-

Sunday, February 05, 2012

Jabar Masih Jadi Daerah Tujuan Wisata

BANDUNG, (PRLM).- Jawa Barat masih menjadi daerah tujuan utama wisata di Indonesia karena berbagai keunikan potensi objek wisata maupun sarana akomodasinya. Namun demikian perlu dilakukan terobosan maupun inovasi baru untuk lebih mengembangkan potensi sektor pariwisata dengan perbaikan infrastruktur serta promosi yang lebih baik.

Demikian dikatakan Wakil Gubernur Jawa Barat, H. Dede Yusuf dalam sambutannya pada Rapat Kerja Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (Rakerda PHRI) Jawa Barat, bertempat di Hotel Horison Bandung, Jumat (27/1).

“Hingga saat ini pemerintah (Pemprov Jabar) secara terus menerus membangun serta melakukan peningkatan infrastruktur ke pelosok daerah, yang memiliki potensi pariwisata serta sektor lainnnya,” ujar Dede Yusuf dihadapan perwakilan pengurus PHRI se Jawa Barat pada Rakerda PHRI Jabar 2012.

Selain meningkatkan sarana dan prasarana penunjang, menurut Dede, pemerintah mendukung berbagai upaya kegiatan promosi pariwisata di dalam maupun di luar negeri. “Jawa Barat memiliki berbagai event yang dapat dijadikan penunjang promosi pariwisata, selain itu juga ada event Jabar Travel Expo, terhadap penyelenggarakan kegiatan-kegiatan tersebut Pemda akan senantiasa memberikan dukungan,” ujar Dede Yusuf.

Sementara Ketua DPD PHRI Jabar, Herman Muhtar menyoroti permasalahan masih banyaknya hotel-hotel berbintang yang belum mengantongi sertifikasi klasifikasi hotel. “Sangat memprihatinkan, dari 1.600 hotel di Jabar hanya 32 hotel yang baru mengantongi sertifikasi klasifikasi sebagai hotel berbintang, jadi selebihnya tidak jelas statusnya,” ujar Herman.

Hal lain yang tidak kalah memprihatinkan, menurut Herman, banyak hotel dengan status hotel berbintang, tetapi dalam hal pelayanan kalah dengan hotel melati. Tidak sedikit hotel berbintang lima, namun pelayanan sekelas hotel bintang tiga dan hotel bintang tiga ke bawah memberikan pelayanan tidak beda jauh dengan hotel kelas melati.

Masih banyaknya hotel berbintang yang belum mengantongi sertifikasi menurut Herman akibat birokrasi yang terlalu panjang dan berbelit. “Selain itu, masalah otonomi daerah dengan kebijakan yang tidak jelas, juga menjadi pemicu hingga banyak pengelola hotel yang hanya mengantongi ijin dari pemerintah daerah setempat,” ujar Herman seraya menambahkan perinjinan yang seharusnya ditempuh harus berdasarkan rekomendasi dari PHRI Jabar dan ditandatangani Gubernur Jabar.

Sementara itu Rakerda PHRI Jabar tahun 2012 ini selain membahas mengenai permasalahan perijinan, sertifikasi dan klasifikasi hotel di Jabar yang terus mengalami penambahan, juga dibahas rencana kerja pengurus. Tidak ketinggalan sejumlah agenda dan program promosi yang akan dilaksanakan di dalam maupun luar negeri setahun kedepan.(A-87/A-26).***
Pikiran Rakyat Sabtu, 28/01/2012 - 08:24

Menjalin Silaturahmi

IDULFITRI 1432 H baru saja berakhir, kaum muslimin dan muslimat banyak yang menggelar silaturahmi yang dikemas dengan berbagai kegiatan, seperti halalbihalal, reunian, kumpul bersama, dan diisi berbagai kegiatan keagamaan atau siraman rohani.

Ayat yang menjadi dasar bersilaturahmi ada pada Alquran Surat Annisa ayat 1, "Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim."

Makna silaturahmi bisa sebatas mengadakan pertemuan keluarga atau pertemuan warga dan satu sama lainnya, serta saling mengenalkan hubungan kekerabatan. Kegiatan atau cara seperti itu mempunyai nilai positif.

Namun yang disebut silaturahmi tidak sebatas itu saja. Bukan hanya memperkuat hubungan kekerabatan semata. Tetapi yang lebih esensial adalah bagaimana memperkuat hubungan keimanan, ketakwaan pada lingkungan keluarga masing-masing.

Dalam tafsir Ibnu Katsir ada sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Jarir, Rasulullah SAW, bersabda, "Nanti di hari kiamat di antara hamba-hamba Allah ada sekelompok orang yang mendapat tempat istimewa di surga. Mereka itu bukan para nabi juga bukan syuhada, malah para nabi dan syuhada tertarik dengan kedudukan mereka di sisi Allah pada hari kiamat."

Mendengar pernyataan itu, para sahabat semangat untuk bertanya, "Ya Rasulullah, manusia macam apakah yang akan mendapat tempat istimewa di surga?" Nabi tidak menyebut nama juga kelompok, tapi menyebutkan sifat, mereka yang akan mendapatkan tempat istimewa di surga adalah yang ketika hidupnya di dunia saling mencintai, menyayangi dengan dasar karena Allah (keimanan, keislaman, dan ketakwaan) bukan karena ikatan harta atau keturunan."

Sejarah mencatat, putra Nabi Nuh yang bernama Kan'an oleh Allah ditenggelamkan di lautan banjir besar. Ketika Nabi Nuh meminta pertolongan kepada Allah untuk menyelamatkan anaknya, Allah menjawab, "Wahai Nuh, dia (Kan'an) bukan keluargamu!". Ahli tafsir memaknai karena dia (Kan'an) tidak beramal saleh seperti bapaknya (Nuh).

Dari sejarah ini tentu kita dapat belajar, bahwa makna silaturahmi tidak hanya sebatas bersalaman dan mengadakan pertemuan. Namun yang paling penting adalah bagaimana memperkokoh kualitas keimanan, keislaman, dan ketakwaan dalam lingkungan keluarga, sehingga menjadi manusia yang bertakwa.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Alquran Surat Ath-Thuur ayat 21 yang artinya: "Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya".

Mudah-mudahan Allah senantiasa menjaga dan memelihara silaturahmi, khususnya di lingkungan keluarga masing-masing. Wallahualam bi shawab.
(Penulis adalah Kepala Seksi Urusan Agama Islam pada Kementerian Agama Kota Bandung)**
Galamedia jumat, 09 september 2011
Oleh : Drs. H. Ali Abdul Latief, M.Si.

Saturday, February 04, 2012

Bertahan Walau Tergilas Zaman

Demi tetap melestarikan seni wayang golek di Tatar Sunda, Ishak Suhendra (52), pemilik sanggar kerajinan wayang golek di Jalan Raya Andir Desa Cibiuk, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur ini tetap setia menggeluti kerajinan pembuatan wayang golek meski peminatnya semakin menurun.

Ishak terlihat tengah mengamplas kepala wayang golek buatannya di depan Sanggar Kerajinan Wayang Golek Sang Putra Cianjur. Semua proses pembuatan wayang golek hampir ia lakukan sendiri. Dari pembuatan pola wayang pada kayu hingga proses akhir pewarnaan.

Tampak terpampang wayang golek hasil karyanya sepertiPandawa Lima, Semar, Si Cepot dan lainnya. Kerajinan terseut pun sudah ditekuni sejak berusia 11 tahun, Pasang surut keberadaan kerajinan pun sudah dialaminya. "Meski permintaan semakin hari semakin menurun, saya ingin wayang golek tetap ada,katanya.

Sambil mengamplas, Ishak megatakan membuat wayang golek sangat sederhana. Bahan utama yang digunakan adalah kayu jenis Jen-jen atau kayu Lawe. Lalu dihaluskan melalui hamplas, dan dibentuk sesuai dengan tokoh-tokoh pewayangan, dan diamplas lagi. Kemudian, di cat dan di persis serta lainnya.

“Semua tokoh wayang golek pernah saya buat. Sementara hal yang sulit membuat wayang golek adalah membentuk wajah atau muka salah satu tokoh wayang golek setelah itu paling pakainnya,” ujarnya.

Ia bercerita awal mulanya ia menekuni seni wayang golek, dari mulai hobi nonton wayang golek. Kemudian, mulai tertarik untuk mencoba membuat tokoh-tokoh wayang golek sendiri, tanpa ada bantuan dari orang lain. “Sampai saat ini saya terus menekuni seni ini, dan belum pernah tersentuh oleh pemerintah, baik daerah dan pusat,” tuturnya.

Ishak memaparkan, kebudayaan daerah, termasuk wayang golek merupakan aset yang penting, karena kebudayaan daerah yang menjadi ciri khas suatu daearah. “Karena itu, saya akan terus melestarikan dan mengembangkan kesenian ini sampai kapan pun,” ujarnya.

Ia merasa bangga dengan hasil karyanya sendiri, meski sampai saat ini belum tersentuh oleh pemerintah. Menjadi pengrajin kesenian merupakan sebuah kebanggan tersendiri. Apalagi kerajinan yang telah ditekuninya sudah terjual ke mana-mana.
“Biasanya Wayang Golek hasil karya, terjual di berbagai kota di luar Cianjur, seperti Bandung, Jakarta, Bogor, Sukabumi. Meski begitu, pembeli dari orang Cianjur juga ada, tapi jumlahnya sedikit,” tuturnya.

Padahal, Ishak hanya mengharagai satu wayang golek kecil dengan hargarp 25ribu hingga Rp 50 ribu. "Kalau pesan dengan ukuran tertentu harganya bisa smapi Rp 100ribu," ujarnya.

Ishak menuturkan sebenarnya usaha yang digeluti ada keinginan lebih dikembangkan. Namun hal itu urung dilakukan, karena terbentur dengan permodalan. “Ya beginilah kalau modal kurang, jadi semuanya serba kurang,” katanya.

Ia mengatakan sebenarnya keberadaan pengrajin seni dan budaya di Cianjur kalau mendapat perhatian dan dukungan dari berbagai pihak, akan meningkat. “Jika ada yang mendukung, terutama dari pemerintah, kebudayaan akan senantiasa terjaga dengan baik,” ucapnya.

Ishak menerangkan, kelangsungan potensi kebudayaan daerah di seluruh kabupaten Cianjur juga harus ditingkatkan. Yaitu dari mulai pembenahan manajemen dan inovasi. Dengan cara inilah kemungkinan taraf hidup masyarakat di sekitar sentra pengrajin kesenian dan budaya yang mempunyai modal kecil akan ikut terangkat. (Wilujeng Kharisma/"PRLM")***
Pikiran Rakyat Senin, 30/01/2012 - 00:34

Doa yang tak Didengar


, Oleh: Habib Nabiel al-Musawa

Ada satu doa Nabi Muhammad SAW yang amat indah. “Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari hati yang tidak khusyuk, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan dari nafsu yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak lagi didengar.” (Jami’us Shaghir, hadis sahih).

Doa ini singkat, padat, tetapi maknanya amatlah mendalam. Hadis ini mengupas tuntas empat pangkal masalah utama manusia. Masalah yang pertama dan utama adalah jika hatinya sudah tidak bisa lagi khusyuk, sehingga tak ada lagi rasa takut kepada Allah SWT, maka amaliah ibadahnya menjadi rutinitas yang menjemukan dan kering tanpa kenikmatan ibadah.

Jika kondisi ini sudah menguasainya maka ia akan dikenai penyakit berikutnya, yaitu ilmunya menjadi tidak lagi bermanfaat bagi akhiratnya. Semua cara akan dikerahkan untuk menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya, yakni dunia semata. Lalu, jika ia sudah dihinggapi penyakit kedua tersebut, maka jika dibiarkan ia akan melangkah pada stadium ketiga, yaitu nafsu yang tidak akan bisa kenyang, tak pernah mengenal puas, apa pun akan diterabas demi memuaskan keinginan hawa nafsunya.

Dan, jika ia telah mengalami tingkat ini maka ia akan terkena stadium terakhir yang mematikan, yakni doanya tak lagi didengar oleh Allah. Jika ini yang terjadi maka mau tinggal di mana lagi kita ini. Bumi mana yang akan kita injak, langit mana tempat kita berteduh, jika doa kita sudah tidak lagi didengar oleh Allah SWT?

Manusia semacam ini persis seperti yang digambarkan oleh Allah SWT: “Atau, seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi  oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-menindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (QS an-Nuur: 40).

Melalui momen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini, saya menasihati diri saya sendiri dan kita sekalian untuk selalu merasa takut kepada Allah SWT dari kemaksiatan. Jika beribadah, maka lakukanlah dengan khusyuk, teteskan air mata saat menghadap Allah, karena dari-Nya kita berasal dan kepada-Nya kita akan kembali.

Kita berharap, ilmu yang dimiliki dapat menjadi cahaya yang selalu menuntun kita pada kebenaran, menjauhi kemaksiatan dan kemungkaran, agar doa kita layak didengar dan dikabulkan Allah SWT. “Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat-(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat per¬umpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS an-Nuur:35). Wallahu a’lam.

sumber : www.republika.co.id

Friday, February 03, 2012

Sifat Ragu

KERAGUAN adalah keadaan tidak tetap hati (dalam mengambil keputusan, menentukan pilihan, dan sebagainya); bimbang; sangsi (kurang percaya); syak. Setiap orang pernah merasakan keraguan terhadap sesuatu hal dalam hidupnya, baik dalam masalah jodoh, sekolah, pekerjaan atau bahkan sesuatu yang berkaitan dengan masalah agama. Keraguan merupakan sifat yang kerap hinggap dalam diri manusia.

Keraguan ini muncul ketika seseorang kurang atau tidak memiliki pengetahuan terhadap sesuatu hal dan ketika seseorang kurang percaya atas kemampuan dirinya sendiri.

Ragu merupakan sifat yang tercela. Bahaya dari sifat ragu akan berdampak sistemik dalam kehidupan kita. Orang yang selalu dihinggapi keraguan bukan hanya akan membahayakan dirinya, tetapi juga orang lain.

Keraguan terhadap sesuatu yang berkaitan dengan masalah duniawi hanya membuat manusia menderita di dunia. Namun jika kita ragu terhadap masalah-masalah agama, bukan hanya menyebabkan penderitaan di dunia, tapi juga di akhirat kelak.

Di dalam Alquran, Allah SWT dengan tegas melarang kita menjadi orang yang ragu, sebagaimana firman- Nya, "Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekalikali kamu termasuk orang-orang yang ragu" (Q.S. Al-Baqarah: 147).

Begitu juga sabda Rasulullah SAW. Beliau memerintahkan kita untuk mengusir sifat ragu. Sebagaimana sabdanya, "Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu" (H.R. Tirmidzi dan An-Nasai).

Meninggalkan yang meragukan ini berlaku secara umum, baik dalam ibadah, muamalah, pernikahan, juga dalam setiap disiplin ilmu.

Mengingat buruk dan besarnya bahaya sifat ragu, kita harus berusaha menjauhi sifat ini. Caranya, pertama dengan memperdalam pemahaman terhadap ajaran agama dan senantiasa meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Sebab orang yang beriman tidak akan dihinggapi keraguan.

Sebagaimana firman Allah SWT, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul- Nya, kemudian mereka tidak raguragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar" (Q.S. Al-Hujurat: 15). (Penulis, Ketua DKM Al-Hikmah RW 07 Sarijadi Bandung, anggota Komisi Pendidikan danDakwah MUI Kel. Sarijadi, Kec. Sukasari, Kota Bandung)
Galamedia jumat, 27 januari 2012
Oleh : H. Moch. Hisyam, S.Ag.
 

Toilet Wisata

KOTA Bandung dalam beberapa tahun ini dikenal sebagai daerah tujuan wisata. Ribuan bahkan sampai puluhan ribu, wisatawan lokal dan asing datang ke Bandung hanya untuk menghambur-hamburkan uang di kota yang dikenal Parijs van Java ini.

Keberadaan factory outlet (FO) dan aneka kuliner khasnya yang menjadi daya tarik para wisatawan datang ke Bandung. Bandung pun dikenal sebagai pusat mode dan kiblat mode Indonesia setelah munculnya pusat jeans dan FO hingga sekarang.

Salah satu daerah yang menjadi tujuan wisatawan lokal dan asing adalah Jalan Cihampelas yang sejak era tahun 1990-an dikenal sebagai pusat pakaian dan celana jeans. Tak heran di hampir sepanjanh Jalan Cihampelas bermunculan toko yang menjual aneka pakaian dan celana terbuat dari kain jeans dengan harga yang terjangkau. Belakangan di Jalan Cihampelas pun muncul FO-FO yang menjual aneka pakaian dan celana dengan model terbaru.

Model yang terbaru dan harga yang murah menjadikan Jalan Cihampelas sebagai buruan pencinta mode yang murah. Hampir setiap hari, Jalan Cihampelas dipenuhi penggila mode. Bahkan pada week end dan hari libur nasional maupun liburan sekolah, jalan yang dulunya dipenuhi pepohonan ini menjadi sesak. Kemacetan tak terhindarkan.

Dipenuhinya Jalan Cihampelas oleh para wisatawan, ternyata tidak cukup untuk membuka mata pemerintah dan pengusaha. Jika kita berjalan-jalan dan belanja di Jalan Cihampelas dipastikan tidak akan menemui fasilitas umum maupun sosial, seperti toilet wisata, tempat parkir, tempat istirahat, tempat ibadah dan sebagainya. Selain itu, tidak adanya trotoar untuk pejalan kaki menjadikan kawasan Cihampelas ini kumuh dan tak beraturan. Jika dilihat ini merupakan cerminan pimpinan Kota yang atak beraturan dan senang hidup kumuh.

Tidak hanya di Jalan Cihampelas, tetapi di semua tempat yang dijadikan pusat perbelanjaan di Kota Bandung, seperti di Jalan H Juanda (Dago), Jalan Merdeka, Jalan Junjunan, Jalan Setiabudhi, Jalan Ahmad Yani, Pasar Baru, dan banyak lagi. Coba perhatikan, apakah sudah ada fasilitas umum maupun fasilitas sosial bagi para wisatawan (pengunjung). Padahal sudah menjadi suatu keharusan, sebuah destinasi wisata harus dilengkapi dengan fasilitas sosial dan fasilitas umum. Semua itu untuk memberikan kenyamanan kepada para wisatawan. Kan ada pepatah "Tamu adalah Raja". Tapi yang didapatkan raja ketika menginjakan kaki di Kota Bandung. Inilah cerminan kota yang tidak ramah.

Padahal dari sektor pariwisata ini, Pemkot Bandung berhasil meraup untung yang sangat besar sekitar 65 persen atau sekitar Rp 165 miliar setiap tahunnya. Bahkan keuntungan itu dijadikan pendapatan asli daerah (PAD) Kota Bandung terbesar dibandingkan dari sektor lain.

Tapi apa daya, Pemkot Bandung acuh tak acuh terhadap sektor pariwisata terutama untuk penyediaan fasilitas umum maupu fasilitas sosial. Jadi, uang rakyat ini lebih banyak digunakan untuk sektor lain.

Kepedulian Pemkot Bandung pada sektor pariwisata memang sangat kecil. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan para wisatawan akan meninggalkan Kota Bandung. Mereka beranggapan buat apa datang ke Kota Bandung tanpa kenyamanan. Justru yang didapat adalah rasa takut tertabrak kendaraan, takut tidak bisa buang hajat dan kencing karena tidak ada toilet wisata, takut dicopet atau dirampok karena tidak adanya kenyamanan dan keamanan, serta rasa takut lainnya. Apakah hal ini dirasakan oleh pemerintah Kota Bandung? Jawabannya duka teuing, emutan we!
senin, 02 januari 2012
Oleh : KIKI KURNIA
(Wartawan Galamedia)**

Thursday, February 02, 2012

Prung Geura Tarung!

JIKA tidak ada perubahan jadwal, tim "Si Jalak Harupat" Persikab Kabupaten Bandung akan mengawali kiprahnya di Kompetisi Divisi Utama 2011/2012 versi PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LIS) pada Sabtu (17/12) ini. Berdasarkan jadwal yang diterima dari PT. LPIS, tim Persikab akan menjamu Persiku Kudus di Stadion si Jalak Harupat.

Pertandingan perdana di musim ini sangat ditunggu-tunggu pecinta Persikab. Rasa penasaran untuk melihat sepak terjang tim yang dibesut Encang Ibrahim ini muncul di benak publik sepakbola Kabupaten Bandung.

Wajar saja rasa kepenasaran itu muncul karena pada musim ini, Persikab hampir 95 % menggunakan para pemain lokal Kabupaten Bandung dan mayoritas berusia di bawah 23 Tahun. Dari 25 pemain yang ada, hanya penjaga gawang Deni Sopandi dan Edwin Barlianto yang usianya kepala 3.

Meski pemain lokal, namun kualitas dan teknik mereka jangan disepelekan dan dipandang sebelah mata. Motivasi dan loyalitas tinggi akan menjadi modal yang sangat berharga bagi tim Persikab.

Selain pemain lokal, tim Persikab juga menggunakan jasa pelatih lokal, Encang Ibrahim. Mantan pemain Persikab dan pelatih Porda Kabupaten Bandung 2010 ini, dipercaya untuk menukangi Persikab musim ini.

Bagi Encang, kesempatan menjadi pelatih kepala merupakan pengalaman kali pertama. Sebelumnya, mantan kapten tim Persikab di era 90-an ini pernah beberapa kali menjadi asisten pelatih saat Persikab masih berjuang di divisi II dan divisi I.

Encang Ibrahim akan dibantu tiga asistennya yakni Heri Rafni Kotari, Drs. Entang Hermanu, dan Jajang Sinar Surya. Sangat menarik untuk dinantikan kolaborasi para pemain muda dengan pelatih muda di tubuh Persikab ini.

Meski persiapan Persikab sangat mepet, namun tim pelatih dan pemain Persikab menatap musim kompetisi 2011/201 dengan optimistis. Hanya mengandalkan pemain lokal, tidak menyurutkan semangat tim Persikab untuk mampu berbicara banyak di kompetisi musim ini.

Performa para pemain Persikab terus menunjukkan tren positif baik dalam latihan rutin maupun saat menggelat uji coba. Momentum ini harus dipertahankan bahkan harus ditingkatkan untuk bisa tampil maksimal di kompetisi musim ini dan membanggakan masyarakat sepakbola Kabupaten Bandung. Kendang geus dipadungdungkeun. Prung, geura tarung!
kamis, 15 desember 2011
Oleh : Andri Ridwan Fauzi
(Wartawan HU Galamedia)**

Nama Asing

GELIAT Kota Bandung sebagai Kota Pariwisata benar-benar sangat dirasakan hampir seluruh masyarakat kota. Walaupun ada sebagian masyarakat yang tidak merasakan manfaat dari kota pariwisata ini.

Banyak hal yang berubah pada wajah Kota Bandung, setelah kota ini semakin banyak dikunjungi para wisatawan domestik maupun mancanegara. Infrastruktur pun serta fasilitas semakin bertambah, walaupun banyak yang masih kurang.

Kedatangan para wisatawan ini, sedikit demi sedikit banyak mempengaruhi sejumlah nama daerah. Perubahan ini pun setidaknya bisa memengaruhi jati diri daerah itu. Bahkan, daerah yang sebelumnya bukan kawasan komersil menjadi kawasan komersial. Tidak hanya itu, para pemilik toko berlomba-lomba mengubah nama toko mereka dari bahasa Indonesia menjadi bahasa asing.

Contohnya, sepanjang Jalan Dago hampir 75 persen toko yang ada di Dago menggunakan nama asing. Tentunya hal ini tidak hanya di kawasan Dago saja. Kawasan yang menjadi daerah komersial, terutama yang terdapat pusat perbelanjaan (mal) dan apartemen, penamaan menggunakan nama asing menjadi suatu keharusan. Benarkah? Akibatnya, masyarakat sekitar pun menjadi terasing di daerahnya. Mereka menjadi tamu dan bukan menjadi tuan rumah di negerinya. Yang jadi tuan rumah mereka yang punya uang dan mereka yang mendapat jaminan usaha dari pemerintah.Pemerintah Kota Bandung seolah tutup mata dengan masalah ini. Yang penting ada uang, pengusaha jadi tuan.

Saya jadi ingat pada zaman Orde Baru ketika negara dipimpin Soeharto (Pak Harto). Pak Harto dengan tegas menginstruksikan, nama-nama yang berbau asing harus diganti menggunakan nama bahasa Indonesia. Bukan hanya pada nama seseorang, tetapi nama perusahaan, toko, maupun lainnya harus menggunakan nama Indonesia. Intinya, Pak Harto ingin mengindonesiakan apapun yang berbau asing, agar bahasa Indonesia semakin diakui di dunia internasional.

Tapi sekarang? Semua orang ingin kembali menggunakan bahasa asing. Jangankan nama perusahaan, toko maupu lainnya, nama seseorang pun banyak menggunakan bahasa asing. Keren katanya!

Bahkan sejumlah perguruan tinggi, hotel dan sebagainya merubah nama Indonesia diasingkan menggunakan bahasa asing, contoh Universitas Pendidikan Indonesia diubah menjadi The Educational University of Indonesia dan banyak lagi. Di Kota Bandung, nama-nama asing banyak ditemui baik di toko, mal, hotel, rumah sakit, distro, dan sebagainya. Ini menandakan tidak percaya dirinya bangsa dan masyarakat Indonesia pada nama dan bahasa Indonesia. Mereka seolah malu menggunakan nama dan bahasa Indonesia, padahal mereka hidup di negara Indonesia. Sementara bahasa Indonesia sudah dipelajari dihampir 40 negara di dunia, dan tengah diupayakan menjadi bahasa ASEAN (bahasa internasional).

Salah satu tempat umum yang konsisten menggunakan bahasa Indonesia di Indonesia, adalah bandara (bandar udara) yang dikelola PT Angkasa Pura. Setiap ruangan dan penunjuk jalan menggunakan nama berbahasa Indonesia dengan huruf besar dan jelas, sedangkan bagian bawahnya bahasa asing. Selama itu tak ada komplain dari wisatawan penumpang pesawat dari luar negeri mengenai hal itu.

Tidak percaya dirinya pada bahasa Indonesia dan nama Indonesia berdampak pada bahasa daerah. Bahasa ibu ini kian hari kian ditinggalkan oleh penuturnya. Jangankan di ruang publik, di sekolah maupun di rumah, bahasa ibu ini sudah jarang diajarkan dan semakin hari semakin berkurang penuturnya. Penggunaan bahasa dan nama asing pun semakin marak di sekolah maupun di keluarga. Jika demikian salah siapa?

Jangan salahkan jika kedepan untuk belajar bahasa Indonesia dan bahasa daerah kita harus berangkat ke luar negeri. Sebab mereka sangat mengerti dan paham, untuk menjajah bangsa Indonesia cukup mempajari bahasa dan budayanya, kemudian dikembangkan di negaranya. Ini yang luput dari perhatian kita maupun pemerintah kita. Tah mun geus kitu rek kumaha ketakna?
senin, 30 januari 2012
Oleh : KIKI KURNIA
(Wartawan Galamedia)**

Islam dari Cina Menyebar ke Indonesia

SAAT ini umat Islam di Cina lebih dari seratus juta jiwa, sumber resmi hanya menyebut 30 Juta jiwa. Tak kurang 42.000 masjid melengkapi aktivitas peribadatan. Penduduk dunia biasanya mengenal Islam dianut oleh suku Hui, tapi yang sebenarnya tersebar sebagai jumlah mayoritas di suku: Xinjiang, Gansu, Hubel, Qinghai dan Yunan. Juga menyebar di suku: Uyghur, Kazak, Tartar, Salar, Dongxiang, Tajik, Uzbek dan Baoan. Pastinya suku Han. Begitulah penuturan An Wan Seng dalam Rahasia Sukses Muslim Cina (Hikmah, 2008).
An Wan Seng menjelaskan, ketika terjadi Revolusi Kebudayaan di tahun 1960-an sewaktu komunis berkuasa, penguasa komunis mengintimidasi para pemeluk umat beragama di Cina. Islam melawan pengaruh komunis. Islam bukan agama baru di Cina. Tetapi sudah ribuan tahun dan berbaur dengan kebudayaan setempat jauh sebelum pengusung paham komunis memerintah.

Masih merujuk literatur yang sama, kita bisa jumpai pembeberan dua teori mengenai masuknya Islam di Cina. Pertama, Islam sudah ada di Cina sewaktu Muhamad Rasulullah masih hidup.

Bahkan kerja sama dalam perniagaan sudah jauh terjalin sebelum masa Islam. Nabi Saw mengirimkan para sahabat untuk berdakwah. Bergerak dari barat Cina, yang kelak dikenal sebagai jalur sutra dan Marcopolo melintasi rute ini saat berkunjung ke Kubilai Khan. Sampai sekarang makam para sahabat bisa dilihat di jaluri barat Cina ini. Kedua, Islam masuk ketika Dinasti Tang berkuasa. Dibawah komando khalifah Utsman bin Affan telah menjalin kerja sama di bidang perekonomian yang dikepalai oleh Sa'ad bin Abi Waqas bersama 15 sahabat lainnya. Bahkan komunitas muslim sudah terbentuk di Kanton wilayah Dinasti Tang pada awal abad ke-7 Selain catatan resmi Dinasti Tang yang menyatakan kedatangan Sa'ad bin Abi Waqas, ada pendapat yang beredar Islam masuk dibawah pimpinan Abu Hamzah bin Hamzah bin Abi Thalib. Selain utusan dari Madinah, dinasti Tang juga menjalin perdagangan dengan Kamboja dan Annam (Vietnam).

Setelah menjalin perniagaan dengan Dinasti Tang, kaum muslim juga berlajut membangun komunikasi sosial dengan Dinasti Song dan Dinasti-dinasti berikutnya. Turut membantu memadamkan pemberontakan yang pernah bergolak semisal pada kasus pemberontakan An Xi (755 M). Berdakwah selain melalui media perniagaan, juga dilakukan dengan jalur pernikahan. Gelombang imigrasi dari semenanjung Arabia turut menyuburkan Islamisasi lewat pendekatan budaya.


Cheng Ho

Di tahun 1244 Kubilai Khan mengangkat sejumlah tokoh penting dari kaum muslim dipemerintahannya. Diantaranya, Abdurrahman sebagai ketua Keuangan, Syekh Ajjal dan Umar Shamsuddin dua tokoh ini diamanahi Ketua Keuangan dan Gubenur di Yunnan. Ketika Dinasti Ming berkuasa pengaruh umat Islam makin maksimal. Dipercaya menjadi bagian terpenting dari penentu kebijakan politik luar negeri.

Salah satu tokoh legendaris bernama Laksamana Cheng Ho alias Zheng He alias Ma Sanbao, karena memang punya kemampuan menjalankan tugas kepemerintahan yang diamanahkan.

Dalam buku tebal Cheng Ho Penyebar Islam dari China ke Nusantara (Kompas, 2010), Dr. Tan Ta Sen mengurai misi kebijakan politik luar negeri Ming Cina yang dimotori Cheng Ho, guna melayari lautan samudra di Asia, Afrika dan Eropa dari 1405-1433 M.

Dari 33 negara di Asia Tenggara yang dikunjungi antara lain, Champa, Zhenla, siam, Malaka, Jawa, Palembang, Samudra, Aru, Naguer, Lambri, Pahang, Kelantan, Lidai, dan Sulu.

Berikut tujuan yang hendak dicapai serta membutuhkan 27 tahun mengarungi lautan dan menggunakan 42 kapal, 30.000 0rang, 180 dokter, dan sejumlah ahli diberbagai bidang termasuk penulis dan penerjemah. Pertama, pelayaran-pelayaran bermotif politik. Kedua, diplomatis untuk menjaga dan melindungi wilayah yang menjalin kerjasama. Ketiga, memajukan perdagangan. Keempat, menawarkan kebudayaan dan menjalin pertukaran budaya. Kelima, mempelajari dunia maritim yang petanya belum terpecahkan. Keenam, kerjasama militer dengan Timur dan negeri-negeri Islam yang sudah muslim seperti negeri-negeri di Semenanjung Arabia maupun yang sudah Islam tapi belum berbentuk kekuatan kerajaan Islam, seperti yang terjadi di Samudra Pasai kerajaan Malaka.

Tujuh dari Wali Songo Keturunan Cina?

Dalam perjalanan ke tanah Jawa, Cheng Ho menjumpai satusatunya perkampungan Cina muslim di lingkungan wilayah Majapahit. Perkembangan Cina muslim perantauan di Tuban sebagai pelabuhan dan basis perniagaan semakin menemukan bentuk terbaiknya.

Maju pesat. Sehingga, timbul inisiatif dari Cheng Ho untuk memindahkan kantor pusat perdagangan Cina perantauan Muslim dari Manila (Philipina) ke Tuban, Jawa Timur pada tahun 1420-an. Sejumlah masjid dibangun Cheng Ho di wilayah Jawa Timur, juga daerah-daerah yang dilaluinya. Tentu dengan gaya khas arsitektur ala Cina.

Di luar perkumpulan saudagar Cina yang organisasinya diremajakan, Cheng Ho juga berhasil menempatkan orang kepercayaannya menjadi bagian penguasa Majapahit. Pada perkembangannya, aroma budaya Cina turut mewarnai tata pemerintahan Majapahit. Misalnya pada gelar administratif kerajaan Su King Ta buat gelar Suhita, A Lu Ya buat gelar Arya, dan seterusnya.

Merujuk kesimpulan Slamet Mulyana yang meneliti Babad Tanah Jawi, Serat Kanda dan dokumen MASC (The Malay Annals of Semarang and Cirebon), Dr. Tan Ta Sen cenderung berpendapat, dari Sembilan dewan dakwah yang tergabung dalam Wali Songo hanya dua ulama yang bukan keturunan Cina, yakni Sunan Giri dan Sunan Kudus (dari Arab).

Penulis tuliskan lagi hasil identifikasi anggota Wali Songo:
1. Sunan Ampel alias Raden Rahmat alias Bong Swi Hoo.
2. Sunan Bonang alias Raden Makhdum Ibrahim (putra tertua Sunan Ampel).
3. Sunan Giri alias Raden Paku.
4. Sunan Drajad alias Raden Qasim (adik Sunan Bonang).
5. Sunan Kalijaga alias Raden Said alias Gan Si Cang.
6. Sunan Kudus alias Ja'- far Sadik. 7. Sunan Muria alias Raden Umar Sain (putra Sunan Kalijaga). 8. Sunan Gunung Jati alias Syarif Hidayat Fatahillah alias Toh A Bo.
9. Raden Patah alias Jin Boon.

Keterangan di atas berbeda dengan penilaian sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara sebagaimana termuat dalam Api Sejarah (Salamadani, 2009). Beliau berpendapat, sudah jadi kebiasaan orangorang Cina menyebut nama-nama di Nusantara Indonesia segala sesuatunya dibahasakan dengan bahasa Cina. Dicinakan. Sama halnya orang Jawa menjawakan J.P. Coen menjadi Mur Jangkung.

Nederland diindonesiakan menjadi Belanda. Hasyim Asyari dan Ahmad Dahlan dua ulama pendiri NU dan Muhammadiyah namanya bahasa Arab, tapi keduanya asli Indonesia. Simpulan Ahmad Mansur, penulisan Bong Swi Hoo bagi Sunan Ampel, Gan Si Cang bagi Sunan Kalijaga, Toh A Bo bagi Sunan Gunung Djati yang tertulis di Kronik Kelenteng Sam Po Kong di Semarang diartikan sebagai penyebutan versi Cina saja. Wallahu a'alam.
(Penulis lepas tinggal di Bandung)**
jumat, 27 januari 2012

Oleh : M.L. Nihwan Sumuranje

Wednesday, February 01, 2012

Fenomena Fiksimini Sunda

MELALUI media facebook yang diprakarsai Nazarudin Azhar, sastrawan Sunda sekarang sedang bersemangat menulis fiksimini. Sebut di antaranya Godi Suwarna, Acep Zamzam Noor, Hadi AKS, Taufik Faturahman, Tatang Soemarsono, Etty R.S., Cecep Burdansyah, Soni Farid Maluana, Dadan Sutisna, Darpan, Deden A. Aziz, Nana Sukmana, Dipa Galuh Purba, Oom, Sarabunis, Lugiana, dan Toni Lesmana. Atau yang sebelumnya dikenal sangat concern terhadap kesundaan semisal Kang Ganjar Kurnia, Ahda, Gibson, Mang Jamal, Asep Ruhimat, Tisna Sanjaya, Kyai Matdon, Ahmad Fauzi Imran, Is Tuning, Rudi, Iwan. Masih banyak nama lainnya yang tidak mungkin disebut satu persatu dengan kualitas terjaga, imajinasi auratik dan nalar yang menjulang.

Dalam sastra Indonesia wacana fiksimini sudah ramai diperbincangkan terutama sejak Agus Noor menerbitkan "Anjing & Fiksi Mini Lainnya" atau "35 Cerita untuk Seorang Wanita" (2009) lengkap dengan kerangka epistemologi yang dibangunnya. Disimpulkannya karakter fiksimini itu: (1) menceritakan seluas mungkin dunia, seminim mungkin kata; (2) laksana dalam tinju, fiksimini serupa satu pukulan telak; (3) jika cerpen menata kepingan dunia, maka fiksimini mengganggunya; (4), fiksimini yang kuat ibarat granat yang meledak dalam kepala (5) ia bisa berupa kisah sederhana, tetapi selalu terasa ada yang tidak sederhana di dalamnya. Tandi Skober, budayawan dari Indaramyu, mengibaratkannya dengan "orgasme yang tuntas" walaupun tidak harus melalui pemanasan terlebih dahulu.

Bahkan disebut-sebut juga fiksimini memiliki tautan geneologisnya bukan saja sejak 1920 ketika Hemingway menuliskan fiksi mininya itu "For Sale: Baby Shoes", "Never Worn", beberapa tulisan Kawabata, Kafka, Chekov, O Henry, dan Calvino, malah jauh ke belakang dalam fabel-fabel pendeknya Aesop (620-560 SM) atau kisah-kisah sufi dari Timur tengah.

Anekdot-anekdot Nasrudin Khoja seperti dapat ditelusuri dalam beberapa ontologinya yang ditulis Almaqrizi, Alqalqasyandi, Annuwairi, Alqazwini, Addumairi, Alfaraj Alisfahani, Aljahiz, Alashma'i, Abdullah ibn Almuqaffa, Alashri, Ibn Abdu Rabbahi, atau kitab "Natsr Addurar" dan kitab "Majma Alamtsal", juga berbicara dalam nafas yang sama.

Anekdot-anekdot ini jangan dimaknai sebatas humor ringan tapi memiliki interaksi simbolik yang luas. Objek pembicaraannya berkelindan dengan persoalan sosial, politik, ekonomi termasuk tentu mistisisme. Kata Idris Shah dalam "The Sufies," "Humor-humor yang dapat mengantarkan seseorang menemukan jatidirnya, pulang pergi antara dunia fisik dan alam metafisik dalam kesadaran yang utuh". Makna pun menjadi serupa jigsaw puzzles, baik dalam tataran paradigmatis (hubungan tingkatan bahasa) maupun sintagmatis (gabungan kata).

Dalam Tradisi Sunda

Inilah yang sering dipadungdengkeun, termasuk tempo hari di UNPAD. Bukan hanya namanya yang dipersoalkan namun histopriografinya. Ada yang menyebut fiksi kilat, sudden fiction atau micro fiction meski akhirnya lebih populer menggunakan fiksimini. Dari sisi historiografinya, ada yang menisbahkannya serupa dengan ruang-ruang humor dalam majalah Sunda. Ini sebanding lurus dengan dosis syahwat orang Sunda yang suka banyol sehingga kalau dimaknai seperti ini maka seluruh komunikasi orang Sunda memiliki tendensi ke arah fiksimini. Tentu ini kesimpulan simplistis sebab tidak semua fiksimini berisi humor.

Ada yang masih terus mencari relasi akademisnya. Bagi kelompok ini apa pun genre sastra harus memenuhi unsur epistemologi, aksiologi, dan ontologisnya. Baru dianggap sahih sebagai ilmu. Jika tidak? Hanya sebatas pengetahuan saja. Khas orang timur yang infrastruktur kognitifnya lama dijajah: merasa terpuaskan dahaga nalarnya kalau ada rujukan teorinya dari barat, tipikal politik sastra postkolonial. Ada puisi pendek, dengan cepat mengatakan oh di Jepang juga ada yang model seperti ini, Haiku. Ada puisi jeprut, oh di Barat juga sudah lama berkembang; ada sastra religi, terus dicarikan kebenaran korespondensinya dengan atmosfer mistik yang sama di belahan dunia lain.

Di samping ada juga yang "tidak menganggapnya" karena dipandang tidak memenuhi seluruh konstruski estetika sastra. Karena semula mempunyai mazhab bahwa estetika itu bersifat universal, bukan partikular. Berasumsi bahwa yang baru adalah residu, dan yang lama harus dipiara. Yang baru sebagai bidah, yang lama adalah sunnah. Kata kawan saya dari pesantren, faham seperti ini di NU sudah lama ditinggalkan dengan alasan kaidah Almuhafadhah 'alal qadimish sholih wal akhdu 'alal-jadidil ashlah (memelilaihara tradisi yang baik, dan mengambil inovasi yang lebih baik). Kalau begitu, fiksimini itu ideologinya NU banget.

Tipologi fiksimini

Kalau dilihat seluruh tulisan fiksimini yang dalam pengakuan Nazarudin Azhar dalam sebulan saja dari "peluncurannya" sudah menjaring 348 anggota , sekarang sudah mencapai ribuan kata Dadan Sutisna yang telah membuatkannya dalam bentuk web. Maka saya dapat memilahnya dalam empat tipologi.

Pertama, berisi bobodoran bahkan ada yang copy-paste baik dari majalah Sunda atau dari humor Indonesia yang sudah diadaptasi sebelumnya karena mungkin beranggapan bahwa cerita itu sudah menjadi "folklore" yang bisa diambil siapapun. Tentu menulis humor genuine itu tidak gampang, dan lebih tidak gampang lagi humor yang "serius". Humor yang tidak merupakan reflika harfiah dari relitas peristiwa empiric tapi disublimkan, humor yang membuat --meminjam Kang Acep-- "bulu kuduk kita berdiri".

Kedua, tendensi melakukan kritik terhadap fenomena sosial-budaya yang berlangsung di sekitar kita. Kritik tentu vitamin, namun jika kritik itu dilakukan dengan telanjang maka akan kalah bersaing dengan headline koran harian atau majalah berita mingguan yang tidak kalah galak tiap hari mewartakan kebobrokan. Dalam konteks ini kritik fisikmini itu seumpama watak "rok mini", mendayuh antara dua karang: rasa penasaran dan tuntunan untuk memberikan masukan agar tetap dalam balutan kewajaran.

Ketiga, bermuatan cawokah dan lebih menjurus pada area "rumah tangga" khas "masyarakat huma." Cawokah berbeda dengan jorang. Yang pertama memberikan pencerahan, yang kedua membikin kita "tegang" dan bisa jadi mengakibatkan diberhentikan dari status anggota dewan tak ubahnya yang menimpa salah satu wakil rakyat ketika sidang paripurna (diplesetkan pariporno) kebetulan dari daerah pemilihan Ciamis, kampung halamannya penggagas fiksimini Sunda.

Dahulu orang Yunani, menulis dan membicarakan seks cawokah sama pentingnya dengan mendiskusikan politik, sastra dan filsafat. Fiksimini cawokah, meminjam Baudrillard, berpusat sebagai bahan baku (raw material), sistem pertukaran tanda (sign exchange) dalam rangka mengembangkan nilai tanda (sign value) menuju manusia yang sehat jiwa dan raganya.

Keempat, kritik terhadap fenomena keberagamaan yang dianggap masih berkutat pada persoalan formalitas dan atau memperhadapkannya dengan tradisi lokal. Semacam fiksimini dengan tendensi teo-kultural. Seumpama hikayat menyingkirnya "bedug" tergerus pengeras suara dalam fiksi mini yang dibuat Godi yang kalau dalam novel memerlukan ratusan lembar seperti "Robohnya Surau Kami" atau dalam pencarian iman yang rusuh menghajatkan berlembar-lembarnya Akhdiat membuat Atheis.

Nana Sukmana juga dengan menarik menulis fiksimini pola ini namun lebih "ke dalam", realitas keagamaan ditarik dalam sebuah pembacaan (qiroat) atas fakta sosial yang acapkali jatuh dalam --istilah HHM-- kenca kaiblisan namun batin selalu merindu terdekap katuhu kamalaikatan. Kita simak:

"Geura gugah!" Bayati ririh ngageuing. Batin ngan ukur ngulisik. Pikiran beunta meueusan. Samar-samar aya imut. Leleb. Anteb. Ngajak reureuh dina lahunan Tresna, dina liuh-liuh Heman nu mangkak na saban mangsa. "Geura gugah!" Gumalindeng lagu Shoba. Hate anggur morongkol, pikiran kalahka tibra. Neruskeun sakotret ngimpi nu bieu paragat ku gentra Quflah. Lelembutan mangprung beuki jauh, najan lengkah geus ramohpoy. "Geura gugah, Bageur! Geura gugah!" Nahawand carindakdak, bari ngageubig-geubig batin nu angger teu lilir-lilir. Ngipyak ngigelan durja. Ngengklak dina tarahalna mangsa. "Jungjunaaan!" Bayati Husaini jerit jempling nyeungceurikan raga. Ngajepat dirurub kebat.

Dari keempat tipologi (takdir tipologi adalah reduksi!) dibangun dalam tiga model: realis, surealis , atau kombinasi keduanya. Mengangkat tema fisik ada yang metafisik atau berada dalam dunia panca tengah. Tema-tema seperti ini bagi orang Sunda bukanlah hal yang luar biasa selaras dengan kosmologi kala-nya yang mengenal sangkala (alam dunia), buana niskala (dunia gaib), dan buana jatiniskala (kemahagaiban sejati).

Dilihat dari karakter maknanya, ada yang mudah diraba, banyak juga yang membiarkan pembaca menerka. Bahkan di tangan Deden A. Aziz fenomena syair Ayu Ting Ting menjadi fiksimini dengan diberi muatan makna safar kultural:

"Ke mana ke mana ke mana, kuharus mencari ke mana..." Sora Ayu Tingting alewoh jeroeun sirahna. Leumpang sakaparan-paran. Apay-apayan. Mapay-mapay beuteung beurang. Neangan alamat. Bari leungeun nyekel pageuh keresek dieusi sendal capit, manehna tatanya taya reureuhna. Nanyakeun nu geus mangtaun-taun lunta taya iberna. "Di mana di mana di mana, tinggalnya sekarang di mana..." Gero Ayu Tingting beuki mijah dina dadana. Indit ngiciprit. Ngagidig. Ngagedig. Mipir-mipir birit peuting. Bari panon neuteup keukeuh unggal jalan nu kasaba, manehna talete taya kacape nalengteng nu geus mangalam-alam indit taya mulangna. Ka mana? "Nung, Engkang angkat heula ka payun ngagaleuh roko. Bade nitip naon?" cenah. Ti harita, nepika ayeuna, teu beja teu carita. "Ke sana kemari membawa alamat. Namun yang kutemui bukan dirinya, sayaaaang..." Ayu Tingting ngocoblak sorangan.

Secara sosiologis fiksimini juga adalah ekspresi dari elan vital zaman yang meminta kita untuk melipat berbagai hal. Dunia menjadi mini (globalisasi), format koran mengecil (rerubrikasi), obrolan dipadatkan (SMS), malah nikah juga bisa dibatasi waktunya (mut'ah) atau malah ada yang hanya semalam, dan lain sebagainya.

Diksi mini dalam konteks fiksi tentu pada gilirannya menyisakan dua kemungkinan. Pertama, gagasan yang direduksi dan supaya mendapat pahala tersebutlah kata silaturahmi. Dalam politik kebahasaan sebut saja sebagai siasat melestarikan bahasa Sunda yang konon sedang sakaratul maut.

Kedua, pemadatan gagasan dan penghayatan alam sastrawi yang diikhtisarkan dengan ujung cerita yang membuat kita "terjengkang" dan atau mempertanyakan kembali hal ihwal termasuk mempertanyakan kiblat diri yang boleh jadi kerap bertindak anomali. Fiksimini yang kedua memberikan ruang bagi pembaca seluas-luasnya menyelesaikan ceritanya sendiri kemana pun arahnya diselaraskan dengan konteks sosial dan psikologi sang pembaca. Maknanya menjadi heterogen diacukan kepada imajinasi pembaca.

Pilihannya hanya dua: fiksimini atau mini mini juga fiksi! Dan cakrawala kebudayaan Sunda memungkinkan untuk mewadahi keduanya. Selamat merayakan fiksimini. (Penulis, Pemerhati Kebudayaan Sunda/Wakil Rektor IAILM Pesantren Suryalaya)
Galamedia kamis, 26 januari 2012
Oleh : ASEP SALAHUDIN

Saling Memuliakan

Diceritakan, Zaid ibn Tsabit, seusai pemimpin shalat jenazah, langsung menuju kendaraan (bighal)-nya yang diparkir tak jauh dari masjid. Tiba-tiba datang Abdullah ibn Abbas, memegang kendali bighal dan mengemudikannya. Zaid mencegahnya, tetapi Abdullah terus mengemudikannya sambil berkata: “Demikian aku diperintah (oleh Rasul) untuk menghormati ulama.” Zaid lantas meminta Abdullah menjulurkan tangannya. Ia pun memberikannya, lalu Zaid memegang dan menciumnya berkali-kali. Katanya, “Demikian aku diperintah (oleh Rasul) untuk menghormati dan mencintai keluarga Nabi.” (HR Hakim dalam al-Mustadark).

Sungguh menarik apa yang diperlihatkan oleh dua orang tokoh sahabat Nabi itu. Abdullah tidak ragu-ragu memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada Zaid, teman dan senior-nya yang dikenal sebagai ulama. Seperti diketahui, Zaid adalah penulis wahyu pada masa Nabi. Ia juga ketua Tim Sembilan yang ditunjuk oleh Khalifah Utsman untuk merampungkan tugas kodifikasi Alquran. Zaid juga merupakan salah seorang imam bacaan Alquran (imam al-qira’ah) di Madinah.

Penghormatan Abdullah kepada Zaid dapat dipandang sebagai penghormatan karena ilmu. Seperti dimaklumi, Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan dan memuliakan orang-orang yang berilmu (ulama). Nabi Adam AS, seperti dikisahkan dalam Alquran, dinobatkan sebagai khalifah, mengalahkan kompetitor terberatnya, yaitu para malaikat, adalah karena ilmu atau potensi intelektualitasnya. (QS al-Baqarah [2]: 30). Allah SWT sendiri memberikan kemuliaan kepada para ulama beberapa derajat. (QS al-Mujadilah [58]: 11).

Meskipun dimuliakan sebagai ulama, Zaid ibn Tsabit tidak lantas membusungkan dada. Ia tetap rendah hati (tawadhu`). Ia mencium tangan Abdullah berkali-kali sebagai penghormatan dan ekspresi cinta kepada keluarga Nabi. Seperti diketahui, Abdullah adalah sepupu Nabi, anak pamannya, Abbas ibn Abd al-Muthtalib. Nabi SAW sangat mencintai Abdullah. Sewaktu kecil, Abdullah pernah didoakan oleh Nabi agar pandai dalam agama dan tafsir.

Penghormatan Zaid kepada Abdullah dapat dipandang sebagai penghormatan kepada keluarga Nabi. Setiap Muslim sudah sepatutnya menghormati dan mencintai keluarga Nabi. Dalam shalat kita diperintahkan agar berselawat kepada Nabi SAW dan kepada keluarganya, “Allahumma shalli `ala Muhaammad wa `ala ali Muhammad.” Dalam Alquran disebutkan bahwa Allah melimpahkan rahmat dan keberkahan kepada kelurga Nabi. “Para Malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahan-Nya, dicurahkan atas kamu, Hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." (QS Hud [11]: 73).

Pada masa kita sekarang, adab saling mencintai dan menghormati ini dirasakan semakin langka dan semakin menjauh dari kehidupan kita. Pasalnya, dalam banyak hal, kita bukan saling menghormati, melainkan saling merendahkan. Ironisnya lagi, para pemimpin, tokoh, dan pemuka masyarakat justru saling bertengkar, saling menghujat, dan saling merendahkan satu dengan yang lain. Maka itu, kita perlu belajar lebih banyak lagi dari teladan Nabi SAW dan para sahabat-nya. Wallahu a`lam
Oleh Dr A Ilyas Ismail
sumber : www.republika.co.id

Tuesday, January 31, 2012

Memasyarakatkan Tahun Hijriah

BAGI umat Islam kalender Hijriah tampaknya belum memasyarakat secara luas dibandingkan dengan kalender Masehi. Contohnya, bila ingin mengetahui hari ini tanggal berapa dan bulan apa pada tahun Hijriah, masih banyak yang tidak bisa menjawab.

Sedangkan awal perhitungan hari pada kalender Masehi dimulai pada pukul 00.00, maka puncak peringatan tahun baru Masehi biasanya dilakukan pada pukul 00.00, bertepatan dengan tanggal 1 Januari, sedangkan awal perhitungan hari pada kalender Hijriah dimulai pada waktu terbenam matahari. Makanya, setiap bulan Ramadan dan tarawih hari pertama dilakukan pada malam tanggal 1 Ramadan.

Sebelum datang agama Islam, masyarakat Arab sudah menggunakan nama-nama bula Hijriah ini, namun disesuaikan dengan kalender Masehi, bulan pertama adalah September disebut Muharam sebab pada bulan tersebut semua suku (kabila) di semenanjung Arabia sepakat untuk mengharamkan peperangan.

Bulan kedua Oktober, daun-daun sedang menguning disebut bulan Safar (kuning), bulan November dan Desember musim gugur (Rabi'), disebut Rabi'u awal dan Rabi'ul Tsani, Januari dan Februari adalah musim dingin (Jumad=beku) disebut Jumadil Awal dan Jumadil Tsani, kemudian salju mencair (Rajab) pada bulan Maret. April adalah musim semi, saat turun ke lembah untuk mengolah lahan pertanian atau mengembala ternak, disebut bula Sya'ban (Syi'b=lembah).

Sementara pada bulan Mei suhu mulai panas membakar kulit disebut bulan Ramadhan (membakar) dan pada bulan Juni suhunya meningkat lebih panas disebut bulan Syawal (meningkat), pada bulan Juni puncaknya panas membuat orang suka duduk di rumah tidak berpergian disebut bulan Zulqaidah (qaid-duduk), pada bulan Agustus orang Arab biasanya menunaikan ibadah haji, disebut bulan Zulhijjah.

Setelah masyarakat Arab memeluk Islam dan bersatu di bawah pimpinan Nabi Muhammad SAW, turun perintah Allah SWT agar umat Islam menggunakan kalender Qamariah secara murni. Hal tersebut sebagaimana tercantum dalam Surat At Taubah ayat 36 dan 37.

Adapun hikmahnya adalah bulan-bulan Hijriah selalu bergeser setiap tahun, umat Islam melakukan saum Ramadan tidak selalu pada musim panas. Islam adalah untuk semua umat manusia di seluruh penjuru dunia yang letak geografisnya berbeda-beda.

Sedangkan kalender Hijriah mulai dipergunakan pada masa pemerintahan Umar Bin Khatab atas usul Ali Bin Abi Thalib dengan berbagai alasan diantaranya Al-quran sangat menghargai orang-orang yang berhijrah, masyarakat Islam yang berdaulat dan mandiri baru terwujud setelah hijrah, dan umat Islam sepanjang zaman diharapkan memiliki semangat hijrah.

Bukannya, pergantian Tahun Baru Masehi yang selalu dilakukan untuk berhura-hura. Namun, bagi setiap muslim sebaiknya menjadi bahan introspeksi diri apa yang telah dikerjakann baik perbuatan baik dan buruk.
(Penulis adalah Kasi Penerangan Agama Islam di Kantor Kementerian Agama Kota Bandung)**
Galamedia jumat, 16 desember 2011
Oleh : Mimin Sutisna, S.Ag.

Jiwa yang Hidup

KEBERADAAN manusia di dunia ini tidak hanya untuk dapat hidup secara fisik seperti bernapas, tetapi harus diikuti dan disertai dengan jiwa yang hidup. Jiwa yang hidup dapat menentukan kualitas pribadi seseorang. Dalam arti kata, baik buruknya seseorang dipengaruhi jiwanya.

Jiwa ini yang mengatur gerak langkah seseorang, apakah akan berbuat amal saleh dan kebajikan, atau melakukan hal-hal yang keji dan kemungkaran. Fisik atau tubuh hanyalah pelaksana dalam melakukan suatu perbuatan, sedangkan penentu kebijaksanaan adalah jiwa. Jika jiwanya mati, maka apa yang diperbuat tidak akan terarah dan hidupnya akan kesasar.

Seseorang yang mempunyai jiwa yang hidup dalam menjalankan atau menjalani kehidupannya penuh dengan dinamika, yaitu berlomba dalam berbuat kebaikan dan amal saleh. Hidupnya senantiasa diisi dengan ketakwaan dan menghindari perbuatan-perbuatan yang dapat mengotori kesucian jiwa.

Untuk itu, kita perlu mengetahui dan memahami tanda dan bukti jiwa yang hidup. Dengan memahami tanda dan bukti jiwa yang hidup tersebut, diharapkan menjadi motivasi atau pendorong untuk menjaga dan memupuk agar jiwa kita tetap hidup. Jiwa yang hidup tentu saja bersifat dinamis. Setiap saat bergerak dan berusaha untuk senantiasa berbuat amal saleh.

Adapun tanda dan bukti jiwa yang hidup, pertama, mematuhi perintah dan larangan Allah dengan rasa cinta kepada-Nya dan dengan kesungguhan hati. Karena kita percaya kepada Allah, kita wajib menaati atau mematuhi segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Allah.

Hal ini sesuai dengan firman Allah, "Maka bersegeralah kembali kepada (menaati) Allah, sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu." (Q.S. Adz-Dzaariyaat : 50).

Orang yang melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala yang dilarang oleh-Nya, adalah orang yang bertakwa. Kadar ketakwaan seseorang dapat menetukan mulia tidaknya di antara sesama manusia. Semakin bertakwa kepada Allah, maka akan semakin mulia seseorang di sisi Allah.

Sebagaimana diterangkan dalam firman Allah, "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu sisi Allah, ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu." (Q.S. Al Hujurat : 13).

Seandainya kita telah bertakwa dengan sebenar-benarnya, berarti kita telah melaksanakan tugas hidup, yaitu ibadah. Ketakwaan kepada Allah akan diikuti dengan rasa cinta kepada yang dicintainya (Allah), maka apabila disebut nama Allah hatinya gemetar.

Hal ini digambarkan dalam firman Allah, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal." (Q.S. Al-Anfaal : 2).

Kedua, berusaha memperoleh pengampunan dan rida Allah. Orang baik itu bukan orang yang tidak pernah berbuat dosa, tapi orang baik itu adalah orang yang apabila berbuat dosa cepat bertobat. Ada dosa yang disadari dan ada dosa yang tidak disadari.

Berkaitan dengan memohon ampunan ini, sebagaimana dalam firman Allah, "Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat." (Q.S. An Nashr : 3).

Kemudian dalam ayat lain, Allah berfirman, "Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (Q.S. An-Nisaa : 64)

Dalam ayat berikutnya Allah telah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." (Q.S. At-Tahrim : 8).

Ketiga, membenarkan seluruh ajaran (risalah) yang dibawa Rasulullah SAW sebagai manusia yang beriman, harus menaati dan membenarkan seluruh ajaran yang disampaikan atau dibawa oleh Muhammad SAW sebagai Rasulullah. Dalam kaitannya dengan hal ini, Allah telah berfirman, "Kami tidak mengutus seseorang Rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah." (Q.S. An-Nisaa : 64).
(Penulis, jemaah Masjid Baiturrahim Kompleks Riung Bandung, Jln. Saluyu C XI No. 221/ I M Kav. 9 Bandung)**
Galamedia jumat, 23 september 2011
Oleh : Drs. H. Sukmana

Tragedi Mesuji: Ketidakadilan Penguasaan Tanah

TRAGEDI Mesuji menyeruak ke ruang publik di tengah hiruk pikuk persoalan belenggu korupsi yang belum tertuntaskan, semisal skandal century, cek pelawat, dan wisma atlet. Nurani kemanusian kita terhenyak menyusul laporan warga yang mendatangi Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bahwa kasus yang terjadi dua tempat bernama Mesuji, baik di area perkebunan kelapa sawit di Sumatra Selatan maupun Lampung telah menewaskan banyak orang yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Tragedi Mesuji yang kini menjadi sorotan publik, merupakan rangkaian dari sederet insiden.

Salah satunya adalah peristiwa pada April 2011 di Desa Sungai Sodong, Kecamatan Mesuji, Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan. Setidaknya tujuh orang tewas dalam bentrokan antara penduduk dan pasukan pengamanan swakarsa P.T. Sumber Wangi Alam, Sebuah perusahaan kelapa sawit. Insiden lainnya terjadi pada November 2011 di wilayah berbeda yang juga bernama Mesuji, yakni di Kecamatan Mesuji Timur, Kabupaten Mesuji, Lampung.

Diperkirakan, satu orang petani tewas dalam konflik dengan PT Silva Inhutani (Tempo, 21/12). Namun demikian kedua insiden itu, kini sedang diselidiki lebih mendalam oleh tim bentukan pemerintah ataupun tim independen yang melibatkan LSM.

Satu sisi persoalan yang terjadi di Mesuji sungguh jauh dari nilainilai kemanusian, namun terlalau sederhana bila kasus Mesuji hanya dilihat dari sekedar pelanggaran kemanusian akibat sengketa lahan yang kemudian meminggirkan harkat dan martabat umat manusia.

Bagi penulis tatkala ditelisik lebih dalam ada persoalan mendasar yang belum tertuntaskan dalam melihat persoalan ini yakni ketidakadilan penguasaan tanah dan gagalnya pelaksanaan reforma agraria yang dicita-citakan para pendiri bangsa sesuai dengan UUPA No. 5 tahun 1960. Tak terlaksananya pedoman pokok pelaksanaan reforma agraria dan keberpihakan negara yang semakin jauh dari konsepsi tersebut. Bagi penulis menjadi persoalan hulu yang kemudian melahirkan persoalan hilir yang sarat dengan kekerasaan akibat arogansi penguasa yang memiliki modal kuat, entah itu berbentuk swasta, atau korporasi asing. Kemudian "bersekongkol" dengan negara lewat aparaturnya demi melanggengkan kepentingan ekonomi dan menjadikan tanah tak lagi sebagai fungsi sosial, tetapi untuk kepentingan ekonomi kelompok tertentu saja.

Konflik seperti itu terjadi di mana- mana. Sawit Watch, lembaga nirlaba pemantau persoalan perkebunan sawit, mencatat setidaknya ada 3.000 kasus sengketa lahan di perkebunan sawit. Yang terbanyak terjadi di Sumatra, disusul di kalimantan dan Sulawesi. Data Sawit Watch menunjukkan, di Riau, seorang ibu tewas karena konflik seperti di Mesuji. Di Jambi, 7 orang diberondong peluru.

Terlalu berpihak ke korporasi Sementara itu Direktorat Konflik Pertanahan melaporkan konflik tanah yang melibatkan komunitas pada 2006 ada 322 kasus, pada 2007 ada 858 kasus, pada 2008 ada 520 kasus dan pada 2009 ada 194 kasus. Yang menjadi akar masalahnya pun hampir sama, pemerintah begitu mudah memberikan izin penggunaan lahan kepada pengusaha besar, akibatnya perusahaan yang diberikan izin cenderung tidak mau merangkul penduduk setempat, menganggap pihaknya lebih berhak secara hukum, dan dengan segala cara pengusaha mempertahankan tanahnya, termasuk meminta bantuan aparat negara dan membentuk pasukan pengamanan swakarsa.

Pemerintah kehilangan keberpihakannya, di satu sisi begitu mudah memberikan dan terkesan mengobral izin penggunaan lahan kepada pengusaha besar atau dalam kasus Mesuji justru korporasi asing yakni perusahaan sawit asal Malaysia tetapi sangat pelit membaginya kepada rakyat kecil yang di mana-mana rakyat tinggal berimpit-impitan, bahkan di antara mereka ada yang rela mati demi sejengkal tanah padahal itu diamatkan di UUPA No. 5 tahun 1960.

Lewat tragedi Mesuji sejatinya ada hal yang patut di tata ulang kembali ke depan terutama terkait persoalan agraria dan peninjauan kembali persoalan penanaman modal asing. Peninjauan dan evaluasi terkait UU Penanaman Modal asing kian penting satu sisi bercermin pada tragedi Mesuji yang kian menyiratkan ekspansi korporasi asing tak hanya lagi menjarah sektor minyak bumi, batu bara, dan kekayaan alam lainya, akan tetapi sektor perkebunan sawit mulai dirambah terutama beberapa tahun belakangan ini.

Jika korporasi asing mulai merambah sektor perkebunan sawit maka secara langsung akan berhadapan dengan persoalan tanah baik itu hak ulayat, tanah komunitas petani gurem. Persoalan ini semakin rumit ketika terjadi kolaborasi korporasi asing ataupun pengusaha dengan modal kuat dengan pemerintah terkait pemberian izin penggunaan lahan.

Oleh sebab itu, kita sebagai warga negara baik itu mahasiswa, kelas menengah, dan kelompok progresif yang sadar akan konsepsi dan jalannya pembangunan kita ke depan sesuai dengan rancangan para pendiri bangsa ini, patutlah waspada dan mengontrol kejaliman rezim. Tanah bukan semata persoalan ekonomi melainkan sosial dan kepemilikaanya haruslah diatur sesuai yang diamatkan UUPA No. 5 tahun 1960 agar terjadi keadilan dan alat-alat produksi tidak dikuasai oleh segelintir kelompok saja ataupun korporasi asing.

Ingatlah persoalan Mesuji, seharusnya mengingatkan kita akan bahaya penanaman modal asing tatkala berkloborasi dengan pemerintah. Persoalan Mesuji harusnya menyadarkan kita kepada konsepsi reforma agraria yang dicanangkan para pendiri bangsa sebagai tahapan menuju kemajuan bangsa sebagaimana diungkapkan Bung Karno dalam "Djalannya Revolusi Kita". Menurutnya, gembar-gembor tentang revolusi, masyarakat adil dan makmur, amanat penderitaan rakyat tanpa melaksanakan land reform adalah gembar gembornya tukang penjual obat di tanah abang atau pun pasar senen.
(Penulis, Mahasiswa Universitas Padjadjaran, Ketua Cabang GMNI Kab. Sumedang 2009-2011)**
Galamedia senin, 30 januari 2012
Oleh : ARDINANDA SINULINGGA