-

Friday, March 01, 2013

Obat Keresahan Jiwa

Dikisahkan, orang-orang kafir terus menghalang-halangi dakwah Rasul, dan terus menyerang serta mengolok-oloknya, sehingga Nabi merasa tidak nyaman, bahkan resah. Dalam suasana demikian, diturunkan kepada Nabi saw al-Qur’an surah al-Hijr ayat  97 - 99.

Dipertanyakan, apakah secara kejiwaan Rasulullah mengalami perasaan gelisah, tidak senang (unhappy) atau sempit dada seperti ditunjuk ayat di atas?

Menurut pakar tafsir al-Razi dalam Mafatih al-Ghayb, Rasulullah dilihat dari sisi kemanusiaan (basyariyyah)-nya, boleh jadi mengalami perasaan semacam itu. Hanya saja, demikian al-Razi, Rasulullah saw kemudian mendapat petunjuk dan bimbingan secara langsung dari Allah SWT.

Menunjuk pada ayat di atas, supaya terbebas dari perasaan sedih atau gelisah, Rasulullah saw diperintahkan Allah SWT melakukan empat hal: mensucikan Allah (tasbih), memuji kebesaran dan keagungan Allah (tahmid), melakukan shalat (bersujud), dan ibadah kepada Allah SWT sampai datang kematian.

Petunjuk ini,  tidak hanya penting bagi Nabi, tetapi lebih penting lagi bagi umat manusia, khususnya kaum beriman.

Perintah pertama, tasbih, sesungguhnya  dimaksudkan untuk menolak anggapan dan kepercayaan sesat kaum kafir yang  menyangka ada tuhan-tuhan lain selain Allah (QS. Al-Hijr [15]: 96), dan memandang Allah memiliki anak-anak perempuan (QS. Al-Shaffat [37]: 149).

Tasbih bermakna mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak pantas bagi-Nya. Tasbih juga bermakna mengosongkan pikiran kita dari prasangka buruk (su’u al-zhann) dan sebaliknya membangun prasangka baik, positiv thinking (husn al-zhann) kepada Allah. Positive thinking ini menimbulkan harapan (optimisme) yang mengeliminasi kecemasan.

Perintah kedua adalah tahmid, yang berarti memuji keagungan dan kebesaran Allah. Tahmid merupakan kelanjutan logis dari tasbih. Logikanya, kalau Allah adalah Tuhan yang Maha suci, bebas dan terlepas dari segala bentuk kekurangan (munazzahun `an al-naqa’ish), maka milik-Nya segala kemuliaan dan keagungan.

Maka kita ucapkan alhamdulillah (segala puji milik Allah). Jadi, bagi kaum Muslim, tasbih dan tahmid itu [juga takbir] menggambarkan Psychocological Stages yang menjamin ketentraman batin.

Perintah ketiga sujud (min al-sajidin). Semua pakar tafsir sepakat, maksud sujud ini adalah shalat. Seperti
dimaklumi, shalat adalah media komunikasi yang ampuh antara manusia dengan Allah, Tuhannya.
Melalui shalat, orang beriman berdialog (munajat) dengan Allah. Dialog ini mencerahkan dan mendatangkan kebahagiaan. Rasulullah saw sendiri, apabila ditimpa kesulitan, langsung melakukan shalat (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Lalu, perintah keempat adalah beribadah sampai manusia menemui ajalnya. Ibadah di sini, bagi Ibn Katsir, juga Zamahsyari, tak hanya shalat, tapi semua kebaikan dan kepatuhan (kull al-tha`ah) kepada Allah. Bagi kaum beriman, tak boleh berlalu suatu waktu tanpa ibadah dan amal shalih.

Siapa yang melaksanakan keempat macam ibadah ini, menurut al-Razi, akan mengalami 'pencahayaan ilahi' (adhwa' 'alam al-rububiyyah) yang membuatnya mampu menghadapi “godaan dunia.”

Di matanya, dunia menjadi kecil, sehingga kedatangannya tak membuatnya gembira, kepergiannya pun tak mebuatnya berduka. Inilah obat keresahan jiwa yang paling manjur. Wallahu a`lam.  n

Oleh: A Ilyas Ismail
sumber : www.republika.co.id

Thursday, February 28, 2013

Inilah Keutamaan Tasbih, Tahmid, dan Takbir

Setiap selesai shalat kita disunahkan berzikir. Salah satu amalan yang biasa kita lakukan adalah dengan membaca tasbih, tahmid dan takbir, masing-masing tiga puluh tiga kali.

Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa bertasbih sebanyak tiga puluh tiga kali, bertakbir tiga puluh tiga kali, dan bertahmid tiga puluh tiga kali, kemudian mengucapkan: Laa ilaaha illa Allah wahdahu laa syarikalah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli sya’in qadir, setiap selesai shalat, maka akan diampuni dosanya meski sebanyak buih di lautan.”(HR Imam Ahmad, Darimi, Malik)

Tasbih berarti mensucikan Allah dari sifat-sifat makhluk-Nya. Sementara tahmid yaitu memuji Allah, Tuhan semesta alam. Dan takbir adalah mengagungkan kebesaran Allah SWT. Allah berfirman dalam al-Quran: ”Hai orang-orang yang beriman! berzikirlah (mengingat) kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (al-Ahzaab: 41-42).

Ketiga amalan tersebut pernah diajarkan Nabi Muhammad SAW kepada putrinya, Siti Fatimah radhiyallahu anha (RA). Ali bin Abi Thalib menceritakan, pada suatu hari Fatimah datang menemui Nabi SAW. Namun Nabi tidak ada di tempat, dan ia hanya mendapatkan Siti Aisyah radhiyallahu anha (RA).

Kepada Siti Aisyah diceritakanlah keperluannya. Fatimah ingin meminta pembantu karena saat itu, ia mendengar Rasulullah SAW mendapatkan tawanan. Sudah beberapa hari Fatimah merasa kelelahan dan tangannya sakit akibat menumbuk dan menggiling tepung. Dengan meminta seorang pembantu diharapkan bisa meringankan segala pekerjaannya.

Malam harinya Rasul datang menemui Siti Fatimah, saat ia dan suaminya, Ali bin Abi Thalib hendak berbaring tidur. Sabda Rasul kepada Fatimah dan Ali: ”Maukah kalian berdua aku ajarkan perkara yang lebih baik dari yang kalian minta? Jika kalian telah berada di tempat tidur bacalah takbir 33 kali, tasbih 33 kali dan tahmid 33 kali. Itu semua lebih baik buat kalian dari pada seorang pembantu.” (HR Bukhori).

Dalam hadis lain disebutkan. Pernah datang sekelompok orang miskin mengadu kepada Nabi SAW. Mereka mengadu karena orang-orang kaya dengan hartanya bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi dan kenikmatan yang abadi. Orang kaya dapat melaksankan shalat, seperti juga orang miskin melakukannya. Orang kaya berpuasa, orang miskin juga berpuasa. Namun orang-orang kaya memiliki kelebihan disebabkan hartanya sehingga dapat menunaikan ibadah haji dan umrah, juga dapat bersedekah dan berjihad.

Mendengar aduan mereka, Rasul SAW bersabda, “Maukah aku sampaikan kepada kalian amalan yang dapat melampaui derajat orang kaya dan tidak ada yang mengalahkan derajat kalian sehingga menjadi yang terbaik di antara kalian dan mereka, kecuali mengerjakan amalan berikut, yaitu, kalian baca tasbih, tahmid, takbir setiap selesai shalat sebanyak 33 kali…”(HR Bukhori)

Dalam hadis riwayat lain disebutkan, bahwa ketiga kalimat tersebut merupakan salah satu macam cara untuk bersedekah sebagaimana aduan orang-orang miskin tentang orang kaya yang bisa mendermakan hartanya. Sabda Nabi SAW: “Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, takbir adalah sedekah, tahmid adalah sedekah dan tahlil adalah sedekah.” (HR Muslim)

Dari hadis ini dapat kita ambil hikmah. Betapa banyak sekali keutamaan berzikir membaca tasbih, tahmid dan takbir. Dengan cara banyak berzikir, akan timbul rasa takut kepada Allah dan buahnya kita bisa menjalankan semua perintah dan larangan Allah. Maka, seyogyanya kita senantiasa mendawamkan amalan dari Rasulullah ini dan kita berharap, dapat mencapai keberkahan hidup dan senantiasa menjadi hamba yang tidak merugi.
Oleh Kusnandar SThI Penulis adalah Alumnus Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya

sumber : www.republika.co.id

Tuesday, February 26, 2013

Belajar Optimis

"Janganlah kalian berputus harapan dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah akan mengampuni semua dosa. Karena Dia Mahapengampun lagi Mahapenyayang." (QS al-Zumar/39: 53) "Dan tidak ada orang yang berputus harapan dari rahmat Allah kecuali orang-orang yang sesat." (QS al-Hijr/15: 56)

Dua ayat tersebut mengandung tiga nilai moral-spiritual yang mulia. Pertama, manusia harus terus-menerus belajar optimis dalam meraih rahmat Allah, saat senang maupun susah.

Belajar optimis harus ditujukkan melalui kerja ikhlas, cerdas, keras, berkualitas, dan tuntas  dalam rangka meraih masa depan yang lebih baik.

Menurut Ibn Khaldun dalam Muqaddimah-nya, sebuah bangsa akan bangkit menuju kemajuan dan kesejahteraan jika warganya memiliki etos kerja yang profesional dan optimisme yang tinggi. Jadi, optimisme merupakan spirit dan energi positif untuk meraih prestasi tinggi dan cita-cita mulia.

Kedua, putus asa merupakan sikap mental pecundang. Putus asa menyebabkan kehilangan harapan baik di masa depan. Allah melarang hamba-Nya berputus asa karena rahmat (kasih sayang) Allah jauh lebih luas dari yang dibayangkan manusia.

Rahmat Allah menjangkau dan menghampiri seluruh makhluk-Nya. Karena itu, orang yang berputus asa sama artinya dengan berprasangka buruk kepada-Nya. Akibatnya, berputus asa dapat menyebabkan seseorang tersesat dari jalan-Nya.

Ketiga, pintu rahmat dan ampunan Allah senantiasa terbuka bagi siapapun, di manapun, dan kapan saja. Karena itu, hamba harus selalu berupaya mendekatkan diri kepada-Nya, baik melalui ibadah ritual maupun ibadah sosial.
Persoalannya, manusia seringkali lupa diri, sehingga Allah pun melupakannya (QS al-Hasyr/59:19). Ketika manusia dilupakan Allah, maka rahmat-Nya pasti jauh darinya.
Oleh sebab itu, manusia yang beriman harus bersikap rendah hati dan terus optimistis untuk bertaubat, kembali kepada jalan Allah, dengan memohon ampunan-Nya.

Optimisme dalam menghadapi persoalan dan masa depan merupakan bagian integral dari keberimanan seseorang. Belajar optimis berarti belajar mereformasi iman, menyesali dosa-dosa masa lalu, tidak mengulangi kesalahan, dan bertekad menyongsong masa depan yang lebih baik.

Oleh karena itu, belajar optimis seyogyanya tidak berhenti pada perbaikan kualitas hidup di dunia, tapi juga bervisi jauh ke depan, yakni harapan baik dalam kehidupan akhirat kelak.

Allah menyatakan: "Siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia berbuat baik, dan tidak melakukan kemusyrikan sedikitpun dalam beribadah kepada-Nya." (QS al-Kahfi/18: 110).

Belajar optimis bukan sekadar keinginan tanpa tindakan nyata. Belajar optimis menurut al-Qur’an, harus disertai usaha dan doa.
Usaha itu dapat diwujudkan dengan kembali meneladani perjalanan hidup Rasulullah SAW yang tidak pernah surut dari ujian dan cobaan, bahkan ancaman terhadap keselamatan jiwanya.

"Sungguh pada diri Rasulullah itu terdapat keteladanan yang baik bagi kalian yang mengharapkan Allah dan hari akhir, serta banyak berzikir kepada-Nya." (QS al-Ahzab/33: 21)

Salah satu penyebab putus harapan adalah berpikir negatif (su’udzan), tidak mengingat Allah, dan krisis keteladanan.
Dalam situasi bangsa yang masih mengalami krisis, para pemimpin, pejabat dan tokoh-bangsa diharapkan dapat memberi keteladanan yang baik dalam mengelola negara, memperhatikan dan menyejahterakan mereka.

Para pemimpin tidak cukup hanya memberikan harapan, terutama kepada warga bangsa yang mengalami musibah, tapi juga harus mampu memberikan teladan yang baik dalam berpola hidup sederhana, hemat, sehat, dan cermat, tidak korup dan suka berfoya-foya di atas penderitaan rakyat.

Dengan belajar otimis, kita dapat membangun komitmen baru, berpikir positif, etos kerja produktif,  dan selalu mensyukuri karunia Allah SWT, sehingga cita-cita mulia selalu menjadi target perjuangan hidupnya.

Belajar optimis diiringi dengan doa dapat menjauhkan diri dari murka Allah, karena Allah sangat senang jika dimintai, lebih-lebih hamba yang meminta kepada-Nya dengan penuh optimistis.
Oleh Muhbib Abdul Wahab
sumber : www.republika.co.id

Monday, February 25, 2013

Hadiah Allah

Kamil Lubudy, memasuki gerbang pernikahan, tanpa pernah membayangkan akan punya tiga anak penghafal Alquran terkecil di dunia.

Bersama Rossa, istrinya, Kamil Lubudy hidup seperti pengantin pada umumnya. Membangun impian begini begitu. Nggak terlintas dalam benaknya punya impian akan menjadi sepasang suami istri penghafal Alquran, yang dihadiahi Allah tiga anak yang juga hafal Alquran.

Kamil Lubudy dan istrinya, yang sama-sama berlatar belakang farmasi, apoteker, pada satu masa diberi hidayah Allah. Keduanya atas izin Allah berkeinginan menghafal Alquran. Dan mulailah pasangan ini menghafal Alquran.

Berita ini sangat menggembirakan buat pasangan suami istri muslim-muslimah. Jika Kamil Lubudy dan Rossa bisa, tentunya saudara-saudara yang saat ini belum menghafal Alquran, terbentang luas kesempatan dan peluang untuk bisa menjadi penghafal Alquran. Bukan tidak mungkin, akan dihadiahi pula oleh Allah keturunan yang hafal Alquran.

Saat Tabaarok, begitu nama anak pertama mereka, berusia dua setengah tahun, Kamil Lubudy melihat anak-anak kecil, remaja, dan dewasa, pada menghafal Alquran. "Ada yang 5 juz, 10 juz, 16 juz, bahkan 30 juz," begitu kata beliau. "Saya berdoa saat itu, kepada Allah, agar Tabaarok bisa hafal Alquran."

Karena saat itu juga beliau sedang dekat dengan Alquran, maka Tabaarok pun akhirnya menjadi anak yang beruntung. Tabaarok memiliki orang tua yang punya semangat tinggi untuk menghafal Alquran, belajar Alquran, dan mengajarkannya langsung kepada anaknya.

Kamil Lubudy, walau terlahir sebagai orang Arab, berkebangsaan Mesir, tapi urusan tajwid dan makhraj, memang beda. Beliau belajar lagi tentang kefasihan membaca, bahkan belajar //qiro'ah sab'ah// (bacaan yang berbeda dengan kita di Indonesia).

Subhanallah, Tabaarok putranya, berhasil menamatkan Alquran di usia 3,5 tahun. Pada umur 4,5 tahun, dinobatkan oleh lembaga tahfidz internasional yang dipimpin Syekh Bashfar, dari Liga Muslim Dunia, sebagai penghafal Alquran termuda. Diuji oleh sekian penguji berkaliber ulama Alquran internasional.

Tidak cukup sampai di sana, menyusul dua adiknya Taabarok, yakni Yazid dan Zainah. Pun di usia yang sama, keduanya mengikuti jejak langkah kakaknya. "Bahkan Yazid dan Zainah, kami hanya keluar energi 40 persen. Sebab Yazid dan Zainah sudah duluan sering mendengar kakaknya mengaji."

Itulah hadiah Allah. Hadiah teramat manis buat siapa yang mau berkhidmat dengan Alquran. Dari sekian banyak hadiah, begitu kata Kamil Lubudy, hadiah apalagi yang lebih berharga dari Allah, ketika kami mengakrabkan diri kami dengan Alquran? Tidak lain, adalah Tabaarok, Yazid, dan Zainah. Anak-anak yang saleh- salehah, lagi hafal Alquran.

Insya Allah saudaraku semua, kita pun bisa. Insya Allah. Mulailah sekarang dengan menaruh perhatian lebih terhadap Alquran. Insya Allah ada begitu banyak hadiah Allah buat kita semua. Kita sama-sama berdoa.

Keluarga Kamil Lubudy beserta istri dan tiga anaknya, sedang berada di Indonesia. Mengadakan lawatan ke sejumlah negara di Asia, termasuk di Indonesia. Keluarga ini akan hadir meramaikan Wisuda Akbar ke-4 di GBK Senayan, 30 Maret, bersama Syekh al-Ghomidi. Semoga kita bisa meniru jejak langkahnya. Amien.
Redaktur : Damanhuri Zuhri
Oleh Ustaz Yusuf Mansur

sumber : www.republika.co.id

Sunday, February 17, 2013

Menghormati Pemimpin

Setiap komunitas selalu membutuhkan seorang pemimpin. Islam juga mengajarkan yang demikian itu, pemimpin harus ada.Bahkan dalam kegiatan ritual sekalipun, seperti shalat bersama-sama, harus ditunjuk salah seorang di antaranya  menjadi imam atau pemimpinnya.
Masyarakat yang ideal, manakala memiliki seorang pemimpin yang ditaati, dicintai, dan dihormati. Namun tentu,  perlakuan terhadap pemimpin seperti itu, manakala pemimpinnya mampu berbuat baik, adil, dan jujur terhadap mereka  yang dipimpinnya.
Suasana seperti itu akan melahirkan saling kasih mengasihi antara mereka yang dipimpin dan yang  memimpin.
Tali hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin, agar menjadi tetap kokoh, seharusnya berupa kasih sayang.  Hubungan kasih sayang tidak akan ada yang mengalahkannya.
Kasih sayang akan melahirkan ketaatan, penghormatan, dan  bahkan juga kesediaan untuk berkorban di antara sesamanya.
Dalam alam demokrasi seperti sekarang ini, pemimpin dipilih langsung oleh mereka yang dpimpinnya. Dengan demikian  mestinya para pemimpin adalah orang yang paling dicintai, ditaati, dan dihormati oleh mereka yang memilihnya.
Dalam  memilih sesuatu, tidak terkecuali memilih pemimpin, seharusnya mengambil yang terbaik.
Atas dasar proses demokrasi seperti itu, semestinya tidak ada alasan untuk tidak mencintai, menaati, dan menghormati  pemimpinnya sendiri.
Namun sayang sekali, suasana ideal itu tidak selalu terjadi. Pemimpin yang semula dipilihnya sendiri, ternyata tidak  ditaati dan bahkan ditinggalkan.
Pemimpin yang bersangkutan dianggap tidak jujur dan tidak adil. Bukankah semestinya  tatkala memilihnya, telah menyadari bahwa pemimpin itu sebenarnya adalah orang biasa.
Statusnya sebagai manusia biasa, maka tatkala menjadi pemimpin sekalipun tidak pernah luput dari kekurangan dan  kesalahan. Manusia selalu disebut sebagai //mahallul khotho  wannis-yan// tempatnya salah dan lupa.
Mencari pemimpin  yang tidak memiliki kesalahan, tak akan pernah  mendapatkannya. Sebab semua orang, --kecuali  rasul yang maksum, selalu memiliki sifat lupa dan salah itu.
Pemimpin, siapapun orangnya, seharusnya diterima secara utuh, baik tatkala sedang melakukan kebenaran maupun tatkala  sedang melakukan kesalahan. Apalagi, kesalahannya itu misalnya, tidak disengaja atau tidak dikehaui olehnya.
Sebagai  orang yang sedang dipimpin, manakala pemimpinnya melakukan kesalahan, harus mengingatkan. Membiarkan pemimpinnya  melakukan kesalahan, merupakan kesalahan. Bahkan, dalam shalat sekalipun, ketika imamnya salah, makmum harus  mengingatkannya.
Siapapun yang salah seharusnya diingatkan dan bukan dihukum. Sebab betapa banyak orang yang akan masuk penjara,  manakala setiap orang yang salah harus dipenjara, sementara kesalahan itu sebenarnya adalah milik semua.
Kesalahan  semestinya tidak selalu harus dibalas dengan hukuman, tidak terkecuali kesalahan seorang pemimpin. Pemimpin harus  dihormati, apalagi posisinya diperoleh dari proses yang benar, yaitu lewat pilihan dengan cara-cara yang telah  disepakati bersama. Wallahu a lam.
n
, Oleh Prof Dr Imam Suprayogo
sumber : www.republika.co.id

Saturday, February 16, 2013

Istighfar, Kalimat Penyelamat dari Azab Allah

, Oleh: Yuliasih 
Diceritakan dari Ibnu Abbas, bahwasanya beliau berkata, “Ketika Nabi Yunus AS merasa tidak dapat lagi mengharapkan keimanan dari kaumnya, beliau memohon kepada Allah SWT.

'Ya Allah sesungguhnya kaumku telah durhaka kepada-Mu dan mereka tetap dalam kekufuran. Oleh sebab itu turunkanlah siksaan-Mu kepada mereka.' Allah SWT berfirman: 'Sesungguhnya Aku akan menurunkan siksa-Ku yang sangat pedih'.”

Setelah itu,  Nabi Yunus pergi meninggalkan kaumnya dan mengancam mereka bahwa siksa Allah akan turun setelah kurun tiga hari. Beliau pun membawa keluarganya dan dua anak yang masih kecil-kecil. Kemudian ia mendaki gunung yang tinggi dan mengawasi penduduk Ninawa serta menanti siksa yang akan ditimpakan kepada mereka.

Allah SWT kemudian mengutus Jibril dan berfirman kepadanya, “Pergilah engkau ke tempat malaikat Malik! Katakan kepadanya agar ia meniupkan angin panas dari neraka sebesar biji gandum, kemudian berangkatlah ke penduduk Ninawa dan timpakanlah siksa itu kepada mereka.” Lalu Jibril pun berangkat ke Kota Ninawa dan melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Tuhannya. Kaum Yunus  pun mulai merasakan siksa Allah yang sangat pedih sesuai dengan apa yang telah dikatakannya kepada kaumnya.

Ibnu Abbas berkata, “Ketika mereka telah yakin bahwa siksa Allah telah menimpa mereka dan mengetahui bahwa apa yang dikatakan Nabi Yunus itu benar, mereka pun mencari-carinya, namun mereka tidak menemukannya.” Pada akhirnya mereka berkata, “Marilah kita berkumpul serta memohon ampunan kepada Allah SWT.”

Kemudian, mereka bersepakat untuk berangkat ke sebuah tempat yang disebut dengan Tal al-Ramad dan Tal al-Taubah. Di tempat itu mereka menaburkan debu pasir di atas kepala dan menginjaki duri-duri dengan kaki mereka sambil memohon ampunan kepada Allah dengan mengangkat suara disertai tangisan dan doa.

Atas kesungguhan mereka dalam bertobat dan beristighfar maka Allah SWT pun menerima tobat dan mengampuni dosa-dosanya. Kemudian Allah SWT berfirman kepada Malikat Jibril, “Wahai Jibril angkatlah siksa yang aku timpakan kepada mereka, sesungguhnya aku telah mengabulkan tobat mereka.” Umat Nabi Yunus pun selamat dari siksaan.

Salah satu pelajaran yang dapat kita petik dari kisah di atas adalah istighfar (permohonan ampun) merupakan kalimat penyelamat. Artinya, kalimat yang mampu menyelamatkan manusia dari ancaman azab Allah.

Kalimat istighfar mengandung makna pengakuan, penyesalan, kesadaran, kerendahan diri, dan keimanan. Dan itu semua merupakan sebab yang dapat mendatangkan kecintaan, pertolongan, dan perlindungan Allah SWT sehingga kita dapat selamat dari siksaan dan kebinasaan.

Tidak ada yang dapat menyelamatkan diri kita dari azab Allah, kecuali kita memohon ampun dan segera bertaubat atas segala kesalahan. Sayyidina Ali karamallahu wajhah berkata, “Sungguh aneh orang yang binasa padahal ia memiliki kalimat penyelamat.” Ditanyakan kepadanya, “Apa itu?” Ia berkata, “Istighfar.” (Al-Mustathraf [2]: 344-345). Wallahu a'lam.

sumber : www.republika.co.id

Friday, February 15, 2013

Hikmah di Balik Kisah Nabi Khidir

Terdapat banyak hikmah dari kisah Khidir , salah satunya, yakni menuntut ilmu. Dalam Islam, menuntut ilmu merupakan perkara wajib. Tampak dalam kisah betapa Nabi Musa sangat antusias menuntut ilmu. Bahkan, meski kedudukannya saat itu merupakan nabi ia tak segan untuk terus menuntut ilmu.
Beliau bahkan bersedia menempuh perjalanan panjang demi bertemu sang guru. Beliau yang berstatus tinggi sebagai nabi, bahkan bersedia merendahkan diri dihadapan sang guru. Alasannya, karena ilmu memiliki kedudukan tinggi dalam Islam.

Allah berfirman dalam surah al-Mujadilah ayat 11, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama) beberapa derajat.” Banyak ayat yang menyatakan keutamaan ilmu dan kewajiban menuntutnya. Dalam hadis, Rasulullah pun sering mengingatkan umatnya untuk menuntut ilmu. Beliau pun menyatakan keutamaan ilmu bagi para Muslimin.

Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Abud Darda menceritakan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menempuh suatu jalan yang padanya dia mencari ilmu, Allah akan mudahkan dia menempuh jalan dari jalan-jalan (menuju) jannah dan sesungguhnya para malaikat benar-benar akan meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu.
Dan, sesungguhnya seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampun untuknya oleh makhluk-makhluk Allah yang di langit dan yang di bumi, sampai ikan yang ada di tengah lautan pun memintakan ampun untuknya. Dan, sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu atas seorang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi dan para Nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka, barangsiapa yang mengambilnya sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat banyak.”
,  Oleh Afriza Hanifa

sumber : www.republika.co.id

Thursday, February 14, 2013

Bahaya Devisit Pahala

Dari Abu Hurairah r.a, bahwa Rasulullah SAW bertanya , “ Tahukah kamu siapakah muflis (orang yang bangkrut) itu ?”.
Para sahabat menjawab, “ Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan kami ialah orang yang kehabisan uang (dirham) dan barang.”
Rasulullah saw bersabda, “ Sesungguhnya orang yang bangkrut di antara umatku ialah orang yang nanti di hari kiamat datang dengan membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat.
Di samping itu, dia juga benar-benar pernah mencaci maki si fulan ini, menuduh si fulan,  memakan harta si fulan ini,  menumpahkan darah si fulan ini, dan memukul si fulan ini.
Maka si fulan ini akan diberinya dari pahala kebaikan-kebaikan orang tersebut dan si fulan ini akan diberinya dari pahala kebaikan-kebaikannya.
Kemudian jika pahala kebaikan-kebaikannya itu telah habis sebelum mencukupi apa yang menjadi tanggungannya, maka dosa-dosa orang yang dizhalimi itu akan diambilnya untuk dipikulkan kepadanya, kemudian sesudah itu barulah dia dilempar ke dalam neraka. “ (HR: Muslim)   
Ada dialog menarik antara Rasulullah saw dengan para sahabat yang diriwayatkan Imam Muslim tentang muflis ( orang yang bangkrut). Para Sahabat menjawab pertanyaan Rasulullah SAW tentang  siapakah yang dimaksud dengan orang bangkrut itu?

Mereka berkata, “ Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan kami ialah orang yang kehabisan uang (dirham) dan barang. Itu persepsi umum, kalau orang yang bangkrut itu adalah orang yang kehilangan atau orang merugi sehingga kehabisan harta dan barangnya.

Rasulullah SAW menjelaskan sesungguhnya orang yang bangkrut di antara umatku ini ialah orang yang nanti di hari kiamat datang dengan membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat.

Di saat yang sama ia membawa dosa-dosa prilaku sosial (hablumminannas) yang ternyata mengakibatkan devisit pahala di akherat nanti. Dosa-dosa prilaku sosial (hablumminannas) tersebut seperti di bawah ini:

Pertama, mencaci maki orang lain. Bila seseorang mencaci-maki seseorang, biasanya akan keluarlah kata-kata yang tak senonoh dari mulutnya sehingga mengakibatkan hilangnya harga diri orang tersebut. Padahal, harga diri dalam Islam sangat dijunjung dan dimuliakan.

Apabila manusia merendahkan dan melecehkan harga diri seseorang, dia hakikatnya melampui otoritas Allah SWT.  Hanya Allahlah yang paling berhak merendahkan manusia yang menyekutukanNya.

Sebagaimana firman-Nya di surah Al-Ahzab ayat 19; ” Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan , kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati.

Apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan  amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

Kedua, menuduh orang lain. Fitnah adalah amal paling buruk, karena fitnah lebih kejam dari pada membunuh. Firman Allah SWT pada surat Al Baqarah ayat 191, “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu ; dan fitnah  itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan.’’

Ketiga, memakan harta orang lain. Ini perbuatan yang sangat merugikan pihak lain apalagi diambil dengan cara-cara yang kasar dan tanpa berperasaan termasuk prilaku korupsi, apalagi merampas harta anak yatim maka sangat besar murka Allah SWT.

Ini merupakan peringatan kepada para pengelola dana umat terutama harta anak yatim, sebagaimana firman Allah pada surat An-Nisa ayat 10. “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala .” 

Keempat,membunuh orang lain. Islam sangat memuliakan manusia sehingga nilai nyawa seseorang sangatlah besar di hadapan Allah SWT. Membunuh satu manusia sama dengan membunuh semua manusia di alam semesta.

Firman Allah SWT di surat Al Maidah ayat 52  yang artinya; “Oleh karena itu Kami tetapkan  bagi Bani Israil, barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu  membunuh orang lain , atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.’’

Kelima, memukul/menganiaya orang lain. Islam sangat menjunjung persahabatan dan persaudaraan antar sesama. Islam menolak pertikaian sehingga terjadi penganiayaan baik menghina maupun memukul fisik seseorang.

Allah saja tidak mau menganiaya hamba-hambaNya, kenapa manusia menganiaya yang lain sebagaimana firmanNya pada surat Ali Imran (3) ayat 108, “Itulah ayat-ayat Allah. Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya.”

Apabila seorang Mukmin melakukan kelima hal tersebut terhadap yang lain, kelak di akherat ia akan dituntut oleh  pihak-pihak yang dizhalimi.

Apabila orang tersebut memiliki pahala dari shalat, zakat, haji, dzikir dan yang lainnya, maka diambillah pahala tersebut untuk diberikan kepada pihak-pihak yang didzalimi. Bila pahalanya habis, maka dosa orang yang didzaliminya dilimpahkan kepadanya.

Pihak-pihak yang dilanggar tersebut bisa dari keluarga inti (suami,istri, dan anak), keluarga besar dan masyarakat secara umum yang bergantian mendatangi pihak yang melanggar untuk meminta pertanggung-jawabannya.

Wajar bila nanti di akherat banyak orang ahli ibadah (ibadah mahdhah) namun devisit pahala karena prilaku sosialnya (ibadah ghaira mahdhah/muamalah) yang buruk. Wallahu a’lam
n
, Oleh Naharus Surur

sumber : www.republika.co.id

Wednesday, February 13, 2013

Rental Mobil Bandung

Kami menyediakan Rental mobil


Mobil + Sopir (dalam kota)

Toyota Avanza
Suzuki APV
Rp 400.000
Toyota All New Avanza/All New XeniaRp 425.000
Toyota InnovaRp 500.000
Toyota Grand New InnovaRp 550.000
KIA Travello
KIA Pregio
Rp 600.000
Isuzu ElfRp 625.000
  • Tidak termasuk: BBM, tiket masuk, parkir, makan untuk sopir, dll.
  • Overtime: 10% / jam dari tarif sewa.

untuk informasi selengkapnya silahkan hubungi:
Nama:  Akang Agus
No Telp: 087825703075
Pin BB: 26C2DCC0
YM: a_goest@yahoo.com
Twitter: @akangagus

Kemaksuman Nabi Muhammad SAW

Sudah menjadi pengatahuan bersama bahwa setiap Nabi dan Rasul dijaga oleh Allah SWT dari kesalahan dan dosa (Maksum), termasuk Nabi Muhammad SAW.

Kesalahan kecil dan tidak berarti bagi kaum awam tidaklah pernah mengkhawatirkan mereka, namun bagi maqam para nabi dan rasul maka hal tersebut bisa menjadi masalah besar dalam kaitannya dengan kredibilitasnya (muru'ah). Hal itu tidak lain karena perbedaan sikap dan pandangan (maqam) dalam melihat substansi sebuah kesalahan dan perbedaan kualitas pribadi masing-masing jiwa.

Allah SWT menjaga kemaksuman Nabi Muhammad SAW secara fisik maupun non fisik. Terlahir dalam keadaan tersunat, penjagaan atas keterbukaan auratnya di mata masyarakat, terlindungi dari kemaksiyatan dan keburukan perilaku kaumnya, dan keterjagaan fisiknya terjatuh dalam kemungkaran merupakan beberapa bentuk penjagaan Allah SWT secara fisik terhadap Muhammad SAW.

Sedangkan penjagaan non fisik dianugerahkan oleh Allah SWT dalam bentuk ketundukan hawa nafsu Nabi Muhammad pada bimbingan ilahi, pembersihan hatinya dari sifat tercela melalui pembedahan dadanya, dan kegemaran hatinya pada tradisi khalwat sebagai bentuk persiapan hati dan ibadah sebelum datangnya wahyu pertama.

Suatu hari Muhammad kecil yang hidup di perkampungan Halimatus Sa'diyah berkeinginan untuk mendengarkan musik pada resepsi pernikahan di Makkah. Berangkatlah Muhammad sore itu dengan berpamitan kepada kawannya sesama penggembala kambing. Ketika waktu malam sampai di Makkah, Muhammad menyaksikan sebuah resepsi pernikahan yang di dalamnya terdapat hiburan musik.

Muhammad duduk di tempat itu, namun tiba-tiba dirinya mengantuk, dan ditidurkan oleh Allah SWT. Muhammad baru bangun satelah sinar matahari menerpa dirinya. Pagi hari Muhammad kembali ke kampung ibu susuannya dan ditanya oleh kawannya, "Apa yang kamu saksikan?"

Muhamamd menjawab: "Aku tidak melakukan apa-apa." Kemudian Muhammad menceritakan kejadian tertidurnya kepada kawannya.

Malam berikutnya Muhammad kembali ke Makkah dengan tujuan yang sama, namun peniduran Allah kembali terjadi pada pengalaman yang kedua. Pada saat kawannya bertanya, Muhammad menjawab bahwa ia tidak menyaksikan dan mendengar apa-apa karena tertidur hingga waktu pagi tiba.

Suatu waktu salah seorang pedagang dari Qabilah Az-Zabidi di Yaman dizalimi oleh Al-Ash bin Wail As-Sahmi dari Quraish yang tidak membayar barang dagangan. Merasa tidak ada yang menolong, pedagang dari Yaman tersebut naik ke gunung Abi Qubais dan menyeru kaum Quraish yang berkumpul di tempat itu. Dia berteriak menyerukan supaya haknya yang terzalimi dikembalikan.

Az-Zubair bin Abdul Muthalib mengumpulkan beberapa qabilah di antaranya Bani Hasyim, Bani Zuhrah, dan Bani Taim di rumah Abdullah bin Ja'dan untuk membuat perjanjian pengembalian hak orang yang terzalimi tersebut. Muhammad SAW termasuk yang hadir dalam perjanjian itu dan mereka menemui Wail serta mengambil dengan paksa barang milik pedagang Az-Zabidi.

Muhammad SAW berkata mengenai kejadian tersebut. "Saya telah menyaksikan di rumah Abdullah bin Ja'dan, sebuah perjanjian yang lebih aku cintai dari pada seekor unta berwarna merah, seandainya saya diajak dalam perjanjian yang sama dalam Islam, maka saya akan bergabung." (Al Bidayah wa Al-Nihayah).

Kedua riwayat tersebut yang satu menegaskan mengenai kemaksuman Muhammad secara fisik dan yang lainnya secara non fisik, yaitu berupa kecenderungan dan keperpihakan hati Muhammad pada keadilan.

Demikianlah Allah SWT menjaga kemaksuman nabi tercintanya, sebab kemaksuman tersebut dipersiapkan dalam rangka menerima wahyu, sehingga sesuatu yang suci harus diturunkan kepada pribadi yang suci.

Lebih dari itu, kemaksuman memberikan penegasan bahwa jika  manusia pada umumnya mendapat pengajaran dan bimbingan manusia melalui madrasah insaniyah, maka madrasah para nabi dan rasul adalah madrasah rabbaniyah, sehingga kendati mereka secara fisik sama dengan manusia pada umumnya, tetapi SDM yang terdapat di dalam tubuhnya sungguh benar-benar berbeda dengan manusia biasa.

Wallahu A'lam.
, Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA
sumber : www.republika.co.id

Tuesday, February 12, 2013

Menjaga Air untuk Kehidupan

Air adalah sumber kehidupan bagi makhluk hidup di Bumi. Ketiadaan air bisa mengancam kelangsungan hidup dan ekosistem alam. Bagi manusia, selain sebagai konsumsi sehari-hari, benda cair itu juga bermanfaat untuk mandi dan mencuci.Air juga menopang pembangunan infrastruktur, seperti rumah, masjid, perkantoran, dan lainnya. Ini merupakan makna bahwa segala apa yang ada di Bumi memang diperuntukkan bagi kepentingan manusia (QS Luqman [31]:20).

Kebutuhan air bersih dan terlindungi sehingga aman untuk minum di Indonesia masih belum maksimal. Sebuah data menyebut, capaian proporsi akses penduduk terhadap sumber air minum terlindungi (akses aman) secara nasional sampai dengan 2011 masih sebesar 55,04 persen. Persentase ini masih belum optimal. Padahal, target MDGs untuk akses itu pada 2015  sebesar 68,87 persen.   

Di sisi lain, muncul paradoks. Air bersih justru dieksploitasi secara berlebihan. Syekh Yusuf al-Qaradhawi dalam makalahnya berjudul “Al-Biah fil Islam” mengatakan, pentingnya menjaga air sebagai sumber kehidupan telah ditegaskan dalam Alquran Surah al-Anbiyaa' ayat 30. “Dan, dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.”

Karena itu, air adalah kekayaan paling berharga dan warisan penting bagi generasi mendatang. Allah SWT memberikan nikmat air itu secara gratis. Sayangnya, nikmat tersebut tidak dipergunakan dan dimanfaatkan dengan baik dan proporsional oleh manusia.

Sering kali pendayagunaan air, kata Sekjen Ulama Internasional ini, tidak optimal dan bahkan di banyak kesempatan cenderung eksploitatif. Hal ini tidak bisa dibiarkan dan harus dicegah. Pasalnya, berbeda dengan kekayaan Bumi atau alam lainnya, air bersifat surut dan tidak bisa dibudidayakan.

Ia menegaskan, jika pemakaian yang tak tepat guna dan konsumsi berlebihan tetap terjadi maka tak mustahil krisis air pun akan terjadi. “Dan, Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran, lalu Kami jadikan air itu menetap di Bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.” (QS al-Mu'minuun [23]:18).

Syekh al-Qaradhawi mengajak umat Muslim tampil sebagai garda terdepan menjaga kelestarian air. Ajakan ini bukan tanpa alasan. Islam memiliki segudang tuntunan agar air tetap terjaga, bersih, bebas dari pencemaran, dan laik dikonsumsi.

Contoh perhatian Islam terhadap pelestarian air ialah larangan mencemari air sungai ataupun sumber air pegunungan, misalnya, dengan limbah manusia, seperti air seni dan tinja. Dalam hadis riwayat Bukhari Muslim, Rasulullah SAW melarang para sahabatnya buang air besar di sumber air.

Di riwayat lain dari Abu Dawud, larangan itu ditekankan pula atas kencing di air kolam ataupun air danau yang tidak mengalir. Sementara, lokasi itu dipergunakan sehari-hari oleh warga sekitar.

Menurut Syekh al-Qaradhawi, bentuk pencemaraan saat ini tak hanya terbatas pada kotoran manusia. Melainkan, limbah rumah tangga dan industri. Limbah-limbah tersebut justru lebih berbahaya.

Sampah kerap menggunung di kali-kali atau bantaran sungai. Dampaknya pun cukup jelas, paling  utama banjir. Soal bahaya limbah industri tak lagi diragukan. Kandungan bahan kimia bisa merusak ekosistem sungai. Akibatnya, air yang telah tercemar tak lagi laik dikonsumsi.

Satu lagi bentuk pelestarian terhadap air, katanya, ialah larangan untuk eksploitasi air yang berlebihan. Rasulullah pernah mengingatkan Saad bin Abi Waqash agar berwudhu dengan air secukupnya. Tidak usah berlebih sekalipun berada di lokasi dengan air yang melimpah.

Di riwayat lain bahkan Rasul mewanti-wanti munculnya fenomena terlalu berlebihan ketika bersuci (mempergunakan air). Karena itu, hendaknya pendayagunaan air harus dikedepankan untuk dikonsumsi untuk diminum. Peruntukkan yang lain tentu hendaknya didistribusikan secara proporsional. 

Teladan Nabi agar menjaga kelestarian air mengilhami para sahabatnya. Hal itu seperti yang tergambar dari sikap Bilal bin Rabah. Muazin pertama tersebut selalu mendambakan tinggal di Makkah dan sekitarnya dengan air melimpah, gunung menjulang tinggi, dan pepohonan tumbuh sumbur. Ia pun bersenandung, “Andai saja aku bisa bermalam di lembah dan sekitarku rerumputan hijau membentang dan seandainya aku menikmati gemericik air surga yang mengalir.
, Oleh: Heri Ruslan
sumber : www.republika.co.id

Monday, February 11, 2013

Agar Mudah Bersabar dan Bersyukur

Alquran mengisahkan, bagaimana kesabaran Nabi Ayub AS menerima cobaan. Ia merasakan tiga penderitaan sekaligus, yaitu rasa sakit, kesedihan, dan kesendirian. Allah SWT mengujinya dengan harta, keluarga, dan penyakit.

Hartanya musnah, ia ditinggal istri dan tak lagi memiliki teman, dan ia  menderita penyakit kulit akut. Ini seperti tertuang di surah al-Anbiya' ayat 83-84. Ia tetap bersabar. Buah kesabaran itu, ia akhirnya sembuh dan meraih kasih sayang Allah.

Bersabar tak hanya pada hal yang tidak disukai, tapi makna bersabar juga mencakup menahan diri dari nafsu ketika mendapat nikmat. Seperti kala mendapat promosi jabatan atau rezeki tak terduga.

Beberapa cara bisa ditempuh untuk mudah bersabar. Ini sejatinya adalah 'perangkat lunak' dalam diri kita sebagai anugerah dari Allah. Di antaranya ialah memperbanyak senyum. Jika sedang terbakar emosi, tersenyumlah. Senyum adalah obat hati yang mujarab.

Bisa juga dengan cara mengalihkan perhatian, yaitu melupakan masalah itu sendiri. Melupakan, bukan berarti lari dari masalah, tetapi menghindari keterpakuan terhadapnya. Coba juga cara ini, yaitu tidak menelan mentah-mentah perkataan orang lain dalam hati. Saringlah baik-baik.

Bagaimana dengan syukur? Hakikat syukur ialah mengungkapkan pujian kepada Sang Pemberi Kebahagiaan, yaitu Allah. Sebab, segala anugerah datang dari-Nya. Ini kemudian diejawantahkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Bersyukur artinya berbuat baik untuk diri sendiri dan orang lain.

Dengan syukur, Allah akan mempermudah jalan bagi kita untuk meraih impian dan kesuksesan. Tanpa disertai syukur, bisa saja Allah berkehendak mencabut nikmat itu seketika. Lalu, bagaimana membiasakan diri bersyukur?

Ini bisa dilakukan setiap hari menjelang malam, salah satunya. Pejamkan mata dan renungkan apa saja kenikmatan di hari itu yang telah Anda terima. Berterima kasihlah kepada Allah. Dengan begitu, kita akan menyadari bahwa nikmat Allah sangat besar.

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS an-Nahl [16]: 18).

Dan, syukur harus menjadi sarana taat kepada Allah. Ketika banyak rezeki, jangan hanya dibicarakan, berbuatlah sesuatu yang bermanfaat. Bantulah sesama yang membutuhkan. Tunaikan zakat dan berinfaklah. Karena, kesemuanya itu adalah bukti nyata rasa syukur.
, Oleh: Nashih Nashrullah

sumber : www.republika.co.id

Sunday, February 10, 2013

Al Amin

,Mohammed one of the greatest man that humanity has ever produced. Great not simply as a prophet, but he was true to himself, his people and above all to his God. (Glyn Leonard, Islam-Her moral and Spiritual value, London 1972 pp. 20-21).

Kita hafal betul, betapa baginda Muhammad saw sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul, terlebih dahulu tampil sebagai Al Amin. Sosok manusia yang tidak saja dikenal dan ditauladani kita semua, tetapi juga tak kurang para cendekiawan nonmuslim terpesona oleh keagungan ahlak beliau. Begitu terpesonanya, sehingga Glyn Leonard, menulisnya sebagai Manusia Agung (The Greatest Man) yang dilahirkan untuk kemanusiaan. Dan keagungan ahlak beliau bertumpu pada sikapnya yang senantiasa berpihak pada kebenaran dan kejujuran.

Michael H Hart, seorang sejarawan Amerika, setelah melalui riset yang mendalam kemudian tanpa ragu sedikit pun menempatkan Muhammad nomor satu di atas tokoh lainnya di dunia, dan memberikan komentar: ''A Striking example of this is may ranking Muhammad higher than others, in large part, because of my believe that Muhammad had a much greater personal influence on the formulation of The Moslem.... (The Hundreds, A Ranking of the most influential Person in Hostory, New York, 1978).

Glyn Leonard dan Michael H Hart, sepakat bahwa keagungan Rasulullah saw karena pengaruh ahlaknya yang luar biasa. Jujur pada dirinya sendiri, jujur pada manusia dan terlebih, Muhammad jujur pada Tuhannya (and above all true to his God).

Tetapi tidakkah kita merasa pedih dan sembilu, ketika di sekitar kita bahkan pada diri kita sendiri, pesona kejujuran telah memudar, lentera kebenaran telah memudar dan kusam. Sehingga, tanpa merasa berdosa kita sering berbohong dengan memainkan kata-kata banci dan pengecut, walau berlindung dibalik alasan memperhalus bahasa.

Pelacuran kita ganti dengan wanita tuna susila atau WTS. Kenaikan harga diganti penyesuaian. Korupsi dan kolusi disebut kesalahan prosedur dan birokrasi. Sogok dan suap berubah kata menjadi uang pelicin. Masya Allah! Kita sadar, bahwa manusia hanya mungkin mampu memanusiakan dirinya sendiri, ketika ia mampu berbuat jujur pada nuraninya. Lantas, apakah masih pantas kita menampakkan wajah kemanusiaan kita di hadapan Allah, jika sedikit pun tidak merasa berdosa ketika mengkhianati atau berbuat tidak jujur pada diri sendiri, ataukah memang seperti yang diprediksi Allah swt, bahwa kelak banyak manusia penghuni neraka yang lebih hina dari binatang ternak? yaitu mereka yang telah menutup mata, telinga dan nuraninya dari kejujuran (7: 176).

Mungkin ada baiknya, sesekali kita mengingat makna ihsan yang disabdakan Rasulullah saw: ''hendaklah engkau beribadah seakan-akan melihat Allah, dan apabila engkau tak melihatnya, ketahuilah -- sesungguhnya Allah melihatmu (h.r. Muslim) Tetapi, kalau tetap saja berbuat tidak jujur, masih mau disogok atau menyogok, ah...

sumber : www.republika.co.id

Saturday, February 09, 2013

Rasulullah: Potret Idealisasi Fitrah Manusia

“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung,” (Qs. Al-Qalam: 4)
 

Potret manusia sempurna sepanjang sejarah terlukis pada seorang insan kamil, nabi akhir zaman, Muhammad Rasulullah Saw baik dari segi fisik maupun kepribadiannya. Kesempurnaan yang didesign khusus oleh Zat Sebaik-baiknya Pencipta, tersusun sejak beliau masih di dalam kandungan ibunya, Siti Aminah.

Di usia yang masih sangat kecil, ketabahan beliau sudah sedemikian diuji oleh Allah. Pengasuhan yang berpindah-pindah, dari asuhan tulus penuh kasih sayang dari Ibu susunya, Halimatus Sa’diyah, lalu kakeknya, kemudian pamannya, membuat pribadi Rasulullah kian kuat: mandiri, sahaja, berkharisma dan sederhana, sebab beliau menyadari betul bahwa dirinya sebatangkara— tanpa orangtua.

Kepribadian yang sungguh berbeda dari anak-anak sebayanya; tidak pernah menyembah berhala, apalagi menenggak arak dan berdendang ria, membuat kita meyakini bahwa Allah telah mempersiapkan risalah suci jatuh kepada beliau, karena proses panjang yang dialami Rasulullah pra-kenabian sungguh mengagumkan.

Genap di usia 40 tahun, akhirnya beliau menerima sebuah risalah yang sungguh membuatnya gelisah; kalamullah yang ribuan untaian kalimah-nya begitu memukau, terlantun indah.

Secara kauniyah (faktual) isi dan kandungan Al-Quran telah dirasakan dan dialami terlebih dahulu oleh jiwa Rasulullah untuk kemudian ayat secara berangsur-angsur turun sesuai dengan permasalahan yang dialami para sahabat atau pertanyaan (tantangan) dari kaum kuffar Quraisy. Itulah yang disebut asbabun nuzul (sebab turunnya wahyu) yang sifatnya membenarkan dan meluruskan pengalaman yang terjadi.

Sebab tujuan Al-Quran secara bertahap itulah, dalam suatu hadits diriwayatkan bahwa akhlaq Muhammad ialah Al-Quran itu sendiri, yang dimaknai bahwa segala perbuatan, ketetapan, perkataan beliau refleksi dari kandungan Al-Quran sebagai anugerah dan rahmat dari Allah sesuai fitrah manusia.

Selain sebagai peneguh hati beliau, alasan lain Quran diturunkan secara bertahap ialah sebagai ‘proses pengajaran’ langsung dari Allah. Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur agar koheren antara masa (waktu), masalah, dan jawaban penting sesuai dengan pertanyaan dan rasa ingintahu para sahabat dan kaum kafir.

Sesuai dengan Qs Al-Furqan 32-33, “Orang-orang kafir bertanya, ‘Kenapa Al-Quran tidak diturunkan pada Muhammad sekaligus?’ Demikianlah, kami turunkan secara berangsur agar memperteguh hatimu dan Kami bacakan secara tartil. Tiap mereka datang padamu membawa pertanyaan Kami selalu datangkan padamu kebenaran dan penafsiran yang sebaik-baiknya.”

Pendapat rajih juga berpendapat bahwa Rasulullah mendapatkan wahyu 13 tahun di Makkah (fase Makiyyah) dan usai hijrah ke Madinah selama 10 tahun (fase madaniyah) dan total turunnya wahyu kurang lebih 23 tahun.

Sebab proses turunnya Al-Quran secara berangsur-angsur itulah Al-Quran turun apabila terjadi sebuah peristiwa, permasalahan, pengalaman, yang dirasakan dalam jiwa manusia baik yang berupa sebuah keburukan ataupun kebaikan. Al-Quran bertindak sebagai furqanan (yang memberikan keterangan perbedaan antara fitrah kesucian dan keburukan) itulah sebabnya pula Rasulullah bersabda bahwa Islam adalah agama fitrah atau sebagai rahmat seluruh alam karena Quran adalah sebuah pengalaman yang muncul dalam jiwa manusia. Yang keluar dari jiwa itulah jiwa yang baik maupun yang buruk.

Selain itu, Rasulullah diutus untuk membangkitkan kecenderungan yang inheren pada diri manusia terhadap tauhid dan akhlak yang merupakan bawaan sejak lahir.

Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad..

Wallahu a’lam..
 

,  Oleh: Ina

sumber : www.republika.co.id