-

Tuesday, August 14, 2012

88 Ribu Polisi Amankan Lebaran

H-5 Kendaraan Berat Dilarang Lewat Bogor
JAKARTA (GM) - Polri akan menggelar Operasi Ketupat mulai 11 hingga 26 Agustus 2012 untuk pengamanan Lebaran. Sekitar 88.230 personel polisi seluruh Indonesia dilibatkan untuk operasi ini. Operasi akan dibuka dengan upacara gelar pasukan operasi Ketupat Jaya-2012, Jumat (10/8) ini. Untuk Mabes Polri dan Polda Metro Jaya, upacara akan dilakukan di Silang Monas, Jakarta.

"Operasi Ketupat ini untuk mengamankan masyarakat agar Idulfitri bisa berlangsung aman terutama pra dan pasca-Idulfitri," kata Karipenmas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (9/8).

Selain menyiapkan puluhan ribu personel, Mabes Polri juga menyiapkan 3.000 pos pengamanan di sepanjang jalur mudik, tempat wisata, dan pusat-pusat keramaian.

Mabes Polri, kata Boy, juga mengimbau kepada pemudik yang menggunakan sepeda motor untuk tidak membawa anak kecil. Jika memiliki anak kecil, lebih baik menumpang kendaraan umum. "Motor maksimal ditumpangi dua orang," katanya.

Sementara itu, Polri juga akan berpatroli di Jakarta untuk mengamankan rumah-rumah yang kosong ditinggal pemiliknya ke kampung halaman. "Kita terus melakukan inventarisasi dan merencanakan kegiatan patroli saat arus mudik berlangsung," katanya.

Buka tutup

Sementara itu, PT Jasa Marga akan menerapkan sistem buka tutup jalan tol mulai H-5 Lebaran. Sistem itu diberlakukan secara tentatif dan fleksibel, tergantung situasi dan banyaknya kendaraan di pintu masuk dan keluar tol.

Direktur Operasi PT Jasa Marga, Hasanudin menjelaskan, langkah buka tutup pintu tol dilakukan untuk mengantisipasi penumpukan kendaraan, baik di pintu masuk maupun keluar tol.

Diberlakukannya sistem buka tutup ini diputuskan bersama dengan petugas kepolisian di lapangan. "Bila H-5 lalu lintas sudah sangat penuh maka dijadikan satu arah. Bila masih biasa-biasa saja, bisa jadi mulai H-4 atau H-3 atau H-2," kata Hasanudin kepada VIVAnews, Kamis (9/8)..

Buka tutup ini akan diterapkan di tiga ruas tol yang dikelola Jasa Marga, yaitu ruas Tol Jakarta- Cikampek, Palikanci Cirebon, dan Purbaleunyi. Untuk mengurai kepadatan saat arus mudik di gerbang tol transaksi, Jasa Marga juga mengubah sistem transaksi operasi dari dua kali menjadi hanya satu kali.

Sedangkan masalah kendaraan berat, Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Kabupaten Bogor, Jawa Barat, melarang kendaraan berat melintas kawasan Jalan Raya Bogor, Ciawi dan Sukabumi (Bocimi) pada lima hari sebelum dan setelah Lebaran.

"Yang diperbolehkan adalah kendaraan berat membawa sembako," kata Kepala Seksi Pengendalian dan Operasioanl (Dal Ops) DLLAJ Kabupaten Bogor, Ely Karim, setelah apel siaga libur Lebaran, Kamis (9/8).

Pelarangan kendaraan berat dilakukan guna melancarkan arus lalu lintas dan memperkecil risiko kemacetan bertambah parah, karena ada kendaraan yang mogok. Kendaraan berat yang mogok, akan sangat menyulitkan proses evakuasi saat kondisi jalan yang padat.

Karena itu, akan dilakukan pemeriksaan berat kendaraan yang melintasi jalan itu. Bagi kendaraan yang nekad melintas akan ditindak dan kendaraan bisa ditahan hingga H+7 Lebaran.

"Jika melebihi kapasitas, kami akan melarangnya," kata Ely Karim.Galamedia jumat, 10 agustus 2012 01:27 WIB

Monday, August 13, 2012

Buku dan Rangkaian Kata Paling Berpengaruh



MENULISLAH untuk dipahami. Demikian menurut mereka yang meyakini kata-kata bisa menyimpan pemikiran untuk dimengerti. Tidak hanya untuk diingat tetapi juga didalami pembaca hingga tidak menutup kemungkinan bisa memicu pemikiran lainnya. Faktanya rangkaian kata yang menyimpan sejumlah temuan dan pemikiran dalam bentuk buku bisa bertahan hingga puluhan bahkan ratusan tahun dan menjadi referensi di berbagai bidang. Sebagian bahkan sangat berpengaruh bagi perkembangan ilmu dan kehidupan manusia.

Salah satunya On Liberty karya John Stewart Mill yang hingga sekarang sebagian besar teorinya terintegrasi penuh dalam demokrasi modern, terutama kebutuhan untuk melindungi hak-hak individu. Ada juga The Histories yang menjadi sumber banyak pengetahuan tentang dunia kuno dan landasan sejarah dalam sastra Barat. Peninggalan intelektual sosok pemikir asal Yunani Herodotus.

Sementara di dunia pengobatan, kalangan medis mengenal Canon of Medicine. Sang penulis Avicenna atau Ibnu Sina mendokumentasikan sejumlah pengetahuan dan teori-teori pengobatan Yunani Kuno, Persia, dan obat-obatan India yang dikombinasikan dengan pemahaman kontemporer abad ke-11. Buku ini diakui sebagai salah satu peletak dasar-dasar ilmu kedokteran modern.

Sedangkan dari ilmu psikologi, The Interpretation of Dreams menjadi rujukan awal. Meski banyak dari teori Freud yang kini tidak digunakan lagi oleh spesialis modern, namun konsep yang dipaparkan tentang alam bawah sadar tetap banyak memengaruhi cara orang berpikir tentang diri mereka. Kesusastraan pun ikut mencatatkan satu dari sekian banyak pengaruhnya melalui buku, di antaranya melalui The Canterbury Tales. Sebuah karya sastra Inggris periode abad pertengahan (1150-1400) yang ditulis sastrawan Geoffrey Chaucer (1340 - 1400).

Chaucer diakui sebagai penyair terbesar abad pertengahan. Akhir abad pertengahan bahkan sering disebut The Age of Chaucer (Era Chaucer). Karya terbesarnya The Canterbury Tales ini mengisahkan ziarah imajiner para biarawan pada 11 April 1387 menuju Katedral Canterbury untuk mengunjungi pusara Santo Thomas A. Beckett.

The Republic

Di bidang politik, salah satu karya monumental yang paling dikenal adalah The Republic yang ditulis satu dari tiga pemikir besar Yunani, Plato. Judul buku yang dalam bahasa asalnya berarti juga "sistem politik" ini ditulis pada tahun 380 SM dan dinilai sebagai salah satu karya filsafat dan teori politik yang paling berpengaruh. Plato sendiri menghasilkan sejumlah karya lainnya yang berkaitan dengan filsafat politik, seperti Republic, Statesman, dan Laws.

Namun The Republic menjadi pusat filsafat politik Plato. Pasalnya karya-karya lainnya seperti Apology, Charmides, Crito, Euthydemus, Gorgias, Protagoras, dan Menexenus bisa dipahami dengan melihat hubungannya pada teks utama The Republic.

Bidang lain yang juga tidak luput dari pengaruh buku adalah pemikiran dalam hal budaya. The Analects yang disusun Confucius menjadi pilihan utama. Sebuah teks yang benar-benar dipandang radikal di masanya. The Analects bahkan telah menjadi pengaruh yang dominan dalam pemikiran Cina dan budaya. Sementara Principia Mathematica karya Isaac Newton yang diterbitkan pada tahun 1687 menjadi pemikiran eksak yang disebut-sebut meletakkan banyak dasar bagi fisika modern dan matematika.
Galamedia
jumat, 20 juli 2012 01:43 WIB

Sunday, August 12, 2012

Rentenir Berkedok KSP Makin Marak



PEMERINTAH seharusnya melakukan pengawasan secara ketat terhadap kinerja dari koperasi simpan pinjam (KSP). Pasalnya, saat ini koperasi simpan pinjam banyak dimanfaatkan oleh para rentenir untuk mengeruk keuntungan, dan menjerat para pelaku usaha mikro kecil dan menengah.

"Sekarang ini banyak beredar rentenir berkedok koperasi simpan pinjam. Itu sangat merusak citra koperasi. Itu harus diberantas, pemerintah harus memperketat pengawasan terhadap koperasi simpan pinjam dan melakukan pendataan ulang," jelas Wakil Ketua Kadin Jabar Bidang Kemitraan dan UMKM, Iwan Gunawan kepada "GM", Kamis (28/6).

Diungkapkannya, maraknya rentenir berkedok koperasi simpan pinjam jelas merupakan hal yang sangat memprihatinkan. Apalagi mereka kini sudah beredar di berbagai sektor, baik di perdagangan masyarakat seperti halnya di pasar tradisional maupun di sektor lainnya. Bahkan kini mereka sudah menyasar tingkat pedesaan dan menjerat kesejahteraan para petani.

"Mereka memang memiliki kemudahan dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat, tetapi sistem pembiayaan yang mereka gunakan sangat menjerat dan merugikan, karena mereka menerapkan suku bunga pinjaman yang sangat tinggi," jelasnya.

Maraknya rentenir berkedok koperasi simpan pinjam sendiri merupakan salah satu bukti bahwa lembaga pembiayaan, baik perbankan maupun non perbankan belum optimal menyentuh para pelaku usaha mikro kecil. Padahal saat ini hampir semua bank menyasar segmen usaha mikro kecil.

"Ini ironis, hampir semua bank masuk ke segmen itu. Tetapi anehnya rentenir berkedok koperasi terus marak. Artinya apa yang dilakukan perbankan belum maksimal," katanya.

Belum maksimalnya perbankan menyentuh para pelaku usaha mikro kecil memang terganjal oleh beberapa faktor. Di antaranya,terkait masalah jaminan atau agunan. Sehingga hal tersebut membuat para pelaku usaha mikro kecil sulit untuk mengakses pembiayaan untuk permodalan kepada perbankan. Lain halnya dengan rentenir berkedok KSP. Mereka bisa mudah meminjamkan uang kepada para pelaku usaha mikro kecil cukup dengan hanya memberikan KTP saja.

"Mestinya perbankan memberikan kemudahan kepada para pelaku usaha mikro kecil dalam akses pembiayaan. Selama ini pola yang diterapkan perbankan terbilang kaku, karena mereka lebih mengutamakan dulu jaminan ketimbang kelayakan usaha dari pelaku usaha mikro kecil. Itu terbalik mestinya mereka melihat kelayakan usahanya dulu ketimbang jaminan," katanya.

Oleh karena itulah, lanjut Iwan, untuk membantu para pelaku usaha mikro kecil pemerintah perlu membuat sebuah lembaga penjaminan yang bisa mempermudah akses pembiayaan para pelaku usaha mikro kecil. Sehingga mereka bisa terhindar dari jeratan para rentenir. Selain itu pemerintah perlu melakukan pendataan ulang terhadap koperasi yang ada, serta menghapus koperasi simpan pinjam yang menggunakan praktik rentenir.

"Pemerintah perlu memberantas rentenir yang berkedok koperasi dan mensosialisasikan fungsi koperasi yang sebenarnya," katanya.
Galamedia jumat, 29 juni 2012 02:01 WIB
(agus hermawan/"GM")**

Saturday, August 11, 2012

Museum Sri Baduga Teliti Mushaf Al Quran Berusia 200 Tahun

AL Quran berusia 200 Tahun dan naskah milik Hasan Mustofa diteliti oleh Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga
BANDUNG,(PRLM).- Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga meneliti Al Quran kuno berusia 200 tahun dan naskah kuno karya Hasan Mustafa. Selain itu museum juga mulai menginventarisir barang pribadi dan koleksi Gubernur Jawa Barat yang menjabat sejak tahun 1945 hingga sekarang untuk dipamerkan ke masyarakat.

Dalam keterangannya, Kepala Balai Pengelolaan Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga, Dra. Ani Ismarini, mengatakan bahwa dalam rangka mengisi kegiatan ramadhan, pihaknya tengah melakukan sejumlah kegiatan. “Salah satunya tengah meneliti Al Quran sumbangan dari keluarga besar Raden Warnaen Poeraatmadja,” ujar Ani, kepada sejumlah wartawan di ruang kerjanya Kamis (2/8/12).

Al Quran dengan tulisan tangan yang diperkirakan berusia 200 tahun tersebut berukuran panjang 40 x 25 cm dengan ketebalan sekitar 7 cm. Kertas yang dipergunakan merupakan kertas daluang (kertas kulit kayu yang ditumbuk halus) dengan cover terbuat dari kulit berwarna coklat tua dengan tulisan Arab.

“Kondisi Al Quran tersebut masih sangat baik dan tulisan dengan tinta hitam dan merah masih sangat jelas terlihat. Namun setelah kami bandingkan dengan al quran cetakan ada dua surat yang hilang, yaitu surat Al Fatihah dan An Naas, diharapkan setelah diteliti dan diidentifikasi hasilnya dapat dipergunakan pemerhati maupun meneliti mushaf,” ujar Ani.

Sementara naskah kuno milik Hasan Mustofa dengan tahun 1823 merupakan parimbon berbahasa Sunda dengan aksara pegon. "Naskah ini ditulis dalam kertas daluang sebanyak 57 halaman, dengan ukuran lebar14 cm, panjang19 cm dan tebal 1,8 cm, hingga kini kami belum tahu apa isi dari perimbon tersebut," Ani.

Selain dua naskah kuno tersebut, Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga, saat ini tengah berupaya mengumpulkan dan menginventarisir barang-barang pribadi gubernu Jawa Barat mulain dari periode 1945. “Hingga saat ini kita mendapat kesulitan untuk mengumpulkan barang-barang milik mantan gubernur Jabar, baru dua mantang gubernur yaitu Alm Aang Kunaefi dan Nuriana yang menyumbangkan beberapa benda koleksinya,” ujar Ani.

Meski sulit untuk dilakukan, menurut Ani pihaknya tetap akan melakukan berbagai upaya mengumpulkan koleksi mantan gubernur Jabar tersebut untuk dipamerkan dengan mengirim surat dan mengutus stafnya untuk menemui keluarga para mantan gubernur Jabar.. Rencananya koleksi barang pribadi gubernur tersebut akan dipamerkan untuk menyambut hari jadi Jabar ke-67, tanggal 19 Agustus 2012 mendatang bertajuk People Forget Museum Remember.

Dua mantan gubernur yang memberikan koleksinya ke museum, yakni Alm. Aang Kunaefi yang menyerahkan barang pribadi berupa kujang dan lukisan Prabu Siliwangi Ngahiang. Sementara Nuriana menyerahkan lukisan Pangeran Cornel dan William Deandles.

"Selama ini belum ada museum di Indonesia yang mencoba mengumpulkan dan memamerkan barang pribadi milik gubernurnya untuk dipamerkan dan diketahui masyarakat. Museum Sri Baduga berusaha untuk menjadi pioneer untuk hal itu, karenanya kami sangat berharap keluarga mantan gubernur mau memberikan atau meminjamkan barang-barang pribadi atau koleksi para mantan kepada museum,” ujar Ani.

pikiran-rakyat.com Jumat, 03/08/2012 - 05:35

Friday, August 10, 2012

Memuliakan Orang Miskin

Siang itu tidak begitu panas di Balikpapan. Selepas shalat Zuhur saya siap di lobi hotel menunggu jemputan. Bapak Jailani, ketua Badan Amil Zakat Balikpapan, berjanji akan membawa saya mengikuti penyerahan Paket Ceria Ramadhan di beberapa titik hari itu. Ini kali kedua saya ikut, karena kebetulan sedang berada di Balikpapan dalam rangkaian ceramah Ramadhan di Kaltim.

Beberapa tahun lalu saya ikut mendampingi Wakil Wali Kota Rizal Efendi, yang sekarang menjadi wali kota, untuk mengantar paket kasih sayang kepada beberapa keluarga miskin. Rombongan para pejabat dan dermawan Kota Balikpapan turun naik bukit mengantarkan paket bantuan ke rumah-rumah keluarga miskin yang sudah disurvei sebelumnya.

Dalam perjalanan menuju lokasi, saya sempat berbincang-bincang dengan Pak Jai, begitu dia biasa disapa. Orangnya masih muda, energik, dan selalu penuh semangat. “Pak Jai, hari ini berapa paket yang harus diantar? tanya saya memulai percakapan.

“Sekitar 40 paket, Pak?” jawabnya. “Setiap paket isinya berapa?” tanya saya lebih lanjut. “Sembako seharga Rp 400 ribu dan uang tunai Rp 250 ribu.” Menurut penjelasan Pak Jai, selama Ramadhan hampir tiap hari 30 sampai 40 paket diantar langsung kepada keluarga miskin.

Badan Amil Zakat Balikpapan bertugas menghubungi para muhsinin, baik dari kalangan pejabat daerah maupun masyarakat umum untuk membantu orang-orang miskin. Pelaksanaan teknis dibantu oleh dua media lokal untuk memantau keberadaan keluarga miskin yang layak disantuni.

Pada awal program lima tahun lalu, hanya 40 paket yang dibagi selama Ramadhan, tetapi sekarang sudah meningkat 20 kali lipat. Publikasi program ini di media mendorong banyak pihak tergerak hatinya untuk ikut membantu.

Mengapa harus diantar paket-paket itu ke rumah setiap keluarga miskin, bukankah lebih praktis jika semua keluarga miskin yang akan dibantu itu diundang ke suatu tempat, lalu diadakan upacara, sambutan-sambutan, dan bantuan dibagikan? Sehingga 800 paket itu dapat dibagikan sekaligus sekali acara. Selesai. Lebih mudah dan lebih praktis.

Tatkala hal itu saya tanyakan kepada Pak Jai, sekretaris MUI Balikpapan itu menyatakan bahwa tujuan dari mendatangi langsung itu karena penghormatan mereka terhadap orang miskin.

“Kita ingin memuliakan orang miskin.” Sungguh menarik alasan yang dikemukakan Pak Jai, memuliakan orang miskin.

Saya terbayang beberapa peristiwa mengenaskan yang diberitakan media, orang-orang miskin berdesak-desakan, berhimpit-himpitan, antre panjang mengular untuk mendapat bantuan dari orang kaya yang membagikan zakat atau sedekahnya. Tidak jarang terjadi dorong-mendorong hingga ada yang terinjak. Akibatnya, tak jarang timbul korban jiwa. Sangat disayangkan bila keinginan untuk memuliakan orang miskin, justru menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

Alangkah indahnya apa yang diinisiasi Pak Jai dan kawan-kawan, mengajak para pejabat dan orang-orang kaya membantu orang miskin dengan tetap memuliakan mereka. Semoga memberi inspirasi.    
Oleh: Prof Dr Yunahar Ilyas

sumber : www.republika.co.id

Thursday, August 09, 2012

Hakikat Doa Sapu Jagat

Dalam setiap doa seorang Muslim hampir selalu menutupnya dengan ungkapan doa sapu jagat: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat serta peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Al-Baqarah: 201).

Lantunan doa tersebut bertambah kuat didengungkan saat seseorang mutawwif di rukun Yamani menuju Hajar Aswad. Namun, arti dan maksud kebaikan yang diminta oleh masing-masing pendoa berbeda satu sama lain.

Para ahli tafsir sepakat bahwa arti dan maksud kebaikan akhirat adalah surga, sebab di akhirat manusia hanya punya dua pilihan, yaitu surga dan neraka. Allah SWT berfirman, "Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (QS. An-Naazi'at: 37-41).

Sedangkan kebaikan dunia memiliki arti yang berbeda-beda antar pendoa. Ada yang mengartikannya dengan harta kekayaan melimpah, suami tampan, istri cantik, bisnis moncer, perdagangan menghasilkan, rumah besar, kendaraan mewah, anak banyak, kesabaran, keihlasan, kesyukuran dan lain sebagainya. Semua arti tersebut bersifat subyektif sesuai dengan keinginan masing-masing pendoa.

Akan tetapi, Itukah arti dan maksud  yang dikehendaki Al-Qur'an? Syekh Ahmad Abdurrahim Abdul Bar mengandaikan “jika kebaikan akhirat adalah surga maka, kebaikan dunia harus otomatis menjadi penyebab bagi kebaikan akhirat.”

Harta melimpah, suami tampan, istri cantik, bisnis maju, perdagangan menghasilkan, rumah besar, mobil mewah dan sebagainya tidak secara otomatis menjadikan pemiliknya masuk surga. Bahkan tidak jarang semua perhiasan dunia tersebut justru menjadi fitnah di dunia dan menjadi bahan investigasi KPK sebelum malaikat mempermasalahkannya. Dengan demikian semua arti subyektif pendoa itu ternyata bukanlah hakikat kebaikan dunia sebagaimana yang dimaksudkan Alquran.

Lantas apa hakikat "kebaikan dunia" yang dimaksud? Di dalam banyak ayat, Alquran mengemukakan dua kunci kebaikan dunia, yaitu: iman dan amal saleh. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga firdaus menjadi tempat tinggal (nya)." (QS. Al-Kahfi: 107).

Pada ayat lain Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itu adalah sebaik-baiknya makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga." (QS. Al-Bayyinah: 7-8).

Iman dan amal saleh ternyata menjadi pengantar langsung bagi kebaikan akhirat (surga). Bukan perhiasan dunia yang bersifat materi. Jika demikian adanya, maka kebaikan dunia itu tidak didominasi oleh orang-orang kaya, sukses, tampan dan cantik, melainkan menjadi tantangan dan peluang bagi semua manusia asalkan beriman dan beramal saleh.

Orang-orang yang mengumandangkan doa sapu jagat dengan demikian tidak bisa sekedar berpangku tangan mengharap dikabulkannya doa kebaikan, melainkan harus berjibaku meningkatkan iman dan amal salehnya dalam rangka mewujudkan "kebaikan di dunia dan di akhirat" bagi dirinya. Wallahua’lam.
Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

sumber : www.republika.co.id

Wednesday, August 08, 2012

Ibadah Puasa dan Pendidikan Kedermawanan

Allah SWT berfirman, "Dan apa-apa yang kamu upayakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya darisisi Allah." (QS. Al-Baqarah, 110).

Kemudian Firman Allah SWT juga, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia- Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah, 261).

Dalam hadis shahih yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA dijelaskan bahwa Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan.

Puasa menyeru memberi makanan kepada orang yang sedang lapar, memberi si miskin dan menolong si fakir. Bulan Ramadhan adalah musim untuk orang-orang yang bersedekah dan peluang emas untuk orang yang memberi hartaHya kepada orang lain.

Sebuah sya’ir mengatakan, "Allah telah memberimu dengan berbagai materi, berikannlah sebagian pemberian-Nya itu kepada orang lain. Karena sesungguhnya harta itu akan sirna. Harta itu ibaratkan air, bila disumbat alirannya, maka ia akan kotor. Dan bila dialirkan dan dibirkan terus mengalir, maka air tersebut akan jernih dan segar."

Dalam sebuah hadis shahih Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh Allah mempunyai dua malaikat yang ber doa setiap subuh. Salah satunya berkata; ‘Ya Allah, berilah orang yang membelanjakan sebagian hartanya di jalan Allah dengan gantu yang lebih baik lagi. Sedangkan malaikat yang satunya lagi berkata, ’Ya Allah, berilah kehancuran kepada orang yang tidak mau membelanjakan sebagian hartanya dijalan Allah’."

Betapa indah memberi harta kepada orang lain. Betapa baik shadaqah dan betapa mulianya saling membantu sesama. Setiapkali orang membelanjakan hartanya di jalan Allah, Allah memberinya kesehatan tubuh, ketenangan hati dan keluasan rizki.

Riwayat yang lain Rasulullah SAW juga bersabda, "Shadaqah bisa memadamkan dosa, sebagaimana air memadamkan api."

Dosa-dosa yang dilakukan hakikatnya mempunyai panas dalam hati, bara dalam jiwa, dan api yang menyala dalam kehidupan. Tak ada yang dapat memadamkan panas dan bara tersebut kecuali dengan bershadaqah.

Sungguh menakjubkan! Shadaqoh memiliki naungan yang rindang dan tempat berlindung bagi seorang hamba pada hari Kiamat. Setiap orang akan bergantung kepada naungan tersebut yang dihasilkan dari shadaqohnya di dunia.

sumber : www.republika.co.id

Tuesday, August 07, 2012

Daya Tarik Situ Gede Menurun



TASIKMALAYA,(PRLM).- Kawasan wisata Situ Gede di Kecamatan Mangkubumi terlihat sepi, bahkan pada bulan puasa saat ini, ketika beberapa tempat ramai dikunjungi warga dalam ranka ngabuburit. Sepinya minta pengunjung tersebut disinyalir objek wisata Situ Gede kurang menarik karena debit airnya menurun dan mulai terlihat permukaan dasar situ yang mengering. Akibatnya, kegiatan seperti berperahu tidak bisa dilakukan.

Petugas karcis Situ Gede, Dudi Iskandar mengatakan, ketika objek wisata lain dijadikan tempat ngabuburit, pihaknya hanya bisa gigit jari. Tingkat kunjungan semakin menurun. Setidaknya, karcis yang terjual pun hanya tujuh lembar saja. Meski yang datang sepertinya hilir mudik, tapi mereka hanya warga perbatasan yang menjadikan kawasan Situ Gede sebagai perlintasan saja.

"Ya selain itu juga, kebetulan bulan puasa, bertepatan dengan musim kemarau. Sepinya semakin parah dari hari-hari biasa ditambah sekarang debit air sedang menurun. Sepinya setiap hari tidak peduli mau week day bahkan week end sekalipun tetap sepi,"ucapnya ketika ditemui di Situ Gede, Selasa (31/7).

Menurut dia, kondisi tersebut menipiskan pemasukan PAD. Pernah pihaknya mengadakan acara di dalam Situ Gede tapi tetap saja tidak berpengaruh, karena warga yang datang hanya warga sekitar.

"Saat ini,orang-orang lebih tertarik di pusat kota ketimbang ke Situ Gede. Namun, kami berharap, Situ Gede mulai ramai ketika Hari Raya nanti,"ucapnya.

Ia menambahkan sebelumnya, penurunan tersebut merupakan kosekuensi logis kekeringan panjang yang terjadi sejak tiga bulan yang lalu. Dengan menurunnya debit air yang mencapai hingga 60 persen tersebut berpengaruh pada wahana wisata. Di antaranya, perahu wisata.

"Air surut kawasan untuk main rakit jadi sempit dan pemandangan sedikit terganggu karena hanya ada retakan tanah dan rumput yang mengering di sekitar situ. Pemilik perahu pun pada gulung tikar karena kondisi situ sudah mulai mengering di berapa sisinya," katanya.

Selain itu, para pemancing pun ikut meninggalkan Situ Gede. Pemancing harus menjelajang hingga tengah situ. Indikasi kekeringan tersebut, kata dia, dapat terlihat dari turunnya permukaan air. Biasanya pulau di þengah situ tertutup air, kini kondisinya pulau kecil itu terlihat lebih luas.

"Tidak ada solusi untuk mengatasi kekeringan ini. Kami hanya berharap hujan segera turun dan pengunjung kami meningkat," ujarnya.

Sementara itu, Yana (24), salah seorang tukang perahu sudah satu bulan ini memarkirkan dua perahunya. Hal itu karena kedalaman atau volume air Situ Gede sudah tidak bisa mendukung jalannya perahu. Saat ini, ia hanya bisa menjalankan rakit atau kendaraan air yang dibuat dari bambu-bambu.

"Paling muatannya dua orang saja. Moal tiasa jalan parahu mah tos deet, paling jero sameter. Paling rakit mah tiasa. Sasih saum mah sepi, tapi kamari rame pas munggahan,"ucapnya.

Yana berharap, hujan segera turun agar debit Situ Gede kembali naik.

Sementara itu, Tasta (35) salah satu pengunjung asal Singaparna mengatakan, prihatin dan kecewa dengan situasi Situ Gede saat ini. Padahal ia ingin membangggakan tempat main masa kecilnya dulu pada anak-anaknya sambil ngabuburit. Namun, ternyata kondisinya mengering.

Berdasarkan pemantaun "PR" tepi Situ Gede tempat perahu rakit penumpang saja sudah menyusut. Calon penumpang yang sudah menuruni tangga harus berjalan sekitar sepuluh meter menuju perahu. Selain itu, para pemilik perahu pun bisa leluasa berjalan ke tengah atau sekitar 20 meter dari tempat parkir perahu. Saat itu, ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa.

Situ Gede dimanfaatkan, 226 hektare areal pertanian di Kota Tasikmalaya. Adapun luas genangan Situgede seluas 47 hektare mengalami kekeringan dan pendangkalan akibat penggalian pasir di hulu.
sumber pikiran-rakyat Rabu, 01/08/2012 - 06:07

Monday, August 06, 2012

Inilah Tobatnya Kekasih Allah SWT

Bila ada air mata yang paling penuh berkah, ia adalah air mata yang mengiringi hati yang basah menyesali dosa-dosa. Bila ada kata yang paling indah, ia adalah rintihan istighfar, memohon ampunan dari Allah. "Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya tobat." (QS at-Tahrim [66]: 8).

Betapa baginda Rasul --kekasih Ilahi-- masih mendesahkan pujian dan permohonan ampun kepada-Nya. Diriwayatkan di dalam Muslim bahwa Rasulullah bersabda, "Wahai sekalian manusia, bertobatlah kamu sekalian kepada Allah dan beristighfarlah (memohon ampun) kepada-Nya, sesungguhnya aku beristighfar setiap hari seratus kali.” (HR Muslim, 1404).

Tidakkah hati kita merunduk, merenda rasa malu dalam jiwa. Berapa kalikah kita dalam sehari beristighfar? Sedangkan Rasulullah -- manusia pilihan langit yang akhlaknya telah menggetarkan hati para malaikat, yang surga tidak akan dimasuki siapa pun kecuali Rasulullah terlebih dahulu -- masih beristighfar seratus kali dalam sehari.

Wahai hamba Allah, hari ini, bahkan detik ini, berlarilah mengejar cahaya surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Berprasangkalah yang baik kepada Allah, karena Allah akan berbuat sebagaimana prasangkamu kepada-Nya. Yakinlah bahwa Dia lebih cepat pengampunannya. Dia sangat sabar menunggumu di pintu-pintu tobat. Bahkan, sebelum nyawa tersedak di tenggorokan, --sebelum kaki beku, lidah kelu-- Allah masih setia menjaga pintu tobat, karena kasih sayang kepada hamba-Nya.
“Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, "Sesungguhnya saya bertobat sekarang." Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedangkan mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (QS an-Nisa [4]: 18).

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Abdullah bin Umar RA berkata, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah tetap menerima taubat seorang hamba-Nya selama ruh (nyawanya) belum sampai di tenggorkannya.” (HR Tirmidzi).

Ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat. Kegembiraan Allah akan hamba-Nya yang bertaubat melebihi kegembiraan orang yang menemukan barangnya yang hilang. Anas bin Malik RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah lebih suka menerima taubat seorang hamba-Nya, melebihi dari kesenangan seseorang yang menemukan kembali untanya yang telah hilang daripadanya di hutan.” (HR Bukhari-Muslim).

“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan rahmat-Nya pada waktu malam supaya bertobat orang-orang yang berbuat dosa di siang hari, juga mengulurkan tangan kemurahan-Nya pada waktu siang, supaya bertaubat orang-orang yang berbuat dosa di malam hari. (HR Muslim).
Oleh Ustaz Toto Tasmara
sumber : www.republika.co.id

Sunday, August 05, 2012

Masjid Warisan Pangeran Panjunan dengan 17 Tiang Penyangga



MASJID Merah Panjunan berada di wilayah Kampung Panjunan, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemah Wungkuk, Kota Cirebon. Tempat ibadah ini dikelilingi pagar tembok merah bata. Keunikan masjid yang diarsiteki Pangeran Losari itu, sebenarnya, justru tampak dari dinding pagarnya.

Meskipun bentuk dan tinggi pagar sama, hiasan pada dinding pagar ini beda motif. Dinding kanan pintu masuk Masjid Merah dihiasi motif batik, sedangkan dinding pagar kiri polos tanpa hiasan.

Menurut pengurus Masjid Merah, Nasiruddin (35), dinding itu memang sengaja dibangun demikian dan memiliki makna khusus. "Di luar orang boleh berbeda, tetapi ketika memasuki ke masjid, semua orang satu tujuan. Di dalam masjid, setiap orang harus berhati bersih dan punya satu tujuan yang sama untuk menghadap Allah," ujarnya ketika ditemui Tribun di Masjid Merah, Minggu (22/7).

Nasiruddin mengatakan filosofi itu pun mewakili perbedaan karakter Wali Songo (sembilan wali). Namun, mereka toh tetap bersatu, berkumpul, dan berdiskusi tentang ajaran Islam.

Ia mengatakan keistimewaan masjid itu adalah semua komponen merupakan bentuk asli sejak masjid ini dibangun. Atap rumah ibadah yang merupakan sususan sirap itu, kata dia, asli sejak Pangeran Panjunan mendirikan bangunan masjid ini.
Zaman dulu, menurut dia, atap sirap atau kayu-kayu tipis khas menjadi penutup bangunan-bangunan mulia seperti keraton dan tempat ibadah. Tiang-tiang penyangga serta hiasan-hiasan dinding di masjid itu juga masih asli.

Nasiruddin mengatakan Masjid Merah disokong 17 tiang penyangga yang melambangkan 17 rakaat dalam salat. Empat dari 17 tiang penyangga itu merupakan penyangga utama, ucapnya, sebagai simbol empat imam dalam hukum atau syariat Islam. Mereka adalah Imam Maliki, Imam Hambali, Imam Syafi'i, dan Imam Hanafi.

Ujung setiap tiang penyokong itu berbentuk bintang dengan delapan bunga. Hal itu membuktikan adanya pengaruh arsitektur Arab pada masjid itu. Bintang itu melambangkan delapan lafal selawat yang diajarkan Rasulullah.

Hiasan piring keramik menempel pada dinding bagian dalam masjid baik bagian kiri, sisi kanan, maupun bagian depan. Konon, kata Nasiruddin, piring-piring keramik itu berasal dari Cina. Selain menandakan hubungan Kerajaan Cirebon dengan Cina pada masa lalu, ucapnya, hal itu menyimbolkan bahwa ajaran Islam tidak hanya berkembang di tanah air.

"Itu berarti sejak dulu syiar Islam tersebar hingga ke negara-negara lain, termasuk sampai ke Cina," ujar pria yang delapan tahun terakhir menjadi pengurus Masjid Merah ini.

Dinding masjid masih dipertahankan agar tetap tampak warna asli, merah tanah liat. Menurut seorang warga Panjunan yang bersama Nasiruddin sore itu, Ahmad (47), dinding pagar dan dinding masjid merah tanah liat masjid selalu dipertahankan karena dua alasan.

Pertama, merah liat itu melambangkan keberanian Pangeran Panjunan serta Wali Songo untuk mengambil keputusan. Selain itu, merah liat sebagai ciri khas dari masjid yang semula bernama Masjid Al-Athyah itu sehingga disebut Masjid Merah. Dari beranda masjid, ada satu pintu utama dengan ukuran kecil. Menurut Nasiruddin, hal itu mengingatkan agar orang yang masuk ke masjid menanggalkan kesombongnya dan dengan rendah hati menghadap Allah.

Hal itu dipertegas dengan adanya tulisan kalimat Syahadat yang digantung sebelum pintu itu. Namun, tulisan itu baru menjadi tambahan sekitar 1980-an. Baik Nasiruddin maupun Ahmad tidak tahu persis waktu pembangunan masjid ini. Menurut mereka, masjid ini masjid tertua di Jawa. Ahmad mengatakan masjid ini berdiri pada masa Keraton Kanoman (pusat peradaban Kesultanan Cirebon, kemudian pecah menjadi Keraton Kanoman, Keraton Kasepuhan, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Keprabon).

Namun, berdasarkan tulisan yang terpampang sebelum pintu masuk, bangunan tempat ibadah umat Islam ini kira-kira dibangun pada 1480.

Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Wali Kota Cirebon Nomor 19 Tahun 2001, Masjid Merah ditetapkan sebagai benda cagar budaya. Beberapa literatur menyebutkan bahwa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat memugar atap sirap masjid ini pada 2001-2002.

Semula masjid ini dikelola oleh pihak Kesultanan Kasepuhan, tetapi selanjutnya diserahkan kepada DKM Panjunan. Di sebelah kanan masjid ada bangunan baru yang terdiri atas kamar mandi, tempat wudu, dan tempat bersuci lainnya.

Menurut Nasiruddin, Masjid Merah, selain untuk beribadah, awalnya tempat berbagi ilmu atau sharing Wali Songo atau antara Wali Songo, terutama Sunan Gunung Jati, dengan Pangeran Panjunan.

Pangeran Panjunan, kata Ahmad, merupakan pembuat gerabah. Keturunan Pangeran Panjunan sempat mempertahankan tradisi pembuatan gerabah untuk waktu yang lama, tapi lambat laun tradisi itu terkikis. "Sekarang, (tradisi pembuatan gerabah atau keramik) hilang sama sekali," kata Ahmad.

Masjid Merah termasuk bangunan ukuran kecil dengan jarak antara lantai dan atap yang rendah seperti rumah-rumah tua di Jawa. Menurut Ahmad, masjid ini ramai dikunjungi orang selama bulan Ramadan, terutama ketika tarawrh.
Sumber jabar.tribunnews.com

Saturday, August 04, 2012

Infrastruktur Wisata Religi Pamijahan Terabaikan



TASIKMALAYA, (PRLM).- Infrastruktur kawasan wisata religi Pamijahan di Desa Pamijahan, Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya, belum tertata dengan baik, padahal jumlah pengunjung domestik mencapai jutaan setiap tahunnya.

Menurut Anggota Fraksi PPP DPRD Kabupaten Tasikmalaya, yang juga warga setempat, Hidayat Muslim, jumlah pengunjung diperkirakan mencapai ratusan ribu orang ketika memasuki bulan maulid dalam kalender Islam, serta pada saat memasuki bulan suci Ramadan.

Namun, tidak jarang karena kondisi jalan masuk sempit, membuat lalu lintas macet sampai puluhan kilometer, karena banyak pengunjung yang datang menggunakan bus. Begitupun di area parkir yang sempit, membuat kendaraan parkir meluber sampai memenuhi badan jalan di pintu masuk. Keadaan itu diperparah dengan penataan pedagang kaki lima yang tidak teratur.

Menurut Hidayat Muslim, lebar badan jalan masuk ke sana hanya sekitar empat meter. Padahal di daerah tersebut banyak tikungan tajam, dan kalau berpapasan, salah satu pemakai jalan berhenti dahulu, atau mengalah untuk mundur sambil mencari tempat yang lebih lebar.

Semestinya jalan ke sana lebih lebar atau mesti lebih enam meter, sehingga mobil-mobil besar bisa leluasa masuk, dan masyarakat di sepanjang jalan tidak terganggu.

Bahkan tempat parkir mobil di pintu masuk juga mestinya sudah diperlebar, sehingga parkir tidak sampai menggunakan badan jalan. Menurut Hidayat, kondisi lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah tidak adanya seorang dokter di Puskesmas Pamijahan.

"Padahal pengunjung yang datang ratusan ribu itu bukan hanya dari pulau jawa saja, melainkan ada yang datang dari Jambi, Lampung, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain. Sering bila ada yang jatuh sakit, tidak bisa ditangani di sana dan akhirnya dibawa ke tempat lain yang jaraknya sangat jauh," kata Hidayat.
Selasa, 17/07/2012 - 20:29
pikiran-rakyat.com

Friday, August 03, 2012

Kubah Payung Kencana di Bawah Rindang Pohon



Masjid Baitul Azis Karangkamulyan
MESKI berdiri di lingkungan Situs Karangkamulyan, Masjid Baitul Azis bukanlah bangunan peninggalan sejarah kerajaan Galuh Purba. Masjid dengan arsitektur yang cukup unik itu dibangun tahun 2001, bersamaan dengan penataan Situs Karangkamulyan dalam rangka peningkatan situs cagar budaya tersebut sebagai objek wisata sejarah dan ziarah.

Sebagian lahan bagian depan situs ditata jadi areal parkir lengkap dengan saung kuliner, WC, dan halaman terbuka sebagai tempat persinggahan bagi wisatawan atau pengguna jalan jalur selatan via Ciamis, mengingat waktu itu kawasan rest area yang dibangun Kanwil Parpostel Jabar tak berfungsi dan telantar.

"Atas gagasan Pak Oma (H Oma Sasmita, Bupati Ciamis waktu itu, Red), dalam rangkaian penataan objek wisata Situs Karangkamulyan, akhirnya dibangun Masjid Baitul Azis. Dengan harapan masjid tersebut nanti bisa menjadi tempat ibadah dan tempat istirahat para musafir yang lelah dalam perjalanan. Di samping itu tentunya guna mengurangi kesan keramat dari situs," ujar HM Soekiman, mantan ketua panitia pelaksana pembangunan Masjid Baitul Azis, kepada Tribun, Rabu (25/7).

Pembangunan masjid dan penataan objek wisata di kawasan Situs Karangkamulyan itu, kata Soekiman, terlebih dahulu meminta izin dari Balai Arkeologi dan Kepurbakalaan. Proses pembangunannya pun tanpa menebang pohon tua usia ratusan di lahan yang akan ditata. Pohon tua usia ratusan tahun itu kini malah menjadi penyejuk areal parkir dan bangunan masjid.

Karena anggaran untuk pembangunan masjid tidak dialokasikan di APBD, kata Soekiman, Bupati Oma waktu itu mengimbau masyarakat Ciamis mengeluarkan infak dan sedekahnya, termasuk para PNS, terlebih para pejabat eselon.

"Terkumpul dana sebesar Rp 300 juta. Dalam satu tahun Masjid Baitul Azis tersebut selesai dibangun dengan arsitek dan pelaksana pembangunan adalah Pak H Mulyono (alm). Setelah selesai membangun masjid ini, Pak Mulyono dipercaya untuk merenovasi Masjid Agung Ciamis," ujar Soekiman.

Aristektur Masjid Baitul Azis memang cukup unik dibanding masjid pada umumnya. Terutama bentuk kubah yang tidak lazim, yakni berupa bentuk payung kencana. Kubah ini dicat dengan menggunakan warga hijau serta keemasan, mirip payung kebesaran yang biasa dipakai para raja.

"Bentuk kubah berupa payung kencana ini menyesuaikan diri dengan nilai sejarah tempat ini. Situs Karangkamulyan ini merupakan situs peninggalan pusat Kerajaan Galuh. Tempat raja-raja Galuh bertakhta," ujarnya.

Kubah yang unik tersebut, kata Soekiman, tidak hanya menempatkan Masjid Baitul Azis sebagai satu-satunya masjid yang didirikan di kawasan situs yang ada di Ciamis, tetapi  juga merupakan satu-satunya masjid di Ciamis yang mempunyai kubah berbentuk payung kencana.

"Tidak hanya di Ciamis, tetapi mungkin juga satu-satunya di Jawa Barat," kata Soekiman.

Yang menarik, lantai Masjid Baitul Azis ini tidak terbuat dari hamparan tembok atau keramik, melainkan dari susunan papan kayu jati. "Kayu jatinya pun kayu jati tua dan kayu terbaik yang kemudian disusun-susun jadi lantai. Suasana lantai papan ini sangat adem," tuturnya.

Nama Baitul Azis, kata Soekiman, merupakan pemberian dari KH Irfan Hielmy, yang saat itu menjabat sebagai Ketua MUI Ciamis dan juga pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, pondok pesantren terbesar di Ciamis.

Baitul Azis, kata Soekiman, berarti rumah (baitul) atau tempat yang mulia (azis) yang sama artinya dengan Karangkamulyan, yakni juga tempat (karang) yang mulia. Masjid yang berada tak jauh dari sisi jalan raya Ciamis-Banjar ini tidak hanya ramai saat hari-hari libur apalagi pada musim mudik Lebaran, tetapi juga ramai pada hari biasanya.

Suasana yang sejuk dan teduh karena di lingkungan pohon-pohon rindang membuat Masjid Baitul Azis ini selalu dirindukan para musafir. (*)
Oleh Andri M Dani

Thursday, August 02, 2012

Puasa dan Good Governance

Ibadah puasa memiliki sejumlah nilai penting yang selaras dengan upaya untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Setidaknya ada lima hal yang mendukung terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik itu dalam puasa.

Pertama, menjunjung tinggi peraturan. Melalui puasa, Islam memberikan kepastian hukum kepada para pemeluknya dengan mengedepankan rasa keadilan. Sebagai contoh, bagi mereka yang telah dewasa dan sehat, wajib menjalankan ibadah puasa tanpa terkecuali. Bagi yang sakit dapat mengganti puasa pada waktu lain atau membayar fidiah untuk fakir miskin.

Sedangkan, bagi mereka yang sehat tetapi sengaja meninggalkan puasa maka dianggap telah keluar dari agama Allah SWT. Penghargaan terhadap peraturan atau hukum merupakan fondasi utama bagai terciptanya tata kelola pemerintahan yang baik.

Kedua, menjunjung tinggi partisipasi. Puasa Ramadhan mendorong kita untuk berpartisipasi aktif terlibat dalam sebuah kegiatan bersama-sama dengan orang lain. Hal itu tercermin dari kegiatan berbuka puasa bersama dan tarawih berjamaah. Dalam upaya membangun tata kelola pemerintahan yang baik, mutlak dibutuhkan partisipasi masyarakat agar proses pembangunan bangsa tidak didominasi oleh satu orang atau satu kelompok saja.

Ketiga, menjunjung tinggi keterbukaan. Melalui puasa, Islam melarang orang untuk berlaku dan berkata tidak jujur. Puasa mengajarkan kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Begitu juga dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, para pemangku jabatan dituntut bersikap terbuka dan jujur dalam melaporkan hasil capaian program kerja.

Keempat, menjunjung tinggi persamaan. Puasa memberikan ruang yang sama kepada siapa pun untuk memperoleh manfaat, khususnya dalam hal pahala dan kebaikan-kebaikan lainnya, tanpa ada perbedaan.

Dalam konteks bernegara, seluruh warga negara memiliki peran dan berdiri sama di depan hukum. Karena itu, puasa sejatinya mendorong kita semua untuk menjadi pribadi-pribadi yang bekerja bersama tanpa membeda-bedakan status, posisi, dan jabatan sebagai modal membangun tata kelola pemerintahan baik.

Kelima, menjunjung tinggi akuntabilitas. Berbeda dengan ibadah lainnya, puasa adalah persoalan pribadi dan rahasia karena hanya Tuhan dan dirinya yang mengetahui secara pasti. Dalam konteks tata kelola pemerintahan yang baik, hal itu mengajarkan kepada kita rasa tanggung jawab untuk mengemban amanah secara sungguh-sungguh, baik dilihat maupun tidak dilihat orang lain.
Itulah lima nilai penting ibadah puasa yang selaras dengan upaya untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik. Dengan kata lain, apabila puasa di tahun ini belum mampu menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik maka sesungguhnya ibadah puasa kita masih sekadar ritual.

Karena itu, mari kita jadikan Bulan Suci Ramadhan ini sebagai momen tepat bagi kita kaum Muslim untuk mengendalikan diri dari berbagai hal yang tidak sejalan dengan tuntunan agama yang diwujudkan dengan kesungguhan kita menciptakan tata kelola pemerintahan baik.
Oleh: Hatta Rajasa
sumber : www.republika.co.id

Wednesday, August 01, 2012

Awas, Bahaya Gosip

Setiap orang pasti berusaha untuk menjaga dan mengangkat harkat dan martabatnya. Ia tidak rela untuk disingkap aib-aibnya atau pun dibeberkan kejelekannya. Karena hal ini dapat menjatuhkan dan merusak harkat dan martabatnya di hadapan orang lain.

“Setiap Muslim terhadap Muslim lain nya diharamkan darahnya, kehormatannya, dan juga hartanya.” (HR Muslim).

Hadis ini menjelaskan kepada kita tentang eratnya hubungan persaudaraan dan kasih sayang sesama Muslim. Bahwa setiap Muslim diharamkan menumpahkan darah (membunuh) dan merampas harta saudaranya seiman.

Demikian pula setiap Muslim diharamkan melakukan perbuatan yang dapat menjatuhkan, meremehkan, ataupun merusak kehormatan saudaranya. Karena, tidak ada seorang pun yang sempurna dan ma’shum (terjaga dari kesalahan) kecuali para nabi dan rasul. Sedangkan kita, tidak lepas dari kekurangan dan kelemahan.

Di bulan penuh rahmat ini, hal yang sangat disayangkan, media-media kita masih asyik pada tayangan-tayangan seperti ini. Tayangan gosip yang mereka perhalus dengan sebutan infotainment ini masih tersaji dengan tanpa tedeng aling-aling dan tanpa merasa berdosa.

Bukankah tayangan picisan ini hanya akan menjadikan tersingkap dan tersebar aib seseorang, yang pada gilirannya akan menjatuhkan dan merusak harkat dan martabatnya.

“Apakah kalian mengetahui apa itu ghibah?” tanya Rasul kepada para sahabatnya.

“Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu,” jawab mereka.

Sabda Rasul, “Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang dia membencinya, jika yang engkau sebutkan tadi benar-benar ada pada saudaramu, sungguh engkau telah berbuat ghibah, sedangkan jika itu tidak benar maka engkau telah membuat kedustaan (fitnah) atasnya.” (HR Muslim).

Aisyah RA pernah berkata kepada Rasulullah tentang Shafiyyah bahwa dia adalah wanita yang pendek. “Sungguh engkau telah berkata dengan suatu kalimat yang kalau seandainya dicampur dengan air laut niscaya akan mengubah air laut itu,” jawab Rasul tidak suka. (HR Abu Dawud).

Sekadar menggambarkan bentuk tubuh seseorang saja sudah mendapat teguran keras dari Rasulullah SAW, lalu bagaimana dengan menyebutkan sesuatu yang lebih keji dari itu?

Dari sahabat Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda, “Ketika aku mikraj (naik di langit), aku melewati suatu kaum yang kuku-kukunya dari tembaga dalam keadaan mencakar wajah-wajah dan dada-dadanya. Lalu aku bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Jibril?” Malaikat Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan merusak kehormatannya.” (HR Abu Dawud).

Yang dimaksud dengan ‘memakan daging-daging manusia’ dalam hadis ini adalah ghibah atau bergosip. “Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka (kecurigaan), karena sebagian prasangka adalah dosa; janganlah mencari-cari keburukan orang, dan jangan menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik terhadapnya...” (QS. Al-Hujurat [49]: 12).
Oleh: M Arifin Ilham
sumber : www.republika.co.id