tradisional dan pedagang kaki lima (PKL) di Kota Surakarta tercatat sebagai penyumbang bagi pendapatan asli daerah (PAD) tertinggi dibandingkan sejumlah obyek retribusi lainnya. Sumbangan mereka lebih besar dibandingkan pendapatan dari perhotelan, reklame, parkir, dan restoran.

Jadi, tak ada salahnya Pemkot Bandung belajar ke Kota Solo untuk menata PKL. Wilujeng tepung taun Bandung! Apanjang apunjung. (Penulis pemerhati dan pencinta Bandung)**

Lingkungan Hidup Harus Terjaga

Saat ini masyarakat dunia tengah menghadapi masalah yang sangat besar. Masalah tersebut berkaitan dengan ekologi dan pembangunan berkelanjutan.

Demikian diungkapkan James Hall, salah seorang pembicara pada acara diskusi "Pemerintahan Berkelanjutan Global/Gaya Hidup Berkelanjutan", Tunza International Children and Youth Conference 2011, di Gedung Sasana Budaya Ganesha, Jln. Tamansari, Rabu (28/9).

Diskusi yang dipandu beberapa duta Tunza International itu menghadirkan para pembicara yang dinilai kompeten dalam memberikan arahan dan penjelasan mengenai Konferensi Bumi 2012 yang akan digelar di Brasil, tepatnya di Rio yang dikenal dengan sebutan Rio+20. Para pembicara yang juga merupakan aktivis Rio+20 itu di antaranya Zonibel Woods, Sebastian Duyck, dan James Hall.

"Sehubungan dengan masalah besar itu, kami akan mencari solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ekologi itu. Pembangunan berjalan tanpa ganggu lingkungan," katanya.

James menyatakan, Konferensi Bumi yang akan digelar tahun depan merupakan gebrakan besar dalam sejarah Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Pasalnya, suara generasi muda akan diakomodasi di perhelatan Rio+20 tersebut oleh para pemimpin di dunia. "Generasi muda mempunyai peranan penting dalam memberikan kontribusi perubahan dunia," ungkapnya.

James menegaskan, para generasi muda harus berpikir lebih baik tentang apa yang bisa dilakukan dalam menjaga kelestarian lingkungan. Yang paling penting mempunyai visi yang jelas mengenai apa yang ingin disampaikan di Konferensi Bumi sebagai suara dari generasi muda.

"Para pengambil kebijakan itu membutuhkan inspirasi. Maka harapan yang saat ini diungkapkan dalam kegiatan ini akan dibawa dalam konferensi Rio+20 sebagai salah satu sumbang saran tentang kebijakan pembangunan berkelanjutan," katanya.

Keterlibatan generasi muda dalam upaya menjaga kelestarian alam ini tidak lepas dari peran serta generasi muda di masa mendatang. "Generasi muda itu adalah pemimpin saat ini dan masa depan. Generasi muda bisa membuat perubahan untuk saat ini dan untuk masa depan. Apabila selama ini kita terpaku pada anggapan hanya menggubris orang dewasa, maka hari ini kita akan mengubahnya," ujarnya.

Di awal diskusi, panelis yang terdiri dari duta Tunza itu memaparkan bahwa peran serta masyarakat umum sangat diperlukan dalam pembangunan berkelanjutan. Peran serta tersebut nantinya akan dibahas dalam konferensi bumi yang akan membahas dua hal penting, yakni green economy (ekonomi hijau) dan proses pemerintahan yang mengembangkan pembangunan dengan menyelaraskan kelestarian lingkungan.

Demikian pula yang diungkapkan pembicara lainnya, Zonibel Woods dan Sebastian Duyck yang mengharapkan partisipasi aktif generasi muda menghadapi konferensi bumi.

"Peran serta pemuda sangat penting. Yang paling penting adalah kegiatan pemuda dalam mengikuti berbagai kegiatan inklusif seperti ini. Peranan perempuan juga besar dalam hal ini. Suara anak muda harus diungkapkan sekarang tanpa dibayangi ketakutan ataupun kekhawatiran. Yang paling penting yaitu bagaimana memastikan pemerintah mendengarkan gagasan generasi muda dan mau mengakomodir gagasan tersebut," ucap Zonibel yang merupakan salah satu aktivis di Rio+20. (adit)** sumber : (GALAMEDIA)

Deradikalisasi Makna Jihad


Deradikalisasi Makna Jihad

Oleh Prof Dr Nasaruddin Umar

Jihad adalah sesuatu yang amat mulia dan luhur. Jihad berasal dari akar kata jahada, berarti bersungguh-sungguh. Dari akar kata ini membentuk tiga kata kunci, yakni jihad (perjuangan dengan fisik), ijtihad (perjuangan dengan nalar), dan mujahadah (perjuangan dengan kekuatan rohani).

Ketiga kata tersebut mengantarkan manusia untuk meraih kemuliaan. Jihad yang sebenarnya adalah jihad yang tidak pernah terpisah dengan ijtihad dan mujahadah. Jihad harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan kekuatan ijtihad dan mujahadah. 

Jihad tanpa perhitungan matang, apalagi mendatangkan mudarat lebih besar kepada orang yang tak berdosa, tidak tepat disebut jihad. Boleh jadi, itu tindakan nekat atau sia-sia yang dilegitimasi dengan dalil agama. Bahkan, itu mungkin tindakan keonaran (al-fasad).

Jihad bertujuan untuk mempertahankan kehidupan manusia yang bermartabat, bukannya menyengsarakan, apalagi menyebabkan kematian orang-orang yang tak berdosa. Sinergi antara jihad, ijtihad, dan mujahadah inilah yang selalu dicontohkan Rasulullah.

Jihad Rasulullah selalu berhasil dengan mengesankan. Di medan perang dan di medan perundingan, ia selalu menang, disegani, dan diperhitungkan kawan dan lawan. Jihad Rasul lebih mengedepankan pendekatan soft of power.

Ia lebih banyak menyelesaikan persoalan dan tantangan dengan pendekatan nonmiliteristis. Ia selalu mengedepankan cara-cara damai dan manusiawi. Bentrok fisik selalu menjadi alternatif terakhir. Itu pun dilakukan sebatas untuk  pembelaan diri.

Kalau terpaksa harus melalui perang fisik terbuka, Nabi selalu mengingatkan pasukannya agar tidak melakukan tiga hal, yaitu tidak membunuh anak-anak dan perempuan, tidak merusak tanaman, dan tidak menghancurkan rumah-rumah ibadah musuh.

Kalau musuh sudah angkat tangan, apalagi kalau telah bersyahadat, tidak boleh lagi diganggu. Rasulullah pernah marah kepada panglima angkatan perangnya, Usamah, lantaran Usamah membunuh seorang musuh yang terperangkap lalu mengucapkan syahadat.

Nabi bersabda, "Kita hanya menghukum apa yang tampak dan Allah yang menghukum apa yang tak tampak (akidah)." Akhlakul karimah tidak pernah ia tinggalkan sekalipun di medan perang.

Kemuliaan jihad tak perlu diragukan. Seseorang yang gugur di medan jihad akan langsung masuk surga, bahkan kalau terpaksa, "Tidak perlu dikafani, cukup dengan pakaian yang melekat di badannya, karena bagaimanapun yang bersangkutan akan langsung masuk surga," kata Rasulullah.

Namun, kekuatan ijtihad tidak kalah pentingnya dengan jihad secara fisik. Nabi secara arif pernah menyatakan, "Goresan tinta pena ulama lebih mulia daripada percikan darah para syuhada."

Demikian pula dengan kekuatan mujahadah, Nabi pernah menyatakan pernyataan seusai peperangan hebat, "Kita baru saja kembali dari medan perang kecil ke medan perang yang lebih besar, yaitu melawan hawa nafsu." Menaklukkan hawa nafsu bagian dari fungsi mujahadah.
sumber : www.republika.co.id

Saturday, October 01, 2011

'Maung Bandung' Masih Takut Hadapi Tim Kuat


Bandung - Persib Bandung masih takut menghadapi tim kuat untuk laga uji coba. Itu jadi alasan kenapa 'Maung Bandung' memilih lawan uji coba yang kelasnya jauh di bawah Persib, yakni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

"Persib belum siap untuk menghadapi tim berat," ungkap pelatih Persib Drago Mamic usai uji coba lawan UPI di Stadion Siliwangi, Sabtu (1/10/2011).

Menurutnya, kondisi fisik pemain masih belum memungkinkan untuk menggelar laga berat. "Kita harus bertanding secara bertahap mulai dari tim lemah, sedang hingga berat. Kalau langsung melawan tim berat dengan kondisi kelelahan seperti ini kita memang belum siap," kata Drago.

Jika melawan tim berat, masing-masing tim diperkirakan akan bermain keras. Sehingga dikhawatirkan para pemain kedua tim akan mengalami cedera. Jika itu terjadi, jelas akan menghambat persiapan tim untuk menghadapi kompetisi.

Sementara untuk beberapa hari ke depan, Drago bakal menurunkan tensi latihan. "Latihan berat sudah selesai, tapi secara perlahan kemampuan pemain akan kita tingkatkan," jelas pria asal Kroasia itu.
sumber : bandung.detik.com

Dari Baksil untuk Calon Pemimpin Dunia

Wali Kota Bandung Dada Rosada sebagai tuan rumah mengatakan, pemkot sangat mendukung Babakan Siliwangi menjadi hutan kota dunia. Diharapkan deklarasi ini menjadi upaya untuk mengajak individu dan komunitas menghargai lingkungan.

"Karena dari ranah ini, akan memberi kehidupan yang lebih baik bagi makhluk di dalamnya. Deklarasi Baksil sebagai hutan kota dunia kami sambut dengan baik dan masyarakat harus mendukungnya," kata Dada.

Dada menilai hal itu merupakan bagian untuk mempersiapkan generasi muda yang kelak akan memimpin dunia dalam bidang lingkungan. Terlebih lagi saat ini persoalan lingkungan telah menjadi isu global yang harus disikapi secara lokal agar mampu mengantisipasi kerusakan dengan restorasi.

"Tingkat kerusakan lingkungan saat ini ada pada posisi yang mengkhawatirkan. Itu dicirikan dengan adanya pemanasan global dan perubahan iklim, juga sering terjadinya musibah seperti banjir, longsor, dan wabah penyakit lainnya. Jadi tidak ada pilihan lain selain menyelamatkan lingkungan sekuat tenaga," tutur Dada seraya menambahkan, Pemkot Bandung selama ini selalu berupaya menyelamatkan lingkungan. Ditandai dengan program seperti tiada hari tanpa menanam pohon, membuat sumur resapan dan biopori, melepas burung serta menebar benih ikan.

Memberikan opini

Koordinator Program Bandung Inisiatif Reggi Kayong Munggaran mengatakan, deklarasi Baksil sebagai hutan kota dunia diharapkan bisa memberikan opini kepada masyarakat luas, pemerintah, dan pengusaha bahwa nasib suatu kota merupakan nasib bersama. Sehingga nantinya diharapkan akan ada kesadaran kritis bahwa pemenuhan kebutuhan dan hak masyarakat terhadap persoalan lingkungan harus dipertanggungjawabkan oleh pemerintah bersama dengan semua pihak, termasuk masyarakat.

"Deklarasi diharapkan akan menjadi preseden baik bagi komunitas masyarakat kota yang dikenal apatis dan pragmatis. Dukungan pemerintah dan pengusaha dalam program ini tentu menjadi indikator kolaborasi demokratis terhadap pembangunan kota yang berkelanjutan," paparnya.

Kepala Dinas Pemakaman dan Pertamanan (Diskamtam) Kota Bandung, Yogi Supardjo mengatakan, dalam rangka penetapan Baksil menjadi hutan kota dunia, ada 1.500 pohon yang ditanam. Namun untuk hari pertama pihaknya hanya memanam 500 pohon.

"Untuk yang 1.000 lainnya, kita tanam secara berkala hingga tanggal 1 Oktober mendatang. Kita siapkan tanamannya dan para peserta yang menanamnya," katanya. (B.114/adit)** sumber : (GALAMEDIA)

Penataan Situ Ciburuy Dimulai Oktober

BATUJAJAR,(GM)-
Penataan objek wisata Situ Ciburuy rencananya akan dimulai dengan pengaspalan jalan dari pintu gerbang sampai panggung pertunjukan, serta bagian luar kawasan dengan total panjang sekitar 2 kilometer. Rencananya pengaspalan akan dimulai pada bulan Oktober.

"Pemenang lelang sudah ada, sekarang tinggal pengerjaan fisiknya. Mudah-mudahan bulan depan (Oktober, red) pengaspalan sudah bisa dimulai," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) KBB, Aos Kaosar di Batujajar, Selasa (27/9).

Menurutnya, penataan Situ Ciburuy akan dilakukan secara bertahap. Dimulai pengaspalan badan jalan. Diperkirakan penertiban 51 bangunan liar dan pemasangan rucuk (penahan dari bambu, red) di pinggir situ yang memiliki luas 43 hektare ini baru akan dilaksanakan tahun 2012.

"Untuk pengaspalan tidak sampai mengganggu permukiman penduduk dan tempat pembuatan batako. Kita rencanakan penertiban baru akan dilakukan bersamaan dengan pemasangan rucuk situ," ujarnya.

Berdasarkan data dari Dinas Bina Marga, Pengairan, dan Pertambangan KBB, perbaikan jalan tidak menggunakan hotmix, tapi memakai lapis aspal beton (laston). Pagu anggaran yang disiapkan mencapai Rp 2 miliar, bersumber dari APBD Provinsi Jabar. Ditargetkan pengerjaannya tuntas dalam satu bulan.

Lebar badan jalan yang akan diperbaiki sekitar 3 meter dengan panjang 2 kilometer. Perbaikan juga meliputi ruas jalan yang berada di luar kawasan wisata. Kekuatan badan jalan ditaksir bisa sampai 10 tahun.

Berdasarkan peta, rencana penataan dan perbaikan jalan kawasan Situ Ciburuy berada di RT 01, 02, dan 03/ RW 05, dan RT 01, 02, dan 03 di RW 06. Jauh sebelum eksekusi dilakukan, Disbudpar KBB sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

Mengembalikan fungsi situ Ciburuy

Saat ini, fungsi Situ Ciburuy telah berkurang, baik sebagai sumber pengairan maupun tempat wisata. Beberapa hal yang menjadikan fungsi Situ Ciburuy berkurang adalah masalah kepadatan penduduk di kawasan tersebut. Kondisi tersebut dianggap harus segera ditata ulang. Selain itu, pendangkalan akibat turunnya debit air dan tingginya sedimentasi membuat Situ Ciburuy perlu dikelola lebih serius.

Menurutnya, rencana penataan Situ Ciburuy perlu melibatkan masyarakat. Penataan yang akan dikerjakan Disbudpar KBB ini untuk mengembalikan fungsinya sebagai kawasan wisata. "Saat ini kondisi Situ Ciburuy kurang terpelihara dan masih banyak hal yang harus dibenahi," katanya.

Salah satu hal yang perlu dibenahi adalah kepadatan penduduk di kawasan tersebut. Namun pihaknya akan berupaya berkerja sama dengan masyarakat untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan saling menguntungkan. Masyarakat yang menetap di kawasan Situ Ciburuy mutlak diajak bekerja sama dalam rencana penataan.

Penataan juga bertujuan agar kawasan Situ Ciburuy dapat dimanfaatkan masyarakat. Dari mulai fungsinya sebagai waduk, juga sebagai kawasan wisata.

Diakuinya, sebagai kawasan wisata, Situ Ciburuy dianggap kurang diminati. Apalagi jika dilihat dari kedatangan wisatawan yang minim. Pintu gerbang menuju obyek wisata Situ Ciburuy yang bersatu dengan permukiman penduduk menjadi persoalan yang sampai sekarang belum terpecahkan. Gerbang masuk yang bersatu dengan jalan masuk warga setempat menyulitkan petugas tiket untuk membedakan antara wisatawan dengan warga. (B.104)**

Perilaku yang Membuat 'Ramadhan' Kita Sia-Sia


Perilaku yang Membuat 'Ramadhan' Kita Sia-Sia

 Oleh: Salahuddin El Ayyubi Lc MA

Tidak terasa hampir sebulan Ramadhan telah berlalu. Kenangan manis keakraban ruh dengan ibadah masih segar di ingatan.

Rasanya baru kemarin kita merasakan nikmatnya berbuka, ramainya mesjid  dengan sholat tarawih, bisingnya suara yang berlomba mengkhatamkan Alquran sebanyak mungkin, ringannya tangan bersedekah dan memberi, serta kebaikan-kebaikan yang lain.

Namun seiring datangnya Ied, semua perilaku dan kebiasaan baik itu juga ikut menghilang. Kebaikan berubah menjadi keburukan. Amal soleh menjadi dosa. Mata dan telinga kembali bebas menikmati yang dilarang. Mulut kelu untuk mengaji tetapi leluasa membicarakan aib orang lain. Kaki begitu berat melangkah ke mesjid untuk berjama’ah. Tangan menjadi kaku untuk berbagi.

Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…” (An-Nahl ayat 92)

Ayat ini sepertinya menyindir kita yang kembali kepada keburukan setelah kebaikan, maksiat setelah ta’at, kufur setelah syukur, syirik setelah iman. Allah menyindir kita akan janji-janji yang telah diikrarkan namun diingkari, menyindir semangat ibadah yang dulu ada namun telah pudar, menyindir taubat yang pernah terucap namun sekarang hilang tak berbekas. Hilang dengan perginya Ramadhan.

Allah SWT menagih janji kita, “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah, apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu”). (An-Nahl ayat 92).

Nabi SAW pun mengingatkan: “Tidak beragama bagi yang tidak menepati janjinya. Tidak beriman bagi yang tidak menjaga amanahnya” (HR. Dailami)

Kelemahan menjaga janji, ketidakmampuan memegang amanah adalah satu tanda kemunafikan. Ibadah kita selama bulan Ramadhan ternyata sia-sia saja dan tidak mengantarkan kita sama sekali menjadi pribadi yang jujur, pribadi yang setia, pribadi yang komitmen. Namun sebaliknya membuat kita menjadi pribadi yang munafik.

“al-Qalil da’im khayrun min katsir al-munqati’”. Sesuatu yang sedikit tapi terus menerus adalah lebih baik daripada banyak namun terputus-putus”. Ternyata kita perlu kekuatan istiqomah. Kekuatan untuk berkomitmen. Kekuatan untuk jujur kepada diri dan kepada Allah SWT.

Allah SWT mewanti-wanti kita untuk tidak terjebak kepada perilaku yang demikian. Perilaku merusak amal-amal kebaikan dan menukarnya dengan amal-amal kejahatan. Kebaikan-kebaikan Ramadhan seharusnya  menjadi kebaikan-kebaikan abadi. Kebaikan-kebaikan yang kita harap masih melekat dalam diri saat ruh berpisah dengan jasad. Kebaikan-kebaikan yang nantinya mengantarkan pada kebahagiaan hakiki yaitu berjumpa dengan Allah SWT seperti yang dijanjikan Rasulullah SAW: “…Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya…” (HR Muslim). Semoga.


sumber : www.republika.co.id