-

Friday, July 08, 2011

Seniman Muslim Kanada Pilih Cara 'Asik' Lewat Karya demi Patahkan Stereotip

Seniman Muslim Kanada Pilih Cara 'Asik' Lewat Karya demi Patahkan Stereotip

Berita, KAIRO – Dua penggiat Seni Muslim Kanada, produser dan penyair bergerak. Lewat karya seni, mereka ingin menawarkan solusi seputar identitas dan masalah keagamaan untuk mematahkan stereotip di negara Amerika Utara itu, demikian Globle dan Mail melaporkan, awal pekan ini,

"Saya mempelajari tentang terorisme dari CNN," ujar seorang guru dari sekolah Islam, Boonaa Mohamed di Scarborough, Ontario

Menjadi penyair kata-kata di panggung, pria berdarah Ethopia, Mohammad menuangkan pemikirannya tentang Islam, nilai-nilai kepahlawanan dalam puisinya.

"Setelah 9/11 anda akan menjadi dua tipe orang, cukup berani untuk menyatakan diri anda seorang Muslim dan bangga dengan keyakinan anda atau menciut dan melebur hingga tak perlu lagi menampakkan identitas," ujar Mohammed. Karena itu, ia memandang upaya mematahkan stereotip begitu mendesak.

Bagi seniman Muslim Kanada, acara politik dan jurang antara seterotip Islam dan budaya mereka sendiri telah menyediakan cukup banyak inspirasi. Dibentuk oleh era pascatragedi WTC 9/11, seorang seniman visual, Alia Toor, mengenalkan dirinya seorang Muslim lewat seni.

Toor yang lahir di Pakistan dan dibesakan di Kanada berupaya mengusung identitas dan agama lewat seni dengan karya-karya bertema keamanan dan agama.

"Mungkin akan lebih mudah jika saya hanya mengambil foto Muskoka (sebuah kota distrik di Ontario)," ujarnya. "Namun itu belum menunjukkan siapa saya."

Melebur dengan latar budaya barat khas Kanada, artis mempresentasikan budaya dan agama generasi baru Musim Kanada, yakni generasi yang luwes bergaul dan mengatasi persoalan keseharian di masyarakat.

Kini mereka pun menggunakan kosakata yang serupa di media Barat,--komedi berdiri, seni visual kontemporer, film dokumenter dan musik pop.

"Kami belajar dari komunitas Afrika-Amerika tentang bagaimana lebih lantang menyuarakan pengalaman, namun secara artistik," ujar seorang rapper Montreal, Yassin Alsalman. Ia kerap dikenal sebagai The Narcicyst, yang menggunakan bahasa-bahasa agresif ala hip-hop untuk mengkritik kebijakan tangan dingin Pertahanan Dalam Negeri AS serta perang di Irak--kampung halamannya.

Alsalman menjelaskan perkembangan musik yang ia sebut hip-hop Arab. "Sebelum hip-hop dan Arab bertemu, kami lebih banyak bungkam. Kini generasi kami lebih vokal ketimbang sebelumnya."

Tak seperti gaya hip-hop bara yang diusung Alsalman, artis Kanada lain, Tazeen Qayyum memilik mengadopsi bentuk-bentuk seni tradisional.

Qayuum, seniman visual yang tinggal di Oakville, Ontario, dilatik sebagai pembuat miniatur di tempat kelahirannya, Pakistan. Kini ia menciptakan karya menyangkut masalah politik dengan meggunakan gambar kecoak-kecoak begitu detail sebagai penggambaran korban rakyat sipil di Irak.

Meski mereka gencar berkarya, sejumlah artis menyadari bahwa efek karya mereka tak akan serta-merta mengubah perilaku negatif warga Kanada terhadap Muslim dan Islam. Alsalman salah satunya, ia meyakini rasisme masih menjadi hal lazim dan citra Muslim secara umum masih buruk

Namun di sisi lain, seniman komik, Sabrina Jales, berdarah Pakistan-Swiss, melihat ada perubahan betahap pada perilaku itu sejak era panik pada 2001.

"Rasisme dan sikap jahil serta intoleransi muncul ketika Muslim tak lagi asyik, orang-orang tahu itu tak bisa diterima," ujar Jalees.

Muslim di Kanada mencapai 1,9 persen dari total populasi sebesar 32,8 juta jiwa dan Islam adalah agama terbesar non-Kristiani di negara itu.


sumber : www.republika.co.id

Artikel yang Berkaitan

0 komentar:

-

Post a Comment