-

Wednesday, November 09, 2011

Monyet Curug Cimahi Kekurangan Betina


 KODAR SOLIHAT/"PRLM"
KODAR SOLIHAT/"PRLM" MONYET sedang diberi makanan oleh petugas Wanawisata Curug Cimahi, Minggu (6/11).*

NGAMPRAH, (PRLM).- Jumlah populasi monyet berekor panjang yang menjadi salah satu daya tarik utama di Wanawisata Curug Cimahi, Kec. Parongpong, Kab. Bandung Barat mulai mengalami penurunan. Jumlah rasio jantan dengan betina yang kini hanya 23 : 1, membuat monyet-monyet setempat kurang mampu bereproduksi.

Salah seorang petugas Wanawisata Curug Cimahi, Kosasih, Minggu (6/11) menyebutkan, saat ini jumlah monyet jantan berjumlah 96 ekor (termasuk anak-anak monyet), sedangkan betinanya hanya empat ekor. Sedangkan monyet-monyet tua (umur 25 tahun) sudah mati beberapa bulan lalu, saat Wanawisata Curug Cimahi sedang ditutup bagi pengunjung untuk memperbaiki sejumlah fasilitas setempat.

"Jadinya, para monyet jantan tampaknya harus berebut betina saat sedang birahi. Keturunan monyet baru pun kini lebih sedikit dibandingkan beberapa tahun lalu," katanya.

Namun Kosasih mengatakan kurang mengetahui, apakah dengan kondisi kekurangan betina tersebut, membuat para monyet jantan di Curug Cimahi menjadi monyet homoseks atau tidak. Yang pasti, tingkah laku para monyet di lokasi ini menjadi salah satu tarik utama bagi para wisatawan, karena secara umum sudah cukup jinak dan selalu menanti kedatangan manusia. (A-81/das) ***

sumber : www.pikiran-rakyat.com

Tuesday, November 08, 2011

Drainase Kota Bandung Buruk

Banjir cileuncang merupakan fenomena yang sudah terjadi berulang-ulang di Kota Bandung saat musim hujan tiba. Hal itu menunjukkan buruknya pengelolaan lingkungan dan penataan drainase di Kota Bandung. Apalagi hingga kini Kota Bandung belum memiliki peta drainase.

Hal itu diungkapkan Koordinator Pengurangan Risiko Bencana Indonesia (KPRB-Indonesia), Dadang Sudardja saat dihubungi, Jumat (4/11). Ia mengatakan, banjir cileuncang yang seringkali terjadi saat hujan turun, menunjukkan buruknya pengelolaan lingkungan.

Salah satunya, tambah Dadang, daerah tangkapan dan resapan yang seharusnya bisa berfungsi sebagai drainase, kini mulai hilang. Seperti kawasan Punclut sebagai daerah tangkapan dan daerah resapan misalnya. Di daerah Bandung Timur seperti Buahbatu dan Gedebage, yang sekarang berubah menjadi kawasan permukiman.

"Kita bisa melihat, bahwa model pembangunan yang ada saat ini adalah model pembangunan eksploitatif yang mengabaikan daya dukung dan daya tampung, yang akhirnya berimbas pada buruknya lingkungan," ungkap Dadang.

Selain pengelolaan lingkungan yang buruk, kata Dadang, hal lainnya adalah buruknya penataan dan pengelolaan drainase. Saat ini, ia mengaku belum melihat upaya perbaikan atau pengelolaan drainase yang baik, dan secara rutin dilakukan oleh dinas yang berkepentingan maupun masyarakat.

Dalam perbaikan pun, antara jalan dan drainase tidak sejalan. Padahal merupakan satu kesatuan yang sama-sama harus dirawat secara baik, dan dilakukan bersamaan.

"Sampai dengan saat ini Pemkot Bandung pun belum memiliki peta drainase. Padahal, peta ini sangat penting. Karena dengan adanya peta drainase, kita bisa melihat dan memantau aliran air, dan akan mempermudah untuk melihat apakah drainase ini berfungsi atau tidak. Peta drainase akan mengatur soal alur, ke mana air akan dialirkan," ujarnya.

Pemerintah, tutur Dadang, harus sesegera mungkin membahas dan merancang peta drainase ini. Sebab fungsinya sangat penting. "Untuk masyarakat sudah pasti harus mendorong, dan bahkan memaksa pemerintah untuk membuat ini," terangnya.

Alasan anggaran

Selain peta drainase yang belum ada, lanjutnya, problem hingga hari ini juga sampah yang banyak memenuhi drainase selain infrastrukturnya yang belum baik. Anggaran selalu dijadikan alasan pemerintah dalam perbaikan dan penataan drainase maupun jalan. Padahal ini menunjukkan bentuk kegagalan pemerintah, dalam mengelola anggaran dan juga melaksanakan pembangunan.

"Menurut saya persoalannya bukan di anggaran, tapi pada tidak adanya konsep pengelolaan soal sampah. Misalnya, kalau pemerintah menerapkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat, sehingga masyarakat diharuskan mengelola sampah sendiri, tentu tidak akan mengeluarkan dana besar," ungkapnya.

Untuk menangani permasalahan banjir cileuncang yang terus berulang ketika hujan datang, Dadang mengaku, tidak ada cara singkat karena memang dibutuhkan waktu yang cukup lama. Namun langkah antisipasi bisa dilakukan pemerintah, seperti mendorong kesiapsiagaan masyarakat dalam merespons musim hujan. (B.95)** sumber : (GALAMEDIA)

Potensi Wisata Jawa Barat Lengkap

BANDUNG, (PRLM).- Provinsi Jawa Barat memiliki potensi wisata yang lengkap bertaraf nasional dan internasional. Potensi wisata itu bermacam-macam yaitu wisata kuliner, wisata alam, wisata budaya, wisata sejarah, dan lainnya.

Namun masih banyak potensi tersebut yang belum dikelola dengan baik. Akibatnya, sumbangsih bagi Pendapatan Asli Daerah tidak maksimal dan belum bisa secara maksimal meningkatkan perekonomian serta kesejahteraan warga.

Atas dasar itu, Sekretaris Daerah Prov. Jabar Lex Laksamana meminta Badan Promosi Pariwisata Jawa Barat (BPP-JB), bisa mengelola potensi-potensi itu agar maslahat bagi banyak orang.

"BPP-JB harus mampu mengelola potensi-potensi wisata tersebut. Tidak hanya untuk menyumbang PAD dan meningkatkan jumlah wisatawan. Namun juga mampu meningkatkan nilai-nilai ekonomi wisata sehingga bisa membentuk kemandirian dan kesejahteraan rakyat," katanya dalam pengukuhan BPP-JB di Hotel Grand Royal Panghegar, Jln. Merdeka, Kota Bandung, Rabu (5/10) malam.

Untuk mewujudkan hal itu, kata Lex, tidak cukup pelaku pengusaha wisata yang terlibat, tapi seluruh stake holder yang ada. "Mulai dari pemerintah, pelaku pengusaha, masyarakat, serta lembaga-lembaga pariwisata seperti PHRI, Asita, dan lainnya," ucapnya.

Lahan Parkir Curug Cimahi Dikuasai Angkot

 BANDUNG, (PRLM).- Pengelola objek wanawisata Curug Cimahi, Kec. Parongpong, Kab. Bandung Barat mengeluhkan belum dapat teroptimalkannya lahan parkir yang disediakan Pemprov Jabar untuk mendukung sarana wisata tersebut. Pasalnya, lahan parkir tersebut sampai kini "diduduki" para supir angkot untuk mengetem, dan tak berada di tempat seharusnya yang sudah disediakan pemerintah daerah di Terminal Kec. Parongpong.

Kaur Hugra Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Utara, Dadang Rahman, di Bandung, Sabtu (5/11) menyebutkan, lahan yag lokasinya tepat di samping pintu masuk Curug Cimahi, dahulunya sengaja dibeli lalu disedikan Dinas Pariwisata untuk mendukung pengembangan lokasi wanawisata ini.

Lokasi tersebut direncanakan untuk parkir kendaraan-kendaraan para wisatawan, terutama mobil di samping juga sepeda motor.

"Karena para supir angkot itu susah pergi dari lokasi bersangkutan, membuat para wisatawan yang ingin mengunjungi lokasi Curug Cimahi harus 'mengungsi'. Untuk yang menggunakan sepedamotor terpaksa berdesakan parkir di mulut pintu masuk Curug Cimahi, sedangkan untuk mobil terpaksa menumpang dengan sepengetahuan pihak desa di sebuah lapangan sepakbola di seberangnya," katanya.

Kondisi demikian, baik menurut Dadang maupun sejumlah personel penjaga Curug Cimahi, membuat sebagian calon wisatawan kebingungan saat mencari tempat parkir. Padahal banyak wisatawan ingin agar dapat parkir di lokasi yang dimaksud karena lebih dekat, namun karena selalu dipenuhi angkot maka mereka terpaksa mengalah. (A-81/A-88)***

Monday, November 07, 2011

Pekan Depan, BBWS Mulai Lakukan Normalisasi Sungai Citarum


BANDUNG, (PRLM).- Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, rencananya pekan depan mulai melakukan normalisasi Sungai Citarum. Gubernur Jabar Ahmad Heryawan menjelaskan, projek normalisasi Sungai Citarum yang memakan waktu tiga tahun itu, menyedot dana sekitar Rp 1,3 triliun.

"Normalisasi akan dilakukan dari Sapan hingga Saguling. Normalisasi bermacam-macam mulai dari konservasi hutan, pembuatan check dam dan embung, atau pengerukan. Projek ini akan selama tiga tahun yaitu sejak tahun 2011 hingga 2013 yang pelaksanaannya dilakukan pihak ketiga pemenang tender atas pengawasan langsung dari pusat, yaitu BBWS Citarum," kata Heryawan, di Gedung Negara Pakuan, Jumat (4/11).

Heryawan menandaskan, campur tangan pemerintah pusat, seperti BBWS Citarum, memang diperlukan dalam menangani Sungai Citarum. "Mudah-mudahan ini bisa menyelesaikan permasalahan banjir yang menimpa masyarakat di sepanjang Sungai Citarum. Kalau jadi, launching projek ini 9 November mendatang oleh Kementrian Pekerjaan Umum," ucapnya.

Sementara itu, Kepala BBWS Citarum Hasanudin, tidak bisa dihubungi. Wartawan mendapat keterangan dari pejabat pembuat komitmen sungai - pantai 1 Ahmad Sajidin. Ahmad menegaskan, pelaksanaan projek normalisasi Citarum itu justru bakal molor alias mundur dari tenggat waktu yang direncanakan. "Karena faktor cuaca. Hujan terus sehingga air sungai meluap. Kalau air sungai tinggi, pekerjaan pengerukan akan sia-sia karena air banjir membawa sedimen," ujarnya.

Ahmad menuturkan, yang mundur hanyalah waktu pengerukan saja. Sementara untuk pekerjaan normalisasi lainnya seperti pemasangan safe tile (tembok penahan tanah/tanggul), parafet beton, pedestrian bridge dan lainnya, tetap dilaksanakan. "Namun kalau keadaan memungkinkan, pengerukan yang rencananya dilaunching di Bale Endah pada tanggal 9 November, bisa saja dilakukan. Tergantung tinggi muka air tanah nanti," ucapnya.

Ahmad menjelaskan, Sungai Citarum yang dikeruk di tahap awal itu mencapai 45 km. Itu terbentang dari Sapan hingga Nanjung (Marga Asih). "Pengerukan sedimentasi itu dilakukan di Sungai Citarum serta anak-anak sungainya seperti Cisangkuy, Citarik, Cikeruh, Cisaranten, dan Cipamokolan."

Anggaran untuk normalisasi tahap 1 itu, kata Ahmad, menelan biaya hingga Rp 235 miliar dengan pemenang tendernya adalah PT Waskita Karya. "Projek normalisasi Citarum ini adalah projek multi years. Akan berlangsung selama tiga tahun yaitu tahun 2011, 2012, hingga 2013," ujarnya. (A-128/das)***

sumber : www.pikiran-rakyat.com

carpon Batalion

Karya Lugiena De
Alumnus Jurusan Basa Sunda UPI, carponna kungsi dileler hadiah sastra LBSS

KOCAPKEUN di dataran benua anu jadi jagat campuhna Perang Dunya. Hiji perjurit papisah jeung batalion kesatuanana. Leumpang beurang reureuh peuting manéhna mileuweungan sorangan satengahing usum tiris nu wuwuh nyelecep maratan tulang. Langit teu weléh angkeub kahalangan kerepna hujan salju. Saampar lemah ngeplak bodas. Di ditu di dieu ukur tatangkalan raregas sanggeus lawas daunna maluguran.
Manéhna téh kaasup salah sahiji pasukan batalion anu dikirimkeun ka front hareup pertempuran. Sakumaha instruksi panglima perang, batalion manéhna dibéré tugas mertahankeun hiji kota anu pernahna kawilang stratégis. Anu lamun ditilik tina jihat taktik militér mah bakal nangtukeun éléh meunangna perang. Lantaran di éta kota pisan patepungna unggal jalur anu nyambungkeun sawatara kota penting séjénna.

Tapi geus ampir sabulan pasukan manéhna dibombardir musuh. Bororaah bisa males, teu dibéré hojah pisan téh saenyana. Da puguh sabatalion téh ukur pasukan infanteri wungkul. Ari kesatuan artileri jauh pisan pernahna aya di tukang, moal bisa ngadongkang stelling musuh. Dina usum tiris kawas kitu, alat tempur artileri anu singsarwa beurat moal bisa téréh-téréh nepi. Kitu deui serangan udara. Satungtung angkeub ku salju mah kapal gé moal bisa ngawang-ngawang. Nya taya deui nu diarep-arep iwal ti langit sugan geuwat lénglang.

Éstu teu kabadé ti anggalna saupama bagerakna musuh bakal gancang kacida. Saméméh hujan salju lekasan, batalion manéhna ancur katawuran nalika aya serangan ngagentak wayah carangcang tihang. Panarajang musuh lir caah mudal ti walungan. Bombardemén ngaburubut di mana-mana. Cindekna geus lain serangan leuleutikan deui. Unggal garis pertahanan bruh-brah teu walakaya. Mangtaun-taun ancrub di pangperangan, kakara harita manéhna nyeueung kaketir jeung kakeueung anu sakitu rohakana.

Teu ngadagoan diparéntah gé manéhna tuluy kabur sakalumpat-lampét nyingkahan musuh. Jauh, jauh pisan. Manéhna terus ngacir, asruk-asrukan ka jero leuweung. Unggal poé leumpang gagancangan. Teu sirikna reureuh ogé ngan ukur sakerejepan. Sanajan sora campuh pertempuran tinggal hawar-hawar, manéhna tuluy nikreuh teu eureun-eureun. Nyorang jarak mangkilo-kilométer, nempuh waktu mangpoé-poé.
Sajeroning lumampah manéhna teu weléh rancingeus tatan-tatan, hariwang pasarandog jeung pasukan musuh. Mangkaning amunisi geus méh béak. Untungna téh henteu nepi ka kalaparan. Da sok kaganjel-ganjel kénéh ku uncal atawa kelenci di leuweung. Diparengkeun tara hésé deuih manggihanana. Néwakna cukup ku pélor sasiki. Kalan-kalan dibongohan maké bayonét dina congo bedil.

Sanggeus mulan-malén meunang mangbulan-bulan, kakara lamun wayah peuting téh manéhna bisa reureuh rada lila. Ongkoh deuih geus lungsé kacida balas leumpang sakitu lilana. Tapi manéhna angger taki-taki. Saré gé tara nepi ka tibrana. Jajauheun kana nyegrék teu inget di bumi alam mah. Cacak aya sora ngorosak saeutik gé koréjat baé bangun nu reuwas nakeranan. Ceg leungeunna kana bedil, laju ngadepong bari culang-cileung.

Mangsa meleték panonpoé, manéhna nikreuh deui neruskeun lalampahanana, turta salawasna ati-ati. Teu sirikna bari luak-lieuk, paur aya musuh ngaberik. Bedil gé teu weléh dicepeng di hareup, kumaha baé peta perjurit nu sayaga némbak. Tara kungsi disoréndangkeun ka tukang. Komo dipapanggul mah. Baris kana cilakana lamun keur kitu seug jonghok jeung musuh.

Sapanjang kakaburan téh haténa teu weléh dikukuntit kasieun. Kalangkang musuh tuluy-tuluyan ngaririwaan. Paur jedér baé teu kanyahoan némbak. Nya ku lantaran éta manéhna teu wani kaluar ti jero leuweung. Kajeun sangsara kukurubutan atawa kukucuprakan dina ranca, lakar buni bari nyumput babari. Kitu gé tara nepi ka teu diawas-awas heula sorangeun di hareup téh. Kajeun ngarandeg heula, sangkan yakin yén liliwateun téh aman.

Antukna lila ti lila manéhna geus teu inget kana naon-naon deui. Anu minuhan sirahna wungkul kasieun jeung kahariwang anu pohara. Poé naon ayeuna, geus tepi ka mana, atawa geus sabaraha lila lumampah, tara ieuh dipikiran. Manéhna terus aprak-aprakan. Terus, terus, terus, ti usum tiris tug ka cunduk deui jeung usum tiris. Sataun, dua taun, tilu taun, mangtaun-taun, usum tiris datang deui. Manéhna geus teu inget ka banjar karang pamatuhan. Kulawarga nu ditinggalkeun lawas pisan kapopohokeun. Dalah ka dirina sorangan gé ngarasa samar. Hiji-hijina nu nyantél dina pikiranana nyaéta kudu nyingkahan musuh sing jauh.

Tapi dina hiji poé mah lalampahanana téh eureun, sabada yakin yén dirina aman. Saeutik-saeutik pangacianana mimiti ngumpul deui. Manéhna tuluy niténan kaayaan sabudeureun anu wuwuh jempling dilimpudan kasimpé. Tong boroning sora campuh pertempuran, dalah gumuruhna gé geus leungit sama sakali. Nu kadéngé ku ceulina ukur hawar-hawar séor angin katut babaung anjing ti kajauhan. Bet ahéng karasana éta patempatan téh.

Heuleut sawatara lila, manéhna mimiti misadar saniskara hal. Bruy-bray ingetanana baralik deui. Tuluy tumanya na jero haténa: aya di wewengkon mana ayeuna. Ras baé inget, yén harita musuh datangna ti béh kulon. Ari manéhna kabur téh maju ngalér.
Galabar baé muka peta, laju diimeutan sakedapan. Lebeng, ngan ukur bisa dilelebah. Enya, kira-kira geus nepi dieu aing téh, manéhna ngagerentes. Tapi manéhna sorangan sadar yén perkiraanana asa teu pati kurup jeung sagala rupa nu katénjo. Da kapan cék peta gé kuduna mah anjog téh ka leuweung pineus. Ari ieu bet asa karék manggihan leuweung siga kieu mah. Kana tatangkalanana gé teu apal saeutik-eutik acan. Padahal lain sakali dua kali mileuweungan téh, gerentesna deui.

Waktu manéhna luak-lieuk, katara aya haseup ngelun ti béh landeuh. Manéhna curinghak, tuluy ngadeukeutan bari salungkar-salingker di nu buni. Bréh baé kanyahoan, horéng lebah palataran di handap aya ténda barak. Kajurung ku panasaran, manéhna beuki ngadeukeutan. Tuluy nyidik-nyidik kelir seragam perjurit nu ngulampreng di luar. Tétéla pasukan manéhna pisan. Puguh wé atoh kacida. Geuwat baé lumpat tuturubun, laju muru ténda anu pangbadagna, seja rék lapor.
Barang sup teu wudu manéhna ngajenghok, da geuning di jero ténda téh lain ukur pasukan manéhna wungkul. Tapi campur jeung pasukan musuh. Kabéh perjurit anu aya di dinya keur ramé balakécrakan bari tingcakakak saleuseurian. Éstu layeut pisan, teu siga nu mumusuhan. Anu leuwih matak ngagebeg manéhna, hiji gé awakna euweuh nu walagri. Aya nu buntung sukuna, nu bolongor sirahna, nu bejad dadana, nu udal eusi beuteungna, jeung rupa-rupa deui. Tapi anéhna bet jagjag kacida. Bangun teu ngarasakeun kanyeri sakitu marandi getih téh.

"Har, geuning silaing? Iraha datang, euy?" Kadéngé aya nu nanya ti tukangeun, bari nepak kana sirah manéhna. Barang dilieuk, horéng komandan batalion, keur nangtung bari rarampéolan. Beungeutna sompad, panonna ngaplék sabeulah.

Sanggeusna ditepak, bet karasa aya nu beueus dina sirahna gé. Basa ku manéhna dirampa, enya baé getih mani lamokot. (*)

Kailhaman tina carita The Battered Bastards of Bastogne,
pertempuran Ardennes, Belgia, Désémber 1944.
http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/19677/B-A-T-A-L-I-O-N

Kometar Orang. Oh Bandung, Shopping

APA kometar orang Malaysia ketika mereka tahu kita dari Bandung? Dengan cepat mereka berucap, "Oh, Bandung, shopping." Hampir semua orang yang ditemui, baik di bandara, hotel, maupun tempat umum langsung berujar demikian jika kita menyebut dari Bandung.

Judy Lim, wanita paruh baya pemilik Treasure Trove Media, yang mendatangkan wartawan Indonesia, mengatakan, Bandung sudah dikenal warga Malaysia sebagai tempat belanja baju, sepatu, dan aneka fesyen dengan harga murah. Judy mengaku belum pernah ke Bandung, tapi ia berjanji bulan depan akan datang ke kota kembang ini.

"Saya baru dengar dari kalian di Bandung juga ada bangunan-bangunan bersejarah," ujarnya kepada Tribun.

Beberapa rekan wartawan, misalnya dari TTG, CHMP Media, dan The Borneo Post, juga mengatakan hal serupa. Mereka hanya tahu Bandung adalah kota shopping. Pada umumnya mereka pun ingin mengunjungi Bandung untuk berbelanja.

Begitu tingginya hasrat belanja orang Malaysia ke Bandung, pesawat Malaysia Airlines yang bertolak dari Kuala Lumpur International Airport (KLIA) ke Bandung, Minggu (27/3), 60 persen diisi orang Malaysia.

Rekan duduk di perjalanan, Sukri, pemuda asal Selangor, yang mengaku baru pertama kali ke Indonesia, memilih Bandung sebagai tujuan utamanya. Alasannya apa lagi kalau bukan untuk belanja. Ia bahkan memberi kertas dan meminta Tribun menulis tempat-tempat belanja di Bandung.

Sukri, yang bekerja sebagai teknisi di KLIA, datang ke Bandung bersama enam rekannya. Bahkan sebelum mendarat di Husein Sastranegara pun, pilot Malaysian Airlines berucap, "Selamat datang di Bandung, having shopping (selamat belanja)."

Sayangya, begitu tamu asing mendarat di Husein Sastranegara, layanan imigrasi hanya tersedia dua pintu sehingga harus antre lama. Keluar dari imigrasi pun pihak bea cukai masih memeriksa singkat lembar custom declaration yang kita isi di pesawat sebelum tiba di Bandung.

Sebaliknya, jika kita tiba di Malaysia entah di Bandara Senai, Subang, atau KLIA, layanan informasi wisata berupa brosur dan peta tersedia di tempat yang mudah dijangkau.

Demikian pentingnya Bandung di mata orang Malaysia, hingga salah satu maskapai  penerbangan berbiaya murah (low fare airlines) milik Malaysia Airlines, yaitu Firefly, begitu menggebu membuka jalur penerbangan ke Bandung.

"Bandung merupakan salah satu destinasi populer," kata Managing Director Firefly, Eddy Leong, pada peresmian penggunaan Boeing 737-400 di Bandara Antarbangsa Senai, Johor Bahru, Sabtu (26/3).

Selain Bandung kota, yang akan dilayani penerbangan Firefly adalah Jakarta dan Surabaya. "Kami menargetkan pada kuartal ketiga tahun ini Surabaya, Jakarta, dan Bandung akan terlayani oleh Firefly. Kalau bisa sebelum hari raya (lebaran) sudah dapat terbang," kata Edy.

Memang Bandung sudah menjadi peta bisnis bagi warga Malaysia saat ini. Kota kembang ini sekarang terhubung langsung ke Kuala Lumpur dengan adanya penerbangan Air Asia dan Malaysia Airlines.

Namun dalam rencana penerbangan Firefly nanti Bandung tidak akan terhubung ke Kuala Lumpur, melainkan ke Johor Bahru. Jika terwujud, penerbangan ke Bandung akan dilakukan tiga kali seminggu, sedangkan ke Jakarta dan Surabaya empat kali seminggu.

Penerbangan Firefly dari Johor Bahru ke Bandung dengan Boeing 737-400 berkapasitas 162 tempat duduk ini diperkirakan akan lebih singkat daripada Kuala Lumpur-Bandung. Selama ini penerbangan Kuala Lumpur Bandung ditempuh 1 jam 50 menit.

Alasan dipilihnya Johor Bahru dengan Senai sebagai bandaranya adalah karena wilayah ini bertetangga dengan Singapura. Johor dan Singapura hanya dipisah Selat Johor selebar 700 meter. Jika kita berada di tepi Johor pun, kita dapat melihat jelas wilayah Singapura yang tampak rimbun dengan pepohonan.

Pemilihan Johor sebagai awal keberangkatan ke Bandung juga merupakan upaya untuk menggeliatkan kawasan Johor ini. Malaysia memang sangat berambisi membangun kawasan Johor Bahru ini melalui Iskandar Regional Development Authority (IRDA) sebagai kawasan terintegrasi di Asia Tenggara. Proyek Iskandar Malaysia di Johor ini nantinya adalah perpaduan dari kawasan rekreasi dengan aneka wahana permainan baik indoor maupun outdoor, kota pendidikan, pusat kesehatan dengan sejumlah rumah sakit, industri kreatif, dan surga belanja dengan sejumlah mal dan gerai.
sumber http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/43835/Oh-Bandung-Shopping

Sunday, November 06, 2011

Citarum Segera Dinormalisasi

PAKUAN,(GM)-
Pekan depan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum berencana mulai menormalisasi Sungai Citarum. Proyek yang memakan dana senilai Rp 1,3 triliun tersebut akan berlangsung selama tiga tahun, yakni 2011 - 2013.

Demikian diungkapkan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan kepada wartawan di Gedung Negara Pakuan, Jumat (4/11). "Normalisasi akan dilakukan dari Sapan hingga Saguling. Normalisasi bermacam-macam, mulai dari konservasi hutan, pembuatan check dam dan embung atau pengerukan. Proyek ini akan dilakukan selama tiga tahun, yaitu mulai 2011 hingga 2013 dan pelaksanaannya dilakukan pihak ketiga pemenang tender atas pengawasan langsung dari pusat, yaitu BBWS Citarum," katanya.

Heryawan menyatakan, untuk menangani Sungai Citarum diperlukan keterlibatkan pemerintah pusat, seperti BBWS. Sebab permasalahan banjir di sekitar Sungai Citarum bukan hanya masalah Kabupaten Bandung atau Jabar melainkan masalah nasioanl.

Sehubungan hal tersebut, ia menyatakan, dengan normalisasi Sungai Citarum, permasalahan banjir yang menimpa masyarakat di sepanjang Sungai Citarum dapat terselesaikan.

Ketika ditanya mengenai tanggal pasti pengerjaan normalisasi, Heryawan menyebutkan, launching proyek tersebut diagendakan pada 9 November mendatang. "Ya kalau jadi tanggal 9 November. Launching akan dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum," katanya.

Sementara ketika wartawan mencoba menghubungi Kepala BBWS Citarum Hasanudin, yang bersangkutan tidak bisa dihubungi. Wartawan mendapat keterangan dari pejabat pembuat komitmen sungai - pantai 1, Ahmad Sajidin.

Ahmad menegaskan, pelaksanaan proyek normalisasi Citarum justru bakal molor dari tenggat waktu yang direncanakan. "Karena faktor cuaca. Hujan terus sehingga air sungai meluap. Kalau air sungai tinggi, pengerukan akan sia-sia karena air banjir membawa sedimen," ujarnya.

Ahmad menuturkan, yang mundur hanya waktu pengerukan. Sementara untuk pengerjaan normalisasi lainnya seperti pemasangan safe tile (tembok penahan tanah/tanggul), parafet beton, pedestrian bridge, dll. tetap dilaksanakan. "Namun kalau keadaan memungkinkan, pengerukan yang rencananya di-launching di Bale Endah pada tanggal 9 November, bisa saja dilakukan. Tergantung tinggi muka air tanah nanti," ucapnya.

Ahmad menjelaskan, Sungai Citarum yang dikeruk di tahap awal mencapai 45 km, terbentang dari Sapan hingga Nanjung (Margaasih). "Pengerukan sedimentasi itu dilakukan di Sungai Citarum serta anak-anak sungainya, seperti Cisangkuy, Citarik, Cikeruh, Cisaranten, dan Cipamokolan," katanya.

Anggaran untuk normalisasi tahap 1 menelan biaya hingga Rp 235 miliar dengan pemenang tender PT Waskita Karya. "Proyek normalisasi Citarum ini proyek multiyears dan berlangsung selama tiga tahun, yaitu 2011, 2012 hingga 2013," ujarnya. (B.96)**

Keteladanan Nabi Ibrahim


Oleh Ustadz Muhammad Arifin Ilham

Di bulan ini, Dzulhijjah, sosok Nabi Ibrahim Alaihis Salam (AS) pasti akan kembali dibicarakan. Itu karena di bulan ini ada dua syariat peribadatan yang tidak terlepas dari sosok agung ini, yaitu pelaksanaan ibadah haji dan kurban. Selain dikenal sebagai salah seorang rasul ulul azmi (yang memiliki keteguhan), beliau juga sering disebut sebagai Khalilullah (kekasih Allah) dan Abul Anbiya (bapaknya para nabi).

Perjalanan hidup manusia termulia setelah Nabi Muhammad SAW ini adalah sebuah perjalanan peneguhan tauhid. Ketaatan dan keimanan luar biasa yang dihadirkan oleh ayah dari dua nabi dengan dua ibu yang berbeda, yaitu Nabi Ismail (dari bunda Hajar) dan Nabi Ishaq (dari bunda Sarah) Alahimus Salam, ini adalah sesuatu yang berat ditunaikan oleh manusia pada umumnya. Sebuah keteladanan yang mesti kita serap dalam kehidupan kita.

Nabi Ibrahim selalu berpijak di atas kebenaran dan tak pernah berpaling meninggalkannya. Posisinya dalam agama sangat tinggi (seorang imam) dan selalu total dalam mengabdi. Beliau pun tak pernah lupa mensyukuri segala nikmat-Nya (QS an-Nahl: 120-121).

Nabi Ibrahim merupakan sosok pembawa panji-panji tauhid. Perjalanan hidupnya sarat dengan dakwah kepada tauhid dan segala liku-likunya (QS al-Mumtahanah: 4-5). Beliau selalu mengajak umatnya kepada jalan Allah serta mencegah mereka dari sikap taklid buta terhadap ajaran sesat nenek moyangnya (QS al-Anbiya: 52-58). Allah SWT memilihnya dan menunjukinya ke jalan lurus serta mengaruniakannya segala kebaikan dunia dan akhirat (QS an-Nahl: 121-122). Bahkan, Allah SWT mengangkatnya sebagai khalil (kekasih). (QS an-Nisa: 125).

Perjalanannya merupakan cermin pendidikan keagamaan yang disampaikan orang tua terhadap anak cucunya (QS al-Baqarah: 132). Bahkan, Nabi Ibrahim AS senantiasa berdoa dan memohon kepada Allah SWT untuk kesalehan anak cucunya (QS Ibrahim: 35 dan 40).

Perjalanan hidupnya juga mengandung pelajaran berharga bagi para anak, karena beliau adalah seorang anak yang amat berbakti kepada kedua orang tuanya dan selalu menyampaikan kebenaran kepada mereka dengan cara yang terbaik (QS Maryam: 42-45). Ketika sang bapak, Azar, sang pembuat patung Tuhan, menyikapinya dengan keras, Nabi Ibrahim tetap santun dan berdoa untuk kebaikan ayahnya (QS Maryam: 47).

Kisah Nabi Ibrahim AS juga mengandung pelajaran berharga bagi seorang ayah kepada anaknya bahwa selalu ada ruang untuk berpendapat atas setiap keputusan sang kepala rumah tangga kepada anak-anaknya. Perintah langsung Allah untuk menyembelih sang anak diberinya ruang berpendapat bagi anaknya (QS as-Saffat: 102).

Perjalanan hidup sang pencetus agama hanif ini adalah juga edukasi berharga bagi para suami istri. Asas membina kehidupan rumah tangga tidak lain di atas keridaan perintah Allah SWT. Hal ini tecermin dari dialog antara Nabi Ibrahim dan istrinya yang bernama Hajar, ketika Nabi Ibrahim membawanya beserta anaknya ke Kota Makkah yang masih tandus dan belum berpenghuni atas perintah Allah SWT. "Apakah Allah yang memerintahkanmu berbuat seperti ini?' Ibrahim menjawab, 'Ya.' Maka (dengan serta-merta), Hajar mengatakan, 'Kalau begitu Dia pasti (Allah) tidak akan menyengsarakan kami'." (Lihat Shahih Bukhari, No 3364).
sumber : www.republika.co.id

Mesti Ditangani Bersama

Oleh: DADANG SETIAWAN
DATANGNYA musim hujan bagi masyarakat di sejumlah wilayah di Kab. Bandung membuat perasaan was-was. Sebab musim seperti biasanya ketika musim hujan tiba rumah mereka bakal terendam banjir hingga mereka pun harus mengungsi, meninggalkan tempat tinggal mereka hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Sangatlah wajar apa yang dirasakan masyarakat ini, sebab beberapa daerah di wilayah Kab. Bandung merupakan daerah langganan banjir saat musim hujan datang. Beberapa daerah yang biasa menjadi langganan banjir diantaranya, Baleendah, Rancaekek, Majalaya, dan Solokanjeruk.

Sayangnya kondisi buruik seperti ini seolah dianggap sebagai hal biasa dan wajar. Masyarakat sudah siap-siap mengungsi, sementara pemerintah siap-siap menyalurkan bantuan. Setelah itu muncul pula kebiasaan lainnya yakni sejumlah pihak mulai angkat bicara. Mereka saling lempar taggungjawab terkait penanganannya. Banyak pihak pula yang saling tuding dan saling menyalahkan.

Masyarakat menganggap pemerintah tidak menangani banjir secara sungguh-sungguh, lamban, dan acuh tak acuh, hingga masyarakat harus menderita. Sementara pemerintah balik menuding bahwa bencana banjir yang melanda Kab. Bandung merupakan buah dari perilaku masyarakat yang kurang baik, mereka merusak lingkungan, membuang sampah sembarangan ke sungai, dan menebang pohon di hutan secara ilegal.

Terlepas dari saling melemparkan masalah ini, alangkah baiknya untuk menangani masalah banjir setiap musimnya, kedua belah pihak baik pemerintah maupun masyarakat bersama-sama melakukan tindakan. Dalam penanganan ini juga, tentunya bukan hanya saat banjir berlangsung melainkan sejak musim kemarau hingga ketika musim hujan datang, tidak ada bencana karena sudah ada antisipasi.

Tindakan bersama saat musim kemarau, misalnya pemerintah mengeruk sungai dan menyadarkan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan, mengkampanyekan pentingnya hidup tertib, sehat, dan teratur dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang pohon di hutan secara membabi buta. Aksi ini mesti diikuti oleh sikap positif masyarakat. Masyarakat mencoba menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya lingkungan bagi kehidupan, tidak membuang sampah sembarangan dan menahan diri agar tidak menebang pohon secara ilegal.

Sebab kalau hanya pmerintah yang bergerak, misalnya dengan melakukan pengerukan, tetap saja ini tidak efektif jtanpa dibarengi prilaku positif dari masyarakat.

Kebersamaan peran pemerintah dan masyarakat dalam penanganan banjir, sebenarnya sudah disadari Bupati Bandung, Dadang M Naser. Dia sempat mengatakan, pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dalam penanganan banjir tanpa peran masyarakat dan pemerintah. Hal ini mencontoh dari Korea ketika dirinya tugas dari Lemhanas.

Di sana, penanganan banjir bisa berjalan baik karena selaian pemerintah melakukan perbaikan infrastruktur dan lingkungan, masyarakatnya pun sudah sadar akan pentingnya menjaga lingkungan hingga tidak menyebabkan banjir.

Karenanya marikah dari sekarang tumbuhkan dan kuatkan tekad untuk bergerak bersama mengatasi banjir. Sebab kalau tidak dari sekarang, apalagi hanya saling menyalahkan, permasalahan banjir ini tidak akan selesai bahkan semakin besar dan bisa menelan korban jiwa. (Wartawan Galamedia)**

Saturday, November 05, 2011

Terik Panas Padang Arafah Menemani Khutbah Wukuf

Panas yang menyengat padang Arafah menemani khutbah wukuf yang disampaikan oleh Hasyim Muzadi dengan tema Pusat Makna Kemanusiaan. Heli yang terus berputar juga tak mau ketinggalan.

Dalam khutbahnya di tenda mushola misi haji Indonesia, Hasyim muzadi menyoroti tentang kesalehan pribadi sebagai awal dari kesalehan sosial. "Sebagai haji, berkewajiban membawa nilai Arafah untuk kemaslahatan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa," tuturnya.

"Andaikan semua nilai luhur dari wukuf di Arafah ini dapat diimplementasikan di negeri Indonesia, tentu akan membawa berkah yang besar," imbuh eks Ketum PBNU ini.

Sedangkan amirul haj Suryadharma Ali menyampaikan salam dari Presiden SBY dan Ibu Ani. Surya menuturkan, jamaah haji Indonesia adalah jamaah terbaik yang mendapat apresiasi dari pemerintah Arab Saudi dan negara-negara lain. Dia menyebut jamaah haji sebagai duta bangsa.

Surya juga menyatakan bahwa pemerintah selalu berusaha memperbaiki layanan haji. Meski demikian, kekurangan pasti masih ada di sana-sini. "Karena itu kami minta maaf yang sebesar-besarnya, semoga kekurangan bisa jadi bahan koreksi," ungkap Surya.

Sedangkan Dubes Indonesia di Arab Saudi, Gatot Abdullah Mansyur meminta doa bagi 1,3 juta WNI yang mencari nafkah di Saudi. Semoga mereka keluar dari masalah ringan atau pun berat.

Sementara itu, hawa terik menemani wukuf. Hal ini lebih disukai dibandingkan hujan seperti yang terjadi pada 2008 lalu. Kala itu hujan disertai petir datang, membuat kemah jamaah basah kuyup. Di Arafah sendiri terdapat perahu karet atau pun kendaraan untuk medan berat, sebagai antisipasi bila hujan membuat banjir.

Heli pemerintah Saudi juga terus meraung-raung di udara. Mereka memantau pergerakan jamaah untuk keamanan dan keselamatan.

Pemerintah Saudi menerjunkan 63 ribu personel keamanan, termasuk 3.500 polisi anti huru-hara, didukung 450 kendaraan antipeluru. Sedangkan Dephan Sipil menurunkan 22.000 personel dan 6.000 kendaraan.

Saat ini jamaah Indonesia meneruskan doa dan zikir di Arafah hingga magrib nanti. Setelah itu berpindah ke Muzdalifah untuk mencari kerikil guna lempar jumroh di jembatan jamarat di Mina.

Yayasan New7Wonders Palsu

Wakil Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Sapta Nirwandar membenarkan Duta Besar RI di Swiss, Djoko Susilo, memberikan informasi bahwa alamat Yayasan New7Wonders tidak ditemukan di negara itu. Alamat kode pos N7W Foundation yang dicantumkan beralamat di Hoeschgasse 8, P.O. Box 1212, 8034 Zurich, tidak benar. Saat dicek, di alamat itu hanya ditemukan sebuah museum.

"Informasi dari dubes itu tidak sembarangan. Itu resmi," kata mantan Direktur Jenderal Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di era Jero Wacik ini.

Meski demikian, Sapta tidak mempermasalahkan kampanye mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla agar Taman Nasional Komodo terpilih di ajang pemilihan New7Wonders of Nature.

"Kalau soal Pak JK, itu pihak swasta, silakan saja. Kami pemerintah, informasi dari Kedutaan Besar RI di Swiss itu sudah resmi," kata Sapta kepada VIVAnews.com, Selasa (1/11).

Ia menegaskan, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tidak lagi memiliki hubungan apa pun dengan Yayasan New7 Wonders.

Lalu, bagaimana dengan dukungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat kampanye komodo bersama Jusuf Kalla di Lombok, 20 Oktober 2011 lalu? "Untuk hal ini, saya no comment," kata Sapta buru- buru.

Sapta mengakui, awalnya hubungan kementerian dan yayasan tidak bermasalah. Tapi, belakangan kementerian mengetahui bahwa rekam jejak yayasan ini tidak baik. "Ibarat baru pacaran tiga bulan, lagi asyik-asyiknya dan seru-serunya, tahu-tahu ketahuan bahwa pacar kamu itu utangnya banyak," kata Sapta. (net)** Galamedia

Pabaru Sunda Masih Sangat Minim Perhatian

PERAYAAN Pabaru (Tahun Baru) Sunda Sukra 1 Kartika 1948 Caka di Lap. Parkir Cikapundung Timur, Jumat (4/11) malam berlangsung cukup meriah. Sayangnya, perhatian masyarakat Kota Bandung terhadap kegiatan tersebut masih minim. Itu terbukti dari kurangnya apresiasi serta warga yang hadir. Hanya komunitas tertentu saja yang hadir mengikuti kegiatan tersebut.

Padahal, perayaan Pabaru Sunda itu tergolong cukup berbeda dari perayaan tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya perayaan dilakukan secara sederhana, kali ini cukup banyak seniman dan praktisi budaya Sunda yang hadir mengisi acara. Bahkan secara umum, perayaan tersebut juga sekaligus sebagai momentum langka yang menggabungkan komunitas pencinta kasundaan. Perayaan tersebut juga ditandai dengan mulai berlakunya kalender Sunda.

Perayaan di kawasan Cikapundung Timur itu juga merupakan acara pembuka perayaan tahun baru Sunda. Perayaan yang digagas oleh Komunitas Kabuyutan Sunda dan didukung Brotherhood for Culture, Bandung Death Metal Sindicate, Komunitas Pencinta Karinding, Kabuyutan Braga, Kampung Adat Banceuy dan Sundawani, itu diisi dengan pasaduan atau syukuran. Syukuran itu diwarnai dengan simbolisasi ritual ngalarung, serta dimeriahkan dengan seni tradisional asal Subang, yakni gembyung. Selain itu, juga diisi penampilan sejumlah seniman lainnya, termasuk di antaranya kelompok musik Karinding Attack dan Papperback.

Koordinator Perayaan Pabaru Sunda, Dadang Hermawan menuturkan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga kelestarian budaya Sunda. "Ini bagian untuk tetap menjaga dan terus mengenalkan budaya Sunda kepada masyarakat," kata Dadang disela-sela acara.

Ia menambahkan, puncak perayaan Pabaru Sunda akan dilangsungkan pada 26 November 2011 dengan menggelar Pesta Seni Kebudayaan Sunda. Dadang berharap, kemeriahaan perayaan itu akan semeriah perayaan tahun baru Imlek atau Masehi. Bahkan ia bercita-cita perayaan Pabaru Sunda dan penggunaan kalender Sunda bisa diakui secara internasional.

Diakui Malaysia

Sementara itu terkait kalender Sunda, sebenarnya sudah mendapat pengakuan dari negara lain, salah satunya dari Kerajaan Kelantan Malaysia. Pengakuan tersebut disampaikan keturunan ketujuh dari Sri Ratu Putri Sadong, Raja Kelantan Malaysia, yakni Raja Tengku Putri Anis Raja Sazali. Pengakuan itu disampaikannya pada saat digelarnya pertemuan raja dan sultan se-Nusantara beberapa waktu lalu.

Kalender Sunda sendiri hampir memiliki jumlah bulan, minggu, dan hari yang sama dengan kalender Masehi. Yang membedakannya hanya penamaan nama bulan, minggu, dan harinya. Awal bulan atau bulan pertama pada kalender Sunda ialah Kartika dan bulan ke-12-nya disebut Asuji.

Adapun urutan bulan menurut kalender Sunda yaitu Kartika, Margasira, Posya, Maga, Palguna, Setra, Wesaka, Yesta, Asada, Srawana, Badra, dan Asuji. Sedangkan nama hari dalam kalender Sunda ialah Radite (Minggu), Soma (Senin), Anggara (Selasa), Buda (Rabu), Respati (Kamis), Sukra (Jumat), dan Tumpek (Sabtu). Sementara itu, dalam satu bulan jumlah hari dalam kalender Sunda ada yang berjumlah 29 hari dan 30 hari. (lucky/"GM")**

Ketika Salman Al Farisi Melihat Punggung Rasulullah


Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas


Seperti biasa, Salman al-Farisi menjalankan tugasnya sebagai seorang hamba sahaya di Kota Yatsrib. Hari itu dia bertugas di ladang kurma tuannya, seorang Yahudi dari Bani Quraizhah. Tatkala sedang berada di atas pohon kurma, seseorang datang menyampaikan berita dengan nada marah kepada tuannya yang sedang duduk di bawah pohon kurma. "Celakalah Bani Qailah. Sekarang mereka berkumpul di Quba' menyambut kedatangan laki-laki dari Makkah yang mendakwakan dirinya Nabi."

Salman sudah lama ingin mendengar berita itu. Ia tidak sabar untuk segera menemui Nabi yang baru datang tersebut. Salman segera turun dari pohon kurma dan bertanya kepada tamu itu, "Apa kabar Anda? Coba kabarkan kembali kepadaku!" Tuannya langsung marah dan memukul Salman sambil menghardi,: "Kerjakan tugasmu kembali! Ini bukan urusanmu!" Salman kembali sadar bahwa dia sekarang berstatus sebagai hamba sahaya. Bukan orang merdeka.

Dia berasal dari Jayyan, Kota Isfahan, Persia. Bapaknya seorang petani kaya yang terpandang dan pemeluk agama Majusi yang taat. Dia ingin putra kesayangannya juga menjadi pemeluk Majusi yang taat. Oleh sebab itu Salman dikirimnya ke kuil, menjaga api yang mereka sembah jangan sampai padam. Tapi, jalan hidupnya berubah setelah dia tertarik menyaksikan  cara beribadah orang-orang Nasrani di gereja. Akhirnya dia kabur dari rumah bapaknya, dan memulai pengembaraannya dari satu gereja ke gereja lain, belajar agama dari satu pendeta kepada pendeta lainnya sampai akhirnya dia bertemu dengan pendeta di Amuria.

Setelah guru terakhirnya wafat, dia ikut sebuah kafilah Arab yang berjanji akan membawanya ke tanah Arab. Sebagai imbalannya Salman menyerahkan seluruh ternaknya kepada kafilah tersebut. Sayang dia ditipu. Kafilah itu menjualnya sebagai hamba sahaya kepada seorang Yahudi dari Yatsrib. Sejak itulah Salman tinggal di Yatsrib dan menunggu-nunggu kedatangan Nabi terakhir itu.

Besoknya Salman datang ke Quba, menyuguhkan sepiring kurma kepada Nabi dan menyatakannya sebagai sedekah. Nabi menerima kurma dari Salman, lalu membagi habis kepada sahabat-sahabatnya. Satu biji pun tidak beliau makan. Setelah di Madinah, Salman datang lagi menyuguhkan sepiring kurma kepada Rasulullah, kali ini menyatakannya sebagai hadiah. Nabi segera memakan sebiji kurma lalu mempersilakan para sahabat makan bersamanya. Apa yang dikatakan gurunya dulu tepat, Nabi yang terakhir itu tidak menerima sedekah, tapi menerima hadiah.

Salman semakin yakin bahwa beliau memang Nabi terakhir yang diutus. Tetapi untuk memastikannya, Salman ingin membuktikan satu hal lagi. Apakah memang di punggung beliau ada  tanda kenabian. Kesempatan itu di dapatnya waktu di Baqi. Tatkala itu Nabi mengantar jenazah seorang sahabat, Salman sengaja mengitari Nabi berusaha melihat punggung Nabi.

Rupanya Nabi paham dan menjatuhkan kain yang menyelimuti punggungnya sehingga Salman dapat melihat tanda kenabian itu. Serta-merta dia memeluk Nabi, menciumi beliau sambil menangis. Itulah perjalanan panjang Salman mencari kebenaran. Berbahagialah Salman al-Farisi pada hari kematiannya, dan berbahagia pula dia kelak pada hari dibangkitkan kembali di akhirat.
Naskah ini telah diterbitkan di Republika cetak edisi Kamis dengan judul: Mencari Kebenaran

sumber : www.republika.co.id