-
Showing posts with label Berita. Show all posts
Showing posts with label Berita. Show all posts

Sunday, August 21, 2011

Bandung Perlu Penghijauan

 KONTESTAN Miss Indonesia 2011 asal Bandung, Nita Sofiani paling peduli dengan kondisi lingkungan terlebih tempat kelahirannya. Dara kelahiran 8 Oktober 1992 ini menilai Kota Kembang perlu meningkatkan penghijauan serta raung terbuka sebagai paru-paru kota.

Hal itu dicetuskan disela-sela acara Gowess Sahurr di kawasan Sukajadi Bandung, Sabtu (13/8). Menurutnya, untuk mendukung habitat lingkungan perkotaan dealnya disediakan ruang terbuka hijau sekitar 30 persen dari luas kota yang bersangkutan.

"Bandung sekarang ini kurang ruang terbuka hijau. Minimnya area resapan air mengakibatkan aliran air hujan di permukaan tanah akhirnya akan menggenang dan menimbulkan banjir," bilang Nita.

Cewek bertinggi 170 cm dan berat 55 kg ini menambahkan, selain berfungsi sebagai area resapan air dan ruang interaksi sosial, ruang terbuka hijau ini semakin penting artinya dalam mendukung program "Go Green" dalam rangka mengatasi pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim yang dialami bumi kita

"Penghijauan berperan sebagai paru-paru kota dan menyerap polusi udara yang konsentrasinya semakin menumpuk di atmosfer bumi. Makanya sekarang Bandung terasa panas kalau kemarau seperti saat ini," ungkap wanita yang mengusai bahasa Inggris dan Mandarin itu.

Apa yang diucapkan Nita tersebut pernah pula disampaikan pada ajang pemilihan Miss Indonesia 2011. Ketika itu, mantan model cover di sejumlah majalah ini berniat untuk melakukan penghijauan demi menyelamatkan bumi pertiwi Indonesia khususnya Kota Bandung.

"Disini (Bandung) ada beberapa taman kota yang perlu perawatan. Kalau bisa ditambah lagi karena sangat diperlukan agar penghijauan di Kota Bandung mencapai prosentase ideal," cetusnya. (mza/ ”GM”)**

Sunday, August 07, 2011

Provinsi Jabar Akan Rayakan HUT untuk Pertama Kali

SETELAH menunggu hampir 65 tahun, akhirnya Provinsi Jawa Barat memiliki hari ulang tahun (HUT). Ketetapan HUT Jabar yang sudah disahkan melalui Peraturan Daerah (Perda) No. 26 Tahun 2010 tentang Hari Jadi Pemprov Jabar, jatuh pada 19 Agustus 1945, dua hari setelah peringatan HUT RI.
Penentuan hari jadi provinsi berdasarkan proses panjang sejak awal tahun 2000-an. Para pakar dan sejumlah akademisi mengajukan HUT provinsi dalam tiga opsi, yaitu 1 Januari 1926, 19 Agustus 1945, dan 14 Juli 1950. Ketiga opsi yang diajukan tersebut memiliki alasan ilmiah masing-masing.

Namun, hasil pembahasan komprehensif yang melibatkan sejumlah pihak, maka semuanya sepakat bahwa HUT Provinsi Jabar jatuh pada 19 Agustus 1945. Karena, pada tanggal tersebut untuk pertama kalinya Provinsi Jabar dibentuk di bawah payung hukum negara Republik Indonesia bersama tujuh provinsi lainnya.

"Selain itu, tanggal tersebut memiliki nilai historis, emosional, serta rasa kejuangan. Sebab, saat itu Indonesia baru dua hari menyatakan kemerdekaan. Sedangkan pada tahun 1926, Provinsi Jabar sudah terbentuk tapi masih dalam pemerintah kolonial Belanda," ungkap Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan saat menggelar konferensi pers di Gedung Sate, Jln. Diponegoro Bandung, Jumat (5/8).

Ia menambahkan, pada tahun 1950, Provinsi Jabar ditetapkan kembali menjadi sebuah provinsi setelah bubarnya Republik Indonesia Serikat (RIS). Kendati peringatan yang ke-66, namun pada tahun ini peringatan HUT provinsi ini baru dilaksanakan untuk pertama kali.

Untuk menyemarakkan HUT Provinsi Jabar, ujar Heryawan, sejak beberapa pekan depan Pemprov Jabar sudah menyelenggarakan berbagai kegiatan. Puncaknya, pemprov berencana menggelar sejumlah helaran, festival, pameran, kesenian, dan sejumlah kegiatan lainnya pada 19 Agustus mendatang. Dengan agenda adalah pidato gubernur dalam sidang paipurna dan apel akbar di Lapangan Gasibu.

"Peringatan HUT provinsi tahun ini memang untuk pertama kalinya. Kita kalah dengan Banten, yang sudah 9 kali menggelar HUT-nya. Meskipun perayaan HUT Provinsi Jabar ini di bulan Ramadan, namun mari kita rayakan bersama dengan meriah. Mudah-mudahan peringatan tahun depan, karena bukan di Ramadan, maka kegiatannya insya Allah lebih meriah lagi," kata Heryawan.

Untuk menyosialisasikan HUT provinsi ini, gubernur telah mengeluarkan surat edaran kepada bupati/wali kota. Serta imbauan langsung yang disampaikan gubernur pada tiap kesempatan. "Untuk efektivitas dalam sosialisasi, kami juga mengimbau kepada bupati/wali kota atau semua pihak yang membuat spanduk atau baliho ucapan HUT RI hendaknya disisipi juga ucapan HUT Provinsi Jabar," imbuhnya. (eli siti wasliah/"GM"/nanda.job)**

Abu Djumhur Pamerkan Kaligrafi dan Fine Art di Panghegar


Bandung - Seniman Abu Djumhur memamerkan karyanya berupa kaligrafi dan fine art dalam kegiatan Ramadan 2011 di Mezzanin Grand Royal Panghegar (GRP), Jalan Merdeka, Kota Bandung. Acara tersebut berlangsung mulai 6 Agustus hingga 25 Agustus 2011.

Selain pameran tersebut, ditampilkan pula pembuatan karikatur tokoh-tokoh, workshop karikatur, dan lukis sepatu. Pameran ini terbuka untuk umum mulai pukul 10.00 WIB hingga 20.00 WIB.

Presiden Direktur Panghegar Grup Cecep Rukmana mengatakan acara tersebut merupakan langkah awal membuka Mezzanine untuk menjadi art space. "Panghegar ingin memberikan kontribusi kegiatan sosial, seperti kegiatan seni dan budaya. Intinya kami ingin ruangan ini bisa menjadi tempat beragam kegiatan positif," ujar Cecep saat mebuka acara di GRP, Sabtu (6/8/2011).

Ia menuturkan, sejak dahulu Panghegar memberikan perhatian penuh terhadap seni dan budaya. GRP juga menyuguhkan suasana berbeda bagi masyarakat umum yang ingin menikmati workshop kartun, lukis sepatu atau sekadar menikmati kaligrafi dan fine art.

Tempat ini, kata Cecep, menjadi titik awal dalam berbagi kepada para seniman dan budayawan. "Kami berusaha memberikan ruang ini untuk apresiasi seni budaya," papar Cecep.

Dalam kesempatan ini, Abu Djumhur mengatakan pameran yang menampilkan karyanya itu ada dua jenis yakni fine art dan kaligrafi. "Karya yang dipamerkan di tempat ini sebenarnya karya yang akan dipersiapkan untuk pameran di Amsterdam pada Oktober mendatang," ucapnya saat memberi sambutan.

Dia menjelaskan, karya kaligrafi yang ditampilannya itu berupa serial religi. Sementara karya fine art yang dipajang ini menampilan lukisan dari bahan murah antara lain karung goni, dan anyaman.

"Dengan bahan tidak mahal itu bisa menjadi karya menarik bila kita kreatif," kata Abu Djumhur.

Pria tersebut merupakan seniman kelahiran Bandung 12 Juni 1964. Beberapa penghargaan pernah diraihnya seperti Best Nomine West Java Painting Comppetition, Winner of Islamic Calligraphy Competition in West Java 1982, dan Hold MURI for the Biggest Painting on Traditional Sundanese Umbrella atau The Biggest Payung Geulis in The World.
sumber : bandung.detik.com

Tes Sidik Jari Bisa Melihat Potensi Anak

pernahkah terpikir jika kita menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi bahkan bekerja, karena arahan dari orangtua. Atau kita merasakan semua itu tidak sesuai dengan hati dan jiwa. Bisa jadi, karena memang apa yang dilakoni baik itu sekolah atau pekerjaan tidak berdasarkan potensi dan bakat yang dimiliki.

Kini ada salah satu alat untuk mendeteksi potensi terbesar apa yang dimiliki anak yakni finger print atau tes sidik jari. Menurut asisten dokter di RS Melinda, Hesty Sarah Hastika, S.Si., tes tersebut tingkat akurasinya mencapai 100%. "Tetapi karena yang membacanya adalah manusia, maka tentu saja ada humman error tapi hanya 15% saja. Karenanya, tingkat akurasi melalui analisis finger print ini bisa 85%," terangnya kepada wartawan di Jln. Pajajaran, Rabu (3/8).

Tes sidik jari melalui alat pschyobiometric ini akan menganalisis potensi berdasarkan cara kerja otak. Berbagai penelitian menunjukkan adanya relevansi antara sidik jari dan otak. Apalagi sidik jari terbentuk di usia 13 minggu pada janin dalam kandungan, bersamaan dengan pertumbuhan otak. "Karenanya kita bisa menemukan cara kerja otak yang tercermin dari titik syaraf tersebut," ucapnya.

Setiap jari memiliki relevansi dengan cerebral korteks (5 bagian dari otak besar), yaitu jempol dengan lobus pre-frontal, telunjuk dengan lobus frontal, jari tengah dengan lobus parietal, jari manis dengan lobus temporalis, dan jari kelingking dengan lobus oksipitalis. Setiap lobus pada cerebral korteks ini memiliki fungsi yang berbeda-beda dan merupakan bagian dari otak yang berkaitan dengan potensi bakat.

"Karenanya melalui tes ini, akan membantu orangtua untuk membantu mengembangkan dan mengarahkan potensi anaknya. Diharapkan saat akan menjalani sekolah hingga bekerja nanti, akan dilakoni secara menyenangkan. Bahkan sukses nantinya," ujarnya.

Tidak seperti zaman dulu, katanya, anak-anak diarahkan sekolah hingga bekerjanya oleh orangtua. Sehingga apa yang dilakoni atau yang merupakan cita-cita anak-anak sebetulnya adalah cita-cita atau keinginan orangtuanya.

Untuk pensiun
Finger print analysis, katanya, bisa juga membantu para anak-anak yang mengidap down syndrome atau indigo. Orangtua akan bisa mengajarkan anak-anak tersebut dengan melihat potensi mana yang dimiliki anak memiliki bagian terbesar.

"Apakah mengajarkannya melalui gambar (visual, red) atau musik," tuturnya.

Orang dewasa juga bisa mengikuti tes tersebut. Pihaknya telah bekerja sama dengan BUMN untuk membantu mengalisis sidik jari dari para pegawainya yang akan memasuki masa pensiun (MPP). Dari analisis tersebut, diketahui bahwa sejumlah karwayannya ternyata salah pilih departemen. Tes potensi itu sendiri sebtulnya untuk membantu pegawai MPP tersebut untuk memilih langkah apa yang dapat digunakan setelah pensiun tiba.

"Ada karyawan yang setelah bertahun-tahun tidak naik juga jabatannya. Ternyata, karena potensi terbesarnya ada di lapangan. Bukan berada di desk office (belakang meja, red). Padahal jika diketahui dari awal, justru akan membantu karyawan tersebut mengembangkan kariernya," terangnya. (rinny rosliany/"GM")**

Saturday, August 06, 2011

Museum Sri Baduga Ditutup Dua Bulan

Museum Sri Baduga Bandung akan ditutup selama dua bulan, mulai akhir Agustus hingga akhir Oktober 2011. Penutupan museum tersebut dilakukan sementara selama renovasi ruang pamer museum.

"Kami berencana akan merenovasi ruang pameran, dan selama pembangunan, museum ditutup sementara," ungkap Kepala Balai Museum Sri Baduga Bandung, Drs. Prama Putra yang ditemui di ruang kerjanya, Kamis (4/8/2011).

Disebutkan Prama, seluruh biaya renovasi ini berasal dari pusat, yakni dari Direktorat Permuseuman dengan anggaran sebesar Rp 2,5 miliar. Jika dilihat anggaran sebesar itu, menurut Prama, Direktorat Permuseuman ingin menjadikan Museum Sri Baduga sebagai contoh pembangunan museum berkelanjutan dan akan dijadikan sebagai barometer museum di Indonesia.

"Sebenarnya museum-museum di daerah lain menerima anggaran lebih dari Rp 5 miliar sampai Rp 6 miliar. Jumlah tersebut sekaligus untuk pembangunan fisik museum," ujarnya.

Sementara untuk Museum Sri Baduga, katanya, hanya penataan ulang ruang pamer saja tanpa ada pembangunan fisik. Saat ini, tambahnya, baru masuk proses lelang ke Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang dilakukan Pemprov Jabar.

Setelah direnovasi, lanjut dia, pameran tetap diberlakukan paling lama 1 sampai 2 tahun, sehingga tidak akan menimbulkan kebosanan

Friday, August 05, 2011

10 Pedagang Kios Nyambi Agen Togel Singapura dan Hongkong

Bandung - Unit Reskrim Polsek Bojongloa Kaler menangkap 10 pria yang menjadi agen judi togel Singapura dan Hongkong di dua tempat berbeda. Mereka semuanya pedagang kios di kawasan Babakan Tarogong dan Astana Anyar.

Polisi awalnya menciduk Pardomuan Sidauruk dan Mamur Siaduruk di kawasan Babakan Taragong, belum lama ini. Dari tangan keduanya, polisi menyita barang bukti berupa uang tunai Rp 1.471.000, tiga buah kupon yang sudah diisi, satu buah kupon yang belum diisi, dan alat tulis.

"Pardomuan bertugas sebagai penanggung jawab, sementara Mamur sebagai pencatat kupon," ujar Kasubaghumas Polrestabes Bandung Kompol Endang Sri Wahyu Utami didampingi Kapolsek Bojongloa Kaler Kompol Syarif Hidayat, Kamis (4/8/2011).

Berdasarkan pemeriksaan tersangka kepada penyidik, kata Endang, keduanya mampu meraih duit lebih dibandingkan pekerjaan sebagai pedagang kangkung. Pardomuan dan Makmur cuma mampu meraih untung Rp 50 ribu per hari dari jualan kangkung.

"Kalau dari judi togel Singapura dan Hongkong, keduanya mendapat omzet 3 juta rupiah hingga 5 juta rupiah per hari. Dari situ mereka mendapat persenan dari bandar sebesar 200 ribu rupiah," papar Endang.

Dari informasi kedua tersangka tersebut, polisi kembali menangkap pelaku lainnya yakni Sanggam Simatupang di kawasan Astanaanyar. Pria itu tugasnya sebagai penanggung jawab.

"Ditangkap juga tujuh orang bertugas sebagai pencatat kupon togel yang masih jaringan tersangka Sanggam. Semua pencatat ini berprofesi sebagai pedagang yang memiliki kios. Jadi kios itu dipakai ajang transaksi togel," tutur Endang.

Polisi mengamankan barang bukti berupa uang Rp 3.306.000, 34 buah kupon togel hongkong, dua buah kalkulator, dua lembar karton ramalan shio, dan alat tulis. "Jaringan Sanggam ini mampu meraih omzet 20 juta rupiah per hari," ucapnya.

Endang menjelaskan, peminat judi togel Singapura dan Hongkong ini terdiri dari berbagai kalangan dewasa. Mulai pengemudi becak hingga orang kantoran.

Kesepuluh tersangka saat ini meringkuk di ruang tahanan Mapolsek Bojongloa Kaler. Mereka dijerat pasal 303 KUHPidana tentang tentang perjudian yang ancaman hukumannya di atas lima tahun.
sumber : bandung.detik.com

Thursday, August 04, 2011

Penanaman 1.000 Pohon Awali Rangkaian Tarling di Baleendah

Sebanyak 1.000 pohon sumbangan siswa baru tahun ajaran 2011 untuk program penghijauan di wilayah Baleendah, Kab. Bandung mulai ditanam. Penanaman pertama 100 pohon dilakukan di Kp. Sukajadi, Kel. Jelekong bersama peresmian Jln. Sukajadi sepanjang 2,5 km.

Penanaman pohon dan peresmian jalan oleh Camat Baleendah bersama warga, aparat kecamatan dan desa setempat, Rabu (3/8) sekitar pukul 16.00 WIB. Kegiatan tersebut sebagai bagian dari rangkaian terawih keliling (tarling) Camat Baleendah, Uka Suska Puji Utama.

"Dalam rangkaian tarling yang kami lakukan, tidak hanya kegiatan ritual ibadah seperti terawih berjamaah, tapi juga ingin melakukan kerja nyata dengan menanam pohon dan peresmian jalan," ungkap Uka.

Dari 1.000 pohon yang terkumpul, menurutnya, akan disebar ke kelurahan dan desa di wilayah Baleendah yang dimulai dari Kp. Sukajadi, Kel. Jelekong.

Selain dari pelajar, pihaknya juga telah mengajak kalangan pengusaha untuk sama-sama menyumbang bibit pohon yang telah menyatakan kesediaannya. "Cuma berapa jumlahnya dan kapan diserahkannya, mereka belum memberitahu," ujar Uka.

Peresmian jalan

Sedangkan Jln. Sukajadi sepanjang 2,5 km yang telah diaspal dan diresmikan bersamaan dengan penanaman pohon di jalan tersebut, menghabiskan dana dari APBD 2011 sebesar Rp 180 juta dan Rp 13 juta dari dana swadaya masyarakat.

Dalam sambutan peresmian jalan dan penanaman pohon, Uka meminta semua unsur masyarakat agar memelihara jalan yang telah dibangun maupun memelihara pohon yang telah ditanam. Pemeliharaan di antaranya dengan tidak membuang sampah ke drainase yang bisa menyebabkan air meluap ke jalan sehingga mempercepat kerusakan jalan.

"Jalan yang telah kita susah payah bangun dan pohon yang kita telah kumpulkan, jika tidak dipelihara tentu akan cepat rusak atau punah. Mari jaga dan peliharan lingkungan kita bersama," paparnya.

Terkait kegiatan Ramadan, Uka juga memberikan pengarahan sekaligus pembinaan kepada unsur KUA dan Badan Amil Zakat Kec. Baleendah yang bertugas mengelola zakat fitrah maupun zakat mal. Selepas peresmian jalan dan penanaman pohon, camat bersama warga melangsungkan buka puasa bersama, salat magrib, salat isya, tarawih, dan tadarusan. (B.35)**

Tuesday, August 02, 2011

DPRD Bandung: Harusnya Keppres yang Dicabut karena Produk Orba


Bandung - Lia Noer Hambali, mantan anggota Pansus Pelarangan, Pengawasan, dan Pengendalian Minuman Beralkohol menyatakan harusnya Keputusan Presiden (Keppres) nomor 3 tahun 1997 yang dicabut, bukan Perda Kota Bandung tentang Pelarangan, Pengawasan, dan Pengendalian Minuman Beralkohol atau lebih sering disebut Perda Miras itu.

"Keppres itu buatan orde baru (orba) yang penuh tekanan, harusnya itu yang segera dicabut," kata Lia saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (1/8/2011).

Jika dikaji, menurutnya Keppres itu bertentangan dengan Pancasila. Apalagi, di agama manapun tidak diperbolehkan minum minuman ber alkohol.

"Perda ini sesuatu yang baik untuk jaga moral bangsa. Kita harus jalan terus dengan perda ini. Apa Mendagri tidak prihatin rusaknya generasi kita karena minuman itu," kata Lia.

Dituturkan Lia, minuman beralkohol itu bukan ranah Mendagri, melainkan ranah Menteri Perdagangan. "Mendagri urus saja kepala daerah biar bener, jangan urusin miras," tandasnya.

Perda Pelarangan, Pengawasan, dan Pengendalian Minuman Beralkohol atau lebih dikenal dengan sebutan Perda Miras yang baru saja disahkan 30 Desember 2010 lalu terancam tak bisa dilaksanakan. Perda tersebut dianggap bertentangan dengan Keputusan Presiden (Keppres) nomor 3 tahun 1997 tentang pengawasan dan pengendalian minuman beralkohol.

Di Perda Miras, minuman beralkohol golongan A, B, dan C diatur penjualannya. Di mana tidak boleh diperjualbelikan secara bebas dan hanya diizinkan dijual tempat seperti hotel bintang 3 hingga 5 dan tempat hiburan.

Sementara di Keppres, minuman golongan A boleh dijual bebas. Artinya, perda bertentangan dengan Keppres, khususnya yang mengatur pengendalian miras golongan A.
sumber : bandung.detik.com

35 Ribu Sapi di Jabar Disiapkan Selama Ramadan


Bandung - Sebanyak 35 ribu ekor sapi disiapkan untuk kebutuhan Ramadan tahun ini di Jabar. Jumlah yang tersedia tersebut dianggap aman untuk seluruh Jawa Barat hingga empat bulan ke depan.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan saat ditemui usai inspeksi mendadak (sidak) harga sembako di Pasar Kosambi, Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Senin (1/8/2011).

"Saat ini di kandang ada 35 ribu ekor sapi siap sembelih selama Ramadan. Padahal kebutuhannya di Jabar hanya 26 ribu ekor," ujar Heryawan.

Pasokan sapi yang tersedia itu dari seluruh peternak serta rumah potong hewan yang tersebar di Jabar. Terkait harga daging sapi di pasaran, kondisi awal Ramadan sudah mengalami penurunan.

"Tadi di Pasar Sederhana dan Pasar Kosambi, harga daging sapi dari 75 ribu rupiah turun ke 70 ribu rupiah per kilogram. Untuk daging sapi, diharapkan hari berikutnya terus turun bila suplai banyak," terang Heryawan.
sumber : bandung.detik.com

Memelihara Tradisi Pra-Ramadan

Banyak cara dan ragam serta adat istiadat yang dilakukan masyarakat di penghujung bulan Syakban untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Kegiatan, ini tidak pernah terlewatkan begitu saja oleh sebagian masyarakat seperti ziarah kubur, nganteuran rantang, atau silaturrahmi mengunjungi sanak famili.

Sedangkan kegiatan makan bersama di berbagai daerah berbeda istilah. Di Cianjur lebih dikenal sebutan papajar. Tradisi membawa berbagai makanan dan lauk-pauk yang beragam, kemudian mereka saling berbagi untuk menikmatinya. Biasanya makanan yang mereka nikmati bukan makanan yang mahal-mahal.

Acara ini menjadi ajang untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan atas kekhilafan yang pernah dilakukan, agar pada waktu puasa tidak terbebani dengan rasa bersalah kepada orang lain. Bahkan tidak sedikit acara ini disertai dengan taushiyah dan berdoa bersama.

Papajar biasa dilakukan sebagian para ulama Cianjur dulu. Para ulama dari berbagai pelosok Cianjur pada akhir bulan Syakban datang ke Masjid Agung atau lebih dikenal dengan sebutan Kaum untuk mengetahui kapan puasa Ramadan dimulai. Informasi tentang awal puasa ini nantinya disampaikan kepada umat di daerahnya.

Terkait kegiatan tersebut Kepala Kantor Kementerian Agama Jawa Barat, Drs. H. Saeroji kepada "GM", Jumat (30/7), di ruang kerjanya menyatakan, banyak hikmah yang diambil dari dari ragam aktivitas masyarakat menjelang setiap bulan suci Ramadan.

"Kegiatan dan cara yang dilakukan masyarakat tetap harus dipelihara tak lain untuk lebih meningkatkan diri kepada Allah Swt," kata Saeroji.

Menurutnya, adanya kegiatan tersebut yang kini jarang ada, namun harus tetap dipelihari mengingat mempunyai nilai syiar tersendiri sekaligus untuk lebih meningkatkan rasa saling memiliki sekaligus untuk menambah amal ibadah menjelang Ramadan dan saat Ramadan terus meningkat. Oleh karenanya, adanya kegiatan ziarah, makan bersama, dan saling bersilaturahmi tentu harus tetap dipelihara sekaligus untuk menambah amal ibadah yang dilakukan.

Hal senada disampiakan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Jawami, Cileunyi, Kab. Bandung, KH. Imang Abdul Hamid menyatakan, kegiatan ritual menjelang Ramadan di masyarakat seperti nyekar, kirim rantangan, dan mengunjungi keluarga sangat baik untuk mempertebal keimanan di bulan suci Ramadan. Kegiatan tersebut juga sangat baik dan harus dipelihara oleh ummat Islam.

Sedangkan salah seorang ketua MUI Jawa Barat, K.H. Miftah Faridl mengajak agar momen seperti itu tetap harus dipertahankan untuk menambah amaliah sebelum Ramadan. Sedangkan, di bulan suci Ramadan ummat Islam harus senantiasa mengisi berbagai kegiatan amaliah Ramadan yakni makan sahur, salat berjamaah, tadarus Alquran atau mengisi kegiatan amaliah lainnya. (a.r.rohim/"GM")**

Nagreg Menjadi Salah Satu Wajah Bagian Timur Kab. Bandung

KECAMATAN Nagreg menjadi salah satu wajah bagian timur Kab. Bandung, sebagai gerbang. Karena itu, kawasan Nagreg akan menjadi salah satu prioritas penataan khusus pemerintah terkait. Yaitu, penataan dengan konsep wisata.

Penataan itu sangat penting dilakukan karena kawasan Nagreg menjadi perhatian masyarakat nasional. Bahkan, sempat dibicarakan sejumlah warga di luar negeri. Nagreg selain terkenal dengan jalur lalu lintas kendaraan yang selalu padat, juga kerap terjadi kecelakaan lalu lintas hingga menimbulkan korban jiwa dan luka-luka. Kecelakaan lalu lintas itu menimbulkan kepadatan dan kemacetan.

Untuk mengurai wajah kepadatan lalu lintas itu, pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum sejak 2008 hingga sekarang ini membangun jalur Lingkar Nagreg sepanjang 5,3 km. Ditargetkan atau sesuai dengan kontrak kerjanya pada Oktober 2011, pembangunan Lingkar Nagreg diharapkan selesai. Namun Pejabat Pembuat Komitmen Pembangunan Lingkar Nagreg berharap, pembangunannya bisa dioperasionalkan pada H-10 Idulfitri mendatang, guna memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat yang hendak mudik maupun balik Lebaran.

Difungsionalkannya Lingkar Nagreg diharapkan bisa mengurai kepadatan volume kendaraan di jalur Jln. Raya Nagreg yang mencapai 8000 unit kendaraan per jam. Terkait dengan adanya pembangunan Lingkar Nagreg itu, Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kab. Bandung menyatakan harus ada penataan di jalur jalan tersebut. Jangan sampai dengan adanya rencana pengoperasionalan jalur Lingkar Nagreg itu terdapat para pedagang tenda biru yang berdiri di pinggir jalur jalan tersebut. Pasalnya, dapat merusak keindahan jalur. Karena itu bersamaan dengan diberlakukannya Lingkar Nagreg harus dibarengi dengan pembangunan rest area.

Rest area itu untuk menempatkan para pedagang yang terkena imbas dari pembangunan Lingkar Nagreg. Berdasarkan data yang ada, sebanyak 83 pedagang di bagian selatan Jln. Raya Nagreg, Kp. Pamuncatan, Desa/Kec. Nagreg, yang akan terkena imbasnya. Keinginan adanya penataan itu senada dengan para pedagang makanan yang ada di jalur tersebut. Dengan adanya rest area bisa dijadikan pasar wisata. Hal itu seiring dengan kondisi alam di jalur tersebut sangat menarik dan bagus. Sehingga akan memiliki daya tarik tersendiri bagi para pengendara yang kebetulan lewat di jalur tersebut.

Daya tarik lainnya, pembangunan jalur Lingkar Nagreg mengitari perbukitan. Selain itu, pembangunannya pun dibarengi dengan konstruksi pembangunan semitunnel (semi terowongan) yang panjangnya 400 meter. Pembangunan semitunnel itu dengan cara membongkar perbukitan yang dalamnya 40-50 meter. Pembangunan semitunnel itu adalah yang pertama dibangun di Indonesia. Karena itu, pembangunan semitunnel itu bisa menjadi ikon pembangunan jalan di Kab. Bandung dengan mengedepankan konstruksi yang berbeda dari pembangunan lainnya.

Untuk itu, pembangunan Lingkar Nagreg akan menjadi kebanggaan bagi warga Kab. Bandung. Pembangunannya pun menghabiskan biaya ratusan milyar yang berasal dari APBN.

Untuk mempercepat pembangunan Lingkar Nagreg itu, sejumlah alat berat backhoe terlihat bekerja ekstra keras. Bahkan pengerjaannya pun dilakukan hingga malam. Kerja keras yang dilakukan para pekerja itu, guna mengejar target penyelesaian pembangunan jalur jalan tersebut.
Oleh: ENGKOS KOSASIH

Sunday, July 31, 2011

Angklung Semakin Mendunia

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan memberikan
penghargaan kepada Daeng Udjo atas keberhasilannya
memecahkan rekor dunia di Washington DC untuk
pemain angklung terbanyak, di Gedung Sabuga Bandung,
Jumat (29/7). Acara ini sekaligus menyambut hari jadi
Provinsi Jawa Barat yang ke-6
SASANA Budaya Ganesha (Sabuga), Jumat (29/7) malam, menjadi saksi pergelaran menghargai bambu. Semalam, angklung benar-benar menjadi primadona dan mampu menghanyutkan perasaan mereka yang hadir, dalam acara "Angklung, Jawaban Untuk: BISA" di Sabuga, Jln. Tamansari Bandung. Tak terkecuali Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dan istri, ikut terkagum-kagum saat menyaksikan penampilan musik angklung, yang dipimpin Daeng Udjo.

Baru-baru ini, alat musik tradisional asal Jabar yang terbuat dari bambu dan dikenal angklung ini, mencatatkan diri di Guinness Book of Records pada sebuah pergelaran angklung di Kota Washington DC, Amerika Serikat. Sebelumnya, pada tahun 2010 angklung pun sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dunia asal Indonesia.

Kedua prestasi yang telah dicapai angklung ini, diperlihatkan Daeng Udjo dengan tim dalam memainkan lagu "Keong Racun". Namun sayang sound system yang kurang, membuat Daeng Udjo enggan memainkan lagu lainnya.

Sebagai gantinya, Daeng Udjo pun mengajak penonton di Sabuga termasuk gubernur dan istri untuk memainkan angklung bersama. Uniknya, setiap angklung diberi gambar pulau-pulau di Indonesia. Ini sebagai pengambaran bahwa angklung bisa bermain bersama atau secara kebersamaan. Seperti slogan Bhineka Tunggal Ika, "Berbeda-beda Tetap Satu Jua".

Lagu yang dimainkan dalam angklung interaktif "Ibu Pertiwi", "Halo-halo Bandung", dan diakhiri lagu "We Are The World". Melalui lagu inilah, angklung mencatatkan dirinya masuk Guinness Book of Records dan bergema di negeri Paman Sam.

Daeng Udjo pun mengajak dua cucu almarhum Udjo Ngalagena, untuk menjadi dirigen permainan angklung interaktif dengan lagu "Tanah Airku".

Acara semalam di Sabuga ini merupakan apresiasi dan penghargaan atas kedua capaian budaya itu. Pemprov Jabar melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar, menggelar "Angklung, Jawaban Untuk : BISA" di Sabuga. Acara yang sekaligus menyambut HUT ke-66 Provinsi Jabar, yang jatuh setiap tanggal 19 Agustus. Selain gubernur dan istri, acara tersebut dihadiri pula oleh para kepala OKPD se-Jabar, para bupati dan wali kota, serta undangan lainnya.

Pergelaran yang dikemas tanpa banyak bicara ini, dipadukan pula dengan permainan dalang wayang golek Apep Hudaya. Dalang muda ini mengawali dengan sebuah kalimat ”Awi teh aya nu nyebut asal wiwitan, pajarkeun mun hayang ngaleungitkeun kabudayaan di Jawa Barat leungitkeun we sakabeh tatangkalan awi na—- salain eta, manusa Jawa Barat ti mimiti gubrag ka alam dunya tug nepi ka maotna salilana dibarengan ku awi (Bambu itu ada yang mengatakan asal muasal leluhur, karena itu jika ingin menghilangkan kebudayaan di Jabar, semua pohon bambu dibinasakan —-manusia Jabar sejak lahir ke dunia sampai meninggal tidak pernah lepas dari bambu)”.

Apresiasi khusus

Pada kesempatan itu, Gubernur Jabar mengatakan, acara ini merupakan apresiasi dan penghargaan pada Daeng Udjo dan tim yang berhasil mengundang 5.182 orang, dan bermain angklung bersama-sama sehingga mendapat pengakuan dari Guinness Book of Records. Penghargaan ini pun diberikan kepada seni lainnya, terutama batik dan wayang yang lebih dahulu diakui oleh UNESCO.

"Momentum ini pun untuk menyambut HUT ke-66 Provinsi Jabar dan HUT Ke-66 Republik Indonesia. Dasar HUT jabar, tanggal 19 Agustus dilakukan sidang kedua PPKI dan menetapkan angklung bisa dimainkan dalam genre musik apa saja, sehingga filosofi angklung adalah kebersamaan. Sehingga, menghasilkan harmoni yang bisa dinikmati oleh semua orang, dan itu namanya keindahan," katanya.

Gubernur pun memberikan penghargaan dan kadeudeuh kepada Daeng Udjo dan tim sebesar Rp 100 juta. Penghargaan ini karena Daeng Udjo yang telah membawa nama Indonesia, khususnya Jabar.

Daeng Udjo mengatakan, angklung sangat luar biasa, ini terbukti saat bermain angklung di Washington DC yang dimainkan oleh 5.182 orang multikultur. "Sebelumnya saya pesimis hal ini bisa terwujud, karena audiens kurang dari yang diharapkan," ujarnya.

Pergelaran diawali permainan angklung buhun, yang dimainkan Dadak Sakala dari Ujungberung Bandung. Sebelumnya dua orang memainkan Cepot dan Denawa, di mana si Denawa mencoba merebut angklung namun dipertahankan si Cepot.

Si Denawa kedua berlaku seperti itu, karena angklung sudah mendunia dengan capaian prestasi diakui UNESCO dan masuk Guinness Book of Records. Cepot mempertahankannya demi harga diri, daripada angklung direbut negara lain, lebih baik mati berkalang tanah.

Medley angklung dimulai dengan diawali permainan angklung oleh anak-anak Taman Kanak-kanak (TK) Bianglala Bandung, yang memainkan dua buah lagu "Hiji Boneka" dan "Little Stars".

Disusul permainan angklung barudak lembur main oleh siswa Sekolah Dasar (SD) Isola Bandung, dengan membawakan lagu medley "Manuk Dadali-Cing Kacang Buncis-Oray-orayan-Tokecang", yang merupakan lagu permainan anak-anak zaman baheula.

Kemudian angklung SMP Lab School UPI membawakan lagu "Baby" dari Justein Bieber, lagu soundtrack Mission Impossible serta "Bruno Mars". Permainan selanjutnya, angklung SMA Negeri 3 Bandung dan dikenal Kelompok Pemain Angklung (KPA) 3.

Para siswa dengan pakaian serbamerah ini membawakan lagu-lagu jazz klasik, seperti "New York New York" milik Frank Sinatra, lagu kedua dikolaborasikan dengan rampak kendang dan jaipongan.

Disusul permainan angklung dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung atau Kabumi. Permainan angklung Kabumi ini mengiringi tiga penari jaipongan, dengan lagu "Goyang Karawang" berirama jaipong dangdut. Penyanyi world music, Rita Tilla menyanyikan "Mojang Priangan". Nita pun tampil duet bersama Ny. Netty Heryawan menyanyikan "Warung Pojok"

Gubernur Jabar melalui tayangan multimedia menerangkan, bagaimana angklung tercipta hingga diakui dunia. "Inilah angklung we are the world," katanya.

Tidak hanya itu, ditayangkan pula detik-detik angklung akan masuk dalam Guinness Book of Records di Washington DC, Amerika Serikat yang dimainkan sekitar 5.182 orang multikultur pada 9 Juli lalu. Lagu yang dimainkan kala itu "We Are The World". Selamat. (kiki kurnia/"Galamedia")**

Saturday, July 30, 2011

Teu Bisa Mun Kudu Serius (Barakatak)

DI saat kelompok vokal pengusung lagu-lagu Sunda sudah vakum bahkan terang-terangan telah menyatakan bubar, grup Barakatak hingga kini masih eksis. Trio vokal yang beranggotakan Aam, Yayat dan Didi ini tergolong laris dalam urusan manggung.

Mengusung konsep musik bobodoran dengan lirik jenaka, Barakatak cukup diterima oleh publik musik Jawa Barat. Terbukti, tembang-tembangnya semacam "Musik Asik", "Bandung Bergoyang" hingga "Buta Hejo" sempat merajai industri musik. Begitu pula ketika dipinang DH Production untuk terlibat di album kompilasi pop Sunda "Bentang-Bentang, kehadiran Barakatak cukup mengkatrol angka penjualan CD album tersebut.

Lewat dua lagunya "Com Giriwil" dan "Pang Geulisna", Aam dan kawan-kawan mencuri perhatian masyarakat. Apalagi tingkah polah mereka di video klip album itu sanggup membuat penonton tertawa. Ya, itulah ciri khas Barakatak, loba hereuy tapi lagunya tetap enak didengar.

Seperti saat mereka kembali didaulat menghiasi album "Bentang-Bentang II" masih karya H. Dose Hudaya, grup Barakatak konsisten dengan bobodor ana ketika membawakan lagu "O.E.A.E.O" kolaborasi dengan penyanyi debutan Tika Zein. Baik syair lagu maupun video klip-nya, Barakatak menampilkan sikap jenaka penuh improvisasi.

Mun serius mah da teu bisa. Jadi kitu we loba heureuy. Ya sesuai namanya Barakatak nu artina seuseurian, kami ingin menunjukan jati diri sebagai seniman musik yang selalu bisa menghibur dengan musik dan canda," ujar Didi di kediaman Dose Hudaya, Jln. Cilengkrang Ujung Berung, Kamis (28/7).

Untuk album kali ini, Barakatak berubah format serta warna musiknya. Selain diselipi vokal Tika Zein, grup yang telah berkibar sejak tahun 1991 itu juga membawakan tembang bernada house musik. "Kalau yang sebelumnya murni berbahasa Sunda, sekarang mah dicampur bahasa Indonesia dengan kehadiran Tika Zein. Jenis musiknya juga mengalami perubahan jadi rada ngebeat," tutur Didi.

Dengan format seperti itulah, trio yang di masa lalu sukses menggedor blantika rekaman tersebut lebih bebas mengekspresikan kabisanya. "Keberadaan Tika lebih memberi warna terhadap penampilan Barakatak. Namun ciri khas kita tidak hilang, ngabodor baik dalam lirik maupun gaya," timpal Aam.(galamedia)

Friday, July 29, 2011

Vandalisme Rusak Citra Pariwisata

Sadar wisata di kalangan remaja belum tumbuh, ini terlihat masih adanya aksi vandalisme di tempat wisata alam maupun wisata buatan serta tempat lainnya. Penyebabnya, sosialisasi mengenai sadar wisata atau Sapta Pesona kepada kalangan remaja masih sangat kurang.

"Memang sosialisasi sadar wisata atau Sapta Pesona kepada kalangan remaja masih kurang, sehingga mereka sering berbuat semaunya saat berwisata," ungkap Kepala Balai Pengembangan Kemitraan dan Pelatihan Tenaga Kepariwisataan Dinas Pariwsata dan Kebudayaan Jabar, Muhammad Kahfi kepada wartawan di sela-sela pelatihan wisata remaja di Hotel Kedaton, Jln. Viaduct Bandung, Selasa (26/7/2011).

Oleh karena itu, pihaknya sengaja melatih 40 pelajar dan polisi pariwisata di Kota Bandung untuk mengikuti kegiatan wisata remaja yang dibuka langsung Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar, Herdiwan. Kahfi berharap, dari kegiatan ini para remaja bisa paham dan tahu tentang makna pariwisata, sehingga tidak lagi melakukan vandalisme.

"Memang yang melakukan vandalisme adalah remaja yang tergabung dalam organisasi tertentu, untuk menunjukan jati diri. Sedangkan vandalisme di tempat wisata, hanya ingin menunjukkan dirinya pernah datang ke tempat itu," tambahnya.

Mereka yang dilatih, diharapkan bisa memberikan pengertian maupun sosialisasi efek negatif dari vandalisme kepada kalangan remaja lainnya. Sebuah objek wisata yang sudah dikotori vandalisme akan turun citranya.

"Ujung-ujungnya, objek wisata sepi pengunjung karena mereka merasa tidak nyaman dan masyarakat sekitar merasa dirugikan," ujarnya.

Kahfi menilai, kalangan remaja masih hijau pengetahuannya di bidang pariwisata, sehingga cocok untuk diberi pengetahuan tentang pariwisata. Selain itu, vandalisme bisa dicegah apabila kalangan remaja sudah mengetahui Sapta Pesona.

Selain materi tentang pariwisata, para peserta pun dilatih mengenai kebersamaan melalui outbound di Imah Seniman Lembang. Selain itu, diberikan pula kerja praktik di lapangan serta tinjauan mengenai pariwisata ke lapangan.

Salah seorang anggota polisi pariwisata dari Polda Jabar, Rosalina M.M. mengaku masih menemukan aksi vandalisme di tempat-tempat wisata di Jabar. Namun pihaknya belum memergoki langsung pelaku vandalisme di tempat wisata.

"Biasanya kami hanya menerima laporan dan menerima langsung pelaku vandalisme dari para pengelola melalui penjaga keamanannya," ujarnya.

Rosalina menyebutkan, penertiban pelaku vandalisme banyak dilakukan pengelola objek wisata. "Polisi pariwisata hanya memberikan dukungan," tambahnya.

Mengenai pelatihan wisata remaja bagi kalangan pelajar, Rosalina mendukung upaya tersebut untuk membentuk figur wisata dari kalangan remaja. Menurutnya, kalangan remaja masih labil sehingga perlu diberi pelatihan positif, termasuk pengetahuan tentang pariwisata.

"Ke depan, kalangan remaja ini bukan hanya penikmat pariwisata saja, tetapi juga penjaga objek wisata," tambahnya. (http://www.klik-galamedia.com/)

Bandung Jadi Percontohan Jagabaya

Untuk menjaga diri dan lingkungan sekitar, Badan Musyawarah Masyarakat Sunda (Bammus) Jabar menjadikan Kota Bandung sebagai percontohan pelaksanaan jagabaya (puragabaya). Dengan demikian kegiatan keamanan masyarakat ke depan dapat lebih terkoordinasi lebih baik.

Hal itu diungkapkan Ketua Bammus Jabar, Memet H. Hamdan kepada wartawan, usai pertemuan komunitas organisasi kasundaan dan organisasi kemasyarakatan serta kepemudaan (ormas dan OKP) di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) Bandung, Jln. Naripan Bandung, Rabu (27/7). Hadir pada kesempatan itu sejumlah tokoh, seperti Tjetje Padmadinata, Endang Karman, Aom Kusman, Uu Rukmana serta sejumlah organisasi kasundaan, Ormas, dan OKP.

Disebutkan Memet, uji coba jagabaya ini merupakan hasil kesimpulan dari pertemuan komunitas kasundaan, ormas, OKP serta aparat kepolisian. Menurut Memet, diberlakukannya jagabaya sangat penting bagi masyarakat, minimal untuk menjaga diri sendiri serta lingkungannya masing-masing.

"Ini memang pola lama, namun kita ingin menghidupkan kembali di masyarakat dan Kota Bandung akan dijadikan kota uji coba jagabaya," ungkap Memet.

Selama uji coba di Kota Bandung, akan dilihat sejauh mana respons dari masyarakat Bandung maupun daerah lainnya. "Jika pelaksanaannya lumayan bagus, akan dilanjutkan dan disebar ke daerah lain. Namun jika kurang, program jagabaya ini akan dievaluasi," paparnya.

Memet menyebutkan, jagabaya merupakan program yang telah dilakukan masyarakat Sunda dalam menjaga dirinya, keluarga, lingkungan maupun negara. Namun dengan perkembangan zaman, Jagabaya pun diganti dengan sistem keamanan lingkungan (siskamling), pertahanan sipil (hansip). Bahkan seorang RT pun sekarang mau menyewa petugas satuan keamanan (satpam) untuk menjaga lingkungannya. "Ini berdampak pada masyarakat yang harus menyediakan sejumlah dana hanya untuk menjaga dirinya sendiri maupun lingkungannya masing-masing.  ( http://www.klik-galamedia.com )

Thursday, July 28, 2011

Jembatan Kujang Siliwangi Dijadikan Ikon Bandung

SETELAH melewati beberapa kali penilaian, akhirnya Jembatan Kujang Siliwangi karya arsitektur asal Makassar Akhmad Zaki Yamani, keluar sebagai juara dalam ajang Siliwangi Pedestrian Bridge Design Competition 2011.

Dengan mengangkat budaya tradisi senjata khas Jawa Barat, kujang sebagai penyangga jembatan, desain karya pria lulusan Institut Teknologi Surabaya (ITS) ini menyisihkan 55 desain jembatan lainnya.

Desain Zaki yang memilih kujang sebagai unsur budaya tradisional dalam sketsa jembatannya, dianggap para juri sangat mewakili Kota Bandung dengan konsep kujangnya.

Sesuai dengan syarat yang ditentukan panitia, juri yang diketuai Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda menganggap desain jembatan Siliwangi yang dibuat Zaki bisa direalisasikan. Sehingga nantinya jembatan kujang Siliwangi tersebut bisa terwujud, dengan tanpa mengubah konstruksi awal jembatan Siliwangi.

Ditemui pada acara penyerahan hadiah di Balai Kota Bandung, Rabu (27/7) malam, Zaki mengatakan, dirinya sempat kesulitan mencari cara bagaimana mencari desain yang bisa menyatukan kearifan lokal dengan desain modern, sehingga bisa menyatu menjadi sebuah satu kesatuan dan bisa menjadi ikon Bandung.

"Akhirnya saya pilih Kujang, karena masih ada benang merah dengan Siliwangi dalam hal ini Prabu Siliwangi, yang membawa kujang sebagai senjatanya," katanya.

Diakui Zaki, sebagai seorang arsitek ia sudah pernah beberapa kali meraih juara dalam lomba desain. Namun desain jembatan baru pertama kali baginya. Terkait gelar juara Siliwangi Pedestrian Bridge Design Competition Zaki mengaku bangga.

Pasalnya, desain jembatan karyanya nanti akan dijadikan ciri khas Kota Kembang Bandung. "Sebagai seorang perencana arsitektur, saya tentu saja merasa bangga. Sebab desain saya akan direalisasikan, dan nantinya bisa dilihat dan berguna bagi masyarakat," ungkapnya.

Wakil Wali Kota Bandung sekaligus ketua tim juri Ayi Vivananda mengatakan, keberadaan jembatan kujang Siliwangi nanti bisa manambah ikon Kota Bandung yang selalu identik dengan Gedung Sate.

"Selain sebagai ikon, saya harap keberadaan jembatan kujang Siliwangi bisa menjadi jembatan pedestrian. Sekaligus menjadi tempat wisata dan turut mendukung program Cikapundung Bersih. Implikasinya nanti untuk masyarakat juga," kata Ayi.

Sementara itu, Manager Marketing Services PT Djarum Bandung Herman Sutanto mengatakan, pihaknya akan terus membantu untuk bisa merealisasikan desain jembatan Siliwangi tersebut, sesuai desain jembatan kujang Siliwangi.

"Pasti terealisasi, walaupun nantinya akan dilakukan secara bertahap. Untuk realisasinya kami sudah menyiapkan bantuan dana sebesar Rp 4 miliar, dari yang tadinya hanya Rp 2 miliar. Target untuk jembatannya, Desember 2011 ini akan rampung," ungkap Herman. (Galamedia)

Sunday, July 24, 2011

Pekan Temu Taman Budaya Se Indonesia sebagai Sarana Perekat Masyarakat


SOLO, (RPLM).- Kebhinekaan Pusaka Nusantara yang menjadi tema Pekan Temu Taman Budaya Se-Indonesia di Taman Budaya Jawa Tengah, Solo diharapkan menjadi sarana perekat masyarakat yang tumbuh dari keanekaragaman warisan budaya. Kegiatan yang berlangsung selama satu pekan (Jumat, 22/7-Rabu 27/7) juga memberikan efek positif dan solutif melalui karya seni.
Demikian diungkapkan Kepala Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, Dra. Rosdiana Rachmawaty, M.Si, kepada PRLM, bahwa dua puluh lima peserta PTTB (Pekan Temu Taman Budaya) di Solo sepakat untuk membangun dan menjadikan Taman Budaya sebagai sarana perekat masyarakat yang tumbuh dari keanekaragaman warisan budaya.
â€Å“Dalam rangka menghadapi isu di masyarakat yang menerpa terutama mengenai peranan lokalitas dalam menjawab tantangan globalisasi, keanekaragaman warisan budaya memberikan efek positif dan solutif, ujar Rosdiana.
Acara PTTB dengan temaKebhinekaan Pusaka Nusantara, menurut Rosdiana, merupakan sebuah ajang pelestarian, pembinaan, dan pengembangan kesenian serta bagaimana memanfaatkan seni tersebut. Selain itu, dengan diadakannya PTTB juga sebagai sarana penuangan ekspresi dan sosialisasi kepada para seniman dan pelaku seni dari berbagai daerah di Indonesia.
â€Å“Kekayaan seni di Indonesia diharapkan menjadi sarana perekat masyarakat yang memang tumbuh dari keanekaragaman warisan budaya. Hal ini juga perlu terus dijiwai oleh masyarakat agar selalu menjadi satu dengan upaya mempersatukan masyarakat ujar Rosdiana.
Temu karya itu, menurut Rosdiana, merupakan wadah ekspresi budaya dan seni masyarakat, ajang penciptaan jaringan kebudayaan agar lebih luas dan wadah ilmiah para peneliti seni budaya serta pelaku seni budaya. Selain itu, referensi para pengambil kebijakan di pemerintahan dalam menentukan berbagai langkah strategis pembangunan kebudayaan di daerah masing-masing untuk sumber penghidupan masyarakat.
Temu Karya di Kota Solo yang berlangsung hingga 27 Juli 2011 mendatang diikuti 25 Kepala Taman Budaya seluruh Indonesia serta delapan ratus lebih seniman dan seniwati. Berbagai materi kegiatan antara lain pentas seni oleh setiap tim kesenian, rapat koordinasi para kepala Taman Budaya, pameran foto seni budaya, pentas kesenian berbagai grup berasal dari kabupaten dan kota se-Jawa Tengah, bazar, dan pesta kuliner. (A-87/das)***
sumber : www.pikiran-rakyat.com

Helaran Seni Raja Dogar di Monumen Perjuangan Rakyat Jabar

Aksi kesenian Raja Dogar meriahkan acara seni helaran bertempat di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Sabtu (23/7).
Kesenian hasil karya Entis Sutisna, asal Cikarag, Malangbong, Kab. Garut itu menggambarkan suasana perhelatan seni ketangkasan domba Garut, sebagai idiom khas Kab. Garut.
Hal menarik dan cukup mengundang tawa penonton pada siang yang terik, adalah penambahan unsur komikal yang sangat kuat dengan adanya peran para bobotoh dan wasit layaknya dalam sebuah pertandingan seni ketangkasan domba Garut.
Raja Domba Garut (Raja Dogar)diwujudkan dengan bentuk barongan besar yang berkostum domba besar dimainkan dua orang untuk setiap domba.
Seorang pemain di bagian depan memposisikan diri sebagai kepala dan satunya lagi di bagian belakang (ekor domba).
Pegelaran sendiri diawali dengan kemuncul para bobotoh berpakaian kampret menarikan ibing pencak silat.
Layaknya membuka suatu liga seni ketangkasan domba Garut, para bobotoh melakukan beberapa gerakan adu ilmu dan seterusnya pertandingan dombapun dilakukan.
Bukan hanya aksi kedua domba saat beradu saja yang mengundang tawa, tapi juga aksi domba saat menanduk bobotoh dan bahkan penonton. Akibatnya, penonton yang berada di bagian depan berhamburan seraya tertawa terpingkal-pingkal.
Seni helaran yang berlangsung sejak pukul 14.00 WIB, dibuka dengan kesenian seni Badawang dari Kab. Bandung, seni Raja Dogar (Kab. Garut), seni Barongsai (Kota Bandung), seni Langir Badong (Kota Bogor), seni Topeng Barong (Kota Cirebon) dan seni Gotong Singa (Kab. Subang).
“Seni helaran yang ditampilkan merupakan salah satu kekayaan khasanah kesenian yang dimiliki setiap daerah di Jawa Barat, selama ini hanya ditampilkan pada waktu-waktu tertentu dan kurang begitu diketahui masyarakat,” ujar Kepala Seksi Seni Kontemporer dan Perfilman, di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Adja Sondari, S.Sn

Saturday, July 23, 2011

Penataan Kota Cyber Creative Center Sebagai Etalase Cimahi

Kawasan Baros terus ditata menjadi etalase Kota Cimahi sebagai kota cyber yang mengedepankan sisi kreatif sumber daya manusia (SDM). Setelah sebelumnya didirikan gedung Baros Cyber Creative Center, kini sebuah hotel kelas internasional mulai dibangun. Memiliki ruang pertemuan berdaya tampung hingga 4.000 orang, bangunan baru ini diharapkan mampu mewadahi dan menyalurkan keunggulan kreatif kota.
"Cimahi tidak mungkin mengembangkan pembangunan fisik yang mengandalkan luas wilayah. Lahan di sini sangat terbatas. Potensi terbesar ada pada kreativitas SDM. Dan kawasan Baros ini akan menjadi etalase proses kreatif semacam itu," ujar Walikota Itoc Tochija saat meresmikan awal pembangunan Hotel Green Horison - Degreen Pasteur, di Baros, Sabtu (23/7).
Itoc berharap, kehadiran hotel bintang lima bertaraf internasional di kawasan Baros ini mampu menyokong keberadaan komunitas-komunitas kreatif kota. Dengan demikian, potensi kreatif yang ada di Cimahi semakin berkembang dan produktif. Bukan saja desain grafis, tapi juga budaya dan pariwisata.
Arsitektur Ridwan Kamil memaparkan, hotel dan ruang pertemuan dirancang dengan sistem aerodinamis dalam konsep futuristik. "Harapannya, gedung ini akan menjadi penanda baru di kawasan Bandung Raya, bahkan Indonesia, yang menonjolkan sisi-sisi kreatifnya," ucapnya.
Selain hotel dengan 395 kamar, juga akan dibangun ruang pertemuan yang mampu menampung 4.000 orang, disebut Baros International Convention Center. Kapasitas ini tergolong yang terbesar di kawasan Bandung Raya dan diharapkan mampu menjadikan Cimahi tuan rumah berbagai pertemuan skala besar, baik nasional maupun internasional.
Pembangunan di atas lahan seluas 3,2 hektare tersebut diperkirakan bakal menghabiskan dana hingga Rp 350 miliar. "Targetnya, projek tuntas pada akhir 2013 nanti," kata Direktur Utama PT. Triputra Karya Agung, Adrianto Trisnadi.

Gasibu Ditutup ada Pameran Koperasi dan Kejuaraan Balap Motor

 Arus lalu lintas di kawasan Gasibu ditutup sementara karena berlangsung kejuaraan balap motor dan Pameran Koperasi, Sabtu (23/7/2011). Penutupan dilaksanakan pukul 06.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB di Jalan Diponegoro tepatnya depan Gedung Sate dan Jalan Sentot Alibasyah.

Terkait kondisi tersebut Satlantas Polrestabes Bandung akan memberlakukan rekayasa lalu lintas. Hal tersebut diungkapkan Kasatlantas Polrestabes AKBP Sambodo Purnomo.

"Di sana, ada dua event bersamaan. Jadi, terpaksa kita menutup Jalan Sentot," ujar Sambodo di Mapolrestabes Bandung, Jumat (22/7/2011).

Jalan Sentot Alibasyah, kata Sambodo, selama ini menjadi jalur utama bagi para pengguna jalan, terutama bagi pengendara menuju atau dari arah Jembatan Pasupati. Agar arus lalu lintas tak terganggu, polisi melakukan rekayasa jalan.

"Kendaraan yang menuju Jembatan Layang Pasupati dari arah Jalan Supratman, nantinya harus memutar di bundaran depan kantor Radio Republik Indonesia(RRI). Lalu, masuk ke jalan di depan Pusdai, dan belok kiri, lurus menuju Jalan Surapati. Atau dari Jalan Supratman, masuk ke Jalan Melania samping RRI," jelas Sambodo.

Alternatif lainnya, pengendara menuju Jalan Ir.H.Djuanda dan Jembatan Pasupati dari arah Jalan Supratman, belok ke kiri masuk ke Jalan Citarum. Setelah itu menuju Jalan Cimanuk serta masuk ke Jalan Cilamaya dan Jalan Diponegoro.

"Kemudian kendaraan bisa belok ke kanan ke Parkir Barat untuk menuju Jembatan Layang Pasupati. Sebaliknya, kendaraan dari arah Tol Pasteur atau Jalan Djunjunan (Pasteur) yang menggunakan Jembatan Layang Pasupati menuju ke Jalan Supratman, bisa melalui jalan di depan Pusdai," kata Sambodo.

Kegiatan rode race dipersiapkan tempat parkir di depan Kantor DPRD Jawa Barat, sekitar Monumen Perjuangan Jawa Barat, dan samping Gedung Sate yakni Jalan Cilaki serta Jalan Cisangkuy.
sumber : bandung.detik.com