-

Friday, April 26, 2013

Godaan Harta

Pemberian Allah subhanahau wa ta’ala berupa makanan, harta benda, kedudukan, anak, dan semisalnya merupakan ujian bagi manusia.

Allah berfirman dalam surat Al-Anfal ayat 28 yang artinya : “Dan ketahuilah, harta-harta kalian dan anak-anak kalian itu tidak lain hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah dan fitnah umat-Ku adalah harta.” Hadis riwayat at-Tirmidzi
Godaan harta ini akan datang dari berbagai sisi. Antara lain dari cara mencarinya. Allah SWT mensyariatkan
berbagai cara dalam mendapatkan harta, yang semuanya dibangun di atas keadilan dan jauh dari perbuatan zalim, perbuatan jahat atau menyakiti orang lain.

Maka, Orang-orang yang bertakwa kepada Allah SWT, tentu senantiasa memperhatikan batasan-batasan syariat dalam mendapatkannya.
Jauh dari unsur riba, unsur judi, dan bentuk-bentuk kezaliman lainnya, yang semuanya termasuk dalam bentuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil.

Allah SWT mengingatkan kita dalam surat An-Nisa ayat 29 yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan dengan suka sama suka di antara kalian.”

Godaan harta ini juga datang dari sisi perhatian dan keinginan seseorang terhadapnya. Sehingga sebagian orang ada yang keinginannya terhadap harta membuat dirinya berambisi terhadapnya. Hal ini membuat kesibukannya hanyalah mencari harta.

Mulai aktivitasnya setelah bangun tidur sampai kembali ke rumahnya untuk beristirahat, yang dipikirkannya hanyalah harta. Di saat duduk, berdiri, maupun berjalan, yang ada di hatinya hanyalah mencari harta.

Bahkan saat tidur pun yang diimpikan adalah mencari harta. Lebih dari itu, saat shalat pun pikirannya dipenuhi dengan harta. Seakan-akan dirinya diciptakan untuk sekadar mencari harta.

Padahal dengan perhatian dan keinginan yang berlebihan hingga melalaikan akhirat seperti itu, seseorang tidak akan mendapatkan rezeki kecuali yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk dirinya.

Orang yang demikian, tentunya orang yang tertipu serta terjatuh pada godaan dunia. Sehingga memusatkan seluruh pikiran dan kesibukannya untuk harta. Dia menjadikan dunia bersemayam di hatinya sehingga lupa dari beribadah kepada Allah Ta’ala.

Godaan harta juga akan muncul dari sisi penggunaannya. Dari sisi ini, kita dapatkan sebagian orang yang berharta memiliki sifat pelit sehingga tidak mau mengeluarkan zakatnya, tidak mau menjalankan kewajiban berinfak kepada kerabatnya yang wajib untuk dibantu.

Sedangkan sebagian yang lainnya justru mengeluarkan hartanya tanpa ada perhitungan serta dihambur-hamburkan sia-sia. Padahal Allah Ta’ala menyebutkan di dalam surat Al-Isra : 27-27 yang artinya :

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat haknya (mereka), (begitu pula) kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) sia-sia. Sesungguhnya orang-orang yang menghambur-hamburkan hartanya sia-sia adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.”

Karena itu, siapa pun di antara kita harus hati-hati dan senantiasa takut terkena godaan harta ini. Betapa
banyak orang yang lebih berilmu dari kita, terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan karena godaan ini.

Bahkan ada pula orang yang dahulunya istiqamah membela As-Sunnah dan melawan kebatilan, namun kala tergoda harta, kemudian terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan.

Hal itu di antaranya disebabkan oleh ketidakhati-hatian serta perasaan aman dari bahaya godaan harta. Padahal harta secara umum akan menarik pemiliknya untuk memenuhi keinginan-keinginan syahwatnya.

Akibat memenuhi keinginannya, seseorang akan terseret hidup bermewah-mewah yang kemudian membuat dirinya sombong dan angkuh. Akhirnya membuat dirinya tidak peduli dengan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala. Na'udzubillah.
, Oleh: H Ahmad Dzaki MA

sumber : www.republika.co.id

Thursday, April 25, 2013

Tiga Langkah

Tidakkah kepengen kita disebut Keluarganya Allah? Tidakkah kita kepengen dapat syafaat Qur'an? Baik di dunia ini, di alam kubur, apalagi di akhirat?  Tidakkah kita kepengen membawa bekal terbaik ketika kita masuk kubur? Apalagi ketika kelak menghadap Allah, di hari perjumpaan dengan-Nya? Yakni al Qur'an.

Segudang alasan kita kemukakan. Mulai dari ga bisa baca, udah telat belajar baca, udah ketuaan, sibuk, dan bermacam-macam alasan lain. Padahal intinya, ga mau, ga menyempatkan, ga mentingin. Apalagi buat menghafal Qur'an.
Wuah, tambah serasa menakutkan, menyeramkan, dan bayangan bakal susah. Padahal Allah sudah Memudahkan al Qur'an buat dipelajari, termasuk dihafalkan.  Umur, bertambah. rizki, pengen nambah.

Tapi bacaan Qur'an, dari kecil sampe usia sekarang, ya surah-surah yang itu-itu saja. Ga ada tambahannnya. Bacaannya pun ga pernah bertambah baik.

Tes-tes untuk jadi anggota dewan dilalui, tes-tes untuk jabatan lebih tinggi, diikuti, dan dipersiapkan sebaik-baiknya. Tapi untuk Qur'an? Entahlah. Mungkin ga dianggap penting, ga istimewa, dan ga ada faidahnya.

Alhamdulillaah, setelah diizinkan Allah bergelut di dunia tahfidz, ternyata menghafal al Qur'an itu mudah. Sangat mudah. Bahkan ga perlu menghafal! Cukup membaca saja.

Yang ga bisa baca, atau yang masih terbata-bata, ga lancar, maka buat dia, dibacakan. Insya Allah tetap mudah. Ga usah langsung satu halaman per hari. Satu ayat aja per hari. Kalau ayatnya panjang, cukup satu baris satu hari.

Juz 'Amma itu, juz ke-30, terdiri dari 271 baris. Belom dipotong ayat-ayat, surah-surah, yang sudah duluan dihafal. Kalo dipotong yang dihafal, mungkin tinggal 200 baris saja. Kalo satu hari satu baris, 200 hari kelar itu Juz 'Amma.
Kembali kepada kita dah. Mau mentingin ga?  Sekolah pimpinan, dibela-belain, sampe 40 hari, kadang tiga bulan. S2, S3, dibela-belain, sampe kadang jungkir balik atau berpisah dengan istri dan anak-anak, sebab beda kota, atau studi keluar negeri.

Nah ini, ngafal Qur'an, sesuatu yang teragung: ''Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Qur'an dan mengajarkannya,'' sabda Rasulullah saw. Ga dibela-belain.

Ok, berikut tiga langkah mudah sekali dalam menghafal Qur'an: Langkah pertama, dengerin suara imam/syeikh yang dipilih, 20 kali.
Sambil megang mushaf, liat mushaf. Jangan satu halaman langsung, apalagi satu surah panjang. Cukup dah satu hari satu ayat, atau satu baris. Supaya ga ada alasan lagi sibuk atau ga bisa.

Langkat kedua, dengerin ulang lagi, 20 kali lagi, sambil tetap megang mushaf, dan tetap liat mushaf, ikutin dengan mata.

Apalagi buat Saudara yang bisa melihat. Ga bisa baca atau ga bisa melihat, ya dengerin aja. Insya Allah hafal dah.

Langkah ketiga, coba baca tanpa dengar imam/syeikh, dan tanpa megang, tanpa lihat, mushaf. Juga 20 kali. Anggap aja sedang nabung amal saleh. Satu huruf dikali 10 s/d 700 kebaikan. Maasya Allah kan? Ulangi untuk ayat berikutnya, baris berikutnya, dengan cara yang sama.

Kalo sudah lima ayat, atau lima baris, ulangi denger dan baca, kira-kira 5-10 kali. Nikmati prosesnya. Anggap aja ini ngobrol dengan Pemilik Dunia, Pemilik Kekayaan, Pemilik Segala Kemudahan Yang Kita inginkan.

Insya Allah, Bersama Republika, kita coba adakan simulasi di JEC Jogja, tanggal 13 April. Dan di Wonosobo, tanggal 14 April. Selanjutnya, 2-3 bulan sekali di GBK. Simulasi Akbar Ngafal Qur'an. Mohon doanya.
, Oleh: Ustaz Yusuf Mansur

sumber : www.republika.co.id

Wednesday, April 24, 2013

Obat Galau

Hari itu seorang sahabat dari kalangan Anshar bernama Abu Umamah menyendiri di satu sudut masjid. Dengan wajah lesu dan lunglai, sahabat ini terpaku dalam sunyinya rumah Allah itu.

Tidak ada seorang pun di sana karena memang saat itu bukanlah waktu orang ke masjid untuk menunaikan shalat atau bermuzakarah mengkaji kitab Allah maupun sunah Rasulullah.

Abu Umamah hanya sendiri ditemani satu harapan kiranya Allah memberikan secercah kemudahan terhadap semua masalahnya hari itu.

Beberapa waktu berlalu hingga sunyi itu terpecah dengan kehadiran Rasulullah saw dari bilik masjid. Rasulullah saw mendekati Abu Umamah.

Ketika menghampiri Abu Umamah, sang Nabi bertanya, “Wahai Abu Umamah, ada apa gerangan yang membuatmu berada di dalam masjid sendirian di waktu seperti ini?”

Seketika itu Abu Umamah menjawab, “Duhai Rasulullah, aku dirundung rasa galau dan sedang diimpit utang.”

Mengetahui masalah yang menimpa sahabatnya ini, Rasulullah segera memberikan tawaran jalan keluar. Rasulullah saw bersabda, “Duhai Abu Umamah, maukah engkau aku ajarkan suatu amalan (doa), yang apabila engkau terus membacanya di waktu pagi dan petang Allah akan menghilangkan darimu rasa galau itu, dan Ia akan memudahkan engkau melunasi utangmu.

Dengan wajah semringah, Abu Umamah menjawab, “Mau ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah melanjutkan, “Bacalah di waktu pagi dan petang, ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari rasa galau dan sedih, dan aku berlindung kepada-Mu dari rasa lemah dan malas, dan aku berlindung kepada-Mu dari rasa pengecut dan bakhil, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan orang lain’.”
Abu Daud dan al-Baihaqi mencatat dengan apik kelanjutan cerita singkat ini. Beberapa waktu kemudian, setelah Abu Umamah rutin memanjatkan doa ini kepada Allah di pagi dan petang harinya, ia berujar, “Setelah aku merutinkan amalan yang diajarkan Rasulullah itu, Allah menghapus dari diriku rasa galau yang menimpaku dan Ia memudahkan bagiku untuk melunasi utang yang melilitku.”

Setiap orang tidak akan pernah luput dari problematika kehidupan. Karena sesungguhnya hamparan ruang dan waktu yang dinikmati setiap manusia hakikatnya adalah ujian dari Allah.

Allah ingin mengetahui sejauh mana ketahanan kita terhadap ujian itu. Galau dan gelisah adalah satu dari sekian masalah kejiwaan yang kerap menyesaki jiwa seseorang.

Dari sinilah timbul rasa tidak percaya terhadap diri sendiri. Dan, dari sini pula sikap pesimistis, putus asa, dan matinya kemampuan untuk berharap muncul dan mengakar.

Namun, bagi seorang mukmin yang menjadikan Alquran dan Sunah Nabi Muhammad sebagai tuntunan hidup, kegalauan, keresahan, dan rasa risau ini bukanlah sesuatu yang sulit diobati.

Cukuplah baginya menengadah, memohon kepada Rabbnya di pagi dan petang harinya seraya berdoa, “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari rasa galau dan sedih, dan aku berlindung kepada-Mu dari rasa lemah dan malas, dan aku berlindung kepada-Mu dari rasa pengecut dan bakhil, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan orang lain.”
, Oleh: Ahmad Musyaddad Lc



sumber : www.republika.co.id

Tuesday, April 23, 2013

Keutamaan Mengidolakan Rasulullah SAW

Anas ibnu Malik ra meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Sungguh beruntung sekali orang yang beriman kepadaku dan pernah melihatku, sungguh beruntung sekali orang yang beriman kepadaku dan belum melihatku sampai tujuh kali."

Hadis tersebut jelas membawa berita gembira bagi kita umat Rasululllah Saw yang beriman kepadanya walaupun belum pernah melihat sosok pemimpin umat terhebat tersebut. Tidak main-main, bahkan keberuntungan kita tujuh kali lipat dibanding para sahabat ra. Namun syarat keberuntungan ini pun tidak pula main-main. Harus terdapat iman kepada Rasulullah Saw.

Salah satu indikator adanya keimanan kepada Rasulullah Saw di dalam hati kita adalah adanya rasa cinta kepada Rasulullah Saw. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah bersabda "Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan dari manusia seluruhnya."

Marilah kita jujur bertanya kepada hati kita masing-masing. “Sudahkah kita mencintai Rasulullah lebih dari orang tua, anak, dan manusia seluruhnya?” Tampaknya kita harus banyak beristighfar.

Kondisi zaman pada saat ini telah banyak membiaskan kecintaan serta keidolaan kita. Minoritas manusia saat ini mengidolakan Nabi Akhir Zaman Muhammad Saw. Sedang mayoritas, pastilah poster-poster rocker atau artis atau apalah itu yang memenuhi dinding kamar mereka. Padahal jelaslah sudah Allah berfirman di dalam Alquran bahwa di dalam diri Rasulullah terdapat suri teladan yang paling baik.

Untuk mencintai Rasulullah Saw secara paripurna memanglah membutuhkan proses dan usaha yang harus dijalankan dengan segenap jiwa. Harus ada kesadaran dan keinginan dari dalam hati untuk dapat mencintai Rasulullah Saw. Bagaimana mungkin kita tidak ingin mencintai Rasulullah, sedang syafa’at beliaulah yang akan menyelamatkan kita dari siksa api neraka.

Seorang remaja yang setiap harinya membaca gosip seorang artis, dengan tekun menyimak beritanya, mendengarkan lagu rocker kesukaannya, mendiskusikannya dengan teman-temannya, sudah barang tentu lambat laun kecintaannya pada artis tersebut setiap harinya semakin bertambah.

Demikian pula, untuk semakin mencintai Rasulullah kita perlu sering membaca kisah-kisah beliau yang menggetarkan jiwa. Kita perlu sering membicarakan Rasulullah dengan segala kesempurnaan akal dan akhlaknya. Kita berusaha menghidupkan sunnah Rasulullah dalam keseharian kita, mulai dari yang paling sederhana.

Dilengkapi dengan doa kepada Allah agar dimasukkan rasa cinta kepada Rasulullah Saw didalam hati kita, InsyaAllah lambat laun kita akan semakin mencintai Rasullulah Saw. Manusia yang harus lebih kita cintai dari pada orang tua, anak ataupun manusia seluruhnya.

Momen Maulud Nabi belum lama ini semoga dapat menyadarkan kita untuk menjadikan Rasulullah Saw sebagai idola nomor satu kita. Sehingga kita tidak ragu-ragu untuk mengatakan, “Our Idol is Muhammad Rasulullah Saw.” Mari bersalawat ke atas Nabi.
,  Oleh Soraya Khoirunnisa Halim

sumber : www.republika.co.id

Monday, April 22, 2013

Orang Berakal

Qarun adalah manusia kaya raya yang hidup di zaman Nabi Musa. Di dalam Alquran dijelaskan  kekayaannya sangat melimpah. Bahkan, untuk kunci-kuncinya saja harus dipikul sejumlah orang dengan badan yang besar dan kuat. (QS al-Qashash [28]: 76).

Tapi sayang, Qarun berbuat aniaya, ia angkuh dan sombong. Hatinya beku dan akalnya keras, sehingga ia tidak bisa menerima nasehat kebenaran.

Ketika diperingatkan agar tidak angkuh dan sombong dengan harta yang dimilikinya ia malah berpaling sembari berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku” (QS al-Qashash [28]: 78).

Menurut Ibnu Katsir, ucapan Qarun itu menunjukkan dirinya tidak butuh dengan nasehat kebenaran. Bahkan ia tidak merasa butuh dengan apapun, termasuk ampunan dan ancaman Allah SWT. Ia merasa dirinya hebat dan harta yang dimilikinya murni karena kepintarannya.

Sikap Qarun yang tidak bisa menghargai orang lain dan selalu menganggap dirinya lebih baik dan lebih terhormat hanya semata-mata karena harta yang dimiliki adalah sikap orang yang kurang akal. Sikap demikian biasanya umum terjadi pada mereka yang dititipi harta kekayaan.

Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitabnya, Taj al-‘Aruus al-Hawi li Tahdzib al-Nufus menjelaskan, “Hal pertama yang semestinya engkau tangisi adalah akalmu. Sebagaimana kekeringan bisa terjadi pada rumput, akal juga bisa mengering.''

Ia menambahkan, ''Berkat akal, manusia dapat hidup berdampingan bersama manusia lain dan bersama Allah. Bersama manusia dengan akhlak yang baik dan bersama Allah dengan mengikuti apa yang diridai-Nya.”

Jadi, kriteria orang berakal atau tidak, sama sekali bukan pada berapa kekayaan yang dimiliki, tapi pada bagaimana akhlak yang dimiliki, baik akhlak kepada sesama manusia maupun akhlak kepada Allah SWT.

Semakin baik akhlak seseorang terhadap sesama manusia dan terhadap Allah SWT, bisa dipastikan orang itu adalah orang yang berakal. Sebaliknya, semakin buruk akhlak seseorang terhadap sesama dan terhadap Allah SWT, bisa dipastikan orang itu tidak berfungsi akal sehatnya.

Lebih jauh orang berakal adalah orang yang paling ingin mendapat cinta dari Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah saw bersabda, “Orang yang paling kucintai dan yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti adalah yang paling baik akhlaknya, yaitu yang tawadhu’ yang mencintai dan dicintai” (HR Thabrani).

Di dalam Alquran, orang yang berakal disebut sebagai Ulul Albab. “Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS Ali Imran [3]: 191).

Dengan demikian dapat dipahami, orang berakal bukanlah orang yang semata-mata kaya, tetapi orang yang memanfaatkan siang dan malamnya untuk dzikir dan pikir, sehingga tidak bertambah usia melainkan bertambah baik keimanan dan ketakwaannya, serta semakin baik pula akhlaknya baik kepada sesama maupun kepada Allah SWT.
, Oleh Imam Nawawi

sumber : www.republika.co.id

Sunday, April 21, 2013

Belajar dari Musibah

Memasuki tahun 2013, bencana alam dan kecelakaan lalu lintas kerap terjadi di hampir seluruh Indonesia, bahkan di belahan dunia lainnya. Apakah kejadian ini tergolong musibah?

Musibah berarti peristiwa yang datang tidak diduga oleh manusia. Musibah itu suatu kejadian yang ada pada wilayah kekuasaan (takdir) Allah. Karenanya, ia diposisikan sebagai stimulus (S) dari Allah, seperti yang ditegaskan di dalam Alquran.

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS at-Taghaabuun: 11)

Dengan paham di atas, musibah secara bahasa adalah tertimpa atau terkenai. Sedangkan, secara istilah ialah peristiwa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi umatnya pada umur 40 hari (dalam riwayat lain 40 malam) di rahim ibu.

Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas'ud, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setiap orang di antaramu dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya 40 hari berbentuk nutfah, kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga, kemudian menjadi gumpalan seperti potongan daging selama itu juga, kemudian diutuslah kepadanya malaikat, lalu meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan atasnya (menulis) 4 perkara: (1) ketentuan rezekinya, (2) ketentuan ajalnya, (3) amalnya, (4) ia celaka atau bahagia....” (HR Bukhari-Muslim).

Di sini, ada dua perbedaan yang mencolok dalam memaknai musibah. Dari sisi makhluk, manusia tidak bisa mendeteksi kapan datang dan perginya. Di sisi lain, Allah telah menentukan waktu terjadinya musibah. Jadi, ada semacam perjanjian ghaib antara Allah dan makhluk-Nya.

Di balik musibah ada hikmah, tetapi manusia tidak menyadarinya dan bahkan ada yang tidak mau menerimanya berupa sikap tidak mau tertimpa musibah.

Buktinya, mereka menganggapnya sebagai bencana atau hal-hal negatif dan menakutkan, bahkan azab. Musibah yang paling ditakuti oleh semua orang adalah kehilangan orang tua, terutama ibu kandung. Namun siapa kira, di balik musibah ini ada hikmah kesuksesan.

Dari i'tibar itu, ketaatan dan ingkar menjadi jawaban ketika ditimpa musibah. Taat dan ingkar merupakan sikap seseorang terhadap zat yang ghaib (yang berkaitan dengan rukun Iman).
Taat berarti patuh terhadap tugas dan kewajiban disertai tanggung jawab. Sedangkan, ingkar adalah bentuk perlawanan terhadap perintah.

Lalu, apa yang Anda lakukan jika mendapat musibah? Misalkan kecelakaan, yang menyebabkan kaki Anda patah.
Apakah Anda masih tetap berjuang mendirikan shalat, ataukah Anda berhenti dengan alasan kecelakaan? Tentu, sikap Anda sangat ditentukan oleh kualitas ketaatan Anda.

Jika ketaatan Anda hanya berdasarkan rasa takut, pasti Anda akan mengambil sikap untuk beristirahat. Akan tetapi, jika didasari oleh takwa, Anda tetap berjuang untuk bisa mendirikan shalat. Wallahu a'lam.

HIKMAH oleh; Abdul Karim DS
sumber : www.republika.co.id

Saturday, April 20, 2013

Calon Wakil Rakyat yang Amanah

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah membuka Pendaftaran calon anggota legislatif (bacaleg) hingga 22 April nanti. Ribuan warga di seantero Nusantara turut serta menjadi bacaleg dari 12 partai politik nasional dan 3 partai lokal.
           
Beragam niat menjadi caleg saat ini. Ada yang menjalankan perintah partai, permintaan masyarakat, keinginan suami, mencari kekayaan, hingga pengabdian ke masyarakat. Niat ini pula yang menentukan kualitas anggota Dewan di semua tingkatan (DPR RI atau DPRD). Karena niat yang menentukan tindakan seseorang di kemudian hari.
           
Sebagai umat Islam, saya menyarankan kepada orang-orang yang akan mencalonkan diri nanti pada Pemilu 2014 untuk meluruskan niat. Bahwa menjadi anggota Dewan yang merupakan wakil rakyat harus diawali dengan niat suci. Menjadi pejabat publik bukan sekadar mencari kekayaan akan tetapi merupakan bagian dari ibadah.

Ketika niat ibadah sudah di ditanamkan, maka ketika terpilih nanti, menjalankan tugas sebagai anggota Dewan bukan sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan akan ibadah.
Ada baiknya kita membaca kisah seorang lelaki kaum Anshar.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa seorang lelaki dari kaum Anshar datang menghadap Rasulullah saw dan meminta sesuatu kepada beliau.

Rasulullah saw bertanya, “Adakah sesuatu di rumahmu?”

“Ada, ya Rasulullah!” jawabnya, “Saya mempunyai sehelai kain tebal, yang sebagian kami gunakan untuk selimut dan sebagian kami jadikan alas tidur. Selain itu saya juga mempunyai sebuah mangkuk besar yang kami pakai untuk minum.”

“Bawalah kemari kedua barang itu,” sambung Rasulullah saw.

Lelaki itu membawa barang miliknya dan menyerahkannya kepada Rasulullah. Setelah barang diterima, Rasulullah saw segera melelangnya. Kepada para sahabat yang hadir pada saat itu, beliau menawarkan pada siapa yang mau membeli. Salah seorang sahabat menawar kedua barang itu dengan harga satu dirham.

Tetapi Rasulullah menawarkan lagi, barangkali ada yang sanggup membeli lebih dari satu dirham, “Dua atau tiga dirham?” tanya Rasulullah kepada para hadirin sampai dua kali.

Inilah lelang pertama kali yang dilakukan Rasulullah. Tiba-tiba salah seorang sahabat menyahut, “Saya beli keduanya dengan harga dua dirham.”

Rasulullah menyerahkan kedua barang itu kepada si pembeli dan menerima uangnya. Uang itu lalu diserahkan kepada lelaki Anshar tersebut, seraya berkata, “Belikan satu dirham untuk keperluanmu dan satu dirham lagi belikan sebuah kapak dan engkau kembali lagi ke sini.”

Tak lama kemudian orang tersebut kembali menemui Rasulullah dengan membawa kapak. Rasulullah saw melengkapi kapak itu dengan membuatkan gagangnya terlebih dahulu, lantas berkata, “Pergilah mencari kayu bakar, lalu hasilnya kamu jual di pasar, dan jangan menemui aku sampai dua pekan.”

Lelaki itu taat melaksanakan perintah Rasulullah. Setelah dua pekan berlalu ia menemui Rasulullah melaporkan hasil kerjanya. Lelaki itu menuturkan bahwa selama dua pekan ia berhasil mengumpulkan uang sepuluh dirham setelah sebagian dibelikan makanan dan pakaian.

Mendengar penuturan lelaki Anshar itu, Rasulullah bersabda, “Pekerjaanmu ini lebih baik bagimu daripada kamu datang sebagai pengemis, yang akan membuat cacat di wajahmu kelak pada hari kiamat.”

Rasulullah saw memberikan pelajaran menarik tentang pentingnya bekerja. Dalam Islam bekerja bukan sekadar memenuhi kebutuhan perut, tapi juga untuk memelihara harga diri dan martabat kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi.

Karena itu, tidak salah ketika saya mengatakan, jangan pernah berpikir menjadi caleg hanya sekadar mencari kekayaan. Tetapi bagian dari pengabdian diri untuk mengangkat martabat kemanusiaan. Bekerja adalah ibadah yang harus kita lakukan bersama.
, Oleh Dr HM Harry Mulya Zein


sumber : www.republika.co.id

Friday, April 19, 2013

Tadharru

Pada suatu malam di pelataran Ka’bah, Thawus bin Kisan ra mendapati Ali bin Husein -yang lebih dikenal dengan Zainul Abidin ra- sedang bermunajat kepada Allah SWT.

Dengan penuh pengharapan (tadharru’), terdengar ia merendahkan dan menghinakan dirinya diiringi dengan deraian air mata bermohon agar Allah SWT memberikan ampunan kepadanya.

Setelah Ali bin Husein menyelesaikan munajatnya, Thawus menghampiri. Ia berkata, "Wahai cucu Rasulullah SAW, mengapa engkau menangis seperti ini, sementara engkau memiliki tiga keistimewaan yang tak dipunyai orang lain.
Pertama, engkau adalah cucu Rasulullah SAW. Kedua, engkau akan mendapat syafaat dari Rasulullah SAW. Dan ketiga, keluasan rahmat-Nya untukmu."

Mendengar pernyataan Thawus itu, Ali bin Husein menjelaskan semuanya bukan jaminan ia akan mudah mendapatkannya.
Beliau berkata, "Ketahuilah hubungan nasabku dengan Rasulullah, bukan jaminan keselamatanku di akhirat sana setelah aku mendengar firman Allah SWT, ‘Apabila sangkakala ditiup, maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu dan tidak ada pula mereka saling bertanya’." (QS al- Mukminun [23]: 101).

Sedangkan syafaat Nabi SAW, maka Allah SWT berfirman, "Dan mereka tiada memberi syafaat, melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya." (QS al-Anbiya` [21]: 28).

Dan terakhir, terkait rahmat-Nya, Allah berfirman, "Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS al-A’raf [7]: 56).

Kisah di atas mengajarkan kepada kita untuk bersikap tadharru’ (penuh harap dan merendahkan diri) dalam beribadah kepada Allah SWT, terutama ketika sedang berdoa.

"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri (penuh harap) dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS al-A’raf [7]: 55).

Tadharru’ merupakan akhlak dan etika yang harus kita bangun ketika membina hubungan dengan Allah SWT. Hal ini kita lakukan sebagai wujud penghambaan diri kita kepada Zat Penguasa alam semesta, Allah SWT.

Tadharru' mengandung makna tadzallul (kerendahan dan kehinaan diri) dan istiqamah (ketundukan diri). (Jami’-ul bayan ‘an ta’wil al-Qur’an, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari).

Oleh karena itu, ketika kita ber-tadharru’ kepada Allah SWT, akan menumbuhkan kesungguhan dan kekhusyu'an dalam beribadah dan berdoa serta menjadi sebab Allah SWT akan meninggikan derajat kita di sisi-Nya.

Mari kita renungi penjelasan Imam Ahmad bin Hambal ketika mendeskripsikan 'tadarru' agar kita dapat bersikap tadharru'.

Beliau berkata, "Bayangkan seseorang yang tenggelam di tengah lautan dan yang dimilikinya hanyalah sebatang kayu yang digunakannya supaya terapung."

"Ia menjadi semakin lemah dan gelombang air mendorongnya semakin dekat pada kematian. Bayangkanlah ia dengan tatapan matanya yang penuh harapan menatap ke arah langit dengan putus asa sambil berteriak, "Ya Tuhan ku, Tuhanku!"

Bayangkanlah betapa putus asanya dia dan betapa tulusnya ia meminta pertolongan Tuhan. Itulah yang disebut dengan tadharru’ di hadapan Tuhan."
, Oleh: Moch Hisyam
sumber : www.republika.co.id

Thursday, April 18, 2013

Enam Kunci Hidup Berkah

Setiap Muslim pasti mendambakan kehidupan yang penuh keberkahan. Berkah, dalam bahasa Arab disebut barakah, yakni kebaikan yang melimpah (al-khair al-wafir). Muslim yang mengucapkan salam berarti mendoakan hidup penuh kedamaian, kasih sayang, dan keberkahan. Hidup penuh berkah menjadi limpahan kebaikan dan selalu mendapat petunjuk Allah SWT.

Menurut Iman Maghazi al-Syarqawi, hidup penuh berkah itu dapat diaktualisasikan dengan meneladankan enam sikap dan sifat terpuji. Pertama, membiasakan sifat malu yang positif. Malu (al-haya') adalah kunci keutamaan sebab rasa malu membuat Muslim bersikap hati-hati untuk tidak berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah SAW pernah memberi nasihat kepada para sahabatnya. "Hendaklah kalian merasa malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya." Para sahabat menimpali, "Alhamdulillah, kami sudah merasa malu kepada Allah, ya Rasul."

Rasul lalu menyatakan, "Tidak, kalian belum merasa malu. Orang yang betul-betul merasa malu di hadapan Allah hendaklah menjaga kepala berikut isinya (pikiran positif), menjaga perut berikut isinya (makanan dan minuman yang halal dan thayib), dan mengingat mati serta musibah. Siapa yang menginginkan kebahagiaan akhirat, hendaklah meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang sudah melakukan itu semua, berarti telah betul-betul memiliki rasa malu." (HR Tirmidzi).

Kedua, bersyukur karena ia merupakan kunci peningkatan rezeki. Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyah, syukur merupakan pujian dan pengakuan hamba terhadap nikmat Allah yang disertai rasa cinta dan ketaatan kepada-Nya. (QS Ibrahim [14]: 7).

Ketiga, tutur kata dan komunikasi yang baik (al-kalam al-thayyib). Hal ini merupakan kunci terbukanya hati dan pikiran. Komunikasi dan tutur kata yang baik adalah sedekah. Sedekah yang paling ringan dan mudah adalah memberi senyuman kepada sesama.

"Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan, maka kalian akan dapat saling mencintai? Nabi SAW bersabda: ‘Tebarkanlah salam di antara kalian’.” (HR Muslim).

Keempat, berbakti kepada kedua orang tua. Sikap ini merupakan kunci keridhaan dan kesuksesan hidup. Keridhaan dan doa orang tua merupakan pintu masuk segala kebaikan dan keberkahan hidup.

Kelima, menghiasi diri dengan sifat qanaah (merasa berkecukupan). Sifat ini merupakan kunci kekayaan. Orang yang bersifat qanaah tidak akan serakah dan egois sehingga ia tidak mudah tergoda oleh kekayaan duniawi.

Keenam, konsisten dan teguh pendirian (al-mudawamah wa al-istiqamah) dalam berdoa. Doa adalah kunci segala kebaikan dan ketenteraman jiwa. Doa adalah kekuatan dan energi spiritual hamba kepada Allah. Dengan doa, seorang Muslim mengembalikan segala persoalan kepada Allah SWT.

Kunci semua itu adalah aktualisasi iman, ilmu, amal, dan takwa sebagai modal spiritual dan kendaraan keberkahan hidup. Jika keduanya diaktualisasikan dengan baik, niscaya janji Allah pasti akan dipenuhi. (QS al-A'raf [7]: 96).

Meraih hidup penuh berkah harus senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya sekaligus mendekatkan diri dengan sesamanya melalui kesalehan personal, ritual, dan kesalehan sosial serta moral.

Wallahu a'lam.
, Oleh Muhbib Abdul Wahab

sumber : www.republika.co.id

Wednesday, April 17, 2013

Rahasia di Balik Shalat pada Awal Waktu

Syekh Abu Abdullah RA berkata, “Suatu hari, ibu saya meminta ayahku membeli ikan di pasar. Kemudian, saya pergi bersama ayah saya. Setelah ikan dibeli, kami memerlukan seseorang untuk membawanya.

Di saat itu, ada seorang pemuda yang sedang berdiri didekat kami. Pemuda itu berkata, “Wahai bapak, apakah bapak memerlukan bantuan saya untuk membawa ikan itu?” “Ya, benar!” kata ayah saya. Kemudian, pemuda itu membawa ikan di atas kepalanya dan turut bersama kami ke rumah.

Di tengah perjalanan, kami mendengar suara azan. Pemuda itu berkata, “Penyeru Allah telah memanggil. Izinkanlah saya berwudhu, barang ini akan saya bawa setelah shalat nanti. Apabila bapak bersedia, silakan menunggu, jika tidak, silakan bawa sendiri.”

Setelah berkata demikian, ia meletakkan ikan-ikan itu dan pergi ke masjid. Ayahku berpikir, pemuda itu mempunyai keyakinan yang begitu kuat kepada Allah SWT, bagaikan seorang waliyullah. Akhirnya ayah meletakkan ikan-ikan itu, kemudian kami pergi ke masjid.

Setelah kembali dari masjid, ternyata ikan-ikan itu masih berada di tempatnya. Lalu, pemuda itu mengangkat kembali ikan-ikan tadi dan bersama menuju rumah.

Setibanya di rumah, ayah menceritakan peristiwa tersebut kepada ibu. Ibu berkata kepada pemuda tadi, “Simpanlah ikan-ikan itu, mari makan bersama kami, setelah itu kamu boleh pulang.”

Tetapi pemuda itu menjawab, ”Maaf ibu, saya sedang berpuasa.” Ayah berkata, “Kalau begitu, datanglah ke sini nanti petang dan berbukalah di sini.”

Pemuda itu berkata, “Biasanya, jika saya telah berangkat maka saya tidak akan kembali lagi. Tetapi untuk kali ini, saya akan pergi ke masjid dan petang nanti saya akan kembali kemari.”

Sesudah itu, dia pergi dan meminta untuk tinggal si sebuah masjid di dekat rumah. Pada petang harinya setelah Maghrib, pemuda tadi datang dan makan bersama kami. Setelah makan, kami menyiapkan sebuah kamar untuknya agar ia dapat beristirahat tanpa diganggu oleh siapa pun.

Di sebelah rumah kami, ada seorang wanita tua yang lumpuh. Kami benar-benar terkejut ketika melihatnya dapat berjalan. Kami bertanya, “Bagaimana engkau dapat sembuh?”

Wanita tua itu menjawab, “Saya didoakan oleh tamu Anda agar kaki saya disembuhkan dan Allah mengabulkan doanya.” Ketika kami mencari pemuda itu, ternyata dia telah meninggalkan kamarnya. Pemuda itu pergi tanpa diketahui oleh siapa pun.

Kisah yang terdapat di dalam Kitab Fadhail A'mal, karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandhalawi di atas, memberikan pelajaran berharga. Yakni, di antara rahasia mendirikan shalat lima waktu di awal waktu dengan berjamaah akan menjadikan doa-doanya cepat diijabah.

Itu karena orang yang mendirikan shalat lima waktu di awal waktu dengan berjamaah adalah orang yang bersih dari dosa. “Sesungguhnya shalat lima waktu itu menghilangkan dosa-dosa sebagaimana air menghilangkan kotoran.” (HR Muslim). Selain itu, karena ia mendahulukan panggilan Allah dari panggilan selain-Nya.

Untuk itu, ketika azan berkumandang mari kita segera penuhi panggilan Allah untuk melaksanakan shalat pada awal waktu dengan berjamaah. Agar doa-doa kita mustajab dan mendapat kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT.
Oleh Moch Hisyam
sumber : www.republika.co.id

Tuesday, April 16, 2013

Sedikit Bicara

Diriwayatkan, ketika anak cucu Adam semakin berkembang, mereka ramai berbicara di sampingnya, Adam hanya diam. Mereka pun bertanya, “Wahai Ayah, mengapa engkau tak mau berbicara?”

Adam menjawab, ”Duhai anak-anakku, ketika Allah SWT mengeluarkan aku dari sisi-Nya, Dia mengamanatkan kepadaku, seraya berfirman, 'Janganlah kamu banyak berbicara, maka kamu pun akan kembali lagi ke sisi-Ku'.”

Diam atau sedikit berbicara memang bukan hanya emas, tapi juga menjadi suatu cermin dari pribadi yang berintegritas tinggi. Karena sikap diam atau sedikit bicara tak identik dengan kebodohan atau ketidaktahuan. Diam, dalam banyak keadaan, justru menyiratkan pemikiran yang dalam dan dinamis dari pemiliknya.

Ali RA berujar, Ashamtu raudhatul-fikr (diam adalah taman berpikir). Itulah sebabnya mengapa ulasan tentang fadhilatush-shamt (keutamaan diam) diletakkan dalam bab khusus pada kajian akhlak, tazkiyatun nafs (tasawuf). Man shamata naja (Siapa yang diam, maka ia selamat).” (HR Tirmidzi).

Seperti narasi di atas, sedikit berbicara juga bisa mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang ceriwis atau banyak berbicara tanpa ada faedahnya, bisa menjauhkan diri dari Allah. “Sebaik-baik ucapan adalah yang sedikit dan terarah.”

Tentang hebatnya sikap diam ini, kita juga bisa belajar dari cerita Nabi Zakaria AS. Walau sudah renta dan beruban, serta istrinya yang mandul. Dengan doa, ia pun dianugerahi anak, yaitu Nabi Yahya. Dan sesaat sebelum sang buah hati lahir, Nabi Zakaria diberikan tanda, yaitu diam dan tidak bercakap-cakap (QS Maryam: 10).

Karena itu, ungkapan 'diam menghanyutkan', seyogianya tak selalu dikonotasikan untuk hal-hal negatif, karena sikap diam juga bisa menjadi tangga menuju kesuksesan dan meraih prestasi yang patut dibanggakan.

Amr bin Qais mengisahkan, ketika Lukman al-Hakim sedang mengajar murid-muridnya, muncullah seseorang dan melewati majelisnya. Dengan nada heran, orang itu bertanya kepada Lukman: “Bukankah engkau hamba sahaya dari Bani Fulan?” Lukman membenarkannya.

Ia bertanya kembali: “Bukankah engkau si penggembala yang kulihat di gunung anu?” Lukman juga membenarkannya. Dengan penuh heran, orang itu kembali bertanya. “Lalu apa yang membuatmu berubah dan menjadi seperti ini?” Lukman menjawab: “Berkata jujur dan selalu diam dari hal-hal yang tak berguna.”

Kepada anaknya, Lukman juga berkata-seperti yang diriwayatkan dari Makhul, dari Ka'ab, “Duhai anakku, jadilah orang yang bisu tapi berpikir. Jangan jadi orang yang banyak bicara tapi bodoh. Biarlah air liurmu mengalir di atas dadamu, sementara engkau menahan dari ucapan yang tiada bermakna bagimu. Itu lebih indah dan lebih baik daripada engkau duduk bersama suatu kaum lalu engkau berbicara yang tiada manfaatnya bagimu.

Setiap amal ada penunjuknya, sementara penunjuk akal adalah berpikir, dan penunjuk berpikir adalah diam. Setiap sesuatu ada kendaraannya, dan kendaraan akal adalah tawadhu. Cukuplah engkau disebut bodoh, jika engkau menahan dari apa yang harus engkau arungi. Cukuplah engkau disebut berakal, jika manusia aman dari keburukanmu.”
Oleh Makmun Nawawi


sumber : www.republika.co.id

Monday, April 15, 2013

Dzurriyatan Dhia̢۪fan

Sahabat Rasulullah Saw, Saad Bin Abi Waqqas yang kaya dan dermawan sedang sakit keras. Ia ingin mewasiatkan seluruh hartanya bagi kemaslahatan umat. Rasulullah Saw melarangnya. Saad pun berniat mewasiatkan separohnya. Itu pun tetap dilarang Rasulullah Saw.

Ia mewasiatkan sepertiganya. Rasulullah Saw lalu bersabda : “… dan sepertiga itu pun sudah banyak. Sesungguhnya, jika engkau tinggalkan pewaris-pewarismu dalam keadaan mampu, lebih baik daripada mereka dalam keadaan melarat, menadahkan telapak tangan kepada sesama manusia.” (HR. Bukhari Muslim).

Hadits ini merupakan penjelas atas ayat ke 9 Surat an-Nisa. “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.”(QS.4:9.

Akhir-akhir ini, kita tersentak dengan berita seorang anak berusia 11 tahun di Jakarta meninggal dunia karena mengalami kekerasan seksual. Diketahui kemudian, ternyata yang melakukannya adalah ayah kandungnya sendiri.

Begitu pula seorang anak ingusan berusia empat tahun di Menes Pandeglang diculik dan diperkosa. Seorang siswa SMA di Jakarta, mengalami pecehan seksual dari  Wakil Kepala Sekolah. Lalu,  seorang Guru SLB di Garut mencabuli muridnya.

Ada pula buku paket yang beredar kepada murid SD berisi gambar dan cerita porno. Peredaran narkoba yang semakin merajalela, termasuk kepada murid-murid SD. Situs porno begitu mudah diakses oleh anak-anak yang lepas dari pengawasan orang tuannya.

Tawuran pelajar dan mahasiswa telah menewaskan puluhan orang sia-sia. Perilaku seks dan pergaulan bebas di kalangan anak SD dan remaja telah merambah dari kota ke desa seakan menjadi trend dan gaya.

Pemerkosaan terjadi di mana-mana yang merenggut kesucian dan masa depan, anak putus sekolah semakin tinggi, kemiskinan dan kelaparan (kekurangan gizi) menjadi pemandangan yang nyata. Masya Allah !

Pilu dan miris hati kita menyaksikannya. Kini, semakin nyata upaya sistematis dan massif untuk menghancurkan satu generasi penerus dakwah dan agama. 

Siapa yang paling bertanggung jawab? Orang tua adalah pilar dan penanggung jawab utama pendidikan anak.  Keluarga adalah al-Madrasah al-Uula (sekolah pertama dan utama). Orang tua khususnya Ibu adalah Guru Utama dalam mendidik anak dalam keluarga.

Keluargalah yang akan melahirkan generasi dzurriyatan dhia’fan (anak cucu yang lemah) atau sebaliknya, dzurriyatan thoyyibatan (anak cucu yang berkualitas).  Untuk itu, orang tua harus bekerja keras menyiapkan jalan penghidupan yang layak.

Artinya, meninggalkan anak keturunan yang berada, bukan yang papa. “Orang mukmin yang kuat lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah”. Demikian Hadits Nabi Saw.  Tapi, apakah warisan harta saja sudah cukup?  Tentu saja tidak.
Kecukupan ekonomi hanyalah untuk memenuhi kebutuhan dasar (basic needs), tapi belum bisa menyelamatkan dari keburukan dan kekesengsaraan (QS. 66:6). Warisan yang lebih utama adalah iman (akidah yang kuat), ilmu pengetahuan, ketaatan beribadah dan akhlak karimah.

Jika demikian, jangan sampai kita meninggalkan generasi yang lemah, yakni lemah ekonomi, iman (akidah), ilmu pengetahuan dan akhlak mulia. Namun, orang tua wajib mendidik anak-anaknya lebih dahulu dengan akidah yang kuat sejak dini, ketaatan dalam ibadah dan keutamaan dalam akhlak mulia.  (QS. 31:13-19).

Insya Allah akan lahir dzurriyan toyyibatan, yakni an-naslu al-mubaarok (keturunan yang berkah) seperti harapan Nabi Zakariya as. (QS.3:38).

Pribadi tangguh yang digambarkan Allah SWT laksana sebuah pohon yang baik (syajarotun toyyibah). Yakni, akarnya menghujam ke perut bumi (akidah), batang dahannya menjulang ke langit (ibadah yang benar) dan berbuah di setiap musim (akhlak karimah).

Keluarga yang berkualitas (khaira usrah) akan melahirkan pribadi yang berkualitas pula (khairul bariyyah). Insya Allah, Amin. 
, Oleh ; Ustaz H Hasan Basri Tanjung, MA.


sumber : www.republika.co.id

Sunday, April 14, 2013

Kemanakah Kereta Rakyat yang Murah?



Dengan adanya kebijakan yang tidak bijak dari direksi PT. KAI yang mengganti rangkaian-rangkaian kereta ekonomi jarak jauh non AC dengan ekonomi AC membuat Geram dan sedih rakyat.

Dengan dalih keamanan, kenyamanan dan berkurangnya subsidi pemerintah, PT. KAI merubah gerbong-gerbong kelas ekonomi non AC dengan hanya menambahkan beberapa titik AC split rumahan di dalam gerbongnya dan menaikkan harga tiketnya menjadi 4 kali lipat lebih mahal.

Kalau alasan subsidi pemerintah yang berkurang kenapa tidak dinaikan saja harga tiketnya sekitar 25% s/d 50%, sehingga kalau harga tiket misalnya KA Bengawan itu tadinya Rp. 37.000 maka rakyat masih dapat menerima jika dinaikkan menjadi Rp. 50.000,- s/d Rp. 60.000.

Bukan dengan ditambahkannya AC dan tiketnya dinaikkan menjadi Rp. 150.000. Ini jelas sangat memberatkan rakyat kecil yang setiap tahun mesti mudik dengan membawa anggota keluarganya.

Dimana tanggungjawab pemerintah dan PT. KAI dalam rangka menyediakan pelayanan transportasi yang murah dan baik bagi rakyatnya? Dimanakah peran DPR & pemerintah dalam mengontrol PT.KAI?

Agus Suryadi
http://news.detik.com/read/2013/04/09/101223/2215112/471/kemanakah-kereta-rakyat-yang-murah

Manfaat Tahajjud

Setiap Muslim seharusnya memiliki keinginan yang kuat untuk melaksanakan shalat Tahajud setiap malam hingga menjadi terbiasa.
Orang-orang saleh zaman dahulu tekun menjalankannya, baik pada musin panas maupun dingin. Mereka memandang seolah-olah shalat Tahajud itu adalah sesuatu yang wajib (HR Tirmidzi).

Jika terlewatkan sekali saja mereka menganggap itu sebagai musibah yang besar baginya. Pastinya, selain sebagai ’mesin keimanan’, Tahajud memberikan banyak manfaat besar dalam kehidupan mereka yang istikamah menjalankannya.

Di antaranya, pertama, untuk menjaga kesehatan. Tidak diragukan lagi bahwa shalat Tahajud menjadi terapi pengobatan terbaik dari berbagai macam penyakit. Oleh karena itu, orang-orang yang membiasakan diri untuk shalat Tahajud akan memiliki daya tahan tubuh sehingga tidak mudah terserang penyakit.

Rasulullah SAW bersabda, “Lakukanlah shalat malam karena itu adalah tradisi orang-orang saleh sebelum kalian, sarana mendekatkan diri kepada Allah, pencegah dari perbuatan dosa, penghapus kesalahan, dan pencegah segala macam penyakit dari tubuh.” (HR Tirmidzi).

Kedua, menjaga ketampanan atau kecantikan. Setap manusia pasti mendambakan ketampanan/kecantikan dalam dirinya. Nah, melalui terapi shalat Tahajud, seseorang dapat meraih apa yang didambakannya, tanpa mengeluarkan biaya sepersen pun.

Yaitu jaminan ketampanan/kecantikan yang dihasilkan dari shalat Tahajud, tidak terbatas pada tampilan lahir, juga dapat menghasilkan ketampanan/kecantikan batin.

Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa yang banyak menunaikan shalat malam, maka wajahnya akan terlihat tampan/cantik di siang harinya.” (HR Ibnu Majah).

Ketiga, meningkatkan produktifitas kerja. Selain manfaat untuk kesehatan dan merawat ketampanan/kecantikan, shalat Tahajud juga diyakini dapat meningkatkan produktifitas kerja yang berbasis spiritualitas.

Oleh karena itu, salah satu program untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang handal secara intelektual, emosional, dan spiritual adalah membiasakan shalat Tahajud pada setiap malamnya.

Rasulullah SAW bersabda, ”Setan membuat ikatan pada tengkuk salah seorang di antara kalian ketika tidur dengan tiga ikatan dan setiap kali memasang ikatan dia berkata: ”Malam masih panjang, maka tidurlah”.
Jika orang tadi bangun lalu berdzikir kepada Allah SWT, maka terlepas satu ikatan, jika dia berwudhu, maka terlepas satu ikatan yang lainnya, dan jika dia melaksanakan shalat, maka terlepas semua ikatannya.

Pada akhirnya dia akan menjadi segar (produktif) dengan jiwa yang bersih, jika tidak, maka dia akan bangun dengan jiwa yang kotor yang diliputi rasa malas.” (HR Bukhari).

Keempat, mempercepat tercapainya cita-cita dan rasa aman. Selain dengan usaha (ikhtiar) secara maksimal guna menggapai cita-cita dan rasa aman, seseorang hendaknya membiasakan diri untuk shalat Tahajud, karena doa yang mengiringi Tahajud akan dikabulkan oleh Yang Maha Mengabulkan.

Rasulullah SAW bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya Allah tertawa terhadap dua orang laki-laki: Seseorang yang bangun pada malam yang dingin dari ranjang dan selimutnya, lalu ia berwudhu dan melakukan shalat.

Allah berfirman kepada para Malaikat-Nya, “Apa yang mendorong hamba-Ku melakukan ini?” Mereka menjawab, “Wahai Rabb kami, ia melakukan ini karena mengharap apa yang ada di sisi-Mu.” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku telah memberikan kepadanya apa yang ia harapkan (cita-citakan) dan memberikan rasa aman dari apa yang ia takutkan.” (HR Ahmad).

Semoga Allah SWT membimbing kita untuk mendawamkan shalat Tahajud dan dapat merasakan manfaatnya. Amin.
, Oleh Imam Nur Suharno

sumber : www.republika.co.id