-

Wednesday, November 30, 2011

Baca Buku, Tradisinya Orang Hebat

Oleh: EDI WARSIDI
AKTIVIS membaca buku merupakan tradisi orang hebat. Pembaca buku akan memperoleh suaka, yakni tempat yang paling pribadi, yang akan membawanya menjelajahi kedalaman dan keintiman diri seseorang dengan orang lain. Membaca atau menulis buku bisa berarti sebagai penggalian makna dan pengalaman perjalanan spritual seseorang, layaknya seorang sufi mabuk cinta kepada Tuhan. Dengan kedalaman membaca buku itulah waktu seakan-akan terhenti dan masuk ke suatu waktu yang dalam, waktu yang dialami tanpa sadar bahwa waktu itu berjalan. Pada suatu saat, ia tidak hanya membaca kalimat-kalimat yang tercatat, bahkan turut bermimpi di dalamnya, Sharrom TM Sulaiman dan Salasiah Abd Wahab (dalam Keanehaan dan Keunggulan Buku, Utusan Publication, 2002: v).

Kesadaran membaca buku tidak harus digerakkan secara nasional, tetapi idealnya harus menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang. Menukil anekdot Remi Sylado bahwa beda manusia dengan satwa sangat jelas. Satwa bisa mengusahakan sandang, pangan, dan papan. Manusia jelas bisa pula berbuat seperti itu. Hanya satu yang perlu diingat, satwa tidak bisa mengusahakan buku, membaca, apalagi meresensinyanya. Jadi, membaca buku sudah harus masuk ke dalam sembilan bahan pokok (sembako) kehidupan manusia.

Karena buku merupakan sembako kehidupan, membaca buku bisa dimulai dari hal yang sederhana. Andai tergolong pembaca buku biasa-biasa (bukan predator buku, meminjam istilah penyair Taufiq Ismail), kita bisa baca buku rata-rata 300 kata dalam satu menit walaupun memang ada buku yang tidak mudah cepat dibaca. Buku ilmu pengetahuan seperti matematika, pertanian, perdagangan atau bahan bacaan lain yang baru dan "terasa asing", biasanya dibaca dalam tempo lambat. Membaca sajak atau genre sastra lainnya tidak bisa secepat itu guna menukik pada makna kata-kata yang imajinatif-asosatif. Dibutuhkan konsentrasi untuk melakukannya!

Membaca buku berjenis biografi, petualangan, dan hobi, rasanya tidak sukar untuk mengikuti dengan saksama semua makna keindahan 300 kata (yang tercetak) dalam satu menit. Angka statistik (meskipun tidak tepat selamanya) memberikan gambaran sebagai berikut. Andai seorang pembaca biasa dapat membaca 300 kata dalam satu menit, dalam 15 menit dapat membaca 4.500 kata, dalam seminggu 31.500 kata, sebulan (dihitung 4 minggu) 126.000 kata, dan setahun 1.512.000 kata. Secara umum, buku terdiri atas 60.000 hingga 100.000 kata, rata-rata 75.000 kata. Dalam setahun, seorang pembaca biasa yang dapat membaca 15 menit sehari dapat menyelesaikan 20 buku. Jumlah ini tergolong besar, empat kali lebih besar daripada yang dibaca para peminjam buku dari perpustakaan umum di Amerika Serikat (Publishers Weekly, 2001).

Mari kita teladani kisah seorang pengoleksi, pembeli, dan pembaca buku yang hebat (biblioholik), William Osler. Selama hidupnya, ia mengajar di Sekolah Kedokteran John Hopkins. Banyak pakar fisika terkenal di AS pernah belajar pada Osler. Ia benar-benar menjadikan buku sebagai sumber ilham dan sumber belajar. Oleh sebab itu, pantas pula melekat pada dirinya sebutan bibliofil.

Buku kedokteran karya Osler mengilhami para ilmuwan kedokteran, di antara sumbangan yang paling dahsyat dalam ilmu kedokteran, merupakan hasil penelitian Osler, yakni fenomena kematian. Kepopulerannya ditopang oleh para penulis biografi dan pengkritiknya, bukan saja dari kalangan ilmuwan kedokteran saja, melainkan juga dari kalangan lainnya sehingga Osler disegani kaum terpelajar. Ia amat besar perhatiannya pada sesuatu yang telah dibuat dan dipikirkan manusia sepanjang hayat. Ia mengetahui dan menguasai semua ilmu pengetahuan karena ia sering mencuri waktu di sela kesibukannya untuk membaca aneka informasi.

Bagaimana Osler bisa menguasai ilmu pengetahuan itu? Jauh hari sebelumnya ia telah mengambil keputusan bagi dirinya, harus mencuri waktu 15 menit sebelum tidur atau sebelum meneliti sesuatu. Jika jam tidur mulai pukul 11.00 siang, ia membaca buku mulai pukul 2.00 sampai 2.15 siang. Sepanjang hayatnya, ia tidak pernah mengabaikan apa yang telah menjadi kebiasaannya. Uniknya, ia justru gelisah dan sulit tidur jika tidak menyempatkan 15 menit untuk membaca buku.

Di kalangan sarjana sastra Inggris, Osler dikenal pula sebagai seorang pakar yang tahu banyak tentang pujangga Thomas Broene (sastrawan Inggris abad ke-17). Perpustakaan pribadi Osler menyimpan banyak apresiasi/telaah mengenai keunggulan karya sastra Thomas Broene. Selain itu, juga tersimpan banyak hasil penelitian Osler mengenai pengobatan, formulasi teknik mengajarkan ilmu kedokteran, dan pengantar metode klinik kedokteran modern.

Lalu, menyeruak pertanyaan dalam hati kita, bagaimana Osler mendapatkan waktu untuk membaca? Jawabannya, bukan saja membaca 15 menit sebelum tidur, melainkan setiap hari pada kesempatan apa saja. Saat sesibuk apa pun masih ada waktu bagi Osler, mungkin lebih dari 15 menit mencuri waktu untuk melek huruf.

Menunggu sesuatu biasanya dianggap pekerjaan yang memuakkan. Bagi Osler, mungkin idealnya bagi kita juga, justru di saat menunggu sesuatu itu merupakan waktu yang tepat untuk membaca (apa pun) sumber informasi. Selain membaca terus-menerus 15 menit sehari, juga lebih baik secara teratur. Menit-menit terluang dapat memberikan banyak manfaat. Percayalah, kesempatan membaca tidak terkirakan banyaknya. Syaratnya hanyalah kemauan mencuri waktu untuk membaca!

Sekali lagi, kita patut meneladani Osler dalam hal membaca buku. Ia tergolong insan pencinta buku atau bibliofil. Bibliofil berbeda motivasinya dengan bibliholisme (pecandu buku atau biblioholik, yang gemar mengumpulkan buku). Insan bibliofil senantiasa menjadikan buku sebagai sumber belajar. Hal yang perlu dihindari adalah penyakit yang berkaitan dengan buku, yakni bibliotaf, bibliokas, bibliofagi, dan biblionarsis.

Sang bibliotaf akan mengubur koleksi bukunya sebab ia yakin bahwa masa depan manusia akan selamat jika buku karyanya selamat pula dari persekongkolan penguasa dunia. Bagaimana sang bibliokas? Ia adalah sang perusak buku (sumber informasi lainnya). Manakala meminjam buku milik orang lain atau koleksi perpustakaan, sang bibliokas akan merobek bagian-bagian buku/majalah dan sejenisnya. Kaum pembakar buku tergolong pula ke dalam bibliokas. Lebih parah dari bibliokas adalah bibliofagi, yakni orang yang percaya bahwa membakar buku pengetahuan, kemudian abunya dicampurkan dengan kopi, lalu diminum dengan harapan isi buku itu mudah diserap otaknya. Bagaimana sang biblionarsis? Ia akan menyimpan semua koleksi bukunya di dalam rak atau lemari kaca, dengan harapan semua orang memujinya.

Nah, alangkah indahnya jika hari-hari kita diisi dengan membaca buku. Ke mana pun pergi, buku senantiasa dijadikan pendamping setia. Mudahan-mudahan budaya mencuri waktu untuk membaca buku jadi kebiasaan laten, terutama di kalangan insan kampus. Bukankah di Jepang, Amerika, Jerman, dan negara lainnya yang jauh lebih tinggi tradisi mencuri waktu membacanya, begitu pesat peradabannya? Untuk yang satu ini, kita tidak salah menirunya! Sebuah pemeo yang menarik, tiba-tiba menghentak kita, "Mereka yang kerap mencuri waktu untuk membaca buku, tidak pernah mengenal kesepian di mana pun." (Penulis, pengajar LB pada Prodi Editing dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Unpad)**
Galamedia Jumat, 25 November 2011

Cinta Indonesia, Hiroaki Kato Kerap Pakai Batik


Bandung - Warga Indonesia patut bangga. Di tengah mulai surutnya rasa nasionalisme di kalangan anak muda, muncul sosok Hiroaki Kato (28), penyanyi asal Jepang yang sangat mencintai Indonesia. Selain fasih berbahasa Indonesia, Hiro senang menggunakan baju batik.

Hiro pertama kali ingin mendalami bahasa Indonesia karena membaca buku 'Bumi Manusia' milik Pramoedya Ananta Toor. Saat itu ada dosen Sastra Indonesia yang membacakan buku tersebut.

"Kalimatnya itu indah, ada iramanya, berbeda dengan sastra Jepang," ujar lulusan S2 Linguistik di Tokyo University of Foreign Study ini.

Hiro pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia pada tahub 2006. Saat itu ia mengikuti pertukaran pelajar di Universitas Gajah Mada Jurusan Sastra Indonesia.

Kecintaan Hiro pada Indonesia juga terwujud dalam gaya berpakaiannya. Ia kerap menggunakan baju batik, dan celana panjang yang bermotif kain perca batik.

"Celana batik ini dibuatkan oleh teman saya di Jepang. Saya sangat suka pakai batik. Di Jepang juga para desainernya mulai suka baju batik," terangnya.

Menurut Hiro, saat ini orang Jepang sangat menyukai Indonesia. Kalau dulu orang Jepang hanya mengenal Indonesia sebatas Bali saja, saat ini orang Jepang sudah banyak tahu pulau-pulau lainnya di Indonesia.

"Masyarakat Jepang semakin berminat sama Indonesia. Kalau 5 tahun lalu orang jepang tahunya hanya Bali saja. Karena kurangnya pengetahuan soal Indonesia," tutup pria yang pernah menjadi relawan gempa di Jogja ini.

sumber : bandung.detik.com

Ikhlas Seperti Kelapa


Oleh Irkhamiyati

Kelapa adalah buah yang memiliki multimanfaat. Mulai dari akar, batang, daun, dahan, hingga buahnya. Akarnya bisa dijadikan bahan kayu bakar dan kerajinan seni. Batangnya bisa digunakan sebagai bahan bangunan rumah. Daunnya bisa buat janur pernikahan maupun tempat untuk ketupat. Lidinya bisa dibuat sapu. Kemudian buahnya, antara air dan isinya, juga mengandung banyak manfaat.

Air kelapa mengandung beragam zat-zat yang menyegarkan tubuh. Ia bisa digunakan sebagai penawar racun dan bahan pengembang untuk membuat roti. Daging (isi) buah kelapa yang masih muda sangat digemari sebagai bahan minuman, seperti es kelapa muda. Ia bisa juga diawetkan menjadi nata decoco, sebagai bahan makanan kudapan pedas atau tidak pedas, dan dapat diolah menjadi gula jawa. Buah kelapa, jika sudah tua isinya, diambil sarinya menjadi santan kelapa yang sangat dibutuhkan dalam membuat berbagai makanan dan masakan.

Itulah gambaran akan manfaat pohon kelapa. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang dikaruniai akal dan pikiran. Karenanya, sudah semestinya apabila kita bisa berkaca dari pohon kelapa tersebut. Sejauh mana manfaat diri kita, baik bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, agama, maupun bangsa kita. Rasulullah SAW bersabda; "Sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat bagi yang lainnya."

Bisa jadi kita terjebak dalam rutinitas setiap hari sehingga lupa akan potensi diri sendiri yang sebenarnya bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Memberi manfaat bagi tempat kerja dan keluarga adalah sesuatu yang wajib, tetapi memberi manfaat bagi lingkungan masyarakat di sekeliling kita terkadang terlupakan.

Apa pun profesinya, baik sebagai pedagang, guru, dosen, karyawan, pelajar, mahasiswa, buruh, wiraswasta, bupati, maupun beragam profesi lainnya, dituntut bisa bekerja secara profesional sekaligus memberi manfaat bagi lingkungannya. Namun, apa pun yang kita berikan, hendaknya dilandasi dengan niat tulus dan ikhlas. Gambaran ikhlas bisa kita contoh dan pelajari dari falsafah buah kelapa. Ia sudah terbukti memberi banyak manfaat, mulai dari akar hingga ujung daunnya.

Buah kelapa bisa dijadikan makanan atau kontributor bahan makanan. Sari dari buah kelapa adalah santan kelapa yang sangat banyak manfaatnya untuk bahan makanan. Sebelum menjadi santan, kelapa harus melalui banyak tahapan. Yang pertama saat kelapa dipetik terkadang dipotong keras dengan parang dengan sekuat tenaga. Beda perlakuannya saat memetik buah anggur atau buah halus lainnya, memetiknya dengan halus dan hati-hati.

Saat kelapa jatuh, tidak ada orang yang mau menangkapnya di bawah sehingga kelapa pasti dijatuhkan setelah dipetik. Kemudian, kelapa dikupas kulitnya dan dipecah sehingga terpisahlah air dengan dagingnya. Cara mengupas kulit dan memecahnya pun dengan keras, beda perlakuannya dengan buah yang lain. Setelah itu, kelapa diparut dan diambil air santannya. Dan setelah menjadi santan, ia bisa digunakan untuk apa saja.

Itulah buah kelapa, begitu banyak manfaatnya untuk manusia. Sudah semestinya, demikian pula diri kita, bisa menjadi manfaat bagi orang lain, baik di lingkungan terdekat maupun yang lebih luas lagi.

sumber : www.republika.co.id

Tuesday, November 29, 2011

Padalarang-Bandung-Cicalengka Bakal Dilayani Kereta

NGAMPRAH, (PRLM).- Untuk mengurai kemacetan yang kini terjadi di sejumlah ruas jalan di Bandung Raya, pemerintah pusat segera membangun jaringan rel kereta listrik yang menghubungkan Padalarang-Bandung-Cicalengka.

Projek nasional bernama Bandung Urban Railway ini diharapkan menjadi sarana transportasi massal yang efektif bagi masyarakat di Bandung Raya.

Jalur ini nantinya akan menghubungkan sejumlah stasiun di Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung dengan sistem ganda atau double track sehingga dua kereta api bisa melalui jalur itu dalam waktu yang sama. Pembangunan jalur kereta api yang didandai pinjaman lunak (loan) dari Prancis itu kini dalam tahap pemetaan dan pengkajian.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung Barat, Megaharry Pujiharto mengatakan, saat ini telah dilakukan uji kelayakan pada jalur Kota Bandung-Cicalengka dan pemetaan pada jalur Padalarang-Kota Bandung.

Pengkajian itu dilakukan bersama-sama antara Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, dan Pemprov Jabar. “Berdasarkan berbagai pengkajian, pembangunan jalur ini lebih efektif dibandingkan dengan menambah jumlah unit kereta api yang bisa menambah kemacetan. Harapan kami, dengan adanya jalur ini, kemacetan di Bandung Raya bisa diatasi,” katanya di Kantor Pemkab Bandung Barat, Batujajar, Rabu (23/11). (A-192/A-88)***

sumber : www.pikiran-rakyat.com

Haji dan Kesederhanaan


Oleh: Prof Dr Achmad Satori Ismail

Haji mabrur tiada balasannya kecuali surga. (HR at-Thabrani dari Ibnu Abbas). Seseorang yang mabrur hajinya sudah barang tentu akan berperilaku ahli surga di dunia. Ciri-ciri ahli surga secara global adalah ketakwaan dalam hidup. Sedangkan rincian sifat-sifat muttaqin, banyak disebutkan dalam al-Quran. (Lihat QS al-Baqarah [2]: 2-4, Ali Imran [3]:133-135).

Amalan ahli surga semuanya dicintai Allah berbeda dengan ciri ahli neraka. Di antara sifat ahli neraka adalah  hidup bermewah-mewahan.  "Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu. Dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air yang panas yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah." (QS al-Waqi'ah; 41-45).

Bermewah-mewahan dalam hidup akan berdampak negatif bagi dirinya dan masyarakat. Sebab, pertama, menyebabkan kurang taat menunaikan kawajiban agama. Kedua, mencari-cari pendapat ulama yang paling ringan dalam segala hal. Dan mudah menerjang yang haram. Ketiga, bergelayut dengan hal-hal yang remeh-temeh.

Keempat, menimbulkan kerasnya hati, sering melupakan ilmu karena tenggelam dalam kemewahan. Kelima, jarang melakukan muhasabah (evaluasi diri). Keenam, kurang mampu menanggung beban hidup yang berat dan menghadapi berbagai ujian. Ketujuh, orang yang bermewah-mewahan sering menyimpang dari jalan yang benar, sombong, dan meremehkan orang lain.

Kemewahan dalam hidup bisa menggelincirkan dirinya dalam korupsi, kolusi, dan nepotisme. Oleh sebab itu, Islam melarang bermewah-mewahan dalam hidup. "Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan, dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS al-A'raf [7]; 31). Rasulullah menegaskan,  Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan kesombongan.(HR Ahmad dan Abu Daud).

Haji disyariatkan agar umat Islam mengambil banyak manfaat dan hikmah ( QS al-Hajj [22]; 27-28). Di antara hikmahnya adalah menanamkan dalam diri kita agar memperbanyak zikir, mempererat ukhuwah, membiasakan kesabaran, mengikis rasa kesombongan, mengokohkan kesederhanaan dalam hidup, dan menjauhi kemewahan.

Salah satu rukun haji adalah ihram. Saat ihram, laki-laki mengenakan dua helai kain putih yang dijadikan sebagai sarung dan selendang. "Hendaklah salah seorang dari kalian berihram dengan menggunakan sarung dan selendang serta sepasang sendal." (HR Ahmad: 2/34). Diutamakan kain yang berwarna putih, berdasarkan sabda Rasulullah SAW, "Sebaik-baik pakaian kalian adalah yang berwarna putih, maka kenakanlah dia dan kafanilah mayat kalian dengannya." (HR Ahmad).

Adapun wanita, ia tetap memakai pakaian wanita yang menutup semua auratnya, kecuali wajah dan telapak tangan. Selama ihram tidak diperbolehkan memakai wangi-wangian kendati tetap harus bersih dan suci.

Semuanya itu bertujuan untuk menanamkan kesederhanaan dalam hidup. Kemabruran haji jamaah yang baru pulang dari haji akan dibuktikan dengan ketakwaan dan kehidupan sederhana setelahnya sampai akhir hayat.

sumber : www.republika.co.id

Apa Yang Kita Cari Di Dunia Ini?


Oleh : Agustiar Nur Akbar

Dalam kajian para filosofi manusia menjadi salah satu obyek kajian tersendiri, filsafat manusia. Diantara yang dibahas adalah tujuan hidup manusia. Sebut saja Aristoteles, seorang filosofi yang sudah tak asing lagi, dari Yunani. Konsep tujuan hidup manusia menurut Aristoteles terkenal dalam karyanya Ethika Nicomachea.  Yaitu, “Tujuan hidup manusia adalah kebahagiaan (eudaimonia). Orang yang sudah bahagia tidak memerlukan apa-apa lagi pada satu sisi, dan pada sisi lain tidak masuk akal jika ia masih ingin mencari sesuatu yang lain. Hidup manusia akan semakin bermutu manakala semakin dapat mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya. Dengan mencapai tujuan hidup, manusia akan mencapai dirinya secara penuh, sehingga mencapai mutu yang terbuka bagi dirinya”.

Secara sederhana pernyataan filsuf legendaris tersebut sejalan dengan  fitrah manusia. Dimana manusia lebih cenderung (baca mencari) kebahagiaan dan cenderung menghindari kesedihan atau kesusahaan. Jika memang mencari kebahagiaan adalah fitrah dan tujuan hidup manusia. Lantas pertanyaannya kebahagiaan seperti apa? Kemudian apakah semata-mata hanya mencari kebahagiaan?

Banyak orang menafsirkan dan memaknai kebahagiaan disini. Salah satu yang sering dianggap dapat mewujudkan kebahagiaan secara mutlak adalah jika mendapatkan kekuasaan, harta, dan wanita. Karena itu tak jarang kita melihat sekian banyak orang berlomba-lomba mendapatkan keitga hal yang mendasar tersebut. Pada akhirnya terjebak dalam gaya hidup hedonis bahkan menjadi hamba dunia.
Islam mempunyai konsep yang lebih sempurna dan jelas tentang tujuan hidup manusia ini. Allah swt berfirman dalam Al Quran “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (Adz Dzariaat [51] : 56).

Ini adalah hal yang paling mendasar dalam konsep Islam tentang tujuan hidup manusia. Tidak lain manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah swt. Sebagai Sang Pencipta maka Allah mempunyai hak yang absolut terhadap hambanya.
Menurut Ibnu Abas dalam tafsir Ibnu Katsir, kalimat “Liya’buduun” dalam ayat tersebut bermakna “ menghinakan diri kepada Allah dan mengagungkan-Nya”. Dengan begitu ibadah disini mempunyai cakupan arti yang luas. Tidak hanya sebatas ibadah yang kita kenal. Yaitu, shalat, zakat, shaum, dan haji. Secara sederhana dapat kita pahami, segala sesuatu yang diniatkan lillahi ta’la dan tidak melanggar syariat maka ia bernilai ibadah, inysa Allah.

Yang sangat menarik di sini ternyata ibadah tidak hanya bekerja secara sepihak. Akan tetapi mempunyai timbal balik bagi manusia itu sendiri. Ibadah bukan hanya semata-mata kewajiban kita sebagai seorang hamba kepada Sang Penciptanya. Ibadah mempunyai efek psikis yang menjadi tujuan hidup dalam kacamata filsafat, yaitu kebahagiaan.
Jika kita benar-benar telah ikhlas dan benar-benar memahami hakikat ibadah itu sendiri. Kita akan merasakan kebahagiaan setiap kali kita selesai menunaikan ibadah. Artinya ibadah apapun itu bukan semata-mata gerak tubuh dalam ritual khusus. Juga bukan semata menunaikan kewajiban. Rasulullah saw bersabda, “Berdirilah Bilal, maka nyamankan kami dengan sholat” (H.R Abu Dawud). Dalam riwayat lain “Wahai Bilal dirikanlah sholat (maksudnya kumandangkanlah adzhan untuk panggilan sholat wajib) nyamankan kami dengannya (dengan shalat)."

Dari hadis tersebut jelas menggambarkan bahwasanya sholat (ibadah) membawa kenyamanan bagi yang menunaikannya. Bahkan ketika ia meniggalkannya maka ia akan merasa sedih. Sebaliknya ketika ia menunaikannya ia akan merasa bahagia.  Wallahu a’lam bis showab.

Penulis adalah mahasiswa Indonesia yang kini tengah menimba ilmu di Kairo, Mesir.
 sumber : www.republika.co.id

Monday, November 28, 2011

Petualangan di Trans Studio Bandung Seru Abis!


Bandung - Minggu 20 November 2011, akhirnya saya bisa menginjakkan kaki lagi untuk bermain di Trans Studio Bandung. Meskipun saya dulu sudah pernah menginjakkan kaki di Trans Studio Makassar ditahun 2010. Ada hal yang menyenangkan pada saat bermain di Trans Studio kali ini, yaitu saya bisa masuk dengan fasilitas VIP untuk bermain semua wahana yang ada di dalam Trans Studio.

Tiket VIP Trans Studio Ini saya peroleh dari ‘DetikBandung.com’, ketika menang kuis yang diadakan oleh DetikBandung. Dengan tiket VIP, wahana Trans Studio serasa milik sendiri, karena dengan tiket VIP kita tidak perlu untuk mengantri lama-lama serta tidak perlu melalui pintu masuk yang begitu panjang.

Saat memasuki wahana pintu masuk Trans Studio tampaknya terkonsep seperti berada di suatu kota yang sangat penuh dengan kegembiraan. Area permainan ini dibagi tiga zona dan 20 wahana permainan yang sangat menarik dan menantang. Tiga zona tersebut adalah Studio Central, Lost City dan Magic Corner. Zona Studio Central didesain ala Hollywood dan New York.

Wahana Pertama yang kita coba adalah Dragon Rider kemudian dilanjut dengan Kingkong Climb, Lost City, Pirates Ship lalu kemudian Giant Swing. Giant Swing merupakan wahana pendulum raksasa yang diayun dengan dengan ketinggian 13 meter ini berhasil membuat saya sport Jantung serta kepala saya sedikit berkunang-kunang.

Setelah mengadu adrenalin dengan giant swing saya memutuskan untuk mencari wahana yang bias membuat saya rilex dan saya memutuskan untuk masuk ke Show performance di studio central dan amphitheater, pertunjukan theatrical “Kabayan Goes to Hollywood” dan benar saja theatrical tersebut berhasil membuat saya tertawa dan menetralkan adrenalin saya yang terpacu saat bermain di wahana sebelumnya.

Setelah itu berlanjut ke wahana Transcar di mana kita bisa merasakan membawa mobil balap dengan keadaan sebenarnya, lalu saya pergi ke stand petualangan si Bolang, Science dan dunia lain kemudian dilanjutkan dengan permainan vertigo, dan akhir petualangan saya di Trans Studio berakhir di wahana Yamaha Race coaster.

Petualangan penutup ini sangat cantik karena kita dibawa kereta race coaster dengan maneuver mundur yang sangat menantang adrenalin dan mampu membujuk hati saya kembali untuk suatu saat nanti harus berkunjung kembali ke Trans Studio.

*Penulis merupakan salah satu pemenang kuis foto 'Bandung Pisan' yang digelar detikbandung bekerjasama dengan Trans Studio Bandung.

sumber : bandung.detik.com

Manggo Salad, Rujak ala Thailand

Bandung - Cita rasa buah mangga tidak ada tandingannya. Mau asam atau manis, mangga selalu menjadi favorit untuk diolah menjadi berbagai macam masakan. Seperti di Thailand, buah mangga dibuat menjadi olahan dessert unggulan, yakni Manggo Salad.

Meski dinamai salad, namun makanan khas negara berjuluk Gajah Putih ini tidak seperti salad western yang umumnya memakai mayonaise sebagai saos. Rupa Manggo Salad ini seperti rujak cuka, rasanya pun lebih menyerupai rujak karena menggunakan irisan cabai rawit.

Manggo Salad di Thailand ini dibuat menggunakan basic sauce dari campuran air, kecap ikan, dan gula merah yang direbus di atas api kecil selama kurang lebih dua jam.

Basic Sauce ini selanjutnya dituangkan di atas buah mangga yang diiris panjang-panjang seperti mie, yang ditaburi dengan irisan bawang merah, dan terakhir ditaburi dengan kacang tanah yang sudah disangrai.

"Untuk membuat Manggo Salad ini memang susah-susah gampang, terutama untuk basic sauce-nya karena harus direbus di atas api kecil selama dua jam," kata Leader Thai Food Straits Kitchen, Ali Ilham.

Ali juga mengatakan, mangga yang digunakannya cukup mudah dicari, yakni mangga arum manis yang masih muda, sehingga memiliki sedikit sensasi rasa asam yang segar dipadukan dengan rasa gurih dari basic sauce.

Di Thailand sendiri, Manggo Salad ini biasa disajikan sebagai dessert segar dan disantap setelah menikmati appetizer yang mayoritas terbuat dari sea food.

(avi/ern)

sumber : bandung.detik.com

Santun dan Jangan Kasar di Rumah Allah


Oleh Abubakar Kasim *

Dua remaja bepergian berkilometer jauhnya ke Toronto untuk mendatangi shalat Jumat. Itu adalah kali pertama mereka menghadiri pertemuan Muslim.

Mereka berharap mendapatkan pengalaman berharga yang layak dikenang dan diingat lama. Namun semuanya berjalan tak sesuai kehendak dan justru pengalaman buruk begitu mereka memasuki masjid.

Seorang lelaki berujar dengan nada keras kepada mereka karena berpakaian seperti gadis nakal. Ia berkata pada dua remaja tadi bahwa mereka bukan untuk masjid melainkan klub malam.

Dua remaja Muslim mualaf tadi pun meninggalkan masjid menangis. Mereka kaget dan tak percaya dan setelah itu berjanji tidak akan masuk masjid lagi.

Sungguh kisah yang sangat disayangkan di tempat ibadah orang bersikap hanya berdasar pandangannya sendiri. Mereka berkeliling dan melihat keburukan orang lain lalu berbicara dengan cara kasar.

Sikap arogan hingga lupa tidak melihat kekurangan diri sendiri. Orang mulai menghakimi orang seperti mereka Tuhan yang mewakili dunia.

Kadang sering dijumpai bahkan, saat ditengah shalat, mereka menengok sekeliling untuk melihat siapa yang tidak beribadah dengan benar. Mereka tak menggunakan sikap santun saat berbicara dengan orang.

Mengikuti dan menjalankan apa yang baik lalu melarang dan meninggalkan apa yang baik memang prinsip penting dalam Islam. Malah inilah yang dianjurkan sekaligus kriteria menjadi umat terbaik.

Firman Allah s.w.t sangat jelas, "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk mansusia, menyuruh pada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar," (QS Ali Imran:110)

Namun menjalankan tugas ini tidak sesederhana yang mungkin orang pikir. Sungguh membuthkan pengetahuan, ilmu, kebijaksanan tingkat tinggi dan bahkan kemampuan komunikasi luar biasa.

Seseorang yang mungkin membuat kesalahan ketika shalat bisa jadi seorang mualaf yang tengah berjuang mempelajari hal-hal dasar dalam Islam, atau seorang pengunjung yang tengah tertarik terhadap Islam.

Kisah Sedih lain, seorang mualaf baru-baru ini bercerita kepada istri saya. Putranya yang bukan seorang Muslim biasa menemaninya ke Islamic Center. Namun kini ia tak melakukan lagi.

Setiap kali ia mengikuti ibunya ke masjid, ia menjumpai orang-orang bersikap kasar padanya mengapa ia belum menjadi Muslim, apa yang ia tunggu.

Bahkan ketika menjemput ibunya, ia menunggu di luar demi menghindari perlakukan kasar dan penghinaan. Sangat penting untuk memiliki kualitas istimewa dan kemampuan komunikasi ketika mendekati orang lain.

Rasul pun memberi peringatan langsung mengenai pentingnya bersikap kasih sayang terhadap orang lain. Orang yang merasa nyaman akan datang mendekat padanya dan lalu ikhlas mendengar tutur katanya. Bila Rasul menggunakan kata-kata kasar, tentu sudah lama mereka menjauh dari beliau dan sedikit saja yang mau mendengar ucapan beliau.

Seseorang sungguh tak seharusnya bersikap kasar dan keras ketika membenarkan orang lain. Fokus terhadap kelemahan diri adalah yang pertama dan utama.

Al Qur'an pun menekankan pentingnya mendekati orang dengan cara-cara baik. "Serulah (semua manusia) kepada Jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran dengan cara yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (QS An Nahl:125)

Ketika berhadapan dengan masalah yang membutuhkan perhatian khusus, tak sepatunya seorang muslim menggunakan cara pandangnya sendiri dan beraksi seperti petugas polisi kepada sesama manusia.

Masjid bukanlah tempat seperti hutan. Ketika seseorang memiliki masalah di supermarket saja misal, mereka bisa dengan aman dan tidak takut untuk berbicara kepada pihak berwenang. Sering kali pihak berwenang menjawab mereka dengan ramah.

Pendekatan di Masjid tentulah mesti lebih baik ketimbang di supermarket. Ada imam dan takmir masjid yang bisa ditanyai tanpa harus menimbulkan perasaan was-was.

Masjid selayaknya menjadi tempat memperoleh kedamaian, menimbulkan kedamaian dalam diri seseorang dan dengan itu membuat damai orang-orang lain.

Seseorang yang datang ke masjid sebenarnya telah membuat pengorbanan besar, meninggalkan semuanya demi beribadah di rumah Allah dengan kondisi mental yang damai. Orang-orang ini berhak mendapat dukungan dan rasa hormat, bukan sikap kasar dan keras.

Apabila seseorang berbuat salah, tentu sangat berbeda hasil bila kita melihat kesalahanan itu milik seorang saudara yang perlu dingatkan dengan lembut alih-alih bersikap seperti pengawas atau polisi.

Atmosfer dalam masjid bukan sesuatu yang menyengat yang membuat orang enggan mendekat. Untuk itu setiap orang mesti bersama-sama menjaga suasana tersebut sehingga ketika seseorang datang dengan harapan baik, atau bahkan dalam duka dan kesedihan, ia bisa merasakan kelegaan dan kedamaian yang tak bisa ditemukan di manapun kecuali di rumah Allah.

* Penulis adalah seorang pengarang lepas asal Kanada yang membagi pengalaman pribadinya

sumber : www.republika.co.id

Sunday, November 27, 2011

Imunisasi Bukan Hanya Melindungi Individu

BANDUNG, (PRLM).- Imunisasi bukan hanya melindungi individu, tetapi juga populasi masyarakat dengan terbentuknya kekebalan komuniti (herd immunity". Anak atau bayi yang tidak diimunisasi kemungkinan rentan terhadap penyakit tertentu yang bisa dicegah melalui imunisasi.

"Imunisasi merupakan tindakan preventif dalam pencegahan berbagai penyakit menular yang dapat dicegah melalui imunisasi. Anak yang tidak diimunisasi dan kemudian menjadi sakit dapat menjadi sumber penularan bagi bayi atau anak lain disekitarnya," ucap Kepala Bagian Public Relations PT Bio Farma (Persero), N. Nurlaela, Selasa (22/11).

Menurut Nurlaela, imunisasi memiliki manfaat besar, baik secara individu, sosial, maupun dalam menunjang sistem kesehatan nasional. Sekitar 8095 % anak yang diimunisasi akan terhindar dari berbagai penyakit menular yang bisa dicegah melalui imunisasi.

"Dengan cara ini angka kesakitan serta kematian bayi dan anak-anak dapat ditekan. Melalui imunisasi tidak hanya tercipta kekebalan individu, tetapi memutus mata rantai penularan penyakit dari anak ke anak yang lain atau orang dewasa," katanya.

Nurlela juga menuturkan pada 1826 November 2011, Bio Farma bersama Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes Republik Indonesia, serta MUI melakukan sosialisasi imunisasi ke empat kabupaten seperti Kabupaten Cirebon, Kabupaten Lebak Banten, Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Lumajang. Vaksin produk Bio Farma aman karena telah melewati beberapa proses pengujian mutu.

"Sekitar 110 negara telah memakai vaksi yang diproduksi Bio Farma. Pengawasan vaksin dilakukan melalui beberapa tahap. Dimulai sebelum vaksin diedarkan melalui uji klinis, dilanjutkan ketika vaksin diberikan, dan setelahnya, pengawasan dilakukan Tim Komnas KIPI (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi)," tuturnya.

Di bagian lain, Nurlela mengatakan polio merupakan penyakit yang disebabkan virus liar polio dan dapat menimbulkan kelumpuhan. Virus ini pertama kali ditemukan pada masa Mesir kuno yang digambarkan dengan cara orang-orang sehat dengan kaki layu berjalan memakai tongkat. "Vaksin polio pertama ditemukan oleh Jonas Salk, kemudian dikembangkan Albert Sabin. Outbreak polio pertama kali terjadi di Eropa pada awal abad ke-19," ucapnya. (A-62/das)***

sumber : www.pikiran-rakyat.com

Tetap Optimistis


Oleh Ustadz Toto Tasmara

Akhir perjalanan sudah pasti, sedangkan bekal belum lagi terisi. Maka, jika napas masih berdesah dan mentari masih hangat dirasakan, tak perlu berkeluh kesah meratapi masa lalu yang telah pergi. Tak juga berkhayal melukis langit tiada bertepi. Masa lalu adalah lembaran kertas yang telah terbakar yang tidak meninggalkan apa pun, kecuali kenangan keceriaan atau pahit getirnya pengalaman. Hari kemarin telah berlalu, hari esok belum lagi tentu. Maka, anggap saja hidup kita hanyalah hari ini, agar diri kita sibuk mengisi bekal menuju hari nanti. Kekasih abadi mengetuk nurani, "Hai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang dipersiapkannya untuk hari esok ...." (59: 18).

Sambil mempersiapkan bekal, seorang yang hatinya berpaut cinta Ilahi akan melepaskan pandangannya sejenak ke masa lalu, membuka album tua yang telah kusam. Bukan untuk berhenti atau terperangkap dalam nostalgia tanpa prestasi, melainkan sebagai penyegar semangat dengan menimba pengalaman membaca sejarah. Sungguh sudah berlalu sunah-sunah Allah untuk menjadi berita pelajaran bagi orang-orang yang beriman. (QS Ali Imran [3]: 137).

Membaca sejarah berarti menimba hikmah untuk dijadikan pedang kelewang menebas segala kebodohan dan kebatilan. Dan sejatinya, cara kita menyikapi sejarah harus bertanya, "Mengapa, bagaimana, dan apa akibatnya? Bukan hanya berhenti pada siapa, kapan, dan di mana?"

Kita harus mampu menganalisis dengan bertanya. Mengapa peristiwa itu terjadi? Bagaimana caranya agar hal-hal yang tidak kita inginkan dapat kita hindari? Apa akibat atau risikonya bagi eksistensi dan keberhasilan cita-cita kita?

Dengan pendekatan seperti ini, sejarah akan menjadi inspirasi dan motivasi unggul untuk menghasilkan prestasi "ulil al-bab" sebagai bentuk pertanggungjawaban manusia dalam kedudukannya sebagai khalifah fil ardhi (divine vicegerency).

Hanya bangsa yang besar yang memahami makna kesejarahannya. Dan bangsa yang memutus tali kesejarahannya akan lenyap ditelan gelombang peradaban yang tak kenal belas kasihan. Berbekal sejarah, ia tak kenal rasa takut menatap masa depan. Karena bagi dirinya, setiap hari adalah saat terbaik mengerahkan segala potensi meraih prestasi. Hari ini tidak bisa digugat. Sepiring nasi yang terhidang hari ini lebih berarti dari emas permata di hari esok. Ya, hari inilah milikmu. Bukankah ada pepatah indah, "Bekerjalah kamu seakan kamu akan hidup selamanya dan beribadahlah kamu seakan kamu akan mati esok hari."

Karena milikmu hanya ada di hari ini, maka tebarkanlah benih amal manfaat betapa pun esok bekal kiamat tak ada kata henti menikam hasrat. Tetaplah optimistis menanti semburat cahaya mentari. Orang optimis itu sungguh jauh dari sifat berkeluh kesah. Karena, ratapan penyesalan hanya merobek jiwa dan menambah sesaknya dada. Mereka yakin, pada setiap bercak dosa dan nista sesunguhnya selalu ada pintu-pintu pengampunan-Nya. Di setiap penyakit ada obatnya. Di setiap kegagalan ada sukses yang menunggu. Maka tetaplah optimistis.

sumber : www.republika.co.id

Memperkenalkan Sains Melalui Barang Sederhana


Oleh: NASRULLAH IDRIS
JIKA Anda mempunyai trik bermain sulap, maka tidak salah untuk memperkenalkannya kepada anak-anak, toh masih dalam ruang lingkup sains. Nah, ketika timbul rasa ingin tahu pada diri masing-masing, barulah Anda menerangkan prosesnya secara lengkap. Justru daya tangkapnya di sini akan sangat besar.

Biasanya perolehan pengetahuan yang terdorong rasa penasaran mendalam akan sukar dilupakan dalam waktu lama. Langsung terpatri pada otak. Sedangkan bagi kreator, inovator, dan inisiator, kondisi demikian merupakan modal penting untuk mengkajinya lebih lanjut sampai menghasilkan berbagai item pengetahuan.

Tidaklah berlebihan apabila sulap bernuansa dan berbasis pendidikan dijadikan salah satu upaya meningkakan kecerdasan penonton masyarakat, khususnya siswa sekolah. Jadi dalam operasionalnya tidak sekadar menampilkan atraksi namun penjelasannya secara lengkap. Kalau perlu menyuruh penonton mempraktekkannya sendiri di depan orang banyak.

Jadi awal memperkenalkan sains kepada anak bukanlah dengan mengajarkan rumus, melainkan membawa mereka dalam kehidupan sehari-hari yang setiap saat sering menampilkan berbagai sains. Tepatnya objek-objek yang paling sering ditangkap inderanya atau diraba fisiknya (familiar).

Hanya mereka perlu diberi pengertian tentang istilah tersebut terlebih dahulu. Tegaskanlah bahwa setiap objek yang mereka lihat (mata), dengar (telinga), rasa (lidah), raba (kulit), dan cium (hidung) adalah sains, tanpa kecuali.

Pengajaran ini perlu dilakukan beberapa kali sampai terpatri pada otak mereka bahwa sains sebagai yang terhubungkan dengan kehidupannya sehari-hari. Pembumian ini merupakan modal dasar bagi terbentuknya motivasi pada diri mereka untuk menjadikan pelajaran sains sebagai sumber pemecahan berbagai persoalan teknis yang akan dihadapi setiap hari.

Adanya kesadaran pada diri mereka bahwa sains bisa meringankan kegiatan sehari-hari akan memengeruhi niat bersekolah. Artinya, mereka berkepentingan untuk menguasainya. Malah pengenalan sains perlu sejak dini. Dimulai dengan fenomena sederhana, nyaman, dan praktis, serta disesuaikan dengan kondisi fisik dan psikisnya.

Misalkan menggerakkan bola di lantai. Mulanya menekan dengan pelan ke salah satu arah. Setelah bola bergerak serta diam, ulangi lagi dari tempat yang sama. Kali ini lebih keras. Demikianlah seterusnya. Lalu menyuruh mereka melakukannya sendiri dari berbagai arah, pelan sampai keras.

Yakinlah, cepat lambat akan timbul asumsi pada mereka, semakin keras ditekan, gerak bola akan semakin cepat. Meskipun mungkin mereka belum bisa mengutarakannya melalui bahasa maupun angka, namun merupakan modal dalam mempercepat pemahaman dan perhitungan dalam ilmu gaya.

Kita sering mendengar orangtua yang menanggapi pertanyaan anak dengan cuek. "Ah kamu nanya yang ada-ada saja" atau "Yang itu aja kamu tanya".

Reaksi terus-menerus bisa menimbulkan kesan pada anak bahwa pertanyaannya bersifat nyeleneh, tercela, atau norak. Gilirannya tidak terangsang untuk bertanya. Akhirnya tumbuh menjadi anak tidak ingin tahu. Setelah dewasa pun kreativitas dan inisiatifnya tidak berkembang. Padahal pertanyaan merupakan konsekwensi dari orang berakal.

Jadi memperkenalkan sains pada anak bisa dilakukan sejak dini dengan cara bermain, beraktivitas, dan bereksperimen. Yang penting mereka merasakan suasana enjoy dan fun. Sementara orangtua perlu mempersiapkan jawaban atas kemungkinan munculnya pertanyaan tiba-tiba yang terlontar dari mulutnya.

Jangan anggap pengenalan kepada mereka akan lebih baik dengan barang berharga mahal seperti mobil-mobilan. Belum tentu. Malah kertas koran bekas pun bisa dijadikan materinya yang penting pikiran anak tertuju pada apa yang sedang diperkenalkan.

Dengan mengamati kertas dalam bentuk lembaran yang terbang di ruang tamu sampai topi yang dipakai saat ulang tahun bisa membuat anak bertanya, mengapa begini dan mengapa begitu. Meskipun tidak dilampiaskan secara lisan mengingat hambatan tertentu, yang pasti sudah merupakan credit point intelektual. Jawabannya bisa mereka peroleh pada kesempatan lain.

Semakin luasnya pengetahuan anak tentang kertas saja bisa merangsang kreativitas, analisa, dan kalkulasinya di kemudian hari untuk materi tersebut. Misalkan, saat membuat dus nasi, kartu undangan, sampai topi kertas. Bukan hanya itu. Mereka pun kelak akan mempunyai keragaman cara dalam memperlakukan kertas : menempelkan, mengelem, merobek, sampai merapatkan.

Pengenalan sains kepada anak pun bisa meningkatkan mental positif dan menumbuhkan pola berpikir logis, sekaligus mendorong mereka menjadi anak kaya inspirasi. Otak mereka harus diarahkan seperti pohon asli. Berkembang setiap saat dengan keragaman bentuk. Bukan seperti pohon plastik : indah, terang, dan licin, letaknya pun sering di ruang bebas tanah, tetapi bentuknya itu ke itu saja.

Ambil contoh batang korek api. Bila anak memahaminya secara mendalam akan lebih berpeluang menghasilkan karya cipta hanya dengan modal barang itu. Lain halnya bila dianggap barang biasa. Mungkin mereka kelak hanya pandai menggunakannya untuk menghasilkan api.

Sayangnya, materi sains yang diajarkan di sekolah dasar sering dirasakan terlalu banyak. Yang satu belum dipahami tuntas, yang lain sudah langsung diajarkan. Tiada lain karena tuntutan target waktu pengajaran berdasarkan kurikulum pendidikan. Bagaimana mereka memperoleh waktu cukup untuk merenungkan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari, terutama pengalaman yang terkait pada masa kecilnya?

Meskipun okeleh mereka selalu memperoleh nilai bagus untuk pelajaran tersebut. Tetapi secara psikologis justru membuat mereka merasa terasing. Seolah-olah sains di sekolah tidak berkaitan dengan sains dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya setelah dewasa serta terjun dalam masyarakat tidak mampu mengaplikasikannya.

Pola pengajaran seperti itu hanya akan mencetak lulusan berwawasan klise dalam berucap, bertindak, dan berbuat.

Semewah atau selengkap apa pun sarana peraga, pengajaran sains bisa dikatakan moderen apabila proses dan hasil belajarnya memberikan kemampuan bagi anak menghadapi situasi dan kondisi yang berbeda secara mandiri dalam merumuskan jalan keluar permasalahan di kemudian hari. (Penulis, pemerhati reformasi sains, matematika, dan teknologi)**
Galamedia  Jumat, 18 November 2011

Saturday, November 26, 2011

Pawai Delman Sambut Tahun Baru Islam

SARNAPI/"PRLM"SARNAPI/"PRLM" MENYAMBUT Tahun Baru Islam 1 Muharram 1433 H, PG dan TK Assalaam Jln. Sasakgantung Bandung, Sabtu (26/11), menggelar pawai delman yang diikuti ratusan siswa, guru, dan orangtua siswa. Pawai mengambil... Fotografer:  sarnapi/1 sumber : www.pikiran-rakyat.com

Go Green Photography


 DUDI SUGANDI/"PRLM"
DUDI SUGANDI/"PRLM" SEJUMLAH fotografer berpartisipasi dalam lomba foto model yang bertajuk "Lets Go, Go Green Go Clean" yang diselenggarakan Kafe Halaman Jln. Tamansari Kota Bandung, Minggu (20/11). Lomba foto yang...

PRLM -- Puluhan fotografer Kota Bandung mengikuti lomba foto model yang bertajuk "Lets Go, Go Green Go Clean" yang diselenggarakan di Kafe Halaman Jln. Tamansari Kota Bandung, Minggu (20/11).

Menurut panitia lomba, Echie, kegiatan ini sebagai apresiasi terhadap komunitas fotografi yang saat ini sangat digemari. "Fotografi sudah menjadi milik semua orang, sehingga kami coba membuat kegiatan fotografi yang bisa diikuti banyak penggemar fotografi," jelas Echie.

Peserta lomba diharuskan memotret empat tema yang ditetapkan yaitu arsitektur Kafe Halaman, sporty, pasangan, dan pekerja. "Untuk tiga tema terakhir, kami memanfaatkan jembatan yang berada di hutan kota Babakan Siliwangi. Semangat yang ingin kami tularkan adalah semangat "go green" sehingga kami memilih hutan Babakan Siliwangi untuk berkegiatan, ujarnya.

Kegiatan yang berlangsung hingga sore hari itu berupa lomba memotret model dengan tema yang ditetapkan. Kegiatan diikuti sekitar 40 fotografer. (Dudi Sugandi/"PRLM")***

sumber : www.pikiran-rakyat.com

Perhatikan Lingkungan!

Instruksi Wali Kota ke Camat dan Lurah
PAJAJARAN,(GM)-
Wali Kota Bandung, Dada Rosada menginstruksikan camat dan lurah se-Kota Bandung untuk menggerakkan warganya agar memperhatikan lingkungan. Ia pun mengimbau masyarakat untuk kembali menggerakkan kegiatan operasi bersih (opsih) di lingkungan tempat tinggalnya. Terutama terkait masalah drainase yang tersumbat, dan akhirnya menyebabkan banjir cileuncang.

"Sesuai perwal baru bahwa sebagian kewenangan sudah diberikan kepada kewilayahan seperti kecamatan dan kelurahan, terutama untuk pemeliharaan berm, drainase, kerp dan trotoar agar diurus oleh para camat dan lurah juga masyarakat," ujarnya seusai acara Perencanaan Percepatan Kelurahaan Bermartabat (P2KB) di Wyata Guna, Jln. Pajajaran, Kamis (17/11).

Dijelaskan Dada, camat dan lurah kemudian harus mengajak RT dan RW-nya melakukan pembersihan drainase di lingkungannya. Dengan upaya itu diharapkan bisa kembali memberdayakan masyarakat sekitar, setidaknya memperingan beban Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP).

"Dinas Bina Marga bisa lebih maksimal mengatasi permasalah lainnya yang lebih besar. Masalah lingkungan 'kan untuk kepentingan kita semua. Masyarakat juga harus kembali peduli terhadap lingkungannya, karena bagaimanapun kebersihan lingkungan itu kan dinikmati kembali oleh masyarakat. Kegiatan opsih, juga harus kembali digalakkan," papar Dada.

Ditemui di tempat yang sama, Kepala DBMP Kota Bandung, Iming Akhmad menuturkan, selama ini pihaknya selalu melakukan pengerukan sampah dan juga lumpur dari hasil sedimentasi di sungai-sungai atau drainase-drainase di Kota Bandung. "Saat musim hujan seperti sekarang, intensitas pengerukan menjadi lebih meningkat karena sedimentasinya pun cepat terjadi," terangnya.

Iming mengatakan, saat ini hampir sekitar 80 persen hasil pengerukan berupa sampah. Pihaknya sudah berkoordinasi, bahkan meminta izin kepada PD Kebersihan Kota Bandung untuk membuang sampah ke tempat pembuangan sementara (TPS) terdekat. Tidak hanya sampah, sedimentasi juga berupa lumpur dan brangkal. "Untuk berangkal tidak dibuang atau ditampung ke TPS, tapi ke tempat lain," ujarnya.

Selama ini, tambah Iming, titik drainase yang sering dibersihkan di antaranya Jln. Leuwipanjang, Cibaduyut dan Terusan Pasirkoja. Hanya saja begitu selesai dibersihkan, sampah kembali bertambah banyak.

"Produk sampah dari masyarakat sangat banyak. Tapi kita targetkan akhir tahun sudah selesai, meski tidak optimal secara keseluruhan. Masalahnya sampah cukup banyak dan terus bertambah. Masyarakat masih terus membuang sampah lagi di mana saja. Saya pikir memang perlu kedisiplinan dari warga," kata Iming. (B.114)**
Galamedia  Jumat, 18 November 2011

Gaya Hidup Hedonis

Oleh: H. Usep Romli H.M.
ISTILAH hedonis mengandung arti, mencari kesenangan fisik-material selama hidup di muka bumi. Orang-orang hedonis berpendapat, kebahagiaan itu terdapat dalam timbunan harta, kedudukan, pangkat, jabatan, dan sejenisnya yang bersifat lahiriah. Karena itu, hidup mewah bergelimang kekayaan merupakan cara untuk mencapai kebahagiaan itu, tanpa peduli bagaimana memperolehnya. Apakah haram atau halal, jujur atau licik. Yang penting berhasil mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan fisik material itu saja.

Karena itu, orang-orang hedonis tak memiliki hati nurani. Egois. Menganggap segala sesuatu semata-mata urusan pribadi sebagai hak asasi. Sehingga, orang lain tak perlu ikut campur merecoki, menilai salah atau benar. Hak asasi pribadi tak bisa dilanggar siapa pun. Apakah akan menghambur-hamburkan, memamerkan, dijadikan sumber kebaikan atau modal maksiat, tidak perlu dipermasalahkan. Tak perlu memikirkan apakah orang lain tergiur atau tersinggung.

Maka terjadilah kini, banyak orang suka pamer kekayaan. Membuat gedung-gedung megah mewah, vila-vila resik asri, sementara kebanyakan orang sengsara melarat di rumah-rumah reyot, gubuk butut, bahkan terdampar di kolong jembatan.

Maka terjadilah, banyak orang seliweran di atas mobil-mobil mewah berharga miliaran rupiah, di tengah sebagian besar orang berdesakan dalam kendaraan umum yang tak nyaman dan tak aman, yang tak lagi memenuhi syarat keselamatan transportasi. Maka terjadilah, banyak orang menghambur-hamburkan makanan dan minuman, di tengah mayoritas penduduk kelaparan, susah mendapat kerja dan sumber nafkah, makan pagi sore tidak, dan tak tahu apa yang akan dimakan esok hari.

Bagi umat Islam yang takwa, tunduk patuh melaksanakan segala perintah Allah SWT, serta siap meninggalkan segala larangan-Nya, tak usah susah dan bingung menghadapi fenomena hedonisme ini, sebab sudah mendapat pedoman nyata, berupa Quran dan Sunah Rasulullah Muhammad SAW.

Q.S. al Kahfi ayat 103-104, menyebutkan, tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya di dunia. Yaitu orang yang berbuat sia-sia, namun menyangka dirinya sudah melakukan kebaikan dan kebajikan. Mereka adalah orang-orang kufur (tidak percaya) kepada ayat-ayat Allah, dan kufur terhadap hari akhir, tatkala semua manusia dibangkitkan kembali, dihitung segala amal-amalannya, untuk mendapat ganjaran setimpal atas segala kebaikan, atau siksa atas segala dosa kejahatan.

Para mufasir menandaskan, ayat tersebut ditujukan kepada orang-orang hedonis. Yang hanya percaya akan kehidupan di alam fana saja. Tidak mengetahui dan mempercayai, bahkan menolak, kehidupan di alam baka yang lebih lama dan panjang, serta menjadi kawasan untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan di hadapan Mahkamah Allah Azza wajalla.

Orang-orang hedonis semacam itu, dalam Quran, Surat al Lail, ayat 8-9, dikategorikan "bakhil". Kikir, tak punya tenggang rasa, asal senang sendiri. Dan astagna. Merasa diri sendiri lebih dari cukup. Disertai sikap kadzdzaba bil husna. Tidak percaya kehidupan setelah mati, hari akhir dan hisab (perhitungan) amal baik dan buruk.

Menghadapi fenomena ini, setiap muslim beriman harus memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta menumbuhsuburkan amal saleh kepada sesama manusia dengan nyata dalam kehidupan sehari-hari. **
Galamedia Jumat, 18 November 2011

Friday, November 25, 2011

Daftar Tunggu Haji Plus Sudah Masuk ke 2014

BANDUNG,(PRLM).-Minat kaum Muslimin untuk melaksanakan ibadah haji melalui jalur plus amat tinggi sehingga daftar tunggu sudah mencapai 2013 dengan asumsi jumlah kuota haji plus 17.000 orang. Setiap hari jumlah pendaftar haji plus mencapai sekitar 400 orang.

"Jumlah daftar tunggu sampai akhir musim haji kemarin sudah mencapai 40.000 orang. Dengan asumsi kuota haji plus setiap tahun 17.000 orang sehingga daftar tunggu haji plus sudah mencapai 2012 dan kuota tahun 2013 tersisa 11.000 orang," kata Wakil Ketua Umum Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh) H. Rustam Sumarna, di Khalifah Tour jln. Cisangkuy, Jumat (18/11).

Setuap tahun, menurut Rustam, kuota haji plus sekitar 17.000 orang yang biasanya ditambah pemerintah. "Musim haji tahun ini kuota haji plus ditambah menjadi 20.000 orang sehingga daftar tunggu bisa berkurang," ujarnya.

Sebagian besar pendaftar haji plus, ujar Rustam, dari luar P. Jawa yang lebih dari 50 persen dari daftar tunggu. "Hal itu disebabkan antrean haji reguler di P. Jawa sudah di atas 10 tahun sehingga mereka melirik ke haji plus. Apalagi dari segi ekonomi sedang terjadi booming penghasilan dari tambang maupun perkebunan," katanya.

Rustam mengimbau kepada kaum Muslimin yang ingin berangkat dengan haji plus agar segera mendaftar ke bank penerima setoran. "Apalagi pendaftaran haji plus sama dengan haji reguler yakni dilayani setiap hari kerja dari Senin-Jumat di bank penerima setoran," katanya.(A-71/kur)***

sumber : www.pikiran-rakyat.com

Pemkab Bandung Datangkan 20 Rusa Nepal

SOREANG, (PRLM).- Pemkab Bandung mendatangkan 20 rusa Nepal atau rusa tutul (Axis Axis) dari Istana Bogor. Namun seekor rusa betina mati karena mengalami stres dan tidak mau makan.

"Saat ini rusa tinggal 19 ekor yakni sepuluh ekor jantan dan sembilan betina. Nantinya rusa yang mati akan diganti pihak Istana Bogor," kata petugas kandang rusa, Iyan, Jumat (18/11).

Menurut Iyan, sebelumnya kandang rusa yang berada di depan rumah dinas bupati Bandung kedatangan tiga ekor rusa betina dari kampung Batu Malakasari Baleendah.

"Setelah rusa dari Istana Bogor datang ke Pemkab Bandung, maka rusa dari Baleendah langsung diganti dari Istana Bogor," ucapnya.

Untuk makanan rusa, menurut Iyan, cukup mudah karena rerumputan yang tumbuh di kandang masih banyak.

"Seharusnya tiap ekor rusa diberikan 6 kg ubi, namun sudah seminggu ini ubi 50 kg bisa untuk dua hari," katanya.

Namun, Iyan mengimbau kepada warga yang ingin melihat rusa jangan memberikan makanan apalagi plastik karena rusa akan mati. (A-71/A-88)***

sumber : www.pikiran-rakyat.com

Bekal Menjadi Pemenang Kehidupan


Oleh Dr A Ilyas Ismail

Pada era baru sekarang, kehidupan dirasakan semakin keras dan kompetitif hampir di segala bidang kehidupan. Kenyataan ini mengharuskan kita untuk mempertinggi kapasitas dan kapabilitas agar bisa eksis, survive, dan dalam persaingan yang sangat ketat itu kita harus jadi pemenang (be winner), bukan pecundang (loser).

Mental sebagai pemenang ini, menurut Sayyid Qutub, harus menjadi watak dan karakter kaum Muslim. Iman yang kuat, perjuangan yang tak kenal lelah (jihad), tahan uji, dan kesabaran yang membaja (shabrun wa tsabat), disertai penyerahan diri secara total kepada Allah semata (tawakkulun wa tawajjuhun ila Allahi wahdah), merupakan jalan kemenangan yang diajarkan Islam. (Ma`alim fi al-Thariq, 1978).

Dalam Alquran, kaum Muslim diingatkan agar memiliki kesiapan mental sebagai pemenang, memiliki rasa percaya diri (self confidence) yang tinggi, dan tak boleh memelihara sikap keluh kesah (blaming) apalagi sindrom rendah diri. “Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati. Padahal, kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman. (QS Ali Imran [3]: 139).

Untuk menjadi pemenang, selain memiliki ilmu (knowledge) dan keterampilan tinggi (skillful), kita perlu membekali diri dengan empat kekuatan lain. Pertama, visi atau cita-cita yang tinggi (himmah aliyah). Perlu disadari bahwa manusia hanya sebesar visinya, tak lebih dari itu. Visi adalah kekuatan, karena menurut para ulama visi bisa merobohkan hambatan sebesar gunung sekali pun (himmat al-rijal tahdim al-jibal).

Kedua, keyakinan yang kuat (strong believe) bahwa apa yang dicita-citakan akan menjadi kenyataan. Keyakinan juga penting, karena orang yang tidak yakin ia tak bisa melangkah lebih jauh. Keyakinan (conviction) berbeda dengan preferensi (kegemaran). Preferensi bisa ditawar-tawar (negotiable), sedangkan keyakinan tidak. Bagi para pejuang Islam, keyakinan di sini termasuk keyakinan akan janji kemenangan dan pertolongan dari Allah. “Hai orang-orang Mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad [47]: 7).

Ketiga, keberanian (syaja`ah) dalam mencapai cita-cita (kemenangan). Keberanian, kata al-Ghazali, termasuk salah satu keutamaan (fadilah) yang menjadi pangkal kebaikan dan kemenangan. Tak ada keberhasilan tanpa keberanian, baik dalam soal agama maupun dunia. Keberhasilan hanya milik orang-orang yang berani. Yaitu, keberanian dalam mengambil keputusan serta membela dan mempertahankan apa yang diyakini sebagai kebenaran apa pun risikonya. (QS al-Maidah [5]: 54).

Keempat, mental dan karakter pemenang. Salah satu karakter pemenang adalah menjadi pelaku atau pemain player (fa`il) bukan penonton apalagi hanya objek tontonan (maf`ul). Sebab, hanya pemainlah yang berpeluang besar menjadi pemenang. Maka, perintah Alquran agar kita bersaing (QS al-Baqarah [2]: 148), bersikap profesional, ihsan dan itqan (QS an-Naml [27]: 88), hidup dan mati sebagai yang terbaik, dan the best (QS al-Mulk [67]: 2), semuanya merupakan pembelajaran agar kita memiliki mental dan karakter sebagai pemenang. Wallahu a`lam.

sumber : www.republika.co.id

Thursday, November 24, 2011

75 Persen Pasar Teh Tanah Air Dikuasai Jabar

BANDUNG, (PRLM).- Mengkonsumsi teh sangat identik dengan budaya tatar Priangan dan harus tetap dipertahankan sebagai bentuk pelestarian budaya yang berdampak pada ketahanan perekonomian rakyat. Teh Jawa Barat masih menduduki peringkat terbaik di Tanah Air dan bahkan mampu menembus pasar luar negeri.

Namun meski 75 persen pasar teh Tanah Air masih dikuasai produksi teh asal Jawa Barat, tapi kita harus mengantisipasi kehadiran teh inpor dari Vietnam maupun India. Bila kita tetap menjadikan mengkonsumsi teh sebagai budaya maka teh impor tidak akan berkembang pemasarannya di negeri kita, ujar Wakil Gubernur Dede Yusuf, saat membuka Festival Teh 2011 bertempat di venue Cihampelas Walk, Jalan Cihampelas Bandung, Jumat (18/11).

Upaya pelestarian maupun sosialisasi saja menurut Dede Yusuf belum cukup untuk mengamankan keberadaan teh priangan. Selain harus mendorong perkebunan teh rakyat dengan peningkatan kualitas, juga perlu terobosan menjadikan teh bagian dari olahan kuliner.

Kegiatan Festival Teh yang diselenggarakan Dinas Perkebunan Jabar beserta Dewan Teh Indonesia serta Masyarakat Teh Indonesia dan petani teh Jabar, dinilai Dede Yusuf telah terjadi kemajuan. Selain melibatkan masyarakat petani teh, festival (teh) kali ini menggelar lelang teh yang bila dilakukan secara rutin akan mengangkat keberadaan perkebunan teh rakyat dan juga teh priangan, ujar Dede.

Sementara Kepala Dinas Perkebunan Jabar, Ginanjar mengatakan, pada event (festival teh) tahun ini, selain memamerkan anekan produk teh kemasan, kepada pengunjung festival juga disosialisasikan berbagai cara meminum teh dan juga kopi. Mengingat kedua hasil produk perkebunan tersebut merupakan potensi yang dihasilkan asal Jabar sangat besar, bahkan telah merambah pasar ekspor maka pada kesempatan kegiatan (festival teh) kali ini kita lakukan sosialisasi mengkonsumsi teh dan kopi, ujar Ginanjar.

Ditambahkan Ginanjar, promosi produk teh melalui festival teh merupakan bagian dari upaya memperkenalkan produk teh kepada masyarakat agar masyarakat memanfaatkan teh asal Jabar. Karena hingga saat ini teh asal Jabar masih menjadi nomor satu ditanah air, tapi masyarakat sendiri belum mengetahui sepenuhnya produk teh asal daerajh sendiri dan cenderung mulai mencoba-coba produk teh inpor yang belum jelas khasiatnya.

Produksi teh yang dihasilkan asal Jabar, menurut Ginanjar, rata-rata per tahun mencapai ratusan ribu ton, dan sekarang mulai menghadapi tantangan yang harus dicarikan solusinya. Adanya pengurangan areal tanam teh dengan rata-rata per tahun mencapai 2.000 Ha sampai 3.000 Ha per tahun dan teh impor menjadi tantangan yang harus dihadapi dan diantisipasi.

Kendati setiap tahun terjadi pengurangan areal tanam teh, hingga sekarang belum berdampak pada menurunnya produksi teh secara signifikan namun hal ini perlu disikapi. Karenanya melalui festival teh yang diselenggarakan secara rutin akan mampu menjadikan teh kita masih menjadi tuan di negeri sendiri, ujar Ginanjar.

Festival Teh yang merupakan agenda tahunan dan sekarang sudah keenam kalinya akan berlangsung hingga Minggu (20/11) mendatang. Selain pameran aneka produk teh, dan pasar lelang, juga diselenggarakan seminar peningkatan kreativitas untuk produk agribisnis. (A-87/das)***

sumber : www.pikiran-rakyat.com

Menjadi Pribadi Berkarakter


Oleh Ustadz Makmun Nawawi

Khalifah Umar bin Khattab ra bila berjalan di lorong-lorong Kota Madinah dan melihat anak kecil, beliau segera menemuinya dan membungkuk, seraya berujar, "Nak, mintalah pada Allah, agar mengampuni kami." Para sahabat Umar pun heran dengannya dan bertanya, "Engkau meminta pada anak kecil agar ia berdoa pada Allah untukmu?" Jawab Amirul Mukminin itu, "Mereka belum balig dan catatan amal belum berlaku padanya, maka doanya mustajab di sisi Allah. Sedangkan kita sudah dewasa dan catatan amal sudah ada pada kita."

Itulah ekspresi ketakutan pada Allah yang menyergap sang Khalifah kedua ini, seorang yang tegap dan gagah perkasa, namun kecemasannya pada Allah sungguh mengundang decak kagum, seolah tak pantas dengan postur tubuhnya yang tinggi; konon di wajahnya ada dua garis hitam bekas aliran air mata (takut pada-Nya).

Ketika Umar bin Khattab membaca surah at-Takwir ayat 1, yang artinya "Apabila matahari digulung," hingga ayat 10 "Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka," beliau tersungkur, pingsan. Suatu saat, Amirul Mukminin ini melewati rumah seseorang yang tengah shalat dan membaca surah ath-Thur. Beliau berhenti seraya menyimaknya, dan begitu sampai pada ayat 7-8, "Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya," beliau pun turun dari himarnya, lalu bersandar di dinding, dan diam tercenung beberapa saat. Dan sepulangnya di rumahnya, Umar sakit sebulan lamanya. Orang-orang menjenguknya dan mereka tak tahu apa yang dikeluhkannya.

Getar kecemasan semacam ini sesungguhnya hanya serpihan kecil di antara mutu manikam pesona akhlak yang melekat dalam diri sahabat, tabiin, dan orang-orang salih dulu kala. Dan, hal itu sangat fungsional sekali dalam melahirkan pribadi-pribadi yang berkarakter ideal, yakni intens beribadah dan produktif dalam melakukan amal salih lainnya, serta bisa meredam diri dari tindak-tanduk yang menyimpang.

Dengan demikian, ketakutan (khauf) penting dimiliki oleh seorang Muslim, karena Abu Hafs- sufi kelahiran Uzbekistan- berujar, "Khauf adalah pelita hati, dengan khauf akan tampak baik dan buruk hati seseorang." Sementara Alquran mengingatkan, "Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (Ali Imran: 175). Dalam ayat lain, Allah menjelaskan karakter orang Mukmin dengan, "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedangkan mereka menyeru kepada Rabb mereka dengan penuh rasa takut (khauf) dan harap." (QS as-Sajdah: 16).

Dalam banyak ayat-Nya, Allah bukan hanya memerintahkan agar takut, tapi juga sering melukiskan berbagai hal yang seyogiannya membuahkan ketakutan pada hamba, misalnya, ketika menjelaskan tentang neraka jahanam, huru-hara kiamat, atau musibah umat yang lalu. Beda dengan kaum salafus salih dulu kala yang gampang terketuk, tergores, bahkan terguncang hatinya dengan menyimak Alquran, manusia sekarang mungkin perlu melihat secara nyata bagaimana kekuasaan Allah itu tampil di muka bumi ini, sehingga berbagai musibah dan bencana pun datang silih berganti. Lantas, masih enggankah kita mengambil pelajaran? Wallahu a'lam bish-shawab.

sumber : www.republika.co.id

Perhatikan Lingkungan!

Wali Kota Bandung, Dada Rosada menginstruksikan camat dan lurah se-Kota Bandung untuk menggerakkan warganya agar memperhatikan lingkungan. Ia pun mengimbau masyarakat untuk kembali menggerakkan kegiatan operasi bersih (opsih) di lingkungan tempat tinggalnya. Terutama terkait masalah drainase yang tersumbat, dan akhirnya menyebabkan banjir cileuncang.

"Sesuai perwal baru bahwa sebagian kewenangan sudah diberikan kepada kewilayahan seperti kecamatan dan kelurahan, terutama untuk pemeliharaan berm, drainase, kerp dan trotoar agar diurus oleh para camat dan lurah juga masyarakat," ujarnya seusai acara Perencanaan Percepatan Kelurahaan Bermartabat (P2KB) di Wyata Guna, Jln. Pajajaran, Kamis (17/11).

Dijelaskan Dada, camat dan lurah kemudian harus mengajak RT dan RW-nya melakukan pembersihan drainase di lingkungannya. Dengan upaya itu diharapkan bisa kembali memberdayakan masyarakat sekitar, setidaknya memperingan beban Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP).

"Dinas Bina Marga bisa lebih maksimal mengatasi permasalah lainnya yang lebih besar. Masalah lingkungan 'kan untuk kepentingan kita semua. Masyarakat juga harus kembali peduli terhadap lingkungannya, karena bagaimanapun kebersihan lingkungan itu kan dinikmati kembali oleh masyarakat. Kegiatan opsih, juga harus kembali digalakkan," papar Dada.

Ditemui di tempat yang sama, Kepala DBMP Kota Bandung, Iming Akhmad menuturkan, selama ini pihaknya selalu melakukan pengerukan sampah dan juga lumpur dari hasil sedimentasi di sungai-sungai atau drainase-drainase di Kota Bandung. "Saat musim hujan seperti sekarang, intensitas pengerukan menjadi lebih meningkat karena sedimentasinya pun cepat terjadi," terangnya.

Iming mengatakan, saat ini hampir sekitar 80 persen hasil pengerukan berupa sampah. Pihaknya sudah berkoordinasi, bahkan meminta izin kepada PD Kebersihan Kota Bandung untuk membuang sampah ke tempat pembuangan sementara (TPS) terdekat. Tidak hanya sampah, sedimentasi juga berupa lumpur dan brangkal. "Untuk berangkal tidak dibuang atau ditampung ke TPS, tapi ke tempat lain," ujarnya.

Selama ini, tambah Iming, titik drainase yang sering dibersihkan di antaranya Jln. Leuwipanjang, Cibaduyut dan Terusan Pasirkoja. Hanya saja begitu selesai dibersihkan, sampah kembali bertambah banyak.

"Produk sampah dari masyarakat sangat banyak. Tapi kita targetkan akhir tahun sudah selesai, meski tidak optimal secara keseluruhan. Masalahnya sampah cukup banyak dan terus bertambah. Masyarakat masih terus membuang sampah lagi di mana saja. Saya pikir memang perlu kedisiplinan dari warga," kata Iming. (B.114)** sumber : (GALAMEDIA)

Wednesday, November 23, 2011

Jalur Lingkar Nagreg Dibuka Awal 2012

BANDUNG, (PRLM).- Terhitung awal tahun 2012, jalur Lingkar Nagreg sepanjang 5,6 kilometer akan dibuka untuk umum. Biasanya, jalur lingkar Nagreg digunakan untuk arus mudik dan balik Lebaran.

Awal tahun depan mudah-mudahan bisa dibuka dan diresmikan. Kalau untuk saat ini kita masih fokus ke masalah pembangunan Jalan Tol Cisumdawu dan Palimanan Cikampek, kata Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat M Guntoro di Bandung, Jumat (18/11).

Ia mengatakan, dengan dibukanya Jalur Lingkar Nagreg pada awal tahun 2012 maka penggunaannya tidak hanya untuk melayani kendaraan arus mudik dan balik Lebaran saja namun untuk arus lalu lintas umum.

Kalau sudah dibuka dan diresmikan maka Jalur Lingkar Nagreg ini tidak hanya buat arus mudik dan balik saja, kata Guntoro.

Menurut dia, jika sudah dibuka maka rute di Jalur Lingkar Nagreg akan sama saat digunakan selama melayani arus lalu lintas mudik dan balik Lebaran.

Sama saja seperti ketika arus mudik dan Lebaran yakni mengalirkan arus lalu lintas dari arah timur atau arah Garut, Tasikmalaya dan Jawa Tengah, kata Guntoro.

Selain itu, pihaknya akan membangun sebuah tempat peristirahatan (rest area) bagi pengemudi kendaraan bermotor yang melewati Jalur Lingkar Nagreg, Jawa Barat.

Guntoro, mengatakan, pembangunan rest area di Jalur Lingkar Nagreg ini terkait juga dengan penolakan sebagian pedagang di sekitar Jalur Nagreg. Penolakan warga solusinya akan dibuatkan rest area di Jalur Lingkar Nagreg, kata Guntoro. (rls. kominfo/A-88)***

sumber : www.pikiran-rakyat.com

Budaya Modern Tak Terbendung, Pakis Hariwang

UNTUK mewujudkan kepedulian melestarikan seni dan budaya Sunda, Panglawungan Ki Sunda (Pakis) menggelar sejumlah seni dan budaya Sunda di rest area Kp. Nagreg, Kp./Desa Nagrog, Kec. Cicalengka, Kab. Bandung, Selasa (15/11). Pergelaran sengaja digelar Pakis untuk mengantisipasi ancaman kepunahan budaya Sunda. Pakis hariwangmaraknya budaya modern yang tidak terbendung, lambat laun bisa mengancam kelestarian dan budaya Sunda.

Seni budaya Sunda yang digelar Pakis dalam upaya ngamumule budaya dan adat istiadat kesundaan dihadiri Camat Cicalengka, Achmad Rizky Nugraha, S.I.P., Kapolsek Cicalengka, Kompol Teddy Wijaya, S.H., anggota DPRD Kab. Bandung, Oot Ruhyat Gunadi, Ketua Pakis, Lukmanul Hakim, dan pihak terkait lainnya.

Lukmanul Hakim mengatakan, pergelaran seni budaya Sunda di rest area Kp. Nagreg Jalan Raya Nagreg itu, sebagai upaya mewujudkan kepedulian dan untuk melestarikan seni dan budaya Sunda. "Kegiatan ini untuk membangkitkan seni dan budaya Sunda. Urang kudu emut kana jati diri urang Sunda," kata Lukmanul Hakim kepada wartawan di selasela pergelaran tersebut.

Lukmanul Hakim mengatakan, yang harus memiliki kepedulian tidak hanya para pemuda sebagai generasi penerus bangsa, tokoh masyarakat pun harus memiliki kepedulian serupa. Termasuk orang yang bukan dari suku Sunda tapi berada di Tatar Sunda, bisa urun rempug melestarikan dan menikmati seni budaya Sunda.

"Kami juga mengajak kepada masyarakat lainnya, hayu urang sasarengan ngangamumule jeung ngembangkeun budaya Sunda supaya terus nanjeur. Kami berharap kegiatan ini bisa membentengi pengaruh budaya negatif (budaya modern) dari luar terhadap budaya Sunda," katanya. Menurutnya, dengan ditampilkannnya pergelaran ini diharapkan sejumlah seni budaya Sunda bisa dikenang kembali, dilestarikan, dan terus dikembangkan.

Seperti gondang, kecapi suling, degung, pencak silat, jaipongan, longser, celempung, dan karinding. "Soalnya, akibat pengaruh budaya modern, ada beberapa seni Sunda yang mulai terancam keberadaannya. Seperti seni terbang dan beluk," katanya Di tempat sama, Achmad Rizky Nugraha mengatakan, pergelaran seni dan budaya Sunda itu dalam rangka ngaguar dan nanjeurkeun budaya Sunda dari ancaman kepunahan. "Memang saya khawatir budaya Sunda ditinggalkan oleh urang Sunda sendiri.

Soalnya, dalam sebuah kegiatan hajatan saat ini, orang-orang lebih condong menampilkan dangdutan daripada cianjuran dan degung," katanya.

Ia mengatakan, karena tingginya antusiasme warga Kec. Cicalengka dalam melestarikan seni dan budaya Sunda, kegiatan itu akan dijadikan kegiatan tahunan. Apalagi pelestarian budaya Sunda itu melibatkan Pakis dan pihak terkait lainnya. "Kegiatan seperti ini akan dijadikan kalender rutin dan akan terus dikembangkan," katanya.

Berdasarkan pemantauan "GM", di lokasi kegiatan sejumlah seniman dan urang Sunda terlihat mengenakan pakaian adat Sunda berupa pangsi warna hitam-hitam. Selain itu, para seniman mengenakan iket pada bagian kepalanya. Pemandangan seperti itu menunjukkan adanya kepedulian dalam melestarikan seni dan budaya Sunda sebagai warisan dari para leluhur. (engkos kosasih/"GM")**
Galamedia Kamis, 17 November 2011

Guru dan Etika Kejujuran

Oleh: KUSWARI
GURU pada dasanya mengajar kejujuran kepada para siswa. Ketika berdiri di depan kelas, secara langsung dia sedang diamati oleh para siswa, baik ucapan maupun perilakunya.

Dia tidak mungkin mengatakan 5 x 5 sama dengan 20, pasti dia akan mengatakan 5 x 5 =25. Demikian pula ketika dia menerangkan sejarah dia mengajarkan kejujuran tentang sejarah kehidupan manusia yang terjadi di belahan muka bumi ini, berdasarkan kurikulum yang diajarkan kepada anak didiknya. Guru menjadi ujung tombak dalam proses pembelajaran etika kejujuran, sehingga guru dituntut untuk konsisten dan komitmen mempertahankan kepribadiannya.

Guru yang jujur adalah sosok yang mulia dan derajatnya tinggi di bumi ini. Guru yang jujur adalah idola para siswa, sehingga ketika guru itu pensiun atau meninggal dunia, dia ditangisi para siswa dan rekan seprofesinya. Ketika guru tersebut sudah tidak ada, yang terlontar kalimat yang indah dan mulia dari anak didiknya adalah kalimat yang indah dan enak didengar telinga, "Sungguh mulia, saya banyak belajar dari beliau tentang arti kehidupan."

Tetapi sekarang apakah guru konsisten dan komitmen mempertahankan etika kejujuran? Apakah kepala sekolah sebagai pemimpin di antara para guru dan teladan bagi para siswa di sekolah bisa memberikan contoh tentang etika kejujuran? Saat sekarang ini kejujuran menjadi sebuah kata yang mahal dan hilang di tengah gegap gempita merajalelanya korupsi di berbagai kehidupan. Kejujuran sebagai landasan pertama dalam proses pembelajaran di sekolah menjadi acuan bagi para guru, sebab dimulai dari gurulah etika kejujuran diserbarluaskan kepada anak didiknya. Para siswa rindu kepada guru-guru yang menjunjung tinggi etika kejujuran, sebab dari gurulah teladan yang patut dicontoh.

Gangguan oknum wartawan Etika kejujuran menjadi taruhan bagi guru di sekolah lebih- lebih kepala sekolah sebagai manajer yang sepatutnya menjadi teladan semua orang, baik internal sekolah maupun eksternal di masyarakat. Namun dengan adanya program Biaya Operasional Sekolah (BOS) atau sekolah gratis dari SD sampai SMP telah menimbulkan peluang untuk tidak jujur.

BOS secara tidak langsung telah membuka peluang bagi kepala sekolah dan guru mendapat "ujian" etika kejujuran yang sangat berat. Mereka dihadapkan pada permasalahan prosedur yang harus dilakukan sesuai petunjuk dari dinas pendidikan di satu pihak, sementara di pihak lain terpaksa harus melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan etika kejujuran.

Jadi sebenarnya sejak diluncurkan BOS ke sekolahsekolah, baik sekolah negeri maupun swasta, di situlah timbul permasalahan yang cukup dilematis bagi kepala sekolah. Wartawan muntaber (muncul tanpa berita) -- sebutan ini ditujukan kepada oknum wartawan yang hanya mengaku-ngaku saja-- atau oknum LSM mendatangi sekolah untuk sekadar mengutak-atik BOS, padahal ujung-ujungnya mereka hanya ingin mendapat jatah uang dari BOS. Kepala sekolah dibuat pusing tujuh keliling karena hampir setiap hari didatangi oknum-oknum yang tujuannya untuk memeras sekolah. Mereka tidak akan meninggalkan sekolah sebelum diberi ongkos. Jadi sekarang ini banyak oknum mengaku wartawan atau LSM yang tebal muka.

Sebagian besar kepala sekolah mengaku resah dan gelisah dengan adanya BOS dari pemerintah. Apalagi ketika mereka harus melengkapi berbagai persyaratan pencairan BOS karena harus melampirkan kuitansi asli dan barang yang sudah dibeli atau kegiatan yang sudah dilaksanakan. Dalam praktiknya, maaf, tidak sedikit melakukan aktivitas yang jauh dari etika kejujuran. Bahkan seorang kepala sekolah pernah berkata, "Satu pihak kita ingin jujur, tetapi di pihak lain keadaan memaksa untuk tidak jujur."

Secara aturan dan tata kelola mengenai BOS sudah tercantum jelas mekanisme dan prosedur yang harus dijalankan, termasuk 10 komponen yang harus dianggarkan untuk pembiayaan di sekolah. Namun dalam praktiknya, tidak semudah membalikkan tangan. Beberapa kepala sekolah (mudah-mudahan tidak semuanya) terpaksa harus menandatangani kuitansi barang yang barang tersebut sebenarnya sudah dimiliki sekolah, kemudian faktur pembelian meminta kepada toko.

Contoh sederhana, sebuah angklung atau komputer pernah dibeli 2 tahun yang lalu oleh sebuah sekolah swasta dengan menggunakan uang dari siswa, ketika BOS turun, maka angklung atau komputer tersebut dimasukkan dalam anggaran pengeluaran BOS tahun berjalan. Kuitansi atau faktur pembelian dibuat saat BOS tersebut akan segera turun. Kepala sekolah dan bendahara berusaha untuk bisa membuat laporan pertanggungjawaban agar uang BOS bisa segera dicairkan.

Etika kejujuran di sekolah menjadi taruhan bagi kepala sekolah dan para guru, karena adanya program BOS telah membuka peluang bagi mereka untuk tidak jujur, karena situasi dan kondisi yang dilematis dan memaksa mereka untuk berbuat yang bertentangan dengan hati nurani sendiri. Itulah kenyataan yang terjadi di lapangan. Jadi memang sulit untuk menghapus kata yang sangat berbahaya di negeri ini : korupsi.

Proses pendidikan yang bertujuan memuliakan manusia telah tercoreng ada sistem yang berlaku di negeri ini. (Penulis, pemerhati pendidikan, tinggal di Citarip, Bandung)**
Galamedia Kamis, 17 November 2011

Tuesday, November 22, 2011

Museum Gua Pawon Segera Dibangun

BATUJAJAR,(GM)-
Peletakan batu pertama tanda dimulainya pembangunan Museum Arkeologi Gua Pawon di kawasan Situs Gua Pawon, Kp. Cibukur, RT 04/RW 15 Desa Gunung Masigit, Kec. Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) rencananya dilaksanakan pada 25 November mendatang. Diperkirakan anggaran untuk membangun museum pertama di KBB ini sebesar Rp 8,5 miliar.

Berdasarkan catatan "GM", lahan yang digunakan museum milik masyarakat ini luasnya sekitar 4.000 m2. Rencananya museum ini akan menyimpan berbagai artefak yang ditemukan di Situs Gua Pawon. Seperti diketahui, benda peninggalan masa lalu yang ditemukan di Gua Pawon berupa fosil manusia purba dan benda-benda pada masa lalu.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) KBB, Aos Kaosar membenarkan, pembangunan museum arkeologi Gua pawon dimulai pada 25 November 2011. Fosil manusia purba yang jumlahnya mencapai ratusan akan menghiasi koleksi museum tersebut.

"Di Situs Gua Pawon tidak hanya fosil manusia purba yang berhasil ditemukan tapi juga gigi ikan, perkakas purba, dan lainnya. Temuan-temuan dari para arkeolog tersebut nantinya akan menjadi koleksi penting Museum Gua Pawon," kata Aos di Batujajar, belum lama ini.

Bentuk museum Gua Pawon tergolong unik, karena konstruksi bangunanya dibuat menyerupai bentuk asli gua. Dengan bentuk demikian, pengunjung akan merasakan suasana di dalam gua yang sesungguhnya.

"Bentuk bangunannya dibuat sealami mungkin, berbeda dengan bentuk museum yang terlihat selama ini. Pengunjung tidak hanya melihat koleksi fosil, namun diberi pengetahuan tentang seluk-beluk Gua Pawon. Data informasi yang disajikan akan dibuat selengkap mungkin, biar pengunjung mendapat pengetahuan lebih," harapnya.

Pembangunan museum merupakan bagian penataan Gua Pawon. Sebagai tahap awal penataan, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan pada tahun 2009 memberikan bantuan pembangunan sebuah balairung ukuran 8 x 10 meter.

Pembangunan balairung menghabiskan anggaran sebesar Rp 60 juta. Bangunan berarsitektur Sunda ini terbuat dari bambu untuk tempat berkumpul warga. Setelah balairung, dibangun sarana mandi cuci kakus dan tajug (tempat salat) yang anggarannya bersumber dari APBD KBB 2009 sebesar Rp 30 juta. (B.104)**
Galamedia Senin, 21 November 2011

Telisik Etos Budaya Cina

SEJAK ribuan tahun yang silam, Cina sudah dikenal sebagai surga budaya dan ilmu pengetahuan. Demikian banyak kisah dan bukti historis dalam berbagai literatur yang menyimpan kemilau kekayaan itu.

Begitu termasyurnya, negeri tirai bambu itu dijadikan sebagai ungkapan kiblat pusat pembelajaran oleh Nabi Muhammad saw. Melalui hadis itu, Nabi Muhammad saw bermaksud mendorong Muslimin untuk berjuang keras dalam mencari ilmu, meskipun hal itu tidak berpretensi untuk menunjukkan keutamaan negeri panda itu dalam makna yang harfiah.

"Etos Budaya Cina" merupakan buku yang ingin mengajak pembacanya untuk berwisata ke ke dalaman oasis kekayaan budaya negeri itu. Di dalam buku tersebut berjajar serangkaian esai yang isinya sebagian besar menunjukkan landasan dan keragaman kekayaan budaya Cina dalam berbagai segi, terutama yang terdapat di dalam literatur dan artefak klasik. Bagian awal dari buku ini mengangkat beberapa esai yang menyatakan bahwa Cina, berdasarkan ajaran Konfusius, sangat menghargai alam. Keping menandaskan tiga konsep penting berikut, yaitu (1) tiandi atau alam, (2) tiandao atau jalan Tuhan, dan (3) tianxia sebagai negeri di kolong langit atau dunia. Itulah yang disebut sebagai konsep "kesatuan langit dan manusia" atau tian ren he yi. Dalam konsep tersebut, alam dianggap sebagai makhluk hidup dengah beragam emosi.

Benda-benda alam dianggap sebagai organ tubuhnya. Kehidupan manusia di muka bumi harus mementingkan kelestarian alam. Jika alam tidak diperlakukan dengan baik, ia akan berbalik menyerang manusia. Filosofi tersebut tampaknya telah terbukti pada setiap generasi. Banyaknya bencana alam murni disebabkan karena perilaku manusia yang tidak lagi memedulikan alam di sekitarnya.

Konsep kehidupan lain dalam budaya Cina juga dikaitkan dengan makna artefak. Pagoda misalnya. Bangunan unik berbentuk kerucut yang semakin menyempit di bagian atasnya ini bukan sembarang bangunan.

Pagoda dibangun dengan beberapa tingkatan. Setiap tingkatan memiliki makna yang berbeda. Bagian bawah bangunan menngusung makna kehidupan manusia yang liar, penuh intrik, dan nafsu. Oleh karena itu, ia harus berusaha meningkatkan diri untuk membangun mentalnya yang digambarkan pada tingkatan kedua dan selanjutnya. Semakin tinggi tingkatan bangunan tersebut, makna keduniawiannya semakin berkurang. Akhirnya berujung pada kehidupan ruhani semata yang serbabersih.

Harmonisasi kehidupan alam tersebut juga banyak diungkapkan dalam literatur-literatur Cina, di antaranya dalam sebuah karya sastra berupa puisi dan fabel klasik. Sebuah puisi klasik yang mengusung makna tersebut berbunyi sebagai berikut: //Dao Langit menyerupai tarikan busur/ Saat senarnya kencang, tekanlah ke bawah./ Saat arahnya rendah, bidikkanlah ke atas/ Saat tarikannnya berlebihan, longgarkanlah/ Saat tidak mencukupi, lengkapilah/ Dan Langit mengurangi apa pun yang berlebihan/ Dan melengkapi apa pun yang tidak mencukupi/ Dan Langit menguntungkan semua makhluk dan tidak menimbulkan kerusakan....//

Puisi tersebut mengingatkan manusia untuk tidak gentar menghadapi kehidupan, tidak meragukan kekuasaan di atas langit (Tuhan), dan ajuran kepada mereka untuk bersikap adil dan sabar. Sementara itu, dalam beberapa fabel yang diangkat dalam buku tersebut, juga diusung sederetan nasihat kehidupan yang dalam agar manusia tidak tergerus oleh godaan hidup.

Selain itu, buku tersebut juga mengangkat fenomena benturan sekaligus perkawinan paradigma lama dan baru dalam budaya Cina. Negeri tersebut juga tidak terlepas dari serangan gelombang globalisasi. Ilmuilmu pengetahuan dari luar diserap dalam setumpuk besar buku-buku terjemahan serta adanya peningkatan jumlah cendekiawan di negeri itu. Etos Budaya Cina mengajak pembaca untuk menuju suatu cermin keyakinan, untuk mengamini beberapa landasan yang menyebabkan negeri dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia itu mampu menjadi salah satu raksasa industri di dunia dan peraih prestasi di dalam beberapa bidang kehidupan. (Resti Nurfaidah, staf teknis Balai Bahasa Bandung, peminat buku)**
Galamedia Kamis, 17 November 2011

Sikap Rasulullah terhadap Orang Miskin


Oleh Khofifah Indar Parawansa

Suatu hari ada seseorang datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW yang sedang berkumpul dengan para sahabat. Melihat kehadiran pengemis itu, Rasulullah lantas bertanya, "Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?"

Dia menjawab, "Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir." Rasulullah lalu berkata, "Ambil dan serahkan ke saya!"

Pengemis itu langsung bergegas pulang dan kembali dengan membawa cangkir. Rasulullah kemudian menawarkan cangkir itu kepada para sahabat, "Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?" Seorang sahabat menyahut, "Saya beli dengan satu dirham."

Rasulullah lalu menawarkannya kepada sahabat yang lain. Seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham. Rasulullah kemudian memberikan dua dirham itu kepada si pengemis. Rasul mengharapkan agar uang itu digunakan untuk membeli makanan buat keluarganya, dan sisa uangnya digunakan untuk membeli kapak. "Carilah kayu yang banyak dan juallah, selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu," kata Rasulullah.

Dua minggu kemudian, pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah SAW, tapi tidak untuk mengemis. Ia datang kepada Rasullah membawa uang 10 dirham hasil dari berjualan kayu. Rasulullah SAW kemudian menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya.

Rasulullah berkata, "Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat seseorang tidak bisa berusaha."

Kisah ini menggambarkan sifat Rasulullah yang gemar membantu  orang yang tidak mampu. Bantuan tidak hanya berupa uang, tapi juga "kail" atau pekerjaan agar kelak orang yang tidak mampu itu bisa hidup mandiri.

Tidak dapat dimungkiri, jumlah pengemis dan pengangguran di Indonesia saat ini masih sangat tinggi. Alangkah indahnya, jika setiap orang mampu (secara ekonomi) di negeri ini mau meniru perilaku Rasulullah tersebut. Dengan memberi sedekah dan pekerjaan, setidaknya jumlah anak jalanan dan pengangguran bisa diminimalisasi.

Rasullullah memberikan contoh bahwa kesalehan spiritual belum dikatakan sempurna, sebelum dibarengi dengan kesalehan sosial (to be sensitive to the reality).

Dalam Alquran disebutkan bahwa orang yang bertakwa yaitu: "Orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang (QS Ali Imran [3]: 134).

Saatnya kita berbagi dengan orang di sekeliling kita yang fakir dan miskin. Jika orang yang diberi kecukupan ekonomi di negeri ini mau peduli terhadap yang miskin, pasti perempuan Indonesia tidak akan berbondong-bondong menjadi tenaga kerja dan pembantu rumah tangga di negeri orang. Jika orang kaya di negeri ini mau membantu yang lemah dan fakir, tentu tidak banyak anak negeri ini yang putus sekolah. "Sesungguhnya kefakiran (kemiskinan) itu bisa menjerumuskan ke jurang kekafiran."

sumber : www.republika.co.id

Monday, November 21, 2011

Lahan Kritis Kab. Bandung Masih 6.814 Hektare

SOREANG, (PRLM).- Lahan kritis di wilayah Kab. Bandung masih 6.814 hektare yang akan terus dihijaukan dengan bantuan program penghijauan pemerintah pusat, Pemkab Bandung, maupun swadaya masyarakat. Sedangkan tingkat keberhasilan program Kebun Bibit Rakytat (KBR) baru mencapai 60 persen dengan jumlah bibit yang ditanam mencapai sejuta pohon.

“Awalnya lahan kritis pada tahun 2009 seluas 17.802 hektare tersebar di 16 kecamatan yang berhasil direhabilitasi melalui gerakan penanaman pohon berbagai jenis. Namun, Kab. Bandung masih memiliki lahan kritis yang harus dihijaukan sekitar 6.814 hektare, kata Kepala Distanbunhut Kab. Bandung, Ir. Tisna Umaran, di ruang kerjanya, Rabu (16/11).

Dia mencontohkan program Kebun Bibit Rakyat (KBR) yang sudah berjalan selama tiga tahun dengan penyediaan bibit sampai sejuta setiap tahunnya. “Pada tahun lalu Kab. Bandung mendapatkan KBR dari pemerintah pusat sebanyak 21 kelompok yang masing-masing kelompok diberi anggaraan pembibitan 50.000 pohon. Kalau bibit pohon sudah berusia lima atau enam bulan akan dibeli pemerintah seharga Rp 1.000,-/pohon, katanya.

Bibit yang sudah dibeli pemerintah diserahkan kepada masing-masing kelompok untuk ditanam di lahan-lahan kritis yang luasnya antara 50-100 hektare. “Selama enam bulan akan diveluasi tingkat keberhasilan penanaman. Pemerintah akan memberikan insentif Rp 500,- per pohon yang tumbuh dengan baik, ucapnya. (A-71/A-88)***

sumber : www.pikiran-rakyat.com

Makna Agung kata 'Insya Allah'...Jangan Sembarangan Mengucapkannya


Oleh Hasan Basri Tanjung MA

Dalam buku Asbabun Nuzul yang disusun oleh KH Q Shaleh dkk (1995) menukil riwayat mengenai asbabun nuzul (sebab turun) surah al-Kahfi ayat 23-24. "Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut); 'Insya Allah'." (QS al-Kahfi [16]:23-24).

Suatu hari, kaum Quraisy mengutus an-Nadlr bin al-Harts dan Uqbah bin Abi Mu'ith menemui seorang pendeta Yahudi di Madinah untuk menanyakan kenabian Muhammad. Lalu, kedua utusan itu menceritakan segala hal yang berkaitan dengan sikap, perkataan, dan perbuatan Muhammad.

Lalu, pendeta Yahudi berkata, "Tanyakanlah kepada Muhammad akan tiga hal. Jika dapat menjawabnya, ia Nabi yang diutus. Akan tetapi, jika tak dapat menjawabnya, ia hanyalah orang yang mengaku sebagai Nabi. Pertama, tanyakan tentang pemuda-pemuda pada zaman dahulu yang bepergian dan apa yang terjadi kepada mereka. Kedua, tanyakan juga tentang seorang pengembara yang sampai ke Masyriq dan Maghrib dan apa yang terjadi padanya. Ketiga, tanyakan pula kepadanya tentang roh."

Pulanglah utusan itu kepada kaum Quraisy. Lalu, mereka berangkat menemui Rasulullah SAW dan menanyakan ketiga persoalan tersebut di atas. Rasulullah SAW bersabda, "Aku akan menjawab pertanyaan kalian besok." Rasul menyatakan itu tanpa disertai kalimat "insya Allah".

Rasulullah SAW menunggu-nunggu wahyu sampai 15 malam, namun Jibril tak kunjung datang. Orang-orang Makkah mulai mencemooh dan Rasulullah sendiri sangat sedih, gundah gulana, dan malu karena tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada kaum Quraisy. Kemudian, datanglah Jibril membawa wahyu yang menegur Nabi SAW karena memastikan sesuatu pada esok hari tanpa mengucapkan "insya Allah". (QS al-Kahfi [18]:23-24).

Dalam kesempatan ini, Jibril juga menyampaikan tentang pemuda-pemuda yang bepergian, yakni Ashabul Kahfi (18:9-26); seorang pengembara, yakni Dzulqarnain (18:83-101); dan perkara roh (17:85).

Mufassir Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Kitab Jaami'ul Bayan menjelaskan, "Inilah pengajaran Allah kepada Rasulullah SAW agar jangan memastikan suatu perkara akan terjadi tanpa halangan apa pun, kecuali menghubungkannya dengan kehendak Allah SWT.

Sungguh agung makna kata "insya Allah" itu. Di dalamnya dikandung makna paling tidak empat hal. Pertama, manusia memiliki ketergantungan yang tinggi atas rencana dan ketentuan Allah (tauhid). Kedua, menghindari kesombongan karena kesuksesan yang dicapai (politik, kekayaan, keilmuan, dan status sosial.) Ketiga, menunjukkan ketawaduan (keterbatasan diri untuk melakukan sesuatu) di hadapan manusia dan Allah SWT. Keempat, bermakna optimisme akan hari esok yang lebih baik.

Bagaimana jika kata "insya Allah" dijadikan tameng untuk memerdaya manusia atau dalih untuk melepaskan diri dari tanggung jawab? Sesungguhnya kita telah melakukan dua dosa. Pertama, menipu karena menggunakan zat-Nya. Kedua, kita telah menipu diri kita sendiri karena sesungguhnya kita enggan menepatinya, kecuali sekadar menjaga hubungan baik semata dengan rekan, kawan, atau relasi. Wallahu a'lam.
Tulisan ini dimuat di Republika cetak dengan judul Makna Insya Allah